Tampilkan postingan dengan label teenlit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teenlit. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2017

[Resensi] When I See Your Smile - Netty Virgiantini

Judul buku: When I See Your Smile
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2016
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-3543-8



BLURB

Hidup Seruni rasanya berubah 180 derajat setelah pernikahan ibunya dengan Mas Bim, pelatihnya di klub bulu tangkis Semangat Baru. Kedekatannya dengan Arya dan Arga––kakak satu bapak lain ibu––juga menimbulkan gosip tidak sedap di SMA Satria tentang Seruni yang punya pacar dua sekaligus. Tapi ia tidak peduli. 

Karena, diam-diam Seruni waswas pada laki-laki misterius dengan senyum familier dalam mobil hitam yang terus mengikutinya. Ia tidak berani menceritakan masalah itu pada orang-orang terdekatnya. Hingga suatu sore, Seruni diculik dan disekap oleh pria itu. 

Siapa yang akan menyelamatkan Seruni? Benarkah rasa sayang Arya dan Arga lebih dari sekadar saudara tiri? Lalu, siapa laki-laki misterius dengan senyum familier itu?" 

RESENSI

Sejak membaca When I Look Into Your Eyes, saya masih terbawa penasaran akan kelanjutan kisah Seruni. Ke manakah hati Seruni si tukang telat itu akan berlabuh. Hingga kemudian muncullah When I See Your Smile yang menjadi jawab atas rasa penasaran saya. Penasaran dengan kelanjutan perasaan Arya dan Arga, penasaran dengan kehidupan baru Seruni dan bagaimana dia beradaptasi dengan status baru orang-orang di sekitarnya. Sekuel dari When I Look into Your Eyes ini semakin seru dengan konflik yang baru.

When I See Your Smile menggunakan sudut pandang orang ketiga dan masih di setting yang sama dengan novel sebelumnya. Arya, Seruni dan Arga masih bersekolah di tempat yang sama di Magetan dan kurun waktunya gak terlalu jauh dari novel pertama. Dengan gaya bertutur Netty Virgiantini yang segar dan sederhana, saya dibawa terhanyut dalam konflik batin Seruni. Diksinya yang kadang lugas dan kadang puitis memberi warna tersendiri dalam novel ini. Hal yang saya sukai disamping dialog ceplas-ceplos khas Jawa yang rasanya dekat banget dengan keseharian saya.

Dalam novel ini, Seruni bukan lagi si tukang telat. Dia telah menjelma menjadi tuan puteri yang dimanja orang-orang di sekitarnya; Mas Bim, Arya dan Arga. Walau begitu ada kekosongan dan kehampaan yang ia rasakan, terutama ketika ia kehilangan perhatian dari Mas Bim. Sayang Seruni di sini lumayan menyebalkan, sedikit egois terutama terhadap Joko. Terhadap Arya dan Arga, Seruni bisa bersikap manis, tapi terhadap Joko dia malah seenaknya sendiri. Paling jengkel waktu Joko harus berurusan dengan polisi gara-gara Seruni, duh Seruni keterlaluan deh, kasihan Joko.
Saya juga gemas dengan Seruni karena lebih memilih diam saat merasa ada yang memata-matainya. Ini sebenarnya pelajaran dasar sih, terutama bagi remaja cewek, di jaman edan seperti sekarang. Jangan diam saja kalau memang merasa dikuntit, paling nggak catat nomor polisi kendaraannya, dan cerita pada orang yang benar-benar dipercaya. Memang masalahnya Seruni dia merasa kesulitan menemukan orang yang kira-kira bisa curhati, tapi mestinya nggak perlu sungkan. Jadi pelajaran juga bagi orang dewasa seperti saya, yang harus lebih perhatian pada remaja dan menunjukkan pada mereka bahwa kita bisa dan siap kapan pun mendengarkan mereka.
Sementara untuk kakak beradik Arya dan Arga, juga sedikit berbeda. Arya masih seperti sebelumnya, perhatian dan sayang terhadap Seruni. Tapi kebandelan Arga sudah berkurang di novel ini. Keras kepalanya masih, tapi kelakuannya sudah jauh lebih manis. Justru Joko yang mencuri perhatian saya, meski sering mengajak Seruni berantem, tapi Joko terhitung sabar dengan segala polah Seruni yang cukup sadis terhadapnya. Wkwkwk...

Konflik dalam novel ini lumayan beragam. Masih ada sisa-sisa konflik novel sebelumnya yang akhirnya dituntaskan, dan ada konflik baru yang berkaitan dengan rahasia masa lalu yang terungkap dan status baru Seruni. Untuk konflik perasaan antara Arya, Arga, Seruni dan Joko porsinya pas dan menjadi bumbu yang membuat cerita makin seru. Sementara konflik sang pengintai cukup membuat penasaran dan bikin bertanya-tanya. Drama penculikannya yang pasti menegangkan dan nggak bisa berhenti baca sampai akhir.

Overall, saya cukup puas membaca novel When I See Your Smile ini. Membuat saya lega akan akhir kisah Seruni yang saya anggap nanggung di When I Look into Your Eyes. Ada kehangatan kisah kekeluargaan dan persaudaraan yang manis dalam novel ini. Juga ada kisah cinta yang menurut saya gokil karena saking slengekannya Seruni. Lucu, menghibur dan yang pasti maniiiisss. Buat kamu penyuka teenlit yang lugas dan menghibur boleh banget lho baca dua novel ini.

Jumat, 23 September 2016

[Resensi: Langit untuk Luna - Irena Tjiunata] Arti Angkasa Bagi Sang Bulan

Judul buku: Langit untuk Luna
Penulis: Irena Tjiunata
Desain & ilustrasi sampul: eMTe
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2013
Tebal buku: 344 halaman
ISBN: 978-602-03-0097-9



BLURB

Luna Aurora sepertinya sudah punya segalanya. Otak yang cerdas sehingga bisa masuk kelas akselerasi, keluarga dengan ekonomi berkecukupan, teman-teman yang ceria dan setia, plus pacar superkeren, Surya Dhanasaputra.

Luna merasa hidupnya sangat sempurna.

Sampai kemudian perusahaan keluarganya menghadapi masalah serius. Lalu Surya berubah jadi cowok yang tidak dia kenal lagi. Sementara Angkasa Raya, cowok lain yang semula tidak dia kenal, berubah menjadi sosok yang sangat memahami dirinya. 


RESENSI

Sebagai siswa kelas akselerasi, Luna benar-benar sangat sibuk. Masa remajanya hanya dihabiskan dengan mengerjakan tugas dan belajar. Meski ia punya pacar, tapi sang kekasih, Surya, juga sama-sama siswa kelas akselerasi yang menuntut Luna untuk selalu belajar dan tidak membuang-buang waktu untuk bermain, apalagi dengan temannya, Fay, yang merupakan siswa kelas reguler.
Namun dunia Luna yang teratur dan monoton mulai berguncang saat Angkasa Raya muncul. Cowok itu memberi warna bagi hidup Luna, mengenalkan dunia yang bebas untuk menentukan pilihan sesuai hati nurani. Dan bersamaan dengan itu, sifat asli Surya semakin terlihat. Luna mulai tak nyaman bersama Surya.
Namun benarkah keputusan yang diambil Luna? Apakah dia bisa bebas menentukan keinginan hatinya, meski itu melukai orang-orang yang meletakkan harapan di bahunya?

-------------------

Langit untuk Luna adalah novel teenlit karya Irena Tjiunata yang pertama kali saya baca. Jadi ini semacam uji coba untung-untungan, apakah saya bakal suka dengan novel ini. Karena saya sama sekali belum mengenal nama penulis yang satu ini. Tapi yang jelas, saya tertarik untuk membaca novel ini karena judulnya yang menggunakan bahasa Indonesia dan terdengar puitis. Apalagi setelah membaca blurbnya saya yakin Langit untuk Luna punya makna yang lebih mendalam.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga dan terfokus pada Luna. Segala hal diceritakan dari sisi Luna, baik itu keresahan maupun perasaan-perasaan terdalamnya. Sayang sekali karena saya menanti-nanti curahan perasaan yang lebih mendalam dari tokoh lain dalam novel ini, terutama Angkasa.
Gaya bertutur Irena Tjiunata sangat santai dan sangat remaja, membuat seolah saya sedang membaca catatan harian seorang remaja. Lincah, dengan bahasa pergaulan remaja urban dan nggak baku. Terasa pop banget dan sebenarnya bukan gaya bercerita yang saya sukai. Tapi toh saya masih bisa menikmatinya.

Konfliknya sangat menarik. Irena Tjiunata mencoba memotret sistem pendidikan di masyarakat urban yang salah kaprah. Bagaimana sekolah hanya menuntut siswanya untuk mencapai nilai dan level tertentu. Bagaimana orangtua membuat tuntutan tak masuk akal tanpa memperhatikan keinginan anak. Belajar tentulah hal yang baik, tapi esensi belajar adalah agar anak memperoleh ilmu, bukan nilai. Berprestasi tentu membuat orangtua dan anak sangat bangga, tapi bekerja sama lebih baik daripada bersaing. Apalagi persaingan nggak sehat yang membuat anak menjadi merasa ada di kelas tertentu dan jadi angkuh. Seperti Surya.
Duh cukup deh, anak kayak Surya itu cukuplah ada di novel saja. Amit-amit jangan sampai ada anak model begitu di dunia nyata. Sudah sok pintar, sombong, bossy, tukang bully pula. Ngeri banget, deh.

Dan jujur karakter dalam novel ini annoying banget. Surya jelaslah super menyebalkan. Murid-murid kelas akselerasi yang bikin saya geleng-geleng. Katanya pintar, tapi nurut-nurut aja sama Surya. Omong kosong kalau dibilang mereka takut cari gara-gara dengan Surya hanya karena Surya anak dari keluarga paling berpengaruh di sekolah maupun di jagad bisnis. Saya merasa alurnya jadi seperti alur ala-ala drama korea. Malah ada karakter yang hobi ngomong pakai bahasa korea. Duh, nak, ini masih di Indonesia, lho. Adegan-adegannya juga lumayan berlebihan dan drama banget.
Saya merasa aneh ketika kepala sekolah memanggil Jane dan memberi tahu Jane bahwa dia akan didegradasi. Ini bukan kabar yang bisa disampaikan kepala sekolah hanya kepada sang murid. Harus ada orangtua si murid di pertemuan itu. Agar orangtua, siswa dan guru bisa mencari jalan mengupayakan supaya si murid tetap bertahan, atau kalau memang nggak ada jalan ya memang harus degradasi. Tiba di adegan ini saya mulai merasa terganggu dengab sang kepala sekolah. Saya sampai berpikir, sekolah macam apaaaa ini sih? Laporin ke Pak Anies Baswedan aja gimana? *eh udah ganti yak menterinya ^^*

Namun untuk ukuran novel remaja, Langit untuk Luna lumayan manis dan asyik diikuti. Mungkin kalau saya membaca novel ini saat saya berusia tigabelas atau empatbelas tahun, saya bakal terpesona pada Angkasa Raya. Karena semua sifat dan perhatiannya pada Luna. Bisa bikin lagu coba. Keren kan?
Tapi mungkin karena jiwa saya sudah menua, saya jadi nggak mempan digombalin Angkasa. Hahaha...
Tapi secara keseluruhan, novel ini cukup seru, bikin saya berpikir sebagai orangtua, sudahkah saya membuat anak saya nyaman dalam belajar dan mengeksplorasi bakat-bakat mereka? Apalagi di akhir kisah, ada cara untuk mengenali kecerdasan majemuk yang dimiliki seorang anak. Dan pastinya ada cerita pendek sebagai bonus yang cukup seru. Nice story.

Rabu, 21 September 2016

[Resensi] Teka-Teki Terakhir - Annisa Ihsani

Judul buku: Teka-teki Terakhir
Penulis: Annisa Ihsani
Editor: Ayu Yudha
Desain sampul: EorG
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2014
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 9786020302980



BLURB

Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya...


RESENSI

Sejak kepindahan pasangan suami-istri Maxwell ke kota kecil yang didiami Laura, Littlewood, banyak gosip yang beredar tentang pasangan tersebut. Tidak heran karena suami-istri Maxwell jarang terlihat dan seolah lebih sering mengurung diri di rumah mereka yang terlihat besar dan angker.
Sejak kecil Laura sudah penasaran terhadap mereka. Dulu ia dan kakaknya Jack sering memata-matai pasangan Maxwell. Namun kini tampaknya Jack sudah tak tertarik lagi. Laura pun juga hampir mulai mengabaikan rasa penasarannya.
Hingga suatu hari Laura mendapat nilai nol di kuis matematika. Merasa kesal, Laura membentuk kertas hasil kuisnya menjadi perahu dan membuangnya ke tempat sampah di depan rumah Maxwell. Tanpa disangka, hari berikutnya, Tuan Maxwell menyapanya, mengembalikan kertas hasil kuisnya dan memberinya sebuah buku.
Sejak itu dunia Laura mulai berubah. Apalagi ketika ia berhasil masuk ke dalam rumah Maxwell dan mengetahui siapa Tuan dan Nyonya Maxwell sebenarnya dan apa yang mereka lakukan dalam hidup mereka.

-----------------

Saya sudah lama merasa penasaran terhadap novel teenlit ini. Tentunya karena judulnya yang memancing rasa penasaran, sampulnya yang seolah menyimpan misteri dan sinopsisnya yang begitu menarik. Dan ketika saya mulai membacanya, saya nggak sanggup untuk berhenti.

Sebagai seorang anak yang nggak jago matematika, saya baru menyukai matematika ketika di kelas 6 sekolah dasar. Itu pun karena cara mengajar guru saya yang menyenangkan. Tapi momen kedekatan saya dengan matematika berhenti sampai di situ. Begitu masuk SMP hingga SMA, matematika jadi pelajaran yang menyebalkan dan menakutkan. Itu yang membuat saya bertanya-tanya kok ya saya bisa menjadi guru les matematika sekarang? Karena ternyata, belajar matematika di luar sekolah itu jauuuuhh lebih menyenangkan. Nggak ada wajah guru nan killer, nggak ada ketakutan bakal dimarahi karena gagal memecahkan masalah matematika. Sungguh.
Matematika itu memang asyik. Tapi saya menemukan keasyikannya bukan di dalam kelas semasa sekolah dulu. Saya tenggelam dalam hitungan justru karena buku dan diskusi yang saya lakukan bersama teman dan murid-murid saya.

Dan novel Teka-teki Terakhir ini mengingatkan saya pada pengalaman saya tersebut. Kadang matematika yang ditulus di papan tulis memang terasa rumit, baru dibacakan judul materinya saja sudah bisa bikin migrain. Tapi, begitu kita bertemu orang yang tepat, yang bisa membahas matematika dengan antusiasme dan rasa cinta yang besar, yang bisa menunjukkan logika dan keseruan dari matematika, semua bisa saja berubah. Jadi jangan heran mengapa Laura yang semula mendapat nilai nol di kuis matematika, setelah bicara dengan Profesor Maxwell, nilainya jadi meningkat tajam. Saya yang membaca saja merasa tertulari semangat sang profesor.

Sebagai novel teenlit, materi matematika yang dibahas dalam novel ini memang cukup berat, bahkan kebanyakan bukan materi yang diajarkan di jenjang SMP. Tapi jangan kuatir, matematika hanya bumbu yang syukur-syukur bisa membuat si pembaca tertarik. Karena banyak trivia tentang para ahli matematika dan logika matematika yang menarik.
Namun inti cerita ini tetaplah masalah yang dihadapi remaja pada umumnya. Rasa keingintahuan yang tinggi, pertemuan dengan orang-orang baru dan bagaimana menyikapi dunia jika dunia menganggapmu aneh. Beberapa remaja mungkin bisa merasa cuek, tapi sebagian kecil akan merasa nggak nyaman dan tertekan jika dianggap aneh.

Laura menjadi tokoh yang sangat menarik. Rasa ingin tahunya yang besar, rasa kesepiannya karena nggak punya teman dekat dan mulai merasakan renggangnya hubungannya dengan sang kakak, mudah tenggelam dalam hal-hal yang disukainya hingga melupakan janji penting. Saya sangat menyukai Laura dan perubahan yang dialaminya. Saya suka bagaimana ia belajar bersahabat, apa yang perlu dan nggak perlu dilakukan terhadap Katie. Betapa persahabatan mereka yang masih rapuh dan bagaimana membuatnya menguat kembali. Bukan dengan lari dari masalah tapi menghadapinya.

Teka-teki Terakhir merupakan kisah yang sangat menarik dan saya menyukai cara bertutur Annisa Ihsani. Rasanya seolah saya sedang membaca novel terjemahan dengan setting tempat yang entah ada entah tidak tapi terasa nyata. Saya juga suka dengan setting waktunya, karena seolah sayalah yang sedang ada di dalam cerita ini. Nggak ada handphone, nggak ada kendaraan pribadi, sama seperti masa ketika saya masih belasan tahun.
Well, saya akan merekomendasikan novel yang seru dan menghangatkan hati ini. Meski kamu suka matematika atau nggak suka, tapu saya yakin kamu akan menikmati petualangan Laura dalam memaknai kehidupan remajanya.

Kamis, 15 September 2016

[Resensi: When I Look Into Your Eyes - Netty Virgiantini] Seruni Pemilik Bola Mata yang Membius Kakak-Beradik

Judul: When I Look Into Your Eyes
Penulis: Netty Virgiantini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2012 (cetakan kedua)
Tebal buku: 200 halaman
ISBN: 978-979-22-7749-4



BLURB

Aku benar-benar bingung. Mengapa ibuku selalu menghindariku dan ketakutan setiap kali melihat mataku? Mengapa Arya dan Arga justru jatuh cinta padaku karena penasaran dengan mataku? Dan mengapa ada laki-laki yang tiba-tiba marah dan mengusirku hanya karena mataku?

Sudah kucoba becermin berkali-kali, mengamati bayangan mataku sendiri yang memantul dalam cermin, tidak ada yang aneh. Memang sih, bentuknya lumayan bundar, tapi masih wajar. Menurutku, tidak ada yang mencurigakan dari mataku.

Ternyata, ada kisah yang tersembunyi dalam sepasang mataku. Kisah pedih yang membuat hidup ibuku terbelenggu trauma masa lalu. Selama ini, semua sengaja menyembunyikan misteri itu dariku.

Akhirnya aku tahu, serapat apa pun manusia menyembunyikan kebenaran, Tuhan akan selalu punya cara untuk menunjukkannya....


RESENSI

Seruni si tukang telat. Sudah jadi rutinitas harian Seruni setiap paginya untuk memanjat tembok pagar sekolahnya dan mengendap-endap ke kelas agar tidak ketahuan kalau terlambat. Namun di hari itu, saat hendak melompat turun ke area sekolah, ada seorang cowok yang Seruni dapati ada di dekat lokasi kejadian. Saking terburu-burunya, Seruni bahkan lupa menyembunyikan tasnya di tempat biasa dan malah meninggalkan tasnya bersama cowok misterius itu.
Tak disangka, cowok itu adalah Arya, siswa kelas duabelas yang merupakan ketua OSIS. Sejak pertemuan pertama mereka, Arya sudah terpesona pada bola mata Seruni yang membangkitkan perasaannya. Ia pun tanpa malu mulai mendekati Seruni.
Ketika Seruni harus berjalan kaki sepulang dari latihan bulutangkis, Seruni bertemu dengan Arga. Cowok itu hampir menabraknya dengan sepeda motor, dan saat jatuh, Arga malah membentak-bentak Seruni. Akhirnya Seruni pun berkenalan dengan Arga, sang berandalan tukang bikin onar dan merupakan adik Arya. Dan sama seperti Arya, Arga pun terpikat oleh kedua mata Seruni yang bulat penuh itu.
Dua orang pemuda, mencintai gadis yang sama. Saling cemburu, saling berusaha menarik perhatian dan saling bersaing. Siapakah yang akhirnya akan Seruni pilih? Dan mengapa Arya dan Arga seolah begitu akrab dengan bola mata Seruni?

--------------------------------

Sebentar... saya perlu hapus air mata dulu sebelum nulis review. Duuh sumpah... waktu baca novel Telaga Rindu yang menyesakkan aja saya nangisnya nggak seheboh ini deh. Tapi selesai baca When I Look Into Your Eyes saya kayak lagi termehek-mehek gini jadinya. Bukannya lebay, tapi novel ini benar-benar nyeees banget di hati saya.
When I Look Into Your Eyes membuat saya kembali jatuh cinta pada lini teenlit dari Gramedia Pustaka Utama. Akhir-akhir ini, teenlit yang saya baca kurang greget dan membosankan. Tapi novel ini menunjukkan kematangan cerita, plot yang diolah dengan rapi dan kekuatan karakter tokohnya. Novel teenlit yang menyentuh saya biasanya adalah novel yang membuat saya kangen masa remaja dan merasa ingin kembali ke masa-masa itu.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, dan secara berimbang mengungkapkan perasaan dan isi hatibpara tokohnya. Membuat saya ikut terhanyut dan berdebar-debar. Terutama ketika merasakan kecemburuan Arya dan Arga. Yaah saya memang pembaca yang mudah bahagia kalau diberi sudut pandang perasaan si tokoh pria. Alurnya maju dan kisahnya mengalir dengan porsi kekocakan dan kebaperan yang pas seimbang. Sekali waktu saya dibuat geleng kepala karena kepolosan Seruni dan kekonyolannya di waktu lain saya panas-dingin oleh keromantisan yang ditunjukkan Arya dan Arga terhadap Seruni.

Dan omong-omong, saya merasa iri, saudara-saudara sekalian! Iri banget! Eh iri di awalnya aja sih, lalu merasa kasihan, karena Seruni jadi harus memilih tapi ternyata nggak boleh. Hiks.
Tapi dijamin deh, Seruni memang bikin iri. Saya mau dong dipedekatein dua kakak-beradik yang satu kayak malaikat yang satu iblis tapi posesif juga. Huhuhuu dan saya sih nggak bakal ragu kayak Seruni, saya bakal bilang kalau saya cinta banget sama Arga. Di bayangan saya kok dia kayak Go Bok Dong di drama korea Angry Mom ya. Hahaha...

Yang saya suka dari dua lead male dalam novel ini adalah mereka berani show off. Mereka masih cowok-cowok yang manis tapi dibanding tokoh di novel karya Netty Virgiantini lainnya, saya suka karena mereka berani menunjukkan perasaan meski dengan sedikit malu-malu. Mereka berani menempuh resiko, bandel dan terang-terangan menunjukkan perasaan. Bikin meleleh pokoknya. Lumer deh lumeeeer sayanya ^^
Tokoh yang menarik perhatian saya di novel ini adalah Mas Bin. Waah tokoh yang satu ini hebat banget kalau benar-benar ada di dunia ini. Tetap mencintai satu wanita apa pun yang terjadi. Keren. Dan saya mewek lah ketika tiba di adegan Mas Bin meluk Seruni dan menyimak ungkapan rasa sayangnya pada Seruni. Mewek sampai akhir pokoknya. *iyasih saya emang cengeng dan mudah terharu*

Hal yang mengganggu saya cuma pengulangan Seruni soal pengidolaannya pada Irfan Bachdim. Lumayan terlalu sering disebutkan dan bikin saya mikir jangan-jangan Seruni ini termasuk halu. Fans garis keras yang terlalu ekstrem, semacam fans yang halu dan delu. Wkwkk~
Sementara yang seru adalah kegemaran Seruni bermain bulutangkis. Hmm~ saya suka kalau tokohnya sederhana dan begitu dekat dengan keseharian pembaca, termasuk dalam olahraga yang digeluti oleh karakter utamanya.

Overall, When I Look Into Your Eyes adalah teenlit yang supeeeer manis. Konfliknya hampir-hampir sulit dipercaya tapi memang bisa terjadi. Twistnya benar-benar di luar perkiraan saya dan sempat bikin saya terbengong. Meski saya sedih tapi endingnya memang membahagiakan dan melegakan. Dan oooh pesona cowok badboy di dalam novel ini nggak kalah dari badboy di drama korea. Buktikan sendiri deh. ;)

Sabtu, 13 Agustus 2016

[Resensi] Rahasia Audrey - RisTee

Judul buku: Rahasia Audrey
Penulis: RisTee
Editor: Eka Pudjawati
Cover: maryna_design@yahoo.com
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2014
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 978-602-03-1113-5



BLURB

Audrey kabur dari rumah! Semua orang mencarinya dan tidak ada yang bisa menemukannya. Ke mana dia? Apa yang membuatnya pergi? Dan sama siapa dia pergi?

Ulah Audrey kali ini membuat pusing Vinka, Kanya, Alin, dan Naira yang sangat mengkhawatirkan keadaannya. Bagaimana tidak? Audrey jadi pendiam dan sifatnya sulit ditebak.

Ditambah lagi, Audrey diapit oleh dua pria yang dengan setia mendampinginya. Aiden, putra sahabat orangtua Audrey, begitu mapan dan sabar menghadapi tingkah Audrey yang tak tertebak. Sementara Raja, rekan Audrey di kelas kimia, mengajari Audrey tentang hidup sederhana dan membawanya bertemu anak-anak yang kurang beruntung agar lebih bersyukur. Jadi, siapa pria yang akhirnya memenangi hati Audrey? Dan apa yang Audrey rahasiakan dari teman-temannya?


RESENSI

Di tengah pesta yang terasa membosankan, seorang cowok menyapa Audrey. Merasa tak mengenal cowok itu, Audrey pun berusaha cuek. Tapi ternyata cowok itu mengenal Audrey dan menuduh Audrey melupakannya. Saat menyadari cowok itu adalah Aiden, teman masa kecilnya yang telah lama hijrah ke Amerika, Audrey pun senang bukan kepalang. Dan kedatangan Aiden pun disambut antusias oleh mama Audrey, yang kemudian berusaha menjodohkan mereka berdua.
Tapi kehidupan Audrey tidaklah sesempurna yang dilihat orang. Orangtuanya yang tampak harmonis di depan teman-teman mereka tidaklah sama dengan suasana di rumah besar mereka yang sepi dan dingin. Tak ada kehangatan dan tak ada keharmonisan. Hingga Audrey mendengar kalau mamanya hendak menuntut cerai papa Audrey.
Merasa sedih dan tak mampu menahan kepedihan hatinya, Audrey bertengkar dengan mama. Saat berusaha lari dari mama, Raja, teman sekelompoknya di kelas kimia, menawarinya tumpangan dan membawanya pergi.
Hingga Audrey mulai makin mengenal Raja. Cowok yang selama ini dikenal antisosial di sekolah itu ternyata menjalani kehidupan yang sederhana tapi begitu hidup. Akankah Audrey berdamai dengan keadaan orangtuanya? Dan akankah hubungannya dengan Raja berhasil?

------------------------------

Saya lagi pengin baca teenlit, dan akhirnya pilihan saya jatuh pada novel Rahasia Audrey ini. Pertama tentu saja karena covernya cakep. Maka saya pun membacanya dengan harapan isinya secantik covernya.
Ternyata Rahasia Audrey ini termasuk dalam seri Girl's Corner yang terdiri dari lima novel, dan masing-masing novel merupakan cerita tentang kisah cinta lima cewek yang saling bersahabat: Naira, Audrey, Alin, Kanya, dan Vinka. Nah untuk Rahasia Audrey (saya nggak tahu ini seri ke berapa) adalah kisah kehidupan tentang Audrey. *yakan judulnya aje Audrey* *getok si empunya blog*

Novel ini menggunakan POV orang pertama dari sisi Audrey. Alurnya maju dan temponya lumayan cepat. Cara bertuturnya masih lebih banyakan telling daripada showing. Tapi dialognya mengalir, nggak kaku dan nggak basi. Remaja urban banget dengan penyebutan "lo-gue"-nya.
Yang bikin saya gemas adalah karakter tokohnya yang annoying. Audrey ini kekanakan, egois dan self centered banget. Tipe anak horang kayah yang nggak mau lihat sekeliling. Paling bikin saya murka waktu Audrey merayakan ulang tahun dan mengundang teman-temannya buat berpesta ala-ala horang kayah dan kemudian ia melihat Raja yang lagi kerja sebagai petugas katering yang melayani pestanya. Kok bisa-bisanya Audrey masih pakai nanya Raja ngapain. Kalau saya jadi Raja bakal saya balas, "menurut ngana?" Udah nggak ngundang Raja yang notabene adalah teman sekelasnya, masak orang yang jelas-jelas lagi kerja masih diyanya dan dijutekin pula.
Dunia itu nggak semuanya berisi orang kaya kayak elu, neng Audrey. Hih!!!

Kemudian tentang Aiden, saya nggak yakin juga apa peranannya di awal cerita. Kalau mau dibuat sebagai cinta segitiga, kok chemistrynya dengan Audrey sama sekali nggak ada. Dan agak aneh juga kawan yang berpisah sejak TK kok masih bisa begitu akrab (tahu-tahu langsung mau meluk) tanpa kecanggungan. Juga ketika Audrey memutar radio di mobil, Aiden tahu itu lagu kesukaan Audrey sejak dulu. Apa iya anak TK udah mendengarkan lagu-lagu cinta-cintaan?

Sementara Raja lumayan sih. Awalnya jutek dan antisosial, meski saya juga nggak tahu kenapa dia bisa jutek di sekolah, padahal di rumah dan di tempat mengajar dia ramah dan asyik. Jadi berasa kurang konsisten aja. Raja suka banget berkomentar nyelekit sama Audrey, tapi juga nggak segan buat minta maaf. Jadi bingung. Jutek apa usil sih sebenarnya? Yah apa pun sifatnya, Raja yang paling lumayan daripada tokoh lainnya.

Konfliknya pun cuma muter aja nggak ada kejelasan. Audrey yang terlalu drama dan terlalu mengasihani diri sendiri merasa nggak suka dengan suasana rumahnya yang nggak harmonis. Ditambah lagi orangtuanya memilih menghindar dan nyuekin pertanyaan Audrey. Padahal anak-anaknya udah dewasa, semakin ditutupi, remaja justru makin kesal dan makin memberontak.
Dan keegoisan Audrey makin tampak ketika ia bilang ia capek bersandiwara pura-pura bahagia kepada mamanya, yang diucapkan di depan teman-teman sang mama di tengah pesta. Duh Nak, apa pun masalah keluargamu, selesaikan di rumah ya, bukan diungkapkan di depan orang banyak begitu. Cck.

Yaaah pada intinya sih saya sama sekali nggak simpati terhadap tokoh utamanya. Mau dia berubah setelah ketemu Raja kek, tetap saja dia annoying. Perubahannya kayak tiba-tiba dan nggak tulus. Dan cukup kesal juga dengan tokoh tambahan yang punya adik-adik tapi menganggap adik-adiknya pengganggu dan bikin capek. Huhuuuu mau nangis rasanya saya bacanya. Saya kan paling suka baca novel yang hubungan persaudaraannya dekeeeet dan chemistrynya kuat. Tapi di sini, di novel ini, adik-adik nan unyu dan suka berceloteh itu dianggap pengganggu dan bikin pusing. Hiks.

Yaaah kisah Rahasia Audrey bagi saya ternyata nggak sekece covernya. Tapi novel ini cukup ringan dan lumayan buat mengisi waktu luang. Asal tahan saja dengan kehidupan horang kayah tokoh utamanya. Not so bad but i don't like it.

Jumat, 05 Agustus 2016

[Resensi] Makhluk Tuhan Paling Katrok! - Netty Virgiantini

Judul buku: Makhluk Tuhan Paling Katrok!
Penulis: Netty Virgiantini
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Juni 2011
Tebal buku: 227 halaman
ISBN: 978-602-00-0406-8



BLURB

Cuma gara-gara AC, Neyla dapat julukan baru di sekolah sebagai Makhluk Tuhan Paling Katrok! Sebuah gelar yang telah membuat Neyla jadi mendadak ngetop di seantero sekolah beberapa waktu terakhir ini, nggak kalah dengan kepopuleran lagu Mulan Jameela.

Julukan itu diberikan teman-temannya, karena Neyla dianggap jadi orang paling katrok di sekolah setelah seluruh ruang kelas dipasang AC baru. Kalau yang lain menyambut dengan gegap gempita penuh sukacita bebas dari rasa gerah dan panas, Neyla yang berasal dari keluarga penggemar berat cerita silat dan sakit-sakitan sejak kecil, justru harus bergulat dengan segala keruwetan karena tubuhnya tidak mampu menahan serangan hawa dingin AC yang diyakininya sebagai jelmaan Dewa Angin yang punya dendam masa lalu.


RESENSI

Seisi kelas Neyla heboh saat tiba-tiba saja Neyla muntah-muntah, mereka mengira Neyla sedang hamil. Tapi ternyata penyebab Neyla muntah adalah karena serangan Dewa Angin alias serangan angin yang berhembus dari AC yang baru saja dipasang di kelasnya. Neyla merasa ilmu silatnya tidak cukup untuk mengatasi serangan Dewa Angin, maka ia meminta bantuan penghuni Padepokan Kancil 09 alias keluarganya untuk membantunya. Maka Neyla pun setiap hari berangkat sekolah dengan baju berlapis-lapis dan badan penuh dibalur balsem. Tentu saja banyak teman yang menertawakannya dan menjulukinya sebagai Makhluk Tuhan Paling Katrok!
Tapi Neyla tak peduli, ia tetap mempertahankan dandanan nylenehnya. Hingga serangan Dewa Angin kali ini membuatnya jadi gampang beser. Alhasil Neyla mesti bolak-balik ke kamar kecil untuk buang air. Tanpa sengaja ketika sedang terburu-buru ke toilet, Neyla menjadi saksi percobaan bunub diri. Kontan Neyla lari melapor guru untuk menyelamatkan cowok yang sudah penuh darah di toilet itu. Tak disangka, sang calon korban kini malah selalu membuntuti Neyla. Kemana pun Neyla pergi, cowok itu selalu mengikuti. Kira-kira apa yang diinginkan cowok itu? Kenapa Abi selalu diam saja tak berkata-kata dan tetap menempel pada Neyla?

-----------------------


Beberapa kali membaca novel karya Netty Virgiantini selalu membuat saya senyum-senyum cantik karena tingkah konyol tokoh utamanya. Saya selalu suka dengan humor khasnya yang ndagel. Wajar saja karena penulis ini merupakan fans srimulat, maka selera humornya pun tertuang dalam karya-karyanya.
Namun baru di novel Makhluk Tuhan Paling Katrok inilah saya dibuat terpingkal-pingkal dan geleng-geleng kepala saking takjubnya. Novel ini bukan cuma konyol dan ndagel, tapi juga absurd. Banget. Satu geng deh sama novel Lupus dan sejenisnya. Rasanya saya jadi pengin ngunyah beton membaca tingkah polah Neyla dan keluarganya.

Novel Makhluk Tuhan Paling Katrok ini juga membawa nostalgia sendiri bagi saya. Apalagi kalau bukan karena keluarga Neyla yang absurd itu adalah pencinta cerita silat. Duh jadi kangen sama Api di Bukit Menoreh dan serial Wiro Sableng. Saya juga suka membaca cerita silat, tapi saya nggak seabsurd keluarga Neyla juga kali. Tapi saya bisa paham lah kenapa mereka bisa sebegitu tergila-gilanya pada cerita silat dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Hahaha..
Dan sebenarnya kalau boleh jujur, saya dulu juga sempat pengin memberi nama anak laki-laki saya dengan nama Agung Sedayu, seperri nama kakaknya Neyla di novel ini. Tapi nggak jadi. Makanya saya merasa klop juga dengan novel ini. Wkwkwkwk~

Dan tentang alerginya Neyla, saya juga paham banget itu. Karena saya sendiri juga alergi dingin. Seperti Neyla saya juga nggak tahan dengan AC, saya bisa buang air kecil lebih dari dua kali kalau dekat-dekat AC. Itu sebabnya kalau kuliah saya selalu milih duduk sejauh mungkin dari AC. Sialnya justru waktu mau proses persalinan, ranjang saya persis di bawah AC, jadilah saya ngeden sambil muntah-muntah. Huhuhuuu... Neyla, i feel you, Nak. Kita sesama makhluk katrok, kayaknya.

Sebagai tokoh utama, Neyla benar-benar apes. Kasihan banget sepanjang cerita nasibnya malang melulu. Udah keluarganya absurd, guru-gurunya aneh, teman-temannya ngebully eeeeh ketemu cowok kok ya yang antik. Tapi meski dapat kesialan bertubi-tubi, Neyla tetap bersemangat. Dan tetap konyol. Makanya kena sial lagi. Hehehe..
Sedangkan Abi lebih ajaib lagi tingkahnya. Tapi meski dia cuma diem aja nggak ngomong sama sekali, kok saya suka ya sama dia. Aaaah... Pokoknya Abi ini cowok khasnya Netty Virgiantini deh. Kalem tapi gentle. Saya sih meleleh waktu adegan dia bawa motor boncengin Neyla dan ngajak Neyla makan. Manis banget deh adegannya. Cuma sebelnya ketika Abi berhenti ngikutin Neyla dan malah berduaan dengan Meta, saya rasanya pengin nampol dan minta Abi ngasih penjelasan nggak cuma senyam-senyum geje dan bikin Neyla salah paham. Sebel.

Novel yang sungguh kocak ini memang minim roman, cerita cintanya cuma secuil tapi dijamin manisnya nggak nguatin. Netty Virgiantini tetap selalu bisa menuliskan adegan sederhana tapi terasa berkesan dan romantis. Saya sendiri memang selalu terpikat dengan keluguan dan kesederhanaan para tokoh dan tindakan mereka.
Hanya saja karena merupakan cerita absurd mungkin akan mengecewakan beberapa pembaca yang nggak begitu suka kisah konyol dan mempertanyakan logika cerita. Saya sih karena menganggap ini adalah kisah fiksi merasa terhibur banget dengan betapa nyleneh tokoh dan jalan ceritanya.
Jadi buat kalian yang suka cerita humor absurd bisa banget baca novel Makhluk Tuhan Paling Katrok! ini karena dijamin bakal ngikik-ngikik sebel membaca kesialan demi kesialan yang menimpa Neyla. 

Senin, 23 Mei 2016

[Resensi: Kembar Dizigot - Netty Virgiantini] Usaha Nadhira Meraih Tama dan Bakatnya Kembali


Judul buku: Kembar Dizigot
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Wienny Siska
Desain sampul: Chyntia Yanetha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 978-602-03-1397-9
Link Goodreads: Kembar Dizigot




BLURB

Nadhira stres berat ketika pergelangan tangan kanannya cedera akibat ulah Kemal, si Onta Padang Pasir! Ke mana-mana ia harus menggendong tangannya yang dibalut slab gips. Apa-apa pun harus dibantu. Yang lebih menyakitkan, Ayah melarangnya pacaran dengan Narotama, dan kesempatan itu justru dimanfaatkan oleh kembarannya, Bashira, untuk mendekati cowok yang sama-sama mereka sukai itu. Nggak fair! Dasar saudara kembar pengkhianat! Mentang-mentang Bashira lebih cantik dan lebih pintar, ya?
Ketika tangannya sembuh, Nadhira semakin galau mendapati kenyataan ia tak bisa menggambar seperti dulu lagi. Arggh... ternyata begini risikonya jatuh cinta, cemburu, patah tangan sekaligus patah hati kuadrat. Sakitnya nggak cuma di sini–menunjuk dada–tapi di mana-mana.
Untung ada anak-anak "Pintu Belakang" yang terus menyemangati Nadhira berlatih. Hingga akhirnya ia punya kesempatan membalas dendam lewat ilustrasi di majalah sekolah. Ia bertekad membuat Bashira dan Narotama bertekuk lutut!


RESENSI

Nadhira merasa nelangsa. Pertama karena tangannya yang luka membuatnya jadi bergantung pada orang lain dan membuatnya merasa lemah. Yang kedua Tama mulai dekat-dekat lagi dengan Bashira. Padahal ayah sudah melarang mereka pacaran, tapi saat melihat Tama berduaan dengan Bashira di teras rumah, ayah sama sekali tidak marah. Sungguh tak adil.
Rasa frustasi Nadhira tak juga menghilang meski slab gips-nya telah dilepas. Karena ia tak lagi bisa menggambar sebagus dulu! Selama ini Nadhira bisa bersikap santai menghadapi ketidakadilan karena ia bisa menuangkan perasaan melalui lukisan, tapi sekarang ia tak lagi bisa melakukannya. Kecelakaan gara-gara membela Raven yang dikeroyok gerombolannya Kemal membuat Nadhira tak lagi bisa menggambar. Dalam keputusasaannya itulah Nadhira menyalahkan Kemal. Gara-gara Kemal, Nadhira tak lagi bisa melukis. Gara-gara Kemal, Nadhira harus putus dengan Tama dan membuat Tama dekat dengan Bashira lagi.
Bisakah tangan Nadhira sembuh seperti sedia kala? Dan siapakah yang akhirnya memenangkan hati Nadhira?

---------------

Kembar Dizigot adalah novel lanjutan dari Lho, Kembar Kok Beda? dan masih bercerita seputar konflik antara Nadhira dan Bashira. Novel inilah yang akhirnya menjawab pertanyaan yang menggantung di ending novel sebelumnya.
Di sini Nadhira mulai berubah, konflik mulai menajam dan situasi mulai nggak pasti. Nadhira mulai berdebar-debar sama Kemal. Ahaha...

Saya suka persahabatan yang mengambil banyak porsi dalam Kembar Dizigot. Raven dan anggota geng "Pintu Belakang" tetap ada di dekat Nadhira dan mendukung gadis itu bahkan saat Nadhira uring-uringan.
Lagi-lagi Bu Sharma lah yang menjadi penyelamat bagi Nadhira. Tempat Nadhira curhat dan mengungkapkan unek-unek. Hmm~ tapi mengapa namanya berubah jadi Bu Sharma ya? Bukannya di novel sebelumnya, nama bu guru BP ini Bu Sharmila?

Masih dengan gaya bertutur yang ringan dan manis, Netty Virgiantini kali ini memberi porsi yang lebih bagi Kemal. Di sini nggak ada flirting diam-diam antara Nadhira dan Tama atau ucapan-ucapan singkat Tama yang bikin meleleh itu. Yang ada adalah usaha Kemal untuk mendekati Nadhira, juga sikap kesatrianya menerima kemarahan Nadhira. Aduuh... aduuhh... kok saya yang meleleh XD

Karakter tokohnya masih sama dan masih konsisten. Hanya Bashira saja yang terlihat semakin egois. Emosi banget ketika Bashira nanya sama Nadhira bagaimana perasaan Nadhira kalau Bashira dekat dengan Tama? Ih... saya terbawa emosi jiwa jadinya.
Nadhira juga sempat merasa down dan egois karena menimpakan kesalahan pada Kemal, tapi salut dengan usahanya untuk kembali jadi dirinya sendiri.

Saya merasa konflik dalam novel ini lebih berat, bukan lagi tentang cinta segi tiga tapi juga tentang usaha Nadhira untuk bangkit setelah gagal. Nggak ada yang instant... bahwa bakat juga harus dilatih.
Sayangnya konflik yang sebenarnya mengganggu saya sejak novel pertama nggak terselesaikan juga. Tentang ayah yang selalu membandingkan Bashira dan Nadhira, yang terlalu sering menuduh dan merendahkan Nadhira dan nggak memuji bakat Nadhira. Saya gemaaaas... saya pengin ayah melihat kemampuan Nadhira, mengungkapkan kebanggaannya, melihat bahwa Nadhira berharga. Duuh... 

Endingnya melegakan dan menggemaskan. Lega karena sepertinya masih akan ada kesempatan buat Kemal. Mungkin... setelah ratusan purnama? Ahaha...

Nah buat teman-teman yang ingin merasakan kisah percintaan yang manis dan unyu, yang sederhana tapi bermakna dalam coba deh baca dwilogi ini, dijamin bakal senyum-senyum geli dan lumer meleleh. Dan tentunya bakal terinspirasi oleh perjuangan Nadhira untuk menjadi dirinya sendiri.

Sabtu, 14 Mei 2016

[Resensi: Lho, Kembar Kok Beda? - Netty Virgiantini] Kisah Cinta Si Kembar yang Berbeda


Judul buku: Lho, Kembar Kok Beda?
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Wienny Siska
Desain sampul: Chyntia Yanetha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Februari 2015 (cetakan kedua)
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-0696-4




BLURB

Semua kesempurnaan cewek ada dalam diri Bashira. Wajahnya bulat, kulitnya kuning langsat. Rambut hitamnya bergelombang indah, pas dengan postur tubuhnya yang tinggi berisi. Kecerdasannya membuat Bashira selalu berada di posisi tiga besar dan terpilih menjadi sekretaris OSIS.
Tidak ada yang menyangka Nadhira yang "ancur" adalah kembaran Bashira. Wajahnya oval dengan kulit kecokelatan. Rambutnya selalu dipotong pendek supaya irit sampo. Tubuhnya mungil dan kurus, mirip papan penggilasan. Dia selalu kesulitan mengikuti pelajaran sehingga wajib mengikuti kelas tambahan. Belum lagi, ia langganan dipanggil guru BP karena ketahuan menggambar saat jam pelajaran berlangsung.
"Lho, kembar kok beda?" Pasti begitu komentar orang-orang.
Setelah tujuh belas tahun hidup dalam perbedaan, akhirnya mereka menyadari satu persamaan: sama-sama menyukai Narotama! Tapi bisakah mereka bersaing secara fair dan terbuka? Atau malah terjebak dilema antara cinta dan saudara?

RESENSI

Dari kecil Nadhira sudah terbiasa jika ada yang mempertanyakan hubungannya dengan Bashira. Dirinya dan Bashira berbeda bagai bumi dengan langit, pantas jika orang-orang sering berusaha memastikan apakah mereka benar-benar kembar. Bukan hanya perbedaan secara fisik, tapi juga sifat dan kapasitas otak.
Nadhira tak pernah mempermasalahkannya. Tak pernah protes jika dibandingkan. Ia menyadari kekurangan-kekurangannya. Itu sebabnya saat ia jatuh cinta pada Narotama, teman sekelas mereka, Nadhira lebih memilih memendamnya. Ia lebih suka menuangkan perasaannya di lembaran kertas dan mengamati Tama diam-diam karena Tama lebih sering menghabiskan waktu bersama Bashira. Apalagi Nadhira punya Raven, teman yang sudah ia anggap adik sendiri serta geng pintu belakang yang selalu menghiburnya.
Nadhira juga sibuk bertengkar dengan Kemal yang sering mengejek Raven dan menyebut Raven banci jika melihat Raven bersama Nadhira. Kemarahan Nadhira terpancing, ia pun melabarak Kemal dan balas mengejek Kemal.
Namun tanpa sengaja, sketsa wajah Tama yang dibuat oleh Nadhira diketahui Tama. Nadhira jelas kebakaran jenggot. Harap-harap cemas akan reaksi Tama. Puncaknya ketika ulang tahun Nadhira dan Bashira yang ketujuh belas, Tama datang dan membawakan bunga untuk Bashira. Nadhira pias. Ia merasa Tama memang menyukai Bashira.
Namun sebuah kado mungil tanpa nama berisi kalung berliontin bintang dan sebait puisi yang didapatnya membuat Nadhira bertanya-tanya. Siapa yang telah memberi Nadhira kado indah itu? Raven, Kemal atau malah Tama?

------------

Setelah lama nggak baca teenlit, Lho, Kembar Kok Beda? memberi saya kesempatan untuk menyusuri mesin waktu... kembali merasakan jadi anak SMA lagi. Hahaha...
Lah... kenapa bisa begitu?
Saya selalu merasa terkoneksi dengan tulisan Netty Virgiantini. Gaya berceritanya yang khas dan penuh kesederhanaan itu mirip dengan masa sekolah saya. Yang nggak neko-neko, yang seru-seruan bareng teman bisa dilakukan di sudut sekolah atau di kantin. Yang jatuh cinta nggak mesti harus dengan atlit basket atau playboy cap kapuk.

Lho, Kembar Kok Beda? mengusung kisah perseteruan batin antara dua saudara kembar yang mencintai cowok yang sama. Biasa? Klise? Mungkin saja. Tapi kisah ini dibungkus dengan keunikan dan kekhasan gaya bertutur Netty Virgiantini. Tentu rasanya beda dong ;)

Saya menganggap penulis ini pintar dalam menarik simpati pembaca untuk ditujukan kepada karakter tokohnya. Dari awal saya sudah pengin meluk Nadhira. Mengapa orangtua dan guru yang seharusnya membimbing dan mendidik justru malah nggak memiliki kepekaan terhadap anak dan anak didiknya. Hal inilah yang berusaha 'disentil' oleh Netty Virgiantini.
Bahkan anak kembar pun bisa berbeda, masing-masing pasti memiliki bakat dan kecerdasannya sendiri. Mengapa orangtua dan guru lebih mementingkan nilai pelajaran daripada bakat seorang anak?
Di sinilah peranan Bu Sharmila sang guru BP diwujudkan. Dengan apik, Netty menyoroti bahwa guru BP bukan guru penghukum tapi guru pembimbing yang semestinya bisa menjalin hubungan kepercayaan dengan murid dan mengenali potensi-potensi muridnya.

Dan seolah untuk menunjukkan bahwa pintar dalam pelajaran bukanlah kunci segalanya, Nadhira justru memiliki banyak pengagum rahasia: Kemal, Raven dan Tama.
Nggak perlu heran, meski biasa saja dan nggak berbody aduhai, Nadhira jelas memiliki pesonanya sendiri. Dia baik, setia kawan, dan apa adanya. Be herself. Ini yang penting. Jadilah dirimu sendiri. Jangan minder hanya karena nggak pintar, nggak cantik, nggak jadi kebanggan guru, karena setiap anak pasti punya keistimewaannya sendiri.
Di sisi lain ada Bashira... yang bertolak belakang dengan Nadhira. Mungkin karena egonya sering diangkat oleh orang-orang di sekitarnya, Bashira langsung terpuruk saat menemui kegagalan. Sedikit egois memang. Apalagi begitu jatuh, nilai-nilainya anjlok, bukannya diminta berbenah diri dan melihat kenyataan, Bashira justru dilindungi orangtuanya. Sumber masalahnya adalah dalam diri Bashira sendiri tapi ayah mereka mengkambinghitamkan hubungan Nadhira dan Tama.

Sedangkan karakter Tama memang tipikal karakter yang selalu muncul di novel karya Netty Virgiantini: sopan, kalem tapi juga lucu. Adem banget rasanya. Hehe...
Selain Tama juga ada Kemal, yang jadi favorit saya. Hmm~ kalau saya ada di posisi Nadhira kayaknya saya bakal naksir Kemal. Nakal tapi pintar. Lebih all out nunjukin perasaannya. Pas adegan Kemal duduk bersila di depan Nadhira, dan bantuin Nadhira ngerjain soal, malah saya yang deg-degan. Hahaha...
Lalu sosok Raven tadinya saya pikir hanya sebagai pelengkap. Tapi rupanya Raven punya porsi yang lebih. Sering kan ya di masa SMA... ada saja yang terjebak friendzone. Tapi justru, dari Raven saya megerti, orang paling kuat adalah orang yang tahan berada dalam jebakan friendzone. :))
Di novel ini saya mendapati pengkarakteran yang kuat dan berciri khas. Masing-masing tokoh tampil sesuai karakternya. Saling mengisi dan melengkapi.

Ending novel ini memang masih menggantung. Belum benar-benar selesai karena akan ada lanjutannya di novel berikutnya: Kembar Dizigot. Jadi sepertinya saya bakal kembali terlarut dengan kisah si kembar yang bertolak belakang ini.
Tapi sebelumnya saya katakan, Lho, Kembar Kok Beda? benar-benar novel teenlit yang asyik dan seru. Sedikit konyol tapi huhuuu... keromantisannya bikin meleleh. Recommended deh pokoknya.

Selasa, 29 September 2015

[Resensi: At the Park - Kristi Jo] Cinta Bersemi di Doggy Park


Judul buku: At The Park
Penulis: Kristi Jo
Genre: Teenlit
Editor: Irna
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 978-602-03-1857-8



BLURB

Tiara sudah dua tahun menjadi pacar Raymond-model keren, ganteng, dan berkelas. Tapi ketika dinner bersama Raymond, kenapa jantung Tiara tidak lagi berdebar kencang seperti dulu ya?
Debar itu justru Tiara rasakan ketika bertemu dengan Al di taman. Alfred Effendi, cowok sederhana, berkacamata, bertampang biasa, dan mempunyai passion yang sama dengan Tiara, yaitu penyayang binatang.
Tanpa terasa, kejadian demi kejadian di taman membuat dunia Tiara jungkir balik. Ia merasakan lagi yang namanya jatuh cinta. Tapi... saat Tiara menyatakan perasaan pada Al, kenapa Al malah menolaknya?

RESENSI

Senangnya jadi Tiara, punya cowok ganteng selangit yang jadi model papan atas pula. Secara fisik, Raymond sempurna, dan mereka serasi karena Tiara pun cantik luar biasa.
Sayangnya minat mereka berbeda bagai bumi dan langit. Tiara sangat mencintai anjing dan suka menghabiskan waktu bersama anjingnya, Lopez, di Doggy Park. Tiara nggak suka ikut pesta-pesta glamor bareng rekan-rekan model Raymond. Sementara, Raymond jelas-jelas tak suka anjing dan selalu sebal kalau Tiara lebih mencurahkan perhatian pada Lopez.
Tadinya Tiara nggak begitu mempermasalahkan perbedaan mereka, tapi lama-lama kok Raymond makin menuntut ini-itu, ya. Tentu saja Tiara menahan sebal setengah mati.
Di tengah kegusarannya itulah, Tiara bertemu dengan Al. Cowok pemilik anjing corgi nan lucu bernama Santana. 
Al yang biasa-biasa saja dan berbeda 180 derajat dengan Raymond. Tapi justru begitu mirip dengan Tiara.
Tiara merasa nyambung kalau bersama Al, dan pastinya merasa berdebar-debar. Meskipun fisik Al cacat, tapi Al begitu cekatan dan mengabdikan hidupnya pada binatang melalui shelter yang ia dirikan bersama orangtuanya.
Tiara pun menyadari kalau perasaannya terhadap Raymond telah beralih kepada Al. Tapi apakah Al punya perasaan yang sama dengan Tiara? Ataukah Al hanya menganggap Tiara sebagai teman sesama penyayang anjing?

--------------

Sebagai novel bergenre teenlit, novel At the Park menyajikan kisah ringan kegalauan khas remaja, tentang hubungan cinta segitiga. Tapi tema nan biasa ini menjadi tak biasa karena tokohnya merupakan pencinta anjing.
Hampir dipastikan di setiap bab, Lopez, Santana atau Toto muncul ikut menyemarakkan kisah ini. Tentu saja karena latar pentingnya adalah Doggy Park, sebuah taman bermain khusus untuk anjing.

At the Park diceritakan dengan sudut pandang orang pertama yaitu Tiara. Saya cukup menikmati novel ini, dan merasa tertarik akan jenis-jenis anjing yang bermunculan. Hanya saja deskripsinya tidak terlalu banyak sehingga karena saya awam akan jenis anjing akhirnya saya pun googling untuk mencari gambarannya. Dan mereka memang lucu-lucu ^^

Tokoh-tokoh dalam At the Park punya kekuatan karakter masing-masing. Gaya bicara dan pemikiran mereka berbeda-beda. Tiara digambarkan sebagai cewek cantik berpola pikir sederhana, Illa, sahabat Tiara, sebagai cewek heboh dan ceplas-ceplos, Al merupakan cowok pemalu dan berdedikasi pada binatang. Dan tentu saja tokoh yang paling rese adalah Raymond, duh pacar seperti itu cemplungin ke Selokan Mataram aja ;p

Novel teenlit biasanya mengandalkan dialog tokohnya yang lincah, demikian juga At the Park. Meski beberapa dialog antara Tiara dan Illa serasa kurang chemistry. Entah, saya merasa masih ada jarak antara Tiara dan Illa.
Bagian dialog yang saya suka adalah ketika Tiara ikut makan bersama Al, dan mamanya Al membuka aib rahasia Al. Hahaha... itu lucu. Kelak kalau anak saya bawa calon pacarnya ke rumah, apa saya bakal kasih tahu rahasia memalukannya, ya? :))))

Konflik At the Park saya rasa cukup ringan dan mudah terselesaikan. Meski saya sempat bosan sama Tiara yang masih saja bersabar dengan segala polah Raymond. Gemas gitu karena Tiara bolak-balik menggalau. ^^
Mungkin karena saya baca Promises lebih dulu, saya pikir akan ada pola twist yang sama. Tapi ternyata kejutannya hanya satu. Fisik Al. :')


Beberapa typo dalam novel ini:

* kakaku --> kakakku (hal. 26)
* kepala --> kepada (hal. 42)
* "Tiara. Tiara Kristo" --> "Tiara. Tiara Kristo." (hal. 51)
* tanya Illa lagi --> tanya Illa lagi. (hal. 55)
* tiba-tiba Al nyeletuk --> tiba-tiba Al nyeletuk. (hal. 114)
* ujarku --> ujarku. (hal. 157)
* "Lo aneh ya" --> "Lo aneh ya," (hal. 218)

Hmm.. saya cukup suka novel ini dan saya rekomendasikan untuk dog lovers yang tentunya akan dimanja dengan anjing-anjing nan lucu yang berseliweran di novel ini. Juga bagi remaja, yang masih menganggap fisik adalah segalanya, kalian boleh banget baca novel ini.
Karena keserasian hati lebih penting daripada keserasian fisik.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Kalau memang sudah cinta dan suka, komitmen jadi nggak terasa berat." (hal. 66)

"Hati lo nggak pernah salah, Ra. Dia membisikkan hal yang tepat, meski saat ini menurut lo salah. Otak lo ngirim sinyal cemas karena keadaan sekeliling lo nggak mendukung, jadi lo mengiranya salah." (hal. 86)

"Ibaratnya bolpoin bertemu dengan tutupnya, kancing dengan lubangnya, sepatu dengan kakinya, cincin dengan jarinya... pasangan itu harus klop, Ra. Banyak tutup panci, bolpoin dan sepatu dengan berbagai ukuran dan bentuk, tapi sesuai nggak? Cocok nggak? Jangan cuma karena lo terbiasa ada dia lalu lo beekoar-koar cinta." (hal. 144)

"Ada saatnya kita harus berjuang, tapi ada juga saatnya kita harus berhenti ketika semesta kayaknya nggak mendukung kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan." (hal. 263)

Kamis, 10 September 2015

[Resensi: The Kolor of My Life - Netty Virgiantini] Kolor Batik Kawung Pembawa Keberuntungan


Judul buku: The Kolor of My Life
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 9 Juli 2015 (cetakan pertama Desember 2008)
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 978-602-03-1513-3




BLURB

Sumpah demi kolor molor!

Neyra benar-benar nggak terima kolor batik keberuntungannya jatuh ke tangan Damar, cowok bertampang jadul bin cupu dan culun yang tinggal di rumah Simbah, tetangganya yang eksentrik.

Segala jurus sudah Neyra kerahkan demi mendapatkan kembali kolor spesial itu. Termasuk mengerahkan Jurus Macan Betina, yang nembuatnya berubah menjadi cewek supergalak - siap mencakar dan menerkam Damar.

Alih-alih berhasil, kesialan demi kesialan terus merundung Neyra. Dan kesialan terbesar adalah: Neyra mulai berdebar-debar nggak keruan dan salah tingkah bila berada di dekat Damar.

Gimana dong? Apa ini yang namanya cinta dari mata turun ke kolor?

RESENSI

Bagi Neyra si Pencinta Kolor, kolor batik kawungnya adalah kolor keberuntungan. Meskipun cara ia mendapatkannya berawal dari kesialan di Pasar Klewer, tapi Neyra yakin ia selalu mendapat keberuntungan saat memakainya. Sudah banyak bukti tak terbantahkan bahwa ia bisa menghindari kesialan hanya dengan memakai kolor batik kawung itu.
Namun semua berubah di siang hari berhujan itu. Meski sudah berusaha menyelamatkan celana kolornya dari hujan lebat, Neyra tetap kalah dari angin kencang yang menghembus celana kolornya ke... atap rumah tetangganya.
Serangkaian misi pun dijalankan Neyra untuk merebut kembali kolor itu dari atap rumah Simbah, tetangga yang sudah Neyra anggap seperti simbah sendiri. Tapi celana kolornya justru malah semakin tak tergapai karena... telah dipakai Damar!
Damar adalah saudara Simbah dari Sragen yang mulai hari itu pindah ke rumah Simbah karena ayahnya telah meninggal. Damar yang ternyata juga pindah ke sekolah Neyra dan menjadi teman sebangku Neyra itu mulai sering terlihat memakai celana kolor batik kawung keberuntungan Neyra. Dan sejak itu kesialan bertubi-tubi mendatangi Neyra. Duh... Neyra harus merebut celana itu kembali, tapi benarkah ia sungguh membenci Damar? Bukankah garis batas antara cinta dan benci itu begitu tipis?

-------

Sekali lagi saya dibuat nyengir-nyengir bak anak kuda oleh karya Netty Virgiantini. Pantas saja novel ini menyabet Juara Pertama Cerita Konyol Tahun 2008. Sungguh, konyolnya minta ampun!
Temanya berawal dari hal sederhana, tapi berkembang jadi luar biasa lucu. Gaya narasi yang kocak di sekali waktu, hiperbolis di kala lain dan puitis di satu momen membuat novel ini nggak berkesan monoton. Dialognya pun luwes dan nggak kaku dan berlogat jawa.

Point yang saya suka dari novel ini adalah unsur budaya lokal yang diangkat oleh penulis. Ada kolor batik kawung yang memang saya sendiri akui enak dipakai. Kolor batik itu adem dan praktis dan isis :)))
Juga pagelaran wayang kulit yang diperagakan Simbah yang diselipkan dengan gaya humor telah memberi warna budaya dalam novel ini.
Tapi masih ada lagi bagian favorit saya, Neyra terlepas dari sikapnya yang nyebelin karena suka bentak-bentak dan main marah-marah sama Damar, memainkan olahraga yang "beda" dari tokoh novel kebanyakan. Neyra jago main tenis meja. Saya pikir asyik juga si Neyra karena memainkan cabang olahraga ini. Jadi teringat Kogoro Mouri. Loh? Hahaha.. ujungnya larinya ke komik juga :p
Karakter Damar sendiri... aduuuh bikin iba setengah mati karena selalu dimarahi Neyra. Saya kira Damar ini bakal jadi favorit emak-emak karena kesantunan dan gaya jadulnya :)))

Judulnya lucu karena saya pikir ini plesetan dari ungkapan the color of my life, ya? Hihi... Dan saya lebih suka cover cetakan yang ini daripada cover cetakan pertamanya karena celana kolor batiknya jadi sorotan utama dan warnanya kalem.

Hanya ada sedikit kesalahan penulisan dan tanda baca dalam novel ini:
* maksudmua --> maksudmu (hal. 53)
* sountrack --> soundtrack (hal 79)
* Dasar bocah... --> "Dasar bocah... (hal. 90)
* berasalan --> beralasan (hal. 112)
* mikiran --> mikirin (hal. 132)
* ...lama. --> ...lama." (hal. 135)

Kalau kamu suka novel-novel humor nan konyol, saya sarankan baca novel ini. Dijamin bakal ngikik-ngikik geli oleh polah tingkah Neyra, Simbah dan tokoh lainnya. Porsi romannya walau sedikit tapi nyeees banget. Sempat hampir nangis juga sih karena adegannya sediiiih :(


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Kadang-kadang kita memang ndak bisa membedakan orang yang bener-bener sedang kena musibah dan membutuhkan pertolongan, atau orang yang sengaja memanfaatkan rasa simpati kita untuk berbuat jahat." (hal. 29)

Makhluk lemah, lembut, dan tak berdaya? Hah, makhluk yang satu ini bahkan lebih galak daripada singa betina! (hal. 121)

Tapi sebagai laki-laki, rasa sakit justru menguatkannya. Mendewasakannya untuk tetap mencintai tanpa berharap balasan yang sama. (hal. 172)



The Kolor of My Life nemenin "Damar" belajar.
 Eh... tapi kalau berdasar sablengnya 
mungkin cocoknya jadi "Yoga" :D

Jumat, 14 Agustus 2015

[Resensi: Telaga Rindu - Netty Virgiantini] Kerinduan yang Mebuncah di Telaga Sarangan


Judul Buku : Telaga Rindu
Penulis : Netty Virgiantini
Desainer : Sapta P Soemowidjoko & Lisa Fajar Riana
Penata isi : Yusuf Pramono
Penerbit : Grasindo
Tahun terbit : April 2014
Tebal buku : 161 halaman
ISBN : 978-602-251-488-6




BLURB

Setelah tiga bulan lamanya pergi tanpa kabar dan alasan yang jelas, Dipa tiba-tiba menghubungi Nala. Ia berjanji untuk datang menemui Nala di suatu tempat yang telah mengukir kenangan indah mereka berdua ketika menautkan hati.
Dalam suasana syahdu Telaga Sarangan, sepanjang hari Nala terbelenggu rasa resah dan gelisah. Menanti-nantikan saat ia dapat melihat kembali sosok yang selalu membayangi hari-harinya, dalam belitan rasa rindu yang selama ini coba diredamnya dalam diam.
Entah mengapa, tiba-tiba ada ragu yang terasa mengganggu. Menyelinap begitu saja bercampur keresahan dan kegundahan. Dalam luapan rasa suka yang sempat mencerahkan hati Nala, ada satu pertanyaan serupa firasat yang mengusik batinnya, sampai waktu menjelang tengah malam tiba.
Apakah Dipa akan menepati janjinya…?


RESENSI

Nala merasa ragu bercampur kesal saat ibu melarangnya memakai sweter warna hijau untuk dipakai saat outbound ke Telaga Sarangan. Betapa tidak, sweter hijau itu pemberian dari Dipa, kekasih hatinya, saat ulang tahunnya yang ketujuh belas. Tapi ibu dengan tegas melarang Nala memakainya dengan alasan tak jelas.
Padahal itu pemberian yang terakhir dari Dipa sebelum Dipa menghilang dari hidup Nala. Karena kasus korupsi yang menjerat bapaknya, Dipa merasa malu dan hijrah meninggalkan Magetan ke Surabaya. Meninggalkan Nala tanpa penjelasan apa-apa.
Pagi harinya saat Nala dan teman-temannya siap berangkat outbound, Imron, sahabat dekat Dipa, memberitahu Nala bahwa Dipa akan menyusul Nala ke Telaga Sarangan. Dipa diperkirakan akan sampai saat tengah malam selepas acara api unggun. Maka dimulailah kegalauan dan kegundahan Nala sepanjang hari itu. Rasa rindu setelah tiga bulan tak bertemu bercampur firasat yang mengganggu.
Akankah mereka bertemu? Apakah Nala tetap akan nekat memakai sweter hijaunya ke Telaga Sarangan?

----

Sungguh seru mengikuti kegalauan Nala selama sehari dalam novel ini. Plotnya rapi dan padat, jadi meski cerita berlangsung kurang lebih hanya dalam 24 jam rasanya sama sekali nggak membosankan. Justru beberapa kali saya senyum-senyum dan bahkan ngakak sendiri. XD
Dengan diksi yang memesona, saya terbawa arus dalam konflik batin Nala.

Suka banget dengan settingnya. Saya sendiri belum pernah ke Telaga Sarangan, tapi seperti sudah membentuk lokasinya di kepala berkat deskripsi dari penulis yang mendetail dan lengkap banget, sampai ke kelokan-kelokannya pun rasanya pernah saya lewati. Untuk deskripsi, saya benar-benar mengacungi jempol karena detailnya begitu jelas, terpampang nyata kalau kata Syahrini. XD
Dan Netty Virgiantini dengan cerdas menyelipkan beberapa mitos, legenda dan kearifan lokal dalam novel ini.

Telaga Rindu merupakan novel dengan banyak tokoh. Ada Bestari, Palupi dan Kinanti, sahabat-sahabat Nala yang hebohnya minta ampun. Ada pula Imron dan Charles, pujaan hati sahabat-sahabat Nala yang konyol. Belum lagi keluarga Nala dan keluarga Bestari yang ikut muncul. Jadi meriah banget suasananya.
Untuk karakter bapaknya Nala, entah kenapa kok yang terbayang adalah bapaknya Dudung di film kartun Si Dudung ya? Haha...
Mungkin karena medoknya dan lagaknya yang suka merayu ^^
Saya suka karakter Dipa yang tenang dan pendiam. Berasa cukup wise sebagai remaja belasan tahun. Lalu jadi geregetan karena pergi begitu saja tanpa memberi penjelasan apa-apa pada Nala. Ketidaksempurnaan Dipa itulah yang membuat novel ini membumi.

Desain sampulnya simpel tapi makna yang dikadungnya dalam banget. Setelah selesai membaca saya benar-benar bisa memahami gambar di sampul novel ini.

Saya tertawa dan terharu bersama novel ini. Sebagai perempuan yang pernah remaja saya bisa memahami kerisauan Nala dan keinginan kuat untuk tak mempercayai takhayul. Dan sebagai ibu, saya bisa memahami rasa protektif orangtua Nala, bahwa kadang firasat adalah alarm yang memang harus diwaspadai. Inilah yang saya dapatkan dalam novel Telaga Rindu.
Yang sedikit membuat saya mengerenyit hanyalah saat Nala berjalan sendirian menyusuri jalan gelap di tengah malam untuk mencapai tempat janjiannya dengan Dipa yang cukup jauh dari penginapan. Well, untungnya itu Nala, kalau saya jelas saya nggak akan mau. Bahaya kan gadis remaja jalan sendirian, malam-malam? Hehe…

Novel ini juga mulus karena minim typo, hanya ada dua kesalahan ketik yang saya temukan. Makanya membaca novel ini lancar jaya selancar jalan tol :))
Saya beri 4 bintang untuk Telaga Rindu, novel memikat yang telah mengaduk-aduk perasaan saya.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Setiap orangtua punya cara mendidik dan aturan masing-masing dalam keluarga, tidak bisa diperbandingkan satu dan lainnya. (hal. 36)

"Mungkin itu yang namanya 'cinta itu buta', La! Sebuah perasaan yang kadang-kadang tak peduli apa pun selain ingin memiliki seseorang yang menggetarkan hatinya. Tak peduli untuk itu ia harus melewati tebing curam penuh onak dan duri yang membahayakan jiwanya." (hal. 80)

Ketika dua hati telah merasakan hal yang sama, memang tak perlu lagi dibutuhkan deretan kata-kata. Juga tak peduli lagi berapa banyak pulsa terbuang untuk sebuah komunikasi tanpa suara. (hal. 83)


Sabtu, 04 Juli 2015

[Resensi: Heart and Soul by Windhy Puspitadewi] Mempercayai Cinta yang Layak Melukai


Judul buku : Heart and Soul
Penulis : Windhy Puspitadewi
Editor : Gita Romadhona & Ayuning
Desain cover : Levina Lesmana
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2014
Tebal buku : viii + 336 halaman
ISBN : 978-979-780-750-4



BLURB

Bagi Erika, harapan telah lama menjelma luka. Saat Ayah pergi, meninggalkan ia dan ibu, Erika tahu, tak boleh lagi menggantung harap--bahkan untuk sekedar menunggu. Ayah tak pernah kembali. Ia buang jauh-jauh cinta dari semua sisi hati.

Cinta datang dengan luka. Itu yang ia pelajari. Namun, ketika seseorang dengan lagu kenangan itu datang, ada resah yang Erika rasakan. Membuat ia mulai bertanya-tanya, benarkah hidup tak melulu tentang luka dan kesedihan?

Benarkah cinta bukan hanya tentang akhir bahagia, melainkan juga bagaimana kita menemukannya?

Erika tak ingin mencari jawabnya, tetapi laki-laki itu datang dan memberikan bukti nyata. Namun, Erika tahu ia harus bisa memastikan, benarkah dirinya tak akan lagi terluka.


RESENSI

Saat masih SD, Erika Tatiana dan ibunya ditinggal minggat ayahnya yang bangkrut karena tertipu rekan kerja. Bukan hanya itu, ayahnya juga meninggalkan utang-utang yang harus dilunasi. Setahun setelahnya, ibunya yang mengambil alih tugas mencari nafkah, meninggal. Jadilah Erika yang sebatang kara diasuh oleh tetangga rumahnya.
Erika tinggal di sana bersama Amaro Mahadana, putra tunggal keluarga tersebut yang sebaya dengannya. Di sekolah pun Erika hanya dekat dengan Linda dan Aro. Erika terkenal sebagai cewek jutek yang pelit memberi sontekan karena menganggap tidak ada untungnya baginya. Erika hanya mau memberi sontekan pada Aro, karena menurutnya itu adalah hubungan mutualisme. Karena orang tua Aro sudah memberinya tempat tinggal dan mengasuhnya. Sementara jika memberi sontekan pada teman-teman sekelasnya, itu hanya menjadi hubungan komensalisme, atau bahkan parasitisme. Prinsipnya dan kejutekannya itu membuat Erika dijauhi teman-temannya.
Hingga datanglah Lionel Aditiawan, murid baru di kelas Erika yang usianya dua tahun lebih tua. Leo, demikian ia disapa, masuk ke sekolah Erika setelah dua tahun masa pemulihan dari operasi cangkok jantung. Leo, entah mengapa seolah begitu mengenal Erika. Leo bahkan memainkan lagu Heart and Soul di ruang musik sekolah. Padahal lagu itu adalah lagu kenangan Erika tentang orang tuanya.
Semakin lama Erika semakin berdebar. Leo adalah sosok yang seolah begitu mengerti dirinya. Namun Erika takut jika ia membuka hati, Leo akan meninggalkan dan melukainya seperti ayah.
Bagaimana Leo meluruhkan benteng pertahanan Erika? Bagaimana Erika belajar memercayai orang-orang di sekitarnya? Maukah ia membalas cinta Leo? Dan mengapa Aro tampak kesal setiap melihat Erika dalam pelukan Leo?

---------

Huffff~
Beberapa lama saya cuma bisa terdiam memandangi layar dan novel ini bolak-balik. Nggak tahu bagaimana harus memulai. Hh.
Saya sebal karena patah hati atas ending novel Heart and Soul ini. Tapi saya suka gaya bercerita Windhy Puspitadewi. Jadi harus gimanaaaa dong?

Saya mulai dari pandangan mata dulu, ya ^^
Ketika lihat cover novel ini mejeng di timeline twitter, saya langsung suka. Mmm~ kesan retro yang saya tangkap langsung memikat saya. Nggak sadar kalau dari cover aja sebenarnya udah ada 'tanda-tanda' gloomy-nya :')
Pun saya masih ngeyel saat membaca sinyal 'beware' di blurb dan tetap niat ingsun buat membacanya. Hagzhagz.

Dan saya tenggelam. Larut bagai butiran gula di gelas teh mbah uti. Cerita dalam Heart and Soul terasa padat dengan plot yang rapi. Sangat mudah untuk menikmati adegan per adegannya.
Karakter tokoh-tokohnya begitu kuat meski penampilan fisik mereka nggak terdeskripsi dengan detail. Tapi dialognya…… juara!
Saya nyaris senyum-senyum sendiri membaca kesinisan dan kejutekan Erika saat sedang ngobrol dengan yang lain. Dan saya pengen memeluk Aro yang dengan lucunya nrimo kalimat-kalimat jutek Erika.
Dialog mereka jenis obrolan antar teman yang sudah bersahabat lama. Terasa hangat walau berupa sarkasme dan sinisme.
Tapi saya lebih suka Aro daripada Leo. Masih ada kesan manusiawinya karena bodoh (menurut Erika) - atau sebenarnya hanya pura-pura bodoh? ^^
Adegan favorit saya adalah tiap kali praktikum biologi. Saya kagum pada ketenangan Aro dalam bedah membedah. Hahaha...

Sudut pandangnya mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu Erika. Jadi saya ikut terombang ambing dalam kegalauan Erika.
Mengambil setting di Surabaya, ada bagian yang membuat saya bingung. Ketika Leo mengajak Erika jalan bareng. Sehabis dari toko binatang, Erika bertanya, mereka mau ke mana lagi? Leo menawarkan Taman Bungkul, dan Erika menyipit marah. Why? Adakah yang bisa menjelaskan? Apakah lokasinya terlalu jauh? Atau karena banyak pasangan muda-mudi? Atau karena apa?

Nyaris nggak ada typo dalam novel Heart and Soul, saya hanya menemukan beberapa:

* Setiap perbuatan… --> "Setiap perbuatan… (hlm. 58)
* kelebihan Tuhan yang berikan padamu --> kelebihan yang Tuhan berikan padamu (hlm. 88)
* …Apa maksudmu" --> …Apa maksudmu," (hlm. 122)
* ponsellagi --> ponsel lagi (hlm. 168)
* tanyanya --> tanyanya. (hlm. 232)
* Resti pun pun --> Resti pun (hlm. 325)

Saya rekomendasikan novel ini buat pembaca novel remaja yang suka kisah yang mengharu-biru dan banjir air mata.
Saya beri 4 bintang untuk Heart and Soul karya Windhy Puspitadewi.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Setiap perbuatan yang kulakukan, kulakukan karena memang aku ingin melakukannya. Bukan karena aku ingin dibenci atau ingin disukai orang lain. Aku juga tidak bermaksud menutupi siapa aku sebenarnya karena aku yang seperti inilah diriku yang sebenarnya." (hlm. 58)

"Aku jadi menghargai semua orang yang pernah singgah di hidupku. Orang-orang yang hanya melintas maupun menetap di hidupku, orang-orang yang kutemui. Karena pertemuanku dengan merekalah yang membentuk hidupku sekarang hingga akhirnya aku bisa seperti ini, bisa di sini… Bisa bertemu denganmu." (hlm. 96)

"Aku tak ingin lagi merasakan apa yang kurasakan saat Ayah meninggalkanku. Rasa pengkhianatan dan rasa bahwa aku tidak dicintai." (hlm. 259)

"Apa kau takut terluka? Karena cinta memang datang dengan luka. Mereka satu paket. Itu sebabnya kita harus mencari orang atau penyebab yang layak atas luka itu." (hlm. 275-276)

Memercayai seseorang artinya kita memberikan pistol kepada mereka yang bisa mereka gunakan untuk menembak kita kapan pun yang mereka mau. Jika akhirnya mereka menembakkan pistol itu, kurasa luka yang dirasakan memang luka yang pantas kudapatkan. Tapi, aku yakin, teman-temanku itu tidak akan menembakkan pistol itu dan melukaiku. (hlm. 333)

Rabu, 10 Juni 2015

[Resensi Jungkir Balik Dunia Mel by Indah Hanaco] Mengikuti Serunya Mel Terjungkir dan Terbalik


Judul buku : Jungkir Balik Dunia Mel
Penulis : Indah Hanaco
Penyunting : Dila Maretihaq Sari
Perancang sampul : Fahmi Ilmansyah
Pemeriksa aksara : Intan & Prita
Penata aksara : Gabriel
Ilustrasi isi : Itsna Hidayatun
Penerbit : Bentang Belia (Bentang Pustaka)
Tahun terbit : Januari 2012
Tebal buku : vi + 254 halaman
ISBN : 978-602-9397-05-5
Available at: bukupedia.com




BLURB

Hidup Mel hampir sempurna. Gimana enggak? Mel punya pacar dan sohib yang bener-bener asyik. Tico, pacar yang ganteng dan selalu ngertiin Mel. Fika, Nef, dan Yuri, tiga besties yang mengisi hari-hari Mel dengan penuh tawa.

Keadaan berubah dilema ketika Wing, mantan Mel, mendadak muncul lagi. Tico jadi tak sesempurna dulu di mata Mel. Eh tahunya, Wing juga sudah punya pacar baru.

Persahabatan Mel dengan tiga besties-nya pun sedang enggak akur. Yuri, si paling cantik bikin masalah di geng. Belum lagi, adik Mel, Shasy, yang juga nyebelin banget.

Gimana Mel menghadapi hari-hari di usia remajanya?
Mungkinkah Mel balikan lagi sama Wing?



RESENSI

Di usia 13 tahun Mel yang punya tiga sahabat dekat: Yuri, Nef dan Fika, pertama kalinya mengenal cinta. Merasakan jatuh cinta dan berpacaran dengan Wing, teman sekelasnya. Sayangnya cinta itu nggak berjalan mulus. Setelah enam bulan pacaran, Mel dan Wing putus karena Wing terlalu sibuk dengan les-lesnya dan nggak punya waktu buat Mel.
Memasuki SMA, Mel yang tetap satu sekolah -- bahkan satu kelas -- dengan ketiga besties-nya, berkenalan dengan gengnya Edgar. Mel sendiri berpacaran dengan Arland, salah satu teman Edgar. Sementara Edgar sedang mengincar Yuri. Malangnya, Mel melihat sendiri Arland selingkuh, mereka pun putus.
Bukan hanya hubungan percintaan Mel yang jatuh bangun, tapi persahabatan mereka berempat pun mengalami pasang surut. Ada saat di mana Mel iri pada Yuri, ada saat Nef tersinggung pada Yuri, ada pula saat Yuri mengalami kesedihan yang tragis.
Hingga akhirnya Mel bertemu Tico, mahasiswa keren yang perhatian banget dan dewasa. Tapi saat salah satu teman SMP Mel mengundang Mel ke acara ulang tahunnya, Mel kembali bertemu Wing. Meski mereka membawa pacar masing-masing, tapi getar-getar itu masih ada. Mel kembali merasakan sengatan listrik itu. Apa benar cinta mereka hanya cinta monyet? Apakah mereka bisa balikan sementara sama-sama telah memiliki kekasih?

-----

Jangan kaget saat membuka bab pertama Jungkir Balik Dunia Mel. Novel ini bukan novel biasa, karena bukan hanya dunia Mel saja yang jungkir balik tapi letak bab pertama dan selanjutnya juga sengaja diacak.
Bab pertama letaknya bukan di halaman satu tapi di halaman 24.
Sebenarnya penulis sudah memberi peringatan sebelumnya di dalam Ucapan Terima Kasih, agar pembaca jangan bingung membaca urutan babnya. Pembaca bisa baca dengan dua cara, sesuai urutan halaman atau urutan bab. Tapi saran saya, sih, lebih enak baca sesuai urutan bab, meski setelah selesai satu bab harus balik lagi ke daftar isi untuk melihat bab selanjutnya di halaman mana.
Konsep yang sangat unik meski sedikit merepotkan. Mungkin jika di akhir bab diberi informasi di mana letak bab selanjutnya, pembaca jadi lebih bisa menikmati tanpa gangguan.

Alurnya mengalir maju, plotnya juga lumayan rapi. Tiap bab menunjukkan babak baru kehidupan Mel. Meski sudut pandangnya orang ketiga tapi merupakan sudut pandang Mel, sebagai tokoh utama. Jadi hanya terfokus pada pemikiran dan perasaan Mel, ditambah lagi catatan harian Mel yang diselipkan di tiap bab, semakin menguatkan fokus sudut pandang.

Karakter dalam Jungkir Balik Dunia Mel cukup banyak. Tapi Indah Hanaco mampu membuat perbedaan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Perbedaan karakter ini konsisten terwujud dalam dialog, tingkah laku dan pemikiran.
Dialognya menarik terutama karena selipan informasi yang dijelaskan dengan catatan kaki. Ada informasi tentang Skatole, Joseph Pujol hingga ikan coelacanth dan mesin antikythera.

Konflik cenderung flat, makanya cocok dibaca sekali duduk. (Walau saya butuh tiga hari menyelesaikan novel ini karena terserang demam cikungunya). Ringan tapi sarat makna. Karena novel ini bukan hanya berisi kisah cinta Mel, tapi juga arti persahabatan, persaudaraan dan hubungan dengan orang tua.

Hanya saja Mel sepertinya terlalu banyak menemui kebetulan. Mel beruntung banget karena bisa sekelas dengan ketiga sahabatnya. Padahal saya dulu mesti kepisah kelas sama sahabat-sahabat saya huhuuuu~
Mel juga beruntung sudah putus dari Arland sebelum Arland kena kasus. Coba kalau masih jadi pacar Arland, Mel bisa ikut terseret kasus tuh.

Ukuran dan jenis font-nya menarik. Enak dibaca. Apalagi saya sama sekali nggak menemukan typo. Ilustrasi di dalamnya unyu. Meski saya nggak begitu sreg dengan cover-nya. Kurang jungkir balik kayaknya. :D

Saya beri 4 bintang untuk Jungkir Balik Dunia Mel.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Penampilan memang sering mengaburkan isi dari kemasannya. Padahal, isi jauh lebih penting. (hal. 53)

Cinta itu mirip jelangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Bisa pergi tanpa permisi dan hadir tanpa diundang. (hal. 75)

Rasa iri yang mengotori hati kadang membuat otak jadi beku dan lidah meloloskan kata-kata negatif yang menyakitkan. (hal. 89)

Mencintai bukan hanya tentang keinginan untuk memiliki. Mencintai juga tentang melepaskan dan membebaskan. (hal. 160)

Ke mana pun pandangan mencari, cinta tak akan datang bila saatnya belum tiba. Jadi, jangan menghindar jika hatimu telah mengatakan "ya". (hal. 177)

Mungkinkah sekadar mencintai saja tidak cukup untuk sebuah hubungan? (hal. 198)

Cinta memang tidak pernah salah. Meski sudah berusaha memalingkan wajah darimu, ternyata hatiku hanya mampu takluk padamu. (hal. 221)

"Terserah kalo orang bilang ini cinta monyet. Aku justru mau bilang, hati-hati sama cinta monyetmu." (hal. 236)

Jangan pernah meremehkan cinta monyet. Usia bukanlah tolok ukur untuk menilainya. Orang yang tepat, hati yang menemukan tempat bersandarnya, dan kesediaan untuk saling memahami, bisa mengubahnya menjadi "cinta naga". (hal. 237)
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon