Senin, 08 Februari 2016

[Resensi: Let Me Be With You - Ria N Badaria] Mengizinkan Cinta untuk Mendampingimu


Judul buku: Let Me Be With You
Penulis: Ria N Badaria
Editor: Nuriyah Amalia
Desain cover: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2015
Tebal buku: 352 halaman
ISBN: 978-602-03-1326-9



BLURB

Tidak tahan karena terus didesak menikah oleh keluarganya, Kinanti akhirnya menerima ide gila Rivan Arya, sahabat kakaknya yang telah ia kenal sejak SMA. Mereka akan menerima perjodohan yang diatur tersebut, menikah, dan tinggal bersama demi menyenangkan keluarga sambil menjalani aktivitas masing-masing. Tetapi, bila suatu saat salah satu pihak terganggu dan merasa tidak cocok bersama, mereka akan bercerai baik-baik. Tak disangka, perjodohan bisa juga menyenangkan. Kebersamaan yang mulanya kaku dan canggung, perlahan mulai menumbuhkan perasaan nyaman, sayang, dan saling membutuhkan kehadiran masing-masing. Namun sayangnya, bayang kelam masa lalu terus mengendapendap mengikuti. Satu demi satu rahasia yang disembunyikan Rivan terancam menghancurkan keeping-keping perasaan cinta yang pelan-pelan Kinanti serahkan untuk pria itu. Akankan mereka terus bersama, atau berakhir seperti kisah-kisah yang ditulis Rivan Arya, sang penulis novel best seller itu? Terpaksa mengakui bahwa cinta adalah rasa yang selalu mengguratkan luka dan menyisakan air mata.


RESENSI

Kinanti merasa lelah mendapat pertanyaan yang sama dari waktu ke waktu, apalagi kalau bukan pertanyaan kapan menikah. Terutama ketika kakaknya mulai bertunangan, keluarga besarnya pun mulai gencar menanyakan pertanyaan yang sama. Dan siapa sangka kalau kakak laki-lakinya, Harlan, berniat menjodohkan Kinanti dengan teman SMA-nya, Rivan.
Rivan yang telah kembali dari Kanada dan menjadi penulis bestseller nasional merasa senang dengan sambutan keluarga besar Kinanti. Ia yang berasal dari panti asuhan dan diangkat anak oleh keluarga yang akhirnya bercerai, tentunya sangat merindukan suasana kekeluargaan yang melingkupi keluarga Kinanti. Hal itu ditambah fakta bahwa dulu ia pernah suka pada Kinanti, membuat Rivan setuju untuk menikah dengan Kinanti.
Kinanti sendiri belum bisa melupakan perasaannya pada Dimas. Tunangannya yang meninggal karena kecelakaan. Tapi kelembutan dan kesabaran Rivan membuat Kinanti luluh dan akhirnya ikut setuju.
Mampukah mereka menjalani bahtera rumah tangga dengan pondasi yang rapuh? Akankah mereka saling mencinta? Ataukah diam-diam ada badai besar yang mengancam rumah tangga mereka?

----------------

Bisakah kamu menjalani pernikahan tanpa memiliki perasaan yang kuat dengan pasanganmu? Seperti Kinanti dan Rivan dalam novel ini?
Kalau saya sih enggak. Haha~
Itu sebabnya saya penasaran dengan hubungan Kinanti dan Rivan.

Sayangnya di awal saya sudah dibuat nggak relate dengan si tokoh wanita. Sebagai pembaca buku dan menemukan tokoh wanita di dalam buku yang nggak suka membaca itu... bikin kesel. Saya jadi nggak terkoneksi dengan si tokoh wanita.
Bila Kinanti memang diharuskan nggak pernah membaca novel karya Rivan sebelumnya,  kan bisa dibuat Kinanti ini suka membaca tapi bukan genre roman, misal pembaca fiksi atau apalah. Karena tokoh yang nggak suka membaca itu langsung bikin saya nggak bisa 'masuk' ke karakternya. Nggak memahaminya. Dan nggak bisa memposisikan diri sebagai si tokoh.

Gaya bercerita Ria cukup bagus di awal. Saya menikmatinya, namun tiba di bagian konflik, yang nggak cuma satu, tapi empat konflik sekaligus—orang ketiga di pihak Rivan, orang ketiga di pihak Kinanti, penyakit, saudara yg tiba-tiba muncul—bikin saya pusing. Fokus masalah jadi terpencar dan nggak total.

Saya suka dengan interaksi antara Kinanti dan sahabatnya, juga interaksi Harlan dan Rivan. Lepas dan asyik. Hanya saja begitu Kinanti bertemu dengan Rivan, interaksinya jadi kaku. Bahkan setelah menikah, saya mulai mempertanyakan usia Kinanti, kok kayaknya Kinanti ini masih berusia belasan ya dari gaya bicara dan pola pikirnya?

Saya juga mencatat adanya inkonsistensi penggunaan kata "saya" dan "aku" di bab-bab awal ketika Kinanti dan Rivan belum menikah.

"Aku nggak tersinggung sama sekali kok, Kak, kemarin Kak Rivan juga pasti bingung karena dugaan keluarga saya." (hlm. 74)

Inkonsistensi ini sering banget terjadi dan terasa sangat mengganggu.

Menggunakan POV orang ketiga, novel ini beralur cukup cepat. Adegan-adegannya cukup singkat untuk kemudian beralih ke adegan lainnya lagi. Cara bercerita Ria cukup enak diikuti seandainya saja tokohnya lebih logis dan masuk akal.
Karena memang bisa dibilang tokohnyalah yang bikin geregetan.
Terutama Rivan. Terlebih Rivan.
Entah memang sifat Rivan atau bagaimana, tapi dia terlalu tebar pesona. Hey, nggak masalah kalau hero punya sahabat wanita yang sangat dekat. Usap-usapan kepala, atau memeluk itu biasa. Tapi itu dilakukan dengan rasa sayang yang beda.
Sayangnya Ria menuliskan deskripsi gestur Rivan saat melakukannya pada Sherly sama dengan saat melakukannya dengan Kinanti. Sehingga terkesan Rivan melakukannya karena cinta.
Ini membuat saya mengerutkan kening, apa-apaan nih si Rivan?
Dan cukup lelah juga dengan kengototan Rivan untuk tetap bungkam tentang penyakitnya. Sebagai penulis roman bestseller ternyata pria tetap nggak peka perasaan wanita ya.

Di penghujung cerita, penyelesaiannya lagi-lagi membuat saya tercengang. Drama lagi?

Well, meski tokoh ceritanya cukup bikin naik darah dan lelah lahir batin, tapi saya nggak kapok dan pengen nyicip buku karya penulis ini lagi. Semoga saja di karya berikutnya saya bisa lebih menikmatinya.
Bagi kalian yang ingin membaca kisah cinta berliku dan penuh konflik, kalian bisa coba membaca novel ini. Asal kalian nggak keberatan dengan karakter tokohnya :)

Minggu, 07 Februari 2016

[Resensi: Stand by Me - Indah Hanaco] Ketika Cinta Terhalang Rentang Usia


Judul buku: Stand By Me
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Juli 2014
Tebal buku: 340 halaman
ISBN: 978-602-02-4576-8





BLURB

Selama bertahun-tahun, Ralph menyaksikan bagaimana Mya tumbuh menjadi gadis kepala batu dan cenderung judes. Selama itu pula hubungan mereka tetap berada pada dua sisi yang berpunggungan. Hingga suatu malam Mya yang patah hati bersumpah akan menikahi teman kakaknya. Tentu saja yang dimaksudnya bukan Ralph, karena hati Mya sudah telanjur takluk pada pesona Chris. Tapi, cinta tetaplah salah satu misteri terbesar semesta. Hingga suatu ketika Mya menyadari bahwa hatinya kini menghendaki sosok lain untuk menjadi tempat penitipan hatinya. Ralph.
Namun, masa lalu Ralph dengan sederet panjang para mantan, tidak mudah untuk diabaikan. Belum lagi perbedaan usia yang terentang jauh di antara keduanya. Juga keraguan yang kerap menyudutkan Ralph dan Mya ke tempat asing.
Namun keduanya kian menyadari bahwa perasaan istimewa sudah membenamkan mereka terlalu jauh. Nyaris tidak ada kesempatan untuk membebaskan diri tanpa tersakiti. Pertanyaannya, cukupkah cinta mereka menjawab semua rintangan yang siap melukai?


RESENSI

Perayaan ulang tahun Mya Devri Aryanata yang ke-16 masih berupa ritual yang sama. Makan malam bersama ibu, abangnya, Nicholas, dan ketiga sahabat sang abang: Joe, Chris dan Ralph. Tapi malam itu Ralph terlambat datang dan menyebabkan Mya mengomel panjang.
Ralph cukup kaget karena Mya menunggunya, padahal selama ini hubungan mereka yang paling renggang jika dibandingkan hubungan Mya dengan Joe ataupun Chris. Mya lebih betah saling tukar ejekan dengan Joe atau bicara panjang dengan Chris daripada dekat-dekat Ralph yang irit kata dan playboy.
Tapi usia enambelas memang membawa perubahan pada Mya, bukan dalam kejudesan dan kekeraskepalaannya tentu saja, tapi pada perasaan hatinya yang mulai mengenal kata: cinta. Mya menganggap dirinya jatuh cinta pada Chris yang penyayang dan penuh perhatian. Maka ia pun membuat sumpah bahwa ia akan menikah dengan salah satu teman abangnya. Tapi rupanya sumpah itu didengar oleh Ralph!
Sayangnya Chris hanya menganggap bercanda pernyataan cinta Mya. Perbedaan usia sepuluh tahun membuat Chris selalu menganggap Mya masih bocah. Dan Chris justru malah memperkenalkan kekasihnya, Isabel pada Mya. Hanya Ralph yang tahu bahwa Mya sedang patah hati dan berusaha menghibur gadis itu.
Lama-lama kedekatan Mya dan Ralph membawa kenyamanan yang tak mereka duga. Kali ini akankah perasaan Mya berbalas? Ataukah lagi-lagi ini hanya sekadar fase dalam masa remaja Mya? Atau malah, setelah Chris dan Ralph apakah Mya juga akan jatuh cinta pada Joe juga?

-------------

Berapa jarak usiamu dengan pasanganmu? Atau berapa jarak usia ideal yang kauinginkan dengan pasanganmu? Lebih tua, sepantar, atau lebih muda?
Saya sendiri punya jarak usia 16 tahun dengan suami, jadi saya doyan banget sama novel yang perbedaan usianya jauh seperti dalam novel Stand by Me ini.
Meski sebenarnya ada juga yang membuat alergi di novel ini. Hmm~ empat cowok dan satu cewek dalam satu lingkaran itu sebenarnya sudah saya hindari saking sempat jamaknya.
Tapi membaca novel ini memberi sensasi yang berbeda, karena salah satu pria dari empat sekawan ini adalah abang dari si tokoh utama. Abang sungguhan. Duh, bikin ngiri aja, deh. Saya juga mau tiap kali bangun tidur sudah ada cowok ganteng nongol di rumah. Wkwkk~

Stand by Me diceritakan menggunakan dua jenis POV. Pada bab satu, POV menggunakan POV orang ketiga. Memasuki bab dua, POV menggunakan POV orang pertama dari sisi Mya. Lanjut ke bab tiga, POV menggunakan POV orang pertama dari sisi Ralph. Kemudian bab empat dan lima POV kembali menjadi POV orang ketiga.
Ceritanya mengalir dengan lincah, kocak dan menghibur. Terutama melihat (membaca) ceplas-ceplosnya Mya.

Setting Pematang Siantar dalam novel ini saya rasa cukup kental. Bukan hanya dari deskripsi ataupun lokasi-lokasi yang disebutkan tapi juga karena pengucapan panggilan 'bang' bagi para abang-abang dalam novel ini. Hanya saja yang bikin saya heran, kenapa sih Ralph dan yang lain menganggap panggilan 'Bang Domu' itu mengerikan? Ada alasan khusus ataukah karena terdengar nggak enak aja? Padahal kan itu unyu. *digaplok Ralph*

Semua karakter dalam novel ini benar-benar loveable. Saya kesulitan memutuskan pengen peluk yang mana. *lah emang siapa yang minta dipeluk?*
Saya suka dengan gaya ceplas-ceplos dan blak-blakannya Mya, karena Mya ini sedikit mirip dengan saya dalam hal ngomong ngasal nggak pakai dipikir. *GR* *kunyah udon kuah udang*
Sementara Ralph langsung mencuri perhatian saya dengan gigi berantakannya. Soal lesung pipit saya nggak terlalu tertarik, pria berlesung pipit di keluarga saya banyak. *sombong*. Tapi cowok dengan gigi berantakan itu lebih seksi. Menurut versi saya, sih. Haha~
Dan percayalah, cowok yang bisa masak itu seksi. Sumpah!
Saya suka banget dengan interaksi Mya dan Ralph yang alami dan kompak. Yang satu meledak-ledak yang satu sabar banget. Mereka pasangan favorit saya, deh.

Konfliknya sangat ringan dan mudah diselesaikan. Khas problema remaja. Kegamangan, kegalauan dan kecemburuan yang meledak-ledak. Ah... remaja, memang bikin iri.

Overall, saya lagi-lagi dibuat jatuh cinta dengan karya Indah Hanaco. Penulis ini memang mirip bunglon, karena mampu menulis beberapa genre dengan pas dan sama ciamiknya.
Bagi kalian yang suka dengan cinta beda usia ataupun kisah cinta remaja yang manis, it's so recommended!

Sabtu, 06 Februari 2016

[Resensi: First Love - Helga Rif] Pertemuan Kembali dengan Sang Cinta Pertama


Judul buku: First Love
Penulis: Helga Rif
Editor: Dewi Fita
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: Rak Buku
Tahun terbit: Mei 2014
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 978-602-168-401-6



BLURB

We Meet people and fall in love....

Seharusnya jatuh cinta itu mudah kan?
Seharusnya, putus cinta pun semudah itu, jika kita sudah tidak bisa berjalan bersama kenapa memaksakan hal yang tidak mungkin.

Begitu pun yang diyakini Alvira dan Guntur... dulu. Saat waktu mempertemukan mereka kembali, kenapa sulit sekali bagi keduanya untuk menganggap cerita lama hanya bagian dari sejarah. Rasa itu terlalu kuat untuk diabaikan. Hmmm... bagaimana jika memang mereka memang meant to be for each other?

Ah... jatuh cinta seharusnya tidak serumit ini kan?


RESENSI

Alvira merasa kelimpungan saat klien yang menggunakan jasa wedding organizernya menginginkan menu masakan india. Ia sudah menghubungi beberapa usaha katering yang biasa bekerja sama dengannya namun tak ada yang sanggup memenuhi permintaan menu masakan India. Hingga ia menemukan Delicious Catering, satu-satunya katering milik Dania yang bisa menyediakannya.
Saat mereka melakukan test food, Alvira dipertemukan dengan chef dari Delicious Catering, dan siapa sangka bahwa chef itu adalah Guntur, kekasih Alvira semasa SMA dulu. Hubungan mereka berakhir saat Guntur harus meneruskan kuliah di Swiss.
Pertemuan itu bagai membuka kotak kesedihan dan kegalauan Alvira. Terutama ketika Guntur mulai intens mendekatinya lagi. Alvira merasa gamang. Antara rasa rindu dan rasa takut tersakiti lagi.
Ketika satu malam penuh kerinduan dan cinta yang mereka bagi menghadirkan sebuah detak nyawa baru, akankah mereka bersama lagi? Demi cintakah? Atau hanya demi kewajiban?
Atau kali ini penghalang yang lebih besar akan kembali menghadang bersatunya hati mereka?

------------

First love. Cinta pertama.
Pertemuan kembali dengan cinta pertama. Aaaarghhh...
Dan saya pun jadi inget lagu kesukaan saya, Gereja Tua yang dinyanyikan oleh Panbers. *sudah setua itukah saya?* wkwkwk~
Sepuluh tahun berlalu. Sepuluh tahun dan masih memiliki perasaan yang sama. Wow hebat!

Novel ini diceritakan dengan POV orang ketiga, dengan fokus utamanya adalah Alvira dan Guntur. Alurnya maju dengan sedikit flashback, saat Alvira mengenang kembali kebersamaannya dengan Guntur saat di SMA.
Membaca novel ini cukup menyenangkan pada awalnya hingga saya tiba pada keplin-planan dan kelabilan Alvira. Di titik itu saya jadi capek. Nggak tahu apa maunya Alvira sebenarnya.
Ada rasa frustasi saat konflik yang sebenarnya sederhana jadi berlarut-larut dan berputar-putar nggak jelas.
Padahal konfliknya sebenarnya punya potensi yang bagus bila menyerang sisi yang tepat.

Saya suka ide WO dan usaha katering ini, yang sebenarnya juga punya potensi konflik yang kuat. Dan yang menjadi catatan saya, alangkah lebih masuk akalnya jika menu makanan yang diminta klien atau dimasak Guntur ini jelas bernama. Karena penyebutan "sebuah menu india' dan 'masakan ini' masih terasa kurang nyata. Saya bertanya-tanya masakan apa itu? Alangkah sempurnanya jika penulis bisa meriset tentang makanan-makanan india dan memasukkannya ke dalam cerita ini.

Cara bertutur Helga Rif masih terasa bertele-tele dan berputar-putar. Tapi ada beberapa adegan yang mulus dan asyik terutama saat Alvira dan Guntur berinteraksi. Adalah beberapa moment yang chemistrynya bagus dan mengena.
Namun saat Alvira bertemu Dania, di situ terasa banget kaku dan basa-basinya. Ada dialog yang seolah dibuat untuk mencairkan suasana tapi kesan kakunya kerasa. Padahal Alvira diceritakan sudah berkecimpung di bisnis WO selama lima tahun, mestinya ia bisa luwes bernegosiasi tanpa basa-basi yang kaku. Seminder apa pun dia.

Ini memang pengalaman pertama saya membaca karya Helga Rif dan saya merasa belum kapok dan masih ingin membaca karyanya yang lain.

Yah, saya merasa novel ini lumayan untuk dinikmati di kala senggang, di kala sedang ingin mengenang cinta pertama. Atau saat sedang ingin baper gara-gara ingat setan eeh.... mantan. ;)

Jumat, 05 Februari 2016

[Blogtour: Review + Giveaway] Sesaat di Keabadian - Mezty Mez


Judul buku: Sesaat di Keabadian
Penulis: Mezty Mez
Editor: Ayuning dan Bayu Novri Lianto
Desainer sampul: Maspri
Penerbit: EnterMedia
Tahun terbit: Oktober 2015
Tebal buku: 130 halaman
ISBN: 979-780-835-1
Harga buku: Rp. 42.000,-




BLURB

Ini tentang seseorang yang istimewa di hatiku; seseorang yang tak bisa aku lupakan meski telah lama pergi.
Ini juga tentang seseorang yang mampu membahagiakanku; seseorang yang tak bisa aku tinggalkan di babak kehidupan selanjutnya. Mungkin ceritaku ini sedikit berlebihan,
tapi aku jujur menuliskannya. Bukankah tak ada yang lebih indah dari saling mencintai?

Aku bisa jadi salah seorang perempuan yang beruntung di bumi ini, mungkin saja. Tapi tanpa mereka?
Entahlah bagaimana aku jadinya.

Apakah kamu tahu takdir tentang cinta yang paling menyakitkan itu apa? Jawabannya adalah kamu tidak ingin orang-orang yang mencintaimu patah hati lalu terluka.

Kamu tak perlu setuju dengan jawabanku, karena cinta punya bahasanya sendiri. Percayalah, apa yang aku alami jauh lebih buruk dari sekadar patah hati.
Sampai di sini, maukah kamu mendengar ceritaku selanjutnya?


RESENSI

Sudah empat tahun Dante pergi. Penantian tiada akhir yang lama-lama mengikis harapan Rena secara perlahan. Padahal Dante berjanji akan pulang untuk melamarnya, tapi penantian Rena tak kunjung menemukan temu.
Alex yang selama ini ada di sisi Rena, menyaksikan penantian gadis itu merasa terenyuh. Bukan saja karena ia juga telah kehilangan sahabatnya, Dante, tapi juga karena di hati Alex telah tumbuh perasaan lain. Sekuat tenaga Alex berusaha menepisnya dengan cara menyakiti diri. Merusak diri.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Dante? Akankah Dante muncul dan menjawab segala penantian dan air mata Rena? Ataukah Rena akan berpaling pada cinta Alex yang selalu setia?

------------

Saya menghabiskan waktu membaca buku ini dengan waktu yang luar biasa cepat. Kurang dari seperempat hari! Bukan hanya karena bukunya yang tipis dan ukuran fontnya yang besar tapi juga karena bahasanya yang simpel dan mudah dicerna.

Sesaat di Keabadian diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga dengan fokus utamanya pada Rena dan Alex. Hanya saja menurut saya POV orang ketiga ini seolah masih membentengi saya sebagai pembaca dengan para tokoh utama. Perasaan mereka kurang sampai pada saya. Seandainya kegelisahan mereka juga diungkapkan melalui gestur dan gerak-gerik yang lebih spesifik, pastinya kegundahannya akan lebih sampai lagi.
Saya sedikit dibingungkan dengan timeline-nya, karena kecelakaan terjadi di tahun 2008 tapi di tahun 2013 mengapa Rena bilang kalau sudah menanti selama empat tahun?
Dan saya rasa adegan di bab awal itu mungkin akan lebih baik jika diletakkan di belakang, sebagai additional scene atau fragmen, agar nggak merusak twist yang ada di endingnya. Itu akan lebih twisting menurut saya.
Tapi karena ini adalah novel lanjutan dari Hai, Luka dan saya belum membaca novel tersebut, mungkin saja adegan awal itu sudah terjadi di novel selanjutnya.
Dan melihat ending Sesaat di Keabadian yang saya kira twist ending, sepertinya akan ada lanjutan lagi dari novel ini. :))

Pengkarakteran tokohnya kurang tereksplor, cenderung ditekankan melalui deskripsi dari penulis dan bukan ditunjukkan secara alami melalui gestur, dialog ataupun pola pikir sang tokoh.
Karakter Alex semestinya bakal bisa mencuri perhatian, karena ia digambarkan sebagai pria tangguh namun berusaha mati-matian mengendalikan diri.

Mezty Mez beberapa kali menggunakan kalimat asosiasi dalam novel ini. Indah dan mengena. Kalimat-kalimat bijak yang cantik yang bisa jadi membuat baper kalau saya juga tengah menanti seseorang seperti Rena. ^^

Secara keseluruhan novel ini cukup menghibur dengan kisahnya yang ringan. Simple and warm.


-----------GIVEAWAY TIME-------------




Naah sekarang waktunya saya untuk kembali bagi-bagi hadiah berupa satu buah novel Sesaat di Keabadian bagi kamu yang beruntung!
Hoohhoo... sudah nggak sabar kan?

Caranya mudah saja:
1. Peserta tinggal atau memiliki alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @OnlyMezty @ Entermedia3 dan akun saya @KendengPanali
3. Share info giveaway ini dengan hashtag #SesaatDiKeabadian dan jangan lupa mention ketiga akun di atas.
4. Follow blog ini melalui GFC atau email.
5. Menjawab pertanyaan di bawah ini dengan menyertakan Nama | Akun twitter | Nama yang digunakan untuk memfollow blog | alamat email

Sesaat di Keabadian adalah kisah tentang penantian. Share dong lagu favorit kalian yang mengisahkan tentang penantian. Yang sekiranya bakal cocok untuk jadi soundtrack membaca novel ini ;)

6. Giveaway akan berlangsung selama 6 hari dan akan saya tutup pada tanggal 10 Februari 2016 pukul 23.59 WIB.
Pemenang akan diumumkan serentak di blog www.ach-bookforum.blogspot.co.id pada tanggal 12 Februari 2016.
7. Yang terakhir good luck yaa :)

Kamis, 04 Februari 2016

[Resensi: Perjalanan Hati - RIawani Elyta] Menemukan Jawab dalam Nostalgia Perjalanan


Judul buku: Perjalanan Hati
Penulis: Riawani Elyta
Editor: Dewi Fita
Perancang sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: Rak Buku
Tahun terbit: 2013
Tebal buku: 194 halaman
ISBN: 978-60-217-5596-9




BLURB

Suara dari masa lalu itu masih berembus kencang.
Menyergapku dalam rindu yang dingin.
Ia bercerita tentang sebuah rasa yang terus tumbuh dan
terpelihara. Jika tidak pada tempatnya, maka ia tak ubahnya ilalang kering.
Kusadari, bayang-bayangmu tak hadirkan rasa benci, tetapi rindu yang perlahan-lahan berembus

Ini cerita tentang aku

Aku yang menapaktilasi masa lalu, mencoba mencari rasa yang terserak untuk menetapkan hati
Aku yang berjalan mengitari hatinya, mencoba mencari getaran itu kembali
Ketika semua terasa hampa, apakah kau masih mau berdiri di sana....
Menungguku pulang dan memeluk erat


RESENSI

Tiba-tiba saja Maira meminta izin pada suaminya, Yudha, untuk ikut rombongan backpacker menuju gugus Anak Krakatau. Padahal sejak menikah dua tahun lalu, Maira telah menuntaskan hobinya berpetualang di alam setelah melakukan pendakian ke Gunung Leuser. Yudha curiga, kebulatan tekad Maira ada hubungannya dengan kedatangan Donna beberapa hari sebelumnya. Donna, mantan pacar Yudha yang paling lama berhubungan dengan Yudha.
Tapi Maira tak menjawab desakan pertanyaan Yudha. Ia memang gelisah, tapi ia ingin mencari jawaban kegundahannya melalui perjalanan backpacker kali ini. Karena ia tahu melalui adiknya bahwa Andri pun turut serta dalam rombongan. Andri, sesorang yang teramat akrab dengan masa lalu Maira.
Maka dimulailah perjalanan Maira, menyusuri liku perasaannya dan menelaah rindu yang sesungguhnya. Meski semakin lama ia sadar, ia bukannya mendapatkan jawaban tapi 'perjalanannya' bisa saja menjadi jerat bagi dirinya sendiri. Jerat nostalgia yang dibawa oleh Andri.
Bisakah Maira mengurai simpul hatinya? Bisakah Maira memaafkan dosa-dosa Yudha? Atau justru ia akan terjebak nostalgia?

--------------

Membuka novel ini saya langsung senyum-senyum sendiri, apalagi kalau bukan karena menemukan nama tokohnya yang sama dengan nama putra pertama saya. Yudha dengan huruf 'h'. Hehe~

Novel ini memang tipis, hanya 191 halaman sehingga cepet banget dituntaskan. Tapi justru ceritanya padat dan langsung  to the point, nggak berputar-putar.
Konfliknya memang nggak serta merta terungkap, baru setelah beberapa bab saya tahu alasan apa yang membuat Maira pergi. Kenapa Donna memberi pengaruh yang begitu besar dan apa sebenarnya kabar yang dibawa Donna.

Novel ini diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga, dan fokus utamanya pada Maira dan Yudha. Bergantian saya dibawa menyelusuri kegundahan mereka masing-masing, bagaimana perang batin dalam diri mereka. Ditambah lagi, diksi yang digunakan Riawani Elyta membuat saya terhanyut dalam mengikuti kisah ini.
Dan nggak tahu bagaimana, mungkin karena gaya berceritanya, atau diksinya yang puitik, atau dialognya, atau mungkin temponya, kok ya saya malah kebayang adegan-adegan ini berasa di dalam film jadul. Saya kok kebayangnya Yessy Gusman sama Rano Karno yang memerankan kisah ini. Huwahaha~ astagaa imajinasi sayaah!

Semua tokoh dalam karakter ini terasa dewasa bagi saya. Entah berapa umur mereka, saya lupa ada disebutkan atau enggak, semua punya cara pikir yang logis. Terutama cara berpikir Donna, yang belakangan malah mencuri simpati dan perhatian saya.

Yang paling saya suka dari novel ini adalah detail settingnya. Terutama ketika sampai di Anak Krakatau. Sejak awal memang nuansa pencinta alamnya sudah kental, karena ketiga tokoh utamanya: Maira, Yudha dan Andri adalah pencinta alam. Namun penggambaran situasi Anak Krakatau itu yang juara. Saya suka banget dengan detail-detailnya.

Secara keseluruhan saya suka novel ini. Meski tipis tapi menyajikan cerita yang mendalam. Tentang sebuah perjalanan. Tentang sebuah kepercayaan. Tentang memaafkan dan berdamai dengan masa lalu.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Pernikahan nggak selamanya menjadi gembok besar yang menghalangi kesempatan orang lain untuk memasukinya selama yang empunya juga selalu alpa memasang gembok itu rapat-rapat." (hlm. 53)

"Rintangan ada untuk kita hadapi dan taklukkan, bukan untuk dihindari apalagi sampai mencari pelampiasan jika merasa tak sanggup menghadapinya." (hlm. 117)

Rabu, 03 Februari 2016

[Resensi: Wheels and Heels - Irene Dyah] Ketika Cinta Menyingkap yang Ada Di Balik Roda dan Sepatu Hak Tinggi


Judul buku: Wheels and Heels
Penulis: Irene Dyah Respati
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: Elex Media Kompitindo
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 310 halaman
ISBN: 978-602-02-7547-5
Book available at: Bukupedia.com



BLURB

Pangeran memalsukan citra saat bertemu Cinderella di belantara
Cinderella memalsukan busana saat berdansa dengan Pangeran di Istana
Dan toh, mereka bahagia selamanya


Abhilaasha tak bisa lepas dari gaun mewah, high heels, dan dunia gemerlapnya. Sedangkan, Aidan selalu lekat dengan kemeja aneh, serbakaku, dan dunia otomotifnya.

Dua dunia berbeda itu mempertemukan Abby dan Aidan.

Mereka berperan, berpura-pura, beradu dalam rahasia.

Ketika kejujuran ditunjukkan oleh masing-masing pemeran, apakah semua akan tetap sama?


RESENSI

Abhilaasha atau yang biasa dipanggil Abby dari luar tampak seperti gadis glamour. Betapa tidak, dengan kaki jenjang, wajah cantik dan tubuh sempurna, Abby seolah begitu nyaman bekerja sebagai usher dan talent.
Ketika menjalani pelatihan produk untuk motor show, Abby bertemu dengan Aidan, sang trainer yang kaku dan serius tapi berulang kali tertangkap mata sedang memelototi kaki Abby!
Entah mengapa Aidan gampang memerah dan tak mau memandang wajah Abby, berulang kali Aidan lebih suka menatap langit-langit ruangan ataupun kaleng kerupuk daripada menatap Abby. Hingga niat iseng Abby muncul karenanya.
Satu pertemuan disusul pertemuan yang lain. Lama-lama Abby menyadari betapa Aidan sangat misterius. Kadang pria itu tampak malu-malu dan grogi, tapi terkadang tampak berseri-seri mendekati Abby, lain kali begitu serius dan kebanyakan waktu selera humornya garing parah.
Tapi mereka masing-masing punya rahasia sendiri. Jati diri yang mereka selubungi. Latar belakang Abby. Latar belakang Aidan. Semua tak seperti apa yang terlihat dari luar.
Abby pun lalu merasa ada jurang yang memisahkan mereka. Akankah mereka bisa membangun jembatan di atasnya atau malah memperlebar jarak jurang mereka? Ataukah sebenarnya jurang itu hanyalah sebuah ilusi saja?

-------------

Wheels and Heels. Judulnya matching ya. Hehe~ Seperti yang kita tahu, mobil dan wanita memang nggak bisa dipisahkan. Di setiap pameran mobil terutama mobil mewah, pasti ada wanita-wanita cantik yang mengobral senyum padahal setengah mati tersiksa dengan high heels yang mereka pakai.
Wanita-wanita yang seolah cuek saja ditatap judes sama ibu-ibu rese atau dipelototin mata-mata pria nakal yang minta diculek.

Yah inilah yang coba diungkap novel Wheels and Heels. Abby sangat mewakili para usher dan talent yang kadang harus pasrah ditatap sinis karena profesi mereka tapi dipuja para fotografer dan kamera.
Saya suka banget ide profesinya yang fresh dan juga sifat yang ditanamkan pada para tokohnya.

Wheels and Heels diceritakan menggunakan POV orang pertama dari sudut pandang Abby. Plotnya rapi dan ceritanya mengalir dengan begitu alami. Naik-turunnya hubungan Abby dan Aidan benar-benar bikin gemas.

Saya suka banget karakter-karakter dalam novel ini. Saling bertolak belakang dan kontras banget. Abby rada-rada konyol. Kadang. Cewek cantik memang rata-rata pede ya, langsung ngerasa kalau ada cowok yang merhatiin. Untung bukan cuma kege-eran. Haha. Saya suka karena dia punya prinsip. Dan lumayan drama juga. Haha~
Nicolette lebih asyik lagi. Blak-blakan, ketus, sinis tapi perhatian banget. Sahabat yang nggak sungkan-sungkan ngomong kalau Abby salah, yang berani mengkritik tapi perhatian nggak ketulungan.
Dan Aidan... ya ampuuun, ngegemesin gilak! Ada ya pria mapan, ganteng dan pintar tapi malu-malu sama wanita. Dan selera humornya yang parah itu... duh Aidan beneran harus sering-sering diseret nonton standup comedy.

Hal yang suka dari Irene Dyah adalah caranya membangun emosi yang kuat antar tokoh. Interaksi antar tokohnya selalu asyik dan chemistry-nya terasa kental. Hubungan tokohnya selalu cair bahkan dengan karakter yang kaku dan serius. Dialognya terasa hidup bahkan meski dengan kalimat baku.

Konflik Wheels and Heels bisa saya bilang masih terlalu ringan. Saya kira konflik di Tambora itu bakal jadi konflik yang menajam, dan sempat berpikir kok konfliknya klise begini. Tapi oh tapi, ternyata ini konflik yang mudah diselesaikan dan menjadi twist yang melegakan.

Covernya polos-polos unyu deh. Simple, dan warna mobil sama high heelsnya kontras dengan warna latar dan judul. Manis, tapi masih kurang mengundang bagi saya.
Di bagian dalam, gambar bunga matahari langsung menangkap perhatian saya. Cantik. Dan saya suka bagaimana di awal bab selalu diawali dengan status update-an facebook Abby. Lucu-lucu. Dan kini, setiap melihat milo saya pasti akan ketawa karena teringat Abby dan Aidan. Duh.

Akhirnya saya simpulkan saya sukaaaa novel ini. Saya suka gaya bertutur Irene dan nggak akan mikir dua kali buat baca karya-karya beliau berikutnya. Saya rekomendasikan novel ini buat kalian yang suka novel ringan dengan karakter yang nggak keberatan untuk terlihat konyol dan bodoh di depan pembacanya. Saya saja dibuat menangis dua kali dan ngekek ribuan kali.

Selasa, 02 Februari 2016

[Resensi: Scarlet - Marissa Meyer] Si Kerudung Merah dan Sang Serigala


Judul buku: Scarlet
Series: Lunar Chronicles #2
Penulis: Marissa Meyer
Penerbit: Square Fish
Tahun terbit: 2014
Jumlah halaman: 512 halaman
ISBN: 978-1-250-03763-3
Book available at: bukupedia.com



BLURB

Cinder, the cyborg mechanic, returns in the second thrilling installment of the bestselling Lunar Chronicles. She’s trying to break out of prison—even though if she succeeds, she’ll be the Commonwealth’s most wanted fugitive. 

Halfway around the world, Scarlet Benoit’s grandmother is missing. It turns out there are many things Scarlet doesn’t know about her grandmother or the grave danger she has lived in her whole life. When Scarlet encounters Wolf, a street fighter who may have information as to her grandmother’s whereabouts, she is loath to trust this stranger, but is inexplicably drawn to him, and he to her. As Scarlet and Wolf unravel one mystery, they encounter another when they meet Cinder. Now, all of them must stay one step ahead of the vicious Lunar Queen Levana, who will do anything for the handsome Prince Kai to become her husband, her king, her prisoner.


RESENSI

Scarlet Benoit kesal bukan main saat mendapat pesan dari Departemen Orang Hilang Kepolisian Toulouse yang menyatakan kasus hilangnya neneknya, Michelle Benoit, ditutup. Padahal neneknya telah hilang selama dua minggu. Hanya karena orang-orang menganggap neneknya eksentrik, kepolisian menganggap neneknya sengaja menghilang.
Kemarahan Scarlet memuncak saat tengah mengantarkan hasil pertaniannya ke kedai, orang-orang di sana yang menonton penangkapan Cinder di pesta dansa Persemakmuran Timur mengolok-ngolok gadis itu. Scarlet geram karena ia merasa mereka terlalu memojokkan seorang gadis yang baru berusia 16 tahun. Di tengah keributan itulah Scarlet mendapat pertolongan dari Wolf, seorang petarung jalanan.
Sepulanngnya ke rumah, Scarlet syok melihat ayahnya mengacak-acak rumah mereka mencari rahasia apa yang disembunyikan sang nenek. Rupanya sang ayah telah ditangkap orang-orang yang juga telah menculik neneknya. Orang-orang yang memiliki tato sederet huruf dan angka. Huruf LSOP. Tato yang dimiliki Wolf.
Bertekad mencari neneknya, Scarlet mendatangi Wolf. Benarkah Wolf yang telah menculik nenek Scarlet dan menyiksa ayah Scarlet? Apa yang disembunyikan pria itu?

Di belahan bumi yang lain, Cinder sedang berusaha melarikan diri dari penjara. Tanpa sengaja ia masuk ke sel Carswel Thorne, mantan kadet tentara Republik Amerika. Bersama-sama mereka bekerja sama meloloskan diri.
Meski belum sepenuhnya tahu apa yang harus ia lakukan, dan meski dokter Erland telah menyuruhnya untuk datang ke Afrika segera setelah ia lolos, Cinder masih ingin menyelidiki masa lalunya.
Berbekal informasi yang didapatnya dari android milik Kaisar Kaito, Cinder dan Thorne menuju ke Prancis, untuk menemui seseorang yang ia anggap tahu akan asal-usulnya.

Dua orang gadis, dari belahan bumi yang berbeda, memiliki misinya sendiri-sendiri, memiliki dongengnya sendiri. Akankah kisah mereka memiliki ujung temu? Apa yang akan dilakukan Ratu Levana saat tahu Cinder kabur? Dan bagaimana usaha Kaito menyelamatkan bumi dari amukan kemarahan Levana?

-----------

Scarlet merupakan buku kedua dari seri Lunar Chronicles, setelah membaca Cinder dengan endingnya yang setengah mati bikin penasaran, Scarlet memberi kisah yang semakin seru dan menegangkan.
Semoga resensi ini nggak terlalu berspoiler ria tentang apa yang terjadi di buku pertama. ^^

Scarlet sendiri merupakan remake dari dongeng Si Kerudung Merah. Ada beberapa hal dalam Scarlet yang sangat khas dari dongeng tersebut. Seperti kerudung merah Scarlet, serigala yang berbulu domba (atau sebenarnya domba yang berbulu serigala), juga mengenai sang nenek.

Setting waktunya masih sama dengan Cinder yaitu di Third Era, masa setelah perang dunia keempat, namun setting tempatnya kali ini ada di Prancis, Federasi Eropa.

Ceritanya mengalir lambat dan detail banget. Konstruksi dystopianya kental dan seolah-olah memang nyata. Saya suka bagaimana Marissa membagi porsi petualangan dua heroine ini dengan latar kisah yang berbeda. Saya asyik mengikuti kelanjutan cerita Cinder tapi juga menikmati kisah baru yang nggak kalah seru dan lebih.... romantis.
Yap. Scarlet lebih terang-terangan dalam hal romansa, mungkin karena usianya lebih tua dari Cinder dan mungkin karena Wolf memang terlalu memesona. Oke fix, bye Emperor Kaito, saya lebih suka Wolf ternyata. Haha~
Yaa gimana ya, serigala itu favorit saya. Garang tapi juga pemalu. Kyaaa *heboh fangirling*

Saya juga lebih suka Scarlet, karena Scarlet cenderung berani dan pengambil risiko. Nggak sepemalu Cinder. Mungkin karena latar belakangnya tumbuh dicintai sang nenek dan punya teladan yang kuat. Berbeda dengan Cinder yang dibesarkan oleh ibu angkat yang menganggapnya sebagai beban.

Hmm~ karena saya baca versi aslinya saya baru tahu kalau tato Wolf ternyata juga diterjemahin dalam novel terjemahannya. Tato Wolf yang asli bertuliskan LSOP962 namun di terjemahan yang akan diterbitkan Penerbit Spring tato Wolf menjadi TSOK962. Mungkin karena menyesuaikan penerjemahan singkatannya ya?

Secara keseluruhan saya suka novel ini. Petualangan dan pertarungannya lebih seru. Tentunya karena mulai ada Wolf dan Thorne yang memang tipe petarung. Kalau di Cinder kan nggak mungkin Kaito jotos-jotosan. Hanya saja bagi penggemar Kaito harus menelan kecewa karena Kaito cuma muncul sebentar-sebentar.
Let's see, apa yang akan terjadi di novel Lunar Chronicles berikutnya: Cress? ;)
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon