Tampilkan postingan dengan label dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dewasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

[Resensi: The Harlot Countess - Joanna Shupe] Pembalasan Dendam Sang Countess

Judul buku: Masa Lalu Sang Countess
Judul asli: The Harlot Countess
Penulis: Joanna Shupe
Alih bahasa: Nin Bakdisoemanto
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Juni 2016
Tebal buku: 426 halaman
ISBN: 978-602-02-8753-9



BLURB

Maggie, Lady Hawkins, memiliki debut yang lebih suka dilupakannya—bersama pernikahan pertamanya. Kini, kartunis politik itu adalah seorang wanita baru. Seorang wanita yang benar-benar modern. Sedemikian modern sampai-sampai khalayak ramai memercayai bahwa dia adalah seorang laki-laki...

FAKTA: Menggambar menggunakan nama samaran laki-laki, Maggie dikenal sebagai Lemarc. Objek favoritnya: Simon Barrett, Earl of Winchester. Pria itu adalah bintang yang baru naik pamor di Parlemen—dan mantan orang yang dipercaya dan dicintai Maggie, tapi memercayai rumor yang sampai detik ini masih menyakitkan bagi Maggie.

FIKSI: Maggie adalah Perempuan Jalang Setengah Irlandia yang merayu suami sahabatnya pada malam pernikahan mereka. Wanita ini harus ditakuti dan dibenci karena dia akan mengangkat roknya kepada lelaki mana pun.

Masih hancur oleh pengkhianatan Simon, Maggie tidak berniat membiarkan seluruh ton menghancurkan dirinya. Malah, kartun Lemarc telah membuat Simon menjadi bahan tertawaan ... tapi sekarang sepertinya Maggie mungkin telah salah mengenai apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, dan bahwa Simon diam-diam merindukan dirinya sejak ... lama sekali. Mungkinkah pada akhirnya hati lebih kuat daripada pena dan pedang?


RESENSI

Disakiti oleh seseorang yang pernah kita cintai, tentunya sungguh menyesakkan. Membuat hati dipenuhi oleh amarah dan dendam. Maggie mengubah rasa dendam itu menjadi sesuatu yang produktif, yang bisa membuatnya puas: membuat karikatur tentang Simon Barret, Earl of Winchester. Karikatur Winejester yang mengolok-olok Simon, dan menjadi perbincangan panas di kalangan atas. Tak ada yang akan mencurigai Maggie karena ia menggunakan nama samaran laki-laki, Lemarc.

Novel ini dibuka dengan adegan pertemuan kembali antara Simon dan Maggie setelah perpisahan mereka yang menyakitkan sepuluh tahun lalu. Pertemuan yang menunjukkan kepada pembaca bahwa ternyata mereka masih punya perasaan mendamba terhadap satu sama lain. Dari sisi Maggie, sebenarnya jelas, bagaimanapun ia tetap melukis Simon walau dalam bentuk olok-olok. Hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya ia tak bisa melepas ingatan akan Simon.
Sebenarnya, premis cinta lama bersemi kembali dan dendam asmara selalu menarik minat baca saya, terutama jika berbau-bau skandal. Ini sebabnya saya langsung bersemangat untuk menuntaskan novel ini begitu membuka halaman pertamanya.

The Harlot Countess pada awalnya bersetting di London pada tahun 1819. Isu politik yang diangkat dalam novel ini adalah tentang hak wanita korban perkosaan. Simon sendiri merupakan bagian dari Parlemen yang cukup disegani, tentu saja kedudukan ini diperoleh secara turun temurun dalam sejarah keluarganya. Ia meneruskan jejak para pendahulunya untuk menjadi bagian dari Parlemen, walau tetap saja, ia telah bekerja keras membangun sekutu untuk membuatnya disegani. Hingga muncullah karikatur Winejester yang menjadi olok-olok bagi sosok Simon. Meskipun justru kartun itu malah semakin meningkatkan pamornya.

Simon sendiri di depan dan di belakang Maggie sungguh sangat bertolak belakang. Mungkin memang benar, jika pria sudah cemburu buta, ia akan bersikap sangat tolol. Banget. Sepanjang kisah ini, saya cukup jengkel dengan asumsi-asumsi dan penghakiman yang dibuat oleh Simon terhadap Maggie. Sungguh, dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk tetap diam menerima tuduhan itu dan menghitung kapan waktu terbaik menjatuhkan bom untuk menyadarkan si dungu Simon.

Maggie menjadi representasi kaum wanita di era tersebut yang masih kesulitan untuk melawan kaum pria. Meskipun sama-sama berstatus bangsawan, nyatanya toh khalayak tetap mempercayai para pria. Seandainya ada perempuan yang muncul dari kegelapan dengan pakaian terkoyak, wanitalah yang disalahkan. Wanitalah yang dianggap penggoda dan pelacur. Sungguh saya mengagumi kekuatan diri Maggie untuk tetap berdiri tegak saat tudingan-tudingan diarahkan padanya, saat kalangan atas mengucilkannya, saat lelaki yang ia percaya akan membelanya ternyata ikut berpaling. Maggie mampu menghadapi segala sakit hati itu selama sepuluh tahun dan produktif. Sungguh saya jatuh cinta pada ketabahan dan kekuatannya.
Walau mungkin agak disayangkan, setelah ia menjanda dan bertemu kembali dengan Simon, ia dengan mudahnya takluk kembali pada pesona Simon. Beberapa wanita mungkin akan menganggap Simon tak layak mendapatkan maaf, dan betapa murahannya Maggie karena mudah melompat ke ranjang Simon. Well, saya sendiri sebenarnya maklum. Hahaha... sebagai seorang janda yang pernikahannya kering akan cinta, dan betapa ia masih mencintai Simon, saya maafkan kalau seandainya Maggie memang jadi bitchy saat bersama Simon.
Lagi pula, dari sudut pandang Simon, saya sudah menangkap penderitaannya. Simon masih terlihat tergila-gila dan posesif hingga rasanya menyakitkan terhadap Maggie.

Saya sangat menikmati membaca novel ini, narasi, deskripsi, dialog dan chemistry-nya pas banget. Konfliknya juga cukup seru dan menegangkan. Adegan ranjangnya bertebaran dengan penerjemahan yang cukup bagus. Sepertinya saya bakal memasukkan nama Joanna Shupe sebagai penulis historical romance yang layak dibaca.

Jumat, 10 November 2017

[Resensi: Telembuk - Kedung Darma Romansha] Menelusuri Jejak Pahit Kehidupan Sang Telembuk

Judul buku: Telembuk
Sub judul: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat
Penulis: Kedung Darma Romansha
Penyunting: Dian Dwi Anisa
Pemeriksa aksara: Maria Puspitasari
Cover: Nugroho Daru Cahyono
Penata letak: Azka Maula
Penerbit: Indie Book Corner
Tahun terbit: Mei 2017
Tebal buku: 414 halaman
ISBN: 978-602-3092-65-9



BLURB

Roman ini menunjukkan keseriusan menjelajahi secara kritis pengalaman penulisnya di tanah tumpah darahnya sendiri. Memeriksa timbunan pengetahuan lokal dan mengartikulasikannya dengan bahasa etnografis pengalaman keagamaan dan godaan seksualitas sebuah hiburan. Yang suci dan profan, yang sakral dan banal bercampur membentuk cerita yang memikat.
Muhidin M. Dahlan

Novel Kedung Darma Romansha ini bercerita tentang dunia prostitusi, panggung dangdut, pergaulan para pemabuk dan tukang kelahi. Adegan seks dan kata-kata kasar bertaburan. Namun uniknya, novel ini tidak terkesan vulgar. Mengapa demikian? Saya rasa hal itu terkait dengan nada penulisan dan posisi narator. Narator berada pada posisi netral: dia tidak memberi penilaian moral apapun, baik dalam arti menghakimi perilaku tertentu, maupun sebaliknya, yaitu merayakan atau membela perilaku yang berada di luar standar moralitas yang menjadi pegangan mayoritas orang Indonesia. Di samping itu, penulis menaruh perhatian pada detail-detail penggambaran suasana, juga bahasa dan gaya pergaulan lokal, yang terkesan cukup realistis dan berbasis pada riset lapangan. Dengan demikian, lingkungan dan perilaku manusia yang diceritakan sekadar hadir sebagai sesuatu yang memang eksis, dan menarik sekali-sekali dilirik, serta dimasuki lewat dunia khayal sebuah novel. Mau dihakimi, dinikmati, atau sekadar diamati, itu terserah pembaca.
Katrin Bandel, kritikus sastra


RESENSI

Aan merupakan remaja belia yang telah empat tahun meninggalkan desanya untuk mesantren di Jogja. Namun ia selalu pulang ke Imdramayu setiap libur caturwulan tiba untuk melepas rindu kepada suasana desa dan teman-teman masa kecilnya yang nakal. Jika liburan tiba, ia akan pergi bersama teman-temannya untuk menonton dangdut dan tarling. Saat itulah Aan melihat Diva Fiesta sang bintang dangdut. Perhatian Aan begitu tersedot pada gadis itu, ia merasa mengenali sosok yang goyangannya mampu membuat hati para lelaki berdesir itu. Merasa penasaran ia pun mngajak Govar dan Kriting untuk membuntuti Diva dan memastikan kecurigaannya.
Dari sinilah kisah ini kemudian bergulir, rahasia-rahasia Diva dan kaitannya dengan menghilangnya Safitri perlahan mulai terungkap. Perjalan hidup Diva, kisah pilu Safitri, cinta Govar yang lama terpendam, kenangan Aan akan gadis yang pernah dipujanya, Mukimin dan cintanya pada Safitri yang timbul tenggelam, perasaan-perasaan yang muncul di benak mereka masing-masing, semua berkelindan dan membentuk jalinan cerita yang kian kelam, kian suram.
Akankah rahasia besar itu terungkap, akankah ada kebahagiaan bagi orang-orang yang telah mencicipi getirnya hidup ini?

------------------------------------------

Didorong oleh rasa penasaran saya akan nasib Safitri yang raib di akhir Kelir Slindet, saya pun mengejarnya hingga ke novel Telembuk. Konon kabarnya, segala jawaban dan penyelesaian akan nasib Safitri ada di dalam buku ini. Saya pun kemudian berharap kegelisahan dan kekepoan saya bisa terpuaskan melalui Telembuk.
Bagi kalian yang masih blank tentang apa sih telembuk dan slindet itu, seperti pertanyaan yang dilontarkan beberapa kawan saya saat mereka tahu saya membaca novel ini, akan saya sampaikan secara singkat saja. Telembuk adalah istilah lokal untuk pekerja seks komersial, sedangkan slindet adalah telembuk yang masih belia, dengan kisaran usia belasan. Nah... nah... jangan dulu buru-buru mengerenyit atau menuding karena mungkin siapa tahu jalan hiduplah yang membuat mereka begitu, seperti yang terjadi pada Safitri....

"Tidak apa-apa, Diva. Biar kamu tahu, bahwa hidup kadang dipaksa untuk melakukan dosa." ~ Mak Dayem (hlm. 71)

Ini adalah babak baru dari kehidupan Safitri. Bagaimana ia berusaha bangkit setelah dituding dan dijatuhkan oleh asumsi dan opini masyarakat. Ia kabur dari desanya, saat usianya masih 15 tahun, karena tak tahan dengan gunjingan, tekanan dan cibiran, serta orang-orang yang meninggalkannya sendirian. Tak ada penopang, tak ada pengayom. Bahkan orang tuanya sendiri sibuk berkubang dalam rasa malu. Bisakah dibayangkan ke mana anak gadis seusia itu pergi sendirian tanpa tujuan?

Dengan mulut kalian, kalian bisa mengubah nasib seseorang jauh lebih buruk. Itulah mulut. Kalian boleh tertawa. Menertawakan diri sendiri. Karena kesenangan kalian belum tentu menjadi kesenangan orang lain. ~ Safitri (hlm. 193)

Walau tahun beranjak, walau rezim berganti, nasib masyarakat Cikedung nggak ada perubahan. Pola kehidupan mereka masih sama seperti sebelumnya. Anak-anak gadis yang dianggap tak perlu sekolah tinggi, pernikahan dini, gaya hidup kaum lelakinya yang mendorong kaum wanita untuk menjadi TKW ke luar negeri, dan kebanyakan rata-rata akhirnya berujung pada perceraian. Perceraian di usia muda inilah yang mendorong para wanita yang nggak punya bekal pendidikan atau keahlian akhirnya memilih menjadi telembuk. Terpola. Terus menerus seperti itu sehingga lama-lama profesi telembuk dianggap wajar.

Meskipun novel ini merupakan lanjutan dari novel Kelir Slindet, tapi pembaca nggak perlu khawatir jika belum pernah membaca Kelir Slindet, karena di awal kisah Telembuk, ada ringkasan kisah awal Safitri dan Mukimin seperti yang dikisahkan dalam Kelir Slindet. Bahkan di dalam Telembuk diungkapkan juga beberapa adegan yang ternyata disensor dalam Kelir Slindet.
Yang menarik dan sejujurnya lumayan bikin saya mengerutkan kening adalah gaya narasinya yang berbeda dengan Kelir Slindet. Dalam Telembuk saya dilempar dari satu narator ke narator lainnya. Rasanya persis seolah saya sedang menelusuri jejak Safitri dan mendengarkan cerita orang-orang yang kemungkinan mengerti bagaimana nasib Safitri. Baru saya sadari bahwa, ya, saya dibuat seolah sedang memburu kisah Safitri dari satu orang ke orang yang lainnya. Sehingga kisah Safitri yang saya dapat bukanlah sebuah dongeng belaka dari seseorang yang serba tahu, tapi dari orang-orang yang telah, sedang dan pernah berinteraksi dengan Safitri.
Walau tetap saja saya merasa "intermeso" bagaimana para tokoh tiba-tiba muncul dan menggugat sang narator sedikit menggelikan, karena saya jadi sedikit meragukan kebenaran fakta yang telah diungkapkan oleh narator. Narator dalam Telembuk ini di mata saya nggak lagi seperti narator-narator di novel lain yang bisa sangat terpercaya kebenarannya, tapi menjadi orang biasa yang jika saya dengarkan ceritanya, saya masih meragukan benar nggak sih ceritanya???? Kirik!

Namun walau cerita tentang Safitri membuat saya ragu, lain halnya dengan latar yang disajikan dalam novel ini. Kedung Darma Romansha masih memberikan nuansa kedaerahan yang kental, masih menunjukkan dengan gamblang latar sosial masyarakat Indramayu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kultur yang mengemuka dalam novel ini terasa kuat dan membuatnya tampak sangat nyata. Ya, sekali lagi saya yakin ini bukan dongeng.

Pasti kalian ingin tahu siapa yang menghamiliku. Kenapa kalian harus tahu? Sepenting itukah aku bagi kalian? Lalu ketika kalian tahu siapa yang menghamiliku, kalian akan merasa puas? (hlm. 192)

Eng...ing...eng... coba bagaimana rasanya disinisin oleh tokoh utama cerita yang sedang kalian baca? >.< 
Di titik inilah saya merasa mulai malu pada Safitri, saya merasa telah melanggar privasinya karena telah mengintip kehidupannya, menelanjangi kisah asmaranya, dan terus menduga-duga siapa yang menghamilinya. Lalu... apa bedanya saya dengan masyarakat yang dengan lidah mereka telah menghakimi Safitri?
Saya bukan siapa-siapa yang bisa masuk ke dalam cerita dan menuntut keadilan bagi Safitri, kan?

Membaca novel ini pada akhirnya bukanlah untuk menghakimi Safitri, Mukimin, Carta, Mang Alex, Mak Dayem, Govar, Sini, Saritem, Sondak atau siapa pun juga. Membaca novel ini adalah masuk ke kisah panjang perjalanan seorang telembuk yang dikemas Kedung Darma Romansha dengan begitu naturalnya. Masuk berarti memahami, masuk berarti menjadikan rahasia dan liku kehidupan Safitri sebagai bagian dalam ingatan saya. Pilihannya adalah, menyimpannya untuk diri sendiri atau menyebarkan cerita ini kepada orang lain. Nah, jadi apakah kalian ingin mendengarkan kisah ini? 😏



Minggu, 13 November 2016

[Resensi] Typo - Christian Simamora

Judul buku: Typo
Penulis: Christian Simamora
Editor: Alit Tisna Palupi
Designer sampul: Dwi Anissa Anindhika
Ilustrasi isi: Maillor
Penerbit: Twigora
Tahun terbit: Juli 2016
Tebal buku: 476 halaman
ISBN: 9786027036277



BLURB

KETIKA TUHAN TAK MERENCANAKAN
LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK BERJODOH,
PARA ORANGTUA AKAN TURUN TANGAN 
UNTUK MENYATUKAN MEREKA. 

Di usianya yang keempat belas tahun, Maisie Varma dijodohkan dengan Josh Mallick oleh kedua ayah mereka. Meskipun sama-sama tak suka dengan keputusan sepihak itu, Mai dan Josh memilih untuk belajar beradaptasi dengan satu sama lain ketimbang membangun nyali untuk menentangnya. 

Tapi kemudian, di malam pergantian tahun, Oma Josh yang baru mendengar tentang perjodohan itu langsung protes keras. Bukan itu saja, beliau memaksa para ayah untuk membatalkan pertunangan malam itu juga. Semuanya pun kembali seperti semula—kecuali bagi Mai. Dia sungguh-sungguh tak menyangka, status tunangan Josh selama beberapa hari membuatnya jatuh cinta untuk kali pertama.

Novel #jboyfriend kali ini merupakan kronologis cinta putri satu-satunya keluarga Varma. Tentang gelenyar yang membungkus perasaan Mai dalam bahagia, juga tentang hal-hal manis yang membuat pipinya sering merona merah. 

Novel ini juga akan bercerita banyak tentang anak bungsu keluarga Mallick. Si mantan tunangan yang bertanggung jawab membuat Mai jatuh hati sekali lagi, juga yang mengingatkannya bahwa perasaan itu tak lebih dari sekadar typo. Kesalahan hati yang harus Mai koreksi. 


Selamat jatuh cinta,

CHRISTIAN SIMAMORA 


RESENSI

What your heart feels now is a typo... (hlm. 348)

Sejak kemunculan novel ini saya sibuk bertanya-tanya sendiri, mengapa judulnya TYPO? Tadinya saya kira ini singkatan, tapi ternyata judulnya memang Typo, yang merujuk pada typography. Nah...nah... apa pula hubungannya novel romance dengan kesalahan eja? Jelas saya makin penasaran.

Saya lumayan keder juga dengan ketebalannya, dan ternyata saya memang kesulitan menyelesaikan novel ini. Rasanya nggak kelar-kelar juga. Bagi saya, Typo memang cukup membosankan di awalnya, beberapa adegan terasa klise, bagi pembaca romance seperti saya, bisa dibilang sudah ratusan kali saya mrmbaca adegan jilat-emut jari. Atau pijit-kaki-lecet-karena-sepatu. Biasanya saya suka adegan-adegan novel Christian Simamora yang cheesy tapi unik, punya cita rasa sendiri, tapi di dalam Typo adegan cheesynya terasa boring dan biasa.
Untungnya seorang teman menyemangati saya dan menyuruh saya membaca sampai akhir. Yah, tanpa disuruh pun sebenarnya saya pasti bakal membaca tuntas. Saya bukan jenis pembaca DNF, apalagi ini novel penulis favorit saya. Dan benar saja, setelah setengah buku berlalu, novel ini makin seru.
Adalah adegan tarik ulur yang saya suka. Apalagi adegan Josh merana. Huaaa... Saya suka bangeeeeett. Wkwkwk~
Bicara soal adegan, favorit saya adalah saat Josh menawarkan page marker yang sengaja dibawanya. Awww... itu sweet banget buat saya. Tindakan paling manis dari seorang cowok adalah ketika dia menyadari apa yang dibutuhkan ceweknya dan membekali dirinya sendiri.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan fokus utama bergantian pada Josh dan Mai. Settingnya mengambil tempat di Jakarta dan Bali. Detail tempatnya juara banget, Christian Simamora selalu bisa menyertakan pernik yang seru untuk mendeskripsikan settingnya. Seperti novel-novel sebelumnya juga, detail tentang busana bertaburan di dalam Typo. Gaya bertutur yang lincah membuat novel ini enak diikuti, dialognya pun menunjukkan betapa kuat chemistry antar tokohnya.

"Relationship itu lebih dari sekadar berpelukan, berpegangan tangan, berciuman... Relationship isn't about who you can see your life with, but who you can't see your life without." (hlm. 31)

Christian Simamora memang paling jago untuk ngajak baper. Bukan hanya dialog yang quotable tanpa berkesan menggurui, tapi novelnya juga selalu menyajikan quote-quote keren di awal bab dan yang lebih menggoda lagi adalah ilustrasi yang kece badai. Benar-benar memanjakan saya yang menyukai novel historical romance.
Apalagi, Mai digambarkan sebagai seorang readet yang  gemar melahap novel-novel karya Carina St. Tropez. Mungkin itulah yang bikin saya merasa terkoneksi dengan Mai. Saya merasa nyambung dengannya.

Karakter dalam novel ini loveable banget. Baik Josh maupun Mai. Tentang Mai saya suka karena dia cerdas, mandiri dan seru. Saya suka ikatan persahabatannya dengan Duchess, bersahabat dengan orang-orang yang sangat berbeda dengannya, tapi Mai tetap jadi diri sendiri. Saya suka gayanya.
Sedangkan Josh benar-benar adorable. Tindak-tanduknya manis banget dan penuh perhatian. Dan saya juga suka dengan hubungannya yang mesra dengan kakak-kakaknya. Super sweet.

Adegan panasnya saya anggap lumayan hot. Selain lebih dari sekali, gambarannya juga cukup detail. Seru dan nggak monoton karena Mai dan Josh bisa dibilang mencoba beberapa posisi. So, novel ini memang benar-benar novel dewasa sesuai dengan labelnya yang ada di halaman belakang.
Maka saya rekomendasikan novel ini buat para pencinta hisrom, buat para ratu baper seperti Mai, dan tentunya buat kalian yang telah dewasa ;)

Rabu, 05 Oktober 2016

[Resensi] Beauty Touch The Beast - Skye Warren

Judul buku: Beauty Touch The Beast
Penulis: Skye Warren
Edisi: Kindle Edition
Tahun terbit: November 2011
Tebal buku: 30 halaman
ASIN: B006Q648F0



BLURB

Erin cleans Mr. Morris's house twice a week, soaking up every moment with the reclusive ex-soldier she secretly loves. Blake Morris knows he's scarred both inside and out and is no good for the beautiful young woman who cleans his house to pay for college. But when Erin walks in on Blake touching himself and moaning her name, all bets are off.


RESENSI

Sebagai pekerja yang datang dua kali seminggu untuk membersihkan rumah Blake Morris, Erin sebenarnya memendam rasa terhadap bosnya tersebut. Ia menikmati pembicaraan mereka dan menyukai Blake apa adanya. Namun, karena menyadari dia hanyalah pelajar biasa yang perlu mencari tambahan uang dengan bekerja kasar, Erin hanya bisa berdiam diri. Hingga ketika tiba waktunya ia membersihkan rumah Blake, ia tak sengaja melihat Blake, di atas ranjangnya, sedang menuntaskan hasrat seksualnya. Bukan hanya itu yang membuat Erin terkejut, tapi juga saat di puncak kenikmatannya, Blake menyebutkan nama Erin.
Malu karena terpergok, Blake berusaha menjauh, namun akankah Erin menerimanya begitu saja? Saat ia tahu ia menjadi obyek fantasi dari pria yang dicintainya?

--------------------

Beberapa hari yang lalu, setelah saya menyelesaikan Owning Her Beast dari Alexa Riley, saya meniatkan diri untuk membaca novel atau novella yang berdasarkan dongeng Beauty and The Beast. Sebagai dongeng favorit saya, saya memang nggak pernah bosan dengan kisah cinta yang serupa. Dan kemudian seorang teman merekomendasikan novella super pendek, Beauty Touch The Beast karya Skye Warren ini. Novella ini sendiri merupakan bagian pertama dari serial Beauty.

Beauty Touch The Beast dikisahkan menggunakan sudut pandang orang ketiga secara bergantian dari sisi Erin dan Blake. Dual POV ini lumayan berimbang dan menggambarkan dengan tepat perasaan mereka masing-masing. Cukup mengejutkan bagi saya karena biasanya novel erotica tipe fast-insta-love menggunakan sudut pandang orang pertama. Namun, menyebut Beauty Touch The Beast sebagai bagian dari erotica pun rasanya kurang tepat. Karena, plotnya begitu jelas dan rapi. Bukan main adegan panas tanpa sebab musabab jelas hingga hampir absurd seperti novel erotica kebanyakan.
Latar belakang juga pekerjaan Erin dan Blake sebenarnya cukup seru jika lebih digali, karena saya pikir akan lebih baik lagi jika dideskripsikan atau dinarasikan dengan lebih detail. Misal mengapa Blake bisa penuh luka, bagaimana Blake bekerja, bagaimana keseharian Erin di luar rumah Blake. Pasti Tapi semoga saja nanti segala pertanyaan itu akan terjawab di buku keduanya. Jalan ceritanya runut dan disusun secara rapi. Meski adegan pembukanya sangat mengejutkan tapi toh kedua tokoh utama saling mampu menahan diri. Adegan seksnya pun nggak sevulgar novel erotica yang lain, bahkan dirty talknya juga terkesan lebih puitis. Wkwkk~

Mengenai karakter kedua tokoh, saya merasa Erin dan Blake benar-benar gambaran Belle dan Beast versi modern yang "nakal". Tapi rasa rendah diri Blake sungguh menyentuh. Blake sadar dirinya cacat dan buruk rupa, bekas-bekas lukanya nggak enak dilihat. Beberapa kali dia memalingkan wajah dan bahkan di atas ranjang dengan kebesaran hati dia meminta Erin menganggapnya sebagai pria lain. Duh Blake. Saya mendapati saya tersentuh akan gerak-gerik dan sikap Blake.
Sementara Erin benar-benar gadis yang saya rasa tahu apa yang dia inginkan dan berani melakukan sesuatu untuk mendapatkannya. Tekadnya mirip seperti Belle. Dia berani maju saat Blake melangkah mundur. Saya yakin pula dia punya pertimbangan dan siap menanggung segala risiko di hadapannya.
Dan yang bikin saya jatuh hati pada pasangan ini adalah jarak usia mereka yang jauh. Pembaca setia review saya pasti tahu kalau saya tergila-gila pada kisah cinta antara dua karakter yang usianya terpaut jauh. Beberapa mungkin tahu alasannya. Tapi sayangnya, Beauty Touch The Beast nggak menjelaskan dengan pasti berapa usia mereka sebenarnya. Hanya diungkapkan bahwa dengan usianya, Blake sepantasnya menjadi ayah Erin.

Sayangnya Beauty Touch The Beast ini begitu pendeknya hingga habis dibaca hanya dalam sekali jongkok. Beneran. Bukan hanya sekali duduk saja, karena memang singkat banget. Padahal plotnya sangat menjanjikan dan pasti akan lebih menarik lagi dengan dua atau tiga bab tambahan. Meski kepadatan kisah ini memberi rasa puas juga.
Yang pasti novella super singkat ini menarik minat saya untuk melanjutkan kisahnya ke buku kedua, Beneath The Beauty. Karena karakter tokohnya yang Beast banget, jalan ceritanya yang menjanjikan dan gaya bertutur Skye Warren yang asyik. Smut yang manis dan romantis tanpa kesan dirty. Tapi tetap saja saya sarankan hanya untuk pembaca dewasa (dewasa dalam pengertian mental, sih), dan sepertinya nggak akan cocok dibaca di tempat umum. You know why, lah ya. Hihihi...

Minggu, 28 Agustus 2016

[Resensi] Bared To You - Sylvia Day

Judul buku: Terbuka Untukmu
Judul asli: Bared To You
Seri: Crossfire #1
Penulis: Sylvia Day
Alih Bahasa: Iingliana
Editor: Hetih Rusli
Cover: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2013
Tebal buku: 446 halaman
ISBN: 9789792298604



BLURB

Gideon Cross memasuki hidupku seperti petir dalam kegelapan....

Pria itu tahu dirinya tampan, cerdas, dan memesona. Baru pertama kali aku tertarik pada seseorang seperti aku tertarik padanya. Aku mendambakan sentuhannya yang mampu membuatku luluh. Aku wanita yang tidak sempurna dan membawa luka masa lalu, namun dia bisa membuka diriku dengan mudah...

Gideon tahu. Dia memiliki hantu-hantu masa lalunya sendiri. Kami berdua saling memahami luka-luka batin... dan tak bisa memungkiri hasrat yang bergelora di antara kami. Ikatan cintanya mengubahku, aku berharap semoga rahasia kami di masa lalu tak membuat aku dan Gideon berpisah... 


RESENSI

Eva Tramell baru saja pindah ke New York dan menghuni apartemen barunya bersama Carry, sahabat prianya. Saat ia sedang berusaha melihat kantor barunya, tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang pria yang langsung mengguncang hasratnya. Perasaan yang tampaknya tak bertepuk sebelah tangan karena di hari berikutnya, pria itu menyapa Eva dan menunjukkan sikap bahwa ia pun tertarik pada Eva.
Hingga Eva mengenalnya sebagai Gideon Cross, sang pemilik Cross Industries. Tanpa tedeng aling-aling, Gideon dengan jelas dan lugas menyatakan hasratnya terhadap Eva.

--------------------

Ada banyak alasan mengapa saya agak malas memulai untuk membaca seri Crossfire ini. Yang pertama karena banyak yang bilang kalau novel ini sebalas-duabelas dengan Fifty Shades of Grey, dan saya malas kalau harus membaca novel yang berpola sama dengan FSOG. Yang kedua karena seri ini terdiri dari lima buku. Belum-belum saya sudah jenuh.
Saya memang punya masalah dalam membaca novel berseri dengan tokoh yang sama. Biasanya saya mandeg di buku kedua dan sudah malas melanjutkan buku ketiga. Contohnya saja seri Summer-nya Jenny Han yang saya mentok di buku keduanya, atau novel fantasi Lunar Chronicles dari Marissa Meyer, yang saya belum juga punya mood untuk melanjutkan buku ketiganya, Cress.
Berbeda jika saya membaca serial yang tokohnya berbeda-beda. Mau sampai puluhan saya sih oke saja.

Jadi membaca Bared To You sejatinya hanyalah ajang coba-coba bagi saya. Nggak ada ekspektasi macam-macam. Dan ternyata novel ini lumayan bagus dan nggak membosankan. Kecuali bagian persetubuhannya. Terlalu banyak dan malah bikin ceritanya gak jelas. Untuk selanjutnya saya akan mengupasnya sebagai Bared To You tanpa berusaha membandingkannya dengan FSOG.

Novel ini ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang Eva. Alurnya maju dan cara bertuturnya lumayan enak dibaca. Setting New York-nya cukup detail dan memberi gambaran dengan tepat.
Sayangnya lagi-lagi saya bertemu dengan hero yang ganteng dan hot banget yang merupakan pria pebisnis kaya raya yang bisa melakukan segalanya, dengan masa lalu yang (kemungkinan) melukainya. Dan seolah itu belum cukup untuk membuat saya memutar bola mata, semua pria—yap saya bilang SEMUA—yang ada di sekitar Eva, yang berada di kehidupan Eva, ganteng dan sempurna. Sampai di sini saya mulai menganggap novel ini benar-benar fiktif dan amat jauh dari kehidupan nyata. Well... memang apa salahnya sih kalau ada pria biasa atau buruk rupa di dekat sang heroine? Ini sih bukannya bikin iri tapi bikin senewen.

Kemudian Eva sendiri tadinya saya anggap lumayan punya prinsip. Dia berani nolak, berani mengajukan kompromi, nggak serta merta mau diajak bobok-bobok enak walau hasratnya udah ngebet berat. Tapi begitu ngerasain berhubungan dengan Gideon sekali, kontrol dirinya hilang. Dia jadi plin-plan dan gampang banget dibujuk. Yaah walau saya akui siapa yang nggak bakal meleleh kalau iming-imingnya seks hebat dan kalimat merana aku-butuh-kamu-aku-tak-bisa-hidup-tanpamu yang meluluhkan jiwa raga dan vagina.
Tapi sifat plin-plan Eva punya dasar kuat juga. Masa lalunya membuat naluri pertamanya adalah lari saat ia menemukan masalah. Tapi setelah lari dan marah-marah dia lumer juga dengan bujukan hasrat Gideon. Bah.

Adegan seksnya buanyak dan tersebar rata. Tapi nggak ada yang berkesan atau erotis bagi saya. Variasinya standart, lokasinya juga biasa banget. Limousine, kantor, hotel, apartemen, rumah, perpustakaan. Paling cuma adegan seks di rumah orangtua Gideon saja yang lumayan berkesan.
Sementara untuk romannya sama sekali nggak ada yang berkesan. Standar dan flat. Kedua tokohnya seperti masih belum menemukan chemistry. Mungkin karena setiap bertemu yang mereka lakukan hanyalah bercinta.
Tapi hubungan Eva dan sahabat cowoknya, Carry, cukup bikin saya waras dalam membaca novel ini. Walau saya juga merasa Carry terlalu sempurna, tapi hubungan mereka manis banget.

Di novel ini masa lalu Gideon belum terungkap. Saya hanya diberi clue sedikit-sedikit, dan membuat saya menduga-duga. Tapi meski saya penasaran, say belum punya minat untuk melanjutkan ke buku kedua. Well, lihat saja nanti apakah saya bakal melanjutkan membaca seri ini atau enggak.

Minggu, 03 Juli 2016

[Resensi] Cocky Bastard - Penelope Ward & Vi Keeland

Judul buku: Cocky Bastard
Penulis: Penelope Ward & Vi Keeland
Penerbit: EverAfter Romance
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal buku: 337 halaman


Baca Cocky Bastard via Bookmate


BLURB

He was someone who belonged in my wildest fantasies instead of a rest stop in the middle of Nebraska.

A sexy, cocky, Australian named Chance was the last person I expected to run into on my cross-country drive.

When my car broke down, we made a deal. Next thing I knew, we were traveling together, spending sexually-tense nights in hotels and taking unplanned detours. 

My ordinary road trip turned into the adventure of a lifetime. It was all fun and games until things got intense.

I wanted him, but Chance wouldn’t make a move. I thought he wanted me too, but something was holding him back. 

I wasn’t supposed to fall for the cocky bastard, especially when I knew we’d be going our separate ways.

All good things must come to an end, right? 

Except our ending was one I didn’t see coming.


RESENSI

Dalam perjalanannya dari Chicago ke Temecula, California, Aubrey bertemu dengan Chance Bateman. Seorang pria arogan nan seksi yang menyapanya di toko sovenir. Ketika hendak melanjutkan perjalanan, Aubrey menyadari ban mobilnya kempes, Chance menawari Aubrey untuk membantu mengganti ban, asalkan Aubrey mau memberinya tumpangan karena kendaraan yang dibawa Chance rusak.

“Yes. Yes, I am. If I change your tire, you let me ride with you.”
“Ride with me?”
“Ride me, yes.”
“What did you just say?”
“You’re hearing things.”

Maka mereka pun melakukan perjalanan bersama, dan mau tak mau saling mengupas kepribadian masing-masing. Chance tahu Aubrey baru saja patah hati karena dikecewakan mantan kekasihnya dan berniat memulai kehidupan baru di Temecula. Aubrey tahu Chance adalah mantan atlet profesional dan berhenti karena cedera.
Perjalanan mereka semakin terlengkapi saat tanpa sengaja Aubrey menabrak seekor anak kambing di jalan. Karena khawatir, Aubrey bersikeras membawa binatang itu bersama mereka.
Tanpa bisa dihindari, hasrat dan gairah yang mereka rasakan satu sama lain semakin kuat dan membawa mereka ke Las Vegas. Dan setelah menghabiskan malam panas bersama... keesokan paginya Chance menghilang tanpa jejak.
Kemana perginya Chance? Bisakah Aubrey melanjutkan hidupnya dan melupakan Chance? Ataukah Chance akan kembali?

---------------------

Nggak nyangka saya bakal suka banget sama novel dengan POV orang pertama begini! Sebenarnya kalau disuruh milih baca novel dengan POV orang pertama atau ketiga, saya milih POV orang ketiga. Lebih nyaman bacanya karena saya nggak terlalu penasaran dengan perasaan salah satu tokoh utamanya. Tapi novel ini, gilaaaak... bikin perasaan saya jungkir balik gak karuan.

Cocky Bastard terbagi menjadi dua bagian. Bagian satu dengan POV Aubrey adalah kisah pertemuan Aubrey dan Chance, perjalanan mereka yang asyik banget dan penuh flirting, hingga Aubrey yang ditinggal oleh Chance. Di bagian awal ini sumpah lucu banget. Dialognya cerdas dan chemistrynya bagus. Semakin seru waktu si anak kambing ikutan gabung dan adegannya makin konyol-konyol nggemesin. Mulutnya Chance astagaaa... Wkwkw~ saya antara kepengin nyium dan mau nyumpel pake sandal sekaligus. XD
Chance jenis pria yang seksi bukan hanya fisik tapi juga pemikirannya, saya bisa betah mendengarkan opininya yang kadang gila tapi benar dan dalem itu.
Adegannya manis banget. Mulai dari penyelamatan si anak kambing, kemping, tour ke Las Vegas. Saya juga merasa penulis begitu cerdas ketika membuat adegan Chance "hilang" pertama kali, dan kemudian kembali. Kembalinya Chance dan kalimatnya itu bikin saya sebagai pembaca yakin pada Chance dan kemudian syok karena Chance benar-benar tega melakukannya.

Cover asli Cocky Bastard yang nggak begitu saya suka :p

Di bagian kedua adalah POV Chance tepat dua tahun setelah ia meninggalkan Aubrey. Ternyata ada alasan kuat kenapa Chance pergi. Bukan alasan ala-ala sinetron seperti di beberapa novel, seperti karena Chance sakit (walaupun saya sempat mikir begini juga) atau karena harus terjebak wanita lain, tapi alasan yang.... duh bikin patah hati beneran. How sweet he is.
Jadi Chance lalu memutuskan untuk menemui Aubrey kembali. Sempet syok dan patah hati saat tahu Aubrey sudah punya pacar. Tapi perjuangannya Chance itu gila... bikin meleleh kalau saya sih mah. Mulai dari stalking, beli kopi Starbuck yang mirip dengan pesanan Aubrey, kasih sarapan Aubrey hingga motongin rumput di halaman rumah Aubrey dan menemukan.... Pixy si anak kambing mereka yang dipelihara Aubrey. Ya ampun manis banget sih dua orang ini.
Di bagian ini suasananya mulai serius, meski tetap aja Chance bandel mulutnya masih suka mancing-mancing dan kadang sok sengaja selip salah omong. Wkwkwk~
Saya juga suka banget sama Aubrey. Pintar, kuat dan baik banget. Meski rada sebel karena nggak mau langsung nerima Chance balik setelah tahu alasannya, tapi saya juga paham kalau dia trauma. Saya suka karena dia bisa menanggapi Chance sama cerdasnya. Bisa balik menggoda dan ikutan nakal. Hahaha...

Ini kisah cinta yang manis banget bagi saya. Apalagi karena saya memang suka dengan novel yang akhirnya si pria usaha ngejar-ngejar heroinenya. Dan baru Chance lah yang usahanya niat banget menurut saya. Aaaah bahkan sampai sekarang saya belum bisa move on!
Saya rekomendasikan banget deh novel ini bagi penyuka novel sweet and witty and hawt, asaaaal udah 17 tahun ke atas yaa ;)



Kamis, 10 Maret 2016

[Resensi: Delicious Marriage - Indah Hanaco] Pernikahan Berbumbu Cinta dan Cemburu


Judul buku: Delicious Marriage
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer kover: Chyntia Tedy
Penerbit: Grasindo (Gramedia Widiasarana)
Tahun terbit: Februari 2016
Tebal buku: 233 halaman
ISBN: 978-602-375-347-5





BLURB

Milly Regitha

Sangat tahu bagaimana rasanya tatkala cinta berubah menyakitkan. Terluka dan sulit memercayai orang lain, hingga bertemu seorang lelaki lancang.

Keith Bertram

Semua kisah asmara di masa lalunya mendadak tak lagi bermakna saat bertemu perempuan bermata muram itu. Dorongan tak tertahankan yang ganjil membuatnya ingin menjadi penyembuh apa pun resikonya.

——————

Milly akhirnya membuka hati saat menyadari bahwa hidup memang penuh risiko. Cinta pun bertumbuh tanpa bisa dicegah. Namun, bahkan di minggu pertama pernikahan mereka, badai mulai bergulung. Keith harus bersabar tapi Milly terlalu muak dengan orang-orang yang ingin mencampuri hidupnya. Mungkinkah sentuhan cinta bisa jadi penawar untuk segalanya?


RESENSI

Milly Regitha lagi-lagi mendapati Keith mendatangi Maharani, toko tempatnya bekerja sebagai bridal consultant. Sudah empat bulan Keith mengejar Milly tapi Milly tetap bersikap jutek pada Keith. Hingga Milly harus menghadiri resepsi pernikahan Keke, sahabatnya. Menjadi masalah yang pelik karena kakak Keke adalah mantan suami Milly. Maka Keith pun menawarkan diri untuk menemani Milly.
Mengetahui kisah hidup Milly tak membuat semangat Keith kendur. Status Milly yang janda tak masalah bagi Keith. Justru Keith mulai mempertimbangkan hubungan mereka secara serius. Keith pun melamar Milly.
Meski sempat ragu, Milly menerima lamaran Keith. Namun ternyata perjalanan pernikahan mereka pun tak bisa berjalan mulus. Milly dan Keith masih saling cemburu dan mudah diguncang badai. Karena bukan hanya orang ketiga saja yang hadir di tengah mereka, tapi juga orang keempat bahkan kelima.
Akankah cinta mereka bisa bertahan?

---------------

Judul Delicious Marriage tentunya menggelitik rasa ingin tahu saya. Pernikahan yang nikmat? Atau... lezat? Hmm~ dan sepertinya bukan lezat dalam hal yang berkaitan dengan masak-memasak.

Delicious Marriage menguraikan kisah seorang wanita yang pernah melalui pernikahan yang pahit dan mencoba berani menghadapi pernikahan yang baru.

Dengan gaya berceritanya yang khas, Indah Hanaco menyajikan kisah ini melalui dua POV, di bagian awal dan akhir menggunakan POV orang ketiga, dan di pertengahan cerita menggunakan POV orang pertama yaitu dari sisi Milly.

Ini pertama kalinya saya membaca novel Indah Hanaco yang memasukkan seni bercinta di dalamnya. Saya deg-degan ketika penulisnya bilang kalau novel ini akan berisi adegan bercinta juga. Haha...
Cukup terkesan juga dengan usaha penulis yang menampilkan Milly sebagai wanita yang nggak keberatan bereksplorasi mengenai hasrat seksualnya. Tapi tetap saja saya merasakan rasa malunya dalam dialog Milly.

Dalam novel ini selain Keith dan Milly, muncul dua sahabat Keith yaitu Phillip dan Rafe. Porsi kedua pria ini lebih sering muncul dibanding Keke, sahabat Milly. Mungkinkah karena Indah Hanaco berencana membuat kisah untuk Phillip dan Rafe? Karena di saat Keith lari kepada Phillip dan Rafe ketika konflik mulai muncul, Milly justru nggak berusaha curhat pada Keke. Atau persahabatan antara Milly dan Keke nggak sedekat trio Keith-Rafe-Phillip?

Keith adalah karakter utama yang pembawaannya santai dan agak kekanakan. Rada nggak logis kalau sudah cemburu. Bayangan saya dia jadi seperti lebih muda dari Milly.
Sementara Milly bisa jadi penyeimbang yang pas buat Keith. Saat Keith yakin, Milly ragu. Saat Keith pergi, Milly berani mengejar. Saat Keith ngambek kayak bocah, Milly tetap seperti jangkar. Saat Keith minta pada Milly untuk melakukan striptease, Milly.... hmm~ kira-kira Milly mau memenuhinya nggak ya? :p
Dialognya lumayan luwes, tapi tiba di bagian *uhuk* hot *uhuk* terasa sedikit kaku. Chemistrynya asyik. Terutama bagian persahabatan Keith. Dan walau Keke jarang muncul untuk membela Milly toh sahabat-sahabat Keith pun akhirnya jatuh sayang juga pada Milly dan lebih membela Milly.

Delicious Marriage memotret pernikahan pasangan muda yang impulsif, cenderung terburu-buru. Sehingga mereka harus menyelesaikan masalah justru setelah pernikahan berjalan.
Bagi kalian yang ingin menikmati kisah cinta yang dipenuhi bumbu agar delicious, cobalah baca novel ini. Karena bagi saya novel ini yummy dan cukup nikmat.

Atau nikmati dulu book trailer Delicious Marriage berikut:



Minggu, 14 Februari 2016

[Resensi: Stay With Me Tonight - Sofi Meloni] Cinta yang Berawal dari Kesalahan


Judul buku: Stay With Me Tonight
Penulis: Sofi Meloni
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Juni 2015
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 978-602-02-6616-6




BLURB

Mereka bilang hubungan di atas tempat tidur dan cinta itu dua yang berbeda.
Katanya lagi hubungan intim bisa dilakukan dengan ataupun tanpa cinta.
Dengan cinta? Bullshits...!
Cinta itu hanya ada di cerita dongeng belaka, setidaknya itu yang kupercaya sampai aku bertemu dengannya...

Mungkin pertemuan kami diawali dengan cara yang salah
dan mungkin juga pada dasarnya dua orang yang sama-sama terluka tidak seharusnya bersama.

Pada akhirnya kami harus mengakui kalau kami adalah dua orang yang salah untuk satu sama lain.

-Ayu-


RESENSI

Sekali lagi Ayu mendatangi kamar apartemen nomor 1109 dan menunaikan kewajibannya. Kewajiban yang harus ia penuhi sejak pria penghuni kamar itu membeli Ayu dari ayah angkat Ayu. Meski Ayu memiliki kunci apartemen tapi toh hubungan mereka hanya sebagai teman tidur. Mereka berdua sama-sama misterius bagi satu sama lain.
Ada banyak hal yang tak Ayu ungkapkan. Tentang siapa dirinya, asal-usulnya, keluarganya, mengapa ayah angkatnya menjualnya dan bagaimana ia harus menghadapi kelakuan menjijikkan ayah angkatnya sambil menyimpan geram pada ibunya yang begitu buta karena cinta.
Lalu tiba-tiba muncul Ditto, teman SMA dan teman seangkatan Ayu di kampus, setelah mereka berpisah dua tahun. Tampaknya Ditto bersikeras ingin mengulang sejarah dan mengejar Ayu. Walau Ayu telah berulang kali menepis, karena ia bukanlah gadis yang sama lagi.
Hingga suatu hari, ibu Ayu menjadi korban penganiayaan. Biaya rumah sakit yang tak mampu ditanggung Ayu memaksa Ayu mendatangi Benny, pria pemilik kamar apartemen 1109. Benny bersedia memberi uang namun dengan syarat. Syarat yang butuh komitmen besar. Syarat yang ternyata bukan hanya melibatkan antara Ayu dan Benny saja, tapi juga melibatkan Yuana, mantan tunangan Benny yang ternyata begitu mirip dengan Ayu. Oh, ataukah Ayu yang mirip Yuana?
Benarkah hubungan mereka hanya sebatas teman tidur? Tak bisakah cinta meriak di antara dua hati yang sama-sama terluka?

-----------------

Duh. Hati saya masih nyut-nyutan seusai membaca novel ini. Dan selagi saya masih dipenuhi rasa sesak, saya pengin buru-buru menuliskan review untuk Stay With Me Tonight. Karena novel ini my cup of tea banget.

Teman tidur yang berusaha meningkatkan status hubungan. Secara garis besar begitulah novel ini. Tipe novel yang biasa diterbitkan Harlequin. So... tentunya saya suka banget.
Namun karena sebelumnya novel ini berangkat dari wattpad, dan penulis wattpad kebanyakan menggunakan POV orang pertama, maka begitulah Stay With Me Tonight.
Ada dua bab besar dalam novel ini, bab pertama menggunakan POV orang pertama dari sisi Ayu yang mengisahkan hubungan Ayu dan Benny serta kemalangan-kemalangan Ayu.
Sementara pada bab dua, POV menggunakan POV orang pertama dari sisi Benny, tentang betapa desperate-nya Benny dan usahanya mencari Ayu. Ini menjadi bagian favorit saya.

Untuk pengkarakteran tokoh, saya merasa cukup puas. Memang detail fisiknya nggak terlalu dideskripsikan, tapi saya sudah bisa membentuknya dalam imajinasi. Sofi Meloni justru lebih detail dalam rutinitas sang tokoh yang menurut saya jadi mudah tertanam di kepala. Seperti telur dadar misalnya. Atau Ayu yang selalu datang ke kolam renang. Entah bagaimana pengulangan itu malah lebih mengena.

Saya suka dengan karakter Ayu. Biasanya saya sebel sama tokoh yang tertutup dan nggak mau ngomong apa-apa. Bikin jengkel. Tapi ketertutupan Ayu pada Benny dan Ditto justru saya rasakan membuat dirinya misterius dan mengundang rasa penasaran pria-pria itu. Ayu juga terasa nrimo dengan tegar.

Saya juga tadinya suka pada Benny. Sosoknya kalem (tapi di ranjang bergairah banget! Hohoo~) dan penuh perhatian. Dan nggak segan menampilkan kecemburuannya. Yaa~ walau nggak ngaku juga kalau cemburu sih.

"Kamu selalu berhasil membuatku terlihat seperti orang bodoh." - Benny (hlm. 151)

Ada dua hal yang bikin saya jatuh cinta. Sederhana saja. Membawakan payung untuk Ayu saat hujan lebat dan membelikan pembalut untuk Ayu. Well, mari kita hitung, berapa banyak cowok yang mau beliin pembalut buat ceweknya? Saya baru nemu dua: suami saya dan Benny. *terus jadi curhat*
Sayangnya, walau saya paling suka membaca bagian tokoh pria yang desperate dan menyesal karena udah bersikap bodoh. Di bab kedua saya anggap ke-desperate-an Benny agak berlebihan. Saya tetep nangis waktu dia akhirnya ketemu Ayu lagi tapi saya juga tetep merasa Benny merusak dirinya sendiri. Cool dan kalemnya jadi hilang dan berkesan kayak orang labil.

Tapiiii... twistnya bikin pingsan saking melegakannya. Saya juga sempat desperate ketika Benny di rumah sakit. Tapi ternyata.... aaaakk! Manis banget endingnya. Terutam kalimat yang diucapkan Ayu.

Nah, bagi kalian penyuka roman ala-ala novel terbitan Harlequin, saya rekomendasikan banget untuk baca novel ini. Meski hubungan badannya cukup sering dilakukan tapi nggak eksplisit banget kok. Pas bagi saya.

Jumat, 13 November 2015

[Resensi: Renjana Dyana - adimodel] Kekuatan Rasa Hati Dyana


Judul buku: Renjana Dyana
Penulis: adimodel (Adi Kurniadi)
Editor: Alodia
Desain, ilustrasi & cover: adimodel
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Mei 2015 (Cetakan pertama)
Tebal buku: 293 halaman
ISBN: 978-602-02-6449-3


BLURB

Gairah adalah cinta yang tersulut api.

Aku menginginkan api itu dalam cintaku. Aku ingin api yang benar-benar membakar, bukan hanya sekadar menghangatkan. Aku ingin api yang ke dalamnya aku rela terjun mengorbankan diri, demi sebuah kenikmatan.

Mencintaimu adalah satu-satunya hal yang membuatku hidup.
Mencintaimu membuatku tergila-gila, tetapi juga membuatku sembuh dari kegilaan-kegilaanku. Kau penawar sekaligus racun bagiku.

Tetapi api gairah itu menyilaukan mata. Membuatku rapuh dan jatuh ke dalam lubang hitam yang mengisapku begitu liar. Aku merasa seperti orang bodoh, yang selalu kembali dan kembali kepada rasa sakit yang tak pernah kuizinkan pergi.

Kau akan selalu kembali kepada orang yang kau sayangi, sampai kau terbangun dari mimpi-mimpi yang mengelabui hati. 
Dan di saat itulah, cinta berubah menjadi
sebilah pisau yang menikam dalam kegelapan.

Namaku Dyana...
Gairah-gairahku ingin menguasaimu
dalam seluruh mimpiku
dengan segenap hidupku.



RESENSI

Kamar. Air mata. Stasiun kereta. Metronom. Celah sempit. Seks. Gila. Benci. Darah. Ibu. Belati. Malam. Orgasme. Dendam. (prolog - hlm. 6)

Di stasiun kereta yang lengang itu pertama kalinya Aku melihatnya. Pertemuan pertama yang langsung menghantarkan halilintar di siang benderang dan menghentikan dunia sekitar.
Bagi Aku yang tak mudah terpana akan pesona pria, entah bagaimana Aku bisa terpikat seketika. Sejak itu, Aku pun mencarinya setiap hari demi bisa menatap sosoknya lagi. Tapi saat hari demi hari Aku tak bisa juga menemukannya, di hari ke sebelas Aku menyerah.
Tapi siapa sangka pertemuan kedua akhirnya tiba, dan kisah pun mulai mengalir tanpa terbendung.
Aku Dyana, jiwaku dipenuhi air mata dan luka, hingga pada akhirnya Aku mencurahkan segenap cinta pada Petra. Setelah ratusan pergumulan tubuh yang Aku lakukan dengan beragam pria, pada Petralah Aku merasakan cinta. Cinta yang penuh kegilaan, orgasme dan gairah. Cinta yang berbunga dan membawa Aku hingga ke nirwana.
Tapi kala rasa itu menjadi tiada, kekacauan mengusik keteraturan. Kala dendam dari masa lalu kembali datang dan menuntut, Aku terus mendapati bujukan Ana untuk meninggalkan semua. Menurut Ana, Aku menjadi rapuh, bodoh, dan lemah.
Ana sahabat yang muncul sejak Aku berusia 14 tahun, sejak ibu meninggal dan kemudian terus ada di sisi Aku. Ana mengenal dan memahami Aku luar dalam. Ana tahu rahasia-rahasia terpendam Aku. Terkadang rasa posesifnya membuat Aku takut.
Haruskah Aku mendengarkan Ana?

------------

Ini kesempatan pertama saya membaca novel karya adimodel atau Adi Kurniadi. Jangan tertipu dengan kavernya yang simpel dengan latar putih bersih, karena cerita di dalamnya begitu seksi dan penuh gelora, namun juga berselimut rasa kelam akan beribu pertanyaan kehidupan.

Renjana Dyana diceritakan dengan alur campuran. Sekali waktu maju, kali lain mundur jauh ke belakang, kemudian maju lagi. Namun perubahan alurnya selalu tiba-tiba. Bikin kaget. Kadang saat membaca subbab baru saya kira saya masih mengikuti kisah Dyana dewasa, tapi ternyata, kisah sudah dibawa mundur ke masa kecil atau masa remaja Dyana. Jadi saya harus menebak-nebak di masa mana adegan yang saya baca sedang terjadi.

Diceritakan dari sudut pandang Dyana sebagai 'aku', novel Renjana Dyana adalah novel yang menggunakan subbab (anak bab) yang singkat. Satu subbab hanya berkisar dua sampai empat halaman. Bahkan ada yang hanya satu halaman. Yang menarik adalah judul-judul subbab yang beberapa di antaranya menggunakan kata-kata unik dan jarang didengar oleh telinga. Namun bukan hanya menggunakan istilah-istilah asing semacam Vox Nihili, Psychotria Elata, dan lain sebagainya, penulis juga menggunakan istilah lokal seperti Mimi Lan Mintuno. Setiap membaca judul subbab selalu melahirkan rasa penasaran saya akan kaitan maknanya dengan kisah Dyana.

Di bab awal saya menikmati narasi yang gaya bahasa paralelismenya kental dengan kalimat-kalimat pendek. Alih-alih menggunakan konjungsi, novel ini memilih menggunakan repetisi. Repetisinya di awal tiap kalimat itu membuat kesan ketegasan dan kedalaman rasa.

Aku berdoa agar ibuku tidak terlalu lelah bekerja demi diriku. Aku berdoa agar pria-pria asing yang setiap malam datang itu tidak pernah datang lagi. Aku berdoa agar Ibu berhenti menangis. Aku berdoa agar ibuku hidup selamanya menemaniku. Aku tidak ingin kesepian. Aku tidak ingin sendiri. (hlm. 32)

Dan semakin ke belakang, penempatan repetisinya mulai bervariasi, bukan hanya pengulangan di awal kalimat, tapi kadang di akhir kalimat atau di tengah kalimat.

Sebagai novel yang lebih "bersuara" melalui narasi, dialog dalam novel ini cenderung singkat dan langsung. Terkadang tanpa diberi keterangan siapa yang sedang bicara. Huhuu~ jadi harus benar-benar mencerna kira-kira siapa yang sedang berdialog, nih.

Seiring dengan menajamnya konflik dan fakta-fakta serta clue kecil yang dibuka, bayang-bayang kegelapan novel mulai tersingkap. Meski saya masih memiliki banyak pertanyaan tentang sosok Petra.

Yang saya sukai dalam novel ini adalah gaya lugas penulis dalam berkisah. Ketika Dyana dilanda gairah, kalimat-kalimatnya begitu liar dan nakal. Ketika Dyana dilanda dendam dan kekalutan, kalimat-kalimatnya begitu penuh keputusasaan dan keraguan. Ketika Dyana tampil dalam bentuknya yang kuat, kalimat-kalimatnya penuh rasa positif.
Tadinya saya pikir Dyana merupakan tokoh yang labil, dan membuat kening saya berkerut karena saya menangkap Dyana memiliki beberapa cara yang berbeda dalam mencintai Petra. Namun ketika tiba di twist ending, baru saya tahu mengapa. Meski sudah punya feeling, tetap saja endingnya di luar perkiraan saya.
Tapi meski dibikin kaget dengan endingnya, fragmen-fragmen di bagian epilog saya rasa cukup mampu menjawab 'kekagetan' saya. :))

Renjana Dyana adalah novel dark and sexy romance yang dikemas dengan gaya sastra yang lugas. Membaca novel ini menjadi pengalaman yang memberi saya rasa baru. Entah bagaimana, Dyana bisa menangkap dan menuangkan kegelisahan yang kadang melingkupi saya. Tentang cinta, tentang kematian dan tentang keabadian.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Aku ingin mengenal kerapuhan itu. Aku ingin masuk ke dalam kekacauan itu dan tersesat di dalamnya." (hlm. 45)

Tidak ada yang kekal di dunia ini. Satu-satunya yang kekal adalah kehidupan dan kematian itu sendiri. (hlm. 61)

Katanya, seorang pendendam itu adalah orang yang dulunya begitu mencintai. Mencintai dengan sungguh-sungguh. Mencintai sepenuh hati. Mencintai setengah mati. (hlm. 176)

"Kadang ... rasanya aku ingin membunuhmu." (hlm. 205)

Inikah cinta? Keinginan untuk kembali dan selalu kembali ke pasangan jiwamu, seberapa sakit rasanya? (hlm. 211)

Sabtu, 24 Oktober 2015

[Resensi: Falling - Rina Suryakusuma] Ketika Jatuh pada Orang yang Salah


Judul buku: Falling
Penulis: Rina Suryakusuma
Editor: Hetih Rusli
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2015
Tebal buku: 320 halaman
ISBN: 978-602-03-146-17



BLURB

Carly merasa hidupnya berjalan normal. Ia punya orangtua yang menyayanginya, calon tunangan yang tampan dan perhatian, serta sahabat-sahabat yang peduli padanya. Namun, Carly selalu merasa hidupnya belum utuh, ada kehampaan dalam hatinya. Sampai satu titik ia bertemu Maggie, dan ia tahu hidupnya takkan pernah sama lagi.

Maggie memiliki karier sukses dan tahu bahwa dia tidak seperti perempuan kebanyakan. Dan, Maggie tidak pernah ragu dengan apa yang dia inginkan dalam hidup. Sampai ia bertemu dengan Carly dan menjalin hubungan kerja. Hubungan yang berlanjut pada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang dalam, dan mengubah pandangan serta perasaan mereka selamanya.

Hingga akhirnya Carly pun menyadari bahwa dia perlu jatuh cinta pada orang yang salah untuk menemukan dirinya yang sesungguhnya....

RESENSI

Carly merasakan nasib buruk saat namanya disebutkan sebagai karyawan ODP (Organizational Development Program) yang akan berada di bawah bimbingan Maggie. Dari lirikan sekilas saja sudah ketahuan kalau Maggie akan menjadi atasan yang tak kenal ampun.
Bahkan teman-teman sesama karyawan ODP membuat taruhan bahwa Carly bakalan resign dalam waktu tiga bulan karena tak akan tahan menghadapi Maggie.
Dengan tekad sekuat baja, Carly pun berusaha menyesuaikan diri dan bekerja sama giatnya dengan Maggie.
Hingga Carly menemukan saat di mana ia melihat Maggie sebagai wanita biasa yang rapuh. Sejak itulah Carly merasakan perutnya melilit setiap melihat Maggie. Sekuat tenaga Carly berusaha menghapus perasaannya terhadap Maggie. Ia anggap itu adalah perasaan yang salah, terlebih ia telah memiliki tunangan yang tampan dan sabar. Sementara Maggie sendiri masih dekat dengan mantan pacarnya. Carly pun berusaha menjauhi Maggie.
Tapi bagaimana jika seiring waktu Carly merasa rindu pada Maggie? Saat Carly berpisah dengan Seth dan jauh dari Maggie, siapa yang paling ia rindukan? Benarkah ini hanya sebuah fase?

----------------

Membaca blurb Falling membuat rasa penasaran saya tergugah. Mengangkat tema cinta sesama jenis tentunya akan cukup rawan jika penulis nggak pintar menarik simpati pembaca. Dan saya anggap Rina Suryakusuma berhasil menuturkannya dengan porsi yang imbang.

Diceritakan dengan POV orang ketiga, Falling lebih banyak bertutur dari sisi Carly. Alurnya yang maju membawa saya menyelami perasaan-perasaan Carly, kegelisahannya, kegalauannya juga kegusarannya terhadap orang-orang di sekitar wanita itu.
Hingga saya mulai merasa kegamangan Carly terlalu membosankan. Rasanya sepanjang cerita hanya berkutat pada kegalauan Carly untuk menyadari dan mengakui bahwa ia mencintai Maggie atau nggak. Itu sempat membuat saya geregetan. Haha....

Kekuatan novel ini ada pada latar pekerjaan para tokohnya. Dengan kisah Carly yang merupakan karyawan ODP divisi leasing sebuah mal, penulis sangat detail menuliskan beban kerja dan ketegangan suasana di dalam divisi itu. Gambaran situasinya dideskripsikan dengan baik.

Sayangnya saya merasa dasar perubahan  orientasi Carly kurang kuat. Mengapa ia yang semula merupakan perempuan heteroseksual, hanya dengan bertemu Maggie, ia bisa jadi goyah? Apa mungkin karena masa lalunya yang membuatnya trauma? Apakah kepergian ibunya membuat jiwa perempuan dalam dirinya marah? Saya pikir jika itu digali, bisa lebih memperkuat alasan-alasan perubahan diri Carly.

Saya mencatat adegan yang ganjil pada pagi hari ketika malam sebelumnya Carly pulang kerja diantar Maggie karena sakit. Mobil Carly ditinggal di kantor. Pagi harinya, Carly berangkat naik taksi.

Carly tak peduli. Seperti kesetanan ia membuka pintu taksi dan duduk di kursi penumpang. (hlm. 153)

Kemudian di dalam taksi ingatan Carly beralih ke beberapa tahun silam mengenai kepergian mamanya. Dan ketika ia menghentikan lamunan itu, Carly nggak lagi ada di dalam taksi, tapi menyetir sendiri!

Carly menatap lurus ke depan. Ia menyetir dengan air mata mengambang. Ia membiarkan tetes itu meluncur turun. Titik demi titik tanpa berusaha menghapusnya. (hlm. 157)

Tapi sampai air matanya habis, sampai ia tiba di kantor dan memarkir mobil di pelataran parkir depan mal, rasa lega itu tak juga kunjung melingkupi dirinya. (hlm. 158)

Lha kok bisaa?? Kan tadi naik taksi, mobilnya diparkir di kantor karena pulangnya diantar Maggie, tapi kok jadi nyetir mobil sendiri? ^^

Dan untuk karakter Jo Anne, saya merasa terlalu berlebihan. Well, saya tahu tugas sahabat adalah memberi tahu jika kita salah, tapi bukan berarti berhak menghakimi. Dan itulah kesalahan Jo Anne di mata saya. Saya rasa dia nggak bisa disebut sahabat kalau lebih sering menuduh, menghakimi dan menekan Carly. Meski memang tujuannya demi kebaikan Carly dan mengingatkan bahwa perasaan Carly itu salah, tapi Jo Anne benar-benar melangkah terlalu jauh. Saya sih kalau punya sahabat yang melenceng—dan, ya, saya punya—saya nggak bakalan menghakiminya seperti cara Jo Anne menghakimi Carly.

Endingnya cukup heartwarming bagi saya. Terutama perdamaian yang dicapai Papa dan Carly. Kasihan tuh Papa kalau dicuekin terus-terusan :))

Overall, saya menikmati kisah ini. Dan saya merasakan kemajuan Rina Suryakusuma dalam menulis sejak Postcard from Neverland.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Because heart can see what the eyes cannot see and a mind cannot understand. (hlm. 101)

Waktu tidak membuat lupa. Terkadang ia hanya berbaik hati dan membiarkanmu melewati hari yang lebih tenang. Tepat ketika kau berpikir bahwa semua baik-baik saja, ia akan kembali menyergap dan membuatmu menangis. (hlm. 254)

"Kadang hidup menuntunmu ke arah yang tak disangka. Dan tidak semua pemandangan yang tersaji itu menyenangkan. Tapi sudah lama juga Papa belajar untuk percaya, yang terbaik adalah menerima apa pun yang ditawarkan oleh hidup pada kita, dan menjaganya agar yang paling kita sayangi bahagia. Biarpun itu berarti merelakan mereka pergi. Atau membiarkan mereka nemilih jalan yang mungkin tak akan kau pilih sendiri." (hlm. 262-263)

Selasa, 20 Oktober 2015

[Resensi: Mr. (Not Quite) Perfect - Jessica Hart] Menciptakan Tuan Sempurna


Judul buku: Mr. (Not Quite) Perfect
Penulis: Jessica Hart
Alih bahasa: Erika Noor Rachma
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 978-602-02-6145-4



BLURB

Apa yang sebenarnya diinginkan seorang wanita?

Allegra Fielding, seorang jurnalis, sedang dalam masalah. Dia menawarkan sebuah kisah kepada bosnya—merubah pria-yang-tidak-terlalu-sempurna menjadi Pangeran Memesona—dan sekarang dia dapat tugas besar! Tapi, di mana dia bisa menemukan pria yang mau dijadikan 'korban' makeover?
Hmm, saatnya memeras teman seatapnya, Max....

Sayangnya, rencana licik Allegra berubah menjadi bumerang ketika Max menolak untuk 'disempurnakan'!
Dia adalah seorang pria yang benar-benar tahu apa yang diinginkannya, dan dia dengan senang hati akan membuktikan pada Allegra bahwa tak ada yang lebih hot daripada pria seperti dirinya.

RESENSI

Bekerja di Glitz, sebuah majalah mode yang gaya dan penuh dengan gosip kalangan atas, membuat Allegra harus pintar-pintar menyusun artikel agar bisa menyenangkan editornya—yang tak mudah terkesan. Maka ketika sebuah ide brilian tersusun dalam pikirannya, Allegra berusaha membuat artikel yang sempurna yang bisa menjadi batu loncatan baginya. Dia ingin karirnya bersinar dan ibunya tak lagi meremehkan pekerjaannya.
Flick, seorang jurnalis kelas tinggi yang terkenal dan sangat tajam dalam mengulas ekonomi dan politik memang selalu menuntut kesempurnaan dari Allegra. Flick ingin Allegra mengikuti jejaknya dan bukan bekerja di majalah omong kosong semacam Glitz. Tapi bagi Allegra, mode dan fashion adalah dunianya.
Allegra berencana membuat artikel tentang membentuk pria sempurna. Maka Allegra mencari seorang pria biasa-biasa saja sebagai korban untuk diajari minum cocktail, memasak, seni kontemporer dan berdansa. Dan pilihannya jatuh pada Max.
Max, kakak laki-laki sahabat Allegra, baru saja putus dari tunangannya. Maka untuk sementara dia tinggal seatap dengan Allegra. Di mata Allegra, Max adalah pria yang cocok sebagai bahan eksperimennya. Max yang insinyur sipil dan berselera buruk dalam hal berpakaian akan menjadi target perombakan Allegra.
Meski Max setuju, dengan iming-iming kencan bersama Darcy, sang model pakaian dalam, tapi ternyata tidak mudah mengubah Max. Apakah misi Allegra berhasil? Apakah Max akan menjadi tuan sempurna bagi Darcy? Atau tuan sempurna bagi Allegra?

-----------

Butuh waktu untuk menyelesaikan novel ini. Beberapa kali saya berhenti dan hampir menyerah. Mungkin karena jalan ceritanya yang flat dan mudah tertebak.
Tokoh-tokohnya cukup berkarakter dan punya warna yang berbeda.
Menarik melihat bagaimana Allegra bisa berkembang menjadi pribadi unik di bawah tekanan ibu yang selalu menuntut kesempurnaan. Di satu sisi Allegra nggak ingin membuat Flick kecewa, di sisi lain ada jiwa romantis yang menginginkan dirinya jadi diri sendiri.
Saya cukup kagum pada Max akan integritasnya. Sisi pria normalnya terlihat ketika ia nggak bisa menolak permintaan Allegra karena iming-iming kencan dengan Darcy. Namun, ketika dihadapakan pada perempuan terseksi dan termanis di dunia pun, Max tetap bersifat gentleman tanpa mengabaikan Allegra.
Novel ini begitu fokus pada tahap-tahap mengubah Max dan minim adegan romantis. Terdapat momen khas yang biasa muncul di drama komedi romantis semacam stoking sobek atau terjatuh di depan meja yang membuat kekonyolannya terasa berlebihan.

Penerjemahannya lumayan baik meski ada susunan kalimat yang kurang pas. Juga banyak terdapat kesalahan penulisan tanda baca. Tapi, masih bisa dinikmati karena ceritanya ringan dan menghibur.

Saya menyukai novel ini karena pesan yang mengena. Saya pun menginginkan pria sempurna dalam hidup saya. Tapi seperti Allegra, saya belajar bahwa mencintai seseorang bukan berarti memintanya untuk berubah, tetapi menerima dia apa adanya. Menerima kelebihan dan kekurangannya. Dia mungkin bukanlah pria yang kita idealkan tetapi dia pria yang kita butuhkan. Itulah yang membuatnya sempurna.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Wanita. Ketika kau mengira sudah mengerti, mereka berbalik dan menendang kakimu sampai kau jatuh, lalu membiarkanmu menggelepar. (hlm. 141)

"Kurasa menjaga jarak tertentu dengan semua orang berarti tak ada seorang pun yang memiliki kesempatan menyakitimu." (hlm. 219)

Siapa pun bisa berpura-pura, tapi apa pentingnya melakukan itu? Tak ada orang yang mau jatuh cinta dengan seseorang yang penuh kepalsuan. (hlm. 255)

Jumat, 09 Oktober 2015

[Resensi: Akulah Arjuna - Nima Mumtaz] Sang Arjuna Memilih Antara Cinta dan Logika


Judul buku: Akulah Arjuna
Penulis: Nima Mumtaz
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2014
Tebal buku: 443 halaman
Genre: Contemporary Romance
ISBN: 978-602-02-4771-7
Available at: Bukupedia


BLURB

Pencarian Cinta seorang Arjuna
Antara hati dan logikanya

Oke, inilah masalah pelik yang membelitku. Aku beristri dua!
Upps ... punya pacar dua, tepatnya. Eehhh, enggak juga.
Yang pasti saya punya dua pasangan tapiii … gak tepat juga ini, jadi apa istilah yang pas, ya?

Dalam khayalanku yang terliar pun gak akan pernah aku bayangin dapet nasib kayak gini. Aku adalah tipe lelaki setia yang tak akan pernah mempunyai dua pasangan dalam satu waktu bersamaan. Itu pantangan buat aku. Tapi sialnya itulah yang terjadi sekarang ini. Walaupun ini bukan mauku dan gak pernah kusengaja. Suer!

Di satu sisi aku udah punya Nina—walaupun dia gak secara langsung mengiyakan permintaanku, tapi boleh, dong aku kepedean nyebut dia pacar. Secara dia juga memperlakukan aku seperti pacarnya. Tapi di sisi lain ada anak bos, si setan cilik yang nyebelin itu, yang memproklamirkan diri sebagai pasanganku di kantor.

Indah, bukan? Banget! Bahkan terlalu indah untuk playboy terganteng seperti aku sekalipun.


RESENSI

Hati Arjuna melambung ketika Nina, cewek pujaan hatinya yang ditaksir kurang lebih selama satu tahun, bersedia menjadi kekasihnya. Juna sudah nggak sabar membawa Nina ke hadapan keluarganya untuk diperkenalkan sebagai calon istri.
Namun, hari-hari yang damai sejahtera itu porak poranda saat Ayana muncul dalam kehidupannya. Ayana, putri bosnya, yang baru berusia 16 tahun itu secara terang-terangan tanpa rasa malu menunjukkan kalau dirinya cinta mati pada Juna. Alamak!
Juna dibuat pusing oleh ulah Ayana yang seolah nggak peduli meski Juna punya pacar, Juna kentut sembarangan, bahkan meski Juna kerap bicara ketus dan menganggapnya cewek gila. Ayana nggak pernah merasa ilfil terhadap tingkah norak Juna, berbeda dengan Nina yang justru malah belingsatan dan sering ngambek.
Juna pun harus segera bertindak serius. Demi kelangsungan hubungannya ke jenjang yang lebih serius, Juna membawa Nina ke rumah dan memperkenalkannya kepada seluruh anggota keluarga. Malam itu juga, Juna melamar Nina. Gayung pun bersambut, Nina bersedia menikah dengan Juna.
Di kantor, ketika Juna sedang mencari cara untuk memberi tahu Ayana bahwa ia akan segera menikah, tanpa sengaja Juna malah melihat Nina yang sedang berselingkuh.
Kejadian itu membuat Juna kembali berpikir ulang. Apakah ia akan memaafkan Nina atau mengikuti saja permainan pacar-pacaran dengan Ayana? Ketika kedua gadis itu berlalu dari hidup Juna, yang mana yang membuat hati Juna remuk redam? Siapa yang akan Juna kejar bahkan hingga kematian memisahkan?

--------


Ini novel ketiga Nima Mumtaz yang saya baca dan membuat saya makin menyukai karyanya. Sungguh, untuk ide cerita, Nima benar-benar pandai mengolahnya menjadi cerita yang manis. Saya nggak ragu lagi untuk menjadikannya sebagai penulis favorit saya.

Cara bertutur Akulah Arjuna bisa dibilang sedikit lebih rapi dibanding Cinta Masa Lalu. Novel ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama, yaitu Juna, dengan segala ketengilan dan kepercayaan dirinya yang berlebihan. :))))
Narasinya masih menggunakan bahasa nonbaku, tapi sudah enak dibaca.

Yang saya sukai dari karya Nima Mumtaz adalah dialognya yang lincah dan memperlihatkan chemistry yang kuat. Interaksi antara satu tokoh dengan tokoh lainnya mengalir dan luwes. Nggak ada kekakuan atau kalimat basi yang membosankan.

Membaca cerita ini membuat saya senyum-senyum menikmati rasa frustrasi Juna. Sepertinya Juna kualat nih, sama Mas Dave. Hahaha.
Pasangan David dan Viona cukup banyak nimbrung di novel ini, jadi serasa dapat bonus menyaksikan kelanjutan hubungan mereka sejak di Cinta Masa Lalu.
Kocaklah pokoknya kalau Juna, David dan Viona ada dalam satu scene.

Meskipun sudah lebih rapi, typo novel ini masih bertebaran. Kesalahan yang paling banyak terjadi adalah penggunaan di- sebagai kata depan dan sebagai awalan sering terbalik penulisannya. Misalnya saja:

dihadapanku --> di hadapanku (hlm. 12)
di set --> diset (hlm. 24)
di rem --> direm (hlm. 26)
kedokter --> ke dokter (hlm. 72)
di pegangnya --> dipegangnya (hlm. 102)
Itu hanya beberapa contoh dari banyaknya kesalahan dalam novel ini.

Selain itu penggunaan partikel -pun juga masih kurang tepat:
apapun --> apa pun (hlm. 7)
akupun --> aku pun (hlm. 10)
dan masih banyak lagi.
Kata dari bahasa asing juga banyak yang tidak ditulis dengan huruf miring.

Tapi masih sangat enak dibaca kok. Apalagi pilihan diksi Nima Mumtaz selalu mengharu biru dan bikin sukses mewek-mewek. Sudah tiga novelnya yang saya baca, dan ketiganya membuat saya nangis-nangis. ^^

Ah, tolong, saya ketagihan karya Nima Mumtaz! :D

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Kalau cinta sudah memilihmu, ke manapun kau menghindar, tak akan ada cukup tempat kau sembunyi." (hlm. 59)

"Ingat Juna, orang kuat itu adalah orang yang bisa nahan diri saat marah." (hlm. 123)

"Saat mencintai seseorang, kita tak akan pernah peduli dengan masa lalunya, dengan apa yang mengikutinya, bahkan dengan semua keburukan dan kebusukannya. Kita hanya akan melihat dia apa adanya dan hanya mengharapkan semua hal yang terbaik untuknya. Bahkan tak akan pernah peduli kalau akhirnya hanya sakit yang bisa kita terima. Kamu hanya ingin melihat dia tersenyum, hanya ingin dia bahagia." (hlm. 172-173)

"Jangan ingkari apa yang dipilih hatimu. Bahkan orang buta pun bisa merasakannya. Kejarlah, mungkin kau akan lebih tenang. Dan jangan cari pelarian bodoh atau kamu akan menyesal pada akhirnya." (hlm. 240-241)

"Kamu mau aku menunggu? Akan kutunggu. Kamu minta aku datang? Aku akan ke sana. Aku tak peduli lagi dengan apapun sekarang. Aku hanya ingin matahari tetap menjadi milik kita. Kamu dan aku." (hlm. 307)

"Juna … setiap hubungan pasti ada naik turunnya. Jangan ragu meminta maaf kalau kamu punya salah dan jangan hanya minta dimengerti tanpa kamu mau mengerti. Laki-laki itu pasti jadi kepala keluarga, itulah kenapa dia harus matang dulu sebelum berani bawa anak orang. Selain tanggung jawabnya besar, pemikiran dan emosi harus stabil karena kelak dialah yang akan membawa arah rumah tangganya." (hlm. 320)

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon