Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2016

[Resensi] A Thousand Miles in Broken Slippers - Rosi L. Simamora

Judul buku: A Thousand Miles in Broken Slippers (Leo Consul's Life Story)
Penulis: Rosi L. Simamora
Editor: Mirna Yulistianti
Proofreader: Sasa
Desain sampul & ilustrasi isi: Itjuk Rahayu
Setter: Fitri Yuniar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2016
ISBN: 9786020319780



BLURB

Aku dilahirkan di Bolinao, Filipina, di tengah keluarga miskin. Ayah hanya pekerja serabutan, sedangkan Ibu tukang cuci dan pedagang asongan. Sementara sejak berumur delapan tahun, aku sudah jadi pemulung dan tukang bersih bus antarkota.

Masa kecilku getir dan sulit. Bukan hanya disebabkan kemiskinan yang melilit, namun karena kebencian dan penolakan yang dilontarkan dunia padaku. Termasuk oleh kakak-kakakku, yang membenciku karena ayah mereka sangat menyayangiku. Ya, "ayah mereka", kataku, karena aku ini anak dari hubungan di luar pernikahan.

Tapi justru ayah tiriku itulah yang menjadi penyelamatku. Ia obat bagi setiap lukaku. Ia membentukku dengan nasihatnya, mencintaiku sepenuh jiwanya. Dialah yang membuatku terus berjuang menjadi murid terpandai di sekolah, merebut medali demi medali, meski ke mana pun aku pergi, kakiku hanya beralas sandal jepit yang menipis digerus langkah.

Tapi seperti kata Ayah, "Jangan biarkan sandal jepitmu menjadi jati dirimu."

Maka aku percaya, tak ada satu pun yang tak dapat kucapai, meski kakiku hanya beralaskan sandal jepit usang.


RESENSI

Leo Consul atau yang biasa dipanggil Dong terlahir dari keluarga miskin di Bolinao, Filipina. Hidupnya sangat sulit dan penuh penolakan, karena ia adalah anak haram. Tapi Dong tak pernah kehilangan harapan dan mimpi. Ia bekerja keras. Dengan sandal jepit lusuh, baju seragam bekas, Dong selalu menjadi siswa berprestasi. Ia selalu berusaha tampil di beragam perlombaan hanya agar lemenangannya bisa membuat ibunya tersenyum. Tapi, sebanyak apa pun medali yang diperolehnya, setinggi apa pun prestasinya, Dong tetap tak bisa mendapat cinta ibunya. Hanya ayah tirinya, yang mendukung dan mencintainya sepenuh hati.
Begitu lulus kuliah, Dong kesulitan mendapatkan pekerjaan. Saat itulah seorang kenalan menawarinya untuk ikut bekerja ke Jakarta, Indonesia. Dong mengambil kesempatan itu. Siapa sangka, hidup di Jakarta sungguh keras dan Dong terseok-seok menggapai impiannya.

-----------------------

Bagi pengamat layar kaca pertelevisian Indonesia pasti sudah sangat hafal siapa Leo Consul. Sayangnya saya bukan penikmat acara televisi, dan saya baru tahu tentang Leo Consul juga dari buku inspiratif ini. Yah, maklum saja televisi saya hanya menyala jam 5 - 7 sore, itu pun buat nonton Adit & Sopo Jarwo. Mana saya tahu kalau ia adalah salah satu host acara musik Dahsyat. *kunyah tivi* Wkwkwk~

A Thousand Miles in Broken Slippers adalah riwayat hidup penuh liku Leo Consul yang ditulis oleh Rosi L. Simamora. Kalimat yang digunakan sangat indah dan disusun dengan cantik. Sangat menyentuh. Terutama di bagian masa kecil Dong yang amat sangat menginginkan perhatian ibunya.
Ceritanya sangat miris dan nampak sekali bahwa bagi Dong hidup adalah perjuangan tanpa henti. Kepedihan menghampirinya dengan bertubi-tubi tapi ia justru makin kuat. Yang menyakitkan bagi saya adalah membaca sikap perlakuan kakak-kakak Dong yang kejam yang dipicu oleh tindakan sang ayah.
Di bagian ini saya sama sekali gak mengerti apa alasan ayah. Kenapa dia begitu penuh kasih pada Dong yang bukan anak kandungnya, tapi bersikap keras dan main pukul pada anak kandungnya. Apa alasannya? Apa karena Dong penurut? Apa karena Dong berprestasi? Atau ada alasan lain?
Yang membuat saya sedih, kenapa ayah harus bersikap begitu. Sebagai ayah bahkan sebagai orangtua mestinya seseorang bisa bersikap adil pada anak-anaknya. Anak yang tumbuh dengan rasa dihargai pasti akan menjadi tangguh. Sama seperti Dong. Rasa dihargai walau hanya berasal dari sosok ayah dan guru-guru, tapi bisa membangkitkan semangat dan harapan Dong.

Ini adalah kisah tentang harapan dan mimpi yang bisa diraih bukan karena status kelahiran. Tapi masa depan yang diraih dengan tekad kuat dan kerja keras. Kalau orang jawa bilang "ngrekosone kuat". Siapa yang bisa bertahan dalam penderitaan dialah yang akan mendapat kebahagiaan nantinya.

Buku ini benar-benar sangat inspiratif. Penulisannya yang rapi dan timeline alur cerita yang jelas membuatnya enak untuk dinikmati. Saya sendiri membaca buku ini saat sedang liburan dan rasanya saya jadi punya semangat untuk melalui hari-hari penuh kerja keras seusai liburan ke depan.


TEBAR-TEBAR QUOTE


Jika.
Ya, bahkan sampai sekarang pun hidupku masih teramat mengandalkan kata yang satu itu. Tapi toh, bagiku itu cukup. Karena "jika" berarti harapan, setipis apa pun itu. Karena "jika" berarti aku masih berjuang untuk maju, sesulit apa pun itu. Karena "jika" berarti cahaya, seredup apa pun itu. (hlm. ix)

"Tidak ada yang namanya pilihan salah ataupun benar. Setiap pilihan membawa kita ke sesuatu yang akan menggugah atau mematahkan kita. Yang terpenting adalah, kita tahu cara untuk bangkit kembali setiap kali kita terjatuh." - Leo Consul (hlm. 53)

"Jangan biarkan sandalmu menentukan jati dirimu, Dong. Jangan pernah merasa malu ke sekolah hanya mengenakan sandal dan seragam lungsuran yang sudah pudar putihnya. Hanya ada satu cara untuk memperbaiki takdirmu—sekolah. Timbalah ilmu setinggi mungkin, Nak. Jangan seperti ayahmu ini. Biarpun kau tidak menggunakan sepatu bermerek yang mahal, kalau kau terus berjuang dan giat belajar, sandalmu yang hanya seharga lima belas peso ini akan membawamu hingga ribuan mil perjalanan. Mengantarmu ke tempat-tempat jauh, yang tak pernah kaubayangkan pernah ada. Membawamu memetik bunga-bunga impian. Dan aku akan bahagia sekali, Nak. Bahagia untukmu." (hlm. 187)

Kamis, 07 Januari 2016

[Resensi: Rudy - Gina S. Noer] Kisah Masa Muda Sang Visioner


Judul buku: Rudy - Kisah Masa Muda Sang Visioner
Penulis: Gina S. Noer
Redaksi PlotPoint: Amelya Oktavia
Tim riset: Amelya Oktavia & Diva Apresya
Penyunting: Arief Ash Shiddiq, Amelya Oktavia, & Zen R.S
Perancang sampul: Teguh Pandirian
Penerbit: Bentang Pustaka dan THC Mandiri
Tahun terbit: September 2015
Tebal buku: 266 halaman
ISBN: 978-602-291-111-1
Book available at: bukupedia.com




BLURB

Ini adalah perjalanan Rudy menjadi B.J. Habibie.

Rudy adalah kisah yang disusun dari cerita-cerita B.J. Habibie yang belum diceritakan sebelumnya. Ini adalah kisah tentang perjalanan tumbuh dewasa seorang anak laki-laki dan Indonesia yang masih belia.

Tak banyak yang tahu bahwa cita-cita membangun industri pesawat terbang untuk Indonesia justru berawal dari ketakutan Rudy akan pesawat pada masa Perang Dunia Kedua. Tak banyak juga yang tahu kisah cinta tersembunyi Rudy sebelum akhirnya ia bertemu Ainun, cinta sejatinya, dan fakta bahwa Rudy tak terlalu suka kata "mimpi" sebagai kata ganti apa yang sangat ia inginkan. Baginya, "cita-cita" adalah kata yang lebih menjejak nyata.

Dalam buku ini kita akan temukan alasan kenapa Rudy jengah bila dipanggil genius, tapi lebih senang bila disebut sebagai pekerja keras yang setia. Setia pada cita-citanya. Setia pada cintanya. Kita akan mengikuti perjalanan bagaimana B.J. Habibie yang kita kenal datang dari bentukan visi besar orangtuanya, pengorbanan keluarganya, dukungan para sahabatnya, dan inspirasi terbesarnya: Indonesia.


RESENSI

Sebelum membuka lembaran awal kisah Rudy saya sudah dipaksa terharu biru dengan sebuah kalimat pembuka:

Buku ini didedikasikan

kepada tiap orangtua yang terus memberikan usaha terbaiknya
mendidik anak mereka agar tumbuh berguna bagi bangsa,
kepada tiap anak yang tekun berusaha demi bangsa yang lebih baik,
kepada mereka yang terus percaya bahwa bangsa ini selalu punya harapan. 
Kalian adalah Sang Visioner.

Kalian adalah titik mula kebaikan untuk semua. (hlm. vii)

Buku ini memang kisah tentang masa kecil dan masa muda B.J. Habibie atau yang biasa dipanggil Rudy.
Kisah Rudy yang penuh rasa ingin tahu. Berbeda dengan anak kebanyakan yang senang bermain, Rudy lebih senang berpikir dan mencari jawaban akan rasa ingin tahunya. Selalu ada pertanyaan di benak Rudy, dan jika ia tidak bisa mendapatkan jawabannya dari Papi (Alwi Abdul Jalil Habibie) atau dari buku-buku yang dibawakan Papi, Rudy akan melakukan eksperimen sendiri untuk mendapatkan jawabannya.
Kisah menggelikan hadir ketika Rudy begitu penasaran pada balon setelah membaca Lima Minggu di Balon Udara karya Jules Verne. Rudy dan teman-temannya berhasil menemukan benda mirip balon di dekat pelabuhan tapi sayangnya ketika ditiup benda itu tidak jadi bulat seperti kata Papi. Ketika Rudy yang penasaran membawa benda itu pada Papi dan bertanya, Papi malah syok dan mencari Mami, yang membuat Rudy berakhir dengan disuruh berkumur banyak-banyak. Ya ampuuuun... saya ngakak membaca kisah itu.

Buku ini terdiri dari satu prolog, 3 babak dan satu epilog. Selain itu terdapat foto-foto yang sangat "berbicara" di dalam buku ini. Foto-foto itu bukan hanya sebagai pelengkap tapi juga mengungkapkan lebih banyak hal. Saya merasa pemilihan fotonya benar-benar tepat.

Prolog merupakan potongan kisah ketika Rudy diantar keluarga dan kerabat di bandara untuk berangkat ke Jerman. Ada harapan dan keraguan yang saling melintas di benak Rudy saat harus menaiki pesawat yang akan membawanya jauh dari rumah. Sebuah perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Babak 1 adalah babak dengan rentang kisah masa kecil Rudy hingga ia kuliah di Bandung. Bukan hanya berisi kisah masa kecil yang penuh kenakalan dan kelucuan tapi juga masa kelam saat harus mengungsi karena perang dan masa duka karena Papi meninggal.
Dalam babak ini diungkap bagaimana cara Papi dan Mami mendidik putra-putrinya. Bahwa prinsip dan visi merekalah yang mengakar kuat dalam diri Rudy.

Di babak 2 terdapat kisah-kisah Rudy setelah tiba di Jerman dan memulai kuliahnya. Kehidupan yang penuh kerja keras bukan hanya dalam hal pendidikan tapi juga dalam hal bertahan hidup. Rudy yang tak pintar bergaul dan tak sabaran harus beradaptasi dengan lingkungan, hingga ia bisa menemukan sahabat sejati. Dalam babak ini juga terlihat jelas bahwa Rudy memang tak pernah tertarik dengan politik sejak awal. Ia bahkan berani menentang kehendak Presiden Soekarno dan tetap mempertahankan prinsip-prinsipnya.
Dan bukan hanya Rudy saja yang berjuang di negeri orang dengan kiriman uang yang tak pasti datangnya. Di sisi lain ada perjuangan Mami dan saudari Rudy yang berjuang mengumpulkan uang untuk dikirim ke Jerman.

Yang paling menarik tentunya adalah Babak 3 yang bercerita bagaimana Rudy diseret pulang dan dipaksa bertemu Ainun. Rudy yang semula cuek dan enggan bertemu Ainun akhirnya luluh juga. Ini babak yang lebih singkat dibanding dua babak sebelumnya. Dan dengan menikahnya Rudy dengan Ainun maka berakhir pulalah masa muda sang visioner.
Namun masih ada bentangan masa yang harus diperjuangkan termasuk cita-cita yang oleh sebagian besar orang dianggap mustahil. Tapi bukan Rudy namanya kalau tidak keras kepala dan berhenti bekerja keras.

Membaca buku ini memberi banyak pengalaman berharga bagi saya. Bahwa setiap orangtua tak pernah sengaja bersikap pilih kasih tapi orangtua yang baik tahu bagaimana membuat skala prioritas, mana yang harus diutamakan. Dan keluarga adalah penyokong, tak boleh saling iri, semua berdiri sama tinggi dengan kapasitas masing-masing.

Buku ini membuka mata saya bahwa orangtua lah saka guru utama. Apa yang kita tanamkan akan selalu dibawa anak-anak sampai dewasa. Bahwa anak-anak adalah harapan. Bahwa mimpi aah~ bukan, bahwa cita-cita mereka haram disebut mustahil.
Cita-cita selalu akan berhasil dengan pengorbanan, kerja keras, kekeraskepalaan, dukungan keluarga, sahabat dan orang tercinta dan inspirasi yang mengakar kuat di dada. Yang tentunya adalah... rasa cinta pada Indonesia.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Modal seorang ibu adalah suara yang didengar telinganya dan suara hatinya. (hlm. 13)

"Kamu harus jadi mata air. Kalau kamu baik, semua yang di sekelilingmu juga akan baik. Kalau kamu kotor, semua yang di sekitarmu akan mati. Mata air memberi kebaikan tanpa pilih-pilih." - Alwi Habibie (hlm. 49)

Jawaban yang datang dari pencarian akan lebih bermakna dibanding yang sekadar "disuapkan". (hlm. 56)

"Saya masa depan Indonesia. Karena saya muda dan anak muda adalah masa depan. Cikal bakal masa depan dan kalau kamu bantu saya Insya Allah dunia itu tidak buta dan tuli, kita tidak akan dilupakan." - B.J. Habibie (hlm. 180)

"Saya tidak butuh inspirator atau promotor. Yang menjadi inspirator saya adalah amanat penderitaan rakyat Indonesia!" - surat B.J. Habibie kepada Presiden Soekarno (hlm. 183)

"Mimpi? Mungkin karena kamu sebut itu mimpi makanya tidak terwujud, Rud. Mimpi bisa berubah jadi mimpi buruk. Ini lebih besar dari mimpi. Lalu, kamu mau buat apa di Jerman? Sudah banyak orang pintar di sana. Jangan sebut cita-cita itu mimpi. Cita-cita besar itu harus menjadi bagian dari jiwa." - RA. Tuti Saptomarini atau Mami (hlm. 214)

"Aku akan selalu bersama kamu dalam cita-cita itu." - Ainun (hlm. 242)


Selasa, 14 Juli 2015

[Resensi: 3 Sisi Susi - Fyra Fatima] Kisah Kegilaan, Kecerdasan, Kesuksesan dan Keberanian Susi Pudjiastuti


Judul buku : 3 Sisi Susi - Kisah Gila-Gilaan Kecerdasan, Kesuksesan, & Keberanian Susi Pudjiastuti
Penulis : Fyra Fatima
Penyunting : Zulfa Simatur, Fitria Pratiwi, Lis Sutinah
Pendesain Sampul & Penata Letak : EM. Giri
Ilustrasi Sampul : Aminudin Hadinugroho
Penerbit : Visimedia
Tahun terbit : 2015
Tebal buku : viii + 172 halaman
ISBN : 978-979-065-239-2
Available at: bukupedia




BLURB

Sang penerobos! Mungkin cap semacam itu sangat layak kita sematkan pada sosok Susi Pudjiastuti. Pada masa remaja, dia berani melakukan pilihan hidup yang "gila" yaitu meninggalkan bangku SMA. Orangtuanya marah karena biaya untuk sekolah ada dan semua kebutuhan terpenuhi. Dia hanya ingin mandiri, menjalankan hal yang dia anggap mampu. Berawal dari bakul ikan, Susi menjadi pengusaha sukses yang bisa mengekspor sendiri hasil tangkapannya. Ketika ada kebutuhan pesawat untuk membawa hasil laut ke tempat yang jauh dalam keadaan segar, tidak ada pihak perbankan yang yakin bahwa Susi bisa membayar. Empat tahun kemudian, barulah ada pengusaha nasional yang bersedia memberikan dana. Lain halnya ketika baru menjabat sebagai menteri, Susi yang dijuluki sebagai pahlawan laut mengeluarkan terobosan baru dengan menenggelamkan kapal asing yang tepergok masuk perairan Indonesia tanpa izin dan membuat moratorium perizinan usaha perikanan tangkap.

Tiga sisi yang diangkat dalam buku ini berkisah tentang terobosan atau kegilaan-kegilaan Susi terkait kecerdasan, kesuksesan, dan keberaniannya dalam kehidupan pribadi, perjalanan usaha, hingga kebijakan publiknya. Semangat yang ditularkan oleh Susi memberikan harapan kepada banyak orang bahwa tidak ada yang tidak mungkin tanpa usaha keras dan kesungguhan. Mungkin benar bahwa jika ingin mendapatkan hasil yang gila-gilaan, kita juga harus melakukan upaya yang gila-gilaan.

RESENSI

Ada tiga sisi dari Susi Pudjiastuti yang dikupas dalam buku 3 Sisi Susi yaitu Sisi Perempuan Cerdas, Sisi Perempuan Sukses dan Sisi Perempuan Berani.
Seperti yang kita ketahui Susi Pudjiastuti adalah Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Banyak yang terperangah saat beliau diangkat sebagai menteri meskipun banyak juga yang sudah memperkirakan sebelumnya. Banyak selentingan dan kabar tak enak beredar dan menutupi prestasi-prestasi beliau. Maka buku 3 Sisi Susi ini dengan akurat menjabarkan dan memaparkan sisi-sisi sang menteri agar pembaca dapat mengenal beliau lebih dekat dan menjadikan beliau sebagai sumber inspirasi.

1. Perempuan Cerdas - Murid Berprestasi Menolak Sekolah

Dalam Susi dan Keluarga, pembaca diajak mengenal Susi dalam proses membangun keluarga. Kegagalan pernikahannya tak membuatnya surut langkah. Beliau bahkan masih berhubungan baik dengan mantan suaminya.
Sedangkan Susi Kecil akan membawa pembaca ke masa kecil Susi yang sangat mengidolakan Semar, gemar menonton wayang dan membaca dan memimpikan punya montor mabur.
Sejak kecil, Susi memang telah menjadi pribadi yang rajin. Si Rajin Susi mengungkapkan alasan mengapa Susi meninggalkan bangku SMA tanpa menamatkannya.
-----
Saya banyak menemukan fakta menarik dari sisi pertama ini. Banyak inspirasi yang saya petik. Hanya saja penulis masih belum rapi merangkaikan jalinan informasinya. Terkesan melompat-lompat dan kurang runtut.

2. Perempuan Sukses - Beli Pesawat Hanya Demi Lobster

Susi dan Bakul Ikan, Susi Sang Ratu Lobster, dan Susi Punya Pabrik, adalah sisi yang mengupas perjalanan kerajaan bisnis ikan Susi Pudjiastuti. Bisnis yang benar-benar dimulai dari nol. Bisnis yang tidak selalu berjalan mulus. Banyak kendala yang beliau temui namun dengan kecerdasan beliau mengubahnya menjadi peluang.
Susi dan Tsunami akan membawa kita pada kenangan Tsunami Aceh, saat kita kagum akan keberaniannya mendaratkan pesawatnya untuk mengirim bantuan. Sebagai pesawat pertama yang mendarat di Aceh, Susi menjadi bagian dari sejarah. Banyak sukarelawan dan media meminjam pesawat milik Susi dan menyebutnya sebagai Susi Air. Inilah cikal bakal Susi Air Lahir.
----
Dalam sisi Susi yang kedua, jalinan fakta sudah lebih rapi. Meski mengungkap betapa heroiknya Susi, namun penyampaiannya wajar dan tidak berlebihan. Saya sangat menikmati bagian sisi ini.

3. Perempuan Berani - Tak Gentar Menenggelamkan Kapal Pencuri

Setelah Susi Jadi Menteri yaitu Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi pun langsung beraksi. Laut dan ikan adalah her love and passion, semangatnya mengembalikan hak nelayan lokal sangat mengagumkan.
Susi dan Kapal menunjukkan bahwa beliau ingin kita tak lagi memunggungi laut, tapi memeluk dan menjaganya. Paparan program dalam Susi dan Kebijakannya, sangat terperinci dengan gambaran tindakan pembenahan yang beliau lakukan.
Sedangkan Susi di Mata Mereka adalah testimoni tentang Susi Pudjiastuti dari Presiden Joko Widodo, Menko Kemaritiman Dwisuryo Indroyono Soesilo, Menteri LHK Siti Nurbaya, Mensesneg Pratikno, dan Menko PolhuKam Tedjo Edhi Purdhijanto.
----

Saya cukup menikmati buku ini, ada banyak hal yang bisa kita petik dari Susi Pudjiastuti. Saya merekomendasikan buku ini bagi pembaca yang ingin mengenal sisi-sisi Susi dan meneladani kecintaan beliau terhadap kemaritiman, kelautan dan perikanan Indonesia.
Saya beri 3 bintang untuk 3 Sisi Susi.

Beberapa typo dalam buku ini:

* tahun 1889 --> tahun 1989 (hlm. 6)
* mengizinkannya itu untuk --> mengizinkannya untuk (hlm. 11)
* …katanya.Dari --> …katanya. Dari (hlm. 12)
* saat diangkat Presiden --> saat diangkat oleh Presiden (hlm. 17)
* dia dibiasakan oleh bangun pukul 03.00 --> dia dibiasakan oleh orangtuanya bangun pukul 03.00 (hlm. 22)
* melanjutkan sekolah SMAN 1 Yogyakarta --> melanjutkan sekolah di SMAN 1 Yogyakarta (hlm. 27)
* dilakukanyaa. --> dilakukanya. (hlm. 29)
* …ketika ada pesanan. dia… --> …ketika ada pesanan, dia… (hlm. 40)
* …sedang masa bertelur. Susi langsung… --> …sedang masa bertelur, Susi langsung… (hlm. 45)
* …pada hari yang, sama, --> …pada hari yang sama, (hlm. 49)
* suminya --> suaminya (hlm. 51)
* …semua produk laut hasil yang… --> …semua produk hasil laut yang… (hlm. 51)
* di produksinya --> diproduksinya (hlm. 51)
* Susilo bambang Yudhoyono --> Susilo Bambang Yudhoyono (hlm. 71)
* Panganadaran --> Pangandaran (hlm. 89)


TEBAR-TEBAR QUOTE

Tidak ada sesuatu yang bisa didapatkan tanpa usaha keras. (hlm. 7)

Semua anak pasti senang dapat membawa orangtuanya dan menunjukkan sesuatu yang telah dilakukan. (hlm. 13)

Jangan pernah berpikir bahwa dunia akan memberimu tempat istimewa karena kamu seorang perempuan. (hlm. 31)

Susi menteri unik yang justru tidak mau dipanggil dengan sebutan Ibu Menteri. Dia lebih suka dipanggil dengan namanya, tanpa embel-embel Bu Menteri. (hlm. 90)

Integritas sangat penting baginya karena itu merupakan pertaruhan kebebasan, freedom of mind. Jika kebebasan hilang, seseorang akan terpenjara dan terkotak oleh kepentingan dan keharusan. (hlm. 99)

Hal yang harus dilakukan kini adalah bangsa Indonesia harus mulai sadar bahwa selama ini sudah terlalu lama memunggungi laut. (hlm. 127)

"Bila dikelola dengan benar dan disiplin, potensi laut dapat menyaingi migas. Tapi, kita harus keras untuk mengelola sumber daya laut dengan benar dan lestari. Kalau tidak, bisa habis seperti migas." (hlm. 135)

"Saya orang yang full komitmen kalau mengerjakan sesuatu. Saya ingin eksistensi dan pengalaman saya membuahkan hasil." (hlm. 150)

"Pemimpin masa depan, yakinlah keberhasilan kita untuk masa depan bangsa kita hanya kita dapatkan dengan jiwa dan pikiran yang merdeka dan mandiri." (hlm. 155)
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon