Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Maret 2019

[Book Review & Giveaway] Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga - Gunawan Tri Atmodjo

Judul buku: Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga
Penulis: Gunawan Tri Atmodjo
Penyunting: Yetti A.KA
Penyelaras akhir: Avifah Ve
Tata sampul: Ferdika
Penerbit: DIVA Press
Tahun terbit: Januari 2019
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 978-602-391-663-4



BLURB

"Karena sesungguhnya, pulang sejati hanyalah menuju pada hati yang tenang."

Pintu adalah batas antara dua dunia. Seseorang mungkin sangat berkuasa di luar sana, tetapi setelah melewati pintu, bisa jadi dia akan segera menjelma makhluk tak berdaya karena dia telah memasuki dunia yang sama sekali berbeda. Demikian pula sebaliknya. Maka, berbahagialah bagi mereka yang tak terbelenggu oleh pintu serta menjadikan pintu sebagai gerbang idaman. (Sesuatu Menggeliat di Balik Pintu)

Untuk buku ini, Gunawan Tri Atmodjo menghadirkan "Sesuatu Menggeliat di Balik Pintu" dan enam belas cerita pendek lainnya, yang akan menghadirkan pengalaman-pengalaman tersendiri dalam benak para pembaca. Selamat menikmati.

RESENSI

Apa yang paling berkesan dari membaca sebuah dongeng? Akhir bahagianya? Perjalanan penuh liku yang dilalui tokoh utamanya? Atau ironi yang menyertai ceritanya? Apapun yang kita nantikan, dongeng selalu menjadi kisah magis yang dituturkan dari telinga ke telinga, dari zaman ke zaman.
Demikian pula dengan Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga yang menghadirkan kemagisan tersendiri untuk menyihir pembacanya. Kisah ini hadir bersama 16 cerita pendek lainnya, dan masing-masing cerita tersebut meninggalkan kesan yang berbeda.

Saya dibuat terkesima dengan cerpen pembukanya, Sunyaruri. Sebuah kisah yang kelam dan kental dengan aroma kemirisan. Seorang gadis buruk rupa yang pasrah menerima takdirnya dan seumur hidup tak mengenal penerimaan dari orang-orang di sekitarnya. Menjalani hari demi hari di balik bayang-bayang. Kisah yang membuat saya bertanya-tanya, mana yang lebih menyedihkan, dikaruniai wajah yang teramat sangat buruk atau teramat sangat cantik? Benarkah kecantikan adalah anugerah dan keburukrupaan adalah tragedi?

Cerpen kedua, Sesuatu Menggeliat di Balik Pintu, menghantam saya dengan ironi yang memilukan. Setiap pintu-pintu selalu menyembunyikan dengan baik apa saja yang terjadi di baliknya. Siapa yang bisa menduga akan apa yang terjadi pada rumah tangga seorang aktivis perempuan. Ketika ia menggaungkan perlawanan kepada para wanita-wanita korban kekerasan rumah tangga, apakah ia tetap segagah berani itu di balik pintunya sendiri?

Ah, masa lalu memang selalu lupa menutup pintu, kenangan dengan mudah lewat dan berlalu. (hlm. 31)

Banyak cerita yang menyentak saya dengan kejutan-kejutan tak diharapkan. Gunawan Tri Atmodjo dengan piawai membuat alur yang menikung tajam. Ada pertemuan takdir yang melankolis dalam cerita Pohon Merah di Bandara. Ada kisah miris di jagad persilatan dalam Pembaca Masa Depan dari Selatan. Ada kisah keikhlasan semu yang terasa getir dalam Sebuah Kecelakaan Suci.
Kisah-kasih antara sepasang anak manusia dengan beragam tragedinya juga muncul dalam beberapa cerpen di buku ini. Membuat saya menyadari bahwa setiap kisah cinta memiliki sisi tragisnya masing-masing. Ada kecemburuan yang mematikan, ada cinta sekian segi yang tumbuh diam-diam, ada penantian cinta yang berselisih jalan, ada pula cinta yang salah tujuan. Masing-masing kisah terjalin dengan alurnya sendiri yang tak bisa ditebak. Walau tentu saja ujung kisah cinta hanyalah bercabang dua, bahagia atau merana.

Membaca Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga membuat saya sekali lagi jatuh cinta pada bengalnya imajinasi Gunawan Tri Atmodjo. Terutama pada cerpen berjudul "Lelaki Tak Bermata dan Anjing Kudisan" juga cerpen "Antara Debu Merah dan Ciuman Catalina". Kedua cerpen inilah yang meninggalkan kesan paling dalam dan menjadi favorit saya. Saran saya adalah, nikmati kisah-kisah dalam buku kumcer ini dengan perlahan, karena sungguh, saat tiba di cerpen terakhir rasanya seperti masih ingin membaca cerita lainnya lagi dan lagi.

***** GIVEAWAY TIME *****



Nah sekarang waktunya saya untuk membagikan satu kumcer Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga untuk satu orang yang beruntung. Sudah siap???

Syaratnya mudah saja:

1. Berdomisili di Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun twitter @KendengPanali dan @diva_fiction atau fanpage fb "Penerbit DIVA Press" atau akun IG @fiksi.diva

3. Share giveaway ini di twitter atau di story IG kamu dan jangan lupa mention akun kami.

4. Jawab pertanyaan berikut dengan format: nama | nama akun | link share | jawaban

  • Dongeng apa yang paling berkesan bagi kalian dan apa alasannya?


5. Saya tunggu jawaban kamu sampai tanggal 10 Maret 2019 pukul 23.59 WIB.

6. Yang terakhir, good luck... jangan segan untuk colek-colek akun saya jika ada pertanyaan yang belum jelas yaa~ 


****** UPDATE ******

Setelah sepekan berlangsung, sayangnya giveaway di blog ini harus berakhir. Terima kasih banyak untuk para peserta yang sudah ikutan kuis giveaway blogtour di blog ini dan sudah berbagi pengalaman saat membaca dongeng.

Memanglah semua dongeng memiliki tujuan untuk menyentuh dan menggerakkan nilai-nilai moral dalam diri kita. Membaca satu persatu kesan yang didapat dari dongeng membuat saya yakin, dunia masih dipenuhi kebaikan hati.

Well.. akhirnya saya harus memilih satu kesan yang sekiranya cocok dengan isi kumcer Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga, dan yang beruntung adalaaaahh...

Ria Auliya | Twt: @auliyaria17

Selamaaaattt kamu beruntung mendapatkan satu kumcer dari Diva Press. Sila kirim nama dan alamat lengkap kamu melalui DM twitter/IG saya atau ke alamat email nurinawidiani84(at)gmail(dot)com. Saya tunggu konfirmasi kamu dalam 2 x 24 jam, jika hingga batas waktu yang ditentukan pemenang tidak mengkonfirmasi diri, maka akan dipilih pemenang lain.

Terima kasih untuk para peserta yang sudah berkunjung dan ikut seru-seruan di blog ini. Jangan sedih karena masih ada kesempatan lain untuk mendapatkan kumcer ini, di bloghost selanjutnya. Sila kunjungi destybacabuku.com yang akan mengulas dan membagikan satu buku Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga. Good luck :)

Minggu, 11 Februari 2018

[Resensi] Pelisaurus dan Cerita-Cerita Lainnya - Gunawan Tri Atmodjo | Pelisaurus Sebuah Prasasti Cinta yang Tragis

Judul buku: Pelisaurus dan Cerita-Cerita Lainnya
Penulis: Gunawan Tri Atmodjo
Editor: Edi AH Iyubenu
Tata sampul: sukutangan
Tata isi: Ika Setiyani
Penerbit: Basabasi
Tahun terbit: September 2017
Tebal buku: 200 halaman
ISBN: 978-602-6651-32-7



BLURB

Pada suatu hari, semua durjana asmara menyingkir dari muka bumi dan aku jatuh cinta lagi kepada seorang editor buku primbon. 
(Iwan Punung, editor buku sastra di Jakarta) 

Sebagian besar rahasia lelaki tertinggal di kamar mandi. 
(Sri Suwartini, Menteri Kebatinan Perempuan) 

Manusia itu seperti ritsleting, terbuka dan tertutupberulang-ulang, memasukkan dan mengeluarkan cinta berkali-kali, tetapi seperti yang disembunyikan di balik ritsleting, pada akhirnya ia akan sendiri. 
(M. Yayan Kristanto, anak Pak Warso, CEO Imajiner PT YKK)

RESENSI

Apa yang terlintas di benak kalian saat membaca atau mendengar pelisaurus?
Kalau saya, sebagai orang jawa tentu paham betul bahwa peli adalah kosakata bahasa jawa yang merujuk pada alat kelamin pria. Memang sudah bukan masanya lagi bagi saya untuk merona atau terkikik-kikik bila mendengar kata ini, malahan saya sudah lancar menggunakan kata ini jika sudah berkumpul dengan ibu-ibu yang sama edannya dengan saya, atau fasih mengucapkannya di depan suami. Namun ternyata, menandaskan buku Pelisaurus ini sampai habis membuat saya tersipu-sipu dan ngakak nggak ketulungan.

Buku Pelisaurus merupakan kumpulan cerita (kumcer) yang berinti pada selangkangan dan dunia perlocoan. Jadi sebaiknya memang tinggalkan dulu rasa jengah dan curiga kalian di depan pintu sebelum memulai membaca kumcer ini.

Sejak membaca buku kumcer Tuhan Tidak Makan Ikan, saya sudah jatuh hati pada gaya tulisan nylenehnya Gunawan Tri Armodjo. Namun kali ini dalam Pelisaurus, cerpen-cerpennya terasa lebih seperti parodi kehidupan dunia bawah perut.

Ada 22 cerpen dalam buku ini dan dengan judul yang membacanya saja sudah bikin nyengir, apalagi membaca nama tokoh ceritanya, saya masih suka ngakak sendiri kalau ingat.
Dalam beberapa cerita, Gunawan Tri Atmodjo terlihat sangat rapi membangun alur dan tempo cerita. Tengok saja dalam kisah Siti Semak-Semak. Selain menyelipkan plesetan semacam: buku berjudul Terbacok Petuah Bijak karya Pipiet Surup, televisi merek Segawontron, dan juga pedangdut bernama Via Kallen, yang membacanya saja bikin saya mesam-mesem antara geli dan jengkel, cerpen ini membuat saya penasaran akan hubungan arwah Siti Semak-Semak dan si tokoh utama. Begitu ajaibnya sosok Siti Semak-Semak ini dan betapa misteriusnya cara wanita ini meninggal membuat saya terhanyut dan menjadikan Siti Semak-Semak sebagai salah satu cerpen favorit saya.

Cerpen Pelisaurus sendiri saya rasa lumayan absurd. Ini adalah kisah seorang laki-laki beristri yang terkenang mantan gara-gara sang mantan muncul di televisi. Ia teringat kisah percintaan mereka semasa kuliah, dan bagaimana ia membuat gambar pelisaurus di tembok kamar mandi tempat ia biasa ngeloco sambil membayangkan sang kekasih. Namun sayangnya pelisaurus itulah yang mebuat kisah asmaranya berakhir tragis. Tragis dengan absurd. :|
Satu cerpen yang paling saya suka adalah Poni Kirik. Cerpen ini membuat saya penasaran sekaligus geli, takut, takjub dan jengkel. Ini adalah kisah seorang pemuda yang menemukan potret lawas yang di dalamnya terdapat tiga orang berfoto dengan gaya rambut aneh yang dinamai poni kirik. Sedemikian anehnya potongan rambut itu, sehingga membuat si pemuda penasaran dan melacak jejak poni kirik. Namun usahanya nihil, tanpa hasil. Gaya rambut itu seolah tak pernah tercatat dalam sejarah. Hingga akhirnya poni kirik membawa tragedi tepat di depan matanya. Ini cerpen yang paling bikin saya ingin berkata kasar sekaligus mengagumi alur ceritanya dalam waktu bersamaan.

Bagi saya cerpen-cerpen dalam Pelisaurus begitu santai dan enak buat ngakak-ngakak. Cerita-ceritanya menghibur dan anehnya terasa beragam walau mengusung tema yang sama. Dan tentu saja, yang paling sering bikin saya pengen ngakak njungkel adalah nama-nama tokohnya. It's hilarious.



Senin, 06 Maret 2017

[Resensi] Kupu-Kupu Bersayap Gelap - Puthut EA

Judul buku: Kupu-Kupu Bersayap Gelap
Penulis: Puthut EA
Penyunting: Nody Arizona
Pemeriksa aksara: Prima S. Wardhani
Ilustrasi sampul & isi: Saipul Bachri
Penata isi: Azka Maula
Penata sampul: Narto Anjala
Penerbit: Buku Mojok
Tahun terbit: Februari 2016 (cetakan kedua)
Tebal buku: 167 halaman
ISBN: 978-602-1318-25-6



BLURB

"... Puthut adalah pencerita yang piawai. Kata-katanya sederhana. Kalimat-kalimatnya ringkas. Tidak neko-neko. Tidak ingin dianggap pintar meliuk-liukkan kata, tapi ceritanya tetap memukau.

Dia bukan hanya tahu teknik menulis yang baik, tapi saya kira, cerpen-cerpennya tak hanya ditulis dengan teknik menulis dan bercerita yang baik itu, melainkan ditulis dengan melibatkan perasaannya. Dan itulah yang penting, karena tulisan yang ditulis dengan sepenuh perasaan akan sampai pula pada perasaan pembacanya. Tak banyak penulis yang sanggup melakukannya. Mungkin saya berlebihan, tapi perasaan tidak bisa dibohongi. Beberapa kali dada saya terasa sesak karena larut membaca cerpen-cerpen Puthut. Seolah saya ada di sana, di dalam cerpen-cerpennya. Menjadi saksi. Menjadi pelaku."

—Rusdi Mathari, wartawan dan penulis


RESENSI

Saya adalah salah satu penikmat karya-karya Puthut EA, lalu merasa gemas sendiri karena nggak pernah bisa menuliskan satu review-pun setelah menuntaskan membaca karya-karyanya. Mungkin saya nggak percaya diri, mungkin juga karena saya nggak sanggup berkata-kata lagi seusai membaca. Ah... penikmat abal-abal macam apa saya ini?

Di bulan kelahiran saya, beberapa bulan lalu, saya mendapatkan arisan kado buku dari sahabat-sahabat grup BBI Joglosemar. Sebenarnya wishlist saya adalah karya Puthut EA yang lain, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, tapi karena stok sedang kosong, saya akhirnya dipilihkan Kupu-Kupu Bersayap Gelap ini. Jelas saya nggak keberatan karena saya memang belum pernah membaca buku ini. Lagipula, saya memang lebih suka kumpulan cerpen karena berarti saya bisa lebih banyak bertemu karakter-karakter dalam dunia yang dibangun oleh Puthut EA.

Buku Kupu-Kupu Bersayap Gelap ini berisi 13 cerita pendek, yang kisah-kisahnya begitu lekat dan dekat dengan kehidupan kita. Rasanya mudah saja menengok ke lingkungan sekitar dan menemukan cerita yang hampir sama seperti yang dialami para tokoh dalam kumpulan cerpen ini. Atau kalau mau lebih jujur lagi, betapa dekatnya lakon yang kita jalani dengan kisah-kisah yang ada dalam buku ini.
Saya menyukai semua cerpen di dalamnya, tak terkecuali. Semua begitu tampak sederhana dan membumi tapi juga menohok dengan kuat di tempat-tempat yang tepat. Ada ironi hidup dalam kisah-kisahnya, pun ada nilai-nilai moral yang mengisi jalinan kisahnya.   Semua ditulis dengan bahasa yang lugas namun indah.

"Itu bukan masalah uang yang kamu miliki. Tapi masalah yang lebih penting lagi, yaitu hal yang pantas dan yang tidak pantas." (hlm. 107)

Bagi saya, cerita pendek Rasa Simalakama yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang tak nggak sanggup menyakiti orang-orang yang mereka cintai demi kebahagiaan mereka sendiri, memanglah yang paling membekas karena begitu dekatnya dengan kisah saya sendiri. Sedangkan Benalu di Tubuh Mirah membuat saya merasa terhubung karena diceritakan dari sisi seorang ibu, yang harus menghadapai orang-orang serupa benalu dalam hidup ini. Dan sungguh, benalu itu memang banyak. Bahkan mungkin secara sadar dan nggak sadar, saya pun bisa saja merupakan benalu bagi orang lain.

Potret sosial dalam ketigabelas cerpen ini memang nyata adanya di sekitar kita. Puthut sendiri menjabarkan settingnya bukan secara fisik tapi secara sosial. Tempat dan ruang tak bernama tapi tetap saja terasa akrab karena menggambarkan situasi sosial lingkungan kita. Betapa mudahnya saya membayangkan kampung dan surau di cerpen Dalam Pusaran Kampung Kenangan, atau gardu ronda sebelah tenggara dan sebelah barat laut dalam cerpen Gayung Plastik, atau juga "kota besar" yang menjadi latar cerpen Doa Berkabut.
Keberagaman juga merupakan bagian penting dalam kumpulan cerpen ini melalui karakter-karakternya yang berbeda agama, latar dan keyakinan. Dan melalui karakter-karakter itulah, nilai-nilai moral dan ironinya terasa menohok begitu dalam tanpa terasa menggurui. Karena rasanya begitu mudah menempatkan diri sebagai si tokoh karakter atau orang terdekat si tokoh.

Kupu-Kupu Bersayap Gelap menjadi buku kumpulan cerpen favorit saya. Dan di antara ketigabelas cerpen di dalamnya, Bunga dari Ibu dan Dalam Pusaran Kampung Kenangan yang paling saya sukai. Buku ini melalui cerpen-cerpenya telah membawa saya menjelajah, dari satu kenangan ke kenangan lainnya.

Rabu, 22 Februari 2017

[Resensi] Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca - Dono Indarto

Judul buku: Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca
Penulis: Dono Indarto
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Agustus 2016
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 9786023756391



BLURB

Merindumu dengan sembunyi 
Ssstttt. . . menyelinap sunyi
Tolong kembalikan hati yang kau curi 
dari jubah kesetiaan 
yang selama ini mengintip penasaran


Cerita-cerita dalam buku ini adalah cerita soal kerinduan yang muncul setelah kehilangan.
Kerinduan seorang wanita gila bersama wanita gila pada pelukan.
Kerinduan seorang penulis atas masa kecil bersama ayahnya yang sekarat.
Kerinduan seorang pelukis pada wanita di dalam lukisannya.
Kerinduan seorang anak yang mencari ibunya di tengah lautan.
Dan sederet kerinduan lain yang terungkap dalam cerita pendek.
Juga ada kerinduan yang mempertemukan kamu dengan aku dalam sebuah puisi 


RESENSI

Semula saya mengira buku Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca adalah buku kumpulan puisi. Judulnya jelas menggoda walau saya anggap covernya sebenarnya nggak comotable. Namun melihat judulnya saja, membuat rasa penasaran saya tergugah dan ingin mencari tahu benarkah ini puisi, atau hanya bait-bait nggak penting yang saya baca?
Well, rupanya saya salah. Buku ini bukanlah buku kumpulan puisi biasa, tapi merupakan perpaduan antara kumpulan puisi dan kumpulan cerita pendek. Menariknya, antara kedua bentuk karya tersebut memiliki saling keterkaitan satu sama lain. Saat membacanya, saya merasa puisi-puisi dalam buku ini menjadi pembuka bagi cerita pendek yang muncul setelahnya.

Jangan abaikan juga tanda 18+ yang ada di sampul buku. Karena isi beberapa cerita pendek dalam buku ini nggak jauh dari isu seputar selangkangan. Nggak eksplisit dan nggak vulgar sih, saya justru lebih menggaris bawahi ironi dan sindiran yang diramu dengan apik dalam buku ini yang  memang sebaiknya dibaca oleh orang-orang yang telah dewasa. Meski sebenarnya, lagi-lagi menurut saya, usia bukanlah patokan seseorang telah dewasa atau belum.

Saya akui, saya adalah pencinta puisi yang terlalu pemilih. Saya bukanlah penikmat puisi rumit yang mesti ditelaah beberapa kali untuk memahaminya. Saya lebih menyukai puisi yang sederhana namun mengena, juga kuat dalam pemilihan diksi dan rimanya.
Puisi-puisi dalam buku ini sendiri memang terkesan simple tapi kaya makna. Yang paling mengena di benak saya adalah puisi yang berjudul Tanda Baca:

tanda seru memaki
tanda tanya mengapa
titik bilang usai
koma belum sampai

lalu yang lain berderet
minta dipakai
agar bisa dipahami
dalam lembar yang semula gersang
dan kerontang

bahkan kita butuh dia
bidang kosong itu

spasi

bayangkanjikadiatakada
apakahkaumengerti

deret huruf itu
yang selalu terburu-buru

sesungguhnya kita berarti
jika tidak sendiri

sesungguhnya kita dimengerti
jika ada 'antara'
(hlm. 132)

Sementara untuk cerita pendek dalam buku ini, ajaibnya saya suka semuanya. Kisah-kisahnya yang nyaris kelam dan berisi kehilangan yang melahirkan rasa rindu, terasa menyentil dengan telak. Itu sebabnya saya tak sanggup berhenti membaca satu persatu kisah pendek yang disajikan. Ada kisah yang serupa fantasi, ada yang melibatkan tragedi, dan ada juga yang terasa ironis. Namun kesemuanya ditulis dengan alur yang menarik, memancing rasa penasaran dan terkadang berujung pada plot twist yang mengejutkan.

"Kamu tahu, apa hadiah paling sempurna bagi seorang wanita?"
Wanita itu menggeleng.
"Dikenang. Mereka ingin dikenang. Menjadi abadi. Mereka berharap bisa tersesat dan menjadi puisi." (hlm. 166)

Dengan gaya bahasa yang lugas, cerita-cerita pendek dalam Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca begitu mudah dinikmati tanpa perlu mengerenyitkan kening. Terasa menghibur di satu sisi tapi juga menyindir di saat yang sama. Potret-potret kehidupan yang dibungkus dalam sebuah ironi, kehilangan yang mungkin pantas untuk direnungkan atau malah ditertawakan.
Ah, bagaimanapun saya puas dan menutup buku ini dengan rasa syukur sambil mengenang dia, seseorang yang pernah singgah, pernah menetap, pernah pergi dan akhirnya saya rindui.


Kamis, 04 Juni 2015

[Resensi Kumcer] Memahami Keperihan Hidup Melalui Kumcer Malam Sepasang Lampion


Judul buku : Malam Sepasang Lampion
Jenis buku : Kumpulan Cerpen
Penulis : Triyanto Triwikromo
Editor : Kenedi Nurhan
Ilustrasi cover dan isi : F Sigit Santoso
Desain sampul : Putut Wahyu Widodo
Penerbit : Buku Kompas
Tahun terbit : Mei 2004
Tebal buku : viii + 192 halaman
ISBN : 979-709-129-5




BLURB

Apakah kekerasan, pemerkosaan, dan tragedi orang-orang yang disingkirkan harus dilupakan?
Apakah pembantaian-pembantaian terhadap manusia dan kemanusiaan mesti dikubur dalam-dalam?
Tidak bagi cerpenis Triyanto Triwikromo.
Karena itu, menurut pendapat Afrizal Malna, kekerasan dan seks sangat mewarnai cerpennya.
Kerusakan-kerusakan sosial bukan lagi berita,
melainkan telah menjadi bagian dari fenomena kebusukan.
Tingginya tingkat perusakan yang terjadi membuat cerpen-cerpennya mirip tubuh penuh tato,
yang menggambarkan berbagai teks tentang kekerasan.
Cerpen menjadi medan tato yang memungkinkan risiko-risiko sosial yang perih ditorehkan.




RESENSI

Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, 15 September 1964, selain sebagai redaktur sastra Suara Merdeka, Semarang, beliau menulis cerpen di Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, dan Republika. Beliau juga merupakan dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, dan kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra, antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988) dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003). Juga mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003) dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia.

Malam Sepasang Lampion merupakan kumpulan beberapa cerpen Triyanto Triwikromo yang telah dimuat di berbagai media cetak selama kurun waktu 1991-2004.
Judul-judul cerpen dalam kumcer ini yaitu:

• Sepasang Anjing, Sepasang Cermin
• Megatruh Percumbuan
• Morgot
• Pengadilan Terakhir
• Ragaula
• Sarumpaes
• Lorong Kupu-kupu
• Anak-anak Mengasah Pisau
• Genjer
• Hujan Medusa
• Ikan Asing dari Weipa-Nappranum
• Keluarga Iblis
• Angin dari Ujung Angin
• Mata Bibir
• Malam Sepasang Lampion
• Seperti Gerimis yang Meruncing Merah
• Rahim Api

Ketujuh belas cerita pendek dalam kumcer ini mengandung cerita tentang kekejaman, kekerasan dan kebrutalan. Dalam hidup, dalam hubungan antar manusia, dalam seks. Iblis-iblis beragam rupa berkeliaran, menebar anyir.
Dengan bahasa sastra yang apik, lugas cenderung 'vulgar', penulis mengungkapkan kerusakan sosial yang menyedihkan.
Namun ada juga cerpen yang membuat tersenyum meski senyum miris. Seperti dalam Pengadilan Terakhir. Juga ada roman mengenaskan dalam Megatruh Percumbuan dan Mata Bibir.

Dalam Pengadilan Terakhir, Rosaria sebagai tertuduh harus menjalani pengadilan sementara ia tak punya salah apa-apa. Yang menjadi sorotan saya justru bukan uang yang ditawarkan Greda agar Rosa mengaku, tapi tingkah hakim yang bikin saya miris. :p

Saya suka roman 'tak tahu diri' di dalam Megatruh Percumbuan. Lelaki yang menganggap dirinya sebagai Hanoman dan 'mencumbui' Sinta.
Dan dalam Mata Bibir, saya tercenung pada keluh kesah perempuan api. Ungkapan cintanya terhadap Rahwa, hujatannya terhadap Ram yang ia tahu berselingkuh dengan Laks, juga keinginannya agar Jata tak perlu menyelamatkannya dan keberaniannya menghadapi api pembakaran.
Saya rasa Mata Bibir menjadi cerpen favorit saya.

Catatan kaki dalam Mata Bibir menyebutkan:

Semula cerita ini berjudul Cutdacraeh. Cut, perempuan asal Aceh yang kini tinggal di Jakarta itu, sangat berperan dalam pembentukan karakter Rahwa dan Ram. Kata dia, mereka berdua hanyalah sosok-sosok rapuh yang lahir dari dusta.


TEBAR-TEBAR CUPLIKAN

Saya tak pernah membayangkan Maiz sebagai seekor anjing yang senantiasa menjulur-julurkan lidah saat berahi mendera. (Sepasang Anjing, Sepasang Cermin - hal. 1)

Setelah senja lindap dan malam melabrak lampu-lampu merkuri, akhirnya aku toh tak bisa bergegas mencium keningmu. (Megatruh Percumbuan - hal. 13)

"Sudahlah saya lelah menjelaskan asal-usul saya," Morgot menengadah menatap kipas angin gantung yang berdesing-desing di ruangan itu. (Morgot - hal. 24)

Aneh! Saya seperti merasa dilahirkan kembali justru ketika mereka (maaf, saya tak perlu menyebut oknumnya) menyeret saya ke ruangan sempit berjeruji itu. (Pengadilan Terakhir - hal. 36)

"O, inikah wajah iblis! Inikah keindahan kepak sayap-sayapnya?" Ragaula hanya sempat mendesis-desis, ketika puluhan pria-wanita bercula menyeret tubuh licin penuh manik-manik itu di sepanjang jalan berkerikil, di tengah rel yang melintas di perkampungan kumuh itu. (Ragaula - hal. 43)

Pernah melihat kepala Sarumpaes membelah dan otaknya meratapkan derita hitam orang-orang yang dipenjara? Belum? Saya juga. (Sarumpaes - hal. 53)

Ratusan kupu-kupu kecil melintasi jalanan berpenduduk terpadat di dunia sore itu. (Lorong Kupu-kupu - hal. 62)

Manyar tak mengerti mengapa mata pisau itu tak bekerjap menatapmu. (Anak-anak Mengasah Pisau - hal. 71)

(Keterangan catatan kaki: Kutipan dari sajak Sapardi Djoko Damono bertajuk "Mata Pisau", diambil dari antologi Hujan Bulan Juni.)

Iblis, yang kau sangka tak memiliki sayap dan kerling mata ungu, selalu tak bisa menyemburkan gerimis pada malam yang perih, Ibu. (Genjer - hal. 82)

Akhirnya sempat juga kubaca e-mail perempuan yang selalu kubayangkan berambut ular itu. (Hujan Medusa - hal. 93)

Aku sedang belajar menjadi iblis, Susan!
Aku akan membakar wajahmu!
(Ikan Asing dari Weipa-Nappranum - hal. 103)

Tak akan kubiarkan ibu membabat leher Fadli. Sekalipun pemabuk jahanam itu hendak mengulum paksa bibirku yang ranum, tak boleh darah segar muncrat ke kamarku. (Keluarga Iblis - hal. 115)

"Sudahlah, Herma, kau tak perlu membayangkan lagi warna ayahmu saat dia menghilang dengan menunggang kuda ke tenggara kota. Yang kutahu, mengenakan topeng emas mirip penunggang kuda dari atas angin, sayap di kedua bahunya berkibar-kibar membelah malam. Aku pun tak bisa melihat wajahnya. Mungkin dia telah menjelma iblis. Punggungnya berkilat-kilat, menusuk-nusuk, memisau mata," kata Hilda, perempuan bergaun tidur hijau muda itu sambil membereskan meja belajar Helma yang dipenuhi lukisan-lukisan pria berkuda berwajah tanpa warna. (Angin dari Ujung Angin - hal. 126)

(Keterangan catatan kaki: "Penunggang Kuda dari Atas Angin" adalah judul patung karya pematung G Sidharta.)

Sungguh, Rahwa, di taman itu aku telah melihat sepuluh bibirmu mendesahkan keperkasaan para raja yang tak henti-henti bercumbu saat hujan mendera beranda dan keheningan ranjang. (Mata Bibir - hal. 140)

Hujan -- yang kausangka bisa menghijaukan seluruh lampu-lampu lampion -- baru saja mendera jalanan Sussex, Dixon, dan Goulburn. (Malam Sepasang Lampion - hal. 152)

Kau tak akan pernah membayangkan betapa gerimis November bakal seruncing ini, Hindun. Kau tak akan pernah tahu suara beduk magrib pada Ramadhan terakhir teramat mengiris dan takbir menjelang Lebaran itu mengingatkanku pada ketololanmu memaknai bendera-bendera kemenangan yang terpancang di langit Uhud. (Seperti Gerimis yang Meruncing Merah - hal. 166)

Kau tak perlu menganggap bayi berselimut selendang merah bermotif burung phoenix itu sebagai orok ajaib yang dijatuhkan dari langit. (Rahim Api - hal. 178)

Cuplikan-cuplikan di atas merupakan kalimat pertama pembuka cerpen. Keren ya kan? Meski ada yang agak sadis. :')

3 bintang untuk Malam Sepasang Lampion by Triyanto Triwikromo.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon