Tampilkan postingan dengan label Anggun Prameswari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anggun Prameswari. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Desember 2015

[Resensi: Perfect Pain - Anggun Prameswari] Ketegaran Bi sebagai Penyintas KDRT


Judul buku: Perfect Pain
Penulis: Anggun Prameswari
Editor: Jia Effendi
Desainer sampul: Levina Lesmana
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: November 2015
Tebal buku: viii + 316 halaman
ISBN: 979-780-840-8
Book available at: bukupedia.com





BLURB

Sayang, menurutmu apa itu cinta?
Mungkin beragam jawab akan kau dapati.
Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi.
Atau malah tentang bekas luka
dalam hati-hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang?
Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka
yang mudah tersembuhkan.
Namun, kau akan jumpai pula luka
yang selamanya terpatri.
Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai,
juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu.
Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri,
sebelum melabuhkan hati?
Memaafkan tak pernah mudah, Sayang.
Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.


RESENSI

Bidari cukup panik saat dipanggil oleh pihak sekolah puteranya, Karel. Menurut Miss Elena, wali kelas Karel, bocah kelas enam itu telah berkelahi dengan teman sekelasnya. Karena buku sketsanya diambil, Karel menonjok dan mencekik temannya. Pilu hati Bidari karena Karel sanggup melakukannya, karena Bidari tahu, Karel yang paling paham kalau dipukul itu sakit.
Bagi sebuah keluarga, meja makan selalu punya cerita tentang apa saja yang terjadi dalam sebuah keluarga. Demikian juga meja makan keluarga Bidari. Hanya saja, ini bukan kisah bahagia, ini kisah tentang tamparan, pukulan dan cekikan yang sering terjadi dalam keluarganya. Kekerasan rumah tangga yang dilakukan Bram, suaminya terhadap dirinya. Meja makan Bi telah merekam hal-hal menyakitkan itu.
Selama ini Bi bertahan, demi Karel, demi keutuhan keluarganya. Juga karena Bi yakin dirinya memang layak diperlakukan seperti itu oleh Bram, suaminya. Bi yakin ia memang tak becus masak dan tak becus mengurus rumah tangga.
Namun tiba-tiba saja Karel pergi tanpa pamit. Rupanya sejak ngobrol dengan Miss Elena dan tahu bahwa pacar Miss Elena adalah seorang pengacara, Karel memutuskan untuk mencari bantuan bagi mamanya. Pilihannya jatuh pada Sindhu, kekasih Miss Elena.
Awalnya Bi menolak. Berpura-pura bahwa yang terjadi dalam rumah tangganya adalah hal yang wajar. Namun ketika pukulan dan penganiayaan Bram membuatnya harus dibawa ke rumah sakit, Bi tak punya pilihan lain. Ia harus berjuang. Demi keselamatannya sendiri dan demi keselamatan Karel.
Mampukah Bi lepas dari jerat KDRT yang dilakukan suaminya? Apakah Bi bisa melepaskan dan memaafkan masa lalunya yang ternyata ikut andil dalam penderitaannya kini? Sanggupkah ia menggapai bantuan yang ditawarkan Sindhu atau justru memilih kembali pada Bram?

------------

Saya akui membaca novel ini perlu kerja keras. Pada awalnya saya hampir menyerah melanjutkan. Bukan karena ceritanya nggak asyik, atau gaya cerita yang membosankan, bukan. Anggun tetaplah penulis kesayangan saya karena gaya berceritanya yang mengalir dan membius. Saya merasa nggak sanggup lebih karena saya nggak tega dan ngilu mengikuti perjalanan kisah Bi.
Sesak napas saya sampai kumat karena ikutan merana memikirkan nasib Bi. Gilak!!

Perfect Pain diceritakan dari sudut pandang Bidari, jadi nyesek-nyesek dan ngilu-ngilunya berasa banget. Diksi yang digunakan dalam novel juga makin menambah rasa teriris-iris. Plotnya pun rapi dan runtut.
Bagi saya yang paling sedih sih bukan kekerasan fisik yang dialami Bi (walau itu  bagian yang ngilu juga) tapi kekerasan mental dari ayah Bi yang bikin saya marah banget. Saya marah karena seharusnya nggak ada anak perempuan yang boleh dilecehkan ayah sendiri!
Sosok ayah kan seharusnya menjadi cinta pertama setiap anak perempuannya. :(

Bidari menjadi karakter yang istimewa bagi saya. Seorang penyintas. Meskipun kemudian saya memakinya karena keputusannya yang sembrono, saya tetap merasa Bi wanita yang tangguh. Melewati tahun-tahun sebagai anak perempuan yang kerap dimaki, kemudian menghabiskan tahun-tahun sebagai samsak istri yang selalu jadi sasaran kemarahan, ia nrimo saja. Memang kesetiaan dan kebebalan itu garis batasnya tipis banget :'(
Kalau saya jadi Bi, pasti sudah memilih kabur dari dulu-dulu. Eh tapi nanti jadi nggak bisa ketemu Sindhu, ya :p
Saya jatuh hati pada Karel. Anak semuda itu melihat kekerasan langsung di depan matanya, berusaha melindungi sang ibu, berusaha bertanggung jawab dan punya tekad kuat. Ada rasa iba sekaligus kagum dalam benak saya. Hanya saja saya merasa terganggu dengan istilah 'tangan mungil' untuk menggambarkan tangan Karel. Ngg... saya sampai menatap tangan murid saya dan merasa nggak pas dikategorikan tangan mungil. Apa karena saya menganggap tangan mungil itu ya tangan seukuran anak-anak saya yang masih balita?

Roman antara Bi dan Sindhu menjadi pemanis di antara gelap dan sakitnya kehidupan Bi. Roman yang pas dan nggak berlebihan. Ya, Bi kan statusnya istri seseorang, jadi romannya tentu nggak neko-neko, dong. Tapi saya suka interaksi Sindhu, Karel dan Bi ketika lomba makan es krim. Aaah... itu bagian yang paling saya suka.

Banyak hal yang saya dapatkan dalam novel ini. Bukan hanya tentang rasa pilu, tapi juga ketegaran. Bahwa kita harus mencintai diri kita sendiri agar orang lain bisa mencintai dan menghargai kita. Ada pelajaran tentang cara melindungi diri juga dalam novel ini. Perfect Pain adalah kisah perjuangan seorang penyintas yang reccomended banget, deh. Kamu, para perempuan yang dilahirkan sebagai perempuan hebat harus baca novel ini.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Rumah adalah tempat kau titipkan hatimu agar kau ada alasan untuk pulang. (hlm. 7)

"Jangan jadikan orang lain alasanmu bahagia atau sedih. Pada dasarnya manusia itu sendiri. Kita lahir sendiri, mati juga sendiri. Jadi, jangan takut pada kesendirian." (hlm. 91)

"A father is every girl's first love. Suka nggak suka, Bi, relasi ayah dan anak perempuannya akan selalu memengaruhi bagaimana anak perempuan memilih pasangannya." (hlm. 150)

"Ada hal-hal yang begitu indah, tapi hanya bisa dikenang. Sejauh apa pun kita berusaha menghidupkannya kembali, nggak akan pernah bisa." (hlm. 175)

"Bi, setiap orang layak dicintai. Kalau di kepalamu selalu tertanam ide bahwa kamu nggak pantas dicintai, maka itulah cara orang akan memperlakukanmu." (hlm. 188)

Kamis, 24 September 2015

[Resensi: After Rain - Anggun Prameswari] Cinta yang Harus Memiliki Nurani


Judul buku: After Rain
Penulis: Anggun Prameswari
Penyunting: Ayuning
Proofreader: Jia Effendie
Desain sampul: Levina Lesmana
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: Agustus 2013 (cetakan pertama)
Tebal buku: 324 halaman
ISBN: 979-780-659-6



BLURB

Mungkin aku dibutakan oleh cinta,
sebab akalku dikacaukan olehmu.
Seberapa banyak pun aku meminta,
kau takkan memilihku.

Ini yang kau sebut cinta?

Menunggumu bukan pilihan.
Izinkan aku meninggalkanmu,
dengan serpihan hati yang tersisa.
Dan jika ternyata dia yang ada di sana,
sama-sama menanggung keping-keping hati yang berhamburan,
saat kami saling menyembuhkan--salahkah itu?

RESENSI

Serenade Senja bersiap untuk memperingati 10 tahun hubungannya bersama Bara, dengan dress cantik dan dandanan sempurna ia ingin merayakan malam itu dengan sama sempurnanya. Namun pertanyaan dari Kean, sahabatnya, tentang hubungan mereka membuat Seren terhenyak.

"Are you sure he's the one?" (hal. 6)

Bara adalah cinta pertama Seren sejak Seren masih SMA, mereka telah lama berpacaran hingga menjejak usia hubungan 10 tahun. Tapi, kebahagiaan itu ternoda karena selama tiga tahun terakhir, Seren harus membagi Bara dengan Anggi dan Lily. Anggi istri Bara. Lily putri Bara dan Anggi.
Bara yang menikah dengan Anggi dalam ikatan perjodohan tak mampu melepaskan Seren karena sangat mencintainya. Sama halnya dengan Seren, ia pun tak bisa meninggalkan dan ditinggalkan Bara. Maka mereka tetap berhubungan di belakang istri Bara. Hingga malam itu.
Seren yang lelah dalam ketidakpastian sebuah penantian menginginkan Bara mengambil sikap. Memilih satu layaknya seorang gentleman. Sayang Bara tak mampu melepaskan Lily. Ia memilih Lily.
Seren pun mundur. Teratur. Dengan hati remuk ia sadar ia harus pergi dari hidup Bara, meskipun hati dan raganya enggan.
Seren memutuskan resign dari kantornya karena tak sanggup terus sekantor dengan Bara. Ia pun melamar menjadi guru bahasa Inggris di sebuah SMA. Di sanalah kehidupan barunya bergulir di bawah tatapan tajam seorang pak guru Elang, kerlingan nakal Kenzo, dan riuh para muridnya.
Sanggupkah Seren melepaskan Bara? Akankah ia menerima Bara saat pria itu siap menceraikan Anggi? Ataukah Seren telah menemukan jawaban dalam mata dan jiwa pria lain?

--------

Saat berhasil menemukan novel ini, saya hampir berteriak: finally!! Akhirnya saya berjodoh dengan After Rain setelah ngidam novel ini cukup lama.
Well, saya memang suka tulisan-tulisan Anggun Prameswari. Anggun adalah salah satu cerpenis koran yang cerpennya saya nantikan hadir di hari minggu ^^
Dan After Rain membuat saya semakin menyukai karyanya. Tema move on dalam After Rain mungkin akan menjadi biasa saja di tangan penulis lain, tapi di tangan Anggun, tema ini menjadi hidup dan mengaduk-aduk emosi saya.
Umm.. saya sih menganggap ini temanya move on, bukan perselingkuhan. Meskipun faktanya Seren merupakan selingkuhan Bara. Karena hanya di beberapa bab awal saja, Seren berstatus selingkuhan, selebihnya adalah usaha dia untuk melepaskan diri dari rasa cintanya terhadap Bara yang sudah mengendap selama sepuluh tahun.

Dengan menggunakan sudut pandang Seren sebagai 'aku', novel ini semakin mendekap saya dalam kerumitan perasaan Seren. Adegan-adegannya dipotret secara filmis. Diksinya disajikan dengan indah dan puitis. Beberapa analogi berasa menusuk dan membuat saya manggut-manggut. Bahkan sejak cerita bergulir di prolog, penulis sudah memberi twist dan membuat saya hanyut dalam pusaran emosi ceritanya yang bergelombang.

Pengkarakteran tokohnya kuat. Ada Seren yang membuat saya gemas setengah mati karena tetap bertahan mencintai pria yang jelas-jelas nggak mau berjuang. Ada Bara, yang saya rasa cukup egois dengan menggunakan cinta sebagai dalih. Ada Kean, sahabat Seren yang pastinya akan saya inginkan ada di kehidupan nyata. Every woman needs bestfriend like her.
Dua tokoh favorit saya dalam novel ini adalah Elang dan Kenzo. Elang yang dingin, tajam dan tertutup. Aih, kata siapa dia sulit dicintai? Justru saya langsung jatuh cinta dari lirikan-lirikan sarat maknanya. :)))
Andai saja guru musik SMA saya seperti Elang, saya nggak bakal bolos tiap mata pelajaran musik ^^
Dan Kenzo, murid cerdas, lumayan tengil tapi kritis. Gayanya waktu dia mempertanyakan kemampuan Seren di depan kelas saat hari pertama mengajar itu sungguh keren. Kelakuannya khas remaja yang kritis.

Deskripsi personal digambarkan dengan cukup detail. Raut wajah, gaya fashion yang digunakan, suasana sekitar jadi terbayang dengan jelas. Penggambaran lingkungan pekerjaan Seren juga sangat kuat. Terasa alami dan mengalir. Tentunya karena itu bidang pekerjaan yang sangat dipahami oleh penulis. Karenanya saya anggap untuk kali ini Anggun masih ingin berada dalam zona nyamannya.

Ada beberapa typo dalam novel ini:

* … tetapi dia yang satu-satunya tidak melihat… --> …tetapi dia satu-satunya yang tidak melihat… (hal. 50)
* ketang --> kentang (hal. 66)
* …dua atau tiga jam lagi? "Gue baru tidur," --> …dua atau tiga jam lagi? Gue baru tidur," (hal. 75)
* butih --> putih (hal. 94)
* lebih lebih --> lebih (hal. 138)
* "Here and There" ujar Kean. --> "Here and There," ujar Kean. (hal. 150)
* mencelos --> mencelus (hal. 264)
* muda --> muka (hal. 275)
* ...terhidang di meja --> ...terhidang di meja. (hal. 289)
*...tersenyum atau bagaimana --> …tersenyum atau bagaimana. (hal. 298)
* agi --> lagi (hal. 309)

After all, saya puaaas banget baca novel ini. Saya pribadi takut merekomendasikan novel After Rain, karena nanti pasti makin banyak yang klepek-klepek sama coolnya Elang :)))
Hahaha...
Hanya allert saja untuk pembaca yang sebal sama perselingkuhan atau pada perempuan yang jadi selingkuhan. Meski menurut saya justru moral cerita ini adalah untuk meninggalkan perselingkuhan dan terus melaju melanjutkan hidup.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Kita masih dua enam. There are so many fish in the sea. Bisa dipancing. Dibakar. Digoreng. Dicocol sambel terasi atau dabu-dabu. Dimasak tim." (hal. 3)

"Cinta itu nggak selalu berakhir di ranjang. Cinta berawal dari hati dan akan selamanya tinggal di dalam hati." (hal. 5)

Bodoh! Bara dan aku tidak boleh terlihat bersama. Entah seberapa dalam perasaan kami, tetap saja harus kami kubur rapat-rapat. Ini cinta atau bangkai? (hal. 22)

"Jangan pernah bilang lo nggak ada pilihan. Kita semua punya pilihan, cuma kadang kita malas melihat kemungkinan yang ada." (hal. 90)

Sungguh, pengabaian adalah bentuk hukuman terberat untuk orang yang kita cintai. (hal. 107)

"Kalau ada yang bilang bye, lebih baik kamu jawab see you. Kecuali kalau kamu benar-benar nggak mau ketemu dia lagi." (hal. 178)

"Patah hati bukan vonis mati." (hal. 189)

"Cinta itu energi, Seren. Lo nggak bisa menciptakan cinta di dalam hati lo, sama seperti lo nggak bisa menghancurkannya. By default, hati setiap orang itu berisi cinta." (hal. 194)

Kamis, 25 Juni 2015

[Resensi: Love at School by Guntur Alam dkk] Merasakan Cinta di Sekolah


Judul buku : Love at School
Kategori : Kumpulan Cerita Pendek
Penulis : Guntur Alam, Anggun Prameswari, Faisal Odang, dkk
Editor : Pradita Seti Rahayu
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun terbit : 28 Januari 2015
Tebal buku : 181 halaman
ISBN : 978-602-02-5692-4




BLURB

"Ia selalu ada … rasakan kehadirannya."

Pernahkah kamu bertanya, mengapa senyuman yang selalu dia perlihatkan ketika melintasi kelasmu setiap pagi membuat jantungmu memompa darah lebih cepat?

Pernahkah kamu bertanya, mengapa obrolan tak serius di perpustakaan dengan dia bisa menjadi pemicu mimpi indahmu di malam hari?

Atau, mengapa cemburu yang muncul setelah melihat dia berjalan ke kantin dengan yang lain membuat harimu terasa berantakan di sekolah?

Jangan menduga-duga jawaban. Mungkin itu cinta.

Sama seperti enam belas kisah yang ditulis oleh Guntur Alam, Anggun Prameswari, Faisal Oddang, Pretty Angelia, Ria Destriana, Fakhrisina Amalia Rovieq, Afgian Muntaha, Pipit Indah Mentari, Mel Puspita, Fitriyah, Karina Indah Pertiwi, Afin Yulia, Ruth Ismayati Munthe, juga Dilbar Dilara.

Mereka merasakan kehadirannya. Tak pernah absen.

Cinta itu selalu ada … di sekolah.



RESENSI

Love at School merupakan kumpulan cerita remaja tentang kisah-kisah cinta berlatar sekolah. Cerpen-cerpen ini merupakan hasil dari event yang digagas Guntur Alam melalui akun twitter-nya.

Ada 16 judul cerita pendek yang manis-asam-pahit di dalam buku Love at School ini, yaitu:

* Katanya sih Ini Cinta karya Dilbar Dilara
* Cinta Sulit si Jangkung karya Afin Yulia
* Waktu Hujan Reda karya Ria Destriana
* Puzzle karya Fakhrisina Amalia Rovieq
* Jam Tangan untuk Nanda karya Agfian Muntaha
* Unnamed Love karya Pipit Indah Mentari
* Detention karya Mel Puspita
* Jangan Pernah Salahkan Waktu karya Fitriyah
* Love Code karya Karina Indah Pertiwi
* Hanya dengan Foto karya Pretty Angelia
* Library We Meet karya Ruth Ismayati Munthe
* Dongeng Bunga Matahari karya Anggun Prameswari
* Pangeran Cinta di Bus Kota karya Guntur Alam
* Warna Keberuntungan Maura karya Guntur Alam
* Cerita Tentang Hujan karya Guntur Alam
* Surat Malala karya Faisal Oddang

Dari ke-enambelas cerita pendek tersebut ada beberapa yang menarik perhatian saya.
Salah satunya adalah Waktu Hujan Reda. Cerita dari Ria Destriana ini mengalir dengan lincah, dialognya luwes dan hidup. Kisahnya memang bisa ditebak tapi tokoh cowoknya, Rendy, bikin gemes. :)

Jam Tangan untuk Nanda membuat saya teringat masa SMP. Problem Nanda sama seperti saya, nggak bisa pakai jam tangan keren karena terlalu kurus. Bedanya Nanda ingin pakai G-Shock, kalau saya ingin pakai Baby-G yang merupakan versi feminin dari jam tangan tersebut. Kalau saya dulu nekat nambahin lubang pada jam tangan, Nanda memilih untuk meningkatkan berat badan. Hasilnya Nanda jadi cowok 'kayu jati' yang tegap dan keren. Tapi bukan itu saja yang membuat saya senyum-senyum baca karya dari Agfian Muntaha ini, tapi juga kejutan yang ada di akhir ceritanya yang bikin ngakak :D

Cerpen Love Code juga menarik diikuti. Saya ikut menebak-nebak siapa pengirim surat cinta yang unik itu. Unik karena si pengirim menulis surat cinta yang hanya berisi kode deretan huruf dan angka. Karya Karina Indah Pertiwi ini menurut saya enak dibaca karena mengalir dengan rapi.

Satu lagi cerpen yang bikin baper, Hanya dengan Foto karya Pretty Angelia. Jadi pengen naik ke Pangrango lagi, sambil bawa kamera. Suka dengan cerpen ini karena tema fotografi dan twist-nya. Maniiisss banget, deh, ceritanya ^^

Dongeng Bunga Matahari adalah favorit saya! Bukan hanya karena saya dulu juga pernah berpikir bahwa saya hanyalah bunga matahari, tapi cerita dari Anggun Prameswari ini bikin nyesek. Mengharu-biru apalagi puisinya. Saya sempat merasakan setitik asa untuk Bunga sebelum ia tertampar kenyataan :'(

Ada tiga cerpen dari Guntur Alam yang menarik semua. Tapi yang paling saya sukai adalah Warna Keberuntungan Maura. Saya nyengir baca ending-nya. Nggak tertebak dan bikin penasaran.

Surat Malala merupakan cerpen penutup dari Faisal Oddang. Cerpen yang legit dengan alur yang menarik.
Well, bisa saya katakan ini merupakan hal yang saya sukai dari susunan kumcer Love at School. Saya suka menyimpan bagian terbaik di akhir. Urusan makanan, bacaan atau apa pun selalu yang paling enak atau paling baik saya sisakan untuk dinikmati terakhir. Makanya saya suka, karena lima cerpen terakhir adalah cerpen terbaik menurut saya. Rasanya jadi lupa pada beberapa cerpen yang membuat saya mengerutkan dahi. Entah karena gaya penulisannya yang masih kaku, narasi tokoh cowok yang 'bersuara' cewek, ataupun eksekusi yang kurang mengena.

Saya rekomendasikan Love at School bagi pembaca remaja yang sedang mabuk cinta juga pembaca dewasa yang ingin bernostalgia dengan cinta semasa sekolah. Pesan saya hanyalah: awas baper. Haha…
Saya beri 4 bintang untuk Love at School.


TEBAR-TEBAR KUTIPAN

"Put, itu cowok paling ganteng satu sekolah!" Lili menunjuk ke arah podium. (Katanya sih Ini Cinta - hal. 1)

Banyak orang berpikir jadi jangkung itu menyenangkan. Sampai-sampai terobsesi untuk menambah tinggi badan. Tetapi, yang terjadi denganku justru kebalikannya. Aku tidak ingin tumbuh tinggi. Sebab tinggiku yang lebih dari 170 cm ini membuatku kesulitan mendapat pacar. Sudah lima kali cowok yang kutaksir menolakku dengan alasan yang sama -- aku ketinggian. (Cinta Sulit Si Jangkung - hal. 10)

"Bosannn…!" teriak Rendy dari balik jendela. Suaranya yang besar menggema mengalahkan deras air hujan yang turun. (Waktu Hujan Reda - hal. 23)

Sylvana bilang, cinta itu kayak potongan-potongan puzzle, nggak bisa menyatu kalau nggak ketemu kepingan yang pas. Tapi aku nggak setuju. (Puzzle - hal. 36)

Ada pepatah lama yang tidak kuketahui siapa pencetusnya yang berbunyi, "Setiap langkah besar selalu dimulai dari satu langkah kecil." Dan aku sangat setuju dengan hal itu. Aku memang mengalaminya sendiri. Sebuah langkah besarku dimulai dari satu langkah yang benar-benar kecil. Bahkan, alasanku mengambil langkah kecilku pun juga adalah hal kecil juga, yaitu jam tangan. (Jam Tangan untuk Nanda - hal. 47)

"Perlukah rasa cinta diberi nama?" tanyanya pada suatu sore. (Unnamed Love - hal. 63)

Keringat kini menetes sebulir-sebulir dari leherku. Aku yakin sekali kalau nyaris seluruh cairan di tubuhku sudah menguap di udara panas yang diam. Aku sudah tak tahan. Kurundukkan kepalaku perlahan agar tak ketahuan Mr. Poltak yang sedang menerangkan puisi dan sajak di depan kelas. Matanya yang minus tujuh kukira tak akan membuatku repot mencuri-curi kesempatan menyesap es soda yang kusimpan di laci mejaku. (Detention - hal. 71)

Sebagian orang berkata bahwa pertemuan pertama itu selalu menyenangkan dan menakjubkan, tapi tidak ada yang istimewa dengannya. Ia datang terlambat ke kelas, memakai jaket dan rambut gondrongnya ia tutupi dengan topi lalu duduk di paling belakang, dan di antara bisingnya obrolan kelas kami, kulihat ia sibuk dengan spidol dan menggoreskan sesuatu dengan serius di binder miliknya. Sebentar, kenapa aku begitu memperhatikannya? (Jangan Pernah Salahkan Waktu - hal. 83)

Cinta. Sesuatu yang selalu didambakan tetapi sulit diungkapkan. Sesuatu yang selalu dinanti tetapi sulit dipahami. Begitulah cinta. Ketika kalimat "I love you" tak bisa diungkapkan dengan tutur kata, ketika rasa ingin memiliki terpendam dalam hati, hanya angan dan harap yang tersisa. Menyatakan cinta secara langsung memang tidak mudah. Lalu bagaimana dengan menyatakan cinta secara tidak langsung? Tentu menjadi mudah berkat adanya Mading alias Majalah Dinding. (Love Code - hal. 94)

Aku tak begitu mengerti mengapa aku sangat tertarik dengan kamera. Yang jelas kamera sudah menjadi nyawa keduaku saat ini. Maka dari itu aku sangat menyukai fotografi. Dan yang kutunggu-tunggu tentunya adalah kompetisi fotografi yang seperti ini. (Hanya dengan Foto - hal. 106)

Februari 2013
"Bruk! Bruk!"
Lagi-lagi aku menjatuhkan buku-buku yang ada di rak perpustakaan sekolah ini. Kenapa sih, aku ceroboh banget? Padahal aku sudah lama pakai kacamata, supaya mataku yang minus ini tidak terus-terusan mengacaukan segala hal yang aku lakukan. Tapi sepertinya mengacaukan memang sudah jadi kebiasaanku. Bahkan, orang-orang yang ada di perpustakaan ini saja sepertinya juga sudah terbiasa dengan tingkah lakuku ini. Seperti dia, yang kali ini juga membantuku membereskan buku-buku yang kujatuhkan. (Library We Meet - hal. 117)

Hei kamu, ya kamu yang ada di situ,
Ada kisah yang mungkin kau belum tahu,
Tentang bunga matahari, sedikit pilu, tentu
Dengarkan, aku akan berkisah kepadamu
(Dongeng Bunga Matahari - hal. 127)

"Wit, tar pulang sekolah gue ikut lu berdua naik bus lagi ya?" ucap Cinta sembari mengaduk es jeruk yang ada di depannya. Wita terbelalak, buru-buru ia menoleh kepada Iren yang duduk di sebelahnya. Iren mengangkat sedikit bahunya, bingung. (Pangeran Cinta di Bus Kota - hal. 137)

Maura tercekat. Ia menahan napas dalam beberapa detik. Bola matanya membulat, ia benar-benar tak memercayai apa yang ia lihat barusan. Berulang kali ia membaca tulisan di halaman majalah kesayangannya itu. Tak berubah! Di sana tertera nama lengkap dan alamat rumahnya. Ia terpilih sebagai salah satu pemenang tiket nonton konser Super Junior di Jakarta. (Warna Keberuntungan Maura - hal. 147)

Hujan bulan November turun, Wi. Masih seperti tahun-tahun yang lalu. Disertai angin dan tetes air yang besar-besar. Dan kamu tahu? Sekarang tanggal 20 November. Hari ulang tahun kita. Ritualku masih seperti dulu, membuka- buka album kenangan yang menyimpan cerita tentang kita berdua. (Cerita Tentang Hujan - hal. 155)

Kepada Isuri…

Isuri bergeming. Ini sudah tiga hari dalam seminggu ia mendapati di mading sekolah ada puisi yang ditujukan buatnya. Pengirimnya sama, Malala. Hary Malala. Kembali, Isuri menatap dengan rasa haru yang bergolak di dadanya. Ia memperhatikan puisi itu. Perlahan membaca bagian yang baginya sangat jleb, di hati. (Surat Malala - hal. 165)

Note: cuplikan merupakan paragraf awal pembuka cerpen.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon