Tampilkan postingan dengan label Christie Kelley. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Christie Kelley. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 September 2016

[Resensi] Scandal of The Season

Judul buku: Skandal Terbesar
Judul asli: Scandal of The Season
Seri: The Spinster Club #4
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Tikah Sofyan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2013
Tebal buku: 456 halaman
ISBN: 9786020222219

It


BLURB

“Bagaimana kalau kita lihat caramu menerima ciumanku?” 

Sebelum Victoria sempat mundur, Anthony menarik dan menciumnya. Kemarahan akibat dibohongi mereda ketika wanita itu membuka bibirnya sedikit. Anthony memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya, menikmati pertemuan lidah mereka. Entah mengapa Victoria merasa ingin mendorong Anthony agar melepaskannya, namun ciumannya berkata sebaliknya. 

Apakah reaksi itu merupakan respon yang ia pelajari dari profesinya? Apakah ia senang berpura-pura menjadi pelacur yang lugu? Perlahan Anthony menjauh dan tersenyum seraya menatap raut Victoria yang kebingungan. Raut wajah Victoria bukan raut wajah seorang perempuan yang terpaksa menerima ciuman. Anthony mengangkat dagu Victoria. “Kalau kau terus menciumku seperti tadi, aku sendiri akan mengira kau menginginkanku.”


RESENSI

Sudah sepuluh tahun berlalu sejak Somerton melakukan hal yang tidak pantas terhadap gadis penjual jeruk yang ditaksirnya. Beberapa tahun terakhir ini, dengan gencar Somerton berusaha mencari tahu di mana gadis itu dengan bantuan Sophie, si cenayang. Dan kali ini secara melegakan, Sophie akhirnya memberi tahu di mana gadis itu berada saat ini.
Dan petunjuk Sophie membawa Somerton kepada Victoria, gadis pemalu dan kutu buku yang merupakan teman Sophie. Sayangnya di hari ketika Somerton berinteraksi dengan Victoria, Somerton kehilangan kalung berharga milik ibunya. Takjub akan kenyataan, Somerton membuat perjanjian dengan Sophie. Mereka akan saling bekerja sama dan Victoria harus berpura-pura menjadi wanita simpanan milik Somerton. Semua demi misi terakhir Somerton. Akankah mereka berhasil?

---------------------

Akhirnya saya memutuskan membaca Scandal of The Season, saking ngebetnya saya untuk menelusuri kisah percintaan Somerton, tokoh favorit saya dari seri The Spinster Club. Sejak awal, Somerton selalu hadir dalam kisah-kisah sebelumnya sebagai agen alias tangan kanan Sophie dalam mencomblangkan para anggota klub perawan tua. Somerton dibalik sikapnya yang kelihatan bajingan dan seenak pantatnya sendiri itu, pastilah hero yang paling potensial di antara hero lainnya.

Dan untungnya harapan saya terwujud. Novel Scandal of The Season bukan saja menghadirkan hero idaman saya, tapi juga heroine yang luar biasa dan bikin saya takjub. Di novel sebelumnya, saya sama sekali nggak tertarik ataupun terkesan pada Victoria, dia seolah hanya pelengkap dalam kelompok kecil itu. Namun ternyata Victoria pun sama cerdiknya dengan Somerton. Kesan yang saya tangkap selama ini runtuh seketika saat mengetahui profesi Victoria sebenarnya. Victoria merupakan pencopet yang canggih, yang beberapa kali membuat Somerton harus mengakui kelihaiannya.
Tentunya seru banget mengikuti kisah cinta antara mata-mata kerajaan dan seorang pencopet. Sungguh perpaduan yang menarik dan membuat jalinan cerita ini makin mengasyikkan.

Buku keempat dari seri The Spinster Club ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan fokus utamanya bergantian antara Somerton dan Victoria. Alurnya mengalir maju dengan setting tahun 1807 pada awalnya, ketika saya dibawa ke tahun yang krusial bagi Somerton, Anne Smith dan Lady Whitely. Kemudian di bab selanjutnya, setting telah maju ke tahun 1817, tepat sepuluh tahun dan menjadi waktu yang tepat bagi Sophie untuk menjodohkan Somerton dan Victoria.

Novel ini pun berbeda dengan novel sebelumnya dari seri The Spinster Club. Betapa tidak, Scandal of The Season menyajikan misteri akan latar belakang kedua karakter utamanya di samping petualangan mereka dalam menjalankan misi melindungi prinny. Jadi, novel ini bukan hanya kisah cinta berbau skandal saja, tapi juga memberi kisah usaha Somerton dan Victoria dalam menyelidiki dan menuntaskan misi mereka. Kisah yang seru dan mendebarkan.
Namun karena saya sebelumnya sudah membaca buku kelimanya, asal-usul dan latar belakang keluarga Somerton sudah nggak mengagetkan saya lagi. Hahaha...

Saya suka dengan interaksi antara Somerton dan Victoria. Dialog yang mereka lemparkan satu sama lain begitu hidup dan intens. Chemistry di antara mereka berdua saya rasa merupakan chemistry terbaik jika dibandingkan dengan tokoh di novel yang lain dalam seri yang sama ini. Apalagi ketika tiba di saat sudut pandang terfokus pada Somerton, duuuh bikin klepek-klepek deh ungkapan perasaan dan penderitaan hatinya.
Cara Somerton cemburu pada Nicholas dan Hardy itu manis banget. Yaaah... ini kan dunia novel ya, jadi tokoh utamanya gampang cemburuan sih bebas aja. Tapi kalau di dunia nyata, cowok cemburuan mah tinggalin aja. Jangan diberi kesempatan untuk berbaikan. Wkwk~

Saya suka cover versi terjemahan ini. Bisa dibilang saya jatuh cinta pada cover novel historical fiction dari penerbit Elex Media Komputindo, karena selalu menampilkan gaun-gaun yang indah dengan warna yang cerah. Sayangnya untuk penerjemahannya masih kurang bagus dan banyak sekali typo dalam novel ini.

Overall, saya suka banget dengan Scandal of The Season. Sebuah kisah dengan karakter tokoh yang menarik dan beda dari yang lain. Seorang hero yang terluka hatinya, seorang heroine yang badass-nya minta ampun, dan sebuah konflik berbahaya yang berpotensi menyatukan mereka. Sungguh kisah yang luar biasa manis dan romantis.

Kamis, 22 September 2016

[Resensi] Every Time We Kiss - Christie Kelley

Judul buku: Setiap Kali Kita Berciuman
Judul asli: Every Time We Kiss
Series: The Spinster Club #2
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Layna Ariesianti
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: November 2011
Tebal buku: 384 halaman
ISBN: 9786020013404



BLURB

Wanita itu menghela napas, suara yang indah yang membuat perhatiannya kembali fokus ke bibir Jennette yang penuh dan berwarna merah jambu.
"Aku harus membuat rencana percomblangan ini dengan lebih baik lagi."

Dia mendekat selangkah ke Jennette, menyadari saat ini mereka sudah berdiri terlalu dekat dengan satu sama lain.
"Mungkin kau memang tidak ingin melakukannya dengan lebih baik?"
Jennette menengadah. "Maksudmu?"
"Mungkin kau tidak mau mencarikan seorang pengantin untukku."
"Tapi... Oh, tidak," katanya sambil menyunggingkan senyum tipis dan menggeleng "Aku tidak akan menikah denganmu."
"Mungkin," bisiknya. "Tapi tidakkah kau ingin tahu apa yang akan kau lewatkan?"
Mata Jennette yang biru berkilau jahil. "Tidak juga."

Dia mengusap pipi Jennette dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan sampai wanita itu gemetar. "Tidak pernahkah kau menginginkan seorang berandalan di ranjangmu?"
"Seseorang sepertimu?"
"Persis."


RESENSI

Setelah lima tahun dikucilkan oleh kalangan ton, tiba saatnya bagi Matthew untuk kembali ke masyarakat kelas atas. Ini semua karena kematian ayah dan kakaknya, yang membuatnya mewarisi gelar Earl of Blackburn. Namun sayangnya, ton masih belum bisa memaafkan kesalahan fatalnya. Tak ada yang bisa melupakan fakta bahwa Matthew telah membunuh John, tunangan Lady Janette Selby, lima tahun lalu.
Maka untuk membantunya mendapatkan istri yang sesuai dengan mas kawin yang besar, Matthew justru meminta bantuan Jennete. Karena sesungguhnya hanya mereka berdua yang tahu dengan pasti apa yang terjadi di hari naas lima tahun yang lalu.
Janette bersedia membantu. Namun semakin lama ia mencari kandidat istri bagi Matthew, semakin tak karuan rasa hatinya. Ia mendapati bahwa ketertarikannya pada pria itu tak pernah memudar, begitu juga dengan Matthew. Sekuat tenaga Jennete berusaha melawan perasaannya, karena baginya Matthew terlalu baik untuknya.

--------------------

Every Time We Kiss merupakan buku kedua dari seri The Spinster Club. Seri yang membuat saya tertarik karena selalu melibatkan skandal para heroinenya. Setelah membaca seri pertama dan seri kelimanya, kali ini saya memutuskan untuk membaca Every Time We Kiss.
Namun jika dibandingkan dengan skandal yang menghebohkan antara Avis dan Lord Selby, kakak Jennete, di Every Night I'm Yours, kisah dalam novel ini cenderung flat dan membosankan.

Sebenarnya saya menyukai ide cerita dan konflik novel ini yang belum pernah saya temukan di novel dengan tema senada. Tentang seorang pria yang saking cintanya dan saking gentleman-nya mau melindungi si gadis dan memikul semua kesalahan. Rasanya sungguh mustahil. Hebat benarlah kalau memang ada di dunia nyata.
Sisi romantis saya (jiaaah ngaku-ngaku kalau romantis) menganggap tindakan Mattew benar-benar manis dan romantis. Tapi sisi rasional saya rasanya pengen mencak-mencak dan berharap Matthew mendapatkan keadilan. Terutama ketika Mattew diserang secara verbal oleh Mr. dan Mrs. Marston di hadapan seluruh tamu alias separuh ton. Huhuuu rasanya jadi pengin peluk Mattew.
Karakter Matthew benar-benar karakter hero yang sempurna. Dia mengaku seorang bajingan, tapi toh dia punya rasa tanggung jawab dan gentleman banget. Bukan bajingan sejati semacam Somerton (dan betewe saya masih tetap naksir berat pada Somerton dan masih menanti waktu untuk membaca kisahnya). Beberapa kali Mattew punya kesempatan untuk mengkompromi Jennete, tapi tetap saja ia membatalkannya. Hanya demi nama baik Jennete. Duuuh... so sweet banget nggak sih? *meleleh*
Sementara Jennete sebagai heroine yang cukup menyenangkan. Saya suka dengan kecerdasannya, dengan kemampuannya mengendalikan para lelaki di sekitarnya, keahliannya mendebat Selby, juga bakat-bakatnya yang membuat ia bukanlah gadis bangsawan yang membosankan. Tapi rasanya capek juga membaca pengingkaran yang dilakukannya. Kalau cinta ya cinta aja lah neng, nggak usah dibuat repot. Hahaha...
Sebab lucu rasanya melihat Jennete sibuk mencari jodoh yang tepat untuk Matthew, namun setiap kali melihat Matthew berdua saja dengan seseorang calon istri potensial, Jennete bakal langsung bete. Duh, kasihan kau, Nak.

Konfliknya cukup bagus. Ada banyak peran yang muncul, tapi jangan kuatir karena nggak bakal membingungkan. Kali ini konfliknya bukan saja berasal dari dalam diri hero dan heroinenya saja, tapi juga ada konflik yang berasal dari luar. Nah, untuk pembawa konflim dari luar inilah yang membuat saya mengurangi poin novel ini.
Well, memang banyak hero di novel-novel lain yang punya sejarah seks yang luar biasa. Banyak yang disebutkan punya mantan kekasih yang hebat. Namun, Matthew di sini sebelum kembali ke masyarakat kalangan atas, telah memelihara seorang kekasih. Walau hal ini banyak dilakukan oleh bangsawan pada masa itu, saya tetap merasa terganggu mendapati Matthew telah main perempuan cukup lama. Dan sepertinya Jennete nggak ada nasalah dalam hal itu. Huhuu.. kok malah saya yang baper ya saat tahu Matthew punya gundik selama beberapa tahun.

Untuk terjemahan novel ini sayangnya masih banyak terdapat typo, entah kekeliruan nama antara Anthony dan Nicholas, juga kesalahan penulisan kata. Saya juga kurang sreg dengan penyebutan "bujang" sebagai kata ganti untuk "pelayan". Aneh saja kedengarannya. Tapi secara keseluruhan tetap enak dibaca dan cukup luwes.

Yah, Every Time We Kiss yang jelas bukanlah novel favorit saya dalam seri The Spinster Club, tapi lumayan seru dan mengasyikkan. Mengikuti kisah cinta yang terpendam selama lima tahun dan terungkap setelah sang hero kembali. Hah, saya jadi pengin memutar lagu KLBK-nya Yovie Nuno jadinya :))))

Minggu, 18 September 2016

[Resensi] One Night Scandal - Christie Kelley

Judul buku: Skandal Satu Malam
Judul asli: One Night Scandal
Seri: The Spinster Club #5
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Eka Budiarti
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: November 2013
Tebal buku: 424 halaman
ISBN: 9786020222134



BLURB

Aroma wanita itu bagaikan lavender dan rasanya bagaikan dosa... 

Lahir dalam keluarga yang ’salah’, membuat Sophie Reynard memahami sepenuhnya konsekuensi hasrat yang tak dikendalikan. Meski berhasil menjodohkan teman-teman bangsawannya, kepiawaiannya tak berguna bagi dirinya sendiri. Jatuh cinta pada bangsawan tanpa garis silsilah kuat hanyalah sebuah kesia-siaan. 

Tapi itu tidak menghentikannya dari petualangan satu malam penuh hasrat bersama Nicholas Tenbury... Marquess of Ancroft!


RESENSI

Merasa kesepian karena para sahabatnya telah menikah, Sophie Reynard memutuskan untuk berlibur ke Venezia. Ketika sedang berkonsentrasi menatap air kanal untuk mencoba meramal masa depannya, tanpa sengaja, Sophie jatuh ke dalam kanal dan membentur gondola yang dinaiki Nicholas Tenbury. Pria itu pun dengan sigap menyelamatkannya dan membawanya ke rumahnya.
Ketika memandang Nicholas, secara samar dan singkat, Sophie mendapat penglihatan bahwa pria itu adalah jodohnya. Maka dengan berani ia pun merayu Nicholas. Sophie menganggap Nicholas hanyalah pria asing dan tak menyadari siapa pria itu sebenarnya.
Namun saat hendak menyelinap pergi, Sophie menemukan sebuah surat di meja pria itu. Saat membacanya, barulah ia sadar siapa Nicholas sebenarnya, dan betapa dekatnya hubungan Nicholas dengan sahabat-sahabat Sophie.
Akankah Sophie meneruskan skandal satu malamnya? Apakah ia berani mengambil risiko membuat skandal dengan seorang calin duke? Dan benarkah Nicholas adalah cinta sejatinya?

----------------------------

Kemarin seusai menyelesaikan Every Night I'm Yours saya bertekad untuk meneruskan membaca seri Spinster Club. Namun karena nggak bisa menemukan buku-buku dalam seri ini secara urut, akhirnya saya memilih membaca One Night Scandal, yang merupakan buku kelima dari seri tersebut. Meskipun membaca seri kelima berarti saya mengetahui beberapa fakta dari seri-seri sebelumnya, tapi tetap saja novel ini asyik dibaca dan nggak bikin bingung.
Dan kebetulan heroine dalam novel ini adalah tokoh favorit saya, Sophie si cenayang yang juga merupakan anak haram seorang earl. Sejak kemunculannya di Every Night I'm Yours, Sophie sudah membangkitkan rasa penasaran saya. Akan latar belakangnya, akan kemampuannya dan akan bagaimana perasaannya disepelekan oleh masyarakat kelas atas. Sungguh menyusuri kisah Sophie benar-benar sangat menarik.

One Night Scandal pada mulanya bersetting di Venesia pada tahun 1818, selang satu tahun dari kisah Avis dan Banning. Dan selama setahun tersebut, teman-teman Klub Perawan Tua telah menikah semua, dan membuat Sophie diam-diam merasa kesepian. Sungguh pada awalnya saya menyukai pertemuan Sophie dan Nicholas, saya suka interaksi mereka yang penuh kesan misterius karena sama-sama tak mengenal satu sama lain. Berhubungan dengan orang asing dan di tanah asing membuat kisah ini bisa mengarah ke mana saja. Dan kemudian cerita menjadi seru setelah Sophie menyadari siapa Nicholas sebenarnya.
Saya sebenarnya lebih ingin proses Nicholas dalam mencari siapa Sophie terjadi lebih lama. Saya lebih menginginkan ketegangan saat Sophie dan Nicholas bisa "nyaris" bertemu. Tapi rupanya Christie Kelley membuat mereka berdua lebih cepat bertemu dan membuat konflik batin.
Konflik yang lagi-lagi hampir sama dengan buku pertamanya. Ketika sang hero telah yakin dan melamar sang heroine, lamaran itu ditolak. Meski dengan alasan yang berbeda, polanya tetap saja sama. Dan di sinilah saya mulai bosan dan merasa nggak seantusias sebelumnya lagi.

Saya memahami kerapuhan perasaan Sophie. Tumbuh tanpa diakui oleh ayahnya, tanpa kasih sayang seorang ayah, dan ibunya sendiri hanya hadir saat sudah lelah bertualang. Sophie yang haus akan cinta namun dipaksa keadaan untuk menjadi kuat. Itu sebabnya saya menyukai interaksinya dengan Somerton. Saya suka bagaimana Somerton selalu ada di sana dan mendukung Sophie, saya suka dengan rasa posesifnya dan kelicikannya dalam membantu mendekatkan Sophie dan Nicholas. Dari keseluruhan cerita, hubungan Somerton dan Sophie lah yang paling membuat saya tersentuh.
Sayangnya, seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, Sophie jadi terlalu drama di pertengahan cerita. Ia menolak lamaran Nicholas dan bersikap tak masuk akal dengan menjodohkan Nicholas secara sembarangan. Dan yang paling parah, Sophie nggak mempercayai Jennette dan Nicholas, dan membuat tuduhan membabi buta tanpa mencari kebenarannya.
Sedangkan meski Nicholas cukup menyenangkan dan gentleman, saya justru merasa lebih tertarik pada Somerton. Dan saya juga merasa chemistry antara Nicholas dengan Sophie nggak sekuat chemistry Avis dan Banning di cerita sebelumnya.

Ada banyak kepedihan dan penolakan dalam kisah kali ini. Anak-anak yang ditolak mendominasi melalui Sophie dan Emma. Tapi siapa pun layak untuk dicintai, apa pun statusnya, karena semua anak harusnya mendapat limpahan kasih sayang dan rasa cinta. Dan saya juga suka dengan pengakuan yang dilakukan Somerton, ini membuat rasa cinta saya pada karakter satu ini bertambah makin besar.
Well, meski saya kurang puas dengan One Night Scandal tapi saya menikmati novel ini dan bersiap melanjutkan membaca serial Spinster Club yang lainnya.

Sabtu, 17 September 2016

[Resensi] Every Night I'm Yours - Christie Kelley

Judul: Selamanya Milikmu
Judul Asli: Every Night I'm Yours
Seri: The Spinster Club #1
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Debbie Hendrawan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Agustus 2012
Tebal buku: 416 halaman
ISBN: 9786020031668



BLURB

Kerinduan seorang wanita untuk mencicipi yang terlarang... Pada usianya yang kedua puluh enam, Avis Copley menggunakan status perawan tua sebagai lencana kehormatan. Tapi ia juga penasaran ingin mengetahui `kenikmatan daging` yang sesungguhnya. Karenanya, ia merancang suatu rencana yang berani.... Seorang pria yang siap mengajarkan segalanya... 

Avis memilih Emory Billingsworth, sesama novelis sesama untuk mengajarkan kenikmatan duniawi padanya. Tapi menurut sang Earl - Banning Talbot - Avis membuat pilihan buruk, dan menawarkan dirinya sebagai pengganti. Sayang Banning kurang mengantisipasi satu hal... murid yang sangat bersemangat dan seberapa jauh pelajarannya menimbulkan efek.... 


RESENSI

Avis Copley masih perawan di usianya yang keduapuluh enam. Semula ia merasa baik-baik saja, namun sebuah buku membuatnya memimpikan hal-hal erotis selama beberapa hari terakhir. Memutuskan untuk menyelami rasa ingin tahunya, Avis membuat keputusan untuk mencari kekasih. Dan pilihannya jatuh pada Emory Billingsworth, sahabat sekaligus rekannya dalam menulis. Avis menganggap Emory adalah pria baik yang akan membantunya dan tak akan menjadikan kesepakatan mereka terekspos dan menjadi skandal.
Sayang rencana Avis terendus oleh Banning Talbot, kakak sahabatnya. Pria yang juga telah mengambil ciuman pertama Avis hanya karena taruhan. Selama delapan tahun Avis dan Banning telah saling melemparkan hinaan dan sindiran. Namun kali ini, Banning harus mencegah dan menghentikan Avis dari perbuatan bodohnya. Maka, Banning pun menawarkan diri sebagai kekasih Avis. Ia bersedia menjalani malam-malam liar bersama Avis demi memuaskan rasa ingin tahu Avis. Namun, ternyata Banning punya tujuan lain yang berkaitan dengan Avis.

------------------------

Menyelesaikan satu buah novel historical romance dalam sehari merupakan rekor tersendiri bagi saya, terutama akhir-akhir ini. Tapi toh akhirnya saya bisa menyelesaikannya juga. Meskipun Every Night I'm Yours merupakan karya Christie Kelley yang baru pertama kalinya saya baca, tapi saya sungguh menikmati membaca novel ini.

Every Night I'm Yours menggunakan setting di London di tahun 1816. Menggunakan sudut pandang orang ketiga secara bergantian antara hero dan heroinenya. Hal yang membuat saya menjadikan novel ini sebagai novel favorit. Saya suka bagaimana Christie Kelley menyajikan kedalaman rasa dan pemikiran-pemikiran heronya. Dan tentunya saya pun dibuat semakin terhanyut dalam pusaran arus konfliknya yang naik turun.
Bagian yang menarik dari novel ini adalah Avis. Seorang gadis berusia 26 tahun, usia yang bagi masyarakat di masa itu dianggap telah melewati batas usia untuk menikah, dan dijuluki perawan tua. Bukan karena dia nggak cantik, atau nggak memiliki mas kawin, tapi justru karena ia memang memilih untuk nggak menikah. Tentunya hal ini sangat jarang terjadi di masa itu. Tapi, Avis ternyata memiliki ketakutannya sendiri. Di balik kemandirian dan kekeraskepalaannya ada seorang gadis yang ketakutan.
Sayangnya di pertengahan cerita Avis mulai terlihat konyol dan menyebalkan. Dia menolak gagasan pernikahan yang diajukan Banning, dan lebih mempercayai ucapan Emory. Saya merasa gemas di bagian tarik-ulur dan keragu-raguan Avis yang seolah hanya untuk memperpanjang cerita.
Sementara Banning benar-benar hero yang memikat. Ada kesan kurang ajar, bajingan tapi penuh perhatian dalam diri Banning. Dan rasa putus asanya untuk memiliki Avis digambarkan dengan penuh perasaan. Setiap kali sudut pandang mengungkapkan keresahan Banning adalah bagian terfavorit saya.

Sayangnya penerjemahannya masih kurang bagus. Saya terganggu banget dengan penyebutan "jagoan" yang merujuk pada kejantanan, dalam novel ini. Rasanya menggelikan. Karena selama ini saya terbiasa dengan istilah kejantanan atau pusat gairah atau apa pun kata untuk menerjemahkannya. Maka setiap kali kata "jagoan" muncul, saya hanya bisa memutar bola mata.
Tapi saya suka dengan cover versi terjemahan ini. Lebih manis daripada cover aslinya.
Untuk adegan panasnya lumayan bertebaran tapi masih dalam kadar yang aman. Saya sih menganggap biasa saja, dari skala 1 sampai 10 saya beri angka 7 untuk adegan panasnya. Karena di sela aktivitas ranjang antara Avis dan Banning, banyak banget momen romantisnya. Dan jangan lupakan adegan-adegan manis yang dilakukan Banning yang bisa bikin meleleh. Duh...

Saya mendapati novel ini merupakan novel pertama dari seri The Spinster Club. Dan sepertinya para tokoh dalam seri ini telah bermunculan dalam Every Night I'm Yours. Saya mengamati interaksi persahabatan mereka dan merasa puas. Sepertinya saya akan mengikuti seri Spinster Club ini. Karena saya suka dengan persahabatan yang saling mereka jalin, juga ikatan kekeluargaan yang tampak akrab. Saya memang paling suka dengan novel historical romance yang menampilkan kekeluargaan dan keeksentrikan yang besar.

Overall, Every Night I'm Yours merupakan novel historical romance yang manis banget. Banyak adegan romantisnya, dan banyak pula adegan panasnya. Namun yang pasti saya menangkap kekuatan dalam novel ini. Semua orang punya rasa takut, tapi selama kita percaya pada diri kita sendiri dan percaya pada seseorang yang akan menjaga kita dari segala ketakutan kita, maka semua akan baik-baik saja.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon