Tampilkan postingan dengan label Sangaji Munkian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sangaji Munkian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Desember 2015

[Blogtour: Pengumuman Pemenang] Winner of Maneken by SJ. Munkian




Haiiii.... siapa yang menunggu pengumuman pemenang blog tour Maneken?
Sebelumnya seperti biasa, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kak SJ. Munkian atas kepercayaannya terhadap blog ini untuk menggelar blog tour, terima kasih juga karena sudah berbagi ilmu dan imajinasi dalam postingan wawancara yang lalu.
Terima kasih juga untuk sahabat sesama blogger buku, Kak Atria yang sudah membukakan pintu untuk kerja sama ini. *Peluuuukkk hangat*
Tak lupa, terima kasih kepada para peserta yang sudah bersemangat menggali imajinasi terliar kalian untuk menjawab pertanyaan saya.
Dan sekarang saatnya saya mengumumkan yang beruntung kali ini adalah:

Bintang Permata (@Bintang_Ach)
mendapatkan Novel Maneken + goodie bag

Mawar Hs (@goodenoughhoks)
mendapatkan paket buku Republika

Selamaaaaaat!!! Sila kirim data diri kalian ke nurinawidiani84@gmail.com paling lambat 2x24 jam ya.
Bagi yang belum menang jangan sedih, ada pesan dari Kak SJ. Munkian, nih buat kalian....

Dear kawan-kawan pengunjung sekaligus peserta GA blog-nya Nurina Mengeja Kata yang kereen gillss *edisilebay
terima kasih ya sudah mampir, membaca dan mengikuti event ini, saya sangat senang sekali dan selalu memantau postingan yang kawan-kawan unggahkan ke sini. Sungguh mengesankan :)
Selamat kepada yang menang ya, nantikan kabar selanjutnya mengenai proses pengiriman hadiah. Bagi yang belum menang, tak perlu bermuram durja, sebab masih ada 6 rangkaian lainnya, kalau pun 'kebelet' pengen bukunya tinggal ke toko buku aja hehe
dan bagi yang mau berinteraksi atau berbincang, silakan colek aja di medsos dengan akun 'sjmunkian'.


Salam, sampai jumpa di kesempatan berikutnya.

SJ. Munkian

Nah.... nah... masih banyak kesempatan di blog selanjutnya, kok, jadi jangan sedih ya. Yuk kunjungi blog kakak-kakak host blog tour yang lain ;)

10 – 13 Desember 2015 vindyputri.com
14 – 17 Desember 2015 dhaniramadhani.wordpress.com
18 – 21 Desember 2015 nathaliabookshelf.blogspot.co.id
22 – 25 Desember 2015 kubikelromance.com
26 – 29 Desember 2015 janebookienary.wordpress.com
30 Desember –2 Januari 2015 atriadanbuku.blogspot.co.id

Minggu, 06 Desember 2015

[Blogtour: Wawancara Penulis] Sangaji Munkian Penulis Maneken yang Filosofis



Sudah baca review Maneken sebelumnya? Yuk sekarang kita berbincang-bincang dengan sang penulisnya, Kak Sangaji Munkian :)

Halo Kak Sangaji, sebagai penulis novel Maneken, bisa perkenalkan diri kakak ke pembaca?

>Halo, perkenalkan, nama saya Sangaji Munkian, nama di bukunya sih SJ. Munkian biar gimana gitu, #abaikan. Aku lahir dan hidup di bumi sejak tahun 1993, tinggal di Bandung, baru selesai pendidikan tinggi, hobi menulis sejak SMP dan mengejahwantahkan menulis sebagai passion sejak SMA, dulu sering banget nulis kutipan, puisi, cerpen dan memanjang hingga jadi novel. Dan Maneken adalah salah satunya. Yuk baca  #udahpromoaja

Ide awal penulisan Maneken ini dari mana sih, Kak?
Berasal dari dua hal, yang pertama adalah pengalaman yang seringkali kita lakukan jika berjalan-jalan di di daerah pertokoan yang menjajakan baju, pasti kita akan mendapati maneken-maneken, nah di sanalah sebuah imajinasi liar berpendar, bagaimana jika boneka peraga itu sebetulnya punya pikiran, punya kehidupan dan kisah sendiri, dapat berkomunikasi antar boneka hanya saja kita terlalu sibuk dan terlalu tidak mempercayai hal tersebut.
Kemudian yang kedua adalah, pada tahun 2011, Letto Band (Band Indonesia favorit, yang menurutku lagu-lagunya paling nyastra, berima dan bermakna) mengeluarkan lagu dan video klip berjudul Dalam Duka, di sana mengisahkan kisah melankolis nan menyentuh tentang sebuah maneken, nah… berasal dari kedua hal itulah Novel Maneken ini meretas sebagai ide dan mewujud buku yang dipajang.

Mengapa Kakak memilih menulis genre fantasy, apakah genre ini zona nyaman atau tantangan bagi kakak?

Aku meyakini semua orang mempunyai kepercayaan, sekalipun dia seorang ateis (maka kepercayaanya adalah tidak mempercayai entitas maha kuasa) #belibet?Abaikan
Begitupun penulis, pasti dia punya genrenya, genre pribadi yang sesuai dengan dirinya, nah aku pun punya genre itu, yang salah satunya adalah fantasi, jika dikatakan zona nyaman barangkali iya dan tantangannya juga iya, saat kita menulis genre fantasi, maka pikiran kita betul-betul diuji supaya merentangkan sejauh mungkin tuk menciptakan realitas baru yang beda ataupun tak pernah ada di dunia sebenarnya, itulah tantangan sekaligus keasyikannya.
Kendati demikian, sebetulnya level fantasi Maneken masih menengah sebab realitasnya masih berpijak di bumi, ada beberapa naskah lainnya yang level fantasinya melintas nun jauh dari bumi dan menjungkirbalikan fakta. #blurbnantikansajaya

Berapa lama proses penulisan novel ini? Apa kendalanya?

Aku ada catatannya, yakni dari 16 Juli 2013 – 30 Oktober 2013
Tidak ada kendala yang terlalu berarti sih #sombong, sebab sebelumnya novel ini berasal dari cerpen yang aku kembangkan saking cintanya sehingga menjadi seperti ini. Ya, mungkin lebih kepada tantangannya kali ya, yakni mengembangkan karakter, pendalaman konflik dan menambah bab aja, tapi itu asyik kok, apalagi pas revisi dibantu sama editor super kece.
Dan tantangan lainnya paling saat revisi novel, di awal 2015 barengan sama nulis skripsi, jadi aku menggarap dua tulisan berbeda, skripsi dan novel yang berakhir dengan indah yakni, skripsi disidangkan dan novel diterbitkan.

Wah... keren dong, nulis skripsi dan nulis novel bisa barengan dan sukses semua!
Oke kak, sekarang coba sebutkan tiga kata yang menggambarkan novel ini, dong :)

Fantastis, Romantis… Filosofis 

Mengapa sih, kakak mengambil maneken sebagai benda yang menjadi tokoh dalam novel ini?

Aku ingin menulis sesuatu yang istimewa yang berasal dari sudut pandang spesial, yakni benda mati, dan karakter maneken sebagai benda mati yang menyerupai manusia, kupikir saat itu akan jadi menakjubkan jika dibalik diamnya mereka, sesungguhnya punya kisah sendiri yang tak disadari oleh seluruh umat manusia.

Sebenarnya, saya pun kalau lihat maneken nggak berani menatap matanya karena mata mereka seolah-olah mengamati kita, manusia. Hiii~ #iyainicurhat ^^
Di antara tokoh dalam Maneken, tokoh mana yang jadi favorit? Mengapa?

Aku menyayangi semua tokoh, tapi ya kalau ditanya favorit, aku suka dengan Sophie C. Fleur, meskipun dia antagonis #blurb dia adalah representatif dari orang-orang hebat, yang secara penampilan oke, pendidikan tinggi, smart, karier cemerlang namun memiliki beberapa ‘kecacatan’ yang kadang diabaikan oleh dirinya, semisal tentang perangai dan relasi dengan orang lain, termasuk dengan yang dicinta.
Meski begitu, bukankah tidak ada yang oke dalam segala hal? Kembali lagi pada konsep tak ada yang sempurna, meksipun ada bagian diri kita yang sempurna, sementara yang lainnya tidak. Itulah manusia, itulah pemeran kehidupan.

Ceritain dong kak, adakah pengalaman personal kakak yang kakak masukkan ke dalam novel ini?

Apa ya? Kayaknya untuk novel maneken ga ada deh, sebab aku belum pernah jadi maneken. Serius lho. Tapi kalau karakter ada yang terinjeksi ke salah satu tokoh, kira-kira yang siapa? Rahasia ah. Hehe.

Ada tips nggak buat calon penulis yang ingin menulis genre fantasy?

Bacalah buku, nontonlah film, tak cuma fantasi tapi semuanya, berkawanlah dengan yang suka fantasi juga biar bisa bisa saling sharing dan menyemangati. Sesekali pertanyakanlah banyak hal pada diri sendiri, luangkan waktu buat merenung (bermalasan di kasur yang produktif) dan tulis idemu segera, dan tekankan bahwa, sebab ini fantasi, maka ini adalah duniamu, maka buatlah dunia sesukamu, buatlah aturan, baru gaya baru dari sesuatu yang begitu-begitu aja jadi seru, ya misalnya di dunia nyata ini, kalau maneken ya cuma benda mati, dikasih pakaian dan dipajang, kalau udah jelek diganti, nah dengan kekuatan fantasi buatlah aturan dan gaya baru, bahwa sesungguhnya maneken itu punya pikiran, dapat berkomunikasi antar maneken, punya mimpi dan dapat bergerak dengan syarat dia punya cukup ambisi dan tidak ada orang atau sesuatu apapun yang menyaksikannya bergerak, sehingga dalam sejarah kehidupan manusia maneken tidak dianggap hidup (tetapi sesungguhnya hidup), sebab tidak akan pernah ada saksi, lantaran syarat bergeraknya maneken melindungi kebenaran sebuah maneken.

Apa yang ingin kakak sampaikan pada pembaca dan calon pembaca novel kakak ini?

Segalanya punya sudut pandang, bahkan bagi benda mati pun, kita diciptakan oleh Tuhan maka kita punya sudut pandang juga pemikiran bukan?
Apakah benda yang diciptakan manusia punya sudut pandang dan pikiran? Apalagi mereka mirip sebagai manusia?
Kurasa iya.
Selain itu mari kita cermati filosofi saling menghormati yang berlaku tak hanya antar benda hidup, tetapi bagi benda mati dan alam sekitar. Lengkapnya, baca saja, ga asik dong kalo dikoarin di sini.

Sebagai penutup apa yang ingin Kakak sampaikan kepada pembaca di sini?

Apa ya? Yang jelas, kunjungi toko buku, bawa pulang Novel Maneken, dan juga follow t/fb/ig/tumblr: sjmunkian (nama akunnya sama). #frontalbangetpromonyahehe
Sampai jumpa di dunia Novel Maneken, kamu akan merasakan pengalaman mengesankan sebagai pejuang yang dipajang.


Naahh... sudah puas belum berkenalan dengan kak Sangaji, yuk di-follow akun sosmednya dan ikutan giveawaynya dulu. Siapa tahu kalian bisa beruntung bertualang di dunia maneken :))

[Resensi] Maneken - SJ. Munkian


Judul buku: Maneken
Penulis: SJ. Munkian
Editor: Triana Rahmawati
Desain cover: Chandra Kartika Gunawan
Penerbit: Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)
Tahun terbit: September 2015
Tebal buku: x + 181 halaman
ISBN: 9786029474060



BLURB

Dalam sejarah kehidupan di dunia, benda mati hampir selalu tidak dihiraukan. Tidak ada yang mau repot-repot memikirkan perasaan benda mati, apalagi memerhatikan kebutuhannya. Kau bahkan tak pernah tahu kan, bahwa maneken bernama Claudy—yang bekerja keras di etalase terdepan toko busana Medilon Shakespeare—mempunyai perasaan. Mimpi-mimpinya dilambungkan untuk kemudian dihempaskan lagi hingga hanya bisa bergantung pada nasib dan keajaiban. Ya, keajaiban.

Novel ini akan membuka mata hatimu dengan menempatkanmu pada posisi benda mati yang tak dihiraukan, meski sedang berjuang mati-matian untuk mencapai mimpi-mimpi. Kau akan melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan semoga itu akan membuatmu semakin mengerti, betapa kami, aku dan Claudy, iri kepada kalian.

REVIEW

Sebelum Medilon Shakespeare dibuka, sebuah maneken perempuan telah diletakkan di etalase utama. Maneken paling cantik dan paling unggul di antara maneken-maneken lainnya, dialah Claudia.
Yang tak diduga Claudia, ternyata bukan hanya dirinya saja yang diletakkan di etalase utama yang menghadap ke Capulatte Cafe itu. Ada sebuah maneken pria yang akan disandingkan bersamanya di etalase utama. Nama maneken itu Fereli. Maneken pria yang mengaku berasal dari Perancis dan fasih berbahasa Perancis, yang tentunya membuat Claudia kesal setengah mati karena harus membagi etalase utama bersama pria itu.
Namun lama-lama, seiring dibukanya toko busana, dan tema busana yang silih berganti mereka bawakan, mereka berdua menja dekat. Obrolan dan sentuhan tak pelak membawa desir rasa di antara mereka.
Tepat ketika mereka merasakan puncak bahagia seperti Sophie si pemilik toko yang tengah dimabuk asmara, bencana terjadi. Sophie menemui kegagalan. Fereli dan Claudia menjadi sasaran amuk Sophie dan menjadi target pemusnahan. Inikah akhir nasib mereka? Apakah maneken hanya bisa diam ketika manusia berbuat tidak adil pada mereka? Apakah benda mati selamanya tak punya kuasa melawan benda hidup? Atau akankah ada keajaiban bagi mereka?

--------------
Akhirnya setelah cukup lama melahap novel romance, saya bertemu kesempatan membaca genre fantasi lagi melalui novel Maneken ini. Dan yang luar biasa novel ini adalah novel fantasi karya anak bangsa sendiri.

Yang menarik perhatian saya pertama kali saat membuka novel ini adalah susunan daftar isi. Dalam daftar itu terdapat judul-judul bab yang semuanya merupakan kata pasif semacam; Dinamai, Diletakkan, Diperlihatkan, dan ada juga Dipertemukan. Semula saya masih nggak mengerti mengapa kata pasif yang digunakan sebagai judul, tapi karena tokoh utama novel ini adalah benda mati, atau sebuah obyek, barulah saya merasa betapa tepatnya judul bab yang digunakan.

Maneken diceritakan dari sudut pandang Claudia sebagai "aku" pada awalnya, hingga di pertengahan sudut pandang mulai berganti-ganti antara Claudia dan Fereli. Menarik sekali menyaksikan apa yang dirasakan kedua maneken ini terhadap para manusia baik yang ada di dalam toko maupun di luar toko.

Jalinan kisahnya lumayan runut. Beberapa kemustahilan dijelaskan dengan argumen sehingga menjadi lebih masuk akal. Karena toh bagi saya, genre fantasy tetap saja mesti punya jalan logika yang bisa tetap digenggam :))
Analogi dan filosofi yang dipaparkan sangat menarik. Beberapa hal dipotret dari sudut pandang Claudy dan Fere sebagai benda mati.

Penggambaran tokoh Claudia dan Fereli cukup bertolak belakang. Claudia adalah maneken perempuan yang sedikit egois dan "kosong", saya nggak menemukan "isi" yang bulat dalam karakter Claudia. Selain bahwa dia penuh mimpi dan romantis. Sementara Fereli adalah maneken pria yang sabar dan tabah. Sabar bangetlah dijutekin Claudia. Paling suka kalau Fere mulai ngomong pakai bahasa Perancis dan Claudia bengong. Ternyata walau tenang, Fere lumayan usil juga :))
Membaca novel ini membuat kosa kata bahasa Perancis saya jadi bertambah karena Fereli.

Tokoh manusia yang karakternya cukup menonjol di sini adalah Sophie, si pemilik toko. Sophie karakter yang keras dan disiplin. Dia juga nggak segan menegur orang-orang yang tindakannya nggak sesuai dengan kemauannya. Tipe perempuan yang jika di dunia nyata bakal saya jauhi dan nggak mau berurusan dengannya.
Di antara semua tokoh dalam Maneken, justru Sophie-lah yang pengkarakterannya lebih kuat dan lumayan bulat.
Sedangkan dialog antar tokoh dalam novel ini masih terasa kaku, masih banyak dialog basa-basi dan emosinya masih encer. Kurang pekat dan kurang chemistry.

Ada beberapa typo terutama pada penggunaan partikel -pun yang seharusnya dipisah seperti "apa pun" dan "siapa pun" ditulis menyambung. Juga ada beberapa kesalahan tata kalimat. Tapi tetap enak dibaca dan nggak terlalu mengganggu.

Saya cukup menikmati novel ini dan merekomendasikan Maneken bagi penggemar novel genre fantasy yang menginginkan membaca cerita yang unik. Setidaknya novel ini mengajarkan untuk lebih menghargai benda mati dan nggak melampiaskan kesalahan dan kekesalan pada benda mati.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Pahami orang lain, maka kau pun akan dipahami. (hlm. 69)

Dalam realitas pribadi—mimpi, imajinasi—jika kita berkeinginan dengan teramat kuat dan bersungguh-sungguh maka hal itu akan jadi realitas semesta—menjadi nyata. (hlm. 88)

"Usaha dari dia yang memperjuangkan cinta tak akan sia-sia." (hlm. 155)
Bagi yang masih penasaran, silakan tonton trailernya :))



 *****GIVEAWAY TIME (CLOSED)*****



Sekarang waktunya bagi saya untuk menjamu teman-teman yang telah berkunjung dan mengikuti blog tour Maneken ini.

Akan ada dua hadiah yang disediakan Kak Sangaji dan Penerbit Republika untuk dua orang yang beruntung:

Hadiah pertama --> novel Maneken & goodie bag
Hadia kedua --> paket buku Republika

 Wohooo... siapa yang nolaaak??!
Hihihii.. syarat untuk mendapatkannya mudah saja.
1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @sjmunkian @bukurepublika dan @KendengPanali
3. Share tentang giveaway ini di twitter dengan memention ketiga akun di atas dengan hashtag #Maneken dan sertakan pula kaver novel ini di share kalian.
4. Baca postingan wawancara saya bersama SJ. Munkian di sini
5. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menyebutkan nama, akun twitter dan alamat email.

Dalam imajinasi kalian, benda apa yang kalian bayangkan bisa berbicara dan berpikir seperti manusia? Deskripsikan juga kemampuan apa yang mereka miliki.

Giveaway ini akan berlangsung dari tanggal 6 Desember 2015 dan ditutup tanggal 9 Desember 2015 pukul 23.59 WIB. Pemenang akan saya umumkan tanggal 10 Desember 2015.
6. Yang terakhir good luck, ya ;)


Review ini diikutkan dalam Lomba Resensi Maneken



 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon