Tampilkan postingan dengan label Woman-lit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Woman-lit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2016

[Resensi] Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi - Herlina P Dewi


Judul buku: Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi
Penulis: Herlina P Dewi
Editor: Weka Swasti
Proofreader: Carolina Ratri
Desain cover: Teguh Santosa
Layout isi: Arya Zendy
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Oktober 2015
Tebal buku: 218 halaman
ISBN: 978-602-7572-42-3



BLURB

Berbagai masalah berkaitan dengan keuangan pribadi akan dibahas dengan detail dalam buku ini, seperti:
• Cara membuat dan mengelola anggaran
• Cerdas mengatur pengeluaran
• menyiasati 'pengeluaran nakal' perempuan
• Pentingnya perempuan menabung
• Memilih produk asuransi dan investasi.
• Dan lain-lain

Bagi Anda yang sudah menikah, dalam buku ini juga dibahas keuangan suami-istri, yang menjawab berbagai pertanyaan, seperti:
• Apakah sebaiknya si istri tetap bekerja?
• Bagaimana mengelola anggaran keluarga?
• Pengeluaran apa yang bisa dipangkas?
• Dan lain-lain

Buku ini juga dilengkapi dengan kuis, tabel-tabel simulasi, serta contoh-contoh kasus yang sering dialami perempuan, sehingga akan sangat mudah dicerna dan dinikmati.
So, say YES to financial freedom, Ladies!


RESENSI

Sebelum membahas tuntas bagaimana cara Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi, saya terlebih dulu diuji dengan semacam kuis mengenali diri. Kuis yang harus dijawab jujur seeeejujur-jujurnya untuk mengetahui apakah saya tergolong dalam tipe boros, tipe perhitungan atau tipe supertertib?
Sayang pertanyaan dan pilihan jawabannya khas wanita sekali, jadi kadang saya bingung mau pilih yang mana, misal:
Apakah Anda tahu berapa uang yang Anda habiskan untuk facial di salon langganan?
Karena saya nggak pernah facial, dan ke salon juga cuma buat potong rambut, saya anggap aja pertanyaannya adalah berapa uang yang saya habiskan untuk hobi saya (membaca) dan uang yang saya habiskan untuk memenuhi hobi saya (membeli buku). Huehue..

Setelah mengenali diri, saya diajak memahami Pentingnya Merencanakan Keuangan Pribadi dan dibantu menyusun anggaran. Saya diajak menentukan target jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang serta membuat catatan pengeluaran yang dibagi dalam tiga kelompok: pembayaran utang, tabungan rutin dan biaya hidup.
Nah... nah... lalu gimana dong kalau pengeluaran lebih besar dari pemasukan? Jangan kuatir. Ada trik-trik yang disarankan dalam buku ini untuk mensiasatinya.
Yang paling saya suka dari buku ini, Herlina P Dewi memberikan contoh tabel-tabel anggaran keuangan yang bisa kita isi, lho.
Bagi perempuan yang sudah menikah seperti saya, di buku ini dipaparkan dengan komplit apa yang harus saya lakukan agar keuangan nggak bikin geger dan perang, tapi justru makin mempererat romantisme.. tsaah. Karena ada ulasan tentang perlu tidaknya istri bekerja, apa saja yang mesti dipertimbangkan untuk mengambil keputusan, dibahasa tuntas di buku ini lengkap dengan tabel simulasi apabila istri bekerja dan apabila tidak bekerja.
Berlanjut ke cara Mengelola Rekening Bank, penulis dengan rapi membagi penjelasannya untuk perempuan lajang dan untuk yang telah berkeluarga. Kira-kira berapa banyak rekening yang sebaiknya kita miliki? Jawabannya ada di sini.

Di chapter dua saya diajak untuk Mengelola Pemasukan yang berupa mengelola pendapatan bulanan dan mencari penghasilan tambahan. Nah ini penting bagi ibu rumah tangga macam saya karena ada tips-tips agar upaya sampingan bisa sukses.
Yang gak kalah pentingnya adalah... mengelola THR. Haduuh... kalau diberi uang THR itu, pasti yang muncul di pikiran adalah apa saja yang bisa dibeli dengan uang tersebut, ya kan? Tapi eits.. ternyata THR pun harus dikelola dengan baik agar tidak menguap. Pokoknya cara supaya nggak tekor saat lebaran bisa dipelajari di buku ini.
Lalu yang nggak kalah nyeseknya adalah tentang manajemen utang. Ternyata ada minimal tiga pertanyaan kunci sebelum memutuskan untuk berutang. Saya pun terbantu dengan tujuh langkah bebas utang yang dituturkan dengan terperinci. Semangaaat bebas utang!

Dalam chapter tiga, saya dibantu Mengelola Pengeluaran. Sebagai perempuan cerdas, saya harus mengubah kebiasaan belanja dengan bantuan tips cerdas membelanjakan uang, untuk menghindari pengeluaran "nakal" perempuan. Hihihii...
Bagi yang punya masalah dengan kartu kredit, tenang saja... buku ini membahas tuntas cara memperlakukan kartu kredit dengan bijak.

And then, tiba waktunya saya diajak Memikirkan Masa Depan di chapter empat. Karena saya perempuan, saya harus menabung. Mengapa? Ya karena saya perempuan *diinjek*
Membaca fakta-fakta yang harus dihadapi perempuan saya manggut-manggut dan merasa bersalah karena nggak tertib menabung. Untung buku ini memaparkan produk-produk investasi lengkap dengan risikonya. Tinggal tentukan saja mana yang cocok untuk saya.

Hingga di chapter lima ketemulah saya dengan mitos-mitos tentang uang, masalah-masalah keuangan dan solusinya dan yang paling keren adalah: resolusi keuangan bulanan! Aiih... bisa sehat nih keuangan saya kalau bantuannya detail begini.

Yeaay... semoga saya berhasil menerapkan apa yang saya dapatkan di dalam buku Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi. Kuncinya adalah disiplin dan semangaaat!
Buat teman-teman perempuan hebat baik yang masih lajang maupun telah berkeluarga saya rekomendasikan deh buku ini karena selain mencerahkan ada kuis-kuis untuk mengenali diri kita dalam memperlakukan keuangan dan things to do yang berguna banget. Layout di dalam buku ini pun asyik dan seru sehingga saya nggak bosan membacanya.

Senin, 11 Januari 2016

[Resensi: The Book Club - Mary Alice Monroe] Kisah Ketegaran Lima Wanita


Judul buku: The Book Club (Kisah Lima Wanita)
Penulis: Mary Alice Monroe
Alih bahasa: Deasy Ekawati
Editor: Fanti Gemala
Penerbit: Violet books
Tahun terbit: Oktober 2014
Tebal buku: 453 halaman
ISBN: 978-602-251-716-0



BLURB

Mary Alice Monroe mengundang Anda untuk bertemu dengan lima karakter yang luar biasa selagi dia menjelajahi kekuatan persahabatan dalam kelembutan, kejujuran, dan pengertian.

Dari luar, kelompok itu hanyalah sebuah klub membaca biasa. Tapi bagi lima orang wanita, klub itu adalah sesuatu yang jauh lebih bermakna. Bagi Eve Porter, yang segala keamanan hidup yang telah direncanakannya direnggut karena suaminya mendadak meninggal, klub itu adalah tempat perlindungan. Bagi Annie Blake, seorang pengacara hebat yang berniat memiliki keluarga meski sudah terlambat, klub itu adalah kesempatan untuk menurunkan pertahanan dirinya dan memimpikan banyak kemungkinan lain. Bagi Doris Bridges, klub itu adalah pendukungnya saat dia mengakui bahwa pernikahannya sekarat dan memperoleh kebebasan yang sesungguhnya dalam pengkhianatan suaminya. Bagi Gabriella Rivera, sang istri, ibu, dan sahabat 'sempurna' yang menawarkan dukungan bagi semua orang tapi enggan meminta dukungan bagi dirinya sendiri, klub itu memberinya suasana kekerabatan. Dan bagi Madge Kirsch, seorang seniman yang selalu menjalani hidup melawan arus, klub itu bagai surga yang menerimanya.

Merekalah lima wanita dengan jalan kehidupan yang berbeda, yang menerima tantangan dalam perubahan hidup mereka.  Dan saat mereka berbagi harapan, ketakutan, dan kemenangan, mereka akan berpegang erat pada keajaiban sejati sebuah klub membaca–yaitu persahabatan.

RESENSI

Meninggalnya Tom Porter yang mendadak membuat Eve terpukul. Betapa tidak, suaminya baru berusia lima puluh tahun dan terlihat sehat. Meskipun pernikahan mereka tak sehangat dulu, tapi Eve masih sangat bergantung pada Tom. Raga dan jiwanya masih belum siap.
Pemakaman Tom dihadiri banyak orang termasuk keempat sahabat Eve yang tergabung dalam Klub Membaca bersamanya. Tampaknya pemakaman Tom membuat mereka terguncang dan berimbas pada diri mereka.
Doris, yang telah lama bersahabat dengan Eve selalu tidak menyukai Annie. Ketidaksukaan yang didasari rasa iri, karena bagi Doris, Annie tampak penuh kendali, hebat dalam karir dan bentuk tubuhnya masih bagus. Sementara Doris semakin merasa tua, gemuk dan membosankan. Ia pun berusaha menutup mata akan kelakuan suaminya dan bersikap seolah semua baik-baik saja.
Annie sendiri adalah gambaran wanita sukses, sebagai pengacara ia penuh kendali. Hubungannya dengan suami masih panas dan penuh gairah. Tapi sejak ia melihat Eve di pemakaman bersama kedua anaknya, Annie merasa ini saatnya ia ingin punya anak. Meski telah berusia 43 tahun dan para sahabatnya merasa tak mungkin, Annie tetap yakin ia akan berhasil mengandung.
Gabriella harus mendapati kenyataan pahit sepulang dari pemakaman Tom. Suaminya di-PHK. Gabriella yang bekerja sebagai perawat harus menambah jam kerjanya sementara sang suami mencari pekerjaan lagi. Padahal mereka punya empat orang anak.
Madge yang eksentrik dan memilih hidup sendiri tak mau mengakui bahwa ia kesepian. Dan ketika ibunya datang, Madge merasa frustasi. Ia tak pernah bisa memahami ibunya yang masih saja bersikap genit pada setiap pria. Bahkan pria yang lebih muda dari Edith.
Dan Eve yang murung setelah ditinggal Tom, menjadi antisosial selama berbulan-bulan. Hingga Annie harus menyeretnya menghadapi kenyataan bahwa Eve bangkrut. Eve harus mulai bangkit dan mencari pekerjaan atau ia akan benar-benar miskin. Eve pun berusaha berdiri walau goyah. Ia siap menghadapi dunia baru dan bahkan mungkin.... cinta baru.

------------------

The Book Club menawarkan bukan hanya satu kisah tapi lima. Lima kisah kehidupan yang harus dijalani wanita-wanita usia empat puluh hingga lima puluh tahunan. Wanita-wanita yang telah menjalani pernikahan mereka selama dua puluh tahun lebih. Kecuali Annie yang usia pernikahannya baru berjalan lima tahun.

Dengan setting waktu tahun 1997-1998 novel ini beralur maju dan menggunakan POV orang ketiga. Secara bergiliran saya dibawa menyelami kisah dan konflik masing-masing tokoh. Namun Eve lah yang mendapat porsi terbesar dalam cerita ini.

Banyak tokoh yang muncul dalam novel ini. Yah, tokoh utamanya saja ada lima, belum lagi suami-suami mereka, anak-anak mereka dan tentunya wanita misterius berambut merah yang menangis hebat di pemakaman Tom.
Namun semua karakternya terasa khas dan bulat. Eve yang pada awal cerita begitu mengenaskan akhirnya berani membuka cangkangnya, tapi ia tetap nggak kehilangan sifat khasnya.
Doris menjadi karakter yang cukup menyebalkan karena sok dan gengsinya tinggi. Tapi teman-temannya bisa menerimanya. Saya merasa mereka semua berimbang. Sifat-sifat yang saling bertolak belakang ini justru menjadi magnet dan mengikat persahabatan mereka menjadi hubungan yang unik. Inilah yang membuat masalah-masalah pribadi mereka jadi kait-mengait.

Saya suka melihat perdebatan mereka mengenai buku yang mereka baca bersama saat berkumpul. Pemikiran mereka menjadi penguat karakter, memperlihatkan pola pandang yang berbeda dan membuat suasana pertemuan Klub Membaca menjadi meriah.

The Book Club merupakan novel woman-lit dengan menghadirkan masalah dan konflik khas pernikahan. Masalah-masalah yang umum dihadapi wanita usia lima puluh tahun dan mengajarkan ketegaran untuk menghadapinya. Bahwa meski dunia runtuh di sekeliling kita, akan tetap ada sahabat yang menyeret kita untuk tetap berpikir waras. 
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon