Tampilkan postingan dengan label historical fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label historical fiction. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2016

[Resensi: What A Gentleman Wants - Caroline Linden] Terjebak dalam Pernikahan


Judul buku: What A Gentleman Wants
Penulis: Caroline Linden
Alihbahasa: Meggy Soedjatmiko
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Februari 2015
Tebal buku: 477 halaman
ISBN: 978-602-02-5848-5




BLURB

Marcus Reece, duke of Exeter, menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menyelamatkan saudara kembarnya dari masalah. Jangankan ucapan terima kasih, ia malah dihadiahi istri yang tidak diinginkan.

Hannah tak berdaya dan mengutuki kebodohannya. Kesulitan hidup membawanya ke altar bersama seorang pria yang hampir-hampir tidak dikenalnya. Merasa dipermainkan, dia malu, marah, dan yang lebih buruk lagi, menikahi orang asing yang dingin tak berperasaan.

Demi menghindarkan aib bagi keluarga Exeter, keduanya setuju untuk memainkan sandiwara sebagai suami-istri. Tetapi, hukum alam bekerja … percikan-percikan yang timbul telah membuat api berkobar. Akankah kepura-puraan itu hangus oleh kobarannya?


RESENSI

Sekali lagi Marcus berhasil menyelamatkan adik kembarnya, David, dari bencana skandal. Perselingkuhan David dengan Lady Barlow nyaris saja mengancam nyawa David. Maka selagi bisa Marcus menyuruh David untuk pergi ke luar London, hingga gosip mereda.
Di perjalanannya, David mengalami kecelakaan dan jatuh di dekat pondok Hannah, janda seorang pendeta. Hannah membawa David ke pondoknya dan merawatnya. Berdiam di pondok wisma pendeta di Middleborough yang sepi, David mendapati dirinya jatuh iba pada Hannah. Perempuan itu harus kembali ke rumah ayahnya bersama putri kecilnya untuk menjadi beban. Maka David menawari Hannah sebuah pernikahan.
Sayangnya ketika Hannah telah menjawab bersedia, David merasa gamang. Ia belum siap. Ia masih ingin bersenang-senang. Saat itulah sebuah ide melintas dalam benaknya.
Begitu pernikahan mereka terlaksana, David membawa Hannah dan Molly, putrinya, ke London. David menempatkan mereka berdua di rumah kakaknya, kemudian pamit untuk menyelesaikan urusan selama beberapa hari.
Hingga kemudian, setelah David pergi, Hannah menemukan seseorang di rumahnya, sama tampannya dengan David, namun lebih dingin dan angkuh. Pria itu, Marcus Edward Fitzwilliam Reece, Duke of Exeter. Dan pria itu membawa buku catatan dari gereja paroki, yang bukannya bertuliskan nama David sebagai suami Hannah, melainkan nama Marcus.
Akankah Marcus kembali membereskan masalah yang dibuat David? Siapkah Hannah sang janda desa melakoni perannya sebagai Duchess? Dan apakah mungkin mereka akan saling jatuh cinta?

----------------

Saya mendapatkan novel ini dari penulisnya, Caroline Linden, saat beliau mengadakan giveaway di facebook. Dan lumayan lama sampainya. Dua bulan saya baru bisa bersua dengan novel ini.
Jadi tadinya saya yang sudah pasrah jadi bersemangat untuk membacanya.

Sayangnya, saya nggak menyukai cover novel ini. Saya lebih suka cover aslinya. Perempuan dalam cover ini seolah bukan berasal dari abad yang sama dengan perempuan yang ada dalam cerita.

Cover asli What A Gentleman Wants :)


Prolognya cukup mengejutkan. Saya langsung saja dibuat tercengang dengan tindakan ugal-ugalan David, dan langsung terpukau dengan ketangkasan Marcus dalam menyelesaikan masalah.
Plotnya rapi dan gaya berceritanya benar-benar enak diikuti.

Saya biasanya suka dengan historical romance yang kekeluargaannya kental dan saling mendukung. Jadi saya suka banget dengan novel ini. Bukan hanya dari hubungan Marcus dan David yang solid, tapi juga hubungan Marcus dengan ibu dan adik tirinya yang hangat.
Memang, semua tokoh dalam novel ini so loveable. Marcus benar-benar tipe duke kesukaan saya, bertanggung jawab, kejam dan nggak kenal kompromi, tapi begitu jatuh cinta duhhh... berubah jadi pria romantis. Romantis dalam caranya sendiri.
Saya juga suka dengan Hannah yang praktis dan efisien. Nggak pakai drama dan nggak kebanyakan galau.
Saya bahkan dibuat jatuh sayang dengan Rosalind, ibu tiri yang terlihat menghormati dan menyayangi Marcus.
Chemistry-nya jangan ditanya lagi. Saya suka banget dengan cara Caroline Linden menunjukkan interaksi antar tokohnya. Terasa natural dan membekas di hati.

Saya juga menyadari bahwa penulis mulai mengubah David di novel ini. Di penyelesaian konflik, David mulai berubah. Dari yang tadinya adalah bajingan liar memesona menjadi saudara yang luar biasa. Dan saya pun jadi penasaran, akan seperti apa David di buku keduanya. Huhuuu~ nggak sabar banget buat baca.

Sementara untuk adegan kipasnya mengena banget. Meski awalnya sudah dibuat syok dengan kelakuan David, tapi sepanjang cerita sang hero dan heroine cukup dibuat frustasi menahan diri.

Overall, saya suka novel ini dan menikmati setiap kalimatnya. Dan sepertinya mulai jatuh cinta pada tulisan Caroline Linden. Recommended banget. :)

Kamis, 14 Januari 2016

[Resensi: Amba - Laksmi Pamuntjak] Pencarian Jejak Masa Lalu Amba


Judul buku: Amba
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Desain sampul: Lala Bohang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2013 (cetakan keempat edisi baru)
Tebal buku: 578 halaman
ISBN: 978-979-22-9984-7
Available at: Bukupedia.com




BLURB

Tahun 2006: Amba pergi ke Pulau Buru. Ia mencari orang yang dikasihinya, yang memberinya seorang anak di luar nikah. Laki-laki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali. 

Novel berlatar sejarah ini mengisahkan cinta dan hidup Amba, anak seorang guru di sebuah kota kecil Jawa Tengah. “Aku dibesarkan di Kadipura. Aku tumbuh dalam keluarga pembaca kitab-kitab tua.” Tapi ia meninggalkan kotanya. Di Kediri ia bertemu Bhisma. Percintaan mereka terputus dengan tiba-tiba di sekitar Peristiwa G30S di Yogyakarta. Dalam sebuah serbuan, Bhisma hilang selama-lamanya. Baru di Pulau Buru, Amba tahu kenapa Bhisma tak kembali.

RESENSI

Kisah dibuka dengan ditemukannya dua wanita yang terluka di dekat sebuah makam di Pulau Buru. Salah satu wanita yang terluka parah karena luka tikam jelas-jelas bukan warga pulau itu. Wanita satunya, Mukaburung, mengaku menikam si wanita lainnya karena wanita itu berani mendekati makam suami Mukaburung. Kemisteriusan wanita yang terluka itu terkuak saat seorang pria, Samuel, datang dan mengenali wanita itu sebagai Amba. Seorang wanita yang jauh-jauh datang ke Pulau Buru untuk melacak jejak sang kekasih.
Amba adalah putri sulung seorang guru di kota kecil, Kadipura. Ia tahu dirinya tak secantik ibunya dan adik kembarnya Ambika-Ambalika. Maka ia banyak meleburkan diri pada buku-buku, ia berusaha melakukan segalanya dengan sebaik mungkin. Ketika ia tak juga berminat menikah, ibunya yang cemas memaksanya untuk berkenalan dengan Salwa, seorang pemuda pintar dan lurus. Pada pemuda inilah Amba jatuh cinta. Saat Salwa berhasil membujuk orangtua Amba agar mengizinkan Amba kuliah di Yogtakarta, mereka makin sering bersama. Tapi hubungan mereka yang tetap lurus membuat Amba kecewa.
Ketika Salwa ditugaskan ke Surabaya, orangtua Amba menyarankan agar mereka segera menikah. Tapi Amba enggan, ia menolak. Ia berjanji akan menikah saat Salwa telah menyelesaikan tugasnya.
Dan di tengah kegelisahan hatinya serta kecamuk politik di sekelilingnya, Amba pergi ke Kediri untuk menjawab sebuah iklan yang mencari penerjemah. Di sebuah rumah sakit di Kediri itulah Amba bertemu dengan dr. Bhisma. Pria yang dengan mudahnya mencuri hatinya dan tanpa ragu memainkan gairahnya.
Sayang cinta Amba dan Bhisma di kisah ini, selayaknya kisah dalam Mahabharata, dipermainkan takdir. Mereka terpisah dalam sebuah penyerangan.
Bertahun-tahun Amba tak bisa menemukan Bhisma. Hingga sebuah email kaleng akhirnya memaksa Amba datang ke Pulau Buru untuk mencari jawaban. Mengapa mereka terpisah? Dan mengapa Bhisma tidak meninggalkan Pulau Buru seperti tahanan politik lainnya?

--------------

Amba menjadi novel yang menarik hati saya karena dua hal. Satu karena Bhisma. Sebagai pencinta kisah pewayangan saya sangat mengagumi Bhisma, sang putera Gangga yang sangat berpegang teguh pada kesetiaan ikrarnya. Meski ia menolak Amba, tapi saya penasaran banget adakah terlintas di benak Bhisma rasa ketertarikannya pada Amba. Karena di tengah Bharatayudha ia pun dengan pasrah menerima takdirnya dijemput maut oleh Amba melalui Srikandi.

Yang kedua tentunya karena sejarah PKI dan situasi politik tahun 1965. Sebagai generesi yang dijejali PSPB, pelajaran sejarah yang katanya dipoles sedemikian rupa untuk mengagungkan Soeharto, saya selalu penasaran tentang apa sebenarnya yang terjadi di tahun-tahun itu. Karena sejarah yang ada di buku pelajaran sangatlah diragukan.

Dan rupanya novel ini lebih memuaskan dalam segi sejarah. Bisa dilihat bahwa Laksmi Pamuntjak melakukan riset yang luar biasa mendalam demi novel ini. Saya benar-benar terseret dan tenggelam dalam situasi serbakacau dalam novel ini. Ikut berdebar setiap kali nama-nama kiri disebutkan. Sedikit banyak saya bisa memahami situasi di kurun waktu itu.

Amba terbagi menjadi tujuh bagian. Samuel dan Amba menjadi pembuka kisah yang menjelaskan konstruksi cerita mengapa Amba datang ke Pulau Buru pada Maret 2006.
Di buku kedua, Amba, Bhisma, & Salwa menceritakan kisah asmara Amba dengan Salwa kemudian Bhisma yang terjadi di kurun waktu 1956 - 1965.
Buku ketiga, Amba & Adalhard berlatar di Yogyakarta tahun 1965 menceritakan pertemuan Amba dengan Adalhard, si lelaki ketiga. Juga keputusan besar yang akhirnya diambil Amba. Dilanjutkan dengan Bhisma di buku keempat.
Samuel dan Amba menjadi kisah di buku kelima yaitu kisah pertemuan awal Amba dan Samuel pada Februari - Maret 2006.
Kemudian segala jawaban akhirnya muncul di buku keenam Bhisma dalam Tahun yang Hilang antara 1965 - 2006 yang berisi surat-surat Bhisma untuk Amba sang kekasih tercinta.
Kisah ditutup dengan pertemuan Srikandi & Samuel pada tahun 2011 di buku ketujuh.

Sebagai novel yang menyajikan rentetan sejarah, cukup banyak tokoh sampingan dalam novel ini. Peran-peran yang meski porsinya kecil tapi punya andil kuat dalam proses cerita. Sementara untuk masing-masing tokoh utama; Amba, Bhisma, Salwa, dan Samuel, sejarah tentang siapa, apa, mengapa dan bagaimana mereka terdeskripsi dengan sangaaaat detail. Saking detailnya sampai terasa membosankan bagi saya.

Bisa dibilang meski porsinya cuma sedikit, saya puas dengan kisah tragis Amba dan Bhisma dalam novel ini. Yah, setidaknya nggak setragis kisah Amba dalam Mahabharata. Ada kesan kuat bahwa meski mereka nggak bersatu dan merana bertahun-tahun, tapi membaca surat-surat Bhisma serasa saya menemukan surat-surat cinta yang saya nanti bertahun-tahun dan pada akhirnya meredakan dahaga saya.

Akhirnya membaca Amba membuat saya puas. Amba menjadi novel historical fiction yang juga mengedepankan riset dan menyajikan fakta. Tentang komunis, tentang 'kami' dan 'mereka' yang tetap selalu ada hingga masa kini, tentang tahanan politik dan tentang Pulau Buru yang tadinya bagi saya terasa tertutup dan misterius.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon