Tampilkan postingan dengan label Posting Bareng BBI 2016. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Posting Bareng BBI 2016. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2017

[Posbar] 5 Buku Terbaik yang Saya Baca di 2016 dan Harapan 2017

Tahun 2016 cukup luar biasa bagi saya. Saya menghabiskan membaca 275 buku dalam setahun ini. Lumayan meleset jauh dari target awal yang saya pasang sejumlah 366 buku. Yaah saya akui target itu memang muluk banget. Mungkin saya sedang kerasukan saat memasang target sebanyak itu, atau mungkin karena saya terlalu bahagia bisa membaca seperti orang gila di bulan-bulan awal tahun 2016.
Bisa dibilang saya rajin banget mendekati pertengahan tahun, hingga negara api menyerang. Oh bukan. Bukan negara api. Tapi dunia per-werewolf-an di telegram. Hahaha... saya pernah mencoba log out dan left group tapi hidup saya jadi hampa, jadi akhirnya saya nikmati saja.
Tapi membaca 275 buku dalam setahun benar-benar hal luar biasa bagi saya. Pencapaian tersebut bisa dilihat dari potongan gambar yang saya ambil dari goodreads saya berikut ini:




Nah... dari 275 buku tersebut saya ingin memilih 5 buku terbaik yang telah saya baca di 2016 versi saya.

1. Unveiled - Courtney Milan

Awalnya, Mbak Desty lah yang merekomendasikan buku ini lewat Ijak. Saya yang memang penyuka genre historical romance jelas nggak menolak dan mencoba membaca novel ini. Dan ternyata saya langsung suka. Banget! Saya langsung menobatkan Courtney Milan sebagai penulis favorit setelah membaca novel ini. Ulasan saya bisa dibaca di sini.

2. Cocky Bastard - Penelope Ward

Novel ini gokil parah. Saat membaca novel, saya paling suka dengan dialog yang lentur, luwes dan cerdas, seperti dalam Cocky Bastard ini. Ditulis dengan dua sudut pandang bikin novel ini dalem banget. Ulasan saya bisa dibaca di sini.

3. Devil May Cry - Sherrilyn Kenyon

Ini salah satu favorit saya dari seri Dark Hunter. Sin dan Katra langsung mencuri rasa sayang saya. Bagi saya mereka adalah best couple di antara pasangan-pasangan Dark-Hunter dan Were-Hunter lainnya. Saya mengulas novel ini di sini.

4. Deessert - Elsa Puspita

Seri yummylit ini luar biasa bikin baper bagi saya. Kisah cinta lama yang belum tuntas dipadu dengan cowok yang berprofesi sebagai cheff. Aih saya pokoknya suka banget sama cerita ini. Coba tengok ulasan saya di sini.

5. Scarlet - Marissa Meyer

Novel fantasi yang merupakan retelling dari dongeng Si Kerudung Merah ini langsung memikat hati saya. Terutama heronya yang favorit saya banget. Bahkan saya lebih menyukai Scarlet daripada buku pertamanya, Cinder. Ulasan saya tentang Scarlet bisa dibaca di sini.


Itulah kelima buku terbaik yang telah saya baca di tahun 2016. Kebetulan yang dibaca memang kebanyakan novel romance, jadi buku terbaik versi saya di tahun ini ya jelas romance. Wkwkwkk...

Nah setelah menutup tahun 2016 dengan sedikit kepuasan sekarang saya ingin mengungkapkan wishlist saya untuk tahun 2017. Harapan-harapan yang berkaitan dengan dunia perbukuan dan peresensian #halah

Dan daftar wishlist saya adalah:

1. Membaca 300 buku sepanjang tahun 2017. Okelah tahun kemarin saya gagal menyentuh angka 300, maka untuk tahun ini saya masih tetap berambisi untuk mencapainya. Semoga saja mood saya tetap bagus sepanjang tahun 2017 nanti.

2. Membaca timbunan. Tahun 2016 saya lumayan bisa mengurangi timbunan hingga hanya tersisa belasan buku yang belum saya baca. Tapi kok ya mulai masuk bulan Oktober saya mulai kalap gara-gara banjir diskon dan obralan di mana-mana. Ditambah lagi buku hadiah selama bulan Desember dari teman-teman Joglosemar dan BBI lainnya yang membuat saya terharu. Timbunan nambah!!!! 😱😱 Jadi harapan saya adalah membabat habis timbunan tersebut.

3. Membaca novel dengan setting New Orleans dan St Petersburg. Dua kota ini adalah kota favorit saya. Maka di tahun 2017 ini saya berniat mencari dan membaca buku-buku yang berkaitan dengan kedua kota ini.

4. Read and review. Tahun kemarin saya lumayan nggak tertib dalam mereview buku, untuk tahun ini sih pengennya selesai baca harus dibuat reviewnya.

Huee... cukup segitu saja deh. Saya nggak mau berharap banyak-banyak juga, takut malah nggak tercapai nanti. Gyahahaha...
Sebagai penutup saya ingin menuliskan harapan saya untuk perliterasian Indonesia: 

Semoga saja perbukuan di Indonesia makin baik, menghasilkan karya-karya yang bagus dan semogaaaaaa minat baca masyarakat juga makin meningkat. Keep reading ya, teman-teman :))))


Minggu, 04 Desember 2016

[Posbar] Baca di Mana Saja Ya?

Tema posting bareng BBI bulan ini menantang banget, terutama untuk orang mager kayak saya. Bagaimana tidak, saya diminta memfoto orang yang sedang membaca. Hahahaha... jujur ini sulit banget buat saya.
Bulan November bukanlah bulan kelayapan bagi saya. Tentunya karena cuaca yang sedang jelek, bikin malas banget pergi kalau dikit-dikit langit mendung. Apalagi kalau saya pergi, rombongan sirkus (baca: anak-anak) pasti ngikut, terbayang sudah kerepotan apa yang terjadi kalau kehujanan di jalan.

Sialnya lagi, saya bukanlah orang yang inget gadget kalau lagi jalan keluar. Seringnya malah hape berkamera saya tinggal di rumah. Emak-emak macam saya yang gaulnya cuma ke pasar, sekolah anak, kantor kelurahan-kecamatan jarang banget bisa menemukan orang sedang membaca. Senpat terpikir untuk memfoto anak-anak yang sedang membaca di sekolah, tapi lagi-lagi saya lupa nggak bawa gadget. Sial banget. Hahahaha...

Satu lagi kendala saya adalah saya kemana-mana naik sepeda motor, dan tentunya bersama rombongan sirkus. Manalah bisa jelalatan mencari orang lagi baca buku. Kalau toh ketemu, udah rempong duluan kalau mau memfoto. Sungguh, misi kali ini MUSTAHIL banget buat saya >.<

Untungnya saya bertemu juga dengan moment itu di sebuah tempat yang belakangan bikin saya wara-wiri. Tak lain dan tak bukan adalah di Noice Cafe. Kafe milik seorang teman yang terletak di Jalan Sekar Dwijan no 33 Yogyakarta.



Si mbak asyik banget baca bukunya ya.. jadi nggak berani mengganggu. 😆


Well.. maafkan saya yang kurang total dalam menemukan orang-orang yang sedang membaca. Tapi saya yakin, ada banyak pembaca berkeliaran di kota ini, sayang kami nggak berjodoh untuk bertemu. #lalubaper 😰


Selasa, 01 November 2016

[Posbar] 5 Novel Supernatural yang Ingin Dibaca

Tema posting Bareng BBI untuk bulan Oktober adalah tentang Supernatural. Dan lagi-lagi seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah, saya telat lagi dalam memposting tulisan ini. Alasannya karena saya terlalu galau.
Bagaimanapun saya nggak suka cerita yang berbau horor. Satu-satunya kisah horor supernatural yang bisa saya tolerir cuma komik Nube. Itu pun karena gokil dan ada ehem-ehemnya. Jadi buku bergenre supernatural yang saya baca pastilah yang berbalut romance dan nggak serem. Saya ragu-ragu untuk menuliskan postingan ini karena saya takut melenceng. Namun toh, akhirnya saya memutuskan, untuk tetap menuliskannya. Hitung-hitung ikut meramaikan posbar BBI.

Menurut goodreads, supernatural adalah genre yang melibatkan vampir, penyihir, hantu, shape shifter, iblis, malaikat atau makhluk-makhluk jejadian sejenis sesuai kepercayaan yang berkembang di suatu daerah yang digunakan sebagai setting. Dan disebutkan juga bahwa supernatural-romance termasuk dalam subgenre supernatural.
Jadi berikut ini adalah 5 novel supernatural yang menurut saya ingin saya baca untuk menemani halloween saya (duh ribet kebanyakan saya) :

1. The Graveyard Book - Neil Gaiman



Nobody Owens––panggilannya Bod––adalah anak biasa, benar-benar biasa, seandainya dia tidak tinggal di kompleks pemakaman, dibesarkan oleh hantu-hantu, dengan wali yang tidak berasal dari dunia orang hidup maupun orang mati. Banyak petualangan di pemakaman itu, dan kalau Bod pergi ke dunia luar, dia terancam bahaya dari pria bernama Jack––yang telah membunuh seluruh keluarga Bod.
***
Sudah mupeng dari dulu sejak diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama, tapi saya tetap maju mundur untuk membacanya. Yaah nyali saya memang cetek.


2. Obsidian - Jennifer L. Armentrout



Katy
Aku tidak tahan berada dekat dengan Daemon, dia memang keren, tinggi dan memiliki mata hijau yang mempesona, tapi Daemon benar-benar menyebalkan. Sementara saudara kembar Daemon, Dee, sangat menyenangkan. Namun saat Daemon membekukan waktu dengan tangannya untuk menyelamatkanku, sesuatu… yang tak terduga terjadi. 

Daemon
Aku adalah anak cahaya, yang berasal dari luar Abell. Galaksi terjauh dari bumi, sekitar dua puluh tiga miliar tahun cahaya. Aku tiba di sini dalam hujan meteorit lima belas tahun yang lalu. Planetku dihancurkan bangsa Arum; anak bayang-bayang. Mereka iri dan bertekad untuk memadamkan semua cahaya di seluruh semesta, tanpa menyadari bahwa yang satu ada karena keberadaan yang lain.
****
Saya lumayan tertarik baca novel ini meski saya juga nggak demen cerita alien. Tapi kisahnya sepertinya menarik, dan rating di goodreads juga bagus. Hanya saja, yang mengganggu saya dan membuat saya sedikit urung diri adalah..... covernya. 🙈🙈


3. Lover Awakened - JR Ward



Di bayangan malam Caldwell, New York, terjadi perang mematikan penuh amarah antara kaum vampir dan pembantai mereka. Tersebutlah perkumpulan rahasia, yang tidak seperti kumpulan mana pun, terdiri atas enam vampir pejuang, pembela kaum mereka. Di antara para anggota perkumpulan yang disebut Black Dagger Brotherhood ini, Zsadist adalah yang paling menakutkan.

Zsadist, yang pernah dijadikan budak darah, masih membawa-bawa bekas luka dari masa lalunya yang penuh penderitaan dan penghinaan. Dia terkenal akan amukan dan keganasan yang tak terpadamkan, vampir biadab yang ditakuti baik oleh manusia maupun vampir sendiri. Amarah adalah satu-satunya teman dan teror satu-satunya nafsu sampai ia menyelamatkan vampir perempuan yang cantik dari kejahatan Lessening Society.

Bella langsung terpikat pada kekuatan yang Zsadist miliki. Tapi bahkan ketika hasrat ingin saling memiliki mulai menguasai mereka, dahaga Zsadist untuk membalaskan dendam Bella mendorongnya sampai ke tepian kegilaan. Sekarang Bella harus membantu kekasihnya mengatasi luka dari masa lalu yang penuh siksaan dan menemukan masa depan bersamanya.
*****
Saya mengikuti seri Black Dagger Brotherhood baru sampai buku keduanya. Penyakit saya yang suka kehilangan minat untuk membaca buku ketiga memang parah. Padahal menurut desas-desus, seri ketiga ini yang paling menarik dan bikin jatuh cinta. Tapi yaaah sepertinya saya harus menguatkan mental dulu biar nggak mewek saat baca kisah Zadist ini ;)


4. Half Blood - Jennifer L. Armentrout



The Hematoi descend from the unions of gods and mortals, and the children of two Hematoi pure bloods have godlike powers. Children of Hematoi and mortals--well, not so much. Half-bloods only have two options: become trained Sentinels who hunt and kill daimons or become servants in the homes of the pures.

Seventeen-year-old Alexandria would rather risk her life fighting than waste it scrubbing toilets, but she may end up slumming it anyway. There are several rules that students at the Covenant must follow. Alex has problems with them all, but especially rule #1:Relationships between pures and halfs are forbidden. Unfortunately, she's crushing hard on the totally hot pure-blood Aiden. But falling for Aiden isn't her biggest problem--staying alive long enough to graduate the Covenant and become a Sentinel is.

If she fails in her duty, she faces a future worse than death or slavery: being turned into a daimon, and being hunted by Aiden. And that would kind of suck. 
****
Sebenarnya saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap covernya. ^^ Tapi membaca blurb novel ini rasanya saya bakal suka kok. Seru gitu rasanya :)


5. Bay of Sighs - Nora Roberts



The new Guardians Trilogy novel from the #1 New York Times bestselling author of Stars of Fortune. 

To celebrate the rise of their new queen, three goddesses of the moon created three stars, one of fire, one of ice, one of water. But then they fell from the sky, putting the fate of all worlds in danger. And now three women and three men join forces to pick up the pieces…

Mermaid Annika is from the sea, and it is there she must return after her quest to find the stars. New to this world, her purity and beauty are nothing less than breathtaking, along with her graceful athleticism, as her five new friends discovered when they retrieved the fire star. 

Now, through space and time, traveler Sawyer King has brought the guardians to the island of Capri, where the water star is hidden. And as he watches Annika in her element, he finds himself drawn to her joyful spirit. But Sawyer knows that if he allows her into his heart, no compass could ever guide him back to solid ground...

And in the darkness, their enemy broods. She lost one star to the guardians, but there is still time for blood to be spilled—the mermaid’s in the water and the traveler’s on the land. For she has forged a dangerous new weapon. Something deadly and unpredictable. Something human.
****
Buku kedua dari The Guardian Trilogy ini menurut saya paling menggoda. Sinopsis dan covernya langsung bikin saya jatuh hati. Apalagi Nora Roberts adalah penulis yang sudah saya ikuti sejak belasan tahun lalu.

Yap... Itu dia kelima buku bergenre supernatural yang saya rasa bakal seru dibaca. Masih ada cinta-cintaannya dikit deh :))


Sabtu, 01 Oktober 2016

[Posbar] Empat Tempat Favoritku untuk Membaca

Untuk bulan September, tema Posting Bareng BBI adalah tentang Tempat Baca. Jadi saya bakal ajak kalian ke tempat-tempat favorit saya yang selama ini saya habiskan untuk membaca buku. Tempat di mana saya merasa nyaman, merasa tenang hingga akhirnya bisa melahap banyak bacaan. Tempat itu adalah: rumah.

Sebagai ibu rumah tangga dan pekerja paruh waktu, saya jarang banget pergi sendirian. Alhasil waktu baca saya pun hanya waktu yang bisa saya curi di sela-sela pekerjaan rumah tangga dan mengajar. Jadi berikut adalah tempat-tempat favorit saya untuk membaca.

1. Lincak

Saya memang lebih suka lincak daripada sofa. Memang keras dan nggak senyaman sofa, tapi saya betah berlama-lama duduk di sini sambil membaca buku sambil mengawasi anak-anak bermain. Dengan beragam posisi, saya bisa menghabiskan 1 - 2 jam duduk di lincak sambil membaca.



Tempat ini adalah tempat favorit saya untuk membaca di siang hari sementara anak-anak bermain di luar rumah dengan teman-teman mereka. Karena lincak ini ada di ruang depan dekat pintu masuk rumah, ini menjadi tempat yang cukup strategis untuk menuntaskan hobi sambil tetap waspada memperhatikan anak-anak kalau mereka mulai bertengkar. Jadi begitu terjadi baku hantam saya bisa nimpuk mereka pakai buku. Wkwkwk~ Nggaaaak... Bercanda lho itu.


2. My single bed

Kalau anak-anak ada di rumah dan bermain, otomatis aktivitas baca saya pun tergusur ke single bed ini. Kasur milik saya sendiri yang bikin saya lebih sering ngelonin buku daripada ngelonin anak-anak. Karena di kasur ini saya halal meletakkan buku, notes, alat tulis atau apa pun yang berhubungan dengan membaca dan mereview. Lain halnya dengan double bed yang haram diisi buku tapi halal diisi lenguhan dan desahan. Oke... Ini mulai TMI. Mari kembali ke single bed.



Sayangnya, kasur yang ini letaknya lebih ke dalam dan nggak ada jendela. Jadi pencahayaan hanya mengandalkan kekuatan lampu. Hiks. Rencana ke depan sih, minta dibikinin jendela biar bisa hemat listrik dan mata nggak makin parah. Huhuu...


3. Meja belajar

Meja tempat saya mengajar ini juga jadi tempat favorit buat membaca. Mencuri-curi waktu sambil menunggu murid datang, atau kadang di tengah mereka sibuk mengerjakan soal yang saya berikan saya bisa membaca juga.



Meja ini juga saksi transaksi saya pinjam-pinjaman buku dengan murid saya. Kadang juga di sela pelajaran, meja ini jadi saksi diskusi yang seru tentang buku. Bagaimana pun buku telah mendekatkan saya dengan murid-murid saya, membuat suasana jadi cair dan menjadikan saya menjadi teman mereka dan bukannya tutor mereka. Jadi, inilah tempat membaca yang sangat spesial.


4. Sofa

Seringnya saya bakal kembali ke rumah masa kecil saya. Dan sedari dulu tempat inilah favorit saya untuk membaca. Di samping sofa ada jendela yang dulu jika memandang keluar, bakal terlihat gagahnya Gunung Merapi. Berbeda dengan situasi sekarang yang kalau memandang keluar akan terlihat..... rumah susun asrama mahasiswa. Hiks....



Namun tempat inilah yang telah melihat saya tumbuh sebagai pembaca. Dari majalah Bobo, Pasukan Mau Tahu, Wiro Sableng, novel remaja, hingga novel dewasa. Dari masa ke masa, tempat ini selalu jadi tempat favorit.

Nah itu dia tempat favorit saya untuk menghabiskan waktu membaca buku. Bagaimana dengan kalian? Tempat seperti apa yang jadi tempat favorit kalian untuk membaca? Jangan segan untuk berbagi di kolom komentar ya ^^


Minggu, 14 Agustus 2016

[Resensi] Tiga Sandera Terakhir - Brahmanto Anindito

Judul buku: Tiga Sandera Terakhir
Penulis: Brahmanto Anindito
Penyunting: Hermawan Aksan, Miranda Harlan
Penata aksara: Aksin Makruf
Desainer sampul: Oesman
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: Mei 2015
Tebal buku: 316 halaman
ISBN: 9786020989471



BLURB

Penyanderaan brutal terjadi di sebuah desa di Papua. Korbannya lima orang—warga negara Indonesia, Australia, dan Perancis. Semua telunjuk segera mengarah ke OPM, Organisasi Papua Merdeka. Namun, OPM sendiri menyangkalnya. Mereka menegaskan bahwa pihaknya sudah lama tidak menggunakan cara-cara ekstrem seperti itu, demi perjuangan kemerdekaan Papua Barat.

Lantas, siapa dalang penyanderaan itu? TNI enggan berteka-teki terlalu lama. Satuan Antiteror Kopassus di bawah pimpinan Kolonel Larung Nusa segera diturunkan ke Bumi Cenderawasih. Tapi, malang tak bisa ditolak. Korban malah berjatuhan, baik di pihak sandera maupun anggota Kopassus. Salah seorang anggota bahkan dinyatakan hilang secara misterius di belantara Papua.

Kolonel Nusa mulai menyadari bahwa lawannya ini bukan sekadar milisi OPM. Melainkan pasukan khusus seperti dirinya.

RESENSI

Lima orang turis diculik dan disandera oleh sekumpulan orang-orang asli Papua yang mengaku sebagai bagian dari OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kelima orang tersebut terdiri atas dua turis domestik dan tiga turis asing. Keinginan para penyandera hanya satu, jika ingin sandera selamat maka Papua harus diberi kemerdekaan.
Maka dikirimlah Kolonel Inf. Larung Nusa yang baru saja menjabat sebagai Komandan Gultor. Suatu pengangkatan yang penuh kontroversi karena Larung Nusa sendiri adalah menantu dari Menteri Pertahanan RI.
Demi membuktikan diri, Larung Nusa berusaha sebaik mungkin memimpin operasi pembebasan para sandera. Tapi sebisa mungkin ia ingin mengupayakan jalur negosiasi. Sayang pihak penyandera memilih jalan lain. Ketika seorang sandera ditemukan tewas, maka Larung Nusa pun mulai memimpin operasi penyerbuan.
Sayang penyerbuan itu memakan korba dari pasukan Larung Nusa. Seorang anggota meninggal, dan seorang lagi hilang. Larung Nusa pun mendapat hukuman skors.
Tapi ternyata, itu baru awal. Ada sesuatu yang lebih besar yang mengincar keamanan NKRI. Larung Nusa harus membuat pilihan, apakah bersedia membentuk pasukan hantu dan merekrut mantan anggota TNI sebagai anggota tim, atau memilih kembali ke Jakarta.
Bisakah Larung Nusa menyibak siapa dalang dibalik penyanderaan ini dan menemukan tiga sandera terakhir?

------------------------------

Membaca novel thriller selalu menjadi keasyikan tersendiri jika saya mulai jenuh dengan kisah romance. Itulah mengapa saya memilih membaca novel Tiga Sandera Terakhir karya Brahmanto Anindito ini. Pilihan yang ternyata sangat tepat karena mood baca saya yang tadinya mpot-mpotan bisa balik bergairah lagi. Hahah...

Tiga Sandera Terakhir merupakan novel thriller militer yang menghadirkan tema ketegangan tiada usai antara Indonesia dan Papua. Kita tahu bahwa OPM merupakan organisasi yang nyata yang mempunyai tuntutan untuk merdeka dan melepaskan diri dari Indonesia. Sebagai kisah usang namun juga selalu hangat, tema ini memang sangat menarik jika disajikan dalam sebuah kisah fiksi.
Dan meski tokoh utama serta kisahnya hanya fiksi, Tiga Sandera Terakhir terasa nyata senyata-nyatanya. Konstruksi ceritanya dibangun dengan penuh detail—termasuk detail sejarah dan budaya—juga plotnya ditulis dengan sangat rapi. Gaya bertutur Brahmanto Anindito mengalir dan enak dibaca.
Walau lumayan membosankan di awal kisah, tapi saya dibuat takjub dengan strategi yang dirancang Kolonel Larung Nusa. Ketegangan di paruh awal memang rada ngeselin. Beberapa kali para sandera membantah dan seolah cari mati. Saya sampai geregetan karena takut satu salah ucap saja bisa bikin para penyandera itu murka dan membunuh mereka.

Bagian seru baru muncul saat operasi pembebasan sandera dimulai. Lumayan menegangkan dan bikin saya nggak bisa berhenti baca. Mulai dari situ hingga ke pembentukan pasukan hantu, saya sudah nggak bisa lagi berpaling dari novel ini. Ikut kesal waktu Larung Nusa diskors, dan merasakan antusiasme saat Larung Nusa mengumpulkan kru bagi pasukan hantunya. Suasana jadi lebih cair karena anggota pasukannya adalah mantan anggota militer. Bedanya kerasa banget antara operasi pembebasan sandera yang dilakukan tim gultor pimpinan Larung Nusa, dengan operasi penyerbuan dalang penyanderaan yang dilakukan oleh pasukan hantu.
Mungkin seperti yang telah disinggung di awal novel, bahwa prajurit bekerja sesuai perintah atasan, jadi hubungan mereka terasa kaku dan kurang akrab karena seolah masih ada garis hierarki. Namun bersama pasukan hantunya, Larung Nusa bisa bersikap santai dan saling bercanda. Itu sebabnya paruh akhir kisah ini sangaaaaaaat menarik diikuti.
Dialognya lebih seru, kocak dan sedikit mengendurkan ketegangan. Juga joke tentang sepakbola itu masuk ke dalam cerita dengan mulus banget dan bagi saya sangat cerdas. Yap, sepakbola bisa menyatukan Indonesia ternyata.

Aksi di paruh akhirnya benar-benar tegang mampus. Kayak nggak diberi jeda untuk bernapas. Detail adu senjata dan adu tangan kosongnya keren. Tokohnya dibuat jatuh bangun dan berjuang dengan usaha yang keras. Benar-benar kayak lagi nonton film laga. Saya suka dengan novel thriller yang musuhnya sulit dikalahkan, jadi biar endingnya bisa benar-benar nyeeees. 

Yang saya suka adalah kentalnya logat dalam dialog yang dipakai para tokoh novel ini. Beberapa tokoh tampil dengan identitas daerahnya. Para pasukan OPM dan orang asli papua menggunakan logat khas mereka, kemudian anggota tim Larung Nusa juga ada yang menggunakan bahasa jawa, sang danjen  juga menampilkan bahasa lo-gue. Semua membuat novel ini terasa berwarna dan terasa Indonesia banget.
Hanya saja saya merasa bakal lebih nikmat jika keterangan tentang istilah atau penerjemahan bahasa bukan dikelompokkan di halaman akhir buku tapi ditulis sebagai catatan kaki. Jadi saya nggak perlu repot-repot nengok ke belakang.

Tokoh favorit saya di novel ini adalah Witir Femmilio, si mantan anggota Denjaka. Kocak orangnya, tapi pas bertempur, duuuh berasa jantan dan laki banget. Tapi masih aja nyelipin rayuan buat Nona. Wkwkwk~
Sementara untuk adegan favorit jelas waktu Larung Nusa berantem sama si dalang. Seruuuu dan menegangkan.
Dan yang bikin merinding sekaligus terharu adalah saat saya menyadari siapa yang dimaksud dengan tiga sandera terakhir. Hiks. Ngilu rasa hati saya jadinya.

Tapi epilognya berasa masih kuraaaaang. Saya pengin tahu nasib Larung Nusa. Bagaimana pandangan orang terhadapnya. Pengin ada yang mengakui bahwa dia memang mampu, karena akhirnya bisa membuktikan bahwa dia kompeten. Tapi nggak ada. Huhuuu...

Secara keseluruhan, saya sukaaaa banget dengan novel ini. Banyak pengetahuan tentang sejarah papua, tentang strategi taktis, tentang latihan militer juga betapa serunya operasi militer berjalan. Saya rekomendasikan novel ini bagi kalian yang suka kisah penuh ketegangan, teror dan aksi baku hantam. Seru banget. Sungguh.



Kamis, 07 Juli 2016

[Master Post] My Holiday Reading List

Ini baru pertama kalinya saya bikin reading list. Selama ini saya baca tergantung mood, dan saya memang bukan jenis orang yang terencana apalagi soal bacaan. Tapi demi memenuhi tema posting bareng BBI bulan Juli ini yaitu #BBIHoliday naah maka saya bakal bikin holiday reading list untuk dibaca sepanjang liburan panjang ini.
Dan ini dia daftar bacaan saya:

1. Cocky Bastard - Penelope Ward & Vi Keeland



Saya udah kepengin banget baca novel ini sejak bulan lalu. Kisah dua orang yang 'terpaksa' menjadi teman seperjalanan. Meski nggak begitu suka dengan covernya tapi rating novel ini di Goodreads cukup tinggi dan bikin penasaran. Baca review saya di sini.


2. Devil May Cry - Sherrilyn Kenyon


Novel ini saya baca tahun lalu dan berhenti di tengah-tengah karena kehilangan mood. Nah bulan ini karena nemu e-book nya di Bookmate saya pun berniat untuk reread dari awal. Udah tersimpan rapi di rak dan sudah siap dibaca. Baca reviewnya di sini.


3. Delicious - Sherry Thomas


Novel historical romance ini saya dapat sebagai hadiah event ultah BBI. Dari ketiga novel yang saya dapat dari Yuki, cuma novel ini yang belum saya baca. Ini bakal jadi pengalaman pertama saya membaca karya Sherry Thomas, semoga saja jadi pengalaman yang menyenangkan :)) Baca reviewnya di sini


4. To Be With You - Indah Hanaco


Nah kalau novel ini saya dapat dari Kiky sebagai hadiah Indah Hanaco Reading Challenge periode bulan Maret yang diadakan blognya. Bulan ini saya bakal membaca novel ini dan mengikutkan reviewnya untuk IHRC bulan Juli siapa tahu saya beruntung lagi ya kan? :p


5. Thousand Miles in Broken Slippers - Rosi L Simamora


Saya dapat novel ini dari event yang diadakan teman-teman BBI yang berulang tahun bulan Januari alias para Januarian. Haha... udah lama berarti ya saya nimbun buku ini. Sepertinya bakal seru kalau liburan saya juga diisi dengan membaca novel inspiratif semacam novel ini ^^ Review bisa dibaca di sini


Hmm... Segitu saja dulu deh listnya. Walau bulan lalu saya berhasil baca 40 buku tapi sekali lagi saya bukan orang yang suka patuh dengan rencana. Takutnya saya sudah bikin list yang panjang, ternyata saya jadi "selingkuh" sama buku lain. Hahaha...


Selasa, 28 Juni 2016

[Posbar] 5 Aib Kala Malang Melintang Sebagai Pembaca

Demi memenuhi tema posting bareng BBI yaitu Bookish Confession, saya siap membuat pengakuan. Banyak sih fakta-fakta tentang perbukuan sepanjang saya membaca selama ini, dari yang nggak bermutu sampai yang berlumur dosa. Tapi nggak usah banyak-banyak ya, cukup lima pegakuan saja biar yang lain tetap saya simpan. Atau... mungkin akan saya ungkap lain waktu.

Maka ini dia 5 Aib Kala Malang Melintang Sebagai Pembaca:

1. Nggak Suka Lima Sekawan

Bagi generasi saya, Enid Blyton dan Lima Sekawan selalu jadi favorit siapa saja. Tapi saya sama sekali nggak menikmati membaca Lima Sekawan. Terutama George. Saya sebel banget karena sifatnya. Tomboy sih nggak masalah bagi saya tapi saya kok merasa dia itu merepotkan dan sering bikin jengkel. Kasihan Julian. *pundung ke para Lima Sekawan lovers*
Bagi saya, novel favorit karya Enid Blyton adalah Pasukan Mau Tahu. Tapi kok banyak yang nggak mengenal mereka sih?
Pasukan Mau Tahu bukan sekedar petualangan, tapi juga belajar memecahkan masalah, dan juga... berpantun. Wkwk~ gokil deh baca pantun-pantunnya Fatty. Atau malah saya harus menjura pada penerjemahnya yang bisa menerjemahkan pantun kocak menjadi lebih kocak lagi.

2. Baca Novel "Panas" Pertama Kali

Saya baca novel yang mulai ada adegan semi syur pertama kali waktu SD. Tunggu... tunggu... jangan lempar saya dulu. Saya bisa jelaskan! Jadi saya dulu waktu SD tergila-gila dengan serial Api di Bukit Menoreh karya S.H. Mintardja yang selalu muncul tiap harinya di koran Kedaulatan Rakyat. Dari situlah saya lalu merambah ke Wiro Sableng: Pendekar Kapak Naga Geni 212 yang dikoleksi kakak saya. Nyolong-nyolong sih bacanya. Tapi... well.. yaaah.. emang jadi rada deg-degan gitu.
Dan menginjak SMP saya mulai baca... Enny Arrow. *tutupin muka*
Hastagaa.... generasi macam apa saya ini? Wkwkwk~
Jadi pembelaan diri saya adalah: masa SMP itu masa ledakan hasrat membaca saya yang menggelegak. Tiap hari saya ke perpustakaan buat pinjam buku untuk dibaca malamnya dan dikembalikan keesokannya. Karena cuma bisa pinjam satu buku saya jelas ngelangut dong di hari Minggu, jadilah saya main ke rumah tetangga dan menyasar buku-bukunya yang berupa... stensilan. >.<
Mungkin itu sebabnya saya dewasa sebelum waktunya biasa saja kalau baca buku kipas sampai saat ini. Wkwkwk~

3. Nyobekin halaman majalah perpustakaan

Yang satu ini jangan ditiru ya, teman-teman. Huhuuu... Ini kejadian waktu SMA, pas lagi demen-demennya sama Westlife dan Leonardo Dicaprio. Di perpustakaan SMA saya sayangnya buku novel nggak sebanyak di perpustakaan SMP, kalau pun ada itu juga novel-novel lama angkatan Balai Pustaka yang sudah saya lalap semasa SMP. Yang banyak justru majalah remaja. Nah kalau nemu artikel atau pin up Westlife saya langsung mojok dan... menyobek halaman itu buat saya bawa pulang, sodara-sodara! *ini sih kriminal*
Dan berhubung hampir kebanyakan siswa melakukan hal yang sama, bisa dipastikan majalah lama yang sudah jadi korban itu.... jadi tipiiiis. ^^
Eits tapi sekarang udah nggak pernah begini lagi. Udah insyaf dan mengambil jalan lurus yang benar.

4. Bukan pembaca yang ikut-ikutan baca yang lagi ngetrend

Semakin hype sebuah buku saya malah makin males baca. Bahkan dari dulu ketika saya masih suka pinjam buku di rentalan, saya paling nggak mau ikutan antri atau nanya-nanya terus ke mbak penjaganya kapan buku yang populer dikembalikan. Saya lebih milih nunggu sampai nggak ada yang pinjam lagi dan akhirnya saya bebas merdeka menikmatinya. Sekarang pun makin sering saya lihat suatu buku, atau makin banyak yang membicarakan, saya jadi urung bacanya. Nanti-nanti sajalah. Bukannya sok antimainstream tapi saya lebih suka membaca karena saya memang suka atau tertarik, bukan karena ikut-ikutan.

5. Judge a book by it's cover

Yap... saya lemah sama cover cakep. Dan saya memang gampang jatuh cinta sama buku karena covernya... meskipun isi ceritanya kacrut :p
Tapi saya tetep baca blurb di baliknya juga dong. Dan lalu dilema parah saat covernya cantik-menarik-hati tapi dari blurbnya kelihatan kalau ceritanya bakalan nggak saya suka. Itu... momen di mana saya pengen ngumpat dan teriak frustasi. *dibekep penjaga toko buku*
Saya juga tipe yang sebaguuuuus apa pun isi ceritanya kalau covernya saya nggak suka saya males bacanya. Baca siih... tapi males-malesan. Ngoahaha...

Dan itulah fakta-fakta aib saya yang penuh dosa dan nggak layak ditiru. Nah kalian sendiri bagaimana? Hayooo cerita dan berbagilah kalau punya fakta aib seperti saya... Hehe..


Jumat, 29 April 2016

[Posbar BBI] Dongeng Sekolah Tebing - Clara Ng


Judul buku: Dongeng Sekolah Tebing
Sub judul: 52 Kisah Sekolah Terpencil di Ujung Angin
Penulis: Clara Ng
Editor: Umi Andriani dan Fita Riyadi
Ilustrator: Ella Elviana
Desain cover: Sihol Gianito
Layout isi: Lulu T. Helmy
Penerbit: Penerbit Buah Hati (imprint Penerbit Lentera Hati)
Tahun terbit: Agustus 2011
Tebal buku: 232 halaman
ISBN: 978-602-8663-73-1



BLURB

Ada bangunan bercat biru yang digunakan sebagai sekolah dan tempat seekor sapi berteduh pada malamnya. Bangunan itu terletak di ujung tebing, di mana angin selalu bertiup kencang setiap hari. Di senja hari, plang kayu itu tersiram cahaya matahari jingga sehingga bersinar-sinar dan terbacalah....

S KOLAH TEBING

Huruf e yang hilang tidak pernah diukir lagi sebab tidak ada seorang pun yang tahu cara mengukirnya. Dulu salah seorang ayah murid di Sekolah Tebing menyumbangkan plang tulisan itu. Dia mengukirnya dengan sangat cantik sampai-sampai ketika ukiran itu patah, tidak ada seorang pun yang sanggup memperbaikinya.

Di bulan Juli yang udaranya panas sekali, sekolah tiba-tiba ramai dengan kedatangan dua belas muridnya. Mereka datang dengan baju berwarna-warni dan sandal plastik dari berbagai penjuru. Sekolah sudah dimulai. Kamu mau tahu apa yang terjadi di gedung biru itu?


RESENSI

Buku hardcover ini diawali dengan kisah Kupu-kupu yang Tidak Mau Tidur. Hmm~ sebenarnya sih bukan kupu-kupu yang nggak mau tidur, tapi seekor ulat bulu bernama Upik, yang enggan tidur karena masih ingin bermain dengan teman-temannya. Padahal untuk berubah jadi kupu-kupu, Upik harus mulai tidur dalam kepompongnya. Lalu siapa yang akhirnya berhasil membujuk Upik agar tidur? Aah... tentunya binatang malam yang bisa menyanyikan lagu pengantar tidur. Coba tebak binatang apa? ;)

Ketika Upik berubah menjadi kupu-kupu ia terbang ke dalam kelas, saat itulah Ibu Sheila, ibu guru di Sekolah Tebing memberi tahu murid-muridnya, bahwa kehadiran kupu-kupu bisa jadi adalah pertanda mereka akan kedatangan tamu!
Ternyata tamu itu adalah seorang gadis kecil penyuka warna biru bernama Tia. Kepindahannya ke desa membawa Tia menjadi murid ketiga belas Sekolah Tebing. Kini bersama kedua belas temannya, dan Ibu Guru Sheila serta hewan-hewan penghuni desa, beragam kisah dimulai.

Mendapati buku anak dengan 52 cerita di dalamnya sungguh menyenangkan bagi saya. Bukan hanya menyajikan kisah moral baik melalui tingkah polah para murid Sekolah Tebing yang bisa diteladani anak-anak, tapi juga fabel-fabel lucu yang bisa menambah pengetahuan dan banyak lirik syair yang bisa dinyanyikan.
Selain itu ada beberapa kisah kehidupan pribadi Ibu Guru Sheila. Diceritakan pula bahwa Ibu Sheila punya kawan "ajaib" yaitu Gatot Kaca. Yap... Gatot Kaca si tokoh wayang ini sering mendatangi Ibu Sheila di dalam mimpi dan mengajak Ibu Sheila melakukan petualangan yang seru.

Di antara kisah-kisah tersebut saya paling suka dengan Hari Melamun Sedunia. Ini cerita yang menggelitik bagi saya dan membuat saya kagum pada Ibu Guru Sheila. Dikisahkan anak-anak sedang mengerjakan dua puluh lima soal matematika di dalam kelas. Lalu kemudian hujan turun. Ketika Ibu Sheila mengumumkan waktu habis dan anak-anak harus mengumpulkan pekerjaan mereka, tak ada satu pun murid yang menyahut. Kira-kira apa yang sedang mereka lakukan, ya? Dan bagaimana reaksi Ibu Sheila.. aaah... saya paling suka dengan kisah ini :)

Sedangkan putra sulung saya yang sudah TK, selain fabel-fabel yang menjadi favoritnya, dia juga suka kisah Telur Dinosaurus. Putra saya menganggap cerita itu seru dan mulai ikut mencari telur dinosaurus di taman dan pekarangan. Hahaha...

Sementara untuk putra bungsu saya yang masih berusia dua tahun, dia sudah sangat terhibur dengan gambar ilustrasi yang lucu-lucu. Gambar sapi, kucing, anjing, bebek, jangkrik dan tentunya binatang favoritnya... kupu-kupu. Semua gambar ia tunjuk dengan bersemangat dan mudah ia kenali.

Membaca buku ini benar-benar menyenangkan. Dan lebih menyenangkan lagi jika bersama dua buah hati yang meringkuk di sisi kanan dan kiri saya. Nah sekarang setelah selesai membaca kisah yang ke-52 yang sangaaat mengharukan, saatnya menutup buku dan... tidur yang ny enyak. Semoga mimpi indah, anak-anak :)



Sabtu, 02 April 2016

[Posbar] Stolen Songbird - Danielle L Jensen

Judul buku: Stolen Songbird
Sub judul: Negeri Troll yang Hilang
Penulis: Danielle L Jensen
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Mery Riansyah
Proofreader: Lucy Riu
Pewajah sampul: Defi Lesmawan
Pewajah isi: Yhogi Yordhan
Penerbit: Fantasious
Tahun terbit: Oktober 2014
Tebal buku: 496 halaman



BLURB

Apa troll merasakan hal yang sama dengan manusia? Apa troll mengenal kesedihan, kemarahan, atau kebahagiaan? Bisakah troll mencintai troll lain? Atau apakah batin mereka sedingin batu yang mengubur mereka di bawahnya?

Cécile de Troyes mengira masa depannya ada di panggung-panggung megah di Trianon. Dia yakin kariernya sebagai penyanyi bersuara merdu akan cemerlang begitu dia meninggalkan Goshawk's Hollow. Namun, hal tak terduga menyergapnya, menyeretnya ke sebuah negeri yang selama ini hanya pernah didengarnya dari dongeng lama. Tak ada mimpi seburuk membuka mata dan menyadari bahwa ia diculik ke sebuah kota yang terkubur di bawah reruntuhan gunung. Kota yang dipenuhi oleh makhluk... troll.

Kaum troll mengira Cécile bisa menjadi salah satu kunci melenyapkan kutukan penyihir yang melingkupi Kota Trollus selama lima abad. Kutukan yang membuat mereka tak mampu keluar dari kungkungan Gunung Terlupakan. Kutukan yang membuatnya terikat dengan pangeran troll angkuh bernama Tristan. Dia pikir hidupnya lebih baik berakhir, sampai ketika dia mulai menyadari rahasia-rahasia terselubung yang ada di kota itu. Cécile sadar, jika dia melibatkan diri lebih jauh dengan segala intrik kaum troll, semua tak akan pernah sama lagi. Namun, terkadang, harus ada yang melakukan hal yang tak terbayangkan.

Mampukah Cécile bertahan dan menguak rahasia negeri troll? Kau pikir kau sudah tahu tentang kau troll? Tunggu sampai kau menyelesaikan petualangan ini.


RESENSI

Cécile de Troyes sedang dalam perjalanan pulang seusai menyelesaikan latihan menyanyinya, ketika di tengah jalan ia dihadang Luc. Rupanya Luc berniat menculiknya dan menyerahkannya kepada seseorang... atau sesuatu. Firasat Cécile semakin buruk saat ia harus merangkak menyusuri labirin Gunung Terlupakan, dikejar sluag hingga perjalanan mereka berakhir di Trollus, kota yang hilang yang penuh dengan troll.
Ternyata ia diculik dan dibawa ke Trollus untuk dipertalikan dengan sang pangeran kerajaan troll bernama Tristan. Kaum troll menganggap pertaliannya dengan Tristan akan dapat menghapuskan kutukan yang dialami bangsa troll selama berabad-abad.
Cécile berusaha melawan, berusaha kabur tapi ternyata tak ada jalan keluar. Akhirnya mau tak mau ia harus mendekam di Trollus dan menemukan intrik-intrik politik bangsa troll. Bukan hanya itu saja, semakin lama ia merasa semakin dekat dengan Tristan dan jatuh cinta.

-----------------

Stolen Songbird saya pilih sebagai buku yang saya baca untuk event posbar BBI bulan Maret 2016, walau pada kenyataannya setelah selesai membaca saya buntu juga menuliskan reviewnya. Bahkan ini sudah terlewat beberapa hari dari waktu yang ditentukan untuk mereview. *pundung*
Buku ini saya dapat dari sesama member BBI, dedek Raafian hasil menang kuis di twitternya. Meski mengidam-idamkan buku ini, ternyata cukup susah bagi saya menyelesaikan Stolen Songbird. Sigh.




Sebenarnya saya suka dengan premisnya, saya nggak pernah bosan dengan kisah perjodohan terpaksa semacam ini, hanya saja bagi saya lama-lama novel ini nggak terasa menarik lagi.
Pertama karena Cécile mudah diprovokasi, nggak bisa berpikir logis dan drama banget. Saya jadi... sebel. Hahaha... apalagi saat dia memutuskan masuk ke labirin dan akhirnya membahayakan nyawa Tristan. Hmm~ meski pada akhirnya ia berhasil menemukan kekuatan sihir yang dimilikinya, tetap saja saya merasa drama banget.
Yang kedua, Tristan ini punya keanehan sedikit saja nggak sih? Sebagai bangsa troll, paling enggak ada dong keanehan kecil... atau saya melewatkannya? Yaah seganteng-gantengnya pangeran troll dia kan troll murni, saya pikir harusnya ada keunikannya. Kenapa Tristan harus dibuat sempurna? Kenapaaa? *ikutan deramak*
Sedangkan untuk tokoh favorit, saya malah suka Marc, meski buruk rupa tapi saya suka ketenangan dan kelembutannya.

Novel ini cukup detail dalam membangun kontruksi negeri troll dan kekuatan bangsa troll. Saya suka dengan imajinasi yang diperkenalkan Danielle L Jensen, seru rasanya menyusuri kota Trollus dan menemukan makhluk-makhluk luar biasa. Dari segi ini saya merasa tertarik dan terpesona.

Novel ini menggunakan POV orang pertama dari sisi Cécile dan Tristan. Hanya saja lebih banyak dalam porsi Cécile, sementara porsi Tristan hanya sedikit. Alurnya mengalir maju dan lumayan lambat. Terlalu banyak intrik yang membuat saya bingung... dan bosan. Tapi mungkin ini juga karena saya memang nggak menyukai intrik politik. :p

Saat ini saya sedang menimbang-nimbang haruskah saya melanjutkan membaca lanjutan novel ini, The Hidden Huntress. Meski penasaran, tapi saya masih merasa lelah seusai membaca Stolen Songbird.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Tak ada yang tak bisa dicapai oleh sedikit kekuatan kehendak." (hlm. 6)

"Aku hanya berpikir bagaimana terkadang keberuntungan menemukan kita di saat kita tidak begitu mengharapkannya." (hlm. 9-10)

Tindakan bekerja lebih keras dari kata-kata. (hlm. 124)

Beberapa makhluk sebaiknya tetap berada di kurungan mereka. (hlm. 146)

"Aku belajar bahwa keberanian dan pertimbangan yang bijaksana jarang bisa berdampingan." (hlm. 227)

"Seorang bijak pernah menulis bahwa kebenaran yang diucapkan mungkin bukan kebenaran yang kaupikir kau dengar." (hlm. 356)


Senin, 15 Februari 2016

[Posbar] My 5 Book Boyfriends for Valentine


Haii, siapa nih yang kemarin merayakan valentine dengan orang spesial? Gimana, senangkah? ^^
Hari ini Nurina Mengeja Kata ingin berbagi  cowok keren, kira-kira cowok seperti apa yang saya inginkan untuk jadi yang spesial di hari valentine. Kalian mau nyimak? *sodorin biskuit dan air mineral gelas*


Pic source from here


Yang saya suka sebagai pembaca novel roman adalah saya bisa jatuh cinta berulang kali pada tokoh-tokoh novel yang saya baca. Jatuh cinta pada cowok-cowok yang berbeda dan 'selingkuh' tanpa takut dijitak suami. Wkwkk~

Maka berikut adalah My 5 Book Boyfriends for Valentine yang saya seleksi dari buku-buku yang saya baca dalam rentang waktu setahun terakhir.
Mengapa hanya dari buku setahun terakhir?
Ya, agar tahun depan saya bisa bikin beginian lagi dengan pria-pria yang baru. XD

Dan mereka adalaaaaaah....:

1. Marcus Reece, Duke of Exeter
(What A Gentleman Wants - Caroline Linden)

Walaupun dingin tapi Marcus ini bertanggung jawab banget. Setiap kali adik kembarnya bikin masalah, Marcus lah yg menyelesaikan. Marcus juga penyayang, dia rela ngelakuin apa aja demi kebahagiaan orang-orang terdekatnya. Termasuk menyediakan dana besar buat belanja! Hohoooo~ suamiable banget, kan? *matre*

2. Conrad Fisher
(It's Not Summer Without You - Jenny Han)

Conrad ini cowok paling nggak jelas yang saya temui setahunan ini. Nggak jelas apa maunya. Nggak jelas penginnya diapaain. Pengin dicintai apa pengin ditendang. Geregetan gitu baca kemisteriusan dia. Tapi.... ada saatnya Conrad begitu manis saat membuka diri. Dan sebenarnya dia sangat perhatian dibalik sikap nggak pedulinya lho. Dan dia pinter banget. Huhuu~ mau dong diajarin buat ujian. *geret Conrad ke kamar*

3. Nino Fahim Santos
(Cinta Sehangat Pagi - Aimee Karenina)

Cowok balsteran Indonesia-Spanyol ini bikin klepek-klepek bukan hanya karena ganteng, tapi juga karena alim dan menjadi aktivis lingkungan. Nino ini pernah bergabung dengan aktivis penyelamat Paus. *selamatin hati adek aja, Kak~*
Gaya pacaran Nino juga syari banget: nggak pegangan tangan, nggak meluk-meluk, apalagi nyium. Duh, hormat banget kan dia sama tiang bendera... eh sama cewek.

4. Aidan Artalasmana
(Wheels and Heels - Irene Dyah Respati)

Cowok yang satu ini unyu banget karena kepolosan dan kekakuannya. Gemes gitu nglihat dia gampang salah tingkah. Padahal mapan, ganteng, pinter tapi malu-malu sama cewek. Dan selera humornya yang mengenaskan itu, berasa pengin nampol! Tapi gakpapa deh garing, tinggal guyur air aja biar berkuah. *lah emang pangsit*

5. Wolf
(Scarlet - Marissa Meyer)

Cowok macam apa yang bisa bikin saya berpaling dari seorang emperor? Jelas Wolf dong. Saya yang tadinya ngefans sama Emperor Kai jadi jatuh cinta berat sama Wolf. Secara Wolf kan lebih lakik, jago jotos-jotosan. Haha~
Tapi yang saya suka adalah serigala dalam diri Wolf. Sifat pemalu dibalik kegarangannya itu yang bikin gemas. Wolf juga cekatan dan efisien. Lumayan kan buat disuruh-suruh nukang, benerin rumah. *plak*



Naah... itu dia five boyfriends pilihan yang berasal dari buku yang sudah saya baca setahun terakhir ini.
Semoga saja setahun ke depan saya kembali bisa menemukan buku-buku bagus dengan pria-pria cetar membahana agar bisa bikin lagi daftar seperti ini ;)

Lalu, bagaimana dengan kalian? Adakah book boyfriend yang jadi favorit kalian untuk menemani valentine kalian? ^^




 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon