Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2016

[Resensi: Dua Cinta Negeri Sakura - Irene Dyah] Keresahan Miyu di Antara Akal Sehat dan Hati


Judul buku: Dua Cinta Negeri Sakura
Penulis: Irene Dyah
Editor: Gita Savitri
Desain sampul: Mia Sekartaji
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2015
Tebal buku: 181 halaman
ISBN: 978-602-03-1269-9



BLURB

Seandainya aku tidak ke Solo waktu itu...seandainya nasib tidak membawaku bertemu pria itu...aku pastilah tetap menjadi Miyu Hasegawa yang normal. Gadis Jepang biasa yang hidup dalam irama tetap barangkali monoton, tapi toh, menikmatinya. Tapi sekarang? Aku bersandar di tempat tidur kanak-kanak yang bukan milikku, rambut semrawut, hati dan otak lebih semrawut lagi. Memelototi Crazy Stupid Love di TV tanpa suara dengan mata sembap. Meratapi dan mengasihani diri sendiri, jatuh hati pada pria yang salah.

Hidup Miyu yang tenang mendadak absurd karena kehadiran Scott , fotografer yang sering terlena menatap Miyu menari di pentas, melupakan kamera di tangannya. Lebih absurd lagi, Miyu harus menyembunyikan identitas pria itu dari kedua sahabatnya: Aliyah; istri dan ibu yang masih kerepotan mengurus hijab barunya, serta Ajeng; gadis metropolis yang nyinyir pada pernikahan.

Kala akal sehat tidak sejalan dengan hati, mana yang Miyu pilih? Lepas dari Scott yang tidak kenal kata menyerah, atau merelakan diri hanyut terbawa pesona yang begitu memabukkan?

Dan ketika Masjid Camii Tokyo mempertemukan Miyu dengan sang Bintang Fajar, sungguhkah Miyu telah menemukan happy ending-nya?

Jangan kamu melepaskan gunung permata di tanganmu hanya karena tergiur ingin memungut satu butir kecil batu yang tercecer. —Miyu Hasegawa


RESENSI

Miyu Hasegawa merasa serba salah saat Scott masih terus saja berusaha menemuinya. Kali ini Scott menawari Miyu agar bersedia difoto secara profesional oleh Scott. Miyu berusaha menolak, tapi Scott memang sulit dihentikan. Pria itu bisa keras kepala meski sebuah cincin pernikahan telah melingkar di jari pria itu.
Miyu pun tak bisa meluapkan keresahannya pada kedua sahabatnya, Aliyah dan Ajeng, karena Scott ternyata adalah sahabat Aliyah juga. Ia pun memutuskan merahasiakan identitas Scott dari Aliyah dan Ajeng.
Tapi sebuah insiden menimpa istri Scott dan rahasia mereka pun terkuak. Miyu semakin gelisah melihat labilnya perasaan manusia yang diperlihatkan oleh istri Scott, namun di lain pihak ia pun melihat kekuatan spiritual Aliyah yang semakin kuat. Miyu sadar bahwa mendalami agama membuat manusia menjadi stabil.
Di tengah usahanya melupakan Scott, dan rasa penasarannya pada agama Islam, Miyu dipertemukan dengan Thariq, sang Bintang Fajar. Sahabat-sahabatnya sangat mendukung Miyu untuk meraih bintang fajar itu, tapi benarkah hati bisa sedemikian mudah berpindah? Akankah Miyu menerima Thariq? Dan akankah Miyu menemukan kedamaian hati seperti yang dirasakan Aliyah?

-------------

Dua Cinta Negeri Sakura merupakan sekuel dari novel Tiga Cara Mencinta, yaitu kisah tentang tiga orang sahabat: Aliyah, Miyu dan Ajeng.
Sayangnya saya belum sempat membaca buku pertamanya, dan dengan pede langsung melongkap buku yang kedua ini. Ini karena yaah... kaver Dua Cinta Negeri Sakura lebih mengundang dan menggiurkan. (Maafkan alasan cetek saya ^^) Saya memang mudah tergoda pada kaver novel. Lagipula saya kira saya akan mudah mencernanya meski belum membaca Tiga Cara Mencinta.

Tapi saya salah. Huhuuu~ ternyata tetap saja ada bagian yang nggak saya mengerti. Loh, kenapa begini? Lha, emang sebelumnya gimana? Terutama apa yang terjadi di Solo???
Ini karena rangkuman cerita sebelumnya cuma sedikit dan samar-samar, jadi saya pun mencoba meraba-raba masa lalu tiga sekawan ini.

Setting yang digunakan novel ini yaitu di Tokyo dan Bangkok saya rasa juara banget. Bukan hanya deskripsi tempat tapi juga nuansa sosial budayanya disajikan sebagai pelengkap. Apalagi dengan kalimat-kalimat bahasa Jepang dan Thai yang digunakan para tokohnya, settingnya jadi kuat banget.

Novel ini menggunakan POV orang ketiga dan mengalir dengan lumayan cepat. Dan diksi yang digunakan Irene Dyah sangat lincah dan menggelitik, beberapa kali saya tersenyum karena istilah ajaib yang digunakannya. Dialognya juga segar dan seru, terutama dialog Ajeng yang gokil parah.

Di antara ketiga sahabat ini saya tahu saya memang paling suka dengan Ajeng. Ceplas-ceplos dan apa adanya banget. Pengeeeen punya sahabat kayak dia. :)
Karakter Miyu memang lebih kalem dan sederhana dibanding yang lain, tapi ternyata punya tekad dan pendirian yang nggak main-main. Saya yang memang nggak suka tokoh yang terlalu kalem dan pasrah malah suka dengan Miyu karena meski kalem tapi logis dan punya harga diri.
Chemistry mereka bertiga asyik banget dan bikin iri. Dialognya lepas dan terasa dekat karena begitu mirip dengan percakapan yang biasa saya lakukan dengan teman-teman saya. Seru!
Sementara Scott, kok ya saya nggak bisa sebel sama dia, malah jatuh cinta. #waaks
Scott ini lucu, keras kepala dan dewasa. Saya langsung suka ketika dia ngobrol dan menasehati Aliyah. Sayang sudah beristri. *manyun*

Sayangnya konflik Miyu-Scott-Thariq ini serasa masih kurang dalam. Saya malah pengen melihat sendiri frustasinya Scott menghadapi sifat istrinya, bukan hanya dari kata-kata Scott pada Miyu. 
Dan kisah Aliyah sepertinya mengambil porsi lumayan besar di novel ini. Jadi novel ini bukan hanya tentang kisah cinta Miyu dan ujung dari kegalauannya tapi juga kisah penyempurnaan spiritual Aliyah.
Dan saya suka bagaimana Irene Dyah memasukkan spirit Islami dengan setahap demi setahap dan begitu halus. Nggak ada kesan ceramah, dakwah ataupun menggurui dalam novel ini. Kemantapan Aliyah, keraguan Miyu dan keengganan Ajeng, saling mengimbangi dengan pas.

Overall, saya suka novel ini, karena bukan hanya menyajikan kisah cinta dan persahabatan yang asyik, tapi juga memberi pandangan spiritual yang unik. Dan tampaknya saya perlu membaca buku pertama dan ketiganya untuk menambal rasa pemasaran saya. :)

Kamis, 09 Juli 2015

[Resensi: Jodoh untuk Naina - Nima Mumtaz] Keikhlasan Naina Menerima Perjodohan


Judul buku : Jodoh untuk Naina
Penulis : Nima Mumtaz
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun terbit : 27 April 2015
Tebal buku : 252 halaman
ISBN : 978-602-02-6348-9



BLURB

Jodoh untuk Naina, Abah yang pilih, Naina ikhlas.
Tapi, kenapa Abah pilih dia?
Dia yang punya masa lalu kelam.
Dia yang pernah diarak keliling kampung karena berzina.
Dia yang tidak sempurna.
Mengapa Abah begitu yakin dia mampu menjadi imam Naina?
Bagaimana Naina harus menjalani kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dia sukai, bahkan sebelum akad nikah?
Apakah dia adalah jodoh untuk Naina?


RESENSI

Naina Humairah tak mampu menolak saat Abah menawarkan seorang pria untuk menjadi suaminya. Setelah Umi meninggal dan kakak-kakaknya menikah, Naina hanya hidup berdua dengan Abah. Ia sangat menyayangi Abah. Dan jika pernikahan Naina membuat Abah bahagia, Naina rela menjalaninya.
Namun betapa kaget Naina saat mengetahui bahwa calon suaminya adalah Rizal Ayyashi. Pria yang sepuluh tahun lalu pernah membuat skandal memalukan di kampung hingga membuat keluarga pria itu pindah ke Surabaya. Meski saat kejadian itu, Naina masih kecil tapi Naina sudah banyak mendengar berita yang simpang siur dari para tetangga. Bahwa Rizal tertangkap sedang berzina dengan perempuan bersuami.
Naina pun memasuki gerbang pernikahannya dengan ketidakikhlasan. Ia masih meragukan Rizal. Ia masih mencari-cari kekurangan Rizal. Walaupun perlakuan Rizal begitu lembut dan protektif padanya, hati Naina masih ragu. Apakah Rizal benar-benar telah bertobat?
Tapi siapa, sih, yang bisa bertahan dibombardir kelembutan dan godaan yang menyenangkan dari suami yang ganteng? Naina pun luluh. Ia menerima pernikahan dengan ikhlas dan mulai membuka hati untuk Rizal hingga hanya pria itu yang memenuhi harinya.
Dan cobaan pun datang. Latifah, perempuan yang pernah menjadi partner skandal Rizal ,kembali pulang ke kampung. Janda itu mencari Rizal untuk menjawab lamaran yang ditawarkan Rizal setahun yang lalu. Tanpa sengaja Naina mendengar Rizal bertanya pada Latifah apakah Latifah mau menjadi istri kedua. Naina limbung. Dunia seakan menggelap.
Sanggupkah Naina dimadu? Seberapa jauh tanggung jawab yang hendak dituntaskan Rizal? Benarkah Rizal akan membawa wanita kedua dalam kehidupan pernikahan mereka? Dan siapakah gadis berkerudung biru yang menjadi cinta terpendam Rizal?

--------

Saya penasaran dengan Nima Mumtaz sejak munculnya Akulah Arjuna. Sudah mengincar novel itu tapi sepertinya belum juga berjodoh. Dari gagal menang giveaway, stok kosong di toko buku, dan belum menemukan teman yang bisa meminjami :p
Hingga Jodoh untuk Naina terbit. Saya langsung tertarik dengan blurb-nya. Pikir saya, Naina si tokoh utama benar-benar hebat. Saya sendiri, yang nggak bakal mau menerima perjodohan dengan pasrah, tentunya mengagumi sosok yang bersedia menjalani perjodohan.

Temanya sungguh unik. Bukan hanya sekedar perjodohan, tapi perjodohan dengan pria yang memiliki masa lalu yang suram. Sebuah skandal perzinaan. Dosa yang teramat berat dari sisi agama.
Plotnya rapi dan begitu mengalir hingga saya tiba di bagian-bagian yang membuat saya meneteskan air mata. Pilihan diksi Nima meski simpel tapi mampu membuat terlarut. Terlebih karena novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu Naina, saya jadi ikut merasakan suasana hati Naina.

Karakter Naina tadinya saya rasa cukup menyebalkan di awal. Gemas banget waktu Naina setiap ditanya oleh Rizal jawabannya selalu terpatah-patah atau malah kadang cuma diam nggak berani ngomong. Tapi makin ke belakang makin ketahuan kalau Naina cerewet dan manja. Gaya ngomongnya ke Rizal yang manja dan merajuk itu rasanya lucu.
Untuk tokoh pria, saya yang biasanya mengidolakan cowok bad boy, kali ini luluh oleh Rizal. Aduh, Abah Miftah masih punya stok calon suami kayak Rizal nggak, sih? Sudah ganteng, santun, agamanya bagus, pintar, lembut, tapi bisa ngegombal juga. Haha.
Kepingin deh anak-anak saya kalau dewasa bisa kayak Rizal begitu ^^
Sayangnya fisik mereka kurang terdeskripsi dengan rinci.

Jodoh untuk Naina merupakan novel lini Le Mariage dari Elex Media kedua yang saya baca setelah Not A Perfect Wedding karya Asri Tahir.
Sebagai novel bertema pernikahan, Jodoh untuk Naina begitu kental nuansa islaminya. Mulai dari prosesi dan tata cara ijab qabul hingga keseharian para tokohnya.
Selain itu, hal yang saya sukai adalah unsur kebudayaan yang terangkat dalam hal adat pernikahan dan dialek beberapa tokoh yang digunakan. Terasa semakin memperkuat setting.

Dan yang membuat saya jatuh cinta adalah bonus epilognya. Aaah~ suka banget. Epic.

Radar saya hampir nggak menemukan typo di dalam novel ini:

sampai di rumah, kami pun dia tak berubah. --> sampai di rumah kami pun, dia tak berubah. ( hlm. 98)
makhlukmu --> makhluk-Mu (hlm. 214)

Novel ini memberi banyak pelajaran. Tentang kepatuhan, cara memperlakukan orangtua, cara berumah tangga yang sakinah mawadah warohmah dan tentang keikhlasan.
Saya beri 5 bintang untuk Jodoh untuk Naina.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Tak ada waktu yang terlalu cepat atau terlalu lambat untuk masalah jodoh. Dia akan datang kapan pun dia mau. Karena Allah telah menuliskannya dalam garis takdirmu." (hlm. 2)

"Kamu selalu punya pilihan, Naina." (hlm. 22)

Aku memang selalu punya pilihan, tapi aku juga memilih untuk membahagiakan Abah, apa pun yang terjadi. (hlm. 22)

"Naina, tidak ada harta bersama dalam pernikahan. Yang ada hanya harta suami dan harta istri. Suami punya kewajiban memenuhi semua kebutuhan rumah tangga juga kebutuhan istrinya, sedang harta istri bebas dibelanjakan semau istri. Itulah kenapa Abang berikan semuanya. Karena Abang mau, Naina yang atur. Karena Abang mau, Nai tahu berapa penghasilanku dan berapa pengeluaran kita. Jadi, nanti kalau kamu minta dibeliin mobil mewah atau liburan ke luar negeri sebulan sekali, Nai bisa tahu kalau Abang belum mampu." (hlm. 56)

"Enak, ya, punya istri, ada yang cemberutin." (hlm. 59)

Aku ingin membencimu. Begitu ingin. Aku ingin mengutuk semua keragu-raguanmu namun yang kulakukan hanya memberi maaf padamu. (hlm. 213)

Ya rabb,
Maaf jika aku mencinta makhlukmu terlalu sungguh. Maaf jika aku merindu makhluk-Mu dengan segenap rindu yang kupunya. Tapi aku tak sanggup menahan ini, ya Allah. Aku terlalu mencinta, aku amat sangat merindu. 
Allahku, tolong jaga dia dalam lindungan-Mu. Jaga dia dalam kasih sayangmu. Jaga hatinya agar selalu dalam lingkup rahmatmu. (hlm. 214)

Selasa, 30 Juni 2015

[Blogtour] Resensi & Giveaway Tuhan untuk Jemima by Indah Hanaco



Hi all, belum capek ikutan blogtour Tuhan untuk Jemima, kan? Kali ini selamat bertandang ke blog Nurina Mengeja Kata yang akan meresensi daaaaan… memberikan giveaway untuk satu eksemplar novel ini ;)
So, enjoy the tour ^^



Judul buku : Tuhan untuk Jemima
Penulis : Indah Hanaco
Editor : Gita Savitri
Perwajahan sampul : Shutterstock & Mulyono
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Juni 2015
Tebal buku : 305 halaman
ISBN : 978-602-03-1660-4


BLURB

Jemima, gadis gelisah yang merindukan Tuhan, tapi tidak tahu harus mencari ke mana. Diberi kebebasan memilih agama, Jemima malah makin bimbang. Apalagi sederet tragedi sedang mengintai gadis itu dan keluarganya.

Kenneth, pria belia yang sangat tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini, sibuk berjuang untuk kelestarian lingkungan. Saat menyaksikan paus-paus kesayangannya dibantai, dia berkesimpulan tidak memercayai keberadaan Tuhan adalah keputusannya yang paling cerdas.

Kala keduanya bertemu di Selandia Baru, negara cantik berangin dengan berjuta keajaiban, otak dan hati mereka seolah diadu. Di antara keindahan pohon rimu, di antara pertarungan hidup dan mati, serta tamu khusus berwajah cahaya, akankah mereka menemukan hidayah-Nya?

RESENSI

Jemima Damarys syok saat kakak perempuan satu-satunya, Ashlyn Damarys, meninggal karena kecelakaan. Ia merasa berduka dan kehilangan. Hal itu diperparah dengan rasa duka berlebihan kedua orang tuanya. Jemima merasa ditinggalkan sendirian. Seisi rumah memilih menghadapi rasa duka mereka sendiri-sendiri. Jemima menjadi gelisah, ia butuh bersandar, butuh mengadu. Tapi ia belum memilih Tuhan mana yang hendak disembahnya.

Dibesarkan oleh orangtua yang berbeda keyakinan, Jemima dibebaskan untuk memeluk agama sesuai keyakinannya. Namun berbeda dengan Ashlyn yang telah menentukan pilihan, Jemima masih bimbang dan belum kunjung menemukan Tuhannya.

Sementara di belahan bumi lain, Kenneth Nigel Kincaid, seorang aktivis yang ikut dalam aksi penyelamatan paus bersama Sea World Conservacy tak ragu untuk menjadi ateis. Ia merasa Tuhan telah meninggalkan paus-paus tak berdosa itu sendirian hanya untuk dibantai nelayan-nelayan Jepang.

Mereka berdua bertemu di Selandia Baru saat Jemima mengunjungi Nick, bibinya. Jemima yang datang ke Negeri Kiwi tersebut untuk mencari Tuhan menghabiskan beberapa hari bersama Nick, Kenneth dan teman-temannya.
Hingga Jemima mendadak diminta pulang karena ternyata mobil yang dinaiki Ashlyn saat kecelakaan telah disabotase. Ayah Jemima menganggap ada yang mengincar mereka.

Maka dimulailah serentetan teror bagi keluarga Damarys. Ancaman racun, misteri kalung perhiasan Ashlyn, dan usaha penculikan, menghantui keluarga itu. Pembunuh Ashlyn masih menginginkan jatuhnya korban lain.
Siapakah pembunuh Ashlyn? Apa motifnya? Apakah Jemima akhirnya akan menemukan Tuhan? Bagaimana akhir hubungannya dengan Kenneth, cowok bule berambut merah dan bermata hijau yang telah memikat hatinya? Dan apakah Kenneth akan tetap menjadi ateis?

----------------

Tuhan untuk Jemima adalah novel lanjutan dari Cinta Sehangat Pagi. Lanjutan karena kedua novel tersebut mengisahkan tentang kisah cinta para aktivis lingkungan yang bergabung dalam Sea World Conservacy. Jadi jangan kuatir, nggak masalah walau kalian belum baca Cinta Sehangat Pagi, karena kisah dalam Tuhan untuk Jemima ini berdiri sendiri.

Novel ini menjawab pertanyaan besar saya di novel sebelumnya. Jika penulis begitu mengidolakan Paul Watson dan Sea Sepherd-nya, kenapa tokoh yang dimunculkan malah tokoh fiktif Lochart Kincaid dengan Sea Warrior-nya? Sementara setting dan aktivitasnya mirip dengan aktivitas Sea Sepherd.
Ternyata inilah jawabannya. Karena akan ada kisah cinta dari klan Kincaid. Waaah… menarik!

Saya ingat bertahun-tahun lalu selepas kuliah, saya menangis saat membaca majalah National Geographic. Itu edisi yang mengulas suku Inuit ketika melakukan perburuan terhadap narwhal. Saya jatuh cinta sekaligus langsung patah hati. Binatang secantik dan seunik itu ditembaki saat sedang bermigrasi :'(
Maka saya senang karena novel ini menyuarakan aktivitas penyelamatan terhadap paus, hewan yang harus kita jaga populasinya.

Saya sangat menikmati novel ini, 305 halaman rasanya habis dalam sekejap. Ceritanya mengalir dengan lebih luwes dibanding Cinta Sehangat Pagi. Plotnya rapi dan diksinya menusuk ke hati. Balutan misteri dan thriller dalam novel ini tentunya menambah seru jalan cerita.

Sebagai gadis yang baru lulus SMA dan beranjak dewasa, karakter Jemima justru terasa matang. Terasa wise dan santun. Saya suka dialog 'mendalam' antara Jemima dan Kenneth. Senang rasanya melihat muda-mudi sudah berpikiran terbuka dan bijak menyikapi persoalan seperti mereka.

Ada banyak informasi yang kita dapat jika membaca Tuhan untuk Jemima. Tentang perburuan paus, lanskap Selandia Baru, Islam dari segi sains, hingga jenis-jenis racun. Saya jadi penasaran pada riset yang telah dilakukan Indah Hanaco untuk menyajikan ilmu-ilmu baru pada pembaca.

Hanya ada sedikit typo di dalamnya:

* tidak dengar Jemima --> tidak didengar Jemima (hal. 40)
* menyulum --> mengulum (hal. 96)
* tanya dengan suara rendah --> tanyanya dengan suara rendah (hal. 118)
* dilakukanoleh --> dilakukan oleh (hal. 122)
* kegunda-han --> kegundah-an (hal. 129)
* jatuh sakit,atau --> jatuh sakit, atau (hal. 139)
* diemukan --> ditemukan (hal. 170)
* menjaga --> menjadi (hal. 210)
* mudah-mudah --> mudah-mudahan (298)

Well, novel memikat ini akan sangat menyenangkan dibaca karena sajiannya yang komplet. Saya beri 4 bintang untuk Tuhan untuk Jemima.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Ketika hubungan Internasional itu terputus, sebuah pertanyaan seakan mendompak benak Jemima.
Apakah Tuhan juga bisa dicari di Negeri Kiwi itu? (hal. 69)

Manusia biasanya akan terlalu cerewet untuk mengajukan pertanyaan. Mendebat apa yang dirasa tidak cocok dengan pendapat mereka. Tapi Tuhan yang Mahatahu itu tidak pernah bersikap sok tahu. Tuhan selalu menjadi pendengar sempurna saat orang berdoa, kan? Itulah yang hilang dari hidup Jemima. (hal. 83)

"Pendidikan bisa menanti, tapi menyelamatkan lingkungan enggak bisa ditunda." (hal. 110)

"Tapi jika kamu melepaskan sesuatu dengan mudah, itu artinya kamu memang enggak benar-benar menginginkannya. Jadi, enggak perlu merasa aneh atau apalah. Kebahagiaanmu adalah yang paling penting dalam hidup. No sweat. Remember Jemima, your happiness is down the pike. Go get it before you late." (hal. 128-129)

Jemima tidak akan meminta jalan yang mudah karena itu keinginan yang egois. Tidak masalah kalau jalan itu berliku dan menyusahkan sebab dia tahu Tuhan menyukai orang-orang yang tangguh, para penyintas. (hal. 304)

***********

Tertarik ingin membaca Tuhan untuk Jemima? Nah, saya dan Mbak Indah Hanaco punya satu eksemplar novel Tuhan untuk Jemima bagi kalian pengunjung blog ini. Caranya mudah kok:

1. Follow twitter @KendengPanali dan @IndahHanaco. Jangan lupa share giveaway ini via twitter dan mention kami dengan hashtag #GATuhanUntukJemima

2. Jawab pertanyaan berikut:

Seandainya kalian menjadi aktivis lingkungan seperti Kenneth, binatang apa yang ingin kalian selamatkan? Apa alasannya?

Jawab semenarik mungkin di kolom komentar dengan format:

Nama:
Akun twitter:
Jawaban:

3. Boleh banget kalau mau follow blog ini ;)

4. Giveaway berlangsung dari tanggal 30 Juni dan ditutup tanggal 3 Juli 2015 pukul 23.59 dan pemenang akan diumumkan hari berikutnya :)

5. Yang terakhir… good luck!!


Oh iya, kalian bisa mengikuti rangkaian blogtour ini di blog host yang lain:

22 - 25 Juni 2015 >> Ky's Book Journal

26 - 29 Juni 2015 >> Books-Over-ALL

30 Juni - 3 Juli 2015 >> Nurina Mengeja Kata (perhentianmu saat ini ^^)

4 - 7 Juli 2015 >> Delina Books

8 - 11 Juli 2015 >> The Anti-books

Minggu, 19 April 2015

[Resensi Cinta Sehangat Pagi - Aimee Karenina] Ketika Hangatnya Cinta Dihadang Badai Gelap

Judul buku   : Cinta Sehangat Pagi
Penulis         : Aimee Karenina
Editor           : Donna Widjajanto
Desain sampul : Suprianto
Tata letak isi     : Shinzy & Fajarianto
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit     : 2014
Jumlah halaman : 211 halaman
ISBN                  : 978-602-03-0924-8
Available at: bukupedia






BLURB


Mengimamimu adalah mimpi terbesarku.
Bagi Nino, Selma adalah pelabuhan terakhirnya. Dia bahkan bersedia melanggar sumpahnya untuk tidak berpacaran sebelum menikah, ketika bertemu Selma. Sayangnya, walau didesak bagaimanapun, Selma tidak mau buru-buru menikah.


Dia mengajakku menikah sebulan sekali. Aku bahkan sulit percaya kalau dia serius!
Bagi Selma, Nino adalah pria sempurna-blasteran Spanyol, aktivis lingkungan yang cerdas, dan gentleman yang alim. Tapi, yang diinginkan Selma bukanlah pernikahan, melainkan karier yang cemerlang.



AKU BISA MENGORBANKAN SEGALANYA DEMI DIA. AKU TAHU BAGAIMANA CARA MENCINTA.
Saat bermain tarik-ulur dalam hubungan mereka, Nino dan Selma tidak menyadari ada pihak lain yang menyelinap datang dengan obsesi siap menghancurkan tali kasih yang rapuh inu. Akankah Nino dan Selma teguh bersatu, atau malah mengalah pada permainan takdir?



RESENSI

Cinta Sehangat Pagi dibuka dengan acara makan malam antara Selma Zafir dan Nino Fahim Santos. Nino secara to the point mengajak Selma menikah. Selma terperanjat, bukan hanya karena baginya hubungan ini baru berjalan 8 bulan, tapi juga karena ini ajakan menikah yang ke-8 dari Nino! Selma tentu saja ngambek karena baginya Nino tidak romantis, terburu-buru dan sederet alasan lainnya. Selma ingin mengejar karier terlebih dahulu. Dibesarkan dalam keluarga yang membebaskan perempuan mengejar karier setinggi-tingginya, Selma ingin sukses sebagai wanita karier seperti ibu dan tantenya.
Sementara Nino sendiri, yang alim dan berpegang teguh pada agama, merasa pacaran selama 8 bulan sudah sangatlah cukup. Ia sudah menentang prinsipnya sendiri dan mengajak Selma berpacaran dengan segala persyaratan yang aneh. Di saat kegamangan mereka itulah, orang ketiga berdatangan di antara mereka. Ada Titus, yang merupakan teman kerja Dija, adik Selma; Regina, sahabat Nino semasa kuliah; dan Camilla, teman SMP Nino. Salah satu dari mereka telah membuat rencana matang untuk memisahkan Selma dan Nino dan berniat menempuh segala cara untuk mendapatkan sang pujaan hatinya.

Cinta Sehangat Pagi merupakan novel Islami berbalut thriller. Plotnya mengalir dan ketegangannya masuk secara perlahan-lahan. Bertambah dengan porsi yang pas di tiap babnya. Pelaku sengaja disamarkan untuk membuat pembaca menebak-nebak siapa orang ketiga yang sangat mengancam ini.

Nino menjadi tokoh yang memegang peranan nuansa Islami. Nino selain digambarkan sebagai pria blasteran Indonesia-Spanyol yang merupakan aktivis lingkungan dan alim, Nino ini juga hormat sama perempuan dan terutama nggak pernah maksa-maksa Selma untuk menunaikan kewajiban sebagai muslimah. Hayooo susah nggak mencari cowok seperti Nino di dunia nyata? :D
Selma sendiri merupakan perwujudan gadis masa kini; cantik, independen dan mendahulukan karier. Makanya transformasi Selma yang sedikit demi sedikit memenuhi perintah Allah sungguh menarik. Meski Selma ini karakternya kok sedikit mbulet dan ribet. Susah gitu dibujukin nikah. :D

Desain sampul novel ini manis dan hangat banget. Sepasang tangan yang bergandengan itu diblur, mungkin untuk menggambarkan gaya pacaran kedua tokohnya. Tapi menurut saya, fashion yang dipakai tokoh cewek di cover nggak menggambarkan pribadi Selma. Gimana ya, kesannya gadis yang di cover itu lebih sederhana kalau dilihat dari model pakaiannya.

Cinta Sehangat Pagi merupakan novel yang komplit. Roman dengan unsur Islami, thriller, juga isu penyelamatan lingkungan diramu dengan apik. Hanya saja untuk latar rasanya belum masuk ke cerita. Berulang kali saya lupa kalau setting-nya ada di Medan, entah kenapa benak saya malah membayangkan cerita ini terjadi di Jakarta. Lokasi dan kulinernya sedikit kurang tergali dan terdeskripsi.

Tapi nilai plus novel ini adalah:

  1. Isu penyelamatan Paus.
Aimee menyoroti perburuan paus yang terjadi di perairan dunia. Sungguh mengagumkan kalau benar-benar ada orang Indonesia yang menjadi aktivis melawan tradisi perburuan paus di Kepulauan Faroe. Karena sungguh, membunuh paus-paus itu adalah perbuatan keji dan biadab :'(
Makanya saya senaaaang sekali karena penulis mengangkat tema itu.

2.  Yang kedua tentang Pseudocysis.

Pseudocysis atau kehamilan palsu adalah kondisi yang terjadi dimana seorang wanita merasa hamil padahal secara medis tidak hamil sama sekali. Juga tentang penyakit kegilaan yang mungkin saja bisa terjadi pada orang-orang di sekitar kita.
Tambahan pengetahuan buat pembaca, nih :)


TEBAR-TEBAR QUOTE


"Kalau bicara tentang kepuasan, manusia nggak akan pernah puas, Sel! Tiap kali maju satu langkah, tujuan malah bergerak menjauh empat langkah. Begitulah kira-kira. Kita sendiri yang harus tahu, kapan saatnya berhenti." (hal. 5)

"Orang sering menyalahkan cinta atau kecocokan. Pada kenyataannya, manusia memang tidak akan pernah cocok satu sama lain dengan sempurna, kok! Pasti ada saja perbedaan di sana-sini yang harus diatasi. Tapi, dengan cinta semua perbedaan itu mudah dijembatani. Namun, saat cinta sudah hilang, perbedaan kecil pun bisa menjadi perang dahsyat." (hal. 8)

"Kalau tahu punya banyak kekurangan, kenapa tidak berusaha memperbaikinya?" (hal. 25)

"Aku memang bukan cermin perempuan yang taat beragama. Aku masih mengabaikan perintah untuk menutup aurat. Tapi, apakah itu berarti kamu lebih baik dibanding aku? Aku jadi sungguh-sungguh ingin tahu, apakah jika seseorang berhijab lantas boleh seenaknya melontarkan perkataan yang bisa menyakiti hati orang lain? Apakah hijab itu lantas menjadikanmu kebal dari segala dosa?" (hal. 52)

"Apakah aku lantas menjadi perempuan bejat karena tidak menutup aurat?" tanya Selma dengan suara tersendat. "Apakah hanya kalian yang berhak mendapatkan kebaikan dalam hidup ini? Dan untuk orang-orang sepertiku yang belum siap berhijab, hanya keburukan yang pantas kudapatkan? Tidak peduli seberapa kerasnya aku ingin menjadi manusia yang baik?" (hal. 60)

Untuk setiap sesuatu yang diambil, harus ada pula sejumlah imbalan. Cukup adil, kan? (hal. 88)

Cinta pada dasarnya adalah soal perasaan terdalam yang hanya dimiliki untuk seseorang yang istimewa. Hubungan seperti itu sama sekali tidak melibatkan kemewahan dan materi. Tidak ada tempat untuk hal-hal seperti itu dalam cinta sejati. (hal. 125)


Saya beri 3 bintang untuk Cinta Sehangat Pagi.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon