Kamis, 08 November 2018

[Blogtour & Giveaway] Tapak Setan - Haditha

Judul buku: Tapak Setan
Penulis: Haditha
Penyunting: Dion Rahman
Penata Letak: Divia Permatasari
Ilustrasi Isi: Haditha
Desainer Sampul: Dedy Koerniawan Susanto
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 217 halaman
ISBN: 978-602-04-7989-7



BLURB

Ada tidak sih cara menghukum orang yang tingkahnya kayak setan kalau tidak dengan cara yang lebih setan lagi?

Aku, Atarjoe, setiap pagi bangun dengan tangan berlumuran darah dan berbau bangkai. Coba bayangkan kalau harimu diawali dengan itu. Setiap hari aku harus berkutat dengan rutinitas macam itu. Menjijikkan. Lama-lama kuketahui, ada setan yang memperalat tanganku untuk berburu mangsa darah. Enak saja, ini tanganku, aku tak sudi dipakai seperti itu. Maka aku rebut balik kendali atas tanganku. Dari setan itu aku tahu tanganku mampu menyedot setan-setan lain untuk kemudian dipakai sebagai senjata.

Hidupku ini dipenuhi orang celaka yang membuat orang-orang sengsara. Melalui tapak setan ini aku menyalurkan dendam orang-orang yang tak bisa melawan itu. Kugantikan tugas si setan. Aku berburu orang-orang laknat yang bikin banyak orang susah. Tinggal kuraup muka mereka dan mereka akan kerasukan setan seumur hidup, dan setiap hari mereka akan melukai diri sendiri, tanpa bisa mati. Pembalasan yang memuaskan, bukan?

RESENSI

Ini adalah pengalaman kedua saya membaca karya Haditha, sebuah pengalaman yang berbeda walau masih bercerita tentang dunia yang sama. Tapak Setan memang begitu berbeda dengan Karung Nyawa, terutama dari segi emosi dan suasana yang disuguhkan dalam ceritanya.

Coba aku tanya, kalian pernah bangun tidur lalu melihat tangan kalian bersimbah darah?
Pernah? Tidak?
Aku setiap hari! (hlm. 2)

Semula Atarjoe hanyalah seorang pemuda belasan tahun yang tinggal di kawasan kumuh dan harus menghadapi kehidupan yang pahit. Ia dikuasai kemarahan karena melihat ibunya yang bekerja sebagai pelacur sering dimanfaatkan terutama oleh seseorang yang disebutnya sebagai Si Bangsat. Hingga ia mendapati setiap pagi saat terbangun tangannya selalu bersimbah darah dan berbau bangkai. Itulah pembuka jalan bagi Atarjoe untuk melampiaskan kemarahan dan dendamnya.

Membaca Tapak Setan membuat saya jadi sering merinding. Bagaimana tidak, kehidupan Atarjoe yang tragis dari satu kehilangan ke kehilangan yang lain membuat buku ini terasa emosional. Sedikit demi sedikit, dari hari ke hari, Atarjoe dibimbing oleh Setan Bocel untuk mengumpulkan amarahnya. Ketika amarah itu telah terkumpul, pelepasannya sungguh mengerikan. Namun puaskah Atarjoe?
Yang menarik adalah, setelah mengetahui fungsi dari telapak tangannya, Atarjoe memilih untuk berburu setan-setan baru dan menggunakannya untuk menghukum orang-orang yang dianggapnya telah melakukan dosa. Beragam setan pun bermunculan, bahkan jenis-jenis yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Selain Setan Bocel ada Setan Cebol, Tuyul Dubur, dan yang paling mengerikan yaitu Setan Klobot.
Semua setan ini memiliki keistimewaan dan tingkat kengerian masing-masing. Ada yang menjijikkan, ada yang mesum, tapi ada juga yang pendiam.

Fokus novel ini memang amarah dan dendam. Ceritanya penuh dengan kematian dan darah. Kematian yang membuat trenyuh, yang membuat bergidik, dan juga kematian yang memuaskan. Bagaimana seseorang berusaha menyembuhkan kesedihan dan lukanya dengan melampiaskannya kepada orang-orang penuh dosa. Walau Atarjoe beberapa kali menyebut dirinya sebagai bos para setan, saya merasa bias siapa yang menjadi budak siapa. Kemarahan Atarjoe di sisi lain membuatnya menjadi sesuatu yang lebih mengerikan dari setan.
Saya menemukan beberapa sentilan yang cukup mengena pada situasi lingkungan kita saat ini. Orang-orang mementingkan diri sendiri, memuja orang yang salah, main keroyokan... pada akhirnya orang-orang sok suci justru memiliki dosa juga melalui tangan orang lain. Maka di situlah Atarjoe nuncul untuk membasmi mereka.

Gaya bahasa yang digunakan Haditha dalam novel ini pun begitu kelam. Sadis dan bikin mual kalau saya boleh bilang. Saya bisa merasakan kebrutalan dalam diri Atarjoe melalui cerita yang keseluruhannya berupa narasi ini. Namun rasa penasaranlah yang membuat saya tak bisa berhenti membaca novel ini. Selain petualangan Tapak Setan begitu mendebarkan, ada misteri dibaliknya yang membuat saya terus terseret dalam alurnya. Kemana semua ini akan berujung? Bagaimana nasib Atarjoe nantinya? Apakah Tapak Setan itu sebenarnya?
Semua pertanyaan saya itu terjawab dengan klimaks yang luar biasa mencengangkan. Ah... saya rasa semua ini belumlah berakhir.

Tentu saja bagi kalian yang menyukai cerita horor dan terbiasa dengan hal-hal tragis dan sadis, saya merekomendasikan novel ini. Walau ada beberapa bagian yang membuat saya mual membacanya tapi karena jalan ceritanya yang seru, saya anggap novel ini layak untuk dibaca.

********** GIVEAWAY **********


Ada satu novel Tapak Setan yang bisa kalian dapatkan melalui blogtour kali ini. Kalian hanya perlu melakukan photo challenge yang tata caranya bisa disimak di akun instagram saya @kendengpanali 🤗
Buruan ya karena photo challenge ini hanya berlangsung tiga hari saja dari tanggal 8 - 10 November 2018. Ditunggu yaa partisipasinya :)

Kamis, 13 September 2018

[Resensi] Sayap Besi vol. 1 - Anggaditya Putra & Ikhromi Oktafiandi | E for Erlan

Judul buku: Sayap Besi vol. 1
Penulis: Anggaditya Putra & Ikhromi Oktafiandi
Penyunting: Juliagar R. N.
Desainer cover: Budi Setiawan
Ilustrator: Kresnha Adhitya Zulkarnaen
Penerbit: Mediakita
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 154 halaman
ISBN: 978-979-794-538-1



BLURB

"Lo tahu ada berapa belokan dari sekolah kita sampe saat ini?" tanya Erlan sambil menatap langit-langit bus. Mansa agak terkejut dengan pertanyaan Erlan yang agak di luar konteks. Mansa pun mengubah posisi duduknya.
"Well, jawabannya adalah dua. Belokan ke kiri dan ke kanan." Mansa mengambil kacamata yang disimpannya di saku depan baju. Rasa kantuk yang tadi dirasakannya sudah menghilang.
"Kurang tepat."
"Lha, ya terus apa?"
"Bukan apa, tapi berapa, Mansa." Erlan menatap Mansa serius.
"Lima puluh tujuh belokan sudah kita lalui. Tiga puluh tiga belokan ke kanan, dan dua puluh empat belokan ke kiri."
"Ahaha, gila lo, Lan." Mansa mencoba tertawa, menganggap itu adalah upaya Erlan untuk melucu. Namun, ternyata wajah Erlan tetap datar. "Eh, serius?" Raut wajah Mansa segera berubah. Ia membuka laptopnya. "Duh, sayang kita di daerah yang gak ada sinyal. Gue harus itung manual dari digital map yang ada."
"Iya, coba aja, tapi kalo sekarang udah 58, Man," ujar Erlan.
-------------------------------------------------------
Dalam perjalanan karyawisata, Erlan, si anak baru di sekolah Bibit Bangsa, bertemu dengan Mansa, si jago komputer. Pertemuan itu sekaligus memulai jalinan persahabatan antara Erlan, Mansa, Cinta, dan Clara. Bersama-sama, mereka bekerja sama memecahkan misteri di sekitar mereka, sekaligus juga saling menyembuhkan satu sama lain.

Buku volume pertama dari sebuah webseries yang bercerita tentang misteri dan persahabatan, dengan tambahan cerita bonus yang belum pernah dipublikasikan.


RESENSI

"Bukan, Man. Itu yang otak gue lakukan secara otomatis. Lapar akan informasi. Memprosesnya adalah kenikmatan buatnya. Ya, buat gue juga." - Erlan (hlm. 23)

Bagaimana rasanya kalau kita punya detektif SMA yang gak kalah hebat dari Shinichi Kudo? Seorang remaja yang bukan hanya ahli menganalisa, tapi juga mampu merekam jejak informasi ke dalam otaknya dengan begitu mendetail. Yap itulah Erlangga Quantum Putra, alias Erlan, sang tokoh yang ahli memecahkan misteri dalam novel Sayap Besi.

Novel tipis berjumlah 154 halaman ini terbagi dalam tiga kasus besar, setelah sebelumnya dibuka dengan "pemanasan" kecil berupa analisa Erlan di hadapan guru dan teman sekelasnya tentang peluang. Sebuah awal yang cukup rapi sebagai pembuka jalan bagi Erlan untuk bisa bertemu teman-teman setimnya; Mansa dan Cinta.
Kasus pertama yang harus dihadapi Erlan, Mansa dan Cinta sungguh sangat mendebarkan untuk dibaca. Sebuah perjalanan karyawisata yang berujung maut. Bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan hingga terbalik 90° dan terkubur tanah bercampur lumpur yang longsor akibat derasnya hujan. Di sinilah ketrampilan dan kecepatan berpikir Erlan diuji. Ia berlomba dengan waktu untuk bisa menyelamatkan seluruh penumpang, atau mereka akan mati kehabisan udara.

Kasus yang kedua adalah menghilangnya kucing kesayangan kepala sekolah. Kasus yang awalnya seolah sepele tapi membawa mereka pada kejahatan besar yang sedang menunggu mereka. Pada kasus ini muncullah Clara yang akhirnya ikut bergabung dengan Erlan, Mansa, dan Cinta untuk memecahkan misteri dan kemudian membentuk sebuah klub ekskul.
Sayangnya ruangan yang disediakan untuk klub mereka adalah ruangan lama tak terpakai yang berhantu. Lagi-lagi, keempat siswa-siswi dengan kemampuan luar biasa ini kembali diuji untuk menyingkap misteri yang mencengangkan.

Sebagai sebuah novel misteri-detektif, Sayap Besi volume 1 ini dikemas dengan apik. Penokohannya kuat dan konstan. Walau terus terang saya tetap saja berpikir bahwa Erlan mirip dengan Shinichi dari segi kemampuan analisanya, Mansa mirip dengan Profesor Agassa yang pintar mengutak-atik komputer, Cinta mirip dengan Ran yang ahli beladiri dan kekuatannya luarrrrr biasa, sementara Clara yang sinis itu mirip dengan Haibara. Ya walau tentu saja di dalam novel ini Erlan lebih hebat karena mampu mempraktekkan tindakan darurat hanya karena pernah menontonnya di acara Gray's Anatomi!!! Saya sempat merasa speechless saat membacanya.
Selain Erlan, ada Mansa yang juga menjadi tokoh dengan kemampuan luar biasa karena mampu membobol web manapun. Ia yang bertugas untuk mencari data bahkan dari situs yang paling sulit dibobol sekalipun. Cool hacker. Ada pula Cinta yang mampu menguasai beberapa seni beladiri dan memiliki kekuatan dasyhat. Beberapa kali tekniknya berhasil menyelamatkan teman-temannya. Clara menjadi tokoh yang teoritis dan pemberani walau terkadang sinis. Tentunya perbedaan karakter mereka berempat ini menjadi bumbu yang manis dan terkadang menghibur dalam persahabatan mereka.

Selain kekuatan tokohnya novel ini juga cukup rapi dan enak dibaca. Timeline-nya jelas, settingnya cukup mendetail. Informasinya nggak berlebihan. Narasi, deskripsi dan dialog disajikan dengan seimbang. Percakapan antar tokohnya luwes dan nyambung, kecuali untuk bagian Bu Anjali yang terasa sedikit maksa untuk terlihat sebagai guru badass.  

Kini saya tiba di bagian terbaik. Penutup yang manis. Sebuah kilas peristiwa dimana Erlan mengenang kembali kejadian sebelum ia dipindahkan ke sekolah Bibit Bangsa. Anak yang istimewa yang sering dianggap sebagai sumber masalah, yang tak bisa diterima di manapun, akhirnya dipertemukan dengan kawan-kawan yang istimewa juga. Satu momen yang menurut saya manis dan membuat saya ingin melanjutkan petualangan mereka berempat di Sayap Besi vol 2.

Overall, Sayap Besi adalah sebuah novel remaja yang kental dengan misteri yang seru dan persahabatan yang manis. Saya sangat merekomendasikan novel ini buat kalian para pencinta kisah misteri-detektif. 

Rabu, 08 Agustus 2018

[Resensi] Diajeng - Netty Virgiantini | Camilan dan Cinta Segitiga

Judul buku: Diajeng - Camilan, Gembolan, dan Cinta yang Belingsatan
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Wiwien Wintarto
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 9786020380810



BLURB

Di tengah semangatnya merintis usaha Cenil Snack untuk membiayai kuliah, Diajeng tertipu oleh Angga, seorang sales yang mengajaknya bekerja sama. Dengan harapan bisa memperoleh keuntungan lebih besar, ia mempertaruhkan seluruh tabungan yang dimilikinya. Cobaan bertambah ketika dagangan yang dititipkannya di sebuah minimarket ludes dalam musibah kebakaran.

Dalam keadaan terpuruknya, Ardi, laki-laki matang yang berprofesi sebagai guru SD, melamarnya dan menawarkan banyak solusi untuk masalahnya. Diajeng terbelit dalam kebimbangan karena diam-diam ia juga menyukai Aslan Satriawan, mantan teman sekolahnya yang sudah didekati oleh sahabatnya sendiri. Seperti sebuah nasihat, setelah kesusahan pasti ada kemudahan, ia pun kemudian mendapat kejutan tak terduga dalam hidupnya. 

RESENSI

Satu hal yang saya suka dari novel-novel karya Netty Virgiantini adalah karakter tokoh ceweknya yang tangguh, glenyengan, rada konyol, dan sederhana. Sedemikian halnya dengan Diajeng, tokoh utama dalam novel Diajeng - Camilan, Gembolan, dan Cinta yang Belingsatan. Sebuah novel yang termasuk dalam Gemblongers Series, yaitu serial di mana masing-masing novel menceritakan tentang para anggota geng Gemblongers yang ditulis oleh empat penulis yang berbeda. Anggota Gemblongers sendiri terdiri dari empat cucu perempuan Mbah Atmosukarto, seorang kakek yang masih gagah dan suka melemparkan pantun geje alias gak jelas kepada cucu-cucunya. Seru kan?

Diajeng sedari awal ditampilkan dengan menonjolkan sikap pekerja keras dan cuek. Tanpa rasa malu dia berkeliling kota Semarang dari satu warung ke warung yang lain untuk menitipkan dagangan cemilannya. Dari hasil keringatnya sendiri, dia berusaha membiayai kuliahnya di Universitas Terbuka. Selain itu Diajeng juga begitu lugu dalam hal menyikapi perasaannya. Dia mundur dan diam saat tahu Arina juga menyukai Aslan. Bahkan saat Ardi melakukan pendekatan padanya, Diajeng jadi belingsatan saking bingungnya. Keluguan Diajeng pula yang membuatnya tertipu oleh teman sesama sales. Jelas, konflik batinnya semakin memuncak karena harus memikirkan uang tabungannya yang ludes.

Gaya bercerita Netty Virgiantini yang khas sangat terasa dalam novel ini. Kekonyolan dihadirkan dalam profil keluarga Diajeng, melalui sifat Bapak dan Ibu Diajeng yang drama abis. Belum lagi adanya Mbah Atmosukarto yang sangatlah geje itu, yang suka melemparkan pantun ajaib pada cucu-cucunya. Keunikan keluarga Diajeng ini yang bikin saya sebagai pembaca merasa terhibur karena rada-rada absurd. Tapi begitulah keluarga, bukan? Seaneh dan seabsurd apa pun, merekalah selimut hangat yang paling mampu memeluk dan meredakan kegelisahan kita. Begitupun keluarga Diajeng.
Kemudian muncullah dua pria yang bisa membuat Diajeng belingsatan, yang satu karena rasa cinta terpendam yang satu karena rasa segan dan hormat. Aslan yang pendiam dengan sikapnya yang membingungkan itu rasanya bikin gemas. Membuat saya bertanya-tanya akan bagaimana akhir kisah cinta segitiga ini. Sementara Ardi yang dewasa memang sedikit "menyeramkan" dengan keinginannya untuk membuat hubungan yang lebih serius lagi. Bikin grogi dan belingsatan.

Novel Diajeng mengambil latar kota Semarang sebagai sentra ceritanya. Netty Virgiantini sangat cermat dalam menggambarkan kota ini lengkap dengan cuacanya yang puanaaasss. Setiap nama tempat, nama jalan dan rute yang dilalui Diajeng tentulah mampu membangkitkan nostalgia akan kota ini. Membuat saya sebagai pembaca benar-benar merasakan atmosfer dan suasana kota Semarang.

Saya pikir saya begitu tertarik dengan isu pernikahan yang ada dalam novel ini. Beberapa pertanyaan selalu ditujukan kepada perempuan selepas kami lulus SMA: kenapa tidak menikah saja?
Diajeng pun mendapat tawaran untuk menikah di tengah keruwetan masalahnya. Begitu tipisnya garis godaan itu untuk dilangkahi. Seandainya ia menikah, ia tak perlu pusing memikirkan biaya kuliah, tak perlu berpanas-panas ria di jalanan kota Semarang demi mengantar cemilan, masa depannya bisa lebih jelas. Namun benarkah nilai perempuan hanya cukup sampai di situ? Benarkah pernikahan adalah sebuah solusi? Saya merasa harap-harap cemas membaca Diajeng yang sedang mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan. Karena saya tak ingin Diajeng berhenti berjuang, saya tak ingin Diajeng menyerah. Karena menjadi istri ataupun tidak, perempuan harus tetap bisa berdiri sendiri.

Ini adalah kisah tentang gadis tangguh yang dengan gagah berani berjuang demi masa depannya sendiri. Siapa sangka jika ia merasa minder dan tak berani jujur akan perasaannya. Tentu sangat menarik untuk mengikuti perjuangannya dalam mengembangkan usaha cemilan dan berusaha percaya diri meraih lelaki yang dicintainya. Ringan, gayeng, tapi juga bikin mewek... benar-benar seru buat dibaca.

Sabtu, 19 Mei 2018

[Resensi & Giveaway] Karung Nyawa - Haditha

Judul buku: Karung Nyawa
Penulis: Haditha
Penyunting: MB Winata
Penyelaras Aksara: Nomena Hutahuruk
Desainer sampul: Haditha
Penyelaras desain sampul: Raden Monic
Penerbit: Bukune
Tahun terbit: Maret 2018
Tebal buku: 220 halaman
ISBN: 978-602-220-265-3



BLURB

Johan Oman, Pemilik Konter Pulsa
Ah, kejadian lagi, padahal belum juga hilang ingatanku akan kejadian mengerikan itu! Udahlah, tutup konter saja!

Janet Masayu, Pemandu Karaoke
Pacarku memang benar-benar trauma akan kejadian itu. Sekarang dia nggak mau keluar sama sekali dari konter pulsa kecilnya. Harus bagaimana ya kalau sudah begini...

Zan Zabil Tom Tomi, Penjaga Warnet
Menarik! Polisi saja tidak sanggup memecahkan misteri ini.
Sepertinya sudah perlu detektif partikelir yang lama nganggur ini turun tangan.

Tarom Gawat, Cucu Dukun
Gawat... gawat... GAWAT!

Empat pemuda bekerja sama menyelidiki kasus ganjil yang menggegerkan desa. Mereka tidak pernah menyangka akan berada di ranah klenik nan mistik yang membuka rahasia masa lalu kelam Purwosari.
Bukan hanya soal pesugihan dengan tumbal, tapi jauh lebih mengerikan lagi, perihal legenda Toklu--Pemulung pemburu kepala manusia yang mungkin benar adanya.

Kini mereka harus menghadapi tantangan terbesar ketika mendapati bahwa pemburu dan mangsa terakhir dari semua ini lebih dekat dari yang mereka kira.

RESENSI

Saya paling suka dengan cerita yang berbau misteri-misterian, bagaimana satu kasus bisa membawa kita ke berbagai macam fakta yang mengejutkan. Namun, kalau misteri itu ada aroma kleniknya saya nggak yakin, karena kalau dalam istilah jawa, saya ini mudah tom-tomen. Saya gampang ketonto, tiap kali mengalami satu kejadian, atau baca buku yang terlalu dihayati, atau bahkan hanya mendengar percakapan orang lain yang merasuk ke pikiran saya, pasti malamnya bakal saya mimpikan. Itu sebabnya baca Karung Nyawa karya Haditha ini beneran ngeri-ngeri sedap.

Dari awal bab saja, Karung Nyawa sudah bikin geger. Saya diajak melihat Johan Oman, yang saat itu baru berusia dua belas tahun, bertaruh nyawa melawan arus sungai dengan berpegangan pada sesosok mayat tanpa kepala. ASTAGA GAWAT!!!
Bisa dibayangkan kengerian yang dialaminya dan bagaimana hal itu kemudian membuatnya trauma. Kasihan, ganteng-ganteng tapi yang ngedatengin tiap malam adalah sesosok mayat tanpa kepala. Tentunya tak mudah menghilangkan rasa traumanya.

Rupanya kegegeran itu masih belum usai. Tujuh tahun kemudian, kejadian munculnya mayat wanita tanpa kepala kembali terulang. Kali ini Zan Zabil Tom Tomi alias Jabil, merasa terpanggil untuk menyelidiki dan mengungkap kejadian misterius itu. Ia membujuk Johan Oman, yang kembali mengurung diri karena dilanda trauma, untuk bergabung. Atas bujukan kekasihnya, Janet Masayu, Oman pun akhirnya mau bergabung. Ketika penyelidikan awal Jabil membawanya ke ranah klenik, Jabil pun meminta bantuan Tarom Gawat, seorang pemuda yang mendapat anugerah ganjil yang berhubungan dengan makhluk halus. Berempat mereka berusaha mengusut isu-isu mistis yang berkelindan di desa mereka.

Mengikuti petualangan mereka berempat sungguh membuat jantung saya nggak karuan. Untungnya Haditha memiliki kepekaan yang bagus untuk menyelipkan beberapa lelucon di saat yang tepat. Paling tidak itu membantu saya yang penakut ini untuk terus membuka lembaran kisahnya.
Settingnya juga terbangun dengan kuat karena penyebutan tempat-tempat yang spesifik dan pengaruh dialek lokal yang digunakan para tokohnya. Hal ini membuat suasananya terasa cair dan dekat dengan keseharian saya. Membuat saya terikat makin erat dengan alur kisahnya.

Dari keempat tokoh utama ini, mereka begitu mudah untuk disukai. Terutama Jabil yang terasa kedewasaannya, juga Tarom yang ganjil dan misterius. Walau saya bakal mikir sejuta kali kalau punya pacar kayak Tarom. Hih gawat! 😑
Pengkarakteran mereka begitu kuat dan konsisten, mewujud bukan hanya dari gaya bicara, tingkah laku tapi juga gerak-gerik yang berciri khas. Semua memiliki porsi peranan yang pas dan menjadi magnet tersendiri bagi pembaca.

Yang menjadi menarik adalah, munculnya legenda-legenda mistis yang pernah saya dengar di masa kecil. Tentang Toklu yang begitu akrab dengan ketakutan saya semasa kecil (ya, saya dulu ketakutan banget sama pemulung yang bawa karung), juga munculnya cerita-cerita pesugihan yang dilakukan beberapa orang yang mewarnai perjalanan Jabil memburu kebenaran. Kisah-kisah mistis ini walau menakutkan, tapi dihadirkan dengan rapi oleh Haditha. Membuat saya ikut penasaran juga, tapi ogah kalau diajak Jabil ketemu langsung sama para jinnya. 😭😭😭

Well, saya memang takut. Terus terang saya kancilen sampai pukul satu pagi setelah baca buku ini. Tapiiii... saya nggak menyesal dan malah ketagihan. Tetap saja rasanya seru membuntuti Jabil dan Tarom mengusut hal-hal mistis ini. Hmm~ apalagi ada satu petuah penting yang saya dapatkan dari buku ini:

Ada horor yang datangnya selain dari makhluk gaib, itulah rayuan utang. (hlm. 120)

Huhuu~ tepat sekali 😂😂😅😅😭😭

****** GIVEAWAY TIME ******



Nah para unyureaders tersayang, terima kasih sudah membaca ulasan saya tentang Karung Nyawa. Kini saatnya saya mau bagi-bagi buku "misterius" persembahan Haditha dan Bukune. Siapa yang mauuu???

Caranya mudah kok:

1. Peserta berdomisili atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun-akun twitter @hahahaditha @bukune dan @KendengPanali. Jika tidak ada Twitter silakan bisa  like FB page Fiksi Klenik atau bisa juga follow IG @haditha_m @bukune dan @kendengpanali.

3. Jangan lupa share/repost info giveaway ini di akun twitter/IG kalian dengan memention ketiga akun di atas.

4. Follow blog ini bisa melalui email, G+ atau GFC (opsional saja bila dirasa blog ini berguna bagi kalian 😘)

5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyertakan
Nama | akun twitter/IG | jawaban

Kalau kalian memiliki bakat istimewa untuk melihat makhluk halus seperti Tarom, apa yang akan kalian lakukan?

6. Giveaway dibuka mulai hari ini dan akan ditutup pada tanggal 23 Mei 2018 pukul 23.59 WIB.

7. Jika masih ada pertanyaan, jangan segan untuk colek-colek akun saya. Good luck 😉

Kamis, 17 Mei 2018

[Resensi] Topi Hamdan - Auni Fa | Buah Kesabaran Hamdan

Judul buku: Topi Hamdan
Penulis: Auni Fa
Editor: Iswan Heriadjie
Desain sampul dan isi: Prasetyo
Penerbit: Metamind
Tahun terbit: November 2017
Tebal buku: 346 halaman
ISBN: 978-602-9251-40-1



BLURB

Inilah kisah tentang Hamdan, laki-laki sederhana yang berulang kali dihantam prahara.
Kehidupannya kacau ketika sang ibu meninggal. Mulai putus sekolah, sampai dipaksa bekerja untuk
menghidupi ayah serta adik tiri yang pendengki dan berkelakuan buruk. Menjelang dewasa, masalah tak
kunjung pergi dari hidupnya. Sebuah fitnah besar akhirnya menggiring Hamdan ke balik terali besi.
Ia jatuh, terpuruk, nyaris tak kuat menahan perih hidup. Namun, suatu ketika ia teringat akan
dongeng-dongeng ibunya. Dongeng yang diceritakan semasa ia kecil, ternyata menyimpan
kebijaksanaan dan kekuatan dalam setiap kisahnya. Dongeng itu mampu membangkitkan lagi keteguhan
hati Hamdan yang hampir tenggelam.
Di sini, akan Anda temukan bentuk cinta kasih ibu dan caranya memberi pelajaran hidup kepada
sang anak melalui dongeng-dongeng yang menakjubkan. Genggam buku ini dan temukan hikmah yang
tersembunyi dari setiap lembarannya. 

RESENSI

Topi Hamdan adalah sebuah kisah kesabaran yang paling bikin saya ngelus dada berulang-ulang. Bisa dibilang Auni Fa cukup 'kejam' dalam merangkai kisah hidup Hamdan. Kejadian-kejadian yang menguji Hamdan sungguhlah sangat luar biasa, membuat saya lumayan gregetan karena Hamdan tak benar-benar berusaha melawan. Saya juga sempat bertanya-tanya bagaimana mungkin tak ada kebaikan sekecil pun dari orang-orang di sekitarnya.

Sumber kebahagiaan dan kekuatan Hamdan adalah dongeng-dongeng yang pernah diceritakan almarhumah ibunya. Itulah yang mampu membuat Hamdan bertahan dan bersabar menjalani prahara kehidupannya. Dongeng-dongeng yang diceritakan dalam buku ini memang sangat menarik, dan memberikan hikmah yang bijak. Sayang Hamdan terkesan sangat pasrah di usia mudanya.
Sungguh berat membayangkan kesendirian dan kesepian yang harus dialaminya. Hingga secercah kebaikan itu muncul. Walau sedikit tapi ada. Meski tetap saja jalan yang harus dihadapi Hamdan masih berliku. Padahal usianya telah menginjak angka 70-an, tapi buah kesabaran Hamdan belum kunjung tiba.

Ini adalah kisah yang hampir menguras kesabaran saya, hampir membuat saya frustasi karena sedikitnya kebaikan dan belas kasih dari orang lain. Namun itulah yang membuat Hamdan menghargai persahabatannya dengan Amir dan Paino. Setelah diterjang beragam prahara, pertemuannya dengan sesama orang tua dan Melisa bagai oase.
Cukup menarik juga melihat Hamdan yang telah bertahun-tahun pasrah dan sabar, ternyata bisa melakukan tindakan (walau tetap kurang bijak) demi Melisa.

Walau ada beberapa lubang dalam konstruksi ceritanya, namun alur kisahnya cukup menarik diikuti. Hanya saja untuk dialog masih terasa kurang hidup, belum terlalu menyatu dengan sosok Hamdan. Penokohannya lumayan berkarakter. Hamdan jelas-jelas lugu dan pasrah, mudah dibodohi dan penakut. Kedua sahabat barunya juga kurang lebih apatis terhadap hidup. Melisa lumayan memberi warna bagi kisah ini walau akhirnya menjadi labil.

Pada akhirnya saya menganggap kisah ini adalah kisah yang mengajarkan kita untuk bersabar. Namun sabar pasti ada batasnya, dan kita harus mengambil tindakan. Kalau kita tetap pasrah pada keadaan, tanpa melawan atau membuktikan jika kita benar... mungkin kita akan berakhir seperti Hamdan. Masih untung Hamdan menemukan kebahagian (saya bicara tentang persahabatan dan kehangatan cinta—dan bukan tentang harta) walau sebentar.

Rabu, 09 Mei 2018

[Resensi] Flipped - Wendelin van Draanen | Jungkir Balik di Sudut yang Tepat

Judul buku: Flipped
Penulis: Wendelin van Draanen
Penerjemah: Sylvia L'Namira
Penyunting naskah: Rahmadiyanti & Richanadia
Desain sampul: Windu Tampan
Penerbit: Orange Book
Tahun terbit: Agustus 2011
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-602-8851-80-0



BLURB

Juli: Pertama kali bertemu Bryce Loski, aku jungkir balik. Sungguh, seperti orang gila. Pasti karena matanya. Ada sesuatu di matanya. 

Bryce: Apa ya cara yang tepat mengusir Juli? Bagaimana cara terbaik mengatakan padanya, “Juli, kamu tuh bukan tipeku?” 

***

Juli Baker sangat yakin akan tiga hal: keajaiban pohon—terutama pohon sikamor kesayangannya, kebaikan telur ayam, dan suatu saat ia dapat mencuri hati Bryce Loski. Sayangnya, Bryce tidak memiliki perasaan yang sama. Baginya, Juli adalah gadis yang aneh. Kalau bukan aneh, gadis macam apakah yang sangat gemar memelihara ayam dan duduk berlama-lama di atas pohon? 

Namun, keadaan terbalik saat mereka menapak remaja. Bryce mulai melihat keanehan dan kebanggaan Juli terhadap keluarganya sebagai hal yang hebat. Sebaliknya, Juli berpikir mata Bryce yang dikaguminya itu kosong dan tak berarti apapun lagi. 

Flipped bukan sekadar kisah cinta yang manis, tapi juga kisah tentang memandang orang dari sisi siapa mereka sesungguhnya, bukan dari sisi bagaimana penampilan mereka.


RESENSI

Kapan kamu merasa jungkir balik saat melihat seseorang? Sesaat setelah bertemu? Ataukah lama setelahnya saat kau akhirnya menemukan sudut yang tepat?
Bagaimana jika dua orang merasakan jungkir balik terhadap satu sama lain, tapi di waktu yang tak sama?
Coba carilah jawabannya dalam Flipped :)

Flipped merupakan novel karya Wendelin Van Draanen yang ditulis pada tahun 2001. Maka keseluruhan settingnya hampir bisa dipastikan berkisar pada tahun 90-an. Ini terlihat dari suasana, latar sosial serta interaksi yang masih menggunakan alat komunikasi lama yang menjadi ciri periode masa itu. Tentu saja bagi saya, ini membuat Flipped terasa begitu dekat dan membuat saya sedikit bernostalgia.

Flipped menyajikan kisah cinta yang polos dan sederhana khas cinta monyet remaja. Kisah ini berawal dari kepindahan keluarga Bryce Loski ke depan rumah Julianna Baker, ketika kedua anak itu hendak masuk kelas 2 SD. Di pertemuan pertama mereka, begitu menatap Bryce, Juli merasa jungkir balik, dan menganggap Bryce pun merasakan hal yang sama. Padahal di sisi lain, Bryce menganggap Juli terlalu sok dan menbuatnya ketakutan.
Begitulah selama bertahun-tahun, Juli memuja Bryce, dan Bryce mati-matian menghindar. Namun perasaan tak ada yg abadi, rasa suka, rasa benci, semua akan berubah. Entah berganti, berkurang, atau bertambah. Itulah yang mereka rasakan beberapa tahun kemudian.

Banyak hal menggugah yang saya temukan dalam novel yang jalan ceritanya tampak sederhana ini. Betapa seringnya kita memandang dan mengagumi sesuatu hanya dari tampak kulitnya saja. Pun sebaliknya, betapa mudahnya kita menghakimi sesuatu hanya dalam sekali pandang. Dua keluarga, dengan rumah saling berhadapan, bertahun-tahun hanya menatap sisi luarnya, berasumsi sendiri-sendiri. Namun ketika mereka mulai saling mengenal, saling melongok ke dalam kehidupan masing-masing, terlihat jelas mana yang busuk dan mana yang segar, mana yang dingin dan mana yang hangat. Siapa yang sebenarnya paling menyedihkan.

"Beberapa orang mengeluarkan aura datar, beberapa terlihat seperti satin, dan yang lainnya terlihat berkilau... Tapi kadang-kadang kita bertemu seseorang dengan aura warna-warni, dan yang itu sulit dilupakan karena nggak ada bandingannya." (Hal. 114)

Bicara soal adegan favorit, ada banyaaaak sekali adegan yang saya suka. Salah satunya adalah saat Juli berusaha mempertahankan pohon sikamor. Kemudian momen ketika Bryce menjadi cowok pembawa keranjang dan jadi bahan lelang (omong-omong, saya sudah nonton filmnya setelah membaca buku ini, dan adegan ini sering saya ulang-ulang saking sukanya 😂). Lalu tentu saja, yang membuat saya terharu adalah ketika kedua kakak lelaki Juli membuktikan bahwa anggapan ayah Bryce salah besar. Mereka membalikkan keadaan dengan sempurna.

Seperti yang saya bilang di atas, novel ini bukan saja bercerita tentang cinta kanak-kanak yang polos, tapi juga makna keluarga. Keluarga yang seutuhnya, yang sebenar-benarnya, yang menerima apa adanya dan bukan yang menuntut kesempurnaan demi terlihat baik dari luar.

Jika kamu suka dengan kisah cinta yang sederhana dan jalinan kisah keluarga yang mengharukan, saya rekomendasikan buku ini untuk kalian. Oh dan jangan lupa, filmnya pun luaaarr biasaa.

Rabu, 18 April 2018

[Review] Hijab fo Sisters - Anastasha Hardi | Ujian Berat Asha dan Khalda

Judul buku: Hijab for Sisters
Penulis: Anastasha Hardi
Penyunting: Dion Rahman
Perancang sampul: Ulayya Nasution
Rated: 13+
Genre: Novel Islami
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 9786020453798



BLURB

Di hari pembagian rapor, Asha yang menjadi langganan juara umum di Pondok Pesantren Modern Putri Siti Fatimah, dikejutkan oleh pengumuman Ustazah Nurul mengenai beasiswa yang akan diberikan pihak pesantren. Namun karena nilainya nyaris seimbang dengan Khalda, para ustazah bingung menentukan siapa yang laik diterbangkan ke Jerman untuk mendapat pendidikan yang diimpi-impikan banyak santri. Seakan masih kurang mengejutkan, pesantren mengirim keduanya untuk mengikuti satu semester pendidikan di sekolah umum sebagai tes akhir siapa yang lebih berhak mendapatkan beasiswa. Rangkaian tes ini sangat penting, karena baik Asha maupun Khalda bisa langsung menerapkan ilmu-ilmu agama yang sudah dipelajarinya di tengah-tengah siswa-siswi yang majemuk.

Mampukah keduanya bersaing dengan sehat selama berada di sekolah umum yang terasa asing bagi mereka? Lantas, setelah mengalami berbagai kejadian yang membuat keduanya kian dekat, apakah pengumuman siapa yang akan mendapat beasiswa tersebut masih penting?

RESENSI

Sebenarnya saya telah menyelesaikan novel ini beberapa hari yang lalu, tapi ternyata menuliskan resensinya tidaklah semudah membacanya. Memilah kata dan menyaring yang ingin saya sampaikan ternyata lebih berat, karena saya takut pernyataan saya mungkin bisa ditangkap keliru. Saya butuh mengendapkan dan meredakan riuhnya suara-suara di kepala saya untuk sementara waktu. Karena jujur, isi novel ini, terutama salah satu karakternya, berbeda dengan cara pandang saya. Fiuuhh... but here we go.

Sebagai (mantan) siswi yang menghabiskan masa sekolah di sekolah umum, novel Hijab for Sisters ini sangat menggelitik hati saya. Betapa tidak, Asha dan Khalda, dua gadis manis yang menjadi tokoh utama kisah ini nerupakan siswi yang menuntut ilmu di pondok pesantren khusus putri. Mereka adalah siswi terbaik di angkatan mereka yang kemudian harus berkompetisi untuk mendapatkan beasiswa ke Jerman. Para ustadzah mereka menganggap ujian yang paling pas adalah mengirim mereka ke sekolah umum untuk menguji kesiapan adaptasi mereka secara langsung. Jelas mereka ketakutan... dan saya bisa memahami ketakutan itu. Asingnya kehidupan sekolah yang heterogen di mata mereka, sama asingnya dengan kehidupan pergaulan homogen di mata saya.

Tentu saja Hijab for Sisters menjadi menarik karena perubahan drastis yang harus dilakoni para tokohnya. Jalan cerita seperti ini biasanya tak pernah gagal untuk membuat pembaca khusyuk mengikuti alurnya. Semula saya mengira novel ini akan menjadi serius, tapi rupanya Anastasha Hardi cukup cerdik untuk menyelipkan adegan absurd dan kocak yang membuat novel ini ringan dan enak dibaca.
Pertentangan pertama saya dengan novel ini terjadi ketika Asha dan Khalda membayangkan betapa jeleknya pergaulan di sekolah umum, betapa buruk moral para siswanya dan banyak perilaku menyimpang yang dilakukan di sana. Aww... ini menyakitkan untuk dibaca. Namun saya kemudian menyadari, tentunya itu hanyalah imajinasi yang terbentuk karena terdorong oleh rasa cemas berlebih dari seseorang yang akan memasuki kehidupan yang sepenuhnya berbeda. Beberapa orang mengalaminya, bukan? 

Nyatanya ketika hari pertama Asha dan Khalda menginjakkan kaki di sekolah umum... apakah berlebihan jika saya mengatakan seolah mereka membuka pintu ke Narnia? Wkwkwk~
Baru di hari pertama saja, Asha telah bertemu dengan Aidan, siswa ganteng idola sekolah yang sepertinya menaruh minat besar padanya. Tapiiii.... ada yang lebih seru dong. Pertemuan pertama Asha dan Khalda dengan Kepala Sekolah. Astaga! Sumpah saya nggak berhenti ngakak karena Pak Kepsek yang suka iseng ini.

"Diutus? Mendengar kata-katamu, Bapak jadi gemeteran. Bapak merasa seolah sekolah ini adalah sebuah desa jahiliyah yang kedatangan dua orang utusan Tuhan untuk menyampaikan kebenaran." (hlm. 41)

Berawal dari situlah, petualangan Asha dan Khalda semakin menarik dari hari ke hari. Mereka membangun persahabatan dengan beragam orang, termasuk dengan Susanto, siswa ngondek yang menjadikan novel ini terasa segar. Susanto inilah yang membuat Khalda selalu mengucap istighfar 😂😂😂.
Mereka menghadapi konflik yang umum dihadapi remaja seusia mereka. Asha dan Khalda bukan hanya mencoba bertahan dengan prinsip mereka, tapi juga mencoba mengisi masa remaja mereka, bukan dengan kekosongan tanpa arah, tapi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi diri mereka dan orang lain. Membangun kepercayaan, membentuk komunitas yang bukan mengeksklusifkan diri tapi merangkul siapa saja. Bukan membentuk benteng, tapi membentuk tapis, demi tetap bisa menyerap hal-hal baik yang ditawarkan dunia ini.

Pada awalnya saya cukup jengah dan terganggu oleh salah satu tokoh dalam novel ini. Khalda saya rasa sedikit berlebihan dan terlalu ceplas-ceplos. Seperti yang kita lihat di media sosial sekarang, banyak sekali orang-orang yang menghakimi perbuatan sesamanya, bahkan kadang seseorang yang lebih muda berani menegur dengan frontal orang yang lebih tua, hanya karena menurutnya perbuatan orang itu salah. Demikian pula Khalda di mata saya, dia main tegur saja tanpa memerhatikan situasi atau perasaan orang yang ditegurnya. Dan bagian konyol dari perasaan saya adalah, saya kok nggak terima dia berasal dari Yogya ya.. Wkwk~ Entahlah, hidup di kota ini, melihat orang-orangnya yang terbuka, yang menerima perbedaan dan luwes, saya kok merasa sedih. Well, tapi mungkin Khalda ini tinggal di sisi kota dan kehidupan yang berbeda dengan saya. 😅😅😅
Sementara Asha lebih menyenangkan, dia lebih tenang dan bisa menahan diri. Ya walau dalam hal kegigihan, Khalda lebih kuat. Itu sebabnya Asha lebih mudah dijebak dan menyebabkan konflik semakin memuncak. Asha juga lebih pandai berkata-kata, pidato singkat yang ia sampaikan pada pak kepsek sangat mengena tapi tetap terasa santun. Bahkan, Pak Kepsek pun sampai kehilangan kata-kata :))))

Bagian seru dari novel ini tentunya adalah kehadiran Susanto. Sayangnya apa penyebab Susanto ngondek tidak dijelaskan banyak dalam novel ini, padahal seandainya Asha, Khalda dan Aidan ingin Susanto berubah, mestinya didalami juga penyebabnya. Seseorang yang merasa gendernya tidak sesuai dengan jenis kelaminnya tentu ada alasan dan pencetusnya, dan untuk menyembuhkan gangguan (gender dysphoria) itu biasanya dibutuhkan proses terapi. Saya memahami betapa menjadi Susanto sungguh tak mudah, ia bisa bertingkah centil di hadapan orang-orang, bersikap cuek pada omongan orang, padahal mungkin di dalam hatinya ia terus merasa kebingungan. Poor but tough Susanto :"

Secara keseluruhan saya menikmati novel ini, saya suka dengan perkembangan karakter yang dialami para tokohnya. Sebuah kisah yang terlahir dari kekhawatiran akan pergaulan remaja di zaman yang semakin melesat ini. Sebuah petualangan kecil para remaja yang berusaha memegang prinsip tapi tetap fleksibel dan bergaul sesuai norma. Hijab for Sisters tentunya sangat cocok dibaca para remaja karena betapa dekatnya kisah ini dengan kehidupan remaja masa kini. Di sini kita bisa menemukan kekuatan tekad, persahabatan dan apa makna agama bagi hidup kita. Saya, Asha, Khalda, Aidan dan yang lain telah menemukannya, sekarang giliran kalian 😉
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon