Tampilkan postingan dengan label Skye Warren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skye Warren. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2016

[Resensi] Loving The Beast - Skye Warren

Judul buku: Loving The Beast
Series: Beauty
Penulis: Skye Warren
Edisi: Kindle Edition
Tahun terbit: April 2015
Tebal buku: 116 halaman
ASIN: B00TZAB6LI



BLURB

The sexy journey began in Beauty Touched the Beast and continued in the Beauty series. Now read the breathtaking conclusion in this epilogue novella from New York Times bestselling author Skye Warren...

Since their forbidden beginning, Erin and Blake's relationship has been marked by deep sensuality and intense emotion. Each challenge only makes them stronger, and Blake is ready to take his new fiance to meet his family. And to meet hers.

Home holds secrets for them both. A dark legacy threatens everything they've worked to build. When old debt comes between them, both Blake and Erin must fight to protect each other--and their love.


RESENSI

Blake masih saja dihantui oleh mimpi buruk. Setiap malam ia mendapat mimpi buruk dan nyaris melukai Erin. Blake sadar ia membuat gadis itu ketakutan. Padahal ia tak ingin membuat Erin takut, terutama di saat Blake akan membawa Erin menemui kedua orangtuanya.
Erin dan Blake ingin menyingkap apa yang sebenarnya pernah dialami oleh ibu Erin di rumah orangtua Blake saat masih bekerja di sana sebagai pelayan. Rahasia yang tersimpan bertahun-tahun. Saat semua terungkap, masihkah mereka sanggup bertahan?

--------------------------------


Loving The Beast adalah sebuah epilog yang sangat sempurna dari serial Beauty. Dari keempat novella sebelumnya nggak ada yang sedalam, seseksi dan semanis novella ini. Jika sebelumnya saya kecewa dengan novella keempat, Beauty Becomes You, kali ini saya nggak ragu untuk memberi lima bintang untuk Loving The Beast.

Novella ini diawali dengan adegan peperangan terakhir Blake. Tepat di detik-detik menjelang ia terluka, secara fisik dan jiwa. Hal yang membuatnya terus mengalami mimpi buruk. Penderitaan Blake karena mimpi buruknya, dan apa akibatnya bagi hubungannya dengan Erin, terasa dark dan menyesakkan. Kali ini Blake bukan hanya harus menghadapi rasa insecurenya, tapi juga rahasia yang disimpan orangtuanya serta hantu mimpi buruknya.
Saya takjub dengan cara Skye Warren bertutur. Kalimatnya begitu indah dan penuh kedalaman rasa. Membuat saya benar-benar merasakan kepedihan dan perasaan para tokohnya. Padahal novella ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi saya seolah sangat mengenal Blake dan Erin. Saya bahkan lupa kalau saya sedang membaca novella bergenre erotica karena plot, diksi, setting dan karakternya begitu kuat dan rapi.

Sejak awal kisah, Skye Warren telah membangun ketegangan saya dengan kegalauan Erin dan firasat Blake saat hendak menemui orangtua Blake. Saya pun telah menyiapkan diri dengan kemungkinan paling klise: penolakan dari orangtua Blake. Tapi rupanya, Skye Warren punya timing dan cara tersendiri untuk menjatuhkan bomnya. Ia tetap menjaga ritme dan memperbolehkan Blake dan Erin beradegan ranjang sepuasnya dulu sebelum meletuskan konflik utamanya. Hah!

Sejak di novella pertama, Beauty Touch The Beast, saya sudah jatuh cinta pada Blake dan Erin. Kini di novella kelima yang menjadi epilog ini, saya tergila-gila. Blake dan Erin makin menunjukkan kematangan dan rasa cinta yang besar. Mereka posesif namun juga protektif secara seimbang. Keinginan untuk saling melindungi yang terasa manis banget.
Erin juga menunjukkan kualitasnya, ia mampu memikat ayah Blake bukan dengan kecantikan atau sesuatu yang dangkal, melainkan dengan kepiawaiannya main catur. Sebuah langkah yang biasanya dilakukan calon mertua pada calon menantu laki-lakinya. Tapi di sini Erin membuktikan diri, bahwa ia punya kualitas. Dan sekali lagi Erin menunjukkan kekuatannya saat mendapat konfrontasi dari ibu Blake. Keberaniannya untuk membela diri, walau hatinya begitu terluka benar-benar luar biasa.
Blake di sisi lain mulai menunjukkan sisinya yang gelap, terdorong oleh rasa posesif dan protektifnya. Perasaan yang ia miliki terhadap Erin begitu kaya.

Who was your first?
She was his first—the first woman he’d loved, the first woman he’d let in. The first woman to truly love him back, and he hated that she’d ever fucking doubted them.

Untuk adegan panasnya, saya rasa inilah yang paling hot bila dibandingkan dengan keseluruhan serinya. Mereka bercinta di mana-mana dan semakin intens. Yang paling epic tentu saja dalam perjalanan pulang dari rumah Blake, saat Blake menuntut Erin memberitahunya apa yang telah dilakukan ibunya hingga Erin terlihat begitu tersakiti. See? Kini Blake bahkan bisa menyadari apa yang salah hanya dari gestur yang dibuat Erin.
Saya nggak bisa menghitung seberapa banyak dirty talk yang diucapkan Blake, yang pasti ada di mana-mana. And I really love it!

Well, membaca serial Beauty menjadi pengalaman yang menyenangkan, dan ini menjadi serial favorit saya. Bukan hanya karena saya terobsesi pada Beast, tapi sebagai erotica, novella ini ditulis dengan sangat baik dan menyentuh.

Minggu, 09 Oktober 2016

[Resensi] Beauty Becomes You - Skye Warren

Judul buku: Beauty Becomes You
Serial: Beauty #4
Penulis: Skye Warren
Edisi: Kindle Edition
Tahun terbit: Agustus 2013
Tebal buku: 79 halaman
ISBN: 9781940518008



BLURB

With the end of semester approaching, Erin and Blake decide to lay low. After all, they have all the time in the world after that. Except Blake’s future at the university is up in the air and trouble is brewing back in Erin’s hometown. When the couple is tested, they will have to trust each other to forge their own sexy ending.


RESENSI

Dua bulan menjelang kelulusan Erin, Blake meminta agar mereka menjaga jarak hingga tiba waktunya Erin lulus. Blake merasa betapa riskannya jika hubungan mereka terkuak dan menggagalkan rencana masa depan Erin. Meski dengan berat hati, Erin menyetujuinya.
Ketika masa penantian mereka berakhir, secara tiba-tiba ibu Erin mengalami serangan jantung. Merasa panik dan ketakutan, Erin berusaha sesegera mungkin kembali ke kota asalnya. Sayang mobilnya mogok dan Blake sama sekali tak bisa dihubungi. Blake juga tak ada di manapun. Di tengah rasa putus asanya, muncullah Doug, pria dari masa lalu Erin, menawarkan bantuan untuk mengantar Erin. Secara lugas Doug meminta maaf atas perbuatannya dan berharap bisa kembali bersama Erin.

-------------------------

"Love wasn’t a lightning strike, a sharp point with a definite beginning and an inevitable end. Love was a shelter from the storm, respite from her fears and relief from the reality of his pain."

Aah tiba juga saya akhirnya di buku keempat seri Beauty, Beauty Becomes You. Tentu saja ini rekor karena saya biasanya sulit menyelesaikan serial dengan tokoh yang sama. Saya lebih menikmati standalone series karena nggak ada keterikatan untuk harus menuntaskan keseluruhannya, dan karena saya gampang bosan kalau bertemu tokoh yang sama lagi dan lagi.
Tapi sejak membaca buku pertamanya, Beauty Touch The Beast saya telah jatuh cinta pada Blake dan Erin. Juga jatuh cinta pada gaya bertutur Skye Warren yang tadinya saya ragukan. Bagi saya yang mencintai dongeng Beauty and The Beast, serial ini benar-benar sama manis dan menyentuhnya.

Dibuka dengan adegan percintaan yang hot dan smut, Beauty Becomes You menjadi cerita pemuncak yang minim konflik. Seolah semua masalah sudah terselesaikan di buku ketiga, Broken Beauty. Karena di sini, percik konfliknya begitu mudah dihadapi dan nggak memicu masalah yang besar. Novella ini hanya berisi pencerahan dan penyadaran diri Blake dan Erin tentang arti hubungan mereka. Pikiran mendalam yang dihasilkan setelah mereka terpaksa harus berpisah untuk sementara. Kesabaran mereka dan kesetiaan mereka.
Pada akhirnya Blake pun bertemu dengan ibu Erin. Satu hal yang semestinya menurut saya bisa menjadi puncak konflik. Karena nasib yang terjadi pada ibu Erin telah disebut-sebut sejak lama. Saya kira akan ada kelanjutan sikap penolakan sang ibu setelah di buku ketiga.

Bisa dibilang buku terakhir ini hanyalah sebuah penutup yang memperlihatkan bahwa semua karakternya sudah move on. Bahwa mereka berhasil melewati luka dan kegelisahan mereka. Yang mengejutkan adalah munculnya Doug dan konklusi yang mengikuti kemunculannya. Lagi-lagi, kehadiran yang nggak menimbulkan konflik. Doug muncul hanya untuk menegaskan bahwa ia nggak sebrengsek ayahnya, bahwa ia bukan bajingan dan meminta maaf. 
Entah saya harus kecewa atau bahagia. Namun yang paling saya suka adalah cara Erin menyikapi semuanya.
Tiba-tiba mendapat kabar bahwa ibunya dirawat di rumah sakit, mendapati mobilnya rusak dan nggak bisa digunakan untuk menempuh perjalanan pulang sejauh empat jam perjalanan, kesulitan menghubungi Blake, nggak mampu menemukan Blake di manapun, sungguh ajaib ia nggak mencak-mencak pada Blake. Paling nggak saya bakal cemberut begitu bertemu keesokan harinya dan menuntut penjelasan. Tapi Erin dengan kalem menerima permintaan maaf Blake dan mempercayai Blake. Erin ini makan apa kok bisa sabar, dewasa dan bijaksana begitu? :(
Blake sendiri juga mulai bisa lebih tenang. Rasa posesifnya terasa manis tapi nggak mengekang. Berkali-kali ia menyebut Erin adalah miliknya dengan cara yang begitu manis. Ketika menemukan Erin bersama Doug dengan posisi yang bisa menimbulkan salah paham, ia tetap percaya pada Erin. Duh duh... Blake ini benar-benar mudah dicintai deh.

“Wait for me,” she whispered.
“Forever,” he murmured. “I’d wait for you forever. Though if you came back sooner, I’d make it worth your while.”

Bagi saya, novella ini tidaklah semenarik novella sebelumnya. Mungkin karena tanpa riak dan hanya berupa penegasan hubungan yang mudah diduga.
Well, meskipun ini adalah buku terakhir serial Beauty, masih akan ada satu kisah tambahan tentang Blake dan Erin. Yang membuat saya jadi penasaran, kalau pasangan ini telah begitu sempurna dalam kebahagiaan, apa yang akan dituangkan Skye Warren dalam kisah ekstranya? Hmm~ adegan ranjang tanpa henti mungkin?  :)))

Sabtu, 08 Oktober 2016

[Resensi] Broken Beauty - Skye Warren

Judul buku: Broken Beauty
Series: Beauty #3
Penulis: Skye Warren
Format: Kindle Edition
Tahun terbit: Juni 2013
Tebal buku: 70 halaman
ASIN: B00DFLFQ5K



BLURB

A troubling revelation puts Blake’s newfound career in jeopardy and Erin’s impending graduation at risk. The couple forge ahead, determined that love conquers all. They find a new depth to their respect for one another and new heights for their sensual play, but secrets and shadows lay in wait along the path.


RESENSI

Hanya diperlukan satu mata kuliah di semester terakhir ini, maka Erin bisa lulus kuliah dan mencari pekerjaan. Hal yang telah lama Erin nanti-nantikan. Namun betapa kagetnya ia saat mendapati bahwa profesor yang akan mengajar kelas yang ia ambil adalah Blake. Karena sebelumnya saat Erin bukanlah murid Blake saja, mereka harus menyembunyikan hubungan mereka, apalagi sekarang. Erin pun sempat berpikir untuk mengundurkan diri dan menunda kelulusannya. Hanya saja Blake tak mengizinkannya. Setelah berkompromi, mereka pasrah menerima keadaan dan tetap berusaha menyembunyikan hubungan mereka.
Sayangnya Melinda yang licik mulai mengendus hubungan asmara antara Blake dan Erin. Dengan licik ia menyudutkan Erin untuk mrninggalkan Blake. Apakah Erin akhirnya meninggalkan Blake? Ataukah ia tetap bertahan dan melawan?

---------------

Saya nggak bisa berhenti membaca serial Beauty dari Skye Warren. Setelah dibuat jatuh cinta dan penasaran dengan kedua buku sebelumnya Beauty Touch The Beast dan Beneath The Beauty, saya pun lanjut mengikuti kisah cinta Blake dan Erin dalam Broken Beauty. Diluar ekspektasi saya, novella ketiga ini benar-benar semakin seru dan semakin baik dibanding kedua buku pendahulunya. Ada kedalaman dan ketajaman dalam kisah ini, yang membuat saya makin nggak bisa berhenti membacanya.

Konflik yang dialami Blake dan Erin makin berkembang. Hubungan rahasia antara Blake dan Erin terancam terkuak, karena di semester terakhir ini, Erin menjadi murid kelas yang diajar Blake. Masing-masing merasa harus melindungi kepentingan pasangannya. Erin terbelah antara keinginannya untuk segera lulus dan mendapatkan pekerjaan yang layak dengan kemungkinan menghancurkan reputasi Blake. Demikian halnya dengan Blake yang nggak ingin Erin menunda kelulusannya hanya demi dia sementara Blake tahu pasti perjuangan Erin dalam belajar dan mengumpulkan uang.
Saya suka melihat betapa kuatnya perasaan yang mereka rasakan satu sama lain. Hasrat untuk saling melindungi. Dan terutama saya suka bagaimana mereka kemudian berbicara untuk berkompromi.
Setelah menunggu dialog yang "berisi" sejak mengawali membaca serial ini, saya akhirnya menemukan dialog antara Blake dan Erin yang penuh kedewasaan dan cerdas. Saya menikmati membaca diskusi panjang mereka. Akhirnya sang hero dan heroine mencapai tahap yang saya inginkan, kedekatan emosi dan intelektual.

Di dalam Broken Beauty, saya mendapati Blake yang mulai terlihat berbeda. Nggak minderan lagi seperti kisah terdahulu, setidaknya di hadapan Erin. Blake benar-benar sudah percaya pada Erin, dan mulai menunjukkan dominasinya. Tuntutannya. Dan hasratnya yang nggak lagi malu-malu. Apa yang dia inginkan berani dia ungkapkan dan dia raih. Dia mempercayai Erin sepenuhnya.
Erin di sisi lain juga terlihat makin kuat, rasa cintanya yang begitu besar pada Blake sungguh luar biasa. Mereka pasangan yang manis dan panas sekaligus. Hahhahaha...

"Come on, let me hear you lecture."
"No way. I can make a fool of myself in front of a bunch of strangers. I don't have to do it in front of my girlfriend."
She couldn't help it. She grinned, sudden and wide.
He cocked his head. "What is it? Morning breath? You should have told me."
She rolled her eyes. "No, you called me your girlfriend."
"What else should I call you?"
"Hmm. Your fuck buddy?"
He frowned. "My lover."
"Your maid."
His hand clasped hers. He rested his forehead against hers. "My everything." 

Selain itu, rupanya Melinda masih menjadi ancaman besar bagi hubungan Blake dan Erin. Seolah belum puas ditolak Blake dan membuat gonjang-ganjing sesaat dalam hubungan Blake dan Erin, kini Melinda bertingkah lagi. Dengan licik ia menyudutkan Erin dan membuat Erin berada dalam situasi yang sulit. Bitch!
Namun rupanya Skye Warren masih terlalu sayang pada Erin dan Blake sehingga permasalahan mereka nggak bertahan lama. Sayang sekali. Padahal ada banyak hal yang bisa digali untuk mencapai puncak konflik yang maksimal. Karena bila sebuah kisah dibawa ke konflik tertinggi, penyelesaian endingnya bakal sangat berkesan dan bikin nyeesss di dada. *halah*
Namun bukan berarti ending Broken Beauty nggak oke. Endingnya manis banget, malah. Tapi nggak sampai bikin saya mewek termehek-mehek.

Untuk adegan ranjangnya, super hotnya level dewa. Karena Blake dan Erin sudah nggak malu-malu tapi mau lagi. Jadi di mana dan kapan mereka bertemu, jatuhnya di pembaringan juga. Hal yang tentu bikin saya heran, kapan Erin belajar dan kerja kalau dirusuhin Blake melulu? Wkwkwk~
Overall, saya paling suka novella ketiga ini. Selain karena para tokohnya sudah menyelesaikan masalah insecure mereka, novella ini juga makin matang dan masih saja memberi rasa penasaran. Saya sudah nggak sabar untuk membaca buku keempatnya.


Jumat, 07 Oktober 2016

[Resensi] Beneath The Beauty - Skye Warren

Judul buku: Beneath The Beast
Series: Beauty #2
Penulis: Skye Warren
Format: Kindle Edition
Tahun terbit: Mei 2013
Tebal buku: 63 halaman
ASIN: B00CVGFCEK



BLURB

When Blake receives an offer to return to his alma mater as associate professor, he knows this is his chance to reenter the world—and to be worthy of the woman he loves. Erin wants this chance for him to heal… even if it means leaving her behind.

Beneath the Beauty is a novella in the Beauty serial. Don’t miss the sexy initial installment, Beauty Touched the Beast, available now. 


RESENSI

Dua minggu sejak resmi menjadi pasangan, Erin merasa hubungannya dengan Blake seolah masih berjarak. Apalagi Blake selalu diam-diam meninggalkannya saat dikiranya Erin telah tertidur, dan pergi ke ruang kerjanya hingga lupa waktu. Apakah Blake punya wanita lain?
Di tengah usahanya meyakinkan Erin bahwa gadis itulah satu-satunya, Blake mendapat tawaran untuk menjadi profesor pengganti di universitas. Maka melangkahlah Blake ke dunia luar setelah bertahun-tahun mengurung diri. Sayang, dengan status barunya, ia tak bisa mengakui Erin–yang merupakan mahasiswa di universitas tempat Blake mengajar–sebagai kekasihnya. Dan munculah Melinda, mantan tunangan Blake yang ingin kembali berhubungan dengan Blake. Akankah Blake kembali pada Melinda? Ataukah ia tetap bertahan di sisi Erin?

----------------------------

“There are no happy endings for the beast.” 

Membaca Beneath The Beauty tadinya hanyalah keisengan saya untuk melanjutkan serial Beauty. Setelah membaca Beauty Touch The Beast yang cukup mengesankan, saya berharap menemukan kisah yang semakin mendalam di buku keduanya. Tapi bisa dibilang, harapan saya juga nggak muluk-muluk amat, karena saya tahu biasanya buku lanjutan novel eroro hanyalah berupa aktivitas seksual yang semakin intens.
Namun rupanya saya salah besar!
Novella kedua serial Beauty ini semakin matang dalam plot dan storyline yang jelas. Alur ceritanya semakin menarik dan latar belakang tokohnya pun mulai tersingkap.

Beneath The Beauty masih menggunakan sudut pandang orang ketiga. Porsinya pun masih sama imbangnya. Alurnya maju dan lingkup sosialnya mulai meluas. Ada suasana baru, ada dunia luar yang mereka datangi dan orang-orang luar yang terlibat dalam kisah cinta antara Blake dan Erin.
Suasana baru yang sangat normal dan membuat saya lupa kalau saya sedang membaca eroro. Karena kesan yang saya dapatkan dalam novella ini adalah romance yang elemen-elemen pentingnya terpenuhi. Dari segi setting, karakter, juga plot.

Blake masih berkutat dengan rasa rendah dirinya. Wajahnya yang cacat separuh akibat luka ledakan yang ia derita saat sedang bertugas masih membuatnya membentengi diri. Jika saja Erin nggak ada di sana mungkin ia akan tetap menolak tawaran untuk menjadi pengganti profesor sementara. Bahkan saat menjadi profesor dan bertemu dengan Erin sebagai profesor dan mahasiswa, Blake masih merasa nggak pantas menginginkan Erin.
Rasa takut yang wajar apalagi menilik masa lalunya. Penolakan-penolakan yang harus ia hadapi setelah menjadi cacat. Blake digambarkan begitu mirip Beast dalam dongeng aslinya, yang menyendiri dan menutup diri, marah pada dunia, dan menyembunyikan jati dirinya dalam kegelapan.
Hingga Erin datang. Ternyata perasaan Blake telah tumbuh sejak pertama kalinya Erin datang melamar pekerjaan. Diungkapkan juga bahwa Blake mulai punya semangat dan berani ke luar ke jalan cahaya karena Erin. Ia ingin menggapai Erin. Ooh... saya benar-benar mulai jatuh cinta pada Blake!

Erin sendiri ternyata juga punya latar belakang yang memilukan. Terutama dengan mantan kekasihnya. Tapi bukannya merasa trauma, Erin berani menyambut dan memperjuangkan rasa cinta yang ia miliki terhadap Blake. Ia belajar dari kesalahan. Ia tampak dewasa di novella kedua ini, dan lebih memegang kendali. Dia benar-benar berdiri di sana di hadapan Blake dan dengan yakin menyatakan dan mencurahkan kasih sayangnya.

Konflik di novella kedua ini mulai berkembang. Bukan lagi sekedar perang sanubari para tokoh utamanya, tapi mulai muncul orang ketiga. Seseorang dari masa lalu Blake yang tiba-tiba datang dan menginginkan rujuk. Melinda benar-benar jenis wanita yang bakal jadi lawan tangguh dan berpotensi menjadi bom yang mengguncang kisah cinta Blake dan Erin.
Sayangnya... konflik cinta ini terlalu mudah diselesaikan. Entah apakah Skye Warren nggak berani membuat tokohnya saling berkonfrontasi ataukah penulis ini menyimpan ledakannya untuk buku lanjutan serial yang berikutnya, saya nggak tahu.
Tapi toh endingnya memang manis dan memuaskan. Rasanya meleleh melihat chemistry mereka berdua. Saya paling suka ketika Erin menemukan Blake di depan apartemennya, itu benar-benar twist yang sempurna setelah saya hampir mewek di bab sebelumnya.

Well, Beneath The Beauty masihlah novel hot nan erotis. Apalagi adegan seksnya mereka lakukan di kantor sang profesor. Gila dan menantang. Jangan lupakan juga dirty talk yang saling mereka lemparkan. Tapi jangan khawatir, meski kadar panas novel ini bisa bikin telur jadi matang, nggak ada kesan kotor dan mrnjijikkan. Gaya tuturnya begitu romantis, jenis smut yang bakal bikin saya meleleh. Namun yang lebih penting, Beneath The Beauty punya pesan yang jelas, tentang rasa insecure yang tentunya ada dalam hati kita, dan bagaimana menghadapinya. Jika telah menemukan orang yang tepat, jangan segan untuk melepaskan segala rasa sakit dan rasa pedih. Saya tersentuh saat akhirnya sang Beast menitikkan air mata.

Rabu, 05 Oktober 2016

[Resensi] Beauty Touch The Beast - Skye Warren

Judul buku: Beauty Touch The Beast
Penulis: Skye Warren
Edisi: Kindle Edition
Tahun terbit: November 2011
Tebal buku: 30 halaman
ASIN: B006Q648F0



BLURB

Erin cleans Mr. Morris's house twice a week, soaking up every moment with the reclusive ex-soldier she secretly loves. Blake Morris knows he's scarred both inside and out and is no good for the beautiful young woman who cleans his house to pay for college. But when Erin walks in on Blake touching himself and moaning her name, all bets are off.


RESENSI

Sebagai pekerja yang datang dua kali seminggu untuk membersihkan rumah Blake Morris, Erin sebenarnya memendam rasa terhadap bosnya tersebut. Ia menikmati pembicaraan mereka dan menyukai Blake apa adanya. Namun, karena menyadari dia hanyalah pelajar biasa yang perlu mencari tambahan uang dengan bekerja kasar, Erin hanya bisa berdiam diri. Hingga ketika tiba waktunya ia membersihkan rumah Blake, ia tak sengaja melihat Blake, di atas ranjangnya, sedang menuntaskan hasrat seksualnya. Bukan hanya itu yang membuat Erin terkejut, tapi juga saat di puncak kenikmatannya, Blake menyebutkan nama Erin.
Malu karena terpergok, Blake berusaha menjauh, namun akankah Erin menerimanya begitu saja? Saat ia tahu ia menjadi obyek fantasi dari pria yang dicintainya?

--------------------

Beberapa hari yang lalu, setelah saya menyelesaikan Owning Her Beast dari Alexa Riley, saya meniatkan diri untuk membaca novel atau novella yang berdasarkan dongeng Beauty and The Beast. Sebagai dongeng favorit saya, saya memang nggak pernah bosan dengan kisah cinta yang serupa. Dan kemudian seorang teman merekomendasikan novella super pendek, Beauty Touch The Beast karya Skye Warren ini. Novella ini sendiri merupakan bagian pertama dari serial Beauty.

Beauty Touch The Beast dikisahkan menggunakan sudut pandang orang ketiga secara bergantian dari sisi Erin dan Blake. Dual POV ini lumayan berimbang dan menggambarkan dengan tepat perasaan mereka masing-masing. Cukup mengejutkan bagi saya karena biasanya novel erotica tipe fast-insta-love menggunakan sudut pandang orang pertama. Namun, menyebut Beauty Touch The Beast sebagai bagian dari erotica pun rasanya kurang tepat. Karena, plotnya begitu jelas dan rapi. Bukan main adegan panas tanpa sebab musabab jelas hingga hampir absurd seperti novel erotica kebanyakan.
Latar belakang juga pekerjaan Erin dan Blake sebenarnya cukup seru jika lebih digali, karena saya pikir akan lebih baik lagi jika dideskripsikan atau dinarasikan dengan lebih detail. Misal mengapa Blake bisa penuh luka, bagaimana Blake bekerja, bagaimana keseharian Erin di luar rumah Blake. Pasti Tapi semoga saja nanti segala pertanyaan itu akan terjawab di buku keduanya. Jalan ceritanya runut dan disusun secara rapi. Meski adegan pembukanya sangat mengejutkan tapi toh kedua tokoh utama saling mampu menahan diri. Adegan seksnya pun nggak sevulgar novel erotica yang lain, bahkan dirty talknya juga terkesan lebih puitis. Wkwkk~

Mengenai karakter kedua tokoh, saya merasa Erin dan Blake benar-benar gambaran Belle dan Beast versi modern yang "nakal". Tapi rasa rendah diri Blake sungguh menyentuh. Blake sadar dirinya cacat dan buruk rupa, bekas-bekas lukanya nggak enak dilihat. Beberapa kali dia memalingkan wajah dan bahkan di atas ranjang dengan kebesaran hati dia meminta Erin menganggapnya sebagai pria lain. Duh Blake. Saya mendapati saya tersentuh akan gerak-gerik dan sikap Blake.
Sementara Erin benar-benar gadis yang saya rasa tahu apa yang dia inginkan dan berani melakukan sesuatu untuk mendapatkannya. Tekadnya mirip seperti Belle. Dia berani maju saat Blake melangkah mundur. Saya yakin pula dia punya pertimbangan dan siap menanggung segala risiko di hadapannya.
Dan yang bikin saya jatuh hati pada pasangan ini adalah jarak usia mereka yang jauh. Pembaca setia review saya pasti tahu kalau saya tergila-gila pada kisah cinta antara dua karakter yang usianya terpaut jauh. Beberapa mungkin tahu alasannya. Tapi sayangnya, Beauty Touch The Beast nggak menjelaskan dengan pasti berapa usia mereka sebenarnya. Hanya diungkapkan bahwa dengan usianya, Blake sepantasnya menjadi ayah Erin.

Sayangnya Beauty Touch The Beast ini begitu pendeknya hingga habis dibaca hanya dalam sekali jongkok. Beneran. Bukan hanya sekali duduk saja, karena memang singkat banget. Padahal plotnya sangat menjanjikan dan pasti akan lebih menarik lagi dengan dua atau tiga bab tambahan. Meski kepadatan kisah ini memberi rasa puas juga.
Yang pasti novella super singkat ini menarik minat saya untuk melanjutkan kisahnya ke buku kedua, Beneath The Beauty. Karena karakter tokohnya yang Beast banget, jalan ceritanya yang menjanjikan dan gaya bertutur Skye Warren yang asyik. Smut yang manis dan romantis tanpa kesan dirty. Tapi tetap saja saya sarankan hanya untuk pembaca dewasa (dewasa dalam pengertian mental, sih), dan sepertinya nggak akan cocok dibaca di tempat umum. You know why, lah ya. Hihihi...
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon