Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 September 2019

[Blogtour & Giveaway] Pirgi dan Misota - Yetti A. KA

Judul buku: Pirgi dan Misota
Penulis: Yetti A. KA
Penyunting: Addin Negara
Tata sampul: sukutangan
Penerbit: DIVA Press
Tahun terbit: September 2019
Tebal buku: 132 halaman
ISBN: 978-602-391-753-2



BLURB

Aku dulu bocah yang riang, lalu tumbuh menjadi perempuan muda baik-baik, dan juga seorang penjaga toko roti dengan topi jamur di kepalaku. 
Aku bertemu Nodee.
Aku bahagia mencintainya, tapi juga berantakan karenanya. Cintaku ingin menggenapkan tapi juga meniadakan. Kesimpulannya, aku bingung dengan perasaanku sendiri.
Lalu ketika aku dan Nodee duduk berhadapan, Nodee berkata,
"Dengar, mulai sekarang kau sebatang jamur ya. Bukan sebatang jamur biasa, kau bisa berubah menjadi jamur raksasa dan menghancurkan semuanya. Itu yang harus kau percaya, Pirg."


RESENSI

Apakah seiring waktu cinta bisa berubah? Alih-alih membesar tapi malah memudar? Ataukah justru manusia sendirilah yang berubah, sementara cinta tetap ada di sana? Pirgi yang awalnya mencintai Nodee. Nodee yang sepertinya juga mencintai Pirgi. Ketika dua cinta bersatu bagaimana bisa segalanya menjadi salah?

Dalam novel yang cukup tipis ini Yetti A. KA menggunakan sudut pandang Pirgi sebagai si pencerita. Pirgi yang punya jalan pikiran yang unik. Pirgi yang sejak kecil punya impian menjadi penjaga toko roti dengan topi jamur. Pirgi yang naif. Pirgi yang hanya memiliki ibu dan diabaikan ayahnya. Pirgi yang bertemu dan jatuh cinta pada Nodee. Pirgi yang kesepian dan terluka.

Pirgi menjalani pernikahan yang semakin suram dan membosankan bersama Nodee. Ia mulai sering membuat kesalahan agar fokus Nodee beralih padanya. Walaupun emosi yang diberikan Nodee adalah kemarahan, Pirgi justru merasa senang. Sama seperti anak-anak, istri yang tak diperhatikan pun akan mencari-cari perhatian dan tak peduli lagi apakah itu emosi positif atau negatif. Yang diinginkan hanya satu, fokus yang tercurah padanya. Maka Pirgi sering berulah, demi membuat Nodee hanya memikirkannya.
Dalam kisah ini terlihat benar betapa egoisnya Nodee sebagai suami. Jarak usia Pirgi dan Nodee adalah 23 tahun. Namun Nodee tampaknya menginginkan seorang istri untuk mengasuhnya dan mengurusnya. Sementara Pirgi adalah gadis yang polos dan pengkhayal. Sejatinya ia merindukan sosok ayah. Ia menginginkan cinta laki-laki yang melindungi dan mengayomi, bukan laki-laki yang juga mengabaikannya seperti ayahnya.

Satu-satunya teman yang menurut Pirgi bisa memahaminya adalah Misota. Perempuan yang bekerja sebagai operator telepon di rumah bordil, tetapi tidak disukai oleh Nodee. Kepada Misotalah, Pirgi mencurahkan semua kegelisahan dan ketakutannya. Karena jika ia mengadu kepada ibu, tentu ibu akan cemas dan semakin tidak menyukai Nodee. Pada Misota ia menjadi diri sendiri. Ia menemukan cinta dan pengertian.

Pirgi dan Nodee mengawali pernikahan dengan cinta. Atau setidaknya mereka menganggap perasaan mereka sebagai cinta. Namun menikah adalah membuka diri kita kepada seseorang yang belum sepenuhnya mengenal kita. Pirgi menyadari semakin hari lapisan diri Nodee semakin terlihat. Nodee yang lebih senang tenggelam dalam pekerjaan menulisnya, Nodee yang lebih sering mengabaikan Pirgi, Nodee yang selalu mengatakan untuk berpisah saja setiap kali Pirgi berulah. Nodee yang membuat Pirgi gila.

Setiap perempuan dalam kisah ini memanggul kemuraman mereka sendiri. Betapa cinta sepihak telah memburamkan hidup mereka. Pirgi, Misota dan Ibu telah mengorbankan hidup mereka untuk cinta yang salah. Ada harapan yang tumbuh tapi lebih sering mimpi dan harapan itu patah oleh makhluk berjenis laki-laki. Apakah memang benar semua lelaki sama saja? Ataukah kita hanya perlu berkorban sejenak dengan lelaki yang salah untuk menemukan lelaki yang baik? Namun, apakah lelaki baik itu nyata... atau jangan-jangan hanya sekadar ilusi? Ah.. mungkin kita hanya perlu memejamkan mata seperti Pirgi. Di sana pastilah kita akan menemukannya. Akhir bahagia itu.


***** GIVEAWAY TIME *****



Haii.. jika kamu ingin mengenal Pirgi dan Misota lebih dekat, Diva Press punya satu eksemplar novel ini buat kamu lhooo..

Caranya mudaaaah saja yaa...

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau berdomisili serta memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2.Wajib follow Twitter Fiksi DIVA atau fanpage FB di Fiksi DIVA Press atau Intagram Fiksi DIVA (pilih salah satu saja)...
Follow saya juga di Twitter atau IG @kendengpanali

3. Wajib membagikan/share postingan ini di salah satu media sosial kamu.

4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar:

Jika Pirgi adalah sebatang jamur, maka kamu akan menjadi tanaman apa?

sertakan juga tautan membagikan (link share) dan salah satu akun media sosial kamu. Formatnya:

Jawaban: 
Akun Twitter/FB/IG:
Tautan membagikan: 


5. Giveaway ini berlangsung hingga tanggal 15 September 2019 pukul 23.59 WIB dan akan dilanjutkan di blog shiori-ko.blogspot.com yaa .

6. Akan saya pilih satu jawaban yang beruntung untuk mendapatkan satu novel "Pirgi dan Misota" secara cuma-cuma.

7. Jika ada pertanyaan jangan segan colek akun medsos saya. Good luck :)

**** UPDATE ****

Holaaa.. setelah sepekan tiba saatnya saya mengumumkan satu orang yang beruntung mendapatkan buku Pirgi dan Misota nih..

Jawaban teman-teman keren semua jadi saya ucapkan terima kasih banyak bagi kalian yang sudah meramaikan giveaway di blog ini. Bagaimana pun setiap jenis tumbuhan memiliki cirinya masing-masing. Mereka memiliki cara yang berbeda untuk berguna bagi bumi ini. Lalu satu peserta yang beruntung adalaaaaaahhh....

@19linafitriani2

Selamat yaaa... Sila DM nama dan alamat pengiriman lengkap disertai nomor telepon ke akun twitter/IG saya. Bila dalam waktu 2 x 24 jam pemenang tidak juga melakukan konfirmasi maka akan dipilih pemenang lainnya.

Nah untuk selanjutnya bagi yang belum beruntung, kalian masih punya kesempatan lhoo mendapatkan novel ini gratis di blog shiori-ko.blogspot.com jangan sampai terlewat yaaa~







Senin, 04 Maret 2019

[Book Review & Giveaway] Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga - Gunawan Tri Atmodjo

Judul buku: Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga
Penulis: Gunawan Tri Atmodjo
Penyunting: Yetti A.KA
Penyelaras akhir: Avifah Ve
Tata sampul: Ferdika
Penerbit: DIVA Press
Tahun terbit: Januari 2019
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 978-602-391-663-4



BLURB

"Karena sesungguhnya, pulang sejati hanyalah menuju pada hati yang tenang."

Pintu adalah batas antara dua dunia. Seseorang mungkin sangat berkuasa di luar sana, tetapi setelah melewati pintu, bisa jadi dia akan segera menjelma makhluk tak berdaya karena dia telah memasuki dunia yang sama sekali berbeda. Demikian pula sebaliknya. Maka, berbahagialah bagi mereka yang tak terbelenggu oleh pintu serta menjadikan pintu sebagai gerbang idaman. (Sesuatu Menggeliat di Balik Pintu)

Untuk buku ini, Gunawan Tri Atmodjo menghadirkan "Sesuatu Menggeliat di Balik Pintu" dan enam belas cerita pendek lainnya, yang akan menghadirkan pengalaman-pengalaman tersendiri dalam benak para pembaca. Selamat menikmati.

RESENSI

Apa yang paling berkesan dari membaca sebuah dongeng? Akhir bahagianya? Perjalanan penuh liku yang dilalui tokoh utamanya? Atau ironi yang menyertai ceritanya? Apapun yang kita nantikan, dongeng selalu menjadi kisah magis yang dituturkan dari telinga ke telinga, dari zaman ke zaman.
Demikian pula dengan Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga yang menghadirkan kemagisan tersendiri untuk menyihir pembacanya. Kisah ini hadir bersama 16 cerita pendek lainnya, dan masing-masing cerita tersebut meninggalkan kesan yang berbeda.

Saya dibuat terkesima dengan cerpen pembukanya, Sunyaruri. Sebuah kisah yang kelam dan kental dengan aroma kemirisan. Seorang gadis buruk rupa yang pasrah menerima takdirnya dan seumur hidup tak mengenal penerimaan dari orang-orang di sekitarnya. Menjalani hari demi hari di balik bayang-bayang. Kisah yang membuat saya bertanya-tanya, mana yang lebih menyedihkan, dikaruniai wajah yang teramat sangat buruk atau teramat sangat cantik? Benarkah kecantikan adalah anugerah dan keburukrupaan adalah tragedi?

Cerpen kedua, Sesuatu Menggeliat di Balik Pintu, menghantam saya dengan ironi yang memilukan. Setiap pintu-pintu selalu menyembunyikan dengan baik apa saja yang terjadi di baliknya. Siapa yang bisa menduga akan apa yang terjadi pada rumah tangga seorang aktivis perempuan. Ketika ia menggaungkan perlawanan kepada para wanita-wanita korban kekerasan rumah tangga, apakah ia tetap segagah berani itu di balik pintunya sendiri?

Ah, masa lalu memang selalu lupa menutup pintu, kenangan dengan mudah lewat dan berlalu. (hlm. 31)

Banyak cerita yang menyentak saya dengan kejutan-kejutan tak diharapkan. Gunawan Tri Atmodjo dengan piawai membuat alur yang menikung tajam. Ada pertemuan takdir yang melankolis dalam cerita Pohon Merah di Bandara. Ada kisah miris di jagad persilatan dalam Pembaca Masa Depan dari Selatan. Ada kisah keikhlasan semu yang terasa getir dalam Sebuah Kecelakaan Suci.
Kisah-kasih antara sepasang anak manusia dengan beragam tragedinya juga muncul dalam beberapa cerpen di buku ini. Membuat saya menyadari bahwa setiap kisah cinta memiliki sisi tragisnya masing-masing. Ada kecemburuan yang mematikan, ada cinta sekian segi yang tumbuh diam-diam, ada penantian cinta yang berselisih jalan, ada pula cinta yang salah tujuan. Masing-masing kisah terjalin dengan alurnya sendiri yang tak bisa ditebak. Walau tentu saja ujung kisah cinta hanyalah bercabang dua, bahagia atau merana.

Membaca Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga membuat saya sekali lagi jatuh cinta pada bengalnya imajinasi Gunawan Tri Atmodjo. Terutama pada cerpen berjudul "Lelaki Tak Bermata dan Anjing Kudisan" juga cerpen "Antara Debu Merah dan Ciuman Catalina". Kedua cerpen inilah yang meninggalkan kesan paling dalam dan menjadi favorit saya. Saran saya adalah, nikmati kisah-kisah dalam buku kumcer ini dengan perlahan, karena sungguh, saat tiba di cerpen terakhir rasanya seperti masih ingin membaca cerita lainnya lagi dan lagi.

***** GIVEAWAY TIME *****



Nah sekarang waktunya saya untuk membagikan satu kumcer Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga untuk satu orang yang beruntung. Sudah siap???

Syaratnya mudah saja:

1. Berdomisili di Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun twitter @KendengPanali dan @diva_fiction atau fanpage fb "Penerbit DIVA Press" atau akun IG @fiksi.diva

3. Share giveaway ini di twitter atau di story IG kamu dan jangan lupa mention akun kami.

4. Jawab pertanyaan berikut dengan format: nama | nama akun | link share | jawaban

  • Dongeng apa yang paling berkesan bagi kalian dan apa alasannya?


5. Saya tunggu jawaban kamu sampai tanggal 10 Maret 2019 pukul 23.59 WIB.

6. Yang terakhir, good luck... jangan segan untuk colek-colek akun saya jika ada pertanyaan yang belum jelas yaa~ 


****** UPDATE ******

Setelah sepekan berlangsung, sayangnya giveaway di blog ini harus berakhir. Terima kasih banyak untuk para peserta yang sudah ikutan kuis giveaway blogtour di blog ini dan sudah berbagi pengalaman saat membaca dongeng.

Memanglah semua dongeng memiliki tujuan untuk menyentuh dan menggerakkan nilai-nilai moral dalam diri kita. Membaca satu persatu kesan yang didapat dari dongeng membuat saya yakin, dunia masih dipenuhi kebaikan hati.

Well.. akhirnya saya harus memilih satu kesan yang sekiranya cocok dengan isi kumcer Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga, dan yang beruntung adalaaaahh...

Ria Auliya | Twt: @auliyaria17

Selamaaaattt kamu beruntung mendapatkan satu kumcer dari Diva Press. Sila kirim nama dan alamat lengkap kamu melalui DM twitter/IG saya atau ke alamat email nurinawidiani84(at)gmail(dot)com. Saya tunggu konfirmasi kamu dalam 2 x 24 jam, jika hingga batas waktu yang ditentukan pemenang tidak mengkonfirmasi diri, maka akan dipilih pemenang lain.

Terima kasih untuk para peserta yang sudah berkunjung dan ikut seru-seruan di blog ini. Jangan sedih karena masih ada kesempatan lain untuk mendapatkan kumcer ini, di bloghost selanjutnya. Sila kunjungi destybacabuku.com yang akan mengulas dan membagikan satu buku Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga. Good luck :)

Senin, 26 November 2018

[Review & Giveaway] Basirah - Yetti A.K.A

Judul buku: Basirah
Penulis: Yetti A.K.A
Penyunting: Misni Parjiati
Tata sampul: Sukutangan
Penerbit: Diva Press
Tahun terbit: Oktober 2018
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-602-391-625-2



BLURB

Langit berwarna merah pekat.
Seorang perempuan orang tua tunggal
membaca pertanda alam lewat kartu tarot.
Seekor anjing raksasa mati dibunuh dengan cara mengenaskan.
Seorang perempuan tua yang lebih suka bercakap-cakap dengan arwah anak dan suaminya.
Anak gadis berjiwa dewasa terperangkap dalam kekeliruan.

Di Kota Basirah ini semua hal tidak masuk akal bisa terjadi. Mungkin, sesuai arti namanya, kota ini menunjukkan inti perasaan terdalam penghuninya, yang tak selalu seputih kapas, tapi juga sehitam malam.

RESENSI

Sebagai pengagum cerpen-cerpen koran Yetti A.K.A, memang baru kali inilah saya membaca utuh karya novelnya. Bagi saya Yetti A.K.A adalah penulis perempuan yang punya tempat di hati saya melalui kisah-kisahnya. Saya selalu suka dengan dunia yang dibangun Yetti A.K.A yang membuat saya kadang tenggelam dan terpesona.
Demikian pula dengan Basirah, sebuah kota kecil yang magis, di mana kisah-kisah "aneh" bersemayam. Di sanalah tinggal seorang gadis kecil berusia 8 tahun yang di kepalanya begitu penuh dengan pemikiran-pemikiran. Begitu riuhnya isi kepala Imi, demikian nama gadis mungil ini, dalam menghadapi kejadian demi kejadian di kehidupannya.

Imi menjadi sentral cerita dalam Basirah. Bagaimana ia menjalani kehidupan bersama mamanya, seorang single parent yang kabur dari masa lalunya dan memilih berdiam di Basirah. Imi banyak bercerita tentang hubungannya dengan Mama, perasaannya akan Mama, juga kritik-kritiknya terhadap sikap Mama.
Selain mereka berdua, masih ada Bolok, seekor anjing raksasa yang menjadi bagian keluarga mereka. Mereka hidup baik-baik saja bertiga, hingga hal tragis menimpa Bolok.
Ada juga Nenek Wu, seorang nenek tua yang tinggal di sebuah pondok dan tak mau berbicara dengan siapa pun kecuali roh-roh suami dan anak-anaknya. Hanya Imi yang berani mendekati Nenek Wu dan berteman dengannya. Imi seolah bisa memahami perempuan tua itu.
Rupanya sosok Nenek Wu merupakan tokoh tak kalah penting dalam kisah ini karena ia mendapat porsi untuk bercerita. Nenek Wu adalah kunci yang menjawab mengapa Imi sedemikian istimewa. Siapa Imi sebenarnya? Apa kaitan Imi dengan seorang anak perempuan yang telah mati bunuh diri hampir seabad lalu?

Aliran kisah menjadi tak terduga, membawa saya menebak-nebak apa yang terjadi, apa yang menimpa mereka, apa alasannya. Persis seperti yang dirasakan Imi. Saya seperti terseret dan terperangkap dalam pemikiran polos Imi. Bagaimana ia bercerita dengan tuturan khas anak kecil. Melompat ke sana dan kemari. Menceritakan apa yang menurutnya menarik dan tiba-tiba membelokkan cerita itu ke cerita lainnya. Saya benar-benar merasa seperti sedang mendengarkan seorang anak yang berbicara.

Semakin ke belakang, benang merah cerita ini semakin tampak. Timeline ceritanya yang jelas membuat saya tidak merasa kebingungan mengaitkan kisah seratus tahun lalu dengan kisah masa kini. Semakin menarik mengikuti kelamnya kehidupan yang dijalani para wanita dalam cerita ini. Nenek Wu dan tragedi bertubi yang menimpa dan menempanya, Mama yang harus berjuang sendiri, serta Imi yang berusaha tabah dan mandiri sebagai anak dari orang tua tunggal. Meski begitu, jawaban misteri hilangnya Imi jauh dari ekspektasi saya. Mungkin itu karena saya sudah merasa dijejali kejanggalan-kejanggalan dari sudut pandang Imi sebagai bocah. Saya terlanjur percaya pada pikiran kanak-kanak Imi, dan mempercayai bahwa mama sangat memahami Imi. Hahaha~

Yah, Basirah memang kisah yang ajaib, yang membuat kita menyadari betapa kuatnya wanita walau jalan hidupnya berdarah-darah dan menanggung luka batin. Namun, sebagai seorang ibu saya lebih ingin menggarisbawahi fakta ini: bagaimana pun dibalik senyum seorang anak, tersimpan perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikiran yang ia sembunyikan dari orang dewasa. Apa pun itu, ia memilih untuk menyimpannya sendiri. Saya menyadari walau Imi terkesan begitu dewasa jauh dari usianya, tetap saja ada jiwa kanak-kanak yang harus dipenuhi haknya oleh orang dewasa di sekitarnya. Basirah merupakan sebuah cerita menarik tentang anak perempuan yang memeluk ketidakbahagiaannya sendirian, dan berusaha menampakkan diri sebagai anak manis hadiah terbaik dalam hidup mamanya.


*********** GIVEAWAY TIME ************

Haiiii.... bagaimana, sudah membaca review saya tentang Basirah? Seru kaaan~?
Nah kali ini saya punya satu eksemplar novel Basirah bagi kamu yang beruntung. Caranya mudah saja kok:

1. Kamu adalah warga negara Indonesia dan memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun divapress di twitter (@diva_fiction) atau akun IG @fiksi.divapress juga akun saya @kendengpanali 

3. Share review dan giveaway ini di akunmu (twitter/IG/IG story) dan jangan lupa tag akun kami

4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyertakan nama, akun medsos kamu, dan link share :

Pernahkah kamu pura-pura bahagia di depan orang tuamu? Kapankah itu?

5. Jawaban ditunggu sampai tanggal 30 November 2018 pukul 23.59 WIB.

6. Yang terakhir jangan segan colek saya jika masih ada pertanyaan. Good luck :)

**** UPDATE ****

Terima kasih untuk para peserta giveaway yang sudah mau berbagi tentang kebahagiaan kalian. Aku doakan semoga kalian selalu berbahagia tanpa perlu berpura-pura.

Akhirnya saya harus memilih satu jawaban sebagai pemenang dan.. yang beruntung adalaaaaaahh....
Selamat kepada:

Dini
@redddddn

Selamat kamu beruntung mendapatkan satu novel Basirah. Kirim data diri kamu selengkapnya melalui DM atau email nurinawidiani84(at)gmail(dot)com. Jika dalam kurun waktu 2 x 24 jam pemenang belum menghubungi saya, maka saya akan memilih pemenang pengganti.

Sekali lagi terima kasih kepada para peserta yang telah berpartisipasi, jangan sedih dan nantikan giveaway-giveaway berikutnya ;)


Minggu, 11 Februari 2018

[Resensi] Pelisaurus dan Cerita-Cerita Lainnya - Gunawan Tri Atmodjo | Pelisaurus Sebuah Prasasti Cinta yang Tragis

Judul buku: Pelisaurus dan Cerita-Cerita Lainnya
Penulis: Gunawan Tri Atmodjo
Editor: Edi AH Iyubenu
Tata sampul: sukutangan
Tata isi: Ika Setiyani
Penerbit: Basabasi
Tahun terbit: September 2017
Tebal buku: 200 halaman
ISBN: 978-602-6651-32-7



BLURB

Pada suatu hari, semua durjana asmara menyingkir dari muka bumi dan aku jatuh cinta lagi kepada seorang editor buku primbon. 
(Iwan Punung, editor buku sastra di Jakarta) 

Sebagian besar rahasia lelaki tertinggal di kamar mandi. 
(Sri Suwartini, Menteri Kebatinan Perempuan) 

Manusia itu seperti ritsleting, terbuka dan tertutupberulang-ulang, memasukkan dan mengeluarkan cinta berkali-kali, tetapi seperti yang disembunyikan di balik ritsleting, pada akhirnya ia akan sendiri. 
(M. Yayan Kristanto, anak Pak Warso, CEO Imajiner PT YKK)

RESENSI

Apa yang terlintas di benak kalian saat membaca atau mendengar pelisaurus?
Kalau saya, sebagai orang jawa tentu paham betul bahwa peli adalah kosakata bahasa jawa yang merujuk pada alat kelamin pria. Memang sudah bukan masanya lagi bagi saya untuk merona atau terkikik-kikik bila mendengar kata ini, malahan saya sudah lancar menggunakan kata ini jika sudah berkumpul dengan ibu-ibu yang sama edannya dengan saya, atau fasih mengucapkannya di depan suami. Namun ternyata, menandaskan buku Pelisaurus ini sampai habis membuat saya tersipu-sipu dan ngakak nggak ketulungan.

Buku Pelisaurus merupakan kumpulan cerita (kumcer) yang berinti pada selangkangan dan dunia perlocoan. Jadi sebaiknya memang tinggalkan dulu rasa jengah dan curiga kalian di depan pintu sebelum memulai membaca kumcer ini.

Sejak membaca buku kumcer Tuhan Tidak Makan Ikan, saya sudah jatuh hati pada gaya tulisan nylenehnya Gunawan Tri Armodjo. Namun kali ini dalam Pelisaurus, cerpen-cerpennya terasa lebih seperti parodi kehidupan dunia bawah perut.

Ada 22 cerpen dalam buku ini dan dengan judul yang membacanya saja sudah bikin nyengir, apalagi membaca nama tokoh ceritanya, saya masih suka ngakak sendiri kalau ingat.
Dalam beberapa cerita, Gunawan Tri Atmodjo terlihat sangat rapi membangun alur dan tempo cerita. Tengok saja dalam kisah Siti Semak-Semak. Selain menyelipkan plesetan semacam: buku berjudul Terbacok Petuah Bijak karya Pipiet Surup, televisi merek Segawontron, dan juga pedangdut bernama Via Kallen, yang membacanya saja bikin saya mesam-mesem antara geli dan jengkel, cerpen ini membuat saya penasaran akan hubungan arwah Siti Semak-Semak dan si tokoh utama. Begitu ajaibnya sosok Siti Semak-Semak ini dan betapa misteriusnya cara wanita ini meninggal membuat saya terhanyut dan menjadikan Siti Semak-Semak sebagai salah satu cerpen favorit saya.

Cerpen Pelisaurus sendiri saya rasa lumayan absurd. Ini adalah kisah seorang laki-laki beristri yang terkenang mantan gara-gara sang mantan muncul di televisi. Ia teringat kisah percintaan mereka semasa kuliah, dan bagaimana ia membuat gambar pelisaurus di tembok kamar mandi tempat ia biasa ngeloco sambil membayangkan sang kekasih. Namun sayangnya pelisaurus itulah yang mebuat kisah asmaranya berakhir tragis. Tragis dengan absurd. :|
Satu cerpen yang paling saya suka adalah Poni Kirik. Cerpen ini membuat saya penasaran sekaligus geli, takut, takjub dan jengkel. Ini adalah kisah seorang pemuda yang menemukan potret lawas yang di dalamnya terdapat tiga orang berfoto dengan gaya rambut aneh yang dinamai poni kirik. Sedemikian anehnya potongan rambut itu, sehingga membuat si pemuda penasaran dan melacak jejak poni kirik. Namun usahanya nihil, tanpa hasil. Gaya rambut itu seolah tak pernah tercatat dalam sejarah. Hingga akhirnya poni kirik membawa tragedi tepat di depan matanya. Ini cerpen yang paling bikin saya ingin berkata kasar sekaligus mengagumi alur ceritanya dalam waktu bersamaan.

Bagi saya cerpen-cerpen dalam Pelisaurus begitu santai dan enak buat ngakak-ngakak. Cerita-ceritanya menghibur dan anehnya terasa beragam walau mengusung tema yang sama. Dan tentu saja, yang paling sering bikin saya pengen ngakak njungkel adalah nama-nama tokohnya. It's hilarious.



Minggu, 29 Oktober 2017

[Resensi] Kelir Slindet - Kedung Darma Romansha

Judul buku: Kelir Slindet
Penulis: Kedung Darma Romansha
Setter: Ayu Lestari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2014
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 9786020303567



BLURB

Kelir Slindet adalah sebuah potret kelam masyarakat desa yang terjebak dalam budaya dan mentalitas kemiskinan struktural: budaya dan mentalitas "pasangan Saritem dan Sukirman" yang telah melanggengkan kemiskinan, kejumudan, kemaksiatan, dan kemudaratan yang berkelindan dari generasi ke generasi. Keberhasilan Kedung Darma Romansha merekonstruksi "realita" kelam tersebut hanya bisa dicapai oleh penulis yang (pernah) menjadi bagian dari dan merasakan secara langsung ritme kehidupan mereka; di samping tentu saja yang memiliki kualitas emosional yang begitu terjaga dalam proses kreatifnya. Saya merasakan Romansha sebagai penulis muda yang sangat potensial dan dapat memberikan warnanya pada peta sastra Indonesia — Herry M. Saripudin Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan (P3K2) Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf), Kemlu, dan penikmat sastra.

Tidak banyak penulis novel sekaligus penyair, namun juga pemain teater yang tumbuh pasca generasi 80. Oleh karena itu, membaca karya Kedung Darma ini akan mendapatkan personalitas berceritanya yang tidak lepas dari latar belakangnya. Sebuah karya yang patut dibaca. — Garin Nugroho Sineas

Sebuah karya yang lahir dari perjalanan mata yang tidak hanya melihat. Rasa yang dalam, muncul dari tiap lembar kehidupan di sebuah kota kecil, yang penuh dengan kegetiran. Kita seolah dibawa ke sebuah dunia yang KITA sendiri, pembaca, yang mengalaminya. — Teuku Rifnu Wikana Aktor Film

Kedung Darma Romasha memang liar dan tengah menderita dendam. Dendam seorang santri pada tanah kelahirannya yang sangat ia cintai. Ia kerasukan, dan novel Kelir Slindet inilah yang menjadi saksinya. — Joni Ariadinata Sastrawan, Redaktur majalah sastra Horison dan ketua umum Jurnal Cerpen Indonesia

RESENSI

Safitri adalah gadis usia 14 tahun yang menjadi santri sekaligus artis kasidah pimpinan Musthafa di mushola milik Haji Nasir. Setiap kali Safitri berlatih kasidah, Mukimin, anak bungsu Haji Nasir, tak pernah melewatkan kesempatan untuk mengintip dari jendela samping mushola. Mukimin tergila-gila pada Safitri, teman sebayanya itu. Mukimin sendiri adalah pemuda urakan yang lebih sering bolos dan iseng luar biasa, tapi selalu saja jadi tolol kalau sudah berhadapan dengan Safitri.
Tak disangka, rupanya Safitri pun menyukai Mukimin. Mereka sering terlihat duduk berdua di dekat sungai walau tetap saja Mukimin kesulitan menyatakan cinta. Hingga Musthafa yang rupanya juga menaruh hati pada Safitri datang melamar Safitri. Takut kalah dari kakaknya, Mukimin pun akhirnya menyatakan cinta.
Sayang perjalanan kasih mereka harus terbentur status sosial. Ayah Mukimin melarang mereka berpacaran karena Safitri adalah anak seorang telembuk, seorang PSK. Ibu Safitri pun nguntap dan melabrak Haji Nasir. Sejak itu mereka dilarang bertemu. Hubungan mereka terputus. Safitri pun mengurung diri di kamarnya, dan Mukimin kabur entah ke mana.
Hingga suatu hari, Cikedung dikagetkan aksi Safitri yang naik ke panggung dan berjoget dangdut dengan hebohnya. Banyak yang menganggap Safitri stres lantaran ditolak Haji Nasir. Banyak yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tapi Safitri tak menggubris, ia makin gila-gilaan di atas panggung tarling dan dangdut.
Beberapa ustad datang untuk melamarnya, untuk membawanya kembali ke jalan yang benar, tapi Safitri menolak. Namun rupanya gadis itu menyimpan satu rahasia. Alasan mengapa ia berubah. Sesuatu yang kemudian membuat Cikedung gempar.

-------------------------------

Apa salahnya menjadi anak telembuk?
Apa salahnya jika anak telembuk jatuh cinta pada anak seorang kaji, yang sekaligus juga seorang kuwu?
Atau sebaliknya, apakah salah jika anak seorang kaji jatuh cinta pada anak telembuk?


Pertanyaan ini terus bergelung di benak saya sejak mulai membaca novel Kelir Slindet hingga menutup lembar terakhirnya. Banyak kerisauan dan penyesalan yang saya rasakan selama membaca novel ini. Beneran. Saya marah. Saya kesal. Saya sedih dan menyesal untuk Safitri. Betapa kejamnya masyarakat menjatuhkan vonis kepada seseorang, terutama jika seseorang itu adalah perempuan. Betapa orang-orang selalu berasumsi sendiri dan memandang hanya dari satu sisi; sisi yang berupa kepentingannya sendiri. Kan kirik.

Dalam novel ini, Safitri dan Mukimin adalah remaja usia 14 tahun yang tinggal di Cikedung, salah satu daerah di Indramayu. Peristiwa yang mereka alami terjadi di tahun 1997. Penggambaran settingnya benar-benar mendetail, bukan hanya dari yang tampak di mata, tapi juga yang berkaitan dengan indera pendengaran, penciuman dan yang terasa di pori-pori kulit. Narasi deskripsinya terasa sangat nyata. Bisa dibilang lokalitas dalam novel ini begitu kuat.

Saya sempat iri dengan Safitri dan Mukimin ketika mereka menjalin kasih hanya dengan duduk diam bersisian di tepi parit, dekat sebuah sungai dan persawahan. Mukimin yang urakan itu bisa juga jadi tolol di hadapan gadis pujaannya. Sementara Safitri yang lugu, malu-malu tapi dalam hatinya geregetan juga terhadap ketololan Mukimin. Sepasang muda-mudi yang cintanya harus terhalang status sosial.

Malang nian jadi Safitri dalam Kelir Slindet ini. Safitri terlahir dari rahim seorang telembuk, dan memiliki ayah yang pemabuk, penjudi juga doyan telembuk. Orang-orang dengan mudah melabelinya sebagai "anak telembuk"... nggak ada yang menyebutnya sebagai penyanyi khasidah padahal dialah vokalis utamanya.  Seolah nilai-nilai kebaikan nggak ada harganya di mata orang-orang. Semua orang lebih suka melihat sisi buruk seseorang dan menyebarkannya. Entah dengan tujuan apa, mungkin rasa iri, mungkin agar dirinya sendiri terlihat lebih baik, atau bisa juga karena kebodohan sehingga menelan semuanya mentah-mentah. Dari sini saya menganggap, Kedung Darma Romansha memotret dengan baik isu sosial yang sungguh benar adanya.
Ada orang sukses dianggap memakai pesugihan, ada orang cantik dan jadi idola diisukan memiliki susuk, ada satu keributan lantas beredar gosip yang macam-macam versinya. Capek nggak sih hidup di tengah masyarakat yang seperti itu wkwkwkk~

Tapi itulah Cikedung dalam novel ini, itulah yang harus dihadapi Safitri dan Mukimin.


Di antara semua tokoh yang sebenarnya sulit bagi saya untuk mencerna siapa saja mereka—karena sungguh banyak banget tokoh yang bermunculan dan saling berkaitan tapi saya susah mengingatnya—tokoh yang paling saya benci adalah Saritem. Ibu Safitri. Sebagai mantan telembuk wajar jika ia menginginkan kehidupan yang lebih bahagia bagi anaknya. Wajar jika ia berharap Safitri berjodoh dengan salah satu putra Haji Nasir. Tapi ketika harapan itu gagal, ketika Haji Nasir menolak Safitri karena Safitri adalah anak telembuk, bukannya sadar ia malah terus marah-marah dan menimpakan semuanya pada Safitri. Kenapa Safitri yang dimaki anak sial, anak tak tau diuntung, kenapa bukan pada dirinya sendiri ia memaki. Sekali lagi, sungguh sial banget jadi Safitri. Bukannya didukung ibunya sendiri saat seluruh masyarakat mencelanya, tapi si ibu malah sibuk sendiri karena merasa dipermalukan.
Maka jauh di dalam hati saya bersorak saat Safitri nekat. Saat Safitri akhirnya memilih jalannya. Menentukan apa yang diinginkannya. Walau perih dan memilukan. Sosok Safitri yang baru, yang terlahir dari nyinyiran mulut orang-orang usil, jika ia berdosa maka berdosalah juga orang-orang sok suci yang nggak berbuat apa-apa dan malah menyiramkan minyak ke dalam api.


Membaca Kelir Slindet ini terasa banget ada bagian-bagian yang hilang. Bagian-bagian misterius yang kemudian menimbulkan pertanyaan. Terutama siapa pelaku yang menghamili Safitri. Tentunya untuk menjawab segala pertanyaan itu, saya harus membaca Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat, yang konon merupakan novel lanjutan yang akan memberi pencerahan 😉

Senin, 06 Maret 2017

[Resensi] Kupu-Kupu Bersayap Gelap - Puthut EA

Judul buku: Kupu-Kupu Bersayap Gelap
Penulis: Puthut EA
Penyunting: Nody Arizona
Pemeriksa aksara: Prima S. Wardhani
Ilustrasi sampul & isi: Saipul Bachri
Penata isi: Azka Maula
Penata sampul: Narto Anjala
Penerbit: Buku Mojok
Tahun terbit: Februari 2016 (cetakan kedua)
Tebal buku: 167 halaman
ISBN: 978-602-1318-25-6



BLURB

"... Puthut adalah pencerita yang piawai. Kata-katanya sederhana. Kalimat-kalimatnya ringkas. Tidak neko-neko. Tidak ingin dianggap pintar meliuk-liukkan kata, tapi ceritanya tetap memukau.

Dia bukan hanya tahu teknik menulis yang baik, tapi saya kira, cerpen-cerpennya tak hanya ditulis dengan teknik menulis dan bercerita yang baik itu, melainkan ditulis dengan melibatkan perasaannya. Dan itulah yang penting, karena tulisan yang ditulis dengan sepenuh perasaan akan sampai pula pada perasaan pembacanya. Tak banyak penulis yang sanggup melakukannya. Mungkin saya berlebihan, tapi perasaan tidak bisa dibohongi. Beberapa kali dada saya terasa sesak karena larut membaca cerpen-cerpen Puthut. Seolah saya ada di sana, di dalam cerpen-cerpennya. Menjadi saksi. Menjadi pelaku."

—Rusdi Mathari, wartawan dan penulis


RESENSI

Saya adalah salah satu penikmat karya-karya Puthut EA, lalu merasa gemas sendiri karena nggak pernah bisa menuliskan satu review-pun setelah menuntaskan membaca karya-karyanya. Mungkin saya nggak percaya diri, mungkin juga karena saya nggak sanggup berkata-kata lagi seusai membaca. Ah... penikmat abal-abal macam apa saya ini?

Di bulan kelahiran saya, beberapa bulan lalu, saya mendapatkan arisan kado buku dari sahabat-sahabat grup BBI Joglosemar. Sebenarnya wishlist saya adalah karya Puthut EA yang lain, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, tapi karena stok sedang kosong, saya akhirnya dipilihkan Kupu-Kupu Bersayap Gelap ini. Jelas saya nggak keberatan karena saya memang belum pernah membaca buku ini. Lagipula, saya memang lebih suka kumpulan cerpen karena berarti saya bisa lebih banyak bertemu karakter-karakter dalam dunia yang dibangun oleh Puthut EA.

Buku Kupu-Kupu Bersayap Gelap ini berisi 13 cerita pendek, yang kisah-kisahnya begitu lekat dan dekat dengan kehidupan kita. Rasanya mudah saja menengok ke lingkungan sekitar dan menemukan cerita yang hampir sama seperti yang dialami para tokoh dalam kumpulan cerpen ini. Atau kalau mau lebih jujur lagi, betapa dekatnya lakon yang kita jalani dengan kisah-kisah yang ada dalam buku ini.
Saya menyukai semua cerpen di dalamnya, tak terkecuali. Semua begitu tampak sederhana dan membumi tapi juga menohok dengan kuat di tempat-tempat yang tepat. Ada ironi hidup dalam kisah-kisahnya, pun ada nilai-nilai moral yang mengisi jalinan kisahnya.   Semua ditulis dengan bahasa yang lugas namun indah.

"Itu bukan masalah uang yang kamu miliki. Tapi masalah yang lebih penting lagi, yaitu hal yang pantas dan yang tidak pantas." (hlm. 107)

Bagi saya, cerita pendek Rasa Simalakama yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang tak nggak sanggup menyakiti orang-orang yang mereka cintai demi kebahagiaan mereka sendiri, memanglah yang paling membekas karena begitu dekatnya dengan kisah saya sendiri. Sedangkan Benalu di Tubuh Mirah membuat saya merasa terhubung karena diceritakan dari sisi seorang ibu, yang harus menghadapai orang-orang serupa benalu dalam hidup ini. Dan sungguh, benalu itu memang banyak. Bahkan mungkin secara sadar dan nggak sadar, saya pun bisa saja merupakan benalu bagi orang lain.

Potret sosial dalam ketigabelas cerpen ini memang nyata adanya di sekitar kita. Puthut sendiri menjabarkan settingnya bukan secara fisik tapi secara sosial. Tempat dan ruang tak bernama tapi tetap saja terasa akrab karena menggambarkan situasi sosial lingkungan kita. Betapa mudahnya saya membayangkan kampung dan surau di cerpen Dalam Pusaran Kampung Kenangan, atau gardu ronda sebelah tenggara dan sebelah barat laut dalam cerpen Gayung Plastik, atau juga "kota besar" yang menjadi latar cerpen Doa Berkabut.
Keberagaman juga merupakan bagian penting dalam kumpulan cerpen ini melalui karakter-karakternya yang berbeda agama, latar dan keyakinan. Dan melalui karakter-karakter itulah, nilai-nilai moral dan ironinya terasa menohok begitu dalam tanpa terasa menggurui. Karena rasanya begitu mudah menempatkan diri sebagai si tokoh karakter atau orang terdekat si tokoh.

Kupu-Kupu Bersayap Gelap menjadi buku kumpulan cerpen favorit saya. Dan di antara ketigabelas cerpen di dalamnya, Bunga dari Ibu dan Dalam Pusaran Kampung Kenangan yang paling saya sukai. Buku ini melalui cerpen-cerpenya telah membawa saya menjelajah, dari satu kenangan ke kenangan lainnya.

Rabu, 22 Februari 2017

[Resensi] Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca - Dono Indarto

Judul buku: Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca
Penulis: Dono Indarto
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Agustus 2016
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 9786023756391



BLURB

Merindumu dengan sembunyi 
Ssstttt. . . menyelinap sunyi
Tolong kembalikan hati yang kau curi 
dari jubah kesetiaan 
yang selama ini mengintip penasaran


Cerita-cerita dalam buku ini adalah cerita soal kerinduan yang muncul setelah kehilangan.
Kerinduan seorang wanita gila bersama wanita gila pada pelukan.
Kerinduan seorang penulis atas masa kecil bersama ayahnya yang sekarat.
Kerinduan seorang pelukis pada wanita di dalam lukisannya.
Kerinduan seorang anak yang mencari ibunya di tengah lautan.
Dan sederet kerinduan lain yang terungkap dalam cerita pendek.
Juga ada kerinduan yang mempertemukan kamu dengan aku dalam sebuah puisi 


RESENSI

Semula saya mengira buku Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca adalah buku kumpulan puisi. Judulnya jelas menggoda walau saya anggap covernya sebenarnya nggak comotable. Namun melihat judulnya saja, membuat rasa penasaran saya tergugah dan ingin mencari tahu benarkah ini puisi, atau hanya bait-bait nggak penting yang saya baca?
Well, rupanya saya salah. Buku ini bukanlah buku kumpulan puisi biasa, tapi merupakan perpaduan antara kumpulan puisi dan kumpulan cerita pendek. Menariknya, antara kedua bentuk karya tersebut memiliki saling keterkaitan satu sama lain. Saat membacanya, saya merasa puisi-puisi dalam buku ini menjadi pembuka bagi cerita pendek yang muncul setelahnya.

Jangan abaikan juga tanda 18+ yang ada di sampul buku. Karena isi beberapa cerita pendek dalam buku ini nggak jauh dari isu seputar selangkangan. Nggak eksplisit dan nggak vulgar sih, saya justru lebih menggaris bawahi ironi dan sindiran yang diramu dengan apik dalam buku ini yang  memang sebaiknya dibaca oleh orang-orang yang telah dewasa. Meski sebenarnya, lagi-lagi menurut saya, usia bukanlah patokan seseorang telah dewasa atau belum.

Saya akui, saya adalah pencinta puisi yang terlalu pemilih. Saya bukanlah penikmat puisi rumit yang mesti ditelaah beberapa kali untuk memahaminya. Saya lebih menyukai puisi yang sederhana namun mengena, juga kuat dalam pemilihan diksi dan rimanya.
Puisi-puisi dalam buku ini sendiri memang terkesan simple tapi kaya makna. Yang paling mengena di benak saya adalah puisi yang berjudul Tanda Baca:

tanda seru memaki
tanda tanya mengapa
titik bilang usai
koma belum sampai

lalu yang lain berderet
minta dipakai
agar bisa dipahami
dalam lembar yang semula gersang
dan kerontang

bahkan kita butuh dia
bidang kosong itu

spasi

bayangkanjikadiatakada
apakahkaumengerti

deret huruf itu
yang selalu terburu-buru

sesungguhnya kita berarti
jika tidak sendiri

sesungguhnya kita dimengerti
jika ada 'antara'
(hlm. 132)

Sementara untuk cerita pendek dalam buku ini, ajaibnya saya suka semuanya. Kisah-kisahnya yang nyaris kelam dan berisi kehilangan yang melahirkan rasa rindu, terasa menyentil dengan telak. Itu sebabnya saya tak sanggup berhenti membaca satu persatu kisah pendek yang disajikan. Ada kisah yang serupa fantasi, ada yang melibatkan tragedi, dan ada juga yang terasa ironis. Namun kesemuanya ditulis dengan alur yang menarik, memancing rasa penasaran dan terkadang berujung pada plot twist yang mengejutkan.

"Kamu tahu, apa hadiah paling sempurna bagi seorang wanita?"
Wanita itu menggeleng.
"Dikenang. Mereka ingin dikenang. Menjadi abadi. Mereka berharap bisa tersesat dan menjadi puisi." (hlm. 166)

Dengan gaya bahasa yang lugas, cerita-cerita pendek dalam Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca begitu mudah dinikmati tanpa perlu mengerenyitkan kening. Terasa menghibur di satu sisi tapi juga menyindir di saat yang sama. Potret-potret kehidupan yang dibungkus dalam sebuah ironi, kehilangan yang mungkin pantas untuk direnungkan atau malah ditertawakan.
Ah, bagaimanapun saya puas dan menutup buku ini dengan rasa syukur sambil mengenang dia, seseorang yang pernah singgah, pernah menetap, pernah pergi dan akhirnya saya rindui.


Sabtu, 21 Januari 2017

[Resensi] Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi - Yusi Avianto Pareanom

Judul buku: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penata artistik dan penyelaras bahasa: Ardi Yunanto
Penata tipografi dan ilustrator ikon: Cecil Mariani
Pelukis sampul: Hartanto 'Kebo' Utomo
Penerbit: Banana
Tahun terbit: Maret 2016
Tebal buku: 450 halaman
ISBN: 978-979-1079-52-5



BLURB

SUNGU LEMBU menjalani hidup membawa dendam. Raden Mandasia menjalani hari-hari memikirkan penyelamatan Kerajaan Gilingwesi. Keduanya bertemu di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa. Sungu Lembu mengerti bahwa Raden Mandasia yang memiliki kegemaran ganjil mencuri daging sapi adalah pembuka jalan bagi rencananya. Maka, ia pun menyanggupi ketika Raden Mandasia mengajaknya menempuh perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung.

Berdua, mereka tergulung dalam pengalaman-pengalaman mendebarkan: bertarung melawan lanun di lautan, ikut menyelamatkan pembawa wahyu, bertemu dengan juru masak menyebalkan dan hartawan dengan selera makan yang menakjubkan, singgah di desa penghasil kain celup yang melarang penyebutan warna, berlomba melawan maut di gurun, mengenakan kulit sida-sida, mencari cara menjumpai Putri Tabassum Sang Permata Gerbang Agung yang konon tak pernah berkaca—cermin-cermin di istananya bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan kecantikannya, dan akhirnya terlibat dalam perang besar yang menghadirkan hujan mayat belasan ribu dari langit.

Meminjam berbagai khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis, dan maki makian Anda dalam waktu berdekatan—mungkin bersamaan.


RESENSI

Tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati. (hlm. 84)

Saya menghabiskan waktu dua minggu untuk membaca Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi, bukan karena bukunya membosankan atau berat, tapi karena saya merasa sayang kalau buru-buru menghabiskannya. Sejak awal saya sudah jatuh cinta pada Sungu Lembu, baru tiga halaman pertama saja Sungu Lembu sudah beberapa kali mengumpat "anjing!", belum lagi berbagai sumpah serapah semacam kadal kopet, jangkrik , babi, tapir buntung, dan masih banyak lagi. Meski memang anjinglah yang paling sering disebutkan oleh Sungu Lembu. Aneh tentu saja, kenapa ia tak mengumpat memakai namanya sendiri yang juga mengandung unsur binatang. Lembu!

Saya rindu kisah semacam Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Sebagai penikmat cerita kolosal, membaca buku ini bagai menemukan surga, karena Raden Mandasia bukan hanya kisah tentang pertarungan dan dendam saja, tapi merupakan petualangan panjang yang dikemas dengan kekayaan. Kaya akan sumpah serapah, jelas. Kaya akan korban yang bergelimpangan dan berlumur darah, niscaya. Kaya akan kuliner yang bikin perut langsung keroncongan dan liur dleweran, pastinya. Kaya akan dongeng/legenda/kisah dari berbagai negara dan sumber, iyap. Kaya akan bumbu seksual, hei ya iya to ya!* Kaya akan filosofi bila direnungkan dalam-dalam, sudah tentu.

Dan selayaknya cerita kolosal, buku ini menghadirkan puluhan tokoh yang datang dan pergi, ada yang selintas lewat ada yang bertahan dari awal hingga akhir. Namun kepiawaian Yusi Avianto Pareanom dalam bertutur membuat semua tokoh membekas dan mudah diingat. Detail perawakan dan sifat para tokoh dideskripsikan dengan begitu uniknya.
Sebagai orang Jawa saya paham bahwa Mandasia adalah nama salah satu pawukon, tapi saya nggak menyangka kalau keseluruhan pawukon digunakan sebagai nama anggota keluarga Raden Mandasia. Mulai dari Prabu Watugunung, Dewi Sinta dan Dewi Landep, hingga Mandasia bersaudara yang semuanya berjumlah 27 pangeran yang terdiri dari 13 pasang pangeran kembar dan satu pangeran bungsu. Nama-nama pawukon sendiri menurut kisah Jawa lama berasal dari suatu kerajaan yang dipimpin raja Watugunung dan permaisurinya Dewi Sinta beserta 28 putranya.
Cukup terhibur juga karena wuku saya, wuku Kurantil yang diwakili oleh Raden Kurantil, salah satu kembar sulung, punya porsi yang cukup banyak di bab Perang Besar. 😷😷
Namun bukan hanya kisah awal pawukon ini saja yang muncul dalam buku sastra yang menjadi pemenang Khusala Sastra Khatulistiwa 2016 ini, tapi ada juga kisah tentang pembawa wahyu, kakek pembuat boneka kayu, sang koki yang terikat perjanjian dengan majikan, dan tentunya perang yang serupa perang baratayudha, hingga kejutan spesial yang ternyata disiapkan Yusi Avianto Pareanom di penghujung bukunya.

Dikisahkan dari sudut pandang orang pertama, justru Sungu Lembu-lah yang menjadi tokoh sentralnya. Dengan gayanya yang koplak, cerewet, dan sedikit songong, Sungu Lembu membawakan kisah ini dengan jatmika. Gayanya memang nggak seselengekan Wiro dalam Wiro Sableng, nggak juga sehalus Agung Sedayu dalam Api di Bukit Menoreh, nggak seberwibawa Angling Dharma, dan nggak sesakti Arya Kamandanu dalam Tutur Tinular, tapi Sungu Lembu mudah untuk disukai. Tutur katanya yang blak-blakan dan kesialan yang sering ia temui terasa menghibur dan membuat perjalanan ratusan halaman ini begitu renyah.
Buku ini menggunakan alur campuran, kadang maju, kadang mundur, dan terkadang semakin mundur lagi. Namun toh, karena kepiawaian Yusi Avianto Pareanom, alur bukanlah kendala untuk memahami jalan cerita. Bahkan saya dibuat terjebak dan tersesat dalam narasinya yang bergelimang kosakata klasik. Settingnya pun seolah ada dan tiada, saya berusaha menghindari membayangkan Kepulauan Rempah sebagai Nusantara, tapi toh akhirnya gagal. Namun meski demikian, Kerajaan Gilingwesi tetaplah sebuah kerajaan yang di benak saya nggak bisa saya samakan dengan salah satu kerajaan lama di Nusantara. Gilingwesi adalah Gilingwesi.

Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi memang menyajikan cerita dewasa. Bukan sekali dua kali saja Sungu Lembu melakukan hubungan badan dengan beberapa wanita. Dan jangan lupa pesta cerrr-ke-cehhh yang fenomenal yang membuat seorang teman mengumpat menirukan Sungu Lembu, "Jagat dewa batara!" Hahahahanjing...
Kemudian tentu saja kesadisan dan kekejaman dalam pertarungan kecil maupun pertempuran besar yang dilewati Sungu Lembu dan Raden Mandasia mungkin bisa membuat mual. Beberapa memang terasa sadis bagi saya yang hatinya begitu halus dan mudah terenyuh ini. #ngek

Berat rasanya bagi saya mengakhiri membaca Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi ini. Apalagi mendekati penghujung kisah saya merasa masygul saat sebuah rahasia terungkap. Termangu beberapa saat dan mengelus dada, jadi inilah akhir kisah perjalanan Raden Mandasia, Raden Sungu Lembu dan Prabu Watugunung. Kisah perjalanan dua orang melalui aral dan tantangan dengan niat dan tujuan masing-masing. Dalam babak Perang Besar, apa yang pernah diungkapkan paman Banyak Wetan terasa benar adanya.
Hingga tibalah di bagian favorit saya dari sebuah buku, epilog. Dan kejutan yang diberikan penulis kali ini bikin saya senyum-senyum dan merasa bahwa akan selalu ada pelangi bahkan seusai kita menempuh badai... badai puluhan ribu kematian yang darahnya memerahkan Gerbang Agung.
Yang muncul di benak saya kemudian adalah, Raden Mandasia yang konon menggemari daging sapi itu, pada akhirnya berpetualang dan mencuri daging sapi bersama sapi (lembu) pula. Entah hal itu disadari Mandasia dan Sungu Lembu atau tidak.
Yang jelas yang niscaya hanya satu hal... kalian harus baca buku anjing keren ini!


Note:

* logat Banjaran Waru yang digunakan Nyai Manggis untuk meyakinkan Sungu Lembu.

Jumat, 25 Maret 2016

[Resensi] Bukan Pasarmalam - Pramoedya Ananta Toer


Judul buku: Bukan Pasarmalam
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Desain sampul: Ong Hari Wahyu
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun terbit: Agustus 2015 (cetakan ke-8)
Tebal buku: 106 halaman
ISBN: 978-979-3820-03-3



BLURB

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang... dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana"
-Pramoedya Ananta Toer

Roman ini berlangsung dalam satu putaran perjalanan seorang anak revolusi yang pulang kampung karena ayahandanya jatuh sakit. Dari seputaran perjalanan itu, terungkap beberapa potong puing gejolak hati yang tak pernah teranggap dalam gebyar-gebyar revolusi.

Dikisahkan bagaimana keperwiraan seorang dalam revolusi pada akhirnya melunak ketika dihadapkan pada kenyataan sehari-hari: ia menemukan ayahnya yang seorang guru yang penuh bakti tergolek sakit karena TBC, anggota keluarganya yang miskin, rumah tuanya yang sudah tidak kuat lagi menahan arus waktu, dan menghadapi istri yang cerewet.

Berpotong-potong kisah itu diungkapkan dengan sisa-sisa kekuatan jiwa yang berenangan dalam jiwa seorang mantan tentara muda revolusi yang idealis. Lewat tuturan yang sederhana dan fokus, tokoh "aku" dalam roman ini tidak hanya mengritik kekerdilan diri sendiri, tapi juga menunjuk muka para jenderal atau pembesar-pembesar negeri pascakemerdekaan yang hanya asyik mengurus dan memperkaya diri sendiri.

RESENSI

Di bulan Desember 1949, "Aku" menerima sepucuk surat dari Blora. Surat yang sebenarnya tidak terlalu menyayat hati "Aku" seandainya saja sebelumnya "Aku" tidak mengirim surat yang berisi sesuatu yang tak enak ke Blora. Surat dari Blora itu meminta "Aku" agar pulang barang tiga-empat hari karena sang ayah sedang sakit.
Dengan hati pedih, "Aku" berkeliling Jakarta mencari pinjaman uang untuk digunakan pulang. Dan tak lama, "Aku" dan sang istri naik kereta menuju Blora. Sepanjang perjalanan, melalui jendela, "Aku" merenungi tempat-tempat yang pernah menjadi medan perangnya melawan penjajah. Renungan yang berakhir pada sosok ayah. Renungan yang membuat hatinya tersayat.
Setiba di Blora, "Aku" mendapati ayah yang dulu tegap dan kokoh harus terbaring tak berdaya di ranjang rumahsakit, terbatuk-batuk hebat hingga mengeluarkan darah. "Aku" menyaksikan nasib adik-adiknya, rumahnya dan idealisme sang ayah sekarat secara perlahan.

-------

Bukan Pasarmalam meski cukup tipis tapi terasa sarat makna dan penuh sindiran. Kisahnya lumayan singkat tapi mampu membuat hati miris.
Betapa manusia yang keras, pejuang yang tangguh yang menjalani masa tahanan dengan gagah pun bisa lumpuh tak berdaya dalam rasa takut akan kehilangan. Menjadi melankolis, menjadi manusiawi.

Tokoh dalam novel ini memang tak bernama. Bukan hanya "Aku" sebagai si tokoh utama, tapi juga bapak, istri, adik-adik, paman, dukun dan tetangga, semua nggak memiliki identitas nama. Meski begitu Pramoedya tetaplah penulis yang mampu mencengkeramkan sosok sang tokoh dengan intens di ingatan saya sebagai pembaca.

Latar pasca kemerdekaannya pun kental dengan aroma sisa-sisa perjuangan dan derak perubahan yang menggilas kaum nasionalis-idealis. Memperkuat kisah yang suram dan gelap ini dengan sindiran yang menghujam. Sindiran pada diri sendiri, pada ketakutan akan kematian dan pada perjuangan kemerdekaan yang berbelok ke arah pencarian untung semata.

Novel Bukan Pasarmalam ini pernah dilarang pada tanggal 30 November 1965. Namun juga pernah diterbitkan di berbagai penerbit di kurun waktu yang berbeda, di antaranya:

1. Balai Pustaka, 1951, 1959 (Bukan Pasarmalam), edisi Indonesia
2. Yayasan Kebudayaan Sadar, 1964 (Bukan Pasar Malam), edisi Indonesia
3. Journal Indonesia no.15, April 1973, (It's not An All Night Fair), edisi United States
4. Abbas Bandong, 1976 (Bukan Pasarmalam), edisi Malaysia
5. Horlemann, 1993 (Mensch Für Mensch), edisi Jerman; Pent. Diethelm Hofstra
6. De Geus, 1998 (Een Koude Kermis), edisi Belanda; Pent. Alfred van der Helm, Angela Rookmaker
7. Bara Budaya, 1999 (Bukan Pasar Malam), edisi Indonesia
8. De Geus, 2001 (Een Koude Kermis), edisi Breda, Belanda; Pent. Henk Maier
9. Equinox, 2001, (It's not An All Night Fair), edisi Singapore; Pent. C.W. Watson

Kamis, 04 Juni 2015

[Resensi Kumcer] Memahami Keperihan Hidup Melalui Kumcer Malam Sepasang Lampion


Judul buku : Malam Sepasang Lampion
Jenis buku : Kumpulan Cerpen
Penulis : Triyanto Triwikromo
Editor : Kenedi Nurhan
Ilustrasi cover dan isi : F Sigit Santoso
Desain sampul : Putut Wahyu Widodo
Penerbit : Buku Kompas
Tahun terbit : Mei 2004
Tebal buku : viii + 192 halaman
ISBN : 979-709-129-5




BLURB

Apakah kekerasan, pemerkosaan, dan tragedi orang-orang yang disingkirkan harus dilupakan?
Apakah pembantaian-pembantaian terhadap manusia dan kemanusiaan mesti dikubur dalam-dalam?
Tidak bagi cerpenis Triyanto Triwikromo.
Karena itu, menurut pendapat Afrizal Malna, kekerasan dan seks sangat mewarnai cerpennya.
Kerusakan-kerusakan sosial bukan lagi berita,
melainkan telah menjadi bagian dari fenomena kebusukan.
Tingginya tingkat perusakan yang terjadi membuat cerpen-cerpennya mirip tubuh penuh tato,
yang menggambarkan berbagai teks tentang kekerasan.
Cerpen menjadi medan tato yang memungkinkan risiko-risiko sosial yang perih ditorehkan.




RESENSI

Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, 15 September 1964, selain sebagai redaktur sastra Suara Merdeka, Semarang, beliau menulis cerpen di Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, dan Republika. Beliau juga merupakan dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, dan kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra, antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988) dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003). Juga mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003) dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia.

Malam Sepasang Lampion merupakan kumpulan beberapa cerpen Triyanto Triwikromo yang telah dimuat di berbagai media cetak selama kurun waktu 1991-2004.
Judul-judul cerpen dalam kumcer ini yaitu:

• Sepasang Anjing, Sepasang Cermin
• Megatruh Percumbuan
• Morgot
• Pengadilan Terakhir
• Ragaula
• Sarumpaes
• Lorong Kupu-kupu
• Anak-anak Mengasah Pisau
• Genjer
• Hujan Medusa
• Ikan Asing dari Weipa-Nappranum
• Keluarga Iblis
• Angin dari Ujung Angin
• Mata Bibir
• Malam Sepasang Lampion
• Seperti Gerimis yang Meruncing Merah
• Rahim Api

Ketujuh belas cerita pendek dalam kumcer ini mengandung cerita tentang kekejaman, kekerasan dan kebrutalan. Dalam hidup, dalam hubungan antar manusia, dalam seks. Iblis-iblis beragam rupa berkeliaran, menebar anyir.
Dengan bahasa sastra yang apik, lugas cenderung 'vulgar', penulis mengungkapkan kerusakan sosial yang menyedihkan.
Namun ada juga cerpen yang membuat tersenyum meski senyum miris. Seperti dalam Pengadilan Terakhir. Juga ada roman mengenaskan dalam Megatruh Percumbuan dan Mata Bibir.

Dalam Pengadilan Terakhir, Rosaria sebagai tertuduh harus menjalani pengadilan sementara ia tak punya salah apa-apa. Yang menjadi sorotan saya justru bukan uang yang ditawarkan Greda agar Rosa mengaku, tapi tingkah hakim yang bikin saya miris. :p

Saya suka roman 'tak tahu diri' di dalam Megatruh Percumbuan. Lelaki yang menganggap dirinya sebagai Hanoman dan 'mencumbui' Sinta.
Dan dalam Mata Bibir, saya tercenung pada keluh kesah perempuan api. Ungkapan cintanya terhadap Rahwa, hujatannya terhadap Ram yang ia tahu berselingkuh dengan Laks, juga keinginannya agar Jata tak perlu menyelamatkannya dan keberaniannya menghadapi api pembakaran.
Saya rasa Mata Bibir menjadi cerpen favorit saya.

Catatan kaki dalam Mata Bibir menyebutkan:

Semula cerita ini berjudul Cutdacraeh. Cut, perempuan asal Aceh yang kini tinggal di Jakarta itu, sangat berperan dalam pembentukan karakter Rahwa dan Ram. Kata dia, mereka berdua hanyalah sosok-sosok rapuh yang lahir dari dusta.


TEBAR-TEBAR CUPLIKAN

Saya tak pernah membayangkan Maiz sebagai seekor anjing yang senantiasa menjulur-julurkan lidah saat berahi mendera. (Sepasang Anjing, Sepasang Cermin - hal. 1)

Setelah senja lindap dan malam melabrak lampu-lampu merkuri, akhirnya aku toh tak bisa bergegas mencium keningmu. (Megatruh Percumbuan - hal. 13)

"Sudahlah saya lelah menjelaskan asal-usul saya," Morgot menengadah menatap kipas angin gantung yang berdesing-desing di ruangan itu. (Morgot - hal. 24)

Aneh! Saya seperti merasa dilahirkan kembali justru ketika mereka (maaf, saya tak perlu menyebut oknumnya) menyeret saya ke ruangan sempit berjeruji itu. (Pengadilan Terakhir - hal. 36)

"O, inikah wajah iblis! Inikah keindahan kepak sayap-sayapnya?" Ragaula hanya sempat mendesis-desis, ketika puluhan pria-wanita bercula menyeret tubuh licin penuh manik-manik itu di sepanjang jalan berkerikil, di tengah rel yang melintas di perkampungan kumuh itu. (Ragaula - hal. 43)

Pernah melihat kepala Sarumpaes membelah dan otaknya meratapkan derita hitam orang-orang yang dipenjara? Belum? Saya juga. (Sarumpaes - hal. 53)

Ratusan kupu-kupu kecil melintasi jalanan berpenduduk terpadat di dunia sore itu. (Lorong Kupu-kupu - hal. 62)

Manyar tak mengerti mengapa mata pisau itu tak bekerjap menatapmu. (Anak-anak Mengasah Pisau - hal. 71)

(Keterangan catatan kaki: Kutipan dari sajak Sapardi Djoko Damono bertajuk "Mata Pisau", diambil dari antologi Hujan Bulan Juni.)

Iblis, yang kau sangka tak memiliki sayap dan kerling mata ungu, selalu tak bisa menyemburkan gerimis pada malam yang perih, Ibu. (Genjer - hal. 82)

Akhirnya sempat juga kubaca e-mail perempuan yang selalu kubayangkan berambut ular itu. (Hujan Medusa - hal. 93)

Aku sedang belajar menjadi iblis, Susan!
Aku akan membakar wajahmu!
(Ikan Asing dari Weipa-Nappranum - hal. 103)

Tak akan kubiarkan ibu membabat leher Fadli. Sekalipun pemabuk jahanam itu hendak mengulum paksa bibirku yang ranum, tak boleh darah segar muncrat ke kamarku. (Keluarga Iblis - hal. 115)

"Sudahlah, Herma, kau tak perlu membayangkan lagi warna ayahmu saat dia menghilang dengan menunggang kuda ke tenggara kota. Yang kutahu, mengenakan topeng emas mirip penunggang kuda dari atas angin, sayap di kedua bahunya berkibar-kibar membelah malam. Aku pun tak bisa melihat wajahnya. Mungkin dia telah menjelma iblis. Punggungnya berkilat-kilat, menusuk-nusuk, memisau mata," kata Hilda, perempuan bergaun tidur hijau muda itu sambil membereskan meja belajar Helma yang dipenuhi lukisan-lukisan pria berkuda berwajah tanpa warna. (Angin dari Ujung Angin - hal. 126)

(Keterangan catatan kaki: "Penunggang Kuda dari Atas Angin" adalah judul patung karya pematung G Sidharta.)

Sungguh, Rahwa, di taman itu aku telah melihat sepuluh bibirmu mendesahkan keperkasaan para raja yang tak henti-henti bercumbu saat hujan mendera beranda dan keheningan ranjang. (Mata Bibir - hal. 140)

Hujan -- yang kausangka bisa menghijaukan seluruh lampu-lampu lampion -- baru saja mendera jalanan Sussex, Dixon, dan Goulburn. (Malam Sepasang Lampion - hal. 152)

Kau tak akan pernah membayangkan betapa gerimis November bakal seruncing ini, Hindun. Kau tak akan pernah tahu suara beduk magrib pada Ramadhan terakhir teramat mengiris dan takbir menjelang Lebaran itu mengingatkanku pada ketololanmu memaknai bendera-bendera kemenangan yang terpancang di langit Uhud. (Seperti Gerimis yang Meruncing Merah - hal. 166)

Kau tak perlu menganggap bayi berselimut selendang merah bermotif burung phoenix itu sebagai orok ajaib yang dijatuhkan dari langit. (Rahim Api - hal. 178)

Cuplikan-cuplikan di atas merupakan kalimat pertama pembuka cerpen. Keren ya kan? Meski ada yang agak sadis. :')

3 bintang untuk Malam Sepasang Lampion by Triyanto Triwikromo.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon