Tampilkan postingan dengan label thriller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thriller. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2016

[Blogtour & Giveaway] Seaside - Zee

Judul buku: Seaside
Penulis: Zee (Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie)
Penyunting: Misni Parjiati
Tata sampul: Amalina
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 236 halaman
ISBN: 978-602-391-263-6



BLURB

Awalnya, dia hanya gadis biasa. Juga mulai terbiasa menghadapi guncangan besar ketika ayahnya masuk penjara akibat ulah musuh-musuhnya. Tapi, begitu dibutakan oleh amarah, dia mulai mengumpulkan setiap informasi dan menyusun rencana balas dendam.

Gadis itu membuat kesepakatan dengan iblis. Langkah penuh risiko dia lalui, dibantu oleh seseorang yang masih misterius.

Satu demi satu targetnya berjatuhan. Dan dia menikmati setiap tetes darah yang mengalir di tangannya. Apakah masih ada tempat untuk nurani? Apakah dia masih mampu memaafkan?


RESENSI

Ketika sang papa yang sedang menyelidiki kasus korupsi dijebak dan dijebloskan ke dalam penjara, Aku merasa berang. Papa adalah satu-satunya keluarga yang Aku miliki, setelah Aku merasa kecewa karena sang mama dan saudara-saudaranya menolak mendukung papa. Dengan hati-hati, Aku merencanakan balas dendamnya. Baginya tak cukup dengan mata dibalas mata, Aku menginginkan lebih. Aku menginginkan nyawa mereka yang telah membuat papanya dipenjara. Para pejabat korup, dan juga para penegak hukum yang mudah tergiur uang.
Aku mulai menyusuri jalan kelamnya. Memulai dari sang informan, Aku bertemu dengan Anon, seseorang yang melatih fisik dan mentalnya sebagai pembunuh tak kenal ampun. Namun bukan hanya dari Anon, Aku mengasah dirinya. Aku juga bertemu pemuda seusianya, yang melatihnya sebagai pelacur, demi bisa mendekati para pejabat korup. Dan dari pemuda itu pula, Aku menemukan kenyamanan dan kepercayaan. Namun bisakah rencananya berjalan mulus hingga akhir?

------------------------------

Seaside merupakan karya ketiga Ziggy yang telah saya baca. Dan saya masih saja dibuat terpukau dengan betapa bunglonnya gaya bertutur Ziggy. Sudah tiga bukunya saya baca, tapi saya menemukan dimensi yang lain dari novel-novel sebelumnya. Membaca Seaside seperti menyusuri labirin Square Maze di acara Benteng Takeshi. Tahu kan? Itu lho labirin dengan banyak pintu dan 2 algojo kekar yang bisa-bisa tiba-tiba ada di balik pintu. Nah, seperti itulah yang saya rasakan saat membaca novel ini, prepare for the worst but still hoping for the best. Jadi saya hanya mampu mengikuti laju kisah ini dan berharap dengan berdebar-debar. Karena saya percaya, Ziggy selalu mampu mengejutkan saya dengan twistnya, dan benar saja. Ha!

Membuka bagian awal novel ini, yang langsung menarik perhatian saya adalah judul tiap babnya. Semua judul diawali dengan sea: Seance, Sealion, Seaweed, Seabed, Seafood, Seasick, Search, dan seterusnya. Total ada sebelas part dan satu epilog yang menggunakan judul dengan kata sea. Hal yang cerdas dan unik menurut saya.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu Aku, sehingga saya dihanyutkan pada seluk beluk pikiran Aku yang diliputi dendam dan kecurigaan. Menarik untuk ditelusuri dan bikin bergidik di beberapa bagiannya. Saya merasakan kengerian, kesadisan dan kecemasan yang melingkupi kisah ini. Namun saya juga menemukan romantisme yang manis di tengah keriuhan dendam. Membuat saya sempat berharap.
Seaside mengambil beberapa setting tempat, di Lampung, Bandung, Jakarta, bahkan hingga ke Scheveningen. Semua settingnya dideskripsikan dengan detail yang apik dan rapi. Diksi yang digunakan Ziggy dalam Seaside begitu kaya dan unik, benar-benar enak untuk dinikmati. Dialognya begitu luwes dan hidup. Ini sebabnya saya sangat menyukai Seaside, karena chemistrynya pun terasa sangat tebal dan kuat.

Membaca novel ini adalah mencecap rasa karya Ziggy yang lain; rasa yang lebih menyengat, rasa yang membuat bergidik, rasa yang lebih brutal. Ziggy cukup terperinci dengan adegan pembunuhan para target Aku. Semua dengan cara yang berbeda, dan semua menakjubkan. Tapi meski berdarah-darah dan berlumur dendam, Ziggy mengimbangi kesadisan Aku dengan romance gelap yang dirasakan Aku. Walau haus darah, Aku nyatanya toh tetap gadis polos yang bisa jatuh cinta.

Ziggy pernah memukau saya dengan musik-musik klasik yang berjejalan di dalam novelnya, di Seaside pun, Ziggy masih melakukannya. Beberapa judul lagu, nama penyanyi dan nama band bertebaran di dalam novel ini, menarik dan bikin penasaran. Terutama lagu yang kemudian seolah menjadi soundtrack Aku dalam melakukan pembunuhan.

"Peristiwa yang mengubah manusia itu selalu menarik. Perubahan manusia sendiri menarik. Dan manusia yang berubah... they're more than fascinating." (hlm. 145)

Karakter dalam novel ini begitu bulat dan matang. Saya merasakan transformasi Aku dari gadis biasa namun keras kepala menjadi mesin pembunuh andal dan berdarah dingin. Bisa dibilang ia menghabisi para targetnya tanpa berkedip, tanpa ragu. Aku hanya merasakan saat-saat emosional saat bersama partner in crimenya. Tokoh-tokoh yang bergantian muncul untuk membantunya pun punya karakter yang khas. Mereka muncul dan langsung memikat saya, dengan gaya yang asyik, rasanya mudah saja untuk menyukai mereka.

"Bahkan meskipun mereka nggak akan menghargai pengorbanan kamu, pada akhirnya kalau kamu berjuang, kamu nggak akan pernah menyesal. Mungkin saja kamu salah. Mungkin saja kamu kalah. Tapi kamu nggak jatuh tanpa perlawanan. Meski kamu bisa saja kecewa dengan hasilnya, kamu nggak akan kecewa dengan prosesnya. Dan itu yang membuat kamu kuat—itu yang membuat kamu berarti." (hlm. 111)

Dari Seaside saya merasa Ziggy ingin menyentil hukum yang kadang begitu mudah dibeli. Kadang hukum begitu mudah mengkhianati kebajikan dan malah memuja uang. Di situlah balas dendam berbicara. Namun sekali Aku mengambil langkah ke dalan rasa dendam yang kelam, nggak ada jaminan untuk kembali. Nggak ada waktu untuk menyesali, selain maju dan menuntaskan semuanya hingga akhir. Dan menanti. Apakah dendam bisa berhenti. Atau justru dendamnya memunculkan rasa dendam yang lain lagi.
Saya sungguh sangat menikmati buku ini, sampai-sampai saya mempertanyakan diri saya sendiri, apa saya diam-diam punya jiwa psikopat? Namun terlepas betapa mengerikannya aksi Aku, keahlian bercerita Ziggylah yang membuat novel ini begitu hidup. Namun saya tetap merekomendasikan novel ini bagi dewasa muda, atau bagi yang kuat membaca adegan pembunuhan.


*******GIVEAWAY TIME*******



1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun twitter @divapress01 dan akun saya @KendengPanali juga like fanpage Penerbit Diva Press

3. Share info giveaway ini dengan hashtag #GASeaside dan jangan lupa memention kedua akun di atas.

4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via email, G+ atau GFC yang bisa dilihat di bagian bawah postingan ini. (Optional saja dan nggak memaksa).

5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyebutkan nama | domisili| akun twitter | alamat email. Dan pertanyaannya adalah:

Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

6. Giveaway akan berlangsung selama sepekan dan ditutup pada tanggal 14 November 2016 pukul 23.59 WIB.

7. Pengumuman pemenang akan diumumkan tanggal 15 November 2016, bagi yang belum beruntung bisa mengikuti GA di bloghost selanjutnya: Alvina

8. Jika ada pertanyaan, jangan segan colek saya di akun saya, ya. Good luck :))

******UPDATE******

Haii... sepekan sudah giveaway novel ini berlangsung. Terima kasih yaa untuk para peserta yang luar biasa. Jawaban kalian banyak yang bijak meski ada juga yang lucu. Tapi yang terpenting ternyata teman-teman keren banget karena bisa menyisihkan dendam dan amarah.

So, sekarang saya akan mengumumkan satu nama yang beruntung karena jawabannya saya anggap lumayan kocak, mengimbangi kelamnya novel ini, dan karena mengingatkan saya pada Anon 😉 Dan yang beruntung adalaaaaah....

Dani N.
@dnv22

Selamaaaaat... Saya tunggu data nama dan alamat lengkap kamu lewat dm atau email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2 x 24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan sedih yaaa... Karena masih ada dua host lagi yang menyelenggarakan blogtour ini. Dan karena saya masih punya dua giveaway buku unyu di bulan ini.
Keep reading ya, gaeesss 😊😊

Minggu, 14 Agustus 2016

[Resensi] Tiga Sandera Terakhir - Brahmanto Anindito

Judul buku: Tiga Sandera Terakhir
Penulis: Brahmanto Anindito
Penyunting: Hermawan Aksan, Miranda Harlan
Penata aksara: Aksin Makruf
Desainer sampul: Oesman
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: Mei 2015
Tebal buku: 316 halaman
ISBN: 9786020989471



BLURB

Penyanderaan brutal terjadi di sebuah desa di Papua. Korbannya lima orang—warga negara Indonesia, Australia, dan Perancis. Semua telunjuk segera mengarah ke OPM, Organisasi Papua Merdeka. Namun, OPM sendiri menyangkalnya. Mereka menegaskan bahwa pihaknya sudah lama tidak menggunakan cara-cara ekstrem seperti itu, demi perjuangan kemerdekaan Papua Barat.

Lantas, siapa dalang penyanderaan itu? TNI enggan berteka-teki terlalu lama. Satuan Antiteror Kopassus di bawah pimpinan Kolonel Larung Nusa segera diturunkan ke Bumi Cenderawasih. Tapi, malang tak bisa ditolak. Korban malah berjatuhan, baik di pihak sandera maupun anggota Kopassus. Salah seorang anggota bahkan dinyatakan hilang secara misterius di belantara Papua.

Kolonel Nusa mulai menyadari bahwa lawannya ini bukan sekadar milisi OPM. Melainkan pasukan khusus seperti dirinya.

RESENSI

Lima orang turis diculik dan disandera oleh sekumpulan orang-orang asli Papua yang mengaku sebagai bagian dari OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kelima orang tersebut terdiri atas dua turis domestik dan tiga turis asing. Keinginan para penyandera hanya satu, jika ingin sandera selamat maka Papua harus diberi kemerdekaan.
Maka dikirimlah Kolonel Inf. Larung Nusa yang baru saja menjabat sebagai Komandan Gultor. Suatu pengangkatan yang penuh kontroversi karena Larung Nusa sendiri adalah menantu dari Menteri Pertahanan RI.
Demi membuktikan diri, Larung Nusa berusaha sebaik mungkin memimpin operasi pembebasan para sandera. Tapi sebisa mungkin ia ingin mengupayakan jalur negosiasi. Sayang pihak penyandera memilih jalan lain. Ketika seorang sandera ditemukan tewas, maka Larung Nusa pun mulai memimpin operasi penyerbuan.
Sayang penyerbuan itu memakan korba dari pasukan Larung Nusa. Seorang anggota meninggal, dan seorang lagi hilang. Larung Nusa pun mendapat hukuman skors.
Tapi ternyata, itu baru awal. Ada sesuatu yang lebih besar yang mengincar keamanan NKRI. Larung Nusa harus membuat pilihan, apakah bersedia membentuk pasukan hantu dan merekrut mantan anggota TNI sebagai anggota tim, atau memilih kembali ke Jakarta.
Bisakah Larung Nusa menyibak siapa dalang dibalik penyanderaan ini dan menemukan tiga sandera terakhir?

------------------------------

Membaca novel thriller selalu menjadi keasyikan tersendiri jika saya mulai jenuh dengan kisah romance. Itulah mengapa saya memilih membaca novel Tiga Sandera Terakhir karya Brahmanto Anindito ini. Pilihan yang ternyata sangat tepat karena mood baca saya yang tadinya mpot-mpotan bisa balik bergairah lagi. Hahah...

Tiga Sandera Terakhir merupakan novel thriller militer yang menghadirkan tema ketegangan tiada usai antara Indonesia dan Papua. Kita tahu bahwa OPM merupakan organisasi yang nyata yang mempunyai tuntutan untuk merdeka dan melepaskan diri dari Indonesia. Sebagai kisah usang namun juga selalu hangat, tema ini memang sangat menarik jika disajikan dalam sebuah kisah fiksi.
Dan meski tokoh utama serta kisahnya hanya fiksi, Tiga Sandera Terakhir terasa nyata senyata-nyatanya. Konstruksi ceritanya dibangun dengan penuh detail—termasuk detail sejarah dan budaya—juga plotnya ditulis dengan sangat rapi. Gaya bertutur Brahmanto Anindito mengalir dan enak dibaca.
Walau lumayan membosankan di awal kisah, tapi saya dibuat takjub dengan strategi yang dirancang Kolonel Larung Nusa. Ketegangan di paruh awal memang rada ngeselin. Beberapa kali para sandera membantah dan seolah cari mati. Saya sampai geregetan karena takut satu salah ucap saja bisa bikin para penyandera itu murka dan membunuh mereka.

Bagian seru baru muncul saat operasi pembebasan sandera dimulai. Lumayan menegangkan dan bikin saya nggak bisa berhenti baca. Mulai dari situ hingga ke pembentukan pasukan hantu, saya sudah nggak bisa lagi berpaling dari novel ini. Ikut kesal waktu Larung Nusa diskors, dan merasakan antusiasme saat Larung Nusa mengumpulkan kru bagi pasukan hantunya. Suasana jadi lebih cair karena anggota pasukannya adalah mantan anggota militer. Bedanya kerasa banget antara operasi pembebasan sandera yang dilakukan tim gultor pimpinan Larung Nusa, dengan operasi penyerbuan dalang penyanderaan yang dilakukan oleh pasukan hantu.
Mungkin seperti yang telah disinggung di awal novel, bahwa prajurit bekerja sesuai perintah atasan, jadi hubungan mereka terasa kaku dan kurang akrab karena seolah masih ada garis hierarki. Namun bersama pasukan hantunya, Larung Nusa bisa bersikap santai dan saling bercanda. Itu sebabnya paruh akhir kisah ini sangaaaaaaat menarik diikuti.
Dialognya lebih seru, kocak dan sedikit mengendurkan ketegangan. Juga joke tentang sepakbola itu masuk ke dalam cerita dengan mulus banget dan bagi saya sangat cerdas. Yap, sepakbola bisa menyatukan Indonesia ternyata.

Aksi di paruh akhirnya benar-benar tegang mampus. Kayak nggak diberi jeda untuk bernapas. Detail adu senjata dan adu tangan kosongnya keren. Tokohnya dibuat jatuh bangun dan berjuang dengan usaha yang keras. Benar-benar kayak lagi nonton film laga. Saya suka dengan novel thriller yang musuhnya sulit dikalahkan, jadi biar endingnya bisa benar-benar nyeeees. 

Yang saya suka adalah kentalnya logat dalam dialog yang dipakai para tokoh novel ini. Beberapa tokoh tampil dengan identitas daerahnya. Para pasukan OPM dan orang asli papua menggunakan logat khas mereka, kemudian anggota tim Larung Nusa juga ada yang menggunakan bahasa jawa, sang danjen  juga menampilkan bahasa lo-gue. Semua membuat novel ini terasa berwarna dan terasa Indonesia banget.
Hanya saja saya merasa bakal lebih nikmat jika keterangan tentang istilah atau penerjemahan bahasa bukan dikelompokkan di halaman akhir buku tapi ditulis sebagai catatan kaki. Jadi saya nggak perlu repot-repot nengok ke belakang.

Tokoh favorit saya di novel ini adalah Witir Femmilio, si mantan anggota Denjaka. Kocak orangnya, tapi pas bertempur, duuuh berasa jantan dan laki banget. Tapi masih aja nyelipin rayuan buat Nona. Wkwkwk~
Sementara untuk adegan favorit jelas waktu Larung Nusa berantem sama si dalang. Seruuuu dan menegangkan.
Dan yang bikin merinding sekaligus terharu adalah saat saya menyadari siapa yang dimaksud dengan tiga sandera terakhir. Hiks. Ngilu rasa hati saya jadinya.

Tapi epilognya berasa masih kuraaaaang. Saya pengin tahu nasib Larung Nusa. Bagaimana pandangan orang terhadapnya. Pengin ada yang mengakui bahwa dia memang mampu, karena akhirnya bisa membuktikan bahwa dia kompeten. Tapi nggak ada. Huhuuu...

Secara keseluruhan, saya sukaaaa banget dengan novel ini. Banyak pengetahuan tentang sejarah papua, tentang strategi taktis, tentang latihan militer juga betapa serunya operasi militer berjalan. Saya rekomendasikan novel ini bagi kalian yang suka kisah penuh ketegangan, teror dan aksi baku hantam. Seru banget. Sungguh.



Kamis, 05 Mei 2016

[Resensi: Les Masques - Indah Hanaco]


Judul buku: Les Masques
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Anin Patrajuangga
Desain kover: Sapta S Soemowidjoko & Lisa Fajar R
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Maret 2014
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 9786022514657



BLURB

Fleur Radella, lahir karena kebuasan hasrat yang tak bisa ditolak. Elektra Valerius, jiwa berani yang terpaksa bersemayam di tubuh yang salah. Tatum Honora, gadis pemurung yang tercipta karena ketidakmampuan manusia menundukkan diri sendiri.

Semua yang dimulai di masa lalu, tak seharusnya menjadi hantu yang menempel tanpa pengampunan. Lalu Adam Dewatra hadir. Menggenapi jejak horror masa lampau.

RESENSI

Kehidupan masa kecil yang dijalani Fleur Radella benar-benar menyedihkan. Lahir dari hasil pemerkosaan, neneknya, Marini, tak pernah menghujani Fleur dengan kasih sayang. Apalagi Reene Isabel, sang ibu yang mempertahankan kehamilannya walau masih SMA, meninggal setelah melahirkan Fleur. Maka semakin besarlah kebencian dan kemarahan Marini yang dilampiaskan pada Fleur. Anak kecil yang polos dan tanpa dosa.
Tak terhitung berapa kali Marini melenyapkan senyum Fleur. Puncaknya ketika Fleur berusia empat tahun, Marini mengunci Fleur di dalam kamar mandi yang gelap dan jarang digunakan. Tanpa peduli tangis histeris Fleur, Marini tak mengizinkan Nana, pengasuh Fleur untuk membukanya. Kala itulah diantara rasa takut Fleur, Elektra Valerius terlahir. Jiwa yang meledak-ledak, spontan dan cerdas bukan main.
Selepas kejadian itu Fleur bukanlah anak kecil yang sama, ia menjadi pendiam dan pemalu. Sifat yang malah mendorong orang-orang di sekitarnya semakin berlaku abusif. Termasuk Xander, saudara kembar ibunya, yang ikut memanfaatkan kesempatan untuk membuat permainan "Heaven" dengan si kecil Fleur. Yang menyebabkan lahirnya Tatum Honora, jiwa muram yang terluka.

Di masa SMA, Fleur terpilih menjadi salah satu finalis cover girl majalah Dara. Tidak ada yang menyangka, Fleur yang pemalu bisa berani ikut audisi dan lolos sebagai finalis. Fleur sendiri heran bukan main, kapan ia menjalani audisi? Mengapa wajahnya bisa tiba-tiba ada di dalam majalah?
Ketika Fleur akhirnya menang menjadi pemenang pilihan pembaca dan mulai ditawari untuk menjadi model, tentu saja Marini melarangnya. Dan... serangkaian kejadian tak enak pun terjadi. Marini meninggal misterius. Para model dan artis yang mencaci Fleur dibungkam satu-persatu. Sutradara yang mencoba melecehkan Fleur babak belur secara misterius.
Namun tentunya ada hal indah pula yang terjadi. Kebahagiaan terbesar saat Fleur bertemu Enrico, mantan kekasih Audrey. Bersama Enrico, Fleur merasakan apa artinya jatuh cinta. Tapi akankah kisah mereka berakhir bahagia?

----------------

Tarik napas... cari tempat duduk... sepertinya ulasan saya bakalan panjang. Haha...

Saya bagai menemukan harta karun saat membaca Les Masques. Saya mengenal Indah Hanaco sebagai penulis novel roman. Bukan roman menye-menye tentu saja, Indah Hanaco selalu membuat karakter heroine yang kuat dan mandiri. Tangguh. Itu yang saya suka dari penulis ini dan mengapa saya setia mengikuti karyanya.
Dalam novel-novel karyanya, Indah juga sering menyelipkan kepahitan hidup sebagai landasan psikologis tokoh-tokohnya. Yang membuat para tokoh ini bulat dan berdimensi. Beberapa kisah bergulir pula dengan kesan semi thriller seperti Tuhan untuk Jemima dan Cinta Sehangat Pagi. Roman berbalut thriller psikologis, yang mungkin memang di luar nalar tapi benar-benar ada.
Les Masques mengambil tema tentang gangguan identitas disosiatif atau yang dulunya disebut gangguan kepribadian majemuk. Ada beberapa kepribadian yang muncul akibat trauma masa kecil yang dialami Fleur. Kepribadian-kepribadian ini kemudian berkembang dan berniat melindungi Fleur dengan caranya masing-masing walau kemudian jadi semakin ekstrim.

Di kala membaca novel Tuhan untuk Jemima dan Cinta Sehangat Pagi, saya merasa sudah deg-degan mampus. Tapi ternyata itu belum seberapa dibanding ketika saya membaca novel Les Masques.
Pertama kali di awal saya dibawa jatuh iba pada Fleur kecil, saya mudah terenyuh, sedih jika jiwa-jiwa kecil yang seharusnya dilimpahi kasih sayang itu disakiti. Bukan hanya dalam bentuk fisik tapi juga secara mental. Terutama mental. Saya tahu betapa menyakitkannya diabaikan. Bahkan saya, yang sudah berusia kepala tiga, masih nggak kuat dengan pengabaian. Saya bisa down dan Anxiety Disorder saya mulai muncul hanya karena pengabaian.
Masih belum cukup dengan satu luka, ternyata ada luka lain yang dialami Fleur. Pelecehan dari pamannya sendiri. Di halaman awal Indah Hanaco sempat mengucapkan permintaan maaf atas penggunaan lagu Heaven dari Bryan Adams. Yaa.. lagu tersebut digunakan Xander sebagai pengiring kegiatan bejatnya. Itulah mengapa ia memberi nama "permainan" yang ia peragakan sebagai Heaven. Saya sendiri penyuka Bryan Adams apalagi lagu Heaven, tapi saya merasa nggak masalah. Seperti halnya Aoyama Gosho menggunakan lagu Let It Be sebagai lagu pengantar yang disiulkan si pembunuh dalam kasus Copycat Murder. Bisa dipahami mengapa Xander menggunakan lagu Heaven, selain lagunya memang berefek menenangkan, itu memang merupakan surga baginya. Tapi tentu saja neraka bagi Fleur dan Tatum :(

Di novel ini saya merasakan kebebasan Indah Hanaco dalam berekspresi. Saya sering mengemukakan mengapa kadang karya Indah Hanaco seolah kurang luwes dan kurang ekspresif. Seolah ada batasan tak kasat mata yang membuatnya kurang lepas. Di sini saya menemukan kisah yang diriset dengan baik, dipaparkan dengan lugas dan dituliskan dengan sepenuh hati.
Memang ada bagian yang saya rasa bisa didebat dan dipertanyakan seperti mengapa Reene tetap dioperasi caesar padahal tekanan darahnya terus naik.

Mengenai karakter, cukup banyak tokoh yang bermunculan dalam novel ini. Marini terasa dingin, menjaga jarak dan kaku. Kelihatan banget kalau dia nggak mau kompromi. Nana, sang pengasuh, meski sayang dan mencintai Fleur tapi juga nggak bisa berbuat banyak.
Enrico adalah cowok khasnya Indah Hanaco. Manis, sopan dan mudah dicintai. Kisah roman antara Enrico dan Fleur cukup memberi kehangatan dan meredam ketegangan.
Masih ada pula Utari, Xander, Audrey dan tokoh lain yang khas pengkarakterannya. Dan bisa saya bilang kalau interaksinya menarik dan luwes.

Sejak awal saya memang sudah menduga siapa Elektra dan Tatum, mengapa mereka muncul pun saya bisa memahami. Yang membuat saya terkejut justru kelahiran Adam dan siapa pelaku yang memicunya. Bom terakhir yang disimpan Indah Hanaco dan kemunculannya memberi ruang bagi saya untuk berimajunasi.
Endingnya sudah pas menurut saya. Layaknya novel atau film thriller yang endingnya memunculkan misteri lainnya, ending Les Masques memberi saya kesempatan untuk membuat ending sendiri.

Bagi saya novel ini jadi favorit saya, karena di sinilah saya menemukan kesejatian Indah Hanaco. Saya menemukan karyanya yang sepertinya ia tulis tanpa beban dan dicurahkan dengan tulus. Bukan berarti novel lainnya tidak ia tulis dengan rasa cinta, tapi di Les Masques saya merasakan kenikmatannya dalam berbagi.
Semoga saja Indah Hanaco kembali membuat novel semacam ini tentu saja yang lebih tebal dan lebih mendalam.

Selasa, 03 Mei 2016

[Resensi: Rencana Besar - Tsugaeda]


Judul buku: Rahasia Besar
Penulis: Tsugaeda
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang sampul: Upiet
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Agustus 2013
Tebal buku: 378 halaman
ISBN: 978-602-7888-65-4



BLURB

RIFAD AKBAR
Pemimpin Serikat Pekerja yang sangat militan dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya.

AMANDA SUSENO
Pegawai berprestasi yang mendapat kepercayaan berlebih dari pihak manajemen.

REZA RAMADITYA
Pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan jelas.

Lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeret tiga nama itu ke dalam daftar tersangka. Seorang penghancur, seorang pembangun, dan seorang pemikir dengan motifnya masing-masing. Penyelidikan serius dilakukan dari balik selubung demi melindungi UBI.

Akan tetapi, bagaimana jika kasus tersebut hanyalah awal dari sebuah skenario besar? Keping domino pertama yang sengaja dijatuhkan seseorang untuk menciptakan serangkaian kejadian. Tak terelakkan, keping demi keping berjatuhan, mengusik sebuah sistem yang mapan, tetapi usang dan penuh kebobrokan....


RESENSI

Makarim Ghanim adalah pendiri Makarim G. and Co., sebuah perusahaan penyedia jasa konsultasi terpadu bagi perusahaan-perusahaan yang mempunyai masalah pengaturan sumber daya. Tiba-tiba saja, kawan lamanya semasa kuliah dulu, Agung Suditama, mendatanginya untuk meminta bantuan Makarim.
Agung yang merupakan wakil direksi Universal Bank of Indonesia meminta Makarim mengusut kebocoran  uang 17 miliar rupiah dalam bank itu. Kasus yang sangat aneh, karena menurut penelusuran jejak audit, semuanya wajar. Pembukuannya seimbang. Tapi pihak manajemen yakin ada penyusutan sebesar angka itu. Agung menyodorkan tiga nama yang harus diselidiki Makarim: Rifad Akbar, Reza Ramaditya dan Amanda Suseno. Agung yakin 100% bahwa pelakunya adalah salah satu dari mereka.
Meski bukan pekerjaan yang biasa ia tangani, Makarim menerima pekerjaan ini. Ia pun terbang ke Surabaya ke tempat ketiga orang tersangka ditempatkan. Menyelidik di sini dan mengendus-endus di sana. Makarim dengan segera bisa menemukan siapa pelaku fraud di UBI. Namun ketika ia merasa yakin siapa pelakunya, telepon dari mantan istrinya memberi informasi yang membuat kasus UBI ini lebih terang... secara mengerikan.
Ini bukan pembobolan biasa. Ada pesan yang diselipkan dalam pembobolan ini. Deretan angka uang yang hilang adalah Rp. 17.679.122.980,90 dengan segera membawa Makarim pada satu nama lagi Ayumi Pratiwi.
Siapa Ayumi? Apa hubungan Ayumi dengan ketiga orang yang dicurigai Agung? Benarkah ada rencana besar yang sedang disusun di dalam UBI?

------------

Meski novel Rencana Besar ditulis lebih dulu dari Sudut Mati, saya malah baca Sudut Mati lebih dulu dan pernah saya ulas di sini. Sejak itu saya udah ngebet banget pengin baca Rencana Besar.

Sebagai novel karya pertama Tsugaeda, Rencana Besar bener-bener bikin saya terpukau. Plotnya gak perlu ditanya deh, rapi dan apik. Gaya bertuturnya runut dan jelas, detailnya bisa saya pahami. Meski saya anak ekonomi tapi awalnya saya syok dengan istilah-istilah dalam novel ini. Wkwkwk~ saya jadi merasa duh saya dulu kuliah merhatiin dosen nggak sih? XD
Kembali ke novel ini... saya menemukan asyiknya menyatukan kepingan-kepingan informasi yang diberikan Tsugaeda dengan sabar. Caranya bertutur nggak terburu-buru, sempat mengecoh namun kemudian memberi clue yang efeknya dahsyat dan menyeret saya pada rasa penasaran yang makin besar.
Beneran asyik banget baca novel ini.

Settingnya pada awalnya terjadi di Jakarta di tahun 2012... kemudian beralih ke Surabaya. Lalu di tengah-tengah cerita, saat misteri hampir terkuak, saya dibawa menyusuri kejadian awal perekrutan Rifad, Amanda dan Reza oleh UBI di tahun 2009.
Konflik perbankan yang diusung novel ini juga menjadi masalah yang mudah menarik perhatian saya. Aah... seru banget bacanya.

Meski aura kemisteriusan dan thriller-nya nggak sebesar Sudut Mati tapi rasa penasaran saya benar-benar dibangkitkan. Pokoknya saya suka banget sama novel ini.
Tokohnya juga kuat dan saling melengkapi. Makarim dibuat nggak hero-hero amat tapi malah pas. Karena karakter tiga orang yang diburunya saja sudah wooow... ngeri banget. Hahaha...

Saya merasa terjanjikan setelah komplit membaca dua novel Tsugaeda. Saya nggak bakal pikir panjang buat membaca karya Tsugaeda berikutnya. Semoga saja novel-novel thriller bermutu dan segar seperti ini banyak bermunculan dan punya tempat di hati pembaca.

Rabu, 02 Desember 2015

[Resensi: Pulang - Tere Liye] Memaknai Kepulangan Sang Jagal Jenius


Judul buku: Pulang
Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Penerbit: Republika
Tahun terbit: November 2015 (cetakan VI)
Tebal buku: iv + 400 halaman
ISBN: 978-602-08-2212-9



BLURB

"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya."

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

RESENSI

Di usia lima belas tahun, untuk pertama kalinya Bujang bertemu dengan Tauke Besar. Lelaki itu datang ke kampungnya di lereng bukit barisan untuk memburu babi hutan yang telah merusak sawah milik warga. Tanpa Bujang sadari, itulah ujian pertamanya.
Hari itu ketika ia ikut berburu babi hutan dan berhadapan dengan babi hutan terbesar yang pernah dihadapinya, Bujang telah membuka pintu lebar-lebar untuk takdir masa depannya. Takdir sebagai putra tunggal jagal paling ditakuti di ibukota propinsi. Takdir yang membawanya pergi dari rimbunnya hutan bukit barisan, dan meniti jalannya di tengah Keluarga Besar Tong, penguasa bisnis ilegal di ibukota Propinsi. Hanya satu pesan mamaknya, Bujang harus menjaga perutnya dari makanan dan minuman haram.
Semula, Bujang berpikir ia akan dijadikan tukang pukul seperti sebagian besar orang yang direkrut Tauke Besar, tapi ternyata ada rencana lebih besar yang disiapkan Tauke Besar. Rencana yang membuat Bujang dua puluh tahun kemudian menjelma menjadi Si Babi Hutan, penyelesai konflik tingkat tinggi Keluarga Tong dalam dunia shadow economy.
Bisikkan nama Si Babi Hutan maka orang-orang akan terkencing-kencing ketakutan, suruh Si Babi Hutan bicara maka presiden pun akan duduk terdiam mendengarkan.
Namun, sejauh-jauh elang terbang, ia pastinya harus pulang ke sarang, akankah Bujang juga pulang? Akankah ia menemukan kedamaiannya atau ia sudah terlalu berlumur darah untuk kembali pulang?

Di keluarga ini, seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait-mengait. (hlm. 315)
------------

Diceritakan dengan sudut pandang Bujang sebagai orang pertama, novel Pulang langsung memberi gebrakan melalui openingnya. Pembuka yang memberi debaran ketegangan dan rasa penasaran, yang kemudian disusul dengan adegan perpisahan yang menyesakkan. Dan memberi landasan yang kuat untuk konstruksi ceritanya.

Penokohannya kuat dan bulat. Masing-masing tokoh memiliki karakter yang mudah diingat dan menempel erat.
Yang mengesankan tentu saja karakter Bujang; jenius, kuat, nggak kenal takut dan jadi jagal nomor satu. Bujang sanggup menyelesaikan ujian apa pun. Bahkan misi yang mustahil bisa diselesaikannya meski dengan proses yang cukup lama. Tapi tetap saja rasanya superhero banget bagi saya. Susah dibayangkan bisa dilakukan oleh manusia biasa.
Saya suka penggunaan aksen Sumatra kental yang dipakai dalam gaya bicara tokoh Tauke Besar, Kopong dan Samad. Hal itu menjadi penguat setting yang cermat.

Mengangkat tema dunia shadow economy yang mengerikan, Tere Liye begitu cermat dan mendetail dalam deskripsinya. Banyak penjelasan diberikan, dan detail pertarungan yang jelas membuat suasana terbangun dengan mudah dalam pikiran saya.
Ceritanya mengalur dengan melompat-lompat antara masa kini dan masa lalu, namun saya tetap bisa mengikutinya karena cara bertutur Tere Liye yang mengasyikkan. Di satu waktu terasa tegang dalam situasi baku hantam dan ledakan-ledakan, di kala lain terasa mengharukan dengan eratnya ikatan keluarga dan loyalitas.
Saya begitu menikmati dan menunggu dengan berdebar-debar taktik apa yang akan digunakan Bujang. Bersiap menanti kejutan yang membuat terperangah.

Namun entah mengapa di bab delapan saat Bujang bertemu White, Tere Liye nggak langsung menyebutkannya sebagai putra Frans, padahal informasi itu sudah ada di bab sebelumnya ketika Frans bercerita tentang masa lalunya. Saya rasa kalimat-kalimat penutup bab delapan itu akan menjadi twist yang seru jika saja di bab sebelumnya, Frans nggak perlu menyebutkan nama putranya, cukup profesinya saja.

Saya mencatat dua kali Tere Liye melakukan pola yang sama dalam mengaduk emosi pembaca. Memutar balik suasana kegembiraan menjadi suasana sedih haru yang menyayat. Pada kesempatan pertama saya terlena dan menangis, di kesempatan kedua, mungkin karena saya sudah mengantisipasinya, saya nggak lagi merasakan twist-nya. Momennya sama, suasananya sama, waktu kejadiannya sama dan adzan subuh yang sama. Namun ternyata adzan inilah yang nantinya cukup berperan dalam penyelesaian.

Dan ketika tiba di konflik yang telah meninggi, di saat ketegangan memuncak dan saya siap menyaksikan gebrakan di bab berikutnya, saya dibawa kembali oleh penulis untuk menyusuri masa lalu, membuat ketegangan yang tadinya mendidih tertunda, diberi jeda. Membuat saya penasaran setengah mati akan kelanjutan situasi yang saya tinggalkan tadi. Cck! Bikin tambah tegang saja.

Sosok si pengkhianat sudah saya duga sejak awal. Dalam buku-buku seperti ini sudah bisa diduga orang paling dekatlah yang akan berkhianat. Sejak awal Tere Liye nggak berusaha menutup-nutupi atau berusaha mengalihkan kecurigaan pembaca pada tokoh lain, ini membuat saya senang karena bisa menikmati membaca buku ini tanpa harus curiga pada siapa pun, hanya pada satu-dua orang.
Yang nggak saya duga justru adalah penyelesai konflik batin Bujang. Itu benar-benar twist yang luput nggak terpikirkan sama sekali oleh saya.

Saya suka dengan kavernya. Warnanya pas dan nggak berlebihan. Saya menangkap filosofi matahari pagi yang diungkapkan Tuanku Imam dalam kaver Pulang.

Saya rekomendasikan novel ini karena Pulang menjadi novel yang bukan hanya enak dinikmati tapi juga sarat filosofi. Tentang keluarga dan kesetian. Dan yang terpenting tentang hakikat pulang. Bukan hanya dalam bentuk fisik ragawi tapi dalam arti yg lebih dalam, lebih sakral. Pulang pada makna awal hidup kita.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Pergilah, anakku, temukan masa depanmu. Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang...." (hlm. 24)

Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing. (hlm. 101)

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain. (hlm. 188)

Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (hlm. 219)

Minggu, 25 Oktober 2015

[Blogtour & Giveaway] Sudut Mati - Tsugaeda


Happy Sunday, all! Kali ini Nurina Mengeja Kata ditugaskan Titan Prayogo untuk mengadakan Blog Tour Sudut Mati dan mengundang teman-teman semua untuk ikut andil dalam membenahi Grup Prayogo… Siapa nih yang bersedia? :)
Hoho~ pasti banyak yang mau, kan? Tapi sebelumnya, yuk simak dulu review Sudut Mati berikut ini ^^



Judul buku: Sudut Mati
Penulis: Tsugaeda
Editor: Pratiwi Utami, Ika Yuliana Kurniasih, Adham T. Fusama
Perancang sampul: Bara Umar Birru
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: September 2015
Tebal buku: viii + 344 halaman
ISBN: 978-602-291-037-4


BLURB

Titan kembali dari Amerika Serikat setelah delapan tahun, tepat ketika Grup Prayogo milik ayahnya sedang krisis dan membutuhkan bantuannya. Selain kesulitan dalam urusan bisnis, ada ancaman dari kompetitor jahat, Ares Inco, yang memiliki keinginan menghancurkan keluarga Prayogo untuk selamanya.

Namun, Titan tak hanya menghadapi itu. Kakaknya, Titok, tak suka tersaingi olehnya di dalam Grup. Adiknya, Tiara, justru menikah dengan putra mahkota musuh. Dan, mungkin ia juga telah membawa kekasih yang dicintainya ke dalam bahaya.

Titan harus menghadapi itu semua. Sementara tanpa ia ketahui, seorang pembunuh dengan kode "Si Dokter" mengintai dan menunggu saat tepat untuk ikut campur ke dalam urusan mereka.

RESENSI

Titan Prayogo, putra ketiga dari Sigit Prayogo akhirnya mau pulang ke Indonesia. Delapan tahun sudah Titan merantau ke Amerika Serikat setelah kematian ibunya. Kematian yang memiliki sangkut paut dengan kakak keduanya, Teno.
Titan kembali karena ia merasa Grup Prayogo sedang berada dalam ancaman besar. Sigit Prayogo—sang ayah—terlalu asyik mencalonkan diri sebagai calon presiden dan menghambur-hamburkan uang perusahaan untuk mendanai kampanyenya. Titok, kakak sulung Titan yang menjadi pewaris bisnis utama, tak becus mengurus perusahaan. Tiara, adik perempuannya yang tampaknya hidup bahagia, namun ternyata menyimpan rahasia. Dan yang menggelisahkan, kompetitor mereka, Ares Inco, telah bangkit dan bersiap untuk menggulingkan dan menghabisi Grup Prayogo.
Titan harus memutar akal untuk menyelamatkan Grup perusahaannya, menjauhkan Kath, kekasihnya, dari bahaya, dan melindungi seluruh anggota keluarganya dari ancaman-ancaman musuh. Termasuk dari ancaman Teno, kakak keduanya yang telah membunuh ibu mereka dan ancaman "Si Dokter", pembunuh bayaran berdarah dingin yang paling ditakuti.
Mampukah Titan menuntaskan misinya? Siapakah "Si Dokter" sebenarnya? Apakah Grup Prayogo akan tetap berdiri atau justru mampu ditekan dan dihancurkan di sudut mati?

---------------------

Sebelumnya saya excited banget ketika novel Sudut Mati ini terbit. Tentu saja karena novel thriller lokal jarang sekali mengambil tema berbau korporasi. Maka ketika akhirnya saya bisa membaca novel ini, rasanya sungguh luar biasa. Bahkan sejak membuka lembar awalnya saja, saya sudah disodori fakta yang menurut saya begitu memancing rasa penasaran.

Dengan gaya tutur yang lugas, Tsugaeda membangun ketegangan secara cepat dan efisien. Setiap bab selalu diakhiri dengan kemisteriusan. Aura kecurigaan ditebar penulis bukan hanya pada satu-dua tokoh, tapi merata ke seluruh tokoh. Ini yang membuat ketegangan semakin meningkat dan rasa penasaran semakin menjadi-jadi.
Jalinan plotnya rapi dan saya sangat mengagumi kesabaran Tsugaeda menahan informasi-informasi penting untuk disajikan pada saat yang tepat.
Alur yang digunakan dalam Sudut Mati alu maju mundur, namun deskripsi waktunya jelas. Penulis bahkan menambahkan kaitan sejarah untuk memperkuat latar waktunya.

Dia lahir pada 1987, sehari setelah Margareth Tatcher terpilih lagi menjadi Perdana Menteri Inggris. (hlm. 4)

Saya rasa detail ini memberi saya gambaran lebih jelas akan latar waktu kejadian.

Bisa dibilang, tokoh dalam Sudut Mati ini banyaaak banget! Bayangkan, anggota keluarga Prayogo saja ada lima orang—Sigit, Titok, Teno, Titan dan Tiara. Belum lagi Kath, pacar Titan. Kemudian masih ada Nando dan Kevin yang mewakili Ares Inco. Dan masih ada lagi orang-orang perusahaan, orang-orang kepolisian, serta preman-preman bawahan Titok dan Kevin. Tapi saya sama sekali nggak dibuat bingung.
Itu karena pengkarakteran setiap tokoh dalam novel ini sangat kuat. Tsugaeda bukan hanya memberikan detail fisik dan gestur pada setiap tokoh tapi juga latar belakang mereka yang dideskripsikan dengan baik.

Namun saya juga mencatat adanya inkonsistensi penggunaan kata "saya" dan "aku" dalam dialog. Yaitu ketika Titok mendatangi Vilaili Tobing untuk berkonsultasi.

Secara keseluruhan, Sudut Mati adalah novel thriller yang cerdas dan rapi. Saya merekomendasikan novel ini untuk kalian yang sudah haus novel thriller lokal dan menantikan kisah penuh intrik yang akan membawa kalian tegang luar biasa.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Maafkan aku, Ibu! Tapi, Ayah harus dihabisi." (hlm. 2)

"Oh, ya? Beri tahu aku di toko mana bulan itu dijual? Besok pagi-pagi akan kubeli, sekalian cari sarapan." (hlm. 47)

"Kalau kau tak siap kehilangan satu hal, kau akan kehilangan segalanya." (hlm. 151)

"Jika telah sampai di atas, tengoklah ke bawah. Amatilah baik-baik. Kau berada di tempat yang terbaik untuk bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitarmu. Inilah keuntungannya pergi ke tempat tinggi." (hlm. 173)

************GIVEAWAY TIME************

Nah, sekarang waktunya saya untuk membagikan satu buah novel Sudut Mati untuk satu orang yang beruntung. Caranya mudah saja:

1. Peserta adalah warga negara yang berdomisili di Indonesia atau punya alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow twitter @KendengPanali @tsugaeda dan @bentangpustaka
3. Share blogtour dan giveaway ini dengan tagar #GASudutMati dan jangan lupa mention ketiga akun di atas.
4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar disertai nama lengkap dan akun twitter:

Mengapa kalian ingin membaca Sudut Mati? Dan apa judul novel thriller favorit kalian?

5. Giveaway akan dibuka selama 7 hari, dan ditutup pada tanggal 31 Oktober 2015 tepat pukul 23.59 WIB
6. Yang terakhir, selamat menjawab dan good luck! :)))

Rabu, 09 September 2015

[Resensi: The Lost Symbol - Dan Brown] Simbol-Simbol yang Tersembunyi di Belantara Gedung Amerika


Judul buku: The Lost Symbol
Penulis: Dan Brown
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penyunting: Esti B. Habsari dan Andityas Prabantoro
Pemeriksa aksara: Deddy S.
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Januari 2010 (cetakan pertama)
Tebal buku: 712 halaman
ISBN: 978-979-1227-86-5



BLURB

What is lost... will be found.

"Tangan Misteri yang ditunjukkan penggalan tangan Peter Solomon adalah undangan untukmu, Mr. Langdon. Undangan untuk membuka sebuah portal kuno yang tersembunyi di Washington, DC. Jadi, di manakah portal itu, Profesor?"
***

Robert Langdon, sang simbolog genius yang berhasil memecahkan Da Vinci Code, kembali hadir dalam petualangan berbahaya yang penuh teka-teki. Undangan ceramah di Gedung Capitol, Washington, DC, berubah menjadi undangan kematian. Seseorang meletakkan simbol Tangan Misteri yang dibuat dari penggalan tangan Peter Solomon, sahabat dan mentor Langdon, sekaligus tokoh penting Persaudaraan Mason.

Sang penculik Peter meminta Langdon memecahkan kode-kode kelompok rahasia Mason yang melindungi sebuah lokasi di Washington, DC. Lokasi penyimpanan kebijakan tertinggi umat manusia, yang konon akan membuat pemegangnya mampu mengubah dunia.

Menjelajahi terowongan-terowongan bawah tanah Capitol, Perpustakaan Kongres, kuil-kuil Mason, dan Monumen Washington, Langdon harus berpacu dengan waktu sekaligus menghindari kejaran CIA yang menganggapnya sebagai ancaman nasional. Sebelum tengah malam, Langdon harus sudah berhasil memecahkan teka-teki kelompok Mason. Jika tidak, nyawa Peter akan mengguncang Amerika Serikat dan bahkan dunia bakal tersebar.


RESENSI

Kali ini Dan Brown mengambil Freemasonry sebagai latar ceritanya. Freemasonry atau lebih sering disebut Mason merupakan sebuah kelompok penuh kontroversi. Dituduh sebagai kelompok antiagama, mempraktikkan okultisme hingga dianggap bertujuan menguasai dunia dan menciptakan Tata Dunia Baru sesuai paham mereka, membuat Freemasonry dituding sesat. Kemisteriusan yang menyelubungi kelompok ini terlihat dalam ribet dan peliknya ritual inisiasi anggota baru yang ingin bergabung di dalamnya. Mereka juga menggunakan bahasa simbolik dan menjalankan ritual-ritual ganjil sehingga terkesan bersifat okultisme.

Cerita berawal dari perjalanan Profesor Langdon ke Washington, DC, untuk memenuhi permintaan Peter Solomon. Peter Solomon adalah filantrop, sejarahwan dan ilmuwan yang selama tiga puluh tahun telah membantu dan membimbing Langdon. Meskipun dinasti keluarga Solomon sangat berpengaruh dan luar biasa kaya, Langdon merasakan kehangatan dan kerendahan hati dalam diri pria itu.
Karenanya saat seseorang yang mengaku sebagai asisten Peter menelepon dan atas nama Peter meminta Langdon agar datang ke U.S. Capitol untuk mengisi ceramah, Langdon langsung bersedia.

Tak dinyana, Langdon tertipu. Tidak ada ceramah untuk acara Smithsonian. Yang ada ia disambut potongan tangan Peter Solomon yang difungsikan sebagai Tangan Misteri di tengah Rotunda Capitol.

Langdon dituntut untuk memecahkan simbol-simbol dalam Piramida Mason, yaitu legenda Mason yang menjanjikan harta tak ternilai. Namun ternyata CIA pun ikut campur dengan alasan demi keamanan nasional. Profesor Langdon bukan hanya harus berpacu dengan waktu untuk memecahkan misteri tapi juga harus bermain petak umpet dengan para agen CIA.

------

The Lost Symbol cukup membuat saya kebingungan di awal. Informasi tentang kelompok aliran, simbol-simbol, teologi dan ritual-ritual diluncurkan dengan deras oleh buku ini sehingga membuat saya kewalahan.
Namun seiring waktu, setelah petualangan kejar-kejaran Langdon bersama Katherine Solomon dimulai, saya bisa mencerna. Sedikit. :))))

Saya masih tetap berharap menjadi salah satu mahasiswi Profesor Robert Langdon dan mengambil mata kuliah yang diampunya. Yakin deh, saya nggak bakal bosan di mata kuliahnya ^^ Pengetahuannya tentang sejarah dan simbol gedung-gedung penting Amerika membuat saya takjub. Tapi respek saya makin berkurang di novel kedua ini. Sebagai ahli simbolog, Langdon cukup sulit diyakinkan bahwa Piramida Mason itu ada dan bahwa ada kekayaan besar yang disembunyikan oleh simbol-simbol Piramida Mason. Tentu saja hal itu membuat beberapa bagian terasa membosankan. Dan Brown seolah ingin meyakinkan pembaca yang skeptis, sehingga ia menjadikan Profesor Langdon sangat yakin piramida itu hanya mitos. Jadi ketika Langdon akhirnya teryakinkan, Dan Brown pun sepertinya berharap pembaca akan teryakinkan juga.

Sementara untuk sang antagonis, karakter Mal'akh benar-benar terlihat fanatik. Gila. Karakternya justru lebih kuat daripada Robert Langdon maupun Direktur Inoue Sato, sang penguasa tertinggi Office of Security (OS) CIA yang kemunculannya cukup mencurigakan.

Ada banyak kejutan dalam novel ini, dan cukup mencengangkan. Plot twist-nya membuat saya kembali mengulang membaca hanya untuk memahami cerita dari sudut yang berbeda.
Penerjemahannya bagus dan mengalir tanpa kesalahan eja maupun kesalahan penerjemahan. Sangat mulus. Nikmat banget bacanya :)

Overall, saya menikmati membaca novel ini karena asyik dibawa merumuskan simbol-simbol menakjubkan yang tersebar di jantung Washington, DC. Meskipun bagi saya rasanya masih kurang senikmat membaca The Davinci Code. ;)


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Terkadang legenda yang betahan selama berabad-abad ... bertahan untuk alasan tertentu." (hal. 49)

"Kunci masa depan ilmiah kita tersembunyi di masa lalu kita." (hal. 94)

"Pengetahuan adalah alat dan, seperti semua alat lainnya, dampaknya berada di tangan pengguna." (hal. 119)

"Salah paham terhadap simbol-simbol sebuah kebudayaan merupakan akar prasangka yang umum." (hal. 230)

Betapa berbeda dunia seandainya ada lebih banyak pemimpin yang meluangkan waktu untuk merenungkan kematian sebelum berderap menuju peperangan. (hal. 231)

Tubuhku hanyalah wadah bagi harta karunku yang terampuh ... pikiranku. (hal. 409)

"Kebenaran punya kekuatan. Dan, jika kita semua tertarik pada gagasan-gagasan yang serupa, mungkin kita melakukannya karena gagasan-gagasan itu benar ... tertulis jauh di dalam diri kita. Dan ketika mendengar kebenarannya, seandainya pun kita tidak memahaminya, kita merasa bahwa kebenaran itu tidak dipelajari oleh kita, tapi di-panggil ... di-ingat ... di-kenali ... sebagai sesuatu yang sudah ada di dalam kita." (hal. 567)

Selasa, 30 Juni 2015

[Blogtour] Resensi & Giveaway Tuhan untuk Jemima by Indah Hanaco



Hi all, belum capek ikutan blogtour Tuhan untuk Jemima, kan? Kali ini selamat bertandang ke blog Nurina Mengeja Kata yang akan meresensi daaaaan… memberikan giveaway untuk satu eksemplar novel ini ;)
So, enjoy the tour ^^



Judul buku : Tuhan untuk Jemima
Penulis : Indah Hanaco
Editor : Gita Savitri
Perwajahan sampul : Shutterstock & Mulyono
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Juni 2015
Tebal buku : 305 halaman
ISBN : 978-602-03-1660-4


BLURB

Jemima, gadis gelisah yang merindukan Tuhan, tapi tidak tahu harus mencari ke mana. Diberi kebebasan memilih agama, Jemima malah makin bimbang. Apalagi sederet tragedi sedang mengintai gadis itu dan keluarganya.

Kenneth, pria belia yang sangat tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini, sibuk berjuang untuk kelestarian lingkungan. Saat menyaksikan paus-paus kesayangannya dibantai, dia berkesimpulan tidak memercayai keberadaan Tuhan adalah keputusannya yang paling cerdas.

Kala keduanya bertemu di Selandia Baru, negara cantik berangin dengan berjuta keajaiban, otak dan hati mereka seolah diadu. Di antara keindahan pohon rimu, di antara pertarungan hidup dan mati, serta tamu khusus berwajah cahaya, akankah mereka menemukan hidayah-Nya?

RESENSI

Jemima Damarys syok saat kakak perempuan satu-satunya, Ashlyn Damarys, meninggal karena kecelakaan. Ia merasa berduka dan kehilangan. Hal itu diperparah dengan rasa duka berlebihan kedua orang tuanya. Jemima merasa ditinggalkan sendirian. Seisi rumah memilih menghadapi rasa duka mereka sendiri-sendiri. Jemima menjadi gelisah, ia butuh bersandar, butuh mengadu. Tapi ia belum memilih Tuhan mana yang hendak disembahnya.

Dibesarkan oleh orangtua yang berbeda keyakinan, Jemima dibebaskan untuk memeluk agama sesuai keyakinannya. Namun berbeda dengan Ashlyn yang telah menentukan pilihan, Jemima masih bimbang dan belum kunjung menemukan Tuhannya.

Sementara di belahan bumi lain, Kenneth Nigel Kincaid, seorang aktivis yang ikut dalam aksi penyelamatan paus bersama Sea World Conservacy tak ragu untuk menjadi ateis. Ia merasa Tuhan telah meninggalkan paus-paus tak berdosa itu sendirian hanya untuk dibantai nelayan-nelayan Jepang.

Mereka berdua bertemu di Selandia Baru saat Jemima mengunjungi Nick, bibinya. Jemima yang datang ke Negeri Kiwi tersebut untuk mencari Tuhan menghabiskan beberapa hari bersama Nick, Kenneth dan teman-temannya.
Hingga Jemima mendadak diminta pulang karena ternyata mobil yang dinaiki Ashlyn saat kecelakaan telah disabotase. Ayah Jemima menganggap ada yang mengincar mereka.

Maka dimulailah serentetan teror bagi keluarga Damarys. Ancaman racun, misteri kalung perhiasan Ashlyn, dan usaha penculikan, menghantui keluarga itu. Pembunuh Ashlyn masih menginginkan jatuhnya korban lain.
Siapakah pembunuh Ashlyn? Apa motifnya? Apakah Jemima akhirnya akan menemukan Tuhan? Bagaimana akhir hubungannya dengan Kenneth, cowok bule berambut merah dan bermata hijau yang telah memikat hatinya? Dan apakah Kenneth akan tetap menjadi ateis?

----------------

Tuhan untuk Jemima adalah novel lanjutan dari Cinta Sehangat Pagi. Lanjutan karena kedua novel tersebut mengisahkan tentang kisah cinta para aktivis lingkungan yang bergabung dalam Sea World Conservacy. Jadi jangan kuatir, nggak masalah walau kalian belum baca Cinta Sehangat Pagi, karena kisah dalam Tuhan untuk Jemima ini berdiri sendiri.

Novel ini menjawab pertanyaan besar saya di novel sebelumnya. Jika penulis begitu mengidolakan Paul Watson dan Sea Sepherd-nya, kenapa tokoh yang dimunculkan malah tokoh fiktif Lochart Kincaid dengan Sea Warrior-nya? Sementara setting dan aktivitasnya mirip dengan aktivitas Sea Sepherd.
Ternyata inilah jawabannya. Karena akan ada kisah cinta dari klan Kincaid. Waaah… menarik!

Saya ingat bertahun-tahun lalu selepas kuliah, saya menangis saat membaca majalah National Geographic. Itu edisi yang mengulas suku Inuit ketika melakukan perburuan terhadap narwhal. Saya jatuh cinta sekaligus langsung patah hati. Binatang secantik dan seunik itu ditembaki saat sedang bermigrasi :'(
Maka saya senang karena novel ini menyuarakan aktivitas penyelamatan terhadap paus, hewan yang harus kita jaga populasinya.

Saya sangat menikmati novel ini, 305 halaman rasanya habis dalam sekejap. Ceritanya mengalir dengan lebih luwes dibanding Cinta Sehangat Pagi. Plotnya rapi dan diksinya menusuk ke hati. Balutan misteri dan thriller dalam novel ini tentunya menambah seru jalan cerita.

Sebagai gadis yang baru lulus SMA dan beranjak dewasa, karakter Jemima justru terasa matang. Terasa wise dan santun. Saya suka dialog 'mendalam' antara Jemima dan Kenneth. Senang rasanya melihat muda-mudi sudah berpikiran terbuka dan bijak menyikapi persoalan seperti mereka.

Ada banyak informasi yang kita dapat jika membaca Tuhan untuk Jemima. Tentang perburuan paus, lanskap Selandia Baru, Islam dari segi sains, hingga jenis-jenis racun. Saya jadi penasaran pada riset yang telah dilakukan Indah Hanaco untuk menyajikan ilmu-ilmu baru pada pembaca.

Hanya ada sedikit typo di dalamnya:

* tidak dengar Jemima --> tidak didengar Jemima (hal. 40)
* menyulum --> mengulum (hal. 96)
* tanya dengan suara rendah --> tanyanya dengan suara rendah (hal. 118)
* dilakukanoleh --> dilakukan oleh (hal. 122)
* kegunda-han --> kegundah-an (hal. 129)
* jatuh sakit,atau --> jatuh sakit, atau (hal. 139)
* diemukan --> ditemukan (hal. 170)
* menjaga --> menjadi (hal. 210)
* mudah-mudah --> mudah-mudahan (298)

Well, novel memikat ini akan sangat menyenangkan dibaca karena sajiannya yang komplet. Saya beri 4 bintang untuk Tuhan untuk Jemima.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Ketika hubungan Internasional itu terputus, sebuah pertanyaan seakan mendompak benak Jemima.
Apakah Tuhan juga bisa dicari di Negeri Kiwi itu? (hal. 69)

Manusia biasanya akan terlalu cerewet untuk mengajukan pertanyaan. Mendebat apa yang dirasa tidak cocok dengan pendapat mereka. Tapi Tuhan yang Mahatahu itu tidak pernah bersikap sok tahu. Tuhan selalu menjadi pendengar sempurna saat orang berdoa, kan? Itulah yang hilang dari hidup Jemima. (hal. 83)

"Pendidikan bisa menanti, tapi menyelamatkan lingkungan enggak bisa ditunda." (hal. 110)

"Tapi jika kamu melepaskan sesuatu dengan mudah, itu artinya kamu memang enggak benar-benar menginginkannya. Jadi, enggak perlu merasa aneh atau apalah. Kebahagiaanmu adalah yang paling penting dalam hidup. No sweat. Remember Jemima, your happiness is down the pike. Go get it before you late." (hal. 128-129)

Jemima tidak akan meminta jalan yang mudah karena itu keinginan yang egois. Tidak masalah kalau jalan itu berliku dan menyusahkan sebab dia tahu Tuhan menyukai orang-orang yang tangguh, para penyintas. (hal. 304)

***********

Tertarik ingin membaca Tuhan untuk Jemima? Nah, saya dan Mbak Indah Hanaco punya satu eksemplar novel Tuhan untuk Jemima bagi kalian pengunjung blog ini. Caranya mudah kok:

1. Follow twitter @KendengPanali dan @IndahHanaco. Jangan lupa share giveaway ini via twitter dan mention kami dengan hashtag #GATuhanUntukJemima

2. Jawab pertanyaan berikut:

Seandainya kalian menjadi aktivis lingkungan seperti Kenneth, binatang apa yang ingin kalian selamatkan? Apa alasannya?

Jawab semenarik mungkin di kolom komentar dengan format:

Nama:
Akun twitter:
Jawaban:

3. Boleh banget kalau mau follow blog ini ;)

4. Giveaway berlangsung dari tanggal 30 Juni dan ditutup tanggal 3 Juli 2015 pukul 23.59 dan pemenang akan diumumkan hari berikutnya :)

5. Yang terakhir… good luck!!


Oh iya, kalian bisa mengikuti rangkaian blogtour ini di blog host yang lain:

22 - 25 Juni 2015 >> Ky's Book Journal

26 - 29 Juni 2015 >> Books-Over-ALL

30 Juni - 3 Juli 2015 >> Nurina Mengeja Kata (perhentianmu saat ini ^^)

4 - 7 Juli 2015 >> Delina Books

8 - 11 Juli 2015 >> The Anti-books
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon