Tampilkan postingan dengan label Bentang Pustaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bentang Pustaka. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2016

[Resensi] #CrazyLove PHP - Clara Canceriana, dkk

Judul buku: #CrazyLove PHP
Penulis: Clara Canceriana, Dila Maretihaqsari, Kyria, Ardelia Karisa
Penyunting: Starin Sani
Perancang & Ilustrasi sampul: Nocturvis
Penerbit: Bentang Belia
Tahun terbit: Februari 2015
Tebal buku: 210 halaman
ISBN: 9786021383094



BLURB

Gejala Korban PHP:

• Bibir kram karena nggak bisa berhenti senyum saat dipanggil “sayang”
• Perut mulas kalau kirim pesan ke dia nggak dibalas-balas
• Mendadak sesak napas kalau lihat dia jalan sama cewek atau cowok lain
• Mulai berhalusinasi tentang pertanyaan “kapan kamu nembak aku?”
• Banjir air mata dan keringat dingin begitu dengar kabar kalau dia udah jadian dengan orang lain

Apa kamu pernah ngalamin gejala di atas? Mungkin kamu lelah. Jadi korban PHP mungkin nggak enak. Ren, Kisa, Niar, dan Karma sudah membuktikan sendiri cerita PHP mereka. Jatuh bangun mengejar harapan yang ternyata menjatuhkan. Sudah berkorban macam-macam, tapi imbalannya nggak sesuai angan-angan. Apa benar semua kisah PHP selalu berakhir tragis?

RESENSI

Kenangan

Program Today's Secret yang biasa dipandu Ren di My Radio memasuki hari terakhir. Di hari itu Ren membacakan email yang masuk dari seseorang bernama Rio, yang mencurahkan rahasia hatinya yang bermula dari sembilan tahun lalu. Kisahnya bersama seorang gadis teman sebangkunya bernama Lala. Rio ingin mengungkapkan betapa menyesalnya ia menggantung dan tak memberi penjelasan apa pun. Siapakah Rio? Dan akankah Rio bertemu dengan Lala setelah sembilan tahun berlalu?

Dia Untukku

Sejak duduk di bangku SMP, pusat dunia Kisa adalah Gana. Meski tidak begitu pintar, Kisa nekat masuk SMA favorit pilihan Gana untuk mengejar pemuda itu. Kisa tergila-gila pada Gana dan tak ragu menunjukkannya. Sikap Gana yang penuh perhatian dan sayang padanya dianggap lampu hijau oleh Kisa. Tapi Gana tetap diam. Tetap tak menyatakan cinta. Hingga Kisa nekat memilih kampus yang sama demi Gana. Akankah Kisa akhirnya mendapat kejelasan dari Gana?

Selamanya Kamu

Niar kaget saat sedang berteduh dari hujan, disapa seorang cowok yang tampaknya mengenal dirinya. Cowok itu, Esha, ternyata adik kelasnya yang berada dua tingkat di bawahnya. Hubungan mereka menjadi dekat meski banyak teror dan gosip tak enak yang beredar di sekolah. Niar pun merasa memiliki perasaan lebih pada Esha. Apalagi Esha juga tampak setia membantu dan mendampinginya. Niar bertekad akan menyatakan perasaannya seusai SPMB. Akankah Esha menerimanya? Ataukah Niar hanya kege-eran saja atas perlakuan Esha?

Karma

Karma si playgirl yang selalu suka dikelilingi para cowok. Meski tak ada yang benar-benar resmi dijadikan pacar olehnya, tapi Karma memang toxic. Ia selalu bisa membuat cowok menuruti apa maunya. Itu sebabnya ia cocok bersahabat dengan Jiro yang playboy. Mereka sama. Mereka setipe. Dan mereka sebenarnya saling suka. Tapi bisakah playboy dan playgirl bersama? Bisakah mereka saling mempercayai?

---------------


PHP merupakan bagian dari serangkaian seri CrazyLove yang diterbitkan Bentang Pustaka. Sejauh ini sih saya baru baca yang #CrazyLove Mantan dan cukup suka. PHP sendiri terdiri atas empat cerita pendek yang ditulis oleh Clara Canceriana, Dila Maretihaqsari, Kyria dan Ardelia Karisa. Nama Clara, Kyria dan Ardelia saya ketahui sebagai penulis yang potensial, tapi nama Dila Maretihaqsari mengejutkan saya karena saya mengenalnya sebagai editor kece yang membantu kelahiran novel-novel yang saya sukai. Tentunya saya jadi antusias pengin tahu bagaimana karya sang editor favorit saya ini.

Saya mulai bahas dari cerita yang paling saya suka dulu ya...
Dari keempat cerita di dalam buku ini, yang paling saya suka adalah Karma karya Ardelia Karisa. Pengkarakterannya kuat dan konflik batinnya dapet banget. Mungkin karena berimbang porsi kegalauan antara dua tokoh utamanya, maka saya jadi suka. Tapi selain itu saya juga suka premisnya, playgirl ketemu playboy sama-sama saling nge-PHP-in, jadi seru rasanya ngikutin interaksi antara keduanya. Saya suka pilihan namanya. Bisa pas gitu dengan kalimat, "nanti kamu dapat karma lho." Nah loh, seneng apa sedih nih Jiro kalau dapet karma. Hahaha....
Endingnya pun membuat saya menutup buku ini dengan penuh kepuasan, bagai kesegaran a*ua setelah lari marathon belasan kilometer. *halah* :)))))

Sementara kisah Kenangan dari Clara Canceriana bikin saya baper. Kisahnya pasti bisa dialami siapa saja. Namanya remaja, suka tapi gak berani mengungkapkan lalu menyesal, itu memang paling bikin galau. Walau saya sih penganut paham mending dikatakan daripada terpendam sekian tahun dan menyisakan rasa penasaran.
Saya suka gaya bertuturnya dan plotnya yang rapi. Profesi si tokoh utama juga keren, penyiar radio, dan saya bisa membayangkan suara Ren pasti enak banget didengerin—seksi dan dalam. Membaca dialognya Ren saja sudah terngiang-ngiang seperti apa suaranya kala siaran. Yang jelas saya suka bagaimana cerita ini berawal dan berakhir. Nyesek sih, jadi pengin peluk Ren gitu, tapi di sini saya temukan bahwa mimpi dan cinta itu sama, kalau nggak dikejar ya sia-sia.

Kisah yang kedua adalah Dia Untukku karya Dila Maretihaqsari. Yang satu ini yang paling mendekati kisah saya sendiri. Hahaha... Saya mirip sama Kisa gitu deh, berharap pada satu cowok selama bertahun-tahun, bedanya si cowok nggak setengil Gana. Tapi kesamaan nasib inilah yang membuat saya menikmati cerita tentang Kisa. Dan tentunya saya suka banget interaksi antara Kisa dan Gana, chemistrynya bagus dan seru banget. Tengilnya Gana dan sikap nggak jelasnya itu memang bikin pengin ngasah pisau, tapi memang Gana ini so sweeeeeet banget.
Endingnya saya suka, karena meski apa pun yang terjadi, mereka tetap asyik, tetap seru dan tetap manis.

Yang ketiga ada kisah Selamanya Kamu karya Kyria. Bagi saya justru inilah cerita yang paling PHP di antara semuanya. Saya terkecoh deh. Saya kira cerita ini bakal mirip seperti cerita pertama, tapi ternyata murni PHP. Huhuuu.. Kyria benar-benar pintar bikin harapan saya ikut membumbung bersama Niar. Memang ceritanya cenderung datar dan kurang jelas, ada lubang yang masih bikin saya bertanya-tanya, tapi cukup menarik untuk diikuti.
Hanya saja endingnya yang open ending malah bikin saya kurang puas. Hahaha...

Yang jelas PHP benar-benar kumpulan cerpen yang bikin saya bernostalgia dan merasa baper pengin balik ke masa sekolah. Benang merah keempat cerita selain sama-sama menceritakan tentang harapan palsu atau rasa GR juga tokoh ceweknya yang saling terhubung. Tapi bagi saya, di antara semua tokohnya, saya paling suka sama Karma. Bagi kalian yang pengin nostalgia rasanya di-PHP-in boleh banget baca buku ini. Seru.

Senin, 08 Agustus 2016

[Resensi] Déessert - Elsa Puspita

Judul buku: Deesert
Penulis: Elsa Puspita
Penyunting: Dila Maretihaqsari
Perancang sampul: Nocturvis
Pemeriksa aksara: Septi Ws & Kiki Riskita
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Maret 2016
Tebal buku: 318 halaman
ISBN: 9786022911210



BLURB

Bagi sebagian orang, cinta SMA hanyalah salah satu kenangan masa remaja yang mudah saja untuk dilupakan. Tapi, bagaimana jika ia kembali hadir di masa kini? Dengan sosok yang jauh berbeda daru masa lalu. Lebih tampan, lebih berkharisma, dan lebih berpotensi kembali mencuri hati?

Naya begitu kaget melihat Dewa kembali ke Tanah Air, setelah selama delapan tahun sekolah dan bekerja di Australia. Karena campur tangan Lulu, sahabat sekaligus partner bisnis Naya, pria itu kini membantu mengurusi calon resto baru Naya dan Lulu, sebagai chef pastry. Namun, semuanya jadi tidak mudah. Di tengah kesibukan jelang pembukaan Dapoer Ketje, keduanya justru melancarkan aksi perang dingin dengan ego masing-masing.

Suasana makin diperparah dengan kehadiran Ava, mantan kekasih Dewa yang datang dari Australia. Juga Dipati, mantan Naya yang seorang artis. Perang dingin di antara mereka tampaknya akan meledak, memuntahkan segala ganjalan yang telah tersimpan selama bertahun-tahun. Sesuatu yang menyadarkan mereka bahwa masa lalu itu belum sepenuhnya selesai.


RESENSI

Ketika rating acara kuliner yang dibawakannya mulai menurun, Naya sadar inilah saat baginya untuk berhenti. Maka ketika kontraknya sudah habis, ia pun memutuskan untuk kembali ke Palembang. Kembali ke hidupnya yang tenang tanpa sorotan media. Kepulangannya tentu disambut bahagia oleh sang sahabat, Lulu. Apalagi Lulu sedang hendak membuka kafe bersama tunangannya, Arfan, yang merupakan seorang chef. Lulu pun mengajak Naya untuk bergabung bersama-sama merintis usaha dalam bidang kuliner.
Tak dinyana di belahan dunia lain, di Sydney, Dewa pun memutuskan berhenti sebagai pastry chef dan memutuskan hubungan dengan kekasihnya, Ava. Tanpa banyak kata, Dewa mengemasi barangnya dan kembali ke Palembang. Pengkhianatan Ava telah memukulnya telak, dan dia sadar bahwa dia belum bisa melupakan cintabpertamanya.
Dua insan, yang pernah membangun cinta yang lugu di masa SMA dan harus putus karena terpisah jarak, akhirnya bertemu. Kemarahan, kepedihan dan keputusasaan silih berganti hadir di benak mereka saat akhirnya saling berhadapan. Tapi pucuk-pucuk mimpi yang sempat remuk itu perlahan terbangkitkan kembali. Ada harapan namun mereka harus bisa menyelesaikan dan menuntaskan masa lalu.
Kini, bisakah mereka memperbaiki hubungan mereka? Ataukah mereka akan kembali kepada kekasih mereka masing-masing?

----------------------

Sudah lama saya ngidam pengin baca karya Elsa Puspita, dan ketika membaca blurb Deesert ini saya yakin seyakin-yakinnya kalau saya bakal cocok dengan ceritanya. Satu, tentu saja karena saya suka banget sama cowok yang pinter masak. Dan alasan yang kedua adalah, karena ini kisah tentang cinta SMA yang balik lagi. Dan itu... bikin baper nggak sih? Kalau temen grup SMA saya bilang sih kayak gini ini KSBB. Kelingan Sing Biyen-biyen. Inget yang dulu-dulu. Deym... pastilah saya niat banget baca novel yang ngajak baper begini. Hahaha... 

Jadi ini pengalaman pertama saya membaca karya Elsa Puspita. Saya langsung jatuh cinta seketika. Deesert benar-benar memenuhi selera saya banget. Saya suka jalan ceritanya. Saya suka interaksi antar tokohnya. Saya suka semua karakternya. Saya suka setting lokasinya. Namun yang paling saya suka adalah bagaimana novel ini mengalir dengan pas dan enak dibaca. Nggak berlebihan, nggak too much information, nggak membosankan. Saya bahkan dengan mudahnya saya memposisikan diri sebagai tokoh utama meskipun novel ini ditulis dengan POV orang ketiga.

Saya suka dengan Dewa, sejak pertam kemunculannya di bab awal. Cupu dan malu-malu, tapi udah berasa manis. Dewa di masa SMA udah berani mikir tentang masa depan. Punya mimpi dan melibatkan kekasih di dalamnya itu aja udah manis banget. Saya suka bagaimana Elsa Puspita menggambarkan perasaan Dewa dan dilema yang harus dia hadapi. Perang batinnya bikin saya makin jatuh cinta. Saya memang suka karakter cowok dalam novel yang kalem dan tenang. Tapi suka salting dan mati gaya di dekat cewek yang disukai. Bikin gemes deh. Dan pesona Dewa yang nggak bisa saya tolak adalah kejeniusannya dalam memasak. Cowok suka masak aja udah saya anggap seksi apalagi yang jenius macam Dewa. Dan macam variasi makanan yang dibuat Dewa itu lho, keren banget. Saya rasa ide dan riset Elsa Puspita patut diacungi jempol. Ah bukan... dua jempol.

Sementara untuk karakter Naya, saya sungguh jatuh sayang sama dia. Susah move on bahkan meski sudah berpacaran beberapa kali. Saya sempat begitu sih. Hahaha... jadi nggak salah dong kalau saya merasa terhubung dengan Naya. Dan sulit untuk sebal sama Naya. Dia karakter yang baik dan loveable.
Karakter lain yang mencuri perhatian saya jelas Damar, sang kakak idaman. Aaah.. iri banget sama Naya yang punya kakak kayak Damar gitu. Penuh tanggung jawab, posesif sama adek dan sayang banget sama Naya. Chemistrynya dengan Naya asyik banget.
Ada juga Lulu yang adorable. Saya suka usahanya bikin Naya dan Dewa buat ngobrol dan menyelesaikan masa lalu. Soft banget Lulu ngebujuknya. Nggak pakai ceramah yang berbusa-busa atau apalah, cukup dengan satu dua kalimat iseng tapi mengena. Interaksinya dengan Dewa memang lebih sedikit karena Dewa nggak banyak omong, tapi mereka kakak-adek yang manis juga. Suka pokoknya.

Banyak adegan yang bikin meleleh. Ada juga ketegangan yang bikin saya harap-harap cemas saat konflik memuncak. Dan saya suka dengan penyelesaian serta penutupnya. Simpel dan nggak berlebihan. Khas Dewa.
Aaaah beneran saya dibikin baper dan ngefans berat dengan semua karakternya. Kecuali Ava sih. Kkk~

Overall saya suka banget dengan Deessert. Saya anggap ini novel terkece yang sudah saya baca sepanjang tahun ini. Karena Deessert bukan saja menyuguhkan cerita yang menarik tapi juga mewujudkan kisah yang nggak mungkin bisa saya alami. Balikan sama mantan. Ngoahahaha... 

Selasa, 03 Mei 2016

[Resensi: Rencana Besar - Tsugaeda]


Judul buku: Rahasia Besar
Penulis: Tsugaeda
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang sampul: Upiet
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Agustus 2013
Tebal buku: 378 halaman
ISBN: 978-602-7888-65-4



BLURB

RIFAD AKBAR
Pemimpin Serikat Pekerja yang sangat militan dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya.

AMANDA SUSENO
Pegawai berprestasi yang mendapat kepercayaan berlebih dari pihak manajemen.

REZA RAMADITYA
Pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan jelas.

Lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeret tiga nama itu ke dalam daftar tersangka. Seorang penghancur, seorang pembangun, dan seorang pemikir dengan motifnya masing-masing. Penyelidikan serius dilakukan dari balik selubung demi melindungi UBI.

Akan tetapi, bagaimana jika kasus tersebut hanyalah awal dari sebuah skenario besar? Keping domino pertama yang sengaja dijatuhkan seseorang untuk menciptakan serangkaian kejadian. Tak terelakkan, keping demi keping berjatuhan, mengusik sebuah sistem yang mapan, tetapi usang dan penuh kebobrokan....


RESENSI

Makarim Ghanim adalah pendiri Makarim G. and Co., sebuah perusahaan penyedia jasa konsultasi terpadu bagi perusahaan-perusahaan yang mempunyai masalah pengaturan sumber daya. Tiba-tiba saja, kawan lamanya semasa kuliah dulu, Agung Suditama, mendatanginya untuk meminta bantuan Makarim.
Agung yang merupakan wakil direksi Universal Bank of Indonesia meminta Makarim mengusut kebocoran  uang 17 miliar rupiah dalam bank itu. Kasus yang sangat aneh, karena menurut penelusuran jejak audit, semuanya wajar. Pembukuannya seimbang. Tapi pihak manajemen yakin ada penyusutan sebesar angka itu. Agung menyodorkan tiga nama yang harus diselidiki Makarim: Rifad Akbar, Reza Ramaditya dan Amanda Suseno. Agung yakin 100% bahwa pelakunya adalah salah satu dari mereka.
Meski bukan pekerjaan yang biasa ia tangani, Makarim menerima pekerjaan ini. Ia pun terbang ke Surabaya ke tempat ketiga orang tersangka ditempatkan. Menyelidik di sini dan mengendus-endus di sana. Makarim dengan segera bisa menemukan siapa pelaku fraud di UBI. Namun ketika ia merasa yakin siapa pelakunya, telepon dari mantan istrinya memberi informasi yang membuat kasus UBI ini lebih terang... secara mengerikan.
Ini bukan pembobolan biasa. Ada pesan yang diselipkan dalam pembobolan ini. Deretan angka uang yang hilang adalah Rp. 17.679.122.980,90 dengan segera membawa Makarim pada satu nama lagi Ayumi Pratiwi.
Siapa Ayumi? Apa hubungan Ayumi dengan ketiga orang yang dicurigai Agung? Benarkah ada rencana besar yang sedang disusun di dalam UBI?

------------

Meski novel Rencana Besar ditulis lebih dulu dari Sudut Mati, saya malah baca Sudut Mati lebih dulu dan pernah saya ulas di sini. Sejak itu saya udah ngebet banget pengin baca Rencana Besar.

Sebagai novel karya pertama Tsugaeda, Rencana Besar bener-bener bikin saya terpukau. Plotnya gak perlu ditanya deh, rapi dan apik. Gaya bertuturnya runut dan jelas, detailnya bisa saya pahami. Meski saya anak ekonomi tapi awalnya saya syok dengan istilah-istilah dalam novel ini. Wkwkwk~ saya jadi merasa duh saya dulu kuliah merhatiin dosen nggak sih? XD
Kembali ke novel ini... saya menemukan asyiknya menyatukan kepingan-kepingan informasi yang diberikan Tsugaeda dengan sabar. Caranya bertutur nggak terburu-buru, sempat mengecoh namun kemudian memberi clue yang efeknya dahsyat dan menyeret saya pada rasa penasaran yang makin besar.
Beneran asyik banget baca novel ini.

Settingnya pada awalnya terjadi di Jakarta di tahun 2012... kemudian beralih ke Surabaya. Lalu di tengah-tengah cerita, saat misteri hampir terkuak, saya dibawa menyusuri kejadian awal perekrutan Rifad, Amanda dan Reza oleh UBI di tahun 2009.
Konflik perbankan yang diusung novel ini juga menjadi masalah yang mudah menarik perhatian saya. Aah... seru banget bacanya.

Meski aura kemisteriusan dan thriller-nya nggak sebesar Sudut Mati tapi rasa penasaran saya benar-benar dibangkitkan. Pokoknya saya suka banget sama novel ini.
Tokohnya juga kuat dan saling melengkapi. Makarim dibuat nggak hero-hero amat tapi malah pas. Karena karakter tiga orang yang diburunya saja sudah wooow... ngeri banget. Hahaha...

Saya merasa terjanjikan setelah komplit membaca dua novel Tsugaeda. Saya nggak bakal pikir panjang buat membaca karya Tsugaeda berikutnya. Semoga saja novel-novel thriller bermutu dan segar seperti ini banyak bermunculan dan punya tempat di hati pembaca.

Kamis, 07 Januari 2016

[Resensi: Rudy - Gina S. Noer] Kisah Masa Muda Sang Visioner


Judul buku: Rudy - Kisah Masa Muda Sang Visioner
Penulis: Gina S. Noer
Redaksi PlotPoint: Amelya Oktavia
Tim riset: Amelya Oktavia & Diva Apresya
Penyunting: Arief Ash Shiddiq, Amelya Oktavia, & Zen R.S
Perancang sampul: Teguh Pandirian
Penerbit: Bentang Pustaka dan THC Mandiri
Tahun terbit: September 2015
Tebal buku: 266 halaman
ISBN: 978-602-291-111-1
Book available at: bukupedia.com




BLURB

Ini adalah perjalanan Rudy menjadi B.J. Habibie.

Rudy adalah kisah yang disusun dari cerita-cerita B.J. Habibie yang belum diceritakan sebelumnya. Ini adalah kisah tentang perjalanan tumbuh dewasa seorang anak laki-laki dan Indonesia yang masih belia.

Tak banyak yang tahu bahwa cita-cita membangun industri pesawat terbang untuk Indonesia justru berawal dari ketakutan Rudy akan pesawat pada masa Perang Dunia Kedua. Tak banyak juga yang tahu kisah cinta tersembunyi Rudy sebelum akhirnya ia bertemu Ainun, cinta sejatinya, dan fakta bahwa Rudy tak terlalu suka kata "mimpi" sebagai kata ganti apa yang sangat ia inginkan. Baginya, "cita-cita" adalah kata yang lebih menjejak nyata.

Dalam buku ini kita akan temukan alasan kenapa Rudy jengah bila dipanggil genius, tapi lebih senang bila disebut sebagai pekerja keras yang setia. Setia pada cita-citanya. Setia pada cintanya. Kita akan mengikuti perjalanan bagaimana B.J. Habibie yang kita kenal datang dari bentukan visi besar orangtuanya, pengorbanan keluarganya, dukungan para sahabatnya, dan inspirasi terbesarnya: Indonesia.


RESENSI

Sebelum membuka lembaran awal kisah Rudy saya sudah dipaksa terharu biru dengan sebuah kalimat pembuka:

Buku ini didedikasikan

kepada tiap orangtua yang terus memberikan usaha terbaiknya
mendidik anak mereka agar tumbuh berguna bagi bangsa,
kepada tiap anak yang tekun berusaha demi bangsa yang lebih baik,
kepada mereka yang terus percaya bahwa bangsa ini selalu punya harapan. 
Kalian adalah Sang Visioner.

Kalian adalah titik mula kebaikan untuk semua. (hlm. vii)

Buku ini memang kisah tentang masa kecil dan masa muda B.J. Habibie atau yang biasa dipanggil Rudy.
Kisah Rudy yang penuh rasa ingin tahu. Berbeda dengan anak kebanyakan yang senang bermain, Rudy lebih senang berpikir dan mencari jawaban akan rasa ingin tahunya. Selalu ada pertanyaan di benak Rudy, dan jika ia tidak bisa mendapatkan jawabannya dari Papi (Alwi Abdul Jalil Habibie) atau dari buku-buku yang dibawakan Papi, Rudy akan melakukan eksperimen sendiri untuk mendapatkan jawabannya.
Kisah menggelikan hadir ketika Rudy begitu penasaran pada balon setelah membaca Lima Minggu di Balon Udara karya Jules Verne. Rudy dan teman-temannya berhasil menemukan benda mirip balon di dekat pelabuhan tapi sayangnya ketika ditiup benda itu tidak jadi bulat seperti kata Papi. Ketika Rudy yang penasaran membawa benda itu pada Papi dan bertanya, Papi malah syok dan mencari Mami, yang membuat Rudy berakhir dengan disuruh berkumur banyak-banyak. Ya ampuuuun... saya ngakak membaca kisah itu.

Buku ini terdiri dari satu prolog, 3 babak dan satu epilog. Selain itu terdapat foto-foto yang sangat "berbicara" di dalam buku ini. Foto-foto itu bukan hanya sebagai pelengkap tapi juga mengungkapkan lebih banyak hal. Saya merasa pemilihan fotonya benar-benar tepat.

Prolog merupakan potongan kisah ketika Rudy diantar keluarga dan kerabat di bandara untuk berangkat ke Jerman. Ada harapan dan keraguan yang saling melintas di benak Rudy saat harus menaiki pesawat yang akan membawanya jauh dari rumah. Sebuah perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Babak 1 adalah babak dengan rentang kisah masa kecil Rudy hingga ia kuliah di Bandung. Bukan hanya berisi kisah masa kecil yang penuh kenakalan dan kelucuan tapi juga masa kelam saat harus mengungsi karena perang dan masa duka karena Papi meninggal.
Dalam babak ini diungkap bagaimana cara Papi dan Mami mendidik putra-putrinya. Bahwa prinsip dan visi merekalah yang mengakar kuat dalam diri Rudy.

Di babak 2 terdapat kisah-kisah Rudy setelah tiba di Jerman dan memulai kuliahnya. Kehidupan yang penuh kerja keras bukan hanya dalam hal pendidikan tapi juga dalam hal bertahan hidup. Rudy yang tak pintar bergaul dan tak sabaran harus beradaptasi dengan lingkungan, hingga ia bisa menemukan sahabat sejati. Dalam babak ini juga terlihat jelas bahwa Rudy memang tak pernah tertarik dengan politik sejak awal. Ia bahkan berani menentang kehendak Presiden Soekarno dan tetap mempertahankan prinsip-prinsipnya.
Dan bukan hanya Rudy saja yang berjuang di negeri orang dengan kiriman uang yang tak pasti datangnya. Di sisi lain ada perjuangan Mami dan saudari Rudy yang berjuang mengumpulkan uang untuk dikirim ke Jerman.

Yang paling menarik tentunya adalah Babak 3 yang bercerita bagaimana Rudy diseret pulang dan dipaksa bertemu Ainun. Rudy yang semula cuek dan enggan bertemu Ainun akhirnya luluh juga. Ini babak yang lebih singkat dibanding dua babak sebelumnya. Dan dengan menikahnya Rudy dengan Ainun maka berakhir pulalah masa muda sang visioner.
Namun masih ada bentangan masa yang harus diperjuangkan termasuk cita-cita yang oleh sebagian besar orang dianggap mustahil. Tapi bukan Rudy namanya kalau tidak keras kepala dan berhenti bekerja keras.

Membaca buku ini memberi banyak pengalaman berharga bagi saya. Bahwa setiap orangtua tak pernah sengaja bersikap pilih kasih tapi orangtua yang baik tahu bagaimana membuat skala prioritas, mana yang harus diutamakan. Dan keluarga adalah penyokong, tak boleh saling iri, semua berdiri sama tinggi dengan kapasitas masing-masing.

Buku ini membuka mata saya bahwa orangtua lah saka guru utama. Apa yang kita tanamkan akan selalu dibawa anak-anak sampai dewasa. Bahwa anak-anak adalah harapan. Bahwa mimpi aah~ bukan, bahwa cita-cita mereka haram disebut mustahil.
Cita-cita selalu akan berhasil dengan pengorbanan, kerja keras, kekeraskepalaan, dukungan keluarga, sahabat dan orang tercinta dan inspirasi yang mengakar kuat di dada. Yang tentunya adalah... rasa cinta pada Indonesia.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Modal seorang ibu adalah suara yang didengar telinganya dan suara hatinya. (hlm. 13)

"Kamu harus jadi mata air. Kalau kamu baik, semua yang di sekelilingmu juga akan baik. Kalau kamu kotor, semua yang di sekitarmu akan mati. Mata air memberi kebaikan tanpa pilih-pilih." - Alwi Habibie (hlm. 49)

Jawaban yang datang dari pencarian akan lebih bermakna dibanding yang sekadar "disuapkan". (hlm. 56)

"Saya masa depan Indonesia. Karena saya muda dan anak muda adalah masa depan. Cikal bakal masa depan dan kalau kamu bantu saya Insya Allah dunia itu tidak buta dan tuli, kita tidak akan dilupakan." - B.J. Habibie (hlm. 180)

"Saya tidak butuh inspirator atau promotor. Yang menjadi inspirator saya adalah amanat penderitaan rakyat Indonesia!" - surat B.J. Habibie kepada Presiden Soekarno (hlm. 183)

"Mimpi? Mungkin karena kamu sebut itu mimpi makanya tidak terwujud, Rud. Mimpi bisa berubah jadi mimpi buruk. Ini lebih besar dari mimpi. Lalu, kamu mau buat apa di Jerman? Sudah banyak orang pintar di sana. Jangan sebut cita-cita itu mimpi. Cita-cita besar itu harus menjadi bagian dari jiwa." - RA. Tuti Saptomarini atau Mami (hlm. 214)

"Aku akan selalu bersama kamu dalam cita-cita itu." - Ainun (hlm. 242)


Senin, 09 November 2015

[Blogtour & Giveaway] Menikahlah Denganku - Annisa Andrie


Halo, sahabat-sahabat pengunjung blog Nurina Mengeja Kata. Ada nggak di antara sahabat yang sedang menanti hari pernikahan, atau menanti dilamar dengan kalimat "Menikahlah Denganku"?
Aih, jadi baper ya? ^^
Daripada baper, yuk ikuti rangkaian blogtour novel Menikahlah Denganku karya kak Annisa Andrie yang diawali di blog ini. Duduk yang manis dan jangan desak-desakan, ya. Baca dulu review dari saya sebelum menuju ke giveaway :))



Judul buku: Menikahlah Denganku
Penulis: Annisa Andrie
Penyunting: Pratiwi Utami & Noni Rosliyani
Perancang sampul: @labusiam
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: November 2014
Tebal buku: vi + 254 halaman
ISBN: 978-602-291-073-2



BLURB

Tubuhku lunglai seketika. Jari tanganku gemetar, detak jantungku semakin kencang. Di otakku, pikiran negatif itu terus berseliweran. Hanya satu harapanku, berita mengejutkan ini tidak akan mengacaukan rencana masa depanku bersama Satura.

Show must go on! You must be a strong woman, Jenna! ujarku berkali-kali di dalam hati.

Tapi nyatanya, seorang pria tidak selalu lebih kuat ketimbang wanita. Kenapa Satura memilih menyerah dan sengaja melupakan rencana pernikahan kami?

Aku tahu kamu masih mengingat semuanya, Satura. Atau, jangan-jangan, perempuan itu yang membuatmu menutup hati serta ingatan? Mungkinkah bukan aku lagi yang bisa membuatmu tertawa, tetapi dia?

Kini, hanya satu pintaku.
Seperti yang pernah kamu minta dulu padaku.
Menikahlah denganku ....

RESENSI

Jenna merasa bersemangat mempersiapkan pernikahannnya dengan Satura. Di benaknya terdapat banyak rencana untuk pesta pernikahan mereka yang unik dan bertema alam. Jenna ingin semua detailnya berbeda dari pesta-pesta pernikahan yang pernah ada.
Sayangnya, konsep "unik" itu ditolak orangtua Jenna yang menginginkan pesta pernikahan dilaksanakan sesuai prosesi dan adat Yogyakarta. Jenna gondok. Ia merasa sudah mengalah dalam hal masalah tanggal pernikahan. Hanya karena hitung-hitungan weton, ia tak bisa menikah di tanggal impiannya. Tapi untuk pesta, Jenna tetap bersikeras menggunakan idenya. Ia pun memutuskan akan mengurus pesta pernikahan impiannya sendiri dengan bantuan Satura dan Rigel, sahabatnya. Dengan tekad kuat ia dan Satura berniat membiayai sendiri pesta pernikahan mereka.
Untuk memenuhi biaya pernikahan, Satura dan Jenna semakin aktif menambah pundi-pundi uang mereka. Hingga Satura salah langkah. Keputusan kerjasama yang diambilnya berakibat fatal. Mencoba menghilangkan kekalutannya, Satura pun pergi memanjat tebing. Naas. Kali ini hati dan pikiran yang gemuruh berbuah kecelakaan dan membuatnya cacat.
Satura semakin terpuruk. Usaha Jenna untuk tetap di sisinya dan melanjutkan pernikahan mereka, ditepisnya. Maka tak salah jika Jenna selalu menggunakan bahu Rigel untuk bersandar. Untuk berkeluh. Untuk jadi kekuatannya. Tapi Jenna masih menyimpan cinta yang besar bagi Satura. Bagaimanapun keadaan Satura.
Berhasilkah Jenna menguatkan dan meyakinkan Satura akan masa depan mereka? Atau Jenna sendiri pun akhirnya goyah dan memilih Rigel? Bagaimana nasib gaun pengantin yang lama tergantung di lemarinya?

--------------

Menikahlah Denganku sempat membuat saya terkecoh. Ketika membaca blurb saya pikir saya akan dibawa masuk ke dalam cerita melalui sudut pandang orang pertama. Tapi ternyata salah. Novel ini menggunakan orang ketiga serba tahu sebagai sudut pandang. Jadi saya bisa menyelami perasaan Satura dan Rigel di samping perasaan Jenna si tokoh utama. Hal itu membuat emosi saya makin teraduk-aduk dan nyesek.
Bahkan saya sudah nyesek di halaman pertama. Diksi yang digunakan Annisa benar-benar puitis dan indah. Rangkaiannya langsung menyentuh emosi saya.

Sebagai novel wedding-lit, Menikahlah Denganku menonjolkan sisi ribetnya mengurus pernikahan. Saya diajak Jenna, Rigel dan Satura keliling-keliling Yogyakarta dan sekitarnya untuk menyiapkan pernak-pernik pesta pernikahan. Saya yang punya pengalaman menikah dengan sederhana pun dibuat takjub dengan "ribet" dan "bawel"-nya Jenna untuk pernik pestanya. Mulai dari undangan pernikahan yang harus beda dan bernuansa alam, souvenir yang antimainstream, hingga gaun pernikahan yang harus sempurna. Semua itu membuat saya geleng-geleng kepala.
Bahkan Jenna dan Satura berniat membiayai sendiri pesta pernikahan mereka, padahal tabungan mereka nggak mencukupi. Maka jadinya kalau orang jawa bilang terlalu "ngoyo". Memaksakan diri demi terpenuhi ambisinya.

Sebagai tokoh utama, Jenna benar-benar bikin saya pusing. Ambisinya untuk membuat pesta pernikahan yang beda membuat saya geregetan. Ambisi itu pula yang membawa urusan pernikahan ini di ambang kehancuran. Karena terlalu memaksakan diri, bersikeras membiayai pernikahan sendiri (yang sebenarnya di luar jangkauan tabungan mereka), akhirnya ketika Satura salah langkah dalam bisnis, hal itu membuat beban pikiran Satura.
Satura sendiri digambarkan sebagai pria pencinta alam bebas yang bisa dibilang kalem dan lembut. Lebih suka menyetujui usul Jenna dan seolah bersikap "asal Jenna senang". Itulah yang membuat "ledakan"-nya begitu hebat saat ia jatuh. Satura menganggap dirinya nggak akan mampu membahagiakan Jenna dengan kondisinya setelah kecelakaan di lokasi panjat tebing itu.
Saya sih lebih suka Rigel yang ceplas-ceplos dan terkadang alay. Kalau dianggapnya Jenna mulai ribet, Rigel tanpa ragu mengutarakannya. Saya lebih menyukai orang yang apa adanya seperti Rigel. Lebih membuat masalah jadi jelas.
Saya juga lebih menyukai chemistry Jenna dan Rigel yang akrab dan lugas daripada chemistry Jenna dan Satura yang walau menguarkan percik-percik romantisme tapi seperti menyimpan riak di baliknya.

Hal menarik dari novel Menikahlah Denganku adalah detail-detail pelengkap yang menyempurnakan cerita ini. Seperti, alat-alat yang digunakan untuk memanjat tebing, detail modifikasi mobil yang dilakukan bengkel Satura, detail pekerjaan Jenna dan Rigel sebagai videomaker untuk iklan, hingga detail pernik-pernik pernikahan Jenna. Detail ini membuat cerita makin terasa nyata.
Tapi mungkin lebih baik agar istilah-istilah modifikasi, perlengkapan naik gunung dan nukilan lirik diberi catatan kaki untuk menjelaskan artinya atau kegunaannya.

Setting yang digunakan juga sangat detail. Padahal settingnya cukup beragam. Mulai dari Pantai Siung di Gunungkidul hingga ke Gunung Bawakaraeng di Makassar. Banyak sudut-sudut kota Yogyakarta yang disebutkan plus detail lengkapnya. Tapi... kenapa Gondomanan nggak ada di dalam novel ini padahal Ngeksigondo aja ada??? Kan Jenna bisa ke Gondomanan cari blangkon seusai dari Malioboro??? *protes* :p

Konflik novel ini dibangun perlahan dan bikin emosi saya naik-turun. Landasan konfliknya jelas dan matang. Dan semua konflik diselesaikan satu persatu hingga tiba di ending. Ending tak terduga yang manis banget. Saya rasa sih itu solusi terbaik, tanpa menjadikan Jenna sebagai "penjahat" nggak punya hati.

Menikahlah Denganku merupakan novel yang mengajak kita berpikir, seberapa penting arti pesta pernikahan. Sanggupkah kita menjalani bentangan tahun yang tak pasti setelah akad diucapkan. Tentang ambisi, tentang harapan yang menyala, padam, dan menyala lagi. Saya rekomendasikan novel ini bagi kalian, yang sedang bersiap menjelang dan membilang hari pernikahan dan juga bagi kalian, yang sedang mengharapkan jodoh yang dipinjam orang agar segera dikembalikan pada kalian :))

TEBAR-TEBAR QUOTE

Setipis apa pun, pernikahan akan melahirkan sekat antara seseorang yang menikah dengan kehidupan di luar rumah tangganya. Seseorang yang menikah akan memiliki garis teritori yang tegas dalam hidupnya. (hlm. 25)

Pada kenyataannya, sebuah masalah memang harus dihadapi dengan kesatria. Bukan malah ditinggal lari karena dia akan semakin kuat menjadi hantu pikiran yang ingin akal sehatku mati. (hlm. 138)

Tangguh bukan berarti tak menangis. (hlm. 164)

Bahwa hidup harus tetap berjalan, itu memang mutlak diperjuangkan. Sedikit saja terlena dengan keterpurukan, kita akan terseret arusnya, lalu tenggelam. (hlm. 175)

"Pesta sehari tak ada bandingannya dengan PR besar yang akan kamu dapat selama usia pernikahan bukan?" (hlm. 192)

*******************************

Nah, bagaimana seru, kan? Sekarang waktunya kita untuk GIVEAWAY!!! Bagi kalian yang ingin mengikuti kisah Jenna, Satura dan Rigel, Mbak Annisa akan memberikan satu eksemplar novel Menikahlah Denganku lho, lewat blog ini.

Syaratnya mudah saja kok:

1. Kalian adalah warga negara yang berdomisili dan memiliki alamat kirim di Indonesia.
2. Follow twitter @Annisasenja dan @KendengPanali
3. Share giveaway ini di akun twitter kalian dengan hashtag #MenikahlahDenganku dan jangan lupa mention akun kami berdua dan akun @bentangpustaka
4. Boleh follow blog ini via GFC atau email (optional)
5. Jawab pertanyaan berikut:

Jika kamu menikah, di mana lokasi foto prewedding impian kamu, dan konsep seperti apa yang kamu inginkan?
Tulis jawaban di kolom komentar dengan menyertakan nama, akun twitter dan alamat email.
6. Giveaway akan berlangsung selama satu pekan, dan akan berakhir pada tanggal 15 November pukul 23.59 WIB.
7. Selamat menjawab dan selamat berbaper ria :))))

----------------------GIVEAWAY WINNER-----------------

Sebelum mengakhiri dan mengumumkan pemenang blogtour ini, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk seluruh peserta giveaway yang luar biasa. Mimpi-mimpi dan harapan kalian semoga bisa terwujud di masanya nanti. Amin.

Dan satu orang yang beruntung pada giveaway kali ini adalaaaah:


Nama : Eka Sulistiana
Twitter : @ekasulistiana24


Selamaaaat! Jawabanmu berhasil memikat Satura KW :))) Saya tunggu data diri kamu di nurinawidiani84@gmail.com paling lambat 2x24 jam ya.

Bagi yang belum beruntung, jangan sedih karena blogtour masih akan berlanjut ke
kubikelromance.com (16-22 November 2015)
rizkymirgawati.blogspot.co.id (23-29 November 2015)

Rabu, 28 Oktober 2015

[Resensi: Remember Dhaka - Dy Lunaly] Menemukan Jati Diri di Kota Dhaka


Judul buku: Remember Dhaka
Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Ikhdah Henny
Penerbit: Bentang Belia (PT. Bentang Pustaka)
Tahun terbit: Januari 2013 (cetakan pertama)
Tebal buku: vii + 204 halaman
ISBN: 978-602-9397-64-2



BLURB

Di antara dunia baruku yang absurd,
aku menemukanmu.

Di antara semrawutnya kota ini, kamu datang seperti peri.

Kurasa, kamu jadi alasan terbesarku
bisa dan mau bertahan di sini.

Dhaka, tak pernah sekali pun terpikir olehku sebelumnya.

Bersama kamu, aku bisa menemukan diriku.

Karena kamu, kota ini jauh lebih hidup di mataku.

Jadi, tetaplah di sini.
Tetaplah indah seperti peri.

RESENSI

Bagi Arjuna Indra Alamsjah tak ada hal yang bisa mengalahkan kekayaan dan kekuasaan keluarganya, The Alamsjah. Maka ketika ia lulus dengan nilai yang sangat pas-pasan, ia tenang saja. Uang ayahnya pasti bisa membeli kampus manapun untuknya. Tapi, kakaknya, Agni, menolak pemikiran itu.
Merasa Arjuna terlalu menyepelekan hidup, Agni berniat mengirimkan adik semata wayangnya itu untuk mengikuti volunteer trip ke Dhaka. Tadinya Juna menolak mentah-mentah tawaran kakaknya dan memilih kabur dari rumah.
Tapi Juna lupa, tanpa uang ayahnya, ia bukan siapa-siapa. Teman-temannya menjauh karena kartu-kartu dan rekeningnya dibekukan. Dan Juna pun setuju untuk pergi ke Dhaka dan menjadi volunteer selama sebulan.
Siapa sangka, setibanya di Dhaka, ia bertemu seorang peri, atau lebih tepatnya seorang cewek yang mirip peri. Emma, meskipun lebih muda darinya, ternyata telah mengikuti Dhaka Education Project dan menjadi volunteer sejak usia 13 tahun.
Apakah Juna yang sejak kedatangannya ke Dhaka selalu mengeluh itu sanggup bertahan? Akankah ia menuntaskan tugas sukarelawannya atau memilih pulang sebagai pecundang? Apakah ia akan berubah atau tetap menjadi Juna yang mendewakan harta keluarganya?

--------------------

Ketika saya pertama melihat novel ini mejeng di rak toko buku, saya langsung jatuh cinta dengan judul dan kavernya. Padahal saya nggak ada gambaran sama sekali tentang jalan cerita novel ini akan seperti apa, karena blurb-nya yang mengambang.
Tapi toh saya beli juga dan kaget membaca awal kisahnya.

Sumpah, di bab awal, saya rasanya pengin nyeburin Juna ke Kali Code pas banjir lahar dingin, karena sombongnya selangit. Haha...
Karakternya yang semau gue dan nggak peduli terhadap orang-orang di dekatnya itu nyebelin banget. Saya rasa dari segi ini, Dy Lunaly sukses membuat tokoh yang nggak beres dan harus dirombak kepribadiannya.
Tapi, Juna ini baru berasa cowok ketika menggunakan bahasa lo-gue. Begitu Juna ber-aku-kamu, Juna jadi kehilangan 'suara' dan jiwa cowoknya. Dan lagi, ketika Juna beberapa kali menyebut orang yang lebih tua dengan kata 'beliau' saya jadi merasa Juna nggak brengsek-brengsek amat. Lah itu, masih sopan sama orang yang lebih tua. ^^

Tema yang menarik dan setting yang unik, membuat saya jatuh cinta pada Remember Dhaka. Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang Juna, saya diajak mengamati metamorfosisnya. Meskipun saya rasa kesadaran diri Juna agak terlalu cepat datangnya.

Sesuai dengan judulnya, Remember Dhaka, novel ini menyuguhkan setting Dhaka yang kuat. Pastinya Dy Lunaly telah melakukan riset yang benar-benar mendalam karena kota ini dideskripsikan dengan begitu detail. Saya nggak cuma mendapati lokasi-lokasi yang samar tapi lokasi yang tergambar dengan jelas.

Hampir sebagian besar dialog tokohnya menggunakan bahasa inggris. Bagi saya sendiri itu nggak masalah, tapi untuk beberapa murid remaja saya yang meminjam buku ini, saya sempat diprotes karena mereka nggak paham saking banyaknya kalimat inggris yang panjang. Untungnya saya guru yang baik hati *preet*, jadi saya bisa sekalian menjelaskan makna kalimat dan beberapa grammar yang salah. Haha...

Buat kalian yang ingin membaca novel ringan dengan setting yang berbeda dan unik, baca deh Remember Dhaka. Ada selipan petuah yang membuat kita berpikir ulang apakah benar hidup itu nggak adil sama kita :')

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Juna, kamu jangan berekspetasi macam-macam, tapi juga jangan langsung underestimate sama tempat tujuan kamu. Percaya sama Kakak, setisp tempat pasti menyimpan keindahannya sendiri. Begitu juga India dan Bangladesh." (hlm. 30)

"Hidup udah begitu baik kepadaku, apa yang bisa aku berikan?" (hlm. 70)

"Kita yang menciptakan tempat untuk diri kita sendiri, Jun. Selama kita berpikir ini bukan tempat kita, selamanya akan berakhir seperti itu. Tapi, kalau kamu mau berusaha sedikit lebih keras, kamu bakal tahu bahwa ini tempatmu." (hlm. 77)

"Hidup ini selalu tentang mengeja ikhlas. Bagaimana kita belajar untuk ikhlas menerima kondisi apa pun yang ada dalam hidup kita." (hlm. 99)

"Caring for the other is like a drop of water. It will make ripples troughout the entire pond. Kebaikan menyebar dan akan terus menyebar. Dan, yang paling penting itu bertahan dan akan menjadi bagian dari orang itu." (hlm. 151)

Minggu, 25 Oktober 2015

[Blogtour & Giveaway] Sudut Mati - Tsugaeda


Happy Sunday, all! Kali ini Nurina Mengeja Kata ditugaskan Titan Prayogo untuk mengadakan Blog Tour Sudut Mati dan mengundang teman-teman semua untuk ikut andil dalam membenahi Grup Prayogo… Siapa nih yang bersedia? :)
Hoho~ pasti banyak yang mau, kan? Tapi sebelumnya, yuk simak dulu review Sudut Mati berikut ini ^^



Judul buku: Sudut Mati
Penulis: Tsugaeda
Editor: Pratiwi Utami, Ika Yuliana Kurniasih, Adham T. Fusama
Perancang sampul: Bara Umar Birru
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: September 2015
Tebal buku: viii + 344 halaman
ISBN: 978-602-291-037-4


BLURB

Titan kembali dari Amerika Serikat setelah delapan tahun, tepat ketika Grup Prayogo milik ayahnya sedang krisis dan membutuhkan bantuannya. Selain kesulitan dalam urusan bisnis, ada ancaman dari kompetitor jahat, Ares Inco, yang memiliki keinginan menghancurkan keluarga Prayogo untuk selamanya.

Namun, Titan tak hanya menghadapi itu. Kakaknya, Titok, tak suka tersaingi olehnya di dalam Grup. Adiknya, Tiara, justru menikah dengan putra mahkota musuh. Dan, mungkin ia juga telah membawa kekasih yang dicintainya ke dalam bahaya.

Titan harus menghadapi itu semua. Sementara tanpa ia ketahui, seorang pembunuh dengan kode "Si Dokter" mengintai dan menunggu saat tepat untuk ikut campur ke dalam urusan mereka.

RESENSI

Titan Prayogo, putra ketiga dari Sigit Prayogo akhirnya mau pulang ke Indonesia. Delapan tahun sudah Titan merantau ke Amerika Serikat setelah kematian ibunya. Kematian yang memiliki sangkut paut dengan kakak keduanya, Teno.
Titan kembali karena ia merasa Grup Prayogo sedang berada dalam ancaman besar. Sigit Prayogo—sang ayah—terlalu asyik mencalonkan diri sebagai calon presiden dan menghambur-hamburkan uang perusahaan untuk mendanai kampanyenya. Titok, kakak sulung Titan yang menjadi pewaris bisnis utama, tak becus mengurus perusahaan. Tiara, adik perempuannya yang tampaknya hidup bahagia, namun ternyata menyimpan rahasia. Dan yang menggelisahkan, kompetitor mereka, Ares Inco, telah bangkit dan bersiap untuk menggulingkan dan menghabisi Grup Prayogo.
Titan harus memutar akal untuk menyelamatkan Grup perusahaannya, menjauhkan Kath, kekasihnya, dari bahaya, dan melindungi seluruh anggota keluarganya dari ancaman-ancaman musuh. Termasuk dari ancaman Teno, kakak keduanya yang telah membunuh ibu mereka dan ancaman "Si Dokter", pembunuh bayaran berdarah dingin yang paling ditakuti.
Mampukah Titan menuntaskan misinya? Siapakah "Si Dokter" sebenarnya? Apakah Grup Prayogo akan tetap berdiri atau justru mampu ditekan dan dihancurkan di sudut mati?

---------------------

Sebelumnya saya excited banget ketika novel Sudut Mati ini terbit. Tentu saja karena novel thriller lokal jarang sekali mengambil tema berbau korporasi. Maka ketika akhirnya saya bisa membaca novel ini, rasanya sungguh luar biasa. Bahkan sejak membuka lembar awalnya saja, saya sudah disodori fakta yang menurut saya begitu memancing rasa penasaran.

Dengan gaya tutur yang lugas, Tsugaeda membangun ketegangan secara cepat dan efisien. Setiap bab selalu diakhiri dengan kemisteriusan. Aura kecurigaan ditebar penulis bukan hanya pada satu-dua tokoh, tapi merata ke seluruh tokoh. Ini yang membuat ketegangan semakin meningkat dan rasa penasaran semakin menjadi-jadi.
Jalinan plotnya rapi dan saya sangat mengagumi kesabaran Tsugaeda menahan informasi-informasi penting untuk disajikan pada saat yang tepat.
Alur yang digunakan dalam Sudut Mati alu maju mundur, namun deskripsi waktunya jelas. Penulis bahkan menambahkan kaitan sejarah untuk memperkuat latar waktunya.

Dia lahir pada 1987, sehari setelah Margareth Tatcher terpilih lagi menjadi Perdana Menteri Inggris. (hlm. 4)

Saya rasa detail ini memberi saya gambaran lebih jelas akan latar waktu kejadian.

Bisa dibilang, tokoh dalam Sudut Mati ini banyaaak banget! Bayangkan, anggota keluarga Prayogo saja ada lima orang—Sigit, Titok, Teno, Titan dan Tiara. Belum lagi Kath, pacar Titan. Kemudian masih ada Nando dan Kevin yang mewakili Ares Inco. Dan masih ada lagi orang-orang perusahaan, orang-orang kepolisian, serta preman-preman bawahan Titok dan Kevin. Tapi saya sama sekali nggak dibuat bingung.
Itu karena pengkarakteran setiap tokoh dalam novel ini sangat kuat. Tsugaeda bukan hanya memberikan detail fisik dan gestur pada setiap tokoh tapi juga latar belakang mereka yang dideskripsikan dengan baik.

Namun saya juga mencatat adanya inkonsistensi penggunaan kata "saya" dan "aku" dalam dialog. Yaitu ketika Titok mendatangi Vilaili Tobing untuk berkonsultasi.

Secara keseluruhan, Sudut Mati adalah novel thriller yang cerdas dan rapi. Saya merekomendasikan novel ini untuk kalian yang sudah haus novel thriller lokal dan menantikan kisah penuh intrik yang akan membawa kalian tegang luar biasa.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Maafkan aku, Ibu! Tapi, Ayah harus dihabisi." (hlm. 2)

"Oh, ya? Beri tahu aku di toko mana bulan itu dijual? Besok pagi-pagi akan kubeli, sekalian cari sarapan." (hlm. 47)

"Kalau kau tak siap kehilangan satu hal, kau akan kehilangan segalanya." (hlm. 151)

"Jika telah sampai di atas, tengoklah ke bawah. Amatilah baik-baik. Kau berada di tempat yang terbaik untuk bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitarmu. Inilah keuntungannya pergi ke tempat tinggi." (hlm. 173)

************GIVEAWAY TIME************

Nah, sekarang waktunya saya untuk membagikan satu buah novel Sudut Mati untuk satu orang yang beruntung. Caranya mudah saja:

1. Peserta adalah warga negara yang berdomisili di Indonesia atau punya alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow twitter @KendengPanali @tsugaeda dan @bentangpustaka
3. Share blogtour dan giveaway ini dengan tagar #GASudutMati dan jangan lupa mention ketiga akun di atas.
4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar disertai nama lengkap dan akun twitter:

Mengapa kalian ingin membaca Sudut Mati? Dan apa judul novel thriller favorit kalian?

5. Giveaway akan dibuka selama 7 hari, dan ditutup pada tanggal 31 Oktober 2015 tepat pukul 23.59 WIB
6. Yang terakhir, selamat menjawab dan good luck! :)))

Jumat, 11 September 2015

[Resensi: Chemistry of Love - Netty Virgiantini] Usaha Amma Menaklukkan Kimia, Mister Sa'id dan Emir


Judul buku: Chemistry of Love
Penulis: Netty Virgiantini
Penyunting: Starin Sani
Perancang & Ilustrasi sampul: Gloria Grace Tanama
Penerbit: Bentang Pustaka
Lini: Bentang Belia
Tahun terbit: Juli 2012 (Cetakan Pertama)
Tebal buku: 144 halaman
ISBN: 978-602-9397-35-2
Available at: bukupedia



BLURB

Mister Sa'id, Kimia, dan Emir, selalu sukses membuat sekujur tubuh Amma gemetar dengan alasan berbeda. Mister Sa'id membuat jam pelajaran Kimia serasa detik-detik penantian di Padang Mahsyar, Kimia menjelma jadi pelajaran paling sulit, dan Emir, si Jago Kimia, membuat dadanya selalu berdebar-debar.

Agar bisa mengimbangi Emir, harusnya Amma juga bisa menaklukkan Kimia. Tapi, boro-boro bisa bersahabat dengan pelajaran satu itu, Amma bahkan sering diusir ke luar kelas oleh Mister Sa'id. Ini juga dilema yang bikin Amma galau berat. Usahanya akan terjal dan penuh pengorbanan.


RESENSI

Ammarilla, cewek kelas X SMA ini punya ketakutan terbesar dalam hidupnya: Kimia dan Mister Sa'id. Bagaimana tidak, guru kimia itu selalu mengusirnya keluar kelas setiap kali ia tidak bisa mengerjakan soal kimia di papan tulis. Dan entah kenapa, Mister Sa'id selalu saja menunjuk Amma sebagai korban pertama. Jadilah Amma merupakan siswa pertama di kelasnya yang disuruh keluar kelas.
Yang lebih memalukan, Emir, siswa kelas sebelah yang paling pintar dalam pelajaran kimia, selalu saja memergoki Amma yang berada di luar kelas tiap pelajaran kimia. Tentu saja Amma malu karena Emir adalah pujaan hatinya.
Sahabat-sahabat Amma, Ayu dan Wulan, tentu saja menganggap hal itu sebagai bahan bercandaan. Mana mungkin, kan, cowok jago kimia, yang ditunjuk sekolah sebagai duta olimpiade bisa membalas perasaan cewek lemot bin oneng yang jadi langganan keluar kelas tiap jam pelajaran kimia?
Amma pun berusaha mencari cara agar ia bisa terhindar dari Mister Sa'id. Mulai dari mendiskusikannya dengan Mas Anan, kakak semata wayangnya, hingga berencana menggelar aksi damai bareng teman-teman sekelas.
Berhasilkah Amma menaklukkan kimia, Mister Sa'id dan Emir sekaligus? Apakah rencananya berjalan mulus atau justru gagal total?
-------

Saya baca novel ini dalam sekali lahap, nggak ada setengah hari sambil nunggu si sulung sekolah. Puas banget bacanya. Chemistry of Love benar-benar cerita yang manis dan lugu. Plotnya mengalir rapi dengan diksi renyah khas Netty Virgiantini.

Konflik dalam Chemistry of Love merupakan konflik yang biasa ditemui remaja. Siapa sih yang nggak punya guru killer semasa sekolahnya? Takut atau nggak takut, tetap saja kehadirannya membuat kulit meremang dan jantung deg-degan nggak karuan.
Saya sendiri kerap mendapat curhat dari murid-murid saya tentang guru killer mereka. Macam-macam model galaknya, dan macam-macam pula cara menghukumnya. Tapi saya rasa tindakan Pak Sa'id di novel ini nggak mendidik banget. Masa, anak yang nggak bisa ngerjain soal malah disuruh keluar kelas, seharusnya kan terus dibimbing biar bisa. Makanya saya sangat mendukung aksi damai Amma :p
Ada juga konflik yang terjadi di dalam banyak keluarga: orangtua yang menuntut anaknya jadi PNS. Hadeeeh ini keluarga saya banget :'D

Karakter Amma di novel ini polos banget. Pemikiran dan ucapannya begitu lugu dan membuat saya jadi ingin nguyek-uyek rambutnya saking gemasnya. Agak telmi dan gampang khawatir. Tapi lucu ^^
Saya langsung memfavoritkan Pak Trisna dari caranya mengajar. Aah... andai guru pelajaran kimia saya seperhatian dia :D

Bicara soal chemistry, saya suka chemistry antara Amma dan Anan, meski porsi dialognya sedikit, tapi rasa sayang kakak dan adik di antara mereka sudah berkesan kuat. Persahabatan antara Amma, Wulan, dan Ayu pun terlihat kompak. Meskipun saya pasti sudah merajam sahabat saya kalau sampai dia mengumumkan siapa gebetan saya di hadapan guru dan teman sekelas. :)))

Ada selipan pengetahuan juga yang rapi dan nggak berkesan tiba-tiba. Mulus banget masuknya ke dialog. Top deh.

Desain sampulnya meski sederhana tapi sudah mewujudkan tema cerita. Lucu kalau menurut saya, apalagi bookmark-nya berbentuk gambar vas seperti yang ada di sampul. Aah, Bentang memang paling unyu kalau bikin bookmark.

Saya merekomendasikan novel ini bagi pembaca yang ingin mendapatkan kisah ringan, lucu dan polos, namun memiliki makna yang dalam.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Bukankah tugas seorang guru itu mendidik, mengarahkan, juga membimbing para siswa? Bukan malah membentak-bentak di depan kelas dan menghukum kalau mereka tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik. Bukankah anak-anak seperti Amma seharusnya mendapat perhatian lebih daripada anak-anak yang sudah pintar dan harus dibimbing dengan penuh kesabaran? (hal. 14-15)

Mengapa kebanyakan guru hanya menyukai anak-anak yang pandai dan pintar? (hal. 15)

"Sekecil apa pun, yang namanya peluang pantas diperjuangkan." (hal. 19)

"Asal kalian tahu, ya, Nona-Nona sekalian, kalau yang namanya jatuh cinta itu udah sepaket sama sakit hati. Begitu kata para pujangga asmara yang hidup penuh gelora cinta." (hal. 20)

Rabu, 09 September 2015

[Resensi: The Lost Symbol - Dan Brown] Simbol-Simbol yang Tersembunyi di Belantara Gedung Amerika


Judul buku: The Lost Symbol
Penulis: Dan Brown
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penyunting: Esti B. Habsari dan Andityas Prabantoro
Pemeriksa aksara: Deddy S.
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Januari 2010 (cetakan pertama)
Tebal buku: 712 halaman
ISBN: 978-979-1227-86-5



BLURB

What is lost... will be found.

"Tangan Misteri yang ditunjukkan penggalan tangan Peter Solomon adalah undangan untukmu, Mr. Langdon. Undangan untuk membuka sebuah portal kuno yang tersembunyi di Washington, DC. Jadi, di manakah portal itu, Profesor?"
***

Robert Langdon, sang simbolog genius yang berhasil memecahkan Da Vinci Code, kembali hadir dalam petualangan berbahaya yang penuh teka-teki. Undangan ceramah di Gedung Capitol, Washington, DC, berubah menjadi undangan kematian. Seseorang meletakkan simbol Tangan Misteri yang dibuat dari penggalan tangan Peter Solomon, sahabat dan mentor Langdon, sekaligus tokoh penting Persaudaraan Mason.

Sang penculik Peter meminta Langdon memecahkan kode-kode kelompok rahasia Mason yang melindungi sebuah lokasi di Washington, DC. Lokasi penyimpanan kebijakan tertinggi umat manusia, yang konon akan membuat pemegangnya mampu mengubah dunia.

Menjelajahi terowongan-terowongan bawah tanah Capitol, Perpustakaan Kongres, kuil-kuil Mason, dan Monumen Washington, Langdon harus berpacu dengan waktu sekaligus menghindari kejaran CIA yang menganggapnya sebagai ancaman nasional. Sebelum tengah malam, Langdon harus sudah berhasil memecahkan teka-teki kelompok Mason. Jika tidak, nyawa Peter akan mengguncang Amerika Serikat dan bahkan dunia bakal tersebar.


RESENSI

Kali ini Dan Brown mengambil Freemasonry sebagai latar ceritanya. Freemasonry atau lebih sering disebut Mason merupakan sebuah kelompok penuh kontroversi. Dituduh sebagai kelompok antiagama, mempraktikkan okultisme hingga dianggap bertujuan menguasai dunia dan menciptakan Tata Dunia Baru sesuai paham mereka, membuat Freemasonry dituding sesat. Kemisteriusan yang menyelubungi kelompok ini terlihat dalam ribet dan peliknya ritual inisiasi anggota baru yang ingin bergabung di dalamnya. Mereka juga menggunakan bahasa simbolik dan menjalankan ritual-ritual ganjil sehingga terkesan bersifat okultisme.

Cerita berawal dari perjalanan Profesor Langdon ke Washington, DC, untuk memenuhi permintaan Peter Solomon. Peter Solomon adalah filantrop, sejarahwan dan ilmuwan yang selama tiga puluh tahun telah membantu dan membimbing Langdon. Meskipun dinasti keluarga Solomon sangat berpengaruh dan luar biasa kaya, Langdon merasakan kehangatan dan kerendahan hati dalam diri pria itu.
Karenanya saat seseorang yang mengaku sebagai asisten Peter menelepon dan atas nama Peter meminta Langdon agar datang ke U.S. Capitol untuk mengisi ceramah, Langdon langsung bersedia.

Tak dinyana, Langdon tertipu. Tidak ada ceramah untuk acara Smithsonian. Yang ada ia disambut potongan tangan Peter Solomon yang difungsikan sebagai Tangan Misteri di tengah Rotunda Capitol.

Langdon dituntut untuk memecahkan simbol-simbol dalam Piramida Mason, yaitu legenda Mason yang menjanjikan harta tak ternilai. Namun ternyata CIA pun ikut campur dengan alasan demi keamanan nasional. Profesor Langdon bukan hanya harus berpacu dengan waktu untuk memecahkan misteri tapi juga harus bermain petak umpet dengan para agen CIA.

------

The Lost Symbol cukup membuat saya kebingungan di awal. Informasi tentang kelompok aliran, simbol-simbol, teologi dan ritual-ritual diluncurkan dengan deras oleh buku ini sehingga membuat saya kewalahan.
Namun seiring waktu, setelah petualangan kejar-kejaran Langdon bersama Katherine Solomon dimulai, saya bisa mencerna. Sedikit. :))))

Saya masih tetap berharap menjadi salah satu mahasiswi Profesor Robert Langdon dan mengambil mata kuliah yang diampunya. Yakin deh, saya nggak bakal bosan di mata kuliahnya ^^ Pengetahuannya tentang sejarah dan simbol gedung-gedung penting Amerika membuat saya takjub. Tapi respek saya makin berkurang di novel kedua ini. Sebagai ahli simbolog, Langdon cukup sulit diyakinkan bahwa Piramida Mason itu ada dan bahwa ada kekayaan besar yang disembunyikan oleh simbol-simbol Piramida Mason. Tentu saja hal itu membuat beberapa bagian terasa membosankan. Dan Brown seolah ingin meyakinkan pembaca yang skeptis, sehingga ia menjadikan Profesor Langdon sangat yakin piramida itu hanya mitos. Jadi ketika Langdon akhirnya teryakinkan, Dan Brown pun sepertinya berharap pembaca akan teryakinkan juga.

Sementara untuk sang antagonis, karakter Mal'akh benar-benar terlihat fanatik. Gila. Karakternya justru lebih kuat daripada Robert Langdon maupun Direktur Inoue Sato, sang penguasa tertinggi Office of Security (OS) CIA yang kemunculannya cukup mencurigakan.

Ada banyak kejutan dalam novel ini, dan cukup mencengangkan. Plot twist-nya membuat saya kembali mengulang membaca hanya untuk memahami cerita dari sudut yang berbeda.
Penerjemahannya bagus dan mengalir tanpa kesalahan eja maupun kesalahan penerjemahan. Sangat mulus. Nikmat banget bacanya :)

Overall, saya menikmati membaca novel ini karena asyik dibawa merumuskan simbol-simbol menakjubkan yang tersebar di jantung Washington, DC. Meskipun bagi saya rasanya masih kurang senikmat membaca The Davinci Code. ;)


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Terkadang legenda yang betahan selama berabad-abad ... bertahan untuk alasan tertentu." (hal. 49)

"Kunci masa depan ilmiah kita tersembunyi di masa lalu kita." (hal. 94)

"Pengetahuan adalah alat dan, seperti semua alat lainnya, dampaknya berada di tangan pengguna." (hal. 119)

"Salah paham terhadap simbol-simbol sebuah kebudayaan merupakan akar prasangka yang umum." (hal. 230)

Betapa berbeda dunia seandainya ada lebih banyak pemimpin yang meluangkan waktu untuk merenungkan kematian sebelum berderap menuju peperangan. (hal. 231)

Tubuhku hanyalah wadah bagi harta karunku yang terampuh ... pikiranku. (hal. 409)

"Kebenaran punya kekuatan. Dan, jika kita semua tertarik pada gagasan-gagasan yang serupa, mungkin kita melakukannya karena gagasan-gagasan itu benar ... tertulis jauh di dalam diri kita. Dan ketika mendengar kebenarannya, seandainya pun kita tidak memahaminya, kita merasa bahwa kebenaran itu tidak dipelajari oleh kita, tapi di-panggil ... di-ingat ... di-kenali ... sebagai sesuatu yang sudah ada di dalam kita." (hal. 567)

Rabu, 10 Juni 2015

[Resensi Jungkir Balik Dunia Mel by Indah Hanaco] Mengikuti Serunya Mel Terjungkir dan Terbalik


Judul buku : Jungkir Balik Dunia Mel
Penulis : Indah Hanaco
Penyunting : Dila Maretihaq Sari
Perancang sampul : Fahmi Ilmansyah
Pemeriksa aksara : Intan & Prita
Penata aksara : Gabriel
Ilustrasi isi : Itsna Hidayatun
Penerbit : Bentang Belia (Bentang Pustaka)
Tahun terbit : Januari 2012
Tebal buku : vi + 254 halaman
ISBN : 978-602-9397-05-5
Available at: bukupedia.com




BLURB

Hidup Mel hampir sempurna. Gimana enggak? Mel punya pacar dan sohib yang bener-bener asyik. Tico, pacar yang ganteng dan selalu ngertiin Mel. Fika, Nef, dan Yuri, tiga besties yang mengisi hari-hari Mel dengan penuh tawa.

Keadaan berubah dilema ketika Wing, mantan Mel, mendadak muncul lagi. Tico jadi tak sesempurna dulu di mata Mel. Eh tahunya, Wing juga sudah punya pacar baru.

Persahabatan Mel dengan tiga besties-nya pun sedang enggak akur. Yuri, si paling cantik bikin masalah di geng. Belum lagi, adik Mel, Shasy, yang juga nyebelin banget.

Gimana Mel menghadapi hari-hari di usia remajanya?
Mungkinkah Mel balikan lagi sama Wing?



RESENSI

Di usia 13 tahun Mel yang punya tiga sahabat dekat: Yuri, Nef dan Fika, pertama kalinya mengenal cinta. Merasakan jatuh cinta dan berpacaran dengan Wing, teman sekelasnya. Sayangnya cinta itu nggak berjalan mulus. Setelah enam bulan pacaran, Mel dan Wing putus karena Wing terlalu sibuk dengan les-lesnya dan nggak punya waktu buat Mel.
Memasuki SMA, Mel yang tetap satu sekolah -- bahkan satu kelas -- dengan ketiga besties-nya, berkenalan dengan gengnya Edgar. Mel sendiri berpacaran dengan Arland, salah satu teman Edgar. Sementara Edgar sedang mengincar Yuri. Malangnya, Mel melihat sendiri Arland selingkuh, mereka pun putus.
Bukan hanya hubungan percintaan Mel yang jatuh bangun, tapi persahabatan mereka berempat pun mengalami pasang surut. Ada saat di mana Mel iri pada Yuri, ada saat Nef tersinggung pada Yuri, ada pula saat Yuri mengalami kesedihan yang tragis.
Hingga akhirnya Mel bertemu Tico, mahasiswa keren yang perhatian banget dan dewasa. Tapi saat salah satu teman SMP Mel mengundang Mel ke acara ulang tahunnya, Mel kembali bertemu Wing. Meski mereka membawa pacar masing-masing, tapi getar-getar itu masih ada. Mel kembali merasakan sengatan listrik itu. Apa benar cinta mereka hanya cinta monyet? Apakah mereka bisa balikan sementara sama-sama telah memiliki kekasih?

-----

Jangan kaget saat membuka bab pertama Jungkir Balik Dunia Mel. Novel ini bukan novel biasa, karena bukan hanya dunia Mel saja yang jungkir balik tapi letak bab pertama dan selanjutnya juga sengaja diacak.
Bab pertama letaknya bukan di halaman satu tapi di halaman 24.
Sebenarnya penulis sudah memberi peringatan sebelumnya di dalam Ucapan Terima Kasih, agar pembaca jangan bingung membaca urutan babnya. Pembaca bisa baca dengan dua cara, sesuai urutan halaman atau urutan bab. Tapi saran saya, sih, lebih enak baca sesuai urutan bab, meski setelah selesai satu bab harus balik lagi ke daftar isi untuk melihat bab selanjutnya di halaman mana.
Konsep yang sangat unik meski sedikit merepotkan. Mungkin jika di akhir bab diberi informasi di mana letak bab selanjutnya, pembaca jadi lebih bisa menikmati tanpa gangguan.

Alurnya mengalir maju, plotnya juga lumayan rapi. Tiap bab menunjukkan babak baru kehidupan Mel. Meski sudut pandangnya orang ketiga tapi merupakan sudut pandang Mel, sebagai tokoh utama. Jadi hanya terfokus pada pemikiran dan perasaan Mel, ditambah lagi catatan harian Mel yang diselipkan di tiap bab, semakin menguatkan fokus sudut pandang.

Karakter dalam Jungkir Balik Dunia Mel cukup banyak. Tapi Indah Hanaco mampu membuat perbedaan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Perbedaan karakter ini konsisten terwujud dalam dialog, tingkah laku dan pemikiran.
Dialognya menarik terutama karena selipan informasi yang dijelaskan dengan catatan kaki. Ada informasi tentang Skatole, Joseph Pujol hingga ikan coelacanth dan mesin antikythera.

Konflik cenderung flat, makanya cocok dibaca sekali duduk. (Walau saya butuh tiga hari menyelesaikan novel ini karena terserang demam cikungunya). Ringan tapi sarat makna. Karena novel ini bukan hanya berisi kisah cinta Mel, tapi juga arti persahabatan, persaudaraan dan hubungan dengan orang tua.

Hanya saja Mel sepertinya terlalu banyak menemui kebetulan. Mel beruntung banget karena bisa sekelas dengan ketiga sahabatnya. Padahal saya dulu mesti kepisah kelas sama sahabat-sahabat saya huhuuuu~
Mel juga beruntung sudah putus dari Arland sebelum Arland kena kasus. Coba kalau masih jadi pacar Arland, Mel bisa ikut terseret kasus tuh.

Ukuran dan jenis font-nya menarik. Enak dibaca. Apalagi saya sama sekali nggak menemukan typo. Ilustrasi di dalamnya unyu. Meski saya nggak begitu sreg dengan cover-nya. Kurang jungkir balik kayaknya. :D

Saya beri 4 bintang untuk Jungkir Balik Dunia Mel.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Penampilan memang sering mengaburkan isi dari kemasannya. Padahal, isi jauh lebih penting. (hal. 53)

Cinta itu mirip jelangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Bisa pergi tanpa permisi dan hadir tanpa diundang. (hal. 75)

Rasa iri yang mengotori hati kadang membuat otak jadi beku dan lidah meloloskan kata-kata negatif yang menyakitkan. (hal. 89)

Mencintai bukan hanya tentang keinginan untuk memiliki. Mencintai juga tentang melepaskan dan membebaskan. (hal. 160)

Ke mana pun pandangan mencari, cinta tak akan datang bila saatnya belum tiba. Jadi, jangan menghindar jika hatimu telah mengatakan "ya". (hal. 177)

Mungkinkah sekadar mencintai saja tidak cukup untuk sebuah hubungan? (hal. 198)

Cinta memang tidak pernah salah. Meski sudah berusaha memalingkan wajah darimu, ternyata hatiku hanya mampu takluk padamu. (hal. 221)

"Terserah kalo orang bilang ini cinta monyet. Aku justru mau bilang, hati-hati sama cinta monyetmu." (hal. 236)

Jangan pernah meremehkan cinta monyet. Usia bukanlah tolok ukur untuk menilainya. Orang yang tepat, hati yang menemukan tempat bersandarnya, dan kesediaan untuk saling memahami, bisa mengubahnya menjadi "cinta naga". (hal. 237)

Kamis, 14 Mei 2015

[Resensi] Mencecap Rasa Vanila dalam The Vanilla Heart by Indah Hanaco


Judul buku : The Vanilla Heart
Seri : Love Flavour
Penulis : Indah Hanaco
Penyunting : Laurensia Nita
Perancang sampul : Fahmi Ilmansyah
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun terbit: Juni 2013
Tebal buku : 262 halaman
ISBN : 978-602-7888-47-0






BLURB

Komposisi: Cinta, Kejujuran, Ketulusan, dan Kesabaran.
Cara Penyajian: Tuangkan kejujuran, ketulusan, dan kesabaran ke dalam cangkir. Tambahkan 180cc air cinta, aduk, dan sajikan.

Aroma lembut vanila itu sangat kuat menguar, merasuk, dan memengaruhi cita rasa hidup manusia.
Karena kejujuran rasa vanila mengajarkan kita bahwa ketulusan dan kesabaran memampukan kita meraih cinta.

Kau membuatku sadar bahwa cinta itu perjuangan.
Berjuang mendapatkan, meluluhkan, dan mempertahankan.
Hingga aku menyadari bahwa hadirmu bagai vanila, mampu mendatangkan kesederhanaan cinta yang tidak biasa.
Tetapi tahukah kau, dirimu terkadang menyebalkan.
Terlalu cepat berlari, hingga membuatku takut dan ragu.



RESENSI

Hugo baru saja menerima keputusan menyakitkan dari Farah, kekasihnya selama 7 tahun terakhir. Farah menolak rencana pertunangan mereka dan meminta Hugo menundanya. Hugo yang marah dan merasa sakit hati, pergi dari rumah Farah begitu saja. Saat mengemudi dengan hati kalut itulah Hugo menabrak Kyoko, sahabat Dominique.
Dominique tanpa ampun memarahi Hugo habis-habisan, tapi siapa sangka Hugo yang baru kali itu bertemu dengan cewek segalak Dominique, langsung melamar Dominique. Tentu saja hal itu justru membuat Dominique makin marah dan menonjok hidung Hugo.
Hugo yang menolak menyebut dirinya patah hati, membelokkan rencana studinya yang tadinya ke Melbourne menjadi ke Bristol.
Setelah menghabiskan 5 tahun di Bristol, Hugo kembali ke tanah air dan bekerja di perusahaan orang tuanya sebagai wakil manajer pemasaran. Tapi alangkah kagetnya dia ketika di lorong kantor, dia sekali lagi bertemu dengan Dominique! Ternyata Dominique juga bekerja di perusahaan yang sama sebagai staf pembukuan. Mereka berdua sama-sama masih mengingat satu sama lain.
Hugo senang sekali karena kembali bertemu dengan Dominique, sementara Dominique sendiri malah sebal setengah mati. Terutama karena Hugo mulai mengejar-ngejarnya. Dominique enggan menerima, dia kan masih cinta pada Jerry, kakak kelas semasa SMA-nya yang sekarang jadi rekan sekerjanya. Meskipun Jerry malah naksir sahabat Dominique.
Apalagi mama Hugo masih saja menjodoh-jodohkan Hugo dengan Farah, yang juga tampaknya masih naksir berat pada Hugo.
Akankah Hugo berhasil mendapatkan hati Dominique atau dia sekali lagi harus kembali ke Bristol karena kali ini dia benar-benar patah hati?

The Vanilla Heart adalah salah satu novel dalam seri Love Flavour yang diterbitkan Bentang Pustaka.
Sebagai novel bercita rasa vanila, saya suka konsep dan filosofinya. Vanila memang unik dan punya cita rasa menarik. Makanya saya suka banget Vanilla latte, sama seperti Hugo :))

Karakter Dominique di sini adalah gadis yang meledak-ledak dan blak-blakan. Tipe yang pastinya akan jadi teman yang menyenangkan. Sedangkan Hugo, yaah Hugo ini tipikal hero-nya Indah Hanaco banget; sabar dan gentle. Perfect deh pokoknya.
Kakak-kakak Hugo juga sama sempurnanya. Huhu~ kalau ada 3 bersaudara yang tampan dan mapan semua, rasanya beruntung banget kalau jadi ibunya. Wkwkk~

Saya suka interaksi Hugo dan Dominique, saya nggak bakal bosan lihat gaya pacaran mereka. Fun tapi saling perhatian dan nyambung banget.

Plotnya rapi dan alurnya mengalir sampai jadi terhanyut. Saya juga suka setting Bristol dalam novel ini, cukup tergali dan menyajikan hal yang berbeda.

Desain sampulnya juara menurut saya. Suka banget! Jadi ngiler, deh! Iya, saya tipe pembaca buku yang sering jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cover novel. Tapi, isinya juga senikmat sampulnya, kok.

Saya suka jalinan ceritanya. Meski bukan ide yang baru dan umum dalam cerita roman, tapi The Vanilla Heart punya rasa tersendiri yang sama sekali nggak klise.

Pokoknya kalau baca novel ini, jangan jauh-jauh dari es krim vanila atau kopi vanilla latte, karena begitu selesai (atau bahkan saat di tengah cerita), kita langsung jadi pengen menikmati vanila.

Saya beri 4 bintang untuk The Vanilla Heart karena filosofinya yang menarik dan ceritanya yang manis.


TEBAR-TEBAT QUOTE


"Vanila tidak pernah bisa melebur ke bahan lain dan kehilangan jati dirinya. Vanila selalu punya identitas, di mana pun dia berada." (hal. 18)

Hidup ini tidak seharusnya bertumpu pada satu hal belaka. Ada banyak poin lain di dunia ini yang butuh konsentrasi dan fokus perhatian yang tidak terbagi. (hal. 34)

"Luka karena cinta tidak harus disembuhkan oleh cinta pula." (hal. 37)

"Vanila dalam secangkir vanilla latte adalah penetral untuk rasa pahit kopi dan berlemaknya susu. Temukan vanila dalam dadamu agar hidupmu lebih seimbang untuk dijalani." (hal. 38)

"Urusan cinta dan hati itu tidak bisa dipaksa atau diprediksi." (hal. 72)

"Mencintailah seperti vanila. Mencintai dengan cara membiarkan aromanya sebagaimana awalnya. Keindahannya tetap akan terpancar saat tidak harus mengenakan topeng dan kepalsuan." (hal. 201)

"Vanila mewarnai rasa sehingga kita tidak hanya mengenal kepahitan yang sangat pahit. Atau kemanisan yang sangat manis. Vanila membuat kita tahu, ternyata ada kepahitan yang manis atau kemanisan yang pahit." (hal. 254)

Minggu, 26 April 2015

[Resensi Gloomy Gift - Rhein Fathia] Menghadapi Ketakutan Terbesar dalam Cinta


Judul buku    : Gloomy Gift
Penulis          : Rhein Fathia
Penyunting   : Pratiwi Utami
Perancang sampul  : Wahyudi
Pemeriksa aksara   : Septi Ws
Foto sampul  : iStock
Penerbit        : Bentang Pustaka
Tahun terbit : 2015
Tebal buku    : 284 halaman
Dimensi         : 20,5 cm
ISBN               : 978-602-291-089-3
Available at   : bukupedia



BLURB

Kupandangi kamu dengan wajah memelas. Berharap kamu menyingkap apa yang sedang kita alami sekarang. Kamu tetap pada pendirianmu, bungkam. Pura-pura tak ada hal besar yang baru saja terjadi.
Bagaimana mungkin semua baik-baik saja? Di hari pertunangan kita, segerombolan orang menyerbu rumah. Tembakan diletuskan. Peluru. Jeritan orang-orang. Dan, kamu membawaku kabur masih dengan kebaya impian yang kini terasa menyiksa dipakai di saat yang tak sepantasnya.
Hari yang seharusnya bahagia, menjelma tegang dan penuh tanya. Kenapa kita harus lari? Belum cukupkah aku mengenalmu sejauh ini?
Aku tak siap menyambut kenyataan. Tak siap jika harus kehilangan. Tak kuat menahan rasa takut yang berkepanjangan.


RESENSI

Di hari pertunangannya, Kara Arkana mendapati kejutan, sayangnya itu bukan kejutan yang menyenangkan. Begitu prosesi pertunangan selesai dan para tamu - yang hanya kerabat dekat - bersantai, beberapa pria menyerbu rumah Kara dan melepaskan tembakan sambil mencari Zeno, tunangan Kara. Seketika Kara panik, apalagi Zeno tanpa memberi penjelasan apa-apa mengajaknya kabur. Terjun dari jendela kamarnya di lantai dua, berlari telanjang kaki di jalanan, kabur dengan motor yang terparkir di ujung gang dan bersembunyi dari satu tempat ke tempat yang lain. Di tengah pelarian mereka, Kara mendapat panggilan telepon dari salah satu kliennya yang mewanti-wanti Kara, agar berhati-hati terhadap Zeno, karena Zeno adalah seorang pembunuh.
Kara semakin panik, beberapa kali ia mencoba kabur dari Zeno, tapi nyaris pula terbunuh. Siapa yang harus Kara percayai? Zeno, tunangan yang telah -atau baru- dikenalnya 1,5 tahun tapi ternyata belum benar-benar ia kenal atau Pak Raymond, klien (yang menurut Kara) kebapakan yang mengaku putranya telah dibunuh oleh Zeno?
Saat Kara menemukan kenyataan bahwa profesi Zeno berbahaya, apakah ia memilih bersembunyi bersama traumanya akibat kehilangan papa atau tetap memilih bersama Zeno?

Rhein tidak banyak basa-basi dan langsung memberi gebrakan action di bab awal. Terus-menerus tanpa jeda. Hingga akhir novel. Saya serasa sedang menonton film action. Menonton? Iyaa, benar. Menonton. Karena Rhein bertutur dengan detil deskripsi yang lengkap. Suasana di sekitar, raut ekspresi tokoh utama, terbayang dengan mudahnya di kepala saya.
Plotnya mengalir dengan rapi. Saya senang karena Zeno dan Kara tidak 'tiba-tiba' menemukan motor-yang-diparkir-oleh-entah-siapa di pinggir jalan, atau kebetulan penjahatnya bisa membaca pikiran tokoh utama dan tahu ke mana larinya. Tidak. Tidak ada kebetulan-kebetulan dalam novel ini. Saya merasa tidak menemukan celah logika dalam novel ini. Hanya hukuman yang diterima penjahatnya yang hanya sebulan yang saya herankan. Membunuh di tempat umum loh, masak cuma sebulan??

POV menggunakan orang ketiga dan all of characters are soooo lovelly! Sungguh, saya bingung kok saya bisa jatuh cinta sama kesemua tokohnya seperti ini. Zeno yang tenang, tangkas dan dewasa, Dhewa yang tajam dan cerdas meski kadang kekanakan, Violet yang jenius dan unyu banget karena diam-diam iri sama Kara, Adrian yang cool meski porsinya cuma sedikit, daaan Furky yang keren dan asyik banget, terutama keterampilannya dan profesi ayahnya. Wow! Saya ternganga karena cewek ini.
Cuma Kara saja sih, yang nggak saya suka. Dia terlalu lemah hati dan girly sebagai heroine. Sebagai penyuka heroine yang kuat dan bertekad baja semacam Miriam di komiknya Kyoko Hikawa, saya geregetan banget sama Kara. Wkwkwkkk… Meskipun, bisa dibilang itulah mengapa Zeno bisa jatuh cinta padanya. Zeno memang butuh perempuan yang seperti Kara. Justru karakter jadi berimbang dengan girl stuff-nya Kara.
Saya suka chemistry antara Kara dan Zeno, kelihatan banget nyambungnya dan nyamannya mereka satu sama lain.

Desain sampulnya keren. Saya sih suka. Kesan misteriusnya ada, kesan macho-nya ada, kesan romantisnya juga ada.

Ada beberapa typo dalam novel ini, seperti :

- menggosok-gosokan -> menggosok-gosokkan (hal. 64)
- berada gedung sebelah -> berada di gedung sebelah (hal. 129)
- ada saku bagian dalam -> ada di saku bagian dalam (hal. 127)
- keluar kota -> ke luar kota (hal. 166)
- disekitarnya -> di sekitarnya (hal. 233)
- kebelakang -> ke belakang (hal. 234)
- ternyata dia ternyata -> ternyata dia / dia ternyata (hal. 258)

Konflik novel ini terfokus pada satu masalah. Saya merasa oke-oke saja, tapi mungkin untuk beberapa pembaca yang menginginkan drama, akan kecewa karena kurangnya intrik. Zeno dan Kara terlalu 'asyik' diburu Bos Lintang Samudra hingga tidak sempat menerima konflik lain selain konflik batin Kara yang trauma masa lalunya kembali.
Saya tau rasanya trauma hingga harus konsultasi ke psikolog. Hingga saya pikir traumanya Kara ini karena sesuatu yang really shocked her semacam melihat ayahnya terbunuh di hadapannya. Tapi kalau ternyata itu hanya karena takut kehilangan orang yang dicintai, ugh… itu keterlaluan nyebelinnya. Saya rasanya pengen ngejitak Kara, deh. Hahaha…
Dan lagi, kembali ke tag line di sampulnya "Terkadang cinta adalah tentang menghadapi ketakutan terbesarmu". Saya rasa wujud kalimat itu belum ada. Tokoh-tokohnya belum benar-benar menghadapi ketakutan terbesar mereka.

Saya harap sih untuk sekuelnya, eh ada sekuelnya kan, ya? Hihihi… Harus kalau menurut saya. Kalau enggak ada sekuel, kasihan itu hubungan Dhewa dan Vio, mereka manis banget. Karena saya ingin di kisah selanjutnya Kara bisa benar-benar menghadapi ketakutannya.

Saya suka twist-nya. Sungguh ada banyak kejutan dalam novel ini. Kalian harus baca sendiri agar bisa deg-degan dan terpesona sendiri.
Saya beri 4 bintang untuk Gloomy Gift.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Papa tidak pernah pergi dari hati Mama, juga dari hatimu, Kara Sayang." ( hal. 57)

Kadang kala selembar foto bisa menjadi benda mengerikan, hanya karena kemampuannya menghadirkan sosok yang tiada menjadi ada. (hal. 83)

"Konon, setiap anak perempuan selalu mencari sosok calon suami yang mirip ayahnya."
Kara menoleh cepat dan memandang Zeno sinis. (hal. 95)

Benar kata Ayah, cinta bisa membuatmu melakukan apa pun, termasuk melukai sosok yang kau cintai. (hal. 129)

"Kebanyakan pria menganggap wanita hanya sebagai makhluk yang ditakdirkan untuk ditaklukkan, bukan untuk dilindungi. Materi sebanyak apa pun tidak akan memenuhi 'rasa terlindungi' yang wanita butuhkan." (hal. 133)

"Jika masih rasional, itu bukan jatuh cinta, Ayah." (hal. 138)

Sometimes, someday means "I know it will never happen". (hal. 139)

"She's the girl my brother loves so much." Dhewa melirik Violet, yang sedetik berubah muram. And I'm in love with a girl who loves my brother so much. (hal. 148)

"Karena setiap orang butuh kambing hitam untuk penderitaan yang dia rasakan," lirihnya. "Bukankah menyedihkan ketika kamu menderita dan tidak tahu harus menyalahkan siapa?" (hal. 155)

"Muaythai."
"Itu olahraga favoritmu. Apalagi selain menembak?"
"Terjun payung, panjat tebing, menyelam …"
"Ke dalam lautan?" Mata Kara membulat takjub.
"Termasuk ke dalam hatimu." (hal. 181)

"Mama akan lebih menyesal jika tidak hidup dengan seseorang yang Mama cintai." (hal. 242)



Yang ini "Zeno dan Dhewa" milik saya, novel Gloomy Gift- pun jadi rebutan mereka seperti biasa. Haha…




 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon