Tampilkan postingan dengan label Republika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Republika. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2016

[Blogtour: Resensi + Giveaway] Tentang Kamu - Tere Liye

Judul buku: Tentang Kamu
Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati
Penerbit: Republika Penerbit
Tahun terbit: Oktober 2016
Tebal buku: 524 halaman
ISBN: 9786020822341



BLURB

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Masa lalu. Rasa sakit.

Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.


RESENSI

Zaman Zulkarnaen adalah seorang pengacara muda yang menjadi associate di firma hukum Thompson & Co., sebuah firma hukum yang merupakan legenda hidup. Pengacara mereka adalah kesatria gagah berani pembela kebenaran, bekerja keras untuk memastikan setiap harta warisan diselesaikan seadil mungkin. Dan kali ini, Zaman disodori kasus yang sangat penting. Ia harus menyelesaikan perkara warisan seorang perempuan tua yang meninggal di sebuah panti jompo di Paris, dan ternyata memiliki harta warisan sebesar satu miliar poundsterling. Nama wanita itu Sri Ningsih.
Zaman memulai investigasinya di panti jompo tempat Sri Ningsih menghabiskan masa tuanya, di sana ia bertemu dengan perawat muda bernama Aimée. Dari Aimée, Zaman mendapat petunjuk pertamanya, sebuah buku harian milik Sri Ningsih yang terbagi dalam lima juz. Berbekal buku harian dan foto-foto lama, Zaman berangkat menyusuri tempat-tempat tak terbayangkan untuk mencari ahli waris Sri Ningsih. Yang tak bisa Zaman duga adalah, penyusuran ini membawanya pada kisah yang memilukan, tentang kesabaran, persahabatan, keteguhan hati, cinta, dan memeluk semua rasa sakit.

---------------------

Tentang Kamu menjadi kisah yang luar biasa dan saya merasa begitu sayang untuk berhenti membacanya. Betapa tidak, saya dibawa berpetualang menyusuri kota demi kota, masa demi masa, dan saksi demi saksi. Perjalanan yang seru banget dan bikin berdebar-debar. Membaca novel ini bukan hanya sekedar menelusuri dan menguak jejak kisah hidup Sri Ningsih, tetapi juga menapaki kebaikan dan kepolosan seorang gadis yang tangguh.

Banyak pertanyaan yang meliar dalam benak saya sejak awal kisah, karena begitu minimnya informasi yang ada. Dan Tere Liye merupakan penulis yang sabar, memberikan kepingan puzzlenya secuil demi secuil dalam waktu yang tepat. Paling tidak ini membuat perjalanan Zaman menelusuri siapa Sri Ningsih sepanjang 524 halaman bukanlah hal yang membosankan.
Apalagi deskripsi setting tempatnya luar biasa detail. London, Paris, Sumbawa, Surakarta, Jakarta. Semua tempat begitu terasa nyata latar dan atmosfernya.
Saat Zaman menggali informasi dari saksi-saksi hidup yang mengenal Sri, saya dibawa pada sejarah-sejarah yang telah dilewati Sri. Betapa Sri telah melewati segalanya, masa kemerdekaan, masa politik komunis, masa peristiwa malari bahkan euforia pernikahan Lady Diana dan Pangeran Charles. Tere Liye mengaitkan kehidupan Sri dengan peristiwa-peristiwa penting sehingga rasanya Sri begitu istimewa.

Zaman adalah tokoh sentral novel ini, sebagai pengacara muda berbakat ia memiliki prinsip dan integritas luar biasa. Bertekad baja dan pekerja keras. Pantang menyerah sebelum menuntaskan misinya. Betapa gigihnya ia menelusuri petunjuk sekecil apa pun. Sedangkan Sri merupakan tokoh utama di atas segalanya. Penderitaan dan kehilangan bertubi-tubi menderanya, tapi ia tetap tersenyum, tetap tabah. Kepolosan dan kesucian pikirannya benar-benar langka bahkan mungkin di masanya. Namun kesabaran dan kegigihannyalah yang membawanya sejauh itu, seagung itu.
Cukup banyak tokoh sampingan dalam novel ini, tapi semuanya memberi peran penting, nggak ada tokoh yang hanya selintas lewat. Bisa dibilang semuanya punya detail karakter yang sangat kuat.

Tentang Kamu memang merupakan novel paket komplit. Semacam mencicipi gado-gado yang disajikan dengan baik dan terasa lezat. Ada tragedi, komedi, thriller dan romantisme yang manis, yang diramu dalan porsi yang pas. Ditambah lagi banyak trivia sejarah dan pengetahuan umum dalam novel ini. Bagaimana saya nggak jatuh cinta membacanya?
Meski saya merasa ada bagian-bagian yang terasa kaku dalam interaksi antar tokohnya, mungkin karena beberapa tokohnya memang dibuat unik dan berbeda. Jujur saya memang nggak bisa membayangkan logat dan cara bicara Rajendra Khan. Bisa jadi karena saya jarang menonton film india tanpa dubbingan. Karena sungguh sebenarnya Rajendra ini kocak banget dan semestinya bisa mencairkan suasana.

Secara keseluruhan, Tentang Kamu menjadi kisah yang membuka mata. Seorang gadis dari pulau kecil yang menerima kebencian, penderitaan, pengkhianatan dan kehilangan dengan sabar. Ia melihat masa lalu hanya sebagai kenangan dan kekuatan untuk terus maju. Kegigihan dan ketabahan adalah pesona utama novel ini. Dan Tere Liye menyampaikannya dengan begitu baiknya.


**********GIVEAWAY TIME***********




Nah, sudah baca review Tentang Kamu? Sudah merasa penasaran? Tenang... Saya punya DUA eksemplar novel Tentang Kamu yang akan dibagikan bagi pemenang yang beruntung ;)

Caranya mudah saja seperti biasa:

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun twitter @bukurepublika dan akun saya @KendengPanali 

3. Share info giveaway ini dengan hashtag #TentangKamu dan jangan lupa memention kedua akun di atas.

4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via email, G+ atau GFC yang bisa dilihat di bagian samping postingan ini. (Optional saja dan nggak memaksa).

5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyebutkan nama | akun twitter | domisili | alamat email. Dan pertanyaannya adalah:

Jika kamu harus memilih antara sahabat sejati atau kebenaran, mana yang akan kamu pilih?

6. Giveaway akan berlangsung selama lima hari dan ditutup pada tanggal  18 November 2016 pukul 23.59 WIB.

7. Jika ada pertanyaan, jangan segan colek saya di akun saya, ya. Good luck :))

*******UPDATE*******

Yuhuu... akhirnya blogtour Tentang Kamu sudah berakhir di blogku. Sungguh luar biasa merasakan semangat teman-teman mengikuti blogtour ini. Jawaban yang diberikan pun benar-benar luar biasa.
Sebenarnya ujian antara kebenaran dan persahabatan, juga harus dihadapi Sri Ningsih dalam episode hidupnya, dan saya bisa memetik pelajaran darinya.

Jadi pemenang kali ini adalah mereka yang jawabannya paling mendekati situasi Sri Ningsih dan mereka adalah...

Nama: Nur Rachmawati. Z
Twitter: @OmbakBintang

Nama : Viby Diana
Twitter : @vibydiana

Selamaaaat kepada dua orang yang beruntung. Saya tunggu data nama dan alamat kalian di nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2 x 24 jam ya.

Bagi yang belum beruntung, jangan sedih. Masih ada dua bloghost yang akan memandu blogtour Tentang Kamu. Keep reading ya guys ;)

Minggu, 06 Desember 2015

[Resensi] Maneken - SJ. Munkian


Judul buku: Maneken
Penulis: SJ. Munkian
Editor: Triana Rahmawati
Desain cover: Chandra Kartika Gunawan
Penerbit: Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)
Tahun terbit: September 2015
Tebal buku: x + 181 halaman
ISBN: 9786029474060



BLURB

Dalam sejarah kehidupan di dunia, benda mati hampir selalu tidak dihiraukan. Tidak ada yang mau repot-repot memikirkan perasaan benda mati, apalagi memerhatikan kebutuhannya. Kau bahkan tak pernah tahu kan, bahwa maneken bernama Claudy—yang bekerja keras di etalase terdepan toko busana Medilon Shakespeare—mempunyai perasaan. Mimpi-mimpinya dilambungkan untuk kemudian dihempaskan lagi hingga hanya bisa bergantung pada nasib dan keajaiban. Ya, keajaiban.

Novel ini akan membuka mata hatimu dengan menempatkanmu pada posisi benda mati yang tak dihiraukan, meski sedang berjuang mati-matian untuk mencapai mimpi-mimpi. Kau akan melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan semoga itu akan membuatmu semakin mengerti, betapa kami, aku dan Claudy, iri kepada kalian.

REVIEW

Sebelum Medilon Shakespeare dibuka, sebuah maneken perempuan telah diletakkan di etalase utama. Maneken paling cantik dan paling unggul di antara maneken-maneken lainnya, dialah Claudia.
Yang tak diduga Claudia, ternyata bukan hanya dirinya saja yang diletakkan di etalase utama yang menghadap ke Capulatte Cafe itu. Ada sebuah maneken pria yang akan disandingkan bersamanya di etalase utama. Nama maneken itu Fereli. Maneken pria yang mengaku berasal dari Perancis dan fasih berbahasa Perancis, yang tentunya membuat Claudia kesal setengah mati karena harus membagi etalase utama bersama pria itu.
Namun lama-lama, seiring dibukanya toko busana, dan tema busana yang silih berganti mereka bawakan, mereka berdua menja dekat. Obrolan dan sentuhan tak pelak membawa desir rasa di antara mereka.
Tepat ketika mereka merasakan puncak bahagia seperti Sophie si pemilik toko yang tengah dimabuk asmara, bencana terjadi. Sophie menemui kegagalan. Fereli dan Claudia menjadi sasaran amuk Sophie dan menjadi target pemusnahan. Inikah akhir nasib mereka? Apakah maneken hanya bisa diam ketika manusia berbuat tidak adil pada mereka? Apakah benda mati selamanya tak punya kuasa melawan benda hidup? Atau akankah ada keajaiban bagi mereka?

--------------
Akhirnya setelah cukup lama melahap novel romance, saya bertemu kesempatan membaca genre fantasi lagi melalui novel Maneken ini. Dan yang luar biasa novel ini adalah novel fantasi karya anak bangsa sendiri.

Yang menarik perhatian saya pertama kali saat membuka novel ini adalah susunan daftar isi. Dalam daftar itu terdapat judul-judul bab yang semuanya merupakan kata pasif semacam; Dinamai, Diletakkan, Diperlihatkan, dan ada juga Dipertemukan. Semula saya masih nggak mengerti mengapa kata pasif yang digunakan sebagai judul, tapi karena tokoh utama novel ini adalah benda mati, atau sebuah obyek, barulah saya merasa betapa tepatnya judul bab yang digunakan.

Maneken diceritakan dari sudut pandang Claudia sebagai "aku" pada awalnya, hingga di pertengahan sudut pandang mulai berganti-ganti antara Claudia dan Fereli. Menarik sekali menyaksikan apa yang dirasakan kedua maneken ini terhadap para manusia baik yang ada di dalam toko maupun di luar toko.

Jalinan kisahnya lumayan runut. Beberapa kemustahilan dijelaskan dengan argumen sehingga menjadi lebih masuk akal. Karena toh bagi saya, genre fantasy tetap saja mesti punya jalan logika yang bisa tetap digenggam :))
Analogi dan filosofi yang dipaparkan sangat menarik. Beberapa hal dipotret dari sudut pandang Claudy dan Fere sebagai benda mati.

Penggambaran tokoh Claudia dan Fereli cukup bertolak belakang. Claudia adalah maneken perempuan yang sedikit egois dan "kosong", saya nggak menemukan "isi" yang bulat dalam karakter Claudia. Selain bahwa dia penuh mimpi dan romantis. Sementara Fereli adalah maneken pria yang sabar dan tabah. Sabar bangetlah dijutekin Claudia. Paling suka kalau Fere mulai ngomong pakai bahasa Perancis dan Claudia bengong. Ternyata walau tenang, Fere lumayan usil juga :))
Membaca novel ini membuat kosa kata bahasa Perancis saya jadi bertambah karena Fereli.

Tokoh manusia yang karakternya cukup menonjol di sini adalah Sophie, si pemilik toko. Sophie karakter yang keras dan disiplin. Dia juga nggak segan menegur orang-orang yang tindakannya nggak sesuai dengan kemauannya. Tipe perempuan yang jika di dunia nyata bakal saya jauhi dan nggak mau berurusan dengannya.
Di antara semua tokoh dalam Maneken, justru Sophie-lah yang pengkarakterannya lebih kuat dan lumayan bulat.
Sedangkan dialog antar tokoh dalam novel ini masih terasa kaku, masih banyak dialog basa-basi dan emosinya masih encer. Kurang pekat dan kurang chemistry.

Ada beberapa typo terutama pada penggunaan partikel -pun yang seharusnya dipisah seperti "apa pun" dan "siapa pun" ditulis menyambung. Juga ada beberapa kesalahan tata kalimat. Tapi tetap enak dibaca dan nggak terlalu mengganggu.

Saya cukup menikmati novel ini dan merekomendasikan Maneken bagi penggemar novel genre fantasy yang menginginkan membaca cerita yang unik. Setidaknya novel ini mengajarkan untuk lebih menghargai benda mati dan nggak melampiaskan kesalahan dan kekesalan pada benda mati.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Pahami orang lain, maka kau pun akan dipahami. (hlm. 69)

Dalam realitas pribadi—mimpi, imajinasi—jika kita berkeinginan dengan teramat kuat dan bersungguh-sungguh maka hal itu akan jadi realitas semesta—menjadi nyata. (hlm. 88)

"Usaha dari dia yang memperjuangkan cinta tak akan sia-sia." (hlm. 155)
Bagi yang masih penasaran, silakan tonton trailernya :))



 *****GIVEAWAY TIME (CLOSED)*****



Sekarang waktunya bagi saya untuk menjamu teman-teman yang telah berkunjung dan mengikuti blog tour Maneken ini.

Akan ada dua hadiah yang disediakan Kak Sangaji dan Penerbit Republika untuk dua orang yang beruntung:

Hadiah pertama --> novel Maneken & goodie bag
Hadia kedua --> paket buku Republika

 Wohooo... siapa yang nolaaak??!
Hihihii.. syarat untuk mendapatkannya mudah saja.
1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @sjmunkian @bukurepublika dan @KendengPanali
3. Share tentang giveaway ini di twitter dengan memention ketiga akun di atas dengan hashtag #Maneken dan sertakan pula kaver novel ini di share kalian.
4. Baca postingan wawancara saya bersama SJ. Munkian di sini
5. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menyebutkan nama, akun twitter dan alamat email.

Dalam imajinasi kalian, benda apa yang kalian bayangkan bisa berbicara dan berpikir seperti manusia? Deskripsikan juga kemampuan apa yang mereka miliki.

Giveaway ini akan berlangsung dari tanggal 6 Desember 2015 dan ditutup tanggal 9 Desember 2015 pukul 23.59 WIB. Pemenang akan saya umumkan tanggal 10 Desember 2015.
6. Yang terakhir good luck, ya ;)


Review ini diikutkan dalam Lomba Resensi Maneken



Rabu, 02 Desember 2015

[Resensi: Pulang - Tere Liye] Memaknai Kepulangan Sang Jagal Jenius


Judul buku: Pulang
Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Penerbit: Republika
Tahun terbit: November 2015 (cetakan VI)
Tebal buku: iv + 400 halaman
ISBN: 978-602-08-2212-9



BLURB

"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya."

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

RESENSI

Di usia lima belas tahun, untuk pertama kalinya Bujang bertemu dengan Tauke Besar. Lelaki itu datang ke kampungnya di lereng bukit barisan untuk memburu babi hutan yang telah merusak sawah milik warga. Tanpa Bujang sadari, itulah ujian pertamanya.
Hari itu ketika ia ikut berburu babi hutan dan berhadapan dengan babi hutan terbesar yang pernah dihadapinya, Bujang telah membuka pintu lebar-lebar untuk takdir masa depannya. Takdir sebagai putra tunggal jagal paling ditakuti di ibukota propinsi. Takdir yang membawanya pergi dari rimbunnya hutan bukit barisan, dan meniti jalannya di tengah Keluarga Besar Tong, penguasa bisnis ilegal di ibukota Propinsi. Hanya satu pesan mamaknya, Bujang harus menjaga perutnya dari makanan dan minuman haram.
Semula, Bujang berpikir ia akan dijadikan tukang pukul seperti sebagian besar orang yang direkrut Tauke Besar, tapi ternyata ada rencana lebih besar yang disiapkan Tauke Besar. Rencana yang membuat Bujang dua puluh tahun kemudian menjelma menjadi Si Babi Hutan, penyelesai konflik tingkat tinggi Keluarga Tong dalam dunia shadow economy.
Bisikkan nama Si Babi Hutan maka orang-orang akan terkencing-kencing ketakutan, suruh Si Babi Hutan bicara maka presiden pun akan duduk terdiam mendengarkan.
Namun, sejauh-jauh elang terbang, ia pastinya harus pulang ke sarang, akankah Bujang juga pulang? Akankah ia menemukan kedamaiannya atau ia sudah terlalu berlumur darah untuk kembali pulang?

Di keluarga ini, seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait-mengait. (hlm. 315)
------------

Diceritakan dengan sudut pandang Bujang sebagai orang pertama, novel Pulang langsung memberi gebrakan melalui openingnya. Pembuka yang memberi debaran ketegangan dan rasa penasaran, yang kemudian disusul dengan adegan perpisahan yang menyesakkan. Dan memberi landasan yang kuat untuk konstruksi ceritanya.

Penokohannya kuat dan bulat. Masing-masing tokoh memiliki karakter yang mudah diingat dan menempel erat.
Yang mengesankan tentu saja karakter Bujang; jenius, kuat, nggak kenal takut dan jadi jagal nomor satu. Bujang sanggup menyelesaikan ujian apa pun. Bahkan misi yang mustahil bisa diselesaikannya meski dengan proses yang cukup lama. Tapi tetap saja rasanya superhero banget bagi saya. Susah dibayangkan bisa dilakukan oleh manusia biasa.
Saya suka penggunaan aksen Sumatra kental yang dipakai dalam gaya bicara tokoh Tauke Besar, Kopong dan Samad. Hal itu menjadi penguat setting yang cermat.

Mengangkat tema dunia shadow economy yang mengerikan, Tere Liye begitu cermat dan mendetail dalam deskripsinya. Banyak penjelasan diberikan, dan detail pertarungan yang jelas membuat suasana terbangun dengan mudah dalam pikiran saya.
Ceritanya mengalur dengan melompat-lompat antara masa kini dan masa lalu, namun saya tetap bisa mengikutinya karena cara bertutur Tere Liye yang mengasyikkan. Di satu waktu terasa tegang dalam situasi baku hantam dan ledakan-ledakan, di kala lain terasa mengharukan dengan eratnya ikatan keluarga dan loyalitas.
Saya begitu menikmati dan menunggu dengan berdebar-debar taktik apa yang akan digunakan Bujang. Bersiap menanti kejutan yang membuat terperangah.

Namun entah mengapa di bab delapan saat Bujang bertemu White, Tere Liye nggak langsung menyebutkannya sebagai putra Frans, padahal informasi itu sudah ada di bab sebelumnya ketika Frans bercerita tentang masa lalunya. Saya rasa kalimat-kalimat penutup bab delapan itu akan menjadi twist yang seru jika saja di bab sebelumnya, Frans nggak perlu menyebutkan nama putranya, cukup profesinya saja.

Saya mencatat dua kali Tere Liye melakukan pola yang sama dalam mengaduk emosi pembaca. Memutar balik suasana kegembiraan menjadi suasana sedih haru yang menyayat. Pada kesempatan pertama saya terlena dan menangis, di kesempatan kedua, mungkin karena saya sudah mengantisipasinya, saya nggak lagi merasakan twist-nya. Momennya sama, suasananya sama, waktu kejadiannya sama dan adzan subuh yang sama. Namun ternyata adzan inilah yang nantinya cukup berperan dalam penyelesaian.

Dan ketika tiba di konflik yang telah meninggi, di saat ketegangan memuncak dan saya siap menyaksikan gebrakan di bab berikutnya, saya dibawa kembali oleh penulis untuk menyusuri masa lalu, membuat ketegangan yang tadinya mendidih tertunda, diberi jeda. Membuat saya penasaran setengah mati akan kelanjutan situasi yang saya tinggalkan tadi. Cck! Bikin tambah tegang saja.

Sosok si pengkhianat sudah saya duga sejak awal. Dalam buku-buku seperti ini sudah bisa diduga orang paling dekatlah yang akan berkhianat. Sejak awal Tere Liye nggak berusaha menutup-nutupi atau berusaha mengalihkan kecurigaan pembaca pada tokoh lain, ini membuat saya senang karena bisa menikmati membaca buku ini tanpa harus curiga pada siapa pun, hanya pada satu-dua orang.
Yang nggak saya duga justru adalah penyelesai konflik batin Bujang. Itu benar-benar twist yang luput nggak terpikirkan sama sekali oleh saya.

Saya suka dengan kavernya. Warnanya pas dan nggak berlebihan. Saya menangkap filosofi matahari pagi yang diungkapkan Tuanku Imam dalam kaver Pulang.

Saya rekomendasikan novel ini karena Pulang menjadi novel yang bukan hanya enak dinikmati tapi juga sarat filosofi. Tentang keluarga dan kesetian. Dan yang terpenting tentang hakikat pulang. Bukan hanya dalam bentuk fisik ragawi tapi dalam arti yg lebih dalam, lebih sakral. Pulang pada makna awal hidup kita.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Pergilah, anakku, temukan masa depanmu. Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang...." (hlm. 24)

Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing. (hlm. 101)

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain. (hlm. 188)

Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (hlm. 219)
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon