Tampilkan postingan dengan label Netty Virgiantini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Netty Virgiantini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Agustus 2018

[Resensi] Diajeng - Netty Virgiantini | Camilan dan Cinta Segitiga

Judul buku: Diajeng - Camilan, Gembolan, dan Cinta yang Belingsatan
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Wiwien Wintarto
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 9786020380810



BLURB

Di tengah semangatnya merintis usaha Cenil Snack untuk membiayai kuliah, Diajeng tertipu oleh Angga, seorang sales yang mengajaknya bekerja sama. Dengan harapan bisa memperoleh keuntungan lebih besar, ia mempertaruhkan seluruh tabungan yang dimilikinya. Cobaan bertambah ketika dagangan yang dititipkannya di sebuah minimarket ludes dalam musibah kebakaran.

Dalam keadaan terpuruknya, Ardi, laki-laki matang yang berprofesi sebagai guru SD, melamarnya dan menawarkan banyak solusi untuk masalahnya. Diajeng terbelit dalam kebimbangan karena diam-diam ia juga menyukai Aslan Satriawan, mantan teman sekolahnya yang sudah didekati oleh sahabatnya sendiri. Seperti sebuah nasihat, setelah kesusahan pasti ada kemudahan, ia pun kemudian mendapat kejutan tak terduga dalam hidupnya. 

RESENSI

Satu hal yang saya suka dari novel-novel karya Netty Virgiantini adalah karakter tokoh ceweknya yang tangguh, glenyengan, rada konyol, dan sederhana. Sedemikian halnya dengan Diajeng, tokoh utama dalam novel Diajeng - Camilan, Gembolan, dan Cinta yang Belingsatan. Sebuah novel yang termasuk dalam Gemblongers Series, yaitu serial di mana masing-masing novel menceritakan tentang para anggota geng Gemblongers yang ditulis oleh empat penulis yang berbeda. Anggota Gemblongers sendiri terdiri dari empat cucu perempuan Mbah Atmosukarto, seorang kakek yang masih gagah dan suka melemparkan pantun geje alias gak jelas kepada cucu-cucunya. Seru kan?

Diajeng sedari awal ditampilkan dengan menonjolkan sikap pekerja keras dan cuek. Tanpa rasa malu dia berkeliling kota Semarang dari satu warung ke warung yang lain untuk menitipkan dagangan cemilannya. Dari hasil keringatnya sendiri, dia berusaha membiayai kuliahnya di Universitas Terbuka. Selain itu Diajeng juga begitu lugu dalam hal menyikapi perasaannya. Dia mundur dan diam saat tahu Arina juga menyukai Aslan. Bahkan saat Ardi melakukan pendekatan padanya, Diajeng jadi belingsatan saking bingungnya. Keluguan Diajeng pula yang membuatnya tertipu oleh teman sesama sales. Jelas, konflik batinnya semakin memuncak karena harus memikirkan uang tabungannya yang ludes.

Gaya bercerita Netty Virgiantini yang khas sangat terasa dalam novel ini. Kekonyolan dihadirkan dalam profil keluarga Diajeng, melalui sifat Bapak dan Ibu Diajeng yang drama abis. Belum lagi adanya Mbah Atmosukarto yang sangatlah geje itu, yang suka melemparkan pantun ajaib pada cucu-cucunya. Keunikan keluarga Diajeng ini yang bikin saya sebagai pembaca merasa terhibur karena rada-rada absurd. Tapi begitulah keluarga, bukan? Seaneh dan seabsurd apa pun, merekalah selimut hangat yang paling mampu memeluk dan meredakan kegelisahan kita. Begitupun keluarga Diajeng.
Kemudian muncullah dua pria yang bisa membuat Diajeng belingsatan, yang satu karena rasa cinta terpendam yang satu karena rasa segan dan hormat. Aslan yang pendiam dengan sikapnya yang membingungkan itu rasanya bikin gemas. Membuat saya bertanya-tanya akan bagaimana akhir kisah cinta segitiga ini. Sementara Ardi yang dewasa memang sedikit "menyeramkan" dengan keinginannya untuk membuat hubungan yang lebih serius lagi. Bikin grogi dan belingsatan.

Novel Diajeng mengambil latar kota Semarang sebagai sentra ceritanya. Netty Virgiantini sangat cermat dalam menggambarkan kota ini lengkap dengan cuacanya yang puanaaasss. Setiap nama tempat, nama jalan dan rute yang dilalui Diajeng tentulah mampu membangkitkan nostalgia akan kota ini. Membuat saya sebagai pembaca benar-benar merasakan atmosfer dan suasana kota Semarang.

Saya pikir saya begitu tertarik dengan isu pernikahan yang ada dalam novel ini. Beberapa pertanyaan selalu ditujukan kepada perempuan selepas kami lulus SMA: kenapa tidak menikah saja?
Diajeng pun mendapat tawaran untuk menikah di tengah keruwetan masalahnya. Begitu tipisnya garis godaan itu untuk dilangkahi. Seandainya ia menikah, ia tak perlu pusing memikirkan biaya kuliah, tak perlu berpanas-panas ria di jalanan kota Semarang demi mengantar cemilan, masa depannya bisa lebih jelas. Namun benarkah nilai perempuan hanya cukup sampai di situ? Benarkah pernikahan adalah sebuah solusi? Saya merasa harap-harap cemas membaca Diajeng yang sedang mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan. Karena saya tak ingin Diajeng berhenti berjuang, saya tak ingin Diajeng menyerah. Karena menjadi istri ataupun tidak, perempuan harus tetap bisa berdiri sendiri.

Ini adalah kisah tentang gadis tangguh yang dengan gagah berani berjuang demi masa depannya sendiri. Siapa sangka jika ia merasa minder dan tak berani jujur akan perasaannya. Tentu sangat menarik untuk mengikuti perjuangannya dalam mengembangkan usaha cemilan dan berusaha percaya diri meraih lelaki yang dicintainya. Ringan, gayeng, tapi juga bikin mewek... benar-benar seru buat dibaca.

Jumat, 15 Desember 2017

[Resensi] Bittersweet Love - Netty Virgiantini & Aditia Yudis

Judul buku: Bittersweet Love
Penulis: Netty Virgiantini & Aditia Yudis
Editor: Kinanti Atmarandy
Desain sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2012
Tebal buku: 244 halaman
ISBN: 979-780-544-1



BLURB

Merindukanmu adalah satu-satunya kata yang dapat menggambarkan rasa ini. Dan semuanya dimulai sejak aku kehilanganmu.
Ketika waktu membawakan pilihan-pilihan lain untukku, langkahku masih terbelit oleh ingatan tentangmu. Kasih sayang yang seluruhnya milikku pun harus terbagi. Bahkan, rumah tak lagi menjadi tujuanku untuk pulang.
Kini aku menyadari bahwa semua sudah berganti dan yang bisa kulakukan hanyalah menghadapi. Semua yang telah lewat tak mungkin bisa kembali. Apa yang kupikir lenyap, nyatanya tertutup emosi. Butuh waktu untuk belajar mencintai lagi. Dengan penuh keyakinan diri aku melakukannya.
Menerima. Cinta sesederhana itu saja.

RESENSI

Belakangan Nawang mulai sering ikut tawuran, apalagi jika sekolahnya berhadapan dengan sekolah Hefin, Nawang akan dengan ganasnya maju sampai garis terdepan. Rasa bencinya terhadap Hefin memang sangat besar, dan cowok itu juga membalas dengan kebencian yang tak kalah besar. Pernikahan ayahnya dengan Ibu Hefin, membuat Hefin tanpa seizinnya telah masuk ke kehidupan Nawang. Hilang sudah sosok ayah yang dulu dicintai Nawang.
Di sisi lain Nawang menyukai sensasi dilindungi oleh Artan ketika ia ikut tawuran. Artan yang membuatnya berdebar. Artan yang mulai tertarik pada Joanna, adik tiri yang dibenci Nawang. Seolah tak mau ketinggalan, Ibu Nawang pun menikah lagi dengan ayah Joanna. Membuat Nawang terpaksa tinggal bersama keluarga baru yang tak diinginkannya. Ia membenci Joanna, karena merebut perhatian Ibu, dan juga Artan.
Hidup terasa seperti neraka bagi Nawang, Hefin dan Joanna, mereka dipaksa beradaptasi, seolah mereka robot tanpa perasaan. Akankah waktu dapat membuat kebencian mereka meluruh?

-----------------------------
Sebelumnya saya sudah diperingatkan oleh salah satu penulis duet gagas ini agar siapin tisu sekotak karena sang penulis sendiri sampai patah hati saat menulis bagiannya. Hueee~~ padahal udah diperingatkan loh, lha kok saya masih tetap mewek ra uwis-uwis. 😭😭😭

Bittersweet Love merupakan duet dua penulis yaitu Netty Virgiantini dan Aditia Yudis. Kedua penulis ini masing-masing menuliskan cerita tentang seorang gadis remaja yang harus beradaptasi dengan keluarga barunya. Dua penulis, dua gadis, dua sudut pandang, satu latar, satu konflik masalah.

Di bagian pertama ada Take It yang dikisahkan oleh Netty Virgiantini tentang Nawang, gadis yang dipaksa menerima keadaan yang disebabkan perceraian kedua orang tuanya. Ia terpaksa memiliki dua keluarga baru, terpaksa memiliki saudara tiri, masing-masing dari pernikahan ayahnya dan pernikahan ibunya. Ini sih berat banget :(
Saya dibawa termehek-mehek dengan gaya Nawang yang berusaha kuat, kekeraskepalaannya malah membuat saya iba.
Ini adalah kisah perjuangan Nawang melawan rasa bencinya sendiri, perjuangan seorang putri yang tersesat dan kebingungan karena tak tahu di mana harus menempatkan diri. Baik dalam keluarga baru ibunya, maupun keluarga baru ayahnya. Itu sebabnya ia menjadi pembenci.
Bisa dibilang sepanjang membaca cerita Nawang saya nangis nggak ada berhentinya. Rasa sakit Nawang, rasa benci Nawang, rasa kesendirian Nawang semua dituliskan dengan apik dan menyentuh. Bikin saya ikutan sakit. Huhueee~~
Take It adalah murni kisah Nawang menghadapi dan mengatasi konflik batin dan konfliknya dengan saudara-saudara tirinya. Yaa ada sih kisah romancenya yang manis, tapi dikiiit. Dikit tapi udah bisa bikin meleleh. Yaaah... baper lagi kan :'))


Di kisah kedua ada Pulang yang dituturkan oleh Aditia Yudis. Ini adalah kisah Joanna, gadis yang dimusuhi Nawang karena menjadi saudari tirinya. Entah karena sudah membaca kisah Nawang lebih dulu, atau memang benar seperti itu, saya merasa Joanna memang menyebalkan, manja dan egois. Kalau Nawang membenci dengan aksi diam dan nggak peduli, Joanna ini lebih kurang ajar karena dengan ucapannya dia berani memarahi ibu tirinya.
Membaca kisah Joanna nggak menimbulkan rasa simpati sebesar saat membaca kisah Nawang, mungkin karena sisi dewasa saya (halaaah) nggak menyetujui cara berpikir Joanna. Jo terlampau manja, terlampau mengasihani diri sendiri, padahal dia masih punya abang dan Artan yang memperhatikannya, berbeda dengan Nawang yang benar-benar diabaikan semua orang.
Saya jadi lumayan geram juga, karena penolakan mentah-mentah dan sikap kurang ajar Joanna, yang menyebabkan Ibu Nawang memusatkan perhatian untuk memenangkan hati Jo, di sisi lain membuat Nawang tanpa sengaja terabaikan. Hiihhh pokoknya bikin kesel lah baca kisah Joanna ini.


Bittersweet Love membuat saya memahami efek yang disebabkan oleh pernikahan baru yang dipaksakan terhadap anak. Sayangnya, memang ada orang tua yang mengejar kebahagiaan mereka sendiri, tanpa memikirkan kebahagiaan anak-anak mereka. Nawang, Hefin dan Joanna adalah anak-anak yang tak diberi kesempatan untuk menyamankan diri terlebih dulu. Keputusan yang diambil orang tua mereka membuat mereka tersesat dan menghancurkan hati mereka. Perpisahan memang menyakitkan, terutama bagi anak-anak, tapi lebih menyakitkan saat orang tua mengajak anak-anak memasuki kehidupan baru tanpa menanyakan pendapat anak-anak terlebih dulu, tanpa membuat mereka nyaman terlebih dulu.
Well, Bittersweet Love bukan hanya menunjukkan kepada saya cinta yang manis dan pahit, tapi juga terasa menyengat saya dengan kegetiran.

Sabtu, 08 April 2017

[Resensi] Three Women Looking For Love - Netty Virgiantini

Judul buku: Three Women Looking For Love
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Innerchild Studio
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2012
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-979-22-8913-8



BLURB

Kami bertiga dipersatukan takdir sebagai lajang terakhir di angkatan SMA. Berusia kepala tiga, kami senasib sepenanggungan. Kami saling berbagi, saling menguatkan, juga saling bersaing diam-diam.
Hanya karena "status" hidup kami jadi sorotan banyak orang, kami dipandang sebelah mata. Tapi bagi kami itu biasa. Digunjingkan, itu tak terlalu memusingkan. Masih juga ditambah harus melakukan banyak ritual yang tak masuk akal. Mulai dari mencuri kembang melati di keris pengantin pria sampai mandi kembang tengah malam. Kami rela melakukan apa saja, asal tidak harus makan beling seperti kuda lumping!

Jodoh itu punya waktu dan caranya sendiri ketika menghampiri. So, don't worry be happy! Huhuuy!
(Jani, Rena, Mona)


RESENSI

Lajang terakhir. Betapa berat status tersebut bila disandang seorang wanita. Sebahagia apa pun sang wanita dengan hidupnya, selalu ada orang-orang yang akan riwil tentang status lajangnya dan memberi tekanan sosial.  Itulah yang dihadapi oleh ketiga tokoh wanita dalam novel Three Women Looking For Love ini. Situasi yang sebenarnya sudah akrab banget dengan kita karena sering kita jumpai entah di media sosial atau di lingkungan terdekat kita.

Netty Virgiantini mengungkapkan kegelisahan ketiga the last lajangers ini dengan gaya bertuturnya yang khas. Selengekan dan kocak. Para cewek-cewek di novel ini merupakan cewek-cewek kuat dan mandiri, yang cuek di luar tapi juga ketar-ketir di dalam. Bukannya mereka menutup mata dan hati dari cowok yang mendekat—ini terlihat dari jungkir-koprol-jempaliknya usaha mereka—tapi bukankah memilih calon pendamping juga nggak bisa asal comot hanya demi membungkam omongan orang? Saya suka bagaimana mereka dibuat galau, sempat terombang-ambing di antara prinsip dan tuntutan lingkungan. Banyak cobaan yang mereka hadapi, seperti... kenapa ketika sedang menginginkan jodoh, yang menghampiri kok ya yang aneh-aneh. Seperti itulah kurang lebihnya. :)))

Diceritakan melalui sudut pandang orang pertama yaitu sudut pandang Jani, novel ini tetap bisa memotret keresahan ketiga wanita yang bersahabat dekat ini dengan lengkap. Chemistry yang akrab dan dialog yang ger-geran membuat kisahnya enak dibaca. Alur cerita dalam novel ini memang cenderung melompat. Seperti ketika Jani ada di resepsi pernikahan sementara sosok Irawan masih terselubung misteri. Irawan sempat ingin mengungkapkan identitasnya tapi selalu saja ada gangguan (dalam hal tarik ulur informasi ini, Netty Virgiantini memang paling jago bikin geregetan), tapi adegan hanya terputus sampai di kegagalan Irawan saja, tanpa ada kelanjutan lagi bagaimana situasi mereka kemudian hingga resepsi berakhir.
Tapi toh memang seperti yang saya bilang sebelumnya geregetan penasarannya bisa sampai di ubun-ubun karena Irawan ini misterius banget. Lagi-lagi sih, tipe karakter hero yang khas seperti novel-novel Netty Virgiantini yang lain: kalem, sederhana tapi membius. Jyaahhh XD

Sebenarnya walau sama-sama berstatus lajang, situasi Jani, Rena dan Mona lumayan berbeda. Selain karakter, latar keluarga mereka pun berlainan, ini yang menyebabkan perbedaan tekanan tentang jodoh yang mereka rasakan berbeda-beda levelnya. Jani memang lebih santai karena posisinya sebagai anak bungsu dan kakak-kakaknya telah menikah, berbeda dengan Rena yang anak tunggal dan Mona yang merupakan anak pertama dan telah dilangkahi adiknya dalam hal menikah. Hal inilah yang kemudian menimbulkan mereka diam-diam bersaing sengit, tapi dibungkus dengan kepolosan dan kekocakan.
Hal yang akrab bagi saya adalah budaya mencuri bunga melati di keris pengantin pria. Aduh, ini saya pernah lakukan. Hahaha. Saya paham betapa gusarnya Jani harus mencuri bunga dari keris yang terselip di punggung pengantin pria hanya agar ketularan dapat jodoh. Ada juga adegan ge-er ge-er salting kala tukang video acara pernikahan malah terus-terusan mengambil gambar Jani. Ini juga bikin saya bernostalgia jadinya. XD

Penokohannya terasa kuat dan konsisten. Jani, Rena dan Mona punya sifat, gaya dan pemikiran yang berbeda. Mereka tampil dengan karakter masing-masing dengan sama menonjolnya. Tapi tetap saja Jani yang paling nggemesin.

Saya selalu suka kejutan manis yang disiapkan Netty Virgiantini di bagian ending ceritanya. Selama membaca karya-karyanya, saya selalu mak nyes dan klepek-klepek di lembar-lembar terakhir. Meski saya juga sempat merasa takut akan ending tak terduga seperti yang pernah terjadi di novel Telaga Rindu. Namun yang pasti, sedih atau bahagia, selalu ada sentuhan manis yang membuat saya merasa jatuh cinta setiap selesai membaca. Saya memang lebih menyukai kisah yang manis dan sederhana, tanpa menonjolkan kemewahan, tanpa penampilan yang rupawan bak dewa, tanpa keromantisan berlebihan. Itu sebabnya saya selalu klik dengan novel Netty Virgiantini dan merasa puas usai membaca novel Three Women Looking For Love ini. Nyes banget rasanya :)

Senin, 02 Januari 2017

[Resensi] When I See Your Smile - Netty Virgiantini

Judul buku: When I See Your Smile
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2016
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-3543-8



BLURB

Hidup Seruni rasanya berubah 180 derajat setelah pernikahan ibunya dengan Mas Bim, pelatihnya di klub bulu tangkis Semangat Baru. Kedekatannya dengan Arya dan Arga––kakak satu bapak lain ibu––juga menimbulkan gosip tidak sedap di SMA Satria tentang Seruni yang punya pacar dua sekaligus. Tapi ia tidak peduli. 

Karena, diam-diam Seruni waswas pada laki-laki misterius dengan senyum familier dalam mobil hitam yang terus mengikutinya. Ia tidak berani menceritakan masalah itu pada orang-orang terdekatnya. Hingga suatu sore, Seruni diculik dan disekap oleh pria itu. 

Siapa yang akan menyelamatkan Seruni? Benarkah rasa sayang Arya dan Arga lebih dari sekadar saudara tiri? Lalu, siapa laki-laki misterius dengan senyum familier itu?" 

RESENSI

Sejak membaca When I Look Into Your Eyes, saya masih terbawa penasaran akan kelanjutan kisah Seruni. Ke manakah hati Seruni si tukang telat itu akan berlabuh. Hingga kemudian muncullah When I See Your Smile yang menjadi jawab atas rasa penasaran saya. Penasaran dengan kelanjutan perasaan Arya dan Arga, penasaran dengan kehidupan baru Seruni dan bagaimana dia beradaptasi dengan status baru orang-orang di sekitarnya. Sekuel dari When I Look into Your Eyes ini semakin seru dengan konflik yang baru.

When I See Your Smile menggunakan sudut pandang orang ketiga dan masih di setting yang sama dengan novel sebelumnya. Arya, Seruni dan Arga masih bersekolah di tempat yang sama di Magetan dan kurun waktunya gak terlalu jauh dari novel pertama. Dengan gaya bertutur Netty Virgiantini yang segar dan sederhana, saya dibawa terhanyut dalam konflik batin Seruni. Diksinya yang kadang lugas dan kadang puitis memberi warna tersendiri dalam novel ini. Hal yang saya sukai disamping dialog ceplas-ceplos khas Jawa yang rasanya dekat banget dengan keseharian saya.

Dalam novel ini, Seruni bukan lagi si tukang telat. Dia telah menjelma menjadi tuan puteri yang dimanja orang-orang di sekitarnya; Mas Bim, Arya dan Arga. Walau begitu ada kekosongan dan kehampaan yang ia rasakan, terutama ketika ia kehilangan perhatian dari Mas Bim. Sayang Seruni di sini lumayan menyebalkan, sedikit egois terutama terhadap Joko. Terhadap Arya dan Arga, Seruni bisa bersikap manis, tapi terhadap Joko dia malah seenaknya sendiri. Paling jengkel waktu Joko harus berurusan dengan polisi gara-gara Seruni, duh Seruni keterlaluan deh, kasihan Joko.
Saya juga gemas dengan Seruni karena lebih memilih diam saat merasa ada yang memata-matainya. Ini sebenarnya pelajaran dasar sih, terutama bagi remaja cewek, di jaman edan seperti sekarang. Jangan diam saja kalau memang merasa dikuntit, paling nggak catat nomor polisi kendaraannya, dan cerita pada orang yang benar-benar dipercaya. Memang masalahnya Seruni dia merasa kesulitan menemukan orang yang kira-kira bisa curhati, tapi mestinya nggak perlu sungkan. Jadi pelajaran juga bagi orang dewasa seperti saya, yang harus lebih perhatian pada remaja dan menunjukkan pada mereka bahwa kita bisa dan siap kapan pun mendengarkan mereka.
Sementara untuk kakak beradik Arya dan Arga, juga sedikit berbeda. Arya masih seperti sebelumnya, perhatian dan sayang terhadap Seruni. Tapi kebandelan Arga sudah berkurang di novel ini. Keras kepalanya masih, tapi kelakuannya sudah jauh lebih manis. Justru Joko yang mencuri perhatian saya, meski sering mengajak Seruni berantem, tapi Joko terhitung sabar dengan segala polah Seruni yang cukup sadis terhadapnya. Wkwkwk...

Konflik dalam novel ini lumayan beragam. Masih ada sisa-sisa konflik novel sebelumnya yang akhirnya dituntaskan, dan ada konflik baru yang berkaitan dengan rahasia masa lalu yang terungkap dan status baru Seruni. Untuk konflik perasaan antara Arya, Arga, Seruni dan Joko porsinya pas dan menjadi bumbu yang membuat cerita makin seru. Sementara konflik sang pengintai cukup membuat penasaran dan bikin bertanya-tanya. Drama penculikannya yang pasti menegangkan dan nggak bisa berhenti baca sampai akhir.

Overall, saya cukup puas membaca novel When I See Your Smile ini. Membuat saya lega akan akhir kisah Seruni yang saya anggap nanggung di When I Look into Your Eyes. Ada kehangatan kisah kekeluargaan dan persaudaraan yang manis dalam novel ini. Juga ada kisah cinta yang menurut saya gokil karena saking slengekannya Seruni. Lucu, menghibur dan yang pasti maniiiisss. Buat kamu penyuka teenlit yang lugas dan menghibur boleh banget lho baca dua novel ini.

Rabu, 26 Oktober 2016

[Resensi] Ini Rahasia - Netty Virgiantini

Judul buku: Ini Rahasia
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Dewi Sunarni
Proofreader: Alit Tisna Palupi
Desainer cover: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2011 (cetakan ketiga, cetakan pertama tahun 2010)
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 9789797804312



BLURB

Ssst, ini rahasia….

Jadi tutup bibirmu rapat-rapat karena bicara sepelan apa pun bisa membuat rahasia kita ketahuan. Aku akan bicara jujur tentang semuanya, tetapi tidak di sini. Di sana saja—tak ada siapa pun yang memperhatikan. Tapi janji dulu, jangan pernah cerita kepada siapa pun. Tak ada pengecualian. Jangan cerita ke teman-teman segengmu, ibu—apalagi pacarmu. Jauhkan tanganmu dari godaan menulis message tentang ini di wall akun Facebook-mu.

Mendekatlah, karena aku akan membisikimu rahasiaku. Rahasia tentang hatiku; tentang aku dan mereka. 

RESENSI

Tari merupakan gadis yang menjadi manajer tim sepak bola kelasnya. Ia melakukannya karena kecintaannya pada sepak bola dan karena bersahabat dekat dengan kapten tim kelasnya, Rendi. Tari menjadi penanggung jawab urusan jadwal pertandingan tim kelasnya dan juga.... uang taruhan yang digunakan dalam pertandingan. Ya, Tari memang punya rahasia besar. Ia dan tim sepak bola kelasnya melakukan taruhan. Selama ini rahasia itu tersipan aman dan rapi tanpa terendus pihak sekolah.
Hingga suatu hari di tengah pertandingan, Alex dan Rudi, yang merupakan perwakilan dari OSIS menghampiri mereka. Naluri pertama Tari dan teman-temannya adalah waspada. Tapi bagaimana Tari bisa berhati-hati kalau Rudi adalah gebetan yang sudah disukainya sejak kelas satu?
Semakin Rudi mendekatinya, semakin Tari kelimpungan, semakin teman-teman mengingatkannya agar berhati-hati. Rudi bisa saja musuh yang mengincar mereka. Tari tahu, tapi tak mampu menolak pesona Rudi, dan perhatian dari cowok itu yang entah mengapa tiba-tiba mengalir tak terbendung.
Hingga Tari ketahuan. Pihak sekolah berhasil mendapatkan bukti bahwa ia melakukan taruhan. Rudikah yang melaporkannya? Akankah bunga-bunga cinta yang baru saja berkembang terpaksa luruh? Benarkah Rudi hanya memanfaatkannya?

-------------------

Setiap orang pasti punya rahasia. Lalu kira-kira rahasia apa yang kemungkinan dimiliki oleh remaja SMA? Tadinya saya kira ini tentang cinta diam-diam, tentang cinta yang hanya mampu dipendam dan dirahasiakan. Yah ternyata saya secetek itu, karena saya salah besar. Ini Rahasia ternyata menceritakan tentang suatu kriminalitas kecil yang dilakukan tokoh utamanya. Meski tetap dibalut dengan kisah cinta yang malu-malu dan cukup konyol, saya menemukan pemaknaan akan sebuah persahabatan dan tanggung jawab.

Ini Rahasia berkisah melalui sudut pandang orang ketiga, dan tentunya lebih banyak berfokus pada Tari. Maka tentu saja, apa yang dirasakan oleh Rudi dan Rendi menjadi hal yang saya nantikan dengan deg-degan. Sayang Netty Virgiantini nggak terlalu memanjakan jenis pembaca macam saya yang paling suka membaca liku perasaan dan unek-unek si tokoh cowok. Tapi justru kelangkaan itu yang membuat saya jadi deg-deg plas setiap kali Rudi menunjukkan perasaannya pada Tari.
Cerita dalam novel ini bisa dibilang sangat sederhana. Nggak ada kerumitan yang berarti. Hanya tentang Tari yang berusaha menyembunyikan rahasianya dari Rudi. Juga tentang kecintaan Tari pada sepak bola. Deskripsi dan narasi tentang sepak bolanya panjang dan mendetail banget. Bisa dibilang buku ini memang didominasi tentang sepak bola. Mungkin, bagi beberapa pembaca akan terasa membosankan, karena temponya menjadi lambat saat tim sepak bola kelas Tari bertanding. Namun dialog antar tokohnya begitu cair dan luwes sehingga membuat cerita ini enak dinikmati. Banyak humor yang saling dilontarkan satu sama lain membuat adegan makin seru.
Adegan konyol yang paling saya suka adalah saat Momo mogok. Saya nggak berhenti ketawa membaca ulah Tari dan bagaimana dia grogi tapi juga masih menjaga prinsip saat berbicara dengan Rudi. Sementara adegan yang bikin saya puas adalah saat Rudi memergoki Tari peluk-pelukan dengan Rendi. Cara Rudi cemburu itu terasa menggemaskan dan puas rasanya saat melihat emosi terdalam Rudi.

Karakter dalam novel ini lagi-lagi anak-anak SMA yang sederhana, nggak mentereng dan khas remaja di kota kecil. Ng... bukan berarti saya mengecilkan kota Magetan, tapi suasana dan gambarannya terasa adem tanpa hingar bingar mall atau restoran mewah. Yang ada hanya anak-anak SMA yang kepikiran nongkrong di lapangan bola dan warung bakso. Dan lagi-lagi cowok kalem lagi yang saya temukan di sini. Lama-lama saya bisa mabuk cowok kalem nan sederhana, karena Netty Virgiantini selalu bisa membuat si tokoh pria terlihat manis dan mudah dicintai. Hanya saja meski tenang, terkendali dan kalem seperti karakter khasnya, yang membedakan Rudi dari beberapa karakter novel karya Netty Virgiantini yang lain adalah, Rudi ini populer, anggota OSIS dan lumayan jahil. Saya merasa dia iseng juga dengan sengaja bikin Tari salah tingkah. Wkwkwk~
Sementara karakter Tari digambarkan sebagai cewek jagoan, berani, tangguh tapi dengan fisik biasa saja. Jagoan yang melempem dan grogi di depan gebetan. Cukup suka sih sama Tari, dan ngiri juga. Bayangkan sampai SMA pun dia masih dibolehin main sepak bola bareng teman-temannya. Lha saya, baru gocek bola di kebon samping rumah aja udah diceramahin sama bokap, anak cewek udah gedhe, gak boleh main bola lagi. Ih, kan sedih. Makanya kok enak banget si Tari. Saya suka dengan ceplas-ceplosnya Tari, juga gerak-geriknya yang salting abis tiap deket Rudi.

Di novel ini saya mendapatkan arti persahabatan dan solidaritas yang luar biasa. Ikatan yang mereka miliki sudah selayaknya saudara. Saya belajar arti memaafkan dan legowo dari Tari. Saya belajar arti mempercayai. Saya belajar arti kearifan dan keadilan dari kepala sekolah. Dan saya belajar arti melepaskan dan penyesalan dari Rendi. Bagaimanapun fair play juga berlaku dalam cinta sama halnya dengan sepak bola.
Pada akhirnya, Ini Rahasia merupakan novel yang ringan dan mudah dibaca. Bagi kalian pencinta sepak bola boleh banget baca buku ini. Kisah tentang cewek tomboy yang menyimpan rahasianya.

Sabtu, 01 Oktober 2016

[Resensi: Yamaniwa - Netty Virgiantini] Menuntaskan Luka Masa Lalu

Judul buku: Yamaniwa (Ketika Cinta Bertemu Karma)
Penulis: Netty Virgiantini
Ilustrator: Innerchild
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2013
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 978-602-03-0017-7



BLURB

“Perselingkuhan tidak perlu alasan dan tidak termaafkan!”

Niwa tidak menyangka pengkhianatannya pada Yama, kekasih di masa lalu, harus ditebus dengan sangat mahal: hubungan cinta yang selalu kandas di tengah jalan.

Dalam sepuluh tahun, sudah lima laki-laki meninggalkannya. Bahkan menurut ramalan sahabatnya, ia bakal patah hati 995 kali lagi!

Namun yang terberat, Niwa menyadari sesungguhnya ia masih sangat mencintai Yama, tepat ketika pria itu muncul dan meminta Niwa membuatkan kebaya pengantin untuk calon istrinya. Apakah ini karma yang masih harus dibayar Niwa atau ini sekadar pembalasan dari Yama?

Jika memang ada karma cinta, Niwa ingin membayar semua dosa masa lalunya pada Yama, agar ia bisa segera move on dari pria itu. Tapi jika ini pembalasan... 


RESENSI

Tiba-tiba saja Yama muncul di modiste milik Niwa setelah mereka tak bertemu lagi selama sepuluh tahun. Dan pertemuan itu mengguncang Niwa. Karena setelah pengkhianatannya terhadapa Yama dulu, tak sekalipun Niwa melupakan tatapan terluka Yama. Niwa dihantui perasaan bersalah. Apalagi selama sepuluh tahun, hubungan cintanya selalu kandas. Era, sahabatnya, bilang itu adalah karma. Derita yang harus dirasakan Niwa karena telah melukai Yama. Menurut Era, Niwa harus meminta maaf pada Yama.
Dan kini Yama sendiri yang mendatangi Niwa. Namun tujuan kedatangan Yama, membuat Niwa terluka. Yama meminta Niwa menjahitkan kebaya untuk calon istri Yama. Dengan hati yang remuk, Niwa menyanggupi permintaan Yama. Namun tak urung, di hatinya terselip juga sebuah tanya. Apakah ini upaya Yama untuk membalas dendam?

---------------------------

"Kalau kita mencintai seseorang, apakah kita bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cintanya?" (hlm. 84)

Kamu pernah jadi korban perselingkuhan? Atau justru kamulah si pelaku perselingkuhan? Terlepas jawabanmu ya atau tidak, yang pasti, novel Yamaniwa ini menyorot dengan apik tema perselingkuhan dalam hubungan percintaan.

Jujur saya nggak suka novel dengan tema pengkhianatan alias selingkuh, karena hal ini membawa luka lama yang menyakitkan dan sulit sembuhnya. Maka pada awalnya saya jelas sebal setengah mati pada Niwa. Tanpa alasan yang kuat, Niwa begitu mudahnya mengkhianati Yama. Walau saat itu dia masih remaja labil yang lagi menthel-menthelnya, dan butuh kasih sayang yang nyata, tapi kan.... selingkuh itu jahat. Hiks.

Namun saya toh tetap mengikuti kisah ini, karena saya nggak punya pilihan selain terhanyut dalam alur kisahnya. Tentu saja karena gaya bertutur Netty Virgiantini yang selalu bisa pas porsinya. Hanya Netty Virgiantini yang membuat saya bisa kelepek-kelepek hanya karena kedua tokohnya saling tatap. Suasananya selalu terasa manis tapi juga nyesek. Dan tentunya karena saya dibuat bertanya-tanya dan berharap-harap cemas akan maksud tujuan Yama kembali mendatangi Niwa. Benarkah Yama menginginkan balas dendam?
Karena memang itulah yang saya harapkan. Saya mengharapkan sedikit banyak kisah ini akan seperti novel-novel harlequin favorit saya, dimana sang hero berniat balas dendam tapi akhirnya nggak mampu menuntaskan misi balas dendamnya karena ternyata masih cinta.
Tapi ternyata, jalan kisah Yamaniwa jauh lebih manis dan lebih gereget dari apa yang saya harapkan. Meski endingnya sudah bisa ditebak, tapi semua terbayar dengan adegan paling manis di akhir kisah. Dan ya, bisa dipastikan, saya mewek dong! Nangis di bagian ending ketika Yama akhirnya mengakui maksud tujuannya. Duh, Mas Yama.

Meski dasar kisah ini berasal dari perselingkuhan, tapi novel ini dipenuhi akan penyesalan Niwa dan bagaimana reaksi orang-orang di sekitarnya. Bahwa betapa bodoh dan salahnya Niwa karena telah mengkhianati Yama. Bahkan Era, sang sahabat pun menakut-nakuti Niwa dengan menyebut-nyebut tentang karma. Siapa yang menabur dia akan menuai. Yamaniwa memotret dengan baik fenomena perselingkuhan dan kesempatan kedua yang langka diberikan. Melalui Yama, Niwa, Era dan Agas, pesan moral tentang kedua hal itu tersampaikan dengan jelas.

Meski saya sebal dengan Niwa, tapi saya jatuh hati dengan Yama. Hahaha... sudah bisa diduga sih. Saya memang pencinta deretan cowok kalemnya penulis satu ini. Apalagi namanya Yama itu Yamadipati. Lagi-lagi nama favorit saya dalam pewayangan!
Yama yang kalem, dewasa dan nrimo. Gimana nggak bikin meleleh dengan sikapnya yang gentleman dan manis itu. Saya suka dengan caranya memperlakukan Niwa. Chemistrynya juga bagus dan saling mengisi.
Yang membekas dalam ingatan saya adalah adegan ketika Yama dan Niwa memilih lingerie. Kocak abiiss tapi maniiis. Tentu saja selain adegan paling mendebarkan di tangga modiste yang bikin saya mewek.

Selain Yama ada satu lagi tokoh favorit saya, yaitu Sisil. Konyol dan selalu bisa membuat suasana cair. Mulutnya yang blak-blakan itu mungkin perlu disambit, tapi dialah yang paling frontal menunjukkan kesalahan Niwa. Kehadirannya bukan sekedar pelengkap cerita, tapi dialah jiwa dalam novel ini. Makanya saya suka. Saya paling demen sama tokoh yang apa adanya dan ceplas-ceplos macam Sisil ini.

Overall, saya sukaaaa banget novel ini. Bukan hanya karena saya dibikin nangis, tapi juga ada arti tentang kesetiaan dan memaafkan dalam novel ini. Tentang pengkhianatan. Dan tentang kesempatan kedua. Kisah yang mendalam tapi ditulis dengan begitu apik dan rapi sehingga menjadi sebuah cerita yang manis.

Kamis, 15 September 2016

[Resensi: When I Look Into Your Eyes - Netty Virgiantini] Seruni Pemilik Bola Mata yang Membius Kakak-Beradik

Judul: When I Look Into Your Eyes
Penulis: Netty Virgiantini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2012 (cetakan kedua)
Tebal buku: 200 halaman
ISBN: 978-979-22-7749-4



BLURB

Aku benar-benar bingung. Mengapa ibuku selalu menghindariku dan ketakutan setiap kali melihat mataku? Mengapa Arya dan Arga justru jatuh cinta padaku karena penasaran dengan mataku? Dan mengapa ada laki-laki yang tiba-tiba marah dan mengusirku hanya karena mataku?

Sudah kucoba becermin berkali-kali, mengamati bayangan mataku sendiri yang memantul dalam cermin, tidak ada yang aneh. Memang sih, bentuknya lumayan bundar, tapi masih wajar. Menurutku, tidak ada yang mencurigakan dari mataku.

Ternyata, ada kisah yang tersembunyi dalam sepasang mataku. Kisah pedih yang membuat hidup ibuku terbelenggu trauma masa lalu. Selama ini, semua sengaja menyembunyikan misteri itu dariku.

Akhirnya aku tahu, serapat apa pun manusia menyembunyikan kebenaran, Tuhan akan selalu punya cara untuk menunjukkannya....


RESENSI

Seruni si tukang telat. Sudah jadi rutinitas harian Seruni setiap paginya untuk memanjat tembok pagar sekolahnya dan mengendap-endap ke kelas agar tidak ketahuan kalau terlambat. Namun di hari itu, saat hendak melompat turun ke area sekolah, ada seorang cowok yang Seruni dapati ada di dekat lokasi kejadian. Saking terburu-burunya, Seruni bahkan lupa menyembunyikan tasnya di tempat biasa dan malah meninggalkan tasnya bersama cowok misterius itu.
Tak disangka, cowok itu adalah Arya, siswa kelas duabelas yang merupakan ketua OSIS. Sejak pertemuan pertama mereka, Arya sudah terpesona pada bola mata Seruni yang membangkitkan perasaannya. Ia pun tanpa malu mulai mendekati Seruni.
Ketika Seruni harus berjalan kaki sepulang dari latihan bulutangkis, Seruni bertemu dengan Arga. Cowok itu hampir menabraknya dengan sepeda motor, dan saat jatuh, Arga malah membentak-bentak Seruni. Akhirnya Seruni pun berkenalan dengan Arga, sang berandalan tukang bikin onar dan merupakan adik Arya. Dan sama seperti Arya, Arga pun terpikat oleh kedua mata Seruni yang bulat penuh itu.
Dua orang pemuda, mencintai gadis yang sama. Saling cemburu, saling berusaha menarik perhatian dan saling bersaing. Siapakah yang akhirnya akan Seruni pilih? Dan mengapa Arya dan Arga seolah begitu akrab dengan bola mata Seruni?

--------------------------------

Sebentar... saya perlu hapus air mata dulu sebelum nulis review. Duuh sumpah... waktu baca novel Telaga Rindu yang menyesakkan aja saya nangisnya nggak seheboh ini deh. Tapi selesai baca When I Look Into Your Eyes saya kayak lagi termehek-mehek gini jadinya. Bukannya lebay, tapi novel ini benar-benar nyeees banget di hati saya.
When I Look Into Your Eyes membuat saya kembali jatuh cinta pada lini teenlit dari Gramedia Pustaka Utama. Akhir-akhir ini, teenlit yang saya baca kurang greget dan membosankan. Tapi novel ini menunjukkan kematangan cerita, plot yang diolah dengan rapi dan kekuatan karakter tokohnya. Novel teenlit yang menyentuh saya biasanya adalah novel yang membuat saya kangen masa remaja dan merasa ingin kembali ke masa-masa itu.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, dan secara berimbang mengungkapkan perasaan dan isi hatibpara tokohnya. Membuat saya ikut terhanyut dan berdebar-debar. Terutama ketika merasakan kecemburuan Arya dan Arga. Yaah saya memang pembaca yang mudah bahagia kalau diberi sudut pandang perasaan si tokoh pria. Alurnya maju dan kisahnya mengalir dengan porsi kekocakan dan kebaperan yang pas seimbang. Sekali waktu saya dibuat geleng kepala karena kepolosan Seruni dan kekonyolannya di waktu lain saya panas-dingin oleh keromantisan yang ditunjukkan Arya dan Arga terhadap Seruni.

Dan omong-omong, saya merasa iri, saudara-saudara sekalian! Iri banget! Eh iri di awalnya aja sih, lalu merasa kasihan, karena Seruni jadi harus memilih tapi ternyata nggak boleh. Hiks.
Tapi dijamin deh, Seruni memang bikin iri. Saya mau dong dipedekatein dua kakak-beradik yang satu kayak malaikat yang satu iblis tapi posesif juga. Huhuhuu dan saya sih nggak bakal ragu kayak Seruni, saya bakal bilang kalau saya cinta banget sama Arga. Di bayangan saya kok dia kayak Go Bok Dong di drama korea Angry Mom ya. Hahaha...

Yang saya suka dari dua lead male dalam novel ini adalah mereka berani show off. Mereka masih cowok-cowok yang manis tapi dibanding tokoh di novel karya Netty Virgiantini lainnya, saya suka karena mereka berani menunjukkan perasaan meski dengan sedikit malu-malu. Mereka berani menempuh resiko, bandel dan terang-terangan menunjukkan perasaan. Bikin meleleh pokoknya. Lumer deh lumeeeer sayanya ^^
Tokoh yang menarik perhatian saya di novel ini adalah Mas Bin. Waah tokoh yang satu ini hebat banget kalau benar-benar ada di dunia ini. Tetap mencintai satu wanita apa pun yang terjadi. Keren. Dan saya mewek lah ketika tiba di adegan Mas Bin meluk Seruni dan menyimak ungkapan rasa sayangnya pada Seruni. Mewek sampai akhir pokoknya. *iyasih saya emang cengeng dan mudah terharu*

Hal yang mengganggu saya cuma pengulangan Seruni soal pengidolaannya pada Irfan Bachdim. Lumayan terlalu sering disebutkan dan bikin saya mikir jangan-jangan Seruni ini termasuk halu. Fans garis keras yang terlalu ekstrem, semacam fans yang halu dan delu. Wkwkk~
Sementara yang seru adalah kegemaran Seruni bermain bulutangkis. Hmm~ saya suka kalau tokohnya sederhana dan begitu dekat dengan keseharian pembaca, termasuk dalam olahraga yang digeluti oleh karakter utamanya.

Overall, When I Look Into Your Eyes adalah teenlit yang supeeeer manis. Konfliknya hampir-hampir sulit dipercaya tapi memang bisa terjadi. Twistnya benar-benar di luar perkiraan saya dan sempat bikin saya terbengong. Meski saya sedih tapi endingnya memang membahagiakan dan melegakan. Dan oooh pesona cowok badboy di dalam novel ini nggak kalah dari badboy di drama korea. Buktikan sendiri deh. ;)

Jumat, 05 Agustus 2016

[Resensi] Makhluk Tuhan Paling Katrok! - Netty Virgiantini

Judul buku: Makhluk Tuhan Paling Katrok!
Penulis: Netty Virgiantini
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Juni 2011
Tebal buku: 227 halaman
ISBN: 978-602-00-0406-8



BLURB

Cuma gara-gara AC, Neyla dapat julukan baru di sekolah sebagai Makhluk Tuhan Paling Katrok! Sebuah gelar yang telah membuat Neyla jadi mendadak ngetop di seantero sekolah beberapa waktu terakhir ini, nggak kalah dengan kepopuleran lagu Mulan Jameela.

Julukan itu diberikan teman-temannya, karena Neyla dianggap jadi orang paling katrok di sekolah setelah seluruh ruang kelas dipasang AC baru. Kalau yang lain menyambut dengan gegap gempita penuh sukacita bebas dari rasa gerah dan panas, Neyla yang berasal dari keluarga penggemar berat cerita silat dan sakit-sakitan sejak kecil, justru harus bergulat dengan segala keruwetan karena tubuhnya tidak mampu menahan serangan hawa dingin AC yang diyakininya sebagai jelmaan Dewa Angin yang punya dendam masa lalu.


RESENSI

Seisi kelas Neyla heboh saat tiba-tiba saja Neyla muntah-muntah, mereka mengira Neyla sedang hamil. Tapi ternyata penyebab Neyla muntah adalah karena serangan Dewa Angin alias serangan angin yang berhembus dari AC yang baru saja dipasang di kelasnya. Neyla merasa ilmu silatnya tidak cukup untuk mengatasi serangan Dewa Angin, maka ia meminta bantuan penghuni Padepokan Kancil 09 alias keluarganya untuk membantunya. Maka Neyla pun setiap hari berangkat sekolah dengan baju berlapis-lapis dan badan penuh dibalur balsem. Tentu saja banyak teman yang menertawakannya dan menjulukinya sebagai Makhluk Tuhan Paling Katrok!
Tapi Neyla tak peduli, ia tetap mempertahankan dandanan nylenehnya. Hingga serangan Dewa Angin kali ini membuatnya jadi gampang beser. Alhasil Neyla mesti bolak-balik ke kamar kecil untuk buang air. Tanpa sengaja ketika sedang terburu-buru ke toilet, Neyla menjadi saksi percobaan bunub diri. Kontan Neyla lari melapor guru untuk menyelamatkan cowok yang sudah penuh darah di toilet itu. Tak disangka, sang calon korban kini malah selalu membuntuti Neyla. Kemana pun Neyla pergi, cowok itu selalu mengikuti. Kira-kira apa yang diinginkan cowok itu? Kenapa Abi selalu diam saja tak berkata-kata dan tetap menempel pada Neyla?

-----------------------


Beberapa kali membaca novel karya Netty Virgiantini selalu membuat saya senyum-senyum cantik karena tingkah konyol tokoh utamanya. Saya selalu suka dengan humor khasnya yang ndagel. Wajar saja karena penulis ini merupakan fans srimulat, maka selera humornya pun tertuang dalam karya-karyanya.
Namun baru di novel Makhluk Tuhan Paling Katrok inilah saya dibuat terpingkal-pingkal dan geleng-geleng kepala saking takjubnya. Novel ini bukan cuma konyol dan ndagel, tapi juga absurd. Banget. Satu geng deh sama novel Lupus dan sejenisnya. Rasanya saya jadi pengin ngunyah beton membaca tingkah polah Neyla dan keluarganya.

Novel Makhluk Tuhan Paling Katrok ini juga membawa nostalgia sendiri bagi saya. Apalagi kalau bukan karena keluarga Neyla yang absurd itu adalah pencinta cerita silat. Duh jadi kangen sama Api di Bukit Menoreh dan serial Wiro Sableng. Saya juga suka membaca cerita silat, tapi saya nggak seabsurd keluarga Neyla juga kali. Tapi saya bisa paham lah kenapa mereka bisa sebegitu tergila-gilanya pada cerita silat dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Hahaha..
Dan sebenarnya kalau boleh jujur, saya dulu juga sempat pengin memberi nama anak laki-laki saya dengan nama Agung Sedayu, seperri nama kakaknya Neyla di novel ini. Tapi nggak jadi. Makanya saya merasa klop juga dengan novel ini. Wkwkwkwk~

Dan tentang alerginya Neyla, saya juga paham banget itu. Karena saya sendiri juga alergi dingin. Seperti Neyla saya juga nggak tahan dengan AC, saya bisa buang air kecil lebih dari dua kali kalau dekat-dekat AC. Itu sebabnya kalau kuliah saya selalu milih duduk sejauh mungkin dari AC. Sialnya justru waktu mau proses persalinan, ranjang saya persis di bawah AC, jadilah saya ngeden sambil muntah-muntah. Huhuhuuu... Neyla, i feel you, Nak. Kita sesama makhluk katrok, kayaknya.

Sebagai tokoh utama, Neyla benar-benar apes. Kasihan banget sepanjang cerita nasibnya malang melulu. Udah keluarganya absurd, guru-gurunya aneh, teman-temannya ngebully eeeeh ketemu cowok kok ya yang antik. Tapi meski dapat kesialan bertubi-tubi, Neyla tetap bersemangat. Dan tetap konyol. Makanya kena sial lagi. Hehehe..
Sedangkan Abi lebih ajaib lagi tingkahnya. Tapi meski dia cuma diem aja nggak ngomong sama sekali, kok saya suka ya sama dia. Aaaah... Pokoknya Abi ini cowok khasnya Netty Virgiantini deh. Kalem tapi gentle. Saya sih meleleh waktu adegan dia bawa motor boncengin Neyla dan ngajak Neyla makan. Manis banget deh adegannya. Cuma sebelnya ketika Abi berhenti ngikutin Neyla dan malah berduaan dengan Meta, saya rasanya pengin nampol dan minta Abi ngasih penjelasan nggak cuma senyam-senyum geje dan bikin Neyla salah paham. Sebel.

Novel yang sungguh kocak ini memang minim roman, cerita cintanya cuma secuil tapi dijamin manisnya nggak nguatin. Netty Virgiantini tetap selalu bisa menuliskan adegan sederhana tapi terasa berkesan dan romantis. Saya sendiri memang selalu terpikat dengan keluguan dan kesederhanaan para tokoh dan tindakan mereka.
Hanya saja karena merupakan cerita absurd mungkin akan mengecewakan beberapa pembaca yang nggak begitu suka kisah konyol dan mempertanyakan logika cerita. Saya sih karena menganggap ini adalah kisah fiksi merasa terhibur banget dengan betapa nyleneh tokoh dan jalan ceritanya.
Jadi buat kalian yang suka cerita humor absurd bisa banget baca novel Makhluk Tuhan Paling Katrok! ini karena dijamin bakal ngikik-ngikik sebel membaca kesialan demi kesialan yang menimpa Neyla. 

Senin, 23 Mei 2016

[Resensi: Kembar Dizigot - Netty Virgiantini] Usaha Nadhira Meraih Tama dan Bakatnya Kembali


Judul buku: Kembar Dizigot
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Wienny Siska
Desain sampul: Chyntia Yanetha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 978-602-03-1397-9
Link Goodreads: Kembar Dizigot




BLURB

Nadhira stres berat ketika pergelangan tangan kanannya cedera akibat ulah Kemal, si Onta Padang Pasir! Ke mana-mana ia harus menggendong tangannya yang dibalut slab gips. Apa-apa pun harus dibantu. Yang lebih menyakitkan, Ayah melarangnya pacaran dengan Narotama, dan kesempatan itu justru dimanfaatkan oleh kembarannya, Bashira, untuk mendekati cowok yang sama-sama mereka sukai itu. Nggak fair! Dasar saudara kembar pengkhianat! Mentang-mentang Bashira lebih cantik dan lebih pintar, ya?
Ketika tangannya sembuh, Nadhira semakin galau mendapati kenyataan ia tak bisa menggambar seperti dulu lagi. Arggh... ternyata begini risikonya jatuh cinta, cemburu, patah tangan sekaligus patah hati kuadrat. Sakitnya nggak cuma di sini–menunjuk dada–tapi di mana-mana.
Untung ada anak-anak "Pintu Belakang" yang terus menyemangati Nadhira berlatih. Hingga akhirnya ia punya kesempatan membalas dendam lewat ilustrasi di majalah sekolah. Ia bertekad membuat Bashira dan Narotama bertekuk lutut!


RESENSI

Nadhira merasa nelangsa. Pertama karena tangannya yang luka membuatnya jadi bergantung pada orang lain dan membuatnya merasa lemah. Yang kedua Tama mulai dekat-dekat lagi dengan Bashira. Padahal ayah sudah melarang mereka pacaran, tapi saat melihat Tama berduaan dengan Bashira di teras rumah, ayah sama sekali tidak marah. Sungguh tak adil.
Rasa frustasi Nadhira tak juga menghilang meski slab gips-nya telah dilepas. Karena ia tak lagi bisa menggambar sebagus dulu! Selama ini Nadhira bisa bersikap santai menghadapi ketidakadilan karena ia bisa menuangkan perasaan melalui lukisan, tapi sekarang ia tak lagi bisa melakukannya. Kecelakaan gara-gara membela Raven yang dikeroyok gerombolannya Kemal membuat Nadhira tak lagi bisa menggambar. Dalam keputusasaannya itulah Nadhira menyalahkan Kemal. Gara-gara Kemal, Nadhira tak lagi bisa melukis. Gara-gara Kemal, Nadhira harus putus dengan Tama dan membuat Tama dekat dengan Bashira lagi.
Bisakah tangan Nadhira sembuh seperti sedia kala? Dan siapakah yang akhirnya memenangkan hati Nadhira?

---------------

Kembar Dizigot adalah novel lanjutan dari Lho, Kembar Kok Beda? dan masih bercerita seputar konflik antara Nadhira dan Bashira. Novel inilah yang akhirnya menjawab pertanyaan yang menggantung di ending novel sebelumnya.
Di sini Nadhira mulai berubah, konflik mulai menajam dan situasi mulai nggak pasti. Nadhira mulai berdebar-debar sama Kemal. Ahaha...

Saya suka persahabatan yang mengambil banyak porsi dalam Kembar Dizigot. Raven dan anggota geng "Pintu Belakang" tetap ada di dekat Nadhira dan mendukung gadis itu bahkan saat Nadhira uring-uringan.
Lagi-lagi Bu Sharma lah yang menjadi penyelamat bagi Nadhira. Tempat Nadhira curhat dan mengungkapkan unek-unek. Hmm~ tapi mengapa namanya berubah jadi Bu Sharma ya? Bukannya di novel sebelumnya, nama bu guru BP ini Bu Sharmila?

Masih dengan gaya bertutur yang ringan dan manis, Netty Virgiantini kali ini memberi porsi yang lebih bagi Kemal. Di sini nggak ada flirting diam-diam antara Nadhira dan Tama atau ucapan-ucapan singkat Tama yang bikin meleleh itu. Yang ada adalah usaha Kemal untuk mendekati Nadhira, juga sikap kesatrianya menerima kemarahan Nadhira. Aduuh... aduuhh... kok saya yang meleleh XD

Karakter tokohnya masih sama dan masih konsisten. Hanya Bashira saja yang terlihat semakin egois. Emosi banget ketika Bashira nanya sama Nadhira bagaimana perasaan Nadhira kalau Bashira dekat dengan Tama? Ih... saya terbawa emosi jiwa jadinya.
Nadhira juga sempat merasa down dan egois karena menimpakan kesalahan pada Kemal, tapi salut dengan usahanya untuk kembali jadi dirinya sendiri.

Saya merasa konflik dalam novel ini lebih berat, bukan lagi tentang cinta segi tiga tapi juga tentang usaha Nadhira untuk bangkit setelah gagal. Nggak ada yang instant... bahwa bakat juga harus dilatih.
Sayangnya konflik yang sebenarnya mengganggu saya sejak novel pertama nggak terselesaikan juga. Tentang ayah yang selalu membandingkan Bashira dan Nadhira, yang terlalu sering menuduh dan merendahkan Nadhira dan nggak memuji bakat Nadhira. Saya gemaaaas... saya pengin ayah melihat kemampuan Nadhira, mengungkapkan kebanggaannya, melihat bahwa Nadhira berharga. Duuh... 

Endingnya melegakan dan menggemaskan. Lega karena sepertinya masih akan ada kesempatan buat Kemal. Mungkin... setelah ratusan purnama? Ahaha...

Nah buat teman-teman yang ingin merasakan kisah percintaan yang manis dan unyu, yang sederhana tapi bermakna dalam coba deh baca dwilogi ini, dijamin bakal senyum-senyum geli dan lumer meleleh. Dan tentunya bakal terinspirasi oleh perjuangan Nadhira untuk menjadi dirinya sendiri.

Sabtu, 14 Mei 2016

[Resensi: Lho, Kembar Kok Beda? - Netty Virgiantini] Kisah Cinta Si Kembar yang Berbeda


Judul buku: Lho, Kembar Kok Beda?
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Wienny Siska
Desain sampul: Chyntia Yanetha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Februari 2015 (cetakan kedua)
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-0696-4




BLURB

Semua kesempurnaan cewek ada dalam diri Bashira. Wajahnya bulat, kulitnya kuning langsat. Rambut hitamnya bergelombang indah, pas dengan postur tubuhnya yang tinggi berisi. Kecerdasannya membuat Bashira selalu berada di posisi tiga besar dan terpilih menjadi sekretaris OSIS.
Tidak ada yang menyangka Nadhira yang "ancur" adalah kembaran Bashira. Wajahnya oval dengan kulit kecokelatan. Rambutnya selalu dipotong pendek supaya irit sampo. Tubuhnya mungil dan kurus, mirip papan penggilasan. Dia selalu kesulitan mengikuti pelajaran sehingga wajib mengikuti kelas tambahan. Belum lagi, ia langganan dipanggil guru BP karena ketahuan menggambar saat jam pelajaran berlangsung.
"Lho, kembar kok beda?" Pasti begitu komentar orang-orang.
Setelah tujuh belas tahun hidup dalam perbedaan, akhirnya mereka menyadari satu persamaan: sama-sama menyukai Narotama! Tapi bisakah mereka bersaing secara fair dan terbuka? Atau malah terjebak dilema antara cinta dan saudara?

RESENSI

Dari kecil Nadhira sudah terbiasa jika ada yang mempertanyakan hubungannya dengan Bashira. Dirinya dan Bashira berbeda bagai bumi dengan langit, pantas jika orang-orang sering berusaha memastikan apakah mereka benar-benar kembar. Bukan hanya perbedaan secara fisik, tapi juga sifat dan kapasitas otak.
Nadhira tak pernah mempermasalahkannya. Tak pernah protes jika dibandingkan. Ia menyadari kekurangan-kekurangannya. Itu sebabnya saat ia jatuh cinta pada Narotama, teman sekelas mereka, Nadhira lebih memilih memendamnya. Ia lebih suka menuangkan perasaannya di lembaran kertas dan mengamati Tama diam-diam karena Tama lebih sering menghabiskan waktu bersama Bashira. Apalagi Nadhira punya Raven, teman yang sudah ia anggap adik sendiri serta geng pintu belakang yang selalu menghiburnya.
Nadhira juga sibuk bertengkar dengan Kemal yang sering mengejek Raven dan menyebut Raven banci jika melihat Raven bersama Nadhira. Kemarahan Nadhira terpancing, ia pun melabarak Kemal dan balas mengejek Kemal.
Namun tanpa sengaja, sketsa wajah Tama yang dibuat oleh Nadhira diketahui Tama. Nadhira jelas kebakaran jenggot. Harap-harap cemas akan reaksi Tama. Puncaknya ketika ulang tahun Nadhira dan Bashira yang ketujuh belas, Tama datang dan membawakan bunga untuk Bashira. Nadhira pias. Ia merasa Tama memang menyukai Bashira.
Namun sebuah kado mungil tanpa nama berisi kalung berliontin bintang dan sebait puisi yang didapatnya membuat Nadhira bertanya-tanya. Siapa yang telah memberi Nadhira kado indah itu? Raven, Kemal atau malah Tama?

------------

Setelah lama nggak baca teenlit, Lho, Kembar Kok Beda? memberi saya kesempatan untuk menyusuri mesin waktu... kembali merasakan jadi anak SMA lagi. Hahaha...
Lah... kenapa bisa begitu?
Saya selalu merasa terkoneksi dengan tulisan Netty Virgiantini. Gaya berceritanya yang khas dan penuh kesederhanaan itu mirip dengan masa sekolah saya. Yang nggak neko-neko, yang seru-seruan bareng teman bisa dilakukan di sudut sekolah atau di kantin. Yang jatuh cinta nggak mesti harus dengan atlit basket atau playboy cap kapuk.

Lho, Kembar Kok Beda? mengusung kisah perseteruan batin antara dua saudara kembar yang mencintai cowok yang sama. Biasa? Klise? Mungkin saja. Tapi kisah ini dibungkus dengan keunikan dan kekhasan gaya bertutur Netty Virgiantini. Tentu rasanya beda dong ;)

Saya menganggap penulis ini pintar dalam menarik simpati pembaca untuk ditujukan kepada karakter tokohnya. Dari awal saya sudah pengin meluk Nadhira. Mengapa orangtua dan guru yang seharusnya membimbing dan mendidik justru malah nggak memiliki kepekaan terhadap anak dan anak didiknya. Hal inilah yang berusaha 'disentil' oleh Netty Virgiantini.
Bahkan anak kembar pun bisa berbeda, masing-masing pasti memiliki bakat dan kecerdasannya sendiri. Mengapa orangtua dan guru lebih mementingkan nilai pelajaran daripada bakat seorang anak?
Di sinilah peranan Bu Sharmila sang guru BP diwujudkan. Dengan apik, Netty menyoroti bahwa guru BP bukan guru penghukum tapi guru pembimbing yang semestinya bisa menjalin hubungan kepercayaan dengan murid dan mengenali potensi-potensi muridnya.

Dan seolah untuk menunjukkan bahwa pintar dalam pelajaran bukanlah kunci segalanya, Nadhira justru memiliki banyak pengagum rahasia: Kemal, Raven dan Tama.
Nggak perlu heran, meski biasa saja dan nggak berbody aduhai, Nadhira jelas memiliki pesonanya sendiri. Dia baik, setia kawan, dan apa adanya. Be herself. Ini yang penting. Jadilah dirimu sendiri. Jangan minder hanya karena nggak pintar, nggak cantik, nggak jadi kebanggan guru, karena setiap anak pasti punya keistimewaannya sendiri.
Di sisi lain ada Bashira... yang bertolak belakang dengan Nadhira. Mungkin karena egonya sering diangkat oleh orang-orang di sekitarnya, Bashira langsung terpuruk saat menemui kegagalan. Sedikit egois memang. Apalagi begitu jatuh, nilai-nilainya anjlok, bukannya diminta berbenah diri dan melihat kenyataan, Bashira justru dilindungi orangtuanya. Sumber masalahnya adalah dalam diri Bashira sendiri tapi ayah mereka mengkambinghitamkan hubungan Nadhira dan Tama.

Sedangkan karakter Tama memang tipikal karakter yang selalu muncul di novel karya Netty Virgiantini: sopan, kalem tapi juga lucu. Adem banget rasanya. Hehe...
Selain Tama juga ada Kemal, yang jadi favorit saya. Hmm~ kalau saya ada di posisi Nadhira kayaknya saya bakal naksir Kemal. Nakal tapi pintar. Lebih all out nunjukin perasaannya. Pas adegan Kemal duduk bersila di depan Nadhira, dan bantuin Nadhira ngerjain soal, malah saya yang deg-degan. Hahaha...
Lalu sosok Raven tadinya saya pikir hanya sebagai pelengkap. Tapi rupanya Raven punya porsi yang lebih. Sering kan ya di masa SMA... ada saja yang terjebak friendzone. Tapi justru, dari Raven saya megerti, orang paling kuat adalah orang yang tahan berada dalam jebakan friendzone. :))
Di novel ini saya mendapati pengkarakteran yang kuat dan berciri khas. Masing-masing tokoh tampil sesuai karakternya. Saling mengisi dan melengkapi.

Ending novel ini memang masih menggantung. Belum benar-benar selesai karena akan ada lanjutannya di novel berikutnya: Kembar Dizigot. Jadi sepertinya saya bakal kembali terlarut dengan kisah si kembar yang bertolak belakang ini.
Tapi sebelumnya saya katakan, Lho, Kembar Kok Beda? benar-benar novel teenlit yang asyik dan seru. Sedikit konyol tapi huhuuu... keromantisannya bikin meleleh. Recommended deh pokoknya.

Minggu, 11 Oktober 2015

[Resensi: Cincin Separuh Hati - Netty Virgiantini] Cincin Pertunangan Pembawa Takdir


Judul buku: Cincin Separuh Hati
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Husfani Putri & Astheria Melliza
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 21 September 2015
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 978-602-03-1932-2


BLURB

Nilam benar-benar nekat!

Demi menghindari pertanyaan "kapan kawin" di acara reuni SMA, Nilam memakai cincin bekas pertunangan sepupunya. Dia bahkan mengganti profile picture dan status jejaring sosialnya; "Bertunangan dengan Aryobimo".

Nilam lupa bahwa satu kebohongan akan membawanya pada kebohongan-kebohongan berikutnya.

Hingga suatu hari, seorang lelaki bernama Aryobimo datang menemui Nilam, menuntutnya bertanggungjawab atas retaknya pernikahan lelaki itu karena dituduh telah berselingkuh dengan Nilam. Satu hal yang tidak Nilam duga, cincin separuh hati memaksanya menghadapi hantu-hantu masa lalu....

RESENSI

Sejak bergabung dengan grup WhatsApp teman SMA, Nilam jadi sering chatting sampai lupa waktu, akibatnya ia selalu terlambat datang ke kantor.
Namun itu bukan masalah besar jika dibandingkan dengan ajakan reuni teman-teman segrupnya. Bagi Nilam, reuni adalah hal yang paling ia hindari. Bagaimana tidak, usianya telah mencapai 35 tahun tapi ia masih melajang. Meskipun itu adalah pilihan hidupnya tetap saja teman-temannya akan mengerenyit heran dan mencecarnya dengan beragam pertanyaan.
Maka ketika istri sepupunya menawari Nilam untuk memakai cincin pertunangannya, Nilam setuju. Nilam pun berpura-pura telah bertunangan dengan mengunggah foto cincinnya dan memasang status "bertunangan dengan Aryobimo". Nilam bahkan memamerkan cincin itu di depan teman-temannya saat reuni, dan membual tentang calon tunangannya.
Tak disangka, itulah awal prahara. Seorang pria bernama Aryobimo mendatangi kantornya dan menuntut pertanggungjawaban Nilam. Pria yang memiliki pasangan cincin separuh hati itu marah karena istrinya menuntut cerai gara-gara status Nilam. Ternyata, pria mantan tunangan sepupunya, yang Nilam jadikan calon tunangan fiktif, adalah suami salah satu teman SMA Nilam.
Seolah keruwetan belumlah cukup, datang seorang pemuda yang mengaku sebagai adik Nilam. Nando mengungkapkan bahwa ia adalah adik Nilam satu bapak lain ibu.
Kedua lelaki yang tiba-tiba saja muncul dalam hidup Nilam itu membuat Nilam terpaksa harus menghadapi kemarahan dan dendam masa lalunya.
Bagaimana Nilam menyelesaikan masalah yang telah dibuatnya? Mampukah ia menepati janjinya untuk tidak pernah menikah dan tetap menyimpan kebencian terhadap bapaknya?

------------

Hal pertama yang melintas dalam pikiran saya saat membaca novel ini adalah, model cincinnya romantiiiss. ^^
Saya kira pria yang memilih cincin seperti ini sebagai cincin pertunangan pastilah pria romantis, ternyata malah pria lempeng. Hehe....
Tokoh pria dalam novel ini khas tokoh dalam novel-novel karya Netty Virgiantini, pria santun dan baik budi bak gentleman. Sabaaaaar banget menghadapi kejutekan Nilam. Tokoh Aryo (namanya sama seperti nama anak saya ^^) ini berasa istimewa karena selain dewasa juga bikin gemas karena kelempengan dan sejarah masa lalunya yang menyedihkan.

Diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, dan lebih terfokus pada Nilam. Kesedihan dan kepahitan hidupnya mengikat saya dalam rasa simpati. Meski saya nggak setuju juga dengan janji yang dibuatnya.
Plotnya rapi dan runut. Temanya menarik dan kekinian. Ada sindroma khas wanita usia pertengahan tiga puluhan yang berpotensi menjadi konflik, dan penulis dengan jeli mengolahnya menjadi cerita yang apik.

Saya selalu suka dengan gaya bertutur Netty Virgiantini. Diksi yang dipilihnya menarik dan selalu bisa menyelipkan nilai kesantunan dalam ceritanya. Ada kesan sederhana tapi kaya makna dalam gaya kepenulisannya. Pun dengan Cincin Separuh Hati, Netty Virgiantini memberikan kesan kearifan dan nrimo menjalani hidup tokoh-tokohnya.
Penulis juga sering menghadirkan kebudayaan jawa sebagai penghias kisahnya. Rumah berbentuk joglo, nama-nama yang njawani—Saya tahu lho, Surtikanti itu dalam pewayangan adalah nama istrinya Basukarna ^^, kuliner untuk kletikan, pakaian dan tas batik yang dikenakan, juga Mbah Uti yang sering nembang jawa. Ini membuat setting terasa kuat. Bahkan ketika Aryo dan Nilam datang ke Taman Balekambang, ada penjelasan singkat tentang sejarah tempat itu.

Konflik dalam Cincin Separuh Hati ini lumayan ruwet, meskipun keruwetannya dibikin sendiri oleh si tokoh utama. Lumayan sebal juga karena kekeraskepalaan Nilam. Namun penyelesaiannya malah berasa mudah dan twistnya masih bisa saya tebak. :))

Beberapa typo dalam novel ini:

* kenanganan --> kenangan (hlm. 109)
* ragu untuk langkah --> ragu untuk melangkah (hlm. 112)
* di ceritakan --> diceritakan (hlm. 129)
* dari keluar dari ponsel --> keluar dari ponsel (hlm. 146)
* …sambil tertawa --> …sambil tertawa. (hlm. 200)
* padanya --> padanya. (hlm. 237)
* rumah --> rumah. (244)
* tak beda jauh beda. --> tak jauh beda. (hlm. 253)
* ia dipadamkan --> ia padamkan (hlm. 273)

Overall, Cincin Separuh Hati membuat saya memaknai kejujuran dan nggak membenci seseorang mentah-mentah. Pasti ada alasan dibalik perbuatan seseorang, dan pasti ada penyesalan yang meski terlambat layak untuk kita beri maaf.
Saya rekomendasikan novel Amore ini bagi kalian yang ingin menikmati bukan hanya kisah cinta yang dipertemukan takdir tapi juga kisah tentang kasih sayang anak terhadap orang tuanya.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Nggak ada dua orang yang akan mengalami nasib sama persis di dunia ini." (hlm. 28)

"Pernahkah kamu mendengar bahwa harapan itu berteman dengan kekecewaan? Kalau nggak ingin kecewa, jangan pernah berharap apa-apa. Jalani saja hidup ini apa adanya. Seperti air mengalir, ikutlah ke mana arus akan membawamu. Walaupun mungkin alirannya akan menenggelamkanmu. Rasa sakit dan kecewanya nggak akan seberat orang yang selalu berharap."
"Kalau hidup tanpa berani berharap, itu sama saja putus asa!" (hlm. 28)

"Janji yang nggak membawa kebaikan, nggak perlu ditepati." (hlm. 226)


Ini dik Aryo yang lagi 'baca' blurb, semoga nanti bisa sesabar dan sesantun Mas Aryo ^^

Jumat, 11 September 2015

[Resensi: Chemistry of Love - Netty Virgiantini] Usaha Amma Menaklukkan Kimia, Mister Sa'id dan Emir


Judul buku: Chemistry of Love
Penulis: Netty Virgiantini
Penyunting: Starin Sani
Perancang & Ilustrasi sampul: Gloria Grace Tanama
Penerbit: Bentang Pustaka
Lini: Bentang Belia
Tahun terbit: Juli 2012 (Cetakan Pertama)
Tebal buku: 144 halaman
ISBN: 978-602-9397-35-2
Available at: bukupedia



BLURB

Mister Sa'id, Kimia, dan Emir, selalu sukses membuat sekujur tubuh Amma gemetar dengan alasan berbeda. Mister Sa'id membuat jam pelajaran Kimia serasa detik-detik penantian di Padang Mahsyar, Kimia menjelma jadi pelajaran paling sulit, dan Emir, si Jago Kimia, membuat dadanya selalu berdebar-debar.

Agar bisa mengimbangi Emir, harusnya Amma juga bisa menaklukkan Kimia. Tapi, boro-boro bisa bersahabat dengan pelajaran satu itu, Amma bahkan sering diusir ke luar kelas oleh Mister Sa'id. Ini juga dilema yang bikin Amma galau berat. Usahanya akan terjal dan penuh pengorbanan.


RESENSI

Ammarilla, cewek kelas X SMA ini punya ketakutan terbesar dalam hidupnya: Kimia dan Mister Sa'id. Bagaimana tidak, guru kimia itu selalu mengusirnya keluar kelas setiap kali ia tidak bisa mengerjakan soal kimia di papan tulis. Dan entah kenapa, Mister Sa'id selalu saja menunjuk Amma sebagai korban pertama. Jadilah Amma merupakan siswa pertama di kelasnya yang disuruh keluar kelas.
Yang lebih memalukan, Emir, siswa kelas sebelah yang paling pintar dalam pelajaran kimia, selalu saja memergoki Amma yang berada di luar kelas tiap pelajaran kimia. Tentu saja Amma malu karena Emir adalah pujaan hatinya.
Sahabat-sahabat Amma, Ayu dan Wulan, tentu saja menganggap hal itu sebagai bahan bercandaan. Mana mungkin, kan, cowok jago kimia, yang ditunjuk sekolah sebagai duta olimpiade bisa membalas perasaan cewek lemot bin oneng yang jadi langganan keluar kelas tiap jam pelajaran kimia?
Amma pun berusaha mencari cara agar ia bisa terhindar dari Mister Sa'id. Mulai dari mendiskusikannya dengan Mas Anan, kakak semata wayangnya, hingga berencana menggelar aksi damai bareng teman-teman sekelas.
Berhasilkah Amma menaklukkan kimia, Mister Sa'id dan Emir sekaligus? Apakah rencananya berjalan mulus atau justru gagal total?
-------

Saya baca novel ini dalam sekali lahap, nggak ada setengah hari sambil nunggu si sulung sekolah. Puas banget bacanya. Chemistry of Love benar-benar cerita yang manis dan lugu. Plotnya mengalir rapi dengan diksi renyah khas Netty Virgiantini.

Konflik dalam Chemistry of Love merupakan konflik yang biasa ditemui remaja. Siapa sih yang nggak punya guru killer semasa sekolahnya? Takut atau nggak takut, tetap saja kehadirannya membuat kulit meremang dan jantung deg-degan nggak karuan.
Saya sendiri kerap mendapat curhat dari murid-murid saya tentang guru killer mereka. Macam-macam model galaknya, dan macam-macam pula cara menghukumnya. Tapi saya rasa tindakan Pak Sa'id di novel ini nggak mendidik banget. Masa, anak yang nggak bisa ngerjain soal malah disuruh keluar kelas, seharusnya kan terus dibimbing biar bisa. Makanya saya sangat mendukung aksi damai Amma :p
Ada juga konflik yang terjadi di dalam banyak keluarga: orangtua yang menuntut anaknya jadi PNS. Hadeeeh ini keluarga saya banget :'D

Karakter Amma di novel ini polos banget. Pemikiran dan ucapannya begitu lugu dan membuat saya jadi ingin nguyek-uyek rambutnya saking gemasnya. Agak telmi dan gampang khawatir. Tapi lucu ^^
Saya langsung memfavoritkan Pak Trisna dari caranya mengajar. Aah... andai guru pelajaran kimia saya seperhatian dia :D

Bicara soal chemistry, saya suka chemistry antara Amma dan Anan, meski porsi dialognya sedikit, tapi rasa sayang kakak dan adik di antara mereka sudah berkesan kuat. Persahabatan antara Amma, Wulan, dan Ayu pun terlihat kompak. Meskipun saya pasti sudah merajam sahabat saya kalau sampai dia mengumumkan siapa gebetan saya di hadapan guru dan teman sekelas. :)))

Ada selipan pengetahuan juga yang rapi dan nggak berkesan tiba-tiba. Mulus banget masuknya ke dialog. Top deh.

Desain sampulnya meski sederhana tapi sudah mewujudkan tema cerita. Lucu kalau menurut saya, apalagi bookmark-nya berbentuk gambar vas seperti yang ada di sampul. Aah, Bentang memang paling unyu kalau bikin bookmark.

Saya merekomendasikan novel ini bagi pembaca yang ingin mendapatkan kisah ringan, lucu dan polos, namun memiliki makna yang dalam.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Bukankah tugas seorang guru itu mendidik, mengarahkan, juga membimbing para siswa? Bukan malah membentak-bentak di depan kelas dan menghukum kalau mereka tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik. Bukankah anak-anak seperti Amma seharusnya mendapat perhatian lebih daripada anak-anak yang sudah pintar dan harus dibimbing dengan penuh kesabaran? (hal. 14-15)

Mengapa kebanyakan guru hanya menyukai anak-anak yang pandai dan pintar? (hal. 15)

"Sekecil apa pun, yang namanya peluang pantas diperjuangkan." (hal. 19)

"Asal kalian tahu, ya, Nona-Nona sekalian, kalau yang namanya jatuh cinta itu udah sepaket sama sakit hati. Begitu kata para pujangga asmara yang hidup penuh gelora cinta." (hal. 20)

Kamis, 10 September 2015

[Resensi: The Kolor of My Life - Netty Virgiantini] Kolor Batik Kawung Pembawa Keberuntungan


Judul buku: The Kolor of My Life
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 9 Juli 2015 (cetakan pertama Desember 2008)
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 978-602-03-1513-3




BLURB

Sumpah demi kolor molor!

Neyra benar-benar nggak terima kolor batik keberuntungannya jatuh ke tangan Damar, cowok bertampang jadul bin cupu dan culun yang tinggal di rumah Simbah, tetangganya yang eksentrik.

Segala jurus sudah Neyra kerahkan demi mendapatkan kembali kolor spesial itu. Termasuk mengerahkan Jurus Macan Betina, yang nembuatnya berubah menjadi cewek supergalak - siap mencakar dan menerkam Damar.

Alih-alih berhasil, kesialan demi kesialan terus merundung Neyra. Dan kesialan terbesar adalah: Neyra mulai berdebar-debar nggak keruan dan salah tingkah bila berada di dekat Damar.

Gimana dong? Apa ini yang namanya cinta dari mata turun ke kolor?

RESENSI

Bagi Neyra si Pencinta Kolor, kolor batik kawungnya adalah kolor keberuntungan. Meskipun cara ia mendapatkannya berawal dari kesialan di Pasar Klewer, tapi Neyra yakin ia selalu mendapat keberuntungan saat memakainya. Sudah banyak bukti tak terbantahkan bahwa ia bisa menghindari kesialan hanya dengan memakai kolor batik kawung itu.
Namun semua berubah di siang hari berhujan itu. Meski sudah berusaha menyelamatkan celana kolornya dari hujan lebat, Neyra tetap kalah dari angin kencang yang menghembus celana kolornya ke... atap rumah tetangganya.
Serangkaian misi pun dijalankan Neyra untuk merebut kembali kolor itu dari atap rumah Simbah, tetangga yang sudah Neyra anggap seperti simbah sendiri. Tapi celana kolornya justru malah semakin tak tergapai karena... telah dipakai Damar!
Damar adalah saudara Simbah dari Sragen yang mulai hari itu pindah ke rumah Simbah karena ayahnya telah meninggal. Damar yang ternyata juga pindah ke sekolah Neyra dan menjadi teman sebangku Neyra itu mulai sering terlihat memakai celana kolor batik kawung keberuntungan Neyra. Dan sejak itu kesialan bertubi-tubi mendatangi Neyra. Duh... Neyra harus merebut celana itu kembali, tapi benarkah ia sungguh membenci Damar? Bukankah garis batas antara cinta dan benci itu begitu tipis?

-------

Sekali lagi saya dibuat nyengir-nyengir bak anak kuda oleh karya Netty Virgiantini. Pantas saja novel ini menyabet Juara Pertama Cerita Konyol Tahun 2008. Sungguh, konyolnya minta ampun!
Temanya berawal dari hal sederhana, tapi berkembang jadi luar biasa lucu. Gaya narasi yang kocak di sekali waktu, hiperbolis di kala lain dan puitis di satu momen membuat novel ini nggak berkesan monoton. Dialognya pun luwes dan nggak kaku dan berlogat jawa.

Point yang saya suka dari novel ini adalah unsur budaya lokal yang diangkat oleh penulis. Ada kolor batik kawung yang memang saya sendiri akui enak dipakai. Kolor batik itu adem dan praktis dan isis :)))
Juga pagelaran wayang kulit yang diperagakan Simbah yang diselipkan dengan gaya humor telah memberi warna budaya dalam novel ini.
Tapi masih ada lagi bagian favorit saya, Neyra terlepas dari sikapnya yang nyebelin karena suka bentak-bentak dan main marah-marah sama Damar, memainkan olahraga yang "beda" dari tokoh novel kebanyakan. Neyra jago main tenis meja. Saya pikir asyik juga si Neyra karena memainkan cabang olahraga ini. Jadi teringat Kogoro Mouri. Loh? Hahaha.. ujungnya larinya ke komik juga :p
Karakter Damar sendiri... aduuuh bikin iba setengah mati karena selalu dimarahi Neyra. Saya kira Damar ini bakal jadi favorit emak-emak karena kesantunan dan gaya jadulnya :)))

Judulnya lucu karena saya pikir ini plesetan dari ungkapan the color of my life, ya? Hihi... Dan saya lebih suka cover cetakan yang ini daripada cover cetakan pertamanya karena celana kolor batiknya jadi sorotan utama dan warnanya kalem.

Hanya ada sedikit kesalahan penulisan dan tanda baca dalam novel ini:
* maksudmua --> maksudmu (hal. 53)
* sountrack --> soundtrack (hal 79)
* Dasar bocah... --> "Dasar bocah... (hal. 90)
* berasalan --> beralasan (hal. 112)
* mikiran --> mikirin (hal. 132)
* ...lama. --> ...lama." (hal. 135)

Kalau kamu suka novel-novel humor nan konyol, saya sarankan baca novel ini. Dijamin bakal ngikik-ngikik geli oleh polah tingkah Neyra, Simbah dan tokoh lainnya. Porsi romannya walau sedikit tapi nyeees banget. Sempat hampir nangis juga sih karena adegannya sediiiih :(


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Kadang-kadang kita memang ndak bisa membedakan orang yang bener-bener sedang kena musibah dan membutuhkan pertolongan, atau orang yang sengaja memanfaatkan rasa simpati kita untuk berbuat jahat." (hal. 29)

Makhluk lemah, lembut, dan tak berdaya? Hah, makhluk yang satu ini bahkan lebih galak daripada singa betina! (hal. 121)

Tapi sebagai laki-laki, rasa sakit justru menguatkannya. Mendewasakannya untuk tetap mencintai tanpa berharap balasan yang sama. (hal. 172)



The Kolor of My Life nemenin "Damar" belajar.
 Eh... tapi kalau berdasar sablengnya 
mungkin cocoknya jadi "Yoga" :D

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon