Tampilkan postingan dengan label Harlequin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harlequin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Maret 2017

[Resensi] Lelaki dalam Ingatan - Penny Jordan

Judul: Lelaki dalam Ingatan
Judul asli: Un Unforgettable Man
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Rina Buntaran
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2012 (cetakan keempat)
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-979-22-8519-2



BLURB

Bagaimana cara lelaki itu menuntut balas?

Pada usia enam belas tahun, Courage Bingham yang lugu dan tak berpengalaman merasakan sensasi menghanyutkan bersama seorang pemuda di rumah musim panas keluarganya. Namun sejak itu perasaan malu dan bersalah menyiksanya, bercampur kerinduan yang sama besarnya kepada orang asing yang tak dikenal dan tak dilihatnya itu.

Kini, Courage cemas indranya mempermainkannya. Gideon Reynolds, bos barunya yang tak kenal ampun dan beroman keras, dapat membangkitkan sesuatu dalam diri Courage seperti seseorang dalam ingatannya. Mungkinkah mereka orang yang sama? Dan, jika benar begitu, bagaimana cara Gideon menuntut balas atas “penipuan” Courage pada masa lalu?

RESENSI

Courage Bingham harus meninggalkan pekerjaannya yang menjanjikan demi menemani neneknya yang sakit. Hanya neneknyalah satu-satunya keluarga yang Courage miliki, karena ia tak mau lagi tinggal bersama ayah tiri dan saudari tirinya yang culas. Kini, Courage harus menemukan pekerjaan baru di kota kecil Dorset untuk membiayai operasi neneknya.
Siapa sangka pekerjaan yang didapatnya berkaitan dengan Gideon Reynolds, seorang chairman dan pemegang saham terbesar sebuah jaringan perusahaan berlaba tinggi. Pria yang keras, dingin dan tak kenal ampun. Pria yang membuat Courage teringat akan kenangan pada sebuah malam ketika ia masih belia dan naif.
Apakah Gideon adalah orang yang sama dengan lelaki yang ada dalam ingatan Courage? Apakah Gideon mengingat Courage? Dan apakah kenangan itu akan berakhir manis atau justru kembali menjadi mimpi buruk bagi Courage?

-------------------------

Seingat saya, saya pertama kali membaca Lelaki dalam Ingatan karya Penny Jordan ini ketika masih SMA. Well, jangan buru-buru menuding saya saat itu belum cukup umur untuk membaca novel dewasa. Bagi saya dewasa nggak harus berjalan lurus dengan bertambahnya umur. Toh, novel dewasa bukanlah buku atau video porno. Novel dewasa bukan hanya membeberkan cerita romance "kipas-kipas" semata, tapi justru mengajarkan kita akan akibat dan tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan tokohnya. Aahh... saya kok mulai melantur.

Pembaca setia review saya pasti tahu kalau saya adalah penggemar karya-karya Penny Jordan. Meski beberapa karyanya ada juga yang kurang sreg di hati saya dan saya rating di bawah tiga bintang. Namun untuk novel yang satu ini, saya dulu memberinya lima bintang. Maka tentu saja saat novel Lelaki dalam Ingatan ini dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama, saya pun ingin bernostalgia dengan novel yang saya nobatkan sebagai salah satu novel Penny Jordan terbaik versi saya.

Membaca lagi kisah ini dengan sudut pandang saya yang semakin matang dari belasan tahun lalu, rasanya saya masih tetap jatuh cinta pada Courage dan Gideon. Yah, bagaimana pun saya tetap penggemar kisah CLBK alias cinta buta yang bertahan bertahun-tahun yang menjadi pondasi novel Lelaki dalam Ingatan ini.
Penny Jordan memang penulis yang memiliki ciri khasnya sendiri. Tokoh heroinenya kebanyakan merupakan wanita tangguh, mandiri (terkadang hanya tinggal memiliki satu anggota keluarga yang mulai menua), kompeten dalam pekerjaannya, tapi lugu. Hingga kemudian tanpa sengaja bertemu dengan hero yang dingin, menjaga jarak dan lumayan jaim. ^^
Seperti itulah Courage dan Gideon.

Sayangnya nggak seperti karya-karya Penny Jordan yang lainnya, Lelaki dalam Ingatan nggak menuliskan seluk perasaan sang tokoh pria. Padahal, yang paling saya suka adalah ketika sudut pandang beralih pada sang hero sehingga saya bisa mengintip rasa frustasinya. Haha... Namun mungkin itulah yang membuat antiklimaks novel ini bikin saya mewek (lagi). Membaca novel kemudian nangis memang sudah biasa bagi saya, tapi membaca ulang dan masih tetap nangis itu luar biasa, kan? Saya cengeng, tapi juga nggak cengeng-cengeng amat kok. :p
Ketika Gideon akhirnya mendapat wangsit alias pencerahan alias fakta tentang masa lalu Corage dan betapa salahnya ia selama ini. Hueee... adegan di mana Gideon akhirnya mengakui semua perasaannya itu memang favorit saya sepanjang masa. Malah sepertinya saya mulai hapal dialognya di luar kepala. Oh.. Oh... :')

Dan seperti belasan tahun lalu saya kembali tenggelam dalam alur kisah hubungan Courage dan Gideon. Hanya saja kali ini saya merasa Courage terlalu baik dan mudah memaafkan. Dulu mungkin saya menganggap apa yang dilakukan Courage adalah cinta sejati, kini saya menganggap itu sebagai kepercayaan buta. Haha... Well, setelah disakiti begitu rupa, saya sih merasa keputusan yang diambil Courage itu terlalu cepat. Gideon juga jadi terlihat lebih egois dan mudah dituruti keinginannya.

Cover lama yang serupa cover aslinya 🙈🙈


Tapi tetap saja saya masih mencintai karya Penny Jordan yang satu ini. Dan omong-omong, covernya lebih cakep yang sekarang. Nggak memalukan kalau dibawa atau dibaca di depan umum, nggak seperti yang sebelumnya yang waktu bawa ke meja kasir saja malunya minta ampun. Hehe...

Minggu, 02 Oktober 2016

[Resensi] The Spanish Consultant's Baby - Kate Hardy

Judul buku: Cinta Sang Konsulen Spanyol
Judul asli: The Spanish Consultant's Baby
Penulis: Kate Hardy
Alih bahasa: Juliana Tan
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2012
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 978-979-22-7982-5



BLURB

Sejak pertemuan pertama, dr. Ramón Martínez—konsulen tamu dari Spanyol—tertarik pada Jennifer Jacobs. Wanita itu cekatan dan penuh perhatian pada anak-anak. Benar-benar cocok menjadi suster kepala di bagian pediatri Bradley Memorial Hospital.

Tetapi Jennifer langsung menjaga jarak jika berhubungan dengan pria, terutama Ramón. Jadi ia melakukan pendekatan berbeda, meminta wanita itu membantunya mengenal kota baru tempatnya ditugaskan.

Dengan waktunya yang terbatas sebagai dokter tamu, Ramón pun berusaha keras membuat Jennifer percaya bahwa dia bukan sekadar kekasih di masa liburan. 


RESENSI

Kedatangan Ramon Martinez, seorang konsulen dari Spanyol, membuat Jennifer Jacobs sedikit was-was. Apalagi ketika sang dokter menampakkan rasa ketertarikannya pada Jennifer secara terang-terangan. Ramon mengingatkan Jennifer pada sosok Andrew, mantan suaminya yang penuntut dan selalu merendahkannya. Jennifer enggak jatuh ke lubang yang sama. Apalagi Ramon hanya bertugas di rumah sakit tempat Jennifer bekerja, selama beberapa bulan saja. Jennifer sama sekali tak tertarik hanya menjadi selingan.
Namun kegigihan Ramon akhirnya melelehkan Jennifer juga. Dengan bujuk rayu dan sikap super gentleman, Ramon berhasil menjadi kekasih Jennifer. Namun, benarkah akhir bahagia adalah milik mereka? Bagaimana jika seorang adik yang angkuh datang dan menjatuhkan bom tepat di hadapan Jennifer? Sanggupkah ia bertahan?

--------------------

Kate Hardy merupakan salah satu penulis Harlequin favorit saya. Cara bertuturnya nggak pernah gagal membuat saya terhanyut dan premisnya selalu menarik. Dan kali ini, lagi-lagi saya dibuat jatuh cinta pada karyanya.

Siapa bilang Harlequin hanya menyajikan roman-roman picisan dengan adegan yang klise dan cheesy. Polanya memang sama, kadang juga sulit diterima nalar. Tapi selama isi ceritanya membuat pembaca menutup buku dengan kebahagiaan dan kepuasan, saya anggap di situlah keberhasilan sebuah novel romance. Tapi toh Kate Hardy memang nggak pernah membuat tulisan yang biasa-biasa saja. Kali ini Kate Hardy menghadirkan dunia kedokteran sebagai latar novelnya. Sebuah medical romance yang berisi dan menyentuh.

Konflik utamanya ada dalam diri sang heroine, Jennifer Jacob. Masa lalunya membuat dia menutup diri dari pria yang hadir ke dalam hidupnya. Terutama jika pria tersebut begitu mirip dengan mantan suaminya dan mengingatkan Jennifer pada kenangan pahit di masa lalu. Kekerasan dalam rumah tangga memang bukan melulu urusan fisik, kata-kata yang melecehkan, atau pasangan yang terlalu mendikte dan mengekang juga termasuk dalam bentuk kekerasan rumah tangga. Sayangnya banyak wanita yang masih terjebak dalam kekerasan semacam ini dan Jennifer adalah salah satunya. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk membangkitkan kepercayaan dirinya, dan sungguh sulit membuatnya kembali membuka hati. Ketakutan, kecemasan dan keraguan Jennifer bisa saya pahami dan membuat saya menyayanginya. Apalagi melihat dia begitu penuh kasih kepada pasien dan staffnya.
Di sisi lain Ramon merupakan sosok yang menjadi penyeimbang yang ideal bagi Jennifer. Pria yang gigih, lembut, sedikit licik tapi dia benar-benar tahu apa yang dia mau. Sungguh menyenangkan melihat interaksi kedua tokoh ini, terutama ketika mereka bahu-membahu memberi penjelasan pada keluarga pasien dan berusaha menenangkan kepanikan mereka.
Apalagi ketika hubungan mereka mulai meningkat dan mereka resmi jadi sepasang kekasih. Aww... manis banget deh. Sungguh chemistry yang seru dan menarik. Bukan hanya antara hero dan heroinenya saja, tapi juga antara Jennifer dan para pasien. Benar-benar cair dan menakjubkan.
Untuk konflik pemuncaknya barulah saya mulai merasa ini sedikit klise. Lagu lama. Tapi, saya penasaran juga bagaimana Kate Hardy akan mengeksekusinya. Sayang endingnya nampak mudah dan nggak sepadan dengan perjuangan Ramon-Jennifer sepanjang kisah dan kehadiran adik Ramon yang bagai bom di siang bolong.
Namun saya tetap puas kok. Endingnya manis dan romantis. Saya pun bisa menutup buku ini dengan bahagia.

Di dalam Cinta Sang Konsulen Spanyol banyak sekali istilah penyakit yang nggak pernah saya dengar. Tapi pembaca jangan khawatir nggak mudeng dengan nama penyakit dan istilah kedokteran yang tersebar dalam novel ini, karena semua dijelaskan dengan sejelas-jelasnya oleh duet Ramon-Jennifer. Mulai dari penyebab, akibat, efek, hingg cara penanganan dan penyembuhan, semua lengkap dipaparkan. Jadi sambil menikmati kisah cinta antara sang konsulen dan sang suster, pembaca juga disuguhi pengetahuan baru.

Secara keseluruhan, saya menyukai The Spanish Consultant's Baby ini. Ada banyak kekuatan yang bisa saya temukan di dalamnya. Tentang kerelaan seseorang untuk membuka hati lagi, tentang berdamai dengan masa lalu dan keberanian untuk melangkah, menyambut kebahagiaan yang baru. Setidaknya sebagai novel Harlequin yang biasanya cukup ringan dan fun, kali ini The Spanish Consultant's Baby memberikan kisah yang lumayan berbobot. Sebuah medical romance yang hangat dan manis. Saya rekomendasikan novel ini buat kalian yang menggemari kisah cinta berlatar dunia kedokteran.

Kamis, 29 September 2016

[Resensi] Sentuhan Cinta Sang Kekasih - Maya Banks

Judul buku Sentuhan Cinta Sang Kekasih
Judul asli: Undone by Her Tender Touch
Penulis: Maya Banks
Alih bahasa: Sarah Tobing
Desain sampul: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Mei 2013
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-979-22-9610-5




BLURB

Seharusnya Pippa Laingley tidak nekat. Seharusnya ia berpikir panjang. Seharusnya ia tidak tersihir pesona Cameron Hollingsworth yang memabukkan. Tetapi semua telanjur terjadi, dan ia harus menanggung konsekuensinya.

Sementara itu, Cam menghadapi dilema. Trauma masa lalu membuatnya tak ingin lagi mengalami rasa kehilangan orang-orang yang disayanginya. Namun di sisi lain, ia tak ingin menelantarkan Pippa dan bayinya. Kedua jalan itu tak memberinya ketenangan batin, kecuali ia memilih untuk jatuh cinta lagi. 


RESENSI

Cam sudah sejak lama tertarik pada Pippa sejak pertama melihat gadis itu. Bahkan sebelum mereka resmi diperkenalkan, Cam sudah tahu bahwa ia menginginkan Pippa di tempat tidurnya. Dan Cam yakin benar bahwa Pippa pun punya perasaan yang sama. Hanya tinggal tunggu waktu kapan dan di mana Cam merayu dan menaklukkan Pippa.
Hingga kesempatan itu tiba di pesta perayaan rumah baru Ashley dan Devon. Pippa yang mengurusi masalah katering dalam pesta itu merasa kewalahan karena para pegawainya tidak datang dan memaksa Pippa untuk melayani para tamu. Cam yang melihatnya pun berusaha membantu.
Dan malam itu terjadilah. Seusai melayani tamu, Cam membawa Pippa kerumahnya dan bercinta sepanjang malam dengan gadis itu.
Namun rupanya, sang bujangan antikomitmen akhirnya kena batunya juga. Salah satu pengaman yang Cam gunakan ternyata bocor dan kehamilan pun terjadi.
Mampukah mereka megatasinya bersama? Akankah mereka saling dukung? Dan apakah Pippa akan tetap hidup?

--------------------

Saya tahu bahwa telat banget kalau saya baru mulai membaca karya Maya Banks sekarang. Yah, entah mengapa nama penulis ini belum juga mampu menggerakkan saya untuk membaca karyanya. Saya tahu beberapa teman mengidolakan penulis ini dan telah merekomendasikan beberapa novelnya. Namun baru kali inilah saya mulai membaca karya Maya Banks.

Sentuhan Cinta Sang Kekasih atau Undone By Her Tender Touch merupakan kisah keempat dari seri Pregnancy Passion. Judul paling bontot dari sebuah serial, tapi justru malah saya baca lebih dulu. Yah, saya memang serandom itu. Namun, meski ini adalah buku keempat, saya tetap.paham jalan cerita dan relasi antar para tokohnya. Sama sekali nggak membingungkan dan asyik untuk diikuti. Cara bertutur Maya Banks sendiri cocok dengan selera saya, penempatan tokohnya dalam situasi tertentu begitu pas dan apa adanya.

Selama membaca novel ini saya terkesan dengan usaha Maya Banks dalam mengemukakan seks yang aman. Dimulai dari pembicaraan ringan tapi serius antara Pippa dan Cam sebelum mereka saling bergelut di ranjang. Memang harus ada pembicaraan, harus ada komunikasi akan risiko dan pertanggungjawaban. Juga bagaimana Pippa dengan tegas mempertanyakan tentang pengaman. Dan yang lebih membuat saya terkesan adalah proses kehamilan Pippa yang terjadi hanya karena satu kesalahan kecil: kondom yang bocor.
Nah, jadi nggak selamanya seks di luar nikah itu aman bukan. Kondom pun bukanlah jawaban dan bukanlah pelindung yang benar-benar aman. Oke, maafkan saya. Ini mode kader KB saya memang sedang on. Hmm~ apa perlu saat sedang memberi penyuluhan KB saya bawa novel ini untuk ditunjukkan ya.. Wkwkwk~

Baiklah, mulai melenceng sepertinya. Mari kembali ke betapa mengesankannya novel ini bagi saya. Ide ceritanya memang sederhana dan klise, tapi cara Maya Banks menuliskannya membuat saya terhanyut. Terutama ketika tiba di bagian Cam yang sedang mencurahkan perasaannya. Saya terharu dan seolah hati saya sedang diremas-remas. Bahkan di ending cerita jebol juga pertahanan saya dan saya mewek. Yah, memang secengeng itulah saya. Tapi saya jamin, kisah novel ini pula yang membuat saya sampai merasa sedih dab patah hati, hingga akhirnya nangis bombay.

Saya suka karakter heroinenya. Pippa benar-benar wanita yang lancang dan berani. Apa yang dia rasakan berani dia nyatakan. Saya suka kekuatan dan keteguhan hatinya. Meski ada sedikit drama dalam dirinya, tapi dia tabah dan kuat.
Sementara Cam memang karakter yang mudah bikin saya jatuh cinta. Oh betapa cintanya saya pada pria yang muram, kaku tapi meledak-ledak di ranjang. Duuuh... mana tahan.
Interaksi di antara keduanya sungguh seru dan terasa chemistrynya. Saya suka dengan mereka berdua. Dan tentunya interaksi Pippa denga para sahabatnya membuat saya merasa hangat dan aman. Persahabatan yang bikin iri karena saking kompak dan solidnya.
Sementara untuk adegan panasnya lumayan seru juga. Maya Banks nggak malu-malu memperlihatkan dengan cukup mendetail tentang aktivitas ranjang Pippa dan Cam. Panas tentu saja, namun tetap manis.

Overall, saya suka dengan pengalaman pertama saya membaca novel dari Maya Banks. Terlepas dari ide cerita novel Harlequin yang begitu-begitu saja, tapi cara bertutur Maya Banks-lah yang membuat kisah ini begitu berbeda dan asyik untuk diikuti. Rasanya jadi nggak sabar untuk membaca judul lain yang termasuk dalam seri  Pregnancy Passion ini.

Selasa, 20 September 2016

[Resensi] Terjebak Bersama Sang Miliuner - Sophie Pembroke

Judul buku: Terjebak Bersama Sang Miliuner
Judul asli: Stranded With The Tycoon
Penulis: Sophie Pembroke
Alih bahasa: Dharmawati
Desain sampul: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli 2015
Tebal buku: 248 halaman
ISBN: 9786020318554



BLURB

Luce takkan pernah memilih Ben Hampton sebagai teman perjalanan, apalagi saat terjebak badai salju di pondok terpencil. Tinggi, tampan, dan arogan, pria itu seolah mengingatkan Luce akan kehidupan romantisnya yang tidak terlalu sukses pada masa lalu. Dan itulah tepatnya yang berusaha ia lupakan selama bertahun-tahun ini dengan memfokuskan seluruh energinya pada pekerjaan…

Ben—miliuner pemilik jaringan hotel—yakin ada semangat terpendam di balik penampilan kaku Luce Myles yang khas dosen sejarah, dan membuat sikap kaku itu menghilang tentu akan jadi tantangan menarik. Untungnya, tanpa disangka mereka berdua terjebak di pondok karena badai salju hebat. Ini saatnya membuktikan ia masih bisa menaklukkan wanita mana pun... 


RESENSI

Betapa marahnya Lucinda Myles saat kamar yang harusnya disediakan untuknya sebagai salah satu peserta konferensi ternyata tak tersedia. Entah apakah kesalahannya dari pihak panitia konferensi, ataukah karena kesalahan karyawan hotel. Yang jelas Luce terancam tak memiliki tempat tidur untuk ditiduri karena hotel di mana-mana penuh akibat dari suasana Natal.
Saat sedang kesal di hadapan sang resepsionis hotel itulah Luce bertemu dengan Ben Hampton. Pria yang merupakan salah satu putra pemilik jaringan hotel Hampton & Sons. Ben pun menawari Luce untuk berbagi kamar suitenya.
Meski telah beberapa tahun berlalu, Luce masih mengingat siapa Ben. Dan ia merasa Ben masih pria yang sama dengan pemuda arogan yang dulu dikenalnya. Sebisa mungkin ia ingin menjauh dari pria itu. Sayangnya, Ben juga masih ingat persis siapa Luce. Dan Ben bertekad ingin mengubah sifat serius dan teratur Luce. Berhasilkah ia?

--------------------

Stranded With The Tycoon atau Terjebak Bersama Sang Miliuner merupakan novel karya Sophie Pembroke yang pertama saya baca. Pengalaman pertama yang cukup menyenangkan, karena meskipun ide ceritanya begitu klise khas novel terbitan Harlequin, tapi Sophie menuliskannya dengan mengesankan.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan fokus utama pada sang hero dan heroine. Cukup menyenangkan membaca apa yang mereka pikirkan satu sama lain. Bagaimana mereka saling membentuk asumsi berdasarkan pertemuan pertama mereka delapan tahun yang lalu, dan kemudian seolah mereka sedang mencari dan menyusun kepingan puzzle untuk mendapatkan image yang tepat tentang satu sama lain. Saya suka dengan hubungan mereka yang terbentuk secara perlahan. Meski telah saling tertarik beberapa tahun yang lalu, tapi bisa dibilang kali ini mereka saling menjajagi dan mencoba menggali lebih dalam tentang pribadi masing-masing.
Dengan storyline  yang menarik dan latarnya yang cantik saya merasa nggak sanggup untuk berhenti membaca novel ini.
Nuansa natal dalam novel ini begitu terasa. Saya menikmati hubungan Luce dan Ben ketika mereka bersama di pondok Ben yang terpencil. Chemistry di antara keduanya terasa kuat saat mereka berada di dalam pondok itu.

Sayangnya saya nggak begitu menyukai karakter Luce. Saya merasa Luce wanita yang menarik dan saya kagum karena ia menguasai sejarah. Hal yang juga saya sukai. Tapi saya nggak bisa memahami kebutuhannya untuk selalu memenuhi permintaan orang-orang di sekelilingnya. Saya merasa ia begitu mudah dimanfaatkan dan sebenarnya mengalami krisis kepercayaan. Terlebih ia merasa ia yang paling benar dan paling terkendali di antara anggota keluarganya. Saya merasa ia seolah menganggap menuruti impuls adalah perbuatan nggak bertanggung jawab. Seolah ialah yang paling bertanggung jawab. Oh i really hate it.
Itu sebabnya saya bersorak kegirangan saat Ben masuk ke kehidupan Luce. Saya merasa iba pada Ben karena terus dituduh oleh Luce. Satu lagi yang bikin saya kesal karena Luce gampang banget menuduh Ben nggak bertanggung jawab. Huh. Padahal nggak satu pun dari perilaku Ben yang menunjukkan tindakan nggak bertanggung jawab.
Selain tokoh utamanya, saya cukup menyukai Seb, kakak Ben. Pada awalnya saya kira hubungan antara dua bersaudara ini nggak dekat dan berjarak. Karena pada awalnya menilik pembicaraan pertama mereka di telepon, mereka terasa nggak saling memahami dan saling sungkan. Tapi lama-lama terlihat kalau Seb memang sangat perhatian dan hubungan mereka sangat menarik.
Demikian juga dengan Dolly, adik Luce. Saya suka dengan kemunculannya, Dolly membawa aura segar dan seru ke dalam kisah ini.

Tapi bagian terbaiknya memang hanya sampai di tengah cerita saja. Ketika kisah bergulir dan mereka berpisah, semua jadi klise  lagi. Yah apa sih yang bisa saya harapkan dari cinta satu malam ala harlequin. Tentu saja kehamilan. Apa lagi? Tapi saya memang mulai lelah dengan heroine yang hamil hanya karena hubungan singkat. Dramanya begitu-begitu saja polanya.
Untuk penerjemahannya sangat bagus dan pilihan katanya menarik. Hanya saja ada kosakata atau istilah tertentu yang diulang-ulang secara terus menerus dan membuat bosan. Entah memang asli dari penulis aslinya, ataukah sang penerjemah memang suka sekali menggunakan kata "mengesah".

Overall, Stranded With The Tycoon merupakan bacaan yang ringan dan mudah dinikmati. Seru pada awalnya karena uraian proses pendekatan dan penjajagan hero dan heroinenya. Namun mulai membosankan pada akhirnya. Untuk adegan panasnya jangan kuatir, nggak banyak adegan ples ples dan penulisannya pun nggak vulgar kok.

Jumat, 16 September 2016

[Resensi] Semusim di Italia - Lucy Gordon

Judul: Semusim di Italia
Judul asli: One Summer in Italy
Penulis: Lucy Gordon
Alih bahasa: Lustatin
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 248 halaman
ISBN: 978-602-03-1713-7



BLURB

Holly tengah berusaha melarikan diri dari polisi, namun ia malah berakhir di kompartemen yang ditempati Matteo Fallucci, seorang hakim. Kalau bukan karena Liza, putri pria itu, Holly pasti sudah diserahkan ke pihak berwajib. Niatnya semula untuk kembali ke Inggris pun gagal karena Liza sangat ingin ia tinggal dengan mereka, dan tampaknya Matteo masih mencurigainya karena hakim itu tak melepaskannya begitu saja. Dan kini Holly terseret ke dalam sebuah keluarga yang sama sekali asing di Italia.

Seiring berjalannya waktu, Holly pun menemukan rahasia keluarga yang tersimpan rapat di balik dinding manor mewah keluarga Fallucci. Rahasia yang kelak akan membebaskan mereka semua. Musim panas di Italia hanyalah permulaan bagi Holly… 


RESENSI

Ketika sedang berusaha melarikan diri dari kejaran polisi di dalam kereta, Holly tanpa sengaja tiba di gerbong VIP dan bertemu dengan seorang anak perempuan dengan kaki cacat yang sedang marah. Melihat hal itu sebagai kesempatan, Holly menggunakan ruang kompartemen anak itu sebagai tempat bersembunyi. Namun ketika mendengar Holly berbicara dengan Bahasa Inggris, anak perempuan itu pun menjadi antusias dan segera menjadikan Holly sebagai teman.
Tak disangka, anak itu merupakan putri Matteo Falluci, seorang hakim yang cukup terkenal karena ketegasannya.
Kini hidup Holly ada dalam genggaman Matteo. Pria itu ingin Holly tetap ada di samping Liza hingga Liza bisa menghadapi kehilangan akibat kematian ibunya. Dan imbalannya, Matteo akan membereskan masalah yang membelit Holly yang bisa menyebabkan gadis itu masuk penjara.

-------------------------

Lucy Gordon bukanlah penulis Harlequin favorit saya. Bukan karena ide ceritanya nggak seru atau konfliknya kurang nendang, tapi karena Lucy Gordon jarang menuliskan perasaan sang hero dengan detail. Berbeda dengan sesama penulis Harlequin favorit saya, Penny Jordan.
Namun Lucy Gordon selalu punya cerita yang manis. Nggak sampai bikin saya mewek bin termehek-mehek sih, tapi ceritanya sering menyentuh dan menghangatkan hati.

Kali ini melalui Semusim di Italia, Lucy menghadirkan satu kisah yang mengharukan. Kisah dalam novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, dan lebih banyak terfokus pada Holly. Alurnya maju dan mengalir dengan tempo yang lumayan cepat. Nggak banyak adegan romantis yang bisa bikin deg-degan atau bikin klepek-klepek, tapi chemistrynya lumayan bagus. Yang terlihat menonjol justru tampak pada hubungan antara Holly dan Liza. Kedekatan mereka sungguh bikin iri, dan cara Holly memahami Liza dengan begitu mudahnya sungguh luar biasa. Saya justru jadi nggak terlalu banyak berharap pada hubungan Matteo dan Holly, karena menemukan hubungan yang menarik antara Holly dan Liza.

Konflik dalam novel ini ternyata cukup rumit. Saya sudah menduga dari awal tentang perasaan Matteo yang sebenarnya terhadap almarhumah istrinya, karena hey ini kan Harlequin, ceritanya memang klise dan mudah ditebak. Lagipula pola suami yang dikhianati istri yang di luar tampak sempurna memang sudah banyak di novel sejenis ini. Jadi saya nggak kaget lah dengan apa yang dirasakan Matteo. Yang membuat saya takjub adalah perasaan yang dimiliki Matteo terhadap Liza karena semua situasi tersebut. Sama seperti Holly, saya pun sempat merasa kesal dengan tngkah Matteo yang mengambil jarak dari Liza. Cara ia menarik dirinya kentara sekali, sebagai anak yang cerdas, Liza harusnya merasakannya kalau ayahnya mulai berubah.
Yang menjadi pertanyaan di benak saya kemudian adalah, apakah memang kasih sayang seseorang akan luntur jika mengetahui anak yang selama ini telah diasuh dan dibesarkan, yang dicinta sepenuh hati, ternyata bukan anak kandungnya? (Uhuk.. Jadi inget kasus di dunia nyata kan jadinya ^^)
Tapi saya yakin saya bakal patah hati jika Matteo meninggalkan Liza dan nggak mau menyayangi Liza. Karena tetap saja seorang anak nggak memiliki dosa apa pun meski ibunya brengsek dan tukang selingkuh. Dan saya suka dengan pemikiran yang dicapai Matteo dan Holly.

"Carol melakukan kesalahan padanya, sama seperti yang dia lakukan padaku—bahkan mungkin lebih. Selama itu Alec punya putri kecil yang luar biasa, dan dia tidak tahu sama sekali."
"Kaulah yang Liza cintai."
"Ya dan akulah yang dia peluk dan beri ciuman selamat malam. Kupikir pria itu mengambil segalanya dariku, tapi sebenarnya yang terjadi justru sebaliknya." (hlm. 246)


Huwaaaa~ maaf jika saya spoiler, tapi saya merasa percakapan ini adalah kuncinya. Sungguh, membenci dan menjauhkan anak hanya karena tiba-tiba kau tahu dia bukan anak kandungmu, tetaplah perbuatan yang menyedihkan. (Dan ini bukan dimaksudkan untuk menyindir seseorang) :p

Karakter dalam novel ini cukup menyenangkan. Saya suka dengan perubahan yang terjadi pada Holly. Dari gadis yang polos dan kurang percaya diri lalu perlahan mulai bisa genit dan menggoda. Dia benar-benar menjadi tokoh yang pas untuk mengimbangi kesuraman dan kekakuan Matteo. Juga bisa menjadi teman yang menyenangkan bagi siapa saja.

Secara keseluruhan, novel ini layak dibaca. Ringan tapi memberi makna yang dalam tentang kejujuran dalam sebuah rumah tangga. Benar-benar novel yang akan menunjukkan status nggak akan menghalangi orangtua yang baik untuk mencintai dan mengasihi anak-anaknya.

Rabu, 24 Agustus 2016

[Resensi: The Rebel King - Melissa James] Takdir Hidup Sang Raja Pemberontak

Judul: Raja Pemberontak
Judul asli: The Rebel King
Penulis: Melissa James
Penerjemah: Fia Mirtasari
Editor: Bayu Anangga
Sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2014
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 9786020310428



BLURB

Charlie Costa, si pemadam kebakaran, tahu persis apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan orang saat kebakaran. Tetapi ketika mengetahui bahwa ia sebenarnya calon raja yang harus segera menikah demi menyelamatkan negaranya, Charlie tak bisa berkata-kata! Ia tidak mau menjadi raja, ataupun menikahi Putri Jazmine… secantik apa pun dia. Sikap kasar dan kesan brengsek yang ditunjukkan Charlie tidak sedikit pun mengelabui Putri Jazmine. Charlie mungkin berusaha membohongi orang lain bahwa ia adalah pemberontak, tapi Putri Jazmine tahu siapa Charlies sebenarnya. Pria itu adalah pria baik, tangguh, dan sanggup menjadi raja yang sejati. 


RESENSI

Novel harlequin yang saya baca kali ini adalah percobaan pertama saya meminjam ebook di ipusnas. Sangat excited karena novel ini nggak juga tersedia di Ijakarta. Saya memang belum pernah membaca karya Melissa James, dan ketika membaca blurbnya saya merasa ide ceritanya cukup menarik.

Khas novel harlequin, selalu ada perubahan besar dan mendadak yang menimpa si tokoh utama. Cuma kali ini, di novel Raja Pemberontak ini, si tokoh utama tadinya adalah seorang pemadam kebakaran. Pria biasa yang dielu-elukan sebagai pahlawan karen berhasil menyelamatkan nyawa anak-anak dalam peristiwa kebakaran hebat. Dan kemudian bumi gonjang ganjing langit kelap kelap, ketika Charlie dinyatakan sebagai pewaris takhta kerajaan Hellenia.

Novel ini bersetting di Australia lalu pindah ke sebuah kerajaan Yunani kecil dengan sudut pandang orang ketiga dan plot yang rapi. Dengan alur yang lumayan lambat, pertentangan hati Charlie dilukiskan dengan akurat. Ada bagian di mana ia ingin lari kembali ke Australia dan menjalani kehidupan lajangnya yang ia anggap bahagia namun ada bagian yang membuatnya ingin tetap tinggal. Bagian itu adalah kebahagiaan Lia, adiknya, dan sosok Jazmine yang menggodanya sejak pertama.
Saya suka interaksi antara Charlie dan Jazmine. Sedikit aneh memang melihat tarik ulur mereka, dan saya juga nggak paham kenapa mereka mempertengkarkan hal yang remeh, tapi saya suka saat Charlie mulai membujuk Jazmine. Kata-katanya penuh dengan humor dan kecerdasan. Saya juga suka setiap kali Charlie membantah kata-kata sang raja. Pinter banget membalikkan omongan. Haha...

Karakternya serasi dan sungguh menyenangkan. Apalagi profesi Charlie tadinya adalah pemadam kebakaran. Seorang pahlawan yang mengandalkan kekuatan dan kecepatan berpikir. Saya anggap Charlie bukanlah orang yang nekat, ia menyelamatkan nyawa dengan memakai akal dan pertimbangan. Itu keren menurut saya. Dan profesinya membuat ia cocok menjadi raja. Raja yang diharap mampu menyelamatkan rakyatnya dari keterpurukan akibat perang saudara yang berkepanjangan. Jadi sang calon raja ini nggak sepenuhnya urakan, tapi juga sebenarnya sangat cerdas dan penuh pertimbangan.
Saya cukup suka dengan Jazmine. Tadinya saya kira saya bakal sebel karena belum-belum Jazmine sudah menilai Charlie dengan buruk. Tapi ternyata, justru mereka jadi pasangan yang bikin gemas saking seringnya tarik ulur dan saling bergairah tapi nggak jadi-jadi. Wkwkwk...

Mengenai perasaan dan motif sang raja sudah bisa saya tebak sih. Dan bagian Charlie bertemu atau berdialog dengan raja menjadi bagian favorit saya. Karena saya antusias dan deg-degan menunggu kata-kata apa yang aka diucapkan Charlie untuk membalas sang raja.
Lalu yang bikin saya penasaran justru malah hubungan Lia dengan Max dan Toby. Saya merasa hubungan kakak beradik Costa dengan Toby pastilah spesial, tapi Max lumayan juga karakternya. Jadi apakah kisah cinta Lia bakal ada kisahnya sendiri?

Bagi saya ini adalah perkenalan yang manis dengan karya Melissa James. Memang klise, yaaah cerita harlequin mana sih yang nggak klise. Tapi Raja Pemberontak diceritakan dengan apik dan menarik. Saya nggak bisa berhenti membaca naik-turunnya hubungan dua orang yang dari luar tanpak berrtolak belakang ini.
Bagi kalian yang ingin menikmati kisah perubahan hidup seorang pahlawan yang maskulin dan seksi menjadi raja yang gagah dan berwibawa, coba deh baca novel ini. Ringan, menghibur dan cukup asyik. Tapi awas jangan sampai jatuh cinta pada sang rebel king. Hahaha...

Selasa, 09 Agustus 2016

[Resensi] Pilihan Giselle - Penny Jordan

Judul buku: Pilihan Giselle
Judul asli: Giselle Choice
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Lucia Aryani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2014
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-0116-7



BLURB

Saul Parenti selalu bersyukur dirinya tak perlu menjadi penerus takhta kerajaan Arezzio. Ia bisa memusatkan perhatiannya pada bisnis dan istri tercintanya, Giselle.

Tetapi ketika Aldo sepupunya terbunuh, Saul harus menggantikannya memimpin kerajaan Arezzio. Saul dan Giselle kini harus menjalani hidup menurut protokol kerajaan. Namun, trauma masa lalu Giselle yang selama ini dipendamnya mulai mengusik; ia tak pernah ingin menjadi ibu—dan masalah pun muncul dalam rumah tangganya. Karena tugasnya sebagai pendamping raja adalah memberikan pewaris takhta... 


RESENSI

This is it. Saya membaca juga novel karya penulis favorit saya. Bagi yang mengikuti blog Nurina Mengeja Kata pasti tahu kalau Penny Jordan adalah penulis favorit saya. Meski nggak semua karyanya saya sukai, saya tetap menobatkan dia sebagai penulis favorit.
Dan novel Giselle Choice ini bukanlah tipe novel Penny Jordan yang biasanya saya sukai. Saya lebih suka kalau Penny Jordan menulis tentang kisah balas dendam atau kisah love-hate antara hero dan heroinenya.

Dari awal cerita saya sudah disuguhi adegan panas antara Saul dan Giselle. Pancingan yang pastinya diharap mampu menarik perhatian pembaca. Tapi bukan adegan favorit saya, sebenarnya. Saya bukan tipe pembaca yang suka dengan adegan percintaan di awal kisah. Terutama jika sudah sama-sama suka. Hahaha..
Dan yang membuat frustasi adalah informasi masa lalu yang ditahan dan diberikan secuil demi secuil. Sepertinya Penny Jordan berniat memberi kesan misterius, agar pembaca tertarik menyimak apa sebenarnya rahasia yang disembunyikan Giselle dan seperti apa sebenarnya trauma masa lalu mereka. Tapi bagi saya itu nyebelin banget. Bukannya bikin penasaran tapi malah bikin bingung. Hufff... Saya jadi bertanya-tanya apa saya yang gagal paham atau memang benang merahnya sulit dihubungkan. Padahal cara bertutur Penny Jordan sangat enak dan dialognya mengalir.

Sebagai hero, Saul bukanlah hero favorit saya. Ada beberapa karakter pria dalam karya Penny Jordan yang lebih saya sukai. Seperti Kyril Andronov dalam The Most Coveted Prize, misalnya. Saya lebih suka si pengusaha berdarah dingin dan penuh dendam ini daripada Saul yang hangat dan penuh cinta pada Giselle. Tapi Saul juga keren kok. Dia penuh tanggung jawab, dan berusaha membahagiakan semua orang. Ia ingin semua orang mendapatkan yang terbaik. Ya Giselle, ya rakyatnya. Aaah siapa yang nggak meleleh sama pria suamiable macam Saul begini.
Sementara untuk Giselle, dia juga bukan karakter kesukaan saya. Sebel saya malahan. Giselle terlalu takut dan bagi saya malah terkesan nggak percaya pada Saul dan hubungan pernikahan mereka. Sebagai istri saya biasa menceritakan secara gamblang apa yang saya rasakan pada suami. Apa ketakutan, kecemasan, dan kebahagiaan saya. Karena saya percaya padanya. Karena saya tahu dia mencintai kegelisahan dan harapan saya. *oh oke ini kenapa saya malah curhat* *dikeplak pembaca*
Yah intinya saya merasa Giselle ini masih nggak percayaan. Padahal chemistry antara dia dan Saul asyik banget.

Konfliknya memang bikin saya sebal. Bukan konflik yang penuh intrik dan kelicikan seperti yang biasa saya suka. Tapi yang selalu suka dari Penny Jordan adalah penyelesaian konfliknya. Penny Jordan selalu bisa membuat saya mewek dengan dialognya yang mengena dan begitu dalam serta adegan yang jelas-jelas bikin meleleh.

Overall, meski saya nggak suka ide ceritanya, tapi Giselle Choice tetaplah enak untuk dibaca. Ringan, menghibur dan memberi pemahaman bahwa hubungan harus berlandas kepercayaan.

Kamis, 04 Agustus 2016

[Resensi: The Sheik's Heir - Sharon Kendrick] Sheik yang Takluk Pada Cinderella

Judul buku: Lukisan sang Permaisuri
Judul asli: The Sheik's Heir
Penulis: Sharon Kendrick
Penerjemah: Nadya Andwiani
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: September 2014
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 9786020309781



BLURB

Saat menyelinap di pesta pertunangan saudarinya, Cinderella “Ella” Jackson tak sengaja mendengar seorang pria menghina keluarganya. Karena begitu marah, Ella menyiramkan sampanye ke wajah pria yang tampan tapi menyebalkan itu!

Sayangnya, Ella tak tahu pria itu adalah pangeran kerajaan Kashamak. Dan kisah mereka tidak berakhir di insiden memalukan tersebut. Malam yang panas itu ternyata menimbulkan konsekuensi besar. Sanggupkah Ella menghadapi segala tantangan dan mendapatkan akhir bahagia?


RESENSI

Di pesta pertunangan saudarinya, Cinderella Jackson mendengar seorang pria mengeluh dan menghina keluarganya. Merasa marah, Ella pun mencari tahu siapa pria yang terdengar arogan dan meremehkan itu. Ella menyadari bahwa pria itu adalah Hassan Al Abbas, seorang Sheik yang juga adalah sahabat dari calon mempelai pria. Merasa tidak terima karena keluarganya dihina, Ella menuangkan sampanye ke wajah sang sheik.
Rasa marah dan gairah melanda Hassan. Baru kali ini ia bertemu wanita yang begitu berani mempermalukannya di muka umum. Di tengah rasa frustasi akan konfrontasi mereka, Hassan memilih menyerah pada hasrat dan merayu Ella ke ranjangnya.
Sayang perbuatan satu malam itu membuahkan kehamilan. Hassan berpikir cepat untuk mengatasi masalah ini. Ia pun membujuk Ella untuk menikahinya dan membawa Ella ke negaranya di Kashamak. Tujuan Hassan hanya satu, anak yang dilahirkan Ella akan jadi anaknya. Karen ia sendiri tak percaya pada pernikahan dan cinta.
Namun saat mendapati diri Ella yang sesungguhnya dibalik semua keglamouran Ella, akankah Hassan luluh? Sanggupkah Ella meyakinkan Hassan bahwa tidak semua wanita seperti ibunya?

------------------------

Sharon Kendrick adalah salah satu penulis yang saya suka karyanya selain sederet penulis novel harlequin lain semacam Penny Jordan dan Kate Hardy. Temanya selalu beragam dan selalu mampu mengaduk-aduk emosi saya. Kali ini pun saya jatuh cinta pada blurb dan pada cover versi terjemahan ini. Cakep dan keren kalau menurut saya.

Novel ini adalah seri kedua dari The Santina Crown. Meski saya belum membaca seri pertamanya tapi itu bukan masalah karena kisah dalam novel ini berdiri sendiri. Jadi tetap bisa dinikmati meski tidak dibaca secara berurutan.
Mengambil sebuah lokasi fiktif di wilayah timur tengah, novel ini menggunakan POV orang ketiga dan beralur maju. Bisa dibilang daya tarik The Sheik's Heir adalah heronya yang merupakan pangeran dari negara kecil di timur tengah. Saya selalu suka dengan kesan eksotis dan kejam yang biasanya menyertai mereka.
Tempo ceritanya sangat cepat sehingga tidak terlalu bertele-tele dan membosankan. Meski saya sebal juga dengan cepatnya sang pangeran dan Ella bercinta. Pertengkaran mereka terlalu cepat untuk berubah jadi gairah. Dan rasanya masih kurang provokatif.

Konfliknya cukup menarik, ada banyak konflik batin bahkan sejak bab pertama kisah ini. Kebencian Hassan kepada seluruh keluarga Ella cukup jelas sehingga menimbulkan konflik batin ketika ia merasa tertarik pada Ella. Ingin menjauh tapi kok tergoda. Ingin mendekat tapi reputasinya terancam. Jadi dilema. Hahaha..
Saya suka dengan perang batin yang dialami Hassan. Dilemanya dapet banget. Karakternya juga matang, sifatnya yang dingin dan menahan diri terbentuk bukan hanya karena dibesarkan dalam aturan kerajaan tapi juga karena masa lalunya. Gara-gara kepergian ibunya dia jadi nggak percaya pada wanita dan cinta. Pahit banget hidupnya.
Sementara untuk sang heroine, saya juga lumayan suka. Ella punya prinsip dan mandiri. Yah susah dimaklumi adalah tindakannya yang dari pertemuan pertama dia udah langsung takluk sama Hassan. Tapi yah namanya pria mempesona memang susah dilawan ya. Hehe...
Tapi tumbuh di keluarga yang nggak normal tetap membuat Ella jadi wanita yang baik. Dia kuat dan jujur. Blak-blakan. Bahkan terang-terangan ngaku berhasrat sama Hassan. Malu-malu tapi ngebet gitu. Hahaha..
Kekontrasan sifat kedua tokoh ini bikin jalan cerita jadi menarik. Ibaratnya Hassan pengin kabur jauh dari perasaan yang mulai tumbuh, tapi Ella dengan gigih dan sabar tetap mendekat. Chemistrynya bagus dan mereka terasa klop.


Adegan yang saya suka adalah ketika Hassan dan Ella harus menghadapi persalinan berdua saja, nggak ada siapa-siapa buat bantuin. Haduuuuh... Itu serem deh. Dan pastinya momen yang intim. Biasanya kan pria jarang nungguin istrinya melahirkan, lah ini malah bantuin proses melahirkan karena cuma ada mereka berdua. Seru. Romantis. Aaaah... Pokoknya suka deh.

Seperti umumnya novel harlequin, The Sheik's Heir memang cukup klise dan mudah ditebak. Pada umumnya selalu berakhir bahagia dan berujung pada pernikahan. Tapi mengapa saya selalu suka pada novel jenis ini karen biasanya konflik internal mereka itu dalam banget. Dilema yang menyertai itu yang mengaduk emosi saya. Buktinya saya sampai nangis setiap tiba di antiklimaks.
The Sheik's Heir adalah novel yang ringan dan asyik untuk dibaca. Kisah cinta sang Cinderella dalam menemukan pangerannya memang selalu jadi kisah cinta yang manis. Rasanya saya jadi pengin baca seri pertama dari The Santina Crown ini.

Minggu, 19 Juni 2016

[Resensi: The Most Coveted Prize - Penny Jordan] Hadiah Terindah Bagi Sang Jutawan Rusia

Judul buku: Hadiah Terindah
Judul asli: The Most Coveted Prize
Seri: Russian Rivals #1
Penulis: Penny Jordan
Penerjemah: Linda Boentaran
Editor: Sam Ting Wong
Sampul oleh: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2015
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 9786020317113



BLURB

Hanya satu kontrak kerja lagi, dan lengkap sudah kerajaan bisnis sang jutawan Rusia, Kiryl Androvonov. Namun ia diadang lawan bisnis yang kuat, Vasilii Demidov. Beruntung bagi Kiryl, Vasilii memiliki kelemahan: Alena, adik tiri yang sangat dia lindungi.


Demi mendapatkan keinginannya, Kiryl merayu gadis itu dan memanfaatkannya untuk memeras Vasilii dan merebut kontrak bisnis. Sang taipan Rusia akan meraup untung besar dari situasi tersebut, sementara Alena akan menjadi hadiah terindah yang pernah dimilikinya. Hingga gadis itu menyadari betapa kejam Kiryl selama ini. Dan saat itu, Kiryl telanjur jatuh cinta padanya…

RESENSI

Alena Demidova merasa berhasil mengecoh kakak laki-lakinya, Vasilii, dengan "menyingkirkan" pengawas yang selalu diminta Vasilii untuk menjaganya. Kakaknya memang terlalu melindungi dan masih menganggapnya anak kecil. Padahal Alena merasa telah siap menjadi perempuan dewasa yang mengurus harta warisan ibunya dan merayu satu dua pria. Pria seperti Kyril Andronov, misalnya.
Alena terpukau pada daya tarik seksual yang terpancar dari pria itu dan dengan terang-terangan mengamati Kyril secara terbuka.
Semula Kyiril tak tertarik pada gadis muda yang menatapnya penuh damba itu. Tapi saat mendengar nama sang gadis, dan mengetahui bahwa Alena adalah adik semata wayang Vasilii yang tampaknya amat sangat dijaga oleh Vasilii, Kyril seolah mendapat jalan keluar dari masalahnya. Ia bertekad menggunakan Alena sebagai titik lemah Vasilii agar ia bisa mendapatkan kontrak yang ia mau. Maka ia mulai merayu Alena.
Namun kepolosan, kegairahan dan keterbukaan gadis itu bukanlah hal yang mudah diabaikan.
Akankah Kyril tetap pada rencananya dan merusak Alena, gadis yang mulai menghangatkan hatinya yang beku?

-----------------------

Bisa dibilang saya lebih suka The Most Coveted Prize daripada The Power of Vasilii. Vasilii terlalu bersih, terlalu baik dan gentleman sejati, jadi pergulatan batinnya nggak terlalu terasa. Tapi Kyril lumayan bajingan, jadi pergolakan batinnya dapet banget.

Saya selalu bilang bahwa yang saya suka dari Penny Jordan adalah penulis ini nggak pernah pelit memperlihatkan emosi hero-nya. Dari awal saya dimanjakan dengan paparan perasaan-perasaan Kyril juga pergulatan batinnya. Saya lebih suka tipe penulis yang seperti ini. Menggunakan POV orang ketiga tapi berimbang antara hero dan heroine-nya.
Terlebih Penny Jordan selalu bisa bikin heronya menyesal dan memohon. Oh, how i really love it! Di bagian si hero dihantam kenyataan, hampir kehilangan lalu memohon itu memuaskan batin saya. Wkwkwk~
Dan begitu pun yang saya rasakan pada Kyril.
Tapi saya nggak suka Alena. Hahaha... mungkin karena saya baca kisah Vasilii dan Laura lebih dulu, jadi saya sebel karena Alena lah yang membuat Vasilii salah paham terhadap Laura. Keinginannya untuk bebas selama sesaat itu terasa egois dengan membuat orang lain dirugikan. Tapi kepolosan dan keinginannya untuk mencintai itu menggemaskan.

Bagian yang saya suka di mana lagi kalau bukan di St. Petersburg. Kota favorit saya yang terasa romantis dalam penuturan Penny Jordan. Bukan hanya dari deskripsi tempatnya tapi juga suasananya pun ditulis dengan cantik banget.

Kisahnya mungkin sederhana, yah novel harlequin kan memang jenis novel ringan. Konfliknya lebih pada pertentangan batin sang hero dan penemuannya akan cinta.
Menghibur, ringan, lumayan blak-blakan dan maniiiis, aah.. saya jatuh cinta pada Kyril dan makin cinta pada St. Petersburg.

Senin, 29 Februari 2016

[Resensi: Caleb Wilde yang Angkuh - Sandra Marton] Pretty Woman dari Brooklyn dan Sang Pengacara Angkuh


Judul buku: Caleb Wilde yang Angkuh
Judul asli: The Ruthless Caleb Wilde
Penulis: Sandra Marton
Alih bahasa: Justine R. Tedjasukmana
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2015
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 978-602-03-1770-0



BLURB

Caleb Wilde, sang pengacara ternama, memiliki sifat tak kenal ampun dan berotak tajam bagai pisau. Tahun-tahun penuh kerja keras telah membekukan hati Caleb, hingga satu malam di kota New York mengubah segalanya.

Kini, ia dihantui kenangan akan seorang wanita spesial, Sage Dalton.

Wanita itu hanya bermaksud mempermainkan dia, namun tidak ada yang bisa memadamkan gairah Caleb. Maka saat ia tahu bahwa Sage memiliki harta berharga yang merupakan miliknya, Caleb tak akan berhenti berjuang untuk mendapatkannya.


RESENSI

Caleb Wilde merasa bosan saat harus menghadiri pesta ulang tahun kenalannya di sebuah kelab malam. Secara tak sengaja Caleb melihat seorang wanita, Sage, mendapat perlakuan tak senonoh oleh salah seorang tamu. Tanpa pikir panjang, Caleb memburu mereka dan menghajar pria itu habis-habisan.
Merasa iba dan ingin memastikan Sage pulang dengan selamat, Caleb pun mengantar Sage pulang. Namun betapa terkejutnya Caleb saat melihat kondisi tempat tinggal Sage yang kumuh dan berbahaya.
Rupanya Caleb menyadari keresahan dan ketakutan Sage atas apa yang hampir terjadi pada Sage dan memutuskan untuk menginap di flat Sage. Caleb berusaha menahan hasratnya pada Sage namun ternyata pertahanannya runtuh dan mereka pun bercinta.
Sayang kemudian Caleb mendapati seorang pria berada di flat itu dan mengaku tinggal bersama dengan Sage. Tanpa pikir panjang Caleb mengambil kesimpulan bahwa ia telah menjadi korban permainan Sage.
Tiga bulan kemudian, setelah menjalani kehidupan yang suram, Caleb mendapati klien yang kasusnya melibatkan Sage. Caleb harus membantu kliennya untuk mendapatkan bayi yang dikandung Sage.
Akankah Caleb menuntut pembalasan? Lalu siapa sebenarnya ayah bayi yang dikandung Sage? 

-------------

Sandra Marton selalu menjadi favorit saya karena karakter heronya yang khas. Arogan tapi lembut. Saya juga cukup cepat membaca novel ini karena paragrafnya yang singkat-singkat dan banyaknya dialog di beberapa bagian.

Caleb Wilde yang Angkuh bisa dibilang adalah kisah klise Pretty Woman. Lagi-lagi. Tapi kenapa saya tak pernah bosan membaca ide cerita seperti ini ya, terutama jika disajikan dengan gaya khas si penulis.
Caleb adalah pengacara hebat, pemilik peternakan yang luas bersama saudara-saudaranya juga mantan anggota CIA. Wow banget.
Meski judulnya Caleb Wilde yang Angkuh tapi Caleb juga nggak angkuh-angkuh amat kok. Awalnya sih begitu karena dia belum benar-benar mengenal Sage, tapi setelah dekat Caleb justru lembut dan perhatian banget. Dan Caleb juga lumayan lucu saat kebingungan dengan situasi yang dihadapinya.
Saya suka karakter Sage yang mandiri dan lumayan keras kepala. Kuat banget karakternya. Seimbang lah sama Caleb.

Saya paling suka dengan novel yang tokohnya punya segerembolan saudara. Peternakan dan segerombolan saudara itu menyenangkan. Kesannya selalu hangat bagi saya. Itu sebabnya saya lebih tertarik dengan hubungan Wilde bersaudara. Saya bakal nggak sabar untuk membaca kisah Travis.

Novel ini menggunakan POV orang ketiga dan lebih banyak bercerita dari sisi Caleb. Settingnya berada di Brooklyn dan Manhattan. Dunia kumuh Sage di Brooklyn dan dunia mewah Caleb di Manhattan dan Dallas. Kontras dan asyik banget diikuti.

Konfliknya ternyata nggak melibatkan pihak luar. Sang klien yang merupakan ayah teman sekamar Sage rupanya hanya sarana agar Caleb bertemu lagi dengan Sage. Konflik utamanya hanyalah membuat dua orang yang berbeda dunia ini menyadari kalau saling cinta.

Overall, Caleb Wilde yang Angkuh menjadi bacaan yang ringan dan menghibur bagi saya. Sandra Marton selalu bisa memikat saya dengan interaksi tokohnya yang hangat dan manis.

Jumat, 26 Februari 2016

[Resensi: Cinta Tak Terduga - Kate Hardy] Ketika Sang Pengacara Jatuh Cinta pada Nona Bohemian


Judul buku: Cinta Tak Terduga
Judul asli: Mistress on Trial
Penulis: Kate Hardy
Alih bahasa: Regalia Sariputra
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2015
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 978-602-03-2437-1





BLURB

Leo Ballantyne tidak memercayai si wanita urakan, Rose Carter. Baginya, Rose salah satu orang yang menyesatkan adik perempuannya. Biasanya Leo takkan sudi berurusan apa pun dengan Rose. Tapi, karena keponakan tersayangnya dititipkan kepada wanita pembawa masalah itu, Leo pun harus sering menghabiskan waktu bersamanya.

Seiring waktu berjalan, Leo menyadari betapa cerdas dan menawannya Rose. Tapi, kepribadian mereka bertolak belakang. Dunia Rose pun begitu berbeda dari dunia Leo. Sanggupkah mereka menemukan jalan untuk menjalin kasih di tengah perbedaan yang begitu mencolok?


RESENSI

Leo Ballantyne tak pernah menyukai Rose Carter, sahabat adik bungsunya. Leo menganggap Rose membawa pengaruh buruk bagi Sara, adiknya. Rose mendukung Sara untuk berhenti kuliah ketika Sara hamil, dan Rose juga pernah didakwa gara-gara mencuri barang. Rose membuat Leo jengkel karena pakaian Rose yang bergaya bohemian, gaya hidup Rose yang kacau dan karena Rose selalu mampu membangkitkan hasrat Leo.
Maka ketika Sara berlibur dan menitipkan putrinya, Daisy, kepada Rose, Leo merasa perlu untuk bertindak. Ia datang untuk mengawasi selama Rose mengasuh keponakannya. Namun, semakin lama mereka bersama dan berdebat, Leo sadar bahwa ia salah. Rose wanita cerdas, mandiri dan teratur. Dan Rose luar biasa menggairahkan hingga Leo tak mampu lagi berpura-pura membenci Rose.
Sayangnya kehidupan mereka sangat bertolak belakang, apalagi Leo sedang berusaha memantapkan karier pengacaranya dan ingin menjadi QC termuda seperti kakeknya. Salah memilih pasangan, yang tak bisa diterima dunia pengacara dan koleganya, bisa-bisa membuatnya tersingkir dan lama mendapat promosi.
Bisakah Leo memilih antara tetap mencintai Rose dan menghentikan ambisinya menjadi QC atau ia akan meninggalkan Rose dan lebih memilih kariernya?

--------------

Baru sekali ini saya mencicipi karya Kate Hardy dan langsung suka. Saya sampai merasa kesal pada diri sendiri kenapa selama ini nggak pernah melirik penulis yang satu ini dan mencoba membaca salah satu karyanya. Tapi, sungguh, Mistress on Trial benar-benar cerita yang manis.

Novel ini berkisah tentang dua orang yang saling berlawanan sifat, Leo yang kaku dan penuh tanggung jawab dengan Rose yang berjiwa bebas. Namun ketertarikan di antara mereka begitu kuat. Sehingga ketika mereka akhirnya bersama mereka harus memutuskan untuk berkompromi atau melepaskan cinta sejati.
Hohooo saya paling suka cerita seperti ini. Memang klise dari segi premis, tapi cara bertutur Kate Hardy benar-benar mengaduk perasaan.
Terutama karena penulis nggak segan-segan menuliskan dengan detail perasaan tokoh pria. Betapa Leo tertekan setengah mati oleh rasa mendamba. Duh, benar-benar bikin meleleh.

Bersetting di London, novel ini menampakkan sisi lain dari kota megah itu. Karena Rose berjualan di pasar, seru rasanya mengikuti aktivitas Rose.
Sedangkan sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga, bergantian dari sisi Leo dan Rose. Yang saya sukai tentu saja karena sudut pandang Leo porsinya hampir sama besar dengan porsi Rose.

Saya suka penokohannya yang kontras dan mudah memicu konflik. Namun toh kekontrasan itu hanya dalam hal pekerjaan dan berbusana. Nyatanya Leo dan Rose punya prinsip yang sama dalam menangani Daisy dan punya pandangan ke depan yang kurang lebih mirip.
Leo kaku dan penuh tanggung jawab, tapi juga mudah mengucapkan kata-kata romantis. Leo selalu bisa meluluhkan saya dengan kata-katanya yang tepat dan manis.
Sementara Rose wanita yang keren. Menyukai hal-hal berbau vintage dan percaya dirinya tinggi. Saya paling suka ketika dia datang ke pesta amal para pengacara dengan busana yang antimainstream, yang berbeda dengan busana yang dipakai para pengacara. Haha~ keren!
Saya juga suka interaksi antar keduanya, bagaimana mereka saling memengaruhi dan membuat perubahan yang baik. Chemistry-nya oke banget.

Konfliknya cenderung datar dan mudah diselesaikan, namun dikemas dengan apik dan rapi. Sedari awal saya yakin Leo akan mengambil keputusan yang tepat dan nggak memperpanjang drama.
Sementara untuk adegan panasnya cukup sensual dan bikin panas dingin. Haha...

Penerjemahannya bagus, minim typo dan enak dibaca. Sayangnya saya nggak sreg dengan penerjemahan judul. Jadi menghilangkan esensi Mistress on Trial-nya. Tapi saya suka kavernya, saya memang nggak suka dengan kaver yang menampakkan wajah, tapi saya suka pakaian yang dikenakan wanita dalam kaver. Keren.

Overall saya suka novel ini. Ringan, menghibur dan maniiiis banget. Lika-liku kisah percintaan antara pengacara kaku dan pedagang pasar yang membuat mereka menyadari arti berkompromi. Recommended deh.

Rabu, 17 Februari 2016

[Resensi: Lamaran di Bawah Mistletoe - Lucy Gordon] Menyingkirkan Mimpi Buruk Masa Lalu


Judul buku: Lamaran di Bawah Mistletoe
Judul asli: A Mistletoe Proposal
Penulis: Lucy Gordon
Alih bahasa: Debbie Natalia
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2015
Tebal buku: 243 halaman
ISBN: 978-602-03-2407-4




BLURB

Pippa Jenson menawan dan cerdas, dengan karier yang sukses di firma hukum Farley & Son. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka. Setelah dikhianati tunangannya, ia tak berminat mencari cinta sejati seperti yang dulu ia yakini ada. Dengan pesonanya, kini ia kembali membuka diri, meski tak membiarkan siapa pun kembali mengisi hatinya.

Namun ada satu orang yang kebal terhadap pesona Pippa. Roscoe Havering tertarik padanya hanya karena satu hal: kemampuannya di ruang sidang. Demi melepaskan adiknya dari jerat hukum, Roscoe meminta bantuan Pippa menjadi pengacara sekaligus sosok mentor untuk sang adik. Dan demi memastikan semua berjalan lancar, ia selalu mengawasi perkembangan kerja wanita itu.

Akan tetapi seiring waktu berjalan, Roscoe pun menyadari ia tak sepenuhnya kebal terhadap pesona Pippa...


RESENSI

Philippa Jenson bertemu pertama kali dengan Roscoe di makam kakek dan neneknya. Tanpa sengaja pria itu memergoki Pippa tengah mengobrol dengan nisan sang nenek seolah nenek Pippa masih ada di sana. Ketika mobil Pippa rusak, Roscoe menawarkan diri untuk menderek mobil Pippa ke bengkel dan mengantarkan Pippa pulang.
Roscoe menyadari kecantikan Pippa dan profesi Pippa sebagai pengacara bisa membantu kasus adiknya. Maka ia pun mendekati dan membujuk Pippa agar mau membela adiknya di pengadilan.
Pippa yang tak pernah kesulitan menarik perhatian pria, kali ini diminta menarik perhatian Charlie, adik Roscoe, dan membimbingnya agar keluar dari jerat kejahatan seorang wanita. 
Namun benarkah Roscoe kebal terhadap pesona Pippa? Bisakah Pippa menghadapi natal kali ini dan mempercayai dirinya bisa mencintai lagi?

-------------

Secara garis besar novel ini bercerita tentang Pippa yang cantik selangit dan berprofesi sebagai pengacara. Bukan sembarang pengacara, tapi pengacara yang sangat andal. Pippa takut jatuh cinta lagi karena pernah ditinggal kabur tunangannya sesaat menjelang natal.

Novel ini menggunakan POV orang ketiga dari sudut pandang Pippa. Sementara pikiran dan sudut pandang Roscoe minim banget. Plotnya rapi dan gaya berceritanya mengalir lumayan apik.
Hanya saja penggambaran Pippa sebagai pengacara yang menakutkan di ruang sidang hanya berupa deskripsi. Saya sebenarnya ingin melihat sendiri bagaimana Pippa bertarung di persidangan, argumen apa yang ia lemparkan, bagaimana ia mengintimidasi. Sayangnya semua itu nggak diceritakan. Malah penyelesaian kasus Charlie pun remeh banget tanpa adu argumen.

Karakternya cukup menarik. Roscoe dan Charlie sangat kontras. Dan perbedaan itu memiliki latar belakang yang kuat. Demikian juga dengan pribadi Pippa. 
Roscoe berasa arogan, tukang kendali dan nggak kenal kompromi. Nyebelin banget ngelihat dia berusaha mengendalikan semuanya.

Konfliknya saya rasa masih kurang nendang. Gampang banget diselesaikan. Salah paham, marahan, lalu baikan. Penjelasan soal salah paham pun belum mendetail tapi tokohnya sudah baikan.

Well, sebagai bacaan yang ringan, novel ini bisa dicoba. Lucy Gordon biasa menyajikan cerita-cerita yang manis yang layak dibaca. Lucy juga termasuk penulis yang minim banget adegan panas. Bahkan nyaris nggak ada. So, silakan dicoba. :)


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Kesalahan terburuk kadang dilakukan oleh orang yang mati-matian mencoba menghindari kesalahan." (hlm. 50)

"Tak ada orang yang mendapatkan semua yang mereka inginkan." (hlm. 113)

"Memilih yang aman tidak selalu menuntun pada keamanan." (hlm. 204)

"Terkadang, pria yang bersenjata paling kuat adalah orang yang paling membutuhkan senjata itu... apa pun alasannya." (hlm. 213)

Sabtu, 30 Januari 2016

[Posbar] Resensi: Cinta di Malam Natal - Penny Jordan


Judul buku: Cinta di Malam Natal
Judul asli: Christmas Eve Wedding
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Lustatin
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2015
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 978-602-03-2334-3
Available at: Bukupedia.com




BLURB

Jaz yakin dirinya jatuh cinta dan akan menghabiskan sisa hidupnya dengan Caid Dubois, konsultan bisnis seksi yang sudah mencuri hatinya sejak Jaz tiba di New Orleans. Namun, harapan masa depan mereka yang bertolak belakang memaksa Jaz kembali ke Inggris dengan hati hancur.

Usaha Jaz untuk melupakan kenangan pahitnya berakhir sia-sia karena beberapa bulan kemudian Caid ditugaskan ke Inggris untuk memantau toko tempat Jaz bekerja. Seakan itu belum cukup, ia harus berbagi apartemen dengan si pria angkuh.

Pertemuan kembali di bawah langit bulan Desember tersebut menyadarkan Jaz dan Caid bahwa mereka membutuhkan satu sama lain. Namun, sanggupkah mereka mengambil risiko untuk berkompromi dalam cinta?


RESENSI

Jaz datang ke New Orleans bersama ayah baptisnya, Paman John, untuk melakukan negosiasi jual-beli toserba Inggris milik Paman John oleh Annette Dubois. Di situlah Jaz bertemu dengan putra semata wayang Annette, Caid Dubois. Dalam sekejap mereka langsung tertarik satu sama lain. Dan tak butuh waktu lama mereka menjadi sepasang kekasih.
Caid dengan mudah membuka hatinya dan mencintai Jaz saat tak sengaja ia mendengar bahwa Jaz adalah putri seorang peternak. Mengingat masa kecilnya yang suram karena selalu ditinggalkan sang ibu untuk mengejar kariernya, Caid bertekad untuk memiliki istri yang akan menghabiskan seluruh waktunya di rumah untuk mengurus anak-anak. Ia menolak menikahi wanita karier karena tak ingin anak-anaknya kelak bernasib sama sepertinya. Kesepian dan merasa ditolak oleh ibu sendiri. Caid mengira ia mendapati sosok istri ideal dalam diri Jaz.
Yang tak diketahui Caid, Jaz justru wanita yang sangat memuja darah seninya dan karier yang telah dicapainya. Sebagai perancang etalase toko, Jaz punya ide-ide kreatif yang membuatnya menikmati pekerjaannya. Jika ia menikah ia ingin kreatifitas seninya diakui dan didukung oleh suaminya kelak.
Sepasang kekasih yang saling mencinta tapi sayangnya terbentur idealisme yang sangat bertolak belakang. Maka mereka harus berpisah.
Namun ketika empat bulan kemudian Caid tiba di Inggris dan harus berbagi rumah dengan Jaz, akankah mereka berhasil mencapai sebuah kompromi? Ataukah mereka akan terlalu sibuk menyangkal dan saling bertengkar?

-----------

Bulan ini sebenarnya saya nggak berencana membeli buku. Tapi saya nggak pernah bisa menahan godaan setiap kali nama Penny Jordan nongkrong di rak toko buku. Bahkan seandainya saya ke toko buku dengan niat beli buku yang berbeda, begitu menemukan nama penulis ini, saya langsung hilang arah tujuan. Haha~
Maka terbelilah novel koleksi istimewa Harlequin dari penulis favorit saya ini.

Saya langsung terkaget-kaget di bab pertama ketika Jaz melakukan flirting dengan pria asing di lift. Saya berasumsi pria asing karena bolak-balik si pria ditulis sebagai 'pria itu'. Kok 'nakal' sekali si Jaz ini ketemu pria hot di lift dan dirayu dikit langsung mau diajak bobok bareng. ^^
Tapi... ternyata eh ternyata, ini adalah pancingan! Penny Jordan mungkin ingin membuat pembaca berasumsi pesona Caid langsung bisa merontokkan Jaz seketika. Padahal... ini twist yang menggebrak di awal cerita.
Hmm~ sayangnya image wanita gampangan jadi langsung melekat pada Jaz karenanya.

Seperti biasa, Penny bertutur dengan gayanya yang khas. Penny selalu bisa menggambarkan perasaan si tokoh yang tersayat-sayat dan teriris-iris. *emangnya cabe*
Dan harus saya akui lebih menarik menyaksikan (membaca) konflik batin tokoh utamanya dibanding konflik verbal mereka. Dialog yang dilakukan dua orang ini menyedihkan dan menyakitkan. Terutama kemarahan Jaz yang mirip debat anak-anak. Jaz terlalu sering menuduh, terlalu mudah membuat asumsi dan terlalu sering merajuk.
Saya sebal setengah mati karena Jaz nggak pernah memberi kesempatan bagi mereka berdua untuk bicara dengan logika dan mencari jalan keluar. Itu kan yang seharusnya dilakukan sepasang kekasih yang saling mencinta?
Dan saya nggak menyukai Caid karena chauvinist banget. Meski ia merasa seperti itu karena pengalaman masa kecilnya, tetap saja pikirannya sempit.

Salah satu hal yang mendorong saya membeli buku ini adalah disebutkannya New Orleans di blurb. Saya langsung girang karena novel ini mengambil setting kota favorit saya, tapi ternyata New Orleans cuma muncul sebentar, sebagian besar setting berada di Inggris.

Penerjemahannya bagus. Ada kalimat-kalimat panjang dalam dialog yang dilontarkan Jaz yang terasa agak 'mbulet'. Tapi mungkin kalimat versi aslinya memang seperti itu. Typo berupa kesalahan ketik lumayan banyak juga. Tapi untuk kesalahan ejaan dan tata bahasa hampir nggak ada. Keseluruhannya mudah dan enak dibaca.

Bisa dibilang, ini bukan karya terbaik Penny Jordan. Bukan hanya tokohnya yang terasa konyol tapi juga konflik yang kurang greget. Meskipun tetap saja endingnya sweet banget. Penyelesaian yang dibuat Penny Jordan selalu membuat saya terharu dan mewek. Walaupun Cinta di Malam Natal hanya berhasil membuat saya mewek sedikiiiit. Haha~




Senin, 18 Januari 2016

[Resensi: Skandal Terpendam - Penny Jordan] Memperbaiki Skandal Masa Lalu


Judul buku: Skandal Terpendam
Judul asli: A Secret Disgrace
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Farah Astrid Effendi
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2015
Tebal buku: 248 halaman
ISBN: 978-602-03-1489-1



BLURB

Louise Anderson tahu bahwa kembali ke Sisilia hanya akan membangkitkan kenangan buruk. Tapi demi mewujudkan keinginan terakhir kakek-neneknya, ia bersedia menghadapi apa pun, termasuk bertemu dengan pria angkuh yang membuatnya menjadi aib keluarga.

Sejak perjumpaan terakhir pada musim panas sepuluh tahun lalu, sosok Louise yang memikat selalu menghantui mimpi Caesar Falconari. Dan ketika Louise muncul kembali di hadapannya, Caesar bertekad takkan melepaskan wanita itu lagi. Apalagi setelah ia mengetahui akibat dari satu malam penuh gairah yang nyaris menghancurkan reputasinya dulu.

Caesar berharap kesepakatan yang ia tawarkan dapat menebus kesalahannya. Bagaimanapun, Caesar Falconari yang sekarang bukan lagi pemuda tak berpendirian, melainkan pria yang akan memberikan segalanya untuk mendapatkan kesempatan kedua dalam hubungan mereka.

RESENSI

Akhirnya Louisa kembali ke Sisilia, tapi hanya dengan satu tujuan, menguburkan abu kakek dan neneknya di tanah leluhur mereka. Dan meski Louisa merasa tak nyaman kembali berurusan dengan Caesar, tapi Louisa ingin memenuhi keinginan terakhir kakek dan neneknya. Karena hanya kakek dan neneknyalah yang menerima Louisa ketika semua orang—termasuk ayahnya—menghina dan menghakimi Louisa atas aib yang dibawa Louisa.
Namun tampaknya Caesar, sang Duca pemilik tanah mereka, tak berniat untuk kembali melepaskan Louisa.
Rupanya sebelum meninggal, kakek Louisa telah menulis surat pada Caesar dan memberitahu Caesar bahwa Caesar adalah ayah dari anak Louisa. Bahkan begitu melihat Oliver, Caesar tahu anak itu adalah putranya. Kemiripan mereka tak diragukan lagi. Rasa tanggung jawab dan rasa bersalah yang amat besar membuat Caesar memutuskan untuk mengklaim Oliver sebagai putranya dan Louisa sebagai istrinya. Terutama karena Louisa telah melalui banyak penghinaan karena dirinya.
Tapi menaklukkan dan meyakinkan Louisa ternyata tidaklah semudah dulu ketika perempuan itu masih gadis belia 18 tahun. Louisa yang sekarang adalah Louisa yang telah ditolak dan dikhianati.
Berhasilkah Caesar membawa Louisa pada pernikahan yang pantas untuk perempuan itu? Dan bagaimana jika hasrat dan letupan yang dulu ada di antara mereka kini bangkit kembali?

---------------

Penny Jordan adalah penulis yang nggak pernah mengecewakan saya. Dia penulis favorit saya sejak saya SMA. Kemampuannya dalam memaparkan perasaan sang hero dan menuliskan adegan yang mematahkan hati selalu membuat saya mewek.
Penny Jordan selalu bisa membuat saya puas karena tahu sang hero menderita karena menginginkan sang heroine. XD

Seperti halnya di A Secret Disgrace ini, sejak awal saya sudah diberi curhatan Caesar, bagaimana perasaannya melihat Louisa lagi, seberapa besar rasa bersalahnya dan bagaimana ia ragu dan salah mengira Louisa membencinya. Aww~

Plotnya rapi dan mengalir. Dengan POV orang ketiga, lebih banyak paparan perasaan yang saling bertentangan di dalam novel ini. Cara penulis mendeskripsikan Sisilia terasa memikat dan nggak berlebihan.

Louisa benar-benar mudah menarik simpati saya. Saya merasa faktor psikologis penting dalam membuat karakter novel. Latar belakang apa yang membuat si tokoh melakukan suatu tindakan, dan mengapa ia memiliki sifat tertentu. Dalam hal Louisa itu karena ia selalu ingin mendapatkan cinta yang nggak bisa diberikan orangtuanya.
Orangtua Louisa menikah hanya karena ibu Louisa hamil, sehingga Louisa tumbuh dalam pengabaian orangtuanya. Ia tumbuh menjadi anak yang selalu mencari perhatian. Ketika orangtuanya bercerai dan ayahnya punya pacar baru, Louisa mulai bersaing dengan calon ibu baru dan putri-putrinya dalam hal mendapatkan cinta sang ayah. Tapi Louisa kalah. Ayahnya tetap membencinya. Itu sebabnya ia tumbuh jadi gadis pembangkang dan nakal untuk mendapatkan perhatian ayahnya. :(
Tapi ketika satu malam bersama Caesar membuatnya hamil, dan setelah ia diusir dan dilecehkan tetua desa, walau perasaannya hancur, saya kagum dengan ketegarannya. Sehingga ketika ia kembali bertemu Caesar sepuluh tahun kemudian dia menjadi perempuan yang lebih logis dan terkendali. Menjadi perempuan yang pantas dikejar Caesar.

Penerjemahannya lumayan baik. Ada typo sedikit dan di bab awal ada kalimat bertingkat yang terasa berputar-putar. Entah memang kalimat aslinya begitu atau penerjemahnya sendiri yang menggunakan kalimat rumit. Tapi keseluruhan tetap mudah dinikmati.

Ending novel ini bisa dibilang khas Penny Jordan. Pola yang selalu digunakannya untuk menutup cerita. Tapi saya nggak merasa bosan karena tetap ada nuansa yang segar yang membedakan novel ini dengan karyanya yang lain. A Secret Disgrace justru membuat saya makin menyukai penulis satu ini.
Karena dari novel ini saya menemukan bahwa pengabaian orangtua besar dampaknya bagi pembentukan karakter anak. Bahwa penting bagi seorang anak untuk merasa aman karena tahu dirinya selalu dicintai orangtuanya. A Secret Disgrace menyampaikannya dengan apik dalam balutan roman yang manis.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon