Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 September 2018

[Resensi] Sayap Besi vol. 1 - Anggaditya Putra & Ikhromi Oktafiandi | E for Erlan

Judul buku: Sayap Besi vol. 1
Penulis: Anggaditya Putra & Ikhromi Oktafiandi
Penyunting: Juliagar R. N.
Desainer cover: Budi Setiawan
Ilustrator: Kresnha Adhitya Zulkarnaen
Penerbit: Mediakita
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 154 halaman
ISBN: 978-979-794-538-1



BLURB

"Lo tahu ada berapa belokan dari sekolah kita sampe saat ini?" tanya Erlan sambil menatap langit-langit bus. Mansa agak terkejut dengan pertanyaan Erlan yang agak di luar konteks. Mansa pun mengubah posisi duduknya.
"Well, jawabannya adalah dua. Belokan ke kiri dan ke kanan." Mansa mengambil kacamata yang disimpannya di saku depan baju. Rasa kantuk yang tadi dirasakannya sudah menghilang.
"Kurang tepat."
"Lha, ya terus apa?"
"Bukan apa, tapi berapa, Mansa." Erlan menatap Mansa serius.
"Lima puluh tujuh belokan sudah kita lalui. Tiga puluh tiga belokan ke kanan, dan dua puluh empat belokan ke kiri."
"Ahaha, gila lo, Lan." Mansa mencoba tertawa, menganggap itu adalah upaya Erlan untuk melucu. Namun, ternyata wajah Erlan tetap datar. "Eh, serius?" Raut wajah Mansa segera berubah. Ia membuka laptopnya. "Duh, sayang kita di daerah yang gak ada sinyal. Gue harus itung manual dari digital map yang ada."
"Iya, coba aja, tapi kalo sekarang udah 58, Man," ujar Erlan.
-------------------------------------------------------
Dalam perjalanan karyawisata, Erlan, si anak baru di sekolah Bibit Bangsa, bertemu dengan Mansa, si jago komputer. Pertemuan itu sekaligus memulai jalinan persahabatan antara Erlan, Mansa, Cinta, dan Clara. Bersama-sama, mereka bekerja sama memecahkan misteri di sekitar mereka, sekaligus juga saling menyembuhkan satu sama lain.

Buku volume pertama dari sebuah webseries yang bercerita tentang misteri dan persahabatan, dengan tambahan cerita bonus yang belum pernah dipublikasikan.


RESENSI

"Bukan, Man. Itu yang otak gue lakukan secara otomatis. Lapar akan informasi. Memprosesnya adalah kenikmatan buatnya. Ya, buat gue juga." - Erlan (hlm. 23)

Bagaimana rasanya kalau kita punya detektif SMA yang gak kalah hebat dari Shinichi Kudo? Seorang remaja yang bukan hanya ahli menganalisa, tapi juga mampu merekam jejak informasi ke dalam otaknya dengan begitu mendetail. Yap itulah Erlangga Quantum Putra, alias Erlan, sang tokoh yang ahli memecahkan misteri dalam novel Sayap Besi.

Novel tipis berjumlah 154 halaman ini terbagi dalam tiga kasus besar, setelah sebelumnya dibuka dengan "pemanasan" kecil berupa analisa Erlan di hadapan guru dan teman sekelasnya tentang peluang. Sebuah awal yang cukup rapi sebagai pembuka jalan bagi Erlan untuk bisa bertemu teman-teman setimnya; Mansa dan Cinta.
Kasus pertama yang harus dihadapi Erlan, Mansa dan Cinta sungguh sangat mendebarkan untuk dibaca. Sebuah perjalanan karyawisata yang berujung maut. Bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan hingga terbalik 90° dan terkubur tanah bercampur lumpur yang longsor akibat derasnya hujan. Di sinilah ketrampilan dan kecepatan berpikir Erlan diuji. Ia berlomba dengan waktu untuk bisa menyelamatkan seluruh penumpang, atau mereka akan mati kehabisan udara.

Kasus yang kedua adalah menghilangnya kucing kesayangan kepala sekolah. Kasus yang awalnya seolah sepele tapi membawa mereka pada kejahatan besar yang sedang menunggu mereka. Pada kasus ini muncullah Clara yang akhirnya ikut bergabung dengan Erlan, Mansa, dan Cinta untuk memecahkan misteri dan kemudian membentuk sebuah klub ekskul.
Sayangnya ruangan yang disediakan untuk klub mereka adalah ruangan lama tak terpakai yang berhantu. Lagi-lagi, keempat siswa-siswi dengan kemampuan luar biasa ini kembali diuji untuk menyingkap misteri yang mencengangkan.

Sebagai sebuah novel misteri-detektif, Sayap Besi volume 1 ini dikemas dengan apik. Penokohannya kuat dan konstan. Walau terus terang saya tetap saja berpikir bahwa Erlan mirip dengan Shinichi dari segi kemampuan analisanya, Mansa mirip dengan Profesor Agassa yang pintar mengutak-atik komputer, Cinta mirip dengan Ran yang ahli beladiri dan kekuatannya luarrrrr biasa, sementara Clara yang sinis itu mirip dengan Haibara. Ya walau tentu saja di dalam novel ini Erlan lebih hebat karena mampu mempraktekkan tindakan darurat hanya karena pernah menontonnya di acara Gray's Anatomi!!! Saya sempat merasa speechless saat membacanya.
Selain Erlan, ada Mansa yang juga menjadi tokoh dengan kemampuan luar biasa karena mampu membobol web manapun. Ia yang bertugas untuk mencari data bahkan dari situs yang paling sulit dibobol sekalipun. Cool hacker. Ada pula Cinta yang mampu menguasai beberapa seni beladiri dan memiliki kekuatan dasyhat. Beberapa kali tekniknya berhasil menyelamatkan teman-temannya. Clara menjadi tokoh yang teoritis dan pemberani walau terkadang sinis. Tentunya perbedaan karakter mereka berempat ini menjadi bumbu yang manis dan terkadang menghibur dalam persahabatan mereka.

Selain kekuatan tokohnya novel ini juga cukup rapi dan enak dibaca. Timeline-nya jelas, settingnya cukup mendetail. Informasinya nggak berlebihan. Narasi, deskripsi dan dialog disajikan dengan seimbang. Percakapan antar tokohnya luwes dan nyambung, kecuali untuk bagian Bu Anjali yang terasa sedikit maksa untuk terlihat sebagai guru badass.  

Kini saya tiba di bagian terbaik. Penutup yang manis. Sebuah kilas peristiwa dimana Erlan mengenang kembali kejadian sebelum ia dipindahkan ke sekolah Bibit Bangsa. Anak yang istimewa yang sering dianggap sebagai sumber masalah, yang tak bisa diterima di manapun, akhirnya dipertemukan dengan kawan-kawan yang istimewa juga. Satu momen yang menurut saya manis dan membuat saya ingin melanjutkan petualangan mereka berempat di Sayap Besi vol 2.

Overall, Sayap Besi adalah sebuah novel remaja yang kental dengan misteri yang seru dan persahabatan yang manis. Saya sangat merekomendasikan novel ini buat kalian para pencinta kisah misteri-detektif. 

Rabu, 09 Mei 2018

[Resensi] Flipped - Wendelin van Draanen | Jungkir Balik di Sudut yang Tepat

Judul buku: Flipped
Penulis: Wendelin van Draanen
Penerjemah: Sylvia L'Namira
Penyunting naskah: Rahmadiyanti & Richanadia
Desain sampul: Windu Tampan
Penerbit: Orange Book
Tahun terbit: Agustus 2011
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-602-8851-80-0



BLURB

Juli: Pertama kali bertemu Bryce Loski, aku jungkir balik. Sungguh, seperti orang gila. Pasti karena matanya. Ada sesuatu di matanya. 

Bryce: Apa ya cara yang tepat mengusir Juli? Bagaimana cara terbaik mengatakan padanya, “Juli, kamu tuh bukan tipeku?” 

***

Juli Baker sangat yakin akan tiga hal: keajaiban pohon—terutama pohon sikamor kesayangannya, kebaikan telur ayam, dan suatu saat ia dapat mencuri hati Bryce Loski. Sayangnya, Bryce tidak memiliki perasaan yang sama. Baginya, Juli adalah gadis yang aneh. Kalau bukan aneh, gadis macam apakah yang sangat gemar memelihara ayam dan duduk berlama-lama di atas pohon? 

Namun, keadaan terbalik saat mereka menapak remaja. Bryce mulai melihat keanehan dan kebanggaan Juli terhadap keluarganya sebagai hal yang hebat. Sebaliknya, Juli berpikir mata Bryce yang dikaguminya itu kosong dan tak berarti apapun lagi. 

Flipped bukan sekadar kisah cinta yang manis, tapi juga kisah tentang memandang orang dari sisi siapa mereka sesungguhnya, bukan dari sisi bagaimana penampilan mereka.


RESENSI

Kapan kamu merasa jungkir balik saat melihat seseorang? Sesaat setelah bertemu? Ataukah lama setelahnya saat kau akhirnya menemukan sudut yang tepat?
Bagaimana jika dua orang merasakan jungkir balik terhadap satu sama lain, tapi di waktu yang tak sama?
Coba carilah jawabannya dalam Flipped :)

Flipped merupakan novel karya Wendelin Van Draanen yang ditulis pada tahun 2001. Maka keseluruhan settingnya hampir bisa dipastikan berkisar pada tahun 90-an. Ini terlihat dari suasana, latar sosial serta interaksi yang masih menggunakan alat komunikasi lama yang menjadi ciri periode masa itu. Tentu saja bagi saya, ini membuat Flipped terasa begitu dekat dan membuat saya sedikit bernostalgia.

Flipped menyajikan kisah cinta yang polos dan sederhana khas cinta monyet remaja. Kisah ini berawal dari kepindahan keluarga Bryce Loski ke depan rumah Julianna Baker, ketika kedua anak itu hendak masuk kelas 2 SD. Di pertemuan pertama mereka, begitu menatap Bryce, Juli merasa jungkir balik, dan menganggap Bryce pun merasakan hal yang sama. Padahal di sisi lain, Bryce menganggap Juli terlalu sok dan menbuatnya ketakutan.
Begitulah selama bertahun-tahun, Juli memuja Bryce, dan Bryce mati-matian menghindar. Namun perasaan tak ada yg abadi, rasa suka, rasa benci, semua akan berubah. Entah berganti, berkurang, atau bertambah. Itulah yang mereka rasakan beberapa tahun kemudian.

Banyak hal menggugah yang saya temukan dalam novel yang jalan ceritanya tampak sederhana ini. Betapa seringnya kita memandang dan mengagumi sesuatu hanya dari tampak kulitnya saja. Pun sebaliknya, betapa mudahnya kita menghakimi sesuatu hanya dalam sekali pandang. Dua keluarga, dengan rumah saling berhadapan, bertahun-tahun hanya menatap sisi luarnya, berasumsi sendiri-sendiri. Namun ketika mereka mulai saling mengenal, saling melongok ke dalam kehidupan masing-masing, terlihat jelas mana yang busuk dan mana yang segar, mana yang dingin dan mana yang hangat. Siapa yang sebenarnya paling menyedihkan.

"Beberapa orang mengeluarkan aura datar, beberapa terlihat seperti satin, dan yang lainnya terlihat berkilau... Tapi kadang-kadang kita bertemu seseorang dengan aura warna-warni, dan yang itu sulit dilupakan karena nggak ada bandingannya." (Hal. 114)

Bicara soal adegan favorit, ada banyaaaak sekali adegan yang saya suka. Salah satunya adalah saat Juli berusaha mempertahankan pohon sikamor. Kemudian momen ketika Bryce menjadi cowok pembawa keranjang dan jadi bahan lelang (omong-omong, saya sudah nonton filmnya setelah membaca buku ini, dan adegan ini sering saya ulang-ulang saking sukanya 😂). Lalu tentu saja, yang membuat saya terharu adalah ketika kedua kakak lelaki Juli membuktikan bahwa anggapan ayah Bryce salah besar. Mereka membalikkan keadaan dengan sempurna.

Seperti yang saya bilang di atas, novel ini bukan saja bercerita tentang cinta kanak-kanak yang polos, tapi juga makna keluarga. Keluarga yang seutuhnya, yang sebenar-benarnya, yang menerima apa adanya dan bukan yang menuntut kesempurnaan demi terlihat baik dari luar.

Jika kamu suka dengan kisah cinta yang sederhana dan jalinan kisah keluarga yang mengharukan, saya rekomendasikan buku ini untuk kalian. Oh dan jangan lupa, filmnya pun luaaarr biasaa.

Rabu, 18 April 2018

[Review] Hijab fo Sisters - Anastasha Hardi | Ujian Berat Asha dan Khalda

Judul buku: Hijab for Sisters
Penulis: Anastasha Hardi
Penyunting: Dion Rahman
Perancang sampul: Ulayya Nasution
Rated: 13+
Genre: Novel Islami
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 9786020453798



BLURB

Di hari pembagian rapor, Asha yang menjadi langganan juara umum di Pondok Pesantren Modern Putri Siti Fatimah, dikejutkan oleh pengumuman Ustazah Nurul mengenai beasiswa yang akan diberikan pihak pesantren. Namun karena nilainya nyaris seimbang dengan Khalda, para ustazah bingung menentukan siapa yang laik diterbangkan ke Jerman untuk mendapat pendidikan yang diimpi-impikan banyak santri. Seakan masih kurang mengejutkan, pesantren mengirim keduanya untuk mengikuti satu semester pendidikan di sekolah umum sebagai tes akhir siapa yang lebih berhak mendapatkan beasiswa. Rangkaian tes ini sangat penting, karena baik Asha maupun Khalda bisa langsung menerapkan ilmu-ilmu agama yang sudah dipelajarinya di tengah-tengah siswa-siswi yang majemuk.

Mampukah keduanya bersaing dengan sehat selama berada di sekolah umum yang terasa asing bagi mereka? Lantas, setelah mengalami berbagai kejadian yang membuat keduanya kian dekat, apakah pengumuman siapa yang akan mendapat beasiswa tersebut masih penting?

RESENSI

Sebenarnya saya telah menyelesaikan novel ini beberapa hari yang lalu, tapi ternyata menuliskan resensinya tidaklah semudah membacanya. Memilah kata dan menyaring yang ingin saya sampaikan ternyata lebih berat, karena saya takut pernyataan saya mungkin bisa ditangkap keliru. Saya butuh mengendapkan dan meredakan riuhnya suara-suara di kepala saya untuk sementara waktu. Karena jujur, isi novel ini, terutama salah satu karakternya, berbeda dengan cara pandang saya. Fiuuhh... but here we go.

Sebagai (mantan) siswi yang menghabiskan masa sekolah di sekolah umum, novel Hijab for Sisters ini sangat menggelitik hati saya. Betapa tidak, Asha dan Khalda, dua gadis manis yang menjadi tokoh utama kisah ini nerupakan siswi yang menuntut ilmu di pondok pesantren khusus putri. Mereka adalah siswi terbaik di angkatan mereka yang kemudian harus berkompetisi untuk mendapatkan beasiswa ke Jerman. Para ustadzah mereka menganggap ujian yang paling pas adalah mengirim mereka ke sekolah umum untuk menguji kesiapan adaptasi mereka secara langsung. Jelas mereka ketakutan... dan saya bisa memahami ketakutan itu. Asingnya kehidupan sekolah yang heterogen di mata mereka, sama asingnya dengan kehidupan pergaulan homogen di mata saya.

Tentu saja Hijab for Sisters menjadi menarik karena perubahan drastis yang harus dilakoni para tokohnya. Jalan cerita seperti ini biasanya tak pernah gagal untuk membuat pembaca khusyuk mengikuti alurnya. Semula saya mengira novel ini akan menjadi serius, tapi rupanya Anastasha Hardi cukup cerdik untuk menyelipkan adegan absurd dan kocak yang membuat novel ini ringan dan enak dibaca.
Pertentangan pertama saya dengan novel ini terjadi ketika Asha dan Khalda membayangkan betapa jeleknya pergaulan di sekolah umum, betapa buruk moral para siswanya dan banyak perilaku menyimpang yang dilakukan di sana. Aww... ini menyakitkan untuk dibaca. Namun saya kemudian menyadari, tentunya itu hanyalah imajinasi yang terbentuk karena terdorong oleh rasa cemas berlebih dari seseorang yang akan memasuki kehidupan yang sepenuhnya berbeda. Beberapa orang mengalaminya, bukan? 

Nyatanya ketika hari pertama Asha dan Khalda menginjakkan kaki di sekolah umum... apakah berlebihan jika saya mengatakan seolah mereka membuka pintu ke Narnia? Wkwkwk~
Baru di hari pertama saja, Asha telah bertemu dengan Aidan, siswa ganteng idola sekolah yang sepertinya menaruh minat besar padanya. Tapiiii.... ada yang lebih seru dong. Pertemuan pertama Asha dan Khalda dengan Kepala Sekolah. Astaga! Sumpah saya nggak berhenti ngakak karena Pak Kepsek yang suka iseng ini.

"Diutus? Mendengar kata-katamu, Bapak jadi gemeteran. Bapak merasa seolah sekolah ini adalah sebuah desa jahiliyah yang kedatangan dua orang utusan Tuhan untuk menyampaikan kebenaran." (hlm. 41)

Berawal dari situlah, petualangan Asha dan Khalda semakin menarik dari hari ke hari. Mereka membangun persahabatan dengan beragam orang, termasuk dengan Susanto, siswa ngondek yang menjadikan novel ini terasa segar. Susanto inilah yang membuat Khalda selalu mengucap istighfar 😂😂😂.
Mereka menghadapi konflik yang umum dihadapi remaja seusia mereka. Asha dan Khalda bukan hanya mencoba bertahan dengan prinsip mereka, tapi juga mencoba mengisi masa remaja mereka, bukan dengan kekosongan tanpa arah, tapi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi diri mereka dan orang lain. Membangun kepercayaan, membentuk komunitas yang bukan mengeksklusifkan diri tapi merangkul siapa saja. Bukan membentuk benteng, tapi membentuk tapis, demi tetap bisa menyerap hal-hal baik yang ditawarkan dunia ini.

Pada awalnya saya cukup jengah dan terganggu oleh salah satu tokoh dalam novel ini. Khalda saya rasa sedikit berlebihan dan terlalu ceplas-ceplos. Seperti yang kita lihat di media sosial sekarang, banyak sekali orang-orang yang menghakimi perbuatan sesamanya, bahkan kadang seseorang yang lebih muda berani menegur dengan frontal orang yang lebih tua, hanya karena menurutnya perbuatan orang itu salah. Demikian pula Khalda di mata saya, dia main tegur saja tanpa memerhatikan situasi atau perasaan orang yang ditegurnya. Dan bagian konyol dari perasaan saya adalah, saya kok nggak terima dia berasal dari Yogya ya.. Wkwk~ Entahlah, hidup di kota ini, melihat orang-orangnya yang terbuka, yang menerima perbedaan dan luwes, saya kok merasa sedih. Well, tapi mungkin Khalda ini tinggal di sisi kota dan kehidupan yang berbeda dengan saya. 😅😅😅
Sementara Asha lebih menyenangkan, dia lebih tenang dan bisa menahan diri. Ya walau dalam hal kegigihan, Khalda lebih kuat. Itu sebabnya Asha lebih mudah dijebak dan menyebabkan konflik semakin memuncak. Asha juga lebih pandai berkata-kata, pidato singkat yang ia sampaikan pada pak kepsek sangat mengena tapi tetap terasa santun. Bahkan, Pak Kepsek pun sampai kehilangan kata-kata :))))

Bagian seru dari novel ini tentunya adalah kehadiran Susanto. Sayangnya apa penyebab Susanto ngondek tidak dijelaskan banyak dalam novel ini, padahal seandainya Asha, Khalda dan Aidan ingin Susanto berubah, mestinya didalami juga penyebabnya. Seseorang yang merasa gendernya tidak sesuai dengan jenis kelaminnya tentu ada alasan dan pencetusnya, dan untuk menyembuhkan gangguan (gender dysphoria) itu biasanya dibutuhkan proses terapi. Saya memahami betapa menjadi Susanto sungguh tak mudah, ia bisa bertingkah centil di hadapan orang-orang, bersikap cuek pada omongan orang, padahal mungkin di dalam hatinya ia terus merasa kebingungan. Poor but tough Susanto :"

Secara keseluruhan saya menikmati novel ini, saya suka dengan perkembangan karakter yang dialami para tokohnya. Sebuah kisah yang terlahir dari kekhawatiran akan pergaulan remaja di zaman yang semakin melesat ini. Sebuah petualangan kecil para remaja yang berusaha memegang prinsip tapi tetap fleksibel dan bergaul sesuai norma. Hijab for Sisters tentunya sangat cocok dibaca para remaja karena betapa dekatnya kisah ini dengan kehidupan remaja masa kini. Di sini kita bisa menemukan kekuatan tekad, persahabatan dan apa makna agama bagi hidup kita. Saya, Asha, Khalda, Aidan dan yang lain telah menemukannya, sekarang giliran kalian 😉

Jumat, 15 Desember 2017

[Resensi] Bittersweet Love - Netty Virgiantini & Aditia Yudis

Judul buku: Bittersweet Love
Penulis: Netty Virgiantini & Aditia Yudis
Editor: Kinanti Atmarandy
Desain sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2012
Tebal buku: 244 halaman
ISBN: 979-780-544-1



BLURB

Merindukanmu adalah satu-satunya kata yang dapat menggambarkan rasa ini. Dan semuanya dimulai sejak aku kehilanganmu.
Ketika waktu membawakan pilihan-pilihan lain untukku, langkahku masih terbelit oleh ingatan tentangmu. Kasih sayang yang seluruhnya milikku pun harus terbagi. Bahkan, rumah tak lagi menjadi tujuanku untuk pulang.
Kini aku menyadari bahwa semua sudah berganti dan yang bisa kulakukan hanyalah menghadapi. Semua yang telah lewat tak mungkin bisa kembali. Apa yang kupikir lenyap, nyatanya tertutup emosi. Butuh waktu untuk belajar mencintai lagi. Dengan penuh keyakinan diri aku melakukannya.
Menerima. Cinta sesederhana itu saja.

RESENSI

Belakangan Nawang mulai sering ikut tawuran, apalagi jika sekolahnya berhadapan dengan sekolah Hefin, Nawang akan dengan ganasnya maju sampai garis terdepan. Rasa bencinya terhadap Hefin memang sangat besar, dan cowok itu juga membalas dengan kebencian yang tak kalah besar. Pernikahan ayahnya dengan Ibu Hefin, membuat Hefin tanpa seizinnya telah masuk ke kehidupan Nawang. Hilang sudah sosok ayah yang dulu dicintai Nawang.
Di sisi lain Nawang menyukai sensasi dilindungi oleh Artan ketika ia ikut tawuran. Artan yang membuatnya berdebar. Artan yang mulai tertarik pada Joanna, adik tiri yang dibenci Nawang. Seolah tak mau ketinggalan, Ibu Nawang pun menikah lagi dengan ayah Joanna. Membuat Nawang terpaksa tinggal bersama keluarga baru yang tak diinginkannya. Ia membenci Joanna, karena merebut perhatian Ibu, dan juga Artan.
Hidup terasa seperti neraka bagi Nawang, Hefin dan Joanna, mereka dipaksa beradaptasi, seolah mereka robot tanpa perasaan. Akankah waktu dapat membuat kebencian mereka meluruh?

-----------------------------
Sebelumnya saya sudah diperingatkan oleh salah satu penulis duet gagas ini agar siapin tisu sekotak karena sang penulis sendiri sampai patah hati saat menulis bagiannya. Hueee~~ padahal udah diperingatkan loh, lha kok saya masih tetap mewek ra uwis-uwis. 😭😭😭

Bittersweet Love merupakan duet dua penulis yaitu Netty Virgiantini dan Aditia Yudis. Kedua penulis ini masing-masing menuliskan cerita tentang seorang gadis remaja yang harus beradaptasi dengan keluarga barunya. Dua penulis, dua gadis, dua sudut pandang, satu latar, satu konflik masalah.

Di bagian pertama ada Take It yang dikisahkan oleh Netty Virgiantini tentang Nawang, gadis yang dipaksa menerima keadaan yang disebabkan perceraian kedua orang tuanya. Ia terpaksa memiliki dua keluarga baru, terpaksa memiliki saudara tiri, masing-masing dari pernikahan ayahnya dan pernikahan ibunya. Ini sih berat banget :(
Saya dibawa termehek-mehek dengan gaya Nawang yang berusaha kuat, kekeraskepalaannya malah membuat saya iba.
Ini adalah kisah perjuangan Nawang melawan rasa bencinya sendiri, perjuangan seorang putri yang tersesat dan kebingungan karena tak tahu di mana harus menempatkan diri. Baik dalam keluarga baru ibunya, maupun keluarga baru ayahnya. Itu sebabnya ia menjadi pembenci.
Bisa dibilang sepanjang membaca cerita Nawang saya nangis nggak ada berhentinya. Rasa sakit Nawang, rasa benci Nawang, rasa kesendirian Nawang semua dituliskan dengan apik dan menyentuh. Bikin saya ikutan sakit. Huhueee~~
Take It adalah murni kisah Nawang menghadapi dan mengatasi konflik batin dan konfliknya dengan saudara-saudara tirinya. Yaa ada sih kisah romancenya yang manis, tapi dikiiit. Dikit tapi udah bisa bikin meleleh. Yaaah... baper lagi kan :'))


Di kisah kedua ada Pulang yang dituturkan oleh Aditia Yudis. Ini adalah kisah Joanna, gadis yang dimusuhi Nawang karena menjadi saudari tirinya. Entah karena sudah membaca kisah Nawang lebih dulu, atau memang benar seperti itu, saya merasa Joanna memang menyebalkan, manja dan egois. Kalau Nawang membenci dengan aksi diam dan nggak peduli, Joanna ini lebih kurang ajar karena dengan ucapannya dia berani memarahi ibu tirinya.
Membaca kisah Joanna nggak menimbulkan rasa simpati sebesar saat membaca kisah Nawang, mungkin karena sisi dewasa saya (halaaah) nggak menyetujui cara berpikir Joanna. Jo terlampau manja, terlampau mengasihani diri sendiri, padahal dia masih punya abang dan Artan yang memperhatikannya, berbeda dengan Nawang yang benar-benar diabaikan semua orang.
Saya jadi lumayan geram juga, karena penolakan mentah-mentah dan sikap kurang ajar Joanna, yang menyebabkan Ibu Nawang memusatkan perhatian untuk memenangkan hati Jo, di sisi lain membuat Nawang tanpa sengaja terabaikan. Hiihhh pokoknya bikin kesel lah baca kisah Joanna ini.


Bittersweet Love membuat saya memahami efek yang disebabkan oleh pernikahan baru yang dipaksakan terhadap anak. Sayangnya, memang ada orang tua yang mengejar kebahagiaan mereka sendiri, tanpa memikirkan kebahagiaan anak-anak mereka. Nawang, Hefin dan Joanna adalah anak-anak yang tak diberi kesempatan untuk menyamankan diri terlebih dulu. Keputusan yang diambil orang tua mereka membuat mereka tersesat dan menghancurkan hati mereka. Perpisahan memang menyakitkan, terutama bagi anak-anak, tapi lebih menyakitkan saat orang tua mengajak anak-anak memasuki kehidupan baru tanpa menanyakan pendapat anak-anak terlebih dulu, tanpa membuat mereka nyaman terlebih dulu.
Well, Bittersweet Love bukan hanya menunjukkan kepada saya cinta yang manis dan pahit, tapi juga terasa menyengat saya dengan kegetiran.

Rabu, 26 Oktober 2016

[Resensi] Ini Rahasia - Netty Virgiantini

Judul buku: Ini Rahasia
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Dewi Sunarni
Proofreader: Alit Tisna Palupi
Desainer cover: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2011 (cetakan ketiga, cetakan pertama tahun 2010)
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 9789797804312



BLURB

Ssst, ini rahasia….

Jadi tutup bibirmu rapat-rapat karena bicara sepelan apa pun bisa membuat rahasia kita ketahuan. Aku akan bicara jujur tentang semuanya, tetapi tidak di sini. Di sana saja—tak ada siapa pun yang memperhatikan. Tapi janji dulu, jangan pernah cerita kepada siapa pun. Tak ada pengecualian. Jangan cerita ke teman-teman segengmu, ibu—apalagi pacarmu. Jauhkan tanganmu dari godaan menulis message tentang ini di wall akun Facebook-mu.

Mendekatlah, karena aku akan membisikimu rahasiaku. Rahasia tentang hatiku; tentang aku dan mereka. 

RESENSI

Tari merupakan gadis yang menjadi manajer tim sepak bola kelasnya. Ia melakukannya karena kecintaannya pada sepak bola dan karena bersahabat dekat dengan kapten tim kelasnya, Rendi. Tari menjadi penanggung jawab urusan jadwal pertandingan tim kelasnya dan juga.... uang taruhan yang digunakan dalam pertandingan. Ya, Tari memang punya rahasia besar. Ia dan tim sepak bola kelasnya melakukan taruhan. Selama ini rahasia itu tersipan aman dan rapi tanpa terendus pihak sekolah.
Hingga suatu hari di tengah pertandingan, Alex dan Rudi, yang merupakan perwakilan dari OSIS menghampiri mereka. Naluri pertama Tari dan teman-temannya adalah waspada. Tapi bagaimana Tari bisa berhati-hati kalau Rudi adalah gebetan yang sudah disukainya sejak kelas satu?
Semakin Rudi mendekatinya, semakin Tari kelimpungan, semakin teman-teman mengingatkannya agar berhati-hati. Rudi bisa saja musuh yang mengincar mereka. Tari tahu, tapi tak mampu menolak pesona Rudi, dan perhatian dari cowok itu yang entah mengapa tiba-tiba mengalir tak terbendung.
Hingga Tari ketahuan. Pihak sekolah berhasil mendapatkan bukti bahwa ia melakukan taruhan. Rudikah yang melaporkannya? Akankah bunga-bunga cinta yang baru saja berkembang terpaksa luruh? Benarkah Rudi hanya memanfaatkannya?

-------------------

Setiap orang pasti punya rahasia. Lalu kira-kira rahasia apa yang kemungkinan dimiliki oleh remaja SMA? Tadinya saya kira ini tentang cinta diam-diam, tentang cinta yang hanya mampu dipendam dan dirahasiakan. Yah ternyata saya secetek itu, karena saya salah besar. Ini Rahasia ternyata menceritakan tentang suatu kriminalitas kecil yang dilakukan tokoh utamanya. Meski tetap dibalut dengan kisah cinta yang malu-malu dan cukup konyol, saya menemukan pemaknaan akan sebuah persahabatan dan tanggung jawab.

Ini Rahasia berkisah melalui sudut pandang orang ketiga, dan tentunya lebih banyak berfokus pada Tari. Maka tentu saja, apa yang dirasakan oleh Rudi dan Rendi menjadi hal yang saya nantikan dengan deg-degan. Sayang Netty Virgiantini nggak terlalu memanjakan jenis pembaca macam saya yang paling suka membaca liku perasaan dan unek-unek si tokoh cowok. Tapi justru kelangkaan itu yang membuat saya jadi deg-deg plas setiap kali Rudi menunjukkan perasaannya pada Tari.
Cerita dalam novel ini bisa dibilang sangat sederhana. Nggak ada kerumitan yang berarti. Hanya tentang Tari yang berusaha menyembunyikan rahasianya dari Rudi. Juga tentang kecintaan Tari pada sepak bola. Deskripsi dan narasi tentang sepak bolanya panjang dan mendetail banget. Bisa dibilang buku ini memang didominasi tentang sepak bola. Mungkin, bagi beberapa pembaca akan terasa membosankan, karena temponya menjadi lambat saat tim sepak bola kelas Tari bertanding. Namun dialog antar tokohnya begitu cair dan luwes sehingga membuat cerita ini enak dinikmati. Banyak humor yang saling dilontarkan satu sama lain membuat adegan makin seru.
Adegan konyol yang paling saya suka adalah saat Momo mogok. Saya nggak berhenti ketawa membaca ulah Tari dan bagaimana dia grogi tapi juga masih menjaga prinsip saat berbicara dengan Rudi. Sementara adegan yang bikin saya puas adalah saat Rudi memergoki Tari peluk-pelukan dengan Rendi. Cara Rudi cemburu itu terasa menggemaskan dan puas rasanya saat melihat emosi terdalam Rudi.

Karakter dalam novel ini lagi-lagi anak-anak SMA yang sederhana, nggak mentereng dan khas remaja di kota kecil. Ng... bukan berarti saya mengecilkan kota Magetan, tapi suasana dan gambarannya terasa adem tanpa hingar bingar mall atau restoran mewah. Yang ada hanya anak-anak SMA yang kepikiran nongkrong di lapangan bola dan warung bakso. Dan lagi-lagi cowok kalem lagi yang saya temukan di sini. Lama-lama saya bisa mabuk cowok kalem nan sederhana, karena Netty Virgiantini selalu bisa membuat si tokoh pria terlihat manis dan mudah dicintai. Hanya saja meski tenang, terkendali dan kalem seperti karakter khasnya, yang membedakan Rudi dari beberapa karakter novel karya Netty Virgiantini yang lain adalah, Rudi ini populer, anggota OSIS dan lumayan jahil. Saya merasa dia iseng juga dengan sengaja bikin Tari salah tingkah. Wkwkwk~
Sementara karakter Tari digambarkan sebagai cewek jagoan, berani, tangguh tapi dengan fisik biasa saja. Jagoan yang melempem dan grogi di depan gebetan. Cukup suka sih sama Tari, dan ngiri juga. Bayangkan sampai SMA pun dia masih dibolehin main sepak bola bareng teman-temannya. Lha saya, baru gocek bola di kebon samping rumah aja udah diceramahin sama bokap, anak cewek udah gedhe, gak boleh main bola lagi. Ih, kan sedih. Makanya kok enak banget si Tari. Saya suka dengan ceplas-ceplosnya Tari, juga gerak-geriknya yang salting abis tiap deket Rudi.

Di novel ini saya mendapatkan arti persahabatan dan solidaritas yang luar biasa. Ikatan yang mereka miliki sudah selayaknya saudara. Saya belajar arti memaafkan dan legowo dari Tari. Saya belajar arti mempercayai. Saya belajar arti kearifan dan keadilan dari kepala sekolah. Dan saya belajar arti melepaskan dan penyesalan dari Rendi. Bagaimanapun fair play juga berlaku dalam cinta sama halnya dengan sepak bola.
Pada akhirnya, Ini Rahasia merupakan novel yang ringan dan mudah dibaca. Bagi kalian pencinta sepak bola boleh banget baca buku ini. Kisah tentang cewek tomboy yang menyimpan rahasianya.

Kamis, 09 Juni 2016

[Resensi: Simple Thing Called Love - Anna Triana] Memburu Konser Sang Idola

Judul buku: Simple Thing Called Love
Penulis: Anna Triana
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Februari 2015
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 978-602-02-5781-5



BLURB

Cinta itu (harusnya) sederhana. Seperti rasa yang ada di hati Dee-Dee untuk Dido. Juga yang ada di hati Kano buat Dee-Dee. Tapi, semua rumit karena keadaan. 

Cinta Dee-Dee tak lagi sederhana karena Dido milik semua cewek remaja. Dido adalah drummer rupawan dari band papan atas, The Cliff. Yang ada di hati Kano pun rumit karena label sahabat melekat pada Dee-Dee dan Kano. Persahabatan yang dibangun di atas permusuhan juga kesamaan selera musik. 

Bagaimana Dee-Dee, Dido, juga Kano menyederhanakan keadaan? Benarkah cinta memang sederhana?


RESENSI

Mulanya Dee-Dee dan Kano adalah musuh bebuyutan yang pertengkarannya sudah melebihi level tom and jerry. Namun di SMA permusuhan itu mencair gara-gara musik. Setelah tahu selera musik mereka kurang lebih sama, mereka pun menjalin persahabatan yang kompak.
Ketika band favorit Dee-Dee, The Cliff, mengeluarkan album baru dan menggelar konser di beberapa kota, Dee-Dee pun dengan semangat berniat menonton konser itu. Segala upaya ia kerahkan untuk merayu orangtuanya agar memberi izin, merayu Kano agar mau menemani dan jungkir balik memburu tiket. Sayangnya setelah perjuangan berat yang Dee-Dee lakukan, konser dibatalkan karena Jakarta tidak aman.
Merasa penasaran, Dee-Dee lantas memburu kota lain tempat The Cliff menggelar konser. Lagi-lagi Dee-Dee ngotot merayu Kano agar membantunya, bahkan rela berbohong. Tapi rupanya tiga kali berusaha, Dee-Dee belum juga berjodoh untuk menonton Dido, drummer The Cliff yang menjadi pujaan hatinya.
Namun kejutan datang ketika Dee-Dee berhasil memenangkan undian liburan ke Australia, tanpa sengaja di sana ia beetemu Dido.
Akankah Dee-Dee berhasil menyaksikan konser The Cliff? Apakah kedekatannya dengan Dido akan merusak persahabatannya dengan Kano? Dan benarkah persahabatan Dee-Dee dan Kano murni hanya sebatas sahabat?

********

Ini karya Anna Triana yang pertama saya baca. Sebagai perkenalan, novel ini lumayan sesuai selera saya. Saya tadinya berpikir ini hanya kisah cinta-cintaan segitiga dengan idola dan sahabat. Yaaa... kurang lebih sih begitu, tapi bumbu kekonyolannya membantu cerita klise ini jadi kisah yang super menarik.

Dari pandangan pertama saya suka dengan kavernya yang sederhana dan konsepnya yang unyu. Ditambah ilustrasi di awal bab dan layout di dalam novel juga cantik, bikin betah bacanya.

Diceritakan dengan POV orang ketiga novel ini mengambil berbagai setting tempat; Jakarta, Bandung, Bali, Australia. Cukup seru mengikuti usaha Dee-Dee untuk menonton The Cliff. Mungkin seperti itulah fans yang cinta mati ya? Karena saya sendiri kalau nggak bisa nonton konser ya udah, kayak nggak bakal ada kesempatan lagi aja. Toh artis lokal, bukan artis luar negeri yang datang konser di Indonesia bisa dua puluh tahun sekali. Makanya saya sampai geleng-geleng kepala dengan kengototan Dee-Dee dan makin geleng-geleng lagi melihat kemeranaannya. Drama banget.
Yah mungkin itulah yang nggak saya suka dari Dee-Dee... terlalu drama. Dan cukup aneh juga Dee-Dee nggak punya rasa sungkan sama sekali dengan Dido di awal-awal pertemuan mereka.
Interaksi Dee-Dee dan Dido sama saja dengan interaksi Dee-Dee dan Kano. Bahkan cara bicara Dido dan Kano juga nggak terasa perbedaannya. Sama-sama cablak, gaya bercandanya juga mirip. Paling gestur Kano saja yang sering diimbuhi dengan gaya dingin. Tapi bagi saya, Dido dan Kano masih punya "suara" yang senada.

Tapi saya akui dialog-dialognya begitu segar dan kocak. Khas anak SMA yang lagi cablak-cablaknya. Chemistry-nya asyik dan seru. Kelihatan banget persahabatan mereka benar-benar kompak dan tulus. Gaya berceritanya juga mengalir dan enak diikuti. Deskripsi tempat-tempatnya pun mendetail dan rapi.

Hanya saja sepertinya penyelesaian konfliknya seolah agak terburu-buru. Kurang mengena dan kurang natural. Manisnya masih nanggung. Atau mungkin karena ada satu hati yang harus kecewa ya jadinya saya merasa kurang lengkap happy endingnya. Karena entah kenapa epilognya pun masih nggak bisa mengobati kekecewaan saya pada satu hati yang terluka itu. Hiks...
So mungkinkah Anna Triana akan membuat cerita yang beneran happy ending buat si cowok yang terluka ini?

Selasa, 08 Desember 2015

[Resensi: Runaway - Kezia Evi Wiadji] Pelarian Amy dalam Mencari Kedamaian


Judul buku: Runaway
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Desainer: Chyntia Yanetha
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Desember 2014
Tebal buku: 153 halaman
ISBN: 9786022517764



BLURB

Amy dan adiknya, hidup bersama orang tua yang tidak lagi saling mencintai. Keberadaan sang ayah telah digantikan oleh materi, sementara sang ibu selalu menyakiti dirinya sendiri. Bertahun-tahun Amy merasa tidak bahagia. Gedung gereja dan kesibukannya sebagai panitia Natal selalu menjadi pelariannya.

Suatu hari, sepulang sekolah, Amy menemukan rumah dalam keadaan kosong. Hanya terdapat jejak darah di lantai dan di kamar ibunya. Sesuatu yang mengerikan telah terjadi dengan ibunya!

Karena tak mampu lagi bertahan, Amy melarikan diri. Lari dari keluarga yang tak lagi memberinya rasa aman, kebahagiaan, juga kasih sayang.

Tetapi...

Seorang cowok menyebalkan, memergoki pelariannya itu.

REVIEW

Lagi-lagi Amy mendapati orangtuanya bertengkar, dan kali ini ia mendengar berita yang menyakiti hatinya. Papa punya anak lagi dari perempuan lain. Sudah tiga tahun hubungan orangtuanya merenggang, setelah papa menjalin hubungan dengan ibu salah satu teman sekolah Amy. Papa tak pernah lagi ada di rumah. Perhatian yang diberikan pada Amy dan Tasya hanya berbentuk limpahan materi.
Hanya dua hal penghiburan Amy, rujak ekstra pedas dan menyendiri di dalam gereja.
Tapi siang itu, saat Amy tengah merenung di dalam gereja hingga tertidur, ia bertemu cowok menyebalkan yang sok keren dan kepo. Cowok yang selalu cengengesan dan blak-blakan bernama Reno.
Untuk menghindari berada di rumah, Amy pun mendaftarkan diri menjadi panitia persiapan Natal di persekutuan remaja gerejanya. Tak disangka, ia berada dalam seksi yang sama dengan Reno, seksi dekorasi.
Secara temporer, Amy mendapatkan kedamaian di tengah kesibukannya menjadi panitia natal. Tapi suatu hari kedamaian itu rusak saat pertengkaran orangtuanya memuncak dan Amy mendapati kamar mama penuh jejak darah.
Bisakah Amy mengembalikan kebersamaan keluarga mereka? Rahasia apa yang disembunyikan mama dan papa? Akankah Amy berhenti lari dan merangkul kemarahannya sendiri?

----------

Mumpung bulan Desember, asyik rasanya membaca novel bertema natal dan keluarga. Novel Runaway ini salah satunya. Memang, natal dan keluarga adalah kesatuan yang nggak bisa dipisahkan, ya? :)

Runaway dikisahkan dari sisi Amy yang gelisah, malu dan marah akan problema keluarganya. Ceritanya mengalir dan terasa emosional. Saya menangis ketika tiba di pertengkaran papa dan Amy. Astaga! Sedih banget rasanya seolah saya sendiri yang ditampar :(

Saya pada mulanya nggak begitu suka sama Amy yang cenderung menutup diri dari teman-teman dan gurunya. Tingkahnya juga cukup sembrono dalam hal pelajaran, selain itu ia juga memanfaatkan teman sebangku pula. Cck...cck... PHP banget deh.
Sedangkan Reno juga semula saya anggap annoying banget karena sikap ceria dan tengilnya. Tapi ketika tahu kenyataan hidup yang dijalaninya, saya jadi salut. Keren juga cowok satu ini. Tabah dan serbabisa.
Saya juga cukup kesal sama mama. Terlalu egois dan memikirkan diri sendiri. Cari perhatian dengan menyakiti diri dan sibuk mengasihani diri sendiri. Kan kasihan anak-anaknya.
Lho? Kok semua tokoh bikin kesal? Ahahaa... memang sifat tokoh-tokohnya inilah yang nantinya akan memicu konflik.
Saya suka hubungan Amy dan Reno yang terkesan alami. Chemistry-nya dapet deh. Reno yang ketengilan dan Amy yang jutek. Suka banget pas bagian Reno nggodain Amy yang marah. Sweet.

Cukup kaget dengan twist yang diberikan. Wah, memang hancurnya suatu hubungan nggak bisa hanya dibebankan ke salah satu pihak. Pastilah dua belah pihak punya andil yang sama.
Saya merasakan penyelesaiannya terlalu terburu-buru. Perubahan papa dan mama terlalu tiba-tiba. Penginnya sih ada pendekatan lebih lama dan lebih mendalam antara papa dan Amy. Udah nelantarin selama beberapa tahun lho.
Saya jadi teringat film-film keluarga bertema natal yang berakhir bahagia setelah beragam konflik. Jadi ketika penonton keluar dari bioskop mereka akan berseri-seri dan diliputi rasa sayang terhadap keluarga mereka. Seperti itulah rasanya mengakhiri membaca novel ini. Hangat, penuh kasih dan lebih menghargai kehadiran keluarga.

Bagi yang suka novel ringan dan hangat hayuk baca Runaway. Mumpung masih dekat-dekat suasana Natal. Pas banget nih timingnya :)

Senin, 12 Oktober 2015

[Resensi: I Need You - Yoana Dianika] Cinta Yang Memberi Harapan dan Diharapkan


Judul buku: I Need You
Sub judul: I Just Can't Show You
Seri: L.O.V.E CYCLE #2
Penulis: Yoana Dianika
Editor: Nurul Hikmah & Widyawati Oktavia
Penyelaras Aksara: Ayuning
Desainer dan ilustrator sampul: Levina Lesmana
Ilustrator isi: Ida Bagus Gede Wiraga
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: Mei 2015
Tebal buku: viii + 320 halaman
ISBN: 979-780-810-6
Available at: Bukupedia



BLURB

Ini kisah tentang harapan, yang seumpama layang-layang.
Jika kau tarik terlalu kuat, ia akan putus.
Jika kau biarkan terlalu longgar, ia akan lepas.

[Amalia]
Aku menyukaimu, apakah isyaratnya tak pernah terbaca?
Kau tak perlu menjadi pembaca pikiran untuk itu.
Terlalu nyata segala rasa yang ada untukmu.

Kau memintaku tak beranjak pergi,
tetapi mengapa kau tak ikut duduk di sini?
Aku telah tahu segala hal tentangmu—kecuali tentang perasaanmu.

[Ivan]
Bersamamu tak pernah kurasakan sepi.
Tanpamu, ada sesuatu yang hilang.
Namun, saat kau isyaratkan cinta,
mengapa tak kutemukan sesuatu yang menyala?

[Sev]
Benarkah harapan juga bisa kedaluwarsa?
Habis masanya ketika waktu memberimu jarak;
kepada cinta yang tak pernah kau ungkap.

Harapan,
sesuatu yang membuatmu mampu bertahan dalam keadaan tersulit sekalipun.
Beri ia isyarat—agar ia tak lagi tersesat.


RESENSI

Sekolah Amalia kedatangan murid baru yang langsung bikin heboh. Tentu saja karena si anak baru ini cakep dengan tampang kebule-bulean. Meski anak baru itu adik kelas, gosipnya tetap beredar di kelas Amal, kelas XI. Yang membuat kaget, cowok itu ternyata Ivan, teman masa kecil Amal yang dulu pergi tanpa pamit.
Ivan telah kembali. Kehadirannya menumbuhkan lagi getar-getar di hati Amal. Hari-hari Amal kembali dipenuhi dengan perhatian Ivan layaknya di masa lalu.
Sayangnya itu tak berlangsung lama. Amal menangkap sesuatu yang mencurigakan antara Ivan dan Izz, sahabat Amal. Binar di mata mereka nggak mungkin diabaikan Amal.
Untuk menghilangkan rasa galaunya, Amal mencoba mengalihkan perhatian ke twitter untuk memantau Sev, vokalis band The Dusk, yang sangat digilai Amal.
Tak disangka, Sev membalas mentionnya, mem-folback twitter Amal, dan bahkan tiba-tiba muncul di hadapan Amal untuk mengantar Amal yang kemalaman di acara Grebeg Suro Ponorogo karena ditinggal Ivan dan teman-temannya.
Hingga kemudian muncul kabar bahwa Ellen, gitaris The Dusk, memutuskan keluar dari band dan memaksa The Dusk menggelar audisi untuk mencari pengganti Ellen. Amal yang memang pintar bermain gitar dan mencipta lagu mengikuti audisi dan dinyatakan lolos.
Amal pun harus ke Jakarta meninggalkan Ponorogo selama libur semester. Selama masa karantina ia nggak bisa berhubungan dengan Ivan. Tapi Amal takut, jeda masa itu akan semakin merenggangkan hubungan mereka.
Akankah Amal lolos dan menjadi bagian dari The Dusk? Seberat apa perjuangannya hingga hari pengumuman? Apakah Ivan akan tetap bersamanya atau menggunakan kesempatan itu bersama Izz? Lalu mengapa Sev yang terkenal dingin dan dijuluki The King of Ice Kingdom itu sangat perhatian terhadap Amal?

-----------------

I Need You merupakan novel remaja dalam seri L.O.V.E. CYCLE dengan tema tahap PDKT terbitan GagasMedia. Meskipun tokohnya menggalau karena cinta, tapi kreatifitas dan positif act tokoh-tokohnya membuat saya salut. Galau boleh tapi prestasi jalan terus. Gitu. ^^

Saya suka konsep novel ini. Dari covernya yang sederhana dan cantik, ilustrasi di dalamnya yang keren, lirik lagu yang mendalam dan sekali lagi galau, juga bagaimana novel ini dibagi menjadi lima bagian besar.
Ada 1st Track - H.I.L.A.N.G yang menjadi awal pembuka kisah kedatangan Ivan kembali.
Kemudian 2nd Track - I Will Be Here yang menceritakan proses audisi Amal di Jakarta dan kedekatannya dengan para personel The Dusk. Terutama Adrian dan Sev.
Dilanjut dengan 3rd Track - Love Lies yang berisi sepulangnya Amal ke Ponorogo setelah audisi dan mendapati kenyataan yang menyedihkan.
Ada pula 4th Track - The Dusk dan Bonus Track - The Future yang menjadi akhir konflik dan memberi saya twist super duper tak terduga.
Jalinan kisahnya membuat saya nggak bisa berhenti dan terjerumus dalam perasaan yang teraduk-aduk.
Sebal setengah mati pada Ivan yang PHP banget, kasihan pada Amal yang banyak berharap, dan senyum-senyum dengan kesantaian Adrian. Ah, campur aduklah rasa buku ini. :)

Dalam I Need You, Yoana Dianika banyak sekali memberi informasi teknik-teknik bermain catur dan gitar, sehingga kegemaran dan profesi tokohnya nggak terasa hanya tempelan. Terasa benar-benar menguasai dan bagai telah mendarah daging.
Kota Ponorogo juga terasa hidup di dalam novel ini. Bukan sekedar setting tanpa napas, tapi ada kegiatan dan suasana yang terasa khas meski tanpa membubuhkan dialek dalam dialog.

I Need You dikisahkan dari sudut pandang orang pertama, yaitu Amalia yang bercerita sebagai aku. Namun saat kisah flashback ke masa kecil para tokohnya—yang diceritakan di awal beberapa bab—Yoana menggunakan sudut pandang orang ketiga.
Tokohnya memiliki karakter yang menonjol, dan memiliki ciri sendiri-sendiri. Yang jelas sih, Ivan si tuan ahli PHP-lah yang paling bikin gemas.
Sedangkan Amal, cewek bertalenta yang cuek ini sebenarnya punya karakter yang asyik. Girlpower banget.
Sampai tigaperempat novel saya masih bingung, Amal nanti akhirnya mau dipasangkan dengan siapa? Ivan? Dhamar? Sev? Atau justru Adrian?
Aih, pokoknya kalau saya sih, jelas #TimAdrian :))))
Andai saja Adrian dibikin cerita tersendiri, pasti keren. Adrian dalam novel ini jadi tokoh Adrian ketiga favorit saya setelah Adrian di Legenda Pelangi dan Adrian di telenovela Esmeralda. *lawas* :D

Yang mengganjal dalam benak saya dalam novel ini adalah bagaimana hubungan Amal dan Izz akhirnya? Apakah nggak ada penjelasan sama sekali dari Izz atau seenggaknya obrolan penyelesai masalah? Setelah kecelakaan di jurang itu kenapa nggak ada cerita Izz menjenguk Amal dan ngobrol dari hati ke hati? Padahal itu momen yang pas sebenarnya.

Sedikit typo dalam novel ini:

* …Kamu sudah punya pacar.?" --> …Kamu sudah punya pacar?" (hlm. 30)
* hadir --> Hadir (hlm. 36)
* bar-unya --> ba-runya (hlm. 36)
* followback" --> followback." (hlm. 107)
* …dan diunduh ke YouTube. --> …dan diunggah ke YouTube. (hlm. 158)
* pikirkanku --> pikiranku (hlm. 161)
* Sebelum mengunduh ke YouTube… --> Sebelum mengunggah ke YouTube… (hlm. 164)
* Liberia --> Liberica (hlm. 241)

Saya sangaaaat menyukai novel ini terlepas dari tokoh Ivan yang heartless, karena ada banyak hal positif dalam kisah cinta yang menarik ini.
Buat kalian yang mudah kena PHP atau malah tukang PHP, boleh banget baca novel ini. ^^


TEBAR-TEBAR QUOTE

Saat menyadari datangnya rasa suka, aku takut suatu saat kehilangan akan datang merenggutnya. (hlm. 31)

"Amal, aku tahu, kebencian pada akhirnya hanya akan melukai diri kita sendiri." (hlm. 120)

"Sebenarnya, orang-orang yang hanya bisa menyalahkan orang lain pasti akan tambah menderita. Aku kasihan kepada mereka. Orang yang mengerjai orang lain hanyalah orang lemah yang ingin memastikan bahwa dirinya sendiri tidak lemah." (hlm. 120)

Kenapa manusia tidak bisa menyukai orang lain dengan puas tanpa harus memikirkan saingan? (hlm. 123)

Mungkin, hidup itu pada dasarnya seperti permainan catur. Kalau sejak awal langkah yang diambil bagus, ke belakang pastinya juga akan mulus—walaupun terkadang menghadapi rintangan di tengah permainan. (hlm. 145)

"Amal, dengar. Terkadang, cinta memang tidak mudah diraih. Tapi, untuk cinta yang tidak mudah diraih itulah manusia rela berkorban." (hlm. 146)

"Hei, kita sudah pernah bertemu sekali. Pertemuan kedua sudah pasti jodoh." (hlm. 190)

"Amal, di dunia ini, nggak ada orang yang terlahir hanya untuk merasa bahagia. Tapi, bahagia itu pilihan. Bikankah masa depan adalah hal yang bisa kita buka dengan tangan kita sendiri?" (hlm. 206)

"Kamu pernah mendengar istilah ini, 'manusia menjadi kuat karena ingin ada yang dilindungi'?" (hlm. 273)

"Aku selalu berandai-andai, seumpama waktu cepat berlalu, pasti tidak ada celah pada kita untuk merasa rindu pada sesuatu." (hlm. 305)

"Mungkin, dia adalah satu-satunya yang bisa membuatku merasa abadi—karena dia akan menyembuhkan luka yang pernah membuatku kehilangan arah." (hlm. 315)

Kamis, 25 Juni 2015

[Resensi: Love at School by Guntur Alam dkk] Merasakan Cinta di Sekolah


Judul buku : Love at School
Kategori : Kumpulan Cerita Pendek
Penulis : Guntur Alam, Anggun Prameswari, Faisal Odang, dkk
Editor : Pradita Seti Rahayu
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun terbit : 28 Januari 2015
Tebal buku : 181 halaman
ISBN : 978-602-02-5692-4




BLURB

"Ia selalu ada … rasakan kehadirannya."

Pernahkah kamu bertanya, mengapa senyuman yang selalu dia perlihatkan ketika melintasi kelasmu setiap pagi membuat jantungmu memompa darah lebih cepat?

Pernahkah kamu bertanya, mengapa obrolan tak serius di perpustakaan dengan dia bisa menjadi pemicu mimpi indahmu di malam hari?

Atau, mengapa cemburu yang muncul setelah melihat dia berjalan ke kantin dengan yang lain membuat harimu terasa berantakan di sekolah?

Jangan menduga-duga jawaban. Mungkin itu cinta.

Sama seperti enam belas kisah yang ditulis oleh Guntur Alam, Anggun Prameswari, Faisal Oddang, Pretty Angelia, Ria Destriana, Fakhrisina Amalia Rovieq, Afgian Muntaha, Pipit Indah Mentari, Mel Puspita, Fitriyah, Karina Indah Pertiwi, Afin Yulia, Ruth Ismayati Munthe, juga Dilbar Dilara.

Mereka merasakan kehadirannya. Tak pernah absen.

Cinta itu selalu ada … di sekolah.



RESENSI

Love at School merupakan kumpulan cerita remaja tentang kisah-kisah cinta berlatar sekolah. Cerpen-cerpen ini merupakan hasil dari event yang digagas Guntur Alam melalui akun twitter-nya.

Ada 16 judul cerita pendek yang manis-asam-pahit di dalam buku Love at School ini, yaitu:

* Katanya sih Ini Cinta karya Dilbar Dilara
* Cinta Sulit si Jangkung karya Afin Yulia
* Waktu Hujan Reda karya Ria Destriana
* Puzzle karya Fakhrisina Amalia Rovieq
* Jam Tangan untuk Nanda karya Agfian Muntaha
* Unnamed Love karya Pipit Indah Mentari
* Detention karya Mel Puspita
* Jangan Pernah Salahkan Waktu karya Fitriyah
* Love Code karya Karina Indah Pertiwi
* Hanya dengan Foto karya Pretty Angelia
* Library We Meet karya Ruth Ismayati Munthe
* Dongeng Bunga Matahari karya Anggun Prameswari
* Pangeran Cinta di Bus Kota karya Guntur Alam
* Warna Keberuntungan Maura karya Guntur Alam
* Cerita Tentang Hujan karya Guntur Alam
* Surat Malala karya Faisal Oddang

Dari ke-enambelas cerita pendek tersebut ada beberapa yang menarik perhatian saya.
Salah satunya adalah Waktu Hujan Reda. Cerita dari Ria Destriana ini mengalir dengan lincah, dialognya luwes dan hidup. Kisahnya memang bisa ditebak tapi tokoh cowoknya, Rendy, bikin gemes. :)

Jam Tangan untuk Nanda membuat saya teringat masa SMP. Problem Nanda sama seperti saya, nggak bisa pakai jam tangan keren karena terlalu kurus. Bedanya Nanda ingin pakai G-Shock, kalau saya ingin pakai Baby-G yang merupakan versi feminin dari jam tangan tersebut. Kalau saya dulu nekat nambahin lubang pada jam tangan, Nanda memilih untuk meningkatkan berat badan. Hasilnya Nanda jadi cowok 'kayu jati' yang tegap dan keren. Tapi bukan itu saja yang membuat saya senyum-senyum baca karya dari Agfian Muntaha ini, tapi juga kejutan yang ada di akhir ceritanya yang bikin ngakak :D

Cerpen Love Code juga menarik diikuti. Saya ikut menebak-nebak siapa pengirim surat cinta yang unik itu. Unik karena si pengirim menulis surat cinta yang hanya berisi kode deretan huruf dan angka. Karya Karina Indah Pertiwi ini menurut saya enak dibaca karena mengalir dengan rapi.

Satu lagi cerpen yang bikin baper, Hanya dengan Foto karya Pretty Angelia. Jadi pengen naik ke Pangrango lagi, sambil bawa kamera. Suka dengan cerpen ini karena tema fotografi dan twist-nya. Maniiisss banget, deh, ceritanya ^^

Dongeng Bunga Matahari adalah favorit saya! Bukan hanya karena saya dulu juga pernah berpikir bahwa saya hanyalah bunga matahari, tapi cerita dari Anggun Prameswari ini bikin nyesek. Mengharu-biru apalagi puisinya. Saya sempat merasakan setitik asa untuk Bunga sebelum ia tertampar kenyataan :'(

Ada tiga cerpen dari Guntur Alam yang menarik semua. Tapi yang paling saya sukai adalah Warna Keberuntungan Maura. Saya nyengir baca ending-nya. Nggak tertebak dan bikin penasaran.

Surat Malala merupakan cerpen penutup dari Faisal Oddang. Cerpen yang legit dengan alur yang menarik.
Well, bisa saya katakan ini merupakan hal yang saya sukai dari susunan kumcer Love at School. Saya suka menyimpan bagian terbaik di akhir. Urusan makanan, bacaan atau apa pun selalu yang paling enak atau paling baik saya sisakan untuk dinikmati terakhir. Makanya saya suka, karena lima cerpen terakhir adalah cerpen terbaik menurut saya. Rasanya jadi lupa pada beberapa cerpen yang membuat saya mengerutkan dahi. Entah karena gaya penulisannya yang masih kaku, narasi tokoh cowok yang 'bersuara' cewek, ataupun eksekusi yang kurang mengena.

Saya rekomendasikan Love at School bagi pembaca remaja yang sedang mabuk cinta juga pembaca dewasa yang ingin bernostalgia dengan cinta semasa sekolah. Pesan saya hanyalah: awas baper. Haha…
Saya beri 4 bintang untuk Love at School.


TEBAR-TEBAR KUTIPAN

"Put, itu cowok paling ganteng satu sekolah!" Lili menunjuk ke arah podium. (Katanya sih Ini Cinta - hal. 1)

Banyak orang berpikir jadi jangkung itu menyenangkan. Sampai-sampai terobsesi untuk menambah tinggi badan. Tetapi, yang terjadi denganku justru kebalikannya. Aku tidak ingin tumbuh tinggi. Sebab tinggiku yang lebih dari 170 cm ini membuatku kesulitan mendapat pacar. Sudah lima kali cowok yang kutaksir menolakku dengan alasan yang sama -- aku ketinggian. (Cinta Sulit Si Jangkung - hal. 10)

"Bosannn…!" teriak Rendy dari balik jendela. Suaranya yang besar menggema mengalahkan deras air hujan yang turun. (Waktu Hujan Reda - hal. 23)

Sylvana bilang, cinta itu kayak potongan-potongan puzzle, nggak bisa menyatu kalau nggak ketemu kepingan yang pas. Tapi aku nggak setuju. (Puzzle - hal. 36)

Ada pepatah lama yang tidak kuketahui siapa pencetusnya yang berbunyi, "Setiap langkah besar selalu dimulai dari satu langkah kecil." Dan aku sangat setuju dengan hal itu. Aku memang mengalaminya sendiri. Sebuah langkah besarku dimulai dari satu langkah yang benar-benar kecil. Bahkan, alasanku mengambil langkah kecilku pun juga adalah hal kecil juga, yaitu jam tangan. (Jam Tangan untuk Nanda - hal. 47)

"Perlukah rasa cinta diberi nama?" tanyanya pada suatu sore. (Unnamed Love - hal. 63)

Keringat kini menetes sebulir-sebulir dari leherku. Aku yakin sekali kalau nyaris seluruh cairan di tubuhku sudah menguap di udara panas yang diam. Aku sudah tak tahan. Kurundukkan kepalaku perlahan agar tak ketahuan Mr. Poltak yang sedang menerangkan puisi dan sajak di depan kelas. Matanya yang minus tujuh kukira tak akan membuatku repot mencuri-curi kesempatan menyesap es soda yang kusimpan di laci mejaku. (Detention - hal. 71)

Sebagian orang berkata bahwa pertemuan pertama itu selalu menyenangkan dan menakjubkan, tapi tidak ada yang istimewa dengannya. Ia datang terlambat ke kelas, memakai jaket dan rambut gondrongnya ia tutupi dengan topi lalu duduk di paling belakang, dan di antara bisingnya obrolan kelas kami, kulihat ia sibuk dengan spidol dan menggoreskan sesuatu dengan serius di binder miliknya. Sebentar, kenapa aku begitu memperhatikannya? (Jangan Pernah Salahkan Waktu - hal. 83)

Cinta. Sesuatu yang selalu didambakan tetapi sulit diungkapkan. Sesuatu yang selalu dinanti tetapi sulit dipahami. Begitulah cinta. Ketika kalimat "I love you" tak bisa diungkapkan dengan tutur kata, ketika rasa ingin memiliki terpendam dalam hati, hanya angan dan harap yang tersisa. Menyatakan cinta secara langsung memang tidak mudah. Lalu bagaimana dengan menyatakan cinta secara tidak langsung? Tentu menjadi mudah berkat adanya Mading alias Majalah Dinding. (Love Code - hal. 94)

Aku tak begitu mengerti mengapa aku sangat tertarik dengan kamera. Yang jelas kamera sudah menjadi nyawa keduaku saat ini. Maka dari itu aku sangat menyukai fotografi. Dan yang kutunggu-tunggu tentunya adalah kompetisi fotografi yang seperti ini. (Hanya dengan Foto - hal. 106)

Februari 2013
"Bruk! Bruk!"
Lagi-lagi aku menjatuhkan buku-buku yang ada di rak perpustakaan sekolah ini. Kenapa sih, aku ceroboh banget? Padahal aku sudah lama pakai kacamata, supaya mataku yang minus ini tidak terus-terusan mengacaukan segala hal yang aku lakukan. Tapi sepertinya mengacaukan memang sudah jadi kebiasaanku. Bahkan, orang-orang yang ada di perpustakaan ini saja sepertinya juga sudah terbiasa dengan tingkah lakuku ini. Seperti dia, yang kali ini juga membantuku membereskan buku-buku yang kujatuhkan. (Library We Meet - hal. 117)

Hei kamu, ya kamu yang ada di situ,
Ada kisah yang mungkin kau belum tahu,
Tentang bunga matahari, sedikit pilu, tentu
Dengarkan, aku akan berkisah kepadamu
(Dongeng Bunga Matahari - hal. 127)

"Wit, tar pulang sekolah gue ikut lu berdua naik bus lagi ya?" ucap Cinta sembari mengaduk es jeruk yang ada di depannya. Wita terbelalak, buru-buru ia menoleh kepada Iren yang duduk di sebelahnya. Iren mengangkat sedikit bahunya, bingung. (Pangeran Cinta di Bus Kota - hal. 137)

Maura tercekat. Ia menahan napas dalam beberapa detik. Bola matanya membulat, ia benar-benar tak memercayai apa yang ia lihat barusan. Berulang kali ia membaca tulisan di halaman majalah kesayangannya itu. Tak berubah! Di sana tertera nama lengkap dan alamat rumahnya. Ia terpilih sebagai salah satu pemenang tiket nonton konser Super Junior di Jakarta. (Warna Keberuntungan Maura - hal. 147)

Hujan bulan November turun, Wi. Masih seperti tahun-tahun yang lalu. Disertai angin dan tetes air yang besar-besar. Dan kamu tahu? Sekarang tanggal 20 November. Hari ulang tahun kita. Ritualku masih seperti dulu, membuka- buka album kenangan yang menyimpan cerita tentang kita berdua. (Cerita Tentang Hujan - hal. 155)

Kepada Isuri…

Isuri bergeming. Ini sudah tiga hari dalam seminggu ia mendapati di mading sekolah ada puisi yang ditujukan buatnya. Pengirimnya sama, Malala. Hary Malala. Kembali, Isuri menatap dengan rasa haru yang bergolak di dadanya. Ia memperhatikan puisi itu. Perlahan membaca bagian yang baginya sangat jleb, di hati. (Surat Malala - hal. 165)

Note: cuplikan merupakan paragraf awal pembuka cerpen.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon