Minggu, 10 April 2016

[Review + Giveaway] Honeymoon for Sophie - Retha


Judul buku: Honeymoon for Sophie
Penulis: Retha
Penyunting: Maharani Auditya
Redesain: Yanyan Wijaya
Ilustrasi: Amalia Pratifasari
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit: Maret 2016
Tebal buku: 260 halaman
ISBN: 978;602-394-116-2



BLURB

Sophie

Sebentar lagi aku akan menikah dengan Maxi, pria paling tampan dan romantis yang pernah hadir dalam hidupku. Hidupku akan sempurna bersamanya. Aku akan menjadi Nyonya Maxi. Impian indah yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan...

Mona

Aku nggak punya keinginan yang muluk-muluk, kok! Aku cuma mau ada seorang pria yang datang melamarku dan membuat semua orang berhenti bertanya kepadaku, "Kapan Nikah?"
Oke, sebenarnya masih ada satu lagi keinginanku, yaitu mendapatkan bos yang bukan titisan Godzilla. Simpel, kan?!


RESENSI

Tiba-tiba saja Sofia minta ijin untuk menikah dengan Maxi, pria yang baru dipacarinya selama 6 bulan. Jelas ini membuat ayah, ibu dan kakaknya, Mona, kelimpungan. Namun akhirnya orangtua Sofia pun menyetujui. Sofia memang tergila-gila pada Maxi. Ia bahkan menutup telinga dari pendapat orang-orang di sekitarnya tentang Maxi. Ia bahkan meminta semua orang memanggilnya Sophie, seperti nama panggilan spesial yang diberikan Maxi. Sophie berdiet keras demi Maxi, melakukan ritual-ritual kecantikan demi selalu mendapat pujian dari Maxi. Hingga mendekati hari pernikahan Sophie masih melambung dalam angan-angan hingga tak menyadari reaksi Maxi mulai mencurigakan. Dan ketika tiba hari yang dinanti semua berantakan, Maxi meninggalkan Sophie.
Dengan hati hancur, Sophie pun pergi ke Bali dengan alasan berlibur, meski tujuan utamanya adalah untuk melacak jejak Maxi. Di Bali, Sophie tinggal di rumah teman Mona, Bara, yang dingin dan irit kata.
Mona sang kakak, rela-rela saja dilangkahi lebih dulu oleh Sophie, ia tak terlalu peduli. Yang jadi permasalahan dan keresahannya adalah reaksi orang-orang yang kemudian menghujaninya dengan pertanyaan 'kapan nikah' yang mengganggu. Seolah pernikahan Sophie tiba-tiba dapat mendatangkan seorang pangeran untuk Mona. Bukan hanya itu saja, Mona juga mendapati perubahan drastis sikap atasannya. Adrian yang tadinya galak dan tak kenal ampun itu mulai mendekatinya. Sayang status duda Adrian dan tingkah Mesty, mantan istri Adrian yang cantik dan sempurna, membuat Mona gamang. Mona tahu dirinya gemuk dan tak akan bisa menyaingi Mesty. Hanya pada sahabatnya, Kethrine lah Mona berkeluh kesah.
Akankah Sophie berhasil menemukan Maxi dan membereskan semua masalah yang menyertainya? Bisakah Mona menerima fisik dirinya apa adanya dan membuka hati pada Adrian?

---------

Honeymoon for Sophie menceritakan kisah perjalanan cinta dua kakak beradik, Mona dan Sophie. Cerita dituturkan melalui POV orang pertama secara bergantian dari sudut pandang Mona dan Sophie. Gaya bertutur Retha amat ringan, hampir-hampir mirip dengan tulisan di buku diary, seolah-olah saya memang sedang membaca buku harian Mona dan Sophie.
Dengan gaya yang lugas dan konyol, saya mendapati novel ini begitu menghibur dan lucu.

Saya cukup dibuat jengkel setengah mati dengan karakter Sophie. Sebagai gadis berusia 23 tahun, Sophie nggak ada matang-matangnya, dia kekanakan dan bodoh, mirip gadis 16 tahun yang lagi jatuh cinta pertama kalinya. Padahal diceritakan dia sudah pernah pacaran 3 kali dan semuanya brengsek, yaa... masak dia nggak bisa mengenali tanda-tanda cowok brengsek lainnya. Kalau ada peribahasa Bagai Kerbau Dicocok Hidungnya, ya Sophie inilah contohnya. Mau aja dibodohin dan langsung bungkam hanya dengan digombalin. Pemikirannya benar-benar nggak logis dan drama banget kayak anak umur belasan.
Sementara Mona bagi saya terlihat lebih santai dan dewasa. Meski dibilang kejam dan cerewet oleh Sophie, tapi saya nggak merasakannya. Malah Kethrine lah yang bagi saya cerewet dan suka heboh sendiri. Mona justru nggak pede-an dan gampang minder. Lebih logis meski toh akhirnya ia menjalani masa singkat pacaran juga.
Hanya saja ada bagian-bagian yang berasa nggak tuntas bagi saya. Mengapa Adrian sebelumnya kejam dan nggak kenal kompromi? Sejak kapan Adrian berubah dan karena peristiwa apa? Sama halnya dengan sikap Bara yang ketus pada Sophie, mengapa Bara sebegitu dingin dan ketusnya pada Sophie?
Dan saya menganggap penyelesaian konfliknya masih seperti tongkat sihir ibu peri... masih terlihat begitu mudah. Seperti penyelesaian utang Sophie, konflik dengan Mesty, restu orangtua—padahal semula ibu tampak nggak suka dengan status duda Adrian.

Honeymoon for Sophie menjadi bacaan ringan yang asyik diikuti, seakan sedang membaca curahan hati seorang teman. Bagi kalian yang ingin tahu ciri-ciri pria brengsek, boleh banget baca novel ini, karena selain dari kisahnya, kita juga akan disuguhi berbagai kuis yang seru yang bisa mengungkapkan kisah cinta seperti apa yang menuju happily ever after.


++++++++GIVEAWAY TIME+++++++++

Bagaimana? Sudah merasa penasaran dengan Sophie dan Mona? Atau penasaran dengan Maxi dan Adrian?
Naah... saya punya satu novel Honeymoon For Sophie buat satu orang yang beruntung lhoo.. caranya gampang saja.

1. Peserta adalah warga negara Indonesia dan memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow twitter @Retha_widya dan @KendengPanali dan bagikan giveaway ini dengan hashtag #HoneymoonForSophie dan jangan lupa mention kami berdua.
3. Boleh banget kalau mau follow blog ini via email atau GFC (optional saja jika kalian merasa blog ini bermanfaat).
4. Jawab pertanyaan di bawah ini:

Tempat mana sih yang menurut kalian cocok untuk honeymoon? Dan mengapa kalian memilih tempat itu?

Jawaban berupa foto/picture melalui twit bersambung dengan mention akun twitter kami berdua dan hashtag #HoneymoonForSophie

5. Tulis di kolom komentar Nama, alamat email dan link jawaban twitter kalian
6. Giveaway akan berlangsung selama sepekan, dimulai hari ini dan ditutup hari Sabtu tanggal 16 April 2016 pukul 23.59 WIB. Bila masih ada pertanyaan jangan ragu untuk tanya via akun twitter saya ;)
7. Yang terakhir... good luck!

Sabtu, 02 April 2016

[Posbar] Stolen Songbird - Danielle L Jensen

Judul buku: Stolen Songbird
Sub judul: Negeri Troll yang Hilang
Penulis: Danielle L Jensen
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Mery Riansyah
Proofreader: Lucy Riu
Pewajah sampul: Defi Lesmawan
Pewajah isi: Yhogi Yordhan
Penerbit: Fantasious
Tahun terbit: Oktober 2014
Tebal buku: 496 halaman



BLURB

Apa troll merasakan hal yang sama dengan manusia? Apa troll mengenal kesedihan, kemarahan, atau kebahagiaan? Bisakah troll mencintai troll lain? Atau apakah batin mereka sedingin batu yang mengubur mereka di bawahnya?

Cécile de Troyes mengira masa depannya ada di panggung-panggung megah di Trianon. Dia yakin kariernya sebagai penyanyi bersuara merdu akan cemerlang begitu dia meninggalkan Goshawk's Hollow. Namun, hal tak terduga menyergapnya, menyeretnya ke sebuah negeri yang selama ini hanya pernah didengarnya dari dongeng lama. Tak ada mimpi seburuk membuka mata dan menyadari bahwa ia diculik ke sebuah kota yang terkubur di bawah reruntuhan gunung. Kota yang dipenuhi oleh makhluk... troll.

Kaum troll mengira Cécile bisa menjadi salah satu kunci melenyapkan kutukan penyihir yang melingkupi Kota Trollus selama lima abad. Kutukan yang membuat mereka tak mampu keluar dari kungkungan Gunung Terlupakan. Kutukan yang membuatnya terikat dengan pangeran troll angkuh bernama Tristan. Dia pikir hidupnya lebih baik berakhir, sampai ketika dia mulai menyadari rahasia-rahasia terselubung yang ada di kota itu. Cécile sadar, jika dia melibatkan diri lebih jauh dengan segala intrik kaum troll, semua tak akan pernah sama lagi. Namun, terkadang, harus ada yang melakukan hal yang tak terbayangkan.

Mampukah Cécile bertahan dan menguak rahasia negeri troll? Kau pikir kau sudah tahu tentang kau troll? Tunggu sampai kau menyelesaikan petualangan ini.


RESENSI

Cécile de Troyes sedang dalam perjalanan pulang seusai menyelesaikan latihan menyanyinya, ketika di tengah jalan ia dihadang Luc. Rupanya Luc berniat menculiknya dan menyerahkannya kepada seseorang... atau sesuatu. Firasat Cécile semakin buruk saat ia harus merangkak menyusuri labirin Gunung Terlupakan, dikejar sluag hingga perjalanan mereka berakhir di Trollus, kota yang hilang yang penuh dengan troll.
Ternyata ia diculik dan dibawa ke Trollus untuk dipertalikan dengan sang pangeran kerajaan troll bernama Tristan. Kaum troll menganggap pertaliannya dengan Tristan akan dapat menghapuskan kutukan yang dialami bangsa troll selama berabad-abad.
Cécile berusaha melawan, berusaha kabur tapi ternyata tak ada jalan keluar. Akhirnya mau tak mau ia harus mendekam di Trollus dan menemukan intrik-intrik politik bangsa troll. Bukan hanya itu saja, semakin lama ia merasa semakin dekat dengan Tristan dan jatuh cinta.

-----------------

Stolen Songbird saya pilih sebagai buku yang saya baca untuk event posbar BBI bulan Maret 2016, walau pada kenyataannya setelah selesai membaca saya buntu juga menuliskan reviewnya. Bahkan ini sudah terlewat beberapa hari dari waktu yang ditentukan untuk mereview. *pundung*
Buku ini saya dapat dari sesama member BBI, dedek Raafian hasil menang kuis di twitternya. Meski mengidam-idamkan buku ini, ternyata cukup susah bagi saya menyelesaikan Stolen Songbird. Sigh.




Sebenarnya saya suka dengan premisnya, saya nggak pernah bosan dengan kisah perjodohan terpaksa semacam ini, hanya saja bagi saya lama-lama novel ini nggak terasa menarik lagi.
Pertama karena Cécile mudah diprovokasi, nggak bisa berpikir logis dan drama banget. Saya jadi... sebel. Hahaha... apalagi saat dia memutuskan masuk ke labirin dan akhirnya membahayakan nyawa Tristan. Hmm~ meski pada akhirnya ia berhasil menemukan kekuatan sihir yang dimilikinya, tetap saja saya merasa drama banget.
Yang kedua, Tristan ini punya keanehan sedikit saja nggak sih? Sebagai bangsa troll, paling enggak ada dong keanehan kecil... atau saya melewatkannya? Yaah seganteng-gantengnya pangeran troll dia kan troll murni, saya pikir harusnya ada keunikannya. Kenapa Tristan harus dibuat sempurna? Kenapaaa? *ikutan deramak*
Sedangkan untuk tokoh favorit, saya malah suka Marc, meski buruk rupa tapi saya suka ketenangan dan kelembutannya.

Novel ini cukup detail dalam membangun kontruksi negeri troll dan kekuatan bangsa troll. Saya suka dengan imajinasi yang diperkenalkan Danielle L Jensen, seru rasanya menyusuri kota Trollus dan menemukan makhluk-makhluk luar biasa. Dari segi ini saya merasa tertarik dan terpesona.

Novel ini menggunakan POV orang pertama dari sisi Cécile dan Tristan. Hanya saja lebih banyak dalam porsi Cécile, sementara porsi Tristan hanya sedikit. Alurnya mengalir maju dan lumayan lambat. Terlalu banyak intrik yang membuat saya bingung... dan bosan. Tapi mungkin ini juga karena saya memang nggak menyukai intrik politik. :p

Saat ini saya sedang menimbang-nimbang haruskah saya melanjutkan membaca lanjutan novel ini, The Hidden Huntress. Meski penasaran, tapi saya masih merasa lelah seusai membaca Stolen Songbird.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Tak ada yang tak bisa dicapai oleh sedikit kekuatan kehendak." (hlm. 6)

"Aku hanya berpikir bagaimana terkadang keberuntungan menemukan kita di saat kita tidak begitu mengharapkannya." (hlm. 9-10)

Tindakan bekerja lebih keras dari kata-kata. (hlm. 124)

Beberapa makhluk sebaiknya tetap berada di kurungan mereka. (hlm. 146)

"Aku belajar bahwa keberanian dan pertimbangan yang bijaksana jarang bisa berdampingan." (hlm. 227)

"Seorang bijak pernah menulis bahwa kebenaran yang diucapkan mungkin bukan kebenaran yang kaupikir kau dengar." (hlm. 356)


Jumat, 01 April 2016

[Blogtour: Review + Giveaway] The Stardust Catcher - Suarcani


Judul buku: The Stardust Catcher
Penulis: Suarcani
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-602-03-2644-3
Book available at: bukupedia.com




BLURB

"Apa harapanmu tahun ini?"

Joe: Punya alternatif lain untuk berbahagia selain dengan mencari pasangan.

Mela: Mendapat tambahan umut setidaknya empat tahun lagi, yah... biar bisa main remi lebih lama lagi sih.

Bermula dari secarik kertas dalam jaket di commuter line, Joe dan Mela bercengkerama lewat ask.fm. Selama setahun, hanya lewat media sosial itulah mereka berhubungan. Hingga Joe tertinggal rombongan saat liburan bersama teman-teman kuliahnya. Ia tersesat di Bali. Sendirian.
Saat itulah Sally Cinnamon muncul dan mengaku sebagai peri yang akan mempertemukan Joe dengan jodohnya. Wait, peri jodoh? Yang benar saja?
Ditemani Sally, Joe berusaha mencari rombongannya. Petualangan yang mempertemukannya dengan Mela, si spa therapist yang sekarat.
Apakah Mela jodoh yang dimaksud Sally? Apakah Joe benar-benar tersesat dan bukannya sengaja menghilang karena protes akan perceraian orangtuanya?


RESENSI

Di commuter line, Joe menemukan sebuah jaket di bangku yang hendak didudukinya. Saat memeriksa jaket itu, Joe menemukan kertas terlipat yang merupakan daftar tanya jawab akun ask.fm seseorang bernama Mela. Sejak itu Joe berkenalan dengan Mela melalui ask.fm dan saling melempar pertanyaan.
Meski tak banyak yg Joe tahu selain bahwa Mela sangat humoris dan merupakan seorang spa therapist.
Ketika kampusnya mengadakan karyawisata ke Bali, Joe mengikutinya dengan hati resah. Ini karena perceraian orangtuanya tinggal menghitung hari untuk disahkan oleh peradilan.
Selama perjalanan, Joe beberapa kali bertemu seorang gadis remaja dengan gaun putih berambut pirang panjang. Gadis yang tak dilihat oleh siapa pun!
Hingga tanpa terduga, Joe tertinggal oleh rombongan dan terpaksa berjalan kaki di tengah gelap malam mencari kantor polisi ditemani... si gadis yang hanya bisa dilihatnya. Gadis itu, Sally Cinnamon, mengaku sebagai peri jodoh Joe yang bertugas mempertemukan Joe dengan Mela. Sayangnya kesialan demi kesialan bertubi-tubi menimpa Joe. Membuat pemuda itu semakin kesal.
Sementara di sisi lain, Mela sang spa therapist, mati-matian berusaha menolak pendekatan yang dilakukan Oscar, salah satu kolega bosnya. Namun karena situasi mendesak, Mela yang yatim piatu dan membiayai kuliah adiknya, terpaksa meminta bantuan Oscar. Tak dinyana pelaku kriminal mengintai dirinya dan Oscar. Mela pun jadi korban penculikan.
Sang pemuda yang tersesat dan sang korban penculikan akankah mampu dipertemukan oleh peri jodoh nan centil? Ataukah takdir punya keajaibannya sendiri?

-----------

The Stardust Catcher menjadi novel Young Adult lokal pertama yang saya baca di tahun 2016 ini. Saya sangat bersemangat membaca novel ini karena novel ini lahir dari GWP (Gramedia Writing Project) dan ditemukan oleh editor favorit saya, Mbak Didiet. Jelas, saya nggak ragu lagi untuk menerima novel ini ke dalam pelukan.

Sejak awal membaca, saya terkesan dengan gaya menulis Suarcani, beberapa kali begitu romantis namun di kali lain begitu konyol. Hal ini membuat perjalanan saya mengikuti kisah Joe terasa menyenangkan.

Diceritakan dengan POV orang ketiga, secara bergantian saya diajak menyelami perasaan Joe, perasaan Mela, perasaan Oscar dan juga Sally. Meski tetap porsi terbesarnya adalah Joe dan kesialan yang menimpanya. Huhuhuuu...
Alurnya mengalir maju dan plotnya lumayan rapi. Runtutan kejadiannya silih berganti antara Joe dan Mela tapi mudah dipahami. Settingnya sangat detail terutama saat di Bali dan di Leeuwarden.

Saya cukup tertarik dengan karakter Joe, sebagai pemuda usia dua puluhan yang skeptis. Pemicunya mungkin karena proses perceraian orangtuanya dan ancaman kehadiran saudara tiri. Saya jadi penasaran, sudah seperti itukah Joe di masa kecilnya, atau sifat pemarah dan nyebelinnya ini baru ada setelah orangtuanya memutuskan berpisah? Tapi Joe lumayan menghibur karena... rada penakut. Hahaha... tapi sumpah kocak banget mengikuti kesialan demi kesialan Joe sampai saya merasa aduh, apa ini kesialannya nggak kebanyakan?
XD
Mela menurut saya menjadi gadis yang luar biasa kuat. Lucu, cerdas dan punya prinsip. Ini yang saya suka. Caranya berusaha menolak Oscar benar-benar keren, yaaah... walau akhirnya ia minta bantuan juga. Tapi ini membuat saya merasa Mela memang pemberani dan keren.
Si peri centil alias Sally tentunya bikin saya terharu. Banyak kalimat bijak yang dia katakan pada Joe. Sayang Joe-nya aja yang bebal, susah dikasih tahu. Tapi Sally benar-benar setia dan luar biasa sabar.
Hmm... tokoh dalam novel ini berbeda-beda tapi unyu semua :))
Yang paliiiiiing saya suka adalah interaksi Joe dan Mela di akhir cerita. Huiii... akrabnya bikin iri.

Secara keseluruhan saya suka novel ini. Romantisnya ada, konyolnya ada, bijaknya ada dan sedihnya ada. Berasa makan gado-gado komplet.

*************GIVEAWAY TIME***********



Naaah selamat datang di pembukaan Blogtour The Stardust Catcher.. saya punya satu eksemplar novel ini dan satu tas joger untuk satu orang yang beruntung.

Caranya gampang seperti biasa yaaa..

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau punya alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @alhzeta dan @KendengPanali lalu share giveaway ini dengan hashtag #TheStardustCatcher dan jangan lupa mention kami berdua.
3. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menyertakan Nama | akun twitter | alamat email

Jika kamu membayangkan seorang peri, seperti apa sosok peri dalam imajinasi kamu?

4. Giveaway berlangsung selama 6 hari dan ditutup tanggal 6 April 2016 pukul 23.59 WIB.
5. Yang terakhir... good luck ya ;)

Kamis, 31 Maret 2016

[Resensi: Perfect Purple - Indah Hanaco] Kisah Cinta di Tengah Penyelamatan Paus


Judul buku: Perfect Purple
Penulis: Indah Hanaco
Penyunting naskah: Moemoe Rizal dan Irawati Subrata
Desain sampul: Inekeu Rahayu
Desain isi: Kulniya Sally
Proofreader: Febti Sribagusdadi Rahayu
Penerbit: Pastel Book
Tahun terbit: Januari 2016
Tebal buku: 196 halaman
ISBN: 978-602-7870-64-2




BLURB

Gadis keras kepala ini bernama Milly. Dia menyukai ungu, dan tahu apa yang dia inginkan. Masuk jurusan pilihan ibunya bukanlah keinginannya. Sementara itu berkampanye menyelamatkan paus minke adalah keinginannya. Apa pun risikonya.

Milly lantas mengarungi kapal berwarna ungu, berlayar menuju kutub selatan yang tampak keunguan dari kejauhan. Dia akan berupaya menyelamatkan paus dari perburuan. Mengenal orang-orang yang mendedikasikan nyawanya demi lingkungan. Dan, membenci mereka yang mengeruk sumber daya alam demi uang.

Namun, meskipun keras kepala sebetulnya keinginan Milly terus berubah. Mungkin suatu hari dia akan berhenti, dan kembali menjadi gadis biasa dari Pematangsiantar. Namun Milly bertemu laki-laki yang mengubah hidupnya di atas kapal. Mengajarkannya deburan menyenangkan selain ombak dan keindahan warna ungu. Yaitu ...


RESENSI

Mendekati kelulusan, SMA Milly di Pematangsiantar kedatangan tamu istimewa. Seorang aktivis lingkungan dari Sea Not For Sale, sebuah organisasi konservasi lautan non-profit yang berusaha menyelamatkan hewan-hewan laut langka dan mecegah kerusakan di laut. Bukan hanya membagi kisah tentang petualangannya berkampanye melawan perburuan paus, Neal O'Mara ternyata juga membuka pendaftaran anggota baru yang akan direkrut untuk berkampanye bersamanya.
Mendengar kesempatan itu, Milly pun berusaha mati-matian agar diterima. Gadis itu melakukan segala usaha agar bisa ikut berkampanye. Meskipun rasa antusiasmenya bukan sepenuhnya karena ingin menyelamatkan paus.
Ketika berhasil mendapatkan tiket emas dan bergabung dengan aksi kampanye SNFS, Milly seketika menyesal. Berlayar di tengah lautan luas, dihantam badai dan mendapati beberapa insiden membuat Milly mual. Ia mulai menyadari caranya lari dari masalah bukanlah jalan yang tepat.
Hingga seekor paus terbunuh. Melihat kejadian itu membuat benak Milly terguncang. Seluruh kru kapal pun mati-matian berusaha mencegah pemindahan paus ke sebuah kapal pabrik. Di titik ini, Milly menyadari usaha Neal dan seluruh krunya adalah tindakan nyata yang luar biasa.
Ketika akhirnya ia berhasil dekat dengan Neal dan berbagi rahasia-rahasia kecil mereka, Milly merasa semakin terikat dengan SNFS. Sayang kedekatan mereka memancing kemarahan Deborah, gadis yang selalu menempel Neal ke manapun.
Berhasilkah kru SNFS mencegah kematian paus minke? Akankah Milly melanjutkan kampanye bersama SNFS? Lalu bagaimana kelanjutan hubungan Milly dan Neal?

----------------

Saya sudah membaca dua buku karya Indah Hanaco yang berhubungan tentang aktivis laut, yaitu Cinta Sehangat Pagi dan Tuhan untuk Jemima. Di kedua novel tersebut diceritakan bahwa tokoh utamanya adalah aktivis laut yang (pernah) berusaha menyelamatkan paus dari kebrutalan industri. Jadi saya sudah lumayan akrab dengan isu penyelamatan paus ini.

Namun yang membedakan Perfect Purple dari dua novel tersebut adalah porsi kampanye dan latarnya. Di Perfect Purple, peran Neal dan Milly dalam penyelamatan paus benar-benar menjadi porsi utama, dan latar yang digunakan adalah benar-benar aktifitas kampanye mereka di tengah lautan dan berhadapan dengan kapal-kapal penangkap paus.

Itu sebabnya saya mendapati bahwa novel ini begitu seru dan mendebarkan. Baru di buku inilah Indah Hanaco menceritakan dengan detail bagaimana cara aktivis bekerja. Suasananya dibangun dengan baik, bagaimana Milly berusaha menyesuaikan diri, bagaimana tanggapan dan keakraban kru kapal, dan bagaimana situasi tegang terbangun begitu seekor paus dibantai.
Tampaknya riset yang dilakukan Indah Hanaco benar-benar menyeluruh, saya malah sampai curiga jangan-jangan penulis ini bukan hanya sekedar menonton film dokumenter Whale Wars, tapi sudah mengintili Paul Watson dan Sea Sepherd Conservation Society-nya. :))
Yap.. yap.. novel ini memang lagi-lagi terinspirasi dari Sea Sepherd Conservation Society.

Pengkarakteran dalam novel Perfect Purple terasa pas. Beberapa novel Indah Hanaco menampilkan tokoh heroine yang sedikit terlalu bijak yang kadang nggak begitu sesuai dengan usianya, tapi di Perfect Purple, saya mendapati seorang heroine yang anak SMA banget. Keras kepala, merasa tindakan dan keputusannya benar, punya rasa gentar namun juga punya kekuatan untuk berjuang. Dan... sensitif. Ahahahaa... lucu juga mendapati Milly langsung mundur teratur begitu mendapat konflik kecil dari Neal.
Neal sendiri tadinya cukup asing bagi saya. Meski sudah melakukan dialog dengan Milly di Pematangsiantar, saya belum menemukan karakternya. Baru ketika mendapati Neal ikut terjun sendiri melakukan aksi penyelamatan paus, saya terkesan. Apalagi ketika Neal berdialog santai dengan Milly, duh langsung meleleh. Rasanya Neal ini santai, ramah dan lembut. Tapi kalau udah bad mood... langsung berubah auranya. Huhuhuuu... tapi saya malah suka. Berasa manusiawi dan nggak berlebihan.

Novel ini beralur maju dan menggunakan sudut pandang orang ketiga, yaitu sudut pandang Milly. Bahkan saat Neal dan kru lain mencoba menggagalkan pemindahan daging paus, dari sisi Milly lah ketegangannya digambarkan. Aksi yang menurut saya mungkin akan lebih menegangkan bila ditulis dari sisi Neal. Tapi... karena ini perjalanan kisah Milly, saya rasa memang lebih relevan jika Milly yang bercerita.

Overall saya suka dengan novel Perfect Purple ini. Banyak hal bisa didapat dari novel ini. Bukan hanya tentang aksi heroik penyelamatan paus tapi juga pengetahuan-pengetahuan ringan yang selalu diselipkan Indah Hanaco di setiap novelnya. Jadi, nggak rugi deh baca novel ini. Apalagi Neal dan Milly pasangan yang maniiiis banget, malu-malu tapi unyu ;)

Sabtu, 26 Maret 2016

[Resensi] Dear Friend With Love - Nurilla Iryani


Judul buku: Dear Friend With Love
Penulis: Nurilla Iryani
Editor: Herlina P. Dewi
Desain cover: Teguh Santosa
Layout isi: Deeje
Proofreader: Tikah Kumala
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Januari 2013 (Cetakan II)
Tebal buku: 146 halaman
ISBN: 978-602-7572-07-2
Book available at: Bukupedia.com




BLURB

Katanya, a guy and a girl can't be just friends. Benarkah? How about Karin and Rama?

Karin

Delapan tahun! Itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi yang aku dapat selama ini justru semua cerita saat kamu jatuh cinta dengan puluhan wanita lain di luar sana. Puluhan wanita yang selalu berakhir membuatmu kecewa. Rama, sadarkah kamu, wanita yang nggak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini? Aku. Sahabatmu, tolol!

Rama

Satu di antara seribu alasan kenapa gue nyaman bersahabat dengan Karin adalah ketidakwarasannya membuat gue tetap waras di tengah gilanya kehidupan Jakarta. Ya, dia adalah teman adu tolol favorit gue. Oh iya, gue punya satu lagi alasan: dia cantik banget, man! Nggak malu-maluin buat diajak ke pesta kawinan kalau gue kebetulan sedang jomblo. Paket komplit!


RESENSI

Persahabatan Karin dan Rama sudah berjalan selama delapan tahun. Selama itu pulalah Karin memendam perasaan terhadap Rama, sahabatnya tercinta. Sayangnya Rama berkali-kali gonta-ganti pacar dan membuat Karin patah hati.
Kali ini Rama lagi-lagi menemukan kekasih baru, seorang model cantik bernama Astrida Irsyad, atau yang dipanggil Cicit oleh Rama. Lagi-lagi, Karin harus tersiksa melihat kedekatan Rama dengan kekasihnya. Terlebih ketika Rama meminta bantuan Karin untuk melamar Cicit. Karin kelimpungan.
Di tengah kesedihannya, muncullah Adam, teman masa kecil Karin. Ibu Karin dan ibu Adam berusaha mrnjodohkan Karin dengan Adam. Dengan setengah hati, Karin pun bersedia menemani Adam yang sedang cuti dari pekerjaannya di Saudi. Lama menghabiskan waktu dengan Adam membuat Karin merasa dihargai, merasa dikasihi dan diprioritaskan. Berbeda dengan saat-saat bersama Rama yang lebih menganggap Karin sebagai tempat sampah dan pilihan kedua.
Namun tetap saja Karin merasa gamang. Baginya cintanya hanya untuk Rama. Saat Rama menyadari siapa gadis yang ia butuhkan dalam hidupnya, siapakah yang akan Karin pilih pada akhirnya?

-------------

Dear Friend With Love merupakan novel yang berangkat dari novel blog mingguan, itu sebabnya novel ini terasa lincah dan bebas.

Novel ini menggunakan POV orang pertama secara bergantian, dari sisi Karin dan sisi Rama. Sayang nggak ada POV dari sisi Adam atau Cicit. Tapi, yaa fokus utamanya memang hubungan friendzone antara Rama dan Karin sih.
Kedua tokoh ini sama-sama gokil, pemikirannya kocak, narsisnya kebangetan dan dialognya lucu. Sehingga kadang saya lupa ini yang sedang cerita Rama atau Karin? Saking miripnya gaya ceplas-ceplos mereka.
Kalau saja nggak ada pembeda penggunaan "aku" dan "gue", tentunya saya bakal makin bingung.

Karakternya sendiri lumayan menyenangkan. Saya suka dengan Karin yang lucu. Meski hati dan perasaannya terluka, dia tetap ada untuk Rama. Memendam perasaan sebelah pihak selama delapan tahun itu luar biasa menurut saya. Tapi mungkin karena mereka bersahabat, Karin juga jadi susah move on.
Sementara Rama walau kocak tapi narsisnya selangit. Kepedean akut. Benar-benar tipikal cowok yang nyebelin. Apalagi beberapa kali dalam perang batinnya, Rama kelihatan banget egois dan cari enaknya sendiri.
Sementara untuk Cicit, kok susah ya sebel sama makhluk ini, biarpun Rama berulang kali memaafkan tingkah laku Cicit karena Cicit cantik (nah, bener kan Rama tuh nggak banget sifatnya), tapi pemikiran Cicit malah berkesan dewasa.
Sedangkan tokoh Adam, huhuu... ada gitu ya cowok kayak Adam? Udah baik, perhatian, lucu, ramah dan selalu jadi prince charming.
Hmm~ karakternya memang loveable semua, eh kecuali Rama sih. Kalau Rama itu keplak-able banget. 

Bagi saya Dear Friends With Love benar-benar bacaan ringan yang kocak dan menghibur. Alurnya maju dengan cepat tanpa bertele-tele, gaya bertuturnya ceplas-ceplos dan bercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tapi selain kalimat-kalimat yang mengocok perut ada juga kalimat-kalimat dalem yang quotable.

Nah, buat kalian yang masih terjebak friendzone, coba deh baca novel ini. Seru banget dan gampang dibaca sekali duduk, semoga saja setelah baca novel ini, kalian bisa move on. Atau... justru malah terjebak makin dalam? Hehe~

Jumat, 25 Maret 2016

[Resensi] Bukan Pasarmalam - Pramoedya Ananta Toer


Judul buku: Bukan Pasarmalam
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Desain sampul: Ong Hari Wahyu
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun terbit: Agustus 2015 (cetakan ke-8)
Tebal buku: 106 halaman
ISBN: 978-979-3820-03-3



BLURB

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang... dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana"
-Pramoedya Ananta Toer

Roman ini berlangsung dalam satu putaran perjalanan seorang anak revolusi yang pulang kampung karena ayahandanya jatuh sakit. Dari seputaran perjalanan itu, terungkap beberapa potong puing gejolak hati yang tak pernah teranggap dalam gebyar-gebyar revolusi.

Dikisahkan bagaimana keperwiraan seorang dalam revolusi pada akhirnya melunak ketika dihadapkan pada kenyataan sehari-hari: ia menemukan ayahnya yang seorang guru yang penuh bakti tergolek sakit karena TBC, anggota keluarganya yang miskin, rumah tuanya yang sudah tidak kuat lagi menahan arus waktu, dan menghadapi istri yang cerewet.

Berpotong-potong kisah itu diungkapkan dengan sisa-sisa kekuatan jiwa yang berenangan dalam jiwa seorang mantan tentara muda revolusi yang idealis. Lewat tuturan yang sederhana dan fokus, tokoh "aku" dalam roman ini tidak hanya mengritik kekerdilan diri sendiri, tapi juga menunjuk muka para jenderal atau pembesar-pembesar negeri pascakemerdekaan yang hanya asyik mengurus dan memperkaya diri sendiri.

RESENSI

Di bulan Desember 1949, "Aku" menerima sepucuk surat dari Blora. Surat yang sebenarnya tidak terlalu menyayat hati "Aku" seandainya saja sebelumnya "Aku" tidak mengirim surat yang berisi sesuatu yang tak enak ke Blora. Surat dari Blora itu meminta "Aku" agar pulang barang tiga-empat hari karena sang ayah sedang sakit.
Dengan hati pedih, "Aku" berkeliling Jakarta mencari pinjaman uang untuk digunakan pulang. Dan tak lama, "Aku" dan sang istri naik kereta menuju Blora. Sepanjang perjalanan, melalui jendela, "Aku" merenungi tempat-tempat yang pernah menjadi medan perangnya melawan penjajah. Renungan yang berakhir pada sosok ayah. Renungan yang membuat hatinya tersayat.
Setiba di Blora, "Aku" mendapati ayah yang dulu tegap dan kokoh harus terbaring tak berdaya di ranjang rumahsakit, terbatuk-batuk hebat hingga mengeluarkan darah. "Aku" menyaksikan nasib adik-adiknya, rumahnya dan idealisme sang ayah sekarat secara perlahan.

-------

Bukan Pasarmalam meski cukup tipis tapi terasa sarat makna dan penuh sindiran. Kisahnya lumayan singkat tapi mampu membuat hati miris.
Betapa manusia yang keras, pejuang yang tangguh yang menjalani masa tahanan dengan gagah pun bisa lumpuh tak berdaya dalam rasa takut akan kehilangan. Menjadi melankolis, menjadi manusiawi.

Tokoh dalam novel ini memang tak bernama. Bukan hanya "Aku" sebagai si tokoh utama, tapi juga bapak, istri, adik-adik, paman, dukun dan tetangga, semua nggak memiliki identitas nama. Meski begitu Pramoedya tetaplah penulis yang mampu mencengkeramkan sosok sang tokoh dengan intens di ingatan saya sebagai pembaca.

Latar pasca kemerdekaannya pun kental dengan aroma sisa-sisa perjuangan dan derak perubahan yang menggilas kaum nasionalis-idealis. Memperkuat kisah yang suram dan gelap ini dengan sindiran yang menghujam. Sindiran pada diri sendiri, pada ketakutan akan kematian dan pada perjuangan kemerdekaan yang berbelok ke arah pencarian untung semata.

Novel Bukan Pasarmalam ini pernah dilarang pada tanggal 30 November 1965. Namun juga pernah diterbitkan di berbagai penerbit di kurun waktu yang berbeda, di antaranya:

1. Balai Pustaka, 1951, 1959 (Bukan Pasarmalam), edisi Indonesia
2. Yayasan Kebudayaan Sadar, 1964 (Bukan Pasar Malam), edisi Indonesia
3. Journal Indonesia no.15, April 1973, (It's not An All Night Fair), edisi United States
4. Abbas Bandong, 1976 (Bukan Pasarmalam), edisi Malaysia
5. Horlemann, 1993 (Mensch Für Mensch), edisi Jerman; Pent. Diethelm Hofstra
6. De Geus, 1998 (Een Koude Kermis), edisi Belanda; Pent. Alfred van der Helm, Angela Rookmaker
7. Bara Budaya, 1999 (Bukan Pasar Malam), edisi Indonesia
8. De Geus, 2001 (Een Koude Kermis), edisi Breda, Belanda; Pent. Henk Maier
9. Equinox, 2001, (It's not An All Night Fair), edisi Singapore; Pent. C.W. Watson

[Guest Post] 5 Film Adaptasi Buku yang Bukunya Belum Dibaca by Fikriah


Bulan Maret ini saya kedatangan tamu blogger buku imut nan unyu dari tanah Makassar. Gimana enggak blogger satu ini masih kelas IX SMP!!
Saya salut dan kagum dengan kekonsistensiannya di dunia membaca dan mereview. Apalagi tahun 2015 lalu dia menjadi Resensor Favorit dari Penerbit Haru.
Dan dia adalah Fikriah Azhari pemilik rumah fikriah-bookaddict.blogspot.co.id

Nah, Kiki silakan mulai bercuap-cuap di sini. Anggap aja rumah sendiri, yaaa :))



Halo! Fikriah Azhari melaporkan dari Nurina Mengeja Kata! Saya di sini mau ngapain? Bukan kok, bukan mau ngebuat rusuh, tapi mau ngeramaiin ihiiy~ *gayanya ngeramaiin blog orang padahal blog sendiri udah jarang update*. Untuk kak Ina, terima kasih sudah mengizinkan saya untuk hadir di blog ini ^^ senang banget rasanya hehe. Saya lagi suntuk di blog sendiri, eh dikasih suasana baru buat nulis di blog orang xD. Udah ah, mau kalem kalem dulu, siapa tahu habis ini diajakin nulis di blog mana lagi gitu *pasang muka paling manis*
*ambil gelas sama kopi mumpung ada pemanis*

Jadi, haruskah saya memperkenalkan diri terlebih dahulu? Saya Fikriah Azhari, bisa dipanggil Fikriah, bisa juga dipanggil Kiki, asalkan jangan manggil Fikri soalnya itu terkesan cowok banget ih. Kalau yang follow saya di Twitter, pasti tahu kalau saya ini pelajar SMP kelahiran November 2001 yang sedang dipusingkan oleh UN-BK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) yang akan diselenggarakan pada 9 sampai 12 Mei 2016 nanti. Dan ini udah Maret. Sedikit tertekan nih kalau ingat UN. Ah udalah Ki, bawa santai aja. 
Maka dari itu, saya mau menenangkan pikiran dulu dengan hadir di Nurina Mengeja Kata dan menuliskan daftar “5 Film Adaptasi Buku yang Bukunya Belum Saya Baca” ih daftar apaan tuh, judulnya panjang amat. Tak apalah. Yang penting isinya *mulai seenaknya lagi* Langsung aja ya nih?


Harry Potter series by J.K. Rowling



Jadi, siapa sih yang nggak tahu Harry Potter? Film adaptasi novel J.K. Rowling ini rasanya cukup populer dan juga meraih kesuksesan. Harry Potter ini ada 7 buku, namun untuk filmnya sendiri, buku ke-7 tersebut dibagi menjadi dua bagian. Jujur, saya belum baca novelnya dan juga belum nonton filmnya. Itu gimana ya? Wajar kan ya? Ada rasa penasaran sih, apalagi setelah mengetahui bagaimana cerita dari Harry Potter ini, saya tertarik untuk membaca bukunya. Kata Farah –yang merupakan teman saya-  ada beberapa adegan di buku yang justru penting tapi malah tidak ada di film.
Mungkin, suatu saat nanti –rencana terdekat adalah setelah UN- bakal nonton film Harry Potter dari yang pertama sampai terakhir, dan mungkin baca bukunya juga yang tebel itu? Tanteku punya lengkap bukunya, jadi mungkin bisa minjem nanti. *ini kurang yakin bakal sukses* 
*dih bikin iri, punya tante yang hobi baca* *kunyah bengkoang*

Divergent series by Veronica Roth



Bagi penikmat novel Divergent series karya Veronica Roth, beberapa di antara mereka –setidaknya teman-teman grup Line saya- mengutarakan kekecewaannya terhadap filmnya. Namun, untuk Allegiant yang baru tayang, setelah mewawancarai dan melihat rating yang didapat filmnya, sepertinya puncak kekecewaan pembaca ada di film ini. 

Saya belum baca bukunya, jadi masih oke oke aja nontonnya. Apalagi ada Theo James-nya x) *fangirling* Ahaha. Tapi waktu liat trailernya Allegiant, langsung keingat sama Hunger Games & Scorch Trials. Entah mengapa. Untuk novelnya sendiri, saya baru punya Insurgent dan belum dibaca, plastiknya aja belom dibuka *pokus UN*.
*murid teladan deh* :))

Jadi gimana, yang sudah baca bukunya, pendapat kalian tentang filmnya gimana?



Gone Girl by Gillian Flynn



Sinopsis:
Nick Dunne
Istriku menghilang. Tepat pada hari ulang tahun
pernikahan kami yang kelima. Ketika pulang hari itu, aku
mendapati sisa-sisa pergumulan di ruang duduk. Polisi
mencurigaiku. Banyak kejanggalan muncul dari hasil
penyelidikan. Parahnya, semua bukti mengarah
kepadaku. Apa yang istriku lakukan terhadapku?

Amy Dunne
Dalam buku harian, aku menulis dia mungkin akan
membunuhku. Kalau suatu hari aku ditemukan
mati... yah, itu bukan lelucon yang lucu. Setahun
belakangan aku sudah mempersiapkan diri.
Agar suamiku tak macam-macam denganku.

Nick harus mengerahkan segala upaya untuk
lepas dari penghukuman media dan publik,
menghindar dari penjara dan bahkan hukuman mati.
Menyelami isi kepala istrinya yang rumit dan
perfeksionis, hanya itu satu-satunya cara.

Saya belum baca dan nonton filmnya jadi nggak bisa banyak komentar x)


Maze Runner series by James Dashner



Saya sudah nonton filmnya! Kyaaaa sukaaa. Tapi, dengar-dengar dari yang udah baca novelnya, film keduanya yaitu Scorch Trials cukup melenceng dari novelnya, malah para pembaca bertanya nanti Death Cure mau diapain? Aihh saya mah apa atuh? Belum baca novelnya, masih ada di wishlist hehe. Tapi cukup suka lah dengan filmnya, menantikan Death Cure. Psst, ini filmnya nobar bareng teman-teman kelas >,< 



Laskar Pelangi by Andrea Hirata



Laskar pelangi ini diadaptasi menjadi film pada tahun 2008, dan bukunya telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, saya sudah nonton filmnya beberapa kalitapi belum baca novelnya.

***

Aih itu aja dulu ya, sebenarnya mau ngejelasin banyak tapi untuk menceritakan ulang sebuah cerita, sebenarnya saya ini lebih lancar bicara langsung daripada nulis x) Jadi, seperti yang kita ketahui, film adaptasi buku tidak selamanya bisa sebagus bukunya, kadang malah ada yang sangat mengecewakan.akanya banyak pembaca (termasuk saya) yang harap-harap cemas jika ada buku kesukaannya yang akan diadaptasi ke film, antara senang dan takut.

Segitu dulu ya. Makasih buat Kak Ina atas kesrmpatannya ^^ Maaf jika ada salah kata, maklum lagi error dikit habis mid semester. Hihi.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon