Jumat, 20 Oktober 2017

[Resensi] Si Bengis Mr. Danvers - Vivienne Lorret | Kala Si Bengis Luluh Menjadi Manis

Judul buku: Si Bengis Mr. Danvers
Judul asli: The Devilish Mr. Danvers
Serial: The Rakes of Fallow Hall #2
Penulis: Vivienne Lorret
Alih Bahasa: Debbie Hendrawan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: Juni 2017
Tebal buku: 336 halaman
ISBN: 9786020427768



BLURB

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hedley Sinclair dapat menentukan masa depannya sendiri. Dia mewarisi Greyson Park yang bobrok tapi kehancuran bangunan itu tidak menghalanginya. Tak akan ada yang mengurungnya lagi atau mencoba untuk mengambil benda miliknya. Tidak seorang pun kecuali Rafe Danvers—pria menawan dan seperti iblis dari Fallow Hall. Pria itu bertekad untuk menuntut Greyson Park, namun jika Hedley tidak berhati-hati, pria itu juga akan menuntut hatinya. 

Rafe sepenuhnya berniat untuk membebaskan Greyson Park dari cengkeraman tangan keluarga Sinclair untuk selamanya. Hal terakhir yang dia harapkan adalah bertemu dengan Hedley yang memperdaya—adik dari mantan tunangannya—menghalangi niatnya. Dengan tuntutan drastis, dia berencana untuk membuat gadis itu menikah agar bisa memegang kendali atas rumah itu. Satu-satunya masalah adalah, dia sepertinya tidak bisa berhenti untuk menggoda gadis itu. Bahkan yang lebih buruk lagi, dia mulai jatuh cinta….


RESENSI

Rasanya sudah cukup lama saya nggak membaca novel sampai berurai air mata lebih dari sekali. Iya sih saya gampang terenyuh, gampang mewek saat membaca adegan yang kena di hati, tapi saya nggak menyangka novel historical romance yang asal comot di Scoop ini bisa bikin saya termehek-mehek. Seorang teman penulis memang pernah bilang kalau novel ini bagusnya kebangetan, jadi saya selain karena tertarik dengan sinopsisnya akhirnya merasa penasaran juga untuk melahapnya.

Bisa dibilang ini adalah pengalaman pertama saya mencicipi karya Vivienne Lorret. Tadinya saya hanya berniat mengintip dulu pembuka ceritanya, tapi ternyata saya langsung dibuat terhanyut hingga sampai akhir kisah. Bagaimana tidak... sedari awal saya sudah dipertemukan dengan heroine yang menderita lahir dan batin karena telah dikurung bertahun-tahun di loteng oleh keluarganya, disembunyikan karena dianggap sebagai aib dan dengan tabah menerima perlakuan kejam ibu dan kakak perempuannya. Hmm... mungkin terdengar sedikit mirip cinderella ya? Tapi nggak kok, nggak ada pangeran tampan dan pesta dansa di kisah ini.
Justru sang hero adalah mantan tunangan kakaknya yang ditinggalkan begitu saja di altar. Bukan seorang pangeran tapi seorang seniman yang keluarganya juga dikucilkan oleh kalangan ton beberapa tahun terakhir.
Jadi mereka sama-sama orang tangguh yang dengan tegak menghadapi tuduhan sosial yang diarahkan pada mereka masing-masing.

Adegan pertemuan keduanya sungguh luar biasa bagi saya. Bagaimana Hedley Sinclair masih mengingat dengan jelas siapa pria di depannya, membawa ingatannya pada kenangan indah yang pernah diberikan Rafe Danvers, meski Rafe tak menyadarinya. Ya. Rafe nggak menyadari siapa Hedley pada awalnya.
Pertentangan batin Rafe merupakan hal yang paling menarik bagi saya. Sedari awal ia telah dibuat bingung antara harus memilih nalar atau perasaannya. Kebenciannya pada keluarga Sinclair toh tetap luruh karena kepolosan Hedley. Beberapa kali ia berusaha kembali pada kecurigaan, walau pada akhirnya ia menyerah dan mengakui Hedley tidaklah sama dengan kakaknya.

Apalah arti sebuah historical romance tanpa kebajinganan (wait... diksi apa ini? 😂). Well, maksud saya, semakin bajingan si tokoh pria, saya biasanya semakin suka. Jadi ketika Rafe punya rencana yang sedikit busuk saya bersorak dalam hati. Rafe ingin menang dalam taruhannya dan ia ingin menyingkirkan Hedley dari propertinya, maka ia membuat rencana perjodohan untuk Hedley. Daaan.... bisa ditebak dong, kalau rencana itu bakal jadi senjata makan tuan. Semua orang bisa menebak kok, termasuk saya, kecuali Rafe sendiri, bahwa dia bakalan kebakaran pantat karena cemburu melihat intimnya Hedley dan Montwood.
Oh iya, selain chemistry Hedley dan Rafe yang penuh percikan-percikan gairah, asmara, hasrat, dan apalah-apalah yang sejenisnya, chemistry Hedley dan Montwood juga terasa pas deh. Saya menangkap mereka berdua seolah memiliki frekuensi kesenduan dan kekelaman yang sama.

Bicara tentang karakter, saya langsung jatuh cinta pada Hedley. Gadis ini bukan tipe gadis keras kepala yang menyebalkan, juga bukan gadis yang malu-malu tapi nemplok juga. Hedley cerdik, pengamat yang jeli, jujur, polos dan dia tahu apa yang dia mau. Hedley nggak malu-malu untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya serta apa yang diinginkannya. Mungkin dia sagitarius sama kayak saya #halaaah
Rafe juga nggak menyebalkan banget. Yang pasti dia penyayang dan sweet dengan caranya sendiri. Bikin saya meleleh dengan tindakan-tindakan spontannya terhadap Hedley, dan bikin saya pengen getok kepalanya tiap kali mulai membentengi diri dan kekeuh kembali ke rencana semula.

Banyaaaak banget adegan super manis di novel ini. Salah satunya yang paling saya suka adalah ketika Calliope, yang baru saja bertemu dan berkenalan dengan Hedley, membela Hedley yang disakiti kakaknya. Aih... aih... ini adegan yang bikin saya mbrebes mili karena akhirnya Hedley merasakan apa artinya memiliki 'keluarga' walau itu terwujud dari seorang teman yang tetap berdiri mendukungnya.
Saya juga suka bagaimana Rafe membantu Hedley mengatasi trauma dan ketakutannya terhadap kuda dan kereta kuda. Bagaimana Rafe selalu ada di sana saat Hedley berada dalam situasi paling rapuh.

Sayangnya ending novel ini terasa terlalu cepat diselesaikan. Padahal mengikuti naik turunnya konflik antara Hedley-Rafe dan terutama Hedley-Ursa, saya pengin sesuatu yang lebih memuaskan hati. Setidaknya misalnya Ursa ketimpa reruntuhan Greyson Park atau apalah. Oke... um.. itu sadis sih, tapi setidaknya saya ingin sesuatu pembalasan yang setimpal bagi Ursa dong. Wkwkwk~~
Well, secara keseluruhan novel ini bikin saya puas bacanya. Sukaaakkk banget nget. Buat kalian yang suka novel dengan tema-tema semacam kita-musuh-tapi-saling-tergila-gila-tapi-itu-nggak-mungkin-tapi-aku-nggak-mau-kehilangan-tapi-ya-gimana-dong, saya rasa novel ini akan cocok buat kalian.

Rabu, 11 Oktober 2017

[Resensi] Kabut di Bulan Madu - Zainul DK

Judul buku: Kabut di Bulan Madu
Penulis: Zainul DK
Penyunting: Nisaul Lauziah Safitri & Zainul DK
Pendesain Sampul: Hanung Norenza Putra
Penerbit: Ellunar Publisher
Tahun terbit: Agustus 2016
Tebal buku: 249 halaman
ISBN: 978-602-0805-73-3



BLURB

Tersangka kasus penembakan di sebuah kafe yang menewaskan seorang preman adalah Roby. Ia melakukan penembakan itu karena tak terima kekasihnya, Linda, diganggu. Ia pun berhasil ditangkap oleh Inspektur Ariel untuk menjalani hukuman penjara. Tidak sanggup melihat sang kekasih bersedih mengetahui dirinya dijebloskan ke penjara, Roby menyuruh Linda untuk berlibur menaiki kapal pesiar mewah.

Di sisi lain, ada pasangan yang baru menikah hendak berbulan madu : seorang penyiar berita bahasa Jepang, Helena Lizzana, dan pria keturunan Jepang-Timur Tengah, Ihdina Shirota. Mereka berencana menikmati momen indah itu dengan naik kapal pesiar.

Pasangan muda tersebut berada dalam satu kapal pesiar yang sama dengan Linda. Tak disangka terjadi musibah : kapal pesiar itu menabrak karang dan karam. Dari hasil evakuasi, dinyatakan bahwa hanya ada satu korban jiwa meninggal, yaitu LINDA!

Memperoleh berita nahas ini, Roby tentu saja tidak terima. Menurutnya, ada keanehan yang menyebabkan kekasihnya saja yang menjadi korban. Ia percaya seseorang sengaja membunuh Linda. Ia pun menyusun rencana untuk kabur dari penjara, dan mencari tahu siapa pembunuh sang kekasih. Inspektur Ariel mesti mati-matian mencegahnya!


RESENSI

Awalnya saya tertarik dengan novel ini karena judulnya yang serasa jadul-jadul gimanaaa gitu. Jelas saja, di tengah maraknya judul novel yang menggunakan frase atau kata yang berenglish-english ria, judul novel ini yang Indonesia banget tentunya menarik minat saya. Harus diakui kan, novel-novel pop masa kini tentunya lebih memilih menggunakan kata honeymoon dibanding bulan madu sebagai judul. Mungkin agar lebih terdengar manis, atau biar terkesan romantis, padahal ya sama aja *putar bola mata* Ini bukan nyinyir tapi yaa... wkwkwk~~
Yaaa pokoknya gitu deh, saya tertarik karena judul dalam bahasa Indonesianya.

Selain itu penulisnya sendiri menjanjikan bahwa novel ini bukan novel roman biasa. Bukan cuma mehek-mehek cintrong-cintrongan, tapi juga berbalut thriller. Wah...Wah... Serius?? Saya yang di kala itu sedang dalam titik jenuh membaca novel roman akhirnya mengiyakan dengan harapan mood baca saya membaik.
Then... benarkah sesuai harapan? Mari saya tumpahkan. *tarik nafas panjang*

Saya mengawali membaca Kabut di Bulan Madu ini beberapa pekan yang lalu, dengan harapan yang cukup tinggi. Sayangnya baru beberapa bab saya baca, putra sulung saya mengalami musibah kecelakaan kecil, begitu urusan jahitan dan drama kaki benyek selesai, giliran putra bungsu saya yang sakit. Satu sembuh, yang satu nyusul sakit... begitu terus hampir selama satu bulan lebih. Capek jiwa raga membuat saya menyingkirkan dulu novel ini. Setelah penyakit jauh-jauh, eladalah sekolah kok ya udah masuk masa PTS, jadilah dua pekan saya pontang-panting memanage jadwal ngajar yang penuh sesak, dan lagi-lagi saya pasrah nggak bisa menyentuh bacaan.
Tapi alhamdulillah yaa... walau berjeda lumayan lama, kok ya saya masih ingat jalinan cerita pembuka novel Kabut di Bulan Madu. Bisa jadi ini karena premisnya lumayan sedap bagi saya, walau tetap saja terasa kurang matang. Kayak telur setengah matang yang berenang di ind*mie kuah begitulah.

Novel ini menggunakan latar fiktif yakni sebuah kota bernama Jeyakarta, yang tetap saja gambaran serta nuansanya terasa persis dengan ibukota negara Indonesia. Namun tentunya ada yang menjadi pembeda dong, alkisah diceritakan dalam novel ini bahwa salah satu stasiun televisi di kota tersebut memiliki program acara berita berbahasa Jepang. Wow keren yak. Entah apa alasannya stasiun televisi ini kok dirasa perlu membuat tayangan news berbahasa Jepang, saya nggak mendapat kejelasan juga. Namun rupa-rupanya program acara ini konon sangat populer karena ternyata orang-orang banyak yang mengenali sang penyiar beritanya, di manapun ia berada. Dari supir taksi hingga mbak-mbak pegawai kapal pesiar semua bisa mengenali. Mungkin bisa dibilang sepopuler Najwa Shihab gitu kalik ya. Yang jelas sepanjang cerita saya perlu berkali-kali dijelaskan kalau Helena ini adalah jurnalis. Ya mungkin saja jaga-jaga siapa tahu ditengah cerita saya amnesia. Yha.



Saya lumayan terusik dengan gaya narasi dalam novel ini. Saya mengamati bahwa verbanya ditulis tanpa imbuhan dan hampir nggak ada bedanya dengan dialog yang diucapkan para tokoh. Saya memang lebih menyukai narasi yang dipaparkan dalam bahasa baku, tapi saya juga oke oke saja dengan narasi yang kasual asalkan kalimatnya jelas susunannya, jelas mana induk kalimat dan anak kalimatnya.

Sang komandan berinisiatif interogasi wanita yang diketahui bernama Linda, pacar pelaku, di tengah ruang tamu. (hlm. 9)

Pada kalimat tersebut, jelas kita tahu kata "interogasi" merupakan sebuah nomina, untuk membentuknya menjadi verba tentunya diperlukan sebuah afiks. Bukankah "menginterogasi wanita" terdengar lebih tepat sebagai sebuah kalimat? Banyak sekali kalimat dengan kata tanpa prefiks semacam ini yang saya temui, membuat penyampaian plot dan aksinya terasa kurang nyaman untuk dibaca. Bisa dibilang saya serasa sedang membaca sinetweet yang biasa menyunat afiks karena keterbatasan karakter.

Pengkarakterannya sendiri masih mengambang. Tokoh-tokohnya masih memiliki "suara" yang sama dengan gestur yang masih mirip satu sama lain. Mestinya satu-dua tokoh saja yang konyol atau yang suka bercanda garing. Satu-dua tokoh saja yang bakat menggombalnya masih versi jadul. Satu-dua tokoh saja yang narsisnya nggak ketulungan. Satu tokoh saja yang gemar bikin puisi melow. Sehingga pengkarakterannya bisa unik berciri khas masing-masing, stabil juga konsisten hingga akhir cerita.

Dialog dalam novel ini masih kurang hidup karena gaya bicara tiap tokohnya masih seragam. Shirota memang menggunakan bahasa campur aduk Indonesia, Jepang dan Arab demikian juga dengan Helena yang sering pamer bahasa Jepang entah yang diajak bicara paham atau enggak, tapi toh gaya suaranya tetap sama. Terlebih penggunaan kata-kata indah dan puitis dalam dialog yang mereka ucapkan juga seolah salah tempat. Hal ini juga pastinya mempegaruhi chemistry antar tokohnya yang terasa hambar, meski saya berusaha diyakinkan setengah mati melalui narasi bahwa mereka pasangan romantis.
Ini dikarenakan gaya narasi aksinya yang lebih menekankan tell yang terasa hiperbolis. Ratusan kali saya dicekoki bahwa pasangan-pasangan ini romantis. Seolah tindakan saja belum cukup, penulis sepertinya merasa masih perlu menambahkan kata romantis di setiap penjelasan aksinya.

Alur ceritanya sendiri mulai lambat dan cukup membosankan di tengah cerita. Tindakan Helena diceritakan terlalu detail padahal akan lebih baik jika pembaca dibuat penasaran dan bertanya-tanya, cukup berikan saja satu dua informasi sekadarnya. Beberapa dialog antara Roby dan pengacaranya, juga dialog antara Helena dan Shirota terasa bertele-tele dan berputar-putar. Terasa dipanjang-panjangkan dan basi. Justru detail yang berkaitan dengan hukum yang mestinya bisa menumbuhkan minat pembaca atau menambah misteri malah diskip dengan narasi.
Namun menuju ke akhir, kisah ini mulai enak dinikmati ketegangannya. Cukup seru lah.

Bisa dibilang lebih banyak kekonyolan yang ditampilkan oleh novel ini. Ketegangan aksi dan thrillernya hanya secuil. Sangat disayangkan padahal menurut saya ide ceritanya sangat menarik dan akan menegangkan jika dieksekusi dengan lebih baik. Well.... akhir kata, membaca novel ini merupakan sebuah pengalaman yang bikin saya cengar-cengir geje karena menghadirkan twist yang unpredictable di endingnya. Wkwkwkk~~

Selasa, 26 September 2017

[Resensi: Skandal Sang Governess - Courtney Milan] Adu Tekad Serigala dan Governess

Judul buku: Skandal sang Governess
Judul asli: The Governess Affair
Series: The Brother Sinister #1,5
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Eka Budiarti
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 168 halaman
ISBN: 978-602-03-3358-8



BLURB

Ketika reputasinya dihancurkan oleh seorang duke, Serena Barton tidak menyerah. Terlebih ketika ia kehilangan pekerjaan sebagai governess, tanpa kenal malu dan takut, ia menuntut kompensasi dari sang duke. Ternyata, bukan sang duke yang membuat Serena gentar, melainkan pengelola bisnis pria itu, sang Serigala Clermont, yang ditunjuk untuk menangani Serena.

Hugo Marshall pria yang sangat kompeten dalam pekerjaan. Masalah dalam wujud governess yang suka mengganggu hanya soal kecil. Sayangnya, cara baik-baik tidak mempan untuk Serena. Hugo memutar otal, tapi semakin ia mengenal Serena, semakin sulit ia menemukan cara paling tepat untuk menaklukkan sang governess...

RESENSI

Sekali lagi Hugo Marshal harus membereskan masalah yang dibuat oleh Duke of Clermont. Kali ini sang duke bukan saja membuat sang duchess kabur—yang kemungkinan bisa berakibat fatal pada keuangan dan masa depan Hugo—tapi juga membuat marah seorang governess keras kepala. Hugo tahu, ia harus segera membereskan apapun tuntutan yang dibuat sang governess sementara Clermont pergi mengejar dan membujuk duchess-nya.
Sayangnya Serena Barton bukanlah wanita yang mudah digertak. Kekuatan tekadnya untuk tak mudah kalah membuat Hugo harus mengakui ia mendapat lawan yang sepadan. Perlahan, hatinya bertentangan, antara menunaikan kewajiban dan memuaskan hasratnya sendiri.
Saat akhirnya Hugo mengetahui skandal yang sesungguhnya sedang ia hadapi, semua sudah terlambat. Hugo harus bertempur, menyingkirkan Serena demi meraih mimpinya atau harus rela kehilangan lima ratus pound dan menyerah kalah pada hantu masa lalunya.

-------------------------

 "Menikahlah denganku." 
"Aku sedang bertanya-tanya kapan kau akan mulai mengancamku dengan nasib yang lebih buruk dibandingkan kematian. Selamat, Mr. Marshall. Sekarang aku benar-benar takut."(hlm. 73)

Cukup lama waktu berselang sejak saya menuntaskan membaca novella pembuka serial The Brother Sinister dan mengulasnya di sini. Bagaimanapun juga saya akui, mood baca novel romance saya lumayan merosot tajam, bahkan bisa dibilang nol. Untunglah buku-buku sastra masih bisa memuaskan hasrat membaca saya, meski saya harus susah payah mereviewnya.
Novella Skandal Sang Governess ini tadinya hanya buku asal comot di timbunan sebagai teman saya berada di ruang tunggu puskesmas. Sebulan ini, saya memang terlalu akrab dengan puskesmas karena kedua putra saya bergiliran jatuh sakit. Saya pun berhasil menuntaskan novella ini sambil menunggu hasil cek darah putra saya. Courtney Milan memang seorang pencerita yang handal karena sanggup membawa saya larut ke dalam dunianya dan memudarkan kecemasan saya.

Diceritakan dengan berlatar di London pada tahun 1835, The Governess Affair menyajikan plot yang menarik. Sedari awal sudah muncul ketertarikan di antara kedua tokoh utamanya yang terasa manis tapi juga ironis, karena masing-masing harus berperan sebagai pihak yang bertentangan.

"Kau paham benar apa yang terjadi. Kita salig tertarik, dan itu menyusahkan." (hlm. 79)

Novella ini murni hanya mengulik kisah asmara antara sang hero dan heroine-nya saja tanpa hal yang menarik di mata saya. Berbeda dengan novella pembuka serial ini, A Kiss for Midwinter, yang menampilkan lika liku sang hero yang berprofesi sebagai dokter.
Dalam Skandal sang Governess ini, Hugo yang merupakan pengelola bisnis milik seorang duke pun tak terlihat mencolok dalam profesinya, begitu juga dengan Serena yang tadinya adalah seorang governess. Namun bukan berarti novella ini menjadi kurang kuat, justru naik turunnya hubungan antara Hugo dan Serena membuat saya nggak sanggup untuk berhenti membaca hingga tuntas.

Courtney Milan selalu bisa membuat satu adegan simple yang manis dan menyentuh. Dalam buku tipis ini, ada dua adegan yang membuat saya jatuh hati pada Hugo dan Serena; yang pertama adalah reaksi yang muncul ketika Hugo menyiksa Serena saat hujan lebat, dan yang kedua adalah malam pertama mereka saat Hugo dan Serena saling bertukar jepit permohonan. Aih... aih.... sungguh saya dibuat meleleh oleh pasangan ini.

Bagian yang paling menarik disajikan dalam epilog: Penutup & Permulaan. Memang salah saya sendiri yang melewatkan membaca buku pertama serial Brother Sinister dan langsung membaca novella yang terhitung sebagai buku ke 1,5 ini, sehingga saya jadi penasaran akan bab epilognya. 
Yah... mungkin ini tandanya saya harus membaca buku pertama serial ini sesegera mungkin. Bulankah begitu? 😅

Senin, 04 September 2017

A 1000-book Reading Challenge for Children | Let's Read One Bedtime Story Everyday With Children



Memasuki bulan September yang konon adalah bulan yang ceria, tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala saya. Ide ini memang nggak orisinil karena terinspirasi dari 1000 books montessori dan juga kabar dari seorang kawan di negara seberang yang menceritakan betapa serunya kegiatan-kegiatan bagi balita di perpustakaan daerah mereka.

Hal-hal tersebut yang akhirnya membuat saya tergerak untuk membawa kegiatan membaca saya bersama anak-anak ke blog nurina mengeja kata. Kegiatan reading challenge ini juga upaya agar blog saya nggak berdebu karena blogging slump yang melanda saya beberapa bulan terakhir ini 🙈 Well, tentunya juga dengan niat untuk mendokumentasikan apa saja yang sudah kami baca bersama. Karena berdasarkan pengalaman saya selama ini, banyak hal-hal menarik dan lucu yang terjadi selama proses reading bersama mereka.

Untuk aturan dan pelaksanaannya (insyaallah) ini yang akan saya lakukan 😅 :

1. Membaca buku anak apa saja bersama-sama dengan anak, di jam yang sama setiap harinya. Tidak menutup kemungkinan membaca lagi buku yang pernah dibaca selama reading challenge ini.

2. Untuk buku tebal yang terdiri dari beberapa cerita, saya akan membacakan satu kisah per satu harinya kepada anak-anak. Sehingga bisa saja satu buku diselesaikan dalam beberapa hari. Mengingat pada prinsipnya RC ini boleh melakukan pengulangan membaca buku yang sama, maka hitungan untuk buku yang telah dibaca pun akan mengikuti banyaknya cerita.
Misal: Dalam satu buku anak terdapat 10 cerita, maka juga akan dihitung telah membaca buku sebanyak 10 kali.

3. Di akhir membaca buku untuk anak, saya akan mengajak mereka berdiskusi tentang isi buku, menggali pemahaman dan empati mereka serta menjawab semua pertanyaan yang muncul.

4. Memposting review atau kesan setiap kali selesai membaca satu buku atau secara berkala (setiap 10 buku/setiap satu minggu sekali).

5. Membuat update RC setiap mencapai kelipatan 100 buku.

6. Waktu pelaksanaan reading challenge ini bisa dimulai kapan saja dan berakhir setelah tercapai 1000 buku.

Semoga saja reading challenge ini sukses sampai di tujuannya, dan semangat saya untuk update nggak kendor di tengah jalan. Wkwkwk~~ Bagi teman-teman yang mau ikutan membaca bersama anak/adik/keponakan/murid atau bahkan anak tetangga boleh saja lho, tinggalkan saja comment di postingan ini. Yuk kita seru-seruan membaca bersama generasi masa depan Indonesia agar mereka melek literasi sedini mungkin 😉

Jumat, 28 Juli 2017

[Resensi] Para Bajingan yang Menyenangkan - Puthut EA

Judul buku: Para Bajingan yang Menyenangkan
Penulis: Puthut EA
Penyunting: Prima S. Wardhani
Desainer sampul: R. E. Hartanto
Penata isi: Azka Maula
Penerbit: Buku Mojok
Tahun terbit: Desember 2016 (cetakan pertama)
Tebal buku: 178 halaman
ISBN: 978-602-1318-44-7



BLURB

Sekelompok anak muda yang merasa hampir tidak punya masa depan karena nyaris gagal dalam studi tiba-tiba seperti menemukan sesuatu yang dianggap bisa menyelamatkan kehidupan mereka: bermain judi.


RESENSI

Sahabat yang paling dikenang pastilah sahabat yang telah menjalani suka dan duka bersama-sama. Laiknya filosofi mangan ra mangan asal kumpul yang dipegang erat oleh sebagian masyarakat Jawa, teman yang hadir dan tetap ada dalam keadaan susah atau senang, sedang bisa makan atau tidak, memang akan selalu membekas di hati. Demikianlah yang terjadi pada enam orang pemuda yang secara tak sengaja; mungkin karena campur tangan takdir, atau mungkin karena tuhan mahagayeng, bertemu dan membuat sejumlah "kekacauan" di jagat perjudian.

Kisah yang dialami para bajingan yang menyebut diri mereka (yaitu Puthut, sahabat Puthut, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe) sebagai Jackpot Society ini berlatar di Yogyakarta sekitar tahun 90-an. Seperti yang dinarasikan dalam buku ini dengan cara yang menarik:

Sebagai perbandingan, ketika cerita ini terjadi, harga seporsi kepala tongkol warung padang "Untuang" di Terban adalah 3.000 rupiah. Harga seporsi pecel lele di tenda kaki lima: 1.500 rupiah. Harga rokok Gudang Garam International dan Djarum Super kurang lebih 2.000 rupiah. (hlm. 10)

Siapa yang tidak akan bernostalgia membacanya? Rasanya emosi menjadi lebih tergugah dan terkoneksi dengan paparan harga-harga barang yang terasa akrab pada masa itu, dibanding jika Puthut EA sekadar menulis angka tahun.
Membaca buku ini seakan pembaca sedang dibawa menyusuri lorong waktu, mundur kembali ke Yogyakarta beberapa tahun silam. Saat judi masih marak, saat beberapa sudut kota pelajar ini juga menghadirkan hiburan yang membuat para bajingan kedanan mengadu untung. Untung menang dan untung kalah. Karena bagaimanapun juga, bagi masyarakat kota ini, lucunya, mereka selalu melihat hal yang bisa dianggap untung dalam suatu kesialan atau kerugian. Sama seperti para tokoh dalam Para Bajingan yang Menyenangkan yang masih bisa tertawa cengengesan walau kalah judi dalam jumlah besar.

"Kalau menang sok-sokan, kalau kalah berteori. Kalian ini penjudi apa doktor?" (hlm. 9)

Ada tiga bab dalam buku ini yang membagi potongan kisah dengan jelas. Yang pertama adalah bagian gila-gilaannya para Jackpot Society dalam Kami Tak Ingin Tumbuh Dewasa. Cerita-cerita konyol saat mereka menang dan kalah judi, bagaimana usaha mereka agar menang judi, orang-orang yang mereka kenal selama menjadi penjudi dan ragam kekacauan yang pernah mereka buat. Kisah menegangkan ketika mereka sempat dicegat beberapa preman, juga kisah keisengan-keisengan yang mereka lakukan di kantin bonbin. Ya, kantin fakultas sastra UGM yang terkenal dan melegenda itu. Di sanalah para bajingan ini menghabiskan waktu dan membuat beberapa kegemparan. Tentu saja yang muncul adalah cerita-cerita lucu yang bisa membuat pembaca ngakak terpingkal-pingkal. Banyak sekali tingkah polah mereka yang bisa membuat geleng-geleng kepala. Hingga salah satu dari mereka harus pergi, meninggalkan anggota Jackpot Society lainnya dalam duka. Kesedihan itu ada, kehilangan itu nyata. Maka kenangan akan sahabat yang abadi dalam ingatan itu kemudian semakin dikekalkan pula di dalam buku ini.

Bagian kedua adalah kisah yang tak kalah konyol tentang salah satu anggota Jackpot Society yaitu Bagor yang dituangkan dalam bab Bagor: Setelah Dua Puluh Tahun. Rupanya kekonyolan masih tetap berlanjut. Seorang sahabat boleh saja telah pergi, tapi hidup tetap harus berjalan, gojek kere tetap harus ditegakkan. Bahkan bila itu artinya Bagor menjadi sasaran keisengan Puthut yang tiada habisnya. Tapi itulah teman. Seseorang yang bisa diajak iseng atau malah jadi korban iseng dan balas mengisengi kita, yang bebas menyumpahkan serentetan kata: asu, bajingan, jembut, dan masih tetap bisa kita tertawakan. Ya, selain berisi para bajingan rupanya buku ini pun mengandung banyak kata pisuhan alias makian yang mengalir lancar dalam dialog yang dilakukan para tokohnya. Membuat tertawa, membuat mengelus dada dan membuat ingin balas memaki.

Di bagian epilog, hadir Sekilas Kenangan yang memang benar-benar selintas; tak banyak, tapi menutup dengan apik. Cukup untuk membuat merenung, akan arti persahabatan dan arti kenakalan masa muda. Benarkah bermain judi telah menyelamatkan hidup mereka?
Namun selain itu, tentu saja ada pesan yang lebih menancap dan sangat penting tentang buku ini di bagian epilog:

"Bukune situ yang tentang dunia perjudian kita, bisa saya dapatkan ndik toko buku mana, Bung?"
"O ya ndak bisa didapatkan di toko-toko buku, Bung..."
"Lha kenapa je?"
"Soalnya mempropagandakan hidup yang tak bermoral dan cenderung tolol."

Sangat jelas bukan pesannya?

Membaca buku ini memang hanya bisa ngikik, ngakak dan ngekek. Diceritakan dengan gaya lugas yang jujur apa adanya. Dialog yang selengekan khas dagelan mataraman, dan tentunya banyak menggunakan kosakata bahasa jawa. Meski begitu tak perlu khawatir karena di bagian belakang akan ada glosarium untuk memandu pembaca yang kesulitan memahami bahasa ini. Memang cukup repot sedikit tapi seandainya gojek kere dalam buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, mungkin ndagel-nya akan kehilangan nyawanya. Namun harus diakui, Para Bajingan yang Menyenangkan memang pantas untuk disebut novel paling bajingan tahun ini.

Rabu, 12 Juli 2017

[Resensi Buku] Dusta-Dusta Kecil by Liane Moriaty | Kebohongan yang Paling Berbahaya

Judul buku: Big Little Lies
Sub judul: Dusta-Dusta Kecil
Penulis: Liane Moriaty
Alih bahasa: Lina Jusuf
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 512 halaman
ISBN: 978-602-03-3406-6



BLURB

Pembunuhan? Kecelakaan tragis?
Yang pasti seseorang tewas. Tapi, siapa yang melakukan apa?

Semuanya bermula pada hari orientasi TK di Pirriwee Public School: ketika Jane—seorang ibu tunggal yang penuh rahasia—mengantar putranya ke sekolah dan bertemu dengan Madeline yang sinis dan penuh semangat, serta Celeste yang cantik tapi selalu gelisah.

Saat insiden kecil yang melibatkan anak-anak ketiga wanita itu dengan cepat berubah serius, dan bisik-bisik antaribu menjadi gosip-gosip jahat... tak ada lagi yang tahu siapa yang benar dan siapa yang berbohong. Hingga seseorang harus membayar dengan nyawa...


RESENSI


Apa jadinya jika tiga wanita dengan kepribadian dan latar belakang yang berbeda, berteman karena sebuah "kecelakaan" dan berkoalisi dalam perseteruan antar orangtua murid sekolah taman kanak-kanak?
Bagaimana jika satu insiden kecil bisa memberi efek yang meluas dan saling menjatuhkan seperti domino?

Miss Barnes: Para orangtua helikopter. Sebelum aku mulai bekerja di Pirriwee Public, kupikir cerita itu dibesar-besarkan, cerita tentang para orangtua yang terlalu terlibat dengan anak-anak mereka. Maksudku, ayah dan ibuku menyayangiku, mereka tertarik denganku, ketika aku tumbuh besar di tahun 90-an, tapi mereka tidak terobsesi denganku. (hal. 16)

Membaca novel ini benar-benar pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Sedari awal saya dibuat menebak-nebak apa yang sesungguhnya terjadi. Siapa korban dan siapa pelaku. Semua yang semula abu-abu dan hanya berupa pernyataan-pernyataan samar dan rancu dari para saksi, semakin lama terangkai menjadi satu jalinan cerita yang ternyata berujung mengerikan.

Big Little Lies menarik bagi saya karena saya sendiri merasa terikat dengan kisahnya. Saya merasa situasi yang dihadapi para ibu-ibu mudan ini begitu dekat dan lekat serta mudah saya jumpai di lingkungan sekolah. Saya teringat insiden ketika salah seorang teman putra saya menendang teman yang lain hingga kakinya memar, dan kemudian perseteruan dingin para ibu pun dimulai. Persis seperti yang terjadi dalam novel ini. Ketika di hari pertama sekolah, Amabella telah diserang secara fisik oleh seseorang, dan menuding Ziggy sebagai pelakunya, dari situlah segala jalinan kerumitan dimulai. Dari situlah kebohongan-kebohongan kecil mulai terkuak, hingga menampakkan kebohongan besar yang sesungguhnya.

Karakter dalam novel ini begitu kompleks tapi konsisten. Masing-masing tokoh menunjukkan karakter yang kuat dan khas. Madeline yang sinis dan sedikit serampangan tapi selalu siap dan sigap menolong, memiliki masalah kecemburuan terhadap istri baru mantan suaminya dan merasa kehilangan kontrol atas putri pertamanya. Sifat Madeline terasa natural dan loveable karena ketidaksempurnaannya. Ada pula Celeste yang cantik, mapan, dan memiliki suami idaman. Celeste adalah simbol ibu ideal dengan dua anak laki-laki kembar yang nggak bisa diam. Namun ia selalu gelisah dan seolah memendam sesuatu. Yang tak kalah misteriusnya adalah Jane, seorang ibu tunggal yang terampil dan penyayang. Masa lalunya dan alasan kepindahannya ke Pirriwee  begitu samar. Ia selalu cemas dan ketakutan bila menyangkut Ziggy, putranya.
Masih ada pula Renata, seorang ibu bekerja yang sukses karirnya dan memiliki putri yang berbakat. Seorang ibu yang terlalu melindungi anaknya dan memperlakukan seorang anak yang dianggapnya nakal seperti seorang kriminal. Meh.
Renata ini tipe ibu-ibu yang bakal saya hindari jika ada di lingkup pergaulan sesama wali murid. Wkwkwkk... Tipe yang malas banget berurusan dengannya. Karena saya bukan Madeline yang tangguh dan bisa balas meng-KO orang semacam Renata. XD

Well, kisah dalam novel ini meski merupakan thriller psikologi namun juga sarat sindiran akan gaya asuh orangtua masa kini. Juga pesan bahwa tindakan perundungan yang dilakukan seorang anak, bisa jadi karena dia mencontohnya dari seseorang. Maka sebagai orangtua, kita diharap berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.
Saya merasa Big Little Lies merupakan novel yang paling mengena di hati saya sepanjang tahun ini (ya walau saya nggak terlalu banyak membaca juga untuk tahun ini), jadi buat kalian yang suka tipe novel thriller psikologis, harus banget baca novel ini. 😉

Senin, 01 Mei 2017

[LPM] Kopdar Es Kacang Merah BBI Jogja April 2017

Hari Sabtu lalu, tepatnya tanggal 29 April 2017 anggota BBI area Jogja dan sekitarnya bikin acara kumpul-kumpul kopi darat. Kebetulan Mbak Dani, member BBI dari Solo sedang ada diklat di Jogja, dan tetiba beliau menghembuskan isu soal Es Kacang Merah di daerah Bumijo di grup Joglosemar. Isu yang langsung bikin air liur netes netes dan bergulir jadi rencana kopdaran sambil icip-icip es. Jadilah kumpul-kumpul unyu kami diniatkan di Pempek & Mie Ayam Bener yang terkenal banget Es Kacang Merahnya itu. Sooo.... setelah sebelum-sebelumnya kopdar BBIers Jogja hanya di seputar pesta buku dan Taman Pintar, akhirnya kami bakal kopdar sambil makan-makan lagi. Haseeekk....

Ndilalah, berhubung bulan April ini adalah bulan kelahiran BBI, maka ada usul untuk menghembuskan woro-woro kumpul unyu ini ke luar grup joglosemar. Jadilah kami dibuatkan poster undangan unyu dan cantik oleh Wardah dan dipajang di wall grup facebook BBI dan di twitter. Siapa tau ada yang lagi iseng mampir Jogja terus ikutan nyantol di Mie Ayam Bener buat seruput es kacang merah sambil ngobrolin buku bareng kami. Biar tambah seru dan pemilik warungnya senang. Eeeh... bakal senang nggak ya kalo kami nanti nongkrong lama-lama. Hahahaha...



Biasanya kopdar BBI Jogja yang saya ikuti sejak saya bergabung di tahun 2015 nggak pernah komplit, itu karena ada saja yang berhalangan karena satu dan lain hal. Sekalinya pernah lumayan komplit beberapa bulan lalu di kafe di Kridosono. Apa mungkin daya tarik makanan lebih besar daripada diskonan buku ya? Wkwkwk~~
Namun saya lumayan bersemangat buat ikutan walau beberapa hari sebelumnya sudah nongkrong unyu malam-malam bareng Mas Dion, Wardah, Mbak Trully dan Mbak Desca sambil ngegosipin buku dengan serunya. Tentu saja alasannya karena Mas Dion janji bakal bawain Nyai Gowok buat saya pinjam. Aaaaakkk... akhirnya bakal ketemu sama buku idaman. XD

Di hari pertemuan saya emang sudah niat bakal datang sendiri dan nggak bawa krucil saya. Karena jam kopdar masih jam sekolah kamas, maka otomatis kamas Yudha nggak bisa diajak. Dan kalau sang kamas nggak ikut, mending nggak usah ngajak sang yayi, karena pengalaman sebelumnya, kamas suka bete kalau tahu yayinya diajak sementara dia enggak. Yaaah... namanya juga anak-anak. Untungnya waktu pamitan sama yayi, langit Jogja sedang dipenuhi  pesawat dan helikopter dalam rangka Jogja Air Show, jadilah yayi Puguh yang super polahnya itu lebih tertarik nonton pesawat daripada ngikut simboknya menembus kemacetan Jogja.
Sesampainya di lokasi, baru Dhilla dan Taqy yang sudah datang dan sudah menikmati seporsi mie ayam dan es kacang merah. Untunglah dapat meja panjang yang sepertinya bakal muat menampung kami. Terima kasih, Dhilla ^^ Akhirnya bisa ketemu lagi deh sama Taqy yang aktifnya minta ampun, untung bundanya strong. Kkk~~
Tak berapa lama mulai berdatanganlah Mbak Dani, Asri, Mas Dion dan Hani. Heung... ke mana Wardah, ya? Usut punya usut setelah dijapri ternyata Wardah lagi asyik bebersih kos dan lupa ada kopdar. Glodhag. Pegimane ini, yang bikin undangan malah lupa sendiri. Wkwkwkwk~~



Jadilah kami pesan duluan sambil nunggu Wardah. Mumpung bendahara arisan alias Asri datang, hayuuk dilunasin arisannya. Lalu dimulailah gosip-menggosip tentang perbukuan, huwaaa memang nggosip paling enak itu kalau sambil makan. Ahahaha... Oh iya, Mas Dion bawain saya tiga buku; Nyai Gowok, Bakat Menggonggong dan Tuhan Tidak Makan Ikan. Dua buku pertama itu dipinjamkan sedangkan buku Gunawan Tri Atmodjo adalah pesanan saya. Sementara Mbak Dani juga bawain buku hisrom titipan saya. Aaaaiiih senang.



Wardah pun akhirnya datang tepat saat jalanan makin ramai, siang makin menyengat panasnya dan pengunjung lain makin membanjir. Ngahahaha... untung belum ditinggal pulang ya, Wardah. XD



Lalu tibalah kami pada acara puncak: penyerahan kado buat Hani. BBI Jolosemar tahun ini memang mengadakan arisan kado, nah berhubung ulang tahun Hani sudah dekat, kadonya diserahkan sekalian. Terima kasih buat Mas Dion yang sudah jadi petugas kado buat Hani. Semoga kado bukunya segera dibaca dan nggak ditimbun. Jangan kayak saya yang baru dibaca dua padahal dapatnya sudah sejak Desember *dikeroyok temen sejoglo*.

Serah terima kado arisan Joglosemar buat Hani


Berhubung hari sudah makin siang, dan warung makan juga makin ramai, maka alangkah baiknya kami melipir pulang. Kan takut kalo dipelototin karena nggak pergi-pergi. Sudah kenyang, sudah puas menggosip, sudah bawa pulang buku-buku baru buat dibaca, saatnya Tabi berpisah. Dadah. Tapi nggak pakai berpelukan sih. Dan saya baru tersadar kalau Hani, Asri dan Wardah kompakan pake pink pink... Hmm, apa perlu besok pake dress code ya kalo kopdaran lagi? 😂😂

Kopdar kali ini rasanya seru, apalagi akhirnya bisa ketemu Mbak Dani yang legendaris tantiknya 😆😆 . Semoga bulan-bulan ke depan kopdar BBIers Jogja makin seru, yang datang makin banyak. Dan semoga rencana kopdar Joglosemar bisa terealisasi. Amin.

Note: foto-foto dipersembahkan oleh Mbak Dani.



 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon