Tampilkan postingan dengan label Amore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amore. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 April 2017

[Resensi] Three Women Looking For Love - Netty Virgiantini

Judul buku: Three Women Looking For Love
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Innerchild Studio
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2012
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-979-22-8913-8



BLURB

Kami bertiga dipersatukan takdir sebagai lajang terakhir di angkatan SMA. Berusia kepala tiga, kami senasib sepenanggungan. Kami saling berbagi, saling menguatkan, juga saling bersaing diam-diam.
Hanya karena "status" hidup kami jadi sorotan banyak orang, kami dipandang sebelah mata. Tapi bagi kami itu biasa. Digunjingkan, itu tak terlalu memusingkan. Masih juga ditambah harus melakukan banyak ritual yang tak masuk akal. Mulai dari mencuri kembang melati di keris pengantin pria sampai mandi kembang tengah malam. Kami rela melakukan apa saja, asal tidak harus makan beling seperti kuda lumping!

Jodoh itu punya waktu dan caranya sendiri ketika menghampiri. So, don't worry be happy! Huhuuy!
(Jani, Rena, Mona)


RESENSI

Lajang terakhir. Betapa berat status tersebut bila disandang seorang wanita. Sebahagia apa pun sang wanita dengan hidupnya, selalu ada orang-orang yang akan riwil tentang status lajangnya dan memberi tekanan sosial.  Itulah yang dihadapi oleh ketiga tokoh wanita dalam novel Three Women Looking For Love ini. Situasi yang sebenarnya sudah akrab banget dengan kita karena sering kita jumpai entah di media sosial atau di lingkungan terdekat kita.

Netty Virgiantini mengungkapkan kegelisahan ketiga the last lajangers ini dengan gaya bertuturnya yang khas. Selengekan dan kocak. Para cewek-cewek di novel ini merupakan cewek-cewek kuat dan mandiri, yang cuek di luar tapi juga ketar-ketir di dalam. Bukannya mereka menutup mata dan hati dari cowok yang mendekat—ini terlihat dari jungkir-koprol-jempaliknya usaha mereka—tapi bukankah memilih calon pendamping juga nggak bisa asal comot hanya demi membungkam omongan orang? Saya suka bagaimana mereka dibuat galau, sempat terombang-ambing di antara prinsip dan tuntutan lingkungan. Banyak cobaan yang mereka hadapi, seperti... kenapa ketika sedang menginginkan jodoh, yang menghampiri kok ya yang aneh-aneh. Seperti itulah kurang lebihnya. :)))

Diceritakan melalui sudut pandang orang pertama yaitu sudut pandang Jani, novel ini tetap bisa memotret keresahan ketiga wanita yang bersahabat dekat ini dengan lengkap. Chemistry yang akrab dan dialog yang ger-geran membuat kisahnya enak dibaca. Alur cerita dalam novel ini memang cenderung melompat. Seperti ketika Jani ada di resepsi pernikahan sementara sosok Irawan masih terselubung misteri. Irawan sempat ingin mengungkapkan identitasnya tapi selalu saja ada gangguan (dalam hal tarik ulur informasi ini, Netty Virgiantini memang paling jago bikin geregetan), tapi adegan hanya terputus sampai di kegagalan Irawan saja, tanpa ada kelanjutan lagi bagaimana situasi mereka kemudian hingga resepsi berakhir.
Tapi toh memang seperti yang saya bilang sebelumnya geregetan penasarannya bisa sampai di ubun-ubun karena Irawan ini misterius banget. Lagi-lagi sih, tipe karakter hero yang khas seperti novel-novel Netty Virgiantini yang lain: kalem, sederhana tapi membius. Jyaahhh XD

Sebenarnya walau sama-sama berstatus lajang, situasi Jani, Rena dan Mona lumayan berbeda. Selain karakter, latar keluarga mereka pun berlainan, ini yang menyebabkan perbedaan tekanan tentang jodoh yang mereka rasakan berbeda-beda levelnya. Jani memang lebih santai karena posisinya sebagai anak bungsu dan kakak-kakaknya telah menikah, berbeda dengan Rena yang anak tunggal dan Mona yang merupakan anak pertama dan telah dilangkahi adiknya dalam hal menikah. Hal inilah yang kemudian menimbulkan mereka diam-diam bersaing sengit, tapi dibungkus dengan kepolosan dan kekocakan.
Hal yang akrab bagi saya adalah budaya mencuri bunga melati di keris pengantin pria. Aduh, ini saya pernah lakukan. Hahaha. Saya paham betapa gusarnya Jani harus mencuri bunga dari keris yang terselip di punggung pengantin pria hanya agar ketularan dapat jodoh. Ada juga adegan ge-er ge-er salting kala tukang video acara pernikahan malah terus-terusan mengambil gambar Jani. Ini juga bikin saya bernostalgia jadinya. XD

Penokohannya terasa kuat dan konsisten. Jani, Rena dan Mona punya sifat, gaya dan pemikiran yang berbeda. Mereka tampil dengan karakter masing-masing dengan sama menonjolnya. Tapi tetap saja Jani yang paling nggemesin.

Saya selalu suka kejutan manis yang disiapkan Netty Virgiantini di bagian ending ceritanya. Selama membaca karya-karyanya, saya selalu mak nyes dan klepek-klepek di lembar-lembar terakhir. Meski saya juga sempat merasa takut akan ending tak terduga seperti yang pernah terjadi di novel Telaga Rindu. Namun yang pasti, sedih atau bahagia, selalu ada sentuhan manis yang membuat saya merasa jatuh cinta setiap selesai membaca. Saya memang lebih menyukai kisah yang manis dan sederhana, tanpa menonjolkan kemewahan, tanpa penampilan yang rupawan bak dewa, tanpa keromantisan berlebihan. Itu sebabnya saya selalu klik dengan novel Netty Virgiantini dan merasa puas usai membaca novel Three Women Looking For Love ini. Nyes banget rasanya :)

Sabtu, 01 Oktober 2016

[Resensi: Yamaniwa - Netty Virgiantini] Menuntaskan Luka Masa Lalu

Judul buku: Yamaniwa (Ketika Cinta Bertemu Karma)
Penulis: Netty Virgiantini
Ilustrator: Innerchild
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2013
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 978-602-03-0017-7



BLURB

“Perselingkuhan tidak perlu alasan dan tidak termaafkan!”

Niwa tidak menyangka pengkhianatannya pada Yama, kekasih di masa lalu, harus ditebus dengan sangat mahal: hubungan cinta yang selalu kandas di tengah jalan.

Dalam sepuluh tahun, sudah lima laki-laki meninggalkannya. Bahkan menurut ramalan sahabatnya, ia bakal patah hati 995 kali lagi!

Namun yang terberat, Niwa menyadari sesungguhnya ia masih sangat mencintai Yama, tepat ketika pria itu muncul dan meminta Niwa membuatkan kebaya pengantin untuk calon istrinya. Apakah ini karma yang masih harus dibayar Niwa atau ini sekadar pembalasan dari Yama?

Jika memang ada karma cinta, Niwa ingin membayar semua dosa masa lalunya pada Yama, agar ia bisa segera move on dari pria itu. Tapi jika ini pembalasan... 


RESENSI

Tiba-tiba saja Yama muncul di modiste milik Niwa setelah mereka tak bertemu lagi selama sepuluh tahun. Dan pertemuan itu mengguncang Niwa. Karena setelah pengkhianatannya terhadapa Yama dulu, tak sekalipun Niwa melupakan tatapan terluka Yama. Niwa dihantui perasaan bersalah. Apalagi selama sepuluh tahun, hubungan cintanya selalu kandas. Era, sahabatnya, bilang itu adalah karma. Derita yang harus dirasakan Niwa karena telah melukai Yama. Menurut Era, Niwa harus meminta maaf pada Yama.
Dan kini Yama sendiri yang mendatangi Niwa. Namun tujuan kedatangan Yama, membuat Niwa terluka. Yama meminta Niwa menjahitkan kebaya untuk calon istri Yama. Dengan hati yang remuk, Niwa menyanggupi permintaan Yama. Namun tak urung, di hatinya terselip juga sebuah tanya. Apakah ini upaya Yama untuk membalas dendam?

---------------------------

"Kalau kita mencintai seseorang, apakah kita bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cintanya?" (hlm. 84)

Kamu pernah jadi korban perselingkuhan? Atau justru kamulah si pelaku perselingkuhan? Terlepas jawabanmu ya atau tidak, yang pasti, novel Yamaniwa ini menyorot dengan apik tema perselingkuhan dalam hubungan percintaan.

Jujur saya nggak suka novel dengan tema pengkhianatan alias selingkuh, karena hal ini membawa luka lama yang menyakitkan dan sulit sembuhnya. Maka pada awalnya saya jelas sebal setengah mati pada Niwa. Tanpa alasan yang kuat, Niwa begitu mudahnya mengkhianati Yama. Walau saat itu dia masih remaja labil yang lagi menthel-menthelnya, dan butuh kasih sayang yang nyata, tapi kan.... selingkuh itu jahat. Hiks.

Namun saya toh tetap mengikuti kisah ini, karena saya nggak punya pilihan selain terhanyut dalam alur kisahnya. Tentu saja karena gaya bertutur Netty Virgiantini yang selalu bisa pas porsinya. Hanya Netty Virgiantini yang membuat saya bisa kelepek-kelepek hanya karena kedua tokohnya saling tatap. Suasananya selalu terasa manis tapi juga nyesek. Dan tentunya karena saya dibuat bertanya-tanya dan berharap-harap cemas akan maksud tujuan Yama kembali mendatangi Niwa. Benarkah Yama menginginkan balas dendam?
Karena memang itulah yang saya harapkan. Saya mengharapkan sedikit banyak kisah ini akan seperti novel-novel harlequin favorit saya, dimana sang hero berniat balas dendam tapi akhirnya nggak mampu menuntaskan misi balas dendamnya karena ternyata masih cinta.
Tapi ternyata, jalan kisah Yamaniwa jauh lebih manis dan lebih gereget dari apa yang saya harapkan. Meski endingnya sudah bisa ditebak, tapi semua terbayar dengan adegan paling manis di akhir kisah. Dan ya, bisa dipastikan, saya mewek dong! Nangis di bagian ending ketika Yama akhirnya mengakui maksud tujuannya. Duh, Mas Yama.

Meski dasar kisah ini berasal dari perselingkuhan, tapi novel ini dipenuhi akan penyesalan Niwa dan bagaimana reaksi orang-orang di sekitarnya. Bahwa betapa bodoh dan salahnya Niwa karena telah mengkhianati Yama. Bahkan Era, sang sahabat pun menakut-nakuti Niwa dengan menyebut-nyebut tentang karma. Siapa yang menabur dia akan menuai. Yamaniwa memotret dengan baik fenomena perselingkuhan dan kesempatan kedua yang langka diberikan. Melalui Yama, Niwa, Era dan Agas, pesan moral tentang kedua hal itu tersampaikan dengan jelas.

Meski saya sebal dengan Niwa, tapi saya jatuh hati dengan Yama. Hahaha... sudah bisa diduga sih. Saya memang pencinta deretan cowok kalemnya penulis satu ini. Apalagi namanya Yama itu Yamadipati. Lagi-lagi nama favorit saya dalam pewayangan!
Yama yang kalem, dewasa dan nrimo. Gimana nggak bikin meleleh dengan sikapnya yang gentleman dan manis itu. Saya suka dengan caranya memperlakukan Niwa. Chemistrynya juga bagus dan saling mengisi.
Yang membekas dalam ingatan saya adalah adegan ketika Yama dan Niwa memilih lingerie. Kocak abiiss tapi maniiis. Tentu saja selain adegan paling mendebarkan di tangga modiste yang bikin saya mewek.

Selain Yama ada satu lagi tokoh favorit saya, yaitu Sisil. Konyol dan selalu bisa membuat suasana cair. Mulutnya yang blak-blakan itu mungkin perlu disambit, tapi dialah yang paling frontal menunjukkan kesalahan Niwa. Kehadirannya bukan sekedar pelengkap cerita, tapi dialah jiwa dalam novel ini. Makanya saya suka. Saya paling demen sama tokoh yang apa adanya dan ceplas-ceplos macam Sisil ini.

Overall, saya sukaaaa banget novel ini. Bukan hanya karena saya dibikin nangis, tapi juga ada arti tentang kesetiaan dan memaafkan dalam novel ini. Tentang pengkhianatan. Dan tentang kesempatan kedua. Kisah yang mendalam tapi ditulis dengan begitu apik dan rapi sehingga menjadi sebuah cerita yang manis.

Sabtu, 20 Agustus 2016

[Resensi] Three Days To Remember - Christina Juzwar

Judul: Three Days To Remember
Penulis: Christina Juzwar
Ilustrator: Fransisca Rivan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2014
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 9786020302379



BLURB

Phillip tak pernah menyangka bahwa Indira, wanita yang pernah ia cintai—sekaligus membuat hatinya hancur—muncul kembali. Padahal ia bersumpah tak akan pernah memikirkan atau menemuinya lagi.

Indira memohon pada Phillip agar mau bersamanya ke Pulau Beta—tempat yang dulu menyatukan mereka. Ini merupakan permintaan terakhir Indira karena gadis itu akan segera meninggalkan Indonesia dan tak akan kembali. Tak tega menolak, Phillip mengikuti permintaan Indira.

Namun, tiga hari kebersamaan itu menguras pahit-manis kenangan yang pernah terjalin di antara mereka.

Membuka rahasia.

Mencipta cerita berbeda tentang arti cinta. 


RESENSI

Sudah lama rasanya saya nggak membaca novel Amore-nya GPU. Padahal saya punya niat untuk nggak menyerah pada lini ini. Karena memang cukup sulit menemukan novel Amore yang bagus. Rata-rata kebanyakan ide ceritanya kurang nendang atau kisahnya datar-datar saja.

Kali ini saya membaca Three Days To Remember karya Christina Juzwar. Kalau diingat sepertinya ini kali kedua saya membaca karya Christina Juzwar. Novel ini cukup membuat saya tertarik karena warna covernya yang membiru.

Novel ini diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan porsi fokusnya lumayan berimbang antara Indira dan Phillip. Dengan mudah saya bisa memahami perasaan-perasaan kedua tokohnya. Alur kisahnya yang maju-mundur, ditulis dengan apik dan rapi. Nggak bikin bingung karena satu kejadian di masa kini menyeret ingatan akan masa lalu. Menggali kenangan lama dan memunculkannya ke permukaan. Saya suka bagaimana Christina membuat benang merah untuk masa kini dan masa lalu sehingga bisa terhubung dan muncul dalam cerita. Meski ada juga yang terasa dipaksakan.

Konflik utamanya adalah dua insan yang masih memendam perasaan yang sama, dan salah satu pihak berusaha memperbaikinya. Tapi saya merasakan inkonsistensi juga dalam penokohan karakternya. Semacam rada labil.
Tadinya saya pikir Phillip digambarkan sebagai pria dewasa. Banyak sifat baiknya yang sengaja ditampilkan. Keluarganya yang harmonis. Sifatnya yang penuh perhatian dan penyayang. Kesukaannya pada anak-anak (yang terasa nggak alamiah di mata saya), semua sifat baik itu entah kenapa rasanya palsu dan kurang meyakinkan. Seperti terlalu dibuat-buat. Justru sifat yang terlihat Phillip banget adalah saat dia cemburu buta, asal tuduh, nggak mau dengar penjelasan dan nggak cukup percaya pada Indira. Asli... sifat yang itu bulat banget dalam sosok Phillip.
Sama halnya juga dengan karakter Indira. Di mata saya yang terlihat adalah Indira yang sok bahagia, sok asyik. Sifatnya yang terlalu ceria dan nggak mau membagi kesedihan itu rasanya nggak manusiawi. Bikin gondok. Makanya saya suka ketika di Pulau Beta dia berani keluarin semua unek-uneknya. Semua kesedihannya. Semua kemarahannya.
Itu wujud yang sebenarnya dari usahanya untuk meraih hati Phillip kembali. Dan di adegan itulah baru saya melihat manusiawinya Indira.

Three Days To Remember bertutur dengan mengutamakan dialog. Sayangnya dialog antar tokohnya kurang cair dan aneh. Saya nggak bisa membayangkan cowok asli mengucapkan kalimat-kalimat yang diucapkan Phillip.... kecuali di sinetron. Huhuuu. Mungkin hanya ada satu dari sepuluh pria yang bakal ngomong seperti itu. Contohnya saja... Mas Rangga dalam AADC. *doeeeng*

Bagi saya, novel ini masih terasa berputar-putar dan bertele-tele. Konfliknya hanya simple sebenarnya tapi seperti ditunda-tunda untuk diselesaikan. Dan sebenarnya, apa yang dialami oleh Indira juga sudah saya tebak sih sejak mereka mau berangkat ke Pulau Beta. Thanks to Olaf yang sudah kasih clue.
Dan penyelesaiannya umm... lumayan bergantung pada miracle ya. Saya sih sudah pasrah mau sad ending ya nggak apa-apa. Toh mereka udah menyelesaikan apa yang terjadi dua tahun lalu. Atau mungkin karena saya nggak merasa terkoneksi dengan si tokoh makanya nggak bahagia juga nggak apa-apa? #plak
Tapi yaaah endingnya lumayan manis kok. Melegakan lah.

Overall, saya nggak terlalu menikmati novel ini. Tapi boleh lah dibaca saat senggang sambil membayangkan, apa yang akan kita lakukan dengan mantan selama tiga hari, jika diberi kesempatan lagi untuk bersama. Ehem.

Jumat, 17 Juni 2016

[Resensi: Somewhere in Paris - Vira Safitri] Menggali Ingatan Yang Hilang di Paris

Judul buku: Somewhere in Paris
Penulis: Vira Safitri
Desain cover: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2014
Tebal buku: 304 halaman
ISBN: 978-602-03-1126-5
Book available at: bukupedia.com



BLURB

Dunia Cecilia Rodin jungkir balik ketika ia mengalami kecelakaan di kota Paris. Selain merenggut sahabatnya, peristiwa itu juga membuat Cecilia kehilangan sebagian memori di otaknya.

Dengan gamang ia mencoba melanjutkan hidup di Marseille, berusaha mengingat kenangan yang menyakitkan yang muncul satu per satu, termasuk ingatan tentang Ethel Black, sosok yang diingat Cecilia harus ditemuinya di Kilometer Nol, Paris, tepat sebelum kecelakaan itu. Sosok yang diyakininya sebagai cinta pertamanya.

Namun, dr. Fernand-Joseph Carlotti yang teramat setia merawat, mendukung, kemudian mencintainya, membuat Cecilia terombang-ambing. Terlebih saat ia menemukan kotak musik di loteng rumahnya di Bandung yang menyimpan petunjuk dari serangkaian misteri. Dan ketika kotak Pandora menguakkan kebenaran, siapakah yang layak Cecilia cintai?

RESENSI

Sejak kecelakaan yang dialami di Paris yang menyebabkan kematian Mina, sahabatnya, hidup Cecilia Rodin terasa janggal. Ada ingatannya yang hilang yang membuatnya resah. Apalagi seorang anak lelaki bernama Ethel Black terus menghantuinya. Anak itu muncul secara tiba-tiba, mendesaknya agar pergi ke Paris dan kemudian menghilang. Tak ada seorang pun yang melihatnya, kecuali Cecilia.
Hingga sekolah tempat Cecilia mengajar di Marseille menugaskan Cecilia untuk mengajar di sebuah sekolah di Paris. Kota yang namanya saja membuat Cecilia ketakutan. Untungnya dr. Fernand yang menjadi dokternya selama perawatan selalu setia mendampinginya. Bahkan pria itu berani melamarnya.
Namun sejak menemukan kotak musik di loteng rumahnya di Bandung, Cecilia bertekad mencari tahu masa lalunya yang hilang. Tentang siapa Ethel Black yang sepertinya memiliki ikatan dengannya dan pelangi. Apakah pria musisi yang memainkan biolanya dengan indah yang sering tanpa sengaja ditemui Cecilia adalah Ethel? Siapkah Cecilia menemukan kebenaran?

-------------

Salah banget ya saya baca novel ini setelah New York After The Rain, ekspektasi saya jadi berlebihan. Well, sebenarnya saya suka deh premisnya.. jenis yang pasti akan saya baca. Sayang jalan ceritanya jadi terlalu berputar-putar dan eksekusinya kurang jleb.

Saya merasa ada terlalu banyak tokoh dalam novel ini. Memang maksudnya mungkin untuk memberi clue satu persatu pada Cecilia, tapi jadi too much dan jadi berputar-putar. Dan ada lagi adegan ala-ala sinetron: di momen yang pas, ketemu, ngobrol, tinggal dikiiiiit lagi... satu langkah aja agar semua terungkap, eeeh... nggak jadi. Bukan cuma sekali pula, tapi berulang-ulang kali. Bahaha... duh gemeeees kan ya jadinya.
Suara dan cara bicara tiap tokohnya masih mirip-mirip. Saya mendapati beberapa tokoh yang suka banget menggunakan kata "entahlah" untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Seandainya nggak ada keterangan siapa yang sedang bicara mungkin saya bisa tertukar tokoh.
Padahal gestur dan pembawaan tokohnya sudah lumayan berciri khas. Sementara diksi serta cara penuturannya pun luwes dan menarik diikuti.

Sayangnya justru pertanyaan terbesar tentang masa lalu antara Cecilia dan Ethel nggak juga terjawab. Masih ada banyaaak pertanyaan tentang apa, bagaimana, mengapa, kapan dan seperti apa mengenai hubungan mereka. Rasa penasaran saya nggak terpuaskan. Hiks...

Well... meski sedikit kecewa karena eksekusi yang kurang maksimal tapi saya suka ide-ide cerita dari Vira Safitri yang menurut saya memang cocok untuk lini Amore. Apalagi kekuatan settingnya yang sudah dibuktikan di tiga karyanya yang telah saya baca. Hmm... saya sih masih setia menunggu novel Vira Safitri yang berikutnya. Kira-kira kota apa dan negara mana ya yang akan melatari novelnya nanti? Semoga dua kota favorit saya; New Orleans dan St. Petersburg bakal dilirik oleh penulis kece ini :)))

Senin, 13 Juni 2016

[Resensi] New York After The Rain - Vira Safitri

Judul buku: New York After The Rain
Penulis: Vira Safitri
Editor: Irna Permanasari
Desain cover: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Mei 2015
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 978-602-03-1506-5



BLURB

Tidak ada yang tahu bahwa Julia Milano adalah sosok di balik penulis best seller terbitan BlackInk, tempat Julia bekerja sebagai editor.

Ketika Ethan Hall, sutradara ternama, ingin mengangkat salah satu karya Julia ke layar lebar, mau tidak mau Julia harus membuka topeng yang selama ini ia kenakan dan membuka diri untuk bekerja sama dengan pemuda itu.

Tapi siapa sangka, kedekatan membawa mereka pada skenario yang membuat luka hati dan rahasia-rahasia yang mereka sembunyikan tersibak.

Ketahuilah, seseorang akan melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya. Apa pun.... 


RESENSI

Bagi Julia Milano pekerjaannya sebagai editor di BlackInk sungguh menyenangkan. Alasannya apalagi kalau bukan karena Jacob Pierce, sang pemimpin redaksi umum di BlackInk. Asal bisa tetap memandang Jacob dan mengagumi pria itu secara diam-diam, Julia sudah puas. Itu pulalah yang membuat Julia menyembunyikan jati dirinya sebagai Jane Martin, penulis bestseller BlackInk. Karena peraturan perusahaan, Julia tak bisa merangkap sebagai penulis dan editor sekaligus di BlackInk.
Namun kemudian Jacob mulai mengusik Julia dan mempertanyakan keberadaan Jane Martin. Rupanya Ethan Hall, seorang aktor dan sutradara kenamaan, berniat membuat film yang diangkat dari novel Jane Martin. Tentu Julia jadi kelabakan. Apalagi kemudian Ethan tahu bahwa Julia adalah Jane Martin, maka mau tak mau Julia pun menyetujui bukunya dijadikan film dan terlibat dalam proses produksi.
Menghabiskan waktu bersama Ethan membuat Julia nyaman. Bahkan Ethan lebih menyita waktu Julia dan membuat Julia terpaksa menolak ajakan keluar dari Jacob.
Namun Julia tetap saja menyembunyikan perasaannya. Hingga kabar persiapan pernikahan Jacob dengan Amber dan Ethan dengan Miranda mengguncang dunianya. Pria mana yang membuatnya benar-benar patah hati? Dan rahasia apa yang saling disembunyikan Julia dan Ethan?

---------------

Ini pengalaman kedua saya membaca novel karya Vira Safitri setelah sebelumnya saya pernah menjadi host blog tour Remember Amsterdam. Meski beberapa kali kecewa membaca lini Amore, saya toh masih belum kehilangan harapan untuk menemukan Amore yang sreg di hati saya. Dan baru di novel New York After The Rain inilah saya merasa seolah selesai membaca novel harlequin, terutama karya penulis favorit saya Penny Jordan.

Kunci novel ini adalah masa lalu Julia Milano. Di sebuah trotoar di tengah deras hujan. Masa lalu yang menghantui Julia dan akan memunculkan seseorang untuk menuntut balas. Sepanjang cerita saya terbawa rasa penasaran dan lumayan ikut melow.

Hal yang saya suka dari Vira Safitri adalah kekuatan settingnya. Sama halnya dengan detail yang ia jabarkan dalam Remember Amsterdam, di dalam novel ini Vira Safitri pun dengan luwes menuliskan setiap lokasinya, dari New York hingga ke Italia. Keren.

Saya suka Julia, yang rada-rada melow, lumayan keras kepala, punya semangat buat bertengkar dengan Ethan tapi sayang jadi bloon kalau di depan Jacob. Haha... tapi bagian yang paling saya suka waktu Julia "ngerjain" Ethan dan bikin Ethan harus duduk di ayunan. XD
Di antara Jacob dan Ethan saya sih milih Ethan. Jacob kayaknya terlalu serius sementara Ethan lebih spontan. Lebih apa adanya. Bagian favorit saya waktu Ethan mulai gamang kali ya... pas di dermaga itu. Huhuuu...
Sayangnya saya nggak sreg dengan sebutan "pemuda itu" buat Jacob dan Ethan. Pemuda itu bagi saya ya cowok 24 tahun ke bawah lah, sementara yang sudah dewasa mending disebut "pria itu" jadi lebih berasa lakik dan matang.

Adegan-adegannya manis. Nggak ada yang panas. Padahal saya ngarep banget ada satu atau dua kecupan biar romannya makin berasa. Kalau flat begini memang jadinya kayak cinta-cintanya anak remaja.
Dan saya kok jadi pengin ada perang batin di sisi si pria ya. Antara mau nerusin rencananya apa enggak. *efek kebanyakan baca karya Penny Jordan* wkwkwkk~

Hmm... overall saya suka novel ini. Bahkan lebih suka dibanding Remember Amsterdam, settingnya kuat, ceritanya bagus, manis dan romantis. Ahh... jadi nggak sabar baca karya Vira Safitri yang lain nih ^^

Minggu, 13 Maret 2016

[Blogtour: Review + Giveaway] Remember Amsterdam - Vira Safitri


Judul buku: Remember Amsterdam
Penulis: Vira Safitri
Editor: Astheria Melliza
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 368 halaman
ISBN: 978-602-03-2336-7
Book available at: bukupedia.com




BLURB

Amy Maycott sadar, menikahi seseorang yang tidak dicintai hanya akan membawa masalah. Itulah alasan mengapa ia harus menghentikan rencana pernikahannya dengan Ton van der Deen. Mungkin lebih tepatnya melarikan diri dari pernikahan itu.
Pelarian Amy ke Amsterdam mempertemukan gadis itu dengan Liam Sparks, musisi muda yang sedang naik daun dan digilai fans. Sosok Amy yang kikuk dan misterius, membuat Liam tertarik menjadikan gadis itu tameng dari serbuan gosip media.
Perasaan Liam yang semakin kuat dan kenyataan bahwa Amy Maycott bukanlah gadis sembarangan, membuat Liam jadi mempertanyakan niatnya. Amy pun sadar bahwa ia tidak bisa selamanya melarikan diri. Ketika masa lalu dan masa depan bertarung di depannya, akankah Amy kembali lari dan menjauh dari kebahagiaan?

"Cinta itu abadi, tapi bisa berpindah ke hati yang lebih menghargainya."


RESENSI

Amy Maycott benar-benar ketakutan di ruang tunggu bandara Heathrow. Kecelakaan pesawat terbang yang pernah dialami oleh ayahnya, membuat Amy takut naik pesawat. Tapi ia harus terbang ke Amsterdam untuk menemui ibunya dan mencoba meyakinkan ibunya agar menghentikan rencana pernikahan Amy dengan Ton van der Deen.
Di tengah keraguannya, Amy mendapati seorang pria yang tampaknya banyak menarik perhatian orang-orang. Amy melihat pria itu membubuhkan tanda tangan di dada seorang gadis. Baru kemudian Amy tahu baha pria itu adalah Liam Sparks, seorang musisi muda yang tengah naik daun.
Liam sendiri tengah menanti penerbangannya menuju Amsterdam untuk menonton konser Yann Tiersen—musisi Prancis yang memengaruhi musik Liam. Namun banyak yang salah menduga bahwa tujuan Liam sebenarnya adalah untuk menemui Irina, seorang wanita yang ia cintai namun telah bertunangan dengan sahabat Liam.
Secara kebetulan, Liam dan Amy beberapa kali bertemu dalam situasi yang aneh. Hingga muncullah ide dalam benak Liam untuk menjadikan Amy sebagai tameng pengalih gosip.
Maka Liam pun dengan tekun dan gigih menempel pada Amy. Ia mendekati Amy dan menghabiskan banyak waktu bersama gadis itu.
Perlahan percikan rasa itu mulai muncul. Akankah Amy bisa lepas dari tunangannya yang pencemburu dan abusif? Benarkah Liam akan kembali dengan Irina? Atau justru Amy dan Liam akan bahagia selama-lamanya?

----------

Remember Amsterdam menjadi pengalaman pertama saya mencicipi karya Vira Safitri. Pengalaman yang meninggalkan kesan manis di benak saya.

Dengan menggunakan POV orang ketiga serba tahu, saya bukan saja diajak menyelami pikiran dan perasaan sang tokoh utama, tapi juga tokoh sampingannya. Alurnya maju dan temponya sangaaaat lambat. Vira Safitri menggambarkan dengan detail adegan-adegan selama Liam dan Amy bersama di Amsterdam. Baru di akhir seusai puncak masalah, tempo menjadi lebih cepat.

Setting Amsterdam-nya terasa kuat dan saya suka dengan detail penyebutan lokasi yang dituju. Suasananya cukup kental saat Liam dan Amy bersepeda bersama.

Karakter dalam novel ini cukup banyak dan rupanya peran mereka bukan hanya sekedar penambah bumbu cerita, tapi sebagai pelengkap puzzle. Setiap tokoh sampingan, uniknya saling berhubungan. Hanya saja beberapa hubungan saya rasa cenderung dipaksakan sehingga kurang natural. Seperti misal ternyata Sebastian—adik sahabat Amy—yang membantu Christian membawa Irina ke kamar hotel Liam. Saya sadar adegan ini nantinya digunakan untuk membantu meyakinkan Amy, namun menurut saya kebetulannya terlalu dipaksakan.

Saya sangat menyukai karakter Amy yang misterius dan membumi. Apalagi saya memang mengagumi profesi kurator, dan Amy bukan hanya sekedar kurator tapi juga pelukis. Pelukis yang jeniusnya kebangetan.
Liam juga karakter yang menyenangkan, sedikit keras kepala jika menginginkan sesuatu, tapi sayangnya kurang tegas terhadap Irina. Sikap iya-enggak-iya-enggak Liam terhadap Irina benar-benar bikin geregetan karena memberi celah bagi Irina untuk berbuat seenaknya.
Tapi yang menarik justru karakter ayah Amy, Arthur Maycott. Tipe ayah apalagibketika ketika sedang berusaha mengintimidasi orang yang menyakiti putrinya.
Chemistry antar tokohnya cukup cair dan konsisten.

Overall saya menikmati membaca Remember Amsterdam. Saya bukan hanya menemukan kisah Liam dan Amy yang manis tapi juga kisah cinta orangtua Amy yang walau berpisah namun tetap bertahan.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Cinta itu abadi, tapi bisa berpindah. Berpindah ke hati yang lebih menghargainya." (hlm. 78)

"Hei, hidupmu bukan untuk menyenangkan orang lain semata. Apalah arti menyenangkan orang lain bila kau tidak bisa menikmati hidupmu sendiri?" (hlm. 119)

"Rumah sakit tanpa dokter bukanlah rumah sakit, sementara dokter tanpa rumah sakit akan tetap menjadi dokter. Artinya, di mana pun kau menimba ilmu, kau tetap akan menjadi pelukis bila kau yakin itu memang tujuan hidupmu." (hlm. 121)

---------GIVEAWAY TIME------------



Selamat datang di perhentian ketiga blogtour Remember Amsterdam, belum capek, kan? Karena melalui blog ini saya akan membagikan satu paket hadiah dari Kak Vira Safitri dan Gramedia.
Paket tersebut terdiri dari:
1 novel Remember Amsterdam
1 blocknote bersampul cover Remember Amsterdam
1 mug Remember Amsterdam
1 bookmate imut

Caranya mudah saja:

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat di Indonesia.
2. Follow twitter @virasafitri dan @KendengPanali, lalu share giveaway ini di akun twitter kalian, jangan lupa memention akun kami berdua dan @gramedia dengan hashtag #RememberAmsterdam
3. Jawab pertanyaan di bawah ini dengan mencantumkan Nama | akun twitter | alamat email di kolom komentar. Pertanyaannya adalah:

Jika kamu bekerja sebagai kurator seperti Amy, kamu paling ingin bekerja di museum atau galeri seni mana? Dan mengapa?

4. Jawabanmu saya tunggu paling lambat tanggal 15 Maret 2016 pukul 23.59 WIB. Giveaway hanya berlangsung selama 3 hari jadi... jangan sampai kelewatan yaa ;)
5. Yang terakhir, good luck!

---------UPDATE----------

Haiii... akhirnya selesai juga tugas saya sebagai host blogtour Remember Amsterdam.
Terima kasih untuk seluruh peserta yang luar biasa. Semangat teman-teman untuk menjaga harta warisan sejarah dan seni budaya kereeeeeen banget. Kalian sudah menginspirasi saya dan semoga pengunjung yang lain juga bisa terinspirasi oleh kalian.

Dan akhirnya saya akan mengumumkan satu nama peserta yang beruntung mendapatkan paket Remember Amsterdam. Dia adalaaaaah....

Ari Rizee
@Tiarizee

Selamaaat ya. Jawabanmu sungguh menginspirasi. Kepada pemenang harap mengirimkan data diri ke email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2x24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan sedih. Karena masih ada dua host lain yang akan memandu blogtour ini di blog mereka. Semoga beruntung yaa..

Dan nantikan juga blogtour-blogtour selanjutnya di blog ini. Sampai bertemu lagi :)




Senin, 08 Februari 2016

[Resensi: Let Me Be With You - Ria N Badaria] Mengizinkan Cinta untuk Mendampingimu


Judul buku: Let Me Be With You
Penulis: Ria N Badaria
Editor: Nuriyah Amalia
Desain cover: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2015
Tebal buku: 352 halaman
ISBN: 978-602-03-1326-9



BLURB

Tidak tahan karena terus didesak menikah oleh keluarganya, Kinanti akhirnya menerima ide gila Rivan Arya, sahabat kakaknya yang telah ia kenal sejak SMA. Mereka akan menerima perjodohan yang diatur tersebut, menikah, dan tinggal bersama demi menyenangkan keluarga sambil menjalani aktivitas masing-masing. Tetapi, bila suatu saat salah satu pihak terganggu dan merasa tidak cocok bersama, mereka akan bercerai baik-baik. Tak disangka, perjodohan bisa juga menyenangkan. Kebersamaan yang mulanya kaku dan canggung, perlahan mulai menumbuhkan perasaan nyaman, sayang, dan saling membutuhkan kehadiran masing-masing. Namun sayangnya, bayang kelam masa lalu terus mengendapendap mengikuti. Satu demi satu rahasia yang disembunyikan Rivan terancam menghancurkan keeping-keping perasaan cinta yang pelan-pelan Kinanti serahkan untuk pria itu. Akankan mereka terus bersama, atau berakhir seperti kisah-kisah yang ditulis Rivan Arya, sang penulis novel best seller itu? Terpaksa mengakui bahwa cinta adalah rasa yang selalu mengguratkan luka dan menyisakan air mata.


RESENSI

Kinanti merasa lelah mendapat pertanyaan yang sama dari waktu ke waktu, apalagi kalau bukan pertanyaan kapan menikah. Terutama ketika kakaknya mulai bertunangan, keluarga besarnya pun mulai gencar menanyakan pertanyaan yang sama. Dan siapa sangka kalau kakak laki-lakinya, Harlan, berniat menjodohkan Kinanti dengan teman SMA-nya, Rivan.
Rivan yang telah kembali dari Kanada dan menjadi penulis bestseller nasional merasa senang dengan sambutan keluarga besar Kinanti. Ia yang berasal dari panti asuhan dan diangkat anak oleh keluarga yang akhirnya bercerai, tentunya sangat merindukan suasana kekeluargaan yang melingkupi keluarga Kinanti. Hal itu ditambah fakta bahwa dulu ia pernah suka pada Kinanti, membuat Rivan setuju untuk menikah dengan Kinanti.
Kinanti sendiri belum bisa melupakan perasaannya pada Dimas. Tunangannya yang meninggal karena kecelakaan. Tapi kelembutan dan kesabaran Rivan membuat Kinanti luluh dan akhirnya ikut setuju.
Mampukah mereka menjalani bahtera rumah tangga dengan pondasi yang rapuh? Akankah mereka saling mencinta? Ataukah diam-diam ada badai besar yang mengancam rumah tangga mereka?

----------------

Bisakah kamu menjalani pernikahan tanpa memiliki perasaan yang kuat dengan pasanganmu? Seperti Kinanti dan Rivan dalam novel ini?
Kalau saya sih enggak. Haha~
Itu sebabnya saya penasaran dengan hubungan Kinanti dan Rivan.

Sayangnya di awal saya sudah dibuat nggak relate dengan si tokoh wanita. Sebagai pembaca buku dan menemukan tokoh wanita di dalam buku yang nggak suka membaca itu... bikin kesel. Saya jadi nggak terkoneksi dengan si tokoh wanita.
Bila Kinanti memang diharuskan nggak pernah membaca novel karya Rivan sebelumnya,  kan bisa dibuat Kinanti ini suka membaca tapi bukan genre roman, misal pembaca fiksi atau apalah. Karena tokoh yang nggak suka membaca itu langsung bikin saya nggak bisa 'masuk' ke karakternya. Nggak memahaminya. Dan nggak bisa memposisikan diri sebagai si tokoh.

Gaya bercerita Ria cukup bagus di awal. Saya menikmatinya, namun tiba di bagian konflik, yang nggak cuma satu, tapi empat konflik sekaligus—orang ketiga di pihak Rivan, orang ketiga di pihak Kinanti, penyakit, saudara yg tiba-tiba muncul—bikin saya pusing. Fokus masalah jadi terpencar dan nggak total.

Saya suka dengan interaksi antara Kinanti dan sahabatnya, juga interaksi Harlan dan Rivan. Lepas dan asyik. Hanya saja begitu Kinanti bertemu dengan Rivan, interaksinya jadi kaku. Bahkan setelah menikah, saya mulai mempertanyakan usia Kinanti, kok kayaknya Kinanti ini masih berusia belasan ya dari gaya bicara dan pola pikirnya?

Saya juga mencatat adanya inkonsistensi penggunaan kata "saya" dan "aku" di bab-bab awal ketika Kinanti dan Rivan belum menikah.

"Aku nggak tersinggung sama sekali kok, Kak, kemarin Kak Rivan juga pasti bingung karena dugaan keluarga saya." (hlm. 74)

Inkonsistensi ini sering banget terjadi dan terasa sangat mengganggu.

Menggunakan POV orang ketiga, novel ini beralur cukup cepat. Adegan-adegannya cukup singkat untuk kemudian beralih ke adegan lainnya lagi. Cara bercerita Ria cukup enak diikuti seandainya saja tokohnya lebih logis dan masuk akal.
Karena memang bisa dibilang tokohnyalah yang bikin geregetan.
Terutama Rivan. Terlebih Rivan.
Entah memang sifat Rivan atau bagaimana, tapi dia terlalu tebar pesona. Hey, nggak masalah kalau hero punya sahabat wanita yang sangat dekat. Usap-usapan kepala, atau memeluk itu biasa. Tapi itu dilakukan dengan rasa sayang yang beda.
Sayangnya Ria menuliskan deskripsi gestur Rivan saat melakukannya pada Sherly sama dengan saat melakukannya dengan Kinanti. Sehingga terkesan Rivan melakukannya karena cinta.
Ini membuat saya mengerutkan kening, apa-apaan nih si Rivan?
Dan cukup lelah juga dengan kengototan Rivan untuk tetap bungkam tentang penyakitnya. Sebagai penulis roman bestseller ternyata pria tetap nggak peka perasaan wanita ya.

Di penghujung cerita, penyelesaiannya lagi-lagi membuat saya tercengang. Drama lagi?

Well, meski tokoh ceritanya cukup bikin naik darah dan lelah lahir batin, tapi saya nggak kapok dan pengen nyicip buku karya penulis ini lagi. Semoga saja di karya berikutnya saya bisa lebih menikmatinya.
Bagi kalian yang ingin membaca kisah cinta berliku dan penuh konflik, kalian bisa coba membaca novel ini. Asal kalian nggak keberatan dengan karakter tokohnya :)

Sabtu, 23 Januari 2016

[Resensi: Segenggam Daun di Tepi La Seine - Wuwun Wiati] Memaknai Kesetiaan di Paris


Judul buku: Segenggam Daun di Tepi La Seine
Penulis: Wuwun Wiati
Desain cover & ilustrasi: Femmy F. Priscilya
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli 2015
Tebal buku: 304 halaman
ISBN: 978-602-03-1865-3
Available at: Bukupedia.com




BLURB

Hidup di Paris menjadi tak sama lagi sejak Ajeng menemukan sebentuk cincin di balik segenggam daun. Bahasa, makanan, dan budaya yang berbeda menjadi kesehariannya yang baru. Ajeng mulai menikmati semuanya di samping Yves tercinta.

Tapi, satu per satu masalah datang. Ajeng berkali-kali goyah akan kesiapannya menikah dengan Yves. Belum lagi godaan yang datang dari sosok flamboyan, si ganteng Alain. Sifat Alain yang antiterikat dan spontan terasa lebih sesuai bagi Ajeng. Di antara Menara Eiffel, Moulin Rouge, pantai nudis, sampai swinger club, bisakah Ajeng mengontrol dirinya dan tetap setia?


RESENSI

Ajeng akhirnya tiba juga di Paris, kota di mana kekasihnya yang warga Perancis tinggal. Walau masih ada sebersit rasa ragu akan tindakannya, tapi ia ingin mengenal Yves dalam keseharian pria itu. Untungnya ia mendapat restu dari Bapak dan adiknya untuk mengunjungi dan tinggal bersama Yves hingga masa visanya habis.
Di awal kedatangannya di kota itu, Ajeng mendapati adaptasi yang harus dilakukannya lumayan berat. Bukan saja karena sifat sembrononya berbenturan dengan keteraturan Yves, tapi ia juga mendapati perbedaan budaya dan pergaulan mereka. Salah satunya adalah bahwa orang Perancis lebih suka bicara dengan bahasa ibu mereka daripada bahasa Inggris. Maka Ajeng pun memutuskan ikut kursus bahasa Perancis.
Ajeng mulai berkenalan dengan sahabat-sahabat Yves dan sahabat-sahabat baru sesama orang Indonesia di sana, Doni dan Fina. Dua orang yang memiliki hubungan unik dengan pasangan masing-masing. Ajeng juga akhirnya diperkenalkan dengan sahabat Yves, Alain dan kekasihnya, Celine.
Untuk memperlancar bahasanya, Ajeng sering menemui Alain karena hanya Alain yang bisa membantunya mempelajari bahasa Perancis.
Alain dan Celine juga yang membujuk Ajeng untuk berpetualang ke tempat-tempat yang tak terbayangkan. Tapi seiring petualangan mereka, Ajeng mulai mempertanyakan perasaannya yang tergelitik oleh Alain.
Ia mulai goyah antara tetap setia dan menikah dengan Yves atau menuruti hasratnya yang penasaran pada Alain.

---------------

Akhirnya kesampaian juga baca novel ini. Langsung suka dengan covernya sih sejak awal. Judulnya juga entah kenapa memberi kesan yang romantis gitu. Haha~

Ide cerita novel ini sungguh menarik, adalah Ajeng, seorang perempuan yang dibesarkan oleh bapak yang sangat berpegang pada budaya jawanya, dengan berani memutuskan mendatangi kekasihnya di negeri seberang yang asing. Nggak ada saudara, nggak ada teman dan hanya Yves yang dikenalnya. Saya merasa si tokoh utama dan si bapak udah punya kepercayaan besar pada Yves, apalagi Ajeng dan Yves tinggal seapartemen.
Dan yang lebih rumit, sejarah masa lalu kehidupan pernikahan orangtua Ajeng menjadi hantu yang membuat Ajeng ragu-ragu untuk menikah. Ini membuat cerita makin berdinamika dan nggak tertebak ujungnya.

Novel ini bertutur menggunakan dua sudut pandang, yaitu POV orang pertama dari sisi Ajeng dan POV orang ketiga. POV orang ketiga digunakan saat penulis ingin menggambarkan perasaan Yves dan Alain.
Namun di halaman 35, saat pergantian sudut pandang, setelah menggunakan POV orang ketiga dan beralih ke POV orang pertama, terjadi kesalahan dalam kalimat pembukanya:

   Begitu keluar dari Metro di Trocadero, mereka langsung disambut pemandangan cantik Menara Eiffel.
  "Wah, Yves! Akhirnya aku sampai di sini!" seruku penuh semangat. (hlm. 35-36)

Memang pergantian dua POV seperti ini membutuhkan ketelitian super agar nggak tertukar.

Novel ini sebagian besar bersetting di Perancis, dan berkesan sangat alami. Bukan hanya lokasi tempat tapi suasana dan atmosfer penduduknya menjadi dukungan yang sempurna dalam novel ini.
Tapi saya juga sempat dibuat bingung dengan setting waktu novel ini:

Aku panik. Aku bangun pukul tujuh pagi waktu Paris, berarti pukul dua dini hari di Jakarta. (hlm. 146)

Ngg... sejak kapan Paris lebih cepat 5 jam dari Indonesia?

Tempat-tempat yang unik banyak bermunculan di novel ini, bukan hanya tempat wisata yang umum didatangi turis tapi Segenggam Daun di Tepi La Seine juga menyajikan tempat-tempat yang berkesan 'bebas'. Pantai naturis, swinger club, museum seks dan toko sex toys juga menjadi tempat-tempat yang dikunjungi Ajeng, Yves dan Alain.
Novel ini benar-benar menampilkan sisi Perancis yang berbeda. Dan nampaknya terlihat sangat mengagungkan bangsa Perancis. Terlihat dari bagaimana Ajeng merasa malu dan menolak membicarakan negaranya, tapi ketika Alain menanyakan kesan tentang Perancis, Ajeng langsung menjawabnya dengan bersemangat. Seandainya saja novel ini lebih berimbang dengan menampilkan usaha Ajeng memperkenalkan Indonesia, sehingga Indonesia bukan hanya selalu dikenal karena tsunami dan Bali-nya.

Well, bukannya saya menyalahkan Ajeng, memangnya apa yang bisa dibanggakan dari Indonesia jika menilik Ajeng sebagai perwakilannya. Ajeng sembrono, nggak teratur, serampangan, nggak bisa masak, dan menganggap kuno budayanya sendiri.
Di halaman 89, Ajeng mengungkapkan:

Aku langsung cemberut. Zaman begini, masih dikasih wejangan cerita pewayangan. Aku pribadi merasa cerita itu sudah kuno. Gila saja, masa satu istri–Drupadi–bisa dinikahi kelima Pandawa. Capek deh! (hlm. 89)

Setahu saya, Drupadi yang menikah dengan kelima Pandawa adalah Drupadi dalam epos Mahabharata, sedangkan dalam pewayangan Drupadi hanya menikah dengan Prabu Yudhistira. Wayang merupakan sarana penyampaian ajaran Islam di masa lalu, maka poliandri yang dilakukan Drupadi nggak diadaptasi mentah-mentah dalam wayang. Jika Ajeng merujuk pada pewayangan yang sangat disukai bapaknya maka ia salah besar, yang menikah dengan kelima Pandawa adalah Drupadi dalam cerita India. Cmiiw.
Saya merasa menyesal pada Ajeng yang menganggap sinis budaya Jawa. Oh, semoga saja saya nggak salah langkah dalam memperkenalkan budaya Jawa pada anak-anak saya seperti bapak Ajeng yang malah membuat Ajeng menganggap budaya Jawa sebagai budaya yang kuno dan ribet. :'(
Ajeng juga cukup kontradiktif menurut saya, dia tahu tentang swinger club tapi merasa heran terhadap orang yang berpasangan tanpa menikah dengan gaya hidup bebas, haduuh yang begituan banyak, Jeng. Kepolosannya jadi terasa dibuat-buat karena Ajeng toh menyukai pengalaman ekstrim berbau seksualitas. Bahkan ia mempelajarinya di masa kuliah.
Yang lucu adalah ketika ia menasehati Fina agar nggak berkaca pada apa yang terjadi pada orangtua Fina. Bahwa orangtua dan anak bisa menjalani hidup dengan cara berbeda. Lah? Bukannya dia sendiri ketakutan bakal kayak mamanya? Duh!
Soal kesembronoannya, entahlah. Saya sendiri juga pelupa. Kunci motor terutama. Tapi saya cuma lupa naruhnya di rumah. Kalau pergi, kunci rumah ya pasti ada di dalam tas dong. Udah, itu tempat teraman, kecuali saya menumpahkan isi tas saya di tempat-tempat saya bepergian. Ini Ajeng malah menggantungkan kuncinya di handphone, itu kan malah riskan? Mudah jatuh kalau dia ngeluarin handphone untuk nulis pesan atau menerima telepon. Sungguh, saya merasa Ajeng ini benar-benar nggak logis.

Yves cukup berkesan dan menarik. Hmmm~ pria yang teratur memang berasa mengancam, tapi salut deh. Saya mau anak-anak saya bisa teratur dan mandiri seperti dia.

Dialog antar karakter cukup menarik, interaksinya juga natural. Chemistry yang terbangun cukup asyik diikuti.

Secara keseluruhan, novel ini cukup menarik diikuti, terutama liku hati Ajeng yang sempat bercabang dan membuat saya menebak cabang mana yang akhirnya ia tuju. Menyenangkan karena informasinya tentang Perancis dan budayanya. Cukup tahu dan akhirnya membuat saya geleng-geleng kepala.

Minggu, 20 Desember 2015

[Resensi: In Between - Angelique Puspadewi] Di Antara Membohongi Diri dan Bertepuk Sebelah Tangan


Judul buku: In Between
Penulis: Angelique Puspadewi
Desain cover: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 978-602-03-1354-2
Available at: bukupedia.com



BLURB

Bagi Adelita, hanya Alvaro yang bisa membuat dunianya berwarna. Membuatnya jatuh cinta hingga tergila-gila. Tetapi karena pria itu atasannya di kantor, Adelita merasa minder. Mana mungkin Alvaro membalas perasaannya? Akhirnya Adelita malah menjodohkan Alvaro dengan sahabat baiknya, Keyla.

Tetapi ketika Alvaro jadian dengan Keyla, Adelita malah terjebak dilema. Antara bahagia menyaksikan kemesraan dua orang yang dia sayangi dan benci karena tak berdaya menanggung derita patah hati.

Namun, bagaimana jika ternyata Alvaro juga memendam perasaan yang sama terhadap Adelita?

REVIEW

Sejak Alvaro Curchez menggantikan posisi Pak Ardhan yang telah meninggal sebagai direktur operasional, hidup Adelita Suryadipraja mulai berubah. Adelita yang menjadi sekretaris Alvaro merasa stres dan gila. Bukan karena pekerjaan. Tapi karena tergila-gila pada Alvaro!
Adelita sibuk menahan perasaannya dan memilih menyukai Alvaro dalam diam. Hingga tiba-tiba Keyla, sahabatnya yang lama bermukim di Australia kembali dan melamar pekerjaan di kantor Adelita. Keyla diterima sebagai manajer umum proyek dan langsung menjadi primadona. Salah satu pria yang gencar mengejar Keyla adalah Edward, seorang duda yang terkenal sebagai don juan.
Ketika Alvaro curhat tentang masalah cintanya, muncul gagasan dalam benak Adelita untuk menyatukan Alvaro dan Keyla. Adelita yang minder dan merasa tak mungkin mendapatkan Alvaro, mulai menjadi mak comblang.
Usaha apa saja yang dilakukan Adelita untuk menjodohkan Alvaro dan Keyla? Dan ketika misinya berhasil mengapa ia semakin terluka? Dan bagaimana jika Alvaro mengungkapkan cintanya pada Adelita justru ketika Alvaro telah menjadi milik Keyla?

---------------

In Between menjadi karya pertama Angelique Puspadewi yang saya baca. Tertarik baca buku ini apalagi kalau bukan karena tagline-nya:

Membohongi diri sendiri lebih sakit dari cinta tak berbalas.

Duh, cinta tak berbalas aja sakitnya udah minta ampun, gimana membohongi diri sendiri?
Ide ceritanya menarik menurut saya, meski saya nggak setuju juga sama perbuatan si tokoh utama. Haha~

Diceritakan dengan POV orang pertama, yaitu sudut pandang Adelita, novel ini lebih berasa seperti curahan hati seorang teman. Angelique menuliskan konflik batin Adelita dengan gaya seolah Adelita ini seorang sahabat yang sedang bercerita pada saya.
Pilihan diksinya ringan dan renyah. Deskripsi juga ditulis rapi, meskipun saya nggak suka Keanu Reeves tapi ya okelah saya bisa bayangkan Alvaro sekeren itu.

Karakter Adelita entah saya pengin getok kepalanya atau pengin peluk dia erat-erat. Sebel tapi prihatin ketika dia setengah mati mengingkari perasaannya. Memang yang seperti itu bisa digolongkan sebagai penyakit psikis, ya. Saya pun kalau kepikiran tentang suatu masalah, asma langsung kambuh dan tulang punggung rasanya nyeri.
Pengkarakteran tokohnya bagus, konsisten dan kuat. Ada perbedaan antara tokoh yang satu dengan yang lain.

Cukup kaget dengan twistnya. Nggak nyangka bakal "berbelok" seperti itu, saya pikir bakal ada adegan cakar-cakaran antar sahabat. Hehe~
Tapi maniiiiis banget. Di bagian pergi ke Korea itu yang nggak nahan. Meski terkesan tiba-tiba, ada bagian di mana Keyla mengambil peran sebagai "aku" dan menjelaskan segalanya. Keresahannya, kemarahannya dan konflik batinnya.
Tapi sebenarnya saya lebih suka jika POV  tetap konsisten dan nggak pernah berubah, mestinya akan menjadi tantangan bagi penulis untuk menggambarkan konflik batin Keyla namun tetap dalam POV Adelita. Kecuali memang sedari awal POV bergiliran antara Adelita dan Keyla.

Beberapa typo dan kekurangan tanda baca dalam novel ini:

- Ahaaa... lihatlah matanya yang berbinar --> Ahaaa... lihatlah matanya yang berbinar. (hlm. 36)
- jangtungku --> jantungku (hlm. 39)
- thanks giving --> thanksgiving (hlm. 47)
- ...cerocos Keyla geregetan --> ...cerocos Keyla geregetan. (hlm. 59)
- daeran --> daerah (hlm. 87)
- Jadi biar kami ikut Pak Alvaro" --> Jadi biar kami ikit Pak Alvaro." (hlm. 99)
- di mulai --> dimulai (hlm. 140)
- persaanku --> perasaanku (hlm. 143)

Saya rekomendasikan novel Amore ini untuk teman-teman yang suka romance ala K-drama. Karena kalian akan dimanjakan dengan nama-nama aktor dan aktris Korea dan tak lupa keindahan Pulau Nami dalam novel ini.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Semua wanita bahagia bila pria mengistimewakannya. Bahagia diperlakukan sebagai si nomor satu. Tetapi pria belajar menyayangi perempuan melalui ibunya. Wanita pertama yang dilihatnya ketika membuka mata. Jadi, wajar seandainya dia mementingkan kepentingan ibunya. Berharap dia melakukan hal sama pada istrinya kelak." (hlm. 56)

"Key, tidak usah dipikir pakai logika. Cepat atau lambat, cinta itu datang tak terduga." (hlm. 105-106)

"Terima perasaan itu sebagai anugerah. Jangan merasa berbeda. Melepaskan adalah bersabar sementara terhadap ketentuan Tuhan. Jika dia jodohmu, pasti akan bertemu di kemudian hari. Kamu juga tidak boleh takut kehilangan dia. Tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali kematian. Setiap orang pasti akan berpisah dengan orang yang disayang. Sekarang, atau nanti. Cepat, atau lambat." (hlm. 138)

Jumat, 06 November 2015

[Resensi: Blue Vino - K. Fischer] Kisah Cinta di Antara Rimbun Pohon Anggur


Judul buku: Blue Vino
Penulis: K. Fischer
Editor: Dini Novita Sari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2013
Tebal buku: 328 halaman
ISBN: 978-979-22-8019-7



BLURB

Mereka terdiam.
Tanpa kata, namun bukan tanpa makna.
Ketika cinta menebarkan mantranya,
sebuah senyum mampu membuka membuka seluruh bulir rasa.

Langenlois. Wilayah perkebunan anggur di selatan Austria itu menjadi tempat Roz menyembuhkan luka hati karena dikhianati rekan kerjanya.

Di tengah deretan pohon anggur serta penduduk pedesaan yang ramah dan menyenangkan, Roz berharap bisa menata lagi kehidupan pribadinya yang terlupakan demi ambisinya berkarier.

Bjorn Baum dan Dagny Kerulaner adalah dua pria yang membuat Roz menemukan sisi lain dirinya. Tapi tak disangka oleh Roz, satu dari dua pria tersebut melakukan hal keji yang nyaris membuat Roz melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

RESENSI

Semua berawal dari proyek Mesir. Roz si gila kerja yang merupakan perempuan tangguh di perusahaan baja, merasa ditikung oleh rekan kerjanya, Hubert. Proyek Mesir yang merupakan hasil pemikiran Roz diakui Hubert sebagai proyeknya dan membuat Hubert yang melenggang ke international meeting.
Merasa kesal dan ingin membuat Hubert kelimpungan, Roz mengunci file-file proyek di komputernya dan memutuskan untuk mengambil cuti. Cuti yang tak pernah diambilnya selama enam tahun masa kerjanya.
Roz pun mengambil liburan ke kampung halaman Lisa, sekretarisnya, ke kota wine terbesar di Austria.
Keluarga Lisa adalah pemilik Hennerhof sebuah guest house megah bergaya barok dan perkebunan anggur yang sering digunakan sebagai lokasi pernikahan, sehingga Lisa kadang harus pulang untuk membantu.
Di tempat itulah Roz bertemu dengan Dagny, pria brewok lusuh pemilik perkebunan anggur di sebelah Hennerhof, dan bertemu Bjorn, pria besar layaknya beruang yang memesona seperti Adonis.
Semakin lama di Hennerhof, semakin Roz jatuh pada pesona pria-pria itu. Sayangnya salah satu dari mereka punya rencana busuk ingin menjegal dan membeli Hennerhof. Di tengah kepanikan Lisa akan situasi keuangan Hennerhof dan kesehatan ibunya yang sama-sama memburuk, Roz harus menemukan cara untuk menyelamatkan harta leluhur sekretarisnya itu. Dan menemukan si penjahat tak punya hati yang sebenarnya.
Apakah Roz berhasil menyelamatkan Hennerhof? Siapa yang harus Roz percayai, Bjorn atau Dagny? Dan apakah international meeting dapat berjalan lancar tanpa kehadirannya?

------------

Blue Vino menjadi perkenalan pertama saya dengan karya K. Fischer. Menyenangkan rasanya membalik tiap lembar halaman novel ini karena suguhan settingnya yang menawan. Di perkebunan anggur! Di antara tegukan wine! Ini menjadi pengalaman membaca yang menarik.

Blue Vino diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga namun terfokus pada Roz. Saya lebih banyak diajak menyelami pemikiran dan perasaan Roz, dan hal ini sempat membuat saya geregetan. Yaitu saat Roz dengan mudah membuat asumsi-asumsi hanya berdasar fisik, dengan betapa mudah Roz menilai dan menyimpulkan pribadi seseorang. Sebagai Project Manager yang sukses menyelesaikan banyak proyek, ternyata Roz nggak bisa membuat penilaian yang bijak tentang pria. Yah, tentunya karena hasrat dan perasaan ikut bermain. :))

Untuk karakter pria... wowowow!! Tadinya saya dibuat sama limbungnya seperti Roz oleh salah satu tokoh pria, sampai saya merasa dia jadi terlalu pemaksa. Saya nggak sebutkan tokoh yang mana biar kalian makin penasaran dan saya nggak spoiler, ya ;)
Chemistry antar tokohnya bagus banget. Tapi saya sih tetap merasa chemistry paling kuat adalah chemistry antara Roz dan Bjorn.

Yang menarik adalah diksi yang digunakan K. Fischer di Blue Vino. Ada banyak majas perbandingan dalam novel ini, menjadikannya kalimat yang cantik dan mudah dibayangkan.

Mereka larut dalam percakapan mereka. Tentang pekerjaan, tentang hidup, tentang dunia, tentang apa saja. Seperti dua bawang yang saling menanggalkan setiap lapisan mereka. Sampai semua dapat melihat inti yang telanjang. (hlm. 179)

Karena beberapa kali menemukan bentuk kalimat perbandingan yang memikat seperti di atas, saya sempat membawa novel ini di sesi pelajaran Bahasa Indonesia untuk dibahas bersama.
Namun saya merasakan kegamangan dalam dialog novel ini. Ada kalanya dialog ingin dibawa lebih santai dan informal, tapi ada kalanya baku dan formal. Berikut dua contoh kalimat dialog yang sama-sama diucapkan Roz pada Dagny yang menggunakan kata menyangatkan.

"Suka? Banget! Terima kasih banyak sudah membawaku ke sini." (hlm. 206)

"Begitu lama! Pantas nama kalian tidak seperti orang Austria kebanyakan." (hlm. 230)

Ada juga kata yang jarang digunakan dalam dialog informal:

"Kalau sudah selesai harap ditaruh di sini semua bawangnya." (hlm. 172)

Kata harap biasanya digunakan untuk situasi formal atau di lingkungan pekerjaan dan jarang sekali digunakan dalam keseharian. Mungkin karena bahasa asing biasa menggunakan kata please sebagai penyerta kalimat perintah, maka penulis menggunakan kata harap sebagai padanannya.

Ada beberapa kesalah cetak meski nggak mengganggu kenikmatan membaca:

* "Ah ya! Beruang!" Seru Roz menepuk jidat. Maaf... maaf... aku baru sadar arti namamu. Maaf." --> ... "Maaf... maaf... aku baru sadar.... (hlm. 40)
* ...itu tidak butuh jawaban --> ...itu tidak butuh jawaban. (hlm. 40)
* brengsek --> berengsek (hlm. 192)
* nomer --> nomor (hlm. 252)
* tertap --> tetap (hlm. 281)
* ...tidak akan aku ambil" --> ...tidak akan aku ambil." (hlm. 295)

Tentang judul Blue Vino sendiri saya masih meraba-raba maknanya hingga ke tengah cerita. Setelah tahu saya merasakan konsep yang romantis.
Kovernya keren dengan anggur yang bergelayutan di antara rimbunnya daun anggur. Berasa adem saat melihat dominasi warna hijau daun di latarnya.

Blue Vino memberi saya petualangan luar biasa di antara pepohonan anggur dan gelas wine. Ada pengetahuan baru yang saya dapat tentang wine dan pengolahannya. Juga ada makna yang menyengat dalam novel ini. Tentang kepercayaan dan nurani dalam berbisnis.
Bagi kalian yang ingin menikmati ciuman-ciuman panas dan berbahaya di perkebunan anggur, kalian harus baca novel ini. ;)

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Jika saja kakakku masih hidup..."
"Jika tidak menjawab masalah." (hlm. 88)

"Mungkin aku takut menjadi tua seperti orangtuaku. Jika tidak melarikan diri dari masalah, atau membesar-besarkan masalah. Dua-duanya tidak menjawab apa-apa. Yang ada malah masalah makin menggunung dan meledak sekalian." (hlm. 177)

"Sayangnya tidak semua yang tampak seperti teman adalah benar teman." (hlm. 223)



Minggu, 11 Oktober 2015

[Resensi: Cincin Separuh Hati - Netty Virgiantini] Cincin Pertunangan Pembawa Takdir


Judul buku: Cincin Separuh Hati
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Husfani Putri & Astheria Melliza
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 21 September 2015
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 978-602-03-1932-2


BLURB

Nilam benar-benar nekat!

Demi menghindari pertanyaan "kapan kawin" di acara reuni SMA, Nilam memakai cincin bekas pertunangan sepupunya. Dia bahkan mengganti profile picture dan status jejaring sosialnya; "Bertunangan dengan Aryobimo".

Nilam lupa bahwa satu kebohongan akan membawanya pada kebohongan-kebohongan berikutnya.

Hingga suatu hari, seorang lelaki bernama Aryobimo datang menemui Nilam, menuntutnya bertanggungjawab atas retaknya pernikahan lelaki itu karena dituduh telah berselingkuh dengan Nilam. Satu hal yang tidak Nilam duga, cincin separuh hati memaksanya menghadapi hantu-hantu masa lalu....

RESENSI

Sejak bergabung dengan grup WhatsApp teman SMA, Nilam jadi sering chatting sampai lupa waktu, akibatnya ia selalu terlambat datang ke kantor.
Namun itu bukan masalah besar jika dibandingkan dengan ajakan reuni teman-teman segrupnya. Bagi Nilam, reuni adalah hal yang paling ia hindari. Bagaimana tidak, usianya telah mencapai 35 tahun tapi ia masih melajang. Meskipun itu adalah pilihan hidupnya tetap saja teman-temannya akan mengerenyit heran dan mencecarnya dengan beragam pertanyaan.
Maka ketika istri sepupunya menawari Nilam untuk memakai cincin pertunangannya, Nilam setuju. Nilam pun berpura-pura telah bertunangan dengan mengunggah foto cincinnya dan memasang status "bertunangan dengan Aryobimo". Nilam bahkan memamerkan cincin itu di depan teman-temannya saat reuni, dan membual tentang calon tunangannya.
Tak disangka, itulah awal prahara. Seorang pria bernama Aryobimo mendatangi kantornya dan menuntut pertanggungjawaban Nilam. Pria yang memiliki pasangan cincin separuh hati itu marah karena istrinya menuntut cerai gara-gara status Nilam. Ternyata, pria mantan tunangan sepupunya, yang Nilam jadikan calon tunangan fiktif, adalah suami salah satu teman SMA Nilam.
Seolah keruwetan belumlah cukup, datang seorang pemuda yang mengaku sebagai adik Nilam. Nando mengungkapkan bahwa ia adalah adik Nilam satu bapak lain ibu.
Kedua lelaki yang tiba-tiba saja muncul dalam hidup Nilam itu membuat Nilam terpaksa harus menghadapi kemarahan dan dendam masa lalunya.
Bagaimana Nilam menyelesaikan masalah yang telah dibuatnya? Mampukah ia menepati janjinya untuk tidak pernah menikah dan tetap menyimpan kebencian terhadap bapaknya?

------------

Hal pertama yang melintas dalam pikiran saya saat membaca novel ini adalah, model cincinnya romantiiiss. ^^
Saya kira pria yang memilih cincin seperti ini sebagai cincin pertunangan pastilah pria romantis, ternyata malah pria lempeng. Hehe....
Tokoh pria dalam novel ini khas tokoh dalam novel-novel karya Netty Virgiantini, pria santun dan baik budi bak gentleman. Sabaaaaar banget menghadapi kejutekan Nilam. Tokoh Aryo (namanya sama seperti nama anak saya ^^) ini berasa istimewa karena selain dewasa juga bikin gemas karena kelempengan dan sejarah masa lalunya yang menyedihkan.

Diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, dan lebih terfokus pada Nilam. Kesedihan dan kepahitan hidupnya mengikat saya dalam rasa simpati. Meski saya nggak setuju juga dengan janji yang dibuatnya.
Plotnya rapi dan runut. Temanya menarik dan kekinian. Ada sindroma khas wanita usia pertengahan tiga puluhan yang berpotensi menjadi konflik, dan penulis dengan jeli mengolahnya menjadi cerita yang apik.

Saya selalu suka dengan gaya bertutur Netty Virgiantini. Diksi yang dipilihnya menarik dan selalu bisa menyelipkan nilai kesantunan dalam ceritanya. Ada kesan sederhana tapi kaya makna dalam gaya kepenulisannya. Pun dengan Cincin Separuh Hati, Netty Virgiantini memberikan kesan kearifan dan nrimo menjalani hidup tokoh-tokohnya.
Penulis juga sering menghadirkan kebudayaan jawa sebagai penghias kisahnya. Rumah berbentuk joglo, nama-nama yang njawani—Saya tahu lho, Surtikanti itu dalam pewayangan adalah nama istrinya Basukarna ^^, kuliner untuk kletikan, pakaian dan tas batik yang dikenakan, juga Mbah Uti yang sering nembang jawa. Ini membuat setting terasa kuat. Bahkan ketika Aryo dan Nilam datang ke Taman Balekambang, ada penjelasan singkat tentang sejarah tempat itu.

Konflik dalam Cincin Separuh Hati ini lumayan ruwet, meskipun keruwetannya dibikin sendiri oleh si tokoh utama. Lumayan sebal juga karena kekeraskepalaan Nilam. Namun penyelesaiannya malah berasa mudah dan twistnya masih bisa saya tebak. :))

Beberapa typo dalam novel ini:

* kenanganan --> kenangan (hlm. 109)
* ragu untuk langkah --> ragu untuk melangkah (hlm. 112)
* di ceritakan --> diceritakan (hlm. 129)
* dari keluar dari ponsel --> keluar dari ponsel (hlm. 146)
* …sambil tertawa --> …sambil tertawa. (hlm. 200)
* padanya --> padanya. (hlm. 237)
* rumah --> rumah. (244)
* tak beda jauh beda. --> tak jauh beda. (hlm. 253)
* ia dipadamkan --> ia padamkan (hlm. 273)

Overall, Cincin Separuh Hati membuat saya memaknai kejujuran dan nggak membenci seseorang mentah-mentah. Pasti ada alasan dibalik perbuatan seseorang, dan pasti ada penyesalan yang meski terlambat layak untuk kita beri maaf.
Saya rekomendasikan novel Amore ini bagi kalian yang ingin menikmati bukan hanya kisah cinta yang dipertemukan takdir tapi juga kisah tentang kasih sayang anak terhadap orang tuanya.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Nggak ada dua orang yang akan mengalami nasib sama persis di dunia ini." (hlm. 28)

"Pernahkah kamu mendengar bahwa harapan itu berteman dengan kekecewaan? Kalau nggak ingin kecewa, jangan pernah berharap apa-apa. Jalani saja hidup ini apa adanya. Seperti air mengalir, ikutlah ke mana arus akan membawamu. Walaupun mungkin alirannya akan menenggelamkanmu. Rasa sakit dan kecewanya nggak akan seberat orang yang selalu berharap."
"Kalau hidup tanpa berani berharap, itu sama saja putus asa!" (hlm. 28)

"Janji yang nggak membawa kebaikan, nggak perlu ditepati." (hlm. 226)


Ini dik Aryo yang lagi 'baca' blurb, semoga nanti bisa sesabar dan sesantun Mas Aryo ^^
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon