Tampilkan postingan dengan label terjemahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terjemahan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Januari 2016

[Resensi: Lamaran Pernikahan - Julie James] Usaha Sidney Menemukan Mr. Right


Judul buku: Lamaran Pernikahan
Judul asli: It Happened One Wedding
Penulis: Julie James
Alih bahasa: Yunita Chandra
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 470 halaman
ISBN: 978-602-02-6192-8



BLURB

Setelah pertunangannya berakhir dengan memalukan, Sidney Sinclair sang bankir investasi muak dengan para pria yang tidak ingin berkomitmen jangka panjang. Tapi ketika adiknya bertunangan, Sidney berhubungan dekat dengan Vaughn Roberts, tipe pria playboy seksi yang ingin dihindarinya.

Sesuatu yang dimulai dengan pertengkaran kini berakhir dengan permainan hati yang tidak bisa diabaikan....


REVIEW

Sidney Sinclair merasa putus asa saat teman kencannya di kedai kopi yang ia temukan di situs kencan online tak sesuai harapan. Pria itu terlalu banyak bicara. Saat itulah seorang pria tampan dengan kepercayaan diri yang tinggi mendatangi mejanya dan merayunya. Sayangnya di mata Sidney, pria itu sama dengan mantan tunangannya dulu: pria anti komitmen. Sidney pun menolaknya.
Sidney terburu-buru karena telah berjanji akan menemui adiknya, Isabelle, dan kekasih adiknya, Simon, di Restoran. Tapi siapa sangka kalau ia akan bertemu lagi dengan pria playboy perayu tadi dan diperkenalkan pada pria itu yang ternyata adalah kakak Simon. Mimpi buruk pun menjelang saat Isabelle dan Simon mengumumkan mereka akan menikah. Itu artinya Sidney akan selalu bertemu dengan Vaughn sebagai pasangan pengiring pengantin wanita dan pengantin pria.
Seiring berjalannya waktu yang mereka habiskan bersama, Sidney pun menyadari pesona Vaughn yang sulit ditolak. Alasannya membenci Vaughn ternyata tak sekuat hasrat yang ditimbulkan pria itu.
Saat mereka akhirnya bersama benarkah itu hanya hubungan saling menguntungkan tanpa ikatan?

------------

Julie James selalu jadi penulis favorit saya. Bukan hanya karena gaya berceritanya yang fresh dan menarik tapi juga karena bobot isi di dalamnya. Julie James nggak pernah setengah-tengah dalam pengkarakteran tokohnya. Terutama dengan detail profesi tokohnya.

Dalam novel ini Sidney adalah bankir investasi yang pindah ke Chicago dan beralih profesi menjadi direktur sebuah firma ekuitas, sementara Vaughn adalah agen FBI khusus kejahatan kerah putih. Profesi yang penggambarannya bukan hanya sekedar tempelan tapi juga berkembang dalam novel ini.

Saya suka sinisme dan sarkasme Sidney yang dilempar ke Vaughn dan bagaimana kalemnya Vaughn menanggapinya. Interaksi mereka kocak dan asyik. Aaah... saya cinta banget sama mereka berdua. Dialognya seru dan menghibur. Adegan panasnya juga hot banget. XD
Yang paling menggelikan adalah saat Sidney dan Vaughn saling berbalas pesan singkat membahas kencan yang dilakoni Sidney untuk mencari Mr. Right. Lucuuu banget.
Sementara adegan paling manis adalah saat Vaughn melacak sahabat ibu Sidney hanya demi membahagiakan Sidney. Haduuuh... sweet deh.

Sayangnya saya lebih suka kaver edisi aslinya. Karena Vaughn dan Sidney dalam bayangan saya nggak mirip sama sekali dengan pria dan wanita di kaver ini.
Penerjemahannya bagus dan minim typo. Tapi saya mencatat di halaman 111 ketika Vaughn, Simon, Sidney dan Isabelle tiba di rumah orangtua Vaughn, disebutkan Kathleen akan menyiapkan makan malam.

Setelah itu, Kathleen berjalan ke dapur untuk menyelesaikan persiapan makan malam, sementara Simon mengajak Sidney dan Isabelle melakukan tur singkat di rumah. (hlm. 111)

Namun nggak lama kemudian diceritakan Sidney memilih membantu Kathleen untuk menyiapkan makan siang.

"Aku akan melihat apakah ibumu membutuhkan bantuan menyiapkan makan siang." (hlm. 111-112)

Entah ini kesalahan penerjemahan atau kesalahan penulisan dari Julie James sendiri.

Overall, It Happened One Wedding adalah novel yang seru tentang seorang wanita lajang tigapuluhan yang menginginkan komitmen tapi malah bertemu dan jatuh cinta pada pria antikomitmen. Novel yang seru, menghibur dan.... aww~ panaaas!! :))

Selasa, 20 Oktober 2015

[Resensi: Mr. (Not Quite) Perfect - Jessica Hart] Menciptakan Tuan Sempurna


Judul buku: Mr. (Not Quite) Perfect
Penulis: Jessica Hart
Alih bahasa: Erika Noor Rachma
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 978-602-02-6145-4



BLURB

Apa yang sebenarnya diinginkan seorang wanita?

Allegra Fielding, seorang jurnalis, sedang dalam masalah. Dia menawarkan sebuah kisah kepada bosnya—merubah pria-yang-tidak-terlalu-sempurna menjadi Pangeran Memesona—dan sekarang dia dapat tugas besar! Tapi, di mana dia bisa menemukan pria yang mau dijadikan 'korban' makeover?
Hmm, saatnya memeras teman seatapnya, Max....

Sayangnya, rencana licik Allegra berubah menjadi bumerang ketika Max menolak untuk 'disempurnakan'!
Dia adalah seorang pria yang benar-benar tahu apa yang diinginkannya, dan dia dengan senang hati akan membuktikan pada Allegra bahwa tak ada yang lebih hot daripada pria seperti dirinya.

RESENSI

Bekerja di Glitz, sebuah majalah mode yang gaya dan penuh dengan gosip kalangan atas, membuat Allegra harus pintar-pintar menyusun artikel agar bisa menyenangkan editornya—yang tak mudah terkesan. Maka ketika sebuah ide brilian tersusun dalam pikirannya, Allegra berusaha membuat artikel yang sempurna yang bisa menjadi batu loncatan baginya. Dia ingin karirnya bersinar dan ibunya tak lagi meremehkan pekerjaannya.
Flick, seorang jurnalis kelas tinggi yang terkenal dan sangat tajam dalam mengulas ekonomi dan politik memang selalu menuntut kesempurnaan dari Allegra. Flick ingin Allegra mengikuti jejaknya dan bukan bekerja di majalah omong kosong semacam Glitz. Tapi bagi Allegra, mode dan fashion adalah dunianya.
Allegra berencana membuat artikel tentang membentuk pria sempurna. Maka Allegra mencari seorang pria biasa-biasa saja sebagai korban untuk diajari minum cocktail, memasak, seni kontemporer dan berdansa. Dan pilihannya jatuh pada Max.
Max, kakak laki-laki sahabat Allegra, baru saja putus dari tunangannya. Maka untuk sementara dia tinggal seatap dengan Allegra. Di mata Allegra, Max adalah pria yang cocok sebagai bahan eksperimennya. Max yang insinyur sipil dan berselera buruk dalam hal berpakaian akan menjadi target perombakan Allegra.
Meski Max setuju, dengan iming-iming kencan bersama Darcy, sang model pakaian dalam, tapi ternyata tidak mudah mengubah Max. Apakah misi Allegra berhasil? Apakah Max akan menjadi tuan sempurna bagi Darcy? Atau tuan sempurna bagi Allegra?

-----------

Butuh waktu untuk menyelesaikan novel ini. Beberapa kali saya berhenti dan hampir menyerah. Mungkin karena jalan ceritanya yang flat dan mudah tertebak.
Tokoh-tokohnya cukup berkarakter dan punya warna yang berbeda.
Menarik melihat bagaimana Allegra bisa berkembang menjadi pribadi unik di bawah tekanan ibu yang selalu menuntut kesempurnaan. Di satu sisi Allegra nggak ingin membuat Flick kecewa, di sisi lain ada jiwa romantis yang menginginkan dirinya jadi diri sendiri.
Saya cukup kagum pada Max akan integritasnya. Sisi pria normalnya terlihat ketika ia nggak bisa menolak permintaan Allegra karena iming-iming kencan dengan Darcy. Namun, ketika dihadapakan pada perempuan terseksi dan termanis di dunia pun, Max tetap bersifat gentleman tanpa mengabaikan Allegra.
Novel ini begitu fokus pada tahap-tahap mengubah Max dan minim adegan romantis. Terdapat momen khas yang biasa muncul di drama komedi romantis semacam stoking sobek atau terjatuh di depan meja yang membuat kekonyolannya terasa berlebihan.

Penerjemahannya lumayan baik meski ada susunan kalimat yang kurang pas. Juga banyak terdapat kesalahan penulisan tanda baca. Tapi, masih bisa dinikmati karena ceritanya ringan dan menghibur.

Saya menyukai novel ini karena pesan yang mengena. Saya pun menginginkan pria sempurna dalam hidup saya. Tapi seperti Allegra, saya belajar bahwa mencintai seseorang bukan berarti memintanya untuk berubah, tetapi menerima dia apa adanya. Menerima kelebihan dan kekurangannya. Dia mungkin bukanlah pria yang kita idealkan tetapi dia pria yang kita butuhkan. Itulah yang membuatnya sempurna.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Wanita. Ketika kau mengira sudah mengerti, mereka berbalik dan menendang kakimu sampai kau jatuh, lalu membiarkanmu menggelepar. (hlm. 141)

"Kurasa menjaga jarak tertentu dengan semua orang berarti tak ada seorang pun yang memiliki kesempatan menyakitimu." (hlm. 219)

Siapa pun bisa berpura-pura, tapi apa pentingnya melakukan itu? Tak ada orang yang mau jatuh cinta dengan seseorang yang penuh kepalsuan. (hlm. 255)

Rabu, 09 September 2015

[Resensi: The Lost Symbol - Dan Brown] Simbol-Simbol yang Tersembunyi di Belantara Gedung Amerika


Judul buku: The Lost Symbol
Penulis: Dan Brown
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penyunting: Esti B. Habsari dan Andityas Prabantoro
Pemeriksa aksara: Deddy S.
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Januari 2010 (cetakan pertama)
Tebal buku: 712 halaman
ISBN: 978-979-1227-86-5



BLURB

What is lost... will be found.

"Tangan Misteri yang ditunjukkan penggalan tangan Peter Solomon adalah undangan untukmu, Mr. Langdon. Undangan untuk membuka sebuah portal kuno yang tersembunyi di Washington, DC. Jadi, di manakah portal itu, Profesor?"
***

Robert Langdon, sang simbolog genius yang berhasil memecahkan Da Vinci Code, kembali hadir dalam petualangan berbahaya yang penuh teka-teki. Undangan ceramah di Gedung Capitol, Washington, DC, berubah menjadi undangan kematian. Seseorang meletakkan simbol Tangan Misteri yang dibuat dari penggalan tangan Peter Solomon, sahabat dan mentor Langdon, sekaligus tokoh penting Persaudaraan Mason.

Sang penculik Peter meminta Langdon memecahkan kode-kode kelompok rahasia Mason yang melindungi sebuah lokasi di Washington, DC. Lokasi penyimpanan kebijakan tertinggi umat manusia, yang konon akan membuat pemegangnya mampu mengubah dunia.

Menjelajahi terowongan-terowongan bawah tanah Capitol, Perpustakaan Kongres, kuil-kuil Mason, dan Monumen Washington, Langdon harus berpacu dengan waktu sekaligus menghindari kejaran CIA yang menganggapnya sebagai ancaman nasional. Sebelum tengah malam, Langdon harus sudah berhasil memecahkan teka-teki kelompok Mason. Jika tidak, nyawa Peter akan mengguncang Amerika Serikat dan bahkan dunia bakal tersebar.


RESENSI

Kali ini Dan Brown mengambil Freemasonry sebagai latar ceritanya. Freemasonry atau lebih sering disebut Mason merupakan sebuah kelompok penuh kontroversi. Dituduh sebagai kelompok antiagama, mempraktikkan okultisme hingga dianggap bertujuan menguasai dunia dan menciptakan Tata Dunia Baru sesuai paham mereka, membuat Freemasonry dituding sesat. Kemisteriusan yang menyelubungi kelompok ini terlihat dalam ribet dan peliknya ritual inisiasi anggota baru yang ingin bergabung di dalamnya. Mereka juga menggunakan bahasa simbolik dan menjalankan ritual-ritual ganjil sehingga terkesan bersifat okultisme.

Cerita berawal dari perjalanan Profesor Langdon ke Washington, DC, untuk memenuhi permintaan Peter Solomon. Peter Solomon adalah filantrop, sejarahwan dan ilmuwan yang selama tiga puluh tahun telah membantu dan membimbing Langdon. Meskipun dinasti keluarga Solomon sangat berpengaruh dan luar biasa kaya, Langdon merasakan kehangatan dan kerendahan hati dalam diri pria itu.
Karenanya saat seseorang yang mengaku sebagai asisten Peter menelepon dan atas nama Peter meminta Langdon agar datang ke U.S. Capitol untuk mengisi ceramah, Langdon langsung bersedia.

Tak dinyana, Langdon tertipu. Tidak ada ceramah untuk acara Smithsonian. Yang ada ia disambut potongan tangan Peter Solomon yang difungsikan sebagai Tangan Misteri di tengah Rotunda Capitol.

Langdon dituntut untuk memecahkan simbol-simbol dalam Piramida Mason, yaitu legenda Mason yang menjanjikan harta tak ternilai. Namun ternyata CIA pun ikut campur dengan alasan demi keamanan nasional. Profesor Langdon bukan hanya harus berpacu dengan waktu untuk memecahkan misteri tapi juga harus bermain petak umpet dengan para agen CIA.

------

The Lost Symbol cukup membuat saya kebingungan di awal. Informasi tentang kelompok aliran, simbol-simbol, teologi dan ritual-ritual diluncurkan dengan deras oleh buku ini sehingga membuat saya kewalahan.
Namun seiring waktu, setelah petualangan kejar-kejaran Langdon bersama Katherine Solomon dimulai, saya bisa mencerna. Sedikit. :))))

Saya masih tetap berharap menjadi salah satu mahasiswi Profesor Robert Langdon dan mengambil mata kuliah yang diampunya. Yakin deh, saya nggak bakal bosan di mata kuliahnya ^^ Pengetahuannya tentang sejarah dan simbol gedung-gedung penting Amerika membuat saya takjub. Tapi respek saya makin berkurang di novel kedua ini. Sebagai ahli simbolog, Langdon cukup sulit diyakinkan bahwa Piramida Mason itu ada dan bahwa ada kekayaan besar yang disembunyikan oleh simbol-simbol Piramida Mason. Tentu saja hal itu membuat beberapa bagian terasa membosankan. Dan Brown seolah ingin meyakinkan pembaca yang skeptis, sehingga ia menjadikan Profesor Langdon sangat yakin piramida itu hanya mitos. Jadi ketika Langdon akhirnya teryakinkan, Dan Brown pun sepertinya berharap pembaca akan teryakinkan juga.

Sementara untuk sang antagonis, karakter Mal'akh benar-benar terlihat fanatik. Gila. Karakternya justru lebih kuat daripada Robert Langdon maupun Direktur Inoue Sato, sang penguasa tertinggi Office of Security (OS) CIA yang kemunculannya cukup mencurigakan.

Ada banyak kejutan dalam novel ini, dan cukup mencengangkan. Plot twist-nya membuat saya kembali mengulang membaca hanya untuk memahami cerita dari sudut yang berbeda.
Penerjemahannya bagus dan mengalir tanpa kesalahan eja maupun kesalahan penerjemahan. Sangat mulus. Nikmat banget bacanya :)

Overall, saya menikmati membaca novel ini karena asyik dibawa merumuskan simbol-simbol menakjubkan yang tersebar di jantung Washington, DC. Meskipun bagi saya rasanya masih kurang senikmat membaca The Davinci Code. ;)


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Terkadang legenda yang betahan selama berabad-abad ... bertahan untuk alasan tertentu." (hal. 49)

"Kunci masa depan ilmiah kita tersembunyi di masa lalu kita." (hal. 94)

"Pengetahuan adalah alat dan, seperti semua alat lainnya, dampaknya berada di tangan pengguna." (hal. 119)

"Salah paham terhadap simbol-simbol sebuah kebudayaan merupakan akar prasangka yang umum." (hal. 230)

Betapa berbeda dunia seandainya ada lebih banyak pemimpin yang meluangkan waktu untuk merenungkan kematian sebelum berderap menuju peperangan. (hal. 231)

Tubuhku hanyalah wadah bagi harta karunku yang terampuh ... pikiranku. (hal. 409)

"Kebenaran punya kekuatan. Dan, jika kita semua tertarik pada gagasan-gagasan yang serupa, mungkin kita melakukannya karena gagasan-gagasan itu benar ... tertulis jauh di dalam diri kita. Dan ketika mendengar kebenarannya, seandainya pun kita tidak memahaminya, kita merasa bahwa kebenaran itu tidak dipelajari oleh kita, tapi di-panggil ... di-ingat ... di-kenali ... sebagai sesuatu yang sudah ada di dalam kita." (hal. 567)

Sabtu, 27 Juni 2015

[Resensi: Practice Makes Perfect by Julie James] Cinta dan Rivalitas Selama Delapan Tahun


Judul buku : Practice Makes Perfect
Penulis : Julie James
Genre : Contemporary Romance
Alih bahasa : Layna Ariesianti
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun terbit : 2012
Tebal buku : 395 halaman
ISBN : 978-602-00-2109-6




BLURB

Setelah delapan tahun berkompetisi, yang melelahkan sekaligus menyenangkan, baik Payton maupun J.D. tinggal menunggu pengangkatan sebagai partner di firma hukum bergengsi di Chicago. Dengan mengesampingkan ego masing-masing, mereka bekerja sama melobi satu klien penting bagi firma. Sayangnya, bos mereka kemudian berubah, hanya satu dari mereka yang akan diangkat menjadi partner!

Payton Kendall seorang feminis sejati sedangkan J.D., keturunan keluarga kaya yang memiliki banyak hak-hak istimewa. Sebuah novel kontemporer menawan dari Julie James, dengan karakter yang arogan dan ambisius tapi menawan, dan perdebatan menarik memaparkan ketidaknyamanan dan kelemahan masing-masing pribadi.



RESENSI

Payton Kendall telah mengabdikan dirinya bekerja di firma hukum Ripley & Davis selama delapan tahun. Selama itu ia tak pernah kalah di persidangan. Namun, demikian juga J.D. Jameson, rival abadi Payton.
Selama delapan tahun mereka terus bersaing memberikan yang terbaik untuk firma. Perseteruan penuh sarkasme saling mereka lontarkan secara sembunyi-sembunyi, karena jika di hadapan partner senior, rekanan dan karyawan firma, mereka bersikap pura-pura manis satu sama lain.
Untuk mendapatkan tiket menjadi partner di firma, mereka terpaksa bekerja sama melobi klien kelas kakap. Sayangnya persaingan mereka makin meruncing saat firma menyatakan hanya akan mengangkat satu partner saja dan akan memilih seseorang di antara mereka berdua. Salah satu harus kalah dan keluar dari firma.
Saat terungkap bahwa mereka sebenarnya saling tertarik satu sama lain, bagaimana mereka akan menyikapi masalah pengangkatan partner ini? Sanggupkah salah satu dari mereka dikalahkan dan menerima kekalahan? Apakah mereka masih bisa bersama tanpa merasa kecewa?

-----

Gaya bertutur Julie James dalam Practice Makes Perfect begitu mudah dinikmati. Terutama karena novel ini menceritakan bidang keahliannya, dunia pengacara. Saya dibuat tegang dengan naik turunnya hubungan Payton dan J.D.., juga sangat menikmati jatuh bangun dan perjalanan karier mereka.

Sudut pandangnya menggunakan sudut pandang orang ketiga dari sisi Payton dan J.D. sehingga sangat terasa pergumulan batin mereka.

J.D. digambarkan sebagai pria sempurna. Lulusan fakultas hukum universitas Harvard (wow), pengacara handal, tegap, rapi dan jago olahraga. Yayaya~. Sosok yang dengannya kamu nggak akan mau bersaing. Tapi Payton menjadi lawan yang sepadan. Sebagai wanita yang membenci diskriminasi gender bisa dibilang ia benci setiap kali J.D. bisa lebih akrab dengan bosnya karena 'pemahaman sesama pria' di antara mereka.

Dialog dalam Practice Makes Perfect benar-benar segar dan terkadang menggelikan. Ada juga yang menyentuh. Yang jelas Julie James benar-benar tahu kapan menempatkan dialog yang pas. Interaksi di antara J.D. dan Payton juga menarik walau kadang kekanakan. Saya merasa ingin melihat langsung mereka berdebat dan saling melemparkan sindiran :)

Saya terus menebak-nebak bagaimana Julie James akan mengakhiri kisah ini dengan win-win solution, tapi kejutan di bagian akhir benar-benar membuat saya terhenyak. Terutama bagian kesalahan fatal yang dilakukan J.D.. Twist novel ini sungguh di luar dugaan dan membuat saya jatuh cinta.

Untuk penerjemahan, masih ada bagian yang kurang pas dan typo-nya ampuuuuun banyaknya! Sangat disayangkan bila menilik jalan cerita yang mengalir, jadi sedikit kurang nyaman dibaca.

* …sendiri. --> …sendiri." (hal. 29)
* mengijinkan --> mengizinkan (hal. 46)
* kami --> mereka (hal. 61)
* gelassnya --> gelasnya (hal. 67)
* sekarangr? --> sekarang? ( hal. 76)
* Karena lelah dan hanyut dalam pikirannya Payton tidak menyadari… --> Karena lelah dan hanyut dalam pikirannya, Payton tidak menyadari… ( hal. 80)
* mengunjnungi --> mengunjungi (hal. 93)
* ten-ang --> te-nang ( hal. 96)
* mat-anya --> ma-tanya (hal. 97)
* ben --> Ben (hal. 99)
* Payten --> Payton (hal. 100)
* kag-etnya --> ka-getnya (hal. 104)
* meny-endiri --> me-nyendiri (hal. 104)
* men-enangkan --> mene-nangkan (hal. 105)
* ruan-gan --> ruang-an (hal. 105)
* dan dia matanya memicing, --> dan matanya memicing, (hal. 123)
* bertuju --> bertujuh (hal. 123)
* santi --> santai (hal. 129)
* menmuaskan --> memuaskan (hal. 133)
* apapun --> apa pun (hal. 133 dan beberapa halaman lain)
* Tak akan ada yang akan melihat --> Tak ada yang akan melihat (hal. 133)
* iut --> itu (hal. 152)
* pen-gadilan --> peng-adilan (hal. 156)
* payton --> Payton (hal. 162)
* siapapun --> siapa pun (hal. 181)
* sekedar --> sekadar (hal. 181)
* deposisi 30(6)(6) --> deposisi 30(b)(6) (hal. 183)
…Tuntut saja kalau mau) --> …Tuntut saja kalau mau). (hal. 223)
* karir --> karier (hal. 236)
* Brekafast --> Breakfast (hal. 238)
* dan yang apa tepatnya --> dan apa tepatnya (hal. 247)
* tidak mengetahu --> tidak mengetahui (hal. 276)
* Apa kau takutkan akan terjadi --> Apa yang kau takutkan akan terjadi (hal. 280)
* puplen --> pulpen (hal. 287)
* substantsial --> substansial (hal. 288)
* jamannya --> zamannya (hal. 288)
* Kalyan --> Kalian (hal. 298)
* siapapun --> siapa pun (hal. 355)
* alu --> lalu (hal. 365)
* Seberapapun --> Seberapa pun (hal. 368)
* …karena aku bajingan" --> …karena aku bajingan." (hal. 368)
* Setibanya di kantor Ben Payton mendapati… --> Setibanya di kantor Ben, Payton mendapati… (hal. 374)
* akan akan --> akan (hal. 379)
* I tengah-tengah --> Di tengah-tengah (hal. 388)

Saya beri 4 bintang untuk Practice Makes Perfect.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Berkarier ataupun tidak, wanita usia tiga puluhan yang masih lajang tidak boleh menelantarkan kehidupan pribadinya untuk selamanya." (hal. 86)

Lagipula, hanya wanita bodoh yang tidak menyukai seseorang pria hanya karena pria itu menyukainya. (hal. 131)

"Aku akan melakukannya untukmu dalam sedetakan jantung." (hal. 203)

"Menurutku kebencian yang mendalam bisa jadi halangan dalam mengejarnya." (hal. 234)

"Nah kan, kau hanya tidak memahami wanita seperti aku memahami mereka, J.D. Mereka menginginkan semuanya: karir, martini apel, kebebasan finansial, sepatu yang menawan; tapi di waktu yang bersamaan--dan ini tidak akan pernah mereka akui--mereka tertarik pada pria patrialis yang dominan dan memegang kendali. Itulah inti dari Darcy-complex. Darcy mungkin memang bajingan, tapi dia bajingan yang pada akhirnya mendapatkan si wanita." (hal. 236)

"Bagus… sekarang panggillah aku 'bedebah' dan beri aku tatapan seolah kau ingin melempar sesuatu padaku… itu bagian favoritku." (hal. 269)

"Aku juga kemari untuk mengatakan, berlawanan dengan keyakinanmu, aku tak butuh dikejar." (hal. 359)
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon