Tampilkan postingan dengan label ebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ebook. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Oktober 2016

[Resensi] Beneath The Beauty - Skye Warren

Judul buku: Beneath The Beast
Series: Beauty #2
Penulis: Skye Warren
Format: Kindle Edition
Tahun terbit: Mei 2013
Tebal buku: 63 halaman
ASIN: B00CVGFCEK



BLURB

When Blake receives an offer to return to his alma mater as associate professor, he knows this is his chance to reenter the world—and to be worthy of the woman he loves. Erin wants this chance for him to heal… even if it means leaving her behind.

Beneath the Beauty is a novella in the Beauty serial. Don’t miss the sexy initial installment, Beauty Touched the Beast, available now. 


RESENSI

Dua minggu sejak resmi menjadi pasangan, Erin merasa hubungannya dengan Blake seolah masih berjarak. Apalagi Blake selalu diam-diam meninggalkannya saat dikiranya Erin telah tertidur, dan pergi ke ruang kerjanya hingga lupa waktu. Apakah Blake punya wanita lain?
Di tengah usahanya meyakinkan Erin bahwa gadis itulah satu-satunya, Blake mendapat tawaran untuk menjadi profesor pengganti di universitas. Maka melangkahlah Blake ke dunia luar setelah bertahun-tahun mengurung diri. Sayang, dengan status barunya, ia tak bisa mengakui Erin–yang merupakan mahasiswa di universitas tempat Blake mengajar–sebagai kekasihnya. Dan munculah Melinda, mantan tunangan Blake yang ingin kembali berhubungan dengan Blake. Akankah Blake kembali pada Melinda? Ataukah ia tetap bertahan di sisi Erin?

----------------------------

“There are no happy endings for the beast.” 

Membaca Beneath The Beauty tadinya hanyalah keisengan saya untuk melanjutkan serial Beauty. Setelah membaca Beauty Touch The Beast yang cukup mengesankan, saya berharap menemukan kisah yang semakin mendalam di buku keduanya. Tapi bisa dibilang, harapan saya juga nggak muluk-muluk amat, karena saya tahu biasanya buku lanjutan novel eroro hanyalah berupa aktivitas seksual yang semakin intens.
Namun rupanya saya salah besar!
Novella kedua serial Beauty ini semakin matang dalam plot dan storyline yang jelas. Alur ceritanya semakin menarik dan latar belakang tokohnya pun mulai tersingkap.

Beneath The Beauty masih menggunakan sudut pandang orang ketiga. Porsinya pun masih sama imbangnya. Alurnya maju dan lingkup sosialnya mulai meluas. Ada suasana baru, ada dunia luar yang mereka datangi dan orang-orang luar yang terlibat dalam kisah cinta antara Blake dan Erin.
Suasana baru yang sangat normal dan membuat saya lupa kalau saya sedang membaca eroro. Karena kesan yang saya dapatkan dalam novella ini adalah romance yang elemen-elemen pentingnya terpenuhi. Dari segi setting, karakter, juga plot.

Blake masih berkutat dengan rasa rendah dirinya. Wajahnya yang cacat separuh akibat luka ledakan yang ia derita saat sedang bertugas masih membuatnya membentengi diri. Jika saja Erin nggak ada di sana mungkin ia akan tetap menolak tawaran untuk menjadi pengganti profesor sementara. Bahkan saat menjadi profesor dan bertemu dengan Erin sebagai profesor dan mahasiswa, Blake masih merasa nggak pantas menginginkan Erin.
Rasa takut yang wajar apalagi menilik masa lalunya. Penolakan-penolakan yang harus ia hadapi setelah menjadi cacat. Blake digambarkan begitu mirip Beast dalam dongeng aslinya, yang menyendiri dan menutup diri, marah pada dunia, dan menyembunyikan jati dirinya dalam kegelapan.
Hingga Erin datang. Ternyata perasaan Blake telah tumbuh sejak pertama kalinya Erin datang melamar pekerjaan. Diungkapkan juga bahwa Blake mulai punya semangat dan berani ke luar ke jalan cahaya karena Erin. Ia ingin menggapai Erin. Ooh... saya benar-benar mulai jatuh cinta pada Blake!

Erin sendiri ternyata juga punya latar belakang yang memilukan. Terutama dengan mantan kekasihnya. Tapi bukannya merasa trauma, Erin berani menyambut dan memperjuangkan rasa cinta yang ia miliki terhadap Blake. Ia belajar dari kesalahan. Ia tampak dewasa di novella kedua ini, dan lebih memegang kendali. Dia benar-benar berdiri di sana di hadapan Blake dan dengan yakin menyatakan dan mencurahkan kasih sayangnya.

Konflik di novella kedua ini mulai berkembang. Bukan lagi sekedar perang sanubari para tokoh utamanya, tapi mulai muncul orang ketiga. Seseorang dari masa lalu Blake yang tiba-tiba datang dan menginginkan rujuk. Melinda benar-benar jenis wanita yang bakal jadi lawan tangguh dan berpotensi menjadi bom yang mengguncang kisah cinta Blake dan Erin.
Sayangnya... konflik cinta ini terlalu mudah diselesaikan. Entah apakah Skye Warren nggak berani membuat tokohnya saling berkonfrontasi ataukah penulis ini menyimpan ledakannya untuk buku lanjutan serial yang berikutnya, saya nggak tahu.
Tapi toh endingnya memang manis dan memuaskan. Rasanya meleleh melihat chemistry mereka berdua. Saya paling suka ketika Erin menemukan Blake di depan apartemennya, itu benar-benar twist yang sempurna setelah saya hampir mewek di bab sebelumnya.

Well, Beneath The Beauty masihlah novel hot nan erotis. Apalagi adegan seksnya mereka lakukan di kantor sang profesor. Gila dan menantang. Jangan lupakan juga dirty talk yang saling mereka lemparkan. Tapi jangan khawatir, meski kadar panas novel ini bisa bikin telur jadi matang, nggak ada kesan kotor dan mrnjijikkan. Gaya tuturnya begitu romantis, jenis smut yang bakal bikin saya meleleh. Namun yang lebih penting, Beneath The Beauty punya pesan yang jelas, tentang rasa insecure yang tentunya ada dalam hati kita, dan bagaimana menghadapinya. Jika telah menemukan orang yang tepat, jangan segan untuk melepaskan segala rasa sakit dan rasa pedih. Saya tersentuh saat akhirnya sang Beast menitikkan air mata.

Rabu, 05 Oktober 2016

[Resensi] Beauty Touch The Beast - Skye Warren

Judul buku: Beauty Touch The Beast
Penulis: Skye Warren
Edisi: Kindle Edition
Tahun terbit: November 2011
Tebal buku: 30 halaman
ASIN: B006Q648F0



BLURB

Erin cleans Mr. Morris's house twice a week, soaking up every moment with the reclusive ex-soldier she secretly loves. Blake Morris knows he's scarred both inside and out and is no good for the beautiful young woman who cleans his house to pay for college. But when Erin walks in on Blake touching himself and moaning her name, all bets are off.


RESENSI

Sebagai pekerja yang datang dua kali seminggu untuk membersihkan rumah Blake Morris, Erin sebenarnya memendam rasa terhadap bosnya tersebut. Ia menikmati pembicaraan mereka dan menyukai Blake apa adanya. Namun, karena menyadari dia hanyalah pelajar biasa yang perlu mencari tambahan uang dengan bekerja kasar, Erin hanya bisa berdiam diri. Hingga ketika tiba waktunya ia membersihkan rumah Blake, ia tak sengaja melihat Blake, di atas ranjangnya, sedang menuntaskan hasrat seksualnya. Bukan hanya itu yang membuat Erin terkejut, tapi juga saat di puncak kenikmatannya, Blake menyebutkan nama Erin.
Malu karena terpergok, Blake berusaha menjauh, namun akankah Erin menerimanya begitu saja? Saat ia tahu ia menjadi obyek fantasi dari pria yang dicintainya?

--------------------

Beberapa hari yang lalu, setelah saya menyelesaikan Owning Her Beast dari Alexa Riley, saya meniatkan diri untuk membaca novel atau novella yang berdasarkan dongeng Beauty and The Beast. Sebagai dongeng favorit saya, saya memang nggak pernah bosan dengan kisah cinta yang serupa. Dan kemudian seorang teman merekomendasikan novella super pendek, Beauty Touch The Beast karya Skye Warren ini. Novella ini sendiri merupakan bagian pertama dari serial Beauty.

Beauty Touch The Beast dikisahkan menggunakan sudut pandang orang ketiga secara bergantian dari sisi Erin dan Blake. Dual POV ini lumayan berimbang dan menggambarkan dengan tepat perasaan mereka masing-masing. Cukup mengejutkan bagi saya karena biasanya novel erotica tipe fast-insta-love menggunakan sudut pandang orang pertama. Namun, menyebut Beauty Touch The Beast sebagai bagian dari erotica pun rasanya kurang tepat. Karena, plotnya begitu jelas dan rapi. Bukan main adegan panas tanpa sebab musabab jelas hingga hampir absurd seperti novel erotica kebanyakan.
Latar belakang juga pekerjaan Erin dan Blake sebenarnya cukup seru jika lebih digali, karena saya pikir akan lebih baik lagi jika dideskripsikan atau dinarasikan dengan lebih detail. Misal mengapa Blake bisa penuh luka, bagaimana Blake bekerja, bagaimana keseharian Erin di luar rumah Blake. Pasti Tapi semoga saja nanti segala pertanyaan itu akan terjawab di buku keduanya. Jalan ceritanya runut dan disusun secara rapi. Meski adegan pembukanya sangat mengejutkan tapi toh kedua tokoh utama saling mampu menahan diri. Adegan seksnya pun nggak sevulgar novel erotica yang lain, bahkan dirty talknya juga terkesan lebih puitis. Wkwkk~

Mengenai karakter kedua tokoh, saya merasa Erin dan Blake benar-benar gambaran Belle dan Beast versi modern yang "nakal". Tapi rasa rendah diri Blake sungguh menyentuh. Blake sadar dirinya cacat dan buruk rupa, bekas-bekas lukanya nggak enak dilihat. Beberapa kali dia memalingkan wajah dan bahkan di atas ranjang dengan kebesaran hati dia meminta Erin menganggapnya sebagai pria lain. Duh Blake. Saya mendapati saya tersentuh akan gerak-gerik dan sikap Blake.
Sementara Erin benar-benar gadis yang saya rasa tahu apa yang dia inginkan dan berani melakukan sesuatu untuk mendapatkannya. Tekadnya mirip seperti Belle. Dia berani maju saat Blake melangkah mundur. Saya yakin pula dia punya pertimbangan dan siap menanggung segala risiko di hadapannya.
Dan yang bikin saya jatuh hati pada pasangan ini adalah jarak usia mereka yang jauh. Pembaca setia review saya pasti tahu kalau saya tergila-gila pada kisah cinta antara dua karakter yang usianya terpaut jauh. Beberapa mungkin tahu alasannya. Tapi sayangnya, Beauty Touch The Beast nggak menjelaskan dengan pasti berapa usia mereka sebenarnya. Hanya diungkapkan bahwa dengan usianya, Blake sepantasnya menjadi ayah Erin.

Sayangnya Beauty Touch The Beast ini begitu pendeknya hingga habis dibaca hanya dalam sekali jongkok. Beneran. Bukan hanya sekali duduk saja, karena memang singkat banget. Padahal plotnya sangat menjanjikan dan pasti akan lebih menarik lagi dengan dua atau tiga bab tambahan. Meski kepadatan kisah ini memberi rasa puas juga.
Yang pasti novella super singkat ini menarik minat saya untuk melanjutkan kisahnya ke buku kedua, Beneath The Beauty. Karena karakter tokohnya yang Beast banget, jalan ceritanya yang menjanjikan dan gaya bertutur Skye Warren yang asyik. Smut yang manis dan romantis tanpa kesan dirty. Tapi tetap saja saya sarankan hanya untuk pembaca dewasa (dewasa dalam pengertian mental, sih), dan sepertinya nggak akan cocok dibaca di tempat umum. You know why, lah ya. Hihihi...

Selasa, 02 Februari 2016

[Resensi: Scarlet - Marissa Meyer] Si Kerudung Merah dan Sang Serigala


Judul buku: Scarlet
Series: Lunar Chronicles #2
Penulis: Marissa Meyer
Penerbit: Square Fish
Tahun terbit: 2014
Jumlah halaman: 512 halaman
ISBN: 978-1-250-03763-3
Book available at: bukupedia.com



BLURB

Cinder, the cyborg mechanic, returns in the second thrilling installment of the bestselling Lunar Chronicles. She’s trying to break out of prison—even though if she succeeds, she’ll be the Commonwealth’s most wanted fugitive. 

Halfway around the world, Scarlet Benoit’s grandmother is missing. It turns out there are many things Scarlet doesn’t know about her grandmother or the grave danger she has lived in her whole life. When Scarlet encounters Wolf, a street fighter who may have information as to her grandmother’s whereabouts, she is loath to trust this stranger, but is inexplicably drawn to him, and he to her. As Scarlet and Wolf unravel one mystery, they encounter another when they meet Cinder. Now, all of them must stay one step ahead of the vicious Lunar Queen Levana, who will do anything for the handsome Prince Kai to become her husband, her king, her prisoner.


RESENSI

Scarlet Benoit kesal bukan main saat mendapat pesan dari Departemen Orang Hilang Kepolisian Toulouse yang menyatakan kasus hilangnya neneknya, Michelle Benoit, ditutup. Padahal neneknya telah hilang selama dua minggu. Hanya karena orang-orang menganggap neneknya eksentrik, kepolisian menganggap neneknya sengaja menghilang.
Kemarahan Scarlet memuncak saat tengah mengantarkan hasil pertaniannya ke kedai, orang-orang di sana yang menonton penangkapan Cinder di pesta dansa Persemakmuran Timur mengolok-ngolok gadis itu. Scarlet geram karena ia merasa mereka terlalu memojokkan seorang gadis yang baru berusia 16 tahun. Di tengah keributan itulah Scarlet mendapat pertolongan dari Wolf, seorang petarung jalanan.
Sepulanngnya ke rumah, Scarlet syok melihat ayahnya mengacak-acak rumah mereka mencari rahasia apa yang disembunyikan sang nenek. Rupanya sang ayah telah ditangkap orang-orang yang juga telah menculik neneknya. Orang-orang yang memiliki tato sederet huruf dan angka. Huruf LSOP. Tato yang dimiliki Wolf.
Bertekad mencari neneknya, Scarlet mendatangi Wolf. Benarkah Wolf yang telah menculik nenek Scarlet dan menyiksa ayah Scarlet? Apa yang disembunyikan pria itu?

Di belahan bumi yang lain, Cinder sedang berusaha melarikan diri dari penjara. Tanpa sengaja ia masuk ke sel Carswel Thorne, mantan kadet tentara Republik Amerika. Bersama-sama mereka bekerja sama meloloskan diri.
Meski belum sepenuhnya tahu apa yang harus ia lakukan, dan meski dokter Erland telah menyuruhnya untuk datang ke Afrika segera setelah ia lolos, Cinder masih ingin menyelidiki masa lalunya.
Berbekal informasi yang didapatnya dari android milik Kaisar Kaito, Cinder dan Thorne menuju ke Prancis, untuk menemui seseorang yang ia anggap tahu akan asal-usulnya.

Dua orang gadis, dari belahan bumi yang berbeda, memiliki misinya sendiri-sendiri, memiliki dongengnya sendiri. Akankah kisah mereka memiliki ujung temu? Apa yang akan dilakukan Ratu Levana saat tahu Cinder kabur? Dan bagaimana usaha Kaito menyelamatkan bumi dari amukan kemarahan Levana?

-----------

Scarlet merupakan buku kedua dari seri Lunar Chronicles, setelah membaca Cinder dengan endingnya yang setengah mati bikin penasaran, Scarlet memberi kisah yang semakin seru dan menegangkan.
Semoga resensi ini nggak terlalu berspoiler ria tentang apa yang terjadi di buku pertama. ^^

Scarlet sendiri merupakan remake dari dongeng Si Kerudung Merah. Ada beberapa hal dalam Scarlet yang sangat khas dari dongeng tersebut. Seperti kerudung merah Scarlet, serigala yang berbulu domba (atau sebenarnya domba yang berbulu serigala), juga mengenai sang nenek.

Setting waktunya masih sama dengan Cinder yaitu di Third Era, masa setelah perang dunia keempat, namun setting tempatnya kali ini ada di Prancis, Federasi Eropa.

Ceritanya mengalir lambat dan detail banget. Konstruksi dystopianya kental dan seolah-olah memang nyata. Saya suka bagaimana Marissa membagi porsi petualangan dua heroine ini dengan latar kisah yang berbeda. Saya asyik mengikuti kelanjutan cerita Cinder tapi juga menikmati kisah baru yang nggak kalah seru dan lebih.... romantis.
Yap. Scarlet lebih terang-terangan dalam hal romansa, mungkin karena usianya lebih tua dari Cinder dan mungkin karena Wolf memang terlalu memesona. Oke fix, bye Emperor Kaito, saya lebih suka Wolf ternyata. Haha~
Yaa gimana ya, serigala itu favorit saya. Garang tapi juga pemalu. Kyaaa *heboh fangirling*

Saya juga lebih suka Scarlet, karena Scarlet cenderung berani dan pengambil risiko. Nggak sepemalu Cinder. Mungkin karena latar belakangnya tumbuh dicintai sang nenek dan punya teladan yang kuat. Berbeda dengan Cinder yang dibesarkan oleh ibu angkat yang menganggapnya sebagai beban.

Hmm~ karena saya baca versi aslinya saya baru tahu kalau tato Wolf ternyata juga diterjemahin dalam novel terjemahannya. Tato Wolf yang asli bertuliskan LSOP962 namun di terjemahan yang akan diterbitkan Penerbit Spring tato Wolf menjadi TSOK962. Mungkin karena menyesuaikan penerjemahan singkatannya ya?

Secara keseluruhan saya suka novel ini. Petualangan dan pertarungannya lebih seru. Tentunya karena mulai ada Wolf dan Thorne yang memang tipe petarung. Kalau di Cinder kan nggak mungkin Kaito jotos-jotosan. Hanya saja bagi penggemar Kaito harus menelan kecewa karena Kaito cuma muncul sebentar-sebentar.
Let's see, apa yang akan terjadi di novel Lunar Chronicles berikutnya: Cress? ;)
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon