Tampilkan postingan dengan label wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wawancara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 November 2017

[Blogtour: Impian Demian] Pertemuan Tak Terduga dengan Penulis

Pic from google

Sekali lagi aku melirik cemas pada kain serba putih yang dikenakan putra sulungku. Kain yang melilit tubuhnya itu masih tampak sempurna warnanya. Untuk saat ini. Entah bagaimana nanti setelah kegiatan berlangsung.

Aku nggak akan separno ini kalau kain itu milik kami sendiri, baru jadi masalah karena kain itu hasil meminjam dari tetangga. Ya maklumlah kalau untuk kegiatan yang cuma terjadi setahun sekali begini, aku memang sangat pelit. Bagaimanapun juga prinsip ekonomi harus ditegakkan, bukan? Okesip. Terima kasih untuk yang setuju, yang nggak setuju aku layani perdebatannya lain kali saja.
Kurasakan genggaman putraku mengencang dan sentakannya yang pelan membuatku benar-benar menoleh padanya.

"Kenapa, le?" Entah mengapa aku nggak bisa menanggalkan kata sapaan ini dan tetap menggunakannya di mana pun kami berada. Mungkin aku terlalu nyaman menyebut anak-anakku dengan thole, karena mengingatkanku pada tanah kelahiran.

"Ibu mau pulang atau nungguin sampai selesai?" tanyanya penuh harap.

"Pulang aja ya," sahutku setengah usil.

Bibir putraku langsung membuat cemberutan yang sangat kuhapal. Namun sesuai dugaanku, dia tetap diam dengan penuh gengsi.

Aku mengedarkan pandangan dan menemukan penjual es cincau di bawah pohon tak jauh dari tempat kami berdiri. "Hmm... tapi ada es cincau enak di sana. Ibu tungguin di sana aja ya," ujarku sambil mengangguk sedikit ke arah penjual es cincau.

Putra sulungku menoleh mengikuti arah yang kutunjuk, lalu menyipitkan mata. "Katanya nggak boleh jajan sembarangan," ucapannya yang separuh polos separuh menyindir itu membuatku tergelak.

"Iya... iya... Kan sekali-kali doang," aku berusaha membela diri. "Atau ibu pulang aja nih?"

"Huh, ibu nggak asyik!" Gerutu putraku kesal.

Aku tertawa sekali lagi, "makanya, jangan banyak protes. Udah sekarang kita cari guru dan kelompokmu dulu deh."

Melihat putraku mengangguk, aku kembali mengedarkan pandangan memilah di antara para orang tua dan anak-anak berpakain putih, mencari keberadaan rombongan dari sekolah putraku.

Pandanganku menemukan apa yang kucari, maka dengan sedikit bergegas kugandeng putraku ke titik kumpul guru dan teman-teman putraku.

"Bu Guru!" Belum sempat aku membuka suara, putraku lebih dulu berteriak dan berlari mendekati sang guru. Tanpa sungkan dia langsung memeluk dan mencium tangan gurunya. Cih, kalau dengan bu guru saja, nggak pakai gengsi segala.

"Selamat pagi, Bu Ina," sapa sang guru saat melihatku mendekat. "Mau ditinggal atau ditunggu nih putranya, Bu?" Tanyanya dengan nada ramah.

"Selamat pagi, Bu. Eng... saya tunggu di sebelah sana saja ya, Bu. Yang adem tempatnya." Jawabku sambil menunjuk ke penjual cincau yang kulihat tadi.

Kualihkan pandanganku dari anggukan dan senyum manis Bu Guru ke arah putraku, "Ibu tinggal dulu ya, Le. Sini mana ciumnya," aku menundukkan badanku sedikit ke arahnya.

Tanpa ragu ia memeluk leherku dan mencium kedua pipiku.

"Ingat pesan Ibu ya," bisikku dengan nada tajam disadis-sadiskan. "Jangan sampai kotor kainnya."

Kali ini giliran ia yang tertawa keras, "Ibuuuu... Ibu udah bilang gitu ratuuuusan kali." Sungutnya setengah geli setengah kesal.

Dih lebay, mana ada aku bilang sampai ratusan kali. Oh, atau bisa jadi memang sebanyak itu? Pikirku mencoba mengingat-ingat. Yasudah, mengalah sajalah pada kata anak kecil ini.

Aku bangkit dan melambai padanya, lalu berbalik dengan mantap menuju bapak-bapak penjual cincau. Kulihat sudah ada seseorang yang sedang duduk di bangku yang disediakan si bapak. Setelah cukup dekat, baru aku sadar aku mengenali sosok ibu muda yang manis itu.

Sedikit ragu karena takut ditolak, kuambil tempat duduk di dekatnya. "Permisi, Mbak Nimas ya?"

Dengan kaget ia mengangkat wajah dan menatapku. "Iya benar. Siapa ya?" Raut bingungnya membuatku buru-buru menyodorkan tangan.

"Saya Ina, Mbak. Salah satu pembaca buku Mbak Nimas. Baru saja kemarin saya menyelesaikan baca Impian Demian," cerocosku memperkenalkan diri.

Senyum lebar terbentuk di wajah cantiknya, ia mengulurkan tangan menyambut jabat tanganku. "Oh iya... iya.. Hai, Ina. Sini duduk sini. Wah saya senang lho bisa ketemu pembaca saya." Mbak Nimas membalas dengan keramahan yang membuatku tersentuh.

"Hehe.. Apalagi saya, senang banget bisa ketemu penulis yang novelnya bikin saya merasa nano-nano." Tukasku seraya duduk setelah sebelumnya memberi kode ke bapak penjual es cincau  membuat dengan mengacungkan satu telunjuk.

Mbak Nimas terbahak, "Nggak nyangka ya bisa ketemu. Ina dari mana?"

Aku menunjuk ke arah keramaian anak-anak yang sedang mulai bersiap melakukan latihan manasik haji di lapangan. "Mengantar putra saya, Mbak. Mbak Nimas sendiri sedang apa?" Selidikku penuh minat.

"Sama dong. Saya juga nganter putri saya. Daripada saya pulang trus bolak-balik, ya saya tunggu saja di sini."

Aku mengangguk-angguk sepakat. "Kalau gitu, boleh nggak nih saya temenin, Mbak? Pengen ngobrol-ngobrol dikit nih sama Mbak Nimas soal novel."

Ngobrol dikit atau banyak?" Godanya dengan senyum dikulum.

Aku tergelak sambil menerima gelas cincau dari si bapak penjual. Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali menghadap ke Mbak Nimas. "Kalau Mbak Nimas nggak keberatan sih, ada banyak pertanyaan yang ada di benak saya tentang Demian."

"Boleh...boleh.. Silakan aja bertanya. Sambil menunggu anak-anak ini, kita ngobrol-ngobrol aja." Sahutnya dengan ramah.

"Berapa lama sih Mbak waktu yang dibutuhkan Mbak Nimas untuk bikin Impian Demian?" Tembakku langsung saking penasarannya.

Mbak Nimas terlihat sedikit menerawang untuk mengingat-ingat. "Novel itu mulai saya tulis ketika menetap di apartemen di Jakarta, karena seringnya jenuh di dalam apartemen saja, Saya mulai deh nulis lagi, itu sekitar Januari 2017, dan Saya selesaikan pelan-pelan, sampai Agustus 2017, ya sekitar enam bulananlah."

Aku seruput es cincauku seraya mendengarkan dengan saksama. "Hmm.. lumayan cepat juga ya, Mbak. Bagian mana tuh yang menurut Mbak Nimas susah untuk dituliskan?"

"Yang susah? Saya rasa bagian yang menceritakan tentang pekerjaan seorang arsitek, itu butuh riset sendiri. Sama pas editingnya itu, luar biasa melelahkan," Mbak Nimas tergelak riang.

"Kenapa, Mbak? Editornya cerewet kah? Atau nyebelin?"

Mbak Nimas masih tertawa, "umm.. cerewet nggak yaaa.. Coba tebak!" Jawabnya berteka-teki dengan tatapan jenaka.

"Yaaah... Saya nggak pinter tebak-tebakan, Mbak," keluhku sambil menahan senyum melihat ekspresi Mbak Nimas. "Yaudah, ganti pertanyaan deh. Kalau bagian yang bikin seneng nulisnya bagian mana nih, Mbak?"

Mbak Nimas kembali menjawab pertanyaanku dengan serius. "Bagian yang saya suka itu yang menceritakan tentang pabrik kosmetik dan persahabatan Demian dengan Rio dan Dewi, juga flirtingnya sama Alexandra."

"Lhaa... tapi saya malah suka baca flirting ngaconya Demian sama Maura, Mbak," protesku cepat.

"Oh ya?"

Aku mengangguk untuk mempertegas ucapanku, "paling suka malahan. Lucu mereka berdua itu. Gokil bener si Maura. Stres pasti si Demian punya sekretaris kayak dia. Sukurin."

"Kok malah sukurin?" Tanya Mbak Nimas dengan geli.

"Ya abisnya Demian nyebelin sih, Mbak. Pengen ngegaplok jadinya."

Suara tawa Mbak Nimas kembali terdengar. "Gitu ya?"

Sekali lagi aku mengangguk. "Bicara soal Demian, kapan sih Ibu Demian mendirikan Sara Cosmetic? Dan kenapa gitu, Mbak?"

"Jadi gini lho yang melatarbelakangi ibu Demian membangun Sara Cosmetic, itu pertama karena dia punya passion di situ, dia perempuan cantik yang terbiasa bergelut dengan kosmetik dan kebetulan memiliki kemampuan bisnis yang diwarisi  dari keluarganya. Dia perempuan yang ulet dan tidak mau hidup susah, apalagi suaminya hanya seorang dosen. Maka dengan kemampuannya dan didukung oleh kemampuan modal sedikit yang ada, ditambah kemampuannya meraih minat investor, maka dia membangun Sara Cosmetic."
Mbak Nimas menyesap es cincaunya sebelum melanjutkan kembali. "Kedua, juga nggak jauh dari sifat suaminya yang kaku dan pemarah, yang membuat batin Sara sedikit gersang sehingga dia melarikan kebahagiaannya dalam bentuk lain, yaitu berkarya. Berdedikasi penuh pada pekerjaannya. Karena suaminya itu, samalah seperti sikapnya ke Demian atau Hilda, kaku dan emosian, juga tidak bisa mengungkapkan perasaan sayang dan perhatiannya dengan benar. Hal mana yang membuat Sara memendam sakit batin dan akhirnya menjadi penyakit kronis juga buatnya."

Aku tertegun mendengar jawaban panjang dari Mbak Nimas. "Tapi suaminya sebenarnya cinta banget kan, Mbak?"

Mbak Nimas mengangguk "Raditya sebenarnya sangat mencintai istrinya, hanya saja dia nggak tahu bagaimana harus bersikap dan bagaimana dia harus merefleksikannya. Maka ketika di ambang maut Sara memintanya menikahi Hilda demi kelangsungan perusahaan kosmetik dan demi Demian, dia pun mau saja, meski pernikahan itu membuat Hilda tersiksa. Jadi begitulah sayangkuu... Kira-kira Sara Cosmetic dibangun tak lama setelah Sara menikah dengan Raditya dan Demian masih baby. Itu kisaran tahun 1995."

Mendengar cerita Mbak Nimas, aku melirik sejenak ke lapangan mencari-cari sosok putraku dengan pandangan mataku yang terbatas, lalu menghela napas berat. "Saya menyadari ada beberapa orang tua yang sulit mengekspresikan kasih sayangnya, sama seperti ayah Demian. Menurut Mbak Nimas bisakah sifat seperti itu diubah?"

"Tentang orang tua yang sulit mengekspresikan perasaan ke anak, itu sampai kapanpun sifatnya sama seperti itu. Tapi biasanya menjelang semakin tua, perhatiannya ke anak semakin besar, meski masih terasa kaku nggak bisa mendekat terlalu akrab. Saya bikin karakter itu selalu berdasarkan role model karakter orang-orang sekitar saya, jadi saya perhatikan mereka itu seperti apa, dan di situlah bisa muncul karakter kuat dalam sebuah novel. Jadi bukan sekedar karakter karangan belaka. Ada di kehidupan nyata." Tukasnya dengan nada tegas.

"Iya benar, Mbak. Saya juga banyak melihat yang seperti itu," sahutku menyetujui. "Selain mengamati sekitar, riset apa lagi yang Mbak lakukan untuk novel ini?"

"Banyak. Salah satunya riset tentang pabrik, dan yang penting tentang pekerjaan seorang arsitek. Untung keponakan saya arsitek, jadi bisa tanya tanya ke dia." Mbak Nimas terkekeh pelan di ujung penjelasannya.

Aku tersenyum, "mudah buat ditanya-tanya ya, Mbak. Pantes Demian ini benar-benar kerasa rasa arsiteknya. Nah, kita kan udah tahu nih, apa impian Demian. Kalau Mbak Nimas sendiri apa impiannya?"

Mbak Nimas terdiam sejenak sebelum menjawab dengan senyum lebar, "Impian saya, saya pengin keliling dunia, pengin bikin film, dan kelak novel novel saya difilmkan."

"Huwaa... Amiiiin." Tukasku dengan sungguh-sungguh, berharap benar Mbak Nimas bisa mencapai impiannya juga. "Lanjut nih, Mbak... Harapan buat Demian sendiri apa, Mbak?"

"Berharap Demian jadi arsitek hebat, pabrik kosmetiknya juga sukses, hubungannya dengan Hilda dan Lucia membaik, dan segera nikah sama ****. Harapan yang utama,semoga best seller dan difilmkan. Aamiin.."

Sekali lagi aku mengaminkan doa Mbak Nimas. "Mbak, itu yang di atas itu saya sensor ya namanya. Biar pembaca tetap ada kagetnya nanti pas baca Impian Demian."

"Ooops.. iya. Dibintang aja, atau kasih tiiitt," ujarnya dengan ekspresi lucu.

"Yakalii kayak KPI ngasih tiiit mulu." Sahutku terkekeh. "Kalau Mbak Nimas ini tipe orang tua yang seperti siapa sih?"

"Saya separuh Hilda dan separuh mamahnya Rio, hahahaa.. Ibu-ibu cuek yang nyantai. Tapi nggak secerewet mamah Rio juga sih."

Aku terbahak mengenang kecerewetan mama Rio yang sering membuat Rio dan Demian mati kutu. "Ada yang bilang, seorang penulis akan menuliskan keresahan yang dirasakannya, adakah keresahan yang Mbak tuangkan dalam novel ini?"

"Kalau bisa dibilang keresahan, itu adalah adanya hubungan absurd antara Demian dengan Hilda dan Lucia, ini juga bukan sekadar pemanis cerita tapi memuat keresahan saya sendiri, karena di hidup saya, saya juga punya seorang Hilda, seorang Lucia, begitupun dari keluarga suami. Jadi saya gambarkan betapa rumitnya hubungan seperti ini dalam novel saya."

Ah, saya jadi ingat tentang Lucia, cewek yang mencuri perhatian saya karena kemunculannya yang selalu bikin saya ngelus dada. "Lucia itu sangat menarik perhatian saya, mengagumi abangnya yang dingin, mencoba mengais perhatian abangnya tapi hasilnya selalu nol. Namun rasa sayang dan kagumnya nggak hilang. Saya lihat walau pemalu tapi dia sangat optimis. Mbak Nimas ada rencana buat nulis tentang Lucia nggak untuk nanti ke depannya?" tanyaku dengan antusias.

"Mungkin, bisa saja kan? Insya Allah kalau saya diberi kesempatan, ingin sekali menuliskan tokoh Lucia ini. Dukung yaa..."

"Ooo.. sudah pasti kalau itu, Mbak. Pastilah saya dukung. Semoga karya-karya Mbak Nimas laris manis, dan tercapai semua impiannya." Ujarku dengan penuh semangat.

"Amiiin..." Sahut Mbak Nimas nggak kalah semangatnya.

Kami terdiam sejenak dan sama-sama memandang ke arah kerumunan anak-anak. Menatap buah hati masing-masing dengan harapan yang memenuhi benak. Berharap dengan keterbatasan sifat kami sebagai orang tua, anak-anak tetap yakin dan percaya bahwa kami para orang tua tetap mencintai mereka dengan cara kami sendiri. Berharap mereka tak menyimpan kebencian kepada kami, seperti Demian yang membenci ayahnya. We hope not... :')

**** END****

Cerita pendek ini dibuat sebagai bagian dari blogtour Impian Demian. Maafkan kemampuan menulis saya yang tak seberapa ini, meski besar harapan saya semoga teman-teman pembaca bisa menikmatinya :)


Rabu, 12 April 2017

Ngobrol Unyu Bareng Blogger Buku Baru dari Aceh

Yuhuuu jumpa lagi di #BBIHUT6 Marathon Post...umm.. setelah kemarin bolong nggak bikin postingan. Biasa lah emak-emak kader kalau awal bulan suka ribet dengan urusan kampung. Kampung asli yaa bukan kampung Maifam di Telegram. Wkwkwk~~



Well, di hari ini saya bakal mengambil tema berkenalan dengan member BBI angkatan 16-17. Saya yang kudet karena jarang muncul di medsos ini sepertinya memang harus menjelajah twitter dan facebook demi menemukan member baru. Ada sih beberapa member baru yang sudah saya kenal dan pernah kerja sama jadi bloghost bareng. Ada juga yang saya kenal karena main game werewolf bareng di Telegram. Namun saya mencari seseorang yang sama sekali belum saya kenal biar bisa nambah temen juga. *karena nggak mungkin kan saya nyari gebetan* XP

Akhirnya saya berhasil juga melobi seorang gadis manis asal Aceh untuk saya seret dan sidang ke blog saya. Hahaha... Sebenarnya namanya nggak asing bagi saya karena gadis ini cukup rajin juga ikut giveaway blogtour di blog saya sepanjang tahun kemarin. Tapi akhirnya kami bisa ngobrol akrab setelah saya kepoin. Hahaha...

Jadi tanpa panjang lebar yuk simak obrolan saya dengan Pida Alandrian pemilik blog buku collection-of-book.blogspot.co.id berikut ini ;)



Hai, Pida, silakan perkenalkan diri kamu lebih dulu (seperti nama, asal, domisili, status kamu) ke pembaca Nurina Mengeja Kata dong 😉

Hai juga Kak Ina... Terima kasih lohh sebelumnya, karena sudah berkenan mengajak aku untuk kencan di Nurina Mengeja Kata.
Perkenalkan original namaku adalah Shafrida (harap dimaklumi dari mana asal muasal nama email aku berasal *info nggak penting). Kalau di dunia sosmed sih aku lebih dikenal dengan nama Pida Alandrian (udah pada kenal kan yaa, yang belum kenal yukk kita kenalan).

Aku kebetulan lahir dan besar di Aceh, hingga sekarang belum pernah keluar sangkar masih di Aceh aja dari dulu, tepatnya di Aceh Timur. *ih lha kok sama si empunya blog ini juga 32 tahun ngendon di Jogja terus 😂*
Sekarang ini selain 'sok sibuk' dan menyibukkan diri di dunia blogger, aku juga  seorang dosen di salah satu Akedemi swasta di Aceh Timur.

Oiyaa, ini status yg dimaksud status apa ya kak? 
Kalau status hubungan -> masih single *eheeemm* (dalam arti masih melakukan pencarian pasangan hidup semati sampai sekarang *karena belum ketemu) 😂
*tadinya mau tanya kriteria cowok idaman Pida seperti apa tapi takutnya melenceng dari tema. Jadi lain kali saja saya tanyakan. Atau kamu mau tanya sendiri sekalian pedekate? Silakan saja :) *


Bisa ceritain nggak gimana sih awalnya sampai kamu bisa kecemplung di komunitas BBI?

hmmm, awalnya yaa. Berawal dari tahun 2016 di bulan Februari kalau nggak salah aku. Nah wktu itu aku lag aktif-aktifnya ngikutin GA berhadiah buku di blog-blog, di sosmed juga, pokoknya yang ngadain GA buku lah. Dari pas ngikutin GA itu, aku kan liat-liat tuh suasana blognya, ada yang rame ada yang sepi (sepi di sini maksudnya, nggak banyak banner/logo yang dipasang di blognya). Pas ngeliat logo BBI (ntah di blognya siapa aku lupa) ada yg menarik aja gitu. Penasaran aku cek deh satu-satu blogger yang ngadain GA yang ternyata sama-sama punya logo BBI ini rata-rata. Aku searching juga di paman google ini BBI siapa sih? Kok bisa seheboh ini sihh orang-orangnya. Aku heran juga awalnya, pas aku tau apa itu BBI, ada rasa kagum yang luar biasa. Ternyata di kota besar ada yang hobi baca buku dan punya komunitasnya, beda banget sama di daerah aku 😂 yang sepi nggak ada komunitas apa-apa. Dan ini bagi  aku yang pada awalnya masih awam banget jadi tertarik dan pengin gabung. Keren aja gitu bisa masuk komunitas ini dan ada rasa bangga tersendiri pasti. Pas lagi dibuka pendaftaran di tahun 2016, aku ikut daftar dan ternyata nggak lewat seleksi, heheh. Udah nyadar nggak lewat sih, karena umur blog aku waktu itu masih sebutir nasi bangett. 
Dari situ aku mulai aktif review-review buku di blog, dan Alhamdulillah pas di buka pendaftaran lg di 2017 aku lolos seleksi (yeyyyy,,, hati aku berdebar2, rasanya seperti sedang nembak cowok langsung di terima, heheh) *sama saya dulu juga merasa gitu. Love you BBI 😘*
Dari situlah awal mula aku bisa berkecimpung di BBI. Jadi curhat panjang gini yaa 😂😂😂

Header blog buku Pida... Cakepnyaaaa


Di Aceh sendiri geliat literasi di sana seperti apa sih? Ada toko buku atau perpustakaan yang bisa dijangkau para pencinta buku nggak?

Kalau aku bilang nggak ada (takutnya ntar ada di suatu daerah yang ternyata akunya aja yg nggak tau apa-apa).
Sewaktu aku masih tinggal di Banda Aceh dulu, kegiatan untuk khusus literasinya aku nggak tau. Karna zaman-zaman kuliah aku dulu sesama teman kampus yg aku kenal; yg penting ada hobi baca, suka baca novel, ada buku yg disuka yaa beli di tobuk. Udah gitu-gitu aja. saling pinjam-meminjam aja. Yang hobi banget baca pun cuma aku sama temen aku berdua. 
Dulu punya hobi baca yaa sekadar itu aja. Ada paman google pun cuma dimanfaatin untuk cari info seputaran oppa-oppa cantik (maklum korban dari efek baperan korea).

 Makanya pas tau ada BBI (stlah aku selesai kuliah) aku takjub bangett sampe ada perkumpulan-perkumpulan gitu.  Pas di tahun 2016 baru deh fokus dan cari-cari tahu lagi tentang komunitas-komunitas buku.

Kalau di daerah aku tepatnya di Aceh Timur, Toko bukunya nihil 😭😭😭 (ini aku harus sedih atau merana karena nasib tinggal jauh dari tobuk?)
Kalau lagi berkunjung ke Banda Aceh aku palingan cuma sekadar cuci mata aja di tobuknya, krn di Banda Aceh buku-buku terbaru nggak selalu terupdate tepat waktu. Lambat banget.
Jadi jangan heran, sekali aku berkunjug ke Medan, aku sering kalap belanjanya, nggak heran orang rumah ikutan meledak juga. heheheh..
Untuk perpus aku lebih menikmati perpus yg ada di BandaAceh. Di kampung aku; Aceh Timur nggak ada juga.. hehehe
Makanya sampai sekarang aku lebih suka suasana tempat aku tinggal kuliah dulu, di Banda Aceh. (Nggak bermaksud untuk menjelek-jelekkan tempat tinggal aku yang sekarang loh yaa, tapi memang seperti itu adanya). *hiiiks saya jadi sediiiih*

Makanya kak, resiko punya hobi baca dan tinggal di daerah barat Sumatra.. Tapi akunya happy-happy aja kok, jangan ikutan sedih gitu dong kak, heheheh (aku jadi ngerasa bersalah nihh ceritanya).
Solusi kami di sini yaa, harus beli buku di tobuk online, dgn resiko ongkirnya yg udah setengah dari harga buku. *ini juga makin sedih bacanya, saya jadi keinget yang pernah diomongin Mbak W tentang bagaimana dia dan para traveler lain membantu mendistribusikan buku ke pelosok-pelosok. Karena nggak mungkin juga nunggu tindakan pemerintah. Oke ini mulai ngelantur. Back to topic*


Kalau soal buku nih, genre apa yang jadi favoritmu & kenapa? ^^

Ini jawaban yang nggak perlu bikin aku harus putar ulang memori. hehehe. Genre fav aku ROMANCE. *wahah tooosss*
Tapi Romance-nya jangan yang alay-alay juga aku jadi bosan bacanya. Aku suka romance yang marriage life. Suka aja dengan kisah-kisah manis dan pahit ala pernikahan. Mungkin karena efek aku belum nikah juga, jadi sering ikutan baper dengan kisah-kisah romance-marriage life ini. Dan bisa jadi pembelajaran untuk aku pribadi juga sih. Mana tau kisah romance yg pernah aku baca, bisa aku terapkan di kehidupan nyata aku, heheheh (korban pembaca novel yg gampang banget kena baperr). *tapi...tapi... kehidupan rumah tangga nggak sedrama kisah novel, kok. Lebig drama kalau ngurus anak, malah 😢*


Kalau selain romance, genre apa yg masih nyaman kamu baca? Dan ada anti genre tertentu nggak?

Selain Romance (udah fix paling suka). Aku sebenarnya penikmat semua genre sih, tapi balik lagi ke isi dan alur ceritanya yg seperti apa. Terkadang kan genre yang kita sukai ada yg nggak sesuai dengan apa yg selalu diharapkan pembaca. Pernah aku baca romance, tapi ceritanya sangat mengecewakan. walaupun mengecewakan tetap saja romance kesukaanku 😊
dan sampai sekarang belum ada deh yang membuat aku anti sama genre tertentu.


Nah soal romance... penulis favoritnya siapa nih?

Ada beberapa sih, tapi yang paling aku suka romancenya  punya Kak Indah Hanaco, heheh... *aih samaan lagi. Penulis yang ini emang kesayangan banget 😄*
Aku juga suka Andrea Hinata dan J.K Rowling. Untuk yg lainnya, aku lebih ke novelnya dulu seperti apa. Kalau novelnya aku suka yaa, berarti penulisnya aku suka juga 😄 


Bisa dong kasih rekomendasi untuk saya dan teman-teman lain, tiga buku romance favorit kamu 😉

Dessert - Elsa Puspita
Insya Allah, Sah! - Achi TM
Life - Raatomo
*wah iya, Dessert ini bagus, saya juga suka banget.*


Nah lalu setelah jadi bagian dari blogger buku Indonesia, apa sih keuntungan yg sudah kamu rasakan? Seperti apa suka dukanya?

Keuntungannya, banyak kenalan baru dari luar Aceh yg tentunya punya hobi yang sama, bisa saling share tentang buku-buku yang WAJIB dibaca, bisa tanya-tanya seputar membuat review yang bagus, bisa kenalan sama penulisnya langsung, dan yang terakhir bisa bergabung dengan salah satu komunitas buku BBI .. oiya, yg paling penting bisa kenalan juga sama Kak Ina, kalau nggak kenal nggak mungkin juga kak Ina kepoin aku 😊😊
*wahahaha tanpa BBI dan event ini, mungkin kita hanya dua orang yang saling memfollow di medsos tanpa bersinggungan dan mengobrol yak? Hihihi*

Untuk sukanya sama aja sih dengan keuntungan selama aku jadi Blogger Buku. sedangkan utk dukanya, di awal-awal jadi blogger buku, mungkin keterbatasan dan sulitnya punya dan membeli buku2 baru utk dibaca dan direview. *semogaaa buku-buku semakin mudah diakses seluruh penjuru Nusantara, ya. Sedih kalau dengar ada teman yang terkendala mengakses buku fisik :(*

Intinya sih, jadi bagian Blogger Buku Indonesia itu senang. Doa kami selalu untukmu Bebikuuuhh 😘😘 Dan terima kasih Pida sudah berkenan diseret dan dikepoin di blog Nurina Mengeja Kata. Jangan kapok yaaa~~

***********

Begitulah wawancara saya dengan Pida sang member baru BBI di antara kesibukan kami berdua. Terima kasih BBI, terima kasih divisi event... bisa bikin saya yang kurang gaul ini berkenalan dan ngobrol seru dengan teman sesama member BBI.
Bagi kalian yang ingin berkenalan lebih lanjut dengan Pida Alandrian, kalian bisa follow dan sapa dia di:

Twitter : @PidaAlandrian92
Facebook : PidaAlandrian
Instagram : @pidaalandrian dan @pida_alandrian
Goodreads : Pida Alandrian

Kamis, 20 Oktober 2016

[Wawancara & Giveaway] You Are My Moon



Diterbitkannya You Are My Moon membawa pertanyaan tersendiri bagi saya. Selain tentunya rasa kagum karena Penerbit Haru berani mengambil langkah menerbitkan novel dari negara-negara yang belum begitu terdengar gaungnya di Indonesia. Nah untung saja kekepoan saya disambut baik oleh Penerbit Haru.
Yuk simak wawancara saya dengan dapur redaksi Haru yang super kece :


Mengapa Rompaeng menjadi penulis pertama yang Penerbit Haru pilih untuk diterbitkan melalui lini Thai-Story?

Di Thailand sendiri penulis ini sudah memiliki nama besar. You Are My Moon sendiri sudah dibuat dramanya. Selain You Are My Moon, novel-novelnya juga sudah banyak yang diadaptasi ke media lain. Ditambah dengan penerbit Thailand yang kooperatif, akhirnya kami memilih menerbitkan You Are My Moon sebagai Thai-story pertama Haru

Mengapa ada angka 2 dalam judul buku ini? Seperti yang tertera di data buku halaman 2, disebutkan judulnya adalah You are My Moon vol. 2.. Apakah novel ini merupakan sebuah sekuel?

Sebenarnya You Are My Moon yang baru diterbitkan ini adalah vol ke 2. Ini dikarenakan adanya kendala dalam penerjemahan. You Are My Moon 1 menceritakan tentang orangtua dari Juntharakan yang pasti tidak kalah seru dari yang sudah terbit ini. Jangan khawatir, kedua novel ini bisa dibaca terpisah. Karena juga sudah banyak yang menantikan Thai-story, maka Haru memutuskan menerbitkan vol. 2 ini terlebih dahulu.

Apa harapan Penerbit Haru dengan diterbitkannya novel ini dan dengan hadirnya lini Thai-Story?

Berharap Haru bisa semakin menjangkau banyak pembaca dan menyebarkan #harusyndrome. Selain itu supaya pembaca Haru lebih mengenal budaya Thailand melalui novel Thai-story.

Naaaah terjawab sudah rasa penasaran saya, semoga pertanyaan tersebut juga mewakili pertanyaan teman-teman, yaa~


********GIVEAWAY********

Sudah membaca hasil wawancara saya? Sudah membaca review saya tentang You Are My Moon?
Sekarang waktunya bagi saya untuk membagikan satu eksemplar novel You Are My Moon dari Penerbit Haru.

Caranya mudah kok:


1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau punya alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun twitter @PenerbitHaru dan akun twitter saya @KendengPanali

3. Share giveaway ini ke medsos kalian dengan hashtag #YouAreMyMoonGA dan jangan lupa untuk mention akun kami berdua.

4. Boleh banget kalau mau memfollow blog ini via email, G+ atau GFC yang bisa diklik di bagian bawah blog (optional saja ya).

5. Baca dulu review You Are My Moon di sini.

6. Jawab pertanyaan dari saya di kolom komentar di bawah ini disertai Nama | akun twitter | alamat email . Dan pertanyaannya adalah:

You Are My Moon adalah novel yang berasal dari Thailand. Kalian sendiri, apa yang pertama kali terpikir saat mendengar tentang Thailand?

7. Giveaway akan berlangsung selama sepekan, dan akan ditutup tanggal 26 Oktober 2016 pukul 23.59 WIB.
Jika masih ada pertanyaan jangan segan colek saya di twitter, ok?

8. Yang terakhir, good luck ^^

********UPDATE********

Haiii... Sepekan sudah giveaway ini digelar. Dan akhirnya, harus ditutup dan dipilih siapa yang beruntung. Namun sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para peserta yang telah mengikuti giveaway You Are My Moon. Kalian keren. Pengetahuan tentang Thailand kalian begitu beragam dan unik. Tentu saja yang unik-unik itu yang akhirnya membekas di pikiran dan di hati, ya kan?

Nah, sekarang saatnya saya umumkan pemenang yang berhasil mendapatkan satu eksemplar You Are My Moon setelah bisik-bisik dengan pihak Penerbit Haru. Yang beruntung adalah.....


Nama: Tania Alena Rista

Twitter: @tanialena_

Selamaaaaat. Sila kirim data diri berupa nama, alamat, dan nomor telepon ke email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2 x 24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan bersedih. Akan ada keseruan giveaway lain yang akan hadir di blog ini. Jadi tetap setia bersama Nurina Mengeja Kata ya 😘

Kamis, 06 Oktober 2016

[Wawancara & Giveaway] The Girl on Paper



Sejauh ini Penerbit Spring selalu menghadirkan novel-novel yang populer dan nggak pernah mengecewakan pembacanya. Karya-karya yang diterjemahkan dan diterbitkan termasuk karya penulis top. Maka keputusan Penerbit Spring menerbitkan The Girl on Paper tentunya bikin saya bertanya-tanya. Tentunya karena ini adalah novel dari penulis Prancis yang belum pernah saya dengar gaungnya.

Jadi berikut adalah hasil kepo saya terhadap Penerbit Spring atas keputusannya menerjemahkan dan mempersembahkan novel ini kepada pembaca di Indonesia...


1. Bagaimanakah proses penerjemahan novel The Girl on Paper ini? Apakah lebih sulit dari menerjemahkan novel bahasa Inggris?

Kebetulan salah satu penerjemah bahasa Inggris kami adalah penerjemah bahasa Prancis juga. Sehingga tidak terlalu ada kesulitan.

Woooww... Menjura pada Kak Yudith Listiandri. Penerjemahannya baguuus ^^


2. Dari mana dan bagaimana Penerbit Spring mengenal Guillaume Musso?

Kami tahu Guillaume Muso saat berkunjung ke Seoul Book Fair tahun 2012. Saat itu di toko buku di Seoul, buku dari penulis ini sedang menjadi best seller di sana. Akhirnya kami mencari informasi mengenai hal ini dan tertarik dengan buku-bukunya.

Hmm~ lama juga ya, dari tahun 2012 lho pendekatannya untuk membawa novel ini ke Indonesia. Hidup Penerbit Spring!!!


3. Lalu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menerbitkan The Girl on Paper?

Untuk menerbitkannya sebenarnya tidak terlalu lama. Sejak mulai diterjemahkan sampai terbit memakan waktu 4-5 bulan.

Hehe.. cepet ya prosesnya. Benar-benar on fire nih dapur Spring 😁

4. Yang terakhir bisakah Penerbit Spring menggambarkan novel Girl on Paper dalam dua kata?

Seru dan tak terduga

Yap setuju!! Memang seru banget dan twistnya tak terduga. 😉


Nah setelah menyimak wawancara saya dengan Penerbit Spring, sekarang waktunya saya untuk membagikan satu eksemplar novel The Girl on Paper buat kalian yang beruntung.
Caranya mudah kok:

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau punya alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun twitter @PenerbitSpring dan akun twitter saya @KendengPanali

3. Share giveaway ini ke medsos kalian dengan hashtag #TheGirlOnPaperGA dan jangan lupa untuk mention akun kami berdua.

4. Boleh banget kalau mau memfollow blog ini via email, G+ atau GFC yang bisa diklik di bagian bawah blog (optional saja ya).

5. Baca dulu review The Girl on Paper di sini.

6. Jawab pertanyaan dari saya di kolom komentar di bawah ini disertai Nama | akun twitter | alamat email. Dan pertanyaannya adalah:

Jika kalian ada di situasi yang mirip dengan Tom, siapa tokoh fiksi yang kalian inginkan terjatuh dari buku dan muncul di hadapan kalian? Dan apa alasannya? Dengan catatan: tokoh fiksi tersebut haruslah tokoh dalam novel terbitan Haru, Spring atau Inari, yaa~

7. Giveaway akan berlangsung selama sepekan, dan akan ditutup tanggal 14 Oktober 2016 pukul 23.59 WIB.
Jika masih ada pertanyaan jangan segan colek saya di twitter, ok?

8. Yang terakhir, good luck ^^

*********UPDATE********

Akhirnya selesai sudah giveaway The Girl On Paper. Terima kasih saya ucapkan pada seluruh peserta yang telah ikut meramaikan giveaway ini. Pasti seru membayangkan karakter favorit bisa muncul di hadapan kita.

Dan karena jawaban teman-teman bagus semua, saya pun meminta bantuan mr. random untuk memilihkan pemenang. Dan ini dia yang beruntung mendapatkan The Girl on Paper:



Selamat untuk Prilla Mutia (@prillamutia2)

Saya tunggu konfirmasi data diri dan alamat kamu di email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2x24 jam ya.

Bagi yang belum beruntung jangan sedih. Masih ada novel Penerbit Haru, You Are My Moon yang akan hadir di blog ini, nantikan yaa~

Senin, 25 Januari 2016

[Guest Post] Kepo Bersama Rizky Mirgawati


Happy Monday, all!
Tetap semangat dong ya, di awal pekan. Hari ini Nurina Mengeja Kata kedatangan tamu, lho. Seorang blogger buku kece yang ngehits banget setahun terakhir ini, kak Rizky Mirgawati. *gelar red carpet*



Saya penasaran bin kepo sama Kiky yang tergolong cepat banget membaca buku dan sanggup menjadi host banyak blogtour yang kepadatan jadwalnya bisa bikin pingsan itu.
Nah, berikut wawancara singkat yang saya lakukan dengan Kiky:

Halo Kiky, selamat datang di Nurina Mengeja Kata, anggep aja rumah sendiri, ya. *sodorin gelas, suruh bikin minum sendiri* #plak

Hai Mba Nurina, terima kasih loh sudah mengajakku untuk bertamu di Nurina Mengeja Kata.


Bagi cerita dong, Ky, tentang kesukaan membacanya. Apa genre favorit Kiky dan mengapa suka genre itu?

Wah, aku sudah suka membaca sepertinya sejak kecil ya, saat baru mengenal huruf. Inget banget waktu kecil, suka sekali baca korannya bapak, hal ini yang membuat aku sudah lancar membaca sejak TK. Alhamdulilah, kedua orangtuaku sangat mendukung kebiasaan membacaku, mereka malah lebih senang aku membeli buku daripada membeli mainan lainnya ya. Namun, dulu menemukan buku itu susah sekali loh buatku yang tinggal nun jauh di Papua sana (belum ada tuh toko buku seperti Gramedia). Yang ada toko buku kecil, yang koleksi bukunya sedikit sekali dan harganya lumayan mahal buat kantong pelajar sepertiku. *beruntunglah kalian yang tinggal deket toko buku*


Untungnya aku punya sahabat yang sama suka membaca juga, aku dulu biasanya suka minjem buku dia. Bacaanku saat remaja juga kebanyakan buku-buku Lima Sekawan dan Goosebumps. Bahagia banget rasanya saat aku keterima di salah 1 PTN di Pulau Jawa, dan akses buat menemukan buku-buku yang kusukai jadi lebih mudah :)


Kalau bicara genre, aku suka sekali baca novel romance, apapun bukunya asal ada romancenya aku pasti suka. Kenapa aku suka romance? Entahlah mungkin karena aku suka sekali sama semua yang berbau romantis, walau bukan seorang wanita yang romantis (bingung khan?) *minum dulu Ky kalau bingung*


Kiky kan bekerja dan punya balita, kapan dan di mana nih bisa baca bukunya? Punya tempat favorit nggak untuk baca buku?

Sejak dulu aku tidak punya waktu dan tempat khusus untuk membaca, cuma memang setelah punya anak waktu membacaku memang sudah semakin menipis sekali, karena dibagi dengan kerja dan mengurus putraku yang masih batita. Aku pun mensiasati untuk selalu membawa buku didalam tas kemanapun aku pergi, selain untuk mengurangi kebosanan jika menunggu, jika ada kesempatan aku bisa membaca. *colong tas Kiky yang isi buku*
Sekarang aku lebih banyak membaca di perjalanan kantor dengan commuterline, lumayan bisa dapat berpuluh-puluh halaman (dengan catatan kondisi commuterline memungkinkan ya, tidak penuh sesak). Selain itu, aku juga biasanya membaca sebelum tidur (sudah kebiasaan sejak remaja), jadi jangan kaget jika dibawah bantalku ada 1 atau 2 buku yang sedang kubaca :) *sekalian aja bukunya yang jadi bantal, Ky*


Sebagai blogger hits yang dapat banyak tawaran mereview dan ngehost blogtour, pasti banyak pengalaman yang unik, share dong suka dukanya?

Awalnya jujur aku membuat blog buku hanya untuk konsumsi pribadi saja dan sebagai pengingat buku apa saja yang sudah kubaca. Jujur aku tipikal pembaca yang ingat jalan cerita, tetapi kadang-kadang suka lupa nama tokoh :) Hingga suatu hari aku mengajukan diri sebagai host Blog Tour salah 1 penerbit, darisanalah aku kok jadi tertarik untuk bekerjasama dengan penerbit/penulis. Untungnya aku punya beberapa penulis yang cukup dekat denganku, alhamdulilah mereka mau membantu mensponsori GA di blogku.

Lama kelamaan, blog bukuku jadi lebih dikenal di kalangan blogger, apalagi aku akhirnya menjadi member BBI. Tawaran demi tawaran baik penerbit, penulis maupun teman blogger datang susul menyusul, alhamdulilah bahagia sekali kesempatan yang luar biasa sekali buatku sebagai seorang blogger pemula.

Yang jelas buatku menjadi seorang blogger ini, aku jadi punya banyak kesempatan dapat buntelan buku gratis, bisa berkesempatan bekerjasama dengan penerbit dan penulis, jadi banyak teman baru baik blogger lainnya. Salah satunya ya, Mba Nurina ini loh (walaupun kami belum pernah ketemu), dan teman-teman peserta GA diblogku. Buatku lebih banyak sukanya dey, dukanya ada gak ya? Mungkin ada yang akan mempertanyakan reviewku ini jujur atau sekedar pesanan saja? Namun, aku bisa memastikan bahwa review yang kubuat ini insya allah jujur dan sesuai dengan apa yang kubaca dan kurasakan. Bagaimanapun selera orang itu subjektif sekali, aku tidak bisa memaksakan seseorang untuk menyukai buku yang kusukai. Aku hanya bisa membantu untuk orang itu mempertimbangkan apakah dia tertarik membaca buku itu atau tidak.


Bagaimana pandangan Kiky tentang novel lokal dan prospek masa depan novel Indonesia?

Kalau mau dibilang aku sangat menyukai membaca novel lokal, apalagi melihat perkembangan akhir-akhir ini cukup banyak sekali buku baru yang terbit dalam 1bulan. Penerbit saling berlomba menerbitkan buku dan penulis pun makin banyak. Prospek masa depan novel Indonesia tentunya cerah sekali ya, cuma kalau bisa berharap aku ingin sekali harga buku tidak terlalu mahal seperti sekarang, biar bisa menjangkau semua kalangan, apalagi sampai saat ini katanya minat baca orang Indonesia masih kalah jauh dengan negara lain.


Kasih rekomendasi 3 buku buat aku, dong, dan kenapa buku itu layak dibaca?

Jujur aku bingung mau merekomendasikan buku apa buat Mba Nurina ney, tapi ini aku pilihkan 3 buku favoritku:

1. Me Before You - Jojo Moyes


Dulunya aku tidak pernah tahu siapa itu Jojo Moyes, tapi saat membaca novel ini aku dibuat jatuh cinta setengah mati. Novel ini tebal banget, tapi aku bisa menyelesaikan hanya dlm beberapa jam saja. Ini memang bukan novel romance yg manis, tapi bacanya nyesak banget. Kisahnya benar-benar mengaduk emosi bahkan aku sampai menitikkan air mata (siapkan tisu saat membacanya). Sampai sskarang, aku masih menanti After You diterjemahkan

2. Cantik Itu Luka -Eka Kurniawan


Dulunya aku sama sekali tidak pernah melirik buku ini, padahal buku ini sudah dicetak ulang berulang kali dan bahkan sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa. Akhirnya suatu hari aku penasaran sama buku ini, kenapa orang-orang bisa suka. Ternyata aku kagum sekali dengan tulisan Mas Eka, novel ini tuh settingnya jadul banget, tokohnya ya ampun banyak banget, tapi semua tokohnya *hidup* mendukung cerita. Pantas novel ini menjadi masterpiece karyanya.


3. Sunset Bersama Rosie

Tere Liye adalah salah 1 penulis pria yang paling kusukai. Aku suka tulisannya karena selalu menyelipkan kisah sederhana yang sarat makna dan Tere Liye mampu menulis berbagai macam genre.

Salah 1 buku yang paling kusukai ya Sunset Bersama Rosie,kisahnya sederhana ttg sebuah keluarga yg hrs merasakan kehilangan krn bom bali dan bagaimana mereka saling menguatkan. Sungguh sangat menyentuh sekali :)

Waah sepertinya menarik, nih dan patut dicoba. Nanti pinjem ya, Ky *ora modal* *ditendang* Terima kasih Kiky sudah datang dan menjawab kekepoan saya. Semoga makin sukses dan makin berkibar di blantika perbloggerbukuan.

Nah, bulan depan kira-kira siapa ya yang bakal jadi target kepo saya. Tetap setia mampir ke sini ya untuk tahu siapa tamu saya berikutnya.

Sabtu, 26 Desember 2015

[Blogtour] Wawancara Bersama Christian Simamora Sang Penulis Meet Lame




Yuhuu... selamat datang di postingan pertama Blog Tour Meet Lame di Nurina Mengeja Kata.
Yup, kali ini saya ketiban dewi fortuna karena dipilih lagi sebagai host blog tour Meet Lame, novel barunya Abang Christian Simamora atau yang biasa dipanggil Bang Ino!! \o/

Sebelumnya kenalan dulu yuk sama penulis kece nan produktif ini :)



Penulis berzodiak Gemini, kelahiran 9 Juni 1983.
Book hoarder yang menyukai animal print. Kalau tidak sedang menulis, dia menghabiskan waktu senggang dengan membaca, browsing, atau menonton serial televisi kesukaan.

Sejak tahun 2006, memutuskan untuk menekuni genre romance untuk pembaca dewasa. Seri #jboyfriend yang sudah terbit: Pillow Talk (Jo), Good Fight (Jet), With You (Jere), All You Can Eat (Jandro), Guilty Pleasure (Julien), Come On Over (Jermaine), As Seen On TV (Javi), dan Marry Now, Sorry Later (Jao).

Tahun ini, dia merilis seri kedua yang diberi nama #vimanasingles.

Meet Lame (Janiel & Daniel) dan Tiger on My Bed (Talita Koum Vimana) adalah novelnya yang kelima belas dan keenam belas.

Teman-teman bisa lho berkenalan dan menghubungi Bang Ino melalui akun-akunnya: 
Fanpage (Facebook):
www.facebook.com/ChristianSimamoraAuthor
Twitter: @09061983
E-mail: ino_innocent(at)yahoo.com

Nah, sekarang mari kita lanjutkan dengan sesi wawancara yang sudah saya lakukan dengan Bang Ino :)

Riset apa saja yang Abang lakukan dalam menulis Meet Lame ini?

Nggak sebanyak novel Abang biasanya sih. Paling seputar bisnis via Facebook dan background para karakter.

Bagaimana pandangan Abang sendiri terhadap perempuan yang jatuh cinta pada dua pria dalam waktu yang sama?

Nggak ada salahnya. Tapi si cewek harus menyadari satu hal ini sejak awal: suka nggak suka, pada akhirnya dia tetap harus memilih.


Kenapa Abang memilih menggunakan POV orang pertama, dan mana yang lebih sulit menulis dengan POV orang pertama atau orang ketiga?

Alasannya ada dua. Satu, Meet Cute yang jadi alasan Abang menulis MEET LAME ditulis dengan POV tokoh perempuannya. Dua, kebanyakan novel Wattpad dulu (sekarang juga deng) memakai POV orang pertama.
Masing-masing point of view punya kelebihan dan kekurangan. Bagian menyulitkan cuma karena sering menulis dengan POV orang ketiga, ketika menulis MEET LAME yang POV orang pertama jadi sempat agak kagok. Bab-bab awal ditulis lebih lambat. Baru deh di bab berikutnya, Abang yang sudah terbiasa dengan aturan-aturannya jadi proses menulis pun lebih cepat.

Ada rencana buat nulis duet lagi nggak, Bang? Kira-kira mau ajak siapa? 

Rencana duet sih belum ada saat ini, tapi Abang membuka opsi ini. Cuma nggak kebayang akan mengajak duet siapa, mwihihi!
Tolong sebutkan tiga kata yang menggambarkan novel ini, dong Bang :)

Fun, light, and nostalgic.

Penasaran, kaan? Nantikan resensi Meet Lame dan giveaway di blog ini dalam selang 3 jam ke depan ya. Kalian juga bisa mengikuti wawancara yang sudah dilakukan teman-teman host blog tour lainnya:

15 Desember rizkymirgawati.blogspot.co.id
16 Desember www.theladybooks.com
17 Desember www.kubikelromance.com
18 Desember www.ketimpukbuku.com
19 Desember peekthebook.blogspot.co.id
20 Desember ariansyahabo.blogspot.co.id
21 Desember setopleskata.wordpress.com
22 Desember janebookienary.wordpress,com
23 Desember murniaya.wordpress.com
24 Desember thecutegeek.blogspot.co.id
26 Desember kendengpanali.blogspot.co.id (you're here)
27 Desember duniakecilprili.blogspot.co.id
28 Desember tamanbermaindropdeadfred.wordpress.com
29 Desember mizukeume.blogspot.co.id
30 Desember utsukijurnal.blogspot.co.id

Minggu, 06 Desember 2015

[Blogtour: Wawancara Penulis] Sangaji Munkian Penulis Maneken yang Filosofis



Sudah baca review Maneken sebelumnya? Yuk sekarang kita berbincang-bincang dengan sang penulisnya, Kak Sangaji Munkian :)

Halo Kak Sangaji, sebagai penulis novel Maneken, bisa perkenalkan diri kakak ke pembaca?

>Halo, perkenalkan, nama saya Sangaji Munkian, nama di bukunya sih SJ. Munkian biar gimana gitu, #abaikan. Aku lahir dan hidup di bumi sejak tahun 1993, tinggal di Bandung, baru selesai pendidikan tinggi, hobi menulis sejak SMP dan mengejahwantahkan menulis sebagai passion sejak SMA, dulu sering banget nulis kutipan, puisi, cerpen dan memanjang hingga jadi novel. Dan Maneken adalah salah satunya. Yuk baca  #udahpromoaja

Ide awal penulisan Maneken ini dari mana sih, Kak?
Berasal dari dua hal, yang pertama adalah pengalaman yang seringkali kita lakukan jika berjalan-jalan di di daerah pertokoan yang menjajakan baju, pasti kita akan mendapati maneken-maneken, nah di sanalah sebuah imajinasi liar berpendar, bagaimana jika boneka peraga itu sebetulnya punya pikiran, punya kehidupan dan kisah sendiri, dapat berkomunikasi antar boneka hanya saja kita terlalu sibuk dan terlalu tidak mempercayai hal tersebut.
Kemudian yang kedua adalah, pada tahun 2011, Letto Band (Band Indonesia favorit, yang menurutku lagu-lagunya paling nyastra, berima dan bermakna) mengeluarkan lagu dan video klip berjudul Dalam Duka, di sana mengisahkan kisah melankolis nan menyentuh tentang sebuah maneken, nah… berasal dari kedua hal itulah Novel Maneken ini meretas sebagai ide dan mewujud buku yang dipajang.

Mengapa Kakak memilih menulis genre fantasy, apakah genre ini zona nyaman atau tantangan bagi kakak?

Aku meyakini semua orang mempunyai kepercayaan, sekalipun dia seorang ateis (maka kepercayaanya adalah tidak mempercayai entitas maha kuasa) #belibet?Abaikan
Begitupun penulis, pasti dia punya genrenya, genre pribadi yang sesuai dengan dirinya, nah aku pun punya genre itu, yang salah satunya adalah fantasi, jika dikatakan zona nyaman barangkali iya dan tantangannya juga iya, saat kita menulis genre fantasi, maka pikiran kita betul-betul diuji supaya merentangkan sejauh mungkin tuk menciptakan realitas baru yang beda ataupun tak pernah ada di dunia sebenarnya, itulah tantangan sekaligus keasyikannya.
Kendati demikian, sebetulnya level fantasi Maneken masih menengah sebab realitasnya masih berpijak di bumi, ada beberapa naskah lainnya yang level fantasinya melintas nun jauh dari bumi dan menjungkirbalikan fakta. #blurbnantikansajaya

Berapa lama proses penulisan novel ini? Apa kendalanya?

Aku ada catatannya, yakni dari 16 Juli 2013 – 30 Oktober 2013
Tidak ada kendala yang terlalu berarti sih #sombong, sebab sebelumnya novel ini berasal dari cerpen yang aku kembangkan saking cintanya sehingga menjadi seperti ini. Ya, mungkin lebih kepada tantangannya kali ya, yakni mengembangkan karakter, pendalaman konflik dan menambah bab aja, tapi itu asyik kok, apalagi pas revisi dibantu sama editor super kece.
Dan tantangan lainnya paling saat revisi novel, di awal 2015 barengan sama nulis skripsi, jadi aku menggarap dua tulisan berbeda, skripsi dan novel yang berakhir dengan indah yakni, skripsi disidangkan dan novel diterbitkan.

Wah... keren dong, nulis skripsi dan nulis novel bisa barengan dan sukses semua!
Oke kak, sekarang coba sebutkan tiga kata yang menggambarkan novel ini, dong :)

Fantastis, Romantis… Filosofis 

Mengapa sih, kakak mengambil maneken sebagai benda yang menjadi tokoh dalam novel ini?

Aku ingin menulis sesuatu yang istimewa yang berasal dari sudut pandang spesial, yakni benda mati, dan karakter maneken sebagai benda mati yang menyerupai manusia, kupikir saat itu akan jadi menakjubkan jika dibalik diamnya mereka, sesungguhnya punya kisah sendiri yang tak disadari oleh seluruh umat manusia.

Sebenarnya, saya pun kalau lihat maneken nggak berani menatap matanya karena mata mereka seolah-olah mengamati kita, manusia. Hiii~ #iyainicurhat ^^
Di antara tokoh dalam Maneken, tokoh mana yang jadi favorit? Mengapa?

Aku menyayangi semua tokoh, tapi ya kalau ditanya favorit, aku suka dengan Sophie C. Fleur, meskipun dia antagonis #blurb dia adalah representatif dari orang-orang hebat, yang secara penampilan oke, pendidikan tinggi, smart, karier cemerlang namun memiliki beberapa ‘kecacatan’ yang kadang diabaikan oleh dirinya, semisal tentang perangai dan relasi dengan orang lain, termasuk dengan yang dicinta.
Meski begitu, bukankah tidak ada yang oke dalam segala hal? Kembali lagi pada konsep tak ada yang sempurna, meksipun ada bagian diri kita yang sempurna, sementara yang lainnya tidak. Itulah manusia, itulah pemeran kehidupan.

Ceritain dong kak, adakah pengalaman personal kakak yang kakak masukkan ke dalam novel ini?

Apa ya? Kayaknya untuk novel maneken ga ada deh, sebab aku belum pernah jadi maneken. Serius lho. Tapi kalau karakter ada yang terinjeksi ke salah satu tokoh, kira-kira yang siapa? Rahasia ah. Hehe.

Ada tips nggak buat calon penulis yang ingin menulis genre fantasy?

Bacalah buku, nontonlah film, tak cuma fantasi tapi semuanya, berkawanlah dengan yang suka fantasi juga biar bisa bisa saling sharing dan menyemangati. Sesekali pertanyakanlah banyak hal pada diri sendiri, luangkan waktu buat merenung (bermalasan di kasur yang produktif) dan tulis idemu segera, dan tekankan bahwa, sebab ini fantasi, maka ini adalah duniamu, maka buatlah dunia sesukamu, buatlah aturan, baru gaya baru dari sesuatu yang begitu-begitu aja jadi seru, ya misalnya di dunia nyata ini, kalau maneken ya cuma benda mati, dikasih pakaian dan dipajang, kalau udah jelek diganti, nah dengan kekuatan fantasi buatlah aturan dan gaya baru, bahwa sesungguhnya maneken itu punya pikiran, dapat berkomunikasi antar maneken, punya mimpi dan dapat bergerak dengan syarat dia punya cukup ambisi dan tidak ada orang atau sesuatu apapun yang menyaksikannya bergerak, sehingga dalam sejarah kehidupan manusia maneken tidak dianggap hidup (tetapi sesungguhnya hidup), sebab tidak akan pernah ada saksi, lantaran syarat bergeraknya maneken melindungi kebenaran sebuah maneken.

Apa yang ingin kakak sampaikan pada pembaca dan calon pembaca novel kakak ini?

Segalanya punya sudut pandang, bahkan bagi benda mati pun, kita diciptakan oleh Tuhan maka kita punya sudut pandang juga pemikiran bukan?
Apakah benda yang diciptakan manusia punya sudut pandang dan pikiran? Apalagi mereka mirip sebagai manusia?
Kurasa iya.
Selain itu mari kita cermati filosofi saling menghormati yang berlaku tak hanya antar benda hidup, tetapi bagi benda mati dan alam sekitar. Lengkapnya, baca saja, ga asik dong kalo dikoarin di sini.

Sebagai penutup apa yang ingin Kakak sampaikan kepada pembaca di sini?

Apa ya? Yang jelas, kunjungi toko buku, bawa pulang Novel Maneken, dan juga follow t/fb/ig/tumblr: sjmunkian (nama akunnya sama). #frontalbangetpromonyahehe
Sampai jumpa di dunia Novel Maneken, kamu akan merasakan pengalaman mengesankan sebagai pejuang yang dipajang.


Naahh... sudah puas belum berkenalan dengan kak Sangaji, yuk di-follow akun sosmednya dan ikutan giveawaynya dulu. Siapa tahu kalian bisa beruntung bertualang di dunia maneken :))

Kamis, 21 Mei 2015

[MNSL Blogtour] Wawancara dengan Christian Simamora






Siapa yang tidak mengenal CHRISTIAN SIMAMORA?

Penulis berzodiak Gemini, kelahiran 9 Juni 1983. Menyukai hot chocolate dan parfum beraroma manis. Kalau tidak sedang menulis, dia menghabiskan waktu senggang dengan membaca, browsing, atau menonton serial televisi kesukaan.    

#jboyfriend-nya yang fenomenal sudah membuat para gadis klepek-klepek. Seperti kita ketahui #jboyfriend yang sudah terbit antara lain:
Pillow Talk (Jo), Good Fight (Jet), With You (Jere), All You Can Eat (Jandro), Guilty Pleasure (Julien), Come On Over (Jermaine), dan As Seen On TV (Javi).

Dan Marry Now, Sorry Later (Jao) merupakan novelnya yang keempat belas.




Dalam rangka rangkaian blogtour Marry Now Sorry Later, berikut adalah wawancara saya dengan Christian Simamora.


Apa kabar, Bang Christian Simamora? Sedang sibuk apa sekarang?

Sambil terus berpromo, menyiapkan plot untuk buku berikutnya. 

Kalau boleh tahu, bagaimana tahap-tahap penulisan Marry Now, Sorry Later dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk penulisan novel ini?

Sebenarnya nggak jauh beda dengan novel-novel sebelumnya. Setelah plot dirasa matang, Abang mulai menulis sejak bulan Desember 2014. Marry Now, Sorry Later selesai ditulis bulan Maret. Lanjut ke proses editing dan cover. Selesai awal April, tapi proses terbitnya agak terlambat karena ketika itu ada musibah keluarga. Tapi syukurnya masih tetap bisa menepati jadwal terbit Mei. 

Kasih 3 kata dong, Bang, untuk menggambarkan novel ini?

Newlyweds, Romantic, Scandalous.

Di antara profesi para jboyfriend, profesi mana yang jadi angan-angan Abang selain sebagai penulis?

Abang paling sirik dengan profesi Julien Ang (Guilty Pleasure), pengusaha buah. Seru aja kelihatannya. Belum lagi keluarga Julien punya ranch sendiri, lengkap dengan kuda-kuda segala. Mau bangeeet, haghaghag! 

Ahahaa… seru memang kayaknya :)
Mengapa untuk Marry Now, Sorry Later dongeng yang dipilih jatuh pada Beauty And The Beast? Apa istimewanya dongeng ini bagi Abang?

Selain Cinderella, Beauty and the Beast adalah dongeng favorit Abang. Meskipun ceritanya sederhana, terbukti sangat menyentuh hati bagi Abang pribadi. Mencintai tanpa pamrih adalah sikap Beast yang akhirnya membuat Beauty jatuh cinta—dan hal itu terlalu indah untuk tak diceritakan ulang di Marry Now, Sorry Later.

Aah benar banget, nggak bisa lebih setuju dari itu. :))





Hmm… menarik, ya? Tunggu yang lebih menarik lagi, bakal ada review Marry Now, Sorry Later dan giveaway setelah ini. ;)

Kalian juga bisa menyimak wawancara 13 host blogtour yang lain berikut ini, biar tambah cinta sama Bang Christian Simamora ;)


Luckty GS. https://luckty.wordpress.com

Sulis Peri Hutan   http://www.kubikelromance.com



Destinugrainy  https://destybacabuku.wordpress.com


Ira Elvira  http://irasbooks.blogspot.com


Aya Murning  https://murniaya.wordpress.com



Martina Sugondo (Nana)  http://glasses-and-tea.blogspot.com

Ariansyah  http://ariansyahabo.blogspot.com


Enjoy the tour ;)



 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon