Hallo pengunjung setia blog Nurina Mengeja Kata... kali ini saya jadi host ketiga untuk Blog Tour Namaku Subardjo karya Mbak Hapsari Hanggarini. Bagi kamu yang menginginkan novel ini gratis, yuk simak dulu resensi Namaku Subardjo dari saya, baru nanti di akhir resensi kita bakal bersenang-senang dengan giveaway-nya, ya ;)
Judul buku: Namaku Subardjo
Penulis: Hapsari Hanggarini
Editor: A. Mellyora
Desain sampul dan isi: Rendra TH
Proofreader: Hartanto
Penerbit: MetaMind, Imprint of Tiga Serangkai
Tahun terbit: Juli 2015
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 978-602-72834-0-4
BLURB
Pernah membayangkan kalau namamu--nama yang diberi orangtuamu--akan menentukan nasib percintaanmu?
Aku tak akan percaya kalau tidak menyaksikan sendiri kisah cinta kakakku berantakan hanya karena namanya Subardjo--nama yang menurut mantan pacarnya, nggak ngepop. Bahkan, tampang keren, uang yang bertumpuk di rekening tabungan, atau tongkrongan hebat yang kamu punyai tak cukup membantu, selain menjadi perantara untuk mengulur waktu, saat di mana cintamu diputus begitu saja tanpa penyesalan.
Lalu, apa yang kamu rasakan ketika namamu pun ikut menentukan perjalanan kariermu? Meski pertanyaan itu konyol, aku bisa menemukan sedikit kebenaran di sana, ketika kakakku mendadak menjadi seorang caleg. Ya, caleg yang harus mengabdi pada rakyat: mendengarkan dan memperjuangkan hak dan aspirasi mereka.
Apa hubungannya? Kamu akan menemukannya dalam cerita ini. Cerita yang berawal dari sebuah nama serta berakhir di tempat yang sama.
RESENSI
Ini kisah tentang Subardjo alias Jojo, cowok yang menurut Dina--adiknya--cukup ganteng berkulit hitam manis. Jojo merupakan seorang mahasiswa semester terakhir di Program D3 Teknik dan merupakan spesies hasil persilangan Brebes dan Sidoarjo. Tapi dia sudah dipercaya keluarganya untuk mengurusi arus distribusi telur asin di Jakarta. Bisnis telur asin tersebut sudah digeluti keluarga Jojo dan Dina sejak zaman kakek moyang mereka. Bisa dipastikan seberapa kayanya Jojo meskipun dia masih mahasiswa.
Maka tak heran Jojo berhasil menggaet cewek paling manis sekompleks. Setiap pagi Jojo rutin mengantar Ila ke kampus sekalian memberi tebengan pada bapak, ibu dan adik Ila, terkadang Aa', Teteh, Om dan Tante ikut nebeng juga. Sayangnya itu nggak membuat Ila puas, begitu tahu nama panjang Jojo adalah Subardjo thok, Ila langsung minta putus. Karena Ila ilfil dengan nama Subardjo dan sepertinya dianggap tidak cocok mendampingi namanya, Priscilla Catherine Olivianti. Jojo pun patah hati.
Saat itulah, Rudy, salah satu karyawan Jojo mengusulkan agar Jojo mendaftar jadi caleg di partai kenalannya yang baru saja didirikan, Partai Peduli Amat. Awalnya Jojo ragu, tapi dengan sigap Rudy terus membujuk hingga Jojo pun menurut. Dan mendaftarlah Jojo di Partai Peduli Amat untuk menjadi caleg mewakili dapil daerah asalnya Brebes.
Siapa sangka, upaya coba-coba Jojo malah membuatnya terperosok makin dalam. Jojo yang lugu, yang lurus dan gaptik alias gagap politik, didampingi Rudy si penasehat sotoy, ikut berkubang dalam hiruk pikuk kampanye. Hal itu membuat Dina takut kakaknya mulai kehilangan nurani.
Berhasilkah Subardjo lolos jadi caleg dan membuktikan apalah arti sebuah nama?
-------
Sebagai Juara Harapan Pertama Lomba Menulis Novel Remaja Seberapa Indonesiakah Dirimu? novel Namaku Subardjo membidik tema yang unik dan penulis mengolahnya dengan cerdas. Dunia politik yang semestinya bernuansa serius disajikan dengan lucu sambil tak lupa menyentil perilaku masyarakat kita.
Novel ini dikisahkan dari sudut pandang Dina, sang adik, sebagai aku. Riskan tentu saja, karena "aku" bukanlah si tokoh utama, tugas berat bagi "aku" untuk menunjukkan kepada pembaca polah tingkah Jojo selama nyaleg. Namun penulis cukup cermat membuat "aku" bisa bercerita tentang kegiatan Jojo tanpa pembaca merasa risih karena terus mengintili tokoh utama.
Hanya satu kali saat si "aku" tidak ikut kakaknya ke TKP, yaitu ketika Jojo pertama kali mendatangi kantor Partai Peduli Amat. Kronologi yang terjadi di tempat itu keluar dari mulut Jojo saat bercerita pada Dina. Itulah saat Jojo mengambil alih peran sebagai "aku" meski dicetak miring. Di bagian ini terus terang saya agak kurang sreg. Saya pikir tetap lebih enak mereka berdialog, sehingga Dina tetap bisa nyeletuk dengan bebas. Tapi saya tetap bisa ngikik-ngikik geli bin jijay kok. Tentu saja karena guyuran hujan lokalnya :)))))
Novel ini menyajikan tokoh yang beragam dengan karakter masing-masing yang konsisten. Sangat bisa dibedakan sifat-sifatnya bahkan dari dialognya. Saya merasakan kekuatan karakter para tokoh. Terutama sosok Ibu, yang meski muncul sedikit tapi pelitnya langsung nancap di kepala. :D
Narasinya lumayan, kadang lucu, kadang bikin mikir, kadang lebay, kadang garing, kadang bikin ngakak hebat. Dan semua tersaji dalam porsi yang pas. Hal yang sama juga terasa dalam dialog. Cukup menghibur dengan bahasa ngapak yang digunakan para tokoh dalam novel ini. Tapi eits jangan khawatir nggak paham, karena ada catatan kaki untuk setiap kalimat berbahasa ngapak yang digunakan. Bisa nambah wawasan, kan?
Saya rekomendasikan novel ini bagi para pembaca yang ingin nyaleg remaja sebagai pemilih potensial dalam pemilu. Wawasan politik novel ini disajikan dengan kocak dan menghibur. Namaku Subardjo adalah novel yang ringan namun sarat makna, novel ini bisa jadi potret tentang secuil dunia politik Indonesia yang mirip panggung komedi ;)
TEBAR-TEBAR QUOTE
Rezeki memang nggak dibagi berdasarkan keren nggaknya nama seseorang, ya. (hal. 35)
"Kamu pinter banget, sih bikin kata kerja! Dari 'caleg' jadi 'nyaleg' dan cara ngomong kamu bikin 'nyaleg' kedengerannya nggak jauh beda dengan kata 'nyangkul', 'nyabit', 'nyari', 'nyuci', dan sebangsanya. Jadi caleg kan nggak semudah yang kita pikirin, Dol." (hal. 37)
Akan tetapi kalau nasi sudah menjadi bubur, memang lebih baik langsung dimakan. Jangan tanggung-tanggung. (hal. 90)
Hidup cuma sekali, seharusnya dinikmati, bukan diisi dengan menyiksa diri. Sepanjang masih didapatkan dan digunakan di jalan yang benar, pasti bermanfaat. (hal. 93)
Setiap orang punya nama yang pasti punya makna atau harapan tersirat di sana. Pendapat orang nggak perlu terlalu dipusingkan, apalagi sampai bikin stres. (hal. 133)
"Rud, apa nggak ada cara lain untuk menarik simpati orang selain memanfaatkan musibah orang lain?" (hal. 197)
Apakah memang benar sudah sebegitu remang-remangkah kehidupan dunia politik dan kehidupan masyarakat kita hingga orang superbaik dan kuat yang masuk ke dalam sistem pun nggak bisa berbuat banyak untuk melakukan sebuah perubahan? (hal. 207)
--------********--------
Dan sekarang saatnya GIVEAWAY!!! Saya akan bagi-bagi stiker Subardjo!!! Hahaha... enggaklah, biar Rudy saja yang bagi-bagi stiker mohon doa restunya, saya sih cuma mau membagi satu eksemplar novel NAMAKU SUBARDJO dari Mbak Hapsari Hanggarini di sini ^^
Syaratnya mudah & nggak ribet, kok:
1. Peserta berdomisili atau punya alamat kirim di Indonesia.
3. Follow blog ini via email atau GFC
4. Share giveaway ini dengan hashtag #NamakuSubardjo dan mention ketiga akun di atas. Boleh juga mention beberapa temanmu supaya lebih ramai ;)
5. Jawab pertanyaan berikut dengan mencantumkan nama, akun twitter dan kota tinggal. Pertanyaannya adalah:
Jika kamu punya anak nanti, atau sudah punya anak, nama apa yang akan kamu berikan dan harapan atau doa apa yang kamu titipkan dalam nama tersebut?
Sedikit tips: yang saya pertimbangkan adalah harapan kalian dalam nama tersebut, karena bagus enggaknya sebuah nama kan relatif ;)
6. Jawaban serumu saya tunggu sampai penutupan giveaway tanggal 27 September 2015 pukul 23.59 ya. Selamat menjawab dan semoga beruntung :))