Tampilkan postingan dengan label Stiletto Book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stiletto Book. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2016

[Resensi] Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi - Herlina P Dewi


Judul buku: Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi
Penulis: Herlina P Dewi
Editor: Weka Swasti
Proofreader: Carolina Ratri
Desain cover: Teguh Santosa
Layout isi: Arya Zendy
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Oktober 2015
Tebal buku: 218 halaman
ISBN: 978-602-7572-42-3



BLURB

Berbagai masalah berkaitan dengan keuangan pribadi akan dibahas dengan detail dalam buku ini, seperti:
• Cara membuat dan mengelola anggaran
• Cerdas mengatur pengeluaran
• menyiasati 'pengeluaran nakal' perempuan
• Pentingnya perempuan menabung
• Memilih produk asuransi dan investasi.
• Dan lain-lain

Bagi Anda yang sudah menikah, dalam buku ini juga dibahas keuangan suami-istri, yang menjawab berbagai pertanyaan, seperti:
• Apakah sebaiknya si istri tetap bekerja?
• Bagaimana mengelola anggaran keluarga?
• Pengeluaran apa yang bisa dipangkas?
• Dan lain-lain

Buku ini juga dilengkapi dengan kuis, tabel-tabel simulasi, serta contoh-contoh kasus yang sering dialami perempuan, sehingga akan sangat mudah dicerna dan dinikmati.
So, say YES to financial freedom, Ladies!


RESENSI

Sebelum membahas tuntas bagaimana cara Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi, saya terlebih dulu diuji dengan semacam kuis mengenali diri. Kuis yang harus dijawab jujur seeeejujur-jujurnya untuk mengetahui apakah saya tergolong dalam tipe boros, tipe perhitungan atau tipe supertertib?
Sayang pertanyaan dan pilihan jawabannya khas wanita sekali, jadi kadang saya bingung mau pilih yang mana, misal:
Apakah Anda tahu berapa uang yang Anda habiskan untuk facial di salon langganan?
Karena saya nggak pernah facial, dan ke salon juga cuma buat potong rambut, saya anggap aja pertanyaannya adalah berapa uang yang saya habiskan untuk hobi saya (membaca) dan uang yang saya habiskan untuk memenuhi hobi saya (membeli buku). Huehue..

Setelah mengenali diri, saya diajak memahami Pentingnya Merencanakan Keuangan Pribadi dan dibantu menyusun anggaran. Saya diajak menentukan target jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang serta membuat catatan pengeluaran yang dibagi dalam tiga kelompok: pembayaran utang, tabungan rutin dan biaya hidup.
Nah... nah... lalu gimana dong kalau pengeluaran lebih besar dari pemasukan? Jangan kuatir. Ada trik-trik yang disarankan dalam buku ini untuk mensiasatinya.
Yang paling saya suka dari buku ini, Herlina P Dewi memberikan contoh tabel-tabel anggaran keuangan yang bisa kita isi, lho.
Bagi perempuan yang sudah menikah seperti saya, di buku ini dipaparkan dengan komplit apa yang harus saya lakukan agar keuangan nggak bikin geger dan perang, tapi justru makin mempererat romantisme.. tsaah. Karena ada ulasan tentang perlu tidaknya istri bekerja, apa saja yang mesti dipertimbangkan untuk mengambil keputusan, dibahasa tuntas di buku ini lengkap dengan tabel simulasi apabila istri bekerja dan apabila tidak bekerja.
Berlanjut ke cara Mengelola Rekening Bank, penulis dengan rapi membagi penjelasannya untuk perempuan lajang dan untuk yang telah berkeluarga. Kira-kira berapa banyak rekening yang sebaiknya kita miliki? Jawabannya ada di sini.

Di chapter dua saya diajak untuk Mengelola Pemasukan yang berupa mengelola pendapatan bulanan dan mencari penghasilan tambahan. Nah ini penting bagi ibu rumah tangga macam saya karena ada tips-tips agar upaya sampingan bisa sukses.
Yang gak kalah pentingnya adalah... mengelola THR. Haduuh... kalau diberi uang THR itu, pasti yang muncul di pikiran adalah apa saja yang bisa dibeli dengan uang tersebut, ya kan? Tapi eits.. ternyata THR pun harus dikelola dengan baik agar tidak menguap. Pokoknya cara supaya nggak tekor saat lebaran bisa dipelajari di buku ini.
Lalu yang nggak kalah nyeseknya adalah tentang manajemen utang. Ternyata ada minimal tiga pertanyaan kunci sebelum memutuskan untuk berutang. Saya pun terbantu dengan tujuh langkah bebas utang yang dituturkan dengan terperinci. Semangaaat bebas utang!

Dalam chapter tiga, saya dibantu Mengelola Pengeluaran. Sebagai perempuan cerdas, saya harus mengubah kebiasaan belanja dengan bantuan tips cerdas membelanjakan uang, untuk menghindari pengeluaran "nakal" perempuan. Hihihii...
Bagi yang punya masalah dengan kartu kredit, tenang saja... buku ini membahas tuntas cara memperlakukan kartu kredit dengan bijak.

And then, tiba waktunya saya diajak Memikirkan Masa Depan di chapter empat. Karena saya perempuan, saya harus menabung. Mengapa? Ya karena saya perempuan *diinjek*
Membaca fakta-fakta yang harus dihadapi perempuan saya manggut-manggut dan merasa bersalah karena nggak tertib menabung. Untung buku ini memaparkan produk-produk investasi lengkap dengan risikonya. Tinggal tentukan saja mana yang cocok untuk saya.

Hingga di chapter lima ketemulah saya dengan mitos-mitos tentang uang, masalah-masalah keuangan dan solusinya dan yang paling keren adalah: resolusi keuangan bulanan! Aiih... bisa sehat nih keuangan saya kalau bantuannya detail begini.

Yeaay... semoga saya berhasil menerapkan apa yang saya dapatkan di dalam buku Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi. Kuncinya adalah disiplin dan semangaaat!
Buat teman-teman perempuan hebat baik yang masih lajang maupun telah berkeluarga saya rekomendasikan deh buku ini karena selain mencerahkan ada kuis-kuis untuk mengenali diri kita dalam memperlakukan keuangan dan things to do yang berguna banget. Layout di dalam buku ini pun asyik dan seru sehingga saya nggak bosan membacanya.

Sabtu, 26 Maret 2016

[Resensi] Dear Friend With Love - Nurilla Iryani


Judul buku: Dear Friend With Love
Penulis: Nurilla Iryani
Editor: Herlina P. Dewi
Desain cover: Teguh Santosa
Layout isi: Deeje
Proofreader: Tikah Kumala
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Januari 2013 (Cetakan II)
Tebal buku: 146 halaman
ISBN: 978-602-7572-07-2
Book available at: Bukupedia.com




BLURB

Katanya, a guy and a girl can't be just friends. Benarkah? How about Karin and Rama?

Karin

Delapan tahun! Itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi yang aku dapat selama ini justru semua cerita saat kamu jatuh cinta dengan puluhan wanita lain di luar sana. Puluhan wanita yang selalu berakhir membuatmu kecewa. Rama, sadarkah kamu, wanita yang nggak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini? Aku. Sahabatmu, tolol!

Rama

Satu di antara seribu alasan kenapa gue nyaman bersahabat dengan Karin adalah ketidakwarasannya membuat gue tetap waras di tengah gilanya kehidupan Jakarta. Ya, dia adalah teman adu tolol favorit gue. Oh iya, gue punya satu lagi alasan: dia cantik banget, man! Nggak malu-maluin buat diajak ke pesta kawinan kalau gue kebetulan sedang jomblo. Paket komplit!


RESENSI

Persahabatan Karin dan Rama sudah berjalan selama delapan tahun. Selama itu pulalah Karin memendam perasaan terhadap Rama, sahabatnya tercinta. Sayangnya Rama berkali-kali gonta-ganti pacar dan membuat Karin patah hati.
Kali ini Rama lagi-lagi menemukan kekasih baru, seorang model cantik bernama Astrida Irsyad, atau yang dipanggil Cicit oleh Rama. Lagi-lagi, Karin harus tersiksa melihat kedekatan Rama dengan kekasihnya. Terlebih ketika Rama meminta bantuan Karin untuk melamar Cicit. Karin kelimpungan.
Di tengah kesedihannya, muncullah Adam, teman masa kecil Karin. Ibu Karin dan ibu Adam berusaha mrnjodohkan Karin dengan Adam. Dengan setengah hati, Karin pun bersedia menemani Adam yang sedang cuti dari pekerjaannya di Saudi. Lama menghabiskan waktu dengan Adam membuat Karin merasa dihargai, merasa dikasihi dan diprioritaskan. Berbeda dengan saat-saat bersama Rama yang lebih menganggap Karin sebagai tempat sampah dan pilihan kedua.
Namun tetap saja Karin merasa gamang. Baginya cintanya hanya untuk Rama. Saat Rama menyadari siapa gadis yang ia butuhkan dalam hidupnya, siapakah yang akan Karin pilih pada akhirnya?

-------------

Dear Friend With Love merupakan novel yang berangkat dari novel blog mingguan, itu sebabnya novel ini terasa lincah dan bebas.

Novel ini menggunakan POV orang pertama secara bergantian, dari sisi Karin dan sisi Rama. Sayang nggak ada POV dari sisi Adam atau Cicit. Tapi, yaa fokus utamanya memang hubungan friendzone antara Rama dan Karin sih.
Kedua tokoh ini sama-sama gokil, pemikirannya kocak, narsisnya kebangetan dan dialognya lucu. Sehingga kadang saya lupa ini yang sedang cerita Rama atau Karin? Saking miripnya gaya ceplas-ceplos mereka.
Kalau saja nggak ada pembeda penggunaan "aku" dan "gue", tentunya saya bakal makin bingung.

Karakternya sendiri lumayan menyenangkan. Saya suka dengan Karin yang lucu. Meski hati dan perasaannya terluka, dia tetap ada untuk Rama. Memendam perasaan sebelah pihak selama delapan tahun itu luar biasa menurut saya. Tapi mungkin karena mereka bersahabat, Karin juga jadi susah move on.
Sementara Rama walau kocak tapi narsisnya selangit. Kepedean akut. Benar-benar tipikal cowok yang nyebelin. Apalagi beberapa kali dalam perang batinnya, Rama kelihatan banget egois dan cari enaknya sendiri.
Sementara untuk Cicit, kok susah ya sebel sama makhluk ini, biarpun Rama berulang kali memaafkan tingkah laku Cicit karena Cicit cantik (nah, bener kan Rama tuh nggak banget sifatnya), tapi pemikiran Cicit malah berkesan dewasa.
Sedangkan tokoh Adam, huhuu... ada gitu ya cowok kayak Adam? Udah baik, perhatian, lucu, ramah dan selalu jadi prince charming.
Hmm~ karakternya memang loveable semua, eh kecuali Rama sih. Kalau Rama itu keplak-able banget. 

Bagi saya Dear Friends With Love benar-benar bacaan ringan yang kocak dan menghibur. Alurnya maju dengan cepat tanpa bertele-tele, gaya bertuturnya ceplas-ceplos dan bercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tapi selain kalimat-kalimat yang mengocok perut ada juga kalimat-kalimat dalem yang quotable.

Nah, buat kalian yang masih terjebak friendzone, coba deh baca novel ini. Seru banget dan gampang dibaca sekali duduk, semoga saja setelah baca novel ini, kalian bisa move on. Atau... justru malah terjebak makin dalam? Hehe~

Minggu, 06 Maret 2016

[Resensi: Letters to Aubrey - Grace Melia] Surat-Surat Cinta untuk Ubii


Judul: Letters to Aubrey
Penulis: Grace Melia
Editor: Triani Retno A
Proof Reader: Herlina P. Dewi
Desain cover: Teguh Santosa
Layout isi: Deeje
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Mei 2014
Tebal buku: 266 halaman
ISBN: 978-602-7572-27-0




BLURB

Congenital Rubella Syndrome merupakan kumpulan kelainan akibat virus rubella yang menginfeksi kehamilan seseorang.

Melalui buku ini, penulis mengajak kita masuk dalam perjalanan yang penuh warna ketika dia membesarkan putrinya yang berkebutuhan khusus–akibat terinveksi virus rubella. Ada penolakan, kecewa, dan juga letih yang lambat laun menjadi rasa ikhlas dan optimis. Sebagai ketua komunitas Rumah Ramah Rubella, penulis juga membuka wawasan kita tentang TORCH pada umumnya dan rubella pada khususnya. Dia pun menyerukan pesan kepada orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk terus optimis karena mereka tidak berjuang sendirian.

Semua informasi, pesan, serta rasa cintanya pada sang anak dituangkan dalam bentuk kumpulan surat dengan kata-kata yang ringan dan penuh makna. Buku ini sarat akan cinta seorang ibu pada anaknya. Lewat kumpulan surat ini, penulis ingin putrinya mengerti bahwa ia dicintai dan dibanggakan sebagaimana adanya. 


RESENSI

Menanti kelahiran buah hati pastilah pengalaman paling mendebarkan bagi sebagian besar ibu. Perasaan senang dan cemas silih berganti menjelang hari persalinan.
Maka ketika sang buah hati akhirnya datang ke dunia, saya yakin itulah saat seorang wanita merasakan cinta pada pandangan pertama yang sesungguhnya. Seperti apa pun kondisi buah hati.

Buku Letters To Aubrey ini mengajak saya untuk menyelami seluk perasaan Grace Melia dalam melahirkan dan membesarkan Aubrey Naiym Kayacinta. Nama yang sungguh cantik, secantik sang bayi.
Buku ini berisi surat-surat Grace teruntuk sang buah hati Aubrey, atau yang lebih akrab disapa Ubii, yang diceritakan terkena congenital rubella syndrome, akibat terinfeksi virus rubella sejak dalam kandungan.
Ubii mengalami gangguan pendengaran, kebocoran jantung, serta kerusakan saraf otak. Namun itu tak menghentikan Ubii untuk tumbuh sehat, pintar dan cantik dari waktu ke waktu. Waktu yang tak mudah, waktu yang membutuhkan kesabaran dan perjuangan, waktu yang spesial... karena Ubii memang spesial.

Melalui Letters to Aubrey, Grace membagi kisahnya selama menemani Ubii menjalani tes demi tes, terapi demi terapi dan menceritakan kemajuan-kemajuan yang berhasil dicapai Ubii. Juga kemajuan-kemajuan yang dicapai Grace dan suami sebagai orangtua.
Buku ini juga berusaha menyadarkan pembaca tentang pentingnya screening TORCH dan vaksin MMR bagi para calon ibu. Grace bahkan menjabarkan tentang dana yang harus ia keluarkan selama pengobatan Ubii untuk memberi perbandingan dengan dana pencegahannya.

Sebagai kader pembina keluarga yang memiliki balita di kampung, saya tahu bahwa sosialisasi TORCH sungguh minim sekali. Bahkan pertemuan dan penyuluhan rutin dengan tim puskesmas pun belum pernah sekalipun membahas secara mendalam apa, bagaimana dan seperti apa virus TORCH terutama bagi ibu hamil. Padahal di kampung saya ada satu anak spesial yang kemungkinan ibunya dulu juga terpapar virus TORCH.

Tadinya saya takut akan mewek-mewek sedih saat membaca buku ini. Tapi dugaan saya salah. Surat-surat ini ditulis bukan dengan kedukaan dan keputusasaan tapi ditulis dengan penuh cinta kasih dan harapan serta kebanggaan. Rasanya saya tersentuh dan tersentil dalam waktu bersamaan.

Saya rekomendasikan buku ini untuk para calon ibu juga para orangtua. Bagaimanapun kondisi putra-putri kita, mereka layak tumbuh dengan penuh cinta, penuh penerimaan dan penuh kebanggan diri. Tuhan mengasihi anak-anak, Tuhan juga mengasihi kita dengan menitipkan anak-anak yang luar biasa agar kita menjadi sempurna.

Selasa, 26 Januari 2016

[Resensi: Broken Vow - Yuris Afrizal] Menguak Rahasia Tiga Luka Pernikahan


Judul buku: Broken Vow
Penulis: Yuris Afrizal
Editor: Weka Swasti
Desain cover: Theresia Rosary
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal buku: 270 halaman
ISBN: 978-602-7572-41-6



BLURB

Tiga sahabat. Tiga pernikahan. Tiga luka.

Amara, dia punya segalanya. Kecantikan yang sempurna dan kehidupan pernikahan yang diimpikan setiap perempuan. Namun, hanya kisah Cinderella yang berakhir happily ever after, karena ternyata mencintai saja tidak cukup, dan menjadi sempurna pun tidak cukup.

Nadya, memiliki karier yang cemerlang. Menikah di usia 30 hanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengganggunya. Baginya, keinginan dan harapan kadang berbenturan dengan realita yang ada.

Irena, si superwoman. Berkarier dan menjadi ibu rumah tangga sekaligus. Potret keluarga bahagia yang sesungguhnya. Namun, siapa yang mengira jalan hidup Irena akan menikung tajam?

Siapakah di antara tiga sahabat ini yang paling berbahagia dalam pernikahannya–atau justru paling menderita? Prasangka dan iri pun diam-diam ada di hati mereka. Apakah persahabatan yang telah terjalin itu dapat tetap bertahan? Dan, dapatkah mereka menemukan kebahagiaan masing-masing?


RESENSI

Dari luar, pernikahan Amara dengan Nathan benar-benar bak cerita dongeng. Bertemu di sebuah pesta perayaan tahun baru, Amara dengan jelas dan tegas menolak untuk tidur bersama Nathan, sang don juan, dan malah membuat Nathan bertekuk lutut hingga membawa Amara ke pelaminan. Banyak yang bilang Amara membuat Nathan insyaf dari sikapnya yang suka gonta-ganti pacar. Pernikahan yang membuat iri karena Nathan yang kaya raya itu membuat hidup Amara sangat berkecukupan. Tapi di dalam, pernikahan ini tidaklah seindah yang dilihat orang. Akhir-akhir ini Nathan menjauh dan Amara mencium bau busuk seiring dengan semakin seringnya ia menemukan bau parfum wanita dan noda lipstik di baju Nathan.

Nadya memang terlihat yang paling santai di antara para sahabatnya. Baru menikah di usia tiga puluh tahun dengan sahabatnya sendiri, Dion, dan kemudian mengumumkan bahwa ia hamil. Tak ada yang tahu bahwa ia masih menyimpan rasa cintanya pada Leo, kekasih yang telah meninggalkannya demi mengejar karier di Paris. Hanya Dion yang tahu tapi tetap mencintainya. Kehamilan bukanlah kabar bahagia baginya. Nadya merasa tertekan karena pernikahan dan kehamilan yang tak ia inginkan. Tapi saat Leo kembali dan meminta Nadya untuk kembali  pada pria itu, mengapa ia jadi ragu?

Irena yang lebih dulu menikah dibanding kedua sahabatnya, tampak terlihat seperti memiliki keluarga paling bahagia. Dengan suami yang meski manja tapi sangat family man, dan dua anak yang manis, Irena pun menjalani tugasnya sebagai istri, ibu dan juga wanita karier. Tapi lama-kelamaan ia mulai kewalahan. Putranya, Aron, mulai sering bertingkah dan manajemen waktunya kacau balau.
Ketika ia mulai memantapkan diri untuk resign dari kantor dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, Mas Juna malah melarang. Padahal dulu Mas Juna paling getol menyuruhnya berhenti. Ketika Mas Juna mengaku telah menghabiskan uang tabungan mereka sebesar seratus juta, saat itulah Irena sadar, pernikahannya mendapat ujian hebat.
Bisakah mereka mengatasi problema rumah tangga masing-masing dan tetap menyembunyikannya dari sahabat yang lain hanya karena gengsi?

-------------


"Apa menikah membuat kita bahagia?" - Nadya (hlm. 4)

Dari kavernya Broken Vow terlihat elegan tapi juga seperti menyimpan kesenduan. Mungkin warnanya, mungkin juga angle fotonya, yang jelas ekspresi ketiga wanita ini yang nggak terlihat oleh pembaca, menunjukkan bahwa banyak rahasia yang mereka simpan.

Tema Broken Vow benar-benar menarik, tentang persahabatan dan kehidupan pernikahan yang dari luar tampak gilang-gemilang tapi di dalam menggerogoti kebahagiaan mereka. Ibaratnya kalau orang jawa bilang "urip iku wang-sinawang". Kita cuma bisa melihat kehidupan rumah tangga orang lain dari luar dan merasa iri, padahal belum tentu yang terjadi di dalamnya seindah kelihatannya.
Broken Vow menyajikan keruwetan problem rumah tangga bukan hanya dari satu sisi pernikahan tapi tiga pernikahan sekaligus. Ini benar-benar kisah yang biasa terjadi di lingkungan sekitar kita sehingga saya merasa relate dengan ceritanya.

Menggunakan POV orang pertama secara bergantian antara Amara, Nadya, dan Irena, novel ini semakin menyeret saya dalam naik turunnya kehidupan pernikahan mereka. Plotnya lumayan rapi dengan alur maju mundur. Saya nggak bisa berhenti membacanya dan menebak-nebak apa yang akan terjadi.
Dan saya cukup dikagetkan dengan penyelesaian konflik pernikahan Amara. Melihat gelagatnya saya pikir ending mereka nggak akan seperti itu. Tapi setelah dipikir lagi, ini ending yang logis dan realistis. Bukan jenis ending novel-novel harlequin yang tipikal novel banget :)

Penokohannya kuat dan cukup berasa perbedaannya. Terutama Irena yang menurut saya kacau banget. Saya sudah merasa nggak simpati dengan dia yang manajemen waktunya kacau balau. Kelihatan kalau rumah tangganya kurang komunikasi dan ia menganggap dirinya superwoman.
Saya selalu menganggap bahwa pernikahan bukan hanya tentang cinta ,tapi juga komunikasi dan kompromi. Entah bagaimana dengan pasangan-pasangan dalam novel ini, tapi sebelum menikah, saya selalu menanyakan skenario 'what if' dengan pasangan saya. Saya ingin tahu bakal kompak nggak kami nanti. Karena itulah yang terpenting. Saya nggak mau kejadian kayak Irena gini, kelimpungan tiap pagi, nyiapin suami kerja, anak-anak sekolah dan diri sendiri siap-siap ke kantor. Minimal saya ingin pasangan saya paham dan sigap saat saya butuh bantuan. *laah.. kenapa saya malah ceramah?* :)))

Haissh... balik ke topik. Tentang Irena saya juga merasa ia cukup nggak sehat memandang persahabat mereka bertiga. Rasa iri dan gengsinya kelihatan jelas. Saya dibuat geleng-geleng kepala karena ia dengan mudahnya menghakimi Nadya dan Amara. Padahal mereka sudah berteman bertahun-tahun.

Saya paling suka dengan perkembangan Nadya. Digantung bertahun-tahun memang nggak enak, tapi balas menggantung orang lain juga bukan tindakan yang bijak. Untungnya sih, Dion pasrah-pasrah aja.
Tapi saya juga suka sikap tegas Dion saat melihat Nadya dan Leo bersama. Dan kejadian heboh di rumah sakit itu lucu juga. Masa berantem di ruang bersalin. Itu kalau terjadi di rumah sakit tempat saya bersalin, pasti mereka udah ditendang sama bidan kepala. Haha~

Overall, saya suka banget novel ini. Tentang ujian pernikahan yang kemudian menguji persahabatan mereka. Tentang rumput tetangga yang nggak selalu lebih hijau. Saya rekomendasikan novel ini bagi kalian yang ingin menikmati indahnya ikatan persahabatan yang telah teruji badai besar.

Review ini diikutkan dalam Broken Vow Book Review Contest


Minggu, 10 Januari 2016

[Artikel] Menjadi Book Addict Agar Tetap Sexy


Membaca adalah hobi saya yang nggak pernah berubah sejak kecil. Saya butuh membaca sebesar saya butuh bernapas. Maka bolehkah saya menobatkan diri saya sebagai book addict?




Saya dan Moment Pertama

Menurut orangtua saya, saya mulai bisa membaca sejak usia tiga tahun. Kemampuan yang dianggap istimewa saat itu, dan tentunya membuat orangtua saya jadi rajin membelikan majalah bekas untuk saya. Mengapa majalah bekas? Karena menurut orangtua saya, harga satu majalah baru bisa sama dengan harga tiga majalah bekas, jadi kalau bisa dapat tiga kenapa harus pilih yang satu sementara isinya tetap sama bermanfaat. Prinsip inilah yang melekat kuat dan saya gunakan hingga dewasa kini. :)

Meski bisa dibilang majalah Bobo lah yang membuat saya suka membaca, tapi kecintaan saya pada sebuah kisah panjang timbul saat SD. Menginjak SD saya mulai mengikuti serial Api di Bukit Menoreh karya S.H. Mintardja yang muncul setiap hari di surat kabar Kedaulatan Rakyat. Walau sudah terlambat ratusan episode (karena yang saya baca adalah kisah petualangan Glagah Putih dan Rara Wulan) toh nggak mengurangi keasyikan menunggu dan membacanya setiap hari. Serial Api di Bukit Menoreh pulalah yang membuat saya menyukai cerita silat dan menikmati pelajaran sejarah kerajaan terutama kerajaan di tanah Jawa.
Sungguh, bukankah buku yang baik selain memberi petualangan juga memberi pengetahuan baru yang berguna?


Saya, cerita silat dan detektif

Cerita silat menjadi genre pertama yang saya suka dan mengantar saya pada buku cerita silat lain yang nggak kalah fenomenal, Wiro Sableng. Untuk buku yang satu ini saya harus sembunyi-sembunyi membacanya, karena simbah bisa marah kalau tahu saya membaca buku ini. Hehe... Maklum ceritanya memang rada nakal dan beberapa adegannya belum layak dikonsumsi anak SD. Tapi mengingat minimnya literasi anak kala itu dan saya sudah melalap semua cergam gareng-petruk, maka Wiro Sableng pun jadilah. (Jangan tiru adegan ini ^^)

Saat akhirnya ketahuan membaca Wiro Sableng saya pun dibelikan novel Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu. Lalu saya putuskan saya lebih suka Pasukan Mau Tahu karena petualangannya lebih lucu dan lebih menantang untuk memecahkan misterinya. Hingga kemudian bacaan misteri-detektif saya merambah ke novel-novel sejenis seperti STOP, Trio Detektif, Hawkeye Collins & Amy Adams, Seri Klub Detektif Cilik dan akhirnya... Agatha Christie.
Dua genre inilah yang menemani masa kecil dan masa remaja saya. Genre yang membuat saya suka matematika karena menimbulkan rasa penasaran dan rasa tertantang yang sama untuk memecahkan persoalan dan mengetahui jawaban yang benar. Siapa bilang membaca novel membuat jadi bodoh? Karena dalam kasus saya membaca novel justru membuat saya mendapat nilai tinggi dalam matematika. ;)


Saya dan buku wanita

Tahun demi tahun genre yang saya baca mulai meluas hingga saya memutuskan saya menyukai semuanya. Kini, dunia literasi makin semarak dan berwarna, sungguh memanjakan makhluk haus bacaan seperti saya. Banyak penerbit bermunculan dengan konsep dan visi-misi yang beragam. Salah satu yang menarik adalah Stiletto Book yang, jika ditilik dari nama dan logonya, merupakan penerbit buku perempuan.
Stiletto Book banyak menerbitkan roman-roman khas permasalahan wanita dan buku parenting yang memanjakan ibu-ibu semacam saya. Makin banyak deh ilmu yang saya dapat.
Apalagi sejak bergabung dengan Stiletto Book Club, saya mulai mengenal beberapa pembaca Stiletto Book yang bisa diajak tukar pikiran.

buku-buku Stiletto menjadi teman
me time yang menjaga saya tetap 'waras' ^^


Saya, budget dan lingkungan

Setiap bulan saya hanya menyisihkan dana Rp. 50.000,00 untuk membeli buku. Ini dana wajib untuk memanjakan diri, hadiah bagi diri sendiri. Tapi saya bisa belanja buku lebih dari itu, lho. Kok bisa? Nodong suami ya? Haha... nggak dong. Ada rahasianya. :))
Saya biasanya memilah sampah rumah: botol plastik, kaleng, koran, kardus bahkan kertas catatan utang. Sampah-sampah ini saya setor ke bank sampah di dekat rumah. Hasilnya lumayan lho! Sekali setor saya bisa dapat 15 ribu sampai 30 ribu. Uang hasil setor sampah inilah yang masuk ke budget beli buku. Jadi selain bisa menyelamatkan lingkungan saya juga bisa dapat tambahan dana untuk belanja buku. Asyik, kan? :)

Tapi meskipun sudah ada tambahan pun kadang buku yang diinginkan harganya masih nggak terjangkau. Solusinya... sabar. Sekarang banyak kok toko online dan penerbit yang menawarkan diskon dan sale yang menggiurkan, tak terkecuali Stiletto Book. Stiletto cukup sering loh mengadakan shocking sale yang menawarkan diskon besar-besaran, terutama kalau jadi member Stiletto Book Club bisa sering dapat diskon, deh.

Siasat lain untuk memiliki buku dengan dana terbatas adalah dengan prinsip saya semula: buku bekas. Atau bisa dibilang buku second. Jaringan pertemanan dengan sesama pencinta buku yang luas bisa membantu karena kadang mereka menjual buku kolpri mereka. Atau toko buku bekas bisa jadi pilihan, asal kita berhati-hati jangan sampai membeli buku bajakan.

Saya dan minat baca masyarakat

Hobi membaca saya ini bisa dibilang aneh oleh lingkungan saya. Karena saya tinggal di lingkungan padat di mana orang-orangnya selalu bergerak dinamis, kegiatan saya yang duduk diam membaca tentunya terasa kontras.
Lingkungan saya adalah lingkungan pekerja kelas menengah ke bawah, bukan saja para prianya tapi juga kaum wanitanya. Beragam pekerjaan, mulai dari penjaga kios di pasar, pemilik warung, penjual makanan, juga pekerja UKM. Tentunya sulit mengajak mereka membaca mengingat betapa dinamisnya mereka bekerja di luar dan mengurus rumah tangga mereka sendiri. Maka sasaran saya adalah anak-anak. Saya punya program read aloud untuk anak-anak, yang nggak menutup kemungkinan bagi sang ibu untuk ikut hadir. Dengan modal buku TBM (Taman Bacaan Masyarakat) saya berusaha mengemas kegiatan ini agar menumbuhkan minat baca anak-anak.
Di BKB (Bina Keluarga Balita) tingkat RW yang saya ketuai, saya menyisipkan materi membaca dan mendongeng bagi para ibu yang memiliki anak usia balita.
Saking memuja buku, jika anak saya diundang ulang tahun, bisa dipastikan kado yang dibawa anak saya bagi yang berulang tahun pastilah buku. Saya juga membiarkan rumah terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca buku saya dan buku anak-anak saya.
Meski usaha saya nggak seberapa, saya ingin mereka memahami bahwa banyaaak sekali manfaat yang bisa didapat dari membaca buku. Membaca akan melatih konsentrasi, menghindarkan kita dari kepikunan dan merupakan bentuk rekreasi yang murah.

Saya punya harapan besar agar anak-anak suka membaca. Karena negara Indonesia didirikan oleh para pencinta buku, orang-orang hebat yang haus pengetahuan dan telah melahap banyak buku. Itu sebabnya akses terhadap buku harus dibuka selebar-lebarnya, seluas-luasnya. Agar terus bermunculan tokoh-tokoh hebat berikutnya di negara ini.
Selama ini perpustakaan yang ada hanyalah perpustakaan sekolah, universitas dan pemerintah daerah. Mestinya perusahaan-perusahaan besar juga diwajibkan memiliki perpustakaan yang bisa diakses karyawan dan warga sekitar. Sehingga masyarakat bisa tergerak dan mulai gemar membaca.


Nah, dengan pengalaman saya ini sudah layakkah saya disebut sebagai Book Addict?
Tapi terlepas dari layak atau nggak layak, membaca tetaplah menjadi napas kehidupan saya. Jika diizinkan saya ingin tetap membaca sampai tua. Sampai mata saya lamur dan tangan saya tremor saat memegang buku, saya tetap ingin mereguk dunia melalui jendela-jendela itu lagi, lagi dan lagi.
Dengan begitu, meski saya telah tua, bungkuk dan keriput saya akan tetap sexy, benar bukan? ;)





Nama: Nurina Widiani
Akun twitter: @KendengPanali
Akun facebook: Nurina Kendengpanali
Email: nurinawidiani84(at)gmail(dot)com

Rabu, 02 September 2015

[Resensi: Awaiting You - Nadya Prayudhi] Penantian dan Kesetiaan Amora Saat Sam Menghilang


Judul buku: Awaiting You
Penulis: Nadya Prayudhi
Editor: Herlina P. Dewi
Proof Reader: Weka Swasti & Tikah Kumala
Desain Cover: Theresia Rosary
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Juni 2015
ISBN: 978-602-7572-40-9
Available at: bukupedia




BLURB

Hilang!

Sam, suami Amora, sang chief editor Majalah Fashionette, mendadak hilang. Di tengah kekalutan dan kekacauan hidupnya, Amora dihadapkan berbagai macam ujian: anaknya bermasalah di sekolah, didekati Lody si berondong di kantornya, mendapat simpati berlebihan dari sahabat sang suami, bertemu kembali dengan cinta lama, dan diteror oleh seorang wanita yang tidak diketahui identitasnya. Semua itu membuat dirinya semakin frustasi hingga akhirnya Amora memutuskan cuti sementara dari pekerjaannya. Dan mulai mencari Sam.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai menemukan foto-foto baru yang diunggah ke laman Facebook Sam-yang membuat Amora semakin bertanya-tanya: Ke manakah Sam? Apa yang terjadi padanya?
Jika dia masih hidup, mengapa tidak menghubungi Amora?
Akankah dia pulang? Atau, akankah dia menghilang selamanya?


RESENSI

Sam. Anak-anak merindukanmu. Aku merindukanmu. Pulanglah. (hal. 12)

Hidup Amora sungguh sempurna. Pekerjaannya sebagai chief editor majalah fashion membuatnya jadi wanita karir yang sukses. Meskipun ia memiliki dua buah hati bersama Sam, suaminya, ia tetap belum bisa melepaskan pekerjaannya untuk jadi ibu rumah tangga sepenuhnya.
Namun suatu hari, kesempurnaan itu retak karena Sam menghilang. Sam yang seharusnya berangkat ke Tokyo untuk menemui rekan bisnis ternyata tidak pernah sampai ke kota itu. Amora melihat Sam terakhir kali di Bandara Soekarno-Hatta saat melepas Sam pergi. Tapi semenjak itu Sam menghilang dan tidak bisa dihubungi sama sekali.
Di tengah kegalauannya, Amora bertemu dengan Lody, fotografer muda yang menjadi karyawan baru di majalah tempatnya bekerja. Lody yang tampan itu ternyata menaruh hati pada Amora dan tanpa malu menunjukkan perasaannya. Bukan hanya itu, Gavin, sahabat Sam, juga menaruh perhatian pada Amora. Amora mati-matian menolak semua perhatian itu karena ia tetaplah seorang istri meskipun suaminya entah ada di mana.
Tak sabar akan informasi keberadaan Sam yang hanya secuil-secuil dan didorong oleh foto pemandangan Tian Tan Budha di laman facebook Sam, Amora pergi ke Hongkong. Ia berharap bisa menemukan Sam. Tapi nihil. Sam tetap hilang.
Keputusasaan bagai ombak yang siap menelan kewarasan Amora. Anak-anak yang membuat masalah, pria-pria yang mulai berani mendekatinya setelah hilangnya Sam, membuat Amora butuh jangkar untuk bertahan. Uluran siapakah yang akan ia sambut? Apakah Lody si berondong nan perhatian, Gavin sang sahabat suaminya yang telah bertunangan, Juan si mantan kekasihnya semasa kuliah dulu atau Beamy, sahabatnya dalam susah maupun senang? Ataukah Amora tetap akan menunggu kepulangan Sam demi anak-anaknya?

---------

Membaca Awaiting You ini membuat saya iri. Betapa warasnya Amora meski digempur cobaan demi cobaan. Yaah... walau saya sendiri nggak mungkin menganggap perhatian dari pria-pria nan tampan itu sebagai cobaan, itu kan anugerah *plak* :))))
Dari awal saya dibuat menebak-nebak bersama Amora tentang alasan kepergian Sam. Tadinya saya pikir Sam nggak puas karena Amora lebih memilih karir daripada keluarga, tapi saat tahu betapa rasionalnya dan tenangnya Amora menghadapi kenakalan anak-anaknya, perkiraan itu terbantahkan. Saya sangat suka cara Amora menghadapi pihak sekolah dan dengan gagah melindungi mental putranya. Tapi Amora juga tidak percaya buta begitu saja pada putranya. Ia menangani masalah putranya dengan bijak. Amora bukan hanya bertanggung jawab pada perusahaan tapi juga pada keluarganya.

Konfliknya cukup beragam meski semua bersumber dari hilangnya Sam. Bagai efek domino, begitu Sam menghilang masalah mulai bermunculan. Anak-anak yang mulai cari masalah, suster pengasuh yang memilih pulang kampung, pria-pria yang mulai PDKT, pacar-pacar mereka yang cemburu. Benar-benar aliran kisah rumit yang berawal dari sebab satu kehilangan.
Meski menggunakan POV orang ketiga, tapi saya dengan gamblang merasakan betapa frustasi dan galaunya Amora.

Banyaknya karakter yang muncul nggak akan membuat bingung karena setiap tokoh muncul dengan karakteristik yang khas. Nuansa kehadiran mereka dan efeknya bagi Amora juga berbeda-beda.
Dan tentu saja saya menyukai Lody si berondong yang gigih dan blak-blakan.
Pria yang lebih muda memang seolah punya semangat lebih untuk mendekati wanita yang lebih tua ya. Saya jadi ingat dengan berondong saya. Hahaha! *halaah baper* :D
Tapi beberapa tokoh juga begitu pengecut. Dewasa tapi pengecut, sebel jadinya :p

Saya nggak menyangka akan twistnya. Dua kali pula. Oke, yang terakhir memang saya sudah meraba tapi tetap membuat saya terkaget-kaget. Tetap saja saya nggak yakin 100% akan ke mana arah endingnya. Kejutan-kejutan kecil tak terduga juga tersaji beberapa kali.

Sayangnya romannya kurang. Huhuuu karena novel ini tentang penantian seorang istri jadi jangan mengharap adegan yang bikin meleleh. Penyelesaian novel ini juga terlalu sederhana kalau mengingat betapa rumitnya semua di tengah cerita.

Nggak ada typo dalam novel ini, tapi saya menemukan beberapa kesalahan tanda baca semacam penggunaan titik padahal seharusnya koma dan dua kata yang tidak dipisah spasi.

Saya merekomendasikan novel ini yang membuat saya memahami bagaimana cara menghadapi kesalahan seorang anak. Bukan dengan asal main hukum, bukan dengan melemahkan mental mereka. Point yang meski porsinya kecil tapi meresap dalam ke hati saya. Juga tentang keteguhan seorang istri, yang tetap mempertahankan moralnya sebagai istri walau di tengah ketidakpastian.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Di mataku, dia pria yang pas. Pas segala-galanya. Mengapa aku tak menyebut Sam sempurna? Karena orang yang sempurna itu tidak pernah ada. Tapi pria yang pas segala-galanya itu ada. Sayangnya, pria ini sekarang menghilang entah ke mana. (hal. 40)

Namun ia tahu, menjadi ibu yang baik salah satu kuncinya adalah dengan berkorban. (hal. 72)

Saat sedang susah, manusia sering kali bilang "Why me?" Padahal bisa saja Tuhan mengatakan "Why not?" (hal. 95)

Cinta tak semestinya dibatasi umur, Bu. (hal. 113)

"Bagaimana kamu bisa tahu kita nggak jodoh kalau kamu berusaha mempertahankannya saja tidak?" (hal. 150)

"Kadang apa yang sudah tidak bisa kita miliki, adalah yang terbaik bagi kita. Memang susah menerimanya. Tapi pelan-pelan, Ibu bisa memberi waktu buat hati Ibu." (hal. 198)

Bahwa cinta yang telah pergi bisa saja tergantikan. Bahwa cinta bisa datang dari mana saja. Dari siapa saja. Kapan saja. Pria ini mengajarkan, kesepian itu takkan pernah lama singgah jika kita percaya pada cinta. (229)

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon