Tampilkan postingan dengan label erotica. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label erotica. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Oktober 2016

[Resensi] Beauty Becomes You - Skye Warren

Judul buku: Beauty Becomes You
Serial: Beauty #4
Penulis: Skye Warren
Edisi: Kindle Edition
Tahun terbit: Agustus 2013
Tebal buku: 79 halaman
ISBN: 9781940518008



BLURB

With the end of semester approaching, Erin and Blake decide to lay low. After all, they have all the time in the world after that. Except Blake’s future at the university is up in the air and trouble is brewing back in Erin’s hometown. When the couple is tested, they will have to trust each other to forge their own sexy ending.


RESENSI

Dua bulan menjelang kelulusan Erin, Blake meminta agar mereka menjaga jarak hingga tiba waktunya Erin lulus. Blake merasa betapa riskannya jika hubungan mereka terkuak dan menggagalkan rencana masa depan Erin. Meski dengan berat hati, Erin menyetujuinya.
Ketika masa penantian mereka berakhir, secara tiba-tiba ibu Erin mengalami serangan jantung. Merasa panik dan ketakutan, Erin berusaha sesegera mungkin kembali ke kota asalnya. Sayang mobilnya mogok dan Blake sama sekali tak bisa dihubungi. Blake juga tak ada di manapun. Di tengah rasa putus asanya, muncullah Doug, pria dari masa lalu Erin, menawarkan bantuan untuk mengantar Erin. Secara lugas Doug meminta maaf atas perbuatannya dan berharap bisa kembali bersama Erin.

-------------------------

"Love wasn’t a lightning strike, a sharp point with a definite beginning and an inevitable end. Love was a shelter from the storm, respite from her fears and relief from the reality of his pain."

Aah tiba juga saya akhirnya di buku keempat seri Beauty, Beauty Becomes You. Tentu saja ini rekor karena saya biasanya sulit menyelesaikan serial dengan tokoh yang sama. Saya lebih menikmati standalone series karena nggak ada keterikatan untuk harus menuntaskan keseluruhannya, dan karena saya gampang bosan kalau bertemu tokoh yang sama lagi dan lagi.
Tapi sejak membaca buku pertamanya, Beauty Touch The Beast saya telah jatuh cinta pada Blake dan Erin. Juga jatuh cinta pada gaya bertutur Skye Warren yang tadinya saya ragukan. Bagi saya yang mencintai dongeng Beauty and The Beast, serial ini benar-benar sama manis dan menyentuhnya.

Dibuka dengan adegan percintaan yang hot dan smut, Beauty Becomes You menjadi cerita pemuncak yang minim konflik. Seolah semua masalah sudah terselesaikan di buku ketiga, Broken Beauty. Karena di sini, percik konfliknya begitu mudah dihadapi dan nggak memicu masalah yang besar. Novella ini hanya berisi pencerahan dan penyadaran diri Blake dan Erin tentang arti hubungan mereka. Pikiran mendalam yang dihasilkan setelah mereka terpaksa harus berpisah untuk sementara. Kesabaran mereka dan kesetiaan mereka.
Pada akhirnya Blake pun bertemu dengan ibu Erin. Satu hal yang semestinya menurut saya bisa menjadi puncak konflik. Karena nasib yang terjadi pada ibu Erin telah disebut-sebut sejak lama. Saya kira akan ada kelanjutan sikap penolakan sang ibu setelah di buku ketiga.

Bisa dibilang buku terakhir ini hanyalah sebuah penutup yang memperlihatkan bahwa semua karakternya sudah move on. Bahwa mereka berhasil melewati luka dan kegelisahan mereka. Yang mengejutkan adalah munculnya Doug dan konklusi yang mengikuti kemunculannya. Lagi-lagi, kehadiran yang nggak menimbulkan konflik. Doug muncul hanya untuk menegaskan bahwa ia nggak sebrengsek ayahnya, bahwa ia bukan bajingan dan meminta maaf. 
Entah saya harus kecewa atau bahagia. Namun yang paling saya suka adalah cara Erin menyikapi semuanya.
Tiba-tiba mendapat kabar bahwa ibunya dirawat di rumah sakit, mendapati mobilnya rusak dan nggak bisa digunakan untuk menempuh perjalanan pulang sejauh empat jam perjalanan, kesulitan menghubungi Blake, nggak mampu menemukan Blake di manapun, sungguh ajaib ia nggak mencak-mencak pada Blake. Paling nggak saya bakal cemberut begitu bertemu keesokan harinya dan menuntut penjelasan. Tapi Erin dengan kalem menerima permintaan maaf Blake dan mempercayai Blake. Erin ini makan apa kok bisa sabar, dewasa dan bijaksana begitu? :(
Blake sendiri juga mulai bisa lebih tenang. Rasa posesifnya terasa manis tapi nggak mengekang. Berkali-kali ia menyebut Erin adalah miliknya dengan cara yang begitu manis. Ketika menemukan Erin bersama Doug dengan posisi yang bisa menimbulkan salah paham, ia tetap percaya pada Erin. Duh duh... Blake ini benar-benar mudah dicintai deh.

“Wait for me,” she whispered.
“Forever,” he murmured. “I’d wait for you forever. Though if you came back sooner, I’d make it worth your while.”

Bagi saya, novella ini tidaklah semenarik novella sebelumnya. Mungkin karena tanpa riak dan hanya berupa penegasan hubungan yang mudah diduga.
Well, meskipun ini adalah buku terakhir serial Beauty, masih akan ada satu kisah tambahan tentang Blake dan Erin. Yang membuat saya jadi penasaran, kalau pasangan ini telah begitu sempurna dalam kebahagiaan, apa yang akan dituangkan Skye Warren dalam kisah ekstranya? Hmm~ adegan ranjang tanpa henti mungkin?  :)))

Jumat, 07 Oktober 2016

[Resensi] Beneath The Beauty - Skye Warren

Judul buku: Beneath The Beast
Series: Beauty #2
Penulis: Skye Warren
Format: Kindle Edition
Tahun terbit: Mei 2013
Tebal buku: 63 halaman
ASIN: B00CVGFCEK



BLURB

When Blake receives an offer to return to his alma mater as associate professor, he knows this is his chance to reenter the world—and to be worthy of the woman he loves. Erin wants this chance for him to heal… even if it means leaving her behind.

Beneath the Beauty is a novella in the Beauty serial. Don’t miss the sexy initial installment, Beauty Touched the Beast, available now. 


RESENSI

Dua minggu sejak resmi menjadi pasangan, Erin merasa hubungannya dengan Blake seolah masih berjarak. Apalagi Blake selalu diam-diam meninggalkannya saat dikiranya Erin telah tertidur, dan pergi ke ruang kerjanya hingga lupa waktu. Apakah Blake punya wanita lain?
Di tengah usahanya meyakinkan Erin bahwa gadis itulah satu-satunya, Blake mendapat tawaran untuk menjadi profesor pengganti di universitas. Maka melangkahlah Blake ke dunia luar setelah bertahun-tahun mengurung diri. Sayang, dengan status barunya, ia tak bisa mengakui Erin–yang merupakan mahasiswa di universitas tempat Blake mengajar–sebagai kekasihnya. Dan munculah Melinda, mantan tunangan Blake yang ingin kembali berhubungan dengan Blake. Akankah Blake kembali pada Melinda? Ataukah ia tetap bertahan di sisi Erin?

----------------------------

“There are no happy endings for the beast.” 

Membaca Beneath The Beauty tadinya hanyalah keisengan saya untuk melanjutkan serial Beauty. Setelah membaca Beauty Touch The Beast yang cukup mengesankan, saya berharap menemukan kisah yang semakin mendalam di buku keduanya. Tapi bisa dibilang, harapan saya juga nggak muluk-muluk amat, karena saya tahu biasanya buku lanjutan novel eroro hanyalah berupa aktivitas seksual yang semakin intens.
Namun rupanya saya salah besar!
Novella kedua serial Beauty ini semakin matang dalam plot dan storyline yang jelas. Alur ceritanya semakin menarik dan latar belakang tokohnya pun mulai tersingkap.

Beneath The Beauty masih menggunakan sudut pandang orang ketiga. Porsinya pun masih sama imbangnya. Alurnya maju dan lingkup sosialnya mulai meluas. Ada suasana baru, ada dunia luar yang mereka datangi dan orang-orang luar yang terlibat dalam kisah cinta antara Blake dan Erin.
Suasana baru yang sangat normal dan membuat saya lupa kalau saya sedang membaca eroro. Karena kesan yang saya dapatkan dalam novella ini adalah romance yang elemen-elemen pentingnya terpenuhi. Dari segi setting, karakter, juga plot.

Blake masih berkutat dengan rasa rendah dirinya. Wajahnya yang cacat separuh akibat luka ledakan yang ia derita saat sedang bertugas masih membuatnya membentengi diri. Jika saja Erin nggak ada di sana mungkin ia akan tetap menolak tawaran untuk menjadi pengganti profesor sementara. Bahkan saat menjadi profesor dan bertemu dengan Erin sebagai profesor dan mahasiswa, Blake masih merasa nggak pantas menginginkan Erin.
Rasa takut yang wajar apalagi menilik masa lalunya. Penolakan-penolakan yang harus ia hadapi setelah menjadi cacat. Blake digambarkan begitu mirip Beast dalam dongeng aslinya, yang menyendiri dan menutup diri, marah pada dunia, dan menyembunyikan jati dirinya dalam kegelapan.
Hingga Erin datang. Ternyata perasaan Blake telah tumbuh sejak pertama kalinya Erin datang melamar pekerjaan. Diungkapkan juga bahwa Blake mulai punya semangat dan berani ke luar ke jalan cahaya karena Erin. Ia ingin menggapai Erin. Ooh... saya benar-benar mulai jatuh cinta pada Blake!

Erin sendiri ternyata juga punya latar belakang yang memilukan. Terutama dengan mantan kekasihnya. Tapi bukannya merasa trauma, Erin berani menyambut dan memperjuangkan rasa cinta yang ia miliki terhadap Blake. Ia belajar dari kesalahan. Ia tampak dewasa di novella kedua ini, dan lebih memegang kendali. Dia benar-benar berdiri di sana di hadapan Blake dan dengan yakin menyatakan dan mencurahkan kasih sayangnya.

Konflik di novella kedua ini mulai berkembang. Bukan lagi sekedar perang sanubari para tokoh utamanya, tapi mulai muncul orang ketiga. Seseorang dari masa lalu Blake yang tiba-tiba datang dan menginginkan rujuk. Melinda benar-benar jenis wanita yang bakal jadi lawan tangguh dan berpotensi menjadi bom yang mengguncang kisah cinta Blake dan Erin.
Sayangnya... konflik cinta ini terlalu mudah diselesaikan. Entah apakah Skye Warren nggak berani membuat tokohnya saling berkonfrontasi ataukah penulis ini menyimpan ledakannya untuk buku lanjutan serial yang berikutnya, saya nggak tahu.
Tapi toh endingnya memang manis dan memuaskan. Rasanya meleleh melihat chemistry mereka berdua. Saya paling suka ketika Erin menemukan Blake di depan apartemennya, itu benar-benar twist yang sempurna setelah saya hampir mewek di bab sebelumnya.

Well, Beneath The Beauty masihlah novel hot nan erotis. Apalagi adegan seksnya mereka lakukan di kantor sang profesor. Gila dan menantang. Jangan lupakan juga dirty talk yang saling mereka lemparkan. Tapi jangan khawatir, meski kadar panas novel ini bisa bikin telur jadi matang, nggak ada kesan kotor dan mrnjijikkan. Gaya tuturnya begitu romantis, jenis smut yang bakal bikin saya meleleh. Namun yang lebih penting, Beneath The Beauty punya pesan yang jelas, tentang rasa insecure yang tentunya ada dalam hati kita, dan bagaimana menghadapinya. Jika telah menemukan orang yang tepat, jangan segan untuk melepaskan segala rasa sakit dan rasa pedih. Saya tersentuh saat akhirnya sang Beast menitikkan air mata.

Rabu, 28 September 2016

[Resensi] Owning The Beast - Alexa Riley

Judul buku: Owning The Beast
Penulis: Alexa Riley
Penerbit: CreateSpace Independent Publishing Platform
Tahun terbit: Januari 2014
Tebal buku: 100 halaman
ISBN: 9781508602477



BLURB

When Annabella Blanca finds herself on the doorstep of her new home, she is terrified, yet hopeful of what her new life will be. 

Griffin Stone has locked himself away from the world. One minor mix-up, and all his carefully built walls come crashing down. 

When love finds its way in to even the darkest of hearts, will it be enough to stand the greatest tests? Can beauty own the beast?


RESENSI

Setelah kematian ayahnya, Annabella tak tahu harus pergi ke mana. Selama ini ia selalu dijaga ketat oleh ayahnya sehingga tak paham dunia luar. Itu karena tinggal di Meksiko yang penuh dengan kejahatan, membuat ayahnya selalu memproteksinya.
Namun kini, Annabella yang berjuang untuk hidup berakhir di sebuah agen penyedia jasa wanita penghibur. Sebagai perawan, ia dikirim kepada seorang klien yang menginginkan calon pengantin wanita. Berpikir bahwa menjual diri kepada satu lelaki lebih baik daripada menjual diri kepada banyak lelaki, Annabella menerimanya. Maka berangkatlah ia ke kediaman Griffin Stone.
Namun rupanya terjadi kesalahpahaman. Seperti biasa, Griffin meminta seorang pelacur kepada agen tempat Annabella bernaung. Alih-alih mendapatkan pelacur, Griffin justru mendapati seorang gadis polos dan perawan. Ketika ia mengetahui kesalahan yang telah terjadi, Griffin bertekad mempertahankan Annabella. Bahkan meski ia harus bertarung dengan klien Annabella yang sebenarnya.

---------------------

Masih dalam rangka ketagihan baca karya Alexa Riley, saya akhirnya membaca Owning The Beast. Kisah yang temanya berdasar dongeng favorit saya Beauty and The Beast. Karena saya memang tergila-gila pada ide cerita dongeng ini. Bagi saya kisah cinta antara si cantik dan si buruk rupa ini begitu romantis dan manis. Maka, saya pun nggak ragu untuk membaca Owning The Beast.

Seperti kebanyakan novel Alexa Riley yang telah saya baca, novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Annabella dan Griffin. Porsinya berimbang dan masing-masing saling mengungkapkan isi hati dan perasaan mereka. Meski lagi-lagi, sang hero dan heroine dibuat sebatang kara. Nasib yang monoton ini lama-lama mulai membosankan juga. Lagi-lagi heroine yang kesepian, lagi-lagi heroine yang harus mencari tempat untuk bergantung, dan lagi-lagi seolah dunia begitu sempitnya dan hanya berisi sang hero dan heroine. Dengan tambahan seorang tetragonis dan antagonis tentunya.

Saya suka karakter Griffin. Yah pastilah ya, Griffin ini kan karakter yang Beast banget. Suka marah, main perintah, kasar, tapi aslinya dia kesepian. Dan kalau sudah mencintai seseorang, dia mau bersikap manis dan gentle banget. Seperti itulah Griffin. Awalnya dia brengsek banget. Tapi begitu udah ngerasain malam pertama dengan Annabella, dia mulai luluh. Mulai jadi manis. Mulai siap melakukan apa saja demi Annabella.
Sayangnya, karakter Belle yang cerdas dan mandiri itu nggak ada dalam diri Annabella. Memang sih Annabella berani melawan kehendak Griffin, berani nunjukin apa yang dia mau, tapi tetap saja kekuatan tekadnya nggak sebesar Belle.
Dialog antar kedua tokoh juga terlalu biasa, kurang greget dan tanpa makna. Chemistrynya cukup lumayan. Saat berdua, Annabella dan Griffin cukup manis juga. Tapi karena adegannya klise banget, jadinya ya kurang berkesan. Nggak terlalu romantis juga dan masih kalah manis dibanding My New Step-Dad. Mungkin karena di novel tersebut tarik-ulur antar kedua tokohnyalah yang membuat cerita jadi menarik.

Hal yang paling bikin saya sebal adalah betapa mudahnya semua terselesaikan bagi sang hero dan heroine. Puncak konfliknya memang menegangkan, ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Alexa Riley dengan konflik yang berasal dari luar. Bukan lagi sekedar perang batin ya atau tidak bagi hero dan heroinenya, tapi benar-benar muncul sesosok antagonia yang mengancam kebahagiaan kedua tokoh utama. Namun sayangnya, penyelesaiannya begitu sederhana dan mudah. Seolah nggak ada hukum, semuanya beres pokoknya. Saya jadi bertanya-tanya Griffin ini masa bisa sebegitu berpengaruhnya hingga bisa menyelesaikan masalah hanya dengan berkedip.
Banyak kejanggalan yang nggak masuk akal juga berkaitan dengan meninggalnya orangtua Griffin dan bagaimana Griffin bisa mengetahui siapa dalang di balik kematian orangtuanya. Aneh dan terlalu mengada-ada bagi saya.

Well, sebagai pencinta kisah Beauty and The Beast saya menganggap Owning The Beast bukanlah adaptasi terbaik. Terlalu banyak plot hole dan konflik yang kurang greget. Tapi paling tidak saya menikmati cerita ini sebagai kisah yang manis tentang seorang heroine yang mau menerima kekurangan sang hero, dan bagaimana sang hero mengatasi ketakutannya untuk kemudian berani berjuang. Adegan panasnya juga seru dan bikin panas dingin. Yang pasti smutnya khas Alexa Riley banget.
Membaca novel ini memberi ide pada saya untuk berburu novel dengan tema Beauty and The Beast yang lain. Hmm... kira-kira novel adaptasi dongeng ini mana yang bagus dan layak untuk dibaca ya? Yah, mari berburu mulai dari sekarang.

Senin, 26 September 2016

[Resensi] Holding His Forever - Alexa Riley

Judul buku: Holding His Forever
Penulis: Alexa Riley
Penerbit: CreateSpace Independent Publishing Platform
Tahun terbit: Juli 2016
Tebal buku: 156 halaman
ISBN: 1537157132



BLURB

Derek aka Phoenix is a New York City firefighter and has dedicated his life to saving people. When he loses two of his men in the line of duty, he doesn’t know if he’ll be able to see the light again.

However, when an angel in the form of a woman named Fia appears before him, his world as he knows it is turned upside down. 

Fia has been working hard to make money so she can finish her last semester of school. A fire in her building sets her back to square one, but the fireman who saves her turns out to be more than she ever expected. 

Once he gets his arms around her, there’s no letting go. Because when you’ve got your forever in your arms, nothing else matters. 

Warning: This is hot and fast insta-love that ignites the pages. It’s burning heat that combusts into an inferno of lava. Okay, that’s all the fire words I could come up with. Now insert a pun about a big hose. It’s quick, dirty, and ridiculously over the top.


RESENSI

Derek Phoenix merupakan seorang pemadam kebakaran nan tangguh. Dalam kedukaannya karena kehilangan dua orang sahabat terdekatnya saat sedang bertugas menyelamatkan korban kebakaran, Derek tak mampu mengendalikan kehampaan dalam dirinya. Namun semua berubah ketika ia harus menangani kebakaran di sebuah apartemen, peristiwa yang membuatnya bertemu dengan Fia Clover.
Fia yang sebatang kara dan yang selama ini berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, lagi-lagi harus meghadapi kepedihan. Kehilangan tempat tinggal membuatnya jadi bergantung pada Derek, pahlawan yang telah menyelamatkan nyawanya dan yang bersedia tetap ada di sampingnya.
Bisakah mereka saling menyembuhkan kehampaan jiwa mereka?

--------------------

Ada beberapa alasan mengapa saya nggak pernah mereview novel Alexa Riley, meski ada beberapa bukunya yang sudah saya baca. Terutama buku fenomenalnya, Trailer Park Virgin. Beberapa kali saya mempertimbangkan untuk mengulasnya di blog Nurina Mengeja Kata ini, tapi lagi-lagi novel Alexa Riley yang saya baca masihlah cukup tabu, karena merupakan hubungan antara saudara tiri. Semenarik apa pun Alexa Riley menuangkannya ke dalam kata-kata, tetap saja pembaca di belahan timur dunia ini akan mengerenyitkan kening dan menganggapnya tabu.
Namun ketika saya meyelesaikan membaca Holding His Forever ini, saya nggak bisa menahan diri untuk mengulasnya. Karena toh novel ini nggak sekontroversial Trailer Park Virgin, My New Step Dad atau pun Their Step Sister. Apalagi profesi hero dalam novel ini merupakan profesi favorit saya: pemadam kebakaran.

Menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Fia dan Derek, pada awalnya Holding His Forever nampak suram dan kesan sedihnya begitu kuat. Derek Phoenix (yap benar, Phoenix! Dan bahkan namanya pun nama favorit saya) begitu terluka karena kehilangan dua sahabat dekatnya. Ia menjalani hari-harinya seolah tanpa harapan lagi. Namun di tengah rasa iba saya terhadap sang hero, ada hal yang nggak masuk akal yang membuat saya tersenyum. Betapa tidak? Derek yang gagah, hot, dan merupakan pemadam kebakaran paling hebat itu punya nama panggilan kesayangan dari sang ayah. Tanpa megerenyit dan mengeluh sedikit pun, Derek terima saja dipanggil Sunshine oleh ayahnya. Duuuh... manisnyaaa. Wkwkwk~
Namun bukan sang hero saja yang mengalami kesedihan. Sang heroine, Fia Clover pun sama nggak berdayanya. Hidup sebatang kara, harus bekerja keras demi bisa menuntaskan pendidikannya, dan harus menghadapi bos paling brengsek seantero muka bumi.
Sungguh membaca latar konstruksi cerita ini sempat bikin saya frustasi. Berharap Alexa segera menyudahi kesedihan tokoh-tokohnya dan segera mempertemukan mereka. Dan sayangnya pertemuan itu harus terjadi dalam tragedi. Pertemuan yang bikin sedih ketika Derek menyelamatkan Fia saat apartemen Fia terbakar. Nah.. nah... Sejak pertemuan mereka itulah, kisah bergulir semakin menarik dan manis. Memang sedikit cheesy, ah tapi saya sih menikmatinya kok.

Adegan hotnya uh ah uh ah banget. Khas Alexa Riley yang bisa bikin pembaca panas dingin, terutama ketika adegan seksnya dikisahkan dari sudut pandang Derek. Yah, meski nggak sehot Trailer Park Virgin dan nggak semanis My New Step-Dad, tapi tetaplah hubungan percintaan Derek dan Fia layak dinanti. Manis dengan caranya sendiri dan jauh dari model-model cerita stensilan. Erotis tapi nggak porno.
Sayangnya, chemistry antara mereka berdua masih kurang solid. Fia memang terasa butuh Derek banget, dan Derek juga memperlakukan Fia seolah Fia malaikat yang harus dipuja dan dilayani. Tapi, kemana hilangnya karakter pemberani Fia, terutama saat ia melawan sang bos? Paling nggak saya pengin Fia bisa mengimbangi Derek dan bukannya terasa submissive banget.

Kelemahan novel ini tentulah dalam plot dan storylinenya. Namun sebagai novel fast insta-love, saya sih memang nggak terlalu mengharapkan plot yang rapi. Yang pasti, Holding His Forever merupakan novel yang manis, seksi dan mudah dinikmati. Lumayan klise dan cheesy tapi cukup puas membaca novel ini. Buat kalian yang menginginkan kisah ringan nan erotis boleh banget baca novel ini, karena saya sih suka banget dengan gaya bertutur Alexa Riley. Tapi ingat... it's just for adult only. Risiko tanggung sendiri, ya... XD

Minggu, 28 Agustus 2016

[Resensi] Bared To You - Sylvia Day

Judul buku: Terbuka Untukmu
Judul asli: Bared To You
Seri: Crossfire #1
Penulis: Sylvia Day
Alih Bahasa: Iingliana
Editor: Hetih Rusli
Cover: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2013
Tebal buku: 446 halaman
ISBN: 9789792298604



BLURB

Gideon Cross memasuki hidupku seperti petir dalam kegelapan....

Pria itu tahu dirinya tampan, cerdas, dan memesona. Baru pertama kali aku tertarik pada seseorang seperti aku tertarik padanya. Aku mendambakan sentuhannya yang mampu membuatku luluh. Aku wanita yang tidak sempurna dan membawa luka masa lalu, namun dia bisa membuka diriku dengan mudah...

Gideon tahu. Dia memiliki hantu-hantu masa lalunya sendiri. Kami berdua saling memahami luka-luka batin... dan tak bisa memungkiri hasrat yang bergelora di antara kami. Ikatan cintanya mengubahku, aku berharap semoga rahasia kami di masa lalu tak membuat aku dan Gideon berpisah... 


RESENSI

Eva Tramell baru saja pindah ke New York dan menghuni apartemen barunya bersama Carry, sahabat prianya. Saat ia sedang berusaha melihat kantor barunya, tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang pria yang langsung mengguncang hasratnya. Perasaan yang tampaknya tak bertepuk sebelah tangan karena di hari berikutnya, pria itu menyapa Eva dan menunjukkan sikap bahwa ia pun tertarik pada Eva.
Hingga Eva mengenalnya sebagai Gideon Cross, sang pemilik Cross Industries. Tanpa tedeng aling-aling, Gideon dengan jelas dan lugas menyatakan hasratnya terhadap Eva.

--------------------

Ada banyak alasan mengapa saya agak malas memulai untuk membaca seri Crossfire ini. Yang pertama karena banyak yang bilang kalau novel ini sebalas-duabelas dengan Fifty Shades of Grey, dan saya malas kalau harus membaca novel yang berpola sama dengan FSOG. Yang kedua karena seri ini terdiri dari lima buku. Belum-belum saya sudah jenuh.
Saya memang punya masalah dalam membaca novel berseri dengan tokoh yang sama. Biasanya saya mandeg di buku kedua dan sudah malas melanjutkan buku ketiga. Contohnya saja seri Summer-nya Jenny Han yang saya mentok di buku keduanya, atau novel fantasi Lunar Chronicles dari Marissa Meyer, yang saya belum juga punya mood untuk melanjutkan buku ketiganya, Cress.
Berbeda jika saya membaca serial yang tokohnya berbeda-beda. Mau sampai puluhan saya sih oke saja.

Jadi membaca Bared To You sejatinya hanyalah ajang coba-coba bagi saya. Nggak ada ekspektasi macam-macam. Dan ternyata novel ini lumayan bagus dan nggak membosankan. Kecuali bagian persetubuhannya. Terlalu banyak dan malah bikin ceritanya gak jelas. Untuk selanjutnya saya akan mengupasnya sebagai Bared To You tanpa berusaha membandingkannya dengan FSOG.

Novel ini ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang Eva. Alurnya maju dan cara bertuturnya lumayan enak dibaca. Setting New York-nya cukup detail dan memberi gambaran dengan tepat.
Sayangnya lagi-lagi saya bertemu dengan hero yang ganteng dan hot banget yang merupakan pria pebisnis kaya raya yang bisa melakukan segalanya, dengan masa lalu yang (kemungkinan) melukainya. Dan seolah itu belum cukup untuk membuat saya memutar bola mata, semua pria—yap saya bilang SEMUA—yang ada di sekitar Eva, yang berada di kehidupan Eva, ganteng dan sempurna. Sampai di sini saya mulai menganggap novel ini benar-benar fiktif dan amat jauh dari kehidupan nyata. Well... memang apa salahnya sih kalau ada pria biasa atau buruk rupa di dekat sang heroine? Ini sih bukannya bikin iri tapi bikin senewen.

Kemudian Eva sendiri tadinya saya anggap lumayan punya prinsip. Dia berani nolak, berani mengajukan kompromi, nggak serta merta mau diajak bobok-bobok enak walau hasratnya udah ngebet berat. Tapi begitu ngerasain berhubungan dengan Gideon sekali, kontrol dirinya hilang. Dia jadi plin-plan dan gampang banget dibujuk. Yaah walau saya akui siapa yang nggak bakal meleleh kalau iming-imingnya seks hebat dan kalimat merana aku-butuh-kamu-aku-tak-bisa-hidup-tanpamu yang meluluhkan jiwa raga dan vagina.
Tapi sifat plin-plan Eva punya dasar kuat juga. Masa lalunya membuat naluri pertamanya adalah lari saat ia menemukan masalah. Tapi setelah lari dan marah-marah dia lumer juga dengan bujukan hasrat Gideon. Bah.

Adegan seksnya buanyak dan tersebar rata. Tapi nggak ada yang berkesan atau erotis bagi saya. Variasinya standart, lokasinya juga biasa banget. Limousine, kantor, hotel, apartemen, rumah, perpustakaan. Paling cuma adegan seks di rumah orangtua Gideon saja yang lumayan berkesan.
Sementara untuk romannya sama sekali nggak ada yang berkesan. Standar dan flat. Kedua tokohnya seperti masih belum menemukan chemistry. Mungkin karena setiap bertemu yang mereka lakukan hanyalah bercinta.
Tapi hubungan Eva dan sahabat cowoknya, Carry, cukup bikin saya waras dalam membaca novel ini. Walau saya juga merasa Carry terlalu sempurna, tapi hubungan mereka manis banget.

Di novel ini masa lalu Gideon belum terungkap. Saya hanya diberi clue sedikit-sedikit, dan membuat saya menduga-duga. Tapi meski saya penasaran, say belum punya minat untuk melanjutkan ke buku kedua. Well, lihat saja nanti apakah saya bakal melanjutkan membaca seri ini atau enggak.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon