Tampilkan postingan dengan label Suarcani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suarcani. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2017

[Resensi] Rule of Thirds - Suarcani

Judul buku: Rule of Thirds
Penulis: Suarcani
Penyunting: Midya N. Santi
Penyelaras aksara: Mery Riansyah
Perancang sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2016
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 9786020334752



BLURB

Apalagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?


Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis. 

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan. 

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter.


RESENSI

Setelah tiga belas tahun mengikuti papa "bersembunyi" di Seoul, Ladys akhirnya kembali ke Bali. Tujuannya hanyalah berada dekat dengan Esa dan mungkin meningkatkan hubungan mereka ke jenjang status pernikahan. Sayang kenyataan tak seindah harapan. Di hari pertamanya bekerja sebagai fotografer, Ladys bertemu dengan Dias, pemuda aneh yang lebih memilih membisu di dekatnya. Pemuda sok tahu yang membuat Ladys geram dan uring-uringan.
Namun yang lebih menyakitkan, Ladys harus menelan kenyataan pahit akibat pengkhianatan Esa.
Namun Ladys masih belum mampu meninggalkan Bali. Apalagi pertemuannya dengan Dias ternyata bagai takdir agar mereka berdamai dengan masa lalu masing-masing. Bersama, kedua fotografer ini berusaha mencari arti cinta dan memaafkan.

----------------------

"Cinta akan selalu memaafkan." (hlm.132)

Rule of Thirds adalah kesempatan kedua saya membaca karya Suarcani, setelah dulu sempat membaca Stardust Catcher dan memandu blogtournya. Bagi saya, Stardust Catcher adalah novel Young Adult yang membekas di benak saya, maka saya pun jadi ingin menjajal mencicipi karya baru Suarcani yang muncul di lini Metropop.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama bergantian dari sisi Ladys dan Dias. Nggak perlu takut bingung karena ada perbedaan yang jelas di antara keduanya. Ladys menggunakan kata ganti "saya" dan cenderung keras kepala, sementara Dias menggunakan kata ganti "aku" dan terkesan cuek. Mereka konsisten dengan kepribadian masing-masing dan muncul saling mengisi satu sama lain.
Ada dua hal dalam novel ini yang menonjol dan melekat kuat di benak saya. Yang pertama adalah setting Bali yang lagi-lagi digunakan oleh Suarcani. Settingnya terdeskripsi dengan apik dan rapi, cukup jelas bagi saya yang buta akan lokasi-lokasi di Bali. Suasana dan alam Bali terpotret dengan baik.
Yang kedua adalah dunia fotografi yang digeluti oleh Dias dan Ladys, segala istilah dan filosofi tentang potret memotret dituangkan dalam buku ini. Menarik karena Suarcani mampu menarik garis antara istilah fotografi dengan filosofi dalam hubungan antar manusia. Saya jadi merasa nyambung-nyambung saja dan nggak terbingungkan dengan istilah-istilah tersebut.

Yang saya rasa cukup drama hanyalah Ladys. Hahaha... pertama saya jengkel karena Ladys merasa nggak terima karena Dias 'sok pintar'. Haduuuh saya sempat benci karena dia menganggap Dias bego dan nggak ngerti apa-apa. Saya nggak suka ada orang yang meng-underestimate seseorang apa pun profesinya dan seperti apa penampilannya. Bahkan saat Ladys akhirnya 'tertonjok' fakta tentang Dias, saya masih belum puas.
Kemudian plin-plan dan ragu-ragunya Ladys menyikapi hubungannya dengan Esa itu bikin gemas-gemas jengkel. Pantaslah kalau Dias jadi murka, untuk alasan yang tepat.
Sementara Dias saya anggap karakter yang pas sebagai penyeimbang. Saya suka dengan sosoknya yang biasa aja. Nggak menonjol, tenang—nggak mudah terpancing dan yaah.. bego dalam urusan asmara. Khas cowok. *lalu saya dirajam para cowok* wkwkwk~
Esa sendiri pria yang gigih meski ngawur. Haha... Alasannya untuk tetap di samping Ladys itu egois sih. Nggak ada dewasa-dewasanya, tapi yaah saya akui dia pintar ngegombal sehingga bikin Ladys hilang logika.

Konflik dalam Rule of Thirds memang cukup menarik. Betapa kita bisa memiliki nasib yang sama dengan beberapa orang namun menyikapinya dengan cara yang berbeda-beda. Berduka dan berdamai karena kehilangan dan pengkhianatan dengan cara masing-masing. Betapa nasib kadang menyeret kita pada pola yang sama dengan yang dialami orangtua kita, entah kita sadar atau tidak.

Rule of Thirds bukan hanya menyoroti kisah cinta rumit antara dua-tiga orang saja, namun juga tentang drama keluarga. Yah, saya dibikin nangis juga oleh buku ini. Bukan hanya karena adegannya, tapi juga diksi yang digunakan Suarcani membuat momennya makin dalam. Memang, membaca novel ini bikin geregetan, bukan hanya karena tensi hubungan para tokohnya naik turun, tapi juga ditarik dan diulur. Lihat saja di bagian akhirnya, huh jantung saya rasanya mau copot karena saya kira endingnya bakal bikin saya sedih. Tapi ternyata aww... endingnya supeeerr manis. Sukak 😍

Jumat, 01 April 2016

[Blogtour: Review + Giveaway] The Stardust Catcher - Suarcani


Judul buku: The Stardust Catcher
Penulis: Suarcani
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-602-03-2644-3
Book available at: bukupedia.com




BLURB

"Apa harapanmu tahun ini?"

Joe: Punya alternatif lain untuk berbahagia selain dengan mencari pasangan.

Mela: Mendapat tambahan umut setidaknya empat tahun lagi, yah... biar bisa main remi lebih lama lagi sih.

Bermula dari secarik kertas dalam jaket di commuter line, Joe dan Mela bercengkerama lewat ask.fm. Selama setahun, hanya lewat media sosial itulah mereka berhubungan. Hingga Joe tertinggal rombongan saat liburan bersama teman-teman kuliahnya. Ia tersesat di Bali. Sendirian.
Saat itulah Sally Cinnamon muncul dan mengaku sebagai peri yang akan mempertemukan Joe dengan jodohnya. Wait, peri jodoh? Yang benar saja?
Ditemani Sally, Joe berusaha mencari rombongannya. Petualangan yang mempertemukannya dengan Mela, si spa therapist yang sekarat.
Apakah Mela jodoh yang dimaksud Sally? Apakah Joe benar-benar tersesat dan bukannya sengaja menghilang karena protes akan perceraian orangtuanya?


RESENSI

Di commuter line, Joe menemukan sebuah jaket di bangku yang hendak didudukinya. Saat memeriksa jaket itu, Joe menemukan kertas terlipat yang merupakan daftar tanya jawab akun ask.fm seseorang bernama Mela. Sejak itu Joe berkenalan dengan Mela melalui ask.fm dan saling melempar pertanyaan.
Meski tak banyak yg Joe tahu selain bahwa Mela sangat humoris dan merupakan seorang spa therapist.
Ketika kampusnya mengadakan karyawisata ke Bali, Joe mengikutinya dengan hati resah. Ini karena perceraian orangtuanya tinggal menghitung hari untuk disahkan oleh peradilan.
Selama perjalanan, Joe beberapa kali bertemu seorang gadis remaja dengan gaun putih berambut pirang panjang. Gadis yang tak dilihat oleh siapa pun!
Hingga tanpa terduga, Joe tertinggal oleh rombongan dan terpaksa berjalan kaki di tengah gelap malam mencari kantor polisi ditemani... si gadis yang hanya bisa dilihatnya. Gadis itu, Sally Cinnamon, mengaku sebagai peri jodoh Joe yang bertugas mempertemukan Joe dengan Mela. Sayangnya kesialan demi kesialan bertubi-tubi menimpa Joe. Membuat pemuda itu semakin kesal.
Sementara di sisi lain, Mela sang spa therapist, mati-matian berusaha menolak pendekatan yang dilakukan Oscar, salah satu kolega bosnya. Namun karena situasi mendesak, Mela yang yatim piatu dan membiayai kuliah adiknya, terpaksa meminta bantuan Oscar. Tak dinyana pelaku kriminal mengintai dirinya dan Oscar. Mela pun jadi korban penculikan.
Sang pemuda yang tersesat dan sang korban penculikan akankah mampu dipertemukan oleh peri jodoh nan centil? Ataukah takdir punya keajaibannya sendiri?

-----------

The Stardust Catcher menjadi novel Young Adult lokal pertama yang saya baca di tahun 2016 ini. Saya sangat bersemangat membaca novel ini karena novel ini lahir dari GWP (Gramedia Writing Project) dan ditemukan oleh editor favorit saya, Mbak Didiet. Jelas, saya nggak ragu lagi untuk menerima novel ini ke dalam pelukan.

Sejak awal membaca, saya terkesan dengan gaya menulis Suarcani, beberapa kali begitu romantis namun di kali lain begitu konyol. Hal ini membuat perjalanan saya mengikuti kisah Joe terasa menyenangkan.

Diceritakan dengan POV orang ketiga, secara bergantian saya diajak menyelami perasaan Joe, perasaan Mela, perasaan Oscar dan juga Sally. Meski tetap porsi terbesarnya adalah Joe dan kesialan yang menimpanya. Huhuhuuu...
Alurnya mengalir maju dan plotnya lumayan rapi. Runtutan kejadiannya silih berganti antara Joe dan Mela tapi mudah dipahami. Settingnya sangat detail terutama saat di Bali dan di Leeuwarden.

Saya cukup tertarik dengan karakter Joe, sebagai pemuda usia dua puluhan yang skeptis. Pemicunya mungkin karena proses perceraian orangtuanya dan ancaman kehadiran saudara tiri. Saya jadi penasaran, sudah seperti itukah Joe di masa kecilnya, atau sifat pemarah dan nyebelinnya ini baru ada setelah orangtuanya memutuskan berpisah? Tapi Joe lumayan menghibur karena... rada penakut. Hahaha... tapi sumpah kocak banget mengikuti kesialan demi kesialan Joe sampai saya merasa aduh, apa ini kesialannya nggak kebanyakan?
XD
Mela menurut saya menjadi gadis yang luar biasa kuat. Lucu, cerdas dan punya prinsip. Ini yang saya suka. Caranya berusaha menolak Oscar benar-benar keren, yaaah... walau akhirnya ia minta bantuan juga. Tapi ini membuat saya merasa Mela memang pemberani dan keren.
Si peri centil alias Sally tentunya bikin saya terharu. Banyak kalimat bijak yang dia katakan pada Joe. Sayang Joe-nya aja yang bebal, susah dikasih tahu. Tapi Sally benar-benar setia dan luar biasa sabar.
Hmm... tokoh dalam novel ini berbeda-beda tapi unyu semua :))
Yang paliiiiiing saya suka adalah interaksi Joe dan Mela di akhir cerita. Huiii... akrabnya bikin iri.

Secara keseluruhan saya suka novel ini. Romantisnya ada, konyolnya ada, bijaknya ada dan sedihnya ada. Berasa makan gado-gado komplet.

*************GIVEAWAY TIME***********



Naaah selamat datang di pembukaan Blogtour The Stardust Catcher.. saya punya satu eksemplar novel ini dan satu tas joger untuk satu orang yang beruntung.

Caranya gampang seperti biasa yaaa..

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau punya alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @alhzeta dan @KendengPanali lalu share giveaway ini dengan hashtag #TheStardustCatcher dan jangan lupa mention kami berdua.
3. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menyertakan Nama | akun twitter | alamat email

Jika kamu membayangkan seorang peri, seperti apa sosok peri dalam imajinasi kamu?

4. Giveaway berlangsung selama 6 hari dan ditutup tanggal 6 April 2016 pukul 23.59 WIB.
5. Yang terakhir... good luck ya ;)

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon