Tampilkan postingan dengan label Metropop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metropop. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2017

[Resensi] Rule of Thirds - Suarcani

Judul buku: Rule of Thirds
Penulis: Suarcani
Penyunting: Midya N. Santi
Penyelaras aksara: Mery Riansyah
Perancang sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2016
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 9786020334752



BLURB

Apalagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?


Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis. 

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan. 

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter.


RESENSI

Setelah tiga belas tahun mengikuti papa "bersembunyi" di Seoul, Ladys akhirnya kembali ke Bali. Tujuannya hanyalah berada dekat dengan Esa dan mungkin meningkatkan hubungan mereka ke jenjang status pernikahan. Sayang kenyataan tak seindah harapan. Di hari pertamanya bekerja sebagai fotografer, Ladys bertemu dengan Dias, pemuda aneh yang lebih memilih membisu di dekatnya. Pemuda sok tahu yang membuat Ladys geram dan uring-uringan.
Namun yang lebih menyakitkan, Ladys harus menelan kenyataan pahit akibat pengkhianatan Esa.
Namun Ladys masih belum mampu meninggalkan Bali. Apalagi pertemuannya dengan Dias ternyata bagai takdir agar mereka berdamai dengan masa lalu masing-masing. Bersama, kedua fotografer ini berusaha mencari arti cinta dan memaafkan.

----------------------

"Cinta akan selalu memaafkan." (hlm.132)

Rule of Thirds adalah kesempatan kedua saya membaca karya Suarcani, setelah dulu sempat membaca Stardust Catcher dan memandu blogtournya. Bagi saya, Stardust Catcher adalah novel Young Adult yang membekas di benak saya, maka saya pun jadi ingin menjajal mencicipi karya baru Suarcani yang muncul di lini Metropop.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama bergantian dari sisi Ladys dan Dias. Nggak perlu takut bingung karena ada perbedaan yang jelas di antara keduanya. Ladys menggunakan kata ganti "saya" dan cenderung keras kepala, sementara Dias menggunakan kata ganti "aku" dan terkesan cuek. Mereka konsisten dengan kepribadian masing-masing dan muncul saling mengisi satu sama lain.
Ada dua hal dalam novel ini yang menonjol dan melekat kuat di benak saya. Yang pertama adalah setting Bali yang lagi-lagi digunakan oleh Suarcani. Settingnya terdeskripsi dengan apik dan rapi, cukup jelas bagi saya yang buta akan lokasi-lokasi di Bali. Suasana dan alam Bali terpotret dengan baik.
Yang kedua adalah dunia fotografi yang digeluti oleh Dias dan Ladys, segala istilah dan filosofi tentang potret memotret dituangkan dalam buku ini. Menarik karena Suarcani mampu menarik garis antara istilah fotografi dengan filosofi dalam hubungan antar manusia. Saya jadi merasa nyambung-nyambung saja dan nggak terbingungkan dengan istilah-istilah tersebut.

Yang saya rasa cukup drama hanyalah Ladys. Hahaha... pertama saya jengkel karena Ladys merasa nggak terima karena Dias 'sok pintar'. Haduuuh saya sempat benci karena dia menganggap Dias bego dan nggak ngerti apa-apa. Saya nggak suka ada orang yang meng-underestimate seseorang apa pun profesinya dan seperti apa penampilannya. Bahkan saat Ladys akhirnya 'tertonjok' fakta tentang Dias, saya masih belum puas.
Kemudian plin-plan dan ragu-ragunya Ladys menyikapi hubungannya dengan Esa itu bikin gemas-gemas jengkel. Pantaslah kalau Dias jadi murka, untuk alasan yang tepat.
Sementara Dias saya anggap karakter yang pas sebagai penyeimbang. Saya suka dengan sosoknya yang biasa aja. Nggak menonjol, tenang—nggak mudah terpancing dan yaah.. bego dalam urusan asmara. Khas cowok. *lalu saya dirajam para cowok* wkwkwk~
Esa sendiri pria yang gigih meski ngawur. Haha... Alasannya untuk tetap di samping Ladys itu egois sih. Nggak ada dewasa-dewasanya, tapi yaah saya akui dia pintar ngegombal sehingga bikin Ladys hilang logika.

Konflik dalam Rule of Thirds memang cukup menarik. Betapa kita bisa memiliki nasib yang sama dengan beberapa orang namun menyikapinya dengan cara yang berbeda-beda. Berduka dan berdamai karena kehilangan dan pengkhianatan dengan cara masing-masing. Betapa nasib kadang menyeret kita pada pola yang sama dengan yang dialami orangtua kita, entah kita sadar atau tidak.

Rule of Thirds bukan hanya menyoroti kisah cinta rumit antara dua-tiga orang saja, namun juga tentang drama keluarga. Yah, saya dibikin nangis juga oleh buku ini. Bukan hanya karena adegannya, tapi juga diksi yang digunakan Suarcani membuat momennya makin dalam. Memang, membaca novel ini bikin geregetan, bukan hanya karena tensi hubungan para tokohnya naik turun, tapi juga ditarik dan diulur. Lihat saja di bagian akhirnya, huh jantung saya rasanya mau copot karena saya kira endingnya bakal bikin saya sedih. Tapi ternyata aww... endingnya supeeerr manis. Sukak 😍

Minggu, 08 Januari 2017

[Resensi: Yes, I Do But Not With You - Shandy Tan] Balas Dendam Sang Mantan Kekasih

Judul buku: Yes, I Do But Not With You
Penulis: Shandy Tan
Ilustrator cover: Yulianto Qin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2017
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 978-602-03-3711-1



BLURB

Amy tak pernah menyangka rencana masa depannya hancur berkeping-keping dalam sekejap. Pernikahan yang hanya tinggal sejengkal, tiba-tiba sirna. Joshua, sang calon suami sekaligus tujuan hidupnya, menghamili perempuan lain. Amy kehilangan kekasih, pekerjaan yang sangat ia suka, dan kepercayaannya terhadap laki-laki.

Tetapi, kemudian Semesta mempertemukan Amy dengan Gabriel yang melezatkan hari-hari Amy dengan pastry buatannya. Meski begitu, Joshua tak kunjung menyerah merebut Amy kembali, dan dia selalu tahu bagaimana meluluhkan pertahanan Amy. Akankah Amy menerima Joshua kembali? Ataukah ia akan melepaskannya, dan mendengarkan Semesta yang mencoba menghiburnya dengan kehadiran Gabriel? 


RESENSI

Semesta kadang-kadang bisa sangat kejam, mengabulkan keinginan seseorang dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain. (hlm. 152-153)

Saat mengetahui bahwa Joshua berselingkuh, Amy murka. Bagaimana tidak, ia dan Joshua akan melangkah ke pelaminan setahun lagi, tapi tiba-tiba saja muncul wanita yang mengaku hamil karena Josh. Tanpa bisa dicegah, Amy menghajar 'Pamela Anderson', mengambil kartu ATM yang berisi rekening bersama mereka, menyita laptop dan semua benda penting yang bisa membuat Josh kelimpungan. Amy tak rela, pengabdiannya sebagai sekretaris dan babu Josh secara gratis dibalas dengan perbuatan hina Josh.
Merasa hancur, Amy menerima saran sahabatnya Lucia untuk menemukan kehidupan baru sambil menghindari Josh. Dan Amy pun bertemu Gabriel. Pria yang menjadi tetangga barunya sekaligus chef baru di Pondok Sarapan milik Cia dan Paris.
Kedekatan mereka membuat Amy merasa hidup lagi, terutama karena pastry buatan Gabriel yang lezat. Namun Josh pria yang gigih dan bertekad berjuang habis-habisan untuk mendapatkan hati Amy kembali.
Akankah Amy memaafkan Josh? Atau ia memilih melupakan mantan kekasih brengseknya dan memilih Gabriel? Dan apa yang akan dilakukan Josh untuk kembali ke sisi Amy?

----------------------

"Aku percaya kadang-kadang karma butuh bantuan supaya pekerjaannya lebih mudah dan lebih cepat selesai. Kita hanya menyusun skenario." (hlm. 115)

Pengkhianatan memang menyakitkan, terutama jika terjadi di detik-detik saat kita merasa ada di puncak harapan. Maka terkadang bagi beberapa orang, untuk melepaskan rasa sakit yang menyesakkan itu, diperlukan tindakan ekstrem seperti... balas dendam misalnya. Karena kita butuh momentum untuk, bukan hanya move on, tapi juga move up.
Inilah ide cerita yang diolah oleh Shandy Tan dengan lincah dan cukup kocak. Beberapa bagian begitu menghibur dan bikin saya senyum-senyum geli. Bukan hanya dalam adegannya saja, tapi juga diksi dan penempatan dialognya yang terasa cerdas.

Ini memang pengalaman pertama saya membaca karya Shandy Tan. Pengalaman yang sangat berkesan karena sebenarnya saya nggak terlalu suka dengan genre metropop. Tapi Shandy Tan berhasil membawa saya ke dunia yang seru dan menyenangkan tentang kehidupan cinta Amy dan kehidupan urbannya. Saya suka dengan pikiran-pikiran Amy yang sedikit nakal juga dengan hubungan antar karakternya.

Yes, I Do But Not With You diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, tapi lebih terfokus pada Amy. Apa yang Amy rasakan dan pikiran-pikirannya lebih banyak mendominasi dalam novel ini. Ada secuil sudut pandang Gabriel dan Paris yang muncul dan membuat saya girang karena memang layak ditunggu. Bagi saya sebagai pembaca yang lebih suka mengetahui perasaan dan pikiran sang hero, ini tentunya menjadi kepuasan tersendiri.
Setting Medan di novel ini nampak pada logat bahasa yang diucapkan oleh segelintir orang. Sementara para tokoh utama tetap menggunakan bahasa yang universal dan nggak terlihat dialeknya. Demikian juga dengan lokasi yang terasa kurang Medan bagi saya. Namun untuk lingkup setting ruang yang lebih sempit, deskripsinya mendetail dan mudah dibayangkan.

Karakter dalam novel ini begitu mudah menancap di benak. Terutama Josh yang diceritakan berprofesi sebagai pembica seminar semacam motivator yang bernama lengkap... Joshua Teguh. Ngg.... seriously? Kkk~ yaa saya kan langsung kepikiran sama seseorang yang sering muncul di televisi 😷😷 Karakter Josh cukup konsisten nyebelinnya. Baik dari apa yang digambarkan oleh Amy maupun dari tindak-tanduknya.
Amy selayaknya karakter heroine dalam metropop yang mandiri, cerdas tapi dibutakan cinta. Persahabatannya dengan Cia mencuri perhatian saya. Hubungan mereka seru dan asyik, terasa cair dan klop banget sebagai partner in crime. Chemistry mereka juara banget lah. Saya suka gaya Cia saat menasehati Amy, kelihatan banget keunikan sifatnya. Hmm... saya jadi penasaran Cia dan Paris ini ada bukunya sendiri nggak sih?
Sementara Gabriel cukup oke. Well, sebenarnya saya suka karena dia jago masak dan tampak penuh perhatian serta cool banget. Gayanya, cara ngomongnya, saat masak, asyik banget. Sayang, twistnya bikin saya berubah pandangan tentang dia. Gabriel masih oke, masih punya pesona dengan kesabaran dan gentle tapi yaaa... setelah tahu apa yang dia lakukan saya jadi merasa beda. Hahaha... sory, Gabe.

Konfliknya dibangun dengan baik. Meski saya sempat merasa penganiayaan terhadap 'Pamela Anderson' terlalu sering disebut, padahal tanpa sering disebut pun adegan itu tetap berbekas dalam di benak saya. Ada beberapa hal yang mudah terbaca, namun ada juga yang menjadi kejutan dalam novel ini. Penyelesaiannya pun saya anggap pas. Nggak muluk-muluk amat dan nggak nanggung. Saya justru bakal merasa sebal seandainya novel ini dipaksa ke ending bahagia selama-lamanya. Kebahagiaan yang didapat Amy adalah puncak kepuasannya, dan itu yang terpenting.

Secara keseluruhan, Yes, I Do But Not With You merupakan novel yang ringan, menghibur dan enak dibaca. Buat kamu pencinta novel metropop saya rekomendasikan novel unyu nan kocak ini.

Rabu, 12 Oktober 2016

[Resensi] Love Bites - Edith PS

Judul: Love Bites
Penulis: Edith PS
Editor: Veronica B Vonny
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2014
Tebal buku: 200 halaman
ISBN: 9786020309446



BLURB

Vania:
“Percayalah, kalau diizinkan memilih, aku ingin menghabiskan sepanjang hariku di sofa, menonton dvd komedi keluarga Modern Family sambil menikmati sundae dan bercengkerama dengan Cherish. Sayangnya...”

Ivan:
“Ini bukan tentang gue mengerti atau tidak soal pekerjaannya, tapi tentang bagaimana seorang suami menjadi sandaran bagi istrinya yang butuh pendengar. Gue ingin bisa diandalkan olehnya.”

Apa yang terbayang saat mendengar fenomena Alpha Wife dan Beta Husband? Tentang bagaimana pernikahan diusahakan ketika terjadi pertukaran peran antara suami dan istri. Tentang dominasi istri—dari segi finansial dan pengambilan keputusan—dan peran baru laki-laki sebagai stay-at-home husband.

Selamat datang di kehidupan Ivan dan Vania. Pasangan muda dengan satu anak perempuan berusia lima tahun, yang dipenuhi beragam dinamika pernikahan kaum urban di era modern: gaya hidup, stigma sosial, kodrat, idealisme, skala prioritas, inferioritas, pelarian... Sampai akhirnya keduanya yang semula mempermasalahkan perbedaan, yang awalnya diyakini menyatukan mereka, mulai saling menyalahkan.

In fact, love is not that blind. It even bites!


RESENSI

Saya tertarik membaca Love Bites karena ide ceritanya yang menarik. Tentang Alpha Wife dan Beta Husband. Bisa dibilang saya akrab dengan isu ini karena beberapa orang yang saya kenal menjalani peran yang sama. Ya, saya mengenal para Alpha Wife dan juga para Beta Husband. Itu sebabnya saya membaca novel ini untuk mencoba membandingkan dunia nyata dan dunia fiktif yang ada dalam genggaman sang penulis.

Love Bites dikisahkan dengan menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Ivan dan Vania. Masing-masing mendapat porsi bergiliran satu bab, dengan jumlah halaman yang cenderung singkat. Pace yang cepat dan bab yang singkat, membuat novel ini mudah dibaca tuntas dalam sekali duduk. Setting metropolitannya sangat terasa, mulai dari kesibukan, gaya hidup dan pola pikir para tokohnya.

Bicara soal karakter, sorry to say, I hate them all. Saya nggak suka pada Vania yang tampak egois, nggak bisa dibantah, mengambil keputusan sendiri, menganggap dirinya super dan telah mengorbankan segalanya. Saya tahu karakternya memang dibuat dominan, tapi para alpha wife yang saya tahu nggak pernah sekali pun merendahkan suaminya. Mengeluh ya, tapi nggak pernah mengungkit bahwa uangnyalah yang bicara. Ya ampun kalau hal ini dibalik dan suami saya mengatakan hal-hal jahat yang Vania katakan, saya bisa sakit hati.
Dalam rumah tangga, terlepas siapa yang mencari uang (yang telah diputuskan dari diskusi bersama), nggak tepat rasanya mengungkit uang yang sudah dikeluarkan. Terlebih menimbang pengorbanan siapa yang lebih besar. Ini rumah tangga, bukan perusahaan. Sungguh sakit hati saya membaca novel ini.
Lucunya, saat Vania memberi nasihat pada Kika saat Kika ragu untuk menikah, menurutnya Kika harus berdiskusi dengan Haris. Saya pengin teriak bullshit. Kapan kamu sendiri melakukan diskusi dengan Ivan, Vania? Yang ada Vania bikin keputusan dan Ivan nurut-nurut aja. Bah!

Ivan sendiri juga sama menyebalkannya. Idealismenya terasa konyol. Okelah ia tidak mampu berbisnis, tidak secemerlang Vania, tapi masa sebegitu gegabahnya berbisnis dengan orang tanpa menyelidiki track recordnya? Dan saya menyesal karena si pria yang katanya idealis ini nggak mempertahankan idealismenya. Sebagai penulis, ketika karirnya mentok dan naskahnya ditolak, ia menyerah. Pasrah. Begitu saja. Duh nangis saya bacanya.

Dan yang paling membuat saya sakit hati adalah kejadian yang menimpa Ina, kakak Ivan. Saat Ina muncul, ditampilkan sebagai sosok yang berkebalikan dengan Vania, saya berharap akan mendapat keseimbangan. Bagai dua sisi mata koin. Meski sama-sama pintar dan cemerlang, jalan mereka menerjemahkan arti diri sebagai istri dan ibu begitu berbeda. Namun deskripsi yang dibuat Edith tentang Ina menyakiti hati saya (sumpah alasan saya bukan karena namanya sama dengan saya).

Gue melirik Mbak Ina. Dia memakai daster longgar. Wajahnya berminyak. Kalau gue mencium ketiaknya, mungkin aroma dapur atau paling parah asam cuka yang menguar. Gila! (hlm. 143)

Gosh! Sebel banget saya sama kalimat tersebut. Menyedihkan ya jadi ibu rumah tangga full time? Harus dinilai secara fisik seperti itukah? Dan puncaknya adalah nasib Mbak Ina sang istri yang penuh pengabdian itu dibuat ngenes dan seolah itu salah si istri! Damn!!

Mbak Ina lalu menceritakan alasan Mas Baskoro mengkhianatinya—tanpa kuminta. Dari penjelasannya yang penuh jeda isakan, kusimpulkan bahwa Mas Baskoro selingkuh karena bosan. Tidak ada gairah lagi seperti dulu.
Mbak Ina yang dulu begitu cemerlang, atraktif, kini berubah jadi ibu rumah tangga yang meja riasnya berdebu saking lamanya tak terpakai. Mbak Ina seolah lupa cara berdandan. Sehari-harinya Mbak Ina mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga, yang akrab dengan daster, bumbu masakan, dan lap pel.
Menyambut Mas Baskoro pun tidak ada beda. Sudah sedemikian lama Mas Baskoro menghindari hubungan ranjang. Jangankan Mas Baskoro, aku pun sempat takjub dengan pilihan yang diambil Mbak Ina. (hlm. 171)

Sedih ya? Padahal yang salah kan Baskoro, tapi kesalahan ditimpakan pada istri yang nggak mau merias diri. Jujur saya di rumah juga nggak pakai rias-riasan, meja rias aja nggak punya. Lalu apa suami saya bosan? Apa nilai saya jadi rendah dan layak ditinggal. Oh betapa sempitnya pemikiran Vania.

Dan endingnya.... yah okelah. Asal Vania bahagia. Tendang saja si suami yang nggak berguna. Dan selamat datang pria seksi setampan Hideaki Takizawa.
Hal terbaik dalam novel ini hanya Cherish. Itu saja. Selebihnya, saya nggak related sama novel ini.

Selasa, 22 Maret 2016

[Resensi: Gravity - Rina Suryakusuma] Cinta yang Mampu Menarikmu Kembali


Judul buku: Gravity
Penulis: Rina Suryakusuma
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Februari 2016
Tebal buku: 328 halaman
ISBN: 978-602-03-2512-5




BLURB

Cecilia selalu merasa ia dan Declan seperti magnet yang tarik-menarik, tetapi kecintaan Declan untuk traveling dan profesinya sebagai fotografer membuat pria itu sering meninggalkan Cee. Lama-kelamaan kehadiran Declan mulai terasa hanya sebatas suvenir, foto, dan pesan singkat.

Hingga suatu hari, pertemuan yang tak sengaja dengan Bernard, menggoyahkan Cee. Sang business analyst memesona hati Cee dengan sosoknya yang selalu ada ketika Declan selalu meninggalkannya.

Dan, ketika Cee nyaris yakin dengan perasaannya terhadap Bernard, Declan kembali mencoba memenangkan hati Cee.

Cee bimbang, namun seperti gravitasi, semua orang yang sudah digariskan ada dalam hidupmu, akan selalu kembali padamu. Tapi benarkah akan selamanya seperti itu?


RESENSI

Menjadi seorang photo editor di Jakarta Channel Week membuat Cecilia bisa mengenal Declan, seorang fotografer lepas yang handal dalam mengabadikan dunia melalui lensanya. Cecilia telah menghabiskan waktu cukup lama menanti Declan, hanya untuk mendapati dirinya menjadi tempat singgah sementara sebelum pria itu beranjak lagi ke belahan bumi lain demi memburu petualangan. Cecilia harus menelan kekecewaan bahwa Declan tak pernah bisa menetap cukup lama di sisinya, menemaninya.
Lalu muncullah Bernard, seorang business analyst yang bagaika. jangkar aman bagi kehidupan Cecilia. Bernard selalu ada, di saat darurat maupun di saat-saat tak terduga. Perhatian dan hal-hal remeh yang diberikan Bernard perlahan mengguncang hati Cecilia.
Cecilia harus menentukan pilihan, kepada siapa ia siap bersandar. Sementara Cecilia juga berusaha menyingkap rahasia yang ada di dalam selembar foto yang ditemukannya. Sebuah foto keluarga—suami, istri, dan anak perempuan—yang menurut ibu Cecilia adalah foto keluarga yang tidak bahagia.
Siapa yang akan Cecilia percayai untuk meletakkan hatinya? Sang traveler yang merupakan cinta dan harapannya ataukah sang business analyst yang selalu ada di sana baginya? Dan berhasilkah Cecilia menyusuri jejak masa lalu dengan berbekal sebuah foto usang? Siapakah ketiga orang di dalam foto itu?

---------

For me, you're my gravity. No matter which path I choose, there's always something that leads me back to you. (hlm 316)

Gravity mengingatkan saya pada seseorang, pada kisah perjalanan cintanya dan pada keputusan yang diambilnya mengenai pendamping hidup selamanya. So... saya jadi rada sentimentil saat membaca novel ini. Huhuuu...
Tapi terlepas dari perasaan itu, saya merasa Gravity adalah novel Rina Suryakusuma yang paling saya suka, sejauh ini.

Dikisahkan melalui sudut pandang orang ketiga, novel ini beralur maju dengan plot yang tampak rapi. Terasa mengalir dan enak diikuti. Komposisi antara narasi-deskripsi-dialognya pas dan nggak berlebihan. Ada informasi yang ditahan yang membuat saya asyik menebak-nebak dan merasa kegirangan saat dugaan saya terbukti benar.

Setting cerita bermula di Jakarta, di gedung perkantoran tempat Cecilia dan Bernard sama-sama bekerja. Cecilia di lantai lima yaitu kantor Jakarta Channel Week sementara Bernard di lantai 23 yaitu sebuah perusahaan tambang minyak.
Setting Bali juga cukup sering muncul karena Cecilia memilih Bali sebagai lokasi pernikahan sepupunya, Dianne. Selain itu di Bali pulalah Cecilia mulai menyusuri dan menyelidiki masa lalu bermodal selembar foto.
Sst... adegan favorit saya pun terjadi di Bali, di sebuah pantai ketika Bernard menyodorkan benda sederhana namun sarat makna ;)

Karakter dalam novel Gravity terasa kuat dan berciri khas. Ada kalanya saya geregetan dengan sifat Cecilia yang sulit mengambil keputusan. Duh, untungnya Nolan, sahabat Cecilia yang setia banget, tabah menghadapi kebebalan Cecilia. Di sini saya suka peranan Nolan yang mencoba memberi nasehat tapi terkesan nggak ikut campur banget.
Bernard dan Declan menjadi dua sosok pria yang kontras. Bernard tipe family-man yang bisa memperhatikan hal-hal kecil, melakukan hal-hal sederhana tapi menyentuh. Sementara Declan adalah sang pemimpi, yang selalu menikmati passion-nya, mencintai alam dan kehidupan dengan sepenuh jiwanya. Mencintai Cecilia dengan caranya sendiri.
Pekerjaan Declan tentunya sungguh menarik dan membuatnya mudah digilai. Seorang fotografer dengan jam terbang tinggi yang melanglang satu kota ke kota lain. Satu negara ke negara lain. Satu benua ke benua lain. Seorang teman saya bercerita tentang fotografer freelance yang bisa menganggur lama jika sedang tidak ada job atau project. Biasanya mereka membuat semacam proposal untuk project tertentu yang dikirimkan ke media-media calon pembeli semacam National Geographic, Boston Globe, Getty image, dsb. Baru setelah deal baru bisa jalan. Atau sebaliknya jalan dulu, hunting foto, lalu jualan ke media kemudian.
Maka menilik betapa singkatnya waktu luang Declan di Jakarta untuk bertemu dengan Cecilia dan betapa cepatnya ia mendapat tugas, saya rasa Declan termasuk jajaran fotografer top dunia. Hmm... keren!

Konfliknya berkembang dan nggak monoton. Untuk menghindari rasa bosan pembaca memang perkembangan konflik akan membuat kisah menjadi lebih menarik. Namun jika nggak hati-hati malah bisa semakin mbulet.
Di dalam Gravity, dengan gaya bertutur yang luwes, Rina Suryakusuma memberi kisah yang semakin berwarna namun sayangnya penyelesaian konfliknya terkesan 'mudah' dan 'berdiri sendiri' tanpa punya kaitan besar dengan konflik utama cinta segitiga antara Declan-Cecilia-Bernard.

Overall, saya sangat suka novel ini. Betapa saya menemukan banyak hal tentang menentukan sebuah pilihan, tentang mempercayakan hati dan masa depan, tentang mencari jangkar yang kokoh untuk berakar dan bertunas. Bagi kalian yang masih bingung menentukan arah atau malah telah menemukan jangkar untuk bersandar (seperti saya), kalian harus membaca novel ini.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Tidak ada orang sibuk, Cee. Waktu orang mengatakan padamu bahwa mereka sibuk, itu bukan mengacu pada jadwal mereka, melainkan pada urutan prioritas mereka." (hlm. 150)

Sesuatu yang selalu kaucari, kadang datang ketika kamu sudah tidak menginginkannya lagi. Ketika penantianmu akhirnya tiba, biarpun hanya sekelumit, tetap ada rasa bahagia. (hlm. 228)

Hubungan yang sukses tidak terjadi begitu saja, Cee. Suatu hubungan bisa bertahan bukan karena ditakdirkan seperti itu. Suatu hubungan bisa bertahan karena dua manusia di dalamnya memutuskan untuk berusaha dan berjuang." (hlm. 290)

Sabtu, 12 Maret 2016

[Resensi: Pink Project - Retni SB] Proyek Cinta yang Tak Terduga


Judul buku: Pink Project
Penulis: Retni SB
Ilustrasi sampul: Louisanne Shutterstock
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus 2009 (cetakan kedua)
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 978-979-22-4771-8




BLURB

Puti Ranin berang sekali ketika Sangga Lazuardi menyerangnya di ruang publik, di koran. Sangga mengejeknya sebagai katak dalam tempurung yang mencoba berceloteh tentang dunia! karena berani memberi penilaian terhadap lukisan tanpa pengetahuan yang memadai.

Bah! Dia memang awam dalam soal seni, seni lukis khususnya, tapi apakah itu berarti dia tidak boleh mengapresiasi sebuah karya? Dan baginya, lukisan Pring menyentuh kalbunya. Sangga Lazuardi sangat pongah. Kesombongan lelaki itu membuat Puti mati-matian membela dan mengagumi Pring, pelukis yang dicela Sangga.

Namun yang tidak dimengertinya... Sangga Lazuardi selalu muncul dalam setiap langkah hidupnya... Bagai siluman, Sangga selalu muncul di mana pun dirinya berada. Apa yang diinginkan lelaki yang telah menghinanya habis-habisan itu?


RESENSI

Puti kesal luar biasa terhadap Sangga Lazuardi karena artikel yang dibuat pria itu di koran yang melecehkan artikel dan otak Puti! Sebelumnya Puti telah membuat artikel yang mengulas tentang lukisan Pring setelah Puti mengunjungi pameran tunggalnya. Meski awam tentang lukisan, Puti ingin mengapresiasi lukisan Kucari Dirimu milik Pring yang membuatnya tergugah. Namun Sangga Lazuardi malah meremehkan kapasitas Puti dan mencela hasil karya Pring. Tentu saja Puti merasa dendam setengah mati pada sang kritikus itu. Bahkan saat Puti akhirnya berhasil bertemu dengan sosok Sangga di sebuah talk show, kebenciannya makin menjadi.
Hingga Puti akhirnya benar-benar bertemu dengan Sangga dan Sangga mengenalinya sebagai penulis artikel yang ia bantai. Tapi reaksi Sangga justru tampak santai terhadapnya.
Sayang lagi-lagi Sangga membuat Puti tambah kesal karena membuat Ina, sahabat Puti hilang akal dan mengejar-ngejar Sangga. Ina bahkan memutuskan tunangannya demi mendekati Sangga.
Ketika Puti berhasil berkomunikasi dengan Pring, akhirnya ia menemukan rahasia mengapa Sangga bersikap kritis padanya dan pada Pring.
Akankah Puti akhirnya menemukan Pring? Mengapa Pring begitu misterius dan sulit ditemui? Dan mengapa Sangga tak pernah berhenti ada di sisi Puti?

--------------

Akhirnya saya membaca ulang Pink Project. Baca ulang karena lupa sama sekali jalan ceritanya. Haha... saya cuma ingat nama-nama tokohnya.
Baca ulang ini dalam rangka kangen berat sama karya-karya Retni SB. Dan seingat saya dulu saya paling suka dengan novel yang satu ini.

Tema ceritanya klasik namun idenya diolah dan dikemas secara menarik. Biasalah saya memang suka dengan kisah yang salah satu tokohnya benci banget sama tokoh yang lain. Seperti Puti dan Sangga ini.
Walaupun bisa dibilang Puti ini negative thingking melulu terhadap Sangga. Namun karakternya cukup konstan.
Yang terasa labil justru Ina, sahabat Puti. Entahlah saya kok merasa nggak sreg dengan sikapnya yang bitchy banget. Padahal tadinya Ina diceritakan punya karakter logis dan kalem, masa hanya karena seorang Sangga dia bisa gila nempel-nempel, mesra-mesraan di depan umum dan marah-marah nggak jelas. Perubahannya drastis banget. Juga ketika dia kembali ke sifat awal pun rasanya mendadak. Labil.
Dari awal saya sudah terkesan dengan Sangga. Pintar, tenang dan logis. Dia juga dengan santai menerima kemarahan Puti. Namun ketika hampir mendekati akhir dan kemudian diungkapkan kesuksesan-kesuksesan dia, hmmm~ kenapa jadi terkesan too good too be true, ya?
Sedangkan Pring sepertinya cukup lucu dan apa adanya. Saya suka pembawaannya juga email-emailnya kepada Puti.
Hubungan antar tokohnya asyik dan kocak. Saya juga menyukai nama-nama tokohnya yang unik dan khas.

Menggunakan POV orang ketiga, novel ini beralur maju dan terasa mengalir. Cara bertutur Retni SB selalu menggelitik. Cukup banyak dialog dalam novel ini namun deskripsinya pun akurat dan jelas, sehingga menjadi penyeimbang yang pas.

Secara keseluruhan saya suka sekali membaca Pink Project. Merasa senang karena novel ini berhasil mengembalikan mood baca saya yang sempat mampet. Ada cinta yang nggak masuk akal namun manis di dalam novel ini. Membuat saya tersenyum puas saat menutup lembaran terakhirnya.

Senin, 07 Maret 2016

[Blogtour: Giveaway + Review] Complicated Thing Called Love - Irene Dyah


Judul: Complicated Thing Called Love
Penulis: Irene Dyah
Editor: Dini Novita Sari
Desain sampul: Orkha Creative
Foto: Budi Nur Mukmin & Irene Dyah Respati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 978-602-03-2557-6





BLURB

Awalnya, alur cerita ini sedikit membingungkan. Tak jelas mana hulu mana muara. Tapi jangan menyerah. Percayalah, ada titik ketika semua puzzle itu bertemu. Seperti cinta.
Kalau Garin Nugroho punya Cinta dalam Sepotong Roti, maka Nabila punya "Cinta (Monyet) dalam Sepotong Pisang". Organik. Gadis yang biasanya patuh itu kali ini memilih berontak: tetap pacaran meski dilarang. Bisa ditebak, kisahnya berakhir dan monyet bernama Bayu itu harus diusir.
Lalu hadir Bagas, pria sempurna pilihan ibunda. Semua jadi teelihat mudah bagi Nabila. Sayang, Bayu belum betul-betul pergi dari hatinya. Duh, bagaimana bisa Nabila memilih di antara Bagas si calon suami idaman dan Bayu yang bengal dan bikin deg-degan? Dan kenapa Nabila mesti berguru pada kisah cinta para sahabatnya?
Sebabnya satu: cinta memang repot!


RESENSI

Nabila ragu bukan main saat harus meninggalkan Tokyo dan pulang kampung ke Jogja. Apalagi kalau bukan karena masalah hati dan perasaan. Di hadapannya sudah ada Bagas, calon suami pilihan ibunya, yang to good to be true. Bagas santun, mapan dan begitu sayang pada Nabila. Tapi di hati Nabila selamanya hanya ada Bayu, mantan pacarnya saat SMA. Bayu yang bengal, Bayu yang berbeda 180° dari Nabila, Bayu yang tidak disetujui ibu.
Meski telah mengakhiri hubungan dengan Bayu bertahun-tahun silam, tetap saja waktu tak bisa membuat Nabila lupa akan perasaannya. Nabila terjebak dalam cinta monyetnya dan enggan diselamatkan. Itu sebabnya ia ragu menikah dengan Bagas.
Bahkan meski telah berguru pada kisah cinta keempat sahabatnya–Sora, Aalika, Dewi dan Dania–Nabila tetap ragu.
Hingga akhirnya ia memilih mundur dari Bagas dan kembali pada Bayu.
Tapi tepatkah keputusannya? Benarkah pernikahan harus selalu melibatkan cinta? Atau justru kita hanya perlu bersandar pada logika?

---------------

Complicated Thing Called Love adalah buku ketiga Irene Dyah yang saya baca, dan jujur saya baru benar-benar jatuh cinta pada tulisan Irene sejak membaca Wheels and Heels. Gaya berceritanya yang lincah dan kadang kocak sungguh enak dibaca.

Complicated Thing Called Love memang nggak sekocak Wheels and Heels tapi sanggup membuat saya lebih jatuh cinta lagi. Betapa tidak, saya diperkenalkan pada karakter-karakter yang penuh warna dan nggak seragam.
Let's see, setidaknya ada sebelas karakter yang muncul dalam novel ini dan saya jatuh cinta pada semuanya. Catat. Semuanya!

Jadi mari kita kupas satu-persatu karakter favorit saya di sini :)
Pertama saya berkenalan dengan Sora dan Langit. Sora adalah sang "Ibu Kos" apartemen yang dihuni Nabila yang cerdas (otaknya ada sekitar delapan!), tegas, bijak dan selalu bisa mengambil keputusan bahkan di waktu yang singkat. Pertemuannya dengan Langit di Verona berasa romantiiiis dan kocak. Berapa banyak sih cowok yang di awal kenalan udah menghubungkan nama kita dengan bintang bokep? Haha.
Well, tanpa Sora yang efisien dan bijak mungkin Nabila akan selalu terombang-ambing nggak jelas.
Yang kedua ada Aalika yang gampang baper dan terkadang nggak logis. Tapi semangatnya gampang menular dan rasa setia kawannya tinggi. Saya antara setuju dan nggak setuju terhadap hubungan gelap Aalika dan Rain, tapi toh saya meleleh juga dengan email singkat mereka di penghujung cerita.
Yang ketiga ada Dania yang merasa rendah diri karena suaminya nggak sekalipun memujinya cantik. Apalagi karena di masa kecil ia sering diejek karena kulitnya yang gelap. Tapi Dania setia, pemegang komitmen yang teguh, lembut dan selalu ingin membahagiakan orang-orang di sekitarnya.
Yang keempat ada Dewi yang logis dan teoritis. Rada drama juga sih sama suaminya, Dewa. Tapi saya suka dengan teorinya:

"Kalau aku, aku akan menyuruhmu menikah dengan pria yang sangat menyayangimu. Urusan hati pasangan kan tak bisa kita kontrol. Jadi pilih saja orang yang sudah pasti mencintaimu. Nah, urusan hati kita, kan kita yang akan mengendalikan. Toh sebetulnya, cinta bisa dipelajari, bisa dibangun, bisa diisi ulang." (hlm. 139)

Sementara Dewa, suami Dewi duuh adem. Sabar gitu ya menghadapi emosi Dewi, dan yang penting punya usaha untuk memperbaiki hubungan mereka.

Sekarang mari ke tokoh utamanya: Nabila, Bagas dan Bayu. Nabila ini lucu, sedikit-sedikit mewek dan lumayan manja padahal anak tunggal. Pintar dan penurut. Mantu idaman deh bagi saya yang punya anak cowok gini. Kkk~
Sama halnya Bagas yang mantuable banget. Bagas ini ganteng, sopan, baik, rajin beribadah. Good guy banget deh. Gampang meleleh deh sama sikapnya yang tenang dan perhatian.
Sementara Bayu adalah tipe badboy-nya. Dari SMA udah kelihatan bengal dan memang pesona "Rhoma Irama dipadu Adam Levine"-nya itu pastilah yang bikin Bayu sulit ditolak. Wkwkwk~

Kenapa saya ngobrolin karakter panjang lebar begini? Itu karena saya jenis pembaca yang paling suka dengan kekuatan karakter dan interaksi para tokoh dalam sebuah buku. Dan menurut saya Irene Dyah ini jago banget bikin karakter yang beda-beda dan nancep di kepala. Chemistry-nya pun oke banget. Nyambung dan klik.
Dan saya paling suka dengan kentalnya persahabatan yang selalu mewarnai novel-novel Irene Dyah. Selalu ramai tapi hangat.

Sedangkan untuk setting, saya suka karena Irene Dyah bukan hanya mendeskripsikan detail lokasi tapi juga selalu membubuhkan suasana yang menyertai setiap tempat-tempat indah itu. Sehingga latarnya bukan hanya sekedar indah tapi juga terasa semakin kuat.

Membaca novel yang beralur maju mundur ini bagai mengumpulkan dan menyatukan kepingan puzzle. Karena bahkan saat hari H pernikahan pun saya masih nggak tahu dengan siapa Nabila menikah, dengan Bagas atau dengan Bayu karena ternyata kedua pria ini punya inisial nama yang sama! Good job Irene, pinter banget mempermainkan rasa ingin tahu pembaca. Bahkan di detik terakhir saat tiba di ending cerita saya pun sempat melongo: A...apa ini... maksudnya???
Hahaha...

Overall, saya suka dengan Complicated Thing Called Love. Dan saya setuju cinta memang repot. Senangnya kalau jadi Sora yang nggak pernah ragu mengambil keputusan, tapi justru mengambil langkah yang salah pun kadang ada hikmahnya.


-----------GIVEAWAY TIME-------------



Nah bagi kalian yang ingin merasakan kegalauan Nabila memilih dua pria dan merasakan hangatnya persahabatan lima sekawan ini, saya punya satu eksemplar Complicated Thing Called Love buat kamu yang beruntung.

Caranya gampang seperti biasa:

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow akun twitter @KendengPanali @aikairin dan share giveaway ini ke medsos dengan hashtag #GACTCL dan jangan lupa mention akun kami berdua
3. Kalian boleh memfollow blog saya via email atau GFC (optional)
4. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menuliskan Nama, akun twitter dan alamat email, kemudian share juga jawaban kamu di twitter dengan hashtag #GACTCL dan mention akun kami. Jika jawaban cukup panjang kalian bisa memecahnya jadi beberapa twit atau dengan screenprint ;)

Di antara keempat sahabat Nabila yang saya tulis dalam review, mana yang paling cocok jadi sahabatmu? Dan apa alasannya?

5. Giveaway akan berlangsung selama sepekan dan akan saya tutup tanggal  12 Maret 2016 pukul 23.59 WIB.
6. Yang terakhir, good luck yaa :))


----------UPDATE----------

Haiii akhirnya berakhir juga blogtour Complicated Thing Called Love di blog saya. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah seru-seruan bareng di giveaway kali ini. Kalian keren!!!
Nah sekarang saya akan mengumumkan satu orang yang beruntung mendapatkan novel Complicated Thing Called Love. Dan pemenangnya adalaaaaaah...

Wardahtuljannah
@bungaoktober_

Selamaaaat yaa. Saya tunggu data diri dan alamat kamu via email nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2x24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan khawatir blogtour Complicated Thing Called masih akan berlanjut di kubikelromance.com so.. buruan ikutan :)

Jumat, 19 Februari 2016

[Resensi: Haute Heart - Regina Alexandra] Drama Percintaan sang Chef Berbakat


Judul buku: Haute Heart
Penulis: Regina Alexandra
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 978-602-03-1474-7




BLURB

Sukses sebagai sous chef di restoran Prancis ternama ternyata tidak menjadi jaminan sukses dalam hubungan asmara. Bosan diabaikan dan tidak mau lagi mendapat janji-janji palsu, Diandra memutuskan hubungan dengan Edgar. Walau Edgar berusaha memohon, Diandra berkeras tidak mau kembali padanya. Apalagi di saat seperti itu muncul pria tampan yang menjadi chef kepala di restoran tempat Diandra bekerja, Aloys.
Aloys yang ramah dan tampan berbeda 180 derajat dengan Edgar yang pendiam dan eksentrik. Kehadiran Aloys membuat Diandra yang tenang sehingga menjadi penuh warna dan... drama.
Jika Diandra memilih Aloys, ia akan mempertaruhkan kariernya. Jika ia memilih Edgar, ia harus mrmikirkan segala perbedaan di antara mereka berdua. Diandra berusaha berkonsentrasi pada karier, namun ternyata drama percintaannya memengaruhi kariernya, dan memaksa Diandra membuat keputusan.


RESENSI

Lagi-lagi Diandra dibuat kesal oleh kekasihnya, Edgar. Diandra sudah mengirimkan beratus-ratus pesan pada Edgar melalui BBM agar jangan lupa pada janji acara makan malam mereka, tapi sepertinya kali ini pun Edgar tetap terkubur dalam pekerjaannya. Merasa disepelekan Diandra pun memutuskan mengakhiri hubungan mereka.
Di lain pihak, restoran Parisian Chic, tempat Diandra bekerja sebagai sous chef, baru saja melakukan perpisahan dengan sang chief de cuisine, Mr. Damien. Diandra merasa bahagia karena Mr. Damien dan beberapa staf percaya jika Diandra lah yang akan ditunjuk sebagai pengganti Mr. Damien. Namun, ternyata pemilik restoran justru mendatangkan Aloys Guerard, chef dari Prancis untuk menggantikan Mr. Damien. Chef yang bukan hanya terampil dengan menu Prancis tapi juga suka flirting.
Aloys dengan terang-terangan menunjukkan  bahwa ia tertarik pada Diandra, dan tanpa malu-malu merayu Diandra. Sementara Edgar masih dengan setia memborbardir Diandra dengan permintaan maaf dan memohon kesempatan kedua.
Di tengah kebimbangan Diandra, ia semakin membenamkan diri di komunitas Cinta Memasak dan makin dekat dengan Sekar, salah satu anggota komunitas tersebut. Sekar lah yang memegang rahasia Aloys. Dari Sekar, Diandra tahu siapa Aloys yang sebenarnya.
Akankah Diandra luluh dalam hujan perhatian dan romantisme Aloys? Atau ia akan kembali pada Edgar yang walau selalu sibuk tapi sebenarnya itulah bukti cintanya pada Diandra? Bagaimana nasib Diandra di Parisian Chic saat hubungan asmaranya dengan Aloys justru membuat dapur jadi kacau dan menimbulkan masalah?

------------

Haute Heart adalah karya pertama Regina Alexandra yang saya baca. Secara garis besar novel ini berkisah tentang seorang wanita yang berada di antara dua pilihan, memberikan hatinya pada seorang chef bule yang nggak malu-malu menunjukkan keromantisan atau menyerahkannya kembali pada pria pekerja keras yang cuek dan menganggap romantisme hanyalah untuk remaja.
Kisah simple ini dibalut dengan dunia masak-memasak nan mewah ala masakan Prancis, membuat temanya yang sederhana jadi berkesan unik. Apalagi banyak istilah memasak bermunculan dalam novel ini.

Haute Heart menggunakan POV orang ketiga dan beralur maju. Plotnya lumayan rapi dan jalinan ceritanya mengalir dengan apik. Dialog antar tokoh terasa luwes, hidup, dan alami.

Tokoh dalam Haute Heart masing-masing memiliki karakteristik yang khas. Diandra yang periang tapi juga mudah terbawa emosi. Meskipun saya cukup heran juga, dengan hubungan putus-nyambung antara Diandra dan Edgar. Selama ini Diandra dikenal sebagai sous chef yang hebat dan kompeten, tentunya masalah seberat apapun yang ia hadapi dalam hubungan percintaannya nggak membuatnya jadi 'kacau' di dapur. Tapi dilabrak anak bos dan dituduh semena-mena bisa membuatnya mengacaukan menu masakan.
Edgar yang cuek cukup memberi gambaran bahwa terkadang laki-laki nggak memperhatikan detail romantis dalam kehidupan tapi lebih menunjukkan rasa cinta melalui bentuk nyata. Bekerja keras. Bodoh banget kalau pria seperti Edgar dilepaskan. Masih mending cuek karena fokus pada pekerjaan, daripada cuek karena sibuk menggoda wanita lain, kan?
Aloys tampil seperti pria Prancis kebanyakan. Pria Prancis terkenal pintar flirting dan ahli membuat wanita berbunga-bunga. Sama halnya dengan Aloys yang ganteng dan membuat Diandra goyah.
Saya rasa chemistry antar tokohnya sudah bagus. Yang paling saya suka adalah interaksi ayah Diandra dengan Diandra. Terasa benar rasa protektif dan kebijaksanaannya.

Yang menarik dari buku ini adalah istilah-istilah dalam dunia masak-memasak, pengetahuan tentang keju dan resep masakan Prancis yang sepertinya mudah dikerjakan. Hmm~ jadi tertarik buat mencoba salah satu resep.
Sayangnya masih cukup banyak typo dalam novel ini. Kebanyakan berupa dobel penulisan kata. Seperti kata: "yang yang", "tidak tidak", dll.

Overall, Haute Heart yang ringan cukup enak dinikmati dan bisa dipilih menjadi bacaan yang menyenangkan. Selamat terpikat dalam lezatnya menu-menu Prancis.

Sabtu, 09 Januari 2016

[Resensi: Coppelia - Novellina A.] Sang Penari Balet yang Terluka


Judul buku: Coppelia
Penulis: Novelina A.
Editor: Ruth Priscilia Angelina
Cover: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 978-602-03-1810-3



BLURB

Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh. Tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tiba-tiba menghilang. Oliver ditinggalkan sebelum sempat membuat gadis itu mengingat namanya.

Sampai ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya. Hingga akhirnya mereka bertemu. Tetapi, keadaan telah berubah. Nefertiti bukan lagi gadis yang dulu. Penari balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu mewah untuk ia miliki.

Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin... sedingin kisah boneka Coppelia yang begitu dicintai ibunya.


RESENSI

Lahir sebagai putri pasangan pelukis dan arsitek, Nefertiti begitu tertekan karena diharapkan memiliki bakat seni seperti orangtuanya. Sayangnya ia tak punya bakat melukis seperti ibunya. Nefertiti kecil terluka karena merasa telah mengecewakan sang ibu. Maka ketika ibunya menjaga jarak ia pun melakukan hal yang sama. Ia diam dan menutup diri.
Ketika ia merasa jatuh cinta pada seni gerak, orangtuanya memasukkannya ke sanggar balet. Harapan mulai tumbuh kembali. Sayang ketika pentas Odette, Nefertiti hanya mendapat peran sebagai Odile. Nefertiti kembali melihat kekecewaan ibunya. Satu-satunya pegangan Nefertiti hanyalah sahabatnya, Mia, gadis bisu dan keterbelakangan mental yang tinggal di perkampungan di belakang rumah Nefertiti.

Di sisi lain ada Oliver yang telah memendam perasaan pada Nefertiti sejak lama. Meski di SMA mereka adalah teman sekelas, tapi Oliver tak pernah mampu mengajak Nefertiti bicara. Hingga Oliver mengambil kuliah di Jerman itu pun demi melacak jejak Nefertiti yang menghilang.

Ketika mereka bertemu kembali, masihkah perasaan Oliver tetap sama? Mengapa Nefertiti terlihat makin terluka? Akankah Nefertiti berdamai dengan harapan-harapan ibunya?

------------

Bagi saya Coppelia hanya mengingatkan saya pada satu hal: Coppelia no Hitsugi. Lagu pembuka anime "Noir". Itu pertama kalinya saya mendengar tentang Coppelia dan akhirnya mencari tahu maknanya. Coppelia, sang boneka buatan Dr. Coppelius yang selalu duduk di jendela dan menarik perhatian Frans, hingga Frans melupakan tunangannya, Swanhilde. Dan kini... saya bertemu dan terpukau lagi dengan Coppelia saat membaca novel ini.

Coppelia diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, secara bergantian antara Nefertiti dan Oliver. Saya bisa merasakan perbedaan 'suara' mereka. 'Aku' milik Nefertiti terasa dark, skeptis dan membenci siapa pun termasuk dirinya sendiri. Sementara 'aku' milik Oliver terasa dewasa, optimis dan lepas terutama saat bersama Erlando.

Coppelia diceritakan dengan alur maju mundur. Plotnya rapi dan kisahnya menarik diikuti. Semua dikupas selapis demi selapis sampai nggak terasa sudah tiba di akhir kisah.

Karakter dalam Coppelia sungguh kuat dan bulat. Keinginan Nefertiti yang begitu besar untuk menyenangkan sang ibu dan kekecewaan yang dirasakannya pada dirinya sendiri hingga membentuk pribadinya yang tertutup. Saya bisa paham mengapa ia akhirnya bisa dekat dengan Mia. Keinginan dalam dirinya untuk diselamatkan dan dibawa ke tempat yang ceria bukan hanya tersampaikan ke Oliver saja tapi juga sampai menyentuh saya. Hiks.

Saya suka dengan Oliver yang bisa terus mencintai dan seperti orang gila karena hanya mengejar jejak. Bahkan hanya jejak samar Nefertiti. Kecanggungannya berhadapan dengan gadis yang disuka itu manis banget. Hmm... saya juga suka interaksi dan cara bicaranya dengan Erlando dan orangtuanya. Terasa santai dan hangat.

Penggambaran settingnya rapi dan mendetail. Baik ketika di Yunani maupun di Jerman bukan hanya setting ruang saja tapi suasananya pun diceritakan dengan jelas. Seolah saya benar-benar sedang ada di sana membuntuti Nefertiti dan Oliver.

Bagi saya Coppelia berasa menyoroti hubungan ibu dan anak yang selamanya nggak hanya berlimpah kehangatan dan kasih sayang. Ada ibu yang sulit mengekspresikan kasih sayangnya pada sang anak. Saya tahu, nggak semua ibu suka menyentuh, memeluk dan bicara panjang lebar dengan anak. Ada ibu yang terkesan dingin walau sebenarnya hatinya berlimpah rasa sayang. Demikian juga dengan ibu Nefertiti. Ada anak yang dengan cuek menerimanya dan nggak terlalu berharap tapi sayangnya ada anak semacam Nefertiti yang begitu ingin diakui, begitu ingin dipuji, begitu ingin dicintai.
Coppelia benar-benar menyoroti hubungan ini dengan tepat dan apik.

Mengenai ending, saya cukup terkesan. Memangnya apalagi yang bisa saya harapkan dari hubungan yang dingin? Seandainya ada perubahan sifat hingga 180 derajat justru saya akan mengerenyit heran dan menganggapnya nggak nyata. Sama saja dengan fiksi-fiksi lain yang menuntut perubahan drastis tokohnya. Tapi Coppelia memang berbeda. Coppelia terasa nyata. Dengan ending yang realistis tapi manis.

Secara keseluruhan, saya suka novel ini. Dark romance yang berakhir dengan ending yang pas. Love it! :)

Selasa, 15 Desember 2015

[Resensi: Friends Don't Kiss - Syafrina Siregar] Ketika Cinta Berhadapan dengan Idealisme


Judul buku: Friends Don't Kiss
Penulis: Syafrina Siregar
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2014
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 978-602-03-1078-7
Available at: bukupedia.com




BLURB

Bagi Mia Ramsy, menyusui adalah salah satu ekspresi cinta terbesar seorang ibu bagi anaknya. Tapi bagi Ryan Subagyo, setiap mendengar kata "menyusui", yang muncul di benaknya hanyalah bayangan payudara wanita.

Namun, kegigihan Mia memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif lewat Indonesian Breastfeeding Mothers—organisasi nirlaba tempat gadis itu mengabdi—justru semakin membuat Ryan jatuh cinta padanya.

Ryan semakin yakin Mia berbeda dari gadis-gadis yang selama ini ia temui. Kekayaan, kesuksesan dan ketampanannya memang membuat Ryan dikejar banyak gadis, tetapi belum ada yang mampu menggetarkan hatinya. Hanya Mia yang mampu membuat Ryan untuk pertama kalinya memikirkan pernikahan.

Namun, apakah lamaran Ryan akan diterima jika gadis itu mengetahui siapa Ryan Subagyo sebenarnya?

REVIEW

Meskipun masih lajang, Mia Ramsy telah terjun ke dunia breastfeeding dengan menjadi konselor ASI. Tugasnya adalah mendampingi para ibu baru agar bisa memberikan ASI eksklusif bagi bayi baru lahir mereka.
Sayangnya Mia justru telat datang saat Lia, adiknya sendiri, melahirkan. Sehingga Lia gagal melakukan Inisiasi Menyusui Dini dan membuatnya jadi uring-uringan. Alasan Mia telat datang ke persalinan adiknya adalah karena ia menabrakkan mobilnya (lagi) di parkiran rumah sakit.
Namun rupanya kecelakaan itu menjadi pintu pembuka bagi Ryan, sang pemilik mobil yang ditabrak Mia, untuk masuk ke kehidupan Mia. Ryan yang tertarik pada Mia pun dengan intens dan gencar melakukan pendekatan pada Mia.
Ryan tertarik pada semangat Mia yang penuh idealisme, sehingga ia menyembunyikan jati dirinya. Ryan takut jika Mia tahu dirinya adalah pemilik pabrik susu formula, maka Mia akan menjauhinya.
Namun sebaik-baik kita menyembunyikan kebohongan pasti akan terbongkar juga bukan? Mana yang akan Mia pilih: cinta atau idealismenya?

-----------

Friends Don't Kiss mengagetkan saya karena menjadi buku fiksi yang penuh idealisme. Saya acungi jempol untuk komitmen Syafrina Siregar dalam menyebarkan racun breastfeeding melalui novel seperti ini.

Saya suka ide ceritanya yang membuat dua tokoh utama berada di sisi berlawanan. Meski saya merasa akan lebih seru jika Ryan lebih berambisi lagi dalam meningkatkan target penjualannya, sehingga konflik kepentingannya bisa semakin gereget.

Karena saya seorang ibu dan telah menyusui dua kali, terus terang saya hanya menscreening segala informasi tentang ASI dalam novel ini. Tapi saya mencatat Syafrina cukup mulus memasukkan informasi ke dalam tiap adegan. Momennya pas bagi Mia untuk mengungkapkan pentingnya ASI dan informasi-informasi penting lainnya.

Karakter Mia yang idealis memang kadang terkesan annoying. Saya merasa dia terlalu memaksa adiknya untuk menyusui, dan berkesan menghakimi saat mendengar tentang susu formula. Hal itu sebenarnya justru malah semakin membuat stres ibu menyusui.

Saya paham benar semangat Mia karena saya pun di kampung juga menjadi orang yang annoying dalam masalah breastfeeding. Hahaha. Mia masih mending seandainya gagal pun tak masalah, tapi kader-kader semacam saya ini kalau ada warga yang gagal memberi ASI eksklusif jelas dicecar dan dimarahi pihak puskesmas. *malah curhat* XD

Sementara karakter Ryan dalam novel ini saya rasa cukup 'mengerikan'. Arogan dan semacam stalker yang seolah bisa muncul di manapun Mia berada. Saya malah curiga Ryan punya kecenderungan psikopat. Muncul di mana-mana gitu.
Interaksi dan chemistry-nya asyik. Nyaman banget dibaca. Walau saya sebal tiap kali Ryan berbisik di telinga Mia. Tanpa dibisikkan di telinga pun kesan seduktifnya sudah dapat kok.

Bagi kalian yang menginginkan informasi tentang menyusui yang dibalut roman yang sweet, boleh banget baca novel ini. Sambil baca roman sambil belajar jadi ibu. Fufuufuu~

Kamis, 29 Oktober 2015

[Resensi: Dangerous Love - Christina Tirta] Kebencian dan Kebohongan yang Berbahaya


Judul buku: Dangerous Love
Penulis: Christina Tirta
Editor: Donna Widjajanto
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 296 halaman
ISBN: 978-602-03-1679-6



BLURB

Dunia Catherine luluh lantak saat ibunya menikah lagi dengan ayah Chantal. Chantal adalah gadis manis yang menyenangkan dan dicintai seluruh dunia. Hanya Catherine yang bertekad membencinya sepenuh hati. Bagaimana tidak? Chantal merebut Mami, satu-satunya orang yang ia sayangi. Chantal bagaikan tsunami yang menghancurkan kehidupan Catherine.

Namun, membenci Chantal bukanlah masalah terbesar Cath.

Hidupnya makin berantakan seperti keping-keping puzzle yang berserakan sejak Christ, pria misterius yang dikenalnya di kafe tenda Joe berhasil mencuri hatinya. Ia terpaksa menjalani kebohongan yang bagai jerat tak berujung pangkal.

Tertatih-tatih Cath berusaha melepaskan diri. Melewati berbagai rintangan yang membuatnya mengalami dan menyadari arti cinta dan benci.

Mencintai dan dicintai.

Membenci dan dibenci.

Sanggupkah Catherine terbebas dari perangkap itu dan menyusun keping-keping puzzle-nya hingga utuh?

RESENSI

Catherine membenci Chantal. Di mata Catherine, Chantal adalah gadis manja, menye-menye, sehalus porselen yang annoying. Selain karena dengan tanpa rasa rikuh Chantal bermanja-manja pada Mami, Chantal juga selalu merecoki Catherine dengan gaya bak malaikatnya.
Selama ini, Catherine menganggap hidupnya baik-baik saja walau hanya hidup berdua dengan Mami. Meski tak pernah tahu siapa ayah kandungnya, Catherine tak pernah mengeluh dan berusaha tegar. Namun kedamaian itu rusak saat Om Frans dan putrinya, Chantal, menerobos masuk dalam kehidupan mereka. Terlebih, Om Frans seolah membenci Catherine dan enggan dekat dengannya. Dirinya yang selama ini menjadi pusat dunia Mami, tersingkirkan. Ia harus berbagi Mami dengan Om Frans dan Chantal.
Di tengah rasa kebenciannya, Catherine berkenalan dengan Christ, pria tampan misterius yang membuat Cath jatuh cinta. Sayangnya, Christ adalah pria pilihan Om Frans untuk Chantal. Chantal yang telah berpacaran dengan Marco, membujuk Cath agar menyamar menjadi dirinya. Cath menerimanya dan berperan sebagai Chantal hingga ia tak sadar telah terjerumus jauh.
Namun kebohongan sampai kapan akan bisa bertahan? Dan kebencian sampai kapan akan bersemayam? Mampukah Cath lepas dari kebohongan dan kebenciannya? Siapa yang sebenarnya berselimut kebohongan, kebencian, obsesi dan ketulusan? Cath, Chantal, Christ atau Marco?

-----------

Sebagai orang yang nggak bisa membenci siapa pun, anehnya saya bisa merasakan simpati pada Catherine saat membaca Dangerous Love. Padahal pada mulanya saya sedikit enggan membaca novel ini, karena menurut blurb, tokoh utamanya punya rasa benci.  Bukannya biasanya bagian benci-membenci itu jatahnya peran antagonis, ya? ^^

Tapi saya akui, begitu membaca halaman pertama, saya merasa berempati pada Catherine. Mungkin karena novel ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang Cath, saya jadi memahami kegusarannya.
Dan, memang bisa dibilang kalau Chantal itu sooooo annoying. Sumpah, saya pun sebal dengan kecerewetannya dan kekurangpekaannya. Dalam dialognya pun Chantal bisa mengkritik dengan berbalut kepolosan. Jadi menurut saya, Christina Tirta benar-benar sukses membuat karakter yang nyebelin tapi polos.
Menurut saya sih, yang paling menyebalkan itu justru tokoh Mami dan Om Frans. Well, sebagai seorang ibu, saya sih pasti lebih mengutamakan perasaan anak-anak. Masa iya, saya berbahagia sama orang yang saya cintai padahal saya tahu orang itu nggak mencintai anak saya. Bikin geregetan deh si Mami. :p

Diceritakan dengan alur maju-mundur, novel bertema dark romance ini memiliki plot yang rapi. Saya suka dengan diksi dalam narasinya yang terasa menyesakkan, dan dialognya yang luwes. Nggak ada dialog basi, semuanya mengalir dan terasa nyambungnya.
Beberapa adegan dan dialognya bikin melting. Gaya romantis Christ yang dingin itu yang nggak nguatin.

Yang menjadi pertanyaan buat saya, itu Pak Reza gimana? Saya kira dia bakal ngapain gitu kalau menilik gelagat dia terhadap Catherine di kafe tenda Joe. Sampai saya pikir, asyik banget ya, si Cath, diperebutkan tiga cowok keren sekaligus; Marco, Christ dan Pak Reza. ^^
Sayangnya, penyelesaian konfliknya terlalu cepat dan mudah. Atau mungkin karena novel ini menggunakan POV orang pertama, jadi saya nggak bisa mendapatkan momen galau dan patah hatinya si tokoh pria. Hiks.
Berasa kurang puas kalau nggak melihat sendiri bagaimana si pria menderita dan galau mengharapkan maaf.

Tapi, novel Dangerous Love ini beneran keren. Jangan underestimate hanya karena adegan nyamar-menyamar bak FTV. Nggaaak. Ini jauuuh lebih rapi, baik dari sisi logika maupun jalan cerita. Kalian yang suka dark romance dengan tokoh cewek yang kuat dan nggak sempurna, musti baca Dangerous Love deh.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Waktu? Masa muda nggak bisa diulang. Aku nggak mau dia menyesali semuanya. Membiarkan hidupnya tersia-sia." (hlm. 46)

"Cuma orang yang punya dosa yang biasanya kabur dari sesuatu." (hlm. 108)

"Obsesi bisa membunuhmu. Kamu setuju nggak sama ungkapan itu?" (hlm. 146)

"Obsesi itu kata yang ekstrem, bukan? Tapi manusia itu makhluk yang mudah dimakan obsesi." (hlm. 148)

Kehidupan begitu rapuh dan membingungkan. Mencintai, dicintai, membenci, dibenci. Semua bagaikan roda yang tidak tahu kapan akan berhenti berputar. (hlm. 274)

Sabtu, 24 Oktober 2015

[Resensi: Falling - Rina Suryakusuma] Ketika Jatuh pada Orang yang Salah


Judul buku: Falling
Penulis: Rina Suryakusuma
Editor: Hetih Rusli
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2015
Tebal buku: 320 halaman
ISBN: 978-602-03-146-17



BLURB

Carly merasa hidupnya berjalan normal. Ia punya orangtua yang menyayanginya, calon tunangan yang tampan dan perhatian, serta sahabat-sahabat yang peduli padanya. Namun, Carly selalu merasa hidupnya belum utuh, ada kehampaan dalam hatinya. Sampai satu titik ia bertemu Maggie, dan ia tahu hidupnya takkan pernah sama lagi.

Maggie memiliki karier sukses dan tahu bahwa dia tidak seperti perempuan kebanyakan. Dan, Maggie tidak pernah ragu dengan apa yang dia inginkan dalam hidup. Sampai ia bertemu dengan Carly dan menjalin hubungan kerja. Hubungan yang berlanjut pada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang dalam, dan mengubah pandangan serta perasaan mereka selamanya.

Hingga akhirnya Carly pun menyadari bahwa dia perlu jatuh cinta pada orang yang salah untuk menemukan dirinya yang sesungguhnya....

RESENSI

Carly merasakan nasib buruk saat namanya disebutkan sebagai karyawan ODP (Organizational Development Program) yang akan berada di bawah bimbingan Maggie. Dari lirikan sekilas saja sudah ketahuan kalau Maggie akan menjadi atasan yang tak kenal ampun.
Bahkan teman-teman sesama karyawan ODP membuat taruhan bahwa Carly bakalan resign dalam waktu tiga bulan karena tak akan tahan menghadapi Maggie.
Dengan tekad sekuat baja, Carly pun berusaha menyesuaikan diri dan bekerja sama giatnya dengan Maggie.
Hingga Carly menemukan saat di mana ia melihat Maggie sebagai wanita biasa yang rapuh. Sejak itulah Carly merasakan perutnya melilit setiap melihat Maggie. Sekuat tenaga Carly berusaha menghapus perasaannya terhadap Maggie. Ia anggap itu adalah perasaan yang salah, terlebih ia telah memiliki tunangan yang tampan dan sabar. Sementara Maggie sendiri masih dekat dengan mantan pacarnya. Carly pun berusaha menjauhi Maggie.
Tapi bagaimana jika seiring waktu Carly merasa rindu pada Maggie? Saat Carly berpisah dengan Seth dan jauh dari Maggie, siapa yang paling ia rindukan? Benarkah ini hanya sebuah fase?

----------------

Membaca blurb Falling membuat rasa penasaran saya tergugah. Mengangkat tema cinta sesama jenis tentunya akan cukup rawan jika penulis nggak pintar menarik simpati pembaca. Dan saya anggap Rina Suryakusuma berhasil menuturkannya dengan porsi yang imbang.

Diceritakan dengan POV orang ketiga, Falling lebih banyak bertutur dari sisi Carly. Alurnya yang maju membawa saya menyelami perasaan-perasaan Carly, kegelisahannya, kegalauannya juga kegusarannya terhadap orang-orang di sekitar wanita itu.
Hingga saya mulai merasa kegamangan Carly terlalu membosankan. Rasanya sepanjang cerita hanya berkutat pada kegalauan Carly untuk menyadari dan mengakui bahwa ia mencintai Maggie atau nggak. Itu sempat membuat saya geregetan. Haha....

Kekuatan novel ini ada pada latar pekerjaan para tokohnya. Dengan kisah Carly yang merupakan karyawan ODP divisi leasing sebuah mal, penulis sangat detail menuliskan beban kerja dan ketegangan suasana di dalam divisi itu. Gambaran situasinya dideskripsikan dengan baik.

Sayangnya saya merasa dasar perubahan  orientasi Carly kurang kuat. Mengapa ia yang semula merupakan perempuan heteroseksual, hanya dengan bertemu Maggie, ia bisa jadi goyah? Apa mungkin karena masa lalunya yang membuatnya trauma? Apakah kepergian ibunya membuat jiwa perempuan dalam dirinya marah? Saya pikir jika itu digali, bisa lebih memperkuat alasan-alasan perubahan diri Carly.

Saya mencatat adegan yang ganjil pada pagi hari ketika malam sebelumnya Carly pulang kerja diantar Maggie karena sakit. Mobil Carly ditinggal di kantor. Pagi harinya, Carly berangkat naik taksi.

Carly tak peduli. Seperti kesetanan ia membuka pintu taksi dan duduk di kursi penumpang. (hlm. 153)

Kemudian di dalam taksi ingatan Carly beralih ke beberapa tahun silam mengenai kepergian mamanya. Dan ketika ia menghentikan lamunan itu, Carly nggak lagi ada di dalam taksi, tapi menyetir sendiri!

Carly menatap lurus ke depan. Ia menyetir dengan air mata mengambang. Ia membiarkan tetes itu meluncur turun. Titik demi titik tanpa berusaha menghapusnya. (hlm. 157)

Tapi sampai air matanya habis, sampai ia tiba di kantor dan memarkir mobil di pelataran parkir depan mal, rasa lega itu tak juga kunjung melingkupi dirinya. (hlm. 158)

Lha kok bisaa?? Kan tadi naik taksi, mobilnya diparkir di kantor karena pulangnya diantar Maggie, tapi kok jadi nyetir mobil sendiri? ^^

Dan untuk karakter Jo Anne, saya merasa terlalu berlebihan. Well, saya tahu tugas sahabat adalah memberi tahu jika kita salah, tapi bukan berarti berhak menghakimi. Dan itulah kesalahan Jo Anne di mata saya. Saya rasa dia nggak bisa disebut sahabat kalau lebih sering menuduh, menghakimi dan menekan Carly. Meski memang tujuannya demi kebaikan Carly dan mengingatkan bahwa perasaan Carly itu salah, tapi Jo Anne benar-benar melangkah terlalu jauh. Saya sih kalau punya sahabat yang melenceng—dan, ya, saya punya—saya nggak bakalan menghakiminya seperti cara Jo Anne menghakimi Carly.

Endingnya cukup heartwarming bagi saya. Terutama perdamaian yang dicapai Papa dan Carly. Kasihan tuh Papa kalau dicuekin terus-terusan :))

Overall, saya menikmati kisah ini. Dan saya merasakan kemajuan Rina Suryakusuma dalam menulis sejak Postcard from Neverland.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Because heart can see what the eyes cannot see and a mind cannot understand. (hlm. 101)

Waktu tidak membuat lupa. Terkadang ia hanya berbaik hati dan membiarkanmu melewati hari yang lebih tenang. Tepat ketika kau berpikir bahwa semua baik-baik saja, ia akan kembali menyergap dan membuatmu menangis. (hlm. 254)

"Kadang hidup menuntunmu ke arah yang tak disangka. Dan tidak semua pemandangan yang tersaji itu menyenangkan. Tapi sudah lama juga Papa belajar untuk percaya, yang terbaik adalah menerima apa pun yang ditawarkan oleh hidup pada kita, dan menjaganya agar yang paling kita sayangi bahagia. Biarpun itu berarti merelakan mereka pergi. Atau membiarkan mereka nemilih jalan yang mungkin tak akan kau pilih sendiri." (hlm. 262-263)

Kamis, 22 Oktober 2015

[Resensi: 3 (Tiga) - Alicia Lidwina] Impian, Janji dan Pengkhianatan dalam Persahabatan


Judul buku: 3 (Tiga)
Penulis: Alicia Lidwina
Editor: Tri Saputra Sakti
Ilustrator: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli 2015
Tebal buku: 320 halaman
ISBN: 978-602-03-1677-2




BLURB

"Selama seseorang masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, dia tidak akan bunuh diri. Kecuali jika memang bunuh diri adalah satu-satunya cara mempertahankan apa yang dia perjuangkan."

Kalimat Hashimoto Chihiro membekas di kepala Nakamura Chidori, bahkan setelah Hashimoto bunuh diri. Apa sebenarnya yang mengubah pandangan hidup Hashimoto sampai dia mengakhiri hidupnya? Mungkinkah karena Nakamura menyimpan perasaan kepada Sakamoto, yang seharusnya merupakan sahabat mereka?

Setelah tujuh tahun tidak bertemu, Nakamura harus berhadapan kembali dengan masa lalunya. Di antara memori akan persahabatan, janji yang diingkari, impian, dan cinta yang tak berbalas, tersembunyi alasan kepergian Hashimoto yang sebenarnya.

RESENSI

Nakamura Chidori tak menangis saat melihat jasad Hashimoto yang ditemukan jatuh dari atap gedung sekolah. Tidak juga ketika hadir di pemakaman Hashimoto, di tengah orang-orang yang menurutnya tidak mengenal Hashimoto. Baru ketika Sakamoto—pria yang dulu menjadi sahabatnya dan sahabat Hashimoto— tiba, Nakamura bisa menangis sepuasnya.
Kematian Hashimoto dan kehadiran Sakamoto perlahan membuka tabir kenangan yang berusaha Nakamura kubur dalam-dalam. Satu persatu kenangan akan jalinan persahabatan mereka semasa sekolah hingga akhir masa kuliah muncul kembali. Ingatan- ingatan akan impian dan janji yang berusaha mereka gapai bersama juga pengkhianatan yang Nakamura lakukan menuntun Nakamura menyadari arti tiga buah angka 3 yang digambar Hashimoto sebagai dying message di atap sekolah.
Mengapa Hashimoto bunuh diri dan menggoreskan pesan aneh? Siapa yang mengkhianati siapa? Dan apakah Nakamura akan terus berlari dan bersembunyi dari perasaannya? 

----------

Huff... awalnya nggak mengira kalau novel ini bakal begitu kelam. Saya sampai butuh waktu satu hari untuk menanggalkan emosi yang tertinggal setelah membaca novel 3 ini.
Benar, kisahnya ditulis Alicia dengan begitu kuat sehingga menjerat saya dalam pusaran emosi tokohnya.

Tiga diceritakan menggunakan sudut pandang Nakamura sebagai orang pertama. Dengan alur maju mundur, saya dibawa menyelami perasaan-perasaan Nakamura.
Kemisteriusan yang meliputi kisah ini telah menantang saya untuk tetap setia bersama Nakamura menyibak tabir memorinya.
Hingga saya sampai di titik rasa marah setengah mati pada Nakamura.
Marah pada rasa pesimisnya, marah pada kepengecutannya, dan marah pada caranya mengingkari janji. Tapi, pada akhirnya Nakamura adalah tokoh yang manusiawi dengan kelemahan jiwanya. Tokoh yang amat dekat dengan keseharian kita, yang kadang lebih memilih 'lari' untuk menyelamatkan diri.

Karakter tokoh dalam novel ini terasa begitu kuat. Masing-masing punya ciri yang jelas dan konsistensinya terealisasi dalam dialog dan gestur tubuh mereka.
Saya suka interaksi ketiga orang yang berlawanan sifat ini, yang anehnya bisa memahami satu sama lain sebaik mereka memahami diri mereka sendiri. Sakamoto si pemuda tiang listrik yang kemudian jadi pria populer, Hashimoto si penyendiri yang pintar dan seolah punya dunia sendiri, dan Nakamura yang biasa-biasa saja dan nggak istimewa.

Menyoroti Jepang sebagai pusat cerita, settingnya sangat kuat. Bukan hanya dari segi latar tempat, tapi juga latar budaya, suasana dan sosialnya dideskripsikan dengan begitu mendetail. Semua menyatu dalam kisah dan tersaji dengan apik.

Saya merasakan ada aroma sastra dalam novel ini, terlihat dari diksi yang digunakan dan beratnya makna yang tersirat. Yang menarik adalah filosofi setiap tokoh yang saling bertentangan namun uniknya bisa selaras dan menyatukan mereka.

Saya nggak menemukan adanya typo, dan tentunya membuat novel ini sangat lancar dinikmati. Hanya saja dalam fragmen di halaman 27, percakapan Nakamura dengan Sakamoto di telepon ada yang mengganjal. Mulai dari baris kedelapan ada kesalahan penulisan tokoh yang berbicara.

S: Hashimoto selalu terlihat bahagia selama ini. Aku tidak percaya. Orang bahagia tidak akan bunuh diri.
S: Dia tidak bunuh diri, dia hanya melompat dari gedung. (hlm. 27)

Tokoh S yang kedua seharusnya adalah N atau Nakamura. Kemudian jika memang Nakamura telah menelepon Sakamoto malam itu dan mengabarkan kejadian bunuh diri Hashimoto, mengapa di Prolog pada halaman 13, Nakamura bertanya pada Sakamoto kapan Sakamoto tahu Hashimoto meninggal?

"Kapan kau diberitahu?" tanyaku. (hlm. 13)

Namun secara keseluruhan, saya menyukai debut novel ini. Kadang janji yang kita anggap sepele, yang kita abaikan entah dengan berat hati atau ringan hati, yang kita rasa akan memudar bersama kenangan, justru bisa merusak pihak lain. Pihak yang menggantungkan harapan pada janji kita. Pihak yang di balik senyumannya justru menyimpan goresan luka yang tanpa sadar kita torehkan.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Terkadang, kita hanya bisa menangis di hadapan orang yang tahu bahwa kita bisa menangis. (hlm. 42)

Terkadang ingatan itu pilih kasih. Tidak semua kejadian di kehidupan kita akan terekam selamanya. Beberapa akan kita ingat sampai mati, dan sisanya akan menghilang begitu saja. (hlm. 53)

Persahabatan adalah sesuatu yang tidak jelas. Tidak mungkin seseorang yang tertawa bersama orang lain dikatakan bersahabat. Ketika seseorang meluangkan waktu untuk orang lain, meskipun dia harus mengorbankan waktunya sendiri, apakah itu juga disebut persahabatan? (hlm. 84)

"Selama kau masih hidup, pasti akan ada seseorang yang jatuh cinta kepadamu. Kau tidak bisa melarangnya, tapi kau bisa menolaknya. Tapi... hal yang sebaliknya juga berlaku. Ketika kau jatuh cinta... kau bisa melarangnya, tapi kau tidak bisa menolaknya." (hlm. 89)

Binatang akan mati jika kesepian, tapi manusia bisa bertahan. (hlm. 227)

Rabu, 17 Juni 2015

[Resensi: A Beautiful Mess by Rosi L. Simamora] Kekacauan Berwujud Perempuan Cantik


Judul buku : A Beautiful Mess
Penulis : Rosi L. Simamora
Editor : Harriska Adiati
Desain sampul : Sylvia Ko
Ilustrasi isi : Oky Andrianto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 336 halaman
Tahun terbit : Februari 2015
ISBN : 978-602-03-1387-0




BLURB

Sebuah rahasia kelam memaksa Freya, gadis manja dan "high maintenance", meminta bantuan ayahnya, lalu dengan terpaksa menerima nasib menyingkir ke pulau terpencil.
Di sana ia harus bekerja, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Freya seumur hidupnya. Dan siapa lagi yang mengawasi Freya kalau bukan Lian, pria tampan yang sepertinya membenci Freya sejak awal?
Namun Lian juga menyimpan rahasia. Dan diam-diam, ia menyadari sesuatu telah tumbuh. Cintakah? Tidak. Tidak. Jangan cinta!
Dan benarkah Freya telah berhasil meninggalkan masa lalunya? Ataukah… hantu masa lalu yang kelam namun teramat memikat itu akhirnya mengejar Freya hingga ke ujung dunia, dan ia selamanya takkan pernah lepas darinya? Takluk kembali pada satu-satunya laki-laki yang membuatnya begitu hidup, dan sekaligus mati?

Kisah ini bercerita tentang cinta. Dan nafsu. Tentang jatuh. Dan bangkit. Tentang luka dan rasa takut. Dan bagaimana menaklukkannya.


RESENSI

Freyanka Alyra terperangkap di pulau terpencil di bagian paling timur Indonesia. Ia dikirim ke pulau itu oleh ayahnya untuk bekerja keras mengganti tiap peser uang yang dikeluarkan ayahnya untuk melunasi 'utang' Freya.
Freya ternyata sebelumnya terlibat cinta terlarang dengan Mahara Andhyka, seorang pengusaha berlian yang telah memiliki istri. Freya tidak puas hanya dijadikan wanita bayang-bayang yang bebas ditindihi tapi tidak bebas dicintai. Maka ia kabur membawa seluruh uang rekening Mahar. Kali ini merasa takut kembali ditemukan Mahar, Freya minta ayahnya menyembunyikannya.
Maka berakhirlah Freya di pulau terpencil itu bersama dewa seks ganteng bernama Pablo Neruda Parulian Purba. Sayangnya sex appeal Freya tidak mempan digunakan untuk merayu sang dewa seks. Justru malah Patar, sepupunya yang lain, yang memburu dan mengejar-ngejar Freya. Lian mungkin satu-satunya pria yang dingin terhadap Freya.
Tapi kadang apa yang tampak di permukaan tidak sama dengan apa yang terpendam di dalam. Lian punya rahasia. Rahasia yang berkaitan dengan Freya. Rahasia tentang cinta dan kebencian yang terpendam.
Mampukah Freya memenuhi tuntutan ayahnya untuk mengurusi bisnis patung, yang ternyata bukan bisnis remeh? Apakah sang putri manja bisa berubah? Dan sanggupkah Freya lepas dari Mahar?

-----

Saat membuka halaman-halaman awal novel A Beautiful Mess, saya merasa jatuh cinta pada ceritanya. Tema gadis high maintenance yang seumur hidupnya cuma kenal foya-foya harus bekerja keras di bawah pengawasan pria ganteng yang super dingin.
Yang saya suka adalah pilihan setting-nya, biasanya untuk kabur dari luka cinta, setting yang dipilih adalah kota di luar negeri. Tapi dalam novel ini justru dipilih kota pelosok di dalam negeri sendiri. Sayangnya, setting tersebut masih kurang tereksplor dan terdeskripsi.

Alurnya maju mundur dan POV menggunakan orang ketiga serba tahu. Pembaca bisa tahu persis perasaan dan pemikiran tiap tokoh dengan jelas. Bahkan khusus untuk Freya, ia memiliki suara-suara di kepalanya, yaitu suara libido dan suara ego. Beberapa kali suara-suara itu terasa lucu, tapi porsinya yang semakin banyak jadi terasa berlebihan dan mengganggu.

Biasanya saya sebal sama karakter tokoh yang shallow, tapi sulit rasanya membenci Freya. Meskipun ia nggak pernah kerja keras, serampangan, blakblakan, manja dan egois tapi latar pembentuk karakternya membuat saya mengelus dada. Poor girl.
Sebenarnya karakter Lian berpotensi jadi favorit saya di awal. Pria dingin-judes-sinis tapi cakep selangit itu berpotensi bikin saya klepek-klepek. Tapi karena chemistry-nya dengan Freya kurang maksimal akhirnya saya malah sebal.
Romance di antara mereka dikit banget, dialog mereka berdua pun terasa kaku. Hiks.
Justru malah kesan cinta Freya kepada Mahar lebih kuat. Adegan ranjangnya pun adegan ranjang Freya dan Mahar. Walau Lian digambarkan pria lurus suci tapi saya kan ingin lihat satu dua sentuhan fisik antara Freya dan Lian, apalagi setelah penggambaran seks menggebu antara Freya dan Mahar.

Ada cukup banyak informasi tentang budaya kekerabatan Batak dalam novel ini. Gaya bicara ayah Freya pun kental logat Batak-nya. Memberi warna segar dengan latar budaya dan setting-nya yang nun jauh di pulau ujung timur Indonesia sana.
Saya juga menyukai pilihan diksi penulis dalam A Beautiful Mess, ada pengulangan kata untuk mempertegas tapi terkesan indah.

Desain sampulnya sederhana dan warnanya kalem, terfokus pada jepit kupu-kupu yang menjadi kunci dari cinta Lian.

Saya hanya menemukan sedikit typo dalam novel ini:

mata --> mana (hal. 33)
tirai putih tipis jendela --> tirai jendela putih tipis (hal. 71)
komporomi --> kompromi (hal. 127)
alas --> alias (hal. 233)

Saya merekomendasikan novel A Beautiful Mess untuk pembaca dewasa yang nggak keberatan terhadap kedangkalan tokoh wanitanya. Tapi secara keseluruhan ini novel roman yang menghanyutkan, kok. Saya beri 3 bintang untuk A Beautiful Mess.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Dan kekecewaan, seperti hal-hal kelam dan gelap lainnya, selalu dapat menemukan celah dari mana ia bisa menyelinap keluar dan menunjukkan jati dirinya. Untuk kemudian menggerogoti. Merusak. Menghancurkan. Jika kita tidak berhati-hati dan segera membasminya, atau menyianginya dengan cinta yang sabar dan kuat. (hal. 127-128)

"I like my coffee how I like myself: dark, bitter, and too hot for you." (hal. 141)

"Your naked body should belong only to those who fall in love with your naked soul." (hal. 165)

Sebab tak ada pencoba yang lebih lihai daripada keinginan yang terbit dalam hati kita. (hal. 190)

"Jangan takut. Kebanyakan rasa takut dan khawatir itu cuma besar mulut. Begitu kita hadapi dan songsong, langsung mereka lari tunggang-langgang." (hal. 230)

"Emosi itu ibarat ombak, Nona Freya. Datang dan pergi. Tinggal kita yang bijak-bijak memilih, mau menunggangi yang mana." (hal. 277)

"Tidak ada pengkhianatan yang lebih buruk daripada pengkhianatan terhadap diri sendiri…" (hal. 319-320)

"Aku tidak ingin jadi api yang menjadikanmu abu, dan aku tidak ingin apimu menjadikanku abu." (hal. 320)

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon