Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 April 2017

6 Pengalaman Pertama Mencecap Buku Mereka

Holaaa... bertemu lagi dengan saya yang mulai malas ngisi blog ini. *sembunyi di balik taplak meja* Saat ini saya terpaksa nongol demi ikut seru-seruan mengisi acara yang digagas divisi event BBI. Biar kelihatan rajin gitu. Wkwkwk~

Setahun ini (April 2016 - Maret 2017) beberapa kali saya membaca buku karya penulis yang baru bagi saya. Baru dalam artian sebelumnya saya belum pernah membaca karyanya. Jadi semacam pengalaman icip-icip pertama. Ada yang berkesan dan bikin saya langsung suka, ada juga yang bikin saya mengerenyit dan merasa hilang selera.
Saya memang nggak keberatan bereksperimen mencicip karya penulis baru, apalagi jika penulis atau karyanya berseliweran di obrolan-obrolan sesama pencinta buku ataupun jelas-jelas bukunya direkomendasikan seorang teman.

Berkaitan dengan perayaan ulang tahun Blogger Buku Indonesia yang ke-6, maka saya ingin menuliskan tentang pengalaman pertama saya mencicipi karya 6 orang penulis yang saya anggap berkesan bagi saya. Pilih angka enam karena ini kan ultah ke-6, biar matching lah. ^^
Nah siapa saja mereka dan buku yang mana yang jadi pengalaman pertama saya? Inilah mereka:



1. Penelope Ward & Vi Keeland

Saya mencicip hasil duet kedua penulis ini pertama kali melalui novel mereka, Cocky Bastard. Ini pengalaman pertama saya yang langsung bikin saya readgasm saking nikmatnya membaca tiap halamannya. Saya pernah mengulas Cocky Bastard di sini.
Reaksi saya seusai membaca karya mereka adalah... menimbun. Hahahaha... Ternyata walau saya kesengsem berat dengan gaya bercerita mereka, saya masih belum bisa move on dari Chance si mulut kurang ajar.
Saya memang mendapat kesan pertama yang luar biasa terhadap karya Penelope Ward & Vi Keeland, sayangnya ini juga merupakan satu-satunya karya mereka yang saya baca setahun ini. Semoga saya punya timing yang pas untuk membaca karya mereka lagi. Soon. :)


2. Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Di Tanah Lada merupakan perkenalan pertama saya dengan karya penulis luar biasa ini. Saya langsung dibuat tercengang dan penasaran dengan karya-karyanya yang lain. Petualangan saya menelusuri karya Ziggy berlanjut ke San Francisco dan Seaside. Ketiga buku tersebut pernah saya ulas di sini.
Tiga kali membaca karya penulis ini, tiga kali pula saya mendapati feel yang berbeda-beda. Yang paling bikin saya merinding tentunya saat membaca Seaside. Ini yang membuat saya mengagumi Ziggy dan menjadikannya penulis yang karyanya selalu ingin saya baca.
Oh ya saya saat ini masih berusaha menyelesaikan membaca Semua Ikan di Langit yang... eung... membuat saya syok bahkan sejak lembar pertama. XD


3. Annisa Ihsani

Jujur saya baru berkenalan dengan karya Annisa Ihsani di tahun ini melalui Teka Teki Terakhir. Saya sudah jarang melirik teenlit lagi, apalagi penulis baru. Seringnya saya hanya membaca lini atau genre ini jika penulisnya sudah saya suka gaya bertuturnya. Tapi mencoba membaca karya Annisa Ihsani yang satu ini ternyata nggak bikin nyesel. Seru, asyik dan nggak melulu tentang cinta-cintaan. Gaya bertuturnya yang enak langsung bikin saya betah, kesederhanaan tokohnya bikin saya nyambung. Itu sebabnya saya masih ngidam buku Annisa Ihsani yang lain yang belum juga bisa saya temukan. Semoga kami bisa segera berjodoh. Review Teka Teki Terakhir pernah saya tulis di sini.


4. Skye Warren

Penulis erotica romance yang satu ini baru saya cicipi akhir tahun lalu. Pertemuan saya dengan karyanya karena penulis ini menulis retelling dongeng Beauty and The Beast versi erotica-nya. Saya yang penyuka kisah klasik gadis cerdas cantik bertemu pria buruk rupa & galak tentunya menyambar kesempatan ini. Nggak disangka saya suka dengan gaya bercerita Skye Warren dan menikmati membaca keseluruhan seri Beauty yang saya ulas di sini.
Sayangnya ketika saya mencoba membaca buku lain karya Skye Warren yang bergere dark romance, saya nggak sanggup. Hahaha.


5. Yusi Avianto Pareanom

Meledaknya kepopuleran Raden Mandasia membuat saya jadi tertarik juga untuk membaca kisah yang diganjar Khusala Sastra Khatulistiwa 2016 ini dan menuliskan reviewnya di sini. Saya bersama beberapa teman pun janjian untuk baca bareng buku yang lumayan tebal ini. Seru tentu saja. Dan saya sayang sekali untuk menamatkannya. Bukan karena kisahnya yang kaya akan dongeng dan legenda, tapi juga betapa piawainya Yusi Pareanom membawa saya terdampar dari satu peristiwa ke peristiwa yang dialami Sungu Lembu. Anjing benar.
Tentunya pengalaman ini membuat saya jadi penasaran terhadap penulis satu ini dan memburu karya-karya lainnya yang juga diterbitkan secara indie, sehingga harus ekstra keras mencarinya.


6. Brahmanto Anindito

Saya menyukai sejarah, terutama sejarah Indonesia. Peristiwa-peristiwa yang pernah bergejolak di negeri ini selalu menarik rasa ingin tahu saya. Maka ketika Brahmanto Anindito melahirkan sebuah novel thriller militer yang berlatarkan situasi pemberontakan di Papua, saya jelas tertarik. Membaca Tiga Sandera Terakhir—yang pernah saya ulas di sini—sungguh menjadi pengalaman pertama saya mencicipi karya Brahmanto Anindito yang mengasyikkan. Saya menikmati cara berceritanya dan bagaimana ia membuat saya berdebar di tiap adegannya. Rasanya sayang sekali harus cepat-cepat mengakhiri novel ini. Yang jelas saya ingin membaca karya-karyanya lagi.


Demikianlah enam penulis yang membuat pengalaman pertama saat berkenalan dengan karya mereka terasa berkesan bagi saya. Ibaratnya mereka membuat saya jatuh cinta di pertemuan pertama. #eaaaaakk
Nah, bagaimana dengan kamu? Siapa penulis yang bikin kamu jatuh cinta di pengalaman pertama? :))


Selasa, 03 Januari 2017

[Posbar] 5 Buku Terbaik yang Saya Baca di 2016 dan Harapan 2017

Tahun 2016 cukup luar biasa bagi saya. Saya menghabiskan membaca 275 buku dalam setahun ini. Lumayan meleset jauh dari target awal yang saya pasang sejumlah 366 buku. Yaah saya akui target itu memang muluk banget. Mungkin saya sedang kerasukan saat memasang target sebanyak itu, atau mungkin karena saya terlalu bahagia bisa membaca seperti orang gila di bulan-bulan awal tahun 2016.
Bisa dibilang saya rajin banget mendekati pertengahan tahun, hingga negara api menyerang. Oh bukan. Bukan negara api. Tapi dunia per-werewolf-an di telegram. Hahaha... saya pernah mencoba log out dan left group tapi hidup saya jadi hampa, jadi akhirnya saya nikmati saja.
Tapi membaca 275 buku dalam setahun benar-benar hal luar biasa bagi saya. Pencapaian tersebut bisa dilihat dari potongan gambar yang saya ambil dari goodreads saya berikut ini:




Nah... dari 275 buku tersebut saya ingin memilih 5 buku terbaik yang telah saya baca di 2016 versi saya.

1. Unveiled - Courtney Milan

Awalnya, Mbak Desty lah yang merekomendasikan buku ini lewat Ijak. Saya yang memang penyuka genre historical romance jelas nggak menolak dan mencoba membaca novel ini. Dan ternyata saya langsung suka. Banget! Saya langsung menobatkan Courtney Milan sebagai penulis favorit setelah membaca novel ini. Ulasan saya bisa dibaca di sini.

2. Cocky Bastard - Penelope Ward

Novel ini gokil parah. Saat membaca novel, saya paling suka dengan dialog yang lentur, luwes dan cerdas, seperti dalam Cocky Bastard ini. Ditulis dengan dua sudut pandang bikin novel ini dalem banget. Ulasan saya bisa dibaca di sini.

3. Devil May Cry - Sherrilyn Kenyon

Ini salah satu favorit saya dari seri Dark Hunter. Sin dan Katra langsung mencuri rasa sayang saya. Bagi saya mereka adalah best couple di antara pasangan-pasangan Dark-Hunter dan Were-Hunter lainnya. Saya mengulas novel ini di sini.

4. Deessert - Elsa Puspita

Seri yummylit ini luar biasa bikin baper bagi saya. Kisah cinta lama yang belum tuntas dipadu dengan cowok yang berprofesi sebagai cheff. Aih saya pokoknya suka banget sama cerita ini. Coba tengok ulasan saya di sini.

5. Scarlet - Marissa Meyer

Novel fantasi yang merupakan retelling dari dongeng Si Kerudung Merah ini langsung memikat hati saya. Terutama heronya yang favorit saya banget. Bahkan saya lebih menyukai Scarlet daripada buku pertamanya, Cinder. Ulasan saya tentang Scarlet bisa dibaca di sini.


Itulah kelima buku terbaik yang telah saya baca di tahun 2016. Kebetulan yang dibaca memang kebanyakan novel romance, jadi buku terbaik versi saya di tahun ini ya jelas romance. Wkwkwkk...

Nah setelah menutup tahun 2016 dengan sedikit kepuasan sekarang saya ingin mengungkapkan wishlist saya untuk tahun 2017. Harapan-harapan yang berkaitan dengan dunia perbukuan dan peresensian #halah

Dan daftar wishlist saya adalah:

1. Membaca 300 buku sepanjang tahun 2017. Okelah tahun kemarin saya gagal menyentuh angka 300, maka untuk tahun ini saya masih tetap berambisi untuk mencapainya. Semoga saja mood saya tetap bagus sepanjang tahun 2017 nanti.

2. Membaca timbunan. Tahun 2016 saya lumayan bisa mengurangi timbunan hingga hanya tersisa belasan buku yang belum saya baca. Tapi kok ya mulai masuk bulan Oktober saya mulai kalap gara-gara banjir diskon dan obralan di mana-mana. Ditambah lagi buku hadiah selama bulan Desember dari teman-teman Joglosemar dan BBI lainnya yang membuat saya terharu. Timbunan nambah!!!! 😱😱 Jadi harapan saya adalah membabat habis timbunan tersebut.

3. Membaca novel dengan setting New Orleans dan St Petersburg. Dua kota ini adalah kota favorit saya. Maka di tahun 2017 ini saya berniat mencari dan membaca buku-buku yang berkaitan dengan kedua kota ini.

4. Read and review. Tahun kemarin saya lumayan nggak tertib dalam mereview buku, untuk tahun ini sih pengennya selesai baca harus dibuat reviewnya.

Huee... cukup segitu saja deh. Saya nggak mau berharap banyak-banyak juga, takut malah nggak tercapai nanti. Gyahahaha...
Sebagai penutup saya ingin menuliskan harapan saya untuk perliterasian Indonesia: 

Semoga saja perbukuan di Indonesia makin baik, menghasilkan karya-karya yang bagus dan semogaaaaaa minat baca masyarakat juga makin meningkat. Keep reading ya, teman-teman :))))


Selasa, 01 November 2016

[Posbar] 5 Novel Supernatural yang Ingin Dibaca

Tema posting Bareng BBI untuk bulan Oktober adalah tentang Supernatural. Dan lagi-lagi seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah, saya telat lagi dalam memposting tulisan ini. Alasannya karena saya terlalu galau.
Bagaimanapun saya nggak suka cerita yang berbau horor. Satu-satunya kisah horor supernatural yang bisa saya tolerir cuma komik Nube. Itu pun karena gokil dan ada ehem-ehemnya. Jadi buku bergenre supernatural yang saya baca pastilah yang berbalut romance dan nggak serem. Saya ragu-ragu untuk menuliskan postingan ini karena saya takut melenceng. Namun toh, akhirnya saya memutuskan, untuk tetap menuliskannya. Hitung-hitung ikut meramaikan posbar BBI.

Menurut goodreads, supernatural adalah genre yang melibatkan vampir, penyihir, hantu, shape shifter, iblis, malaikat atau makhluk-makhluk jejadian sejenis sesuai kepercayaan yang berkembang di suatu daerah yang digunakan sebagai setting. Dan disebutkan juga bahwa supernatural-romance termasuk dalam subgenre supernatural.
Jadi berikut ini adalah 5 novel supernatural yang menurut saya ingin saya baca untuk menemani halloween saya (duh ribet kebanyakan saya) :

1. The Graveyard Book - Neil Gaiman



Nobody Owens––panggilannya Bod––adalah anak biasa, benar-benar biasa, seandainya dia tidak tinggal di kompleks pemakaman, dibesarkan oleh hantu-hantu, dengan wali yang tidak berasal dari dunia orang hidup maupun orang mati. Banyak petualangan di pemakaman itu, dan kalau Bod pergi ke dunia luar, dia terancam bahaya dari pria bernama Jack––yang telah membunuh seluruh keluarga Bod.
***
Sudah mupeng dari dulu sejak diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama, tapi saya tetap maju mundur untuk membacanya. Yaah nyali saya memang cetek.


2. Obsidian - Jennifer L. Armentrout



Katy
Aku tidak tahan berada dekat dengan Daemon, dia memang keren, tinggi dan memiliki mata hijau yang mempesona, tapi Daemon benar-benar menyebalkan. Sementara saudara kembar Daemon, Dee, sangat menyenangkan. Namun saat Daemon membekukan waktu dengan tangannya untuk menyelamatkanku, sesuatu… yang tak terduga terjadi. 

Daemon
Aku adalah anak cahaya, yang berasal dari luar Abell. Galaksi terjauh dari bumi, sekitar dua puluh tiga miliar tahun cahaya. Aku tiba di sini dalam hujan meteorit lima belas tahun yang lalu. Planetku dihancurkan bangsa Arum; anak bayang-bayang. Mereka iri dan bertekad untuk memadamkan semua cahaya di seluruh semesta, tanpa menyadari bahwa yang satu ada karena keberadaan yang lain.
****
Saya lumayan tertarik baca novel ini meski saya juga nggak demen cerita alien. Tapi kisahnya sepertinya menarik, dan rating di goodreads juga bagus. Hanya saja, yang mengganggu saya dan membuat saya sedikit urung diri adalah..... covernya. 🙈🙈


3. Lover Awakened - JR Ward



Di bayangan malam Caldwell, New York, terjadi perang mematikan penuh amarah antara kaum vampir dan pembantai mereka. Tersebutlah perkumpulan rahasia, yang tidak seperti kumpulan mana pun, terdiri atas enam vampir pejuang, pembela kaum mereka. Di antara para anggota perkumpulan yang disebut Black Dagger Brotherhood ini, Zsadist adalah yang paling menakutkan.

Zsadist, yang pernah dijadikan budak darah, masih membawa-bawa bekas luka dari masa lalunya yang penuh penderitaan dan penghinaan. Dia terkenal akan amukan dan keganasan yang tak terpadamkan, vampir biadab yang ditakuti baik oleh manusia maupun vampir sendiri. Amarah adalah satu-satunya teman dan teror satu-satunya nafsu sampai ia menyelamatkan vampir perempuan yang cantik dari kejahatan Lessening Society.

Bella langsung terpikat pada kekuatan yang Zsadist miliki. Tapi bahkan ketika hasrat ingin saling memiliki mulai menguasai mereka, dahaga Zsadist untuk membalaskan dendam Bella mendorongnya sampai ke tepian kegilaan. Sekarang Bella harus membantu kekasihnya mengatasi luka dari masa lalu yang penuh siksaan dan menemukan masa depan bersamanya.
*****
Saya mengikuti seri Black Dagger Brotherhood baru sampai buku keduanya. Penyakit saya yang suka kehilangan minat untuk membaca buku ketiga memang parah. Padahal menurut desas-desus, seri ketiga ini yang paling menarik dan bikin jatuh cinta. Tapi yaaah sepertinya saya harus menguatkan mental dulu biar nggak mewek saat baca kisah Zadist ini ;)


4. Half Blood - Jennifer L. Armentrout



The Hematoi descend from the unions of gods and mortals, and the children of two Hematoi pure bloods have godlike powers. Children of Hematoi and mortals--well, not so much. Half-bloods only have two options: become trained Sentinels who hunt and kill daimons or become servants in the homes of the pures.

Seventeen-year-old Alexandria would rather risk her life fighting than waste it scrubbing toilets, but she may end up slumming it anyway. There are several rules that students at the Covenant must follow. Alex has problems with them all, but especially rule #1:Relationships between pures and halfs are forbidden. Unfortunately, she's crushing hard on the totally hot pure-blood Aiden. But falling for Aiden isn't her biggest problem--staying alive long enough to graduate the Covenant and become a Sentinel is.

If she fails in her duty, she faces a future worse than death or slavery: being turned into a daimon, and being hunted by Aiden. And that would kind of suck. 
****
Sebenarnya saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap covernya. ^^ Tapi membaca blurb novel ini rasanya saya bakal suka kok. Seru gitu rasanya :)


5. Bay of Sighs - Nora Roberts



The new Guardians Trilogy novel from the #1 New York Times bestselling author of Stars of Fortune. 

To celebrate the rise of their new queen, three goddesses of the moon created three stars, one of fire, one of ice, one of water. But then they fell from the sky, putting the fate of all worlds in danger. And now three women and three men join forces to pick up the pieces…

Mermaid Annika is from the sea, and it is there she must return after her quest to find the stars. New to this world, her purity and beauty are nothing less than breathtaking, along with her graceful athleticism, as her five new friends discovered when they retrieved the fire star. 

Now, through space and time, traveler Sawyer King has brought the guardians to the island of Capri, where the water star is hidden. And as he watches Annika in her element, he finds himself drawn to her joyful spirit. But Sawyer knows that if he allows her into his heart, no compass could ever guide him back to solid ground...

And in the darkness, their enemy broods. She lost one star to the guardians, but there is still time for blood to be spilled—the mermaid’s in the water and the traveler’s on the land. For she has forged a dangerous new weapon. Something deadly and unpredictable. Something human.
****
Buku kedua dari The Guardian Trilogy ini menurut saya paling menggoda. Sinopsis dan covernya langsung bikin saya jatuh hati. Apalagi Nora Roberts adalah penulis yang sudah saya ikuti sejak belasan tahun lalu.

Yap... Itu dia kelima buku bergenre supernatural yang saya rasa bakal seru dibaca. Masih ada cinta-cintaannya dikit deh :))


Kamis, 27 Oktober 2016

[Random Talk] Belanja Buku di Online Shop Favorit Part. 1

Saya termasuk orang yang malas keluar rumah. Rempong karena pasti ada dua–atau minimal satu–pengintil yang minta ikut. Apalagi kalau tujuannya ke toko buku, bisa-bisa malah anak-anak yang ngehabisin jatah jajan buku.
Lagipula saya suka telat naksir. Pas lagi boomingnya saya nggak tertarik, begitu kelewat saya baru kepengin. Alhasil kadang bukunya udah nggak beredar di toko buku. (Padahal nunggu murah alias diskonan, sih) *keplak*
Jadi online shop penjual buku-buku bekas maupun buku lama pastilah jadi penolong saya. Bisa menemukan buku favorit dengan harga yang lebih murah, aah surga nggak tuh buat pembaca berkantong cekak kayak saya :))

Nah di postingan kali ini, saya pengin membahas tentang online shop yang menjual buku-buku unyu, keren dan terjangkau. Simak yuk.


1. Novelas Garden

Berawal dari pertemanan saya dengan seorang penulis kesayangan, Mbak Indah Hanaco, kami sering mendiskusikan genre historical romance yang jadi favorit kami. Dari Mbak Indah Hanaco lah saya kemudian mengenal Mbak Fenti pemilik online shop Novelas Garden. Buku-bukunya kebanyakan romance, ada terjemahan dan ada lokal. Tapi paling sering sih saya tergoda dengan hisrom dan conromnya. Mbak Fenti ini ramaaaaah luar biasa. Bisa dihubungi lewat inbox maupun WA, dan fast respon.
Kalau buku yang saya cari nggak ready, pemiliknya bakal berusaha mencarikan. Makanya saya suka dan puas belanja di Novelas Garden. Cuma hati-hati, pemiliknya pintar merayu. *korban belanja jadi bengkak* Wkwkwk~



Novelas Garden juga mempunyai akun sophee dan koleksinya bisa diintip di sosial media:

Instagram: @novelasgarden


2. Ksatria Buku

Kamu tinggal di luar Pulau Jawa dan kesulitan mendapatkan akses buku? Adalah Ksatria Buku yang jadi penyelamat para pencinta buku di Ambon dan sekitarnya.
Pada awalnya Ksatria Buku diniatkan jadi lapak online saja, namun demi niat baiknya untuk memupuk kegemaran membaca di sekitar lingkungannya, akhirnya Ksatria Buku juga membuka lapak di dalam toko Susana di Jalan Diponegoro no 41, Ambon, dari jam 9 pagi sampai jam 7 malam. Kadang di sore hari atau jika cuaca cerah, mejanya digelar di depan toko.



Buku-buku yang tersedia di sini beragam, banyak buku baru dari penerbit marjin kiri untuk pembaca usia dewasa. Namun seiring waktu sasaran Ksatria Buku mulai merambah ke anak SMP - SMA. Sehingga makin beragam buku yang tersedia di sana.
Saya menerima paket dari Ksatria Buku dengan menggunakan jasa JNE, tapi Ksatria Buku juga menggunakan Pandu Logistic untuk memudahkan dan meringankan biaya transfer bagi pembeli di luar kota Ambon.
Koleksi Ksatria Buku bisa diintip di:

Instagram: @ksatriabuku
Twitter: @ksatriabuku
Facebook: Ksatria Buku


3. Bookish Patronus

Nama online shop yang bermarkas di Solo ini terdengar unik ya. Dan memang seunik itulah Bookish Patronus. Menurut pemiliknya, Patronus adalah bahasa latin yang artinya pelindung. Tujuan Bookish Patronus memang ingin agar buku dan pembaca saling melindungi. Sejak awal Bookish Patronus sadar bahwa bisnis jual beli buku bukanlah usaha yang menguntungkan, tapi kebahagiaan toko online ini adalah mempertemukan buku dengan pembacanya.



Buku yang ada di sini begitu beragam: ada buku-buku baru dan bekas, ada buku lokal, impor dan terjemahan. Daaaan kemarin... Bookish Patronus juga membuka jasa titip untuk event Big Bad Wolf alias BBW lho. Seru kan? Tinggal SMS atau tulis komentar di postingan bukunya, kalian bisa mendapatkan buku-buku unyu koleksi Bookish Patronus.
Kalian bisa intip koleksi bukunya di akun:

Instagram : @bookishpatronus
Twitter : @BookishPatronus


4. Jobel Books

Jobel Books merupakan akun jualan buku -buku koleksi pribadi, second atau preloved yang berada di kota Palopo. Namun online shop ini hanya membuka lapaknya di tokopedia. Buku-buku yang tersedia merupakan buku fiksi populer dengan harga yang amat sangat terjangkau.



Kalian bisa intip koleksi toko ini di akun:

Tokopedia: Jobel Books


5. UncleGeorge Bookshop

Toko buku online yang satu ini keren banget. Koleksinya beragam. Mulai dari buku-buku lama, buku langka juga buku populer. Ada buku-buku impor second, buku klasik dan buku-buku non fiksi. Jangan salah, buku non fiksinya oke punya deh. Harganya pun terjangkau banget. Yang lebih seru, akun penjual buku ini sering bagi-bagi buku gratis lho.



Karena bertempat di Semarang, konon pembeli yang berdomisili di Semarang bisa dapat free ongkir.
Nah, koleksi UncleGeorge bisa kalian intip di:



Sebenarnya masih ada beberapa akun online shop penjual buku yang lain, tapi untuk saat ini saya persembahkan lima toko keren ini dulu ya. Saya akan membahas beberapa toko buku online lainnya di next chapter.
Jangan berhenti membaca hanya karena buku mulai mahal atau karena domisili. Akan selalu ada jalan untuk bertemu buku-buku unyu. Sama seperti jodoh.
Sampai bertemu di postingan saya tentang toko buku online yang berikutnya ;)

Sabtu, 01 Oktober 2016

[Posbar] Empat Tempat Favoritku untuk Membaca

Untuk bulan September, tema Posting Bareng BBI adalah tentang Tempat Baca. Jadi saya bakal ajak kalian ke tempat-tempat favorit saya yang selama ini saya habiskan untuk membaca buku. Tempat di mana saya merasa nyaman, merasa tenang hingga akhirnya bisa melahap banyak bacaan. Tempat itu adalah: rumah.

Sebagai ibu rumah tangga dan pekerja paruh waktu, saya jarang banget pergi sendirian. Alhasil waktu baca saya pun hanya waktu yang bisa saya curi di sela-sela pekerjaan rumah tangga dan mengajar. Jadi berikut adalah tempat-tempat favorit saya untuk membaca.

1. Lincak

Saya memang lebih suka lincak daripada sofa. Memang keras dan nggak senyaman sofa, tapi saya betah berlama-lama duduk di sini sambil membaca buku sambil mengawasi anak-anak bermain. Dengan beragam posisi, saya bisa menghabiskan 1 - 2 jam duduk di lincak sambil membaca.



Tempat ini adalah tempat favorit saya untuk membaca di siang hari sementara anak-anak bermain di luar rumah dengan teman-teman mereka. Karena lincak ini ada di ruang depan dekat pintu masuk rumah, ini menjadi tempat yang cukup strategis untuk menuntaskan hobi sambil tetap waspada memperhatikan anak-anak kalau mereka mulai bertengkar. Jadi begitu terjadi baku hantam saya bisa nimpuk mereka pakai buku. Wkwkwk~ Nggaaaak... Bercanda lho itu.


2. My single bed

Kalau anak-anak ada di rumah dan bermain, otomatis aktivitas baca saya pun tergusur ke single bed ini. Kasur milik saya sendiri yang bikin saya lebih sering ngelonin buku daripada ngelonin anak-anak. Karena di kasur ini saya halal meletakkan buku, notes, alat tulis atau apa pun yang berhubungan dengan membaca dan mereview. Lain halnya dengan double bed yang haram diisi buku tapi halal diisi lenguhan dan desahan. Oke... Ini mulai TMI. Mari kembali ke single bed.



Sayangnya, kasur yang ini letaknya lebih ke dalam dan nggak ada jendela. Jadi pencahayaan hanya mengandalkan kekuatan lampu. Hiks. Rencana ke depan sih, minta dibikinin jendela biar bisa hemat listrik dan mata nggak makin parah. Huhuu...


3. Meja belajar

Meja tempat saya mengajar ini juga jadi tempat favorit buat membaca. Mencuri-curi waktu sambil menunggu murid datang, atau kadang di tengah mereka sibuk mengerjakan soal yang saya berikan saya bisa membaca juga.



Meja ini juga saksi transaksi saya pinjam-pinjaman buku dengan murid saya. Kadang juga di sela pelajaran, meja ini jadi saksi diskusi yang seru tentang buku. Bagaimana pun buku telah mendekatkan saya dengan murid-murid saya, membuat suasana jadi cair dan menjadikan saya menjadi teman mereka dan bukannya tutor mereka. Jadi, inilah tempat membaca yang sangat spesial.


4. Sofa

Seringnya saya bakal kembali ke rumah masa kecil saya. Dan sedari dulu tempat inilah favorit saya untuk membaca. Di samping sofa ada jendela yang dulu jika memandang keluar, bakal terlihat gagahnya Gunung Merapi. Berbeda dengan situasi sekarang yang kalau memandang keluar akan terlihat..... rumah susun asrama mahasiswa. Hiks....



Namun tempat inilah yang telah melihat saya tumbuh sebagai pembaca. Dari majalah Bobo, Pasukan Mau Tahu, Wiro Sableng, novel remaja, hingga novel dewasa. Dari masa ke masa, tempat ini selalu jadi tempat favorit.

Nah itu dia tempat favorit saya untuk menghabiskan waktu membaca buku. Bagaimana dengan kalian? Tempat seperti apa yang jadi tempat favorit kalian untuk membaca? Jangan segan untuk berbagi di kolom komentar ya ^^


Kamis, 02 Juni 2016

[Posbar] Melihat Minat Baca di Lingkungan Sekitar




Saya merasa miris—walau nggak kaget juga—mendapati kabar betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Benarkah sebegitu mengenaskannya kah minat baca bangsa ini?

Ini mendorong saya untuk menengok ke sekitar, ke lingkup kecil lingkungan yang saya tinggali dan ke lingkaran pertemanan saya. Katanya sebelum menyasar lingkup sebesar negara apalagi negara kepulauan terbesar di dunia ini, kita bisa mulai dari lingkungan masing-masing.

Saya tinggal di Jogja, kota yang katanya adalah kota pelajar dan budaya. Perpustakaan sudah oke, toko buku jumlahnya lumayan meski persebarannya nggak merata hanya berkumpul di Jogja Utara, nggak heran karena di sanalah universitas-universitas besar berada. Komunitas dan event literasi pun sering banget diadakan, penerbit besar, kecil dan indie pun bermunculan. Namun usaha book rental hancur. Dulu mereka menjamur di mana-mana tapi kini hanya satu nama saja yang masih bertahan. Mereka nggak kuat menghadapi harga buku yang makin membumbung yang membuat harga sewa pun ikut naik.

Sementara lingkungan yang saya tinggali adalah lingkungan kelas pekerja menengah ke bawah. Akar rumput yang menggerakkan roda ekonomi secara perlahan dan kadang terseok. Profesi mereka mulai dari juru parkir, buruh pasar, pegawai ukm, penjual makanan keliling hingga pemilik warung kecil-kecilan. Dan di tengah masyarakat yang selalu sibuk ini rumah saya yang penuh buku saya buka untuk umum. Saya persilakan siapa saja untuk datang dan membaca koleksi saya. Bisa tebak siapa yang datang?

Hanya anak-anak.

Sedih? Mungkin.
Hal ini membuat saya bertanya apakah mereka nggak punya minat untuk membaca?
Kebanyakan menjawab nggak tertarik. Mereka lebih mempercayai televisi sebagai sumber informasi dan hiburan bagi mereka. Alasannya sederhana, televisi bisa dinikmati sambil menyeterika segunung pakaian, sambil memasak, atau sambil menyuapi anak makan. Lebih memilih mengikuti ribuan episode Uttaran yang nggak jelas ceritanya itu dibanding membaca novel romance Indonesia yang dari segi cerita dan pemaparan lebih berkualitas... wkwkk~

Kemudian saya beralih menanyai teman-teman masa sekolah dan kuliah. Orang-orang yang nggak kalah sibuknya dalam bekerja dan mengasuh anak minus pikiran bundet tentang "makan apa besok?" atau "utang ke siapa lagi buat bayar sekolah anak-anak besok?".
Ketika saya bertanya pada mereka, kebanyakan mereka menyukai membaca. Ada yang masih bisa membaca hingga satu jam per hari, ada pula yang hanya punya waktu kurang dari sepuluh menit per hari. Kendala mereka hanyalah dalam masalah waktu.

Tapi ada kesamaan di antara para pekerja menengah dan para pekerja terdidik ini yang membuat saya terharu. Keinginan besar mereka agar anak-anak mereka suka membaca.
Dari teman-teman saya, banyak yang bertanya atau meminta rekomendasi buku anak yang bagus, terkadang juga tips agar anak mereka suka membaca. Bukan hanya membelikan buku saja tapi mereka juga menyisihkan waktu untuk mendekap dan membacakan buku cerita.
Sementara dari lingkup lingkungan saya, di antara gerak dinamis mereka dalam semangat "nek ora obah ora mangan", mereka toh tetap mendukung putra-putri mereka gemar membaca. Mereka mengizinkan anak-anak datang ke rumah saya, bersedia membacakan buku bila diminta, beberapa bahkan meminta guru PAUD di kampung agar membacakan buku 5 menit sebelum kelas dimulai. Meski mereka nggak bisa menjadi contoh dalam hal minat baca, mereka tetap mencarikan sosok ideal agar bisa dicontoh oleh anak-anak mereka.

Mereka sadar benar bahwa minat terhadap buku dan aktivitas membaca bisa dipupuk sejak dini. Maka besar harapan kami agar kualitas buku anak bisa lebih baik, karena buku anak akan menjadi gerbang awal bagi anak-anak untuk gemar membaca. Maka range usia penting banget untuk disematkan di kaver buku.

Semoga geliat samar untuk menyiapkan generasi muda gemar membaca ini juga muncul di tempat-tempat lain. Semoga tahun-tahun ke depan anak-anak ini nggak " terpaksa" kehilangan minat baca mereka hanya karena minimnya dukungan pemerintah, baik dalam penyediaan sarana perpustakaan yang lengkap dan nyaman, ataupun juga dalam regulasi penerbitan buku agar tetap ramah di kantong sehingga terjangkau kelas menengah ke bawah ;)
Semoga komunitas baca tidak kehilangan kekuatannya untuk menyebarkan virus membaca dan semoga pustaka-pustaka kecil bermunculan dalam semangat untuk berbagi.
Selamat membaca anak-anakku kami akan terus memupuk dan menyirami minat baca kalian :)



Jumat, 25 Maret 2016

[Guest Post] 5 Film Adaptasi Buku yang Bukunya Belum Dibaca by Fikriah


Bulan Maret ini saya kedatangan tamu blogger buku imut nan unyu dari tanah Makassar. Gimana enggak blogger satu ini masih kelas IX SMP!!
Saya salut dan kagum dengan kekonsistensiannya di dunia membaca dan mereview. Apalagi tahun 2015 lalu dia menjadi Resensor Favorit dari Penerbit Haru.
Dan dia adalah Fikriah Azhari pemilik rumah fikriah-bookaddict.blogspot.co.id

Nah, Kiki silakan mulai bercuap-cuap di sini. Anggap aja rumah sendiri, yaaa :))



Halo! Fikriah Azhari melaporkan dari Nurina Mengeja Kata! Saya di sini mau ngapain? Bukan kok, bukan mau ngebuat rusuh, tapi mau ngeramaiin ihiiy~ *gayanya ngeramaiin blog orang padahal blog sendiri udah jarang update*. Untuk kak Ina, terima kasih sudah mengizinkan saya untuk hadir di blog ini ^^ senang banget rasanya hehe. Saya lagi suntuk di blog sendiri, eh dikasih suasana baru buat nulis di blog orang xD. Udah ah, mau kalem kalem dulu, siapa tahu habis ini diajakin nulis di blog mana lagi gitu *pasang muka paling manis*
*ambil gelas sama kopi mumpung ada pemanis*

Jadi, haruskah saya memperkenalkan diri terlebih dahulu? Saya Fikriah Azhari, bisa dipanggil Fikriah, bisa juga dipanggil Kiki, asalkan jangan manggil Fikri soalnya itu terkesan cowok banget ih. Kalau yang follow saya di Twitter, pasti tahu kalau saya ini pelajar SMP kelahiran November 2001 yang sedang dipusingkan oleh UN-BK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) yang akan diselenggarakan pada 9 sampai 12 Mei 2016 nanti. Dan ini udah Maret. Sedikit tertekan nih kalau ingat UN. Ah udalah Ki, bawa santai aja. 
Maka dari itu, saya mau menenangkan pikiran dulu dengan hadir di Nurina Mengeja Kata dan menuliskan daftar “5 Film Adaptasi Buku yang Bukunya Belum Saya Baca” ih daftar apaan tuh, judulnya panjang amat. Tak apalah. Yang penting isinya *mulai seenaknya lagi* Langsung aja ya nih?


Harry Potter series by J.K. Rowling



Jadi, siapa sih yang nggak tahu Harry Potter? Film adaptasi novel J.K. Rowling ini rasanya cukup populer dan juga meraih kesuksesan. Harry Potter ini ada 7 buku, namun untuk filmnya sendiri, buku ke-7 tersebut dibagi menjadi dua bagian. Jujur, saya belum baca novelnya dan juga belum nonton filmnya. Itu gimana ya? Wajar kan ya? Ada rasa penasaran sih, apalagi setelah mengetahui bagaimana cerita dari Harry Potter ini, saya tertarik untuk membaca bukunya. Kata Farah –yang merupakan teman saya-  ada beberapa adegan di buku yang justru penting tapi malah tidak ada di film.
Mungkin, suatu saat nanti –rencana terdekat adalah setelah UN- bakal nonton film Harry Potter dari yang pertama sampai terakhir, dan mungkin baca bukunya juga yang tebel itu? Tanteku punya lengkap bukunya, jadi mungkin bisa minjem nanti. *ini kurang yakin bakal sukses* 
*dih bikin iri, punya tante yang hobi baca* *kunyah bengkoang*

Divergent series by Veronica Roth



Bagi penikmat novel Divergent series karya Veronica Roth, beberapa di antara mereka –setidaknya teman-teman grup Line saya- mengutarakan kekecewaannya terhadap filmnya. Namun, untuk Allegiant yang baru tayang, setelah mewawancarai dan melihat rating yang didapat filmnya, sepertinya puncak kekecewaan pembaca ada di film ini. 

Saya belum baca bukunya, jadi masih oke oke aja nontonnya. Apalagi ada Theo James-nya x) *fangirling* Ahaha. Tapi waktu liat trailernya Allegiant, langsung keingat sama Hunger Games & Scorch Trials. Entah mengapa. Untuk novelnya sendiri, saya baru punya Insurgent dan belum dibaca, plastiknya aja belom dibuka *pokus UN*.
*murid teladan deh* :))

Jadi gimana, yang sudah baca bukunya, pendapat kalian tentang filmnya gimana?



Gone Girl by Gillian Flynn



Sinopsis:
Nick Dunne
Istriku menghilang. Tepat pada hari ulang tahun
pernikahan kami yang kelima. Ketika pulang hari itu, aku
mendapati sisa-sisa pergumulan di ruang duduk. Polisi
mencurigaiku. Banyak kejanggalan muncul dari hasil
penyelidikan. Parahnya, semua bukti mengarah
kepadaku. Apa yang istriku lakukan terhadapku?

Amy Dunne
Dalam buku harian, aku menulis dia mungkin akan
membunuhku. Kalau suatu hari aku ditemukan
mati... yah, itu bukan lelucon yang lucu. Setahun
belakangan aku sudah mempersiapkan diri.
Agar suamiku tak macam-macam denganku.

Nick harus mengerahkan segala upaya untuk
lepas dari penghukuman media dan publik,
menghindar dari penjara dan bahkan hukuman mati.
Menyelami isi kepala istrinya yang rumit dan
perfeksionis, hanya itu satu-satunya cara.

Saya belum baca dan nonton filmnya jadi nggak bisa banyak komentar x)


Maze Runner series by James Dashner



Saya sudah nonton filmnya! Kyaaaa sukaaa. Tapi, dengar-dengar dari yang udah baca novelnya, film keduanya yaitu Scorch Trials cukup melenceng dari novelnya, malah para pembaca bertanya nanti Death Cure mau diapain? Aihh saya mah apa atuh? Belum baca novelnya, masih ada di wishlist hehe. Tapi cukup suka lah dengan filmnya, menantikan Death Cure. Psst, ini filmnya nobar bareng teman-teman kelas >,< 



Laskar Pelangi by Andrea Hirata



Laskar pelangi ini diadaptasi menjadi film pada tahun 2008, dan bukunya telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, saya sudah nonton filmnya beberapa kalitapi belum baca novelnya.

***

Aih itu aja dulu ya, sebenarnya mau ngejelasin banyak tapi untuk menceritakan ulang sebuah cerita, sebenarnya saya ini lebih lancar bicara langsung daripada nulis x) Jadi, seperti yang kita ketahui, film adaptasi buku tidak selamanya bisa sebagus bukunya, kadang malah ada yang sangat mengecewakan.akanya banyak pembaca (termasuk saya) yang harap-harap cemas jika ada buku kesukaannya yang akan diadaptasi ke film, antara senang dan takut.

Segitu dulu ya. Makasih buat Kak Ina atas kesrmpatannya ^^ Maaf jika ada salah kata, maklum lagi error dikit habis mid semester. Hihi.

Senin, 15 Februari 2016

[Posbar] My 5 Book Boyfriends for Valentine


Haii, siapa nih yang kemarin merayakan valentine dengan orang spesial? Gimana, senangkah? ^^
Hari ini Nurina Mengeja Kata ingin berbagi  cowok keren, kira-kira cowok seperti apa yang saya inginkan untuk jadi yang spesial di hari valentine. Kalian mau nyimak? *sodorin biskuit dan air mineral gelas*


Pic source from here


Yang saya suka sebagai pembaca novel roman adalah saya bisa jatuh cinta berulang kali pada tokoh-tokoh novel yang saya baca. Jatuh cinta pada cowok-cowok yang berbeda dan 'selingkuh' tanpa takut dijitak suami. Wkwkk~

Maka berikut adalah My 5 Book Boyfriends for Valentine yang saya seleksi dari buku-buku yang saya baca dalam rentang waktu setahun terakhir.
Mengapa hanya dari buku setahun terakhir?
Ya, agar tahun depan saya bisa bikin beginian lagi dengan pria-pria yang baru. XD

Dan mereka adalaaaaaah....:

1. Marcus Reece, Duke of Exeter
(What A Gentleman Wants - Caroline Linden)

Walaupun dingin tapi Marcus ini bertanggung jawab banget. Setiap kali adik kembarnya bikin masalah, Marcus lah yg menyelesaikan. Marcus juga penyayang, dia rela ngelakuin apa aja demi kebahagiaan orang-orang terdekatnya. Termasuk menyediakan dana besar buat belanja! Hohoooo~ suamiable banget, kan? *matre*

2. Conrad Fisher
(It's Not Summer Without You - Jenny Han)

Conrad ini cowok paling nggak jelas yang saya temui setahunan ini. Nggak jelas apa maunya. Nggak jelas penginnya diapaain. Pengin dicintai apa pengin ditendang. Geregetan gitu baca kemisteriusan dia. Tapi.... ada saatnya Conrad begitu manis saat membuka diri. Dan sebenarnya dia sangat perhatian dibalik sikap nggak pedulinya lho. Dan dia pinter banget. Huhuu~ mau dong diajarin buat ujian. *geret Conrad ke kamar*

3. Nino Fahim Santos
(Cinta Sehangat Pagi - Aimee Karenina)

Cowok balsteran Indonesia-Spanyol ini bikin klepek-klepek bukan hanya karena ganteng, tapi juga karena alim dan menjadi aktivis lingkungan. Nino ini pernah bergabung dengan aktivis penyelamat Paus. *selamatin hati adek aja, Kak~*
Gaya pacaran Nino juga syari banget: nggak pegangan tangan, nggak meluk-meluk, apalagi nyium. Duh, hormat banget kan dia sama tiang bendera... eh sama cewek.

4. Aidan Artalasmana
(Wheels and Heels - Irene Dyah Respati)

Cowok yang satu ini unyu banget karena kepolosan dan kekakuannya. Gemes gitu nglihat dia gampang salah tingkah. Padahal mapan, ganteng, pinter tapi malu-malu sama cewek. Dan selera humornya yang mengenaskan itu, berasa pengin nampol! Tapi gakpapa deh garing, tinggal guyur air aja biar berkuah. *lah emang pangsit*

5. Wolf
(Scarlet - Marissa Meyer)

Cowok macam apa yang bisa bikin saya berpaling dari seorang emperor? Jelas Wolf dong. Saya yang tadinya ngefans sama Emperor Kai jadi jatuh cinta berat sama Wolf. Secara Wolf kan lebih lakik, jago jotos-jotosan. Haha~
Tapi yang saya suka adalah serigala dalam diri Wolf. Sifat pemalu dibalik kegarangannya itu yang bikin gemas. Wolf juga cekatan dan efisien. Lumayan kan buat disuruh-suruh nukang, benerin rumah. *plak*



Naah... itu dia five boyfriends pilihan yang berasal dari buku yang sudah saya baca setahun terakhir ini.
Semoga saja setahun ke depan saya kembali bisa menemukan buku-buku bagus dengan pria-pria cetar membahana agar bisa bikin lagi daftar seperti ini ;)

Lalu, bagaimana dengan kalian? Adakah book boyfriend yang jadi favorit kalian untuk menemani valentine kalian? ^^




Minggu, 10 Januari 2016

[Artikel] Menjadi Book Addict Agar Tetap Sexy


Membaca adalah hobi saya yang nggak pernah berubah sejak kecil. Saya butuh membaca sebesar saya butuh bernapas. Maka bolehkah saya menobatkan diri saya sebagai book addict?




Saya dan Moment Pertama

Menurut orangtua saya, saya mulai bisa membaca sejak usia tiga tahun. Kemampuan yang dianggap istimewa saat itu, dan tentunya membuat orangtua saya jadi rajin membelikan majalah bekas untuk saya. Mengapa majalah bekas? Karena menurut orangtua saya, harga satu majalah baru bisa sama dengan harga tiga majalah bekas, jadi kalau bisa dapat tiga kenapa harus pilih yang satu sementara isinya tetap sama bermanfaat. Prinsip inilah yang melekat kuat dan saya gunakan hingga dewasa kini. :)

Meski bisa dibilang majalah Bobo lah yang membuat saya suka membaca, tapi kecintaan saya pada sebuah kisah panjang timbul saat SD. Menginjak SD saya mulai mengikuti serial Api di Bukit Menoreh karya S.H. Mintardja yang muncul setiap hari di surat kabar Kedaulatan Rakyat. Walau sudah terlambat ratusan episode (karena yang saya baca adalah kisah petualangan Glagah Putih dan Rara Wulan) toh nggak mengurangi keasyikan menunggu dan membacanya setiap hari. Serial Api di Bukit Menoreh pulalah yang membuat saya menyukai cerita silat dan menikmati pelajaran sejarah kerajaan terutama kerajaan di tanah Jawa.
Sungguh, bukankah buku yang baik selain memberi petualangan juga memberi pengetahuan baru yang berguna?


Saya, cerita silat dan detektif

Cerita silat menjadi genre pertama yang saya suka dan mengantar saya pada buku cerita silat lain yang nggak kalah fenomenal, Wiro Sableng. Untuk buku yang satu ini saya harus sembunyi-sembunyi membacanya, karena simbah bisa marah kalau tahu saya membaca buku ini. Hehe... Maklum ceritanya memang rada nakal dan beberapa adegannya belum layak dikonsumsi anak SD. Tapi mengingat minimnya literasi anak kala itu dan saya sudah melalap semua cergam gareng-petruk, maka Wiro Sableng pun jadilah. (Jangan tiru adegan ini ^^)

Saat akhirnya ketahuan membaca Wiro Sableng saya pun dibelikan novel Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu. Lalu saya putuskan saya lebih suka Pasukan Mau Tahu karena petualangannya lebih lucu dan lebih menantang untuk memecahkan misterinya. Hingga kemudian bacaan misteri-detektif saya merambah ke novel-novel sejenis seperti STOP, Trio Detektif, Hawkeye Collins & Amy Adams, Seri Klub Detektif Cilik dan akhirnya... Agatha Christie.
Dua genre inilah yang menemani masa kecil dan masa remaja saya. Genre yang membuat saya suka matematika karena menimbulkan rasa penasaran dan rasa tertantang yang sama untuk memecahkan persoalan dan mengetahui jawaban yang benar. Siapa bilang membaca novel membuat jadi bodoh? Karena dalam kasus saya membaca novel justru membuat saya mendapat nilai tinggi dalam matematika. ;)


Saya dan buku wanita

Tahun demi tahun genre yang saya baca mulai meluas hingga saya memutuskan saya menyukai semuanya. Kini, dunia literasi makin semarak dan berwarna, sungguh memanjakan makhluk haus bacaan seperti saya. Banyak penerbit bermunculan dengan konsep dan visi-misi yang beragam. Salah satu yang menarik adalah Stiletto Book yang, jika ditilik dari nama dan logonya, merupakan penerbit buku perempuan.
Stiletto Book banyak menerbitkan roman-roman khas permasalahan wanita dan buku parenting yang memanjakan ibu-ibu semacam saya. Makin banyak deh ilmu yang saya dapat.
Apalagi sejak bergabung dengan Stiletto Book Club, saya mulai mengenal beberapa pembaca Stiletto Book yang bisa diajak tukar pikiran.

buku-buku Stiletto menjadi teman
me time yang menjaga saya tetap 'waras' ^^


Saya, budget dan lingkungan

Setiap bulan saya hanya menyisihkan dana Rp. 50.000,00 untuk membeli buku. Ini dana wajib untuk memanjakan diri, hadiah bagi diri sendiri. Tapi saya bisa belanja buku lebih dari itu, lho. Kok bisa? Nodong suami ya? Haha... nggak dong. Ada rahasianya. :))
Saya biasanya memilah sampah rumah: botol plastik, kaleng, koran, kardus bahkan kertas catatan utang. Sampah-sampah ini saya setor ke bank sampah di dekat rumah. Hasilnya lumayan lho! Sekali setor saya bisa dapat 15 ribu sampai 30 ribu. Uang hasil setor sampah inilah yang masuk ke budget beli buku. Jadi selain bisa menyelamatkan lingkungan saya juga bisa dapat tambahan dana untuk belanja buku. Asyik, kan? :)

Tapi meskipun sudah ada tambahan pun kadang buku yang diinginkan harganya masih nggak terjangkau. Solusinya... sabar. Sekarang banyak kok toko online dan penerbit yang menawarkan diskon dan sale yang menggiurkan, tak terkecuali Stiletto Book. Stiletto cukup sering loh mengadakan shocking sale yang menawarkan diskon besar-besaran, terutama kalau jadi member Stiletto Book Club bisa sering dapat diskon, deh.

Siasat lain untuk memiliki buku dengan dana terbatas adalah dengan prinsip saya semula: buku bekas. Atau bisa dibilang buku second. Jaringan pertemanan dengan sesama pencinta buku yang luas bisa membantu karena kadang mereka menjual buku kolpri mereka. Atau toko buku bekas bisa jadi pilihan, asal kita berhati-hati jangan sampai membeli buku bajakan.

Saya dan minat baca masyarakat

Hobi membaca saya ini bisa dibilang aneh oleh lingkungan saya. Karena saya tinggal di lingkungan padat di mana orang-orangnya selalu bergerak dinamis, kegiatan saya yang duduk diam membaca tentunya terasa kontras.
Lingkungan saya adalah lingkungan pekerja kelas menengah ke bawah, bukan saja para prianya tapi juga kaum wanitanya. Beragam pekerjaan, mulai dari penjaga kios di pasar, pemilik warung, penjual makanan, juga pekerja UKM. Tentunya sulit mengajak mereka membaca mengingat betapa dinamisnya mereka bekerja di luar dan mengurus rumah tangga mereka sendiri. Maka sasaran saya adalah anak-anak. Saya punya program read aloud untuk anak-anak, yang nggak menutup kemungkinan bagi sang ibu untuk ikut hadir. Dengan modal buku TBM (Taman Bacaan Masyarakat) saya berusaha mengemas kegiatan ini agar menumbuhkan minat baca anak-anak.
Di BKB (Bina Keluarga Balita) tingkat RW yang saya ketuai, saya menyisipkan materi membaca dan mendongeng bagi para ibu yang memiliki anak usia balita.
Saking memuja buku, jika anak saya diundang ulang tahun, bisa dipastikan kado yang dibawa anak saya bagi yang berulang tahun pastilah buku. Saya juga membiarkan rumah terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca buku saya dan buku anak-anak saya.
Meski usaha saya nggak seberapa, saya ingin mereka memahami bahwa banyaaak sekali manfaat yang bisa didapat dari membaca buku. Membaca akan melatih konsentrasi, menghindarkan kita dari kepikunan dan merupakan bentuk rekreasi yang murah.

Saya punya harapan besar agar anak-anak suka membaca. Karena negara Indonesia didirikan oleh para pencinta buku, orang-orang hebat yang haus pengetahuan dan telah melahap banyak buku. Itu sebabnya akses terhadap buku harus dibuka selebar-lebarnya, seluas-luasnya. Agar terus bermunculan tokoh-tokoh hebat berikutnya di negara ini.
Selama ini perpustakaan yang ada hanyalah perpustakaan sekolah, universitas dan pemerintah daerah. Mestinya perusahaan-perusahaan besar juga diwajibkan memiliki perpustakaan yang bisa diakses karyawan dan warga sekitar. Sehingga masyarakat bisa tergerak dan mulai gemar membaca.


Nah, dengan pengalaman saya ini sudah layakkah saya disebut sebagai Book Addict?
Tapi terlepas dari layak atau nggak layak, membaca tetaplah menjadi napas kehidupan saya. Jika diizinkan saya ingin tetap membaca sampai tua. Sampai mata saya lamur dan tangan saya tremor saat memegang buku, saya tetap ingin mereguk dunia melalui jendela-jendela itu lagi, lagi dan lagi.
Dengan begitu, meski saya telah tua, bungkuk dan keriput saya akan tetap sexy, benar bukan? ;)





Nama: Nurina Widiani
Akun twitter: @KendengPanali
Akun facebook: Nurina Kendengpanali
Email: nurinawidiani84(at)gmail(dot)com

Selasa, 06 Oktober 2015

[Artikel Suka-suka] Agatha Christie Penulis yang Memberi Warna Dunia Saya


Siapa yang nggak mengenal Agatha Christie, sebagai penulis kasus-kasus misteri yang kemudian digelari sebagai Ratu Kriminal, buku-bukunya digemari ribuan orang dari generasi ke generasi.
Bahkan, ulang tahunnya yang ke-125 tahun pun masih dirayakan di penjuru dunia oleh para penggemarnya.
Tokoh-tokohnya, Hercule Poirot dan Miss Marple, abadi dalam ingatan dan dibicarakan di forum-forum klub pembaca buku.



Saya sendiri beruntung karena bertemu karya Agatha Christie saat masih duduk di bangku SMP, sekitar 19 tahun lalu. Karya beliau yang pertama kali saya baca kala itu adalah Buku Catatan Josephine.
Itu karya yang menyeret saya ke petualangan mencari buku-buku Agatha Christie yang lain. Apalagi setelah saya membaca Pembunuhan di Orient Express yang membuat saya tergila-gila pada kejeniusan Agatha Christie, saya makin sering ke perpustakaan sekolah untuk memohon dipinjami novel misteri beliau.



SMP saya kala itu adalah salah satu SMP favorit di Jogja, yang koleksinya lumayan lengkap. Namun khusus untuk Agatha Christie, novel-novelnya diletakkan di lemari kaca terkunci. Jadi saya cuma bisa mengendus-endus menempelkan hidung dan wajah saya di kacanya memilih mana yang ingin saya baca lebih dulu. Kalau mau pinjam saya harus pesan dulu di istirahat pertama, itu saja tidak setiap murid boleh meminjam, dan baru bisa diambil ketika istirahat kedua. Ribet, tapi saya tetap tabah demi bisa membawa pulang misteri yang akan menyita waktu saya seharian.

Ada kepuasan tersendiri saat tebakan saya benar atau menyerempet benar, dan ada ketakjuban yang membuat saya tercengang saat saya berhasil dikecoh oleh Ratu Kriminal dan Misteri ini. Semakin lama membaca karya beliau, saya semakin jeli menandai pola psikologis yang dimainkan Agatha Christie terhadap pembacanya.

Peran Agatha Christie bagi hidup saya, beliau bukan hanya memberi saya petualangan yang seru dengan mengajak saya menganalisa bukan hanya kasus tapi karakter manusia. Cara bicara dan gestur bisa saja jadi petunjuk.
Sadar atau tidak, kebiasaan menganalisis itu pun terbawa dalam pendidikan formal. Saya merasa saya lebih mudah memahami soal cerita dan merasa tertantang untuk menyelesaikan persoalan.

Kini, bertahun-tahun setelah perkenalan saya dengan karya Agatha Christie, saya selalu merekomendasikan novel ini pada anak didik saya. Saya juga nggak segan membahas novel ini untuk mengasah kemampuan analisa mereka. Karena saya yakin, membaca novel Agatha Christie adalah latihan berpikir yang menyenangkan. Dan saya tahu kepuasan yang kita rasakan jika bisa mengungkap misteri bagai zat adiktif-merangsang kita untuk kembali mencari misteri lain dan memecahkannya. Baik itu misteri dalam novel maupun misteri dalam kehidupan nyata.

Pada akhirnya, Agatha Christie bukan hanya memberi petualangan tak terlupakan dengan misteri-misterinya, tetapi juga memberi bekal semangat dan merangsang pembacanya untuk memecahkan misteri-misteri besar atau kecil dalam kehidupan nyata pembacanya.
Terima kasih Agatha Christie :*

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon