Tampilkan postingan dengan label Grasindo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Grasindo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Februari 2017

[Resensi] Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca - Dono Indarto

Judul buku: Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca
Penulis: Dono Indarto
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Agustus 2016
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 9786023756391



BLURB

Merindumu dengan sembunyi 
Ssstttt. . . menyelinap sunyi
Tolong kembalikan hati yang kau curi 
dari jubah kesetiaan 
yang selama ini mengintip penasaran


Cerita-cerita dalam buku ini adalah cerita soal kerinduan yang muncul setelah kehilangan.
Kerinduan seorang wanita gila bersama wanita gila pada pelukan.
Kerinduan seorang penulis atas masa kecil bersama ayahnya yang sekarat.
Kerinduan seorang pelukis pada wanita di dalam lukisannya.
Kerinduan seorang anak yang mencari ibunya di tengah lautan.
Dan sederet kerinduan lain yang terungkap dalam cerita pendek.
Juga ada kerinduan yang mempertemukan kamu dengan aku dalam sebuah puisi 


RESENSI

Semula saya mengira buku Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca adalah buku kumpulan puisi. Judulnya jelas menggoda walau saya anggap covernya sebenarnya nggak comotable. Namun melihat judulnya saja, membuat rasa penasaran saya tergugah dan ingin mencari tahu benarkah ini puisi, atau hanya bait-bait nggak penting yang saya baca?
Well, rupanya saya salah. Buku ini bukanlah buku kumpulan puisi biasa, tapi merupakan perpaduan antara kumpulan puisi dan kumpulan cerita pendek. Menariknya, antara kedua bentuk karya tersebut memiliki saling keterkaitan satu sama lain. Saat membacanya, saya merasa puisi-puisi dalam buku ini menjadi pembuka bagi cerita pendek yang muncul setelahnya.

Jangan abaikan juga tanda 18+ yang ada di sampul buku. Karena isi beberapa cerita pendek dalam buku ini nggak jauh dari isu seputar selangkangan. Nggak eksplisit dan nggak vulgar sih, saya justru lebih menggaris bawahi ironi dan sindiran yang diramu dengan apik dalam buku ini yang  memang sebaiknya dibaca oleh orang-orang yang telah dewasa. Meski sebenarnya, lagi-lagi menurut saya, usia bukanlah patokan seseorang telah dewasa atau belum.

Saya akui, saya adalah pencinta puisi yang terlalu pemilih. Saya bukanlah penikmat puisi rumit yang mesti ditelaah beberapa kali untuk memahaminya. Saya lebih menyukai puisi yang sederhana namun mengena, juga kuat dalam pemilihan diksi dan rimanya.
Puisi-puisi dalam buku ini sendiri memang terkesan simple tapi kaya makna. Yang paling mengena di benak saya adalah puisi yang berjudul Tanda Baca:

tanda seru memaki
tanda tanya mengapa
titik bilang usai
koma belum sampai

lalu yang lain berderet
minta dipakai
agar bisa dipahami
dalam lembar yang semula gersang
dan kerontang

bahkan kita butuh dia
bidang kosong itu

spasi

bayangkanjikadiatakada
apakahkaumengerti

deret huruf itu
yang selalu terburu-buru

sesungguhnya kita berarti
jika tidak sendiri

sesungguhnya kita dimengerti
jika ada 'antara'
(hlm. 132)

Sementara untuk cerita pendek dalam buku ini, ajaibnya saya suka semuanya. Kisah-kisahnya yang nyaris kelam dan berisi kehilangan yang melahirkan rasa rindu, terasa menyentil dengan telak. Itu sebabnya saya tak sanggup berhenti membaca satu persatu kisah pendek yang disajikan. Ada kisah yang serupa fantasi, ada yang melibatkan tragedi, dan ada juga yang terasa ironis. Namun kesemuanya ditulis dengan alur yang menarik, memancing rasa penasaran dan terkadang berujung pada plot twist yang mengejutkan.

"Kamu tahu, apa hadiah paling sempurna bagi seorang wanita?"
Wanita itu menggeleng.
"Dikenang. Mereka ingin dikenang. Menjadi abadi. Mereka berharap bisa tersesat dan menjadi puisi." (hlm. 166)

Dengan gaya bahasa yang lugas, cerita-cerita pendek dalam Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca begitu mudah dinikmati tanpa perlu mengerenyitkan kening. Terasa menghibur di satu sisi tapi juga menyindir di saat yang sama. Potret-potret kehidupan yang dibungkus dalam sebuah ironi, kehilangan yang mungkin pantas untuk direnungkan atau malah ditertawakan.
Ah, bagaimanapun saya puas dan menutup buku ini dengan rasa syukur sambil mengenang dia, seseorang yang pernah singgah, pernah menetap, pernah pergi dan akhirnya saya rindui.


Senin, 10 Oktober 2016

[Blogtour: Review + Giveaway] Roma - Pia Devina

Judul buku: Roma
Penulis: Pia Devina
Editor: Cicilia Prima
Desainer kover: Teguh
Penata isi: Putri Widia Novita
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Agustus 2016
Tebal buku: 194 halaman
ISBN: 978-602-375-653-7



BLURB

Chalinda Noemi

Sejak awal, aku tidak yakin bisa merestui pernikahan Mama dengan Terenzio Lambardi, seorang pria berkebangsaan Italia. Tapi, demi kebahagiaan Mama, haruskah aku tetap bersikap egois? Aku ingin Mama bahagia. Mengiyakan rencana pernikahan yang akan berlangsung di Roma—dan mau tidak mau membawaku serta ke Kota Abadi itu.

Maurizio Folliero

Sejak awal, gadis itu tidak tampak menyenangkan. Dingin dan menjaga jarak. Sialnya, aku memerlukan bantuannya untuk membebaskanku dari hukuman yang diberikan orangtuaku. Yang benar saja, aku kan bukan anak kecil lagi. Bersama dengannya ke Ostia Lido, memulai segalanya. Ternyata gadis itu memerlukan pertolongan.

Ryan Watkins

Sejak awal, gadis itu terlihat murung. Kakinya terluka karena menubruk tubuhku. Aku ingin menolongnya. Bukan hanya karena kakinya yang terkilir, tapi karena mendung yang membayangi wajahnya.

*****

Di Roma, kebersamaan telah mengikat Chal dan Maurizio dalam usaha melarikan diri dan upaya mencari jawaban atas jati diri Terenzio. Ryan Watkins pun hadir di antara mereka, siap mengulurkan tangan saat Chal tenggelam dalam kegundahan.

Di Kota Abadi ini lah, sebuah perjalanan tentang kisah cinta, persahabatan, dan keluarga yang rumit telah dimulai. 

RESENSI

Roma. Betapa ajaibnya bahwa saat kita mendengar satu kata atau satu nama kota, banyak hal melintas dalam benak kita. Maka, saat mendengar kata Roma, apa yang terlintas dalam bayanganmu? Kota yang indah? Pria tampan? Ataukah klub sepakbola?
Kalau saya, yang terlintas adalah satu novel karya Pia Devina. Sebuah novel yang mengajak saya bertualang mengunjungi tempat-tempat istimewa dan rahasia yang tersimpan di kota tersebut.

Roma dikisahkan menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian dari sisi Chal dan Maurizio. Pergantian sudut pandang ini terjadi di setiap pergantian bab, sehingga terasa nggak mengganggu dan mudah diikuti. Dengan porsi yang sangat adil, saya dibuat memahami perasaan dan emosi kedua karakter utamanya. Gaya bertutur Pia Devina terasa mengalir dengan pace yang tepat, sayang di beberapa bagian dialog terasa kaku dan adegannya kurang alamiah.
Saya merasa dialog antara Magdalena dan Maurizio masih kurang luwes, saya nggak bisa menangkap kesan mereka sebagai kakak beradik yang doyan bertengkar.

Yang seru dari membaca novel ini adalah setting kota Roma yang ditulis dengan detail dan rapi. Penggambaran tempat, suasana dan atmosfer dilukiskan dengan tepat dan cermat oleh Pia. Seolah saya juga ikut ada di sana dan mengagumi setiap petaknya. Trivia yang diselipkan sangat informatif. Banyak tempat-tempat yang baru saya dengar dan memberi pengetahuan baru. Yang paling saya suka adalah saat Maurizio dan Chal pergi ke Ostia Lido. Tempatnya terasa luar biasa dan bikin saya pengin ada di sana juga. Dan pantai itu juga semakin instimewa saat interaksi Maurizio dan Chal makin dekat. Mereka mulai sama-sama membuka hati untuk satu sama lain.

Chal adalah karakter gadis yang luar biasa cintanya pada sang ibu. Saking sayangnya, ia jadi mudah khawatir, takut ibunya kembali terluka seperti sebelumnya. Namun hubungan ibu dan anak yang katanya sangat dekat itu kurang terlihat dalam novel ini. Saya sebenarnya ingin nelihat pembicaraan mendalam yang dilakukan ibu dan anak. Saat seorang ibu mengambil keputusan untuk menikah lagi tentunya ia akan memberi penjelasan dari hati ke hati pada anaknya, terutama jika sang anak sudah dewasa. Tapi ibu hanya bilang akan menikah lagi dan bahwa Terenzio orang baik. Yang bikin saya sedih adalah saat Ibu menampar Chal di depan banyak orang. Duh, sakit hati saya. Meskipun itu pertama kalinya, tetap saja saya sedih. Dan saya jadi berharap seandainya momen ibu dan anak ini lebih banyak porsinya.
Maurizio menjadi karakter yang menarik. Ia tampil sebagai kakak yang rese, jagoan yang dianggap tukang bikin onar. Tapi ada kelembutan dalam dirinya saat menghadapi anak kecil. Gimana Chal nggak meleleh tuh jadinya?
Sementara Ryan yang saya tangkap adalah cowok yang ramah dan mudah bersahabat. Sayangnya, peran dan karakternya kurang digali. Bahkan porsinya pun nggak begitu menonjol.
Moment terbaik Maurizio dan Chal adalah saat mereka dikejar-kejar geng Oberto. Saya merasa hubungan mereka semakin mencair dan chemistry mulai tumbuh di antara mereka.

Secara keseluruhan, Roma adalah novel yang seru dan menghangatkan hati. Ada petualangan dan ada makna tentang penerimaan di dalam kisah ini. Saya rekomendasikan Roma untuk kalian yang suka bertualang ke kota-kota yang menyimpan tempat-tempat unik dan indah. Menemukan sebuah cinta di sana, pasti akan menjadi petualangan terindah.


***********GIVEAWAY TIME************



Sudah baca review Roma di atas? Gimana? Tertarik mengikuti keseruan petualangan Chal dan Maurizio di Roma?
Kali ini saya diberi kesempatan untuk membagikan satu eksemplar novel Roma untuk satu orang yang beruntung. Ada yang mau?
Caranya mudah kok 😉 :

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow akun twitter @piadevina dan akun saya @KendengPanali
3. Share info giveaway ini dengan hashtag #NovelRoma dan jangan lupa memention kedua akun di atas.
4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via email, G+ atau GFC yang bisa dilihat di bagian bawah postingan ini. (Optional saja dan nggak memaksa).
5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyebutkan nama | akun twitter | alamat email. Dan pertanyaannya adalah:

Kalau kamu tersesat di Roma kamu maunya tersesat bersama siapa?

Silakan bebas saja jawabannya ya, boleh artis, tokoh fiksi atau anak presiden. *uhuk* 😷

6. Giveaway akan berlangsung selama sepekan dan ditutup pada tanggal 16 Oktober 2016 pukul 23.59 WIB.

7. Jika ada pertanyaan, jangan segan colek saya di akun saya, ya. Good luck :))

*******UPDATE*******

Hai.. Hai.. Akhirnya setelah berlangsung selama sepekan, blogtour dan giveaway Roma telah ditutup. Terima kasih kepada para peserta yang sudah berpartisipasi. Jawaban teman-teman sungguh seru. Jadi bikin saya pengin tersesat di Roma juga :)))

Nah, kali ini lagi-lagi saya minta bantuan Mr. Random untuk membantu saya mendapatkan satu nama pemenang. Ini karena banyak bamget jawaban yang bagus. Dan yang beruntung mendapatkan novel unyu ini adalah:



Ana Bahtera (@anabahtera)

Selamaaaaat!!! Saya tunggu konfirmasi nama, alamat dan nomor telepon kamu di email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com atau bisa melalui DM twitter paling lambat dalam 2 x 24 jam yaa.

Bagi yang belum beruntung, jangan sedih. Masih akan ada informasi, review dan giveaway buku-buku unyu yang bisa kalian dapatkan di sini, so tetap setia mengunjungi blog ini ya. 😘😘😘

Selasa, 13 September 2016

[Resensi] San Francisco - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Judul buku: San Francisco
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Editor: Septi Ws
Desainer sampul: Teguh
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Juli 2016
Tebal buku: 214 halaman
ISBN: 978-602-375-592-9



BLURB

Satu-satunya yang menarik dari cowok bernama Ansel adalah badannya yang ketinggian, kegemarannya akan musik klasik, dan senar-senar harpa di ujung jarinya. Ansel bekerja di Suicide Prevention Center, bertugas mengangkat telepon, hingga akhirnya ia menemukan hal menarik yang baru: Rani—gadis dari negeri asing yang mengiris nadi setiap dua hari sekali.

Sekarang sebagian besar kehidupan Ansel berputar di sekitar Rani. Dan, Ansel bertanya-tanya apakah pertemuan mereka di Golden Gate Bridge San Fransisco adalah takdir, atau sekadar kesialan? Karena dari sini, mobil kabel yang membawa kisah mereka bisa saja menanjak terus hingga setengah jalan menuju bintang, atau justru terjebak dalam kabut di atas perairan biru dan berangin San Francisco. 


RESENSI

Malam itu adalah malam pertama kalinya Ansel menjadi relawan di Suicide Prevention Center San Francisco setelah menjalani pelatihan. Sang penelepon pertama adalah seorang perempuan yang meminta Ansel mendengarkan lagunya sampai selesai. Kemudian perempuan itu bertanya apa Ansel tahu judul lagu itu, karena jika tidak, ia akan melompat dari Golden Gate Bridge. Untunglah Ansel tahu jawabannya, dan membuat perempuan itu tak jadi melompat. Namun perempuan itu meminta Ansel berhenti bicara, karena mendengar suara Ansel membuatnya ingin kembali bunuh diri.
Beberapa malam kemudian perempuan itu menelepon lagi dan ketika Ansel bisa membujuknya untuk tidak bunuh diri, kali ini perempuan itu meminta Ansel mencatat nomor teleponnya.
Ansel sama sekali tak ada niat untuk menelepon. Karena menelepon berarti bersedia menjadi hotline pribadi. Namun satu malam buruk terjadi dan Ansel yang syok menelepon nomor itu. Mereka mulai bicara dan berjanji untuk bertemu.
Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka? Mengapa Rani, perempuan itu, selalu ingin bunuh diri setiap saat? Dan bagaimana reaksi Ada, pacar Ansel, saat mengetahui Ansel bertemu dengan Rani? Bagaimana pula reaksi Benji, kekasih Rani? Akankah kisah ini berujung pada kebahagiaan?

--------------------

San Francisco merupakan buku Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang kedua yang saya baca. Sejak saya dibuat terpukau oleh Ziggy di novelnya Di Tanah Lada, saya mulai menjadikannya sebagai penulis yang karyanya harus saya baca.
San Fransisco sendiri menjadi novel bertema kota-kota dunia terbitan Grasindo yang pertama kali saya baca. Meskipun sudah ada beberapa novel lain dengan judul kota dunia yang sudah terbit.

Saya mendapati gaya bertutur Ziggy yang berbeda dari Di Tanah Lada. Bukan perkara tokohnya memang beda, atau settingnya juga lain. Tapi nuansa yang menghiasi kisah ini memiliki warna dan gaya yang berbeda.
Diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga, novel ini berbicara lebih banyak dari sisi Ansel. Jadi saya pun tenggelam dalam keanehan dan kekikukan Ansel. Sedikit iba tapi ada juga keinginan untuk jadi bagian dari kelompok Gretchen dan meledek Ansel. Haha...

Novel ini memiliki tokoh yang unik dan ajaib. Lupakan soal cowok ganteng, pintar, manly seperti tipikal tokoh novel pada umumnya. Di dalam San Fracisco temuilah seorang cowok biasa, bertampang dan berpenampilan seolah ingin dibully, dan suka meracau tentang musik klasik. Tapi meski begitu, saya merasa Ansel benar-benar lovely dan keren. Gak kalah sama karakter tipikal yang cakep dan sebagainya dan sebagainya. Saya anggap ini karena penokohannya begitu bulat dan kuat.

Heroinenya pun sama uniknya. Bukan yang cantik selangit atau kece badai, tapi tokoh yang lain dari yang lain. Sebagai karakter yang memiliki adult separation anxiety disorder, Rani bukannya cewek lemah. Dia justru kuat, terlihat biasa saat ngobrol, meskipun ada juga pemikiran-pemikirannya yang menunjukkan rasa depresi. Saya merasa terkoneksi dengan Rani, karena jujur... saya pun seorang yang memiliki anxiety disorder. Jadi saya benar-benar merasa Ziggy sungguh mampu menggambarkan dan membuat nyata karakter Rani.
Tokoh favorit saya tentu saja Benji. Dia benar-benar seperti jangkar yang dibutuhkan di saat-saat tergelap. Kegilaannya, kenylenehannya tapi juga bagaimana dia memperhatikan dan menghibur orang-orang dengan caranya sendiri. Benji benar-benar mirip magnet. I really love his character.

Jalan cerita San Fransisco pun seunik para tokohnya. Ini benar-benar novel yang berbeda. Rasa depresi yang ada di dalamnya, alur yang bergulir tak tertebak akan ke mana, juga banyaknya pengetahuan tentang musik klasik yang berjejalan dan membuat saya terbengong-bengong. Ada ya manusia yang begitu hapal sejarah dan latar belakang musik klasik seperti Ansel. Saya saja hafal sejarah Indonesia setelah sekolah 12 tahun lamanya. Hebat bener Ansel ini sampai bisa lancar banget menyebutkan nama dan peristiwa.
Yang juga berbeda dalam novel San Fransisco ini adalah dialog antara Ansel dan Rani yang menggunakan Bahasa Inggris, sejak pertama kali. Bukan jenis bahasa inggris campur-campur seperti dalam novel bertema metropop, tapi bahasa inggris yang sepenuhnya. Jadi nggak perlu mengerenyitkan dahi karena bahasa campur baur yang kadang aneh kalau benar-benar diucapkan.
Setting San Francisco dalam novel ini begitu rapi. Bukan hanya sekadar tempelan tapi merasuk hingga ke inti cerita. Detail latar dan suasananya melekat di jantung cerita. Dan saya suka bagaimana Ziggy mengulik tentang Golden Gate Bridge.

Yang pasti, San Francisco merupakan novel yang menawarkan kisah yang berbeda. Lagi-lagi saya terpesona oleh gaya bertutur penulis yang satu ini. Bagi kalian yang menginginkan kisah dan tokoh yang nyleneh tapi padat dan berisi, novel San Francisco ini layak banget untuk dibaca.

Selasa, 23 Agustus 2016

[Resensi] Perfect Wedding - Putu Felisia, Catz Link Tristan, Achi Narahashi

Judul: Perfect Wedding
Penulis: Putu Felisia, Catz Link Tristan, Achi Narahashi
Desainer kover: Chyntya Yanetha
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Februari 2015
Tebal buku: 220 halaman
ISBN: 9786022518921



BLURB

Julia

“Kenapa kamu terima lamarannya?"
"Karena dia sesuai dengan gambamn pria ideal gang selalu kita impikan. Kaya, tampan, mapan, baik, dan tidak pernah terlihat menggandeng banyak pacar."
“Dia mengatakan perasaannya padamu?"
Aku kembali menggeleng.
“Dia pernah menciummu?"
"Dia pernah memelukku... Oh! Dan berpegangan tangan saat foto prewed."
"Astaga, J..."

Meisha

“Aku nggak tahu kenapa orang-orang masih ingin menikah. Mengetahui persiapannya saja sudah membuatku gila.""
“Serius, kamu benar-benar nggak tahu? Kamu perlu nikah karena kamu bisa ‘having fun' sepuasnya tanpa harus takut dosa!" well, mungkin itu salah satu keuntungan pernikahan.
Tapi menukarkan kebebasanku hanga untuk itu? Oh, tidak! Setidaknya aku memang, belum siap untuk itu.

Octa
"Sebenernya menikah itu untuk apa? Aku selalu berpikir, pernikaham itu hanya tanda tangan di atas kertas perjanjian. Laki-laki memberi nafkah. Perempuan melayani seumur hidupnya. Mungkin akan ada hal-hal lain di dalam perjanjian itu. Aku tak tahu, tapi... dengan semua yang terjadi, aku... "


RESENSI

Novel ini mempunyai konsep yang unik. Kisah tentang sebuah pernikahan yang dipandang dari tiga sisi yang berbeda oleh tiga wanita. Siapa bilang pernikahan adalah impian semua wanita, kadang ada beberapa wanita yang punya prinsip berbeda tentang pernikahan dan ada yang terbelenggu sebuah masa lalu sehingga gamang untuk melangkah ke dalam pernikahan. Dengan kover yang cantik minta ampun ini, tiga penulis: Putu Felisia, Catz Link Tristan dan Achi Narahashi merangkai tiga buah kisah.

Novel ini dawali dengan kisah tentang J atau Julia karya Catz Link Tristan. Dengan sudut pandang orang pertama yaitu dari sisi Julia, saya dijejali dengan keluh kesah si calon penganti wanita ini.
Kisahnya lumayan membosankan karena gaya bertuturnya lebih condong pada telling dan bukannya showing. Jadi saya pasrah-pasrah aja membaca uraian Julia tanpa bisa merasakan hal yang dirasakan si tokoh utama ini. Apalagi saya sama sekali nggak merasakan chemistry baik antara Julia dengan Dixon maupun Julia dengan Josh.
Detail pekerjaan tokohnya pun kurang jelas. Masak sih Julia sebagai sekretaris nggak ada kerjaan lain selain antar kopi, antar koran dan melamun? Ini sekretaris apa office girl?

Julia digambarkan sebagai karakter yang menyepelekan pernikahan. Bagi dia yang penting ada pria sempurna yang melamar, urusan cinta bisa dipupuk belakangan. Tapi, ternyata dia nggak berusaha untuk berkomunikasi. Saya jadi bertanya-tanya juga, umur Julia ini berapa sih? Kok masih kayak anak kecil. Ceroboh sih nggak masalah, tapi milih calon pasangan nikah kayak milih kue. Helloooo... ini perkara orang yang bakal menemani seumur hidup, lho. Main terima aja hanya karena ganteng, mapan dan baik.
Pesan yang disampaikan mama bagus tuh, bahwa untuk masuk ke hubungan pernikahan harus ada komunikasi. Saling menghargai juga.
Yang saya dapatkan di sini adalah seorang karakter utama perempuan yang belum matang pikirannya yang menganggap pernikahan hanyalah tentang persiapan pesta dan perayaan kemudian tergoda pria dari masa lalu, tapi menganggap dirinya bakal jadi istri yang sempurna. Tanpa mau menggali masa lalu, kecocokan dan rencana masa depan dengan pasangan. Huffft....

Kisah yang kedua adalah kisah Mei karya Achi Narahashi. Kisah ini pun menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu dari sisi Mei. Namun berbeda dengan kisah sebelumnya yang adegannya ditampilkan dalam narasi, di kisah ini lebih berimbang dalam hal narasi dan dialog. Meskipun dialog yang muncul adalah dialog yang terlihat nggak natural.
Mungkin karena keterbatasan halaman, tokoh utamanya jadi terlihat berusaha menonjolkan karakternya. Mei yang sexy, free and single. Yang biasa menaklukkan cowok-cowok namun tanpa landasan yang kuat. Apakah memang sifatnya begitu, ataukah itu hanya di permukaan saja, entahlah.
Dan yang saya sayangkan, karakter Mei yang playfull ini nggak kelihatan di kisah sebelumnya, atau di kisah J. Seolah Mei yang saya baca di sini bukanlah Mei yang ada di awal.
Lalu lagi-lagi konfliknya klise dan mudah ditebak. Eksekusinya lumayan sih, tapi flat saja bagi saya.

Yang terakhir adalah kisah Octa karya Putu Felisia. Bagi saya, ini kisah yang plotnya paling rapi dan karakter tokohnya lebih bulat. Cara bertuturnya enak dan pilihan katanya juga lebih kaya.
Saya suka bagaimana saya dibuat bertanya-tanya dan berusaha menggabungkan kepingan informasi yang diberikan sepotong demi sepotong dengan sabar oleh si penulis. Rasa putus asa dan kemandirian Octa tertangkap jelas oleh saya tanpa usaha berlebihan.
Bahkan cara Putu Felisia memainkan perasaan saya pun sangat stabil. Putu Felisia tetap berimbang memberi kesempatan pada kedua tokoh pria, hingga sampai lembar-lembar terakhir saya masih belum bisa menebak siapa yang akan dipilih Octa.
Karakternya penuh, emosinya kuat, chemistrynya bagus. Kisahnya dipekuat dengan narasi yang kaya informasi terutama budaya India. Adegan romantismenya dapet banget dan nggak kacangan.
Untunglah cerita ini adalah cerita penutup sehingga bisa menutup lubang kekecewaan saya yang sempat menganga karena dua kisah sebelumnya.

Jumat, 19 Agustus 2016

[Resensi] French Pink - Prisca Primasari

Judul buku: French Pink
Penulis: Prisca Primasari
Editor: Anin Pratajuangga
Desainer sampul & ilustrasi: Nisa Nafisa dan Riva Marino
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Oktober 2014
Tebal buku: 80 halaman
ISBN: 9786022516873



BLURB

Di Distrik Jiyugaoka yang mungil, cantik, dan berwarna-warni, Hitomi tiba-tiba bertemu pria aneh yang mengungkit-ungkit tentang kematian.

Siapa sebenarnya pria itu? Dan... lho, lho, mengapa dia jadi menyuruh Hitomi mencarikan syal warna French Pink? Mana mungkin sih pria beraura gelap seperti itu menyukai warna pink? Dan untuk apa juga?

Ck. Sungguh. Pria itu benar-benar merepotkan Hitomi.

RESENSI

Hitomi sudah tak mampu lagi mengenali warna. Semua warna baginya hanya hitam. Padahal ia pemilik toko pita terkenal di distrik Jiyugaoka. Seandainya ia berani, ia ingin bunuh diri saja.
Namun begitu ia selesai mengucapkan keinginannya untuk mati, seorang laki-laki muncul dan mengusiknya. Laki-laki itu berpakaian serba hitam dan menanyakan mengapa Hitomi ingin mati. Merasa janggal terhadap pria itu, Hitomi pun buru-buru mengakhiri pertemuan mereka.
Tapi keesokannya, Hane, si laki-laki itu datang lagi dan meminta bantuan Hitomi untuk mencarikan pita berwarna English Lavender. Bukan itu saja, ia juga minta dicarikan syal berwarna French Pink dan kertas kado berwarna hitam.
Siapa sebenarnya Hane? Benarkah ia seorang shinigami? Dan apa arti ketiga permintaannya itu?

---------------------

Ini keempat kalinya saya membaca novel karya Prisca Primasari. Dan keempat kalinya pula saya merasa puas. Meski saya cukup kaget juga karena tipisnya novel ini dan sempat meragukan kepadatan ceritanya. Tapi saya salah besar karena sempat ragu dan skeptis, ternyata hanya dengan beberapa lembar saja, Prisca Primasari mampu menyajikan kisah yang padat, menghanyutkan dan memberi kesan mendalam. 

French Pink diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga, dan terfokus pada Hitomi. Alurnya mengalir maju dan plotnya begitu rapi. Setting tempatnya sangat detail dan bikin saya seolah-olah ada di sana. Bahkan suasananya yang dingin pun terasa hingga ke sumsum tulang saya.
Prisca yang saya tahu selalu bisa memberi sentuhan aura dark dalam novel-novelnya. Sendu dan menyesakkan. Seolah saya ikut tertekan seperti si tokoh utama. Gaya bertuturnya yang baku juga merupakan daya tarik tersendiri. Memberi saya jeda pada kejenuhan gaya lo-gue beberapa novel lokal. Prisca selalu bisa membuat bahasa Indonesia begitu indah dan menyayat hati. Diksinya begitu kaya dan mempertajam suasana.

Sejak awal, saya digiring untuk mengambil kesimpulan yang sama dengan Hitomi. Dari perawakan, gerak-gerik, dan gaya Hane saya hampir meyakini hal yang sama dengan Hitomi. Hingga akhirnya saya dikagetkan saat siapa Hane sebenarnya akhirnya terungkap.
Dan kemudian adegan endingnya bikin saya teringat pada salah satu short story di komik serial cantik lawas. Kira-kira 14 tahun lalu. Sayang saya lupa judulnya. Saya sampai coba ubrek-ubrek catatan saya saat SMA karena saya ingat saya pernah bikin fanficnya untuk dikirim ke majalah Animonster, tapi nggak jadi. Apa yang dialami pasangan tokoh di komik itu sama seperti yang dialami Hitomi dan Hane. Hanya di komik, si cowok lah yang merana dan depresi seperti Hitomi. Saya juga ingat adegan terakhirnya di jembatan.

Tapi novel French Pink lebih terasa kaya dari pada komik tersebut. Ada kesan misterius dari sosok Hane dan permintaannya. Saya dibuat bertanya-tanya pada kelakuan dan permintaannya. Serba tak pasti.
Dan bahkan dengan novel setipis ini, Prisca mampu membuat karakter tokoh yang kuat dan bulat. Saya juga suka dengan chemistry antar tokohnya.

Lagipula novella setipis ini menyimpan banyak pengetahuan yang dibeberkan melalui profesi si tokoh utama. Beberapa ragam warna muncul di novel ini, dengan penjelasan yang manis dan romantis. Warna-warna yang memaksa saya akhirnya mengunjungi kangmas google dan malah keasyikan. Seru ternyata, dari satu novel banyak hal baru yang saya temukan.
Di novel ini terdapat hal yang saya akrabi juga yang saya temukan. Tentang shinigami. Bagi pelahap manga seperti saya tentu sudah sering membaca dan menemukan shinigami dalam berbagai versi, beberapa di antaranya seperti yang disebut dalam novel ini, shinigami versi Death Note dan Bleach.

Memang novel ini terasa manga banget bagi saya. Tapi itu justru membuat French Pink terasa akrab dan mudah untuk saya sukai. Apalagi jika rasa komik tersebut diberi sentuhan cita rasa khas Prisca Primasari yang sendu namun juga manis.
Well, saya sih suka banget sama kisah ini yang walau tipis tapi terasa padat dan pas. Menghibur sekaligus memberi harapan, semangat dan kekuatan. Saya sih sangat merekomendasikan novel imut ini, terutama bagi kalian yang suka gaya-gaya cerita yang Jepang banget. Dijamin kalian bakal jatuh cinta.

Rabu, 03 Agustus 2016

[Resensi: Garden Magic - Mita Miranti] Keajaiban Tanaman Penyembuh Luka Hati

Judul buku: Garden Magic
Penulis: Mita Miranti
Editor: Fanti Gemala
Desainer kover & Ilustrasi: Rio Siswono
Penata isi: Putri Widia Novita
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Desember 2015
Tebal buku: 202 halaman
ISBN: 9786023752829



BLURB

"Cinta itu seperti tanaman, dia hidup karena dipelihara."

Menjadi yatim piatu sungguh tak pernah terbayangkan oleh Iris. Dia juga tak mengira akan bertemu dengan pria menyebalkan, yang membuat hidupnya semakin sulit. Siapa sebenarnya pria itu? Oh, dan berapa banyak sketsa taman yang harus dia buat untuk melupakan masa lalunya? Seandainya cinta dapat menemukan jalannya sendiri, dia ingin meloloskan diri dari pedihnya rasa dikhianati. Dia ingin merasakan kembali indahnya bahagia, seindah bunga kana yang begitu dicintai ibunya.


RESENSI

Kehidupan Iris makin sepi sejak kematian kekasihnya, Aldi. Sebagai yatim piatu ia hanya tinggal dengan Mbok Narti yang sudah mengabdi pada keluarganya selama bertahun-tahun, dan anjing kesayangannya, Morries. Konsentrasinya tercurah pada Morries setelah Morries mengalami cedera karena Iris. Untuk itu Iris rutin mengantar Morries menemui dokter hewan kenalannya, Bram untuk memeriksa kesehatan Morries. Bram sendiri telah lama jatuh cinta pada Iris dan menganggap ini kesempatan baginya mendekati Iris kembali.
Iris sendiri tengah merintis usahanya sebagai perancang taman. Ia menangani klien yang menginginkan sebuah taman yang cantik dan asri. Salah satu kliennya, Bu Astari merasa puas dengan hasil kerja Iris dan menginginkan Iris untuk membuatkan taman bagi rumah baru putranya yang baru saja kembali dari Amerika.
Sayangnya, sang putera, Wira, sangat dingin dan cuek kepada Iris. Iris pun merasa kebingungan dengan sikap Wira yang seakan memusuhinya. Namun toh Iris tetap jatuh iba saat tahu Wira sakit dan berusaha membantu pria itu. Tapi tetap saja Wira masih bersikap memusuhinya.
Wira kembali ke Indonesia hanya demi memenuhi keinginan ibunya. Meski ia merasa sejak kematian adiknya, Anggi, ibunya semakin memaksakan kehendak. Tapi Wira ingin menyelidiki kematian Anggi dan pacarnya yang meninggal karena kecelakaan setahun yang lalu.
Bisakah Wira mengungkap penyebab kematian Anggi? Dan akankah Wira tetap membenci Iris?

---------------------------


Sebagai pembaca yang suka sama cover cantik, saya langsung terpikat dengan cover novel Garden Magic ini. Sederhana, kalem dan kesannya nampak melow. Dan karena saya lemah terhadap cover cantik, saya pun memutuskan membaca novel ini. Penasaran apakah isi ceritanya secantik covernya.

Garden Magic bersetting di Jakarta, dan menggunakan POV orang ketiga. Jalan cerita lumayan lambat dan lebih banyak diungkap melalui narasi dan deskripsi. Banyak hal yang bahkan sebenarnya nggak terlalu penting pun dideskripsikan, seperti misalnya jajaran ruko di dekat perumahan hingga interior toko pun dideskripsikan secara mendetail. Padahal sebenarnya tidak ada pengaruh apa pun terhadap jalan cerita atau adegan.
Beberapa adegan nggak penting pun cukup sering terjadi. Saat Iris bersepeda mencari obat dan hampir terserempet sepeda motor hingga menyebabkan kemacetan, misalnya. Jika adegan itu dihilangkan pun nggak akan mempengaruhi jalan cerita, kecuali jika kejadian itu menyebabkan Iris jadi kesal lalu meledak marah atau jadi terlambat lalu dimarahi Wira. Tapi enggak. Saya sampai bertanya-tanya, untuk tujuan apa adegan itu ditulis.

Bisa dibilang hampir separuh kisah berjalan dengan flat. Seandainya ada misteri, saya nggak merasa berdebar-debar. Penasaran sih iya, tapi nggak sampai deg-degan.
Ide konfliknya sebenarnya favorit saya, tentang balas dendam si cowok sementara ceweknya innocent. Hanya saja cara bertutur Mita Miranti masih cenderung datar dan penokohannya kurang kuat. Wira disebutkan membenci Iris, tapi kurang terasa dalamnya. Seolah cuma mengambang saja. Nggak sampai benci ke ubun-ubun. Dan ketika dia mulai goyah pun nggak jelas juga alasannya kenapa. Semua serba tanggung.
Dialog yang diucapkan tokoh-tokohnya mengalir namun masih terasa datar. Hanya saja saya nggak begitu sreg dengan dialog campur-campur antara bahasa jawa dan bahasa indonesia. Serasa kayak lagi nonton FTV jadinya. Saya pikir kalau memang mau menekankan bahwa si pembantu berasal dari daerah cukup untuk kata tertentu saja yang menggunakan bahasa jawa, misalnya "ndak" atau "yo". Atau satu kalimat sekalian pakai bahasa jawa dan nanti diberi artinya di catatan kaki. Chemistry antar tokohnya juga terasa masih kurang dalam. Masih banyak hal yang tiba-tiba. Tiba-tiba suka, tiba-tiba cemburu, tiba-tiba penasaran, dan semua tanpa alasan atau sebab yang jelas.

Ada dua hal yang menjadi sorotan dalam novel ini, tentang bunga dan anjing. Rasa cinta Iris terhadap tanaman terwujud dalam pekerjaannya, dan ada filosofi tentang bunga kana yang menjadi pegangan hidupnya. Sayangnya di bagian ini masih kurang tergali, beberapa istilah tanam-menanamnya masih istilah umum yang diketahui awam. Sementara sebagai dog lover, kisah mereka dalam isu penyelamatan anjing bisa diacungi jempol. Juga dedikasi Bram dan alasan mengapa ia memilih menjadi dokter hewan benar-benar keren. Saya sebenarnya suka melihat kebersamaan mereka terutama saat ada Morries, anjing milik Iris. Awalnya saya kira Bram bakal serius mengejar, toh Aldi sudah meninggal. Pasti konfliknya semakin seru dan tambah greget.

Penyelesaian konfliknya masih kurang nendang. Cukup seru memang, apalagi bagian perkelahian dan penggerebekan. Namun pada akhirnya ada banyak pertanyaan yang tak terjawab. Sayang karena bagi saya premis cerita ini sungguh menjanjikan seandainya perasaan tokohnya digali lebih dalam dan eksekusinya lebih berani.

Tapi overall, Garden Magic adalah novel yang cukup menghibur. Terasa hangat apalagi bagi para pencinta tanaman dan pencinta anjing. Novel yang ringan untuk dinikmati sambil santai.

Kamis, 09 Juni 2016

[Resensi: Rainbow of You - Indah Hanaco] Mengharap Kembalinya Cinta Masa Kecil

Judul buku: Rainbow of You
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer cover: Steffi
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: September 2013
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 9786022511939
Review at steller: Check out my story on Steller



BLURB

Ryu punya mimpi paling murni tentang Robin. Mimpi yang terpelihara rapi selama dua belas tahun. Hingga Tuhan memberi kejutan yang tidak siap untuk dihadapi gadis itu.
Enzo juga menyimpan mimpi-mimpinya di tempat rahasia. Berbeda dengan Ryu, Enzo tahu bagaimana caranya untuk mewujudkan mimpi itu. Meski tidak mudah.
Pipi semangka. Robin. Juliet. Ian Quintus. Lirik lagu. Satu per satu mendorong Ryu dan Enzo ke arah yang sama. Semuanya dilengkapi oleh ‘mantra’ yang diucapkan Ryu. Abrakadabra! Dan keajaiban pun tercipta.

RESENSI

Masa kecil Ryu selalu riuh dengan kehadiran anak-anak keluarga Macfadyen. Terutama si bungsu Enzo yang membuat hari-hari Ryu tak pernah tenang. Enzo selalu saja mengusili Ryu dan membuat si gadis cilik menangis. Kalau sudah begitu, Robin lah yang akan membela Ryu dan memarahi Enzo. Robin selalu lembut dan baik terlebih Robin juga tampan, sementara Enzo selalu jahat dan iseng. Tentu saja Ryu lebih menyukai Robin dan ingin menikah dengan Robin kelak jika ia besar nanti.
Sayangnya keluarga Macfadyen harus pindah ke Inggris dan meninggalkan Medan, dan membuat mereka sedih. Saat itulah Robin berjanji akan kembali demi Ryu suatu saat nanti. Robin memberikan album foto mereka saat bayi, dan Ryu menjadikan salah satu foto itu sebagai jimat.
Bertahun berlalu, Ryu yang telah menjadi gadis SMA tetap memegang kesetiaannya pada janji Robin. Ia menolak semua cowok yang mendekatinya. Tentu saja itu membuat kakak-kakak lelakinya geleng kepala, terutama Ken. Dan Ken yang sejak kecil jadi partner in crime Enzo tentu saja lebih memilih menjodohkan adiknya dengan Enzo. Itu sebabnya Ken mengumumkan bahwa Ryu adalah pacar Enzo untuk mengusir Ian, cowok yang terus menguntit Ryu. Jelas Ryu menjadi kesal.
Hingga akhirnya waktu yang dinanti tiba. Keluarga Macfadyen akan kembali. Ryu akan bisa bertemu dan bercakap-cakap lagi. Bukan hanya bicara seorang diri pada selembar foto bayi yang ditempel di kaca riasnya tiap hari.
Tapi benarkah Robin kembali demi Ryu? Yang jelas mantra yang diucapkan Ryu memang bekerja... terhadap salah satu anak keluarga Macfadyen.

********

Jika ditanya apa saya nggak bosan membaca karya Indah Hanaco, jawabannya nggak sama sekali. Saya selalu menikmati setiap karyanya senikmat saya mennyesap kopi. Kadang manis kadang pahit. Kadang pekat kadang encer. Kadang panas kadang dingin. Tapi tak pernah gagal menaikkan mood saya.

Rainbow of You menyajikan kisah kocak tentang kebebalan Ryu yang menanti teman masa kecil. Huhuu... gadis mana sih yang nggak punya teman-cowok-favorit-di-masa-kecil-yang-mungkin-potensial-untuk-diajak-nikah-nanti? Saya sih punya. Wkwkk~

Di bagian awal Rainbow of You memang lumayan membosankan. Mungkin karena banyak tokoh yang diperkenalkan dan dideskripsikan untuk membangun konstruksi ceritanya. Dan sebenarnya saya nggak suka sama kisah satu cewek yang dikelilingi banyak cowok. Dan ganteng. Bikin ngiri ya kan?
Coba di dunia nyata manalah ada cowok ganteng sebegitu banyak berkeliaran di sekitar saya? Hhhh....

Namun begitu kisah bergulir ke masa kuliah, ketika Robin dan Enzo kembali, ceritanya jadi asyik. Seru dan konyol. Chemistry-nya juga dapet banget. Terutama antara Ken dan Ryu. Saya suka melihat persaudaraan mereka yang natural. Terlebih justru mungkin Ken lah orang yang paling perhatian terhadap Ryu. Buktinya ramalannya bisa tepat. Hahaha... Tapi chemistry Ryu dan Enzo juga seru banget. Bertengkar-ngambek-baikan-romantisan hiih... bikin gemes gitu. Dan bagian romantisnya jelaaas... bikin meleleh.

Yang selalu saya suka dari novel Indah Hanaco adalah karakter ceweknya yang berani and to be herself. Ryu di sini memang kekeuh pendiriannya sampai saya merasa terlalu bebal. Bego banget rasanya karena terlalu memegang janji anak umur sepuluh tahun. Tapi di sisi lain kesetiaan tanpa nalar itu tetap romantis ya kan? Dan kesetiaan itu yang membawa happy ending. Paling yang bikin sebel karena Ryu terus menganggap Enzo jelek dan nakal. Pengin njitak jadinya.
Robin tetap konsisten baik dan lembut. Tapi saya ikut syok juga seperti Ryu mengetahui perubahan yang terjadi pada Robin. Syok tapi ngakak. *diblebekin Robin*
Enzo aduuuh... saya sih yakin bakal seperti apa Enzo versi dewasa. Anak lelaki yang usil dan jadi teman berantem pasti gedhenya jadi keren dan asyik... setidaknya itulah versi cerita di manga dan novel. Wkwkwk~
Haduuh tapi sumpah deh ya, Enzo ini enak banget diajak ngobrol. Kadang jahil, kadang nggodain, tapi seringnya bikin melting. Nggak kuat jantung adek, bang.

Konfliknya simple dan ringan, cuma melibatkan perasaan antara Ryu, Robin dan Enzo. Sudah pas banget dan mudah dibaca sekali duduk. Aah... saya suka deh dialognya yang nggak kaku dan mengalir. Saya juga suka puisi-puisinya Ryu. Daleeeem jenderal!

Well, buat kalian yang suka kisah cinta yang ringan antar teman masa kecil boleh banget deh baca novel ini. ;)

Kamis, 05 Mei 2016

[Resensi: Les Masques - Indah Hanaco]


Judul buku: Les Masques
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Anin Patrajuangga
Desain kover: Sapta S Soemowidjoko & Lisa Fajar R
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Maret 2014
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 9786022514657



BLURB

Fleur Radella, lahir karena kebuasan hasrat yang tak bisa ditolak. Elektra Valerius, jiwa berani yang terpaksa bersemayam di tubuh yang salah. Tatum Honora, gadis pemurung yang tercipta karena ketidakmampuan manusia menundukkan diri sendiri.

Semua yang dimulai di masa lalu, tak seharusnya menjadi hantu yang menempel tanpa pengampunan. Lalu Adam Dewatra hadir. Menggenapi jejak horror masa lampau.

RESENSI

Kehidupan masa kecil yang dijalani Fleur Radella benar-benar menyedihkan. Lahir dari hasil pemerkosaan, neneknya, Marini, tak pernah menghujani Fleur dengan kasih sayang. Apalagi Reene Isabel, sang ibu yang mempertahankan kehamilannya walau masih SMA, meninggal setelah melahirkan Fleur. Maka semakin besarlah kebencian dan kemarahan Marini yang dilampiaskan pada Fleur. Anak kecil yang polos dan tanpa dosa.
Tak terhitung berapa kali Marini melenyapkan senyum Fleur. Puncaknya ketika Fleur berusia empat tahun, Marini mengunci Fleur di dalam kamar mandi yang gelap dan jarang digunakan. Tanpa peduli tangis histeris Fleur, Marini tak mengizinkan Nana, pengasuh Fleur untuk membukanya. Kala itulah diantara rasa takut Fleur, Elektra Valerius terlahir. Jiwa yang meledak-ledak, spontan dan cerdas bukan main.
Selepas kejadian itu Fleur bukanlah anak kecil yang sama, ia menjadi pendiam dan pemalu. Sifat yang malah mendorong orang-orang di sekitarnya semakin berlaku abusif. Termasuk Xander, saudara kembar ibunya, yang ikut memanfaatkan kesempatan untuk membuat permainan "Heaven" dengan si kecil Fleur. Yang menyebabkan lahirnya Tatum Honora, jiwa muram yang terluka.

Di masa SMA, Fleur terpilih menjadi salah satu finalis cover girl majalah Dara. Tidak ada yang menyangka, Fleur yang pemalu bisa berani ikut audisi dan lolos sebagai finalis. Fleur sendiri heran bukan main, kapan ia menjalani audisi? Mengapa wajahnya bisa tiba-tiba ada di dalam majalah?
Ketika Fleur akhirnya menang menjadi pemenang pilihan pembaca dan mulai ditawari untuk menjadi model, tentu saja Marini melarangnya. Dan... serangkaian kejadian tak enak pun terjadi. Marini meninggal misterius. Para model dan artis yang mencaci Fleur dibungkam satu-persatu. Sutradara yang mencoba melecehkan Fleur babak belur secara misterius.
Namun tentunya ada hal indah pula yang terjadi. Kebahagiaan terbesar saat Fleur bertemu Enrico, mantan kekasih Audrey. Bersama Enrico, Fleur merasakan apa artinya jatuh cinta. Tapi akankah kisah mereka berakhir bahagia?

----------------

Tarik napas... cari tempat duduk... sepertinya ulasan saya bakalan panjang. Haha...

Saya bagai menemukan harta karun saat membaca Les Masques. Saya mengenal Indah Hanaco sebagai penulis novel roman. Bukan roman menye-menye tentu saja, Indah Hanaco selalu membuat karakter heroine yang kuat dan mandiri. Tangguh. Itu yang saya suka dari penulis ini dan mengapa saya setia mengikuti karyanya.
Dalam novel-novel karyanya, Indah juga sering menyelipkan kepahitan hidup sebagai landasan psikologis tokoh-tokohnya. Yang membuat para tokoh ini bulat dan berdimensi. Beberapa kisah bergulir pula dengan kesan semi thriller seperti Tuhan untuk Jemima dan Cinta Sehangat Pagi. Roman berbalut thriller psikologis, yang mungkin memang di luar nalar tapi benar-benar ada.
Les Masques mengambil tema tentang gangguan identitas disosiatif atau yang dulunya disebut gangguan kepribadian majemuk. Ada beberapa kepribadian yang muncul akibat trauma masa kecil yang dialami Fleur. Kepribadian-kepribadian ini kemudian berkembang dan berniat melindungi Fleur dengan caranya masing-masing walau kemudian jadi semakin ekstrim.

Di kala membaca novel Tuhan untuk Jemima dan Cinta Sehangat Pagi, saya merasa sudah deg-degan mampus. Tapi ternyata itu belum seberapa dibanding ketika saya membaca novel Les Masques.
Pertama kali di awal saya dibawa jatuh iba pada Fleur kecil, saya mudah terenyuh, sedih jika jiwa-jiwa kecil yang seharusnya dilimpahi kasih sayang itu disakiti. Bukan hanya dalam bentuk fisik tapi juga secara mental. Terutama mental. Saya tahu betapa menyakitkannya diabaikan. Bahkan saya, yang sudah berusia kepala tiga, masih nggak kuat dengan pengabaian. Saya bisa down dan Anxiety Disorder saya mulai muncul hanya karena pengabaian.
Masih belum cukup dengan satu luka, ternyata ada luka lain yang dialami Fleur. Pelecehan dari pamannya sendiri. Di halaman awal Indah Hanaco sempat mengucapkan permintaan maaf atas penggunaan lagu Heaven dari Bryan Adams. Yaa.. lagu tersebut digunakan Xander sebagai pengiring kegiatan bejatnya. Itulah mengapa ia memberi nama "permainan" yang ia peragakan sebagai Heaven. Saya sendiri penyuka Bryan Adams apalagi lagu Heaven, tapi saya merasa nggak masalah. Seperti halnya Aoyama Gosho menggunakan lagu Let It Be sebagai lagu pengantar yang disiulkan si pembunuh dalam kasus Copycat Murder. Bisa dipahami mengapa Xander menggunakan lagu Heaven, selain lagunya memang berefek menenangkan, itu memang merupakan surga baginya. Tapi tentu saja neraka bagi Fleur dan Tatum :(

Di novel ini saya merasakan kebebasan Indah Hanaco dalam berekspresi. Saya sering mengemukakan mengapa kadang karya Indah Hanaco seolah kurang luwes dan kurang ekspresif. Seolah ada batasan tak kasat mata yang membuatnya kurang lepas. Di sini saya menemukan kisah yang diriset dengan baik, dipaparkan dengan lugas dan dituliskan dengan sepenuh hati.
Memang ada bagian yang saya rasa bisa didebat dan dipertanyakan seperti mengapa Reene tetap dioperasi caesar padahal tekanan darahnya terus naik.

Mengenai karakter, cukup banyak tokoh yang bermunculan dalam novel ini. Marini terasa dingin, menjaga jarak dan kaku. Kelihatan banget kalau dia nggak mau kompromi. Nana, sang pengasuh, meski sayang dan mencintai Fleur tapi juga nggak bisa berbuat banyak.
Enrico adalah cowok khasnya Indah Hanaco. Manis, sopan dan mudah dicintai. Kisah roman antara Enrico dan Fleur cukup memberi kehangatan dan meredam ketegangan.
Masih ada pula Utari, Xander, Audrey dan tokoh lain yang khas pengkarakterannya. Dan bisa saya bilang kalau interaksinya menarik dan luwes.

Sejak awal saya memang sudah menduga siapa Elektra dan Tatum, mengapa mereka muncul pun saya bisa memahami. Yang membuat saya terkejut justru kelahiran Adam dan siapa pelaku yang memicunya. Bom terakhir yang disimpan Indah Hanaco dan kemunculannya memberi ruang bagi saya untuk berimajunasi.
Endingnya sudah pas menurut saya. Layaknya novel atau film thriller yang endingnya memunculkan misteri lainnya, ending Les Masques memberi saya kesempatan untuk membuat ending sendiri.

Bagi saya novel ini jadi favorit saya, karena di sinilah saya menemukan kesejatian Indah Hanaco. Saya menemukan karyanya yang sepertinya ia tulis tanpa beban dan dicurahkan dengan tulus. Bukan berarti novel lainnya tidak ia tulis dengan rasa cinta, tapi di Les Masques saya merasakan kenikmatannya dalam berbagi.
Semoga saja Indah Hanaco kembali membuat novel semacam ini tentu saja yang lebih tebal dan lebih mendalam.

Senin, 21 Maret 2016

[Resensi: Ruang Kaca - Alamanda Hindersah] Menanti Cinta yang Tersembunyi


Judul buku:Ruang Kaca
Penulis: Alamanda Hindersah
Editor: Fanti Gemala
Desainer kover: Dhynda Hanjani Putri
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Februari 2015
Tebal buku: 177 halaman
ISBN: 978-602-251-819-8



BLURB

Ada rasa tersembunyi di balik jendela-jendela kaca itu. Menerawang. Memberi tanda. Meski mungkin kita tak akan pernah sadar. Sebab, kadang kita melihat terlalu jauh. Meminta apa yang tak bisa kita dapatkan.

Berharap suatu hari nanti permintaan kita akan terkabul. Kita tahu cinta tidak mau menunggu lama, tapi kita tetap dengan keras kepala berdiri diam di titik masing-masing. Sampai kapan kita harus menunggu untuk bahagia?


RESENSI

Kiara telah mengenal Ghana sejak kelas dua SMA. Atas bujukan Malika, kakaknya yang lebih tua lima tahun, Kiara ikut menjadi relawan di sebuah komunitas. Di komunitas itulah Kiara berkenalan dengan teman-teman Malika; Della dan Ghana.
Hubungan Kiara dan Ghana memang dekat, mereka sering menghabiskan waktu bersama meski hanya saling diam. Tapi sampai kapan pun Kiara merasa tak bisa menyaingi hubungan Ghana dan Malika. Karena Malika-lah yang memiliki hak eksklusif untuk menyentuh bahkan mencium pipi Ghana yang tak pernah suka sentuhan fisik.
Kiara cemburu, maka yang bisa ia lakukan adalah menghindari Ghana. Hingga Ghana kelimpungan. Hingga Ghana mengajukan pertanyaan dan mencium Kiara. Ciuman yang memicu kemarahan Malika.
Serumit itukah hubungan mereka? Ataukah cinta sesungguhnya sederhana dan Ghana-lah yang rumit dan sulit dipahami?

------------

Hal yang membuat saya tertarik membaca novel ini adalah blurbnya yang puitis. Kalimat-kalimat yang mengusik rasa penasaran saya untuk mencari tahu cerita apa yang bersembunyi di dalamnya.

Jujur saya sempat kebingungan pada plot novel ini yang melompat-lompat. Kebingungan pada alurnya yang mundur dan maju secara tiba-tiba. Namun lama-lama saya mulai menikmati keunikan gaya bercerita Alamanda yang serupa fragmen-fragmen.

Novel dengan setting di Bandung ini dikisahkan menggunakan POV orang ketiga, dan lebih fokus pada Kiara. Beberapa deskripsi terasa to much information, ada informasi-informasi yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Seperti kebiasaan si kucing yang toh nggak memberi pengaruh apa-apa ataupun nilai rapor prakarya Kiara. Kadang terasa lebih banyak tell-nya daripada show-nya.

Karakter utama novel ini Kiara saya rasa cukup konsisten. Kiara pencinta kesunyian, ia menikmati hubungan yang terjalin dalam ketenangan. Itu sebabnya ia bisa menyimpan rasa cinta diam-diam dari sejak kelas 2 SMA hingga semester akhir.
Yang cukup menyebalkan justru sang kakak, Malika. Diceritakan sebagai orang yang terencana dan detail terperinci, saya anggap ia cukup menyebalkan karena lebih suka menyusun dan menyimpan rencana-rencana hidupnya sendiri.
Ghana menjadi karakter yang misterius banget. Entah apa yang dipikirkannya, entah apa yang diinginkannya. Membuat saya banyak menduga-duga karena begitu impulsif dan nggak bisa ditebak.
Chemistry-nya lumayan bagus di pertengahan menuju ke ending, dialognya tipe dialog campur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, terasa cukup cair dan enak diikuti.

Yang mengagetkan saya dan akhirnya membuat saya menyukai novel ini adalah twistnya yang diluar dugaan saya. Penulis sungguh pintar menggiring saya sebagai pembaca ke sisi yang saya anggap benar dan kemudian memberi saya kejutan yang luar biasa.

Jika kalian suka pada novel yang disajikan dengan potongan-potongan adegan mirip puzzle silakan mencicipi Ruang Kaca. Saya cukup suka dengan gaya tulisannya dan endingnya. Yaah... bagaimana pun mudahnya kita memahami seseorang hanya dari gesturnya, tetap saja kejelasan komunikasi adalah hal yang utama.

Kamis, 10 Maret 2016

[Resensi: Delicious Marriage - Indah Hanaco] Pernikahan Berbumbu Cinta dan Cemburu


Judul buku: Delicious Marriage
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer kover: Chyntia Tedy
Penerbit: Grasindo (Gramedia Widiasarana)
Tahun terbit: Februari 2016
Tebal buku: 233 halaman
ISBN: 978-602-375-347-5





BLURB

Milly Regitha

Sangat tahu bagaimana rasanya tatkala cinta berubah menyakitkan. Terluka dan sulit memercayai orang lain, hingga bertemu seorang lelaki lancang.

Keith Bertram

Semua kisah asmara di masa lalunya mendadak tak lagi bermakna saat bertemu perempuan bermata muram itu. Dorongan tak tertahankan yang ganjil membuatnya ingin menjadi penyembuh apa pun resikonya.

——————

Milly akhirnya membuka hati saat menyadari bahwa hidup memang penuh risiko. Cinta pun bertumbuh tanpa bisa dicegah. Namun, bahkan di minggu pertama pernikahan mereka, badai mulai bergulung. Keith harus bersabar tapi Milly terlalu muak dengan orang-orang yang ingin mencampuri hidupnya. Mungkinkah sentuhan cinta bisa jadi penawar untuk segalanya?


RESENSI

Milly Regitha lagi-lagi mendapati Keith mendatangi Maharani, toko tempatnya bekerja sebagai bridal consultant. Sudah empat bulan Keith mengejar Milly tapi Milly tetap bersikap jutek pada Keith. Hingga Milly harus menghadiri resepsi pernikahan Keke, sahabatnya. Menjadi masalah yang pelik karena kakak Keke adalah mantan suami Milly. Maka Keith pun menawarkan diri untuk menemani Milly.
Mengetahui kisah hidup Milly tak membuat semangat Keith kendur. Status Milly yang janda tak masalah bagi Keith. Justru Keith mulai mempertimbangkan hubungan mereka secara serius. Keith pun melamar Milly.
Meski sempat ragu, Milly menerima lamaran Keith. Namun ternyata perjalanan pernikahan mereka pun tak bisa berjalan mulus. Milly dan Keith masih saling cemburu dan mudah diguncang badai. Karena bukan hanya orang ketiga saja yang hadir di tengah mereka, tapi juga orang keempat bahkan kelima.
Akankah cinta mereka bisa bertahan?

---------------

Judul Delicious Marriage tentunya menggelitik rasa ingin tahu saya. Pernikahan yang nikmat? Atau... lezat? Hmm~ dan sepertinya bukan lezat dalam hal yang berkaitan dengan masak-memasak.

Delicious Marriage menguraikan kisah seorang wanita yang pernah melalui pernikahan yang pahit dan mencoba berani menghadapi pernikahan yang baru.

Dengan gaya berceritanya yang khas, Indah Hanaco menyajikan kisah ini melalui dua POV, di bagian awal dan akhir menggunakan POV orang ketiga, dan di pertengahan cerita menggunakan POV orang pertama yaitu dari sisi Milly.

Ini pertama kalinya saya membaca novel Indah Hanaco yang memasukkan seni bercinta di dalamnya. Saya deg-degan ketika penulisnya bilang kalau novel ini akan berisi adegan bercinta juga. Haha...
Cukup terkesan juga dengan usaha penulis yang menampilkan Milly sebagai wanita yang nggak keberatan bereksplorasi mengenai hasrat seksualnya. Tapi tetap saja saya merasakan rasa malunya dalam dialog Milly.

Dalam novel ini selain Keith dan Milly, muncul dua sahabat Keith yaitu Phillip dan Rafe. Porsi kedua pria ini lebih sering muncul dibanding Keke, sahabat Milly. Mungkinkah karena Indah Hanaco berencana membuat kisah untuk Phillip dan Rafe? Karena di saat Keith lari kepada Phillip dan Rafe ketika konflik mulai muncul, Milly justru nggak berusaha curhat pada Keke. Atau persahabatan antara Milly dan Keke nggak sedekat trio Keith-Rafe-Phillip?

Keith adalah karakter utama yang pembawaannya santai dan agak kekanakan. Rada nggak logis kalau sudah cemburu. Bayangan saya dia jadi seperti lebih muda dari Milly.
Sementara Milly bisa jadi penyeimbang yang pas buat Keith. Saat Keith yakin, Milly ragu. Saat Keith pergi, Milly berani mengejar. Saat Keith ngambek kayak bocah, Milly tetap seperti jangkar. Saat Keith minta pada Milly untuk melakukan striptease, Milly.... hmm~ kira-kira Milly mau memenuhinya nggak ya? :p
Dialognya lumayan luwes, tapi tiba di bagian *uhuk* hot *uhuk* terasa sedikit kaku. Chemistrynya asyik. Terutama bagian persahabatan Keith. Dan walau Keke jarang muncul untuk membela Milly toh sahabat-sahabat Keith pun akhirnya jatuh sayang juga pada Milly dan lebih membela Milly.

Delicious Marriage memotret pernikahan pasangan muda yang impulsif, cenderung terburu-buru. Sehingga mereka harus menyelesaikan masalah justru setelah pernikahan berjalan.
Bagi kalian yang ingin menikmati kisah cinta yang dipenuhi bumbu agar delicious, cobalah baca novel ini. Karena bagi saya novel ini yummy dan cukup nikmat.

Atau nikmati dulu book trailer Delicious Marriage berikut:



Sabtu, 16 Januari 2016

[Resensi: Cinta 4 Sisi - Indah Hanaco] Menemukan Cinta di Sisi yang Tepat


Judul buku: Cinta 4 Sisi
Penulis: Indah Hanaco
Desain kaver: Steffi
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Oktober 2013 (cetakan kedua)
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-602-25-1010-9



BLURB

Violet

Bertekuk lutut pada seseorang yang mengaku mencintainya selama beberapa tahun. Dalam perjalanannya kemudian dia belajar, bahwa yang (konon) berusia panjang itu tidak menjamin apa-apa.

Quinn

Jatuh hati pada salah satu temannya, terpikat oleh pesona fisik yang menawan. Namun harus menerima fakta pahit, ada waktu ketika dirinya masih kurang menarik dibanding cinta pertama sang kekasih.

Jeffry

Mengaku setia pada kekasihnya, tapi tak mampu mengendalikan inderanya yang selalu tertambat pada sosok menawan perempuan asing. Baginya, menepat lawan jenis yang menarik itu tak bermakna apa-apa.

Eirene

Mungkin tergolong tipe orang yang selalu terjebak pada stigma "cinta pertama tak mungkindilupakan".

Ada dua orang kekasih yang merasa diabaikan. Diam-diam bersekutu untuk menyadarkan pasangan masing-masing bahwa mereka ada. Hingga persekutuan itu justru mengikut mereka terlalu dalam. Menyadarkan dan membuka mata akan perasaan murni yang membelit keduanya. Penyangkalan dan penolakan hanya menambah penderitaan saja. Penderitaan karena menyimpan cinta yang terlarang.


RESENSI

Violet telah berpacaran dengan Jeffry beberapa bulan, sayangnya Jeffry selalu saja jelalatan setiap kali melihat perempuan cantik. Dan yang membuat Violet sebal adalah Jeffry tak pernah merasa bersalah setiap kali Violet menegurnya. Jeffry selalu beralasan ia hanya menatap tidak sampai melakukan hal yang lebih jauh karena yang ia cintai hanyalah Violet.
Namun saat mereka menghadiri resepsi pernikahan teman Jeffry, mereka bertemu teman-teman Jeffry yang lain termasuk juga sepasang kekasih Eirene dan Quinn. Eirene yang dulunya adalah adik kelas Jeffry tampak langsung menyedot perhatian Jeffry. Mereka bicara dengan akrab sampai-sampai mengabaikan pasangan masing-masing. Bahkan sejak itu, Jeffry dan Eirene makin intens berhubungan melalui telepon.
Merasa tak tahan, Quinn mendatangi Violet dan berdiskusi tentang hubungan yang terjadi di antara pacar mereka. Hingga tercetuslah ide dari Quinn untuk bersekutu. Quinn mengajak Violet bersandiwara seolah-olah mereka saling tertarik. Tentunya agar pacar mereka cemburu dan tidak bertindak makin jauh. Violet pun setuju.
Namun bagaimana jika hubungan sandiwara mereka berubah jadi hubungan yang nyaman? Bagaimana jika cinta bersemi di hati keduanya tepat saat Jeffry sanggup mengubah sikapnya?

---------------

Saya membaca novel ini benar-benar dalam sekali duduk. Begitu memulai saya sudah nggak bisa berhenti. Pantang menutup buku sebelum tamat! :))

Cinta 4 Sisi diceritakan menggunakan POV orang ketiga tapi lebih terfokus pada Violet. POV yang membuat saya ikut geregetan pada tingkah Jeffry dan benar-benar pengin nyiram air ke mukanya karena jelalatan. Sumpah sebel banget. Haha...
Plotnya rapi dan diksinya apik khas kepenulisan Indah Hanaco. Tentunya hal ini membungkus kisah percintaan yang biasa menjadi alur cerita yang enak diikuti.

Banyak hal yang saya suka dalam novel ini. Salah satunya adalah kebiasaan Quinn yang mengambil sayuran yang nggak disuka Violet ketika makan dan demikian juga sebaliknya. Saya jadi ingat cerita sahabat saya yang selalu mengambil makanan yang disisihkan di piring istrinya dan anak-anaknya dan kemudian menyebutnya kantong sampah rumah tangga. XD
Tapi ketika dilakukan Quinn kok kesannya memang sweet dan perhatian banget, ya. :p
Saya juga suka 90's stuff yang diselipkan Indah Hanaco dalam novel ini. Aihh... beneran saya langsung memutar lagu When You Say Nothing at All sambil membaca novel ini.
Selain itu, ada kutipan menarik dalam novel Cinta 4 Sisi:

Dalam salah satu episode Criminal Minds, Violet pernah terkesima dengan ulasan Dr. Spencer Reid. Menurutnya musik yang didengar saat seseorang berusia sekitar 14 tahun, akan bertahan di memorinya seumur hidup. Musik itulah yang akan terus dicintainya meski usia terus beranjak tinggi dan lagu-lagu baru datang silih berganti. (hlm. 128)

Hoo... jadi itukah sebabnya saya nggak pernah bisa berhenti mendengarkan No Matter What dari Boyzone dan Baby When You're Gone-nya Bryan Adams ft Mel C? :D

Hehe~ back to topic, karakter dalam Cinta 4 Sisi tentunya yang paling menarik adalah Jeffry. Apalagi kalau bukan karena karakternya yang seakan minta ditonjok.
Sedangkan karakter Violet cukup membuat emosi. Aduuh, sabar banget ya itu teman-temannya yang berusaha menasehati Violet. Jelas-jelas ada yang perhatiannya lebih dan sangat mengutamakan kenyamanannya, kok malah makin menyesatkan diri.
Lalu Quinn, aih saya suka deh begitu penulis menyebutkan ciri fisik Quinn yang giginya nggak rata tapi terlihat menarik. Tapiiii... kenapa namanya Quinn padahal asli Yogya? Padahal meski namanya Tarjo kalau sifatnya seperti itu saya bakalan tetap suka lho. *ya emang ada tokoh novel pop dinamai Tarjo?* *emangnya ini FTV?* *disepak*

Bisa dibilang chemistry di antara Quinn dan Violet ini asyik dan sweet banget. Adegan Violet di ruang kerja Quinn dan menunggu pria itu bekerja terasa romantis. Dan ketika Quinn menunduk ketika kaki Violet lecet di resepsi pernikahan Sheila, walau agak berasa drakor, tapi itu juga saya suka. Pokoknya, love this couple, deh.

Well, meski kisah Cinta 4 Sisi cukup sederhana, tapi saya merekomendasikannya bagi kalian yang memang suka cerita-cerita manis dan romantis. Pesan saya cuma satu, awas meleleh karena Quinn :)))
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon