Tampilkan postingan dengan label young-adult. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label young-adult. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Desember 2017

[Resensi] Raindrops Serenade - Dya Ragil | Ujian Kepercayaan dalam Persahabatan

Judul buku: Raindrops Serenade
Penulis: Dya Ragil
Ilustrasi sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 978-602-03-7877-0



BLURB

“Omong-omong, gue lagi nulis lagu atas permintaan band kampus. Mau bantu?”
“Kenapa? Lirik yang lo tulis berasa sampah lagi?”
“Lebih baik sampah daripada plagiat.”

Risa pernah menulis lagu bersama Amel, lalu tiba-tiba lagu itu diklaim sebagai lagu yang diciptakan oleh salah satu personel band Lima Oktaf. Ketidakjelasan kenapa lagu itu bisa jatuh pada pihak ketiga membuat dua sahabat itu saling menyalahkan dan akhirnya bermusuhan. Bahkan, Risa sempat melakukan percobaan bunuh diri karena tidak kuat menghadapi cyberbullying yang dilakukan para fans Lima Oktaf.

Setelah kejadian itu berlalu, Risa harus kembali berhadapan dengan Lima Oktaf karena urusan kepanitiaan orientasi mahasiswa baru di kampusnya. Keadaan makin rumit ketika dia mendapati Galang, pemuda yang sudah dia anggap adik sendiri, ternyata sedang menulis lagu untuk Lima Oktaf tanpa mengetahui seperti apa masa lalu Risa.

Apa yang akan Risa lakukan saat Galang meminta bantuannya menulis lagu itu? Bagaimana pula reaksi Amel yang masih saja menyalahkannya?


RESENSI

Sejauh ini saya selalu suka novel-novel Young Adult yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Dibanding lini lain, permasalahan yang diangkat sebagai isu dalam novel-novel Young Adult lebih kompleks, dan tentunya lebih mematahkan hati. Namun di sisi lain, novel-novel ini memberi kekuatan dengan cara mereka masing-masing, mereka bangkit walau susah payah saat jatuh, mereka melawan sebisa mereka saat menghadapi hantu terbesar mereka, mereka memunguti serpihan hati mereka dengan tegar saat kalah, mereka tetap penuh cinta kasih setelah dihantam badai. Ada pesan-pesan yang diulurkan untuk diraih para remaja dewasa seusia mereka.

Dalam Raindrops Serenade saya bertemu dengan Risa, seorang mahasiswi yang pesimis dan dibayangi sebuah trauma. Gadis yang pernah menghadapi tragedi dalam hidupnya sehingga nampak diliputi kesedihan. Ia mengalami krisis kepercayaan, baik terhadap orang-orang maupun terhadap dirinya sendiri.
Saya juga bertemu dengan Galang, pemuda yang dua tahun lebih muda dari Risa, dan entah kenapa walau terkesan sendu, kehadirannya selalu terasa menentramkan. Itu yang saya rasakan setiap kali ia berinteraksi dengan Risa.
Saya menyukai keunikan hubungan mereka. Ada saat di mana Galang seolah seperti anjing penjaga yang lucu yang mengekori ke mana pun tuannya pergi. Lembut untuk disayang, tapi juga garang saat ada yang berani melukai. Hhh... bikin iri 😆😆
Saya bertemu juga dengan Amel, mantan sahabat Risa yang berseteru hebat dengan Risa. Mereka sama-sama mengalami krisis kepercayaan. Mereka sama-sama menutupi luka hati mereka dengan kemarahan dan kebencian. Namun saya nggak bisa membenci Amel, cara bicaranya yang pedas itu menggemaskan. Saya suka pemilihan kalimat-kalimatnya. Sadis tapi manis.

Sesungguhnya ada banyak banget tokoh dalam novel ini yang muncul, dan membuat saya kebingungan. Maafkan saya yang memang punya keterbatasan memori dalam mengingat nama-nama. Namun karena tokoh-tokoh itu sangat penting dalam membangun konflik novel ini, saya pun akhirnya bisa mengikuti. Kemunculan mereka yang cukup sering, juga bagaimana nama mereka yang disebutkan dalam dialog antar tokohnya membantu saya untuk mengingat peranan mereka.

Ada beberapa isu besar yang diangkat dalam novel ini. Yang pertama adalah plagiarisme. Orang-orang banyak yang menyepelekan hal ini, menganggap plagiarisme bukanlah suatu kejahatan. Novel ini berusaha menyuarakan bahwa pelanggaran hak cipta dapat berimbas pada banyak segi kehidupan.
Yang kedua adalah cyberbullying. Maha benar netijen dengan segala komentarnya. Saya sangat geram pada Reno, yang dengan sengaja membiarkan para fansnya untuk membully Risa di media sosial. Jahat. Kejam. Padahal satu kalimat jahat saja bisa menjatuhkan mental seseorang yang mungkin sedang di titik terendah, apalagi ini komentar rame-rame. Tuduhan. Kecaman. Makian. Wajar jika kemudian korban cyberbullying kebanyakan memutuskan untuk bunuh diri. Bukan karena mereka lemah, tapi mental, hati dan kepercayaan mereka telah diinjak-injak oleh para perisak.
Yang ketiga adalah kepercayaan. Seberapa besarkah kepercayaanmu terhadap sahabatmu. Saat ada masalah menerpa kalian berdua, apakah kalian akan tetap berdiri bersama, ataukah kalian akan saling menyalahkan. Seberapa banyakkah kalian mengijinkan hati kalian untuk mempercayai sahabat kalian. Yakinkah kamu dia nggak akan menusukmu dari belakang? Dalam novel ini, ada kisah persahabatan yang mengalami pasang surut. Ada kepercayaan yang diuji. Dan saat kebenaran terungkap, bisakah mereka memaafkan dan membuka lembaran baru.

Pada awalnya saya membaca Raindrops Serenade dengan susah payah, ada dialog yang seolah dipaksakan untuk masuk & mengulur-ulur cerita. Ada deskripsi panjang yang seolah nggak ada pentingnya. Juga betapa gemasnya saya karena penulis seolah berputar-putar untuk menunda menjatuhkan bom masalah yang sebenarnya. Namun begitu bomnya meledak, tiga perempat novel ini saaaaangat mengasyikkan. Page turner banget. Tempo ceritanya juga menjadi cepat. Saya tenggelam pada usaha Risa untuk mendapatkan kembali apa yang pernah hilang darinya. Terlebih lagi saya suka dengan banter yang dilakukan antara Risa dan Amel. Mereka cute banget :)))
Ooh saya juga suka dengan lirik-lirik lagu yang ditulis Risa. Cakep banget pemilihan diksinya.

Membaca novel ini pada akhirnya membuat saya memikirkan tentang sahabat saya. Bersyukur karena kami nggak pernah dihantam badai seperti yang dialami Risa dan Amel. Saya juga berusaha mengingat-ingat pernahkah saya membuat komentar jahat dan menyudutkan terhadap seseorang di media sosial. Ah, semoga saja tidak. Bagaimana dengan kalian?
Hmm... yah, saya sih tetap akan merekomendasikan novel ini apa pun jawaban kalian 😉

Selasa, 02 Agustus 2016

[Resensi: Melody & Mars - Mia Arsjad] Ketika Si Serius Jatuh Cinta Pada Cowok Easy Going

Judul buku: Melody & Mars
Penulis: Mia Arsjad
Editor: Tri Saputra Sakti
Ilustrasi & desain sampul: Kitty Felicia Ramadhani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: September 2015
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 139786020320021




BLURB

Hidup Mel itu sudah terjadwal. Segalanya harus teratur, tepat waktu, dan sesuai jalur demi masa depan. Nggak ada waktu buat santai dan main-main. Mel harus lulus tepat waktu, lalu bekerja untuk membantu Ibu jadi tulang punggung keluarga.


Lalu... dengan acara aneh bin konyol, Mel bertemu Marshall, si artis kurang terkenal.


Cowok itu kebalikan dari segala sifat Mel. Marshall yang easy going, santai, dan ceria, seolah hidupnya mulus nggak ada beban. 


Seumur hidup Mel belum pernah seakrab ini dengan makhluk bernama laki-laki. Marshall adalah pengalaman baru. Entah berapa kali cowok itu bilang supaya Mel hidup dengan santai dan rileks. Dan entah kenapa, bisa-bisanya Mel berkali-kali nurut dengan "ajakan" santai cowok itu.


Dia selalu sukses bikin Mel yang minim pengalaman soal cowok jadi tersipu-sipu, salah tingkah. Meski saat Mel sedang terjebak masalah mengerikan.


Sampai tiba-tiba Mel tahu, hidup Marshall nggak semulus itu. Di balik segala keceriaannya, Marshall menyimpan rahasia yang membuat Mel merasa dibohongi habis-habisan, dipermainkan, dan dibodohi.


RESENSI

Melody melihat Marshal pertama kali di Ancol, dan pertemuan pertama mereka benar-benar konyol namun sungguh berkesan. Mars yang sedang kesal membuang sepatu kanannya ke laut dari tepian pantai Ancol, sadar bahwa itu perbuatan tolol, ia pun segera mendekati laut untuk mengambil sepatunya. Namun Melody mengira jika Mars hendak bunuh diri, maka tanpa pikir panjang karena panik, Melody berlari mendekat dan memeluk Mars.
Pertemuan mereka berlanjut saat Melody berniat mengembalikan sweater Mars yang dipakaianya setelah bajunya sendiri basah karena air laut. Hingga mereka pun berteman dan Mars pindah ke depan rumah Melody. Mereka semakin dekat seiring dengan betapa nyamannya mereka satu sama lain.
Namun Melody mendapat masalah di kampus. Salah satu dosen mata kuliah umum memberi Melody nilai E dan menjebak Melody. Takut membawa masalah itu ke polisi akan menyebabkan ibunya sakit, Melody memenuhi permintaan sang dosen untuk memberi uang sebagai ganti kencan. Akankah Melody sanggup mengatasi masalahnya? Bisakah Melody mengumpulkan uang lima belas juta rupiah ataukah ia harus rel berkencan dengan sang dosen?
Dan apa masalah besar yang disembunyikan Mars?

-------------------------

Melody & Mars menjadi satu lagi novel Young Adult dari Gramedia Pustaka Utama yang asyik banget dibaca. Bener deh makin lama saya makin cinta sama lini ini, dan ketagihan bacanya.

Saya suka ide ceritanya yang memasangkan dua orang yang saling bertolak belakang. Marshall yang easy going, santai, suka bercanda dan ganteng banget bertemu dengan Melody yang serba teratur, polos, kalem tapi kalau panik suka heboh sendiri. Lucu banget. Mereka jadi pasangan yang unyu, asyik dan seru. Aaah pokoknya loveable banget deh mengamati interaksi mereka berdua.

Sementara untuk konfliknya cukup menegangkan juga. Saya suka takjub sendiri membaca beragamnya konflik yang ditawarkan oleh lini Young Adult ini. Kadang rasanya kasihan membayangkan anak-anak muda ini (ngomong dengan gaya sok tua) harus menjalani masalah seberat itu. Dan rasanya kadang konfliknya malah lebih sadis daripada konflik yang dihadapi orang dewasa. Huhuuu...
Dalam novel ini masalahnya muncul dari kedua tokoh utama. Mars dan Mel sama-sama menanggung beban yang berat dan bikin frustasi. Tapi yang terasa keren mereka bisa saling mendukung dan nggak egois. Masing-masing berusaha membantu pasangannya lebih dulu. Duuuh so sweet banget nggak sih?

Novel ini menggunakan POV orang ketiga dan beralur maju. Ceritanya mengalir dengan lincah dan plotnya rapi. Dialognya seru dan lucu. Banyak istilah-istilah yang mengocok perut dan bikin ngakak. Saya sih merasa chemistry antara Mars dan Mel ini asyik banget. Adegannya pas banget porsinya, ada saat-saat kocak, saat-saat aneh dan memalukan tapi juga ada saat-saat romantisnya.
Yang paling lucu bagi saya adalah saat Marshal mulai pindah ke kompleks Mel, dan kemudian dikerubuti para ibu dan asisten rumah tangga. Lalu Mel yang melihatnya langsung ngajak Mars buat ngobrol dengan cara... naik becak muter komplek doang. Hahahahaaa...
Saya sebenarnya berharap ada adegan absurd tambahan untuk itu. Ya masak para ibu itu diem aja lihat Mars dan Mel di dalam becak muter-muter komplek doang. Minimal ada yang tetap ngejar lah, atau malah nyegat becaknya. *pukpuk abang becak yang gempor*

Dan saya sebenarnya juga lumayan sempat gemas sama Melody yang keras kepala waktu diminta melaporkan Pak Seto ke polisi. Hiiih... anak muda emang susah ya mempercayai orangtua sendiri. Saya kalau jadi ibu, biar punya penyakit juga maunya dikasih tau kalau anak kena masalah. Kok ya alasan Melody nggak mau lapor polisi karena takut ibunya jadi sakit itu kok bikin saya geregetan. Dan kok ya pasrah pasrah aja diperas Seto. Padahal sebagai pelaku posisi Seto ini lemah dan sebenarnya kalau Melody memang niat banyak celah yang bisa diserang. Masak mahasiswi pintar langganan nilai A kok bisa dapat E itu aja udah aneh, Mel bisa minta pihak kampus menyelidiki lembar jawabannya atau apalah semacamnya. *sok berlagak detektif* Gyahahaha...

Tapi okelah, penyelesaian konfliknya udah pas. Hanya saja untuk penyelesaian konflik Mars saya merasa kalau lumayan terburu-buru. Lha kok begitu doang. Nggak kecewa sih tapi pengin yang lebih dramatis. Tapi saya udah sempat dibuat nangis kok. Ketika Mars dan Mel bertengkar terakhir kali. Hiks... Dan saya juga tersentuh akan perjuangan Mars. Mereka sama-sama berjuang dengan kepala tetap tegak.

Melody & Mars merupakan kisah sepasang remaja saling bertolak belakang yang ternyata menyimpan masalah masing-masing. Kisah yang nggak bisa dibilang ringan karena ada perjuangan demi impian dan harga diri di dalamnya. Yang pasti sih saya merekomendasikan banget novel ini :)

Minggu, 26 Juni 2016

[Resensi] All You Need is Love - Fakhrisina Amalia

Judul buku: All You Need is Love
Penulis: Fakhrisina Amalia
Editor: Tri Saputra Sakti
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 978-602-03-1803-5



BLURB

Ketika hubungannya dengan Aiden berakhir, tanpa pikir panjang Katrina mengiyakan ajakan mamanya untuk terbang ke kampung halaman mereka di Skotlandia. Di negara yang indah itu Katrina berharap bisa melupakan kesedihannya.

Untuk pertama kali Katrina bertemu dengan keluarga besarnya. Ia mempunyai sepupu jauh yang tampan bernama Mac. Namun, entah kenapa Istas—kakak perempuan Mac—memusuhinya, tanpa Katrina tahu dimana letak kesalahannya. Tapi itu tidak menghentikan Katrina untuk semakin dekat dengan Mac.

Dan ternyata Skotlandia menyimpan misteri masa lalu yang tidak terduga. Tidak hanya indah, ada rahasia tersembunyi tentang Katrina di negara itu, juga tentang cerita cinta berlapis kota legenda! 


RESENSI

Untuk pertama kalinya akhirnya Katrina menginjak tanah kelahiran sang mama, Skotlandia. Sejak kecil tak sekalipun Katrina diajak mengunjungi Granny dan Grandpa-nya, karena menurut mama keluarga sang kakek tidak menyukai mereka. Tapi kini Katrina bisa mengunjungi Skotlandia karena Granny sakit. Apalagi Mama memang sengaja mengajak Katrina yang sedang patah hati karena baru saja putus dengan Aiden.
Setiba di Inverness, Katrina dan keluarganya disambut oleh Mac, sepupu Katrina yang seusia dengan Katrina. Bahkan setiba di rumah Granny, Katrina mendapat sambutan hangat dari paman dan bibinya. Namun betapa kagetnya Katrina saat Istas, kakak Mac, terlihat jelas-jelas membencinya. Dengan kasar, Istas menolak mrngakui Katrina sebagai sepupu dan menolak kehadiran gadis itu.
Kini tiba saatnya bagi Katrina untuk menerima rahasia masa lalu. Menyingkap alasan mengapa Istar memusuhinya, mengapa warna mata Mama dan Katrina tidak sebiru anggota keluarga yang lain, dan apa arti jarak bagi hubungan sepasang kekasih.

----------------------------

"Ada banyak cinta yang harus musnah, bukan karena nggak diperjuangkan, tapi memang karena nggak ada lagi yang bisa dilakukan. Selagi bisa, selagi cinta itu masih ada, berusahalah." (hlm. 171-172)


Saya paling nggak bisa nolak membaca novel yang di dalamnya terkandung rahasia masa lalu. Dan novel All You Need is Love benar-benar penuh kemisteriusan yang menarik untuk disingkap. Satu lagi novel young adult yang jadi favorit saya.

Saya suka banget dengan bab pembukanya. Cara bertutur Fakhrisina langsung memancing rasa penasaran saya dan membuat saya seketika menghabiskan novel ini dalam sekali duduk. Pun ketika memasuki bab tentang Aiden saya dibuat meleleh dengan betapa manis, santun dan gentle-nya Aiden. Beneran ada nggak sih cowok kuliahan yang kalimatnya langsung bisa memikat hati seorang ibu? Kalau saya punya anak cewek, sumpah deh, bakal saya simpen Aiden buat jadi menantu saya :p
Tapiiii... sayangnya saya rada sebel sama Katrina yang langsung memilih putus daripada melakukan LDR tanpa mau mencoba dulu. Alasannya rada kekanakan sih menurut saya, kecuali kalau dia pernah trauma dikhianati pas LDR, mungkin masih bisa saya terima. Tapi kalau sama sekali belum pernah mencoba dan sudah berpikir kalau hubungan itu nggak akan berhasil, bikin gondok kan ya jadinya. Mana sedikit gengsian pula. Hiih!! Gemes banget!
Cuma kesalnya nggak lama sih karena penggambaran setting tempatnya asyik banget. Saya seakan benar-benar bisa menikmati kecantikan Skotlandia selama membaca novel ini.

Menarik sekali saat Fakhrisina memasukkan mitos tentang Brigadoon di dalam novel ini. Sebuah desa yang muncul atau terlihat manusia sekali dalam seratus tahun. Aura mistis nan eksotisnya dapet banget. Sayangnya saat kisah Brigadoon ini muncul adalah kurun waktu tahun 1954 saat Granny bertunangan dengan Grandpa, di situ saya merasa cerita berjalan kaku dan dialognya nggak mengalir.
Lalu saya mulai berhitung, jika tahun 1954 adalah saat Granny melihat Brigadoon dan menikah dengan Grandpa, kemungkinan mama Katrina lahir setahun kemudian, berarti mamanya Katrina lahir tahun 1955 dong? Itu berarti saat ini mama Katrina udah umur 60 tahun? Iya nggak sih.. duh saya jadi bingung.

Dan sebenarnya saya merasa Katrina yang kemudian juga menemukan Brigadoon itu agak maksa. Menurut saya kalau mitosnya memang muncul 100 tahun sekali ya biarlah tetap 100 tahun sekali. Jadi bisa saja jadi epilog di tahun 2054... atau 39 tahun kemudian. Kan malah seru ya kalau Katrina yang udah tua ketemu Kyle yang masih muda. Kkk~

Tapi secara keseluruhan saya suka dengan ide cerita dan gaya bertutur Fakhrisina. Kalau kamu sedang bimbang tentang status hubunganmu yang terancam LDR, novel ini layak dibaca, cobain deh ;)

Selasa, 24 Mei 2016

[Resensi] Pay It Forward - Emma Grace


Judul buku: Pay It Forward
Penulis: Emma Grace
Editor: Tri Saputra Sakti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: April 2015
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 978-602-03-1501-0
Goodreads: Pay It Forward



BLURB


Tedjas

Astaga, gadis itu sudah gila. Pasti! Gue nggak pernah berminat untuk komentar di status orang di Facebook, apalagi ikut-ikutan dalam permainan apa pun. Tapi, gadis itu bilang apa tadi? Pay It Forward? Cih, permainan apa itu?

Gitta

Aku nggak pernah mengira bisa membenci seorang pria, seperti aku membenci Tedjas. Sejak pertama bertemu, dia selalu bersikap menyebalkan. Seakan belum cukup, dia juga menghinaku habis-habisan di depan banyak orang. Semakin jauh jarak terbentang di antara kami, itu semakin baik! Itu yang Tedjas dan Gitta pikirkan. Tapi ketika rasa cinta menggedor semakin kuat, sanggupkah mereka berdua tetap berpura-pura bahwa kedekatan itu tak pernah nyata?

RESENSI

Tanpa sengaja saat sedang iseng membuka facebooknya, Anggita Nathanael menemukan status yang menarik. Seseorang bernama Yunike Setiabudi mengajak siapa saja untuk memainkan Pay It Forward. Bagi tiga orang yang menulis I'm in di kolom komentar status tersebut, akan mendapat gift dari Yunike, namun mereka juga wajib meneruskan permainan ini dengan memasang status yang sama. Tanpa pikir panjang, Gitta pun langsung menuliskan komentar. Dan ia pun menjadi tiga orang pertama yang beruntung dan wajib meneruskan permainan ini.
Hal tak terduga terjadi saat Gitta membuat status yang sama dengan Yunike, salah satu dari tiga orang pertama yang merespon statusnya adalah Tedjas Hadisukmana. Nama pemuda itu membuat ingatan menyebalkan di masa orientasi kampus muncul di benak Gita. Gara-gara Tedjas, kelompoknya hampir tidak lulus masa orientasi. Itu sebabnya Gita merasa curiga Tedjas akan mengacaukan permainan pay it forward ini.
Benar saja setelah beberapa lama, Tedjas sama sekali tak mengikuti instruksi. Didorong oleh rasa kesal, Gita menemui Tedjas dan menuduh yang bukan-bukan. Namun karena merasa bersalah, akhirnya Gita mendatangi rumah Tedjas. Di sanalah Gita mendapati siapa Tedjas yang sebenarnya. Alasan mengapa Tedjas terlihat begitu penyendiri.
Saat Gita menghadapi masa-masa sulit dengan ayahnya, justru Tedjas yang mendukungnya, menemani Gita mencari akarnya. Lalu akankah cinta benar-benar bersemi di tengah permainan ini?

---------------

Saya merasa lini Young Adult terbitan Gramedia selalu menawarkan cerita yang menarik. Ide-ide ceritanya selalu fresh dan konfliknya lebih greget bahkan bila dibandingkan dengan Amore yang memang lebih sering mengecewakan. Ini membuat saya berpikir bahwa masa young adult memang masa krusial yang berpotensi menghadirkan banyak konflik dan memberi pelajaran hidup.

Duuuh... kenapa saya malah ceramah soal young adult? Hahha...
Tapi memang, membaca Pay It Forward memberi saya kenikmatan yang membuat saya nggak bisa berhenti demi mengikuti liku perjalanan Gita. Dengan apik dan rapi, Emma Grace membangun kisah yang memikat.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Paling banyak tentunya dari sudut pandang Gitta, lalu sisanya beralih-alih dari sudut pandang sang ayah, nenek dan Tedjas. Dan tentu saja bagian favorit saya adalah setiap kali sudut pandang diungkap melalui sisi Tedjas. Saya memang suka jika novel menampilkan sudut pandang tokoh pria karena... siapa sih yang bilang hati wanita susah dimengerti? Justru para prialah yang terlalu rumit dan sulit dipahami. *diiih malah curhat* XD

Saya sebenarnya sebal-sebal gemas terhadap karakter Gitta. Dia selalu melihat segala sesuatunya hanya dari satu sisi. Gitta menganggap Tedjas brengsek dan merugikan, tapi lihatlah... begitu dia datang ke rumah Tedjas, dia pun akhirnya menemukan sisi lain dari kepingan diri Tedjas. Tapi main tuduhnya Gitta itu... hufff... saya aja sakit hati bacanya. Eaak...
Sekarang saya boleh nggak meluk Tedjas? :p
Tedjas ternyata asyik banget karakternya. Cowok yang sayang sama ibunya dan selalu memikirkan perjuangan sang ibu itu romantis, ya nggak sih? Pantas lah kalau kemudian perlakuannya pada Gitta... bikin meleleh. Keren lah ya cowok sebegitu khawatirnya sama si cewek sampai hapal perilakunya. Saya mau deh kalau diminta tukeran tempat dengan Gitta. Hahaha...
Karakter Papa atau Ayah ya.. saya lupa. Wkkwk~ Papanya Gita langsung mencuri perhatian saya. Pada awalnya saya kira beliau orang yang overprotektif... tapi ternyata pengekangannya masih punya batas kelonggaran. Papa yang romantis yang seharusnya dimiliki oleh semua anak gadis di dunia ini. Sweet... meski keras kepala juga. Tapi saya paham lah perasaan si Papa, karena kami senasib sama-sama pelaku kawin lari.

Semula saya kira konfliknya hanyalah urusan menyelesaikan permainan Pay It Forward dan usaha Gitta untuk membujuk Tedjas melaksanakan bagiannya. Ternyata ada masalah yang lebih besar dan lebih bikin berlinang air mata. Tentang usaha Gitta mencari tahu di manakah sang nenek dari pihak mamanya. Apa yang terjadi di masa lalu yang membuat papa menyembunyikan fakta tentang keluarga sang mama. Ada kemarahan, kesedihan, dan keharuan yang silih berganti antara Gitta dan papa dan mengambil porsi yang menghancurkan hati. Saya nangis deh baca novel ini. Tapi yaaa... saya emang cengeng sih. *susut ingus*

Tapi penyelesaiannya heartwarming bangeeets. Saya suka endingnya. Juga bagaimana konflik Gita dan Tedjas meruncing lalu diselesaikan. Maniiis.
Saya sih merasa novel ini recommended dan haruuuus dibaca. Bukan hanya kisah percintaannya tapi juga kisah father and daughter yang meresap sampai beberapa hari di hati saya. I love this book and will read another books by Emma Grace :)

Sabtu, 02 April 2016

[Posbar] Stolen Songbird - Danielle L Jensen

Judul buku: Stolen Songbird
Sub judul: Negeri Troll yang Hilang
Penulis: Danielle L Jensen
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Mery Riansyah
Proofreader: Lucy Riu
Pewajah sampul: Defi Lesmawan
Pewajah isi: Yhogi Yordhan
Penerbit: Fantasious
Tahun terbit: Oktober 2014
Tebal buku: 496 halaman



BLURB

Apa troll merasakan hal yang sama dengan manusia? Apa troll mengenal kesedihan, kemarahan, atau kebahagiaan? Bisakah troll mencintai troll lain? Atau apakah batin mereka sedingin batu yang mengubur mereka di bawahnya?

Cécile de Troyes mengira masa depannya ada di panggung-panggung megah di Trianon. Dia yakin kariernya sebagai penyanyi bersuara merdu akan cemerlang begitu dia meninggalkan Goshawk's Hollow. Namun, hal tak terduga menyergapnya, menyeretnya ke sebuah negeri yang selama ini hanya pernah didengarnya dari dongeng lama. Tak ada mimpi seburuk membuka mata dan menyadari bahwa ia diculik ke sebuah kota yang terkubur di bawah reruntuhan gunung. Kota yang dipenuhi oleh makhluk... troll.

Kaum troll mengira Cécile bisa menjadi salah satu kunci melenyapkan kutukan penyihir yang melingkupi Kota Trollus selama lima abad. Kutukan yang membuat mereka tak mampu keluar dari kungkungan Gunung Terlupakan. Kutukan yang membuatnya terikat dengan pangeran troll angkuh bernama Tristan. Dia pikir hidupnya lebih baik berakhir, sampai ketika dia mulai menyadari rahasia-rahasia terselubung yang ada di kota itu. Cécile sadar, jika dia melibatkan diri lebih jauh dengan segala intrik kaum troll, semua tak akan pernah sama lagi. Namun, terkadang, harus ada yang melakukan hal yang tak terbayangkan.

Mampukah Cécile bertahan dan menguak rahasia negeri troll? Kau pikir kau sudah tahu tentang kau troll? Tunggu sampai kau menyelesaikan petualangan ini.


RESENSI

Cécile de Troyes sedang dalam perjalanan pulang seusai menyelesaikan latihan menyanyinya, ketika di tengah jalan ia dihadang Luc. Rupanya Luc berniat menculiknya dan menyerahkannya kepada seseorang... atau sesuatu. Firasat Cécile semakin buruk saat ia harus merangkak menyusuri labirin Gunung Terlupakan, dikejar sluag hingga perjalanan mereka berakhir di Trollus, kota yang hilang yang penuh dengan troll.
Ternyata ia diculik dan dibawa ke Trollus untuk dipertalikan dengan sang pangeran kerajaan troll bernama Tristan. Kaum troll menganggap pertaliannya dengan Tristan akan dapat menghapuskan kutukan yang dialami bangsa troll selama berabad-abad.
Cécile berusaha melawan, berusaha kabur tapi ternyata tak ada jalan keluar. Akhirnya mau tak mau ia harus mendekam di Trollus dan menemukan intrik-intrik politik bangsa troll. Bukan hanya itu saja, semakin lama ia merasa semakin dekat dengan Tristan dan jatuh cinta.

-----------------

Stolen Songbird saya pilih sebagai buku yang saya baca untuk event posbar BBI bulan Maret 2016, walau pada kenyataannya setelah selesai membaca saya buntu juga menuliskan reviewnya. Bahkan ini sudah terlewat beberapa hari dari waktu yang ditentukan untuk mereview. *pundung*
Buku ini saya dapat dari sesama member BBI, dedek Raafian hasil menang kuis di twitternya. Meski mengidam-idamkan buku ini, ternyata cukup susah bagi saya menyelesaikan Stolen Songbird. Sigh.




Sebenarnya saya suka dengan premisnya, saya nggak pernah bosan dengan kisah perjodohan terpaksa semacam ini, hanya saja bagi saya lama-lama novel ini nggak terasa menarik lagi.
Pertama karena Cécile mudah diprovokasi, nggak bisa berpikir logis dan drama banget. Saya jadi... sebel. Hahaha... apalagi saat dia memutuskan masuk ke labirin dan akhirnya membahayakan nyawa Tristan. Hmm~ meski pada akhirnya ia berhasil menemukan kekuatan sihir yang dimilikinya, tetap saja saya merasa drama banget.
Yang kedua, Tristan ini punya keanehan sedikit saja nggak sih? Sebagai bangsa troll, paling enggak ada dong keanehan kecil... atau saya melewatkannya? Yaah seganteng-gantengnya pangeran troll dia kan troll murni, saya pikir harusnya ada keunikannya. Kenapa Tristan harus dibuat sempurna? Kenapaaa? *ikutan deramak*
Sedangkan untuk tokoh favorit, saya malah suka Marc, meski buruk rupa tapi saya suka ketenangan dan kelembutannya.

Novel ini cukup detail dalam membangun kontruksi negeri troll dan kekuatan bangsa troll. Saya suka dengan imajinasi yang diperkenalkan Danielle L Jensen, seru rasanya menyusuri kota Trollus dan menemukan makhluk-makhluk luar biasa. Dari segi ini saya merasa tertarik dan terpesona.

Novel ini menggunakan POV orang pertama dari sisi Cécile dan Tristan. Hanya saja lebih banyak dalam porsi Cécile, sementara porsi Tristan hanya sedikit. Alurnya mengalir maju dan lumayan lambat. Terlalu banyak intrik yang membuat saya bingung... dan bosan. Tapi mungkin ini juga karena saya memang nggak menyukai intrik politik. :p

Saat ini saya sedang menimbang-nimbang haruskah saya melanjutkan membaca lanjutan novel ini, The Hidden Huntress. Meski penasaran, tapi saya masih merasa lelah seusai membaca Stolen Songbird.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Tak ada yang tak bisa dicapai oleh sedikit kekuatan kehendak." (hlm. 6)

"Aku hanya berpikir bagaimana terkadang keberuntungan menemukan kita di saat kita tidak begitu mengharapkannya." (hlm. 9-10)

Tindakan bekerja lebih keras dari kata-kata. (hlm. 124)

Beberapa makhluk sebaiknya tetap berada di kurungan mereka. (hlm. 146)

"Aku belajar bahwa keberanian dan pertimbangan yang bijaksana jarang bisa berdampingan." (hlm. 227)

"Seorang bijak pernah menulis bahwa kebenaran yang diucapkan mungkin bukan kebenaran yang kaupikir kau dengar." (hlm. 356)


Jumat, 01 April 2016

[Blogtour: Review + Giveaway] The Stardust Catcher - Suarcani


Judul buku: The Stardust Catcher
Penulis: Suarcani
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-602-03-2644-3
Book available at: bukupedia.com




BLURB

"Apa harapanmu tahun ini?"

Joe: Punya alternatif lain untuk berbahagia selain dengan mencari pasangan.

Mela: Mendapat tambahan umut setidaknya empat tahun lagi, yah... biar bisa main remi lebih lama lagi sih.

Bermula dari secarik kertas dalam jaket di commuter line, Joe dan Mela bercengkerama lewat ask.fm. Selama setahun, hanya lewat media sosial itulah mereka berhubungan. Hingga Joe tertinggal rombongan saat liburan bersama teman-teman kuliahnya. Ia tersesat di Bali. Sendirian.
Saat itulah Sally Cinnamon muncul dan mengaku sebagai peri yang akan mempertemukan Joe dengan jodohnya. Wait, peri jodoh? Yang benar saja?
Ditemani Sally, Joe berusaha mencari rombongannya. Petualangan yang mempertemukannya dengan Mela, si spa therapist yang sekarat.
Apakah Mela jodoh yang dimaksud Sally? Apakah Joe benar-benar tersesat dan bukannya sengaja menghilang karena protes akan perceraian orangtuanya?


RESENSI

Di commuter line, Joe menemukan sebuah jaket di bangku yang hendak didudukinya. Saat memeriksa jaket itu, Joe menemukan kertas terlipat yang merupakan daftar tanya jawab akun ask.fm seseorang bernama Mela. Sejak itu Joe berkenalan dengan Mela melalui ask.fm dan saling melempar pertanyaan.
Meski tak banyak yg Joe tahu selain bahwa Mela sangat humoris dan merupakan seorang spa therapist.
Ketika kampusnya mengadakan karyawisata ke Bali, Joe mengikutinya dengan hati resah. Ini karena perceraian orangtuanya tinggal menghitung hari untuk disahkan oleh peradilan.
Selama perjalanan, Joe beberapa kali bertemu seorang gadis remaja dengan gaun putih berambut pirang panjang. Gadis yang tak dilihat oleh siapa pun!
Hingga tanpa terduga, Joe tertinggal oleh rombongan dan terpaksa berjalan kaki di tengah gelap malam mencari kantor polisi ditemani... si gadis yang hanya bisa dilihatnya. Gadis itu, Sally Cinnamon, mengaku sebagai peri jodoh Joe yang bertugas mempertemukan Joe dengan Mela. Sayangnya kesialan demi kesialan bertubi-tubi menimpa Joe. Membuat pemuda itu semakin kesal.
Sementara di sisi lain, Mela sang spa therapist, mati-matian berusaha menolak pendekatan yang dilakukan Oscar, salah satu kolega bosnya. Namun karena situasi mendesak, Mela yang yatim piatu dan membiayai kuliah adiknya, terpaksa meminta bantuan Oscar. Tak dinyana pelaku kriminal mengintai dirinya dan Oscar. Mela pun jadi korban penculikan.
Sang pemuda yang tersesat dan sang korban penculikan akankah mampu dipertemukan oleh peri jodoh nan centil? Ataukah takdir punya keajaibannya sendiri?

-----------

The Stardust Catcher menjadi novel Young Adult lokal pertama yang saya baca di tahun 2016 ini. Saya sangat bersemangat membaca novel ini karena novel ini lahir dari GWP (Gramedia Writing Project) dan ditemukan oleh editor favorit saya, Mbak Didiet. Jelas, saya nggak ragu lagi untuk menerima novel ini ke dalam pelukan.

Sejak awal membaca, saya terkesan dengan gaya menulis Suarcani, beberapa kali begitu romantis namun di kali lain begitu konyol. Hal ini membuat perjalanan saya mengikuti kisah Joe terasa menyenangkan.

Diceritakan dengan POV orang ketiga, secara bergantian saya diajak menyelami perasaan Joe, perasaan Mela, perasaan Oscar dan juga Sally. Meski tetap porsi terbesarnya adalah Joe dan kesialan yang menimpanya. Huhuhuuu...
Alurnya mengalir maju dan plotnya lumayan rapi. Runtutan kejadiannya silih berganti antara Joe dan Mela tapi mudah dipahami. Settingnya sangat detail terutama saat di Bali dan di Leeuwarden.

Saya cukup tertarik dengan karakter Joe, sebagai pemuda usia dua puluhan yang skeptis. Pemicunya mungkin karena proses perceraian orangtuanya dan ancaman kehadiran saudara tiri. Saya jadi penasaran, sudah seperti itukah Joe di masa kecilnya, atau sifat pemarah dan nyebelinnya ini baru ada setelah orangtuanya memutuskan berpisah? Tapi Joe lumayan menghibur karena... rada penakut. Hahaha... tapi sumpah kocak banget mengikuti kesialan demi kesialan Joe sampai saya merasa aduh, apa ini kesialannya nggak kebanyakan?
XD
Mela menurut saya menjadi gadis yang luar biasa kuat. Lucu, cerdas dan punya prinsip. Ini yang saya suka. Caranya berusaha menolak Oscar benar-benar keren, yaaah... walau akhirnya ia minta bantuan juga. Tapi ini membuat saya merasa Mela memang pemberani dan keren.
Si peri centil alias Sally tentunya bikin saya terharu. Banyak kalimat bijak yang dia katakan pada Joe. Sayang Joe-nya aja yang bebal, susah dikasih tahu. Tapi Sally benar-benar setia dan luar biasa sabar.
Hmm... tokoh dalam novel ini berbeda-beda tapi unyu semua :))
Yang paliiiiiing saya suka adalah interaksi Joe dan Mela di akhir cerita. Huiii... akrabnya bikin iri.

Secara keseluruhan saya suka novel ini. Romantisnya ada, konyolnya ada, bijaknya ada dan sedihnya ada. Berasa makan gado-gado komplet.

*************GIVEAWAY TIME***********



Naaah selamat datang di pembukaan Blogtour The Stardust Catcher.. saya punya satu eksemplar novel ini dan satu tas joger untuk satu orang yang beruntung.

Caranya gampang seperti biasa yaaa..

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau punya alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @alhzeta dan @KendengPanali lalu share giveaway ini dengan hashtag #TheStardustCatcher dan jangan lupa mention kami berdua.
3. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menyertakan Nama | akun twitter | alamat email

Jika kamu membayangkan seorang peri, seperti apa sosok peri dalam imajinasi kamu?

4. Giveaway berlangsung selama 6 hari dan ditutup tanggal 6 April 2016 pukul 23.59 WIB.
5. Yang terakhir... good luck ya ;)

Selasa, 22 Desember 2015

[Resensi: Cinder - Marissa Meyer] Kisah Cinta Si Upik Bernoda Pelumas


Judul buku: Cinder (The Lunar Chronicles #1)
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: Januari 2016
Tebal buku: 384 halaman
ISBN: 9786027150546
Book available at: Bukupedia.com




BLURB

Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Cinder—seorang cyborg—adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya.
Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan Sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan Sang Pangeran dan Bumi?

RESENSI

Nama Linh Cinder cukup terkenal di seantero New Beijing sebagai mekanik terbaik. Tentunya wajar bagi orang-orang bila mengasosiasikan namanya dengan seorang pria tua. Banyak yang tak menyangka bahwa sang mekanik ternama itu adalah seorang gadis muda. Demikian juga dengan Pangeran Kaito, putra mahkota Persemakmuran Timur, yang siang itu datang ke stan milik Cinder di pasar mingguan Beijing.
Pangeran Kai datang diam-diam karena ingin memperbaiki androidnya. Android yang cukup tua namun seolah begitu penting bagi Pangeran Kai. Mereka pun berkenalan tanpa Pangeran Kai tahu bahwa Cinder adalah seorang cyborg.
Cinder menutupi kenyataan itu karena tak ingin pangeran merasa jijik padanya.
Beberapa saat setelah pangeran pergi, seketika terjadi kegemparan di pasar itu.
Salah satu pemilik toko di pasar itu tiba-tiba terserang wabah Letumosis. Orang-orang pergi dengan panik sementara sang pasien dibawa ke karantina. Beberapa tahun terakhir bumi memang diserang wabah penyakit mematikan, penyakit itu pula yang telah menyerang ayah Kaito, Kaisar Rikan, sehingga sang kaisar harus terbaring dalam ruang karantina. Dan hari itu bukan hanya pemilik toko roti saja yang terjangkiti Letumosis, tapi Peony—salah satu adik angkat Cinder—pun tertular dan harus dikarantina.
Adri, ibu angkat Cinder merasa marah dan menuduh Cinder lah yang telah menularkan penyakit itu pada Peony. Adri lalu memutuskan mengirim Cinder untuk dijadikan kelinci percobaan vaksin-vaksin anti Letumosis yang sedang diuji coba. Perlawanan Cinder sia-sia dan ia menyerah.
Tetapi ketika diuji, rupanya Cinder kebal terhadap penyakit itu. Hal ini membuat dokter Erland tertarik untuk semakin dalam meneliti Cinder.
Wabah Letumosis semakin berbahaya ketika Kaisar meninggal karenanya. Namun ancaman bukan hanya berasal dari Letumosis tapi juga datang dari Ratu Levana penguasa Bulan yang sejak lama menginginkan aliansi dengan cara menikah dengan Pangeran Kaito. Dengan kemampuan mengendalikan pikirannya yang mengerikan, Ratu Levana menjadi ancaman besar bagi makhluk Bumi. Terutama karena makhluk Bulan adalah makhluk kejam dan mengerikan. 
Akankah vaksin pengendali wabah penyakit berhasil didapatkan? Haruskah Kaito menikah dengan Levana demi beraliansi dengan Bulan dan menyelamatkan manusia? Dan akankah Pangeran Kaito mengetahui jati diri Cinder?

---------------

Saya senang sekali saat tahu Penerbit Spring hendak menerjemahkan Cinder. Novel young adult, bergenre dystopian dan romance ini merupakan novel yang mengambil cerita Cinderella sebagai dasar ceritanya. Saya cukup penasaran akan seperti apa jadinya jika sebuah tokoh fairy tale "ditempatkan" dalam dunia futuristik di Beijing.

Setting waktu novel Cinder terjadi di kisaran Third Era, yaitu pada periode waktu yang dimulai setelah Perang Dunia Keempat. Ceritanya sendiri terjadi di Beijing yang konon katanya, menurut sang penulis merupakan daerah di mana cerita Cinderella yang asli berasal. Penggambaran kota dan pemerintahan ala dystopiannya sangat detail dan fresh. Marissa memberi penggambaran yang mudah terbayangkan.

Alur cerita Cinder begitu rapi dan mengalir, asyik untuk dinikmati. Beberapa hal mirip dengan dongeng Cinderella, misalnya saja seperti Cinder yang punya ibu angkat dan dua saudari angkat, Cinder yang harus bekerja, mobil kuning sewarna labu, pesta dansa, dan kaki cyborg Cinder yang jatuh di pesta dansa!
Sangat mengasyikkan menemukan hal-hal yang akrab dalam suatu cerita namun juga dimodifikasi dengan begitu cerdas.

Cinder sendiri adalah tokoh protagonis favorit saya. Tegar, mandiri, kuat dan hati-hati. Meski ada kalanya dia merasa nggak percaya diri karena dia adalah cyborg, tapi Cinder nggak langsung klepek-klepek gitu aja terhadap Pangeran Kai. Good girl!
Pangeran Kaito Kid pastilah mencuri perhatian dengan sifatnya yang humble dan sudah terlihat bibit-bibit bijaksananya. Saya merasa kasihan melihatnya menderita di bawah tekanan Ratu Levana yang terus berusaha menyihir pikiran Kaito.
Tapiiiii... tokoh yang menyebalkan bukan hanya Levana yang angkuh saja. Yang paling menyebalkan tentu saja Linh Adri dan Linh Pearl, ibu dan kakak angkat Cinder. Marissa benar-benar bisa mengaduk emosi saya gara-gara mereka.


Sayangnya masih banyak misteri yang belum terpecahkan di dalam novel ini. Terutama tentang masa lalu Cinder, apa peranan mendiang ayah angkatnya dalam misi penyelamatan Cinder di masa lalu, dan dari mana kemampuan mekanik Cinder berasal. Masih banyak pertanyaan di benak saya yang semoga bisa terjawab di buku kedua.

Penerjemahannya bagus dan enak dibaca. Saya nggak menemukan kesalahan tata bahasa ataupun kalimat yang rancu. Terdapat catatan kaki untuk kata-kata yang asing ataupun istilah yang sulit dimengerti sehingga memudahlan saya dalam memahami cerita.

Cinder menjadi bacaan young adult terbaik saya sepanjang tahun ini. Semoga saja terjemahan buku keduanya, Scarlet, segera terbit menyusul novel ini. Sudah nggak sabar rasanya mengikuti seri Lunar Chronicles yang seru ini.
Bagi kalian yang penasaran terhadap novel ini, nantikan terbitnya Cinder pada awal Januari 2016 yaa :)



Sabtu, 19 Desember 2015

[Blogtour: Resensi + Giveaway] Replay - Seplia


Judul buku: Replay
Penulis: Seplia
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Young Adult
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-2319-0
Available at: bukupedia.com



BLURB

Nada pernah berjanji tidak akan membiarkan orang lain bunuh diri. Tapi sejak mengenal Audy, ia kehabisan akal dalam menepati janji tersebut. Audy, gadis yang berulang kali mencoba bunuh diri itu, begitu penuh kejutan.

Ujian tari membuat Nada terpaksa meminta bantuan Nino, pacar Audy, untuk mengiringi komposisi tariannya. Ia tidak memahami perasaan hangat yang timbul setiap melihat pemuda itu bernyanyi sambil memainkan jemari di tuts piano.

Nada tidak menyadari bahwa secara perlahan kehadirannya mengganggu hubungan Nino dan Audy. Perlahan, Nada menjadi orang yang ia benci. Seperti wanita yang merebut ayahnya dan membuat ibunya bunuh diri.

Dapatkah Nada menepati janji?

REVIEW

Sejak ibunya meninggal karena bunuh diri, Nada pergi dari rumah dan memilih tinggal di apartemen. Ia sulit memaafkan ayah dan Diana, si kekasih gelap, yang telah membuat ibunya sedih dan memilih bunuh diri. Di apartemen, Nada berkenalan dengan tetangga barunya, seorang gadis bernama Audy. Namun baru saja mereka berkenalan, malamnya Nada harus menyaksikan pertengkaran Audy dengan pacarnya, Nino, yang berujung pada ancaman Audy untuk bunuh diri. Audy cemburu buta pada Nino. Begitu Audy merasa Nino terlalu dekat dengan gadis lain, Audy mengancam akan bunuh diri.
Nada yang pernah merasa tak berdaya karena tak berhasil menyelamatkan ibunya berusaha mati-matian mencegah usaha bunuh diri Audy. Ia tak ingin lagi ada orang yang bunuh diri.
Tanpa sengaja Nada bertemu lagi dengan Nino ketika Nino sedang bermain piano. Musik yang dimainkan Nino menarik hati Nada sehingga Nada ingin menggunakannya sebagai musik pengiring ujian tarinya. Mereka pun bekerja sama diam-diam tanpa sepengetahuan Audy.
Lama-lama Nada merasakan getaran yang aneh saat bersama Nino. Hubungan mereka semakin dekat dan intens. Apakah Nada akan menjelma menjadi orang ketiga? Apakah ia bisa memposisikan diri sebagai perusak hubungan, dan menyakiti hati Audy?

---------------

Senang rasanya bisa membaca sebuah karya yang premisnya menarik. Replay termasuk salah satu di antaranya. Saya begitu menikmati kisah yang dituturkan Seplia dalam novel bergenre young adult ini.

Berapa banyak dari kita yang dengan mudah menyalahkan orang lain dan menghakimi mereka tanpa memandang dengan adil? Dan ketika kita tanpa sengaja jatuh dalam situasi yang sama, apakah kita bisa adil menghakimi diri kita sendiri? Seplia dengan cerdik meramu ide ini dan merangkainya menjadi jalinan kisah yang manis.

Diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, porsi konflik batin lebih banyak diungkapkan dari sisi Nada dan Nino. Keresahan dan kerisauan mereka dituturkan dengan apik oleh Seplia. Walau sebenarnya saya ingin juga mendapatkan konflik batin dari Audy sebagai penyeimbang. Karena saya masih merasa bertanya-tanya apa yang ada di benak Audy di akhir penyelesaian konflik.

Hal yang saya suka dari novel Replay adalah tokohnya yang masih manusiawi. Punya kekurangan. Punya kesalahan. Punya dosa. Meskipun sosok Nino ini jenius dalam bermusik dan ganteng dan sabar dan perhatian tapiii... ia toh manusia juga yang bisa khilaf.
Tokohnya konsisten dengan karakter masing-masing. Audy jelas kelihatan banget kalau labil. Sedangkan karakter ayah, saya merasa cukup kocak juga. Cocok sebagai pemilik label musik mayor yang biasanya lebih santai karakternya.
Interaksi antar tokohnya pas banget. Asyik diikuti dan terasa chemistrynya.

Namun memang untuk penyelesaian konfliknya masih terasa ada ganjalan dalam benak saya. Meskipun memuaskan semua pihak, tapi perasaan Audy masih saja menjadi misteri bagi saya.

Saya rekomendasikan novel ini bagi kalian penikmat romance yang berliku. Proses pendewasaan tokohnya layak untuk diikuti dan banyak hal bisa kita dapatkan dalam novel ini.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Aku tahu, cinta memang egois. Tidak mau berbagi pada siapa pun atau apa pun. Tapi kamu harus percaya pada pasanganmu. Sebisa mungkin membicarakannya baik-baik kalau ada masalah." (hlm. 100)

"Tidak sepatutnya kau berubah. Penderitaan tidak berarti mengubah orang baik menjadi buruk." (hlm. 114)

"Kalau suatu saat kebahagiaan tak memihak, masih yakin kamu akan jadi orang baik?" (hlm. 143)

*********GIVEAWAY TIME*****************



Nah, sekarang saya mau membagikan satu buah novel Young Adult yang keren ini buat seorang yang beruntung.

Caranya gampang banget:

1. Peserta berdomisili atau punya alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow akun twitter @LiaSeplia dan @KendengPanali
3. Share giveaway ini dengan hashtag #Replay dan jangan lupa mention akun kami berdua.
4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via GFC atau email (optional saja, nggak wajib, tapi saya bakal senang banget kalau difollow ^^)
5. Jawab pertanyaan di kolom komentar dengan menyertakan nama, akun twitter dan alamat email.
Pertanyaannya:

Kalau orang terdekatmu ingin bunuh diri, apa yang akan kamu lakukan?

6. Giveaway akan dimulai dari hari ini dan berakhir tanggal 24 Desember 2015 pukul 23.59. Nama pemenang akan saya umumkan di tanggal 25 Desember 2015.
7. Yang terakhir, good luck ya :)


************THE WINNER*****************

Setelah bersenang-senang selama 6 hari, kini saatnya saya memilih satu orang yang beruntung untuk mendapatkan novel Replay.

Terima kasih sebesar-besarnya untuk para peserta giveaway ini. Kalian teman yang luar biasa, sahabat yang pasti sangat berharga karena berusaha sekuat tenaga melindungi orang-orang terdekat kalian. Kalian semua bikin saya terharu.

Dan di antara jawaban untuk pertanyaan saya sebelumnya, yang beruntung mendapatkan novel Replay adalaaaaaah:

Nama: Aya Murning

Twitter: @murniaya


Selamaaaat! Jawabanmu beda dari yang lain dan bikin saya geleng-geleng kepala. Berdoa saja semoga sahabatmu nggak kalap dan benar-benar membunuhmu lebih dulu. XD

Sila kirimkan data diri berupa alamat kirim dan nomor telepon ke email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com, dan saya tunggu dalam waktu 2x24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan sedih, karena masih ada satu bloghost lain yang sedang memandu giveaway Replay juga.

Sampai bertemu di giveaway yang lain :)

Minggu, 29 November 2015

[Resensi: It's Not Summer Without You - Jenny Han] Musim Panas yang Tak Sempurna


Judul buku: It's Not Summer Without You
Sub judul: Tak Sempurna Tanpamu
Penulis: Jenny Han
Penerjemah: Chefira Inda P
Desain sampul: Ellina Wu
Penerbit: Gradien Mediatama
Tahun terbit: 2013 (cetakan ketiga)
Tebal buku: 295 halaman
ISBN: 978-602-208-051-0



BLURB

Seorang gadis. Dua lelaki bersaudara. Kepada siapa ia akan melabuhkan hatinya?
Hari-hari untuk bermalas-malasan bagi Isabel (Belly), telah usai. Musim panas panjang yang hangat di rumah pantai sahabat keluarganya, telah berakhir. Musim panas kali ini, menjadi musim panas yang berbeda.
Conrad, lelaki impian seumur hidup Belly, yang kepadanya hatinya selalu tergetar, tidaklah mudah direngkuh. Suatu ketika, lelaki itu menghilang begitu saja. Membawa serta hatinya.
Sementara Jeremiah, adik Conrad yang rupawan, selalu menjadi sahabat terbaik Belly. Namun, benarkah persahabatan sudah cukup baginya?
Tak ada yang lebih diinginkan Belly selain kerinduan agar segala sesuatunya tidak pernah berubah. Namun, kenyataan hidup berbicara lain. Tak terelakkan baginya. Ia harus milih dab menempuh persimpangan jalan.

RESENSI

Musim panas tahun ini, dilalui Belly tanpa Conrad, Jeremiah, Susannah dan rumah musim panas di Cousins. Segalanya berbeda tahun ini. Musim panas bersama kedua cowok itu telah berakhir bersamaan dengan rasa berkabung mereka.
Tak ada lagi rumah musim panas. Tak ada lagi Susannah. Dan tak akan ada lagi Conrad. Setelah putus dengan Conrad seusai pesta dansa dan setelah melihat Conrad mencari penghiburan pada gadis lain, Belly telah mengucapkan kata-kata kasar pada Conrad, yang membuat mereka tak lagi saling bicara.
Tapi Belly tetap saja tak bisa lupa. Pada kedukaaannya, dan terutama pada Conrad.
Hingga Jeremiah menghubunginya dan meminta tolong padanya untuk mencari Conrad karena Conrad kabur di tengah ujian musim panas. Ke mana Conrad? Mengapa ia lari?
Belly dan Jeremiah menyusuri jejak Conrad hingga ke rumah musim panas. Di sana mau tak mau Belly harus berhadapan dengan Conrad. Bertiga di rumah musim panas, cinta segitiga itu tak lagi bisa disembunyikan. Siapa yang menyerah dan siapa yang akan tetap mengejar? Bagaimana nasib rumah musim panas itu tanpa Susannah?

------------

Dibanding dengan seri pertamanya, The Summer I Turned Pretty, novel ini lebih menarik diikuti. Tentunya karena cinta segitiga di antara Belly, Conrad dan Jeremiah makin seru dan makin runyam.

Saya mendapati Belly sudah sedikit dewasa dalam bersikap. Nggak se-childish dan nyebelin seperti di seri pertama. Belly mulai bisa rasional meskipun kata-katanya pada Conrad di hari berkabung itu nggak bisa saya maafkan.
Conrad semakin terasa misterius dan membuat saya penasaran terhadap siapa sebenarnya lelaki yang ada dibalik segala sifat diam dan murung itu. Ada kalanya ia bisa lepas dan mudah untuk dicintai, ada kalanya ia menyembunyikan rapat-rapat perasaannya.
Jeremiah masih menjadi malaikat bagi saya. Kehadirannya selalu terasa menghangatkan cerita, meski ia pun mulai berkembang menjadi sosok lelaki yang serius dan siap mendapatkan apa yang ia mau. Saya paling suka ketika ia akhirnya berani menunjukkan pada Conrad bahwa ia pun menginginkan Belly. Aww~ berhati-hatilah Conrad!

Dengan menggunakan alur maju mundur, kali ini bukan hanya Belly yang berkisah sebagai orang pertama, tapi ada juga "aku" dari sisi Jeremiah. Tadinya saya pikir akan ada juga POV dari sisi Conrad tapi ternyata nggak ada. Mungkinkah POV Conrad disiapkan Jenny Han nanti di buku ketiganya?

Jeremiah tentunya memberi sudut pandang lain yang semakin menarik. Menyoroti cinta segitiga mereka dari sisinya yang terkadang ingin mengalah namun ada kalanya ingin mendapatkan perhatian penuh Belly.

Konfliknya naik turun dan bikin geregetan. Terutama ketika tiba di momen Belly dan Conrad. Chemistry mereka mulai terbentuk dan terasa lebih meletup-letup diibanding seri pertama.

Yang menjadi catatan saya adalah adegan Conrad yang meminta kalungnya kembali pada Belly. Ini sama persis seperti adegan Kavinsky yang meminta kalungnya dari Lara Jean di P.S. I Still Love You. Dan dikarenakan novel ini terbit lebih dulu, membuat saya menyayangkan kenapa ada adegan berulang pada dua serial yang berbeda. Apakah Jenny Han kesulitan mencari adegan paling pedih dalam suatu hubungan selain si cowok meminta barang pemberiannya? Yaah, meskipun dalam kasus Belly, kalung itu nggak diberikan Conrad secara langsung.

Saya menikmati membaca It's Not Summer Without You karena kisah cinta segitiga yang semakin menarik dalam novel ini. Huff... sudah nggak sabar rasanya untuk membaca buku ketiganya.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Setiap orang harus melupakan cinta pertamanya, itulah ritual kehidupan ini." (hlm. 15)

Kau tidak akan pernah tahu kapan kali terakhir kau akan melihat suatu tempat. Atau, seseorang. (hlm. 140)

Bagaimana mungkin dua orang yang dulu pernah dimabuk asmara tidak pernah bertengkar, bertengkar tidak hanya dengan pasangan, tapi juga demi pernikahan mereka? (hlm. 199)

Saat itu barulah aku mengerti. Aku akhirnya mengerti. Bukan pikiran seseorang yang berarti. Melainkan tindakan nyatalah yang berarti, manifestasi terhadap seseorang. Niat di balik semua itu tidaklah cukup. Tidak bagiku. Tidak lagi. Tidak lagi cukup untuk mengetahui bahwa jauh di lubuk hatinya, dia mencintaiku. Kau harus benar-benar mengucapkannya kepada seseorang, menunjukkan bahwa kau peduli. (hlm. 282)

Kamis, 26 November 2015

[Resensi: The Summer I Turned Pretty - Jenny Han] Cinta Musim Panas yang Mengubah Segalanya


Judul: The Summer I Turned Pretty
Sub judul: Ketika Aku Menjelma Cantik
Penulis: Jenny Han
Penerjemah: Chefira Inda P
Desain sampul: Ellina Wu
Foto sampul: ShutterStock
Penerbit: Gradien Mediatama
Tahun terbit: 2013 (cetakan ke 3)
Tebal buku: 286 halaman
ISBN: 978-602-208-050-3



BLURB

Seorang gadis. Dua orang pemuda. Dan, musim panas yang mengubah segalanya.

Setiap kali musim panas tiba, Isabel (Belly) dan keluarganya menghabiskan waktu bersama keluarga Conrad dan Jeremiah di rumah musim panas mereka di Cousins Beach—sejak mereka masih belia. Tahun demi tahun berlalu. Namun musim panas kali ini, Conrad dan Jeremiah telah menjadi pemuda-pemuda yang mencuri hati para gadis, sementara si anak bawang Belly telah menjelma menjadi seorang gadis remaja yang rupawan.
Belly telah memuja Conrad semenjak ia dapat mengingat hal itu. Namun, Jeremiah lebih lugas dalam mengutarakan isi hatinya. Di antara keduanya, hadir Cam—seseorang yang muncul dengan perhatian mendalam di masa kecil mereka.
Apakah musim panas kali ini akan menjadi musim panas berbeda yang akan mengubah segalanya?

RESENSI

Musim panas tahun ini Belly kembali mengunjungi rumah musim panas milik Susannah, sahabat ibunya. Musim panas adalah musim yang paling ditunggu Belly, karena di musim inilah ia bisa bertemu Conrad dan Jeremiah, kedua putra Susannah. Terutama bertemu Conrad.
Sejak kecil Belly telah memuja Conrad, si sulung dari kakak-beradik Fisher. Meskipun setiap musim panas ia selalu saja tersisihkan ketika para cowok–Conrad, Jeremiah dan Steven, kakak Belly–melakukan kegiatan. Tapi tahun ini, Belly bertekad untuk membuat Conrad memandangnya, sebagai seorang gadis yang hampir berusia 16 tahun.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh Susannah dan Jeremiah. Tapi suasana hati Conrad begitu buruk. Merasa kesal karena Conrad tetap mengabaikannya, Belly pun berkenalan dengan Cam, seorang cowok yang ternyata sudah menyukainya sejak ia masih si itik buruk rupa.
Belly menghabiskan musim panasnya bersama Cam, dan balas mengabaikan Conrad. Ia bahkan mengabaikan ibunya dan Susannah. Belly tak bisa berhenti menemui Cam, karena selain Cam begitu baik, bagaimanapun juga Belly menyadari bahwa Conrad mulai cemburu.
Apakah Belly berhasil melupakan cinta masa kecilnya? Mengapa Conrad bertingkah begitu berengsek dan bagai siap meledak kapan saja? Apakah musim panas ini akan jadi musim panas terakhir mereka?

-----------------

Semula saya pikir The Summer I Turned Pretty akan menjadi novel yang romantis. Bagaimanapun, seorang cewek yang tetap menjaga cinta masa kecilnya tentunya adalah cewek yang romantis. Sayangnya adegan-adegannya masih kurang menggigit. Berbeda dengan serial To All The Boys I've Loved Before yang adegan bikin melelehnya bertebaran di mana-mana.

Novel ini beralur maju mundur dan diceritakan dengan POV orang pertama yaitu dari sudut pandang Belly sebagai "aku". Namun Belly menjadi "aku" yang serba tahu, karena ia bisa tahu persis kapan Conrad memperhatikannya, kapan Conrad mengawasinya, atau kapan Conrad menjadi tegang karena cemburu. Hal ini membuat Belly terasa narsis banget karena sok sadar kalau sedang diperhatikan :))

Tokoh favorit saya tentu saja Conrad. Cowok yang cuek dan misterius tapi selalu tampil membela Belly. Meski pendiam dan penyendiri, perhatian-perhatian kecilnya pada Belly bahkan ketika kecil saya rasa manis juga.
Sedangkan Jeremiah memang tokoh yang mudah menarik perhatian. Jere-lah yang selalu membanyol untuk meredakan suasana. Jere tipe cowok yang aman untuk dicintai dan nggak akan membuat sakit hati.
Sedangkan Belly saya anggap cukup mengesalkan karena mudah ngambek. Belly membenci cewek-cewek cantik yang dangkal karena memuja Conrad, padahal ia juga begitu. Belly cantik. Ia memuja Conrad. Ia suka diperhatikan cowok-cowok di sekitarnya. Dan ia juga gampang ngambek. How childish she is. Bahkan ia lari ke pelukan Cam pun hanya karena kesal pada Conrad.

Saya suka momen-momen singkat antara Conrad dan Belly yang mestinya penuh letupan, sayang chemistry mereka kurang kuat jika dibanding chemistry Belly dan Jeremiah.
Dan yang paling membuat saya tersentuh adalah hubungan Conrad dan Jeremiah. Jenny Han sukses membuat chemistry di antara mereka berdua.

Penerjemahannya bagus meski ada sedikit typo. Tapi saya masih bisa menikmati aliran ceritanya.

Cukup menyenangkan membaca novel ini, meski saya dibuat iri setengah mati pada Belly. Sementara sifatnya nggak banget menurut saya. Yaah... let's see what will happen in second book, It's Not Summer Without You, semoga saja Belly bisa lebih bijak menghadapi Conrad ^^

TEBAR-TEBAR QUOTE

Kemenangan akan seribu kali lebih manis saat kau diremehkan. (hlm. 143)

Aku bertanya-tanya dalam hati memang seperti inikah cinta masa kecil: mati, merintih, perlahan, dan kemudian menghilang. (hlm. 210)

Kamis, 19 November 2015

[Blogtour + Giveaway] Out of The Blue - Indah Hanaco


Judul buku: Out of The Blue
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Midya N. Santi
Ilustrasi & Desain sampul: Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 296 halaman
ISBN: 978-602-03-2171-4
Available at: bukupedia.com



BLURB

Kemunculan Rengga—pria yang selama ini Sophie ketahui telah memerkosa ibunya—dan Austin, mantan pacarnya yang selebritis, membuat hidup Sophie begitu rumit. Ditambah pertengkaran dengan sahabatnya, Sophie pun nekat menyetujui rencana berlibur ke Skandinavia.

Di Nyhavn, Sophie harus berurusan dengan cowok kasar berego setinggi langit. Jamie menuduhnya tengah menguntit sebagai paparazzi. Setelah beberapa kali tidak sengaja bertemu dan berselisih paham, bahkan mengalami satu kejadian mengejutkan di tepi tebing Preikestolen, keduanya pun semakin dekat.

Ketika mengetahui identitas Jamie sebenarnya, Sophie langsung memutuskan kembali ke Jakarta. Haruskah ia mengambil risiko jatuh cinta dengan trauma yang sama? Atau justru rela melepaskan cowok yang diam-diam membuat hatinya menghangat?

RESENSI

Sophie merasa lega karena salah satu sahabatnya, Amara telah berhasil menemukan kebahagiaan bersama cowok yang tepat. Namun perasaan berbeda ia rasakan bagi Brisha, sahabatnya yang lain. Sophie masih mencemaskan Brisha yang pernah mengalami kekerasan dalam pacaran dengan pacar terdahulunya. Kali ini pun Brisha berkenalan dan tergila-gila pada seorang lelaki yang dikenal dari facebook. Jelas Sophie merasa cemas.
Hingga kecemasannya terbukti. Tapi saat ia berusaha memberi tahu Brisha, sahabatnya itu justru murka dan menuduh macam-macam.
Seolah belum cukup kegalauannya karena bertengkar dengan Brisha, Sophie juga harus berhadapan dengan Austin, mantan pacar Sophie yang telah menjadi artis papan atas. Tak hanya itu, Sophie pun dihantam pertemuan tak terduga dengan ayahnya. Ayah yang selama ini ia pikir kabur setelah memerkosa ibunya.
Pertemuan itu tak bisa tidak menggoyahkan topeng pura-pura kuat yang selama ini dikenakan Sophie.
Untuk menenangkan diri, Sophie pun menerima tawaran ayah dan ibu tirinya untuk melakukan solo trip ke Skandinavia.
Siapa sangka selain menemukan keindahan tak terkira, Sophie juga bertemu dengan cowok overpede dan berego tinggi yang menyebalkan. Tapi seiring berlalunya waktu yang dihabiskan bersama cowok itu sepanjang sisa perjalanan, Sophie bisa bicara tanpa beban dan menjadi dirinya sendiri. Hingga Sophie sadar, Jamie selalu bisa membuatnya nyaman.
Tapi, ada rahasia yang disembunyikan Jamie dari Sophie. Dan saat Sophie tahu siapa Jamie, akankah hal itu merubah penilaian mereka satu sama lain? Bagaimana dengan persahabatan Amara, Sophie dan Brisha yang terancam putus?

-------------

Bagi saya yang belum membaca serial pendahulunya, yaitu Heartling, novel Out of The Blue sama sekali nggak membuat saya bingung. Di awal cerita, latar belakang masing-masing tokoh cukup tergambar dan bisa memberi saya pondasi cerita yang mudah dipahami.

Jalinan cerita dalam Out of The Blue begitu rapi dan mengalir maju dengan cepat. Beberapa pencetus konflik disajikan di awal untuk mendorong Sophie memulai perjalanan dan bertemu Jamie. Dan ketika Sophie telah menginjakkan kaki di Denmark, alur pun mulai melambat.
Diksi yang digunakan tetap berciri khas Indah Hanaco, namun dengan dialog yang lebih luwes.

Novel ini mengambil setting di Jakarta dan Denmark. Denmark! Ini setting yang nggak biasa bagi saya. Saya jadi teringat obsesi saya pada Denmark ketika SMP dulu hingga nekat mengirim surat ke Kedutaan Besar Denmark. Obsesi itu tentu saja lahir karena kakak-beradik Michael dan Brian Laudrup :))



Penggambaran lanskap Skandinavia terasa apik dan rapi. Diceritakan dari sisi Sophie dan Jamie sebagai turis seakan memandu saya ikut merasakan pesona negara berangin ini. Sisi budaya juga diangkat penulis dari food tour yang diikuti Sophie.
Tadinya karena mengambil setting di Denmark, saya pikir penulis akan memasukkan Kepulauan Faroe dan paus, tapi ternyata enggak. Mungkin karena takutnya jadi out of topic dan nggak jadi bergenre YA lagi, ya? Hehe~

Saya suka karakter Sophie dan Jamie serta interaksi mereka yang lepas. Chemistry mereka manis banget meski kadang terasa kekanakan. Pas memang sebagai pasangan young-adult.
Meski tertekan, Sophie tampak kuat dan berani. Karakter Jamie juga khas karena keterlaluan pedenya. Dialog mereka berdua selalu membuat saya terhibur.
Walau saya menemukan inkonsistensi penggunaan kata nggak dalam satu dialog Jamie di halaman 280.

"Kamu tahu tidak, Sophie, aku sebenarnya pengin menyusulmu ke sini waktu tahu kamu pulang. Tapi situasinya nggak memungkinkan."

Juga ada beberapa kesalahan penulisan:

* Sophie merasakan elusan lembut di kepalanya mendapat hadiah. --> Sophie merasakan elusan lembut di kepalanya (bagai) mendapat hadiah. (hlm. 46)
* keningya --> keningnya (hlm. 113)
* mengambalikan --> mengembalikan (hlm. 233)
* apapun --> apa pun (hlm. 240)
* shock --> syok/shock (hlm. 252)
* ngga --> nggak (hlm. 279)
* pecinta --> pencinta (hlm. 284)

Puas banget baca novel ini. Out of The Blue meski ringan tapi cukup berbobot dengan konflik yang menyentil kaum cewek agar waspada akan "predator-predator" di luar sana. Saya rekomendasikan buat kalian yang suka petualangan ke negeri-negeri menawan.


Nah berikut ini adalah wawancara yang saya lakukan dengan penulis Out of The Blue, Mbak Indah Hanaco. Pertanyaan saya diwarna biru dan jawaban Mbak Indah diwarna merah:

Hai Mbak Indah, selamat atas lahirnya buku yang ke-25, ya. Apa nih tips untuk menjaga kekonsistenan menulis dan inspirasi tetap lancar?

Tengkiu, Mbak Nurina. Tipsnya, disiplin nulis tiap hari. Banyak atau sedikit, itu soal lain. Yang penting, setiap hari harus menulis. Dengan begitu, perlahan tapi pasti kita melatih beberapa hal. Menulis jadi lebih cepat, ide mengalir kian lancar. Menurut pengalamanku, itu yang otomatis terjadi kalau rutin menulis. 
Kalau soal inspirasi, dulu awalnya memaksakan diri untuk memerah ide, kalau kebetulan ide lagi ngumpet entah di mana. Jadi, nggak berharap ide datang menghampiri begitu saja. Awalnya sulit tapi Setelah terbiasa, ide nggak akan mandek lagi. Selain itu, membaca juga sangat penting. dan menurutku yang tak kalah penting adalah menonton acara yang bagus. Tidak sebatas film, tapi bisa juga reality show atau film dokumenter. Karena dari sepotong adegan, bisa menceritakan berjuta kisah yang bisa dituangkan ke dalam tulisan. 

Bicara soal inspirasi, dari mana asal inspirasi novel Out of The Blue ini?

Sejak awal mau menggarap Out Of The Blue, sudah terbayang gambaran Sophie yang ceria tapi menyimpan banyak rahasia itu, menikmati keindahan Skandinavia dan ketemu cowok aneh. Gambaran itu sudah menempel di kepala waktu aku menulis Heartling. Jadi, begitu punya kesempatan, aku buru-buru menulis kisah Sophie dan Jamie.

Ciri khas Mbak Indah itu kan selalu menyelipkan ilmu baru di setiap novelnya. Bisa cerita sedikit nggak Mbak, pengetahuan apa yang Mbak selipkan di Out of The Blue?

Dari sisi idealisme, Out Of The Blue jauh lebih ringan dibanding Tuhan Untuk Jemima, misalnya. Tadinya pengin menyelipkan pengetahuan tentang Viking di novel ini. Cuma akhirnya dibatasi karena takut membuat cerita melebar tak keruan.
Jadi akhirnya aku cuma menambahkan tentang tur makanan yang memang ada di Denmark, lokasi dan jenis makanannya pun tidak diganti, sesuai aslinya. Juga ada cara melayani konsumen di Anti-Mainstream yang benar-benar diwujudkan oleh banyak resto di luar yang menyediakan layanan drive-through.
Aslinya, pencatat pesanan itu disebut “Runner” atau “Pelari”. Seperti yang diakui Sophie bahwa dia melihat ide itu dari sebuah acara reality show, memang itu yang terjadi. Aku menonton salah satu episode Undercover Boss dan mendadak punya ide untuk menambahkan tentang “Runner” itu di cerita.

Setting Out of The Blue adalah Denmark. Pertanyaannya, kenapa Mbak Indah memilih Denmark? Dan apa saja riset yang dilakukan untuk mendukung setting ini?

Kenapa Denmark? Karena aku kebetulan nyaris tidak pernah membaca novel bersetting Denmark. Jadi, tergelitik untuk mencoba menulis tempat yang selama ini “kurang populer”. Kebetulan, aku punya buku travel Skandinavia dan sekitarnya. Informasinya cukup padat juga. Jadi, terpikir untuk memanfaarkan buku itu sebagai salah satu acuan.
Selain dari buku, sumber informasi sudah pasti internet. Mulai dari blog-blog yang mengulik tentang tempat-tempat di Skandinavia (dan jumlahnya sangat minim). Juga memanfaatkan situs Wikivoyage yang sangat membantu.
Oh ya, hampir lupa. Aku awalnya tersihir Nyhavn itu setelah melihat gambarnya di internet. Sampai bercita-cita pengin ke sana. Karena saat ini belum memungkinkan terbang ke Negeri Dongeng, terpaksa memberi kesempatan pada Sophie dulu untuk ke sana. Semoga aku bisa segera menyusul. Aamiin.

Amiiin. Jangan lupa ajak-ajak saya nanti ya, Mbak. :))
Menerbitkan 25 novel pasti pengalaman penuh jatuh bangun dan berdarah-darah, tapi hasilnya luar biasa. Apa Mbak Indah sudah puas? Sampai kapan Mbak Indah akan tetap berkarya di dunia literasi?

Mustahil puas, Mbak. Kalau aku puas, itu sama saja bunuh diri. Artinya, merasa sudah pintar dan tidak mau lagi belajar. Menjadi penulis, harus selalu haus ilmu. Aku tidak keberatan menjadi orang bodoh. Karena dengan begitu, kita akan bisa memperbaiki kualitas tulisan, menambah wawasan. Kalau mudah puas, sudah pasti tulisan tidak akan berkembang. Itu hal yang paling menakutkan buatku.
Aku tidak akan berhenti menulis selagi ada penerbit yang berkenan menerbitkan tulisanku. Berhenti menulis rasanya mustahil karena aku mencintai dunia ini luar biasa besar. Buku ke-25 ini takkan membuatku berhenti berkarya. Aku sangat berharap ada buku ke-57, ke-81, atau ke-110.

Amiiiin lagi ^^ Semoga sukses dan terus berkarya buat Mbak Indah Hanaco untuk dunia literasi kita.

------------------GIVEAWAY TIME----------------------


Nah, sekarang waktunya saya dan Mbak Indah membagikan satu eksemplar buat kamu yang ingin menelusuri Skandinavia bersama Sophie dan Jamie :)

Syaratnya mudah saja:

1. Peserta adalah warga negara yang berdomisili di Indonesia atau punya alamat kirim di Indonesia.
2. Follow twitter @IndahHanaco dan @KendengPanali
3. Share giveaway ini dengan hashtag #OutofTheBlue dan jangan lupa mention kami berdua.
4. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menyertakan nama, twitter, link twit dan alamat email. Pertanyaannya adalah:

Jika kamu tahu cowok yang dekat dengan sahabatmu adalah cowok berengsek, apa yang akan kamu lakukan sementara sahabatmu tergila-gila pada cowok itu?

5. Giveaway akan berlangsung selama 5 hari. Giveaway akan ditutup tanggal 23 November 2015 pukul 23.59. Pemenang diumumkan tanggal 24 November 2015.
6. Yang terakhir good luck yaa :))

*****************************************

Akhirnya giveaway blogtour di Nurina Mengeja Kata telah berakhir. Terima kasih kepada Mbak Indah Hanaco yang sudah mempercayakan penyelenggaraan blogtour ini di blog saya.
Terima kasih juga untuk semua peserta yang sudah meramaikan giveaway ini. Kalian adalah sahabat-sahabat yang keren dan setia kawan. Jawaban kalian bikin saya terharu dan merasa iri pada sahabat kalian karena punya seseorang yang perhatian seperti kalian.

Namun karena saya hanya bertugas membagi satu eksemplar novel Out of The Blue, maka saya hanya bisa memilih satu pemenang, dan dia adalaaaaaah:

Nama: Lala
Twitter: @fazidaa_


Selamaaaaat!! Sila kirim data diri dan alamat kirim kamu ke nurinawidiani84@gmail.com dan saya tunggu dalam 2x24 jam.

Bagi yang belum beruntung, jangan sedih karena masih ada kesempatan untuk mendapatkan novel ini di dua blog berikutnya:

24 - 28 November 2015 bookluvluv.blogspot.co.id

29 Nov - 3 Desember 2015 rizkymirgawati.blogspot.co.id

Sampai jumpa di blogtour & giveaway selanjutnya. Dan terus ikuti review-review saya ya :))
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon