Tampilkan postingan dengan label setting luar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setting luar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2016

[Resensi] London - Windry Ramadhina

Judul buku: London: Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Ayuning & Gita Romadhona
Proofreader: Jia Effendie
Ilustrasi isi: Diani Apsari
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2013
Tebal buku: 330 halaman
ISBN: 979-780-653-7



BLURB

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye. 

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita. 
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,

Editor


RESENSI

Setelah sekian lama memendam perasaan cintanya terhadap Ning, Gilang memutuskan untuk terbang ke London menyusul Ning. Meski keputusan sembrono itu ia ucapkan saat mabuk bersama teman-temannya, tapi teman-temannya bersatu padu berusaha mewujudkannya meski Gilang kembali didera rasa ragu. Maka berangkatlah Gilang ke London tanpa memberi kabar pada Ning terlebih dulu. Gilang ingin memberi kejutan pada Ning.
Namun setiba di London, Gilang mendapati rumah kos Ning kosong. Rupanya gadis itu tak pulang beberapa hari. Dengan gontai, Gilang pun memilih menunggu Ning di penginapan Madge. Di sana ia bertemu orang-orang yang kemudian tanpa ia sangka akan mempengaruhinya. Petualangan Gilang di London selama lima hari, bukan lagi hanya demi mengejar Ning, tapi memaknai perasaan terdalamnya. Akankah Gilang sanggup menyatakan cintanya? Lalu bagaimana dengan persahabatan mereka? Akankah semua berakhir bahagia?

--------------------

Saya membaca buku ini karena rekomendasi dua orang. Satu sesama member BBI Joglosemar dan satu lagi cowok yang ngakunya baper abis karena buku ini. Jatuh cinta pada sahabat sendiri, berapa banyak di antara kita yang telah mengalaminya?
Saya sendiri sempat ragu karena sahabat jadi cinta itu bukan saya banget. Tapi toh saya akhirnya tetap terseret juga dalam arus jalinan kisah cinta sendu berlatar London ini.

London merupakan buku keempat seri STPC yang saya baca, setelah Athena, Paris dan Holland. Sejak pertama membuka novel ini saya sudah terpukau dengan gaya Windry Ramadhina dalam menggambarkan settingnya. Luar biasa. Windry menuliskan dengan jelas bukan hanya detail latar tapi juga suasananya. Sesuai dengan judulnya, ini memang tentang London, bukan hanya tentang seorang pemuda kasmaran yang terbang ribuan mil untuk mengejar gadisnya. Saya dibuat takjub dengan pesona kota ini yang dituangkan dengan tepat ke dalam kata-kata oleh Windry.

London diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Gilang. Unik. Nggak banyak novel yang mengambil sudut pandang tokoh pria sepenuhnya sepanjang cerita, dan London adalah salah satunya. Maka saya pun diajak menyelami ceruk perasaan Gilang yang terdalam, rahasia hati yang dipendamnya dan kegalauannya untuk bertindak. Dilema yang dia rasakan terasa kuat dan begitu mempengaruhi saya. Berulang kali saya hampir ingin menjitak atau menendang bokong Gilang, saking gemasnya. Saya memang nggak tahan dengan karakter cowok yang gampang galau dan melow.
Tapi tetap saja saya mengagumi keromantisan dan ketertarikannya pada karya sastra klasik. Gilang juga menjadi sosok yang penuh empati, caranya bercanda terasa hangat dan akrab. Well, dia memang mudah dicintai.

Ada tiga karakter wanita dalam novel ini. Ning, sahabat yang dicintai Gilang, yang membuat Gilang rela jauh-jauh ke London untuk menyatakan cinta. Goldilocks, gadis misterius yang luar biasa cantik dan misterius. Dan ada pula Ayu, gadis Jakarta yang juga menjadi turis di London untuk berburu cetakan pertama Wuthering Height. Di antara ketiga gadis ini, saya justru penasaran pada Goldilocks, justru pertemuan Gilang dengan gadis inilah yang saya nantikan dengan harap cemas. Saya justru merasa Ning tidaklah begitu istimewa, meski Gilang jatuh cinta berat padanya. Di mata saya, chemistry Gilang dan Goldilocks lah yang paling mengena di hati saya.

Selain latar London yang disajikan dengan apik, banyak pula trivia tentang sastra klasik dan seni yang ditebarkan dengan rapi di dalam novel ini. Dan kesan melow tokoh prianya seperti menyatu dengan cuaca London yang sendu. Ditambah lagi dengan temponya yang lambat, menyelesaikan novel ini serasa cukup berat bagi saya. Soo gloomy.
Tapi untungnya side story antara Madge dan John menjadi penyegar yang ampuh. Saya malah menyukai hubungan mereka.

"Menunggu cinta bukan sesuatu yang sia-sia. Menunggu seseorang yang tidak mungkin kembali, itu baru sia-sia." (hlm. 247)

Dari London saya belajar arti melepaskan melalui Madge. Mencintai bukan berarti mengungkung diri. Meratapi dan menutup diri bulanlah wujud rasa cinta. Hanya menyakiti diri sendiri dan menyakiti orang di sekitar kita. Dan London juga mengajarkan arti perjuangan. Nggak ada yang sia-sia bila kita telah berjuang. Meski hasilnya nggak seperti yang kita inginkan, tapi pasti ada harapan dan kebahagiaan setelah kita berjuang.

Overall, saya lumayan terhibur dengan novel ini. Bagi kamu yang suka romance sendu, kisah tentang mencintai seorang sahabat sendiri dan memendamnya bertahun-tahun, dengan latar kota London yang indah, saya sarankan untuk membaca novel ini :)

Senin, 21 Desember 2015

[Resensi: Notte - Dita Safitri] Perjumpaan di Bawah Langit Florence


Judul buku: Notte: Satu Malam Ketika Kita Bertemu
Penulis: Dita Safitri
Editor: Cicilia Prima
Desainer kover: Dyndha Hanjani P.
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Juli 2015
Tebal buku:
ISBN: 978-602-375-120-4




BLURB

Arjuna Batilada, 25 tahun. Seumur hidup hanya melakukan apa yang diinginkan ibunya. Ia pergi ke Florence setelah kematian ibunya yang mendadak. Ia menyangka kalau tiket itu adalah wasiat ibunya sebelum meninggal.

Vecchio, 22 tahun. Seorang gadis yang tak seperti kelihatannya, ternyata adalah seseorang yang telah melakukan banyak hal berani dalam hidupnya, juga pergi ke Florence setelah mendapat warisan dari ibunya yang sudah lama menghilang.

Bertemu di tengah keajaiban Florence yang memukau, mereka kemudian jatuh cinta di atas bench di bawah lampu jalan malam itu. Sampai akhirnya Ve menghilang begitu saja di satu siang sebelum janji bertemu yang ketiga kalinya dengan Jun.

Jun dan Ve mungkin sama-sama tidak tahu, kalau pertemuan malam itu akan membuat mereka menyadari bahwa kadang orang yang berada terlalu dekat  terkadang tidak disadari keberadaannya. Jun dan Ve sama-sama tidak tahu kalau malam itu akan benar-benar mengubah hidup mereka untuk selama-lamanya.

REVIEW

Arjuna datang ke Florence dengan perasaan yang masih berselimut duka. Kematian ibunya yang mendadak membuatnya menyesal. Seumur hidupnya Arjuna selalu menuruti kemauan ibunya hingga ia tumbuh jadi pria yang kaku dan tak pernah bersenang-senang. Maka, dengan dorongan Mikaela, sahabatnya, Arjuna pun berlibur ke Florence untuk memenuhi wasiat ibunya.
Di Florence, tanpa sengaja ia bertemu gadis aneh yang terlalu periang. Nama gadis itu pun unik, Vecchio. Semula Jun menganggap gadis itu sebagai pengganggu. Namun ketika mereka beberapa kali bertemu kembali, Jun mulai menikmati kebersamaan mereka.
Sayangnya, ketika Jun merasa gembira atas kedekatan mereka, gadis itu tiba-tiba menghilang. Jun pun tak punya keinginan untuk melanjutkan perjalanannya dan memilih kembali ke Indonesia.
Setiba di Jakarta, tindak-tanduk Jun yang berbeda tak luput dari perhatian Mikaela. Hingga Mikaela pun sadar Jun telah jatuh cinta pada gadis lain.
Ve sendiri secara tiba-tiba memutuskan kembali ke Jakarta karena diberi tahu bahwa Max sakit. Anak laki-laki berusia empat tahun itu kangen pada Ve meskipun tetap bersikap cuek seolah tak membutuhkan Ve. Tapi Ronald, ayahnya, yakin Max membutuhkan Ve. Ve kembali dan berjanji pada Max untuk tidak akan pernah meninggalkan Max seperti ibu anak itu.
Bisakah Ve menepati janjinya, sementara hatinya telah dicuri Jun? Akankah takdir mempertemukan Jun dan Ve lagi? Apakah Mikaela harus menekan perasaannya dan merelakan Jun?
Sementara kedua gadis itu ternyata menyimpan rahasia besar dari Jun. Rahasia yang bisa menghancurkan hati Jun.

------------

Saya tertarik membaca novel ini karena kavernya yang berwarna ungu dan berkesan romantis. Ya ampun, saya memang selalu takluk dengan kaver cantik. Juga blurbnya yang lumayan menumbuhkan rasa penasaran.

Notte menggunakan POV orang ketiga dan nggak hanya menekankan konflik batin Jun dan Ve saja. Semua tokohnya diberi kesempatan untuk mengungkapkan keresahan hati mereka dengan berimbang.
Alurnya mengalir maju dan penuh misteri. Sepanjang cerita saya dibuat penasaran dengan kemisteriusan Ve. Ada hubungan apa Ve dengan Ronald dan Max. Rahasia apa yang disembunyikan tokoh-tokoh novel ini. Geregetan banget.

Ve digambarkan sebagai gadis yang periang dan bersemangat. Meski ternyata ia menyimpan banyak keresahan dan kesedihan. Tadinya saya setuju dengan Jun bahwa Ve memang lumayan annoying. Haha~
Jun tipe pria kaku yang terbentuk karena usahanya untuk menyenangkan ibunya. Bukan berarti anak mami, lho. Suka dengan keinginannya untuk belajar dan bekerja keras demi ibunda. Aww~ its so romantic. ^^
Mikaela menjadi karakter yang perhatian dan tegar. Ia selalu ingin yang terbaik demi Jun. Sama halnya dengan Ronald yang meski terlihat tak peduli tapi menyimpan jiwa besar dengan pasrah menerima keputusan Ve.
Hmm~ karakter mereka loveable semua, ya :)

Penggambaran settingnya bagus, dan detailnya diselipkan dengan rapi. Profesi tokoh utama juga jelas dan nggak berkesan hanya tempelan. Sungguh menarik mengikuti pekerjaan mereka yang berbeda-beda.

Cukup geregetan juga karena penulis lumayan pelit memberi clue untuk misteri yang menyelubungi setiap tokohnya. Saya terus saja dibuat bertanya-tanya, "oke, jadi kamu dan dia punya hubungan apaaaa?" XD
Maka saya pikir, twistnya cukup berhasil bagi saya. Saya kaget dengan rahasia Ve dan Mikaela dan malah jadi penasaran dengan penyelesaian konfliknya.

Saya berdebar menunggu eksekusi Dita untuk cerita ini. Dan kemudian lega. Lalu saya teringat quote yang ada di awal mula novel dan menjadi paham. Aaah... ini ending yang logis menurut saya. Memang nggak selamanya kita menjalani romansa seindah dongeng.

Saya rekomendasikan novel ini buat kalian pembaca yang menginginkan kisah cinta di bawah langit malam kota Florence dan yang akhirnya berbicara dengan logika. Love this story so much.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Ya, orang yang mengelak keras-keras sebelum orang lain menuduh, biasanya memang nelakukan hal yang dituduhkan." (hlm. 31)

Pada akhirnya akan selalu ada balasan untuk setiap keegoisan. (hlm. 95)

Benar yang selama ini dikatakan orang, bahwa kadang kala kenyataan yang menyakitkan itu akan tersimpan jauh lebih lama ketimbang yang menyenangkan. (hlm. 111)

"Tuhan selalu punya cara untuk kita. Mungkin dia mempertemukan kita untuk bersama, tetapi juga mungkin hanya ingin membuat kita jatuh cinta dan menyadari ada hal lain di depan mata yang tak akan kita lihat kalau kita nggak bertemu. (hlm. 138)

Jumat, 06 November 2015

[Resensi: Blue Vino - K. Fischer] Kisah Cinta di Antara Rimbun Pohon Anggur


Judul buku: Blue Vino
Penulis: K. Fischer
Editor: Dini Novita Sari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2013
Tebal buku: 328 halaman
ISBN: 978-979-22-8019-7



BLURB

Mereka terdiam.
Tanpa kata, namun bukan tanpa makna.
Ketika cinta menebarkan mantranya,
sebuah senyum mampu membuka membuka seluruh bulir rasa.

Langenlois. Wilayah perkebunan anggur di selatan Austria itu menjadi tempat Roz menyembuhkan luka hati karena dikhianati rekan kerjanya.

Di tengah deretan pohon anggur serta penduduk pedesaan yang ramah dan menyenangkan, Roz berharap bisa menata lagi kehidupan pribadinya yang terlupakan demi ambisinya berkarier.

Bjorn Baum dan Dagny Kerulaner adalah dua pria yang membuat Roz menemukan sisi lain dirinya. Tapi tak disangka oleh Roz, satu dari dua pria tersebut melakukan hal keji yang nyaris membuat Roz melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

RESENSI

Semua berawal dari proyek Mesir. Roz si gila kerja yang merupakan perempuan tangguh di perusahaan baja, merasa ditikung oleh rekan kerjanya, Hubert. Proyek Mesir yang merupakan hasil pemikiran Roz diakui Hubert sebagai proyeknya dan membuat Hubert yang melenggang ke international meeting.
Merasa kesal dan ingin membuat Hubert kelimpungan, Roz mengunci file-file proyek di komputernya dan memutuskan untuk mengambil cuti. Cuti yang tak pernah diambilnya selama enam tahun masa kerjanya.
Roz pun mengambil liburan ke kampung halaman Lisa, sekretarisnya, ke kota wine terbesar di Austria.
Keluarga Lisa adalah pemilik Hennerhof sebuah guest house megah bergaya barok dan perkebunan anggur yang sering digunakan sebagai lokasi pernikahan, sehingga Lisa kadang harus pulang untuk membantu.
Di tempat itulah Roz bertemu dengan Dagny, pria brewok lusuh pemilik perkebunan anggur di sebelah Hennerhof, dan bertemu Bjorn, pria besar layaknya beruang yang memesona seperti Adonis.
Semakin lama di Hennerhof, semakin Roz jatuh pada pesona pria-pria itu. Sayangnya salah satu dari mereka punya rencana busuk ingin menjegal dan membeli Hennerhof. Di tengah kepanikan Lisa akan situasi keuangan Hennerhof dan kesehatan ibunya yang sama-sama memburuk, Roz harus menemukan cara untuk menyelamatkan harta leluhur sekretarisnya itu. Dan menemukan si penjahat tak punya hati yang sebenarnya.
Apakah Roz berhasil menyelamatkan Hennerhof? Siapa yang harus Roz percayai, Bjorn atau Dagny? Dan apakah international meeting dapat berjalan lancar tanpa kehadirannya?

------------

Blue Vino menjadi perkenalan pertama saya dengan karya K. Fischer. Menyenangkan rasanya membalik tiap lembar halaman novel ini karena suguhan settingnya yang menawan. Di perkebunan anggur! Di antara tegukan wine! Ini menjadi pengalaman membaca yang menarik.

Blue Vino diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga namun terfokus pada Roz. Saya lebih banyak diajak menyelami pemikiran dan perasaan Roz, dan hal ini sempat membuat saya geregetan. Yaitu saat Roz dengan mudah membuat asumsi-asumsi hanya berdasar fisik, dengan betapa mudah Roz menilai dan menyimpulkan pribadi seseorang. Sebagai Project Manager yang sukses menyelesaikan banyak proyek, ternyata Roz nggak bisa membuat penilaian yang bijak tentang pria. Yah, tentunya karena hasrat dan perasaan ikut bermain. :))

Untuk karakter pria... wowowow!! Tadinya saya dibuat sama limbungnya seperti Roz oleh salah satu tokoh pria, sampai saya merasa dia jadi terlalu pemaksa. Saya nggak sebutkan tokoh yang mana biar kalian makin penasaran dan saya nggak spoiler, ya ;)
Chemistry antar tokohnya bagus banget. Tapi saya sih tetap merasa chemistry paling kuat adalah chemistry antara Roz dan Bjorn.

Yang menarik adalah diksi yang digunakan K. Fischer di Blue Vino. Ada banyak majas perbandingan dalam novel ini, menjadikannya kalimat yang cantik dan mudah dibayangkan.

Mereka larut dalam percakapan mereka. Tentang pekerjaan, tentang hidup, tentang dunia, tentang apa saja. Seperti dua bawang yang saling menanggalkan setiap lapisan mereka. Sampai semua dapat melihat inti yang telanjang. (hlm. 179)

Karena beberapa kali menemukan bentuk kalimat perbandingan yang memikat seperti di atas, saya sempat membawa novel ini di sesi pelajaran Bahasa Indonesia untuk dibahas bersama.
Namun saya merasakan kegamangan dalam dialog novel ini. Ada kalanya dialog ingin dibawa lebih santai dan informal, tapi ada kalanya baku dan formal. Berikut dua contoh kalimat dialog yang sama-sama diucapkan Roz pada Dagny yang menggunakan kata menyangatkan.

"Suka? Banget! Terima kasih banyak sudah membawaku ke sini." (hlm. 206)

"Begitu lama! Pantas nama kalian tidak seperti orang Austria kebanyakan." (hlm. 230)

Ada juga kata yang jarang digunakan dalam dialog informal:

"Kalau sudah selesai harap ditaruh di sini semua bawangnya." (hlm. 172)

Kata harap biasanya digunakan untuk situasi formal atau di lingkungan pekerjaan dan jarang sekali digunakan dalam keseharian. Mungkin karena bahasa asing biasa menggunakan kata please sebagai penyerta kalimat perintah, maka penulis menggunakan kata harap sebagai padanannya.

Ada beberapa kesalah cetak meski nggak mengganggu kenikmatan membaca:

* "Ah ya! Beruang!" Seru Roz menepuk jidat. Maaf... maaf... aku baru sadar arti namamu. Maaf." --> ... "Maaf... maaf... aku baru sadar.... (hlm. 40)
* ...itu tidak butuh jawaban --> ...itu tidak butuh jawaban. (hlm. 40)
* brengsek --> berengsek (hlm. 192)
* nomer --> nomor (hlm. 252)
* tertap --> tetap (hlm. 281)
* ...tidak akan aku ambil" --> ...tidak akan aku ambil." (hlm. 295)

Tentang judul Blue Vino sendiri saya masih meraba-raba maknanya hingga ke tengah cerita. Setelah tahu saya merasakan konsep yang romantis.
Kovernya keren dengan anggur yang bergelayutan di antara rimbunnya daun anggur. Berasa adem saat melihat dominasi warna hijau daun di latarnya.

Blue Vino memberi saya petualangan luar biasa di antara pepohonan anggur dan gelas wine. Ada pengetahuan baru yang saya dapat tentang wine dan pengolahannya. Juga ada makna yang menyengat dalam novel ini. Tentang kepercayaan dan nurani dalam berbisnis.
Bagi kalian yang ingin menikmati ciuman-ciuman panas dan berbahaya di perkebunan anggur, kalian harus baca novel ini. ;)

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Jika saja kakakku masih hidup..."
"Jika tidak menjawab masalah." (hlm. 88)

"Mungkin aku takut menjadi tua seperti orangtuaku. Jika tidak melarikan diri dari masalah, atau membesar-besarkan masalah. Dua-duanya tidak menjawab apa-apa. Yang ada malah masalah makin menggunung dan meledak sekalian." (hlm. 177)

"Sayangnya tidak semua yang tampak seperti teman adalah benar teman." (hlm. 223)



Rabu, 28 Oktober 2015

[Resensi: Remember Dhaka - Dy Lunaly] Menemukan Jati Diri di Kota Dhaka


Judul buku: Remember Dhaka
Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Ikhdah Henny
Penerbit: Bentang Belia (PT. Bentang Pustaka)
Tahun terbit: Januari 2013 (cetakan pertama)
Tebal buku: vii + 204 halaman
ISBN: 978-602-9397-64-2



BLURB

Di antara dunia baruku yang absurd,
aku menemukanmu.

Di antara semrawutnya kota ini, kamu datang seperti peri.

Kurasa, kamu jadi alasan terbesarku
bisa dan mau bertahan di sini.

Dhaka, tak pernah sekali pun terpikir olehku sebelumnya.

Bersama kamu, aku bisa menemukan diriku.

Karena kamu, kota ini jauh lebih hidup di mataku.

Jadi, tetaplah di sini.
Tetaplah indah seperti peri.

RESENSI

Bagi Arjuna Indra Alamsjah tak ada hal yang bisa mengalahkan kekayaan dan kekuasaan keluarganya, The Alamsjah. Maka ketika ia lulus dengan nilai yang sangat pas-pasan, ia tenang saja. Uang ayahnya pasti bisa membeli kampus manapun untuknya. Tapi, kakaknya, Agni, menolak pemikiran itu.
Merasa Arjuna terlalu menyepelekan hidup, Agni berniat mengirimkan adik semata wayangnya itu untuk mengikuti volunteer trip ke Dhaka. Tadinya Juna menolak mentah-mentah tawaran kakaknya dan memilih kabur dari rumah.
Tapi Juna lupa, tanpa uang ayahnya, ia bukan siapa-siapa. Teman-temannya menjauh karena kartu-kartu dan rekeningnya dibekukan. Dan Juna pun setuju untuk pergi ke Dhaka dan menjadi volunteer selama sebulan.
Siapa sangka, setibanya di Dhaka, ia bertemu seorang peri, atau lebih tepatnya seorang cewek yang mirip peri. Emma, meskipun lebih muda darinya, ternyata telah mengikuti Dhaka Education Project dan menjadi volunteer sejak usia 13 tahun.
Apakah Juna yang sejak kedatangannya ke Dhaka selalu mengeluh itu sanggup bertahan? Akankah ia menuntaskan tugas sukarelawannya atau memilih pulang sebagai pecundang? Apakah ia akan berubah atau tetap menjadi Juna yang mendewakan harta keluarganya?

--------------------

Ketika saya pertama melihat novel ini mejeng di rak toko buku, saya langsung jatuh cinta dengan judul dan kavernya. Padahal saya nggak ada gambaran sama sekali tentang jalan cerita novel ini akan seperti apa, karena blurb-nya yang mengambang.
Tapi toh saya beli juga dan kaget membaca awal kisahnya.

Sumpah, di bab awal, saya rasanya pengin nyeburin Juna ke Kali Code pas banjir lahar dingin, karena sombongnya selangit. Haha...
Karakternya yang semau gue dan nggak peduli terhadap orang-orang di dekatnya itu nyebelin banget. Saya rasa dari segi ini, Dy Lunaly sukses membuat tokoh yang nggak beres dan harus dirombak kepribadiannya.
Tapi, Juna ini baru berasa cowok ketika menggunakan bahasa lo-gue. Begitu Juna ber-aku-kamu, Juna jadi kehilangan 'suara' dan jiwa cowoknya. Dan lagi, ketika Juna beberapa kali menyebut orang yang lebih tua dengan kata 'beliau' saya jadi merasa Juna nggak brengsek-brengsek amat. Lah itu, masih sopan sama orang yang lebih tua. ^^

Tema yang menarik dan setting yang unik, membuat saya jatuh cinta pada Remember Dhaka. Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang Juna, saya diajak mengamati metamorfosisnya. Meskipun saya rasa kesadaran diri Juna agak terlalu cepat datangnya.

Sesuai dengan judulnya, Remember Dhaka, novel ini menyuguhkan setting Dhaka yang kuat. Pastinya Dy Lunaly telah melakukan riset yang benar-benar mendalam karena kota ini dideskripsikan dengan begitu detail. Saya nggak cuma mendapati lokasi-lokasi yang samar tapi lokasi yang tergambar dengan jelas.

Hampir sebagian besar dialog tokohnya menggunakan bahasa inggris. Bagi saya sendiri itu nggak masalah, tapi untuk beberapa murid remaja saya yang meminjam buku ini, saya sempat diprotes karena mereka nggak paham saking banyaknya kalimat inggris yang panjang. Untungnya saya guru yang baik hati *preet*, jadi saya bisa sekalian menjelaskan makna kalimat dan beberapa grammar yang salah. Haha...

Buat kalian yang ingin membaca novel ringan dengan setting yang berbeda dan unik, baca deh Remember Dhaka. Ada selipan petuah yang membuat kita berpikir ulang apakah benar hidup itu nggak adil sama kita :')

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Juna, kamu jangan berekspetasi macam-macam, tapi juga jangan langsung underestimate sama tempat tujuan kamu. Percaya sama Kakak, setisp tempat pasti menyimpan keindahannya sendiri. Begitu juga India dan Bangladesh." (hlm. 30)

"Hidup udah begitu baik kepadaku, apa yang bisa aku berikan?" (hlm. 70)

"Kita yang menciptakan tempat untuk diri kita sendiri, Jun. Selama kita berpikir ini bukan tempat kita, selamanya akan berakhir seperti itu. Tapi, kalau kamu mau berusaha sedikit lebih keras, kamu bakal tahu bahwa ini tempatmu." (hlm. 77)

"Hidup ini selalu tentang mengeja ikhlas. Bagaimana kita belajar untuk ikhlas menerima kondisi apa pun yang ada dalam hidup kita." (hlm. 99)

"Caring for the other is like a drop of water. It will make ripples troughout the entire pond. Kebaikan menyebar dan akan terus menyebar. Dan, yang paling penting itu bertahan dan akan menjadi bagian dari orang itu." (hlm. 151)

Selasa, 25 Agustus 2015

[Resensi: Nightfall - Robin Wijaya] Cinta dalam Senja di Seattle


Judul buku : Nightfall
Penulis : Robin Wijaya
Editor : Andriyani
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun terbit : 2014
Tebal buku : 289 halaman
ISBN : 978-602-02-5205-6




BLURB

Indonesia

Sebaris kalimat, sebuah undangan,
dan luka pengkhianatan yang belum sembuh. Ada hal-hal yang membuat Natalie memutuskan untuk menerima uluran tangan Kris. Sikap pria itu membuatnya yakin
kalau ia sanggup keluar dari bayang-bayang masa lalu.

Seattle

Bagi Kris, obrolan dengan Natalie telah menjelma satu bentuk perasaan baru. Pria itu menagih kesepakatan: sebuah pertemuan kembali. Ketika temu dan harap menyatukan rasa, seorang pria dari masa lalu meluruhkan janji yang telah dibuat Natalie.

Richland

Ada satu celah kosong bernama kehilangan.
Benjamin membutuhkan seorang teman,
dan Natalie pernah mendiami tempat itu dulu. Ia ingin Natalie hadir untuk sekadar menengok kenangan, namun siapa bisa mengendalikan perasaan? Natalie dan Kris sadar cinta mereka yang masih dini, bisa rapuh karena kenangan itu.


REVIEW

Roma, yang seharusnya menjadi tempat liburan Natalie Hanggia bersama kekasihnya, Gio, justru menjadi tempat berakhirnya hubungan mereka berdua. Setelah mengetahui perselingkuhan Gio, Natalie meminta putus. Ia mengakhiri liburannya di Roma lebih cepat sehari dan mengganti jadwal penerbangannya ke Austria. Di bandara, sambil menunggu penerbangannya, Natalie berkenalan dengan seorang pria asal Seattle. Mereka bicara banyak hal selama menanti kedatangan pesawat mereka. Kris menjadi teman bicara yang menyenangkan bagi Natalie, demikian juga sebaliknya. Meski asing dan baru saja saling mengenal, mereka bicara bagai sahabat lama.
Kris meminjami Natalie sebuah buku sastra karangan Tolstoy miliknya, disertai dengan undangan agar Natalie mengembalikan buku itu ke Seattle. Mulanya Natalie ragu, tapi dengan bujukan Kris, akhirnya Natalie setuju.
Setelah pulang ke Indonesia, Natalie memberanikan diri menjalin kontak via email dengan Kris. Hubungan mereka semakin dekat setelah sering melakukan chatting. Hingga tibalah waktunya Natalie siap mengunjungi Kris di Seattle.
Namun saat Kris menanti kedatangan Natalie di bandara, gadis itu tak kunjung muncul. Apakah Natalie mengingkari janji? Mengapa Natalie lebih memilih mendatang Richland lebih dulu dan lebih memilih menemani Benjamin, kawan lama Natalie yang sedang patah hati? Siapa yang akan Natalie pilih? Kris si pria asing atau Benjamin, sahabat lama yang tengah terluka hatinya?

-------

Dari awal pandangan mata, kaver Nightfall sungguh menarik. Sangat kontemporer. Pria berjas rapi dan perempuan bergaun manis mengapit Space Needle, ikon kota Seattle. Seolah menjanjikan kisah romantis di Seattle.

Membaca Nightfall membuat saya penasaran, banyak hal kabur di awal yang nantinya terungkap perlahan. Namun saking perlahannya hampir saja saya merasa bosan. Saya sudah nggak sabar menanti Natalie bertemu dengan Kris di Seattle dan mengikuti romansa mereka.
Setelah Natalie tiba di Seattle bagi saya setting Seattle terasa lebih kuat daripada setting Richland. Robin Wijaya bukan hanya memberi detail landmark tapi juga detail suasana dan hawa udara Seattle. Hal ini membuat kota itu tampak nyata dan memberi latar romantis. Yah... cewek mana sih yang nggak suka romansa dalam hujan? Hihi..

Dari narasi yang dijabarkan, diceritakan Natalie dan Kris adalah teman ngobrol yang menyenangkan. Sayangnya itu hanya dalam narasi, ketika mereka berdua berdialog, saya sama sekali nggak menangkap kesan asyik obrolan mereka. Lebih terasa basa-basi. Saya rasa saya lebih suka jika dialog mereka diperbanyak dan diperdalam. Dialog yang tajam dengan selipan humor mungkin bisa memperlihatkan kedekatan chemistry mereka. Karena jika hanya melalui narasi, rasanya hanya mengambang dan kedalaman ikatan mereka kurang terselami.
Bahkan dialog Kris dan Susan, yang notabene sudah bersahabat lama pun masih sedikit kaku dan seakan berjarak.

Sementara untuk Ben, karakternya cukup konsisten sebagai pria yang berduka dan 'menghilang' dari lingkungan sekitarnya. Kedatangan Natalie membuatnya bangkit, dan lagi-lagi, karena mengobrol dengan Natalie. Jadi karakter Natalie ini 'diceritakan' pandai membuat obrolan yang menyenangkan. Meski saya berharap untuk lebih banyak membaca percakapan itu.

Plotnya rapi meski ada lubang besar dalam cerita ini. Pertemuan pertama Natalie dan Kris diceritakan terjadi pada Juli 2012, namun bagaimana mungkin mereka membicarakan serial The Following? Saya pikir itu adalah serial lain dengan judul yang sama, tapi Kris menyebutkan Kevin Bacon, berarti mereka sedang membicarakan serial yang tayang perdana di Fox pada Januari 2013! Itu tidak masuk akal menurut saya.

Ada beberapa typo dalam novel ini:

* puplen --> pulpen (hal. 41)
* nemukan --> menemukan (hal. 45)
* ...jawab Kris, sedikit ragu, --> ...jawab Kris, sedikit ragu. (hal. 112)
* sempenuhnya --> sepenuhnya (hal. 154)
* Kalaupun ada alasan yang mau membuatnya berbagi cerita. Tak lain karena... --> Kalaupun ada alasan yang mau membuatnya berbagi cerita, tak lain karena... (hal. 167)
* pangukannya --> pangkuannya (hal. 187)
* ...ia pergi keluar kamarnya. --> ...ia pergi ke luar kamarnya. (hal. 214)

Cukup menyenangkan membaca novel ini jika kamu tak keberatan dengan tokohnya yang bisa melakukan adegan dewasa di luar ikatan pernikahan. Tapi tenang, nggak ada adegan yang aneh-aneh kok :) Jika kamu penyuka hujan dan Seattle, silakan membaca roman tentang penyembuhan patah hati ini.
Dan saya sangat menantikan novel lanjutan dari seri ini, Daylight, yang bercerita tentang Gabriel Hanggia :))


TEBAR-TEBAR QUOTE

Ide soal senja hanyalah sesuatu yang begitu mudah untuk dimengerti. Kris berpandangan tentang waktu yang sering kali membawa orang pulang ke rumah. Setelah pagi yang tergesa-gesa, siang yang terasa panjang dan melelahkan, orang akan memilih waktu untuk kembali. (hal. 110)

"Kau bilang tak yakin. Maka waktu perlu meyakinkanmu." (hal. 114)

Kenyataannya, segala sesuatu bisa terjadi pada hati manusia. Dalam hitungan waktu yang singkat ataupun lambat. (hal. 116)

Jendela kamar ketika hujan, memiliki komposisi yang berbeda. Satu persen untuk kaca, dan sembilan puluh sembilan persen berisi kenangan. (hal. 144-145)

"Selain Tuhan, siapa lagi yang bisa menjamin kepercayaan? Tak seorang pun." (hal. 169)

"Kalau kau mau melangkah, melangkahlah yang jauh sekalian. Karena kalau hanya pergi satu dua langkah jauhnya, besar kemungkinan kau akan kembali ke tempat sebelumnya." (hal. 210-211)

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon