Tampilkan postingan dengan label Buku wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku wanita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2016

[Resensi] Fenomenologi Wanita Ber-high heels


Judul buku: Fenomenologi Wanita Ber-high heels
Penulis: Ika Noorharini
Editor: Sori Siregar
Creative Director: Yuri Heikal Siregar
Ilustrator: Tigana Dimas Prabowo & Firas Sabila
Fotografer sampul: Erich Silalahi
Penerbit: PT Artha Kencana Mandiri
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 112 halaman
ISBN: 9786027306905



BLURB

Bagaikan sebuah kekuatan terpendam, high heels bukanlah sekadar makna dan benda konkret karena wanita mendapatkan kepercayaan diri yang dapat membius siapa pun di sekitarnya. Keragaman makna high heels bagi wanita membentuk konsep diri masing-masing yang berbeda secara diametral.


RESENSI

Buku Fenomenologi Wanita Ber-high heels saya terima sejak sebulan lalu, tapi baru sekarang saya bisa santai membacanya. Setelah selesai saya nyesel banget... kenapa nggak sedari kemarin saya membaca buku yang asyik ini. Maka jadilah buku setebal 120 halaman ini saya lahap dalam sekali duduk.

Buku ini awalnya merupakan penelitian dari sang penulis sebagai bahan tesisnya. Lalu kemudian muncul ide untuk membukukannya dan menerbitkannya.
Fenomenologi sendiri mengandung arti sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Ilmu fenomonologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan ilmu hermeneutik, yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena ini.
Maka sudah jelas bahwa paparan yang disampaikan Ika Noorharini adalah paparan yang berdasarkan pengamatannya yang jeli dan faktual. Tapi gaya bertuturnya benar-benar enak sehingga saya tenggelam mengikuti isi buku ini hingha tuntas.

Saya sendiri bukan high heels lover... saya lebih nyaman mengenakan flat shoes ataupun sneakers. Bahkan sandal jepit. Tentu saja karena saya bukan pekerja yang harus tampak menonjol. Mobilitas saya pun hanya terbatas  ke rumah murid, sekolah anak, pasar, swalayan, bahkan rapat pun hanya seputaran di puskesmas, kelurahan dan kecamatan. Apalagi saya adalah pejalan kaki, yang setiap harinya naik-turun trotoar dan aspal jalanan... kalau saya nekat pakai high heels, bisa remuk kaki saya :)))

Meski begitu, saya pernah merasakan menikmati memakai high heels di masa kuliah. Dan saya mengamini paparan penulis dalam buku ini bahwa high heels memang punya kemampuan untuk mendongkrak kepercayaan diri. Membuat mood saya menjadi lebih baik di tiap suara keletukan yang saya buat di lantai. Saya paham kebutuhan wanita untuk mengaktualisasi diri. Saya mengenal banyak teman pekerja yang selalu heboh meributkan high heels bahkan di saat mereka tengah hamil. Tadinya saya sama sekali nggak paham mengapa mereka sebegitu butuhnya dengan high heels. Lha wong ketika saya kerja di sebuah hotel bintang empat pun saya tetap memilih memakai flat shoes. Tapi buku ini akhirnya membuat saya mengerti.

Di halaman awal, Fenomenologi Wanita Ber-high heels menjelaskan tentang sejarah kemunculan sepatu tumit tinggi sejak zaman Yunani Kuno. Ternyata trend high heels justru dimulai oleh para pria! Seru banget mengikuti kisah sejarah high heels dari masa ke masa yang ditulis terperinci dengan ilustrasi yang apik di dalam buku ini.

Selain paparan dari pengamatannya sendiri, Ika Noorharini juga mengundang setidaknya 15 wanita dari beragam profesi yang turut membagi alasan dan kisah unik mereka dalam ber-high heels. Apa yang membuat mereka menahan rasa nyeri dan bertahan dengan high heels yang menyakitkan. Apa yang mereka rasakan saat mengenakan high heels. Seperti apa mereka ingin dipandang membuat mereka menggunakan high heels. Cantik, percaya diri dan sederajat adalah beberapa alasannya.

Pada akhirnya saya menganggap buku ini benar-benar menarik untuk dibaca. Sangat berguna bagi para wanita maupun pria. Ooh... terutama para pria. Agar pria-pria ini nggak lagi mengerenyitkan dahi atau menggerutu saat mendapati pasangannya membeli high heels... lagi. :)))

Selasa, 26 Januari 2016

[Resensi: Broken Vow - Yuris Afrizal] Menguak Rahasia Tiga Luka Pernikahan


Judul buku: Broken Vow
Penulis: Yuris Afrizal
Editor: Weka Swasti
Desain cover: Theresia Rosary
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal buku: 270 halaman
ISBN: 978-602-7572-41-6



BLURB

Tiga sahabat. Tiga pernikahan. Tiga luka.

Amara, dia punya segalanya. Kecantikan yang sempurna dan kehidupan pernikahan yang diimpikan setiap perempuan. Namun, hanya kisah Cinderella yang berakhir happily ever after, karena ternyata mencintai saja tidak cukup, dan menjadi sempurna pun tidak cukup.

Nadya, memiliki karier yang cemerlang. Menikah di usia 30 hanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengganggunya. Baginya, keinginan dan harapan kadang berbenturan dengan realita yang ada.

Irena, si superwoman. Berkarier dan menjadi ibu rumah tangga sekaligus. Potret keluarga bahagia yang sesungguhnya. Namun, siapa yang mengira jalan hidup Irena akan menikung tajam?

Siapakah di antara tiga sahabat ini yang paling berbahagia dalam pernikahannya–atau justru paling menderita? Prasangka dan iri pun diam-diam ada di hati mereka. Apakah persahabatan yang telah terjalin itu dapat tetap bertahan? Dan, dapatkah mereka menemukan kebahagiaan masing-masing?


RESENSI

Dari luar, pernikahan Amara dengan Nathan benar-benar bak cerita dongeng. Bertemu di sebuah pesta perayaan tahun baru, Amara dengan jelas dan tegas menolak untuk tidur bersama Nathan, sang don juan, dan malah membuat Nathan bertekuk lutut hingga membawa Amara ke pelaminan. Banyak yang bilang Amara membuat Nathan insyaf dari sikapnya yang suka gonta-ganti pacar. Pernikahan yang membuat iri karena Nathan yang kaya raya itu membuat hidup Amara sangat berkecukupan. Tapi di dalam, pernikahan ini tidaklah seindah yang dilihat orang. Akhir-akhir ini Nathan menjauh dan Amara mencium bau busuk seiring dengan semakin seringnya ia menemukan bau parfum wanita dan noda lipstik di baju Nathan.

Nadya memang terlihat yang paling santai di antara para sahabatnya. Baru menikah di usia tiga puluh tahun dengan sahabatnya sendiri, Dion, dan kemudian mengumumkan bahwa ia hamil. Tak ada yang tahu bahwa ia masih menyimpan rasa cintanya pada Leo, kekasih yang telah meninggalkannya demi mengejar karier di Paris. Hanya Dion yang tahu tapi tetap mencintainya. Kehamilan bukanlah kabar bahagia baginya. Nadya merasa tertekan karena pernikahan dan kehamilan yang tak ia inginkan. Tapi saat Leo kembali dan meminta Nadya untuk kembali  pada pria itu, mengapa ia jadi ragu?

Irena yang lebih dulu menikah dibanding kedua sahabatnya, tampak terlihat seperti memiliki keluarga paling bahagia. Dengan suami yang meski manja tapi sangat family man, dan dua anak yang manis, Irena pun menjalani tugasnya sebagai istri, ibu dan juga wanita karier. Tapi lama-kelamaan ia mulai kewalahan. Putranya, Aron, mulai sering bertingkah dan manajemen waktunya kacau balau.
Ketika ia mulai memantapkan diri untuk resign dari kantor dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, Mas Juna malah melarang. Padahal dulu Mas Juna paling getol menyuruhnya berhenti. Ketika Mas Juna mengaku telah menghabiskan uang tabungan mereka sebesar seratus juta, saat itulah Irena sadar, pernikahannya mendapat ujian hebat.
Bisakah mereka mengatasi problema rumah tangga masing-masing dan tetap menyembunyikannya dari sahabat yang lain hanya karena gengsi?

-------------


"Apa menikah membuat kita bahagia?" - Nadya (hlm. 4)

Dari kavernya Broken Vow terlihat elegan tapi juga seperti menyimpan kesenduan. Mungkin warnanya, mungkin juga angle fotonya, yang jelas ekspresi ketiga wanita ini yang nggak terlihat oleh pembaca, menunjukkan bahwa banyak rahasia yang mereka simpan.

Tema Broken Vow benar-benar menarik, tentang persahabatan dan kehidupan pernikahan yang dari luar tampak gilang-gemilang tapi di dalam menggerogoti kebahagiaan mereka. Ibaratnya kalau orang jawa bilang "urip iku wang-sinawang". Kita cuma bisa melihat kehidupan rumah tangga orang lain dari luar dan merasa iri, padahal belum tentu yang terjadi di dalamnya seindah kelihatannya.
Broken Vow menyajikan keruwetan problem rumah tangga bukan hanya dari satu sisi pernikahan tapi tiga pernikahan sekaligus. Ini benar-benar kisah yang biasa terjadi di lingkungan sekitar kita sehingga saya merasa relate dengan ceritanya.

Menggunakan POV orang pertama secara bergantian antara Amara, Nadya, dan Irena, novel ini semakin menyeret saya dalam naik turunnya kehidupan pernikahan mereka. Plotnya lumayan rapi dengan alur maju mundur. Saya nggak bisa berhenti membacanya dan menebak-nebak apa yang akan terjadi.
Dan saya cukup dikagetkan dengan penyelesaian konflik pernikahan Amara. Melihat gelagatnya saya pikir ending mereka nggak akan seperti itu. Tapi setelah dipikir lagi, ini ending yang logis dan realistis. Bukan jenis ending novel-novel harlequin yang tipikal novel banget :)

Penokohannya kuat dan cukup berasa perbedaannya. Terutama Irena yang menurut saya kacau banget. Saya sudah merasa nggak simpati dengan dia yang manajemen waktunya kacau balau. Kelihatan kalau rumah tangganya kurang komunikasi dan ia menganggap dirinya superwoman.
Saya selalu menganggap bahwa pernikahan bukan hanya tentang cinta ,tapi juga komunikasi dan kompromi. Entah bagaimana dengan pasangan-pasangan dalam novel ini, tapi sebelum menikah, saya selalu menanyakan skenario 'what if' dengan pasangan saya. Saya ingin tahu bakal kompak nggak kami nanti. Karena itulah yang terpenting. Saya nggak mau kejadian kayak Irena gini, kelimpungan tiap pagi, nyiapin suami kerja, anak-anak sekolah dan diri sendiri siap-siap ke kantor. Minimal saya ingin pasangan saya paham dan sigap saat saya butuh bantuan. *laah.. kenapa saya malah ceramah?* :)))

Haissh... balik ke topik. Tentang Irena saya juga merasa ia cukup nggak sehat memandang persahabat mereka bertiga. Rasa iri dan gengsinya kelihatan jelas. Saya dibuat geleng-geleng kepala karena ia dengan mudahnya menghakimi Nadya dan Amara. Padahal mereka sudah berteman bertahun-tahun.

Saya paling suka dengan perkembangan Nadya. Digantung bertahun-tahun memang nggak enak, tapi balas menggantung orang lain juga bukan tindakan yang bijak. Untungnya sih, Dion pasrah-pasrah aja.
Tapi saya juga suka sikap tegas Dion saat melihat Nadya dan Leo bersama. Dan kejadian heboh di rumah sakit itu lucu juga. Masa berantem di ruang bersalin. Itu kalau terjadi di rumah sakit tempat saya bersalin, pasti mereka udah ditendang sama bidan kepala. Haha~

Overall, saya suka banget novel ini. Tentang ujian pernikahan yang kemudian menguji persahabatan mereka. Tentang rumput tetangga yang nggak selalu lebih hijau. Saya rekomendasikan novel ini bagi kalian yang ingin menikmati indahnya ikatan persahabatan yang telah teruji badai besar.

Review ini diikutkan dalam Broken Vow Book Review Contest


Senin, 11 Januari 2016

[Resensi: The Book Club - Mary Alice Monroe] Kisah Ketegaran Lima Wanita


Judul buku: The Book Club (Kisah Lima Wanita)
Penulis: Mary Alice Monroe
Alih bahasa: Deasy Ekawati
Editor: Fanti Gemala
Penerbit: Violet books
Tahun terbit: Oktober 2014
Tebal buku: 453 halaman
ISBN: 978-602-251-716-0



BLURB

Mary Alice Monroe mengundang Anda untuk bertemu dengan lima karakter yang luar biasa selagi dia menjelajahi kekuatan persahabatan dalam kelembutan, kejujuran, dan pengertian.

Dari luar, kelompok itu hanyalah sebuah klub membaca biasa. Tapi bagi lima orang wanita, klub itu adalah sesuatu yang jauh lebih bermakna. Bagi Eve Porter, yang segala keamanan hidup yang telah direncanakannya direnggut karena suaminya mendadak meninggal, klub itu adalah tempat perlindungan. Bagi Annie Blake, seorang pengacara hebat yang berniat memiliki keluarga meski sudah terlambat, klub itu adalah kesempatan untuk menurunkan pertahanan dirinya dan memimpikan banyak kemungkinan lain. Bagi Doris Bridges, klub itu adalah pendukungnya saat dia mengakui bahwa pernikahannya sekarat dan memperoleh kebebasan yang sesungguhnya dalam pengkhianatan suaminya. Bagi Gabriella Rivera, sang istri, ibu, dan sahabat 'sempurna' yang menawarkan dukungan bagi semua orang tapi enggan meminta dukungan bagi dirinya sendiri, klub itu memberinya suasana kekerabatan. Dan bagi Madge Kirsch, seorang seniman yang selalu menjalani hidup melawan arus, klub itu bagai surga yang menerimanya.

Merekalah lima wanita dengan jalan kehidupan yang berbeda, yang menerima tantangan dalam perubahan hidup mereka.  Dan saat mereka berbagi harapan, ketakutan, dan kemenangan, mereka akan berpegang erat pada keajaiban sejati sebuah klub membaca–yaitu persahabatan.

RESENSI

Meninggalnya Tom Porter yang mendadak membuat Eve terpukul. Betapa tidak, suaminya baru berusia lima puluh tahun dan terlihat sehat. Meskipun pernikahan mereka tak sehangat dulu, tapi Eve masih sangat bergantung pada Tom. Raga dan jiwanya masih belum siap.
Pemakaman Tom dihadiri banyak orang termasuk keempat sahabat Eve yang tergabung dalam Klub Membaca bersamanya. Tampaknya pemakaman Tom membuat mereka terguncang dan berimbas pada diri mereka.
Doris, yang telah lama bersahabat dengan Eve selalu tidak menyukai Annie. Ketidaksukaan yang didasari rasa iri, karena bagi Doris, Annie tampak penuh kendali, hebat dalam karir dan bentuk tubuhnya masih bagus. Sementara Doris semakin merasa tua, gemuk dan membosankan. Ia pun berusaha menutup mata akan kelakuan suaminya dan bersikap seolah semua baik-baik saja.
Annie sendiri adalah gambaran wanita sukses, sebagai pengacara ia penuh kendali. Hubungannya dengan suami masih panas dan penuh gairah. Tapi sejak ia melihat Eve di pemakaman bersama kedua anaknya, Annie merasa ini saatnya ia ingin punya anak. Meski telah berusia 43 tahun dan para sahabatnya merasa tak mungkin, Annie tetap yakin ia akan berhasil mengandung.
Gabriella harus mendapati kenyataan pahit sepulang dari pemakaman Tom. Suaminya di-PHK. Gabriella yang bekerja sebagai perawat harus menambah jam kerjanya sementara sang suami mencari pekerjaan lagi. Padahal mereka punya empat orang anak.
Madge yang eksentrik dan memilih hidup sendiri tak mau mengakui bahwa ia kesepian. Dan ketika ibunya datang, Madge merasa frustasi. Ia tak pernah bisa memahami ibunya yang masih saja bersikap genit pada setiap pria. Bahkan pria yang lebih muda dari Edith.
Dan Eve yang murung setelah ditinggal Tom, menjadi antisosial selama berbulan-bulan. Hingga Annie harus menyeretnya menghadapi kenyataan bahwa Eve bangkrut. Eve harus mulai bangkit dan mencari pekerjaan atau ia akan benar-benar miskin. Eve pun berusaha berdiri walau goyah. Ia siap menghadapi dunia baru dan bahkan mungkin.... cinta baru.

------------------

The Book Club menawarkan bukan hanya satu kisah tapi lima. Lima kisah kehidupan yang harus dijalani wanita-wanita usia empat puluh hingga lima puluh tahunan. Wanita-wanita yang telah menjalani pernikahan mereka selama dua puluh tahun lebih. Kecuali Annie yang usia pernikahannya baru berjalan lima tahun.

Dengan setting waktu tahun 1997-1998 novel ini beralur maju dan menggunakan POV orang ketiga. Secara bergiliran saya dibawa menyelami kisah dan konflik masing-masing tokoh. Namun Eve lah yang mendapat porsi terbesar dalam cerita ini.

Banyak tokoh yang muncul dalam novel ini. Yah, tokoh utamanya saja ada lima, belum lagi suami-suami mereka, anak-anak mereka dan tentunya wanita misterius berambut merah yang menangis hebat di pemakaman Tom.
Namun semua karakternya terasa khas dan bulat. Eve yang pada awal cerita begitu mengenaskan akhirnya berani membuka cangkangnya, tapi ia tetap nggak kehilangan sifat khasnya.
Doris menjadi karakter yang cukup menyebalkan karena sok dan gengsinya tinggi. Tapi teman-temannya bisa menerimanya. Saya merasa mereka semua berimbang. Sifat-sifat yang saling bertolak belakang ini justru menjadi magnet dan mengikat persahabatan mereka menjadi hubungan yang unik. Inilah yang membuat masalah-masalah pribadi mereka jadi kait-mengait.

Saya suka melihat perdebatan mereka mengenai buku yang mereka baca bersama saat berkumpul. Pemikiran mereka menjadi penguat karakter, memperlihatkan pola pandang yang berbeda dan membuat suasana pertemuan Klub Membaca menjadi meriah.

The Book Club merupakan novel woman-lit dengan menghadirkan masalah dan konflik khas pernikahan. Masalah-masalah yang umum dihadapi wanita usia lima puluh tahun dan mengajarkan ketegaran untuk menghadapinya. Bahwa meski dunia runtuh di sekeliling kita, akan tetap ada sahabat yang menyeret kita untuk tetap berpikir waras. 

Minggu, 10 Januari 2016

[Artikel] Menjadi Book Addict Agar Tetap Sexy


Membaca adalah hobi saya yang nggak pernah berubah sejak kecil. Saya butuh membaca sebesar saya butuh bernapas. Maka bolehkah saya menobatkan diri saya sebagai book addict?




Saya dan Moment Pertama

Menurut orangtua saya, saya mulai bisa membaca sejak usia tiga tahun. Kemampuan yang dianggap istimewa saat itu, dan tentunya membuat orangtua saya jadi rajin membelikan majalah bekas untuk saya. Mengapa majalah bekas? Karena menurut orangtua saya, harga satu majalah baru bisa sama dengan harga tiga majalah bekas, jadi kalau bisa dapat tiga kenapa harus pilih yang satu sementara isinya tetap sama bermanfaat. Prinsip inilah yang melekat kuat dan saya gunakan hingga dewasa kini. :)

Meski bisa dibilang majalah Bobo lah yang membuat saya suka membaca, tapi kecintaan saya pada sebuah kisah panjang timbul saat SD. Menginjak SD saya mulai mengikuti serial Api di Bukit Menoreh karya S.H. Mintardja yang muncul setiap hari di surat kabar Kedaulatan Rakyat. Walau sudah terlambat ratusan episode (karena yang saya baca adalah kisah petualangan Glagah Putih dan Rara Wulan) toh nggak mengurangi keasyikan menunggu dan membacanya setiap hari. Serial Api di Bukit Menoreh pulalah yang membuat saya menyukai cerita silat dan menikmati pelajaran sejarah kerajaan terutama kerajaan di tanah Jawa.
Sungguh, bukankah buku yang baik selain memberi petualangan juga memberi pengetahuan baru yang berguna?


Saya, cerita silat dan detektif

Cerita silat menjadi genre pertama yang saya suka dan mengantar saya pada buku cerita silat lain yang nggak kalah fenomenal, Wiro Sableng. Untuk buku yang satu ini saya harus sembunyi-sembunyi membacanya, karena simbah bisa marah kalau tahu saya membaca buku ini. Hehe... Maklum ceritanya memang rada nakal dan beberapa adegannya belum layak dikonsumsi anak SD. Tapi mengingat minimnya literasi anak kala itu dan saya sudah melalap semua cergam gareng-petruk, maka Wiro Sableng pun jadilah. (Jangan tiru adegan ini ^^)

Saat akhirnya ketahuan membaca Wiro Sableng saya pun dibelikan novel Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu. Lalu saya putuskan saya lebih suka Pasukan Mau Tahu karena petualangannya lebih lucu dan lebih menantang untuk memecahkan misterinya. Hingga kemudian bacaan misteri-detektif saya merambah ke novel-novel sejenis seperti STOP, Trio Detektif, Hawkeye Collins & Amy Adams, Seri Klub Detektif Cilik dan akhirnya... Agatha Christie.
Dua genre inilah yang menemani masa kecil dan masa remaja saya. Genre yang membuat saya suka matematika karena menimbulkan rasa penasaran dan rasa tertantang yang sama untuk memecahkan persoalan dan mengetahui jawaban yang benar. Siapa bilang membaca novel membuat jadi bodoh? Karena dalam kasus saya membaca novel justru membuat saya mendapat nilai tinggi dalam matematika. ;)


Saya dan buku wanita

Tahun demi tahun genre yang saya baca mulai meluas hingga saya memutuskan saya menyukai semuanya. Kini, dunia literasi makin semarak dan berwarna, sungguh memanjakan makhluk haus bacaan seperti saya. Banyak penerbit bermunculan dengan konsep dan visi-misi yang beragam. Salah satu yang menarik adalah Stiletto Book yang, jika ditilik dari nama dan logonya, merupakan penerbit buku perempuan.
Stiletto Book banyak menerbitkan roman-roman khas permasalahan wanita dan buku parenting yang memanjakan ibu-ibu semacam saya. Makin banyak deh ilmu yang saya dapat.
Apalagi sejak bergabung dengan Stiletto Book Club, saya mulai mengenal beberapa pembaca Stiletto Book yang bisa diajak tukar pikiran.

buku-buku Stiletto menjadi teman
me time yang menjaga saya tetap 'waras' ^^


Saya, budget dan lingkungan

Setiap bulan saya hanya menyisihkan dana Rp. 50.000,00 untuk membeli buku. Ini dana wajib untuk memanjakan diri, hadiah bagi diri sendiri. Tapi saya bisa belanja buku lebih dari itu, lho. Kok bisa? Nodong suami ya? Haha... nggak dong. Ada rahasianya. :))
Saya biasanya memilah sampah rumah: botol plastik, kaleng, koran, kardus bahkan kertas catatan utang. Sampah-sampah ini saya setor ke bank sampah di dekat rumah. Hasilnya lumayan lho! Sekali setor saya bisa dapat 15 ribu sampai 30 ribu. Uang hasil setor sampah inilah yang masuk ke budget beli buku. Jadi selain bisa menyelamatkan lingkungan saya juga bisa dapat tambahan dana untuk belanja buku. Asyik, kan? :)

Tapi meskipun sudah ada tambahan pun kadang buku yang diinginkan harganya masih nggak terjangkau. Solusinya... sabar. Sekarang banyak kok toko online dan penerbit yang menawarkan diskon dan sale yang menggiurkan, tak terkecuali Stiletto Book. Stiletto cukup sering loh mengadakan shocking sale yang menawarkan diskon besar-besaran, terutama kalau jadi member Stiletto Book Club bisa sering dapat diskon, deh.

Siasat lain untuk memiliki buku dengan dana terbatas adalah dengan prinsip saya semula: buku bekas. Atau bisa dibilang buku second. Jaringan pertemanan dengan sesama pencinta buku yang luas bisa membantu karena kadang mereka menjual buku kolpri mereka. Atau toko buku bekas bisa jadi pilihan, asal kita berhati-hati jangan sampai membeli buku bajakan.

Saya dan minat baca masyarakat

Hobi membaca saya ini bisa dibilang aneh oleh lingkungan saya. Karena saya tinggal di lingkungan padat di mana orang-orangnya selalu bergerak dinamis, kegiatan saya yang duduk diam membaca tentunya terasa kontras.
Lingkungan saya adalah lingkungan pekerja kelas menengah ke bawah, bukan saja para prianya tapi juga kaum wanitanya. Beragam pekerjaan, mulai dari penjaga kios di pasar, pemilik warung, penjual makanan, juga pekerja UKM. Tentunya sulit mengajak mereka membaca mengingat betapa dinamisnya mereka bekerja di luar dan mengurus rumah tangga mereka sendiri. Maka sasaran saya adalah anak-anak. Saya punya program read aloud untuk anak-anak, yang nggak menutup kemungkinan bagi sang ibu untuk ikut hadir. Dengan modal buku TBM (Taman Bacaan Masyarakat) saya berusaha mengemas kegiatan ini agar menumbuhkan minat baca anak-anak.
Di BKB (Bina Keluarga Balita) tingkat RW yang saya ketuai, saya menyisipkan materi membaca dan mendongeng bagi para ibu yang memiliki anak usia balita.
Saking memuja buku, jika anak saya diundang ulang tahun, bisa dipastikan kado yang dibawa anak saya bagi yang berulang tahun pastilah buku. Saya juga membiarkan rumah terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca buku saya dan buku anak-anak saya.
Meski usaha saya nggak seberapa, saya ingin mereka memahami bahwa banyaaak sekali manfaat yang bisa didapat dari membaca buku. Membaca akan melatih konsentrasi, menghindarkan kita dari kepikunan dan merupakan bentuk rekreasi yang murah.

Saya punya harapan besar agar anak-anak suka membaca. Karena negara Indonesia didirikan oleh para pencinta buku, orang-orang hebat yang haus pengetahuan dan telah melahap banyak buku. Itu sebabnya akses terhadap buku harus dibuka selebar-lebarnya, seluas-luasnya. Agar terus bermunculan tokoh-tokoh hebat berikutnya di negara ini.
Selama ini perpustakaan yang ada hanyalah perpustakaan sekolah, universitas dan pemerintah daerah. Mestinya perusahaan-perusahaan besar juga diwajibkan memiliki perpustakaan yang bisa diakses karyawan dan warga sekitar. Sehingga masyarakat bisa tergerak dan mulai gemar membaca.


Nah, dengan pengalaman saya ini sudah layakkah saya disebut sebagai Book Addict?
Tapi terlepas dari layak atau nggak layak, membaca tetaplah menjadi napas kehidupan saya. Jika diizinkan saya ingin tetap membaca sampai tua. Sampai mata saya lamur dan tangan saya tremor saat memegang buku, saya tetap ingin mereguk dunia melalui jendela-jendela itu lagi, lagi dan lagi.
Dengan begitu, meski saya telah tua, bungkuk dan keriput saya akan tetap sexy, benar bukan? ;)





Nama: Nurina Widiani
Akun twitter: @KendengPanali
Akun facebook: Nurina Kendengpanali
Email: nurinawidiani84(at)gmail(dot)com

Rabu, 02 September 2015

[Resensi: Awaiting You - Nadya Prayudhi] Penantian dan Kesetiaan Amora Saat Sam Menghilang


Judul buku: Awaiting You
Penulis: Nadya Prayudhi
Editor: Herlina P. Dewi
Proof Reader: Weka Swasti & Tikah Kumala
Desain Cover: Theresia Rosary
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Juni 2015
ISBN: 978-602-7572-40-9
Available at: bukupedia




BLURB

Hilang!

Sam, suami Amora, sang chief editor Majalah Fashionette, mendadak hilang. Di tengah kekalutan dan kekacauan hidupnya, Amora dihadapkan berbagai macam ujian: anaknya bermasalah di sekolah, didekati Lody si berondong di kantornya, mendapat simpati berlebihan dari sahabat sang suami, bertemu kembali dengan cinta lama, dan diteror oleh seorang wanita yang tidak diketahui identitasnya. Semua itu membuat dirinya semakin frustasi hingga akhirnya Amora memutuskan cuti sementara dari pekerjaannya. Dan mulai mencari Sam.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai menemukan foto-foto baru yang diunggah ke laman Facebook Sam-yang membuat Amora semakin bertanya-tanya: Ke manakah Sam? Apa yang terjadi padanya?
Jika dia masih hidup, mengapa tidak menghubungi Amora?
Akankah dia pulang? Atau, akankah dia menghilang selamanya?


RESENSI

Sam. Anak-anak merindukanmu. Aku merindukanmu. Pulanglah. (hal. 12)

Hidup Amora sungguh sempurna. Pekerjaannya sebagai chief editor majalah fashion membuatnya jadi wanita karir yang sukses. Meskipun ia memiliki dua buah hati bersama Sam, suaminya, ia tetap belum bisa melepaskan pekerjaannya untuk jadi ibu rumah tangga sepenuhnya.
Namun suatu hari, kesempurnaan itu retak karena Sam menghilang. Sam yang seharusnya berangkat ke Tokyo untuk menemui rekan bisnis ternyata tidak pernah sampai ke kota itu. Amora melihat Sam terakhir kali di Bandara Soekarno-Hatta saat melepas Sam pergi. Tapi semenjak itu Sam menghilang dan tidak bisa dihubungi sama sekali.
Di tengah kegalauannya, Amora bertemu dengan Lody, fotografer muda yang menjadi karyawan baru di majalah tempatnya bekerja. Lody yang tampan itu ternyata menaruh hati pada Amora dan tanpa malu menunjukkan perasaannya. Bukan hanya itu, Gavin, sahabat Sam, juga menaruh perhatian pada Amora. Amora mati-matian menolak semua perhatian itu karena ia tetaplah seorang istri meskipun suaminya entah ada di mana.
Tak sabar akan informasi keberadaan Sam yang hanya secuil-secuil dan didorong oleh foto pemandangan Tian Tan Budha di laman facebook Sam, Amora pergi ke Hongkong. Ia berharap bisa menemukan Sam. Tapi nihil. Sam tetap hilang.
Keputusasaan bagai ombak yang siap menelan kewarasan Amora. Anak-anak yang membuat masalah, pria-pria yang mulai berani mendekatinya setelah hilangnya Sam, membuat Amora butuh jangkar untuk bertahan. Uluran siapakah yang akan ia sambut? Apakah Lody si berondong nan perhatian, Gavin sang sahabat suaminya yang telah bertunangan, Juan si mantan kekasihnya semasa kuliah dulu atau Beamy, sahabatnya dalam susah maupun senang? Ataukah Amora tetap akan menunggu kepulangan Sam demi anak-anaknya?

---------

Membaca Awaiting You ini membuat saya iri. Betapa warasnya Amora meski digempur cobaan demi cobaan. Yaah... walau saya sendiri nggak mungkin menganggap perhatian dari pria-pria nan tampan itu sebagai cobaan, itu kan anugerah *plak* :))))
Dari awal saya dibuat menebak-nebak bersama Amora tentang alasan kepergian Sam. Tadinya saya pikir Sam nggak puas karena Amora lebih memilih karir daripada keluarga, tapi saat tahu betapa rasionalnya dan tenangnya Amora menghadapi kenakalan anak-anaknya, perkiraan itu terbantahkan. Saya sangat suka cara Amora menghadapi pihak sekolah dan dengan gagah melindungi mental putranya. Tapi Amora juga tidak percaya buta begitu saja pada putranya. Ia menangani masalah putranya dengan bijak. Amora bukan hanya bertanggung jawab pada perusahaan tapi juga pada keluarganya.

Konfliknya cukup beragam meski semua bersumber dari hilangnya Sam. Bagai efek domino, begitu Sam menghilang masalah mulai bermunculan. Anak-anak yang mulai cari masalah, suster pengasuh yang memilih pulang kampung, pria-pria yang mulai PDKT, pacar-pacar mereka yang cemburu. Benar-benar aliran kisah rumit yang berawal dari sebab satu kehilangan.
Meski menggunakan POV orang ketiga, tapi saya dengan gamblang merasakan betapa frustasi dan galaunya Amora.

Banyaknya karakter yang muncul nggak akan membuat bingung karena setiap tokoh muncul dengan karakteristik yang khas. Nuansa kehadiran mereka dan efeknya bagi Amora juga berbeda-beda.
Dan tentu saja saya menyukai Lody si berondong yang gigih dan blak-blakan.
Pria yang lebih muda memang seolah punya semangat lebih untuk mendekati wanita yang lebih tua ya. Saya jadi ingat dengan berondong saya. Hahaha! *halaah baper* :D
Tapi beberapa tokoh juga begitu pengecut. Dewasa tapi pengecut, sebel jadinya :p

Saya nggak menyangka akan twistnya. Dua kali pula. Oke, yang terakhir memang saya sudah meraba tapi tetap membuat saya terkaget-kaget. Tetap saja saya nggak yakin 100% akan ke mana arah endingnya. Kejutan-kejutan kecil tak terduga juga tersaji beberapa kali.

Sayangnya romannya kurang. Huhuuu karena novel ini tentang penantian seorang istri jadi jangan mengharap adegan yang bikin meleleh. Penyelesaian novel ini juga terlalu sederhana kalau mengingat betapa rumitnya semua di tengah cerita.

Nggak ada typo dalam novel ini, tapi saya menemukan beberapa kesalahan tanda baca semacam penggunaan titik padahal seharusnya koma dan dua kata yang tidak dipisah spasi.

Saya merekomendasikan novel ini yang membuat saya memahami bagaimana cara menghadapi kesalahan seorang anak. Bukan dengan asal main hukum, bukan dengan melemahkan mental mereka. Point yang meski porsinya kecil tapi meresap dalam ke hati saya. Juga tentang keteguhan seorang istri, yang tetap mempertahankan moralnya sebagai istri walau di tengah ketidakpastian.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Di mataku, dia pria yang pas. Pas segala-galanya. Mengapa aku tak menyebut Sam sempurna? Karena orang yang sempurna itu tidak pernah ada. Tapi pria yang pas segala-galanya itu ada. Sayangnya, pria ini sekarang menghilang entah ke mana. (hal. 40)

Namun ia tahu, menjadi ibu yang baik salah satu kuncinya adalah dengan berkorban. (hal. 72)

Saat sedang susah, manusia sering kali bilang "Why me?" Padahal bisa saja Tuhan mengatakan "Why not?" (hal. 95)

Cinta tak semestinya dibatasi umur, Bu. (hal. 113)

"Bagaimana kamu bisa tahu kita nggak jodoh kalau kamu berusaha mempertahankannya saja tidak?" (hal. 150)

"Kadang apa yang sudah tidak bisa kita miliki, adalah yang terbaik bagi kita. Memang susah menerimanya. Tapi pelan-pelan, Ibu bisa memberi waktu buat hati Ibu." (hal. 198)

Bahwa cinta yang telah pergi bisa saja tergantikan. Bahwa cinta bisa datang dari mana saja. Dari siapa saja. Kapan saja. Pria ini mengajarkan, kesepian itu takkan pernah lama singgah jika kita percaya pada cinta. (229)

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon