Kamis, 17 Desember 2015

[Resensi: The Secrets of Sir Richard Kenworthy - Julia Quinn] Pernikahan Berselimut Rahasia


Judul buku: The Secrets of Sir Richard Kenworthy
Sub judul: Rahasia Sir Richard Kenworthy
Penulis: Julia Quinn
Penerjemah: Dharmawati
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal buku: 472 halaman
ISBN: 978-602-03-1889-9
Available at: bukupedia.com




BLURB

Sir Richard Kenworthy hanya punya kurang dari sebulan untuk menemukan istri. Ia tak bisa terlalu pemilih. Tapi ketika melihat Iris Smythe-Smith bersembunyi di balik cello pada pertunjukan musik keluarga Smythe-Smith, Richard tahu ia menemukan gadis yang dicarinya.

Iris Smythe-Smith terbiasa diremehkan karena dirinya bukanlah gadis menonjol. Jadi ketika Richard Kenworthy meminta diperkenalkan, ia langsung curiga. Pria itu merayu, menggoda, dan menunjukkan tanda-tanda pria yang jatuh cinta, tapi Iris tak bisa memercayai kebenarannya. Ketika lamaran pernikahan Richard berujung pada keadaan yang memaksa Iris menerima pria itu, ia akhirnya berpikir Richard menyembunyikan sesuatu…

REVIEW

Richard Kenworthy harus menemukan calon istri. Segera. Itu sebabnya ia jauh-jauh datang ke London meninggalkan estat Maycliffe Park yang terletak di Yorkshire. Dan itu sebabnya ia mendatangi konser kuartet Smythe-Smith. Konser musik yang menampilkan empat gadis lajang dari keluarga Smythe-Smith, yang musiknya bisa dibilang mengerikan itu. Di sanalah di antara ingar-bingar suara alat musik yang menyakiti telinga, Richard melihat Iris, sang pemain cello.
Merasa tertarik pada gadis itu, Richard meminta tolong pada Winston Bevelstoke untuk memperkenalkan mereka. Dengan pendekatan yang intens, Richard makin yakin Iris lah gadis yang cocok untuk peran istri yang dicarinya. Iris cerdas, pengamat yang baik dan sangat mengutamakan keluarga. Itu yang terpenting.
Richard pun menyiapkan misi untuk mendapatkan Iris. Saat ia melamar gadis itu dan Iris memintanya untuk memberi waktu, Richard mengambil tindakan nekat. Ia mencium Iris di depan bibi Iris dan membuat Iris jadi tercemar. Mau tak mau pernikahan harus segera dilaksanakan.
Iris sesungguhnya merasa menyukai Richard. Namun ia juga menaruh curiga pada tindakan buru-buru pria itu. Mengapa Richard ingin sekali segera menikahinya? Apa yang Richard sembunyikan dari Iris? Dan apa sebenarnya yang diinginkan Richard dari Iris dalam peranannya sebagai istri?

---------------

Kembali ke selera asal! Huaaa... sepertinya sudah lamaaa sekali saya nggak membaca Historical Romance #lebay

The Secrets of Sir Richard Kenworthy merupakan novel keempat dari seri Smythe-Smith Quartet karya Julia Quinn. Sebelumnya saya sudah membaca The Sum of All Kisses dari seri yang sama.

Mengambil setting waktu pada tahun 1825, alur novel ini mengalir dengan lincah. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga terutama sudut pandang Iris dan Richard.

Iris merupakan karakter yang menarik. Secara fisik ia begitu pucat dan begitu biasa, ia juga gadis yang kalem dan sabar. Namun Iris gadis yang cerdas dan pengamat yang luar biasa. Saya suka jalan pikiran Iris yang rasional dan jarang bersikap tak masuk akal.
Justru yang membuat frustasi adalah Fleur, adik Richard. Saya sampai berpikir, 'apa sih maunya anak ini? Rumit banget!' XD
Saya suka penggambaran tokoh Richard dalam novel ini. Sebagai hero, karakternya dideskripsikan dengan kadar yang pas. Tampan, tapi nggak berlebihan.
Saya suka dengan interaksi yang terjalin antara Richard dan Iris. Lebih menarik daripada interaksi Sarah dan Hugh dalam novel sebelumnya. Lebih logis dan rasional.

Paling suka di bagian konflik batin Richard yang terbelah antara mencintai Iris atau tetap menjalankan rencananya. Aih, inilah alasan mengapa saya nggak bisa berpaling dari hisrom. Penggambaran konflik batin heronya bikin hati teriris-iris. *jiaaah*

Sepanjang cerita saya dibuat penasaran apa sih yang disembunyikan Sir Richard. Rahasia apa yang melingkupi pria ini, dan apa yang akan terjadi pada Iris nantinya. Saya berharap rahasianya cukup sepadan dengan penantian saya. Tapi... saat terungkap, ternyata masalahnya nggak sesuai ekspektasi. Meski mungkin di masa itu, masalah yang dihadapi Richard dan Fleur ini bisa dibilang masalah berat dan mengakibatkan aib.

Kavernya cantik. Saya memang lemah dengan novel hisrom yang kavernya menampilkan gaun-gaun memikat. Haha~ tapi sepadan kok dengan cerita di dalamnya.

Well, overall saya suka banget dengan novel ini. Enak untuk diikuti dan karakternya loveable. Sangat reccomended, deh :)

Selasa, 15 Desember 2015

[Resensi: Friends Don't Kiss - Syafrina Siregar] Ketika Cinta Berhadapan dengan Idealisme


Judul buku: Friends Don't Kiss
Penulis: Syafrina Siregar
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2014
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 978-602-03-1078-7
Available at: bukupedia.com




BLURB

Bagi Mia Ramsy, menyusui adalah salah satu ekspresi cinta terbesar seorang ibu bagi anaknya. Tapi bagi Ryan Subagyo, setiap mendengar kata "menyusui", yang muncul di benaknya hanyalah bayangan payudara wanita.

Namun, kegigihan Mia memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif lewat Indonesian Breastfeeding Mothers—organisasi nirlaba tempat gadis itu mengabdi—justru semakin membuat Ryan jatuh cinta padanya.

Ryan semakin yakin Mia berbeda dari gadis-gadis yang selama ini ia temui. Kekayaan, kesuksesan dan ketampanannya memang membuat Ryan dikejar banyak gadis, tetapi belum ada yang mampu menggetarkan hatinya. Hanya Mia yang mampu membuat Ryan untuk pertama kalinya memikirkan pernikahan.

Namun, apakah lamaran Ryan akan diterima jika gadis itu mengetahui siapa Ryan Subagyo sebenarnya?

REVIEW

Meskipun masih lajang, Mia Ramsy telah terjun ke dunia breastfeeding dengan menjadi konselor ASI. Tugasnya adalah mendampingi para ibu baru agar bisa memberikan ASI eksklusif bagi bayi baru lahir mereka.
Sayangnya Mia justru telat datang saat Lia, adiknya sendiri, melahirkan. Sehingga Lia gagal melakukan Inisiasi Menyusui Dini dan membuatnya jadi uring-uringan. Alasan Mia telat datang ke persalinan adiknya adalah karena ia menabrakkan mobilnya (lagi) di parkiran rumah sakit.
Namun rupanya kecelakaan itu menjadi pintu pembuka bagi Ryan, sang pemilik mobil yang ditabrak Mia, untuk masuk ke kehidupan Mia. Ryan yang tertarik pada Mia pun dengan intens dan gencar melakukan pendekatan pada Mia.
Ryan tertarik pada semangat Mia yang penuh idealisme, sehingga ia menyembunyikan jati dirinya. Ryan takut jika Mia tahu dirinya adalah pemilik pabrik susu formula, maka Mia akan menjauhinya.
Namun sebaik-baik kita menyembunyikan kebohongan pasti akan terbongkar juga bukan? Mana yang akan Mia pilih: cinta atau idealismenya?

-----------

Friends Don't Kiss mengagetkan saya karena menjadi buku fiksi yang penuh idealisme. Saya acungi jempol untuk komitmen Syafrina Siregar dalam menyebarkan racun breastfeeding melalui novel seperti ini.

Saya suka ide ceritanya yang membuat dua tokoh utama berada di sisi berlawanan. Meski saya merasa akan lebih seru jika Ryan lebih berambisi lagi dalam meningkatkan target penjualannya, sehingga konflik kepentingannya bisa semakin gereget.

Karena saya seorang ibu dan telah menyusui dua kali, terus terang saya hanya menscreening segala informasi tentang ASI dalam novel ini. Tapi saya mencatat Syafrina cukup mulus memasukkan informasi ke dalam tiap adegan. Momennya pas bagi Mia untuk mengungkapkan pentingnya ASI dan informasi-informasi penting lainnya.

Karakter Mia yang idealis memang kadang terkesan annoying. Saya merasa dia terlalu memaksa adiknya untuk menyusui, dan berkesan menghakimi saat mendengar tentang susu formula. Hal itu sebenarnya justru malah semakin membuat stres ibu menyusui.

Saya paham benar semangat Mia karena saya pun di kampung juga menjadi orang yang annoying dalam masalah breastfeeding. Hahaha. Mia masih mending seandainya gagal pun tak masalah, tapi kader-kader semacam saya ini kalau ada warga yang gagal memberi ASI eksklusif jelas dicecar dan dimarahi pihak puskesmas. *malah curhat* XD

Sementara karakter Ryan dalam novel ini saya rasa cukup 'mengerikan'. Arogan dan semacam stalker yang seolah bisa muncul di manapun Mia berada. Saya malah curiga Ryan punya kecenderungan psikopat. Muncul di mana-mana gitu.
Interaksi dan chemistry-nya asyik. Nyaman banget dibaca. Walau saya sebal tiap kali Ryan berbisik di telinga Mia. Tanpa dibisikkan di telinga pun kesan seduktifnya sudah dapat kok.

Bagi kalian yang menginginkan informasi tentang menyusui yang dibalut roman yang sweet, boleh banget baca novel ini. Sambil baca roman sambil belajar jadi ibu. Fufuufuu~

Kamis, 10 Desember 2015

[Blogtour: Pengumuman Pemenang] Winner of Maneken by SJ. Munkian




Haiiii.... siapa yang menunggu pengumuman pemenang blog tour Maneken?
Sebelumnya seperti biasa, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kak SJ. Munkian atas kepercayaannya terhadap blog ini untuk menggelar blog tour, terima kasih juga karena sudah berbagi ilmu dan imajinasi dalam postingan wawancara yang lalu.
Terima kasih juga untuk sahabat sesama blogger buku, Kak Atria yang sudah membukakan pintu untuk kerja sama ini. *Peluuuukkk hangat*
Tak lupa, terima kasih kepada para peserta yang sudah bersemangat menggali imajinasi terliar kalian untuk menjawab pertanyaan saya.
Dan sekarang saatnya saya mengumumkan yang beruntung kali ini adalah:

Bintang Permata (@Bintang_Ach)
mendapatkan Novel Maneken + goodie bag

Mawar Hs (@goodenoughhoks)
mendapatkan paket buku Republika

Selamaaaaaat!!! Sila kirim data diri kalian ke nurinawidiani84@gmail.com paling lambat 2x24 jam ya.
Bagi yang belum menang jangan sedih, ada pesan dari Kak SJ. Munkian, nih buat kalian....

Dear kawan-kawan pengunjung sekaligus peserta GA blog-nya Nurina Mengeja Kata yang kereen gillss *edisilebay
terima kasih ya sudah mampir, membaca dan mengikuti event ini, saya sangat senang sekali dan selalu memantau postingan yang kawan-kawan unggahkan ke sini. Sungguh mengesankan :)
Selamat kepada yang menang ya, nantikan kabar selanjutnya mengenai proses pengiriman hadiah. Bagi yang belum menang, tak perlu bermuram durja, sebab masih ada 6 rangkaian lainnya, kalau pun 'kebelet' pengen bukunya tinggal ke toko buku aja hehe
dan bagi yang mau berinteraksi atau berbincang, silakan colek aja di medsos dengan akun 'sjmunkian'.


Salam, sampai jumpa di kesempatan berikutnya.

SJ. Munkian

Nah.... nah... masih banyak kesempatan di blog selanjutnya, kok, jadi jangan sedih ya. Yuk kunjungi blog kakak-kakak host blog tour yang lain ;)

10 – 13 Desember 2015 vindyputri.com
14 – 17 Desember 2015 dhaniramadhani.wordpress.com
18 – 21 Desember 2015 nathaliabookshelf.blogspot.co.id
22 – 25 Desember 2015 kubikelromance.com
26 – 29 Desember 2015 janebookienary.wordpress.com
30 Desember –2 Januari 2015 atriadanbuku.blogspot.co.id

Selasa, 08 Desember 2015

[Resensi: Runaway - Kezia Evi Wiadji] Pelarian Amy dalam Mencari Kedamaian


Judul buku: Runaway
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Desainer: Chyntia Yanetha
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Desember 2014
Tebal buku: 153 halaman
ISBN: 9786022517764



BLURB

Amy dan adiknya, hidup bersama orang tua yang tidak lagi saling mencintai. Keberadaan sang ayah telah digantikan oleh materi, sementara sang ibu selalu menyakiti dirinya sendiri. Bertahun-tahun Amy merasa tidak bahagia. Gedung gereja dan kesibukannya sebagai panitia Natal selalu menjadi pelariannya.

Suatu hari, sepulang sekolah, Amy menemukan rumah dalam keadaan kosong. Hanya terdapat jejak darah di lantai dan di kamar ibunya. Sesuatu yang mengerikan telah terjadi dengan ibunya!

Karena tak mampu lagi bertahan, Amy melarikan diri. Lari dari keluarga yang tak lagi memberinya rasa aman, kebahagiaan, juga kasih sayang.

Tetapi...

Seorang cowok menyebalkan, memergoki pelariannya itu.

REVIEW

Lagi-lagi Amy mendapati orangtuanya bertengkar, dan kali ini ia mendengar berita yang menyakiti hatinya. Papa punya anak lagi dari perempuan lain. Sudah tiga tahun hubungan orangtuanya merenggang, setelah papa menjalin hubungan dengan ibu salah satu teman sekolah Amy. Papa tak pernah lagi ada di rumah. Perhatian yang diberikan pada Amy dan Tasya hanya berbentuk limpahan materi.
Hanya dua hal penghiburan Amy, rujak ekstra pedas dan menyendiri di dalam gereja.
Tapi siang itu, saat Amy tengah merenung di dalam gereja hingga tertidur, ia bertemu cowok menyebalkan yang sok keren dan kepo. Cowok yang selalu cengengesan dan blak-blakan bernama Reno.
Untuk menghindari berada di rumah, Amy pun mendaftarkan diri menjadi panitia persiapan Natal di persekutuan remaja gerejanya. Tak disangka, ia berada dalam seksi yang sama dengan Reno, seksi dekorasi.
Secara temporer, Amy mendapatkan kedamaian di tengah kesibukannya menjadi panitia natal. Tapi suatu hari kedamaian itu rusak saat pertengkaran orangtuanya memuncak dan Amy mendapati kamar mama penuh jejak darah.
Bisakah Amy mengembalikan kebersamaan keluarga mereka? Rahasia apa yang disembunyikan mama dan papa? Akankah Amy berhenti lari dan merangkul kemarahannya sendiri?

----------

Mumpung bulan Desember, asyik rasanya membaca novel bertema natal dan keluarga. Novel Runaway ini salah satunya. Memang, natal dan keluarga adalah kesatuan yang nggak bisa dipisahkan, ya? :)

Runaway dikisahkan dari sisi Amy yang gelisah, malu dan marah akan problema keluarganya. Ceritanya mengalir dan terasa emosional. Saya menangis ketika tiba di pertengkaran papa dan Amy. Astaga! Sedih banget rasanya seolah saya sendiri yang ditampar :(

Saya pada mulanya nggak begitu suka sama Amy yang cenderung menutup diri dari teman-teman dan gurunya. Tingkahnya juga cukup sembrono dalam hal pelajaran, selain itu ia juga memanfaatkan teman sebangku pula. Cck...cck... PHP banget deh.
Sedangkan Reno juga semula saya anggap annoying banget karena sikap ceria dan tengilnya. Tapi ketika tahu kenyataan hidup yang dijalaninya, saya jadi salut. Keren juga cowok satu ini. Tabah dan serbabisa.
Saya juga cukup kesal sama mama. Terlalu egois dan memikirkan diri sendiri. Cari perhatian dengan menyakiti diri dan sibuk mengasihani diri sendiri. Kan kasihan anak-anaknya.
Lho? Kok semua tokoh bikin kesal? Ahahaa... memang sifat tokoh-tokohnya inilah yang nantinya akan memicu konflik.
Saya suka hubungan Amy dan Reno yang terkesan alami. Chemistry-nya dapet deh. Reno yang ketengilan dan Amy yang jutek. Suka banget pas bagian Reno nggodain Amy yang marah. Sweet.

Cukup kaget dengan twist yang diberikan. Wah, memang hancurnya suatu hubungan nggak bisa hanya dibebankan ke salah satu pihak. Pastilah dua belah pihak punya andil yang sama.
Saya merasakan penyelesaiannya terlalu terburu-buru. Perubahan papa dan mama terlalu tiba-tiba. Penginnya sih ada pendekatan lebih lama dan lebih mendalam antara papa dan Amy. Udah nelantarin selama beberapa tahun lho.
Saya jadi teringat film-film keluarga bertema natal yang berakhir bahagia setelah beragam konflik. Jadi ketika penonton keluar dari bioskop mereka akan berseri-seri dan diliputi rasa sayang terhadap keluarga mereka. Seperti itulah rasanya mengakhiri membaca novel ini. Hangat, penuh kasih dan lebih menghargai kehadiran keluarga.

Bagi yang suka novel ringan dan hangat hayuk baca Runaway. Mumpung masih dekat-dekat suasana Natal. Pas banget nih timingnya :)

Minggu, 06 Desember 2015

[Blogtour: Wawancara Penulis] Sangaji Munkian Penulis Maneken yang Filosofis



Sudah baca review Maneken sebelumnya? Yuk sekarang kita berbincang-bincang dengan sang penulisnya, Kak Sangaji Munkian :)

Halo Kak Sangaji, sebagai penulis novel Maneken, bisa perkenalkan diri kakak ke pembaca?

>Halo, perkenalkan, nama saya Sangaji Munkian, nama di bukunya sih SJ. Munkian biar gimana gitu, #abaikan. Aku lahir dan hidup di bumi sejak tahun 1993, tinggal di Bandung, baru selesai pendidikan tinggi, hobi menulis sejak SMP dan mengejahwantahkan menulis sebagai passion sejak SMA, dulu sering banget nulis kutipan, puisi, cerpen dan memanjang hingga jadi novel. Dan Maneken adalah salah satunya. Yuk baca  #udahpromoaja

Ide awal penulisan Maneken ini dari mana sih, Kak?
Berasal dari dua hal, yang pertama adalah pengalaman yang seringkali kita lakukan jika berjalan-jalan di di daerah pertokoan yang menjajakan baju, pasti kita akan mendapati maneken-maneken, nah di sanalah sebuah imajinasi liar berpendar, bagaimana jika boneka peraga itu sebetulnya punya pikiran, punya kehidupan dan kisah sendiri, dapat berkomunikasi antar boneka hanya saja kita terlalu sibuk dan terlalu tidak mempercayai hal tersebut.
Kemudian yang kedua adalah, pada tahun 2011, Letto Band (Band Indonesia favorit, yang menurutku lagu-lagunya paling nyastra, berima dan bermakna) mengeluarkan lagu dan video klip berjudul Dalam Duka, di sana mengisahkan kisah melankolis nan menyentuh tentang sebuah maneken, nah… berasal dari kedua hal itulah Novel Maneken ini meretas sebagai ide dan mewujud buku yang dipajang.

Mengapa Kakak memilih menulis genre fantasy, apakah genre ini zona nyaman atau tantangan bagi kakak?

Aku meyakini semua orang mempunyai kepercayaan, sekalipun dia seorang ateis (maka kepercayaanya adalah tidak mempercayai entitas maha kuasa) #belibet?Abaikan
Begitupun penulis, pasti dia punya genrenya, genre pribadi yang sesuai dengan dirinya, nah aku pun punya genre itu, yang salah satunya adalah fantasi, jika dikatakan zona nyaman barangkali iya dan tantangannya juga iya, saat kita menulis genre fantasi, maka pikiran kita betul-betul diuji supaya merentangkan sejauh mungkin tuk menciptakan realitas baru yang beda ataupun tak pernah ada di dunia sebenarnya, itulah tantangan sekaligus keasyikannya.
Kendati demikian, sebetulnya level fantasi Maneken masih menengah sebab realitasnya masih berpijak di bumi, ada beberapa naskah lainnya yang level fantasinya melintas nun jauh dari bumi dan menjungkirbalikan fakta. #blurbnantikansajaya

Berapa lama proses penulisan novel ini? Apa kendalanya?

Aku ada catatannya, yakni dari 16 Juli 2013 – 30 Oktober 2013
Tidak ada kendala yang terlalu berarti sih #sombong, sebab sebelumnya novel ini berasal dari cerpen yang aku kembangkan saking cintanya sehingga menjadi seperti ini. Ya, mungkin lebih kepada tantangannya kali ya, yakni mengembangkan karakter, pendalaman konflik dan menambah bab aja, tapi itu asyik kok, apalagi pas revisi dibantu sama editor super kece.
Dan tantangan lainnya paling saat revisi novel, di awal 2015 barengan sama nulis skripsi, jadi aku menggarap dua tulisan berbeda, skripsi dan novel yang berakhir dengan indah yakni, skripsi disidangkan dan novel diterbitkan.

Wah... keren dong, nulis skripsi dan nulis novel bisa barengan dan sukses semua!
Oke kak, sekarang coba sebutkan tiga kata yang menggambarkan novel ini, dong :)

Fantastis, Romantis… Filosofis 

Mengapa sih, kakak mengambil maneken sebagai benda yang menjadi tokoh dalam novel ini?

Aku ingin menulis sesuatu yang istimewa yang berasal dari sudut pandang spesial, yakni benda mati, dan karakter maneken sebagai benda mati yang menyerupai manusia, kupikir saat itu akan jadi menakjubkan jika dibalik diamnya mereka, sesungguhnya punya kisah sendiri yang tak disadari oleh seluruh umat manusia.

Sebenarnya, saya pun kalau lihat maneken nggak berani menatap matanya karena mata mereka seolah-olah mengamati kita, manusia. Hiii~ #iyainicurhat ^^
Di antara tokoh dalam Maneken, tokoh mana yang jadi favorit? Mengapa?

Aku menyayangi semua tokoh, tapi ya kalau ditanya favorit, aku suka dengan Sophie C. Fleur, meskipun dia antagonis #blurb dia adalah representatif dari orang-orang hebat, yang secara penampilan oke, pendidikan tinggi, smart, karier cemerlang namun memiliki beberapa ‘kecacatan’ yang kadang diabaikan oleh dirinya, semisal tentang perangai dan relasi dengan orang lain, termasuk dengan yang dicinta.
Meski begitu, bukankah tidak ada yang oke dalam segala hal? Kembali lagi pada konsep tak ada yang sempurna, meksipun ada bagian diri kita yang sempurna, sementara yang lainnya tidak. Itulah manusia, itulah pemeran kehidupan.

Ceritain dong kak, adakah pengalaman personal kakak yang kakak masukkan ke dalam novel ini?

Apa ya? Kayaknya untuk novel maneken ga ada deh, sebab aku belum pernah jadi maneken. Serius lho. Tapi kalau karakter ada yang terinjeksi ke salah satu tokoh, kira-kira yang siapa? Rahasia ah. Hehe.

Ada tips nggak buat calon penulis yang ingin menulis genre fantasy?

Bacalah buku, nontonlah film, tak cuma fantasi tapi semuanya, berkawanlah dengan yang suka fantasi juga biar bisa bisa saling sharing dan menyemangati. Sesekali pertanyakanlah banyak hal pada diri sendiri, luangkan waktu buat merenung (bermalasan di kasur yang produktif) dan tulis idemu segera, dan tekankan bahwa, sebab ini fantasi, maka ini adalah duniamu, maka buatlah dunia sesukamu, buatlah aturan, baru gaya baru dari sesuatu yang begitu-begitu aja jadi seru, ya misalnya di dunia nyata ini, kalau maneken ya cuma benda mati, dikasih pakaian dan dipajang, kalau udah jelek diganti, nah dengan kekuatan fantasi buatlah aturan dan gaya baru, bahwa sesungguhnya maneken itu punya pikiran, dapat berkomunikasi antar maneken, punya mimpi dan dapat bergerak dengan syarat dia punya cukup ambisi dan tidak ada orang atau sesuatu apapun yang menyaksikannya bergerak, sehingga dalam sejarah kehidupan manusia maneken tidak dianggap hidup (tetapi sesungguhnya hidup), sebab tidak akan pernah ada saksi, lantaran syarat bergeraknya maneken melindungi kebenaran sebuah maneken.

Apa yang ingin kakak sampaikan pada pembaca dan calon pembaca novel kakak ini?

Segalanya punya sudut pandang, bahkan bagi benda mati pun, kita diciptakan oleh Tuhan maka kita punya sudut pandang juga pemikiran bukan?
Apakah benda yang diciptakan manusia punya sudut pandang dan pikiran? Apalagi mereka mirip sebagai manusia?
Kurasa iya.
Selain itu mari kita cermati filosofi saling menghormati yang berlaku tak hanya antar benda hidup, tetapi bagi benda mati dan alam sekitar. Lengkapnya, baca saja, ga asik dong kalo dikoarin di sini.

Sebagai penutup apa yang ingin Kakak sampaikan kepada pembaca di sini?

Apa ya? Yang jelas, kunjungi toko buku, bawa pulang Novel Maneken, dan juga follow t/fb/ig/tumblr: sjmunkian (nama akunnya sama). #frontalbangetpromonyahehe
Sampai jumpa di dunia Novel Maneken, kamu akan merasakan pengalaman mengesankan sebagai pejuang yang dipajang.


Naahh... sudah puas belum berkenalan dengan kak Sangaji, yuk di-follow akun sosmednya dan ikutan giveawaynya dulu. Siapa tahu kalian bisa beruntung bertualang di dunia maneken :))

[Resensi] Maneken - SJ. Munkian


Judul buku: Maneken
Penulis: SJ. Munkian
Editor: Triana Rahmawati
Desain cover: Chandra Kartika Gunawan
Penerbit: Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)
Tahun terbit: September 2015
Tebal buku: x + 181 halaman
ISBN: 9786029474060



BLURB

Dalam sejarah kehidupan di dunia, benda mati hampir selalu tidak dihiraukan. Tidak ada yang mau repot-repot memikirkan perasaan benda mati, apalagi memerhatikan kebutuhannya. Kau bahkan tak pernah tahu kan, bahwa maneken bernama Claudy—yang bekerja keras di etalase terdepan toko busana Medilon Shakespeare—mempunyai perasaan. Mimpi-mimpinya dilambungkan untuk kemudian dihempaskan lagi hingga hanya bisa bergantung pada nasib dan keajaiban. Ya, keajaiban.

Novel ini akan membuka mata hatimu dengan menempatkanmu pada posisi benda mati yang tak dihiraukan, meski sedang berjuang mati-matian untuk mencapai mimpi-mimpi. Kau akan melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan semoga itu akan membuatmu semakin mengerti, betapa kami, aku dan Claudy, iri kepada kalian.

REVIEW

Sebelum Medilon Shakespeare dibuka, sebuah maneken perempuan telah diletakkan di etalase utama. Maneken paling cantik dan paling unggul di antara maneken-maneken lainnya, dialah Claudia.
Yang tak diduga Claudia, ternyata bukan hanya dirinya saja yang diletakkan di etalase utama yang menghadap ke Capulatte Cafe itu. Ada sebuah maneken pria yang akan disandingkan bersamanya di etalase utama. Nama maneken itu Fereli. Maneken pria yang mengaku berasal dari Perancis dan fasih berbahasa Perancis, yang tentunya membuat Claudia kesal setengah mati karena harus membagi etalase utama bersama pria itu.
Namun lama-lama, seiring dibukanya toko busana, dan tema busana yang silih berganti mereka bawakan, mereka berdua menja dekat. Obrolan dan sentuhan tak pelak membawa desir rasa di antara mereka.
Tepat ketika mereka merasakan puncak bahagia seperti Sophie si pemilik toko yang tengah dimabuk asmara, bencana terjadi. Sophie menemui kegagalan. Fereli dan Claudia menjadi sasaran amuk Sophie dan menjadi target pemusnahan. Inikah akhir nasib mereka? Apakah maneken hanya bisa diam ketika manusia berbuat tidak adil pada mereka? Apakah benda mati selamanya tak punya kuasa melawan benda hidup? Atau akankah ada keajaiban bagi mereka?

--------------
Akhirnya setelah cukup lama melahap novel romance, saya bertemu kesempatan membaca genre fantasi lagi melalui novel Maneken ini. Dan yang luar biasa novel ini adalah novel fantasi karya anak bangsa sendiri.

Yang menarik perhatian saya pertama kali saat membuka novel ini adalah susunan daftar isi. Dalam daftar itu terdapat judul-judul bab yang semuanya merupakan kata pasif semacam; Dinamai, Diletakkan, Diperlihatkan, dan ada juga Dipertemukan. Semula saya masih nggak mengerti mengapa kata pasif yang digunakan sebagai judul, tapi karena tokoh utama novel ini adalah benda mati, atau sebuah obyek, barulah saya merasa betapa tepatnya judul bab yang digunakan.

Maneken diceritakan dari sudut pandang Claudia sebagai "aku" pada awalnya, hingga di pertengahan sudut pandang mulai berganti-ganti antara Claudia dan Fereli. Menarik sekali menyaksikan apa yang dirasakan kedua maneken ini terhadap para manusia baik yang ada di dalam toko maupun di luar toko.

Jalinan kisahnya lumayan runut. Beberapa kemustahilan dijelaskan dengan argumen sehingga menjadi lebih masuk akal. Karena toh bagi saya, genre fantasy tetap saja mesti punya jalan logika yang bisa tetap digenggam :))
Analogi dan filosofi yang dipaparkan sangat menarik. Beberapa hal dipotret dari sudut pandang Claudy dan Fere sebagai benda mati.

Penggambaran tokoh Claudia dan Fereli cukup bertolak belakang. Claudia adalah maneken perempuan yang sedikit egois dan "kosong", saya nggak menemukan "isi" yang bulat dalam karakter Claudia. Selain bahwa dia penuh mimpi dan romantis. Sementara Fereli adalah maneken pria yang sabar dan tabah. Sabar bangetlah dijutekin Claudia. Paling suka kalau Fere mulai ngomong pakai bahasa Perancis dan Claudia bengong. Ternyata walau tenang, Fere lumayan usil juga :))
Membaca novel ini membuat kosa kata bahasa Perancis saya jadi bertambah karena Fereli.

Tokoh manusia yang karakternya cukup menonjol di sini adalah Sophie, si pemilik toko. Sophie karakter yang keras dan disiplin. Dia juga nggak segan menegur orang-orang yang tindakannya nggak sesuai dengan kemauannya. Tipe perempuan yang jika di dunia nyata bakal saya jauhi dan nggak mau berurusan dengannya.
Di antara semua tokoh dalam Maneken, justru Sophie-lah yang pengkarakterannya lebih kuat dan lumayan bulat.
Sedangkan dialog antar tokoh dalam novel ini masih terasa kaku, masih banyak dialog basa-basi dan emosinya masih encer. Kurang pekat dan kurang chemistry.

Ada beberapa typo terutama pada penggunaan partikel -pun yang seharusnya dipisah seperti "apa pun" dan "siapa pun" ditulis menyambung. Juga ada beberapa kesalahan tata kalimat. Tapi tetap enak dibaca dan nggak terlalu mengganggu.

Saya cukup menikmati novel ini dan merekomendasikan Maneken bagi penggemar novel genre fantasy yang menginginkan membaca cerita yang unik. Setidaknya novel ini mengajarkan untuk lebih menghargai benda mati dan nggak melampiaskan kesalahan dan kekesalan pada benda mati.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Pahami orang lain, maka kau pun akan dipahami. (hlm. 69)

Dalam realitas pribadi—mimpi, imajinasi—jika kita berkeinginan dengan teramat kuat dan bersungguh-sungguh maka hal itu akan jadi realitas semesta—menjadi nyata. (hlm. 88)

"Usaha dari dia yang memperjuangkan cinta tak akan sia-sia." (hlm. 155)
Bagi yang masih penasaran, silakan tonton trailernya :))



 *****GIVEAWAY TIME (CLOSED)*****



Sekarang waktunya bagi saya untuk menjamu teman-teman yang telah berkunjung dan mengikuti blog tour Maneken ini.

Akan ada dua hadiah yang disediakan Kak Sangaji dan Penerbit Republika untuk dua orang yang beruntung:

Hadiah pertama --> novel Maneken & goodie bag
Hadia kedua --> paket buku Republika

 Wohooo... siapa yang nolaaak??!
Hihihii.. syarat untuk mendapatkannya mudah saja.
1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @sjmunkian @bukurepublika dan @KendengPanali
3. Share tentang giveaway ini di twitter dengan memention ketiga akun di atas dengan hashtag #Maneken dan sertakan pula kaver novel ini di share kalian.
4. Baca postingan wawancara saya bersama SJ. Munkian di sini
5. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menyebutkan nama, akun twitter dan alamat email.

Dalam imajinasi kalian, benda apa yang kalian bayangkan bisa berbicara dan berpikir seperti manusia? Deskripsikan juga kemampuan apa yang mereka miliki.

Giveaway ini akan berlangsung dari tanggal 6 Desember 2015 dan ditutup tanggal 9 Desember 2015 pukul 23.59 WIB. Pemenang akan saya umumkan tanggal 10 Desember 2015.
6. Yang terakhir good luck, ya ;)


Review ini diikutkan dalam Lomba Resensi Maneken



Rabu, 02 Desember 2015

[Resensi: Pulang - Tere Liye] Memaknai Kepulangan Sang Jagal Jenius


Judul buku: Pulang
Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Penerbit: Republika
Tahun terbit: November 2015 (cetakan VI)
Tebal buku: iv + 400 halaman
ISBN: 978-602-08-2212-9



BLURB

"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya."

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

RESENSI

Di usia lima belas tahun, untuk pertama kalinya Bujang bertemu dengan Tauke Besar. Lelaki itu datang ke kampungnya di lereng bukit barisan untuk memburu babi hutan yang telah merusak sawah milik warga. Tanpa Bujang sadari, itulah ujian pertamanya.
Hari itu ketika ia ikut berburu babi hutan dan berhadapan dengan babi hutan terbesar yang pernah dihadapinya, Bujang telah membuka pintu lebar-lebar untuk takdir masa depannya. Takdir sebagai putra tunggal jagal paling ditakuti di ibukota propinsi. Takdir yang membawanya pergi dari rimbunnya hutan bukit barisan, dan meniti jalannya di tengah Keluarga Besar Tong, penguasa bisnis ilegal di ibukota Propinsi. Hanya satu pesan mamaknya, Bujang harus menjaga perutnya dari makanan dan minuman haram.
Semula, Bujang berpikir ia akan dijadikan tukang pukul seperti sebagian besar orang yang direkrut Tauke Besar, tapi ternyata ada rencana lebih besar yang disiapkan Tauke Besar. Rencana yang membuat Bujang dua puluh tahun kemudian menjelma menjadi Si Babi Hutan, penyelesai konflik tingkat tinggi Keluarga Tong dalam dunia shadow economy.
Bisikkan nama Si Babi Hutan maka orang-orang akan terkencing-kencing ketakutan, suruh Si Babi Hutan bicara maka presiden pun akan duduk terdiam mendengarkan.
Namun, sejauh-jauh elang terbang, ia pastinya harus pulang ke sarang, akankah Bujang juga pulang? Akankah ia menemukan kedamaiannya atau ia sudah terlalu berlumur darah untuk kembali pulang?

Di keluarga ini, seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait-mengait. (hlm. 315)
------------

Diceritakan dengan sudut pandang Bujang sebagai orang pertama, novel Pulang langsung memberi gebrakan melalui openingnya. Pembuka yang memberi debaran ketegangan dan rasa penasaran, yang kemudian disusul dengan adegan perpisahan yang menyesakkan. Dan memberi landasan yang kuat untuk konstruksi ceritanya.

Penokohannya kuat dan bulat. Masing-masing tokoh memiliki karakter yang mudah diingat dan menempel erat.
Yang mengesankan tentu saja karakter Bujang; jenius, kuat, nggak kenal takut dan jadi jagal nomor satu. Bujang sanggup menyelesaikan ujian apa pun. Bahkan misi yang mustahil bisa diselesaikannya meski dengan proses yang cukup lama. Tapi tetap saja rasanya superhero banget bagi saya. Susah dibayangkan bisa dilakukan oleh manusia biasa.
Saya suka penggunaan aksen Sumatra kental yang dipakai dalam gaya bicara tokoh Tauke Besar, Kopong dan Samad. Hal itu menjadi penguat setting yang cermat.

Mengangkat tema dunia shadow economy yang mengerikan, Tere Liye begitu cermat dan mendetail dalam deskripsinya. Banyak penjelasan diberikan, dan detail pertarungan yang jelas membuat suasana terbangun dengan mudah dalam pikiran saya.
Ceritanya mengalur dengan melompat-lompat antara masa kini dan masa lalu, namun saya tetap bisa mengikutinya karena cara bertutur Tere Liye yang mengasyikkan. Di satu waktu terasa tegang dalam situasi baku hantam dan ledakan-ledakan, di kala lain terasa mengharukan dengan eratnya ikatan keluarga dan loyalitas.
Saya begitu menikmati dan menunggu dengan berdebar-debar taktik apa yang akan digunakan Bujang. Bersiap menanti kejutan yang membuat terperangah.

Namun entah mengapa di bab delapan saat Bujang bertemu White, Tere Liye nggak langsung menyebutkannya sebagai putra Frans, padahal informasi itu sudah ada di bab sebelumnya ketika Frans bercerita tentang masa lalunya. Saya rasa kalimat-kalimat penutup bab delapan itu akan menjadi twist yang seru jika saja di bab sebelumnya, Frans nggak perlu menyebutkan nama putranya, cukup profesinya saja.

Saya mencatat dua kali Tere Liye melakukan pola yang sama dalam mengaduk emosi pembaca. Memutar balik suasana kegembiraan menjadi suasana sedih haru yang menyayat. Pada kesempatan pertama saya terlena dan menangis, di kesempatan kedua, mungkin karena saya sudah mengantisipasinya, saya nggak lagi merasakan twist-nya. Momennya sama, suasananya sama, waktu kejadiannya sama dan adzan subuh yang sama. Namun ternyata adzan inilah yang nantinya cukup berperan dalam penyelesaian.

Dan ketika tiba di konflik yang telah meninggi, di saat ketegangan memuncak dan saya siap menyaksikan gebrakan di bab berikutnya, saya dibawa kembali oleh penulis untuk menyusuri masa lalu, membuat ketegangan yang tadinya mendidih tertunda, diberi jeda. Membuat saya penasaran setengah mati akan kelanjutan situasi yang saya tinggalkan tadi. Cck! Bikin tambah tegang saja.

Sosok si pengkhianat sudah saya duga sejak awal. Dalam buku-buku seperti ini sudah bisa diduga orang paling dekatlah yang akan berkhianat. Sejak awal Tere Liye nggak berusaha menutup-nutupi atau berusaha mengalihkan kecurigaan pembaca pada tokoh lain, ini membuat saya senang karena bisa menikmati membaca buku ini tanpa harus curiga pada siapa pun, hanya pada satu-dua orang.
Yang nggak saya duga justru adalah penyelesai konflik batin Bujang. Itu benar-benar twist yang luput nggak terpikirkan sama sekali oleh saya.

Saya suka dengan kavernya. Warnanya pas dan nggak berlebihan. Saya menangkap filosofi matahari pagi yang diungkapkan Tuanku Imam dalam kaver Pulang.

Saya rekomendasikan novel ini karena Pulang menjadi novel yang bukan hanya enak dinikmati tapi juga sarat filosofi. Tentang keluarga dan kesetian. Dan yang terpenting tentang hakikat pulang. Bukan hanya dalam bentuk fisik ragawi tapi dalam arti yg lebih dalam, lebih sakral. Pulang pada makna awal hidup kita.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Pergilah, anakku, temukan masa depanmu. Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang...." (hlm. 24)

Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing. (hlm. 101)

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain. (hlm. 188)

Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (hlm. 219)
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon