Tampilkan postingan dengan label Tiga Serangkai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tiga Serangkai. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 September 2015

[BlogTour + Giveaway] Namaku Subardjo by Hapsari Hanggarini - Caleg Lugu dan Penasehat Sotoy


Hallo pengunjung setia blog Nurina Mengeja Kata... kali ini saya jadi host ketiga untuk Blog Tour Namaku Subardjo karya Mbak Hapsari Hanggarini. Bagi kamu yang menginginkan novel ini gratis, yuk simak dulu resensi Namaku Subardjo dari saya, baru nanti di akhir resensi kita bakal bersenang-senang dengan giveaway-nya, ya ;)



Judul buku: Namaku Subardjo
Penulis: Hapsari Hanggarini
Editor: A. Mellyora
Desain sampul dan isi: Rendra TH
Proofreader: Hartanto
Penerbit: MetaMind, Imprint of Tiga Serangkai
Tahun terbit: Juli 2015
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 978-602-72834-0-4



BLURB

Pernah membayangkan kalau namamu--nama yang diberi orangtuamu--akan menentukan nasib percintaanmu?

Aku tak akan percaya kalau tidak menyaksikan sendiri kisah cinta kakakku berantakan hanya karena namanya Subardjo--nama yang menurut mantan pacarnya, nggak ngepop. Bahkan, tampang keren, uang yang bertumpuk di rekening tabungan, atau tongkrongan hebat yang kamu punyai tak cukup membantu, selain menjadi perantara untuk mengulur waktu, saat di mana cintamu diputus begitu saja tanpa penyesalan.

Lalu, apa yang kamu rasakan ketika namamu pun ikut menentukan perjalanan kariermu? Meski pertanyaan itu konyol, aku bisa menemukan sedikit kebenaran di sana, ketika kakakku mendadak menjadi seorang caleg. Ya, caleg yang harus mengabdi pada rakyat: mendengarkan dan memperjuangkan hak dan aspirasi mereka.

Apa hubungannya? Kamu akan menemukannya dalam cerita ini. Cerita yang berawal dari sebuah nama serta berakhir di tempat yang sama.


RESENSI

Ini kisah tentang Subardjo alias Jojo, cowok yang menurut Dina--adiknya--cukup ganteng berkulit hitam manis. Jojo merupakan seorang mahasiswa semester terakhir di Program D3 Teknik dan merupakan spesies hasil persilangan Brebes dan Sidoarjo. Tapi dia sudah dipercaya keluarganya untuk mengurusi arus distribusi telur asin di Jakarta. Bisnis telur asin tersebut sudah digeluti keluarga Jojo dan Dina sejak zaman kakek moyang mereka. Bisa dipastikan seberapa kayanya Jojo meskipun dia masih mahasiswa.
Maka tak heran Jojo berhasil menggaet cewek paling manis sekompleks. Setiap pagi Jojo rutin mengantar Ila ke kampus sekalian memberi tebengan pada bapak, ibu dan adik Ila, terkadang Aa', Teteh, Om dan Tante ikut nebeng juga. Sayangnya itu nggak membuat Ila puas, begitu tahu nama panjang Jojo adalah Subardjo thok, Ila langsung minta putus. Karena Ila ilfil dengan nama Subardjo dan sepertinya dianggap tidak cocok mendampingi namanya, Priscilla Catherine Olivianti. Jojo pun patah hati.
Saat itulah, Rudy, salah satu karyawan Jojo mengusulkan agar Jojo mendaftar jadi caleg di partai kenalannya yang baru saja didirikan, Partai Peduli Amat. Awalnya Jojo ragu, tapi dengan sigap Rudy terus membujuk hingga Jojo pun menurut. Dan mendaftarlah Jojo di Partai Peduli Amat untuk menjadi caleg mewakili dapil daerah asalnya Brebes.
Siapa sangka, upaya coba-coba Jojo malah membuatnya terperosok makin dalam. Jojo yang lugu, yang lurus dan gaptik alias gagap politik, didampingi Rudy si penasehat sotoy, ikut berkubang dalam hiruk pikuk kampanye. Hal itu membuat Dina takut kakaknya mulai kehilangan nurani.
Berhasilkah Subardjo lolos jadi caleg dan membuktikan apalah arti sebuah nama?

-------

Sebagai Juara Harapan Pertama Lomba Menulis Novel Remaja Seberapa Indonesiakah Dirimu? novel Namaku Subardjo membidik tema yang unik dan penulis mengolahnya dengan cerdas. Dunia politik yang semestinya bernuansa serius disajikan dengan lucu sambil tak lupa menyentil perilaku masyarakat kita.

Novel ini dikisahkan dari sudut pandang Dina, sang adik, sebagai aku. Riskan tentu saja, karena "aku" bukanlah si tokoh utama, tugas berat bagi "aku" untuk menunjukkan kepada pembaca polah tingkah Jojo selama nyaleg. Namun penulis cukup cermat membuat "aku" bisa bercerita tentang kegiatan Jojo tanpa pembaca merasa risih karena terus mengintili tokoh utama.
Hanya satu kali saat si "aku" tidak ikut kakaknya ke TKP, yaitu ketika Jojo pertama kali mendatangi kantor Partai Peduli Amat. Kronologi yang terjadi di tempat itu keluar dari mulut Jojo saat bercerita pada Dina. Itulah saat Jojo mengambil alih peran sebagai "aku" meski dicetak miring. Di bagian ini terus terang saya agak kurang sreg. Saya pikir tetap lebih enak mereka berdialog, sehingga Dina tetap bisa nyeletuk dengan bebas. Tapi saya tetap bisa ngikik-ngikik geli bin jijay kok. Tentu saja karena guyuran hujan lokalnya :)))))

Novel ini menyajikan tokoh yang beragam dengan karakter masing-masing yang konsisten. Sangat bisa dibedakan sifat-sifatnya bahkan dari dialognya. Saya merasakan kekuatan karakter para tokoh. Terutama sosok Ibu, yang meski muncul sedikit tapi pelitnya langsung nancap di kepala. :D
Narasinya lumayan, kadang lucu, kadang bikin mikir, kadang lebay, kadang garing, kadang bikin ngakak hebat. Dan semua tersaji dalam porsi yang pas. Hal yang sama juga terasa dalam dialog. Cukup menghibur dengan bahasa ngapak yang digunakan para tokoh dalam novel ini. Tapi eits jangan khawatir nggak paham, karena ada catatan kaki untuk setiap kalimat berbahasa ngapak yang digunakan. Bisa nambah wawasan, kan?

Saya rekomendasikan novel ini bagi para pembaca yang ingin nyaleg remaja sebagai pemilih potensial dalam pemilu. Wawasan politik novel ini disajikan dengan kocak dan menghibur. Namaku Subardjo adalah novel yang ringan namun sarat makna, novel ini bisa jadi potret tentang secuil dunia politik Indonesia yang mirip panggung komedi ;)


TEBAR-TEBAR QUOTE

Rezeki memang nggak dibagi berdasarkan keren nggaknya nama seseorang, ya. (hal. 35)

"Kamu pinter banget, sih bikin kata kerja! Dari 'caleg' jadi 'nyaleg' dan cara ngomong kamu bikin 'nyaleg' kedengerannya nggak jauh beda dengan kata 'nyangkul', 'nyabit', 'nyari', 'nyuci', dan sebangsanya. Jadi caleg kan nggak semudah yang kita pikirin, Dol." (hal. 37)

Akan tetapi kalau nasi sudah menjadi bubur, memang lebih baik langsung dimakan. Jangan tanggung-tanggung. (hal. 90)

Hidup cuma sekali, seharusnya dinikmati, bukan diisi dengan menyiksa diri. Sepanjang masih didapatkan dan digunakan di jalan yang benar, pasti bermanfaat. (hal. 93)

Setiap orang punya nama yang pasti punya makna atau harapan tersirat di sana. Pendapat orang nggak perlu terlalu dipusingkan, apalagi sampai bikin stres. (hal. 133)

"Rud, apa nggak ada cara lain untuk menarik simpati orang selain memanfaatkan musibah orang lain?" (hal. 197)

Apakah memang benar sudah sebegitu remang-remangkah kehidupan dunia politik dan kehidupan masyarakat kita hingga orang superbaik dan kuat yang masuk ke dalam sistem pun nggak bisa berbuat banyak untuk melakukan sebuah perubahan? (hal. 207)

--------********--------

Dan sekarang saatnya GIVEAWAY!!! Saya akan bagi-bagi stiker Subardjo!!! Hahaha... enggaklah, biar Rudy saja yang bagi-bagi stiker mohon doa restunya, saya sih cuma mau membagi satu eksemplar novel NAMAKU SUBARDJO dari Mbak Hapsari Hanggarini di sini ^^

Syaratnya mudah & nggak ribet, kok:

1. Peserta berdomisili atau punya alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @Hh_hapsari  penerbit @Tiga_Serangkai dan @KendengPanali 
3. Follow blog ini via email atau GFC
4. Share giveaway ini dengan hashtag #NamakuSubardjo dan mention ketiga akun di atas. Boleh juga mention beberapa temanmu supaya lebih ramai ;)
5. Jawab pertanyaan berikut dengan mencantumkan nama, akun twitter dan kota tinggal. Pertanyaannya adalah:

Jika kamu punya anak nanti, atau sudah punya anak, nama apa yang akan kamu berikan dan harapan atau doa apa yang kamu titipkan dalam nama tersebut?
Sedikit tips: yang saya pertimbangkan adalah harapan kalian dalam nama tersebut, karena bagus enggaknya sebuah nama kan relatif ;) 

6. Jawaban serumu saya tunggu sampai penutupan giveaway tanggal 27 September 2015 pukul 23.59 ya. Selamat menjawab dan semoga beruntung :))

Senin, 30 Maret 2015

Berpetualang dan Bermain Bersama Kodi, Si Kodok Yang Suka Menyanyi

Judul buku : Kodi, Si Kodok yang Suka Menyanyi
Penulis : Arleen A.
Editor : A Mellyora & Yenni Saputri
Desain sampul : @pras_santosa
Desain isi : @pras_santosa
Penata letak isi : Diyantomo
Ilustrator : KeMot
Penerbit : Tiga Ananda (creative imprint of Tiga Serangkai)
Jumlah halaman : 248 halaman; 24 cm
Tanggal terbit : Oktober 2014
ISBN : 978-979-045-772-0
Cara dapat : hadiah kuis dari penulisnya



BLURB
     Kodi adalah seekor kodok yang lucu. Ia tinggal di tepi kolam dengan kedua orang tua dan adiknya, Keni. Kodi suka sekali menyanyi dengan suaranya yang indah.
Di dalam buku ini, kalian akan mengikuti kisah-kisah Kodi, Keni, dan juga teman-teman mereka, seperti Geri Si Belalang, dan Tori Si Kupu-kupu. Ada kisah tentang Kodi yang pergi berkemah di dalam batang pohon, diadakannya olimpiade kolam, saat Kodi kehilangan suaranya, dan banyak lagi kisah lainnya. Ayo, baca buku Kodi ini dan ikuti petualangannya!


RESENSI


Sudah 4 tahun saya berburu buku anak seheboh berburu buku fiksi dan nonfiksi. Tentu saja alasannya karena saya ingin anak-anak saya juga gemar membaca dan tidak jadi dungu. Dan mencari buku anak yang perfect itu gampang-gampang susah.
Unsur yang saya cari dalam sebuah buku cerita bergambar adalah gambar yang imajinatif, kosa kata yang sederhana dan simpel, dan tentu saja pesan moral yang mudah dicerna anak. Dan kesemua hal itu lengkap terdapat dalam buku Kodi, Si Kodok yang Suka Menyanyi ini.

Dari desain sampulnya saja sudah mewakili kriteria saya. Judulnya yang besar-besar dan simpel itu dengan mudah dibaca oleh putra saya yang berusia 4 tahun. Tiga nukilan gambar Kodi di sampulnya telah menunjukkan sifat-sifat Kodi, seperti suka berteman dan percaya diri. Dan gambar Kodi yang menggandeng Keni itulah yang membuat saya berpikir, "Gotcha! Ini sempurna!" Yup! Sifat Kodi yang penyayang terhadap adiknyalah yang saya sukai.
Maklum saja sebagai ibu dengan dua putra, yang jaraknya hanya 3 thn, tentu agak sulit meyakinkan sang kakak bahwa kasih orang tuanya tetap sama seperti dulu. Bahwa si kakak juga harus menyayangi si adik karena si kakak akan jadi role model bagi adiknya. Tentu saja putra pertama saya sayang pada adiknya tapi saya ingin hubungan mereka bisa erat. Huhuuu saya malah curhat… :l

Cerita bergambar ini berisi 10 cerita:

1. Kodi, Si Kodok yang Suka Menyanyi
2. Kodi Kehilangan Suara
3. Kodi dan Peluit
4. Olimpiade Kolam
5. Mahkota yang Hilang
6. Pergi Berkemah
7. Kakak yang Hebat
8. Liburan yang Menyenangkan
9. Todi Datang Berkunjung
10. Kodi Tampil di Atas Panggung

Bagaimana? Sudah ada gambarankah tentang kisah-kisah di dalamnya? :) Dari judul-judulnya pun telah terlihat keseruan petualangan Kodi. Dari kesepuluh cerita itu, kisah yang saya suka adalah… semuanyaaaaa!! XD

Arleen begitu jeli dan cerdik memasukkan pesan-pesan keteladanan dalam cerita-ceritanya. Kisah Kodi pun kisah yang mudah kita temui dalam keseharian anak sehingga anak-anak akan merasa akrab dengan ceritanya. Alurnya menarik dan penyelesaian masalahnya patut dicontoh.

Saya juga menyukai bagian awal dan akhir cerita. Di awal cerita selalu dimulai dengan kalimat tanya yang akan merangsang rasa penasaran anak, seperti:

     Ketika tersesat, Kodi malah menyanyi. Apakah itu bisa membawanya pulang? (Hal 9)

     Suara Kodi tiba-tiba hilang! Bagaimana cara mendapatkan kembali? (Hal 33)

     Kodi sangat menyukai peluit Boci. Namun apakah ia akan menyimpan peluit itu untuk dirinya sendiri? (Hal 56)



Tentu saja anak-anak jadi tidak sabar membaca ceritanya. Jangankan anak-anak, saya saja ikut penasaran :))

Dan cerita akan diakhiri dengan kuis yang menanyakan seputar kisah sebelumnya. Model kuisnya pun bukan hanya sekedar kalimat pertanyaan, tapi dikemas dalam bentuk game menelusuri jejak.
Wow! Brilian menurut saya. Karena anak-anak mana yang tidak suka menelusuri jejak? Hal ini juga akan membantu orang tua untuk mendapati sejauh mana pemahaman anak terhadap cerita.

Sebagai cerita bergambar tentu saja bagian terpenting adalah gambarnya. Menurut saya gambarnya simpel, imajinatif, cantik dan sesuai perspektif anak. Ketika saya melihat gambar pohon dalam buku ini, saya jadi ingat kalau anak saya beberapa waktu lalu sempat menangis karena tidak bisa menggambar pohon. Ia hanya bisa membuat lingkaran di atas batang pohon untuk menggambarkan dedaunan, ia frustasi karena tidak bisa membuat kurva-kurva melengkung seperti di gambar-gambar pepohonan kebanyakan. Saat saya tunjukkan gambar pohon dalam buku ini padanya, ia pun tertawa dan kembali melukis seperti yang ia imajinasikan. Lingkaran-lingkaran di atas batang pohon. Oh, betapa saya bersyukur karena buku ini. Ilustratornya benar-benar memahami anak-anak.

Untuk kosa kata yang dipilih penulis, layak diacungi jempol karena sederhana dan mudah dicerna anak-anak. Nama-nama tokoh juga mudah dibaca,dilafalkan dan diingat anak. Beberapa buku anak menuliskan kata-kata sulit yang kadang membuat anak-anak bertanya apa artinya, tapi saat anak saya membaca buku ini dia sangat paham makna tiap katanya.

Jika ada kekurangan dalam buku ini saya rasa hanya terletak pada interactive game-nya. Menurut saya akan lebih menarik jika permainannya dibuat beragam, tidak hanya menelusuri jejak saja. Mungkin bisa permainan mencari perbedaan atau melengkapi puzzle :)

Buku ini saya rekomendasikan untuk para orang tua yang suka membacakan cerita bagi putra-putrinya, guru TK-Sekolah Dasar karena saya pun menggunakannya untuk alat peraga mengajar membaca dan mendongeng, juga untuk anak-anak yang sedang belajar membaca atau malah telah lancar membaca.

Sedikit tips untuk para orang tua:
Saat membacakan cerita ini untuk balita, coba tunggu jawaban putra-putri anda setelah anda membaca kalimat tanya yang biasa ada di awal kisah. Dengar apa jawaban mereka dan anda pasti akan tersenyum mendengar betapa ajaibnya jawaban-jawaban mereka.

Saya beri 5 bintang untuk buku ini. Terima kasih Mbak Arleen dan timnya yang telah membuat karya yang mengagumkan :)



 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon