Jumat, 15 Januari 2016

[Resensi: Pasangan Takdir - Maureen Child] Kesempatan Kedua sang Pasangan Takdir


Judul buku: Pasangan Takdir
Judul asli: Vanished
Penulis: Maureen Child
Alih bahasa: Teguh Hari Prasetyo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2010
Tebal buku: 312 halaman
ISBN: 978-979-22-6516-3



BLURB

Selama ratusan tahun, Rogan Butler hidup menyendiri, menenggelamkan diri dalam perburuan iblis, dan melupakan Pasangan Takdir-nya. Namun, saat Alison Blair menghampiri kehidupannya, Rogan merasakan kembali getaran dan ikatan batin seperti yang dulu ia rasakan pada Pasangan Takdir-nya. Rogan menyangkal ikatan batin itu. Satu Penjaga Abadi hanya memiliki satu Pasangan Takdir, dan Rogan telah menemukannya lima ratus tahun lalu, sebelum perempuan itu mati di tangan iblis.
Tapi Alison terus mendekat, memohon bantuan Rogan untuk membebaskan adiknya yang ditawan iblis. Meski tak menyukai getaran yang timbul tiap kali berdekatan dengan Alison, Rogan tak sanggup menolak. Ia berjuang menyelamatkan adik Alison dan manusia-manusia lain yang ditawan iblis, meski harus mengorbankan sesuatu yang sangat berarti baginya...


RESENSI

Alison Blair jauh-jauh datang ke Irlandia bersama adiknya Casey, untuk menunaikan tugasnya sebagai Penasihat Penjaga. Seorang cenayang membuat ramalan bahwa akan ada sesuatu yang besar dan mengerikan terjadi di Irlandia, maka para Penasihat merasa perlu untuk memberitahu sang Penjaga di Irlandia, Rogan Butler.
Namun karena Rogan terkenal tidak menyukai Penasihat dan kurang ramah, Alison ditugaskan mendatangi manor Rogan dan bicara langsung dengannya.
Benar saja, Rogan tampak berang dan buru-buru ingin mengusir Alison. Terutama ketika tanpa sengaja mereka bersentuhan dan mereka berdua sama-sama merasakan pijaran dan entakan kilat yang menghubungkan mereka. Seketika mereka tersadar bahwa mereka adalah Pasangan Takdir.
Rogan berusaha menolak pemikiran itu, terutama karena Pasangan Takdirnya telah muncul beratus-ratus tahun lalu dan telah mati. Sekuat tenaga ia berusaha menjauhkan Alison dari kehidupannya.
Sayangnya, Casey menghilang dan satu-satunya yang bisa menolong Alison untuk menemukan Casey adalah Rogan. Maka mereka pun bekerja sama mencoba mencari Casey dan kemudian menemukan kenyataan mengerikan.
Kenyataan bahwa benar-benar ada kekuatan iblis besar yang sedang dibangun. Kini mereka harus bekerja sama bukan hanya untuk menyelamatkan Casey tapi juga manusia yang diculik para iblis. Dan satu-satunya jalan adalah mendatangi dimensi tempat para iblis berada. Namun, untuk keluar dari sana sang Penjaga harus melakukan pengorbanan.
Akankah Casey ditemukan? Dan apa hubungan Alison dengan Sinead, gadis Pasangan Takdir Rogan yang mati ratusan tahun lalu? Apakah pengorbanan Rogan bisa menyelamatkan mereka?

----------------

Saya baru sadar novel seri nocturne ini ternyata sudah menghuni timbunan saya selama lima tahun. Hahaha. *tiup debu*
Ternyata blurb yang dulu membuat saya tertarik membelinya nggak cukup untuk membuat saya tertarik membacanya. Terutama setelah seri Dark Hunter milik Sherrilyn Kenyon menancap kuat di benak saya.
Tapi karena takut berdosa pada keping rupiah yang saya korbankan untuk novel ini, saya pun bertekad kuat membacanya.

Sejak awal membaca saya sudah mulai terganggu dengan istilah Penjaga dalam novel terjemahan ini. Bagi saya akan lebih klik kalau tetap menggunakan istilah aslinya saja, Guardian.
Ceritanya memang cukup menarik dan seru, terutama saat Rogan bertarung dengan iblis. Settingnya mendetail dan dengan mudahnya terbayang di benak saya dengan jelas.
Tokohnya pun punya karakter kuat. Hanya saja tarik ulur di antara si hero dan heroine lama-lama terasa menyebalkan. Dan sayangnya nggak ada chemistry yang memikat di antara mereka. Bahkan beberapa pembicaraan serasa pembicaraan basa-basi. Flat banget. Yang menyelamatkan cerita ini mungkin adegan dewasanya yang bisa dibilang hot. :)

Endingnya nggak mengejutkan juga sih. Malah saya lebih kaget dengan perubahan drastis Casey yang tiba-tiba mau bergabung dengan Penasehat. Tiba-tiba banget tanpa ada perenungan dulu atau apalah yang nggak berkesan buru-buru.

Yah, novel ini memang biasa saja dan nggak istimewa, tapi kalau kalian tertarik dengan pejuang Celtic kuno dan ingin mengikuti perburuan iblis di Irlandia, sambil merasakan hotnya kamar mandi Rogan, boleh banget baca novel ini ^^

Kamis, 14 Januari 2016

[Resensi: Amba - Laksmi Pamuntjak] Pencarian Jejak Masa Lalu Amba


Judul buku: Amba
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Desain sampul: Lala Bohang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2013 (cetakan keempat edisi baru)
Tebal buku: 578 halaman
ISBN: 978-979-22-9984-7
Available at: Bukupedia.com




BLURB

Tahun 2006: Amba pergi ke Pulau Buru. Ia mencari orang yang dikasihinya, yang memberinya seorang anak di luar nikah. Laki-laki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali. 

Novel berlatar sejarah ini mengisahkan cinta dan hidup Amba, anak seorang guru di sebuah kota kecil Jawa Tengah. “Aku dibesarkan di Kadipura. Aku tumbuh dalam keluarga pembaca kitab-kitab tua.” Tapi ia meninggalkan kotanya. Di Kediri ia bertemu Bhisma. Percintaan mereka terputus dengan tiba-tiba di sekitar Peristiwa G30S di Yogyakarta. Dalam sebuah serbuan, Bhisma hilang selama-lamanya. Baru di Pulau Buru, Amba tahu kenapa Bhisma tak kembali.

RESENSI

Kisah dibuka dengan ditemukannya dua wanita yang terluka di dekat sebuah makam di Pulau Buru. Salah satu wanita yang terluka parah karena luka tikam jelas-jelas bukan warga pulau itu. Wanita satunya, Mukaburung, mengaku menikam si wanita lainnya karena wanita itu berani mendekati makam suami Mukaburung. Kemisteriusan wanita yang terluka itu terkuak saat seorang pria, Samuel, datang dan mengenali wanita itu sebagai Amba. Seorang wanita yang jauh-jauh datang ke Pulau Buru untuk melacak jejak sang kekasih.
Amba adalah putri sulung seorang guru di kota kecil, Kadipura. Ia tahu dirinya tak secantik ibunya dan adik kembarnya Ambika-Ambalika. Maka ia banyak meleburkan diri pada buku-buku, ia berusaha melakukan segalanya dengan sebaik mungkin. Ketika ia tak juga berminat menikah, ibunya yang cemas memaksanya untuk berkenalan dengan Salwa, seorang pemuda pintar dan lurus. Pada pemuda inilah Amba jatuh cinta. Saat Salwa berhasil membujuk orangtua Amba agar mengizinkan Amba kuliah di Yogtakarta, mereka makin sering bersama. Tapi hubungan mereka yang tetap lurus membuat Amba kecewa.
Ketika Salwa ditugaskan ke Surabaya, orangtua Amba menyarankan agar mereka segera menikah. Tapi Amba enggan, ia menolak. Ia berjanji akan menikah saat Salwa telah menyelesaikan tugasnya.
Dan di tengah kegelisahan hatinya serta kecamuk politik di sekelilingnya, Amba pergi ke Kediri untuk menjawab sebuah iklan yang mencari penerjemah. Di sebuah rumah sakit di Kediri itulah Amba bertemu dengan dr. Bhisma. Pria yang dengan mudahnya mencuri hatinya dan tanpa ragu memainkan gairahnya.
Sayang cinta Amba dan Bhisma di kisah ini, selayaknya kisah dalam Mahabharata, dipermainkan takdir. Mereka terpisah dalam sebuah penyerangan.
Bertahun-tahun Amba tak bisa menemukan Bhisma. Hingga sebuah email kaleng akhirnya memaksa Amba datang ke Pulau Buru untuk mencari jawaban. Mengapa mereka terpisah? Dan mengapa Bhisma tidak meninggalkan Pulau Buru seperti tahanan politik lainnya?

--------------

Amba menjadi novel yang menarik hati saya karena dua hal. Satu karena Bhisma. Sebagai pencinta kisah pewayangan saya sangat mengagumi Bhisma, sang putera Gangga yang sangat berpegang teguh pada kesetiaan ikrarnya. Meski ia menolak Amba, tapi saya penasaran banget adakah terlintas di benak Bhisma rasa ketertarikannya pada Amba. Karena di tengah Bharatayudha ia pun dengan pasrah menerima takdirnya dijemput maut oleh Amba melalui Srikandi.

Yang kedua tentunya karena sejarah PKI dan situasi politik tahun 1965. Sebagai generesi yang dijejali PSPB, pelajaran sejarah yang katanya dipoles sedemikian rupa untuk mengagungkan Soeharto, saya selalu penasaran tentang apa sebenarnya yang terjadi di tahun-tahun itu. Karena sejarah yang ada di buku pelajaran sangatlah diragukan.

Dan rupanya novel ini lebih memuaskan dalam segi sejarah. Bisa dilihat bahwa Laksmi Pamuntjak melakukan riset yang luar biasa mendalam demi novel ini. Saya benar-benar terseret dan tenggelam dalam situasi serbakacau dalam novel ini. Ikut berdebar setiap kali nama-nama kiri disebutkan. Sedikit banyak saya bisa memahami situasi di kurun waktu itu.

Amba terbagi menjadi tujuh bagian. Samuel dan Amba menjadi pembuka kisah yang menjelaskan konstruksi cerita mengapa Amba datang ke Pulau Buru pada Maret 2006.
Di buku kedua, Amba, Bhisma, & Salwa menceritakan kisah asmara Amba dengan Salwa kemudian Bhisma yang terjadi di kurun waktu 1956 - 1965.
Buku ketiga, Amba & Adalhard berlatar di Yogyakarta tahun 1965 menceritakan pertemuan Amba dengan Adalhard, si lelaki ketiga. Juga keputusan besar yang akhirnya diambil Amba. Dilanjutkan dengan Bhisma di buku keempat.
Samuel dan Amba menjadi kisah di buku kelima yaitu kisah pertemuan awal Amba dan Samuel pada Februari - Maret 2006.
Kemudian segala jawaban akhirnya muncul di buku keenam Bhisma dalam Tahun yang Hilang antara 1965 - 2006 yang berisi surat-surat Bhisma untuk Amba sang kekasih tercinta.
Kisah ditutup dengan pertemuan Srikandi & Samuel pada tahun 2011 di buku ketujuh.

Sebagai novel yang menyajikan rentetan sejarah, cukup banyak tokoh sampingan dalam novel ini. Peran-peran yang meski porsinya kecil tapi punya andil kuat dalam proses cerita. Sementara untuk masing-masing tokoh utama; Amba, Bhisma, Salwa, dan Samuel, sejarah tentang siapa, apa, mengapa dan bagaimana mereka terdeskripsi dengan sangaaaat detail. Saking detailnya sampai terasa membosankan bagi saya.

Bisa dibilang meski porsinya cuma sedikit, saya puas dengan kisah tragis Amba dan Bhisma dalam novel ini. Yah, setidaknya nggak setragis kisah Amba dalam Mahabharata. Ada kesan kuat bahwa meski mereka nggak bersatu dan merana bertahun-tahun, tapi membaca surat-surat Bhisma serasa saya menemukan surat-surat cinta yang saya nanti bertahun-tahun dan pada akhirnya meredakan dahaga saya.

Akhirnya membaca Amba membuat saya puas. Amba menjadi novel historical fiction yang juga mengedepankan riset dan menyajikan fakta. Tentang komunis, tentang 'kami' dan 'mereka' yang tetap selalu ada hingga masa kini, tentang tahanan politik dan tentang Pulau Buru yang tadinya bagi saya terasa tertutup dan misterius.

Rabu, 13 Januari 2016

[Master Post & Wrap Up] Indah Hanaco Reading Challenge 2016 by Ky's Book Journal


Masih dalam semangat bulan Januari, saya tertarik dengan Reading Challenge yang diadakan Ky's Book Journal.
Sebenarnya Kiky mengadakan dua Reading Challenge yang menantang hasrat saya. Hohooo... Tapi mari lihat salah satunya dulu.



Yang pertama adalah Indah Hanaco Reading Challenge, yaitu membaca karya-karya Mbak Indah Hanaco. Peraturannya bisa dibaca di sini.

Ada lima level yang bisa dipilih dalam mengikuti IHRC ini, yaitu:

Fling : membaca 1 - 5 buku
First date : membaca 6 - 10 buku
Going steady : membaca 11 - 15 buku
Engaged : membaca 16 - 20 buku
Married : membaca lebih dari 20buku

Daaan... saya memilih First date, yaitu membaca 6 - 10 buku. Semoga First Date saya dengan buku-buku Mbak Indah Hanaco lancar tahun ini sehingga bisa naik ke level berikutnya dan makin mendekatkan hubungan kami :))

Dan di bawah ini adalah novel-novel Indah Hanaco yang berhasil saya baca di tahun 2016:

1. You Had Me At Hello
2. Cinta 4 Sisi
3. 33 Binatang Paling Heboh
4. Stand by Me
5. Love in Edinburgh
6. Delicious Marriage
7. Perfect Purple
8. Les Masques
9. Rainbow of You
10. Love in Pompeii

IHRC saya tergolong sukses karena saya berhasil membaca 10 buku. Apalagi di antara novel-novel tersebut banyak yang saya suka dan jadi favorit saya 😉

Selasa, 12 Januari 2016

[Master Post] Fantasy Science Fiction Dystopia Reading Challenge 2016 by Ough, My Books!


Holaaa!!!
Kemarin Raafi si pemilik blog Ough, My Books! baru saja mencanangkan Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challenge. Maka, saya pun jadi merasa tertantang.



Jujur beberapa lama saya jenuh dengan genre fantasy, entah kapan tahu-tahu saya nggak menemukan rasa tertarik lagi dan berhenti baca. *Tapi nimbun bukunya tetep* Haha~
Hingga akhir tahun kemarin saya ditawari sebuah penerbit sebagai pembaca pertama Cinder, sebuah novel science fiction dengan mencampurkan unsur fairy tale. Begitu selesai baca, tiba-tiba saja gairah saya bangkit. *halaah*
Yaa pokoknya saya menemukan kembali keasyikan membaca FSFD. Naaah... jadi saya pun tertarik mengikuti FSFD-RC ini demi 'menghabisi' timbunan saya.

FSFD-RC ini nggak dibuat seketat tantangan membaca lain. Di sini, peserta hanya mendaftar dan sudah! Berikut aturan mainnya.

1. FSFD-RC 2016 berlangsung dari 10 Januari 2016 - 10 Januari 2017 (tepat satu tahun). Buku-buku yang dihitung di dalamnya hanyalan yang dibaca pada periode tersebut.
2. Kamu tidak perlu mempunyai blog untuk ikutan FSFD-RC 2016. Tetapi harus membuat review dari buku yang dibaca.
3. Harus memiliki media untuk mengepos review, baik itu blog, akun Facebook melalui fitur "Notes", akun Goodreads, atau yang lainnya.
4. Buku yang dibaca merupakan genre fantasi, fiksi ilmiah, dan distopia tanpa batasan subgenre.
5. Buku yang dibaca boleh dalam bentuk fisik (paperback) dan digital (e-book).
6. Mendaftarkan dirimu melalui formulir yang ada di Ough, My Books!. Pendaftaran dibuka hingga 31 Desember 2016.

Hohooo dan ternyata masih ada kategori-kategori yang bisa dibabat selama satu tahun. Berikut kategori-kategorinya beserta nomor kategori.

[0] Uncategorized - Kategori paling mudah! Baca buku yang tidak termasuk dalam kelima kategori di bawah ini.

[1] Before 50s - Baca buku yang terbit sebelum tahun 50-an. 50-an berarti tahun 1959 masih termasuk kategori ini. Klasik? Kenapa tidak?

[2] Stand Alone - Baca buku yang tidak memiliki sekuel atau berdiri sendiri. Kebanyakan buku-buku bergenre ini kan berseri.

[3] After 2010 - Baca buku yang terbit pada tahun 2010 dan setelahnya. Sepertinya ini juga termasuk kategori mudah.

[4] Movie to Release - Menunggu film yang akan tayang tahun ini? Bagaimana kalau membaca bukunya dahulu? Baca buku yang filmnya akan tayang tahun ini!

[5] Crunchy Pillow - Baca buku dengan ketebalan lebih dari 500 halaman. Yakinlah kamu pasti bisa!

Saya sudah mendaftar sebagai muggle untuk permulaan dan sedang mengais-kais timbunan. Semoga di tahun 2016 ini saya bisa menaklukkan tantangan dari Ough, My Books! dan menemukan jalan kembali ke genre fantasy :))

Senin, 11 Januari 2016

[Resensi: The Book Club - Mary Alice Monroe] Kisah Ketegaran Lima Wanita


Judul buku: The Book Club (Kisah Lima Wanita)
Penulis: Mary Alice Monroe
Alih bahasa: Deasy Ekawati
Editor: Fanti Gemala
Penerbit: Violet books
Tahun terbit: Oktober 2014
Tebal buku: 453 halaman
ISBN: 978-602-251-716-0



BLURB

Mary Alice Monroe mengundang Anda untuk bertemu dengan lima karakter yang luar biasa selagi dia menjelajahi kekuatan persahabatan dalam kelembutan, kejujuran, dan pengertian.

Dari luar, kelompok itu hanyalah sebuah klub membaca biasa. Tapi bagi lima orang wanita, klub itu adalah sesuatu yang jauh lebih bermakna. Bagi Eve Porter, yang segala keamanan hidup yang telah direncanakannya direnggut karena suaminya mendadak meninggal, klub itu adalah tempat perlindungan. Bagi Annie Blake, seorang pengacara hebat yang berniat memiliki keluarga meski sudah terlambat, klub itu adalah kesempatan untuk menurunkan pertahanan dirinya dan memimpikan banyak kemungkinan lain. Bagi Doris Bridges, klub itu adalah pendukungnya saat dia mengakui bahwa pernikahannya sekarat dan memperoleh kebebasan yang sesungguhnya dalam pengkhianatan suaminya. Bagi Gabriella Rivera, sang istri, ibu, dan sahabat 'sempurna' yang menawarkan dukungan bagi semua orang tapi enggan meminta dukungan bagi dirinya sendiri, klub itu memberinya suasana kekerabatan. Dan bagi Madge Kirsch, seorang seniman yang selalu menjalani hidup melawan arus, klub itu bagai surga yang menerimanya.

Merekalah lima wanita dengan jalan kehidupan yang berbeda, yang menerima tantangan dalam perubahan hidup mereka.  Dan saat mereka berbagi harapan, ketakutan, dan kemenangan, mereka akan berpegang erat pada keajaiban sejati sebuah klub membaca–yaitu persahabatan.

RESENSI

Meninggalnya Tom Porter yang mendadak membuat Eve terpukul. Betapa tidak, suaminya baru berusia lima puluh tahun dan terlihat sehat. Meskipun pernikahan mereka tak sehangat dulu, tapi Eve masih sangat bergantung pada Tom. Raga dan jiwanya masih belum siap.
Pemakaman Tom dihadiri banyak orang termasuk keempat sahabat Eve yang tergabung dalam Klub Membaca bersamanya. Tampaknya pemakaman Tom membuat mereka terguncang dan berimbas pada diri mereka.
Doris, yang telah lama bersahabat dengan Eve selalu tidak menyukai Annie. Ketidaksukaan yang didasari rasa iri, karena bagi Doris, Annie tampak penuh kendali, hebat dalam karir dan bentuk tubuhnya masih bagus. Sementara Doris semakin merasa tua, gemuk dan membosankan. Ia pun berusaha menutup mata akan kelakuan suaminya dan bersikap seolah semua baik-baik saja.
Annie sendiri adalah gambaran wanita sukses, sebagai pengacara ia penuh kendali. Hubungannya dengan suami masih panas dan penuh gairah. Tapi sejak ia melihat Eve di pemakaman bersama kedua anaknya, Annie merasa ini saatnya ia ingin punya anak. Meski telah berusia 43 tahun dan para sahabatnya merasa tak mungkin, Annie tetap yakin ia akan berhasil mengandung.
Gabriella harus mendapati kenyataan pahit sepulang dari pemakaman Tom. Suaminya di-PHK. Gabriella yang bekerja sebagai perawat harus menambah jam kerjanya sementara sang suami mencari pekerjaan lagi. Padahal mereka punya empat orang anak.
Madge yang eksentrik dan memilih hidup sendiri tak mau mengakui bahwa ia kesepian. Dan ketika ibunya datang, Madge merasa frustasi. Ia tak pernah bisa memahami ibunya yang masih saja bersikap genit pada setiap pria. Bahkan pria yang lebih muda dari Edith.
Dan Eve yang murung setelah ditinggal Tom, menjadi antisosial selama berbulan-bulan. Hingga Annie harus menyeretnya menghadapi kenyataan bahwa Eve bangkrut. Eve harus mulai bangkit dan mencari pekerjaan atau ia akan benar-benar miskin. Eve pun berusaha berdiri walau goyah. Ia siap menghadapi dunia baru dan bahkan mungkin.... cinta baru.

------------------

The Book Club menawarkan bukan hanya satu kisah tapi lima. Lima kisah kehidupan yang harus dijalani wanita-wanita usia empat puluh hingga lima puluh tahunan. Wanita-wanita yang telah menjalani pernikahan mereka selama dua puluh tahun lebih. Kecuali Annie yang usia pernikahannya baru berjalan lima tahun.

Dengan setting waktu tahun 1997-1998 novel ini beralur maju dan menggunakan POV orang ketiga. Secara bergiliran saya dibawa menyelami kisah dan konflik masing-masing tokoh. Namun Eve lah yang mendapat porsi terbesar dalam cerita ini.

Banyak tokoh yang muncul dalam novel ini. Yah, tokoh utamanya saja ada lima, belum lagi suami-suami mereka, anak-anak mereka dan tentunya wanita misterius berambut merah yang menangis hebat di pemakaman Tom.
Namun semua karakternya terasa khas dan bulat. Eve yang pada awal cerita begitu mengenaskan akhirnya berani membuka cangkangnya, tapi ia tetap nggak kehilangan sifat khasnya.
Doris menjadi karakter yang cukup menyebalkan karena sok dan gengsinya tinggi. Tapi teman-temannya bisa menerimanya. Saya merasa mereka semua berimbang. Sifat-sifat yang saling bertolak belakang ini justru menjadi magnet dan mengikat persahabatan mereka menjadi hubungan yang unik. Inilah yang membuat masalah-masalah pribadi mereka jadi kait-mengait.

Saya suka melihat perdebatan mereka mengenai buku yang mereka baca bersama saat berkumpul. Pemikiran mereka menjadi penguat karakter, memperlihatkan pola pandang yang berbeda dan membuat suasana pertemuan Klub Membaca menjadi meriah.

The Book Club merupakan novel woman-lit dengan menghadirkan masalah dan konflik khas pernikahan. Masalah-masalah yang umum dihadapi wanita usia lima puluh tahun dan mengajarkan ketegaran untuk menghadapinya. Bahwa meski dunia runtuh di sekeliling kita, akan tetap ada sahabat yang menyeret kita untuk tetap berpikir waras. 

Minggu, 10 Januari 2016

[Artikel] Menjadi Book Addict Agar Tetap Sexy


Membaca adalah hobi saya yang nggak pernah berubah sejak kecil. Saya butuh membaca sebesar saya butuh bernapas. Maka bolehkah saya menobatkan diri saya sebagai book addict?




Saya dan Moment Pertama

Menurut orangtua saya, saya mulai bisa membaca sejak usia tiga tahun. Kemampuan yang dianggap istimewa saat itu, dan tentunya membuat orangtua saya jadi rajin membelikan majalah bekas untuk saya. Mengapa majalah bekas? Karena menurut orangtua saya, harga satu majalah baru bisa sama dengan harga tiga majalah bekas, jadi kalau bisa dapat tiga kenapa harus pilih yang satu sementara isinya tetap sama bermanfaat. Prinsip inilah yang melekat kuat dan saya gunakan hingga dewasa kini. :)

Meski bisa dibilang majalah Bobo lah yang membuat saya suka membaca, tapi kecintaan saya pada sebuah kisah panjang timbul saat SD. Menginjak SD saya mulai mengikuti serial Api di Bukit Menoreh karya S.H. Mintardja yang muncul setiap hari di surat kabar Kedaulatan Rakyat. Walau sudah terlambat ratusan episode (karena yang saya baca adalah kisah petualangan Glagah Putih dan Rara Wulan) toh nggak mengurangi keasyikan menunggu dan membacanya setiap hari. Serial Api di Bukit Menoreh pulalah yang membuat saya menyukai cerita silat dan menikmati pelajaran sejarah kerajaan terutama kerajaan di tanah Jawa.
Sungguh, bukankah buku yang baik selain memberi petualangan juga memberi pengetahuan baru yang berguna?


Saya, cerita silat dan detektif

Cerita silat menjadi genre pertama yang saya suka dan mengantar saya pada buku cerita silat lain yang nggak kalah fenomenal, Wiro Sableng. Untuk buku yang satu ini saya harus sembunyi-sembunyi membacanya, karena simbah bisa marah kalau tahu saya membaca buku ini. Hehe... Maklum ceritanya memang rada nakal dan beberapa adegannya belum layak dikonsumsi anak SD. Tapi mengingat minimnya literasi anak kala itu dan saya sudah melalap semua cergam gareng-petruk, maka Wiro Sableng pun jadilah. (Jangan tiru adegan ini ^^)

Saat akhirnya ketahuan membaca Wiro Sableng saya pun dibelikan novel Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu. Lalu saya putuskan saya lebih suka Pasukan Mau Tahu karena petualangannya lebih lucu dan lebih menantang untuk memecahkan misterinya. Hingga kemudian bacaan misteri-detektif saya merambah ke novel-novel sejenis seperti STOP, Trio Detektif, Hawkeye Collins & Amy Adams, Seri Klub Detektif Cilik dan akhirnya... Agatha Christie.
Dua genre inilah yang menemani masa kecil dan masa remaja saya. Genre yang membuat saya suka matematika karena menimbulkan rasa penasaran dan rasa tertantang yang sama untuk memecahkan persoalan dan mengetahui jawaban yang benar. Siapa bilang membaca novel membuat jadi bodoh? Karena dalam kasus saya membaca novel justru membuat saya mendapat nilai tinggi dalam matematika. ;)


Saya dan buku wanita

Tahun demi tahun genre yang saya baca mulai meluas hingga saya memutuskan saya menyukai semuanya. Kini, dunia literasi makin semarak dan berwarna, sungguh memanjakan makhluk haus bacaan seperti saya. Banyak penerbit bermunculan dengan konsep dan visi-misi yang beragam. Salah satu yang menarik adalah Stiletto Book yang, jika ditilik dari nama dan logonya, merupakan penerbit buku perempuan.
Stiletto Book banyak menerbitkan roman-roman khas permasalahan wanita dan buku parenting yang memanjakan ibu-ibu semacam saya. Makin banyak deh ilmu yang saya dapat.
Apalagi sejak bergabung dengan Stiletto Book Club, saya mulai mengenal beberapa pembaca Stiletto Book yang bisa diajak tukar pikiran.

buku-buku Stiletto menjadi teman
me time yang menjaga saya tetap 'waras' ^^


Saya, budget dan lingkungan

Setiap bulan saya hanya menyisihkan dana Rp. 50.000,00 untuk membeli buku. Ini dana wajib untuk memanjakan diri, hadiah bagi diri sendiri. Tapi saya bisa belanja buku lebih dari itu, lho. Kok bisa? Nodong suami ya? Haha... nggak dong. Ada rahasianya. :))
Saya biasanya memilah sampah rumah: botol plastik, kaleng, koran, kardus bahkan kertas catatan utang. Sampah-sampah ini saya setor ke bank sampah di dekat rumah. Hasilnya lumayan lho! Sekali setor saya bisa dapat 15 ribu sampai 30 ribu. Uang hasil setor sampah inilah yang masuk ke budget beli buku. Jadi selain bisa menyelamatkan lingkungan saya juga bisa dapat tambahan dana untuk belanja buku. Asyik, kan? :)

Tapi meskipun sudah ada tambahan pun kadang buku yang diinginkan harganya masih nggak terjangkau. Solusinya... sabar. Sekarang banyak kok toko online dan penerbit yang menawarkan diskon dan sale yang menggiurkan, tak terkecuali Stiletto Book. Stiletto cukup sering loh mengadakan shocking sale yang menawarkan diskon besar-besaran, terutama kalau jadi member Stiletto Book Club bisa sering dapat diskon, deh.

Siasat lain untuk memiliki buku dengan dana terbatas adalah dengan prinsip saya semula: buku bekas. Atau bisa dibilang buku second. Jaringan pertemanan dengan sesama pencinta buku yang luas bisa membantu karena kadang mereka menjual buku kolpri mereka. Atau toko buku bekas bisa jadi pilihan, asal kita berhati-hati jangan sampai membeli buku bajakan.

Saya dan minat baca masyarakat

Hobi membaca saya ini bisa dibilang aneh oleh lingkungan saya. Karena saya tinggal di lingkungan padat di mana orang-orangnya selalu bergerak dinamis, kegiatan saya yang duduk diam membaca tentunya terasa kontras.
Lingkungan saya adalah lingkungan pekerja kelas menengah ke bawah, bukan saja para prianya tapi juga kaum wanitanya. Beragam pekerjaan, mulai dari penjaga kios di pasar, pemilik warung, penjual makanan, juga pekerja UKM. Tentunya sulit mengajak mereka membaca mengingat betapa dinamisnya mereka bekerja di luar dan mengurus rumah tangga mereka sendiri. Maka sasaran saya adalah anak-anak. Saya punya program read aloud untuk anak-anak, yang nggak menutup kemungkinan bagi sang ibu untuk ikut hadir. Dengan modal buku TBM (Taman Bacaan Masyarakat) saya berusaha mengemas kegiatan ini agar menumbuhkan minat baca anak-anak.
Di BKB (Bina Keluarga Balita) tingkat RW yang saya ketuai, saya menyisipkan materi membaca dan mendongeng bagi para ibu yang memiliki anak usia balita.
Saking memuja buku, jika anak saya diundang ulang tahun, bisa dipastikan kado yang dibawa anak saya bagi yang berulang tahun pastilah buku. Saya juga membiarkan rumah terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca buku saya dan buku anak-anak saya.
Meski usaha saya nggak seberapa, saya ingin mereka memahami bahwa banyaaak sekali manfaat yang bisa didapat dari membaca buku. Membaca akan melatih konsentrasi, menghindarkan kita dari kepikunan dan merupakan bentuk rekreasi yang murah.

Saya punya harapan besar agar anak-anak suka membaca. Karena negara Indonesia didirikan oleh para pencinta buku, orang-orang hebat yang haus pengetahuan dan telah melahap banyak buku. Itu sebabnya akses terhadap buku harus dibuka selebar-lebarnya, seluas-luasnya. Agar terus bermunculan tokoh-tokoh hebat berikutnya di negara ini.
Selama ini perpustakaan yang ada hanyalah perpustakaan sekolah, universitas dan pemerintah daerah. Mestinya perusahaan-perusahaan besar juga diwajibkan memiliki perpustakaan yang bisa diakses karyawan dan warga sekitar. Sehingga masyarakat bisa tergerak dan mulai gemar membaca.


Nah, dengan pengalaman saya ini sudah layakkah saya disebut sebagai Book Addict?
Tapi terlepas dari layak atau nggak layak, membaca tetaplah menjadi napas kehidupan saya. Jika diizinkan saya ingin tetap membaca sampai tua. Sampai mata saya lamur dan tangan saya tremor saat memegang buku, saya tetap ingin mereguk dunia melalui jendela-jendela itu lagi, lagi dan lagi.
Dengan begitu, meski saya telah tua, bungkuk dan keriput saya akan tetap sexy, benar bukan? ;)





Nama: Nurina Widiani
Akun twitter: @KendengPanali
Akun facebook: Nurina Kendengpanali
Email: nurinawidiani84(at)gmail(dot)com

Sabtu, 09 Januari 2016

[Resensi: Coppelia - Novellina A.] Sang Penari Balet yang Terluka


Judul buku: Coppelia
Penulis: Novelina A.
Editor: Ruth Priscilia Angelina
Cover: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 978-602-03-1810-3



BLURB

Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh. Tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tiba-tiba menghilang. Oliver ditinggalkan sebelum sempat membuat gadis itu mengingat namanya.

Sampai ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya. Hingga akhirnya mereka bertemu. Tetapi, keadaan telah berubah. Nefertiti bukan lagi gadis yang dulu. Penari balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu mewah untuk ia miliki.

Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin... sedingin kisah boneka Coppelia yang begitu dicintai ibunya.


RESENSI

Lahir sebagai putri pasangan pelukis dan arsitek, Nefertiti begitu tertekan karena diharapkan memiliki bakat seni seperti orangtuanya. Sayangnya ia tak punya bakat melukis seperti ibunya. Nefertiti kecil terluka karena merasa telah mengecewakan sang ibu. Maka ketika ibunya menjaga jarak ia pun melakukan hal yang sama. Ia diam dan menutup diri.
Ketika ia merasa jatuh cinta pada seni gerak, orangtuanya memasukkannya ke sanggar balet. Harapan mulai tumbuh kembali. Sayang ketika pentas Odette, Nefertiti hanya mendapat peran sebagai Odile. Nefertiti kembali melihat kekecewaan ibunya. Satu-satunya pegangan Nefertiti hanyalah sahabatnya, Mia, gadis bisu dan keterbelakangan mental yang tinggal di perkampungan di belakang rumah Nefertiti.

Di sisi lain ada Oliver yang telah memendam perasaan pada Nefertiti sejak lama. Meski di SMA mereka adalah teman sekelas, tapi Oliver tak pernah mampu mengajak Nefertiti bicara. Hingga Oliver mengambil kuliah di Jerman itu pun demi melacak jejak Nefertiti yang menghilang.

Ketika mereka bertemu kembali, masihkah perasaan Oliver tetap sama? Mengapa Nefertiti terlihat makin terluka? Akankah Nefertiti berdamai dengan harapan-harapan ibunya?

------------

Bagi saya Coppelia hanya mengingatkan saya pada satu hal: Coppelia no Hitsugi. Lagu pembuka anime "Noir". Itu pertama kalinya saya mendengar tentang Coppelia dan akhirnya mencari tahu maknanya. Coppelia, sang boneka buatan Dr. Coppelius yang selalu duduk di jendela dan menarik perhatian Frans, hingga Frans melupakan tunangannya, Swanhilde. Dan kini... saya bertemu dan terpukau lagi dengan Coppelia saat membaca novel ini.

Coppelia diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, secara bergantian antara Nefertiti dan Oliver. Saya bisa merasakan perbedaan 'suara' mereka. 'Aku' milik Nefertiti terasa dark, skeptis dan membenci siapa pun termasuk dirinya sendiri. Sementara 'aku' milik Oliver terasa dewasa, optimis dan lepas terutama saat bersama Erlando.

Coppelia diceritakan dengan alur maju mundur. Plotnya rapi dan kisahnya menarik diikuti. Semua dikupas selapis demi selapis sampai nggak terasa sudah tiba di akhir kisah.

Karakter dalam Coppelia sungguh kuat dan bulat. Keinginan Nefertiti yang begitu besar untuk menyenangkan sang ibu dan kekecewaan yang dirasakannya pada dirinya sendiri hingga membentuk pribadinya yang tertutup. Saya bisa paham mengapa ia akhirnya bisa dekat dengan Mia. Keinginan dalam dirinya untuk diselamatkan dan dibawa ke tempat yang ceria bukan hanya tersampaikan ke Oliver saja tapi juga sampai menyentuh saya. Hiks.

Saya suka dengan Oliver yang bisa terus mencintai dan seperti orang gila karena hanya mengejar jejak. Bahkan hanya jejak samar Nefertiti. Kecanggungannya berhadapan dengan gadis yang disuka itu manis banget. Hmm... saya juga suka interaksi dan cara bicaranya dengan Erlando dan orangtuanya. Terasa santai dan hangat.

Penggambaran settingnya rapi dan mendetail. Baik ketika di Yunani maupun di Jerman bukan hanya setting ruang saja tapi suasananya pun diceritakan dengan jelas. Seolah saya benar-benar sedang ada di sana membuntuti Nefertiti dan Oliver.

Bagi saya Coppelia berasa menyoroti hubungan ibu dan anak yang selamanya nggak hanya berlimpah kehangatan dan kasih sayang. Ada ibu yang sulit mengekspresikan kasih sayangnya pada sang anak. Saya tahu, nggak semua ibu suka menyentuh, memeluk dan bicara panjang lebar dengan anak. Ada ibu yang terkesan dingin walau sebenarnya hatinya berlimpah rasa sayang. Demikian juga dengan ibu Nefertiti. Ada anak yang dengan cuek menerimanya dan nggak terlalu berharap tapi sayangnya ada anak semacam Nefertiti yang begitu ingin diakui, begitu ingin dipuji, begitu ingin dicintai.
Coppelia benar-benar menyoroti hubungan ini dengan tepat dan apik.

Mengenai ending, saya cukup terkesan. Memangnya apalagi yang bisa saya harapkan dari hubungan yang dingin? Seandainya ada perubahan sifat hingga 180 derajat justru saya akan mengerenyit heran dan menganggapnya nggak nyata. Sama saja dengan fiksi-fiksi lain yang menuntut perubahan drastis tokohnya. Tapi Coppelia memang berbeda. Coppelia terasa nyata. Dengan ending yang realistis tapi manis.

Secara keseluruhan, saya suka novel ini. Dark romance yang berakhir dengan ending yang pas. Love it! :)

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon