Tampilkan postingan dengan label Penerbit Noura Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penerbit Noura Books. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2016

[Resensi] The Espressologist - Kristina Springer

Judul buku: The Espressologist
Penulis: Kristina Springer
Penerjemah: I Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Penyunting: Rina Wulandari
Penyelaras aksara: Ananta
Desainer sampul: cddc
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: Juli 2015
ISBN: 978-602-0989-99-0




BLURB

Aku Jane Turner, seorang barista. Sekarang aku lebih dikenal sebagai Espressologist—orang yang bisa menjodohkan orang lain sesuai dengan kopi favorit mereka. Semua orang di kota membicarakanku, mereka yang belum punya pasangan datang padaku, dan tiga host TV ternama mewawancaraiku. Keren, kan?

Semua orang yang datang padaku akan segera mendapatkan pasangan. Aku jamin 100%.

Lalu, bagaimana denganku? Apa aku sudah punya pasangan?

Sayangnya, belum. Tapi, setidaknya sekarang aku sudah menemukan targetku—cowok keren dan baik hati yang jadi pelanggan nomor satuku. Yah, walaupun kopinya bukan jodoh kopiku, kurasa aku bisa melakukan sedikit penyesuaian dengan kopi favoritku. Rencanaku ini pasti berhasil. Dan, kuharap keberuntungan biji kopi berpihak padaku.

RESENSI

Sudah tiga bulan terakhir, Jane Turner mulai mengamati tamu yang datang ke Wired Joe's, sebuah kedai kopi lokal tempatnya bekerja. Ia selalu membuat catatan tentang jenis kopi yang dipesan oleh pengunjung dan sifat mereka. Hingga ia bisa menebak kopi apa yang akan dipesan bahkan sebelum si pengunjung mengucapkannya. Bermodalkan bakat dan catatannya, ia menjodohkan dua orang pengunjung, Gavin dan Simone. Dan berhasil. Jane pun mulai menjodohkan pasangan-pasangan lainnya, termasuk Cameron, teman di kelas bahasa inggrisnya, dengan sahabat Jane, Em.
Saat Derek, manajernya, mengetahui kemampuan Jane, ia pun membuat acara khusus setiap hari Jumat. Hari di mana Jane akan membantu pengunjung untuk menemukan jodohnya. Event itu sukses besar. Dan kini Jane bersiap menjodohkan pria favoritnya, Will, untuk dirinya sendiri. Meski kopi favorit mereka tidak cocok. Dan meski ia semakin cemburu melihat kedekatan Cam dan Em.

----------------------------

Pernah terbayang kopi bisa mewujudkan cinta sejati? Kalau belum, novel The Espressologist ini akan mewujudkannya. Espressologist sendiri adalah istilah yang dibuat oleh karakter utama novel ini yang merupakan seorang barista dan punya naluri kuat untuk menebak kopi favorit para tamu dan kemudian menganalisis kepribadian mereka dari kopi pilihan tersebut.

Saya suka dengan ide cerita novel ini. Karena saya pencinta kopi (walau kopi sasetan) dan suka takjub pada para peracik kopi. Sayang jalan ceritanya cenderung datar, nggak ada konflik yang menukik tajam. Jangankan menukik, menanjak saja enggak. Memang ada permusuhan yang nggak jelas alasannya dari Mellisa, tapi itu pun hanya sekedar sindiran-sindiran sinis Mellisa saat datang berkunjung ke kedai kopi. Padahal mungkin ini bisa digali, apa alasan dia nggak suka pada Jane, sedikit kekacauan bisa bikin cerita lebih menarik.

Karakternya cukup menyenangkan. Jane sepertinya pintar dan berbakat. Haha... saya sendiri bingung. Dia bisa menganalisis orang dan kopi kesukaannya, tapi hanya itu yang tampak nyata. Karena dia diceritakan ingin kuliah fashion tapi dia nggak kelihatan tertarik dengan fashion. Dia nggak berisik soal fashion dan dia juga nggak berpenampilan layaknya orang yang tergila-gila pada fashion. Jadi itu seperti tempelan saja supaya kelihatan Jane punya cita-cita. Yaah punya cita-cita tapi tanpa passion. Penulis tampaknya mengabaikan detail itu dan lebih terfokus pada bakat makcomblang Jane. Kenapa Jane nggak dibuat bercita-cita di bidang seni kopi saja supaya lebih nyambung dan nggak bikin saya sebagai pembaca merasa Jane nggak mampu untuk kuliah fashion.
Tapi Jane cukup berani juga sebenarnya. Bagus banget waktu dia membalas telak sindiran Mellisa. Kalau dia menempatkan diri sebagai orang yang mudah dibully, selamanya dia akan dibully. Sekali-kali Jane memang harus bersikap tegas dan berani agar tidak dibully. Itu bagian paling favorit sih.

Sementara untuk karakter utama pria, saya bertanya-tanya siapa yang akan jadi dengan Jane. Apakah Will yang tengil dan tukang PHP, atau Cam yang manis dan jelas-jelas punya perhatian? Tapi upaya penulis untuk membuat cerita cinta segitiga ini masih terasa kurang greget. Interaksi Cam dan Jane nggak meyakinkan dan kurang chemistry. Ketengilan Will juga cuma tergambar dari cerita Jane dan bukan terjadi langsung di depan pembaca. Rasanya masih datar dan kurang bikin berdebar.
Saya ingin tahu juga isi biografi tentang Jane yang ditulis Cam. Sayang hanya diungkap sedikit. Padahal paragraf yang sedikit terungkap itu manis banget. Seandainya saja versi panjangnya dibaca oleh Jane. Biar makim klepek-klepek dan galau gitu. Gimana nggak galau kalau cowok potensial yang kayaknya dia suka malah dia jodohkan dengan sahabatnya sendiri. Ha.

Sisi menarik novel ini terdapat pada jenis kopi dan kepribadian yang digambarkan mewakili kopi tersebut. Banyak catatan yang dibuat Jane untuk menjelaskannya. Entah benar entah enggak tapi rasanya romantis sih.
Yang sedikit di luar nalar mungkin banyaknya orang yang berhasil Jane jodohkan. Sampai 50 lebih pasangan lho. Waaah... bisa laris KUA kalau ada orang kayak Jane gini. Wkwkk~

Yaah sebagai novel kontemporer yang tipis novel ini memang ringan dan flat. Tapi cukup menghibur dan manis untuk dinikmati. Ada banyak kopi bertebaran juga ada resep cara bikin kopi favorit para karakter dalam novel ini. Glosarium yang ada di akhir novel juga akan memperkaya pengetahuan kita.

Minggu, 14 Agustus 2016

[Resensi] Tiga Sandera Terakhir - Brahmanto Anindito

Judul buku: Tiga Sandera Terakhir
Penulis: Brahmanto Anindito
Penyunting: Hermawan Aksan, Miranda Harlan
Penata aksara: Aksin Makruf
Desainer sampul: Oesman
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: Mei 2015
Tebal buku: 316 halaman
ISBN: 9786020989471



BLURB

Penyanderaan brutal terjadi di sebuah desa di Papua. Korbannya lima orang—warga negara Indonesia, Australia, dan Perancis. Semua telunjuk segera mengarah ke OPM, Organisasi Papua Merdeka. Namun, OPM sendiri menyangkalnya. Mereka menegaskan bahwa pihaknya sudah lama tidak menggunakan cara-cara ekstrem seperti itu, demi perjuangan kemerdekaan Papua Barat.

Lantas, siapa dalang penyanderaan itu? TNI enggan berteka-teki terlalu lama. Satuan Antiteror Kopassus di bawah pimpinan Kolonel Larung Nusa segera diturunkan ke Bumi Cenderawasih. Tapi, malang tak bisa ditolak. Korban malah berjatuhan, baik di pihak sandera maupun anggota Kopassus. Salah seorang anggota bahkan dinyatakan hilang secara misterius di belantara Papua.

Kolonel Nusa mulai menyadari bahwa lawannya ini bukan sekadar milisi OPM. Melainkan pasukan khusus seperti dirinya.

RESENSI

Lima orang turis diculik dan disandera oleh sekumpulan orang-orang asli Papua yang mengaku sebagai bagian dari OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kelima orang tersebut terdiri atas dua turis domestik dan tiga turis asing. Keinginan para penyandera hanya satu, jika ingin sandera selamat maka Papua harus diberi kemerdekaan.
Maka dikirimlah Kolonel Inf. Larung Nusa yang baru saja menjabat sebagai Komandan Gultor. Suatu pengangkatan yang penuh kontroversi karena Larung Nusa sendiri adalah menantu dari Menteri Pertahanan RI.
Demi membuktikan diri, Larung Nusa berusaha sebaik mungkin memimpin operasi pembebasan para sandera. Tapi sebisa mungkin ia ingin mengupayakan jalur negosiasi. Sayang pihak penyandera memilih jalan lain. Ketika seorang sandera ditemukan tewas, maka Larung Nusa pun mulai memimpin operasi penyerbuan.
Sayang penyerbuan itu memakan korba dari pasukan Larung Nusa. Seorang anggota meninggal, dan seorang lagi hilang. Larung Nusa pun mendapat hukuman skors.
Tapi ternyata, itu baru awal. Ada sesuatu yang lebih besar yang mengincar keamanan NKRI. Larung Nusa harus membuat pilihan, apakah bersedia membentuk pasukan hantu dan merekrut mantan anggota TNI sebagai anggota tim, atau memilih kembali ke Jakarta.
Bisakah Larung Nusa menyibak siapa dalang dibalik penyanderaan ini dan menemukan tiga sandera terakhir?

------------------------------

Membaca novel thriller selalu menjadi keasyikan tersendiri jika saya mulai jenuh dengan kisah romance. Itulah mengapa saya memilih membaca novel Tiga Sandera Terakhir karya Brahmanto Anindito ini. Pilihan yang ternyata sangat tepat karena mood baca saya yang tadinya mpot-mpotan bisa balik bergairah lagi. Hahah...

Tiga Sandera Terakhir merupakan novel thriller militer yang menghadirkan tema ketegangan tiada usai antara Indonesia dan Papua. Kita tahu bahwa OPM merupakan organisasi yang nyata yang mempunyai tuntutan untuk merdeka dan melepaskan diri dari Indonesia. Sebagai kisah usang namun juga selalu hangat, tema ini memang sangat menarik jika disajikan dalam sebuah kisah fiksi.
Dan meski tokoh utama serta kisahnya hanya fiksi, Tiga Sandera Terakhir terasa nyata senyata-nyatanya. Konstruksi ceritanya dibangun dengan penuh detail—termasuk detail sejarah dan budaya—juga plotnya ditulis dengan sangat rapi. Gaya bertutur Brahmanto Anindito mengalir dan enak dibaca.
Walau lumayan membosankan di awal kisah, tapi saya dibuat takjub dengan strategi yang dirancang Kolonel Larung Nusa. Ketegangan di paruh awal memang rada ngeselin. Beberapa kali para sandera membantah dan seolah cari mati. Saya sampai geregetan karena takut satu salah ucap saja bisa bikin para penyandera itu murka dan membunuh mereka.

Bagian seru baru muncul saat operasi pembebasan sandera dimulai. Lumayan menegangkan dan bikin saya nggak bisa berhenti baca. Mulai dari situ hingga ke pembentukan pasukan hantu, saya sudah nggak bisa lagi berpaling dari novel ini. Ikut kesal waktu Larung Nusa diskors, dan merasakan antusiasme saat Larung Nusa mengumpulkan kru bagi pasukan hantunya. Suasana jadi lebih cair karena anggota pasukannya adalah mantan anggota militer. Bedanya kerasa banget antara operasi pembebasan sandera yang dilakukan tim gultor pimpinan Larung Nusa, dengan operasi penyerbuan dalang penyanderaan yang dilakukan oleh pasukan hantu.
Mungkin seperti yang telah disinggung di awal novel, bahwa prajurit bekerja sesuai perintah atasan, jadi hubungan mereka terasa kaku dan kurang akrab karena seolah masih ada garis hierarki. Namun bersama pasukan hantunya, Larung Nusa bisa bersikap santai dan saling bercanda. Itu sebabnya paruh akhir kisah ini sangaaaaaaat menarik diikuti.
Dialognya lebih seru, kocak dan sedikit mengendurkan ketegangan. Juga joke tentang sepakbola itu masuk ke dalam cerita dengan mulus banget dan bagi saya sangat cerdas. Yap, sepakbola bisa menyatukan Indonesia ternyata.

Aksi di paruh akhirnya benar-benar tegang mampus. Kayak nggak diberi jeda untuk bernapas. Detail adu senjata dan adu tangan kosongnya keren. Tokohnya dibuat jatuh bangun dan berjuang dengan usaha yang keras. Benar-benar kayak lagi nonton film laga. Saya suka dengan novel thriller yang musuhnya sulit dikalahkan, jadi biar endingnya bisa benar-benar nyeeees. 

Yang saya suka adalah kentalnya logat dalam dialog yang dipakai para tokoh novel ini. Beberapa tokoh tampil dengan identitas daerahnya. Para pasukan OPM dan orang asli papua menggunakan logat khas mereka, kemudian anggota tim Larung Nusa juga ada yang menggunakan bahasa jawa, sang danjen  juga menampilkan bahasa lo-gue. Semua membuat novel ini terasa berwarna dan terasa Indonesia banget.
Hanya saja saya merasa bakal lebih nikmat jika keterangan tentang istilah atau penerjemahan bahasa bukan dikelompokkan di halaman akhir buku tapi ditulis sebagai catatan kaki. Jadi saya nggak perlu repot-repot nengok ke belakang.

Tokoh favorit saya di novel ini adalah Witir Femmilio, si mantan anggota Denjaka. Kocak orangnya, tapi pas bertempur, duuuh berasa jantan dan laki banget. Tapi masih aja nyelipin rayuan buat Nona. Wkwkwk~
Sementara untuk adegan favorit jelas waktu Larung Nusa berantem sama si dalang. Seruuuu dan menegangkan.
Dan yang bikin merinding sekaligus terharu adalah saat saya menyadari siapa yang dimaksud dengan tiga sandera terakhir. Hiks. Ngilu rasa hati saya jadinya.

Tapi epilognya berasa masih kuraaaaang. Saya pengin tahu nasib Larung Nusa. Bagaimana pandangan orang terhadapnya. Pengin ada yang mengakui bahwa dia memang mampu, karena akhirnya bisa membuktikan bahwa dia kompeten. Tapi nggak ada. Huhuuu...

Secara keseluruhan, saya sukaaaa banget dengan novel ini. Banyak pengetahuan tentang sejarah papua, tentang strategi taktis, tentang latihan militer juga betapa serunya operasi militer berjalan. Saya rekomendasikan novel ini bagi kalian yang suka kisah penuh ketegangan, teror dan aksi baku hantam. Seru banget. Sungguh.



Minggu, 24 Januari 2016

[Resensi: #GIRLBOSS - Sophia Amoruso] Kisah Kesuksesan Pendiri Nasty Gal


Judul buku: #GirlBoss
Penulis: Sophia Amoruso
Penerjemah: Rahayu Wilujeng Kinasih
Penyunting: Kiki Sulistiyani
Perancang sampul: Iggrafix
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 278 halaman
ISBN: 978-602-0989-89-1




BLURB

Delapan tahun lalu, dia bukan siapa-siapa. Dikeluarkan dari sekolah, berganti-ganti pekerjaan, mengorek sampah untuk mencari makanan, sampai-sampai pernah mengutil di supermarket demi bertahan hidup. Namun kini, Sophia Amoruso adalah perempuan muda, pendiri, CEO, dan direktur kreatif Nasty Gal, toko fashion online beromset ratusan juta dolar.

Bisnis Sophia dimulai di eBay, dari menjual buku bekas sampai baju-baju vintage yang dia kumpulkan dari tukang loak. Jatuh bangun dia alami, tetapi di bidang itulah akhirnya dia menemukan kecintaannya. Dia pun mampu membuat situs sendiri, nastygal.com, yang dinobatkan majalah Inc. menjadi toko retail yang tumbuh paling cepat di Amerika.

Sophia membuktikan bahwa menjadi sukses bukan tentang seberapa populer drimu di sekolah atau kampus. Keberhasilan adalah tentang kerja keras, melakukan hal yang kamu sukai, dan memercayai instingmu.

Dalam buku ini, Sophia dan para #GIRLBOSS lainnya tak hanya bercerita kisah suksesnya, tetapi juga membagi rahasia dan tips menjadi #GIRLBOSS yang sesungguhnya.


RESENSI

Sophia Amoruso terlahir di San Diego dan sedari kecil tak mudah mematuhi peraturan, terutama peraturan sekolah. Saat duduk di kelas 4, guru kelasnya merasa ada yang salah dengannya dan curiga Sophia mengidap ADD (Attention Deficit Disorder) atau sulit memusatkan perhatian.
Sophia membenci masa SMA-nya, bukan karena masalah kepopuleran tapi karena sistem sekolah tidak cocok baginya. Setelah berganti-ganti sekolah, ia akhirnya memutuskan untuk homeschooling.
Ketika orangtuanya bercerai saat ia berusia 17 tahun, ia mengambil kesempatan itu untuk keluar dari rumah dan hidup mandiri di pusat kota Sacramento. Kemudian ia mencari tumpangan ke West Coast dan menetap di Pacific Northwest menjalani hidup sebagai pemulung makanan dan sering mencuri. Bahkan barang jualan online pertamanya adalah buku curian.
Ketika ia terjangkit hernia ia sadar ia harus mencari pekerjaan untuk mendapatkan asuransi kesehatan. Saat ia mendapat pekerjaan ia justru banyak memiliki waktu senggang untuk menjelajahi internet dan membuka toko di eBay bernama Nasty Garl Vintage.
Dan inilah titik balik Sophia yang mengubah nasibnya dari gadis pembenci kapitalisme menjadi direktur utama perusahaan bernilai lebih dari seratus juta dolar.

---------------

#GIRLBOSS bukan hanya sekedar buku autobiografi yang begitu feminis, tapi juga buku Self Help dan Leadership yang sangat menginspirasi.
Walau gaya bertutur Sophia cukup arogan tapi semangatnya untuk bisa menaklukkan dan bukan ditaklukkan terasa banget. Membaca buku ini menjadi pengalaman yang menyenangkan karena sifat blak-blakan Sophia cukup sering membuatnya dalam masalah. Ia senang berkompetisi, tak memedulikan pendapat orang, dan introvert.

Buku ini dengan jujur menceritakan masa lalu Sophia yang sulit, bagaimana ia hampir salah jalan dengan mengutil, kemudian bagaimana ia mengambil pelajaran dari kesalahan dan mengambil kesempatan yang ada.
Banyak tips-tips menarik yang saya dapatkan, dan yang paling menarik ada di bab Tentang Uang dan Segala yang Bisa Dibeli Dengannya. Menarik bahwa Sophia menyarankan agar kita memperlakukan akun tabungan seperti tagihan yang harus dibayar setiap bulan atau kita akan menanggung konsekuensinya. Wah.
Selama ini saya tahu bahwa kita harus menyisihkan 10% dari pendapatan untuk tabungan, yang dalam kasus saya bolong-bolong. Bulan ini diisi, dua bulan berikutnya enggak. #ngek *ditendang*
Dan ternyata kalau mau liburan, nggak boleh ambil uang tabungan. Wkwkwk~ *bikin tabungan khusus liburan* :p
Tapi yang susah dipraktekkan adalah memisahkan uang dengan perasaan, itu termasuk jika ada yang meminta uang dari kita atau kita mau mengajukan kenaikan gaji. Ungg... kalau dalam adat kemasyarakatan timur kita, agak susah ini ya. Tetangga datang mau minjem duit, mau nolak kok nggak enak. :(

Tiga bab terakhir saya rasa lebih menarik lagi karena mengulas tentang aturan dan filosofi dalam mengelola bisnis. Hal-hal sangat menarik ada di dalamnya dan mampu menggelitik saya.

Dan selain cerita perjalanan hidup Sophia, buku ini juga diisi dengan testimoni singkat dari para #GIRLBOSS lainnya, sep

Secara keseluruhan, walau #GIRLBOSS terkesan cukup sombong, tapi buku Sophia Amoruso ini juga mampu melecut keinginan generasi ini untuk maju dan bekerja keras. Penerjemahannya yang bagus membuat buku ini enak dibaca dan memberi pengalaman yang luar biasa.

Rabu, 11 Februari 2015

Resensi Love Puzzle - Eva Sri Rahayu

Judul buku : Love Puzzle
Penulis : Eva Sri Rahayu
Penerbit : Noura Books
Penyunting : Ifnur Hikmah
Terbit : November 2013
Tebal buku : 286 hal
Cara dapat : hadiah kuis dari penulisnya sendiri



BLURB

Rasi memberi senyuman, tetapi cowok itu malah tidak mengacuhkannya.
"Raja?" sapa Rasi.
"Sori?" Kening cowok itu berkerut.
"Kamu Raja kan?" Tanya Rasi lagi.
“Hmm, enggak usah sok kenal, deh,” balas Raja dingin.
Rasi melengkungkan bibirnya, cowok keren memang sering kena amnesia! “Enggak usah nyebelin gitu, deh. Kamu kan yang nanya-nanya soal fotografi di atap BIM kemarin? Kalau aku salah orang, biasa aja, deh.”
Raja merespon perkataannya dengan wajah kaget. Namun sedetik kemudian, ekspresi Raja kembali sinis. “Denger ya, aku enggak kenal kamu!” geram Raja penuh penekanan.

***
Sejak ketemu cowok itu, Rasi merasa level hatinya naik turun seperti roller coaster: kadang berbunga, kadang kesal setengah mati. Sama seperti sikap Raja yang jago sulap: kadang baik, kadang nyebelin. Ada ya orang yang seperti itu? Rasi hanya belum tahu kalau di balik semua kejadian ada misteri tersimpan. Dan takdir menuntun Rasi masuk ke labirin yang entah ke mana berujung ….


REVIEW

Rasi bertemu dengan Raja pertama kali di atap BIM saat sedang asyik memotret. Raja yang begitu lembut dan baik. Tapi ketika Rasi kembali bertemu Raja di tempat latihan basket, cowok itu berubah ketus dan dingin. Di kali ketiga pertemuan, Raja kembali jadi cowok ramah. Rasi kebingungan. Bukan hanya sifat cowok itu yang berubah-ubah, tapi hatinya ikut berubah-ubah menanggapi pertemuan itu. Kadang berdebar-debar kadang biasa saja.

Rasi juga bertemu dengan seorang cewek rapuh yang sebaya dengannya. Cewek itu, Ayara, selalu sendirian dan tak punya teman. Terlebih lagi cowok Ayara sepertinya cowok yang emosional sehingga membuat Rasi ingin meninjunya. Itu sebabnya Rasi bersedia menjadi sahabat Ayara.

Tanpa Rasi sadari, pertemuan-pertemuan dan kejadian-kejadian yang ia alami adalah kepingan puzzle. Dan Raja yang ia temui di atap BIM seolah mendorongnya untuk menyatukan kepingan-kepingan itu. Agar Rasi bisa mengungkap identitas Raja yang sesungguhnya dan menghentikan sandiwara yang dijalani orang-orang di sekitarnya.

-------

Cerita Love Puzzle begitu mengalir dan mudah dinikmati. Saya jadi teringat serial detektif Pasukan Mau Tahu karangan Enid Blyton favorit saya. Kisah misteri yang mengajak pembaca untuk ikut memecahkannya. Di tiap puzzle (baca: bab) novel ini diberikan petunjuk sedikit demi sedikit dengan porsi yang pas. Saya sampai tak sabar membalik halaman untuk menemukan cuilan informasi berikutnya sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi.

Tokoh favorit saya adalah Raja Alexander, dan saya ingin memeluknya erat-erat. Saya tahu betapa tidak enaknya dibanding-bandingkan, betapa sengsaranya merasakan cinta yang berat sebelah. Dan cowok ini benar-benar kuat dan tabah menjalaninya.
Dan saya suka karakter-karakter dalam novel ini yang begitu kontras. Iskandar yang tenang, Alex yang meletup-letup, Rasi yang tangguh dan mandiri, Ayara yang lemah baik jiwa maupun raga, serta Red yang intuitif. Sifat-sifat itu konsisten terwujud dalam tindakan dan perkataan mereka.

Alurnya maju dengan beberapa kali kembali ke masa lalu dengan sangat rapi tanpa kesan dipaksakan. Ada beberapa kesalahan cetak namun tidak terlalu mengganggu.

Konfliknya yang beragam-bullying, tawuran, pencarian jati diri-dengan apik menunjukkan betapa kerasnya masa remaja. Betapa menyakitkan jika sendirian menghadapi itu semua.

Namun saya merasakan tokoh-tokoh di sini terlalu sering mengalami kebetulan. Rasi juga tampak mudah sekali mendapat informasi, padahal informasi itu tidak pernah diungkapkan pada siapa pun selama 4 tahun. Misal ketika pak satpam yang memberi alamat kontrakan Raja, juga Red yang tanpa curiga langsung bercerita pada Rasi di perjumpaan pertama mereka.
Meskipun Red bilang karena intuisinya bilang begitu, saya masih sulit menerima kok begitu mudahnya Red membagi informasi sepenting itu.
Saya juga terheran-heran saat Rasi, yang masih anak SMA, pulang dari kontrakan Raja hampir tengah malam. Meskipun diantar pulang oleh Raja, saya tetap takjub. Kalau saya sih, pasti sudah ditunggu Mama di depan rumah sambil diacungi sapu lidi. Tidak mungkin diperbolehkan pulang malam-malam apalagi si pengantar main pergi tanpa pamit atau menjelaskan sesuatu pada orang rumah. Tapi itu sih saya, mungkin Rasi ini anak yang mendapat kepercayaan penuh dari ortunya. :)
Saya juga merasa adegan di prolog itu seolah berdiri sendiri, tidak bisa menyatu dengan keseluruhan cerita. Mungkin tujuannya untuk memberi dasar alasan mengapa Rasi bisa bertemu Raja dan tetap tenang menghadapinya. Tapi adegan itu tak ada pun saya pikir tak masalah.

Namun dengan kelebihan dan kekurangan (versi saya) pada novel ini saya telah mempelajari sesuatu. Identitas bisa berganti tapi jati diri adalah kesejatian mutlak. Tak bisa diatur atau dibentuk oleh orang lain. Semoga cerita ini bisa menjadi pengingat saya dalam memperlakukan kedua anak laki-laki saya.

Saya beri 4 bintang untuk novel ini.


Tebar-Tebar QUOTE

Ketika seseorang meninggal, akan pergi ke manakah jiwanya?
Apakah akan menjadi salah satu bintang yang kita lihat di langit?
Ataukah tetap ada di sekeliling kita? (Hal 9)

"Menurut gue, baik itu juga enggak egois sama diri sendiri, ya. Kalau bikin rugi, bukan jadi kebaikan lagi." (Hal 31, Reta kepada Rasi)

Kenangan, kadang terasa lebih nyata dari kenyataan. Seberapa pun besarnya perjuangan membuat kenangan itu jadi nyata, kenangan hanya hidup dalam ingatan. (Hal 68)

"Rasi, apa yang terlihat bisa menipu, tapi hati selalu tahu kebenarannya. Selalu dengarkan kata hatimu, ya." (Hal 86, Raja kepada Rasi)

"Penindas cuma kumpulan orang bodoh yang pura-pura bersahabat." (Hal 107, Rasi kepada Viony)

"Raja, cinta kalian ... cintamu dan Iskandar tidak bisa dikalahkan oleh kematian." (Hal 214, Rasi kepada Raja) 
"Seberapa penting identitas dengan hidup itu sendiri?" (Hal 217, Rasi)

Cinta dilahirkan, bukan diciptakan. Cinta bukan 'tidak harus memiliki' tetapi memang 'tidak semua cinta bisa dimiliki'. (Hal 234)


Jumat, 06 Februari 2015

Resensi Between Shades of Gray

Judul buku : Between Shades of Gray
Penulis : Rita Sepetys
Penerbit : Noura Books
Penerjemah : Ingrid Nimpoeno
Penyunting : Rika Iffati Farihah
Tebal buku : 386 hal
Cara dapat : hadiah kuis #BestMoment2014


BLURB

Para tentara menerobos masuk ke gubuk kami sambil mengacungkan senapan... menyuruh kami berdiri dan menunggu di luar gubuk. Kami mulai berbaris lambat sambil menyeret barang-barang kami. Sebuah truk besar terparkir di dekat kantor. Komandan berdiri di beranda bersama seorang perwira yang tak kukenal. Mereka mulai meneriakkan nama-nama sesuai urutan abjad. Orang-orang naik ke bagian belakang truk.
Aku menatap Andrius. Matanya menemukan mataku. "Aku akan menjumpaimu," katanya. Aku tidak mengeluarkan satu suara pun. Namun, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku menangis. Air mata menyembul dari rongga mata kering dan mengaliri pipiku dalam satu aliran cepat. Aku berpaling. Kami berjalan menuju truk dan naik ke dalamnya. Aku menunduk memandang Andrius. Mesin menyala dan meraung. Aku melambaikan tangan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Bibir Andrius membentuk kata-kata "Aku akan menjumpaimu." Dia mengangguk sebagai penegasan. Aku membalas anggukannya.
Namun, aku ragu dia akan menemukanku, andai dia tahu ke mana tentara NKVD akan membawa kami.


REVIEW

Between Shades of Gray menceritakan tentang Lina Vilkas seorang gadis usia 15 tahun yang pada suatu malam diciduk oleh tentara NKVD dari rumahnya bersama ibu dan adik lelakinya.
Mereka dideportasi dari Lithuania ke Siberia bersama orang-orang yang dianggap anti-Soviet. Dan selama perjalanan Lina berusaha membuat pesan rahasia berupa gambar-gambar simbol untuk diedarkan. Berharap pesan itu sampai ke tangan ayahnya yang terpisah dari mereka.
Lina terus menyimpan harapan bahwa mereka akan kembali ke tanah air mereka secara utuh dan lengkap. Sementara itu ia menyaksikan satu per satu, orang-orang yang dideportasi bersamanya, gugur secara mengenaskan.

------------

Novel ini begitu kelam dan mematahkan hati, bahkan sejak kalimat pembuka paragraf pertama bab satu.
"Aku bergaun tidur saat mereka mencidukku." (Hal 2)
Dan selanjutnya kisah bergulir antara rasa pilu, harapan, keputusasaan dan kesedihan. Ada saat-saat dimana adegan yang diceritakan begitu mengenaskan, hingga tangan terasa gatal ingin melompati halaman. Terutama saat bayi Ona meninggal. Saya sampai memeluk bayi saya erat-erat seusai membacanya :(
Meski hanya fiksi, tapi kematian anak-anak dan bayi bukanlah hal yang mudah untuk dibaca. (˘̩̩̩_˘̩ƪ)
Plotnya yang maju dengan beberapa kali flashback ditulis dengan begitu luwes. Entah itu perkataan seseorang atau suasana, bisa membawa kembali kenangan masa lalu yang membuat cerita semakin kontras. Bahagia di masa lalu dan menderita di masa kini.
Penerjemahan sempurna dan saya sama sekali tidak menemukan typo. Perfect!

Tokoh yang saya suka adalah Elena Vilkas, ibu Lina dan Jonas. Elena begitu tegar, cerdas dan berani. Ia mempertahankan mati-matian agar mereka bertiga tetap bersama-sama. Elena juga yang terasa paling waras di antara para tahanan lainnya. Selain Andrius Arvydas, bocah lelaki kuat yang menjalin roman canggung dengan Lina.
Sayangnya romansa di cerita ini hanya sedikit. Hubungan Lina dan Andrius di tengah penderitaan tidak digali dalam. Saya bahkan sempat curiga pada Nikolai Kretzsky yang sepertinya menaruh perasaan. Entah pada Lina atau pada Elena XD
Tapi kembali lagi, karena novel ini adalah hisfic, yang berusaha mengisahkan Perang Dunia dan dominasi Soviet dari sisi penduduk Lithuania, tentunya kisah cinta bukan sajian utama novel ini.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Pernahkah kau bertanya-tanya berapa nilai nyawa manusia? Pagi itu, nyawa adikku setara nilainya dengan arloji-saku. (Hal 28)
"Dengarkan," kataku. "Para lelaki." Suara itu semakin lantang. Semakin lantang. Mereka sedang menyanyi, menyanyi sepenuh tenaga. Andrius ikut menyanyi, lalu adikku dan lelaki berambut kelabu. Dan, akhirnya lelaki botak bergabung, menyanyikan lagu kebangsaan kami. Lithuania, tanah air para pahlawan...
Aku menangis. (Hal 68)
Semangat melambung. Andrius dan Jonas berteriak dan bersorak. Miss Grybas mulai melantunkan "Bawa Aku Kembali ke Tanah Airku". Orang-orang saling berpelukan dan bersorak-sorai.
Hanya Ona yang diam. Bayinya sudah mati. (Hal 77)
"Rasa humor kita," kata Ibu dengan mata basah gara-gara tertawa. "Mereka tidak bisa merampas itu dari kita, bukan?" (Hal 137)
"Kostas," desah Ibu. "Dia begitu kikuk, tapi begitu tulus. Terkadang ada semacam keindahan dalam kekikukan. Ada cinta dan emosi yang berupaya mengungkapkan diri, tapi pada saat itu hanya berakhir dengan kekikukan. Bisakah dimengerti?" (Hal 177)
"Tidak. Jangan takut. Jangan memberi mereka apa-apa, Lina, bahkan rasa takutmu." (Hal 267)
Saya beri 3 BINTANG untuk Between Shades of Gray, karena dari novel ini saya mendapat pelajaran tentang ketegaran dan keberanian dalam situasi terberat dan tersulit sekalipun. (.)
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon