Tampilkan postingan dengan label Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2016

[Blogtour & Giveaway] Seaside - Zee

Judul buku: Seaside
Penulis: Zee (Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie)
Penyunting: Misni Parjiati
Tata sampul: Amalina
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 236 halaman
ISBN: 978-602-391-263-6



BLURB

Awalnya, dia hanya gadis biasa. Juga mulai terbiasa menghadapi guncangan besar ketika ayahnya masuk penjara akibat ulah musuh-musuhnya. Tapi, begitu dibutakan oleh amarah, dia mulai mengumpulkan setiap informasi dan menyusun rencana balas dendam.

Gadis itu membuat kesepakatan dengan iblis. Langkah penuh risiko dia lalui, dibantu oleh seseorang yang masih misterius.

Satu demi satu targetnya berjatuhan. Dan dia menikmati setiap tetes darah yang mengalir di tangannya. Apakah masih ada tempat untuk nurani? Apakah dia masih mampu memaafkan?


RESENSI

Ketika sang papa yang sedang menyelidiki kasus korupsi dijebak dan dijebloskan ke dalam penjara, Aku merasa berang. Papa adalah satu-satunya keluarga yang Aku miliki, setelah Aku merasa kecewa karena sang mama dan saudara-saudaranya menolak mendukung papa. Dengan hati-hati, Aku merencanakan balas dendamnya. Baginya tak cukup dengan mata dibalas mata, Aku menginginkan lebih. Aku menginginkan nyawa mereka yang telah membuat papanya dipenjara. Para pejabat korup, dan juga para penegak hukum yang mudah tergiur uang.
Aku mulai menyusuri jalan kelamnya. Memulai dari sang informan, Aku bertemu dengan Anon, seseorang yang melatih fisik dan mentalnya sebagai pembunuh tak kenal ampun. Namun bukan hanya dari Anon, Aku mengasah dirinya. Aku juga bertemu pemuda seusianya, yang melatihnya sebagai pelacur, demi bisa mendekati para pejabat korup. Dan dari pemuda itu pula, Aku menemukan kenyamanan dan kepercayaan. Namun bisakah rencananya berjalan mulus hingga akhir?

------------------------------

Seaside merupakan karya ketiga Ziggy yang telah saya baca. Dan saya masih saja dibuat terpukau dengan betapa bunglonnya gaya bertutur Ziggy. Sudah tiga bukunya saya baca, tapi saya menemukan dimensi yang lain dari novel-novel sebelumnya. Membaca Seaside seperti menyusuri labirin Square Maze di acara Benteng Takeshi. Tahu kan? Itu lho labirin dengan banyak pintu dan 2 algojo kekar yang bisa-bisa tiba-tiba ada di balik pintu. Nah, seperti itulah yang saya rasakan saat membaca novel ini, prepare for the worst but still hoping for the best. Jadi saya hanya mampu mengikuti laju kisah ini dan berharap dengan berdebar-debar. Karena saya percaya, Ziggy selalu mampu mengejutkan saya dengan twistnya, dan benar saja. Ha!

Membuka bagian awal novel ini, yang langsung menarik perhatian saya adalah judul tiap babnya. Semua judul diawali dengan sea: Seance, Sealion, Seaweed, Seabed, Seafood, Seasick, Search, dan seterusnya. Total ada sebelas part dan satu epilog yang menggunakan judul dengan kata sea. Hal yang cerdas dan unik menurut saya.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu Aku, sehingga saya dihanyutkan pada seluk beluk pikiran Aku yang diliputi dendam dan kecurigaan. Menarik untuk ditelusuri dan bikin bergidik di beberapa bagiannya. Saya merasakan kengerian, kesadisan dan kecemasan yang melingkupi kisah ini. Namun saya juga menemukan romantisme yang manis di tengah keriuhan dendam. Membuat saya sempat berharap.
Seaside mengambil beberapa setting tempat, di Lampung, Bandung, Jakarta, bahkan hingga ke Scheveningen. Semua settingnya dideskripsikan dengan detail yang apik dan rapi. Diksi yang digunakan Ziggy dalam Seaside begitu kaya dan unik, benar-benar enak untuk dinikmati. Dialognya begitu luwes dan hidup. Ini sebabnya saya sangat menyukai Seaside, karena chemistrynya pun terasa sangat tebal dan kuat.

Membaca novel ini adalah mencecap rasa karya Ziggy yang lain; rasa yang lebih menyengat, rasa yang membuat bergidik, rasa yang lebih brutal. Ziggy cukup terperinci dengan adegan pembunuhan para target Aku. Semua dengan cara yang berbeda, dan semua menakjubkan. Tapi meski berdarah-darah dan berlumur dendam, Ziggy mengimbangi kesadisan Aku dengan romance gelap yang dirasakan Aku. Walau haus darah, Aku nyatanya toh tetap gadis polos yang bisa jatuh cinta.

Ziggy pernah memukau saya dengan musik-musik klasik yang berjejalan di dalam novelnya, di Seaside pun, Ziggy masih melakukannya. Beberapa judul lagu, nama penyanyi dan nama band bertebaran di dalam novel ini, menarik dan bikin penasaran. Terutama lagu yang kemudian seolah menjadi soundtrack Aku dalam melakukan pembunuhan.

"Peristiwa yang mengubah manusia itu selalu menarik. Perubahan manusia sendiri menarik. Dan manusia yang berubah... they're more than fascinating." (hlm. 145)

Karakter dalam novel ini begitu bulat dan matang. Saya merasakan transformasi Aku dari gadis biasa namun keras kepala menjadi mesin pembunuh andal dan berdarah dingin. Bisa dibilang ia menghabisi para targetnya tanpa berkedip, tanpa ragu. Aku hanya merasakan saat-saat emosional saat bersama partner in crimenya. Tokoh-tokoh yang bergantian muncul untuk membantunya pun punya karakter yang khas. Mereka muncul dan langsung memikat saya, dengan gaya yang asyik, rasanya mudah saja untuk menyukai mereka.

"Bahkan meskipun mereka nggak akan menghargai pengorbanan kamu, pada akhirnya kalau kamu berjuang, kamu nggak akan pernah menyesal. Mungkin saja kamu salah. Mungkin saja kamu kalah. Tapi kamu nggak jatuh tanpa perlawanan. Meski kamu bisa saja kecewa dengan hasilnya, kamu nggak akan kecewa dengan prosesnya. Dan itu yang membuat kamu kuat—itu yang membuat kamu berarti." (hlm. 111)

Dari Seaside saya merasa Ziggy ingin menyentil hukum yang kadang begitu mudah dibeli. Kadang hukum begitu mudah mengkhianati kebajikan dan malah memuja uang. Di situlah balas dendam berbicara. Namun sekali Aku mengambil langkah ke dalan rasa dendam yang kelam, nggak ada jaminan untuk kembali. Nggak ada waktu untuk menyesali, selain maju dan menuntaskan semuanya hingga akhir. Dan menanti. Apakah dendam bisa berhenti. Atau justru dendamnya memunculkan rasa dendam yang lain lagi.
Saya sungguh sangat menikmati buku ini, sampai-sampai saya mempertanyakan diri saya sendiri, apa saya diam-diam punya jiwa psikopat? Namun terlepas betapa mengerikannya aksi Aku, keahlian bercerita Ziggylah yang membuat novel ini begitu hidup. Namun saya tetap merekomendasikan novel ini bagi dewasa muda, atau bagi yang kuat membaca adegan pembunuhan.


*******GIVEAWAY TIME*******



1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun twitter @divapress01 dan akun saya @KendengPanali juga like fanpage Penerbit Diva Press

3. Share info giveaway ini dengan hashtag #GASeaside dan jangan lupa memention kedua akun di atas.

4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via email, G+ atau GFC yang bisa dilihat di bagian bawah postingan ini. (Optional saja dan nggak memaksa).

5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyebutkan nama | domisili| akun twitter | alamat email. Dan pertanyaannya adalah:

Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

6. Giveaway akan berlangsung selama sepekan dan ditutup pada tanggal 14 November 2016 pukul 23.59 WIB.

7. Pengumuman pemenang akan diumumkan tanggal 15 November 2016, bagi yang belum beruntung bisa mengikuti GA di bloghost selanjutnya: Alvina

8. Jika ada pertanyaan, jangan segan colek saya di akun saya, ya. Good luck :))

******UPDATE******

Haii... sepekan sudah giveaway novel ini berlangsung. Terima kasih yaa untuk para peserta yang luar biasa. Jawaban kalian banyak yang bijak meski ada juga yang lucu. Tapi yang terpenting ternyata teman-teman keren banget karena bisa menyisihkan dendam dan amarah.

So, sekarang saya akan mengumumkan satu nama yang beruntung karena jawabannya saya anggap lumayan kocak, mengimbangi kelamnya novel ini, dan karena mengingatkan saya pada Anon 😉 Dan yang beruntung adalaaaaah....

Dani N.
@dnv22

Selamaaaaat... Saya tunggu data nama dan alamat lengkap kamu lewat dm atau email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2 x 24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan sedih yaaa... Karena masih ada dua host lagi yang menyelenggarakan blogtour ini. Dan karena saya masih punya dua giveaway buku unyu di bulan ini.
Keep reading ya, gaeesss 😊😊

Selasa, 13 September 2016

[Resensi] San Francisco - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Judul buku: San Francisco
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Editor: Septi Ws
Desainer sampul: Teguh
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Juli 2016
Tebal buku: 214 halaman
ISBN: 978-602-375-592-9



BLURB

Satu-satunya yang menarik dari cowok bernama Ansel adalah badannya yang ketinggian, kegemarannya akan musik klasik, dan senar-senar harpa di ujung jarinya. Ansel bekerja di Suicide Prevention Center, bertugas mengangkat telepon, hingga akhirnya ia menemukan hal menarik yang baru: Rani—gadis dari negeri asing yang mengiris nadi setiap dua hari sekali.

Sekarang sebagian besar kehidupan Ansel berputar di sekitar Rani. Dan, Ansel bertanya-tanya apakah pertemuan mereka di Golden Gate Bridge San Fransisco adalah takdir, atau sekadar kesialan? Karena dari sini, mobil kabel yang membawa kisah mereka bisa saja menanjak terus hingga setengah jalan menuju bintang, atau justru terjebak dalam kabut di atas perairan biru dan berangin San Francisco. 


RESENSI

Malam itu adalah malam pertama kalinya Ansel menjadi relawan di Suicide Prevention Center San Francisco setelah menjalani pelatihan. Sang penelepon pertama adalah seorang perempuan yang meminta Ansel mendengarkan lagunya sampai selesai. Kemudian perempuan itu bertanya apa Ansel tahu judul lagu itu, karena jika tidak, ia akan melompat dari Golden Gate Bridge. Untunglah Ansel tahu jawabannya, dan membuat perempuan itu tak jadi melompat. Namun perempuan itu meminta Ansel berhenti bicara, karena mendengar suara Ansel membuatnya ingin kembali bunuh diri.
Beberapa malam kemudian perempuan itu menelepon lagi dan ketika Ansel bisa membujuknya untuk tidak bunuh diri, kali ini perempuan itu meminta Ansel mencatat nomor teleponnya.
Ansel sama sekali tak ada niat untuk menelepon. Karena menelepon berarti bersedia menjadi hotline pribadi. Namun satu malam buruk terjadi dan Ansel yang syok menelepon nomor itu. Mereka mulai bicara dan berjanji untuk bertemu.
Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka? Mengapa Rani, perempuan itu, selalu ingin bunuh diri setiap saat? Dan bagaimana reaksi Ada, pacar Ansel, saat mengetahui Ansel bertemu dengan Rani? Bagaimana pula reaksi Benji, kekasih Rani? Akankah kisah ini berujung pada kebahagiaan?

--------------------

San Francisco merupakan buku Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang kedua yang saya baca. Sejak saya dibuat terpukau oleh Ziggy di novelnya Di Tanah Lada, saya mulai menjadikannya sebagai penulis yang karyanya harus saya baca.
San Fransisco sendiri menjadi novel bertema kota-kota dunia terbitan Grasindo yang pertama kali saya baca. Meskipun sudah ada beberapa novel lain dengan judul kota dunia yang sudah terbit.

Saya mendapati gaya bertutur Ziggy yang berbeda dari Di Tanah Lada. Bukan perkara tokohnya memang beda, atau settingnya juga lain. Tapi nuansa yang menghiasi kisah ini memiliki warna dan gaya yang berbeda.
Diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga, novel ini berbicara lebih banyak dari sisi Ansel. Jadi saya pun tenggelam dalam keanehan dan kekikukan Ansel. Sedikit iba tapi ada juga keinginan untuk jadi bagian dari kelompok Gretchen dan meledek Ansel. Haha...

Novel ini memiliki tokoh yang unik dan ajaib. Lupakan soal cowok ganteng, pintar, manly seperti tipikal tokoh novel pada umumnya. Di dalam San Fracisco temuilah seorang cowok biasa, bertampang dan berpenampilan seolah ingin dibully, dan suka meracau tentang musik klasik. Tapi meski begitu, saya merasa Ansel benar-benar lovely dan keren. Gak kalah sama karakter tipikal yang cakep dan sebagainya dan sebagainya. Saya anggap ini karena penokohannya begitu bulat dan kuat.

Heroinenya pun sama uniknya. Bukan yang cantik selangit atau kece badai, tapi tokoh yang lain dari yang lain. Sebagai karakter yang memiliki adult separation anxiety disorder, Rani bukannya cewek lemah. Dia justru kuat, terlihat biasa saat ngobrol, meskipun ada juga pemikiran-pemikirannya yang menunjukkan rasa depresi. Saya merasa terkoneksi dengan Rani, karena jujur... saya pun seorang yang memiliki anxiety disorder. Jadi saya benar-benar merasa Ziggy sungguh mampu menggambarkan dan membuat nyata karakter Rani.
Tokoh favorit saya tentu saja Benji. Dia benar-benar seperti jangkar yang dibutuhkan di saat-saat tergelap. Kegilaannya, kenylenehannya tapi juga bagaimana dia memperhatikan dan menghibur orang-orang dengan caranya sendiri. Benji benar-benar mirip magnet. I really love his character.

Jalan cerita San Fransisco pun seunik para tokohnya. Ini benar-benar novel yang berbeda. Rasa depresi yang ada di dalamnya, alur yang bergulir tak tertebak akan ke mana, juga banyaknya pengetahuan tentang musik klasik yang berjejalan dan membuat saya terbengong-bengong. Ada ya manusia yang begitu hapal sejarah dan latar belakang musik klasik seperti Ansel. Saya saja hafal sejarah Indonesia setelah sekolah 12 tahun lamanya. Hebat bener Ansel ini sampai bisa lancar banget menyebutkan nama dan peristiwa.
Yang juga berbeda dalam novel San Fransisco ini adalah dialog antara Ansel dan Rani yang menggunakan Bahasa Inggris, sejak pertama kali. Bukan jenis bahasa inggris campur-campur seperti dalam novel bertema metropop, tapi bahasa inggris yang sepenuhnya. Jadi nggak perlu mengerenyitkan dahi karena bahasa campur baur yang kadang aneh kalau benar-benar diucapkan.
Setting San Francisco dalam novel ini begitu rapi. Bukan hanya sekadar tempelan tapi merasuk hingga ke inti cerita. Detail latar dan suasananya melekat di jantung cerita. Dan saya suka bagaimana Ziggy mengulik tentang Golden Gate Bridge.

Yang pasti, San Francisco merupakan novel yang menawarkan kisah yang berbeda. Lagi-lagi saya terpesona oleh gaya bertutur penulis yang satu ini. Bagi kalian yang menginginkan kisah dan tokoh yang nyleneh tapi padat dan berisi, novel San Francisco ini layak banget untuk dibaca.

Kamis, 11 Agustus 2016

[Resensi] Di Tanah Lada - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Judul buku: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Editor: Mirna Yulistianti
Ilustrasi sampul dan isi: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal buku: 243 halaman
ISBN: 978-602-03-1896-7




BLURB

Namanya Salva. Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna. Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Kakek Kia, ayahnya Papa, pernah memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa Inggris. Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

Ditulis dengan alur yang penuh kejutan dan gaya bercerita yang unik, sudah selayaknya para juri sayembara memilih novel Di Tanah Lada sebagai salah satu juaranya.

RESENSI

Ketika Kakek Kia meninggal, dan mewariskan banyak uang kepada Papa, kehidupan Ava, si gadis cilik berusia enam tahun, mulai bergerak menuju perubahan. Bukan perubahan yang baik, sayangnya. Papa justru malah memaksa Mama dan Ava pindah ke rumah susun yang kotor, kumuh dan bau. Papa juga berniat menjual rumah mereka. Hanya agar Papa bisa berjudi di rumah judi yang terletak di dekat rumah susun tersebut.
Di rumah susun itulah, Ava kemudian bertemu dengan seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun yang selalu membawa gitar kecil. Mereka langsung akrab, walau P, nama anak lelaki itu, menganggap Ava anak yang aneh karena selalu bicara dengan bahasa yang baik dan benar. Merasa senasib karena memiliki Papa yang jahat dan suka membentak serta memukul, mereka menjadi sering bertemu.
Puncaknya ketika Papa Ava melakukan kekerasan, Mama pun pergi meninggalkan Papa bersama Ava. Mama berniat membawa Ava ke rumah adiknya dan bercerai. Tapi, Ava justru tidak mau. Pergi berarti meninggalkan rumah susun, padahal di rumah susun itu ada P. Siapa yang akan menemani P, jika Ava pergi? Maka Ava pun kembali ke rumah susun, dan merencanakan pergi berdua dengan P. Pergi ke rumah nenek yang tenang. Pergi ke tanah lada.

------------

Akhirnya terjawab sudah rasa penasaran saya terhadap novel yang menjadi salah satu pemenang sayembara novel yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014 ini. Sejak nama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang unik mulai bersliweran di temlen goodreads, saya sudah bertekad untuk membaca novel ini.

Di Tanah Lada merupakan kisah tentang seorang anak perempuan berusia enam tahun yang kehidupannya cukup kelam. Papanya kejam dan jahat, sementara mamanya nggak terlalu berani melawan. Pertemuannya dengan P, seorang anak lelaki di sebuah rumah susun merubah arah hidupnya.

Novel ini cukup unik karena diceritakan dengan POV orang pertama, yaitu sudut pandang Ava. Gaya bertuturnya dibuat khas gaya bertutur anak-anak, yang kadang nggak runut dan hampir seperti meracau. Tapi bukan berarti mbleber kemana-mana, karena Ziggy selalu punya rem yang timingnya pas untuk memberhentikan ceracauan Ava. Kesan lugu kanak-kanak Ava tampak natural meski saya dibuat heran juga dengan jalan pikiran Ava.
Saat membaca novel ini saya sampai mengamati polah tingkah dan cara bercerita anak sulung saya. Yap, beberapa pembaca blog saya pasti tahu kalau putra sulung saya pun berusia enam tahun, sama seperti Ava. Dan ini yang membuat saya merasa betapa malang nasib Ava. Sebagai anak gadis yang pintar dalam hal bicara dan mengoleksi kata yang rumit, kemandirian Ava justru nol. Ava belum bisa makan ayam sendiri, belum bisa memisahkan tulang ikan sendiri, juga masih kesulitan mandi sendiri. Hmm...
Tapi saya akui kalau Ava memang sangat cerdas. Bayangkan seusia itu sudah membaca novel Agatha Christie dan ke mana-mana bawa kamus Bahasa Indonesia. Jika saya bandingkan dengan putra saya, yang terbilang kemampuan membacanya sudah di atas rata-rata dibanding teman sekelasnya, putra saya ini masih cukup kesulitan membaca kalimat panjang, tapi si Ava nggak ada hambatan sama sekali membaca kata-kata yang panjang dan sulit. Wow. (Gyaah malah ngebanding-bandingin anak, bisa digetok KPAI nih.. :p)
Saya merasa takjub juga terhadap mama Ava jadinya. Anak seusia itu lho, dijejeli novel Agatha Christie. Gyaaah... Berat sekali hidupmu, nak.

Sementara P tadinya saya anggap cukup dewasa karena jalan hidupnya pun tak kalah mengenaskan. Tapi rupanya usia sepuluh tahun tetaplah usia kanak-kanak yang polos dan penuh ketidakmengertian akan hal rumit. 

Di tengah membaca novel ini, seorang teman memperingatkan saya tentang ending novel ini. Cukup sederhana sih peringatannya: beware. Duh. Saya sudah sempat menangkap sinyal-sinyal atau tanda-tandanya sih sejak konsep tentang reinkarnasi mengemuka. Tapi... Itu tetap nggak mencegah saya untuk syok dengan endingnya. Astaga. Ngetwist banget. Tapi twist yang bikin saya speachless. Dan pengin teriak juga dalam waktu bersamaan. Hahahaha...
Entah saya mau mencak-mencak atau menerima keputusan yang diambil sang penulis, yang jelas saya terpana dan cuma bisa bengong.

Novel ini memotret bagaimana kanak-kanak mudah menggeneralisir suatu kejadian. Papa Ava jahat, papa P jahat, maka semua papa di dunia ini juga jahat. Duh, saya jadi pengin banyak ngobrol dengan putra saya. Sungguh, novel ini membuat saya benar-benar ingin menyelami jalan pikiran anak-anak saya.

Overall, saya suka gaya bercerita Ziggy dan merekomendasikan Di Tanah Lada. Kisah yang sungguh menakjubkan dan menguras emosi. Cukup membuat saya memandangi kedua putra saya lamat-lamat dan menebak, sebenarnya bagaimana cara mereka memandang dunia dari sisi perspektif mereka.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon