Tampilkan postingan dengan label Penny Jordan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penny Jordan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Maret 2017

[Resensi] Lelaki dalam Ingatan - Penny Jordan

Judul: Lelaki dalam Ingatan
Judul asli: Un Unforgettable Man
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Rina Buntaran
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2012 (cetakan keempat)
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-979-22-8519-2



BLURB

Bagaimana cara lelaki itu menuntut balas?

Pada usia enam belas tahun, Courage Bingham yang lugu dan tak berpengalaman merasakan sensasi menghanyutkan bersama seorang pemuda di rumah musim panas keluarganya. Namun sejak itu perasaan malu dan bersalah menyiksanya, bercampur kerinduan yang sama besarnya kepada orang asing yang tak dikenal dan tak dilihatnya itu.

Kini, Courage cemas indranya mempermainkannya. Gideon Reynolds, bos barunya yang tak kenal ampun dan beroman keras, dapat membangkitkan sesuatu dalam diri Courage seperti seseorang dalam ingatannya. Mungkinkah mereka orang yang sama? Dan, jika benar begitu, bagaimana cara Gideon menuntut balas atas “penipuan” Courage pada masa lalu?

RESENSI

Courage Bingham harus meninggalkan pekerjaannya yang menjanjikan demi menemani neneknya yang sakit. Hanya neneknyalah satu-satunya keluarga yang Courage miliki, karena ia tak mau lagi tinggal bersama ayah tiri dan saudari tirinya yang culas. Kini, Courage harus menemukan pekerjaan baru di kota kecil Dorset untuk membiayai operasi neneknya.
Siapa sangka pekerjaan yang didapatnya berkaitan dengan Gideon Reynolds, seorang chairman dan pemegang saham terbesar sebuah jaringan perusahaan berlaba tinggi. Pria yang keras, dingin dan tak kenal ampun. Pria yang membuat Courage teringat akan kenangan pada sebuah malam ketika ia masih belia dan naif.
Apakah Gideon adalah orang yang sama dengan lelaki yang ada dalam ingatan Courage? Apakah Gideon mengingat Courage? Dan apakah kenangan itu akan berakhir manis atau justru kembali menjadi mimpi buruk bagi Courage?

-------------------------

Seingat saya, saya pertama kali membaca Lelaki dalam Ingatan karya Penny Jordan ini ketika masih SMA. Well, jangan buru-buru menuding saya saat itu belum cukup umur untuk membaca novel dewasa. Bagi saya dewasa nggak harus berjalan lurus dengan bertambahnya umur. Toh, novel dewasa bukanlah buku atau video porno. Novel dewasa bukan hanya membeberkan cerita romance "kipas-kipas" semata, tapi justru mengajarkan kita akan akibat dan tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan tokohnya. Aahh... saya kok mulai melantur.

Pembaca setia review saya pasti tahu kalau saya adalah penggemar karya-karya Penny Jordan. Meski beberapa karyanya ada juga yang kurang sreg di hati saya dan saya rating di bawah tiga bintang. Namun untuk novel yang satu ini, saya dulu memberinya lima bintang. Maka tentu saja saat novel Lelaki dalam Ingatan ini dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama, saya pun ingin bernostalgia dengan novel yang saya nobatkan sebagai salah satu novel Penny Jordan terbaik versi saya.

Membaca lagi kisah ini dengan sudut pandang saya yang semakin matang dari belasan tahun lalu, rasanya saya masih tetap jatuh cinta pada Courage dan Gideon. Yah, bagaimana pun saya tetap penggemar kisah CLBK alias cinta buta yang bertahan bertahun-tahun yang menjadi pondasi novel Lelaki dalam Ingatan ini.
Penny Jordan memang penulis yang memiliki ciri khasnya sendiri. Tokoh heroinenya kebanyakan merupakan wanita tangguh, mandiri (terkadang hanya tinggal memiliki satu anggota keluarga yang mulai menua), kompeten dalam pekerjaannya, tapi lugu. Hingga kemudian tanpa sengaja bertemu dengan hero yang dingin, menjaga jarak dan lumayan jaim. ^^
Seperti itulah Courage dan Gideon.

Sayangnya nggak seperti karya-karya Penny Jordan yang lainnya, Lelaki dalam Ingatan nggak menuliskan seluk perasaan sang tokoh pria. Padahal, yang paling saya suka adalah ketika sudut pandang beralih pada sang hero sehingga saya bisa mengintip rasa frustasinya. Haha... Namun mungkin itulah yang membuat antiklimaks novel ini bikin saya mewek (lagi). Membaca novel kemudian nangis memang sudah biasa bagi saya, tapi membaca ulang dan masih tetap nangis itu luar biasa, kan? Saya cengeng, tapi juga nggak cengeng-cengeng amat kok. :p
Ketika Gideon akhirnya mendapat wangsit alias pencerahan alias fakta tentang masa lalu Corage dan betapa salahnya ia selama ini. Hueee... adegan di mana Gideon akhirnya mengakui semua perasaannya itu memang favorit saya sepanjang masa. Malah sepertinya saya mulai hapal dialognya di luar kepala. Oh.. Oh... :')

Dan seperti belasan tahun lalu saya kembali tenggelam dalam alur kisah hubungan Courage dan Gideon. Hanya saja kali ini saya merasa Courage terlalu baik dan mudah memaafkan. Dulu mungkin saya menganggap apa yang dilakukan Courage adalah cinta sejati, kini saya menganggap itu sebagai kepercayaan buta. Haha... Well, setelah disakiti begitu rupa, saya sih merasa keputusan yang diambil Courage itu terlalu cepat. Gideon juga jadi terlihat lebih egois dan mudah dituruti keinginannya.

Cover lama yang serupa cover aslinya 🙈🙈


Tapi tetap saja saya masih mencintai karya Penny Jordan yang satu ini. Dan omong-omong, covernya lebih cakep yang sekarang. Nggak memalukan kalau dibawa atau dibaca di depan umum, nggak seperti yang sebelumnya yang waktu bawa ke meja kasir saja malunya minta ampun. Hehe...

Selasa, 09 Agustus 2016

[Resensi] Pilihan Giselle - Penny Jordan

Judul buku: Pilihan Giselle
Judul asli: Giselle Choice
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Lucia Aryani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2014
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-0116-7



BLURB

Saul Parenti selalu bersyukur dirinya tak perlu menjadi penerus takhta kerajaan Arezzio. Ia bisa memusatkan perhatiannya pada bisnis dan istri tercintanya, Giselle.

Tetapi ketika Aldo sepupunya terbunuh, Saul harus menggantikannya memimpin kerajaan Arezzio. Saul dan Giselle kini harus menjalani hidup menurut protokol kerajaan. Namun, trauma masa lalu Giselle yang selama ini dipendamnya mulai mengusik; ia tak pernah ingin menjadi ibu—dan masalah pun muncul dalam rumah tangganya. Karena tugasnya sebagai pendamping raja adalah memberikan pewaris takhta... 


RESENSI

This is it. Saya membaca juga novel karya penulis favorit saya. Bagi yang mengikuti blog Nurina Mengeja Kata pasti tahu kalau Penny Jordan adalah penulis favorit saya. Meski nggak semua karyanya saya sukai, saya tetap menobatkan dia sebagai penulis favorit.
Dan novel Giselle Choice ini bukanlah tipe novel Penny Jordan yang biasanya saya sukai. Saya lebih suka kalau Penny Jordan menulis tentang kisah balas dendam atau kisah love-hate antara hero dan heroinenya.

Dari awal cerita saya sudah disuguhi adegan panas antara Saul dan Giselle. Pancingan yang pastinya diharap mampu menarik perhatian pembaca. Tapi bukan adegan favorit saya, sebenarnya. Saya bukan tipe pembaca yang suka dengan adegan percintaan di awal kisah. Terutama jika sudah sama-sama suka. Hahaha..
Dan yang membuat frustasi adalah informasi masa lalu yang ditahan dan diberikan secuil demi secuil. Sepertinya Penny Jordan berniat memberi kesan misterius, agar pembaca tertarik menyimak apa sebenarnya rahasia yang disembunyikan Giselle dan seperti apa sebenarnya trauma masa lalu mereka. Tapi bagi saya itu nyebelin banget. Bukannya bikin penasaran tapi malah bikin bingung. Hufff... Saya jadi bertanya-tanya apa saya yang gagal paham atau memang benang merahnya sulit dihubungkan. Padahal cara bertutur Penny Jordan sangat enak dan dialognya mengalir.

Sebagai hero, Saul bukanlah hero favorit saya. Ada beberapa karakter pria dalam karya Penny Jordan yang lebih saya sukai. Seperti Kyril Andronov dalam The Most Coveted Prize, misalnya. Saya lebih suka si pengusaha berdarah dingin dan penuh dendam ini daripada Saul yang hangat dan penuh cinta pada Giselle. Tapi Saul juga keren kok. Dia penuh tanggung jawab, dan berusaha membahagiakan semua orang. Ia ingin semua orang mendapatkan yang terbaik. Ya Giselle, ya rakyatnya. Aaah siapa yang nggak meleleh sama pria suamiable macam Saul begini.
Sementara untuk Giselle, dia juga bukan karakter kesukaan saya. Sebel saya malahan. Giselle terlalu takut dan bagi saya malah terkesan nggak percaya pada Saul dan hubungan pernikahan mereka. Sebagai istri saya biasa menceritakan secara gamblang apa yang saya rasakan pada suami. Apa ketakutan, kecemasan, dan kebahagiaan saya. Karena saya percaya padanya. Karena saya tahu dia mencintai kegelisahan dan harapan saya. *oh oke ini kenapa saya malah curhat* *dikeplak pembaca*
Yah intinya saya merasa Giselle ini masih nggak percayaan. Padahal chemistry antara dia dan Saul asyik banget.

Konfliknya memang bikin saya sebal. Bukan konflik yang penuh intrik dan kelicikan seperti yang biasa saya suka. Tapi yang selalu suka dari Penny Jordan adalah penyelesaian konfliknya. Penny Jordan selalu bisa membuat saya mewek dengan dialognya yang mengena dan begitu dalam serta adegan yang jelas-jelas bikin meleleh.

Overall, meski saya nggak suka ide ceritanya, tapi Giselle Choice tetaplah enak untuk dibaca. Ringan, menghibur dan memberi pemahaman bahwa hubungan harus berlandas kepercayaan.

Minggu, 19 Juni 2016

[Resensi: The Most Coveted Prize - Penny Jordan] Hadiah Terindah Bagi Sang Jutawan Rusia

Judul buku: Hadiah Terindah
Judul asli: The Most Coveted Prize
Seri: Russian Rivals #1
Penulis: Penny Jordan
Penerjemah: Linda Boentaran
Editor: Sam Ting Wong
Sampul oleh: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2015
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 9786020317113



BLURB

Hanya satu kontrak kerja lagi, dan lengkap sudah kerajaan bisnis sang jutawan Rusia, Kiryl Androvonov. Namun ia diadang lawan bisnis yang kuat, Vasilii Demidov. Beruntung bagi Kiryl, Vasilii memiliki kelemahan: Alena, adik tiri yang sangat dia lindungi.


Demi mendapatkan keinginannya, Kiryl merayu gadis itu dan memanfaatkannya untuk memeras Vasilii dan merebut kontrak bisnis. Sang taipan Rusia akan meraup untung besar dari situasi tersebut, sementara Alena akan menjadi hadiah terindah yang pernah dimilikinya. Hingga gadis itu menyadari betapa kejam Kiryl selama ini. Dan saat itu, Kiryl telanjur jatuh cinta padanya…

RESENSI

Alena Demidova merasa berhasil mengecoh kakak laki-lakinya, Vasilii, dengan "menyingkirkan" pengawas yang selalu diminta Vasilii untuk menjaganya. Kakaknya memang terlalu melindungi dan masih menganggapnya anak kecil. Padahal Alena merasa telah siap menjadi perempuan dewasa yang mengurus harta warisan ibunya dan merayu satu dua pria. Pria seperti Kyril Andronov, misalnya.
Alena terpukau pada daya tarik seksual yang terpancar dari pria itu dan dengan terang-terangan mengamati Kyril secara terbuka.
Semula Kyiril tak tertarik pada gadis muda yang menatapnya penuh damba itu. Tapi saat mendengar nama sang gadis, dan mengetahui bahwa Alena adalah adik semata wayang Vasilii yang tampaknya amat sangat dijaga oleh Vasilii, Kyril seolah mendapat jalan keluar dari masalahnya. Ia bertekad menggunakan Alena sebagai titik lemah Vasilii agar ia bisa mendapatkan kontrak yang ia mau. Maka ia mulai merayu Alena.
Namun kepolosan, kegairahan dan keterbukaan gadis itu bukanlah hal yang mudah diabaikan.
Akankah Kyril tetap pada rencananya dan merusak Alena, gadis yang mulai menghangatkan hatinya yang beku?

-----------------------

Bisa dibilang saya lebih suka The Most Coveted Prize daripada The Power of Vasilii. Vasilii terlalu bersih, terlalu baik dan gentleman sejati, jadi pergulatan batinnya nggak terlalu terasa. Tapi Kyril lumayan bajingan, jadi pergolakan batinnya dapet banget.

Saya selalu bilang bahwa yang saya suka dari Penny Jordan adalah penulis ini nggak pernah pelit memperlihatkan emosi hero-nya. Dari awal saya dimanjakan dengan paparan perasaan-perasaan Kyril juga pergulatan batinnya. Saya lebih suka tipe penulis yang seperti ini. Menggunakan POV orang ketiga tapi berimbang antara hero dan heroine-nya.
Terlebih Penny Jordan selalu bisa bikin heronya menyesal dan memohon. Oh, how i really love it! Di bagian si hero dihantam kenyataan, hampir kehilangan lalu memohon itu memuaskan batin saya. Wkwkwk~
Dan begitu pun yang saya rasakan pada Kyril.
Tapi saya nggak suka Alena. Hahaha... mungkin karena saya baca kisah Vasilii dan Laura lebih dulu, jadi saya sebel karena Alena lah yang membuat Vasilii salah paham terhadap Laura. Keinginannya untuk bebas selama sesaat itu terasa egois dengan membuat orang lain dirugikan. Tapi kepolosan dan keinginannya untuk mencintai itu menggemaskan.

Bagian yang saya suka di mana lagi kalau bukan di St. Petersburg. Kota favorit saya yang terasa romantis dalam penuturan Penny Jordan. Bukan hanya dari deskripsi tempatnya tapi juga suasananya pun ditulis dengan cantik banget.

Kisahnya mungkin sederhana, yah novel harlequin kan memang jenis novel ringan. Konfliknya lebih pada pertentangan batin sang hero dan penemuannya akan cinta.
Menghibur, ringan, lumayan blak-blakan dan maniiiis, aah.. saya jatuh cinta pada Kyril dan makin cinta pada St. Petersburg.

Sabtu, 30 Januari 2016

[Posbar] Resensi: Cinta di Malam Natal - Penny Jordan


Judul buku: Cinta di Malam Natal
Judul asli: Christmas Eve Wedding
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Lustatin
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2015
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 978-602-03-2334-3
Available at: Bukupedia.com




BLURB

Jaz yakin dirinya jatuh cinta dan akan menghabiskan sisa hidupnya dengan Caid Dubois, konsultan bisnis seksi yang sudah mencuri hatinya sejak Jaz tiba di New Orleans. Namun, harapan masa depan mereka yang bertolak belakang memaksa Jaz kembali ke Inggris dengan hati hancur.

Usaha Jaz untuk melupakan kenangan pahitnya berakhir sia-sia karena beberapa bulan kemudian Caid ditugaskan ke Inggris untuk memantau toko tempat Jaz bekerja. Seakan itu belum cukup, ia harus berbagi apartemen dengan si pria angkuh.

Pertemuan kembali di bawah langit bulan Desember tersebut menyadarkan Jaz dan Caid bahwa mereka membutuhkan satu sama lain. Namun, sanggupkah mereka mengambil risiko untuk berkompromi dalam cinta?


RESENSI

Jaz datang ke New Orleans bersama ayah baptisnya, Paman John, untuk melakukan negosiasi jual-beli toserba Inggris milik Paman John oleh Annette Dubois. Di situlah Jaz bertemu dengan putra semata wayang Annette, Caid Dubois. Dalam sekejap mereka langsung tertarik satu sama lain. Dan tak butuh waktu lama mereka menjadi sepasang kekasih.
Caid dengan mudah membuka hatinya dan mencintai Jaz saat tak sengaja ia mendengar bahwa Jaz adalah putri seorang peternak. Mengingat masa kecilnya yang suram karena selalu ditinggalkan sang ibu untuk mengejar kariernya, Caid bertekad untuk memiliki istri yang akan menghabiskan seluruh waktunya di rumah untuk mengurus anak-anak. Ia menolak menikahi wanita karier karena tak ingin anak-anaknya kelak bernasib sama sepertinya. Kesepian dan merasa ditolak oleh ibu sendiri. Caid mengira ia mendapati sosok istri ideal dalam diri Jaz.
Yang tak diketahui Caid, Jaz justru wanita yang sangat memuja darah seninya dan karier yang telah dicapainya. Sebagai perancang etalase toko, Jaz punya ide-ide kreatif yang membuatnya menikmati pekerjaannya. Jika ia menikah ia ingin kreatifitas seninya diakui dan didukung oleh suaminya kelak.
Sepasang kekasih yang saling mencinta tapi sayangnya terbentur idealisme yang sangat bertolak belakang. Maka mereka harus berpisah.
Namun ketika empat bulan kemudian Caid tiba di Inggris dan harus berbagi rumah dengan Jaz, akankah mereka berhasil mencapai sebuah kompromi? Ataukah mereka akan terlalu sibuk menyangkal dan saling bertengkar?

-----------

Bulan ini sebenarnya saya nggak berencana membeli buku. Tapi saya nggak pernah bisa menahan godaan setiap kali nama Penny Jordan nongkrong di rak toko buku. Bahkan seandainya saya ke toko buku dengan niat beli buku yang berbeda, begitu menemukan nama penulis ini, saya langsung hilang arah tujuan. Haha~
Maka terbelilah novel koleksi istimewa Harlequin dari penulis favorit saya ini.

Saya langsung terkaget-kaget di bab pertama ketika Jaz melakukan flirting dengan pria asing di lift. Saya berasumsi pria asing karena bolak-balik si pria ditulis sebagai 'pria itu'. Kok 'nakal' sekali si Jaz ini ketemu pria hot di lift dan dirayu dikit langsung mau diajak bobok bareng. ^^
Tapi... ternyata eh ternyata, ini adalah pancingan! Penny Jordan mungkin ingin membuat pembaca berasumsi pesona Caid langsung bisa merontokkan Jaz seketika. Padahal... ini twist yang menggebrak di awal cerita.
Hmm~ sayangnya image wanita gampangan jadi langsung melekat pada Jaz karenanya.

Seperti biasa, Penny bertutur dengan gayanya yang khas. Penny selalu bisa menggambarkan perasaan si tokoh yang tersayat-sayat dan teriris-iris. *emangnya cabe*
Dan harus saya akui lebih menarik menyaksikan (membaca) konflik batin tokoh utamanya dibanding konflik verbal mereka. Dialog yang dilakukan dua orang ini menyedihkan dan menyakitkan. Terutama kemarahan Jaz yang mirip debat anak-anak. Jaz terlalu sering menuduh, terlalu mudah membuat asumsi dan terlalu sering merajuk.
Saya sebal setengah mati karena Jaz nggak pernah memberi kesempatan bagi mereka berdua untuk bicara dengan logika dan mencari jalan keluar. Itu kan yang seharusnya dilakukan sepasang kekasih yang saling mencinta?
Dan saya nggak menyukai Caid karena chauvinist banget. Meski ia merasa seperti itu karena pengalaman masa kecilnya, tetap saja pikirannya sempit.

Salah satu hal yang mendorong saya membeli buku ini adalah disebutkannya New Orleans di blurb. Saya langsung girang karena novel ini mengambil setting kota favorit saya, tapi ternyata New Orleans cuma muncul sebentar, sebagian besar setting berada di Inggris.

Penerjemahannya bagus. Ada kalimat-kalimat panjang dalam dialog yang dilontarkan Jaz yang terasa agak 'mbulet'. Tapi mungkin kalimat versi aslinya memang seperti itu. Typo berupa kesalahan ketik lumayan banyak juga. Tapi untuk kesalahan ejaan dan tata bahasa hampir nggak ada. Keseluruhannya mudah dan enak dibaca.

Bisa dibilang, ini bukan karya terbaik Penny Jordan. Bukan hanya tokohnya yang terasa konyol tapi juga konflik yang kurang greget. Meskipun tetap saja endingnya sweet banget. Penyelesaian yang dibuat Penny Jordan selalu membuat saya terharu dan mewek. Walaupun Cinta di Malam Natal hanya berhasil membuat saya mewek sedikiiiit. Haha~




Senin, 18 Januari 2016

[Resensi: Skandal Terpendam - Penny Jordan] Memperbaiki Skandal Masa Lalu


Judul buku: Skandal Terpendam
Judul asli: A Secret Disgrace
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Farah Astrid Effendi
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2015
Tebal buku: 248 halaman
ISBN: 978-602-03-1489-1



BLURB

Louise Anderson tahu bahwa kembali ke Sisilia hanya akan membangkitkan kenangan buruk. Tapi demi mewujudkan keinginan terakhir kakek-neneknya, ia bersedia menghadapi apa pun, termasuk bertemu dengan pria angkuh yang membuatnya menjadi aib keluarga.

Sejak perjumpaan terakhir pada musim panas sepuluh tahun lalu, sosok Louise yang memikat selalu menghantui mimpi Caesar Falconari. Dan ketika Louise muncul kembali di hadapannya, Caesar bertekad takkan melepaskan wanita itu lagi. Apalagi setelah ia mengetahui akibat dari satu malam penuh gairah yang nyaris menghancurkan reputasinya dulu.

Caesar berharap kesepakatan yang ia tawarkan dapat menebus kesalahannya. Bagaimanapun, Caesar Falconari yang sekarang bukan lagi pemuda tak berpendirian, melainkan pria yang akan memberikan segalanya untuk mendapatkan kesempatan kedua dalam hubungan mereka.

RESENSI

Akhirnya Louisa kembali ke Sisilia, tapi hanya dengan satu tujuan, menguburkan abu kakek dan neneknya di tanah leluhur mereka. Dan meski Louisa merasa tak nyaman kembali berurusan dengan Caesar, tapi Louisa ingin memenuhi keinginan terakhir kakek dan neneknya. Karena hanya kakek dan neneknyalah yang menerima Louisa ketika semua orang—termasuk ayahnya—menghina dan menghakimi Louisa atas aib yang dibawa Louisa.
Namun tampaknya Caesar, sang Duca pemilik tanah mereka, tak berniat untuk kembali melepaskan Louisa.
Rupanya sebelum meninggal, kakek Louisa telah menulis surat pada Caesar dan memberitahu Caesar bahwa Caesar adalah ayah dari anak Louisa. Bahkan begitu melihat Oliver, Caesar tahu anak itu adalah putranya. Kemiripan mereka tak diragukan lagi. Rasa tanggung jawab dan rasa bersalah yang amat besar membuat Caesar memutuskan untuk mengklaim Oliver sebagai putranya dan Louisa sebagai istrinya. Terutama karena Louisa telah melalui banyak penghinaan karena dirinya.
Tapi menaklukkan dan meyakinkan Louisa ternyata tidaklah semudah dulu ketika perempuan itu masih gadis belia 18 tahun. Louisa yang sekarang adalah Louisa yang telah ditolak dan dikhianati.
Berhasilkah Caesar membawa Louisa pada pernikahan yang pantas untuk perempuan itu? Dan bagaimana jika hasrat dan letupan yang dulu ada di antara mereka kini bangkit kembali?

---------------

Penny Jordan adalah penulis yang nggak pernah mengecewakan saya. Dia penulis favorit saya sejak saya SMA. Kemampuannya dalam memaparkan perasaan sang hero dan menuliskan adegan yang mematahkan hati selalu membuat saya mewek.
Penny Jordan selalu bisa membuat saya puas karena tahu sang hero menderita karena menginginkan sang heroine. XD

Seperti halnya di A Secret Disgrace ini, sejak awal saya sudah diberi curhatan Caesar, bagaimana perasaannya melihat Louisa lagi, seberapa besar rasa bersalahnya dan bagaimana ia ragu dan salah mengira Louisa membencinya. Aww~

Plotnya rapi dan mengalir. Dengan POV orang ketiga, lebih banyak paparan perasaan yang saling bertentangan di dalam novel ini. Cara penulis mendeskripsikan Sisilia terasa memikat dan nggak berlebihan.

Louisa benar-benar mudah menarik simpati saya. Saya merasa faktor psikologis penting dalam membuat karakter novel. Latar belakang apa yang membuat si tokoh melakukan suatu tindakan, dan mengapa ia memiliki sifat tertentu. Dalam hal Louisa itu karena ia selalu ingin mendapatkan cinta yang nggak bisa diberikan orangtuanya.
Orangtua Louisa menikah hanya karena ibu Louisa hamil, sehingga Louisa tumbuh dalam pengabaian orangtuanya. Ia tumbuh menjadi anak yang selalu mencari perhatian. Ketika orangtuanya bercerai dan ayahnya punya pacar baru, Louisa mulai bersaing dengan calon ibu baru dan putri-putrinya dalam hal mendapatkan cinta sang ayah. Tapi Louisa kalah. Ayahnya tetap membencinya. Itu sebabnya ia tumbuh jadi gadis pembangkang dan nakal untuk mendapatkan perhatian ayahnya. :(
Tapi ketika satu malam bersama Caesar membuatnya hamil, dan setelah ia diusir dan dilecehkan tetua desa, walau perasaannya hancur, saya kagum dengan ketegarannya. Sehingga ketika ia kembali bertemu Caesar sepuluh tahun kemudian dia menjadi perempuan yang lebih logis dan terkendali. Menjadi perempuan yang pantas dikejar Caesar.

Penerjemahannya lumayan baik. Ada typo sedikit dan di bab awal ada kalimat bertingkat yang terasa berputar-putar. Entah memang kalimat aslinya begitu atau penerjemahnya sendiri yang menggunakan kalimat rumit. Tapi keseluruhan tetap mudah dinikmati.

Ending novel ini bisa dibilang khas Penny Jordan. Pola yang selalu digunakannya untuk menutup cerita. Tapi saya nggak merasa bosan karena tetap ada nuansa yang segar yang membedakan novel ini dengan karyanya yang lain. A Secret Disgrace justru membuat saya makin menyukai penulis satu ini.
Karena dari novel ini saya menemukan bahwa pengabaian orangtua besar dampaknya bagi pembentukan karakter anak. Bahwa penting bagi seorang anak untuk merasa aman karena tahu dirinya selalu dicintai orangtuanya. A Secret Disgrace menyampaikannya dengan apik dalam balutan roman yang manis.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon