Tampilkan postingan dengan label hisrom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hisrom. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Januari 2019

[Resensi] Sang Penguntit - Lisa Kleypas

Judul buku: Sang Penguntit
Judul asli: Hello Stranger
Series: The Ravenels #4
Penulis: Lisa Kleypas
Alih bahasa: Halita Permatasari
Editor: Yosef Bayu Anangga
Sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2018
Tebal buku: 464 halaman
ISBN: 9786020618449



BLURB

Sebagai satu-satunya dokter wanita di Inggris, Garret Gibson adalah wanita kuat dan mandiri. Ia sering kali menghadapi darah dan hal-hal mengerikan. Nyaris tak ada yang bisa mengusiknya. Sampai ia bertemu Ethan.

Ethan Ransom, mantan detektif di Scotland Yard, pria misterius yang kesetiaannya diragukan. Sebagai anak di luar pernikahan seorang bangsawan, Ethan tidak terlalu tertarik kepada masyarakat kalangan atas, namun ia terpikat pada Garrett yang cantik dan pemberani. Meski sama-sama berusaha melawan ketertarikan terhadap satu sama lain, Garrett malah terseret ke dalam salah satu misi Ethan yang paling berbahaya. Dan Ethan harus mengerahkan seluruh keahlian dan keberaniannya demi menyelesaikan misi sekaligus mendapatkan cinta wanita paling luar biasa yang ia kenal.

RESENSI

Hello Stranger atau Sang Penguntit merupakan buku keempat dari serial The Ravenels. Membuat saya bertanya-tanya mengapa kisah dokter Garret Gibson dan Ethan Ransom masuk ke dalam serial ini padahal mereka bukan bagian dari Ravenels. Entah saya melewatkan setitik informasi di buku-buku sebelumnya atau karena saya belum membaca novel ketiganya, Devil in Spring. Saya memang ingin menunda lebih lama untuk membaca Devil in Spring karena takut akan ekspektasi saya sendiri mengingat tokoh dalam Devil in Spring adalah putra dari Sebastian.

Nah, mungkin saja memang ada sesuatu yang menjadi petunjuk tentang Ethan di salah satu novel-novel pendahulunya, yang jelas saya mulai menyadarinya ketika Ethan bertemu dengan West Ravenel. Di situlah saya merasa kisah ini akan menjadi menarik.
Kisah ini terjadi pada sebuah musim panas tahun 1876. Garret Gibson menjadi satu-satunya dokter wanita yang ada di Inggris. Ia pergi ke Perancis untuk belajar kedokteran di Universitas Sorbornne karena sekolah-sekolah kedokteran di Inggris menolaknya. Pada saat itu di mana wanita tak boleh memiliki peran apa pun selain sebagai penghias rumah, jelas pilihan profesi Garret membuatnya dianggap mengerikan. Wanita tak boleh terlalu pintar dan menonjol. Beberapa dokter pria yang berprinsip kaku seolah enggan mengakuinya.
Pada catatan penulis di akhir kisah, Lisa Kleypas mengungkapkan bahwa ia terinspirasi oleh dr. Elizabeth Garret Anderson seorang dokter wanita pertama yang mendapatkan izin praktik di Inggris. Setelahnya British Medical Association langsung mengubah peraturan untuk mencegah wanita lain melakukan hal yang sama selama dua puluh tahun berikutnya. Ini membuat saya merasa kagum karena tentunya Lisa telah melakukan riset yang sangat dalam terutama pada beberapa lembar buku ini yang menuliskan dengan begitu detail bagaimana Garret Gibson membedah luka tembak Ethan. Semua peralatan, perkakas, obat-obatan dan tindakan medis yang dilakukan Garret membuat saya menyadari betapa tinggi risiko medis pada masa itu. Saya sempat bertanya-tanya ketika Garret memutuskan melakukan transfusi darah, mengapa ia tak menanyakan golongan darah mereka. Pertanyaan saya terjawab pada catatan penulis bahwa golongan darah baru ditemukan pada tahun 1901 yang semakin menunjukkan betapa berisikonya keputusan yang diambil Garret. Itu berarti proses transfusi darah pada saat itu hanya mengandalkan keberuntungan akan kecocokan darah.

Bagaimanapun juga novel ini memberi saya saat-saat frustasi antara menyukai dan tidak menyukainya. Ada saat-saat di mana Ethan membangun suasana intim, lalu Garret mengacaukannya dengan mengungkapkan istilah-istilah medis. Walau Ethan menganggapnya lucu dan menarik, tapi saya tidak. Apakah memang seperti itu jika kita berpacaran dengan seorang dokter? :)))
Sementara Ethan sendiri yang diceritakan sebagai mantan detektif Scotland Yard yang jarang tersenyum dan memilik aura seram tapi jantan (awww~~~), ternyata begitu puitis. Lagi-lagi saya merasa akward membaca rayuan-rayuannya, sementara Garret menanggapi dengan salah tingkah dan kemudian mengeluarkan komentar sakti berupa istilah medis. Bikin frustasi wooyyy 😭😭

Untungnya kehadiran West sangat menghibur dalam novel ini. Ia menjadi duri di pantat Ethan dengan keselengekannya tapi juga justru menjadi orang paling setia bagi Ethan. Mengingat betapa brengseknya dia di buku pertama, senang rasanya melihat West semakin menjadi pria dewasa sekaligus kekanakan yang membuat meleleh dari waktu ke waktu. Banter antara dirinya dan Ethan menjadi hiburan yang tiada duanya. Dialah penerang cerita ini.

Konflik yang terbangun dalam Hello Stranger cukup menegangkan. Walau tentu saja saya yakin keberuntungan akan muncul dan menyelamatkan para tokohnya dalam novel-novel semacam ini. Namun intrik yang terjadi tetaplah menarik untuk diikuti.
Yang tak kalah menegangkan justru adalah menunggu kapan Garret dan Ethan melakukan percintaan. Haha. Selama beberapa bab mereka melakukan permainan sentuh-tapi-tak-boleh-memiliki yang membuat saya hampir meledak jengkel dan ingin membenturkan kepala Ethan ke tembok karena begitu keras kepala. Namun toh akhirnya mereka bisa wikwik juga. Dengan menggebu. Tak tahu malu. Setiap waktu. Yah begitulah. Walau tentu saja Lisa Kleypas selalu bisa menuliskan adegan gulat penuh keringat ini dengan begitu indahnya tanpa terasa memalukan.

Secara keseluruhan saya masih belum bisa memutuskan apakah saya menyukai atau tidak menyukai novel ini. Untuk sebagaian besar waktu saya menikmati membacanya, untuk beberapa waktu lainnya terutama ketika Ethan begitu puitis saya merasa terganggu. Namun, saya tetap merekomendasikan novel ini terutama bagi kalian yang tertarik membaca seluk beluk dunia medis di Inggris pada abad itu. Atau... bagi kalian penyuka drakor Descendant of The Sun dan ingin membacanya dalam versi hisrom dengan suasana Inggris. Nggak mirip banget sih tapi kisah cinta dokter wanita-anggota rahasia pasukan elite khusus dan intriknya hampir sama. Hmm menjadi catatan yang menarik juga ketika Garret menggunakan spons yang dicelup air lemon untuk dimasukkan ke vaginanya sebagai alat kontrasepsi. Selamat membaca :)

Senin, 19 Februari 2018

[Resensi: The Maddening Lord Montwood - Vivienne Lorret] Jatuhnya Sang Bujangan Perayu Terakhir

Judul buku: The Maddening Lord Montwood
Penulis: Vivienne Lorret
Alih bahasa: Katherin Handayani S
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Oktober 2017
Tebal buku: 372 halaman
ISBN: 978-602-04-4722-3



BLURB

Para bujangan perayu wanita dari Fallow Hall bertaruh tidak akan pernah menyerah pada cinta, namun akankah si perayu terakhir menemukan pasangannya?

Frances Thorne bisa mengatasi persoalan apa saja, kecuali kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, dan ayahnya yang dipenjara dalam satu hari. Maka, ketika ada tawaran bantuan jatuh ke pangkuannya, dia sangat bersyukur, sekalipun itu terlihat terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Hal terakhir yang dibutuhkannya adalah Lord Lucan Montwood, yang menawan, menyebalkan sekaligus menjengkelkan, menghalangi jalannya.

Akhir dari taruhan sudah dekat, dan Lucan Montwood bisa mengecap aroma kemenangan, asalkan dia bisa menjauhi wanita yang mampu melihat menembus penampilan luarnya. Namun, ketika mengetahui bahwa Frances dalam kesulitan, Lucan tidak dapat menyangkal bahwa dirinya rela melakukan apa saja demi membantu. Meyakinkan wanita itu untuk memercayainya adalah bagian yang sulit, menolaknya hampir mustahil, tapi jatuh cinta padanya? Mungkin itu terlalu sederhana.


RESENSI

Sejak kemunculan Lucan Montwood yang misterius, kelam, tapi memesona di The Devilish Mr. Danvers, saya sudah dibuat penasaran akan seperti apa perjalanan cinta pria satu ini. Atau lebih tepatnya, akan seperti apa ia melawan takdirnya untuk jatuh cinta. Karena berdasarkan kisah-kisah sebelumnya dalam serial The Rakes of Fallow Hall, Lucanlah yang telah menanamkan ide pertaruhan sebesar sepuluh ribu pound bagi yang mampu membujang hingga akhir tahun. Lucan telah mencium bau kemenangan setelah Everhart dan Danvers menikah. Tinggal sisa enam bulan lagi, tentunya itu waktu yang terlalu singkat untuk membuatnya jatuh cinta dan menikah, bukan? Atau... ia salah?

The Maddening Lord Montwood dibuka dengan latar tahun 1822 pada musim dingin di St. James. Ini adalah saat dimana Lucan sekali lagi harus mendapati kelicinan dan kelicikan ayahnya, yang menyebabkan sang Marquess lolos dari tiang gantungan dan malah menimpakan kesalahan pada Thorne, salah satu pekerjanya. Lucan harus mencari cara untuk membebaskan Thorne. Inilah asal mula Lucan memiliki utang besar dan kelak mendorongnya untuk bertaruh dengan teman-temannya.
Kurang lebih dua setengah tahun kemudian, Lucan harus menghadapi kemarahan Frances Thorne. Karena kehidupan Thorne tak juga membaik, dan Frances harus jungkir balik untuk menghidupi dirinya dan ayahnya. Tentu saja, hal termudah adalah mencari kambing hitam dan ia menyalahkan Lucan.
Frances menjadi tokoh yang kadang mengagumkan dan kadang menjengkelkan. Mengagumkan saat melihat kegigihannya mempertahankan hidup dan menghadapi ayahnya yang mulai kacau. Menjengkelkan saat ia hanya melihat hal-hal yang ada di permukaan. Sebagai seseorang yang hidup di jalanan dan mengajar seni membela diri tentunya ia harus waspada pada kebaikan terselubung, tapi Frances tetap keras kepala dan mendewakan pria yang berkali-kali menyebut dirinya murah hati.

Konflik dalam novel ini tak terlalu menegangkan. Mungkin karena sang penjahat telah diketahui sejak awal, sehingga pembaca hanya dibuat menebak-nebak apa motifnya. Mengikuti perjalanan naik-turunnya hubungan Lucan dan Frances juga ternyata tak semenarik novel pendahulunya. Sebagai bujangan yang menolak menikah ternyata Lucan mudah untuk menerima takdir cintanya dan sama sekali tak menyangkal.
Hubungan persahabatan dalam novel ini masih sangat hangat. Hal inilah yang membuat saya jatuh cinta pada serial ini. Persahabatan ketiga malaikat terbuang begitu akrab dan terasa kuat chemistry-nya. Saya menyukai dialog yang saling mereka lemparkan juga gestur mereka terhadap satu sama lain. Calliope dan Hedley juga begitu cair dalam lingkaran kecil persahabatan itu. Saya suka mendapati bahwa Hedley dan Lucan masih punya hubungan 'istimewa' seperti yang mereka tunjukkan di novel sebelumnya.

Secara keseluruhan The Maddening Lord Montwood cukup memuaskan. Melalui Lucan Montwood saya memahami bahwa kadang kita tak bisa mengambil kesimpulan terhadap seseorang hanya karena tampak luarnya saja, dan bahwa segala yang tampak begitu baik belum tentu benar-benar baik. Dan pada akhirnya yang membuat saya jatuh cinta tetaplah covernya yang memikat dan benar-benar merepresentasikan cerita di dalamnya. Setiap melihat sampulnya, saya membayangkan ketika Frances berjalan membawa lilin di lorong galeri rumah Whitelock sambil berharap suara Lucan muncul dari bayang-bayang kegelapan. Perfect!

Rabu, 14 Februari 2018

[Resensi: The Harlot Countess - Joanna Shupe] Pembalasan Dendam Sang Countess

Judul buku: Masa Lalu Sang Countess
Judul asli: The Harlot Countess
Penulis: Joanna Shupe
Alih bahasa: Nin Bakdisoemanto
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Juni 2016
Tebal buku: 426 halaman
ISBN: 978-602-02-8753-9



BLURB

Maggie, Lady Hawkins, memiliki debut yang lebih suka dilupakannya—bersama pernikahan pertamanya. Kini, kartunis politik itu adalah seorang wanita baru. Seorang wanita yang benar-benar modern. Sedemikian modern sampai-sampai khalayak ramai memercayai bahwa dia adalah seorang laki-laki...

FAKTA: Menggambar menggunakan nama samaran laki-laki, Maggie dikenal sebagai Lemarc. Objek favoritnya: Simon Barrett, Earl of Winchester. Pria itu adalah bintang yang baru naik pamor di Parlemen—dan mantan orang yang dipercaya dan dicintai Maggie, tapi memercayai rumor yang sampai detik ini masih menyakitkan bagi Maggie.

FIKSI: Maggie adalah Perempuan Jalang Setengah Irlandia yang merayu suami sahabatnya pada malam pernikahan mereka. Wanita ini harus ditakuti dan dibenci karena dia akan mengangkat roknya kepada lelaki mana pun.

Masih hancur oleh pengkhianatan Simon, Maggie tidak berniat membiarkan seluruh ton menghancurkan dirinya. Malah, kartun Lemarc telah membuat Simon menjadi bahan tertawaan ... tapi sekarang sepertinya Maggie mungkin telah salah mengenai apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, dan bahwa Simon diam-diam merindukan dirinya sejak ... lama sekali. Mungkinkah pada akhirnya hati lebih kuat daripada pena dan pedang?


RESENSI

Disakiti oleh seseorang yang pernah kita cintai, tentunya sungguh menyesakkan. Membuat hati dipenuhi oleh amarah dan dendam. Maggie mengubah rasa dendam itu menjadi sesuatu yang produktif, yang bisa membuatnya puas: membuat karikatur tentang Simon Barret, Earl of Winchester. Karikatur Winejester yang mengolok-olok Simon, dan menjadi perbincangan panas di kalangan atas. Tak ada yang akan mencurigai Maggie karena ia menggunakan nama samaran laki-laki, Lemarc.

Novel ini dibuka dengan adegan pertemuan kembali antara Simon dan Maggie setelah perpisahan mereka yang menyakitkan sepuluh tahun lalu. Pertemuan yang menunjukkan kepada pembaca bahwa ternyata mereka masih punya perasaan mendamba terhadap satu sama lain. Dari sisi Maggie, sebenarnya jelas, bagaimanapun ia tetap melukis Simon walau dalam bentuk olok-olok. Hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya ia tak bisa melepas ingatan akan Simon.
Sebenarnya, premis cinta lama bersemi kembali dan dendam asmara selalu menarik minat baca saya, terutama jika berbau-bau skandal. Ini sebabnya saya langsung bersemangat untuk menuntaskan novel ini begitu membuka halaman pertamanya.

The Harlot Countess pada awalnya bersetting di London pada tahun 1819. Isu politik yang diangkat dalam novel ini adalah tentang hak wanita korban perkosaan. Simon sendiri merupakan bagian dari Parlemen yang cukup disegani, tentu saja kedudukan ini diperoleh secara turun temurun dalam sejarah keluarganya. Ia meneruskan jejak para pendahulunya untuk menjadi bagian dari Parlemen, walau tetap saja, ia telah bekerja keras membangun sekutu untuk membuatnya disegani. Hingga muncullah karikatur Winejester yang menjadi olok-olok bagi sosok Simon. Meskipun justru kartun itu malah semakin meningkatkan pamornya.

Simon sendiri di depan dan di belakang Maggie sungguh sangat bertolak belakang. Mungkin memang benar, jika pria sudah cemburu buta, ia akan bersikap sangat tolol. Banget. Sepanjang kisah ini, saya cukup jengkel dengan asumsi-asumsi dan penghakiman yang dibuat oleh Simon terhadap Maggie. Sungguh, dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk tetap diam menerima tuduhan itu dan menghitung kapan waktu terbaik menjatuhkan bom untuk menyadarkan si dungu Simon.

Maggie menjadi representasi kaum wanita di era tersebut yang masih kesulitan untuk melawan kaum pria. Meskipun sama-sama berstatus bangsawan, nyatanya toh khalayak tetap mempercayai para pria. Seandainya ada perempuan yang muncul dari kegelapan dengan pakaian terkoyak, wanitalah yang disalahkan. Wanitalah yang dianggap penggoda dan pelacur. Sungguh saya mengagumi kekuatan diri Maggie untuk tetap berdiri tegak saat tudingan-tudingan diarahkan padanya, saat kalangan atas mengucilkannya, saat lelaki yang ia percaya akan membelanya ternyata ikut berpaling. Maggie mampu menghadapi segala sakit hati itu selama sepuluh tahun dan produktif. Sungguh saya jatuh cinta pada ketabahan dan kekuatannya.
Walau mungkin agak disayangkan, setelah ia menjanda dan bertemu kembali dengan Simon, ia dengan mudahnya takluk kembali pada pesona Simon. Beberapa wanita mungkin akan menganggap Simon tak layak mendapatkan maaf, dan betapa murahannya Maggie karena mudah melompat ke ranjang Simon. Well, saya sendiri sebenarnya maklum. Hahaha... sebagai seorang janda yang pernikahannya kering akan cinta, dan betapa ia masih mencintai Simon, saya maafkan kalau seandainya Maggie memang jadi bitchy saat bersama Simon.
Lagi pula, dari sudut pandang Simon, saya sudah menangkap penderitaannya. Simon masih terlihat tergila-gila dan posesif hingga rasanya menyakitkan terhadap Maggie.

Saya sangat menikmati membaca novel ini, narasi, deskripsi, dialog dan chemistry-nya pas banget. Konfliknya juga cukup seru dan menegangkan. Adegan ranjangnya bertebaran dengan penerjemahan yang cukup bagus. Sepertinya saya bakal memasukkan nama Joanna Shupe sebagai penulis historical romance yang layak dibaca.

Sabtu, 09 Desember 2017

[Resensi] Skandal Sang Duchess - Courtney Milan

Judul buku: Skandal Sang Duchess
Judul asli: The Duchess War
Series: Brothers Sinister #1
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Eka Budiarti
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2016
Tebal buku: 480 halaman
ISBN: 978-602-03-3290-1



BLURB

Miss Minerva Lane terkenal pendiam, dan ia ingin tetap seperti itu, karena kali terakhir ia menjadi pusat perhatian, hal itu berakhir sangat buruk sampai ia terpaksa mengganti nama untuk meninggalkan masa lalunya yang penuh skandal. Jadi ketika seorang duke tampan muncul, ia sama sekali tidak menginginkan perhatiannya. Tetapi justru itulah yang ia dapatkan.

Robert Blaisdell, Duke of Clermont, memiliki misi penting yang amat dirahasiakan. Karena itu, ia terkejut ketika Minnie berhasil mengungkap rencananya. Robert menyadari di balik sifat pendiam Minnie, ada kecerdasan yang membahayakan. Maka ia bertekad menguak skandal masa lalu Minnie sebelum wanita itu mengungkap rencananya lebih jauh. Tapi si nona pemalu terbukti merupakan lawan yang lebih tangguh...

RESENSI

Setelah membaca The Governess Affair sebagai novella yang mengawali seri Brothers Sinister, saya cukup bersemangat untuk lanjut ke novel pertamanya yaitu The Duchess War atau Skandal Sang Duchess. Hmm... yang menarik dari pandangan pertama tentunya adalah cover version-nya yang berbeda dengan cover version aslinya. Saya suka dengan gambar bidak-bidak catur di situ, karena maknanya lebih mewakili dibanding cover sosok seorang wanita.
Beberapa kali membaca karya Courtney Milan, terutama seri Turner, membuat saya menyadari betapa saya mengagumi penulis ini. Dalam karya-karyanya, Courtney Milan selalu memberi tokoh utamanya sebuah kekurangan. Hal inilah yang saya temui ketika membuka halaman pertama The Duchess War. Ya, Minnie atau Miss Willhelmina Pursling adalah seorang wanita yang memiliki bekas luka di wajahnya dan dianggap membosankan.

"Menurutku dia akan muat dengan pas. Sebagai istri, Mrs. Pursling akan seperti buku-buku ini. Saat aku ingin mengeluarkan dan membacanya, dia akan ada di sana. Saat aku tidak ingin, dia akan menunggu dengan sabar, persis di tempat dia ditinggalkan. Dia akan menjadi istri yang penurut untukku, Ames. Selain itu, ibuku menyukainya." (hlm. 12)

Miss. Pursling mungkin adalah sosok yang sempurna untuk dijadikan istri bagi kalangan atas di masa itu. Kritik sosial yang disampaikan dalam novel ini jelas adalah menyinggung perilaku para prianya yang menjadikan wanita sebagai alas kaki, yang dianggap bodoh dan hanya sebagai hiasan pelengkap. Tapi tunggu. Benarkah heroine kita di novel ini adalah makhluk penakut dan pasrah menerima keadaan?
Rupanya Miss. Pursling hanyalah topeng yang digunakan oleh Minerva Lane untuk menutupi jati dirinya, karena Minnie yang asli takut orang-orang akan mengetahui skandal yang pernah ia alami yang telah mengakibatkan luka di wajah dan rasa sakit jauh di dalam hatinya. Jika pada awalnya saya sempat merasa kecewa, pada akhirnya saya sangat menyukai Minnie. Ia ahli dalam berstrategi, otaknya bagai mesin yang penuh hal-hal yang mencengangkan, ia berani dan nggak gampang digertak.
Berbeda halnya dengan Robert Blaisdell, Duke of Clermont, yang menurut saya biasa saja. Saya telah membaca The Governess Affair, dan saya tahu betapa menjijikkannya ayah Robert yang mewariskan gelar Duke of Clermont. Saya merasa bersimpati dan memahami mengapa Robert menjadi begitu terobsesi untuk menjadi perjaka. Ia nggak mau melakukan kesalahan dan kebejatan yang sama seperti yang dilakukan ayahnya. Sayangnya, ini membuat Robert terlalu "baik" dan terlalu polos, sehingga acara seksual pertama mereka terasa sedikit aneh :')

Konflik dalam novel ini sangat seru, karena begitu kompleks. Pembaca bukan hanya diajak mengikuti perkembangan hubungan Minnie dan Robert yang naik-turun, tapi juga perkembangan politik pada masa itu, bagaimana Robert berusaha menghapuskan hak-hak para bangsawan dan memberi hak-hak yang lebih manusiawi kepada para buruh industri. Kesungguhan Courtney Milan dalam melakukan riset untuk membangun latar waktu dan suasana, terlihat jelas dalam novel ini.

Sebagai buku pertama dari sebuah serial, kemunculan Oliver Marshall, Sebastian Malheur, dan Violet Waterfield dihadirkan dengan porsi yang pas untuk memancing rasa penasaran. Kebersamaan mereka juga banter yang mereka lakukan begitu menggelitik dan menarik minat. Bagi saya, jujur saya sangat tertarik dengan hubungan Sebastian dan Violet yang terlihat kompak dan seolah menyimpan sesuatu. Ehem.

Bagian favorit saya, adalah hubungan Robert dengan ibunya dan hubungan Robert dengan ibu Oliver. Sebenarnya saat ibu Oliver memeluk Robert itulah yang paling bikin saya mewek. Untunglah penerimaan yang mereka tunjukkan dan berikan belum terlambat. Untunglah Robert masih bersedia menanti dan nggak jadi pria yang pahit.

Well, bagi saya The Duchess War menjadi novel historical romance yang layak dibaca karena bangunan konflik dan plotnya yang apik. Dan saya sudah nggak sabar untuk melanjutkan petualangan dengan brothers sinister selanjutnya 😉




Jumat, 20 Oktober 2017

[Resensi] Si Bengis Mr. Danvers - Vivienne Lorret | Kala Si Bengis Luluh Menjadi Manis

Judul buku: Si Bengis Mr. Danvers
Judul asli: The Devilish Mr. Danvers
Serial: The Rakes of Fallow Hall #2
Penulis: Vivienne Lorret
Alih Bahasa: Debbie Hendrawan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: Juni 2017
Tebal buku: 336 halaman
ISBN: 9786020427768



BLURB

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hedley Sinclair dapat menentukan masa depannya sendiri. Dia mewarisi Greyson Park yang bobrok tapi kehancuran bangunan itu tidak menghalanginya. Tak akan ada yang mengurungnya lagi atau mencoba untuk mengambil benda miliknya. Tidak seorang pun kecuali Rafe Danvers—pria menawan dan seperti iblis dari Fallow Hall. Pria itu bertekad untuk menuntut Greyson Park, namun jika Hedley tidak berhati-hati, pria itu juga akan menuntut hatinya. 

Rafe sepenuhnya berniat untuk membebaskan Greyson Park dari cengkeraman tangan keluarga Sinclair untuk selamanya. Hal terakhir yang dia harapkan adalah bertemu dengan Hedley yang memperdaya—adik dari mantan tunangannya—menghalangi niatnya. Dengan tuntutan drastis, dia berencana untuk membuat gadis itu menikah agar bisa memegang kendali atas rumah itu. Satu-satunya masalah adalah, dia sepertinya tidak bisa berhenti untuk menggoda gadis itu. Bahkan yang lebih buruk lagi, dia mulai jatuh cinta….


RESENSI

Rasanya sudah cukup lama saya nggak membaca novel sampai berurai air mata lebih dari sekali. Iya sih saya gampang terenyuh, gampang mewek saat membaca adegan yang kena di hati, tapi saya nggak menyangka novel historical romance yang asal comot di Scoop ini bisa bikin saya termehek-mehek. Seorang teman penulis memang pernah bilang kalau novel ini bagusnya kebangetan, jadi saya selain karena tertarik dengan sinopsisnya akhirnya merasa penasaran juga untuk melahapnya.

Bisa dibilang ini adalah pengalaman pertama saya mencicipi karya Vivienne Lorret. Tadinya saya hanya berniat mengintip dulu pembuka ceritanya, tapi ternyata saya langsung dibuat terhanyut hingga sampai akhir kisah. Bagaimana tidak... sedari awal saya sudah dipertemukan dengan heroine yang menderita lahir dan batin karena telah dikurung bertahun-tahun di loteng oleh keluarganya, disembunyikan karena dianggap sebagai aib dan dengan tabah menerima perlakuan kejam ibu dan kakak perempuannya. Hmm... mungkin terdengar sedikit mirip cinderella ya? Tapi nggak kok, nggak ada pangeran tampan dan pesta dansa di kisah ini.
Justru sang hero adalah mantan tunangan kakaknya yang ditinggalkan begitu saja di altar. Bukan seorang pangeran tapi seorang seniman yang keluarganya juga dikucilkan oleh kalangan ton beberapa tahun terakhir.
Jadi mereka sama-sama orang tangguh yang dengan tegak menghadapi tuduhan sosial yang diarahkan pada mereka masing-masing.

Adegan pertemuan keduanya sungguh luar biasa bagi saya. Bagaimana Hedley Sinclair masih mengingat dengan jelas siapa pria di depannya, membawa ingatannya pada kenangan indah yang pernah diberikan Rafe Danvers, meski Rafe tak menyadarinya. Ya. Rafe nggak menyadari siapa Hedley pada awalnya.
Pertentangan batin Rafe merupakan hal yang paling menarik bagi saya. Sedari awal ia telah dibuat bingung antara harus memilih nalar atau perasaannya. Kebenciannya pada keluarga Sinclair toh tetap luruh karena kepolosan Hedley. Beberapa kali ia berusaha kembali pada kecurigaan, walau pada akhirnya ia menyerah dan mengakui Hedley tidaklah sama dengan kakaknya.

Apalah arti sebuah historical romance tanpa kebajinganan (wait... diksi apa ini? 😂). Well, maksud saya, semakin bajingan si tokoh pria, saya biasanya semakin suka. Jadi ketika Rafe punya rencana yang sedikit busuk saya bersorak dalam hati. Rafe ingin menang dalam taruhannya dan ia ingin menyingkirkan Hedley dari propertinya, maka ia membuat rencana perjodohan untuk Hedley. Daaan.... bisa ditebak dong, kalau rencana itu bakal jadi senjata makan tuan. Semua orang bisa menebak kok, termasuk saya, kecuali Rafe sendiri, bahwa dia bakalan kebakaran pantat karena cemburu melihat intimnya Hedley dan Montwood.
Oh iya, selain chemistry Hedley dan Rafe yang penuh percikan-percikan gairah, asmara, hasrat, dan apalah-apalah yang sejenisnya, chemistry Hedley dan Montwood juga terasa pas deh. Saya menangkap mereka berdua seolah memiliki frekuensi kesenduan dan kekelaman yang sama.

Bicara tentang karakter, saya langsung jatuh cinta pada Hedley. Gadis ini bukan tipe gadis keras kepala yang menyebalkan, juga bukan gadis yang malu-malu tapi nemplok juga. Hedley cerdik, pengamat yang jeli, jujur, polos dan dia tahu apa yang dia mau. Hedley nggak malu-malu untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya serta apa yang diinginkannya. Mungkin dia sagitarius sama kayak saya #halaaah
Rafe juga nggak menyebalkan banget. Yang pasti dia penyayang dan sweet dengan caranya sendiri. Bikin saya meleleh dengan tindakan-tindakan spontannya terhadap Hedley, dan bikin saya pengen getok kepalanya tiap kali mulai membentengi diri dan kekeuh kembali ke rencana semula.

Banyaaaak banget adegan super manis di novel ini. Salah satunya yang paling saya suka adalah ketika Calliope, yang baru saja bertemu dan berkenalan dengan Hedley, membela Hedley yang disakiti kakaknya. Aih... aih... ini adegan yang bikin saya mbrebes mili karena akhirnya Hedley merasakan apa artinya memiliki 'keluarga' walau itu terwujud dari seorang teman yang tetap berdiri mendukungnya.
Saya juga suka bagaimana Rafe membantu Hedley mengatasi trauma dan ketakutannya terhadap kuda dan kereta kuda. Bagaimana Rafe selalu ada di sana saat Hedley berada dalam situasi paling rapuh.

Sayangnya ending novel ini terasa terlalu cepat diselesaikan. Padahal mengikuti naik turunnya konflik antara Hedley-Rafe dan terutama Hedley-Ursa, saya pengin sesuatu yang lebih memuaskan hati. Setidaknya misalnya Ursa ketimpa reruntuhan Greyson Park atau apalah. Oke... um.. itu sadis sih, tapi setidaknya saya ingin sesuatu pembalasan yang setimpal bagi Ursa dong. Wkwkwk~~
Well, secara keseluruhan novel ini bikin saya puas bacanya. Sukaaakkk banget nget. Buat kalian yang suka novel dengan tema-tema semacam kita-musuh-tapi-saling-tergila-gila-tapi-itu-nggak-mungkin-tapi-aku-nggak-mau-kehilangan-tapi-ya-gimana-dong, saya rasa novel ini akan cocok buat kalian.

Selasa, 26 September 2017

[Resensi: Skandal Sang Governess - Courtney Milan] Adu Tekad Serigala dan Governess

Judul buku: Skandal sang Governess
Judul asli: The Governess Affair
Series: The Brother Sinister #1,5
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Eka Budiarti
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 168 halaman
ISBN: 978-602-03-3358-8



BLURB

Ketika reputasinya dihancurkan oleh seorang duke, Serena Barton tidak menyerah. Terlebih ketika ia kehilangan pekerjaan sebagai governess, tanpa kenal malu dan takut, ia menuntut kompensasi dari sang duke. Ternyata, bukan sang duke yang membuat Serena gentar, melainkan pengelola bisnis pria itu, sang Serigala Clermont, yang ditunjuk untuk menangani Serena.

Hugo Marshall pria yang sangat kompeten dalam pekerjaan. Masalah dalam wujud governess yang suka mengganggu hanya soal kecil. Sayangnya, cara baik-baik tidak mempan untuk Serena. Hugo memutar otal, tapi semakin ia mengenal Serena, semakin sulit ia menemukan cara paling tepat untuk menaklukkan sang governess...

RESENSI

Sekali lagi Hugo Marshal harus membereskan masalah yang dibuat oleh Duke of Clermont. Kali ini sang duke bukan saja membuat sang duchess kabur—yang kemungkinan bisa berakibat fatal pada keuangan dan masa depan Hugo—tapi juga membuat marah seorang governess keras kepala. Hugo tahu, ia harus segera membereskan apapun tuntutan yang dibuat sang governess sementara Clermont pergi mengejar dan membujuk duchess-nya.
Sayangnya Serena Barton bukanlah wanita yang mudah digertak. Kekuatan tekadnya untuk tak mudah kalah membuat Hugo harus mengakui ia mendapat lawan yang sepadan. Perlahan, hatinya bertentangan, antara menunaikan kewajiban dan memuaskan hasratnya sendiri.
Saat akhirnya Hugo mengetahui skandal yang sesungguhnya sedang ia hadapi, semua sudah terlambat. Hugo harus bertempur, menyingkirkan Serena demi meraih mimpinya atau harus rela kehilangan lima ratus pound dan menyerah kalah pada hantu masa lalunya.

-------------------------

 "Menikahlah denganku." 
"Aku sedang bertanya-tanya kapan kau akan mulai mengancamku dengan nasib yang lebih buruk dibandingkan kematian. Selamat, Mr. Marshall. Sekarang aku benar-benar takut."(hlm. 73)

Cukup lama waktu berselang sejak saya menuntaskan membaca novella pembuka serial The Brother Sinister dan mengulasnya di sini. Bagaimanapun juga saya akui, mood baca novel romance saya lumayan merosot tajam, bahkan bisa dibilang nol. Untunglah buku-buku sastra masih bisa memuaskan hasrat membaca saya, meski saya harus susah payah mereviewnya.
Novella Skandal Sang Governess ini tadinya hanya buku asal comot di timbunan sebagai teman saya berada di ruang tunggu puskesmas. Sebulan ini, saya memang terlalu akrab dengan puskesmas karena kedua putra saya bergiliran jatuh sakit. Saya pun berhasil menuntaskan novella ini sambil menunggu hasil cek darah putra saya. Courtney Milan memang seorang pencerita yang handal karena sanggup membawa saya larut ke dalam dunianya dan memudarkan kecemasan saya.

Diceritakan dengan berlatar di London pada tahun 1835, The Governess Affair menyajikan plot yang menarik. Sedari awal sudah muncul ketertarikan di antara kedua tokoh utamanya yang terasa manis tapi juga ironis, karena masing-masing harus berperan sebagai pihak yang bertentangan.

"Kau paham benar apa yang terjadi. Kita salig tertarik, dan itu menyusahkan." (hlm. 79)

Novella ini murni hanya mengulik kisah asmara antara sang hero dan heroine-nya saja tanpa hal yang menarik di mata saya. Berbeda dengan novella pembuka serial ini, A Kiss for Midwinter, yang menampilkan lika liku sang hero yang berprofesi sebagai dokter.
Dalam Skandal sang Governess ini, Hugo yang merupakan pengelola bisnis milik seorang duke pun tak terlihat mencolok dalam profesinya, begitu juga dengan Serena yang tadinya adalah seorang governess. Namun bukan berarti novella ini menjadi kurang kuat, justru naik turunnya hubungan antara Hugo dan Serena membuat saya nggak sanggup untuk berhenti membaca hingga tuntas.

Courtney Milan selalu bisa membuat satu adegan simple yang manis dan menyentuh. Dalam buku tipis ini, ada dua adegan yang membuat saya jatuh hati pada Hugo dan Serena; yang pertama adalah reaksi yang muncul ketika Hugo menyiksa Serena saat hujan lebat, dan yang kedua adalah malam pertama mereka saat Hugo dan Serena saling bertukar jepit permohonan. Aih... aih.... sungguh saya dibuat meleleh oleh pasangan ini.

Bagian yang paling menarik disajikan dalam epilog: Penutup & Permulaan. Memang salah saya sendiri yang melewatkan membaca buku pertama serial Brother Sinister dan langsung membaca novella yang terhitung sebagai buku ke 1,5 ini, sehingga saya jadi penasaran akan bab epilognya. 
Yah... mungkin ini tandanya saya harus membaca buku pertama serial ini sesegera mungkin. Bulankah begitu? 😅

Jumat, 24 Februari 2017

[Resensi] A Kiss for Midwinter - Courtney Milan

Judul buku: Ciuman Musim Dingin
Judul asli: A Kiss for Midwinter
Series: The Brother Sinister
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Martha Widjaja
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-602-03-3322-9



BLURB

Miss Lydia Charingford selalu tampak ceria. Namun sekuat apa pun ia berusaha tersenyum, ia tak dapat melupakan aib masa remaja yang dapat menghancurkan reputasinya. Ketakutan itu kembali muncul setelah ia bertemu lagi dengan Jonas Grantham, salah satu dokter yang mengetahui rahasianya. Ia tak ingin berurusan dengan Jonas, tetapi pertemuan mereka malah berakhir dengan taruhan konyol yang melibatkan sebuah ciuman. Seperti Lydia, Jonas pun menyimpan rahasia. Ia menanggung rasa bersalah terhadap wanita itu, dan kini setelah mengetahui Lydia berhasil melanjutkan hidup, ia malah jatuh cinta padanya. Meski Lydia terang-terangan menolak Jonas, dengan memanfaatkan taruhan mereka, ia bertekad akan memenangkan hati wanita itu. 


RESENSI

Sebelum memulai kuliah kedokterannya di King's College di London, Jonas Grantham diizinkan menghabiskan waktu bersama Dokter Parwine. Ia sepakat mengambil alih praktik pria itu usai menyelesaikan pendidikan. Saat itulah pertama kalinya Jonas bertemu dengan Lydia Charingford, gadis berusia limabelas tahun, yang tengah hamil dan divonis menderita miasma. Hal yang menurut Jonas mustahil tapi ia tak mampu bersuara.
Lima tahun berselang, Jonas telah mengambil alih praktik Dokter Parwine dan menjadi seorang dokter di Leicester. Ia pun berniat mencari istri. Ia kembali bertemu Lydia yang menurutnya menempati peringkat sebelas dalam daftar wanita tercantik di Leicester. Namun Lydia yang masih mengingat jelas siapa Jonas merasa Jonas hanya ingin merendahkannya. Gadis itu membenci Jonas dan curiga Jonas hanya ingin mengoloknya.
Jonas yang telah bertekad menjadikan Lydia sebagai miliknya tak kurang akal. Ia menantang Lydia dalam sebuah pertaruhan. Jika ia menang, ia menginginkan ciuman Lydia, tapi jika ia kalah, ia akan menyanggupi permintaan Lydia untuk tak berbicara dengannya. Bersamaan dengan bunyi lonceng natal di pertengahan musim dingin, siapakah yang akan menang?

-----------------------

"Kau hanya wanita tercantik kesebelas di seluruh Leicester sampai kau membuka mulut. Begitu kau berbicara, tidak ada yang dapat menandingimu." (hlm. 82)

Sejak membaca seri Turner, saya dibuat jatuh cinta dengan karya Courtney Milan. Apalagi saat saya mengetahui riset apa saja yang sudah ia lakukan untuk karya-karyanya. Namun seorang teman pernah berkata kalau karya Courtney Milan yang berjudul Ciuman Musim Dingin, yang diterjemahkan dari A Kiss for Midwinter, lumayan membosankan dan kurang bagus. Maka, saya pun mengawali membaca novela ini tanpa ekspektasi yang tinggi. Saya tetap ingin membacanya karena bagi saya, sekali saya jatuh cinta pada karya seorang penulis, saya akan terus membaca karya-karyanya yang lain, entah karya tersebut bagus atau tidak. Maka, berikut adalah kesan saya seusai membaca novela ini.

A Kiss for Midwinter dibuka dengan adegan pembuka saat pertama kalinya Jonas Grantham bertemu dengan Lydia Charingford di Leicester pada September 1857. Pertemuan yang cukup suram dan mengguncang, tapi membekas begitu dalam di benak keduanya. Hingga lima tahun kemudian mereka bertemu kembali dan memulai perseteruan.
Untuk setting tempat memang kurang digali dan kurang dipaparkan dengan detail. Namun untuk setting waktu, terasa menarik terutama dilihat dari sisi dunia medis. Digambarkan betapa Jonas Grantham berusaha mengubah persepsi orang-orang tentang hal yang dianggap tabu oleh masyarakat. Yang sayangnya, bahkan di era modern ini, masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat di beberapa wilayah tertentu.

"Aku bukan perjaka. Kau juga bukan perawan. Bahkan jika kau masih perawan, kita berdua tidak perlu bersikap malu-malu mengenai persoalan ini. Jika wanita cukup umur untuk mengeluarkan anak seberat empat setengah kilogram dari saluram kelahiran, dia boleh mendengar kata seperti 'alat kelamin pria' dan 'rahim'. Ini istilah medis, Miss Charingford, bukan kata-kata kotor." (hlm. 74)

Bukan hanya blak-blakan dan ketus, Jonas Grantham dilukiskan sebagai dokter muda yang cerdas dan terbuka dalam menerima perubahan dalam dunia medis. Ia menentang cara-cara medis lama dan melakukan hal-hal baru seperti mencuci tangan saat memeriksa pasien. Sifatnya yang terlalu terus terang dan bicara apa adanya, memang membuatnya sering bertengkar dengan Lydia dan membuatnya bermasalah dalam menghadapi sang ayah.

Lydia sendiri adalah heroine yang tangguh. Setelah mengalami peristiwa nggak menyenangkan di usianya yang baru limabelas tahun, Lydia belajar banyak. Saya menangkap kesan betapa ia tetap bersikap optimis dan ceria, walau hati terdalamnya menangis. Satu-satunya orang yang ia pandang dengan pesimis, skeptis dan curiga hanyalah Jonas.
Sungguh menyenangkan membaca interaksi keduanya; Lydia yang benci dan ingin menyingkirkan Jonas sejauh-jauhnya dengan Jonas yang tenang dan blak-blakan, merayu dengan caranya sendiri yang sungguh terasa manis.

Bagi saya novel dengan premis hubungan love-hate memang selalu saya sukai. Apalagi kalau dibumbui beberapa hal menarik dan diramu dengan apik, sedemikian halnya dengan A Kiss for Midwinter. Latar dunia medisnya yang bergerak dari cara lama ke cara baru membuat saya tergelitik, dan Courtney Milan menuliskannya dengan gaya bertutur yang enak dibaca. Penerjemahannya sendiri rapi dan memuaskan, pilihan diksinya pun sangat baik.

Seolah hubungan intim dan hasrat sensual hanya... suatu hal. Hal biasa, fungsi tubuh, dan bukan topik memalukan. Seolah gairah, seperti kebenaran, dapat menjadi anugerah dan bukan hanya sumber rasa malu dan takut.  (hlm. 159)

Selain naik turunnya hubungan Jonas dan Lydia, novela ini juga dibumbui dengan keresahan Jonas menghadapi ayahnya. Rasa cintanya pada sang ayah yang sakit dan keras kepala. Rasa frustasinya berusaha membujuk sang ayah begitu kental. Bahkan saya sempat menangis juga saat konflik mereka mencapai klimaks. Courtney Milan selalu bisa memberi nuansa kekeluargaan yang lumayan muram tapi sangat kental dalam novel-novelnya, dan kali ini tertuang melalui hubungan ayah dan anak Grantham.

Secara keseluruhan, saya puas membaca novela ini. Dengan jalan cerita yang menarik dan isu kesehatan di tahun 1800-an, kisah dalam novela ini memikat dan menyentil dalam waktu bersamaan. Saya rekomendasikan novela ringan ini buat kalian pencinta historical romance terutama kisah tentang love-hate relationship.

Senin, 13 Februari 2017

[Resensi] Love and Other Scandal - Caroline Linden

Judul buku: Antara Cinta dan Skandal
Judul asli: Love and Other Scandal
Seri: Scandalous #1
Penulis: Caroline Linden
Alih bahasa: Yunita Candra
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Januari 2017
Tebal buku: 448 halaman
ISBN: 978-602-02-9915-0



BLURB

Joan Bennett tergolong perawan tua. Dia telah menjalani empat season tanpa pelamar. Setelah membaca buku penuh sensasi yang mengejutkan, Lima Puluh Cara Berbuat Dosa, Joan memutuskan mungkin sudah waktunya untuk berhenti menjadi gadis yang sopan dan mulai menjadi pendosa, selagi dia masih cukup muda untuk menikmatinya. Dan pasangan mana yang lebih baik daripada teman minum kakaknya, Viscount Burke? Sepertinya pria macam itulah yang tahu caranya memberikan petualangan mendebarkan kepada seorang wanita.

Pernikaha sama sekali tidak ada dalam kamus sang viscount. Dengan hati-hati pria itu menghindarkan diri dari hubungan yang bisa menjerumuskannya pada pertunangan.

Namun skandal satu malam itu telah mengubah semuanya...


RESENSI

Joan Bennet telah mengenal Tristan Burke saat usianya masih 8 tahun. Di suatu musim liburan, Tristan yang ikut menginap di rumah keluarga Bennet atas undangan Douglas Bennet, mengendap-endap masuk ke kamar Joan dan bersembunyi di sana. Sejak itu, Joan hanya bertemu beberapa kali dengan Tristan.
Menjelang usianya yang sudah melampaui batas usia menikah, dan setelah menjalani empat season tanpa hasil, kini perhatian ibu Joan beralih pada mencari pasangan yang tepat untuk Douglas. Ibu Joan mengutus Joan untuk menemui sang kakak dan 'memaksanya' agar mau menghadiri pesta dansa. Tak disangka, Joan bertemu kembali dengan Tristan Burke yang tengah menginap di rumah Douglas.
Pertemuan kembali itu rupanya menyeret Tristan pada urusan kakak-beradik Bennet. Apalagi ketika ibu Joan jatuh sakit dan harus dirawat di pedesaan, Douglas mempercayakan Joan ke dalam pengawasan Tristan. Akankah pertemuan-pertemuan mereka semakin membuat dekat? Ataukah Tristan akan meledak dalam rasa kesal dan marah karena kata-kata Joan? Atau justru mereka akan menciptakan skandal?

-----------------

Biasanya tema cinta yang bermula dari masa kecil dan tema naksir sahabat kakak selalu jadi favorit saya. Jadi, saya memang menikmati banget membaca novel ini di awal-awal. Apalagi si sahabat kakak ini akhirnya jadi bajingan paling berbahaya tapi juga sekaligus paling diminati di kalangan ton. Aiiih... makin gemes kan ya jadinya, pengin sang hero ini akhinya klepek klepek dimabuk cinta. Emm... baiklah saya akui, itu memang klise. Tapi toh saya tetap selalu suka membaca kisah-kisah klise begini.. >.<

Love and Other Scandal bersetting di London pada tahun 1822. Meski nggak terlalu mendetail, tapi suasana London yang pikuk dan situasi sosialnya tertangkap dengan jelas. Dua hal yang menarik adalah toko buku yang menyediakan bacaan-bacaan nakal yang didatangi Joan secara sembunyi-sembunyi, dan balon udara yang dinaiki Joan bersama Tristan. Saya yang phobia ketinggian ini mungkin bisa mempertimbangkan naik balon udara asal merasakan pengalaman yang sama dengan Joan: dipeluk Tristan. Hahaha...

Karakter novel ini juga unik karena menghadirkan sosok heroine yang nggak sempurna. Joan Bennet punya tubuh yang terlalu sintal dan terlalu tinggi sehingga nggak cocok mengenakan pakaian-pakaian mode terbaru. Itu sebabnya meski Joan telah menjalani empat kali season, belum ada satu pun lamaran yang diterimanya. Namun, Joan punya semangat dan tekad besar juga kecerdikan yang bisa membuat Tristan Burke mati kutu.
Keluarga Bennet merupakan keluarga bangsawan yang nggak kaku, terutama sosok sang ayah yang lebih santai dan hangat dibanding para pria bangsawan pada umumnya. Lagipula, keluarga Bennet rupanya lebih mengutamakan cinta demi kebahagiaan putrinya daripada berusaha menjodohkan Joan dengan bangsawan yang memiliki gelar lebih tinggi.

Sejak membaca What A Gentleman Wants yang merupakan seri pertama dari trilogi Reece Family, saya sudah jatuh cinta dengan cara bertutur Caroline Linden. Apalagi konfliknya pun bukan hanya berkutat pada kisah cinta sang hero dan heroinenya saja. Ada ketegangan konflik yang besar dan mengancam para karaktenya. Sayangnya hal tersebut nggak saya temui di Love and Other Scandal ini. Cerita ini murni naik turunnya hubungan Joan dan Tristan. Bagaimana sang bajingan bertekuk lutut dan berusaha merayu adik sahabatnya. Puncak konfliknya pun hanya berupa skandal yang terjadi ketika Joan dan Tristan tiba-tiba menghilang setelah terlihat berdansa di tengah pesta dansa.
Saya kira penyelesaiannya akan lebih rumit, tapi toh menilik dari betapa bijaknya sang baronet, rasanya mustahil. Saya juga berharap akan ada pembicaraan panjang antar pria antara Douglas dengan Tristan, tapi rupanya nggak terjadi. Padahal di awal saya sudah terpesona dengan bromance mereka yang tampak solid.

Secara keseluruhan, Love and Other Scandal memang nggak menyajikan skandal menggemparkan, tapi cukup manis untuk dibaca. Kadar hotnya lumayanlah, nggak terlalu bikin kipas-kipas dan hanya satu adegan (agak kecewa sih sebenarnya 😛). Semoga saja buku keduanya lebih seru dari buku pertama serial Scandalous ini.

Kamis, 03 November 2016

[Resensi] Unlocked - Courtney Milan

Judul buku: Membuka Hati Sang Lady
Judul asli: Unlocked
Seri: Turner #1,5
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Harisa Permatasari
Proof: Nindy
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2013
Tebal buku: 200 halaman
ISBN: 978-602-03-0090-0



BLURB

Lady Elaine Warren tidak menyukai pesta. Ia selalu menjadi bulan-bulanan karena tawanya yang dianggap terlalu keras dan seperti kuda. Itulah sebabnya ia sengaja tak menonjolkan diri dan berusaha tidak menarik perhatian dalam setiap acara. Dan semuanya baik-baik saja, sampai pria itu kembali. Pria yang hanya akan membuatnya sengsara seperti dulu. Namun ia bertekad takkan membiarkannya menang.

Evan Carlton, Earl of Westfeld, sangat populer dan berpengaruh. Terlalu berpengaruh hingga olok-oloknya terhadap Elaine bertahun-tahun lalu bertahan hingga kini. Evan tahu perilakunya di masa lalu tak terpuji, dan sekarang bertekad akan memperbaikinya. Namun ketika Elaine mengabaikan permintaan maafnya, Evan menyadari ia menginginkan lebih. Dan kali ini, yang menyiksanya mungkin cintanya kepada wanita itu... 


RESENSI

Setelah sepuluh tahun meninggalkan London dan berpetualang mendaki gunung, Evan Carlton kini kembali ke ton sebagai Earl of Westfeld setelah kematian ayahnya. Dulu Evan adalah anak emas—tampan, populer dan disukai semua orang. Ia gemar melontarkan lelucon yang membuat orang-orang tertawa paling nyaring, termasuk Lady Elaine.
Sejak awal season, Evan telah terpesona pada Lady Elaine, namun merasa malu ia membuat lelucon konyol tentang tawa Lady Elaine yang mirip kuda. Semua orang tertawa, dan mulai mengolok Lady Elaine. Evan baru menyadari kesalahannya saat Elaine mulai menarik diri. Rasa bersalah Evan pun membuatnya melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari London.
Elaine tak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Evan. Meski berusaha tegar dan tak memedulikan ejekan orang-orang, jauh di dalam dirinya ia merasakan sakit hati terhadap Evan. Namun kini, pria itu kembali dan menyatakan permintaan maaf dan bahkan melamarnya. Apakah ini hanya trik perangkap lain untuk mempermalukannya? Ataukah Evan memang bersungguh-sungguh?

------------------

Unlocked atau Membuka Hati Sang Lady adalah novella tambahan untuk seri Turner. Tadinya saya berharap, Courtney Milan akan menuliskan kisah Richard Dalrymple. Namun karena minat asmara Richard cenderung menyimpang, tentunya bakal sulit menuliskannya. Dan jujur saja saya sama sekali nggak punya bayangan tentang siapa Lady Elaine dan Evan Carlton, serta apa hubungan mereka dengan kakak-beradik Turner. Baru di pertengahan cerita disebutkan bahwa Elaine pernah disebut-sebut sebagai calon potensial untuk Mark Turner, dan bahwa ia juga merupakan teman dekat Margareth, Duchess of Parford.
Itu sebabnya saya merasa novella ini bisa dinikmati bahkan meski pembaca belum mengenal Turner bersaudara. Karena kehadiran Ash, Margareth dan Mark hanya muncul sekilas, itu pun mendekati akhir cerita.

Unlocked bersetting di Hampshire di bulan Juli tahun 1840, tentunya setting di mana Ash telah menikah dengan Margareth dan Mak masih melajang. Meski berupa novella, Courtney Milan tetap saja detail dalam menuliskan settingnya, membuat tempat dan suasana terbentuk dengan mudah di benak saya. Bukan dalam bentuk narasi-deskripsi panjang yang melelahkan, namun diselipkan dalam adegan-adegan yang penting, sehingga semakin memperkuat jalinan kisahnya.

Dikisahkan menggunakan sudut pandang orang ketiga, novella ini memuaskan batin saya dengan curahan perasaan Evan yang melimpah di dalamnya. Sudut pandang yang saya suka banget. Plotnya begitu rapi dan mengalir. Saya sendiri masih tetap tergila-gila pada cara bertutur Courtney Milan, bayangkan saja, saya nangis DUA KALI membaca novella ini, ditambah berlinang air mata satu kali.
Memang nggak bisa dipungkiri kalau kisah love-hate relationship adalah favorit saya. Benci jadi cinta. Bagaimana sang hero kemudian berusaha keras mendapatkan hati sang heroine. Saya selalu jatuh cinta pada kisah klise ini. Tapi Courtney Milan menuliskannya dengan begitu apik dan menyentuh.

Karakter Evan sungguh dewasa, terlepas dari sikap sembrononya di masa muda: pria muda yang populer tapi melakukan kesalahan pada gadis yang dipujanya. Keputusannya untuk lari meninggalkan London memang pengecut, tapi ia mengubahnya menjadi petualangan yang membentuk pribadinya. Perjalanannya menaiki gunung membuatnya sadar. Lagi-lagi Courtney Milan menunjukkan kepiawaiannya dalam membuat detail tentang profesi Evan.
Saya suka bagaimana Evan berusaha bersikap gentleman, dan juga tak ragu mengungkapkan perasaannya.
Elaine di sisi lain merupakan gadis yang kuat hati. Ejekan dan cemoohan yang diterimanya membuatnya menjadi teguh. Ia begitu cerdas dalam membalikkan ejekan Diana, dan menantang mereka semua dengan berani.

Kalau ditanya adegan mana yang saya suka dalam novella ini, jawabanya adalah semua. Saya suka adegan-adegannya, saya suka dialognya, saya suka penggambaran suasananya, dan juga suka suara serta kepedihan hati Evan.

"Aku akan menjadi temanmu pada siang hari. Aku akan memperlakukanmu sebagai rekan setara di semua ruang dansa terang benderang. Tapi sendirian, di bawah cahaya bulan, aku takkan berpura-pura tidak menginginkanmu menjadi milikku." (hlm 136)

Konfliknya bukan hanya tentang usaha Evan mendapatkan maaf dan hati Elaine, tapi juga konflik antara Diana dan Elaine. Diana merupakan bangsawan yang masih berpegang bahwa ia harus menindas agar tidak ditindas. Perannya sebagai antagonis dalam novel ini sangat pas dan ngeselin banget. Ia mengejek, melakukan trik licik, mencari-cari kelemahan Elaine untuk menindasnya, dan menolak gagasan Evan untuk menghentikan cemoohannya.
Penyelesaian konfliknya memang bisa ditebak. Tapi toh tetap terasa manis. Aaahhh pokoknya saya suka dengan endingnya.

Secara keseluruhan, Unlocked menjadi kisah tambahan yang sama memesonanya seperti kisah tiga bersaudara Turner. Bahkan novella inilah yang paling menyentuh saya. Jadi bagi kamu penyuka kisah cinta yang manis silakan baca Unlocked.

Rabu, 02 November 2016

[Resensi] Unraveled - Courtney Milan

Judul buku: Sang Hakim dan Sang Penyaru
Judul asli: Unraveled
Seri: Turner #3
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Harisa Permatasari
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2014
Tebal buku: 448 halaman
ISBN: 978-602-03-0342-0



BLURB

Sebagai hakim, Smite Turner yang juga dikenal sebagai Lord Justice sangat berdedikasi terhadap tugasnya. Namun di balik itu semua, tak hanya ada keteguhan untuk melakukan apa yang benar, tapi juga rahasia masa lalu yang terus menghantui. Dan Smite bertekad akan terus menyembunyikan rahasia tersebut meski itu berarti ia harus menjaga jarak dengan semua orang—hingga suatu hari muncullah wanita mencurigakan di pengadilannya...

Selama ini Miranda Darling selalu sukses menjalankan tugasnya, setidaknya sampai ia bertemu Lord Justice. Miranda tahu seharusnya ia melarikan diri jauh-jauh ketika pria itu mengancam akan memenjarakannya. Namun ia tak sanggup melakukannya, apalagi setelah ia mengenal pria itu, dan mulai menyibak rahasianya...

RESENSI

Sekali lagi Miranda Darling menyamar dan mendatangi sidang yang dipimpin oleh Smite Turner. Ia telah melakukannya beberapa kali dan berhasil tanpa ketahuan. Sebenarnya ia ragu melakukannya karena ia merasa Smite Turner atau yang lebih dikenal sebagai Lord Justice sangat mengerikan. Namun Miranda tak mampu menolak perintah Sang Patron. Bagaimana pun ia berhasil hidup di jalanan tanpa disentuh para kriminal, karena perjanjiannya dengan Sang Patron. Miranda akan melakukan apa yang diperintahkan Sang Patron, dan Sang Patron akan menjamin keamanannya dan keamanan Robbie.
Namun mata dan ingatan Smite tak bisa ditipu. Ia tahu persis bahwa Miranda telah datang beberapa kali di sidangnya dengan menyamar. Mengikuti instingnya, Smite membuntuti Miranda hingga ke sudut paling kumuh di Bristol. Niat awal Smite adalah memperingatkan Miranda untuk jangan datang lagi ke persidangannya dan mengambil risiko melakukan kesaksian palsu. Namun, Smite tak menyangka, gadis kurus dan biasa itu berhasil memikatnya. Dan Smite pun menawarkan perjanjian. Menjadikan Miranda sebagai wanita simpanan selama sebulan, dan sebagai balasannya Miranda mendapatkan rumah dan uang agar Miranda bebas dari kehidupan jalanannya. Hanya saja, tak boleh ada kasih sayang di antara mereka.
Miranda pun setuju.
Hanya saja, Sang Patron rupanya tak berniat melepaskan Miranda. Seolah, ia punya rencana yang melibatkan Miranda.
Bisakah Miranda lepas dari ikatan perjanjiannya dengan Sang Patron? Dan setelah satu bulan, akankah hubungannya dengan Smite berakhir?

------------------

Dari pertama kali mengikuti seri Turner, saya sudah jatuh cinta pada Smite. Bagi saya, Smite itu unik. Rumit. Karakter hero yang jarang-jarang saya temui. Dia dingin, menjaga jarak, padahal bergelimang kasih sayang dari kakak dan adiknya. Saya juga dibuat penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Bukan dari sudut pandang Ash, bukan dari sudut pandang Mark, tapi dari sudut pandang Smite sendiri. Mengapa Smite jadi terlalu keras pada diri sendiri?

Bersetting di Bristol pada tahun 1843, novel historical romance ini nggak bergelimang gaun indah dan pesta dansa. Ini kisah tentang kehidupan jalanan yang keras. Antara hukum yang sesuai undang-undang dan hukum jalanan. Dan tentang sang magistrat yang terbelah antara prinsip yang dipegangnya dan belas kasih yang mulai dikenalnya sejak bertemu dengan Miranda. Saya suka dengan settingnya, terutama setting suasananya. Benar-benar menggambarkan Bristol di abad 19 secara detail. Dari catatan penulis di halaman terakhir novel ini, saya juga mendapati mengapa kisah ini begitu matang. Riset yang dilakukan oleh Courtney Milan sungguh luar biasa. Courtney Milan bahkan sampai mendatangi Kantor Berkas Bristol demi untuk memperdalam tulisannya tentang perilaku para magistrat. Segala kisah tentang banjir di Somerset, kerusuhan Bristol tahun 1831, Undang-Undang Reformasi, Municipal Corporations Act, SS Great Britain, bahkan hal seremeh surat tilang yang diterima Richard Dalrymple pun diriset dengan sungguh-sungguh. Keren.

Plot Unraveled atau Sang Hakim dan Sang Penyaru ini sungguh rapi. Alurnya mengalir maju dan apa yang terjadi di masa lalu muncul sekilas-sekilas dalam momen yang pas. Saat Smite mengunjungi penjara dan mendengar suara kecipak air yang berasal dari hukuman yang harus dihadapi para tahanan, kengerian masa lalunya muncul. Begitu juga dengan masalah usangnya dengan Dalrymple, alasan mengapa mereka berseteru muncul dengan alami. Saya rasa cara bercerita Courtney Milan memang enak untuk diikuti, disamping penerjemahan dari pihak GPU yang juga rapi dan apik.

Untuk tokohnya, Smite benar-benar semakin bikin saya jatuh hati. Sebagai hakim, ia tegas, tajam dan mau mendengarkan. Ia menelaah dan nggak asal membuat keputusan seperti magistrat lain. Dan yang bikin saya mengidolakan Smite adalah ingatannya yang luar biasa. Ia mengingat apa saja dengan mudah, bahkan hal remeh sekalipun. Tragedi yang ia lalui memang membuatnya trauma, tapi bukannya menyembuhkan diri, Smite menjadikan tragedi itu sebagai pengingat prinsipnya. Hanya pria yang punya tekad besar dan kekuatan diri yang bisa begitu.
Di Unveiled, Ash memiliki kekurangan yang sangat menonjol. Demikian juga dengan Mark di Unclaimed. Saya tahu semestinya Smite pun diberi kekurangan, tapi karena saya sudah terlanjur jatuh hati, saya nggak bisa memutuskan yang mana kekurangan Smite. ^^
Miranda Darling saya rasa memang pas untuk Smite. Saya suka bagaimana cara Smite memanggil nama Miranda. Sama seperti Miranda, saya pun bertanya-tanya saat Smite mengucapkan nama Miranda.

" Saat kau memanggilku Miranda Darling, apa kau memanggilku Miranda Darling sebagai namaku, atau kau mengatakan Miranda, koma, darling?" (hlm. 208)

Miranda memiliki cara berpikir yang unik yang nggak terbayang oleh saya. Membuat hubungan mereka semakin menarik. Sikap dan ucapannya menghibur dengan caranya sendiri. Mencintai Smite tapi nggak berniat mengubahnya atau menyembuhkannya.

"Apa? Dia akan jatuh cinta dan berubah menjadi pria biasa? Siapa pun yang mencintainya tidak akan menginginkan hal itu. Itu sama seperti mencintai samudra, tapi berharap akan berubah menjadi segelas air." (hlm.318)

Konfliknya cukup seru walau nggak terlalu mencekam. Meski sebenarnya berpotensi menjadi thriller, tapi toh konflik cinta antara Miranda dan Smite lebih menyita kisah ini. Namun meski sudah paham akan kemana semua ini berakhir, saya toh tetap terkejut juga dengan tersingkapnya jati diri sang patron. Saya nggak menyangka sama sekali. Courtney Milan menyamarkan fakta dengan cukup baik.
Endingnya memang luar biasa. Momen Smite-Ash yang telah saya tunggu sejak awal akhirnya muncul. Lega rasanya.

Overall, Unraveled menjadi kisah penutup yang manis bagi seri Turner bersaudara. Diceritakan dengan detail yang apik dan tokoh yang sama-sama unik, saya rekomendasikan novel ini untuk para pembaca historical romance yang menyukai kisah yang lain dari yang lain.

Sabtu, 24 September 2016

[Resensi] Scandal of The Season

Judul buku: Skandal Terbesar
Judul asli: Scandal of The Season
Seri: The Spinster Club #4
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Tikah Sofyan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2013
Tebal buku: 456 halaman
ISBN: 9786020222219

It


BLURB

“Bagaimana kalau kita lihat caramu menerima ciumanku?” 

Sebelum Victoria sempat mundur, Anthony menarik dan menciumnya. Kemarahan akibat dibohongi mereda ketika wanita itu membuka bibirnya sedikit. Anthony memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya, menikmati pertemuan lidah mereka. Entah mengapa Victoria merasa ingin mendorong Anthony agar melepaskannya, namun ciumannya berkata sebaliknya. 

Apakah reaksi itu merupakan respon yang ia pelajari dari profesinya? Apakah ia senang berpura-pura menjadi pelacur yang lugu? Perlahan Anthony menjauh dan tersenyum seraya menatap raut Victoria yang kebingungan. Raut wajah Victoria bukan raut wajah seorang perempuan yang terpaksa menerima ciuman. Anthony mengangkat dagu Victoria. “Kalau kau terus menciumku seperti tadi, aku sendiri akan mengira kau menginginkanku.”


RESENSI

Sudah sepuluh tahun berlalu sejak Somerton melakukan hal yang tidak pantas terhadap gadis penjual jeruk yang ditaksirnya. Beberapa tahun terakhir ini, dengan gencar Somerton berusaha mencari tahu di mana gadis itu dengan bantuan Sophie, si cenayang. Dan kali ini secara melegakan, Sophie akhirnya memberi tahu di mana gadis itu berada saat ini.
Dan petunjuk Sophie membawa Somerton kepada Victoria, gadis pemalu dan kutu buku yang merupakan teman Sophie. Sayangnya di hari ketika Somerton berinteraksi dengan Victoria, Somerton kehilangan kalung berharga milik ibunya. Takjub akan kenyataan, Somerton membuat perjanjian dengan Sophie. Mereka akan saling bekerja sama dan Victoria harus berpura-pura menjadi wanita simpanan milik Somerton. Semua demi misi terakhir Somerton. Akankah mereka berhasil?

---------------------

Akhirnya saya memutuskan membaca Scandal of The Season, saking ngebetnya saya untuk menelusuri kisah percintaan Somerton, tokoh favorit saya dari seri The Spinster Club. Sejak awal, Somerton selalu hadir dalam kisah-kisah sebelumnya sebagai agen alias tangan kanan Sophie dalam mencomblangkan para anggota klub perawan tua. Somerton dibalik sikapnya yang kelihatan bajingan dan seenak pantatnya sendiri itu, pastilah hero yang paling potensial di antara hero lainnya.

Dan untungnya harapan saya terwujud. Novel Scandal of The Season bukan saja menghadirkan hero idaman saya, tapi juga heroine yang luar biasa dan bikin saya takjub. Di novel sebelumnya, saya sama sekali nggak tertarik ataupun terkesan pada Victoria, dia seolah hanya pelengkap dalam kelompok kecil itu. Namun ternyata Victoria pun sama cerdiknya dengan Somerton. Kesan yang saya tangkap selama ini runtuh seketika saat mengetahui profesi Victoria sebenarnya. Victoria merupakan pencopet yang canggih, yang beberapa kali membuat Somerton harus mengakui kelihaiannya.
Tentunya seru banget mengikuti kisah cinta antara mata-mata kerajaan dan seorang pencopet. Sungguh perpaduan yang menarik dan membuat jalinan cerita ini makin mengasyikkan.

Buku keempat dari seri The Spinster Club ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan fokus utamanya bergantian antara Somerton dan Victoria. Alurnya mengalir maju dengan setting tahun 1807 pada awalnya, ketika saya dibawa ke tahun yang krusial bagi Somerton, Anne Smith dan Lady Whitely. Kemudian di bab selanjutnya, setting telah maju ke tahun 1817, tepat sepuluh tahun dan menjadi waktu yang tepat bagi Sophie untuk menjodohkan Somerton dan Victoria.

Novel ini pun berbeda dengan novel sebelumnya dari seri The Spinster Club. Betapa tidak, Scandal of The Season menyajikan misteri akan latar belakang kedua karakter utamanya di samping petualangan mereka dalam menjalankan misi melindungi prinny. Jadi, novel ini bukan hanya kisah cinta berbau skandal saja, tapi juga memberi kisah usaha Somerton dan Victoria dalam menyelidiki dan menuntaskan misi mereka. Kisah yang seru dan mendebarkan.
Namun karena saya sebelumnya sudah membaca buku kelimanya, asal-usul dan latar belakang keluarga Somerton sudah nggak mengagetkan saya lagi. Hahaha...

Saya suka dengan interaksi antara Somerton dan Victoria. Dialog yang mereka lemparkan satu sama lain begitu hidup dan intens. Chemistry di antara mereka berdua saya rasa merupakan chemistry terbaik jika dibandingkan dengan tokoh di novel yang lain dalam seri yang sama ini. Apalagi ketika tiba di saat sudut pandang terfokus pada Somerton, duuuh bikin klepek-klepek deh ungkapan perasaan dan penderitaan hatinya.
Cara Somerton cemburu pada Nicholas dan Hardy itu manis banget. Yaaah... ini kan dunia novel ya, jadi tokoh utamanya gampang cemburuan sih bebas aja. Tapi kalau di dunia nyata, cowok cemburuan mah tinggalin aja. Jangan diberi kesempatan untuk berbaikan. Wkwk~

Saya suka cover versi terjemahan ini. Bisa dibilang saya jatuh cinta pada cover novel historical fiction dari penerbit Elex Media Komputindo, karena selalu menampilkan gaun-gaun yang indah dengan warna yang cerah. Sayangnya untuk penerjemahannya masih kurang bagus dan banyak sekali typo dalam novel ini.

Overall, saya suka banget dengan Scandal of The Season. Sebuah kisah dengan karakter tokoh yang menarik dan beda dari yang lain. Seorang hero yang terluka hatinya, seorang heroine yang badass-nya minta ampun, dan sebuah konflik berbahaya yang berpotensi menyatukan mereka. Sungguh kisah yang luar biasa manis dan romantis.

Kamis, 22 September 2016

[Resensi] Every Time We Kiss - Christie Kelley

Judul buku: Setiap Kali Kita Berciuman
Judul asli: Every Time We Kiss
Series: The Spinster Club #2
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Layna Ariesianti
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: November 2011
Tebal buku: 384 halaman
ISBN: 9786020013404



BLURB

Wanita itu menghela napas, suara yang indah yang membuat perhatiannya kembali fokus ke bibir Jennette yang penuh dan berwarna merah jambu.
"Aku harus membuat rencana percomblangan ini dengan lebih baik lagi."

Dia mendekat selangkah ke Jennette, menyadari saat ini mereka sudah berdiri terlalu dekat dengan satu sama lain.
"Mungkin kau memang tidak ingin melakukannya dengan lebih baik?"
Jennette menengadah. "Maksudmu?"
"Mungkin kau tidak mau mencarikan seorang pengantin untukku."
"Tapi... Oh, tidak," katanya sambil menyunggingkan senyum tipis dan menggeleng "Aku tidak akan menikah denganmu."
"Mungkin," bisiknya. "Tapi tidakkah kau ingin tahu apa yang akan kau lewatkan?"
Mata Jennette yang biru berkilau jahil. "Tidak juga."

Dia mengusap pipi Jennette dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan sampai wanita itu gemetar. "Tidak pernahkah kau menginginkan seorang berandalan di ranjangmu?"
"Seseorang sepertimu?"
"Persis."


RESENSI

Setelah lima tahun dikucilkan oleh kalangan ton, tiba saatnya bagi Matthew untuk kembali ke masyarakat kelas atas. Ini semua karena kematian ayah dan kakaknya, yang membuatnya mewarisi gelar Earl of Blackburn. Namun sayangnya, ton masih belum bisa memaafkan kesalahan fatalnya. Tak ada yang bisa melupakan fakta bahwa Matthew telah membunuh John, tunangan Lady Janette Selby, lima tahun lalu.
Maka untuk membantunya mendapatkan istri yang sesuai dengan mas kawin yang besar, Matthew justru meminta bantuan Jennete. Karena sesungguhnya hanya mereka berdua yang tahu dengan pasti apa yang terjadi di hari naas lima tahun yang lalu.
Janette bersedia membantu. Namun semakin lama ia mencari kandidat istri bagi Matthew, semakin tak karuan rasa hatinya. Ia mendapati bahwa ketertarikannya pada pria itu tak pernah memudar, begitu juga dengan Matthew. Sekuat tenaga Jennete berusaha melawan perasaannya, karena baginya Matthew terlalu baik untuknya.

--------------------

Every Time We Kiss merupakan buku kedua dari seri The Spinster Club. Seri yang membuat saya tertarik karena selalu melibatkan skandal para heroinenya. Setelah membaca seri pertama dan seri kelimanya, kali ini saya memutuskan untuk membaca Every Time We Kiss.
Namun jika dibandingkan dengan skandal yang menghebohkan antara Avis dan Lord Selby, kakak Jennete, di Every Night I'm Yours, kisah dalam novel ini cenderung flat dan membosankan.

Sebenarnya saya menyukai ide cerita dan konflik novel ini yang belum pernah saya temukan di novel dengan tema senada. Tentang seorang pria yang saking cintanya dan saking gentleman-nya mau melindungi si gadis dan memikul semua kesalahan. Rasanya sungguh mustahil. Hebat benarlah kalau memang ada di dunia nyata.
Sisi romantis saya (jiaaah ngaku-ngaku kalau romantis) menganggap tindakan Mattew benar-benar manis dan romantis. Tapi sisi rasional saya rasanya pengen mencak-mencak dan berharap Matthew mendapatkan keadilan. Terutama ketika Mattew diserang secara verbal oleh Mr. dan Mrs. Marston di hadapan seluruh tamu alias separuh ton. Huhuuu rasanya jadi pengin peluk Mattew.
Karakter Matthew benar-benar karakter hero yang sempurna. Dia mengaku seorang bajingan, tapi toh dia punya rasa tanggung jawab dan gentleman banget. Bukan bajingan sejati semacam Somerton (dan betewe saya masih tetap naksir berat pada Somerton dan masih menanti waktu untuk membaca kisahnya). Beberapa kali Mattew punya kesempatan untuk mengkompromi Jennete, tapi tetap saja ia membatalkannya. Hanya demi nama baik Jennete. Duuuh... so sweet banget nggak sih? *meleleh*
Sementara Jennete sebagai heroine yang cukup menyenangkan. Saya suka dengan kecerdasannya, dengan kemampuannya mengendalikan para lelaki di sekitarnya, keahliannya mendebat Selby, juga bakat-bakatnya yang membuat ia bukanlah gadis bangsawan yang membosankan. Tapi rasanya capek juga membaca pengingkaran yang dilakukannya. Kalau cinta ya cinta aja lah neng, nggak usah dibuat repot. Hahaha...
Sebab lucu rasanya melihat Jennete sibuk mencari jodoh yang tepat untuk Matthew, namun setiap kali melihat Matthew berdua saja dengan seseorang calon istri potensial, Jennete bakal langsung bete. Duh, kasihan kau, Nak.

Konfliknya cukup bagus. Ada banyak peran yang muncul, tapi jangan kuatir karena nggak bakal membingungkan. Kali ini konfliknya bukan saja berasal dari dalam diri hero dan heroinenya saja, tapi juga ada konflik yang berasal dari luar. Nah, untuk pembawa konflim dari luar inilah yang membuat saya mengurangi poin novel ini.
Well, memang banyak hero di novel-novel lain yang punya sejarah seks yang luar biasa. Banyak yang disebutkan punya mantan kekasih yang hebat. Namun, Matthew di sini sebelum kembali ke masyarakat kalangan atas, telah memelihara seorang kekasih. Walau hal ini banyak dilakukan oleh bangsawan pada masa itu, saya tetap merasa terganggu mendapati Matthew telah main perempuan cukup lama. Dan sepertinya Jennete nggak ada nasalah dalam hal itu. Huhuu.. kok malah saya yang baper ya saat tahu Matthew punya gundik selama beberapa tahun.

Untuk terjemahan novel ini sayangnya masih banyak terdapat typo, entah kekeliruan nama antara Anthony dan Nicholas, juga kesalahan penulisan kata. Saya juga kurang sreg dengan penyebutan "bujang" sebagai kata ganti untuk "pelayan". Aneh saja kedengarannya. Tapi secara keseluruhan tetap enak dibaca dan cukup luwes.

Yah, Every Time We Kiss yang jelas bukanlah novel favorit saya dalam seri The Spinster Club, tapi lumayan seru dan mengasyikkan. Mengikuti kisah cinta yang terpendam selama lima tahun dan terungkap setelah sang hero kembali. Hah, saya jadi pengin memutar lagu KLBK-nya Yovie Nuno jadinya :))))
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon