Tampilkan postingan dengan label Gramedia Pustaka Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gramedia Pustaka Utama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Januari 2019

[Resensi] Sang Penguntit - Lisa Kleypas

Judul buku: Sang Penguntit
Judul asli: Hello Stranger
Series: The Ravenels #4
Penulis: Lisa Kleypas
Alih bahasa: Halita Permatasari
Editor: Yosef Bayu Anangga
Sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2018
Tebal buku: 464 halaman
ISBN: 9786020618449



BLURB

Sebagai satu-satunya dokter wanita di Inggris, Garret Gibson adalah wanita kuat dan mandiri. Ia sering kali menghadapi darah dan hal-hal mengerikan. Nyaris tak ada yang bisa mengusiknya. Sampai ia bertemu Ethan.

Ethan Ransom, mantan detektif di Scotland Yard, pria misterius yang kesetiaannya diragukan. Sebagai anak di luar pernikahan seorang bangsawan, Ethan tidak terlalu tertarik kepada masyarakat kalangan atas, namun ia terpikat pada Garrett yang cantik dan pemberani. Meski sama-sama berusaha melawan ketertarikan terhadap satu sama lain, Garrett malah terseret ke dalam salah satu misi Ethan yang paling berbahaya. Dan Ethan harus mengerahkan seluruh keahlian dan keberaniannya demi menyelesaikan misi sekaligus mendapatkan cinta wanita paling luar biasa yang ia kenal.

RESENSI

Hello Stranger atau Sang Penguntit merupakan buku keempat dari serial The Ravenels. Membuat saya bertanya-tanya mengapa kisah dokter Garret Gibson dan Ethan Ransom masuk ke dalam serial ini padahal mereka bukan bagian dari Ravenels. Entah saya melewatkan setitik informasi di buku-buku sebelumnya atau karena saya belum membaca novel ketiganya, Devil in Spring. Saya memang ingin menunda lebih lama untuk membaca Devil in Spring karena takut akan ekspektasi saya sendiri mengingat tokoh dalam Devil in Spring adalah putra dari Sebastian.

Nah, mungkin saja memang ada sesuatu yang menjadi petunjuk tentang Ethan di salah satu novel-novel pendahulunya, yang jelas saya mulai menyadarinya ketika Ethan bertemu dengan West Ravenel. Di situlah saya merasa kisah ini akan menjadi menarik.
Kisah ini terjadi pada sebuah musim panas tahun 1876. Garret Gibson menjadi satu-satunya dokter wanita yang ada di Inggris. Ia pergi ke Perancis untuk belajar kedokteran di Universitas Sorbornne karena sekolah-sekolah kedokteran di Inggris menolaknya. Pada saat itu di mana wanita tak boleh memiliki peran apa pun selain sebagai penghias rumah, jelas pilihan profesi Garret membuatnya dianggap mengerikan. Wanita tak boleh terlalu pintar dan menonjol. Beberapa dokter pria yang berprinsip kaku seolah enggan mengakuinya.
Pada catatan penulis di akhir kisah, Lisa Kleypas mengungkapkan bahwa ia terinspirasi oleh dr. Elizabeth Garret Anderson seorang dokter wanita pertama yang mendapatkan izin praktik di Inggris. Setelahnya British Medical Association langsung mengubah peraturan untuk mencegah wanita lain melakukan hal yang sama selama dua puluh tahun berikutnya. Ini membuat saya merasa kagum karena tentunya Lisa telah melakukan riset yang sangat dalam terutama pada beberapa lembar buku ini yang menuliskan dengan begitu detail bagaimana Garret Gibson membedah luka tembak Ethan. Semua peralatan, perkakas, obat-obatan dan tindakan medis yang dilakukan Garret membuat saya menyadari betapa tinggi risiko medis pada masa itu. Saya sempat bertanya-tanya ketika Garret memutuskan melakukan transfusi darah, mengapa ia tak menanyakan golongan darah mereka. Pertanyaan saya terjawab pada catatan penulis bahwa golongan darah baru ditemukan pada tahun 1901 yang semakin menunjukkan betapa berisikonya keputusan yang diambil Garret. Itu berarti proses transfusi darah pada saat itu hanya mengandalkan keberuntungan akan kecocokan darah.

Bagaimanapun juga novel ini memberi saya saat-saat frustasi antara menyukai dan tidak menyukainya. Ada saat-saat di mana Ethan membangun suasana intim, lalu Garret mengacaukannya dengan mengungkapkan istilah-istilah medis. Walau Ethan menganggapnya lucu dan menarik, tapi saya tidak. Apakah memang seperti itu jika kita berpacaran dengan seorang dokter? :)))
Sementara Ethan sendiri yang diceritakan sebagai mantan detektif Scotland Yard yang jarang tersenyum dan memilik aura seram tapi jantan (awww~~~), ternyata begitu puitis. Lagi-lagi saya merasa akward membaca rayuan-rayuannya, sementara Garret menanggapi dengan salah tingkah dan kemudian mengeluarkan komentar sakti berupa istilah medis. Bikin frustasi wooyyy 😭😭

Untungnya kehadiran West sangat menghibur dalam novel ini. Ia menjadi duri di pantat Ethan dengan keselengekannya tapi juga justru menjadi orang paling setia bagi Ethan. Mengingat betapa brengseknya dia di buku pertama, senang rasanya melihat West semakin menjadi pria dewasa sekaligus kekanakan yang membuat meleleh dari waktu ke waktu. Banter antara dirinya dan Ethan menjadi hiburan yang tiada duanya. Dialah penerang cerita ini.

Konflik yang terbangun dalam Hello Stranger cukup menegangkan. Walau tentu saja saya yakin keberuntungan akan muncul dan menyelamatkan para tokohnya dalam novel-novel semacam ini. Namun intrik yang terjadi tetaplah menarik untuk diikuti.
Yang tak kalah menegangkan justru adalah menunggu kapan Garret dan Ethan melakukan percintaan. Haha. Selama beberapa bab mereka melakukan permainan sentuh-tapi-tak-boleh-memiliki yang membuat saya hampir meledak jengkel dan ingin membenturkan kepala Ethan ke tembok karena begitu keras kepala. Namun toh akhirnya mereka bisa wikwik juga. Dengan menggebu. Tak tahu malu. Setiap waktu. Yah begitulah. Walau tentu saja Lisa Kleypas selalu bisa menuliskan adegan gulat penuh keringat ini dengan begitu indahnya tanpa terasa memalukan.

Secara keseluruhan saya masih belum bisa memutuskan apakah saya menyukai atau tidak menyukai novel ini. Untuk sebagaian besar waktu saya menikmati membacanya, untuk beberapa waktu lainnya terutama ketika Ethan begitu puitis saya merasa terganggu. Namun, saya tetap merekomendasikan novel ini terutama bagi kalian yang tertarik membaca seluk beluk dunia medis di Inggris pada abad itu. Atau... bagi kalian penyuka drakor Descendant of The Sun dan ingin membacanya dalam versi hisrom dengan suasana Inggris. Nggak mirip banget sih tapi kisah cinta dokter wanita-anggota rahasia pasukan elite khusus dan intriknya hampir sama. Hmm menjadi catatan yang menarik juga ketika Garret menggunakan spons yang dicelup air lemon untuk dimasukkan ke vaginanya sebagai alat kontrasepsi. Selamat membaca :)

Rabu, 08 Agustus 2018

[Resensi] Diajeng - Netty Virgiantini | Camilan dan Cinta Segitiga

Judul buku: Diajeng - Camilan, Gembolan, dan Cinta yang Belingsatan
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Wiwien Wintarto
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 9786020380810



BLURB

Di tengah semangatnya merintis usaha Cenil Snack untuk membiayai kuliah, Diajeng tertipu oleh Angga, seorang sales yang mengajaknya bekerja sama. Dengan harapan bisa memperoleh keuntungan lebih besar, ia mempertaruhkan seluruh tabungan yang dimilikinya. Cobaan bertambah ketika dagangan yang dititipkannya di sebuah minimarket ludes dalam musibah kebakaran.

Dalam keadaan terpuruknya, Ardi, laki-laki matang yang berprofesi sebagai guru SD, melamarnya dan menawarkan banyak solusi untuk masalahnya. Diajeng terbelit dalam kebimbangan karena diam-diam ia juga menyukai Aslan Satriawan, mantan teman sekolahnya yang sudah didekati oleh sahabatnya sendiri. Seperti sebuah nasihat, setelah kesusahan pasti ada kemudahan, ia pun kemudian mendapat kejutan tak terduga dalam hidupnya. 

RESENSI

Satu hal yang saya suka dari novel-novel karya Netty Virgiantini adalah karakter tokoh ceweknya yang tangguh, glenyengan, rada konyol, dan sederhana. Sedemikian halnya dengan Diajeng, tokoh utama dalam novel Diajeng - Camilan, Gembolan, dan Cinta yang Belingsatan. Sebuah novel yang termasuk dalam Gemblongers Series, yaitu serial di mana masing-masing novel menceritakan tentang para anggota geng Gemblongers yang ditulis oleh empat penulis yang berbeda. Anggota Gemblongers sendiri terdiri dari empat cucu perempuan Mbah Atmosukarto, seorang kakek yang masih gagah dan suka melemparkan pantun geje alias gak jelas kepada cucu-cucunya. Seru kan?

Diajeng sedari awal ditampilkan dengan menonjolkan sikap pekerja keras dan cuek. Tanpa rasa malu dia berkeliling kota Semarang dari satu warung ke warung yang lain untuk menitipkan dagangan cemilannya. Dari hasil keringatnya sendiri, dia berusaha membiayai kuliahnya di Universitas Terbuka. Selain itu Diajeng juga begitu lugu dalam hal menyikapi perasaannya. Dia mundur dan diam saat tahu Arina juga menyukai Aslan. Bahkan saat Ardi melakukan pendekatan padanya, Diajeng jadi belingsatan saking bingungnya. Keluguan Diajeng pula yang membuatnya tertipu oleh teman sesama sales. Jelas, konflik batinnya semakin memuncak karena harus memikirkan uang tabungannya yang ludes.

Gaya bercerita Netty Virgiantini yang khas sangat terasa dalam novel ini. Kekonyolan dihadirkan dalam profil keluarga Diajeng, melalui sifat Bapak dan Ibu Diajeng yang drama abis. Belum lagi adanya Mbah Atmosukarto yang sangatlah geje itu, yang suka melemparkan pantun ajaib pada cucu-cucunya. Keunikan keluarga Diajeng ini yang bikin saya sebagai pembaca merasa terhibur karena rada-rada absurd. Tapi begitulah keluarga, bukan? Seaneh dan seabsurd apa pun, merekalah selimut hangat yang paling mampu memeluk dan meredakan kegelisahan kita. Begitupun keluarga Diajeng.
Kemudian muncullah dua pria yang bisa membuat Diajeng belingsatan, yang satu karena rasa cinta terpendam yang satu karena rasa segan dan hormat. Aslan yang pendiam dengan sikapnya yang membingungkan itu rasanya bikin gemas. Membuat saya bertanya-tanya akan bagaimana akhir kisah cinta segitiga ini. Sementara Ardi yang dewasa memang sedikit "menyeramkan" dengan keinginannya untuk membuat hubungan yang lebih serius lagi. Bikin grogi dan belingsatan.

Novel Diajeng mengambil latar kota Semarang sebagai sentra ceritanya. Netty Virgiantini sangat cermat dalam menggambarkan kota ini lengkap dengan cuacanya yang puanaaasss. Setiap nama tempat, nama jalan dan rute yang dilalui Diajeng tentulah mampu membangkitkan nostalgia akan kota ini. Membuat saya sebagai pembaca benar-benar merasakan atmosfer dan suasana kota Semarang.

Saya pikir saya begitu tertarik dengan isu pernikahan yang ada dalam novel ini. Beberapa pertanyaan selalu ditujukan kepada perempuan selepas kami lulus SMA: kenapa tidak menikah saja?
Diajeng pun mendapat tawaran untuk menikah di tengah keruwetan masalahnya. Begitu tipisnya garis godaan itu untuk dilangkahi. Seandainya ia menikah, ia tak perlu pusing memikirkan biaya kuliah, tak perlu berpanas-panas ria di jalanan kota Semarang demi mengantar cemilan, masa depannya bisa lebih jelas. Namun benarkah nilai perempuan hanya cukup sampai di situ? Benarkah pernikahan adalah sebuah solusi? Saya merasa harap-harap cemas membaca Diajeng yang sedang mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan. Karena saya tak ingin Diajeng berhenti berjuang, saya tak ingin Diajeng menyerah. Karena menjadi istri ataupun tidak, perempuan harus tetap bisa berdiri sendiri.

Ini adalah kisah tentang gadis tangguh yang dengan gagah berani berjuang demi masa depannya sendiri. Siapa sangka jika ia merasa minder dan tak berani jujur akan perasaannya. Tentu sangat menarik untuk mengikuti perjuangannya dalam mengembangkan usaha cemilan dan berusaha percaya diri meraih lelaki yang dicintainya. Ringan, gayeng, tapi juga bikin mewek... benar-benar seru buat dibaca.

Selasa, 19 Desember 2017

[Resensi] Raindrops Serenade - Dya Ragil | Ujian Kepercayaan dalam Persahabatan

Judul buku: Raindrops Serenade
Penulis: Dya Ragil
Ilustrasi sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 978-602-03-7877-0



BLURB

“Omong-omong, gue lagi nulis lagu atas permintaan band kampus. Mau bantu?”
“Kenapa? Lirik yang lo tulis berasa sampah lagi?”
“Lebih baik sampah daripada plagiat.”

Risa pernah menulis lagu bersama Amel, lalu tiba-tiba lagu itu diklaim sebagai lagu yang diciptakan oleh salah satu personel band Lima Oktaf. Ketidakjelasan kenapa lagu itu bisa jatuh pada pihak ketiga membuat dua sahabat itu saling menyalahkan dan akhirnya bermusuhan. Bahkan, Risa sempat melakukan percobaan bunuh diri karena tidak kuat menghadapi cyberbullying yang dilakukan para fans Lima Oktaf.

Setelah kejadian itu berlalu, Risa harus kembali berhadapan dengan Lima Oktaf karena urusan kepanitiaan orientasi mahasiswa baru di kampusnya. Keadaan makin rumit ketika dia mendapati Galang, pemuda yang sudah dia anggap adik sendiri, ternyata sedang menulis lagu untuk Lima Oktaf tanpa mengetahui seperti apa masa lalu Risa.

Apa yang akan Risa lakukan saat Galang meminta bantuannya menulis lagu itu? Bagaimana pula reaksi Amel yang masih saja menyalahkannya?


RESENSI

Sejauh ini saya selalu suka novel-novel Young Adult yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Dibanding lini lain, permasalahan yang diangkat sebagai isu dalam novel-novel Young Adult lebih kompleks, dan tentunya lebih mematahkan hati. Namun di sisi lain, novel-novel ini memberi kekuatan dengan cara mereka masing-masing, mereka bangkit walau susah payah saat jatuh, mereka melawan sebisa mereka saat menghadapi hantu terbesar mereka, mereka memunguti serpihan hati mereka dengan tegar saat kalah, mereka tetap penuh cinta kasih setelah dihantam badai. Ada pesan-pesan yang diulurkan untuk diraih para remaja dewasa seusia mereka.

Dalam Raindrops Serenade saya bertemu dengan Risa, seorang mahasiswi yang pesimis dan dibayangi sebuah trauma. Gadis yang pernah menghadapi tragedi dalam hidupnya sehingga nampak diliputi kesedihan. Ia mengalami krisis kepercayaan, baik terhadap orang-orang maupun terhadap dirinya sendiri.
Saya juga bertemu dengan Galang, pemuda yang dua tahun lebih muda dari Risa, dan entah kenapa walau terkesan sendu, kehadirannya selalu terasa menentramkan. Itu yang saya rasakan setiap kali ia berinteraksi dengan Risa.
Saya menyukai keunikan hubungan mereka. Ada saat di mana Galang seolah seperti anjing penjaga yang lucu yang mengekori ke mana pun tuannya pergi. Lembut untuk disayang, tapi juga garang saat ada yang berani melukai. Hhh... bikin iri 😆😆
Saya bertemu juga dengan Amel, mantan sahabat Risa yang berseteru hebat dengan Risa. Mereka sama-sama mengalami krisis kepercayaan. Mereka sama-sama menutupi luka hati mereka dengan kemarahan dan kebencian. Namun saya nggak bisa membenci Amel, cara bicaranya yang pedas itu menggemaskan. Saya suka pemilihan kalimat-kalimatnya. Sadis tapi manis.

Sesungguhnya ada banyak banget tokoh dalam novel ini yang muncul, dan membuat saya kebingungan. Maafkan saya yang memang punya keterbatasan memori dalam mengingat nama-nama. Namun karena tokoh-tokoh itu sangat penting dalam membangun konflik novel ini, saya pun akhirnya bisa mengikuti. Kemunculan mereka yang cukup sering, juga bagaimana nama mereka yang disebutkan dalam dialog antar tokohnya membantu saya untuk mengingat peranan mereka.

Ada beberapa isu besar yang diangkat dalam novel ini. Yang pertama adalah plagiarisme. Orang-orang banyak yang menyepelekan hal ini, menganggap plagiarisme bukanlah suatu kejahatan. Novel ini berusaha menyuarakan bahwa pelanggaran hak cipta dapat berimbas pada banyak segi kehidupan.
Yang kedua adalah cyberbullying. Maha benar netijen dengan segala komentarnya. Saya sangat geram pada Reno, yang dengan sengaja membiarkan para fansnya untuk membully Risa di media sosial. Jahat. Kejam. Padahal satu kalimat jahat saja bisa menjatuhkan mental seseorang yang mungkin sedang di titik terendah, apalagi ini komentar rame-rame. Tuduhan. Kecaman. Makian. Wajar jika kemudian korban cyberbullying kebanyakan memutuskan untuk bunuh diri. Bukan karena mereka lemah, tapi mental, hati dan kepercayaan mereka telah diinjak-injak oleh para perisak.
Yang ketiga adalah kepercayaan. Seberapa besarkah kepercayaanmu terhadap sahabatmu. Saat ada masalah menerpa kalian berdua, apakah kalian akan tetap berdiri bersama, ataukah kalian akan saling menyalahkan. Seberapa banyakkah kalian mengijinkan hati kalian untuk mempercayai sahabat kalian. Yakinkah kamu dia nggak akan menusukmu dari belakang? Dalam novel ini, ada kisah persahabatan yang mengalami pasang surut. Ada kepercayaan yang diuji. Dan saat kebenaran terungkap, bisakah mereka memaafkan dan membuka lembaran baru.

Pada awalnya saya membaca Raindrops Serenade dengan susah payah, ada dialog yang seolah dipaksakan untuk masuk & mengulur-ulur cerita. Ada deskripsi panjang yang seolah nggak ada pentingnya. Juga betapa gemasnya saya karena penulis seolah berputar-putar untuk menunda menjatuhkan bom masalah yang sebenarnya. Namun begitu bomnya meledak, tiga perempat novel ini saaaaangat mengasyikkan. Page turner banget. Tempo ceritanya juga menjadi cepat. Saya tenggelam pada usaha Risa untuk mendapatkan kembali apa yang pernah hilang darinya. Terlebih lagi saya suka dengan banter yang dilakukan antara Risa dan Amel. Mereka cute banget :)))
Ooh saya juga suka dengan lirik-lirik lagu yang ditulis Risa. Cakep banget pemilihan diksinya.

Membaca novel ini pada akhirnya membuat saya memikirkan tentang sahabat saya. Bersyukur karena kami nggak pernah dihantam badai seperti yang dialami Risa dan Amel. Saya juga berusaha mengingat-ingat pernahkah saya membuat komentar jahat dan menyudutkan terhadap seseorang di media sosial. Ah, semoga saja tidak. Bagaimana dengan kalian?
Hmm... yah, saya sih tetap akan merekomendasikan novel ini apa pun jawaban kalian 😉

Sabtu, 09 Desember 2017

[Resensi] Skandal Sang Duchess - Courtney Milan

Judul buku: Skandal Sang Duchess
Judul asli: The Duchess War
Series: Brothers Sinister #1
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Eka Budiarti
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2016
Tebal buku: 480 halaman
ISBN: 978-602-03-3290-1



BLURB

Miss Minerva Lane terkenal pendiam, dan ia ingin tetap seperti itu, karena kali terakhir ia menjadi pusat perhatian, hal itu berakhir sangat buruk sampai ia terpaksa mengganti nama untuk meninggalkan masa lalunya yang penuh skandal. Jadi ketika seorang duke tampan muncul, ia sama sekali tidak menginginkan perhatiannya. Tetapi justru itulah yang ia dapatkan.

Robert Blaisdell, Duke of Clermont, memiliki misi penting yang amat dirahasiakan. Karena itu, ia terkejut ketika Minnie berhasil mengungkap rencananya. Robert menyadari di balik sifat pendiam Minnie, ada kecerdasan yang membahayakan. Maka ia bertekad menguak skandal masa lalu Minnie sebelum wanita itu mengungkap rencananya lebih jauh. Tapi si nona pemalu terbukti merupakan lawan yang lebih tangguh...

RESENSI

Setelah membaca The Governess Affair sebagai novella yang mengawali seri Brothers Sinister, saya cukup bersemangat untuk lanjut ke novel pertamanya yaitu The Duchess War atau Skandal Sang Duchess. Hmm... yang menarik dari pandangan pertama tentunya adalah cover version-nya yang berbeda dengan cover version aslinya. Saya suka dengan gambar bidak-bidak catur di situ, karena maknanya lebih mewakili dibanding cover sosok seorang wanita.
Beberapa kali membaca karya Courtney Milan, terutama seri Turner, membuat saya menyadari betapa saya mengagumi penulis ini. Dalam karya-karyanya, Courtney Milan selalu memberi tokoh utamanya sebuah kekurangan. Hal inilah yang saya temui ketika membuka halaman pertama The Duchess War. Ya, Minnie atau Miss Willhelmina Pursling adalah seorang wanita yang memiliki bekas luka di wajahnya dan dianggap membosankan.

"Menurutku dia akan muat dengan pas. Sebagai istri, Mrs. Pursling akan seperti buku-buku ini. Saat aku ingin mengeluarkan dan membacanya, dia akan ada di sana. Saat aku tidak ingin, dia akan menunggu dengan sabar, persis di tempat dia ditinggalkan. Dia akan menjadi istri yang penurut untukku, Ames. Selain itu, ibuku menyukainya." (hlm. 12)

Miss. Pursling mungkin adalah sosok yang sempurna untuk dijadikan istri bagi kalangan atas di masa itu. Kritik sosial yang disampaikan dalam novel ini jelas adalah menyinggung perilaku para prianya yang menjadikan wanita sebagai alas kaki, yang dianggap bodoh dan hanya sebagai hiasan pelengkap. Tapi tunggu. Benarkah heroine kita di novel ini adalah makhluk penakut dan pasrah menerima keadaan?
Rupanya Miss. Pursling hanyalah topeng yang digunakan oleh Minerva Lane untuk menutupi jati dirinya, karena Minnie yang asli takut orang-orang akan mengetahui skandal yang pernah ia alami yang telah mengakibatkan luka di wajah dan rasa sakit jauh di dalam hatinya. Jika pada awalnya saya sempat merasa kecewa, pada akhirnya saya sangat menyukai Minnie. Ia ahli dalam berstrategi, otaknya bagai mesin yang penuh hal-hal yang mencengangkan, ia berani dan nggak gampang digertak.
Berbeda halnya dengan Robert Blaisdell, Duke of Clermont, yang menurut saya biasa saja. Saya telah membaca The Governess Affair, dan saya tahu betapa menjijikkannya ayah Robert yang mewariskan gelar Duke of Clermont. Saya merasa bersimpati dan memahami mengapa Robert menjadi begitu terobsesi untuk menjadi perjaka. Ia nggak mau melakukan kesalahan dan kebejatan yang sama seperti yang dilakukan ayahnya. Sayangnya, ini membuat Robert terlalu "baik" dan terlalu polos, sehingga acara seksual pertama mereka terasa sedikit aneh :')

Konflik dalam novel ini sangat seru, karena begitu kompleks. Pembaca bukan hanya diajak mengikuti perkembangan hubungan Minnie dan Robert yang naik-turun, tapi juga perkembangan politik pada masa itu, bagaimana Robert berusaha menghapuskan hak-hak para bangsawan dan memberi hak-hak yang lebih manusiawi kepada para buruh industri. Kesungguhan Courtney Milan dalam melakukan riset untuk membangun latar waktu dan suasana, terlihat jelas dalam novel ini.

Sebagai buku pertama dari sebuah serial, kemunculan Oliver Marshall, Sebastian Malheur, dan Violet Waterfield dihadirkan dengan porsi yang pas untuk memancing rasa penasaran. Kebersamaan mereka juga banter yang mereka lakukan begitu menggelitik dan menarik minat. Bagi saya, jujur saya sangat tertarik dengan hubungan Sebastian dan Violet yang terlihat kompak dan seolah menyimpan sesuatu. Ehem.

Bagian favorit saya, adalah hubungan Robert dengan ibunya dan hubungan Robert dengan ibu Oliver. Sebenarnya saat ibu Oliver memeluk Robert itulah yang paling bikin saya mewek. Untunglah penerimaan yang mereka tunjukkan dan berikan belum terlambat. Untunglah Robert masih bersedia menanti dan nggak jadi pria yang pahit.

Well, bagi saya The Duchess War menjadi novel historical romance yang layak dibaca karena bangunan konflik dan plotnya yang apik. Dan saya sudah nggak sabar untuk melanjutkan petualangan dengan brothers sinister selanjutnya 😉




Minggu, 29 Oktober 2017

[Resensi] Kelir Slindet - Kedung Darma Romansha

Judul buku: Kelir Slindet
Penulis: Kedung Darma Romansha
Setter: Ayu Lestari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2014
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 9786020303567



BLURB

Kelir Slindet adalah sebuah potret kelam masyarakat desa yang terjebak dalam budaya dan mentalitas kemiskinan struktural: budaya dan mentalitas "pasangan Saritem dan Sukirman" yang telah melanggengkan kemiskinan, kejumudan, kemaksiatan, dan kemudaratan yang berkelindan dari generasi ke generasi. Keberhasilan Kedung Darma Romansha merekonstruksi "realita" kelam tersebut hanya bisa dicapai oleh penulis yang (pernah) menjadi bagian dari dan merasakan secara langsung ritme kehidupan mereka; di samping tentu saja yang memiliki kualitas emosional yang begitu terjaga dalam proses kreatifnya. Saya merasakan Romansha sebagai penulis muda yang sangat potensial dan dapat memberikan warnanya pada peta sastra Indonesia — Herry M. Saripudin Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan (P3K2) Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf), Kemlu, dan penikmat sastra.

Tidak banyak penulis novel sekaligus penyair, namun juga pemain teater yang tumbuh pasca generasi 80. Oleh karena itu, membaca karya Kedung Darma ini akan mendapatkan personalitas berceritanya yang tidak lepas dari latar belakangnya. Sebuah karya yang patut dibaca. — Garin Nugroho Sineas

Sebuah karya yang lahir dari perjalanan mata yang tidak hanya melihat. Rasa yang dalam, muncul dari tiap lembar kehidupan di sebuah kota kecil, yang penuh dengan kegetiran. Kita seolah dibawa ke sebuah dunia yang KITA sendiri, pembaca, yang mengalaminya. — Teuku Rifnu Wikana Aktor Film

Kedung Darma Romasha memang liar dan tengah menderita dendam. Dendam seorang santri pada tanah kelahirannya yang sangat ia cintai. Ia kerasukan, dan novel Kelir Slindet inilah yang menjadi saksinya. — Joni Ariadinata Sastrawan, Redaktur majalah sastra Horison dan ketua umum Jurnal Cerpen Indonesia

RESENSI

Safitri adalah gadis usia 14 tahun yang menjadi santri sekaligus artis kasidah pimpinan Musthafa di mushola milik Haji Nasir. Setiap kali Safitri berlatih kasidah, Mukimin, anak bungsu Haji Nasir, tak pernah melewatkan kesempatan untuk mengintip dari jendela samping mushola. Mukimin tergila-gila pada Safitri, teman sebayanya itu. Mukimin sendiri adalah pemuda urakan yang lebih sering bolos dan iseng luar biasa, tapi selalu saja jadi tolol kalau sudah berhadapan dengan Safitri.
Tak disangka, rupanya Safitri pun menyukai Mukimin. Mereka sering terlihat duduk berdua di dekat sungai walau tetap saja Mukimin kesulitan menyatakan cinta. Hingga Musthafa yang rupanya juga menaruh hati pada Safitri datang melamar Safitri. Takut kalah dari kakaknya, Mukimin pun akhirnya menyatakan cinta.
Sayang perjalanan kasih mereka harus terbentur status sosial. Ayah Mukimin melarang mereka berpacaran karena Safitri adalah anak seorang telembuk, seorang PSK. Ibu Safitri pun nguntap dan melabrak Haji Nasir. Sejak itu mereka dilarang bertemu. Hubungan mereka terputus. Safitri pun mengurung diri di kamarnya, dan Mukimin kabur entah ke mana.
Hingga suatu hari, Cikedung dikagetkan aksi Safitri yang naik ke panggung dan berjoget dangdut dengan hebohnya. Banyak yang menganggap Safitri stres lantaran ditolak Haji Nasir. Banyak yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tapi Safitri tak menggubris, ia makin gila-gilaan di atas panggung tarling dan dangdut.
Beberapa ustad datang untuk melamarnya, untuk membawanya kembali ke jalan yang benar, tapi Safitri menolak. Namun rupanya gadis itu menyimpan satu rahasia. Alasan mengapa ia berubah. Sesuatu yang kemudian membuat Cikedung gempar.

-------------------------------

Apa salahnya menjadi anak telembuk?
Apa salahnya jika anak telembuk jatuh cinta pada anak seorang kaji, yang sekaligus juga seorang kuwu?
Atau sebaliknya, apakah salah jika anak seorang kaji jatuh cinta pada anak telembuk?


Pertanyaan ini terus bergelung di benak saya sejak mulai membaca novel Kelir Slindet hingga menutup lembar terakhirnya. Banyak kerisauan dan penyesalan yang saya rasakan selama membaca novel ini. Beneran. Saya marah. Saya kesal. Saya sedih dan menyesal untuk Safitri. Betapa kejamnya masyarakat menjatuhkan vonis kepada seseorang, terutama jika seseorang itu adalah perempuan. Betapa orang-orang selalu berasumsi sendiri dan memandang hanya dari satu sisi; sisi yang berupa kepentingannya sendiri. Kan kirik.

Dalam novel ini, Safitri dan Mukimin adalah remaja usia 14 tahun yang tinggal di Cikedung, salah satu daerah di Indramayu. Peristiwa yang mereka alami terjadi di tahun 1997. Penggambaran settingnya benar-benar mendetail, bukan hanya dari yang tampak di mata, tapi juga yang berkaitan dengan indera pendengaran, penciuman dan yang terasa di pori-pori kulit. Narasi deskripsinya terasa sangat nyata. Bisa dibilang lokalitas dalam novel ini begitu kuat.

Saya sempat iri dengan Safitri dan Mukimin ketika mereka menjalin kasih hanya dengan duduk diam bersisian di tepi parit, dekat sebuah sungai dan persawahan. Mukimin yang urakan itu bisa juga jadi tolol di hadapan gadis pujaannya. Sementara Safitri yang lugu, malu-malu tapi dalam hatinya geregetan juga terhadap ketololan Mukimin. Sepasang muda-mudi yang cintanya harus terhalang status sosial.

Malang nian jadi Safitri dalam Kelir Slindet ini. Safitri terlahir dari rahim seorang telembuk, dan memiliki ayah yang pemabuk, penjudi juga doyan telembuk. Orang-orang dengan mudah melabelinya sebagai "anak telembuk"... nggak ada yang menyebutnya sebagai penyanyi khasidah padahal dialah vokalis utamanya.  Seolah nilai-nilai kebaikan nggak ada harganya di mata orang-orang. Semua orang lebih suka melihat sisi buruk seseorang dan menyebarkannya. Entah dengan tujuan apa, mungkin rasa iri, mungkin agar dirinya sendiri terlihat lebih baik, atau bisa juga karena kebodohan sehingga menelan semuanya mentah-mentah. Dari sini saya menganggap, Kedung Darma Romansha memotret dengan baik isu sosial yang sungguh benar adanya.
Ada orang sukses dianggap memakai pesugihan, ada orang cantik dan jadi idola diisukan memiliki susuk, ada satu keributan lantas beredar gosip yang macam-macam versinya. Capek nggak sih hidup di tengah masyarakat yang seperti itu wkwkwkk~

Tapi itulah Cikedung dalam novel ini, itulah yang harus dihadapi Safitri dan Mukimin.


Di antara semua tokoh yang sebenarnya sulit bagi saya untuk mencerna siapa saja mereka—karena sungguh banyak banget tokoh yang bermunculan dan saling berkaitan tapi saya susah mengingatnya—tokoh yang paling saya benci adalah Saritem. Ibu Safitri. Sebagai mantan telembuk wajar jika ia menginginkan kehidupan yang lebih bahagia bagi anaknya. Wajar jika ia berharap Safitri berjodoh dengan salah satu putra Haji Nasir. Tapi ketika harapan itu gagal, ketika Haji Nasir menolak Safitri karena Safitri adalah anak telembuk, bukannya sadar ia malah terus marah-marah dan menimpakan semuanya pada Safitri. Kenapa Safitri yang dimaki anak sial, anak tak tau diuntung, kenapa bukan pada dirinya sendiri ia memaki. Sekali lagi, sungguh sial banget jadi Safitri. Bukannya didukung ibunya sendiri saat seluruh masyarakat mencelanya, tapi si ibu malah sibuk sendiri karena merasa dipermalukan.
Maka jauh di dalam hati saya bersorak saat Safitri nekat. Saat Safitri akhirnya memilih jalannya. Menentukan apa yang diinginkannya. Walau perih dan memilukan. Sosok Safitri yang baru, yang terlahir dari nyinyiran mulut orang-orang usil, jika ia berdosa maka berdosalah juga orang-orang sok suci yang nggak berbuat apa-apa dan malah menyiramkan minyak ke dalam api.


Membaca Kelir Slindet ini terasa banget ada bagian-bagian yang hilang. Bagian-bagian misterius yang kemudian menimbulkan pertanyaan. Terutama siapa pelaku yang menghamili Safitri. Tentunya untuk menjawab segala pertanyaan itu, saya harus membaca Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat, yang konon merupakan novel lanjutan yang akan memberi pencerahan 😉

Selasa, 26 September 2017

[Resensi: Skandal Sang Governess - Courtney Milan] Adu Tekad Serigala dan Governess

Judul buku: Skandal sang Governess
Judul asli: The Governess Affair
Series: The Brother Sinister #1,5
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Eka Budiarti
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 168 halaman
ISBN: 978-602-03-3358-8



BLURB

Ketika reputasinya dihancurkan oleh seorang duke, Serena Barton tidak menyerah. Terlebih ketika ia kehilangan pekerjaan sebagai governess, tanpa kenal malu dan takut, ia menuntut kompensasi dari sang duke. Ternyata, bukan sang duke yang membuat Serena gentar, melainkan pengelola bisnis pria itu, sang Serigala Clermont, yang ditunjuk untuk menangani Serena.

Hugo Marshall pria yang sangat kompeten dalam pekerjaan. Masalah dalam wujud governess yang suka mengganggu hanya soal kecil. Sayangnya, cara baik-baik tidak mempan untuk Serena. Hugo memutar otal, tapi semakin ia mengenal Serena, semakin sulit ia menemukan cara paling tepat untuk menaklukkan sang governess...

RESENSI

Sekali lagi Hugo Marshal harus membereskan masalah yang dibuat oleh Duke of Clermont. Kali ini sang duke bukan saja membuat sang duchess kabur—yang kemungkinan bisa berakibat fatal pada keuangan dan masa depan Hugo—tapi juga membuat marah seorang governess keras kepala. Hugo tahu, ia harus segera membereskan apapun tuntutan yang dibuat sang governess sementara Clermont pergi mengejar dan membujuk duchess-nya.
Sayangnya Serena Barton bukanlah wanita yang mudah digertak. Kekuatan tekadnya untuk tak mudah kalah membuat Hugo harus mengakui ia mendapat lawan yang sepadan. Perlahan, hatinya bertentangan, antara menunaikan kewajiban dan memuaskan hasratnya sendiri.
Saat akhirnya Hugo mengetahui skandal yang sesungguhnya sedang ia hadapi, semua sudah terlambat. Hugo harus bertempur, menyingkirkan Serena demi meraih mimpinya atau harus rela kehilangan lima ratus pound dan menyerah kalah pada hantu masa lalunya.

-------------------------

 "Menikahlah denganku." 
"Aku sedang bertanya-tanya kapan kau akan mulai mengancamku dengan nasib yang lebih buruk dibandingkan kematian. Selamat, Mr. Marshall. Sekarang aku benar-benar takut."(hlm. 73)

Cukup lama waktu berselang sejak saya menuntaskan membaca novella pembuka serial The Brother Sinister dan mengulasnya di sini. Bagaimanapun juga saya akui, mood baca novel romance saya lumayan merosot tajam, bahkan bisa dibilang nol. Untunglah buku-buku sastra masih bisa memuaskan hasrat membaca saya, meski saya harus susah payah mereviewnya.
Novella Skandal Sang Governess ini tadinya hanya buku asal comot di timbunan sebagai teman saya berada di ruang tunggu puskesmas. Sebulan ini, saya memang terlalu akrab dengan puskesmas karena kedua putra saya bergiliran jatuh sakit. Saya pun berhasil menuntaskan novella ini sambil menunggu hasil cek darah putra saya. Courtney Milan memang seorang pencerita yang handal karena sanggup membawa saya larut ke dalam dunianya dan memudarkan kecemasan saya.

Diceritakan dengan berlatar di London pada tahun 1835, The Governess Affair menyajikan plot yang menarik. Sedari awal sudah muncul ketertarikan di antara kedua tokoh utamanya yang terasa manis tapi juga ironis, karena masing-masing harus berperan sebagai pihak yang bertentangan.

"Kau paham benar apa yang terjadi. Kita salig tertarik, dan itu menyusahkan." (hlm. 79)

Novella ini murni hanya mengulik kisah asmara antara sang hero dan heroine-nya saja tanpa hal yang menarik di mata saya. Berbeda dengan novella pembuka serial ini, A Kiss for Midwinter, yang menampilkan lika liku sang hero yang berprofesi sebagai dokter.
Dalam Skandal sang Governess ini, Hugo yang merupakan pengelola bisnis milik seorang duke pun tak terlihat mencolok dalam profesinya, begitu juga dengan Serena yang tadinya adalah seorang governess. Namun bukan berarti novella ini menjadi kurang kuat, justru naik turunnya hubungan antara Hugo dan Serena membuat saya nggak sanggup untuk berhenti membaca hingga tuntas.

Courtney Milan selalu bisa membuat satu adegan simple yang manis dan menyentuh. Dalam buku tipis ini, ada dua adegan yang membuat saya jatuh hati pada Hugo dan Serena; yang pertama adalah reaksi yang muncul ketika Hugo menyiksa Serena saat hujan lebat, dan yang kedua adalah malam pertama mereka saat Hugo dan Serena saling bertukar jepit permohonan. Aih... aih.... sungguh saya dibuat meleleh oleh pasangan ini.

Bagian yang paling menarik disajikan dalam epilog: Penutup & Permulaan. Memang salah saya sendiri yang melewatkan membaca buku pertama serial Brother Sinister dan langsung membaca novella yang terhitung sebagai buku ke 1,5 ini, sehingga saya jadi penasaran akan bab epilognya. 
Yah... mungkin ini tandanya saya harus membaca buku pertama serial ini sesegera mungkin. Bulankah begitu? 😅

Rabu, 12 Juli 2017

[Resensi Buku] Dusta-Dusta Kecil by Liane Moriaty | Kebohongan yang Paling Berbahaya

Judul buku: Big Little Lies
Sub judul: Dusta-Dusta Kecil
Penulis: Liane Moriaty
Alih bahasa: Lina Jusuf
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 512 halaman
ISBN: 978-602-03-3406-6



BLURB

Pembunuhan? Kecelakaan tragis?
Yang pasti seseorang tewas. Tapi, siapa yang melakukan apa?

Semuanya bermula pada hari orientasi TK di Pirriwee Public School: ketika Jane—seorang ibu tunggal yang penuh rahasia—mengantar putranya ke sekolah dan bertemu dengan Madeline yang sinis dan penuh semangat, serta Celeste yang cantik tapi selalu gelisah.

Saat insiden kecil yang melibatkan anak-anak ketiga wanita itu dengan cepat berubah serius, dan bisik-bisik antaribu menjadi gosip-gosip jahat... tak ada lagi yang tahu siapa yang benar dan siapa yang berbohong. Hingga seseorang harus membayar dengan nyawa...


RESENSI


Apa jadinya jika tiga wanita dengan kepribadian dan latar belakang yang berbeda, berteman karena sebuah "kecelakaan" dan berkoalisi dalam perseteruan antar orangtua murid sekolah taman kanak-kanak?
Bagaimana jika satu insiden kecil bisa memberi efek yang meluas dan saling menjatuhkan seperti domino?

Miss Barnes: Para orangtua helikopter. Sebelum aku mulai bekerja di Pirriwee Public, kupikir cerita itu dibesar-besarkan, cerita tentang para orangtua yang terlalu terlibat dengan anak-anak mereka. Maksudku, ayah dan ibuku menyayangiku, mereka tertarik denganku, ketika aku tumbuh besar di tahun 90-an, tapi mereka tidak terobsesi denganku. (hal. 16)

Membaca novel ini benar-benar pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Sedari awal saya dibuat menebak-nebak apa yang sesungguhnya terjadi. Siapa korban dan siapa pelaku. Semua yang semula abu-abu dan hanya berupa pernyataan-pernyataan samar dan rancu dari para saksi, semakin lama terangkai menjadi satu jalinan cerita yang ternyata berujung mengerikan.

Big Little Lies menarik bagi saya karena saya sendiri merasa terikat dengan kisahnya. Saya merasa situasi yang dihadapi para ibu-ibu mudan ini begitu dekat dan lekat serta mudah saya jumpai di lingkungan sekolah. Saya teringat insiden ketika salah seorang teman putra saya menendang teman yang lain hingga kakinya memar, dan kemudian perseteruan dingin para ibu pun dimulai. Persis seperti yang terjadi dalam novel ini. Ketika di hari pertama sekolah, Amabella telah diserang secara fisik oleh seseorang, dan menuding Ziggy sebagai pelakunya, dari situlah segala jalinan kerumitan dimulai. Dari situlah kebohongan-kebohongan kecil mulai terkuak, hingga menampakkan kebohongan besar yang sesungguhnya.

Karakter dalam novel ini begitu kompleks tapi konsisten. Masing-masing tokoh menunjukkan karakter yang kuat dan khas. Madeline yang sinis dan sedikit serampangan tapi selalu siap dan sigap menolong, memiliki masalah kecemburuan terhadap istri baru mantan suaminya dan merasa kehilangan kontrol atas putri pertamanya. Sifat Madeline terasa natural dan loveable karena ketidaksempurnaannya. Ada pula Celeste yang cantik, mapan, dan memiliki suami idaman. Celeste adalah simbol ibu ideal dengan dua anak laki-laki kembar yang nggak bisa diam. Namun ia selalu gelisah dan seolah memendam sesuatu. Yang tak kalah misteriusnya adalah Jane, seorang ibu tunggal yang terampil dan penyayang. Masa lalunya dan alasan kepindahannya ke Pirriwee  begitu samar. Ia selalu cemas dan ketakutan bila menyangkut Ziggy, putranya.
Masih ada pula Renata, seorang ibu bekerja yang sukses karirnya dan memiliki putri yang berbakat. Seorang ibu yang terlalu melindungi anaknya dan memperlakukan seorang anak yang dianggapnya nakal seperti seorang kriminal. Meh.
Renata ini tipe ibu-ibu yang bakal saya hindari jika ada di lingkup pergaulan sesama wali murid. Wkwkwkk... Tipe yang malas banget berurusan dengannya. Karena saya bukan Madeline yang tangguh dan bisa balas meng-KO orang semacam Renata. XD

Well, kisah dalam novel ini meski merupakan thriller psikologi namun juga sarat sindiran akan gaya asuh orangtua masa kini. Juga pesan bahwa tindakan perundungan yang dilakukan seorang anak, bisa jadi karena dia mencontohnya dari seseorang. Maka sebagai orangtua, kita diharap berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.
Saya merasa Big Little Lies merupakan novel yang paling mengena di hati saya sepanjang tahun ini (ya walau saya nggak terlalu banyak membaca juga untuk tahun ini), jadi buat kalian yang suka tipe novel thriller psikologis, harus banget baca novel ini. 😉

Sabtu, 08 April 2017

[Resensi] Three Women Looking For Love - Netty Virgiantini

Judul buku: Three Women Looking For Love
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Innerchild Studio
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2012
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-979-22-8913-8



BLURB

Kami bertiga dipersatukan takdir sebagai lajang terakhir di angkatan SMA. Berusia kepala tiga, kami senasib sepenanggungan. Kami saling berbagi, saling menguatkan, juga saling bersaing diam-diam.
Hanya karena "status" hidup kami jadi sorotan banyak orang, kami dipandang sebelah mata. Tapi bagi kami itu biasa. Digunjingkan, itu tak terlalu memusingkan. Masih juga ditambah harus melakukan banyak ritual yang tak masuk akal. Mulai dari mencuri kembang melati di keris pengantin pria sampai mandi kembang tengah malam. Kami rela melakukan apa saja, asal tidak harus makan beling seperti kuda lumping!

Jodoh itu punya waktu dan caranya sendiri ketika menghampiri. So, don't worry be happy! Huhuuy!
(Jani, Rena, Mona)


RESENSI

Lajang terakhir. Betapa berat status tersebut bila disandang seorang wanita. Sebahagia apa pun sang wanita dengan hidupnya, selalu ada orang-orang yang akan riwil tentang status lajangnya dan memberi tekanan sosial.  Itulah yang dihadapi oleh ketiga tokoh wanita dalam novel Three Women Looking For Love ini. Situasi yang sebenarnya sudah akrab banget dengan kita karena sering kita jumpai entah di media sosial atau di lingkungan terdekat kita.

Netty Virgiantini mengungkapkan kegelisahan ketiga the last lajangers ini dengan gaya bertuturnya yang khas. Selengekan dan kocak. Para cewek-cewek di novel ini merupakan cewek-cewek kuat dan mandiri, yang cuek di luar tapi juga ketar-ketir di dalam. Bukannya mereka menutup mata dan hati dari cowok yang mendekat—ini terlihat dari jungkir-koprol-jempaliknya usaha mereka—tapi bukankah memilih calon pendamping juga nggak bisa asal comot hanya demi membungkam omongan orang? Saya suka bagaimana mereka dibuat galau, sempat terombang-ambing di antara prinsip dan tuntutan lingkungan. Banyak cobaan yang mereka hadapi, seperti... kenapa ketika sedang menginginkan jodoh, yang menghampiri kok ya yang aneh-aneh. Seperti itulah kurang lebihnya. :)))

Diceritakan melalui sudut pandang orang pertama yaitu sudut pandang Jani, novel ini tetap bisa memotret keresahan ketiga wanita yang bersahabat dekat ini dengan lengkap. Chemistry yang akrab dan dialog yang ger-geran membuat kisahnya enak dibaca. Alur cerita dalam novel ini memang cenderung melompat. Seperti ketika Jani ada di resepsi pernikahan sementara sosok Irawan masih terselubung misteri. Irawan sempat ingin mengungkapkan identitasnya tapi selalu saja ada gangguan (dalam hal tarik ulur informasi ini, Netty Virgiantini memang paling jago bikin geregetan), tapi adegan hanya terputus sampai di kegagalan Irawan saja, tanpa ada kelanjutan lagi bagaimana situasi mereka kemudian hingga resepsi berakhir.
Tapi toh memang seperti yang saya bilang sebelumnya geregetan penasarannya bisa sampai di ubun-ubun karena Irawan ini misterius banget. Lagi-lagi sih, tipe karakter hero yang khas seperti novel-novel Netty Virgiantini yang lain: kalem, sederhana tapi membius. Jyaahhh XD

Sebenarnya walau sama-sama berstatus lajang, situasi Jani, Rena dan Mona lumayan berbeda. Selain karakter, latar keluarga mereka pun berlainan, ini yang menyebabkan perbedaan tekanan tentang jodoh yang mereka rasakan berbeda-beda levelnya. Jani memang lebih santai karena posisinya sebagai anak bungsu dan kakak-kakaknya telah menikah, berbeda dengan Rena yang anak tunggal dan Mona yang merupakan anak pertama dan telah dilangkahi adiknya dalam hal menikah. Hal inilah yang kemudian menimbulkan mereka diam-diam bersaing sengit, tapi dibungkus dengan kepolosan dan kekocakan.
Hal yang akrab bagi saya adalah budaya mencuri bunga melati di keris pengantin pria. Aduh, ini saya pernah lakukan. Hahaha. Saya paham betapa gusarnya Jani harus mencuri bunga dari keris yang terselip di punggung pengantin pria hanya agar ketularan dapat jodoh. Ada juga adegan ge-er ge-er salting kala tukang video acara pernikahan malah terus-terusan mengambil gambar Jani. Ini juga bikin saya bernostalgia jadinya. XD

Penokohannya terasa kuat dan konsisten. Jani, Rena dan Mona punya sifat, gaya dan pemikiran yang berbeda. Mereka tampil dengan karakter masing-masing dengan sama menonjolnya. Tapi tetap saja Jani yang paling nggemesin.

Saya selalu suka kejutan manis yang disiapkan Netty Virgiantini di bagian ending ceritanya. Selama membaca karya-karyanya, saya selalu mak nyes dan klepek-klepek di lembar-lembar terakhir. Meski saya juga sempat merasa takut akan ending tak terduga seperti yang pernah terjadi di novel Telaga Rindu. Namun yang pasti, sedih atau bahagia, selalu ada sentuhan manis yang membuat saya merasa jatuh cinta setiap selesai membaca. Saya memang lebih menyukai kisah yang manis dan sederhana, tanpa menonjolkan kemewahan, tanpa penampilan yang rupawan bak dewa, tanpa keromantisan berlebihan. Itu sebabnya saya selalu klik dengan novel Netty Virgiantini dan merasa puas usai membaca novel Three Women Looking For Love ini. Nyes banget rasanya :)

Kamis, 16 Maret 2017

[Resensi] Lelaki dalam Ingatan - Penny Jordan

Judul: Lelaki dalam Ingatan
Judul asli: Un Unforgettable Man
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Rina Buntaran
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2012 (cetakan keempat)
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-979-22-8519-2



BLURB

Bagaimana cara lelaki itu menuntut balas?

Pada usia enam belas tahun, Courage Bingham yang lugu dan tak berpengalaman merasakan sensasi menghanyutkan bersama seorang pemuda di rumah musim panas keluarganya. Namun sejak itu perasaan malu dan bersalah menyiksanya, bercampur kerinduan yang sama besarnya kepada orang asing yang tak dikenal dan tak dilihatnya itu.

Kini, Courage cemas indranya mempermainkannya. Gideon Reynolds, bos barunya yang tak kenal ampun dan beroman keras, dapat membangkitkan sesuatu dalam diri Courage seperti seseorang dalam ingatannya. Mungkinkah mereka orang yang sama? Dan, jika benar begitu, bagaimana cara Gideon menuntut balas atas “penipuan” Courage pada masa lalu?

RESENSI

Courage Bingham harus meninggalkan pekerjaannya yang menjanjikan demi menemani neneknya yang sakit. Hanya neneknyalah satu-satunya keluarga yang Courage miliki, karena ia tak mau lagi tinggal bersama ayah tiri dan saudari tirinya yang culas. Kini, Courage harus menemukan pekerjaan baru di kota kecil Dorset untuk membiayai operasi neneknya.
Siapa sangka pekerjaan yang didapatnya berkaitan dengan Gideon Reynolds, seorang chairman dan pemegang saham terbesar sebuah jaringan perusahaan berlaba tinggi. Pria yang keras, dingin dan tak kenal ampun. Pria yang membuat Courage teringat akan kenangan pada sebuah malam ketika ia masih belia dan naif.
Apakah Gideon adalah orang yang sama dengan lelaki yang ada dalam ingatan Courage? Apakah Gideon mengingat Courage? Dan apakah kenangan itu akan berakhir manis atau justru kembali menjadi mimpi buruk bagi Courage?

-------------------------

Seingat saya, saya pertama kali membaca Lelaki dalam Ingatan karya Penny Jordan ini ketika masih SMA. Well, jangan buru-buru menuding saya saat itu belum cukup umur untuk membaca novel dewasa. Bagi saya dewasa nggak harus berjalan lurus dengan bertambahnya umur. Toh, novel dewasa bukanlah buku atau video porno. Novel dewasa bukan hanya membeberkan cerita romance "kipas-kipas" semata, tapi justru mengajarkan kita akan akibat dan tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan tokohnya. Aahh... saya kok mulai melantur.

Pembaca setia review saya pasti tahu kalau saya adalah penggemar karya-karya Penny Jordan. Meski beberapa karyanya ada juga yang kurang sreg di hati saya dan saya rating di bawah tiga bintang. Namun untuk novel yang satu ini, saya dulu memberinya lima bintang. Maka tentu saja saat novel Lelaki dalam Ingatan ini dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama, saya pun ingin bernostalgia dengan novel yang saya nobatkan sebagai salah satu novel Penny Jordan terbaik versi saya.

Membaca lagi kisah ini dengan sudut pandang saya yang semakin matang dari belasan tahun lalu, rasanya saya masih tetap jatuh cinta pada Courage dan Gideon. Yah, bagaimana pun saya tetap penggemar kisah CLBK alias cinta buta yang bertahan bertahun-tahun yang menjadi pondasi novel Lelaki dalam Ingatan ini.
Penny Jordan memang penulis yang memiliki ciri khasnya sendiri. Tokoh heroinenya kebanyakan merupakan wanita tangguh, mandiri (terkadang hanya tinggal memiliki satu anggota keluarga yang mulai menua), kompeten dalam pekerjaannya, tapi lugu. Hingga kemudian tanpa sengaja bertemu dengan hero yang dingin, menjaga jarak dan lumayan jaim. ^^
Seperti itulah Courage dan Gideon.

Sayangnya nggak seperti karya-karya Penny Jordan yang lainnya, Lelaki dalam Ingatan nggak menuliskan seluk perasaan sang tokoh pria. Padahal, yang paling saya suka adalah ketika sudut pandang beralih pada sang hero sehingga saya bisa mengintip rasa frustasinya. Haha... Namun mungkin itulah yang membuat antiklimaks novel ini bikin saya mewek (lagi). Membaca novel kemudian nangis memang sudah biasa bagi saya, tapi membaca ulang dan masih tetap nangis itu luar biasa, kan? Saya cengeng, tapi juga nggak cengeng-cengeng amat kok. :p
Ketika Gideon akhirnya mendapat wangsit alias pencerahan alias fakta tentang masa lalu Corage dan betapa salahnya ia selama ini. Hueee... adegan di mana Gideon akhirnya mengakui semua perasaannya itu memang favorit saya sepanjang masa. Malah sepertinya saya mulai hapal dialognya di luar kepala. Oh.. Oh... :')

Dan seperti belasan tahun lalu saya kembali tenggelam dalam alur kisah hubungan Courage dan Gideon. Hanya saja kali ini saya merasa Courage terlalu baik dan mudah memaafkan. Dulu mungkin saya menganggap apa yang dilakukan Courage adalah cinta sejati, kini saya menganggap itu sebagai kepercayaan buta. Haha... Well, setelah disakiti begitu rupa, saya sih merasa keputusan yang diambil Courage itu terlalu cepat. Gideon juga jadi terlihat lebih egois dan mudah dituruti keinginannya.

Cover lama yang serupa cover aslinya 🙈🙈


Tapi tetap saja saya masih mencintai karya Penny Jordan yang satu ini. Dan omong-omong, covernya lebih cakep yang sekarang. Nggak memalukan kalau dibawa atau dibaca di depan umum, nggak seperti yang sebelumnya yang waktu bawa ke meja kasir saja malunya minta ampun. Hehe...

Jumat, 24 Februari 2017

[Resensi] A Kiss for Midwinter - Courtney Milan

Judul buku: Ciuman Musim Dingin
Judul asli: A Kiss for Midwinter
Series: The Brother Sinister
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Martha Widjaja
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-602-03-3322-9



BLURB

Miss Lydia Charingford selalu tampak ceria. Namun sekuat apa pun ia berusaha tersenyum, ia tak dapat melupakan aib masa remaja yang dapat menghancurkan reputasinya. Ketakutan itu kembali muncul setelah ia bertemu lagi dengan Jonas Grantham, salah satu dokter yang mengetahui rahasianya. Ia tak ingin berurusan dengan Jonas, tetapi pertemuan mereka malah berakhir dengan taruhan konyol yang melibatkan sebuah ciuman. Seperti Lydia, Jonas pun menyimpan rahasia. Ia menanggung rasa bersalah terhadap wanita itu, dan kini setelah mengetahui Lydia berhasil melanjutkan hidup, ia malah jatuh cinta padanya. Meski Lydia terang-terangan menolak Jonas, dengan memanfaatkan taruhan mereka, ia bertekad akan memenangkan hati wanita itu. 


RESENSI

Sebelum memulai kuliah kedokterannya di King's College di London, Jonas Grantham diizinkan menghabiskan waktu bersama Dokter Parwine. Ia sepakat mengambil alih praktik pria itu usai menyelesaikan pendidikan. Saat itulah pertama kalinya Jonas bertemu dengan Lydia Charingford, gadis berusia limabelas tahun, yang tengah hamil dan divonis menderita miasma. Hal yang menurut Jonas mustahil tapi ia tak mampu bersuara.
Lima tahun berselang, Jonas telah mengambil alih praktik Dokter Parwine dan menjadi seorang dokter di Leicester. Ia pun berniat mencari istri. Ia kembali bertemu Lydia yang menurutnya menempati peringkat sebelas dalam daftar wanita tercantik di Leicester. Namun Lydia yang masih mengingat jelas siapa Jonas merasa Jonas hanya ingin merendahkannya. Gadis itu membenci Jonas dan curiga Jonas hanya ingin mengoloknya.
Jonas yang telah bertekad menjadikan Lydia sebagai miliknya tak kurang akal. Ia menantang Lydia dalam sebuah pertaruhan. Jika ia menang, ia menginginkan ciuman Lydia, tapi jika ia kalah, ia akan menyanggupi permintaan Lydia untuk tak berbicara dengannya. Bersamaan dengan bunyi lonceng natal di pertengahan musim dingin, siapakah yang akan menang?

-----------------------

"Kau hanya wanita tercantik kesebelas di seluruh Leicester sampai kau membuka mulut. Begitu kau berbicara, tidak ada yang dapat menandingimu." (hlm. 82)

Sejak membaca seri Turner, saya dibuat jatuh cinta dengan karya Courtney Milan. Apalagi saat saya mengetahui riset apa saja yang sudah ia lakukan untuk karya-karyanya. Namun seorang teman pernah berkata kalau karya Courtney Milan yang berjudul Ciuman Musim Dingin, yang diterjemahkan dari A Kiss for Midwinter, lumayan membosankan dan kurang bagus. Maka, saya pun mengawali membaca novela ini tanpa ekspektasi yang tinggi. Saya tetap ingin membacanya karena bagi saya, sekali saya jatuh cinta pada karya seorang penulis, saya akan terus membaca karya-karyanya yang lain, entah karya tersebut bagus atau tidak. Maka, berikut adalah kesan saya seusai membaca novela ini.

A Kiss for Midwinter dibuka dengan adegan pembuka saat pertama kalinya Jonas Grantham bertemu dengan Lydia Charingford di Leicester pada September 1857. Pertemuan yang cukup suram dan mengguncang, tapi membekas begitu dalam di benak keduanya. Hingga lima tahun kemudian mereka bertemu kembali dan memulai perseteruan.
Untuk setting tempat memang kurang digali dan kurang dipaparkan dengan detail. Namun untuk setting waktu, terasa menarik terutama dilihat dari sisi dunia medis. Digambarkan betapa Jonas Grantham berusaha mengubah persepsi orang-orang tentang hal yang dianggap tabu oleh masyarakat. Yang sayangnya, bahkan di era modern ini, masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat di beberapa wilayah tertentu.

"Aku bukan perjaka. Kau juga bukan perawan. Bahkan jika kau masih perawan, kita berdua tidak perlu bersikap malu-malu mengenai persoalan ini. Jika wanita cukup umur untuk mengeluarkan anak seberat empat setengah kilogram dari saluram kelahiran, dia boleh mendengar kata seperti 'alat kelamin pria' dan 'rahim'. Ini istilah medis, Miss Charingford, bukan kata-kata kotor." (hlm. 74)

Bukan hanya blak-blakan dan ketus, Jonas Grantham dilukiskan sebagai dokter muda yang cerdas dan terbuka dalam menerima perubahan dalam dunia medis. Ia menentang cara-cara medis lama dan melakukan hal-hal baru seperti mencuci tangan saat memeriksa pasien. Sifatnya yang terlalu terus terang dan bicara apa adanya, memang membuatnya sering bertengkar dengan Lydia dan membuatnya bermasalah dalam menghadapi sang ayah.

Lydia sendiri adalah heroine yang tangguh. Setelah mengalami peristiwa nggak menyenangkan di usianya yang baru limabelas tahun, Lydia belajar banyak. Saya menangkap kesan betapa ia tetap bersikap optimis dan ceria, walau hati terdalamnya menangis. Satu-satunya orang yang ia pandang dengan pesimis, skeptis dan curiga hanyalah Jonas.
Sungguh menyenangkan membaca interaksi keduanya; Lydia yang benci dan ingin menyingkirkan Jonas sejauh-jauhnya dengan Jonas yang tenang dan blak-blakan, merayu dengan caranya sendiri yang sungguh terasa manis.

Bagi saya novel dengan premis hubungan love-hate memang selalu saya sukai. Apalagi kalau dibumbui beberapa hal menarik dan diramu dengan apik, sedemikian halnya dengan A Kiss for Midwinter. Latar dunia medisnya yang bergerak dari cara lama ke cara baru membuat saya tergelitik, dan Courtney Milan menuliskannya dengan gaya bertutur yang enak dibaca. Penerjemahannya sendiri rapi dan memuaskan, pilihan diksinya pun sangat baik.

Seolah hubungan intim dan hasrat sensual hanya... suatu hal. Hal biasa, fungsi tubuh, dan bukan topik memalukan. Seolah gairah, seperti kebenaran, dapat menjadi anugerah dan bukan hanya sumber rasa malu dan takut.  (hlm. 159)

Selain naik turunnya hubungan Jonas dan Lydia, novela ini juga dibumbui dengan keresahan Jonas menghadapi ayahnya. Rasa cintanya pada sang ayah yang sakit dan keras kepala. Rasa frustasinya berusaha membujuk sang ayah begitu kental. Bahkan saya sempat menangis juga saat konflik mereka mencapai klimaks. Courtney Milan selalu bisa memberi nuansa kekeluargaan yang lumayan muram tapi sangat kental dalam novel-novelnya, dan kali ini tertuang melalui hubungan ayah dan anak Grantham.

Secara keseluruhan, saya puas membaca novela ini. Dengan jalan cerita yang menarik dan isu kesehatan di tahun 1800-an, kisah dalam novela ini memikat dan menyentil dalam waktu bersamaan. Saya rekomendasikan novela ringan ini buat kalian pencinta historical romance terutama kisah tentang love-hate relationship.

Minggu, 29 Januari 2017

[Resensi] Rule of Thirds - Suarcani

Judul buku: Rule of Thirds
Penulis: Suarcani
Penyunting: Midya N. Santi
Penyelaras aksara: Mery Riansyah
Perancang sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2016
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 9786020334752



BLURB

Apalagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?


Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis. 

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan. 

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter.


RESENSI

Setelah tiga belas tahun mengikuti papa "bersembunyi" di Seoul, Ladys akhirnya kembali ke Bali. Tujuannya hanyalah berada dekat dengan Esa dan mungkin meningkatkan hubungan mereka ke jenjang status pernikahan. Sayang kenyataan tak seindah harapan. Di hari pertamanya bekerja sebagai fotografer, Ladys bertemu dengan Dias, pemuda aneh yang lebih memilih membisu di dekatnya. Pemuda sok tahu yang membuat Ladys geram dan uring-uringan.
Namun yang lebih menyakitkan, Ladys harus menelan kenyataan pahit akibat pengkhianatan Esa.
Namun Ladys masih belum mampu meninggalkan Bali. Apalagi pertemuannya dengan Dias ternyata bagai takdir agar mereka berdamai dengan masa lalu masing-masing. Bersama, kedua fotografer ini berusaha mencari arti cinta dan memaafkan.

----------------------

"Cinta akan selalu memaafkan." (hlm.132)

Rule of Thirds adalah kesempatan kedua saya membaca karya Suarcani, setelah dulu sempat membaca Stardust Catcher dan memandu blogtournya. Bagi saya, Stardust Catcher adalah novel Young Adult yang membekas di benak saya, maka saya pun jadi ingin menjajal mencicipi karya baru Suarcani yang muncul di lini Metropop.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama bergantian dari sisi Ladys dan Dias. Nggak perlu takut bingung karena ada perbedaan yang jelas di antara keduanya. Ladys menggunakan kata ganti "saya" dan cenderung keras kepala, sementara Dias menggunakan kata ganti "aku" dan terkesan cuek. Mereka konsisten dengan kepribadian masing-masing dan muncul saling mengisi satu sama lain.
Ada dua hal dalam novel ini yang menonjol dan melekat kuat di benak saya. Yang pertama adalah setting Bali yang lagi-lagi digunakan oleh Suarcani. Settingnya terdeskripsi dengan apik dan rapi, cukup jelas bagi saya yang buta akan lokasi-lokasi di Bali. Suasana dan alam Bali terpotret dengan baik.
Yang kedua adalah dunia fotografi yang digeluti oleh Dias dan Ladys, segala istilah dan filosofi tentang potret memotret dituangkan dalam buku ini. Menarik karena Suarcani mampu menarik garis antara istilah fotografi dengan filosofi dalam hubungan antar manusia. Saya jadi merasa nyambung-nyambung saja dan nggak terbingungkan dengan istilah-istilah tersebut.

Yang saya rasa cukup drama hanyalah Ladys. Hahaha... pertama saya jengkel karena Ladys merasa nggak terima karena Dias 'sok pintar'. Haduuuh saya sempat benci karena dia menganggap Dias bego dan nggak ngerti apa-apa. Saya nggak suka ada orang yang meng-underestimate seseorang apa pun profesinya dan seperti apa penampilannya. Bahkan saat Ladys akhirnya 'tertonjok' fakta tentang Dias, saya masih belum puas.
Kemudian plin-plan dan ragu-ragunya Ladys menyikapi hubungannya dengan Esa itu bikin gemas-gemas jengkel. Pantaslah kalau Dias jadi murka, untuk alasan yang tepat.
Sementara Dias saya anggap karakter yang pas sebagai penyeimbang. Saya suka dengan sosoknya yang biasa aja. Nggak menonjol, tenang—nggak mudah terpancing dan yaah.. bego dalam urusan asmara. Khas cowok. *lalu saya dirajam para cowok* wkwkwk~
Esa sendiri pria yang gigih meski ngawur. Haha... Alasannya untuk tetap di samping Ladys itu egois sih. Nggak ada dewasa-dewasanya, tapi yaah saya akui dia pintar ngegombal sehingga bikin Ladys hilang logika.

Konflik dalam Rule of Thirds memang cukup menarik. Betapa kita bisa memiliki nasib yang sama dengan beberapa orang namun menyikapinya dengan cara yang berbeda-beda. Berduka dan berdamai karena kehilangan dan pengkhianatan dengan cara masing-masing. Betapa nasib kadang menyeret kita pada pola yang sama dengan yang dialami orangtua kita, entah kita sadar atau tidak.

Rule of Thirds bukan hanya menyoroti kisah cinta rumit antara dua-tiga orang saja, namun juga tentang drama keluarga. Yah, saya dibikin nangis juga oleh buku ini. Bukan hanya karena adegannya, tapi juga diksi yang digunakan Suarcani membuat momennya makin dalam. Memang, membaca novel ini bikin geregetan, bukan hanya karena tensi hubungan para tokohnya naik turun, tapi juga ditarik dan diulur. Lihat saja di bagian akhirnya, huh jantung saya rasanya mau copot karena saya kira endingnya bakal bikin saya sedih. Tapi ternyata aww... endingnya supeeerr manis. Sukak 😍

Minggu, 08 Januari 2017

[Resensi: Yes, I Do But Not With You - Shandy Tan] Balas Dendam Sang Mantan Kekasih

Judul buku: Yes, I Do But Not With You
Penulis: Shandy Tan
Ilustrator cover: Yulianto Qin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2017
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 978-602-03-3711-1



BLURB

Amy tak pernah menyangka rencana masa depannya hancur berkeping-keping dalam sekejap. Pernikahan yang hanya tinggal sejengkal, tiba-tiba sirna. Joshua, sang calon suami sekaligus tujuan hidupnya, menghamili perempuan lain. Amy kehilangan kekasih, pekerjaan yang sangat ia suka, dan kepercayaannya terhadap laki-laki.

Tetapi, kemudian Semesta mempertemukan Amy dengan Gabriel yang melezatkan hari-hari Amy dengan pastry buatannya. Meski begitu, Joshua tak kunjung menyerah merebut Amy kembali, dan dia selalu tahu bagaimana meluluhkan pertahanan Amy. Akankah Amy menerima Joshua kembali? Ataukah ia akan melepaskannya, dan mendengarkan Semesta yang mencoba menghiburnya dengan kehadiran Gabriel? 


RESENSI

Semesta kadang-kadang bisa sangat kejam, mengabulkan keinginan seseorang dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain. (hlm. 152-153)

Saat mengetahui bahwa Joshua berselingkuh, Amy murka. Bagaimana tidak, ia dan Joshua akan melangkah ke pelaminan setahun lagi, tapi tiba-tiba saja muncul wanita yang mengaku hamil karena Josh. Tanpa bisa dicegah, Amy menghajar 'Pamela Anderson', mengambil kartu ATM yang berisi rekening bersama mereka, menyita laptop dan semua benda penting yang bisa membuat Josh kelimpungan. Amy tak rela, pengabdiannya sebagai sekretaris dan babu Josh secara gratis dibalas dengan perbuatan hina Josh.
Merasa hancur, Amy menerima saran sahabatnya Lucia untuk menemukan kehidupan baru sambil menghindari Josh. Dan Amy pun bertemu Gabriel. Pria yang menjadi tetangga barunya sekaligus chef baru di Pondok Sarapan milik Cia dan Paris.
Kedekatan mereka membuat Amy merasa hidup lagi, terutama karena pastry buatan Gabriel yang lezat. Namun Josh pria yang gigih dan bertekad berjuang habis-habisan untuk mendapatkan hati Amy kembali.
Akankah Amy memaafkan Josh? Atau ia memilih melupakan mantan kekasih brengseknya dan memilih Gabriel? Dan apa yang akan dilakukan Josh untuk kembali ke sisi Amy?

----------------------

"Aku percaya kadang-kadang karma butuh bantuan supaya pekerjaannya lebih mudah dan lebih cepat selesai. Kita hanya menyusun skenario." (hlm. 115)

Pengkhianatan memang menyakitkan, terutama jika terjadi di detik-detik saat kita merasa ada di puncak harapan. Maka terkadang bagi beberapa orang, untuk melepaskan rasa sakit yang menyesakkan itu, diperlukan tindakan ekstrem seperti... balas dendam misalnya. Karena kita butuh momentum untuk, bukan hanya move on, tapi juga move up.
Inilah ide cerita yang diolah oleh Shandy Tan dengan lincah dan cukup kocak. Beberapa bagian begitu menghibur dan bikin saya senyum-senyum geli. Bukan hanya dalam adegannya saja, tapi juga diksi dan penempatan dialognya yang terasa cerdas.

Ini memang pengalaman pertama saya membaca karya Shandy Tan. Pengalaman yang sangat berkesan karena sebenarnya saya nggak terlalu suka dengan genre metropop. Tapi Shandy Tan berhasil membawa saya ke dunia yang seru dan menyenangkan tentang kehidupan cinta Amy dan kehidupan urbannya. Saya suka dengan pikiran-pikiran Amy yang sedikit nakal juga dengan hubungan antar karakternya.

Yes, I Do But Not With You diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, tapi lebih terfokus pada Amy. Apa yang Amy rasakan dan pikiran-pikirannya lebih banyak mendominasi dalam novel ini. Ada secuil sudut pandang Gabriel dan Paris yang muncul dan membuat saya girang karena memang layak ditunggu. Bagi saya sebagai pembaca yang lebih suka mengetahui perasaan dan pikiran sang hero, ini tentunya menjadi kepuasan tersendiri.
Setting Medan di novel ini nampak pada logat bahasa yang diucapkan oleh segelintir orang. Sementara para tokoh utama tetap menggunakan bahasa yang universal dan nggak terlihat dialeknya. Demikian juga dengan lokasi yang terasa kurang Medan bagi saya. Namun untuk lingkup setting ruang yang lebih sempit, deskripsinya mendetail dan mudah dibayangkan.

Karakter dalam novel ini begitu mudah menancap di benak. Terutama Josh yang diceritakan berprofesi sebagai pembica seminar semacam motivator yang bernama lengkap... Joshua Teguh. Ngg.... seriously? Kkk~ yaa saya kan langsung kepikiran sama seseorang yang sering muncul di televisi 😷😷 Karakter Josh cukup konsisten nyebelinnya. Baik dari apa yang digambarkan oleh Amy maupun dari tindak-tanduknya.
Amy selayaknya karakter heroine dalam metropop yang mandiri, cerdas tapi dibutakan cinta. Persahabatannya dengan Cia mencuri perhatian saya. Hubungan mereka seru dan asyik, terasa cair dan klop banget sebagai partner in crime. Chemistry mereka juara banget lah. Saya suka gaya Cia saat menasehati Amy, kelihatan banget keunikan sifatnya. Hmm... saya jadi penasaran Cia dan Paris ini ada bukunya sendiri nggak sih?
Sementara Gabriel cukup oke. Well, sebenarnya saya suka karena dia jago masak dan tampak penuh perhatian serta cool banget. Gayanya, cara ngomongnya, saat masak, asyik banget. Sayang, twistnya bikin saya berubah pandangan tentang dia. Gabriel masih oke, masih punya pesona dengan kesabaran dan gentle tapi yaaa... setelah tahu apa yang dia lakukan saya jadi merasa beda. Hahaha... sory, Gabe.

Konfliknya dibangun dengan baik. Meski saya sempat merasa penganiayaan terhadap 'Pamela Anderson' terlalu sering disebut, padahal tanpa sering disebut pun adegan itu tetap berbekas dalam di benak saya. Ada beberapa hal yang mudah terbaca, namun ada juga yang menjadi kejutan dalam novel ini. Penyelesaiannya pun saya anggap pas. Nggak muluk-muluk amat dan nggak nanggung. Saya justru bakal merasa sebal seandainya novel ini dipaksa ke ending bahagia selama-lamanya. Kebahagiaan yang didapat Amy adalah puncak kepuasannya, dan itu yang terpenting.

Secara keseluruhan, Yes, I Do But Not With You merupakan novel yang ringan, menghibur dan enak dibaca. Buat kamu pencinta novel metropop saya rekomendasikan novel unyu nan kocak ini.

Senin, 02 Januari 2017

[Resensi] When I See Your Smile - Netty Virgiantini

Judul buku: When I See Your Smile
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2016
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-3543-8



BLURB

Hidup Seruni rasanya berubah 180 derajat setelah pernikahan ibunya dengan Mas Bim, pelatihnya di klub bulu tangkis Semangat Baru. Kedekatannya dengan Arya dan Arga––kakak satu bapak lain ibu––juga menimbulkan gosip tidak sedap di SMA Satria tentang Seruni yang punya pacar dua sekaligus. Tapi ia tidak peduli. 

Karena, diam-diam Seruni waswas pada laki-laki misterius dengan senyum familier dalam mobil hitam yang terus mengikutinya. Ia tidak berani menceritakan masalah itu pada orang-orang terdekatnya. Hingga suatu sore, Seruni diculik dan disekap oleh pria itu. 

Siapa yang akan menyelamatkan Seruni? Benarkah rasa sayang Arya dan Arga lebih dari sekadar saudara tiri? Lalu, siapa laki-laki misterius dengan senyum familier itu?" 

RESENSI

Sejak membaca When I Look Into Your Eyes, saya masih terbawa penasaran akan kelanjutan kisah Seruni. Ke manakah hati Seruni si tukang telat itu akan berlabuh. Hingga kemudian muncullah When I See Your Smile yang menjadi jawab atas rasa penasaran saya. Penasaran dengan kelanjutan perasaan Arya dan Arga, penasaran dengan kehidupan baru Seruni dan bagaimana dia beradaptasi dengan status baru orang-orang di sekitarnya. Sekuel dari When I Look into Your Eyes ini semakin seru dengan konflik yang baru.

When I See Your Smile menggunakan sudut pandang orang ketiga dan masih di setting yang sama dengan novel sebelumnya. Arya, Seruni dan Arga masih bersekolah di tempat yang sama di Magetan dan kurun waktunya gak terlalu jauh dari novel pertama. Dengan gaya bertutur Netty Virgiantini yang segar dan sederhana, saya dibawa terhanyut dalam konflik batin Seruni. Diksinya yang kadang lugas dan kadang puitis memberi warna tersendiri dalam novel ini. Hal yang saya sukai disamping dialog ceplas-ceplos khas Jawa yang rasanya dekat banget dengan keseharian saya.

Dalam novel ini, Seruni bukan lagi si tukang telat. Dia telah menjelma menjadi tuan puteri yang dimanja orang-orang di sekitarnya; Mas Bim, Arya dan Arga. Walau begitu ada kekosongan dan kehampaan yang ia rasakan, terutama ketika ia kehilangan perhatian dari Mas Bim. Sayang Seruni di sini lumayan menyebalkan, sedikit egois terutama terhadap Joko. Terhadap Arya dan Arga, Seruni bisa bersikap manis, tapi terhadap Joko dia malah seenaknya sendiri. Paling jengkel waktu Joko harus berurusan dengan polisi gara-gara Seruni, duh Seruni keterlaluan deh, kasihan Joko.
Saya juga gemas dengan Seruni karena lebih memilih diam saat merasa ada yang memata-matainya. Ini sebenarnya pelajaran dasar sih, terutama bagi remaja cewek, di jaman edan seperti sekarang. Jangan diam saja kalau memang merasa dikuntit, paling nggak catat nomor polisi kendaraannya, dan cerita pada orang yang benar-benar dipercaya. Memang masalahnya Seruni dia merasa kesulitan menemukan orang yang kira-kira bisa curhati, tapi mestinya nggak perlu sungkan. Jadi pelajaran juga bagi orang dewasa seperti saya, yang harus lebih perhatian pada remaja dan menunjukkan pada mereka bahwa kita bisa dan siap kapan pun mendengarkan mereka.
Sementara untuk kakak beradik Arya dan Arga, juga sedikit berbeda. Arya masih seperti sebelumnya, perhatian dan sayang terhadap Seruni. Tapi kebandelan Arga sudah berkurang di novel ini. Keras kepalanya masih, tapi kelakuannya sudah jauh lebih manis. Justru Joko yang mencuri perhatian saya, meski sering mengajak Seruni berantem, tapi Joko terhitung sabar dengan segala polah Seruni yang cukup sadis terhadapnya. Wkwkwk...

Konflik dalam novel ini lumayan beragam. Masih ada sisa-sisa konflik novel sebelumnya yang akhirnya dituntaskan, dan ada konflik baru yang berkaitan dengan rahasia masa lalu yang terungkap dan status baru Seruni. Untuk konflik perasaan antara Arya, Arga, Seruni dan Joko porsinya pas dan menjadi bumbu yang membuat cerita makin seru. Sementara konflik sang pengintai cukup membuat penasaran dan bikin bertanya-tanya. Drama penculikannya yang pasti menegangkan dan nggak bisa berhenti baca sampai akhir.

Overall, saya cukup puas membaca novel When I See Your Smile ini. Membuat saya lega akan akhir kisah Seruni yang saya anggap nanggung di When I Look into Your Eyes. Ada kehangatan kisah kekeluargaan dan persaudaraan yang manis dalam novel ini. Juga ada kisah cinta yang menurut saya gokil karena saking slengekannya Seruni. Lucu, menghibur dan yang pasti maniiiisss. Buat kamu penyuka teenlit yang lugas dan menghibur boleh banget lho baca dua novel ini.

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon