Senin, 05 Maret 2018

[Blogtour: Review + Giveaway] Your Lies - Rara Rachel

Judul: Your Lies
Penulis: Rara Rachel
Penyunting: Avifah Vé
Penyelaras Akhir: RA-in
Tata Sampul: Amalina Asrari
Penerbit: Diva Press
Tahun terbit: Maret 2018
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 978-602-391-517-0



BLURB

Rangga Gemilang. Nama tersebut selalu menjadi prioritasku saat chatting, salah satu orang yang paling berharga dalam hidupku, yang menjadi partnerku dalam hampir segala hal. Ringga dan otaknya tak pernah berhenti membuatku takjub. Aku tak yakin kalau ada sesuatu tentangku yang tidak Ringga tahu. Dia orang yang detail dan cermat, jadinya wajar kalau membaca gerakanku semudah membaca alur cerita Sir Arthur Conan Doyle, penulis favoritnya.
Sampai di kemudian hari, satu kebohongan besar yang aku lakukan membuat Ringga menutup pintu maaf dan aku terpaksa memutuskan untuk meninggalkan Ringga beserta segala kenangan manis di antara kami sampai waktu yang sangat lama...


RESENSI

Berapa banyak persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang bisa bertahan selamanya? Apakah debaran-debaran yang kita rasakan terhadapnya adalah cinta atau hanya rasa nyaman karena kita telah sangat terbiasa dengannya? Jika seandainya kemudian kita membuat kesalahan yang baginya tak termaafkan, akankah dia sanggup menyingkirkan kita dari hidupnya?

Your Lies merupakan novel remaja muda karya Rara Rachel yang awalnya berasal dari wattpad. Dari segi premis mungkin bisa dibilang kisah ini sangat klise, dan sangat mudah ditebak. Namun dari segi alur, konstruksi cerita, dan beberapa dialog, novel ini terasa memuaskan. Puncak konfliknya mengena banget dan sampai bikin saya mewek. Serius. Yaaaa, walau saya terhitung memang gampang mewek saat baca novel, tapi saya selalu memberi nilai plus pada novel-novel yang bisa membangkitkan emosi saya, termasuk novel Your Lies ini.

Pada awalnya saya lumayan terganggu dengan gaya narasi Your Lies yang lebih mirip seperti curhatan diary. Cara perkenalan tokoh dan penggambaran situasinya seolah-olah sedang membaca status, notes atau chat seorang teman. Penggunaan sudut pandang orang pertama yang serba tahu semakin memperkuat kesan itu. Namun karena jalan ceritanya yang runtut dan padat, semakin ke belakang saya mulai bisa menerima dengan ikhlas. Apalagi ketika mendekati konflik yang sangat menguras emosi itu. Huhuuu~~

Setting novel ini berada di Jakarta, Bandung, dan kemudian Düsseldorf dan Köln. Memang novel ini tak begitu detail dalam penggambaran setting, tapi suasananya yang diungkapkan secara ringkas cukup membuat perbedaan antara satu tempat kejadian dengan tempat kejadian lainnya. Walau saya berharap penulis untuk ke depannya bisa lebih berani dalam hal riset dan menambahkan detail-detail untuk mempercantik ceritanya. Misalnya saja ketika Bu Sri sakit dan Ringga harus menjelaskan kondisi Bu Sri yang gawat kepada Atha. Tentunya akan lebih menarik jika penjelasan itu disampaikan secara mendetail, sedangkan pada novel ini hanya diungkapkan melalui kalimat: Ringga menceritakan detail masalah penyakit ibunya. Aku menyimak dengan serius, pantas saja Ringga sangat khawatir sampai menangis tadi malam. "Gitu, Tha," tutup Ringga. (hlm. 148).
Hal ini membuat seolah ada jurang yang memisahkan antara tokoh "aku" dan pembaca, karena ada yang diketahui si tokoh utama tapi tak bisa dipahami oleh pembaca.

Namun naik turunnya persahabatan Ringga dan Atha saaaangat menarik untuk diikuti. Bagaimana cheesy dan sweetnya interaksi mereka, bagaimana kode yang dilemparkan Ringga yang bisa bikin baper, banter yang mereka lakukan, juga pasang surutnya hubungan mereka.
Karakter dalam novel ini juga begitu hidup. Ringga begitu mengagungkan kejujuran, dia benci kebohongan dan paling benci dibohongi. Beberapa kali dia menegaskan pada Atha agar jangan bohong kepadanya. Sikap cuek dan masa bodohnya kontras dengan sikap penuh perhatiannya terhadap Atha, tapi kalau sudah marah.... bye aja, mendingan kabur saya mah kalau disembur murka begitu. 😭😭😭
Atha di sisi lain juga cukup unik, jago masak tapi juga jago main PES. Idaman banget kan tuh. Atha juga bijaksana dan sangat setia. Kebohongan terbesarnya terhadap Ringga pun sebenarnya tak ingin dia lakukan. Ah memang bagian ini yang bikin saya termehek-mehek.

Overall, saya cukup menyukai novel ini. Enak untuk dibaca karena ringan tapi juga bikin baper. Bagi kalian yang suka kisah sahabat jadi ehem ehem, kalian boleh banget baca novel ini 😉


********GIVEAWAY TIME********



Nah... siapa yang sudah kangen ikutan kuis di blog ini???
:)))))))
Huhuuu... setelah menyepi sebentar, sekarang Nurina Mengeja Kata kembali buat membagi satu eksemplar novel Your Lies karya Rara Rachel ini.

Syaratnya gampang seperti biasanya kok:

1. Peserta berdomisili atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow twitter @divapress01 @DIVA_fiction dan @KendengPanali atau like fanpage Penerbit DIVA Press di facebook.

3. Jangan lupa share info blogtour ini dengan hashtag #YourLiesGA dan mention ketiga akun di atas.

4. Follow blog ini bisa via GFC atau email (opsional, hanya kalau kalian merasa blog ini berguna bagi kalian saja).

4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar di bawah dengan format:
Nama | akun twitter | alamat email

Kebohongan terbesar apa yang pernah kalian lakukan/ucapkan kepada sahabat kalian?

5. Giveaway akan berlangsung selama 7 hari dan berakhir pada tanggal 11 Maret 2018 pukul 23.55 WIB.

6. Jika ada pertanyaan jangan sungkan untuk colek saya di twitter. Yang terakhir, good luck 😉

********UPDATE********

Akhirnya genap sepekan sudah giveaway di blog ini berlangsung. Terima kasih kepada para peserta yang telah ikut meramaikan giveaway di lapak ini dan dengan suka rela menuliskan "dosa" yang pernah diperbuat kepada sahabat.
Kebohongan yang tentunya diucapkan bukan dengan niat jahat untuk menyakiti sahabat tapi justru demi sang sahabat dan keutuhan persahabatan. Sama seperti kebohongan yang dibuat Atha kepada Rangga. White Lie. Walau kebohongan tetaplah kebohongan.

Kini tiba saatnya saya umumkan pemenang yang berhasil mendapatkan satu eksemplar novel Your Lies pekan ini, dan dia adalah:

Intan Ayu
@intanayues

Selamat kepada pemenang, saya tunggu konfirmasi data nama dan alamat kamu via DM atau email nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2 x 24 jam. Jika konfirmasi tidak dilakukan dalam jangka waktu yang ditentukan, maka akan dipilih pemenang lainnya.

Bagi unyureaders yang belum beruntung, jangan sedih karena masih ada kesempatan mendapatkan novel ini di bloghost selanjutnya. Atau nantikan keseruan lain di blog ini. Terima kasih :)

Senin, 19 Februari 2018

[Resensi: The Maddening Lord Montwood - Vivienne Lorret] Jatuhnya Sang Bujangan Perayu Terakhir

Judul buku: The Maddening Lord Montwood
Penulis: Vivienne Lorret
Alih bahasa: Katherin Handayani S
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Oktober 2017
Tebal buku: 372 halaman
ISBN: 978-602-04-4722-3



BLURB

Para bujangan perayu wanita dari Fallow Hall bertaruh tidak akan pernah menyerah pada cinta, namun akankah si perayu terakhir menemukan pasangannya?

Frances Thorne bisa mengatasi persoalan apa saja, kecuali kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, dan ayahnya yang dipenjara dalam satu hari. Maka, ketika ada tawaran bantuan jatuh ke pangkuannya, dia sangat bersyukur, sekalipun itu terlihat terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Hal terakhir yang dibutuhkannya adalah Lord Lucan Montwood, yang menawan, menyebalkan sekaligus menjengkelkan, menghalangi jalannya.

Akhir dari taruhan sudah dekat, dan Lucan Montwood bisa mengecap aroma kemenangan, asalkan dia bisa menjauhi wanita yang mampu melihat menembus penampilan luarnya. Namun, ketika mengetahui bahwa Frances dalam kesulitan, Lucan tidak dapat menyangkal bahwa dirinya rela melakukan apa saja demi membantu. Meyakinkan wanita itu untuk memercayainya adalah bagian yang sulit, menolaknya hampir mustahil, tapi jatuh cinta padanya? Mungkin itu terlalu sederhana.


RESENSI

Sejak kemunculan Lucan Montwood yang misterius, kelam, tapi memesona di The Devilish Mr. Danvers, saya sudah dibuat penasaran akan seperti apa perjalanan cinta pria satu ini. Atau lebih tepatnya, akan seperti apa ia melawan takdirnya untuk jatuh cinta. Karena berdasarkan kisah-kisah sebelumnya dalam serial The Rakes of Fallow Hall, Lucanlah yang telah menanamkan ide pertaruhan sebesar sepuluh ribu pound bagi yang mampu membujang hingga akhir tahun. Lucan telah mencium bau kemenangan setelah Everhart dan Danvers menikah. Tinggal sisa enam bulan lagi, tentunya itu waktu yang terlalu singkat untuk membuatnya jatuh cinta dan menikah, bukan? Atau... ia salah?

The Maddening Lord Montwood dibuka dengan latar tahun 1822 pada musim dingin di St. James. Ini adalah saat dimana Lucan sekali lagi harus mendapati kelicinan dan kelicikan ayahnya, yang menyebabkan sang Marquess lolos dari tiang gantungan dan malah menimpakan kesalahan pada Thorne, salah satu pekerjanya. Lucan harus mencari cara untuk membebaskan Thorne. Inilah asal mula Lucan memiliki utang besar dan kelak mendorongnya untuk bertaruh dengan teman-temannya.
Kurang lebih dua setengah tahun kemudian, Lucan harus menghadapi kemarahan Frances Thorne. Karena kehidupan Thorne tak juga membaik, dan Frances harus jungkir balik untuk menghidupi dirinya dan ayahnya. Tentu saja, hal termudah adalah mencari kambing hitam dan ia menyalahkan Lucan.
Frances menjadi tokoh yang kadang mengagumkan dan kadang menjengkelkan. Mengagumkan saat melihat kegigihannya mempertahankan hidup dan menghadapi ayahnya yang mulai kacau. Menjengkelkan saat ia hanya melihat hal-hal yang ada di permukaan. Sebagai seseorang yang hidup di jalanan dan mengajar seni membela diri tentunya ia harus waspada pada kebaikan terselubung, tapi Frances tetap keras kepala dan mendewakan pria yang berkali-kali menyebut dirinya murah hati.

Konflik dalam novel ini tak terlalu menegangkan. Mungkin karena sang penjahat telah diketahui sejak awal, sehingga pembaca hanya dibuat menebak-nebak apa motifnya. Mengikuti perjalanan naik-turunnya hubungan Lucan dan Frances juga ternyata tak semenarik novel pendahulunya. Sebagai bujangan yang menolak menikah ternyata Lucan mudah untuk menerima takdir cintanya dan sama sekali tak menyangkal.
Hubungan persahabatan dalam novel ini masih sangat hangat. Hal inilah yang membuat saya jatuh cinta pada serial ini. Persahabatan ketiga malaikat terbuang begitu akrab dan terasa kuat chemistry-nya. Saya menyukai dialog yang saling mereka lemparkan juga gestur mereka terhadap satu sama lain. Calliope dan Hedley juga begitu cair dalam lingkaran kecil persahabatan itu. Saya suka mendapati bahwa Hedley dan Lucan masih punya hubungan 'istimewa' seperti yang mereka tunjukkan di novel sebelumnya.

Secara keseluruhan The Maddening Lord Montwood cukup memuaskan. Melalui Lucan Montwood saya memahami bahwa kadang kita tak bisa mengambil kesimpulan terhadap seseorang hanya karena tampak luarnya saja, dan bahwa segala yang tampak begitu baik belum tentu benar-benar baik. Dan pada akhirnya yang membuat saya jatuh cinta tetaplah covernya yang memikat dan benar-benar merepresentasikan cerita di dalamnya. Setiap melihat sampulnya, saya membayangkan ketika Frances berjalan membawa lilin di lorong galeri rumah Whitelock sambil berharap suara Lucan muncul dari bayang-bayang kegelapan. Perfect!

Rabu, 14 Februari 2018

[Resensi: The Harlot Countess - Joanna Shupe] Pembalasan Dendam Sang Countess

Judul buku: Masa Lalu Sang Countess
Judul asli: The Harlot Countess
Penulis: Joanna Shupe
Alih bahasa: Nin Bakdisoemanto
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Juni 2016
Tebal buku: 426 halaman
ISBN: 978-602-02-8753-9



BLURB

Maggie, Lady Hawkins, memiliki debut yang lebih suka dilupakannya—bersama pernikahan pertamanya. Kini, kartunis politik itu adalah seorang wanita baru. Seorang wanita yang benar-benar modern. Sedemikian modern sampai-sampai khalayak ramai memercayai bahwa dia adalah seorang laki-laki...

FAKTA: Menggambar menggunakan nama samaran laki-laki, Maggie dikenal sebagai Lemarc. Objek favoritnya: Simon Barrett, Earl of Winchester. Pria itu adalah bintang yang baru naik pamor di Parlemen—dan mantan orang yang dipercaya dan dicintai Maggie, tapi memercayai rumor yang sampai detik ini masih menyakitkan bagi Maggie.

FIKSI: Maggie adalah Perempuan Jalang Setengah Irlandia yang merayu suami sahabatnya pada malam pernikahan mereka. Wanita ini harus ditakuti dan dibenci karena dia akan mengangkat roknya kepada lelaki mana pun.

Masih hancur oleh pengkhianatan Simon, Maggie tidak berniat membiarkan seluruh ton menghancurkan dirinya. Malah, kartun Lemarc telah membuat Simon menjadi bahan tertawaan ... tapi sekarang sepertinya Maggie mungkin telah salah mengenai apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, dan bahwa Simon diam-diam merindukan dirinya sejak ... lama sekali. Mungkinkah pada akhirnya hati lebih kuat daripada pena dan pedang?


RESENSI

Disakiti oleh seseorang yang pernah kita cintai, tentunya sungguh menyesakkan. Membuat hati dipenuhi oleh amarah dan dendam. Maggie mengubah rasa dendam itu menjadi sesuatu yang produktif, yang bisa membuatnya puas: membuat karikatur tentang Simon Barret, Earl of Winchester. Karikatur Winejester yang mengolok-olok Simon, dan menjadi perbincangan panas di kalangan atas. Tak ada yang akan mencurigai Maggie karena ia menggunakan nama samaran laki-laki, Lemarc.

Novel ini dibuka dengan adegan pertemuan kembali antara Simon dan Maggie setelah perpisahan mereka yang menyakitkan sepuluh tahun lalu. Pertemuan yang menunjukkan kepada pembaca bahwa ternyata mereka masih punya perasaan mendamba terhadap satu sama lain. Dari sisi Maggie, sebenarnya jelas, bagaimanapun ia tetap melukis Simon walau dalam bentuk olok-olok. Hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya ia tak bisa melepas ingatan akan Simon.
Sebenarnya, premis cinta lama bersemi kembali dan dendam asmara selalu menarik minat baca saya, terutama jika berbau-bau skandal. Ini sebabnya saya langsung bersemangat untuk menuntaskan novel ini begitu membuka halaman pertamanya.

The Harlot Countess pada awalnya bersetting di London pada tahun 1819. Isu politik yang diangkat dalam novel ini adalah tentang hak wanita korban perkosaan. Simon sendiri merupakan bagian dari Parlemen yang cukup disegani, tentu saja kedudukan ini diperoleh secara turun temurun dalam sejarah keluarganya. Ia meneruskan jejak para pendahulunya untuk menjadi bagian dari Parlemen, walau tetap saja, ia telah bekerja keras membangun sekutu untuk membuatnya disegani. Hingga muncullah karikatur Winejester yang menjadi olok-olok bagi sosok Simon. Meskipun justru kartun itu malah semakin meningkatkan pamornya.

Simon sendiri di depan dan di belakang Maggie sungguh sangat bertolak belakang. Mungkin memang benar, jika pria sudah cemburu buta, ia akan bersikap sangat tolol. Banget. Sepanjang kisah ini, saya cukup jengkel dengan asumsi-asumsi dan penghakiman yang dibuat oleh Simon terhadap Maggie. Sungguh, dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk tetap diam menerima tuduhan itu dan menghitung kapan waktu terbaik menjatuhkan bom untuk menyadarkan si dungu Simon.

Maggie menjadi representasi kaum wanita di era tersebut yang masih kesulitan untuk melawan kaum pria. Meskipun sama-sama berstatus bangsawan, nyatanya toh khalayak tetap mempercayai para pria. Seandainya ada perempuan yang muncul dari kegelapan dengan pakaian terkoyak, wanitalah yang disalahkan. Wanitalah yang dianggap penggoda dan pelacur. Sungguh saya mengagumi kekuatan diri Maggie untuk tetap berdiri tegak saat tudingan-tudingan diarahkan padanya, saat kalangan atas mengucilkannya, saat lelaki yang ia percaya akan membelanya ternyata ikut berpaling. Maggie mampu menghadapi segala sakit hati itu selama sepuluh tahun dan produktif. Sungguh saya jatuh cinta pada ketabahan dan kekuatannya.
Walau mungkin agak disayangkan, setelah ia menjanda dan bertemu kembali dengan Simon, ia dengan mudahnya takluk kembali pada pesona Simon. Beberapa wanita mungkin akan menganggap Simon tak layak mendapatkan maaf, dan betapa murahannya Maggie karena mudah melompat ke ranjang Simon. Well, saya sendiri sebenarnya maklum. Hahaha... sebagai seorang janda yang pernikahannya kering akan cinta, dan betapa ia masih mencintai Simon, saya maafkan kalau seandainya Maggie memang jadi bitchy saat bersama Simon.
Lagi pula, dari sudut pandang Simon, saya sudah menangkap penderitaannya. Simon masih terlihat tergila-gila dan posesif hingga rasanya menyakitkan terhadap Maggie.

Saya sangat menikmati membaca novel ini, narasi, deskripsi, dialog dan chemistry-nya pas banget. Konfliknya juga cukup seru dan menegangkan. Adegan ranjangnya bertebaran dengan penerjemahan yang cukup bagus. Sepertinya saya bakal memasukkan nama Joanna Shupe sebagai penulis historical romance yang layak dibaca.

Minggu, 11 Februari 2018

[Resensi] Pelisaurus dan Cerita-Cerita Lainnya - Gunawan Tri Atmodjo | Pelisaurus Sebuah Prasasti Cinta yang Tragis

Judul buku: Pelisaurus dan Cerita-Cerita Lainnya
Penulis: Gunawan Tri Atmodjo
Editor: Edi AH Iyubenu
Tata sampul: sukutangan
Tata isi: Ika Setiyani
Penerbit: Basabasi
Tahun terbit: September 2017
Tebal buku: 200 halaman
ISBN: 978-602-6651-32-7



BLURB

Pada suatu hari, semua durjana asmara menyingkir dari muka bumi dan aku jatuh cinta lagi kepada seorang editor buku primbon. 
(Iwan Punung, editor buku sastra di Jakarta) 

Sebagian besar rahasia lelaki tertinggal di kamar mandi. 
(Sri Suwartini, Menteri Kebatinan Perempuan) 

Manusia itu seperti ritsleting, terbuka dan tertutupberulang-ulang, memasukkan dan mengeluarkan cinta berkali-kali, tetapi seperti yang disembunyikan di balik ritsleting, pada akhirnya ia akan sendiri. 
(M. Yayan Kristanto, anak Pak Warso, CEO Imajiner PT YKK)

RESENSI

Apa yang terlintas di benak kalian saat membaca atau mendengar pelisaurus?
Kalau saya, sebagai orang jawa tentu paham betul bahwa peli adalah kosakata bahasa jawa yang merujuk pada alat kelamin pria. Memang sudah bukan masanya lagi bagi saya untuk merona atau terkikik-kikik bila mendengar kata ini, malahan saya sudah lancar menggunakan kata ini jika sudah berkumpul dengan ibu-ibu yang sama edannya dengan saya, atau fasih mengucapkannya di depan suami. Namun ternyata, menandaskan buku Pelisaurus ini sampai habis membuat saya tersipu-sipu dan ngakak nggak ketulungan.

Buku Pelisaurus merupakan kumpulan cerita (kumcer) yang berinti pada selangkangan dan dunia perlocoan. Jadi sebaiknya memang tinggalkan dulu rasa jengah dan curiga kalian di depan pintu sebelum memulai membaca kumcer ini.

Sejak membaca buku kumcer Tuhan Tidak Makan Ikan, saya sudah jatuh hati pada gaya tulisan nylenehnya Gunawan Tri Armodjo. Namun kali ini dalam Pelisaurus, cerpen-cerpennya terasa lebih seperti parodi kehidupan dunia bawah perut.

Ada 22 cerpen dalam buku ini dan dengan judul yang membacanya saja sudah bikin nyengir, apalagi membaca nama tokoh ceritanya, saya masih suka ngakak sendiri kalau ingat.
Dalam beberapa cerita, Gunawan Tri Atmodjo terlihat sangat rapi membangun alur dan tempo cerita. Tengok saja dalam kisah Siti Semak-Semak. Selain menyelipkan plesetan semacam: buku berjudul Terbacok Petuah Bijak karya Pipiet Surup, televisi merek Segawontron, dan juga pedangdut bernama Via Kallen, yang membacanya saja bikin saya mesam-mesem antara geli dan jengkel, cerpen ini membuat saya penasaran akan hubungan arwah Siti Semak-Semak dan si tokoh utama. Begitu ajaibnya sosok Siti Semak-Semak ini dan betapa misteriusnya cara wanita ini meninggal membuat saya terhanyut dan menjadikan Siti Semak-Semak sebagai salah satu cerpen favorit saya.

Cerpen Pelisaurus sendiri saya rasa lumayan absurd. Ini adalah kisah seorang laki-laki beristri yang terkenang mantan gara-gara sang mantan muncul di televisi. Ia teringat kisah percintaan mereka semasa kuliah, dan bagaimana ia membuat gambar pelisaurus di tembok kamar mandi tempat ia biasa ngeloco sambil membayangkan sang kekasih. Namun sayangnya pelisaurus itulah yang mebuat kisah asmaranya berakhir tragis. Tragis dengan absurd. :|
Satu cerpen yang paling saya suka adalah Poni Kirik. Cerpen ini membuat saya penasaran sekaligus geli, takut, takjub dan jengkel. Ini adalah kisah seorang pemuda yang menemukan potret lawas yang di dalamnya terdapat tiga orang berfoto dengan gaya rambut aneh yang dinamai poni kirik. Sedemikian anehnya potongan rambut itu, sehingga membuat si pemuda penasaran dan melacak jejak poni kirik. Namun usahanya nihil, tanpa hasil. Gaya rambut itu seolah tak pernah tercatat dalam sejarah. Hingga akhirnya poni kirik membawa tragedi tepat di depan matanya. Ini cerpen yang paling bikin saya ingin berkata kasar sekaligus mengagumi alur ceritanya dalam waktu bersamaan.

Bagi saya cerpen-cerpen dalam Pelisaurus begitu santai dan enak buat ngakak-ngakak. Cerita-ceritanya menghibur dan anehnya terasa beragam walau mengusung tema yang sama. Dan tentu saja, yang paling sering bikin saya pengen ngakak njungkel adalah nama-nama tokohnya. It's hilarious.



Senin, 01 Januari 2018

[Blogtour] The Heartbroken Heartbreaker - Sam Madison

Judul buku: The Heartbroken Heartbreaker
Penulis: Sam Madison
Penerjemah: Brigida Ruri
Penyunting: Titis Wardhana
Penyelaras aksara: Arumdyah Tyasayu
Desain kover: Marla Putri
Layout kover: @ryanologi
Penerbit: Haru Media
Tahun terbit: November 2017
Tebal buku: 424 halaman
ISBN: 978-602-6383-31-0


BLURB

"Kenapa kau bersama Seth Everett?" tanya Cedric. "Kau tahu cowok macam apa dia."
"Oh, jangan khawatir." Aku menghardik mantan pacarku itu. "Kau sudah membantunya menghancurkan hatiku lebih dulu."

Kemarin malam, Seth tiba-tiba menawarkan bantuan kepada Kyla untuk membalas dendam kepada Cedric. Cedric memang tidak menyukai Seth. Mungkin itu ada hubungannya dengan reputasi Seth yang suka gonta-ganti pacar.

Kyla juga tidak menyukai Seth. Namun tawaran itu terus-menerus ada di kepala Kyla. Jika ia bisa membalas Cedric yang memutuskannya demi sahabatnya… mungkin rasa sesak di dadanya bisa berkurang.


RESENSI

"Melanjutkan hidup bukan berarti melupakan, Ky. Melanjutkan hidup adalah mampu mengingat tanpa merasa terluka." (hlm. 111)

The Heartbroken Heartbreaker merupakan pengalaman membaca Phil-Fict saya yang pertama. Novel yang diangkat dari wattpad ini merupakan kisah yang cukup rumit yang mengaduk-aduk perasaan saya. Sebagai penikmat novel yang menyukai narasi yang runtut dan rapi, anehnya saya cukup menyukai novel yang sebagian besar diceritakan dalam bentuk dialog antar tokohnya ini. Meskipun tetap saja ada lubang yang banyak terasa dalam plotnya karena minimnya narasi dan deskripsi.
Untuk settingnya sendiri saya berasumsi terjadi di sebuah tempat di Filipina, walau entah di kota atau desa apa. Beberapa tempat hanya disebutkan namanya dengan deskripsi ringan yang nggak mendetail.

Untungnya Sam Madison adalah penulis yang punya banyak stok adegan unyu. Adegan komedi romantis ala-ala dorama atau drakor yang bagi saya memang memikat. Beberapa kali Sam membuat kalimat yang cerdas, mengena dan memberikan efek yang tak terlupakan. Misalkan saja "kaki-berdarah-seperti-menstruasi" yang kemudian menjadi bahan olok-olok di antara Seth dan Kyla. Beberapa adegan antara Kyla-Seth dan Kyla-Cedric memang rawan baper-able.
Premis yang diangkat dalam novel The Heartbroken Heartbreaker ini sebenarnya klise. Seorang playboy yang hadir membantu seorang cewek yang sedang patah hati. Kemungkinannya cuma ada dua, si mantan kekasih akhirnya cemburu dan ngajak balikan atau si cewek malah jatuh cinta kepada si playboy. Apalagi bila kedua tokoh cowoknya sama-sama adorable, kerancuan lead male dan second lead male ini yang kadang membuat novel semacam ini gampang disukai.

Selain hubungan kisah cinta segitiga antara Cedric-Kyla-Seth, ada juga hubungan tak harmonis antara mereka dengan orang tua masing-masing. Kyla yang telah-dan-masih merasa kehilangan ayahnya, mengalami hubungan yang sulit dengan ibunya. Kematian sang ayah karena penyakit yang dideritanya, membuat Kyla dibayangi kesedihan yang berat, ia menyimpan kenangan tentang ayahnya baik-baik dan terluka saat melihat ibunya kembali berkencan. Apalagi saat tengah bersama Seth, ia melihat ibunya berkencan dengan seorang pria di restoran Adelina, restoran yang menjadi favorit ayahnya.
Hubungan Seth dengan ibunya sendiri juga sangat dingin dan kaku, karena Seth mengetahui rahasia besar ibunya. Diam-diam Seth menyimpan rasa bersalah yang besar terhadap ayahnya yang terpaksa hidup berjauhan karena tuntutan pekerjaan. Rahasia itu, bukan hanya membuatnya merasa bersalah, tapi juga membuatnya membenci Cedric.
Yang menarik adalah kultur remaja yang sedikit berbeda dengan kultur di Indonesia walaupun Filipina dan Indonesia masih dalam satu kawasan jika dilihat dari sisi geografis. Dalam novel ini para remaja bebas untuk nggak pulang ke rumah, menginap di rumah pacar, pesta sampai pagi, minum minuman beralkohol sampai mabuk, mengendarai mobil ke sekolah (baiklah, beberapa remaja kota besar di Indonesia juga melakukannya), bahkan juga keluar bersama pacar di tengah malam buta. Walau orang tua pada akhirnya bertanya, tapi nggak ada tekanan moral yang besar yang diberikan kepada para remaja ini. Bisa dibilang kultur dalam novel ini lebih mirip dengan kultur remaja di negara-negara barat.

Bisa dikatakan novel ini memang mengusung kisah remaja yang complicated. Ada hubungan percintaan, ada masalah persahabatan dan ada konflik dengan orang tua. Sam Madison meracik konflik-konflik itu menjadi kisah yang manis dan menyentuh. Beberapa orang sulit menghadapi rasa kehilangan, ada yang seolah baik-baik saja, tapi jauh di dalam hatinya merasakan kehampaan. Ada yang seolah melupakan padahal dalam benaknya menggenggam erat setiap keping kenangan. Berusaha maju terus untuk melangkah butuh keberanian, dan sebelum itu mereka harus benar-benar mengikhlaskan. Terlepas dari endingnya yang bikin nyesek, dan minimnya narasi, novel ini benar-benar memotret dan menyampaikan kehilangan dan penerimaan dengan baik.

*******GIVEAWAY*******

Nah di awal tahun 2018 ini, selain berbagi review novel The Heartbroken Heartbreaker, saya juga bakal ngasih sebuah pertanyaan yang bisa teman-teman unyureaders gunakan nanti untuk dijawab di fanpage Penerbit Haru. Caranya mudah:

1. Berdomisili atau punya alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow twitter/instagram @KendengPanali dan @PenerbitHaru

3. Like fanpage Penerbit Haru di facebook

4. Follow blog ini, bisa melalui GFC, G+ atau email (nggak wajib kok, cuma kalau kalian merasa blog ini berguna saja).

5. Simak pertanyaan berikut:

Apa nama restoran tempat Kyla memergoki ibunya sedang berkencan dengan pria lain, yang juga merupakan restoran favorit mendiang ayah Kyla?

Catatan: jawaban bisa ditemukan di dalam review saya. Simpan baik-baik jawaban kalian, karena pada akhir rangkaian blogtour ini, semua jawaban harus dikumpulkan dan dijawab di fanpage Penerbit Haru.

7. Simak terus rangkaian blogtour di blog-blog berikut, jangan sampai ada pertanyaan dan review yang terlewat dari bloger-bloger lainnya ya 😉



8. Bila masih ada pertanyaan, jangan ragu untuk bertanya atau mention saya di twitter 😉😉

Minggu, 31 Desember 2017

[Sudut Unyu] Kaleidoskop 2017 dan Resolusi Baca 2018

Nggak terasa ternyata tahun 2017 hampir berakhir, bahkan hanya bersisa hitungan jam. Sedih akutu~~
Jika dibanding tahun lalu, tahun 2017 ini ampun dah, mood baca novel romance ilang, mood ngeblog terbang entah ke mana, dan sekali baca buku susah move on-nya wkwkwk~
Saya menutup tahun 2017 dengan 77 buku saja. Pencapaian baca saya bisa dilihat di goodreads challenge berikut ini:



Dari 77 buku tersebut hanya 22 buku saja yang saya tulis reviewnya. Memang sejak awal tahun saya telah memutuskan untuk berhenti dulu menerima tawaran blogtour ataupun mereview buku, karena saya sempat merasa kewalahan. Membaca dan mereview jadi seperti sebuah tanggung jawab yang harus dituntaskan. Saya ingin membaca dan menulis sesuai ritme saya, tanpa dibatasi deadline. Namun memang akibatnya seolah saya jadi nggak produktif dalam membaca dan mereview. Padahal, buku-buku yang saya baca tahun ini lebih mengena dan lebih saya sukai dibanding tahun lalu.

Tengok saja buku Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom yang edan banget bikin saya susah move on. Juga buku Dusta-Dusta Kecil alias Big Little Lies milik Lianne Moriarty yang membuat saya heboh ngepromosiin buku ini ke teman-teman saya. Atau bagaimana saya takjub pada Para Bajingan yang Menyenangkan karya Puthut EA yang koplak banget.
Saya juga menemukan penulis-penulis yang bikin saya jatuh cinta berat pada karyanya seperti Gunawan Tri Atmodjo, Dea Anugrah dan Kedung Darma Romansha. Saya tenggelam dalam puisi-puisi memikat milik Jokpin, F Aziz Manna, Hasan Aspahani dan Triyanto Triwikromo.

Pengalaman paling seru adalah saya berhasil menyusuri kisah Hoegeng, melalui beberapa biografinya. Ya, saya mirip orang yang kehausan saat memburu buku-buku yang mengangkat kisah beliau. Bahkan saya sampai meminjam novel Halaman Terakhir jauh-jauh dari Mbak Desty di Palopo. Wkwkk~ Bacaan yang akhirnya membuat saya tertarik untuk menelusuri kisah-kisah para tokoh yang menandatangani Petisi 50. Sayangnya saya gagal saat hendak menulis reviewnya. Hhh~

Intinya walau tahun ini bacaan dan review saya merosot jauh dari tahun lalu, tapi tahun ini banyaaaak buku bagus yang berhasil saya baca. Pada bulan-bulan akhir saya juga bisa kembali menikmati membaca novel romance dan menemukan buku yang bikin saya nangis nggak berenti-berenti kayak lagi nonton film India Kabhi Kushi Kabhi Gam... hahaha~
The Devilish Mr. Danvers karya Vivienne Lorret adalah salah satunya.

Hmm... untuk tahun 2018 saya nggak akan muluk-muluk lagi deh. Harapan saya adalah bisa membaca sesuai pilihan saya, dan mungkin lebih rajin bikin review. Sejak akhir tahun 2017 saya juga mulai menerima tawaran review dan blogtour lagi walau masih dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan. Semoga tahun depan saya bisa bekerja sama dengan baik dengan pihak-pihak yang mempercayai saya.
Yaah... sampai jumpa di tahun 2018 dengan bacaan-bacaan yang semoga semakin keren-keren. Salam literasi :)

Jumat, 22 Desember 2017

[Review] Grand Story Magazine: Liberating Literacy | Semangat Berbagi dalam Literasi

Nama Majalah: Grand Story Magazine
Project Director: Rudy Harsono
Editor in Chief: Fiqih A. Dennoto
Media Reporter: Yoshica Putri & Dedy Tri Sulistyadi
Copywriter: Sekar Wulandari Yogaster
Photographer: M. Edo Barrudy & Aryanda Nugraha
Cover: Betrayer Family
Cover Writer: Kurniawan Gunadi
Illustrator: Ifada Nisa
Writer: Shevani Thalia, Marina Sybille, & Hestia Istiviani



Sebagai individu yang tumbuh besar bersama majalah, hal yang masih jadi kebiasaan saya adalah: membuka halaman majalah dari belakang, alias dari halaman terakhir ke muka. Ini kesenangan utama saya dari membaca majalah ataupun tabloid, karena tentu saja saya nggak bisa melakukannya terhadap buku, novel dan komik, kan?
Bahkan hingga sekarang saat majalah yang saya konsumsi hanyalah majalah bobo dan mombi yang saya baca bersama anak-anak saya, anak-anak yang awalnya heran pun sekarang terbiasa dengan habit saya ini.

Ketika sebuah email datang dari Sekar Wulandari di bulan Agustus lalu (huhuu, maafkan jika review saya berselang cukup lama), untuk menawari saya mereview sebuah majalah tematik, tentunya ini menarik minat saya dan saya menyetujuinya. Majalah ini tiba di bulan September dan benar-benar membuat saya penasaran karena Grand Story Magazine yang dikirimkan kepada saya kebetulan bertema Liberating Literacy.
Desain covernya cakep banget. Sebuah gambaran tentang manusia saat menerima dan mengolah arus informasi, diilustrasikan dengan sangat apik dan detail dalam tinta emas dengan latar hitam. Dan ternyata, cover ini punya makna mendalam yang diulas sendiri dalam Cover Story... waaah rupanya konsep untuk cover pun dipikirkan secara matang 😍

"Menerima dengan indera.
Memilah dengan pikiran.
Mencintai dengan hati.
Menjadikannya kebaikan."

Demikian secuil inti dari cover story yang rasanya mengena di hati, dan membuat saya meresapinya lamat-lamat.

Grand Story Magazine memiliki konsep yang rapi. Disajikan dengan dwibahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, majalah ini nyaman untuk dibaca. Walau saya membaca dari belakang, tapi saya tetap akan menjabarkannya dari depan, sehelai demi sehelai. Kkk~
Selain Cover Story, majalah ini juga menghadirkan Flash Story, Main Story, Figure Story, Advertising Story, Community Story, Our Story, Event Story dan After Story. Wow... komplit banget, kan?

Dalam Flash Story disajikan berita-berita ringkas tentang perkembangan terkini sesuai tema. Karena edisi ini temanya adalah literasi, tentunya dalam Flash Story muncul berita-berita terkini tentang literasi, yang tentunya sangat penting untuk diketahui.
Ada tiga artikel utama dalam Main Story yaitu: Mengedukasi Lewat Literasi, Mematahkan Stereotipe Lewat Pembaharuan Perpustakaan, dan Kejayaan Industri Buku, Pekerjaan Rumah Literasi Indonesia. Masing-masing artikel menghadirkan perspektif yang matang dan disampaikan dengan apik.



Memasuki Figure Story ada tokoh-tokoh hits dalam dunia literasi yang memeriahkan isi majalah ini. Mereka adalah Aan Mansyur, Agustinus Wibowo, Dewi Lestari, dan Kathleen Azali. Jawaban-jawaban yang mereka berikan dalam sesi question & answer dalam majalah ini begitu jujur, penuh dedikasi dan menginspirasi.
Dalam advertising story, ada tips-tips yang dibagikan kepada pembaca tentang periklanan, dan yang lebih penting yang masih berkaitan atau sesuai dengan tema.

Dua komunitas literasi kota Surabaya bercerita secara bergantian dalam Community Story. Sebagai kota yang mendeklarasikan diri sebagai Kota Literasi, komunitas-komunitas literasi mulai tumbuh dan menyemarakkan Surabaya, seperti Aliansi Literasi Surabaya dan Komunitas Kota Jancuk yang tampil dalam majalah ini. Kisah dan kegiatan yang mereka kemukakan tentunya diharapkan bisa menginspirasi para pembaca.
Dalam Our Story terdapat artikel-artikel tentang industri kreatif yang muncul untuk memberikan kesegaran. Yang menarik tentu saja ada pada artikel travel, di mana muncul sisi lain kekayaan Surabaya yang ditampilkan melalui potret-potret yang luar biasa indah. Foto-foto yang mampu 'berbicara' bahkan tanpa narasi apa pun. Selain itu ada juga Book Review, Our Recommendation dan Our Opinion yang melengkapi bagian ini.



Beberapa kegiatan yang telah diadakan di Surabaya muncul dalam Event Story. Sedangkan After Story menjadi penutup yang merangkum keseluruhan tema, memberikan penutup yang membuat pembaca merasa tergugah dan berpikir untuk lebih kreatif lagi, terutama dalam menyebarkan semangat literasi.

Secara keseluruhan tampilan Grand Story Magazine sangat menarik. Tata letaknya nyaman untuk dibaca, penempatan dan pemilihan foto-fotonya pun indah dilihat. Iklan-iklannya tidak mengganggu baik dari segi penempatan maupun porsinya. Grand Story bukan hanya sebuah majalah yang menyajikan tema-tema terkini tapi juga memanjakan pembacanya.
Untuk berlangganan atau informasi lainnya bisa dengan menghubungi via email marketing.grandstorymagz@gmail.com
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon