Tampilkan postingan dengan label Le Mariage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Le Mariage. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2016

[Resensi: Love Fate - Sari Agustia] Perjuangan Tessa untuk Mendapatkan Buah Hati


Judul buku: Love Fate
Penulis: Sari Agustia
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Tahun terbit: April 2015
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 978-602-02-6007-6




BLURB

Kata orang, pernikahan yang kupunya ini sempurna.

Karier kami sama-sama menanjak. Sejak dua tahun lalu, kami mulai tinggal di rumah sendiri. Tak hanya itu, kami pun membekali diri kami masing-masing sebuah mobil untuk bepergian setiap harinya. Oh ya, kami juga punya dana untuk travelling keluar negeri — setidaknya sekali dalam setahun — dan berkunjung ke rumah Ambu di Bandung atau rumah Bapak serta Ibu Mertuaku di Malang.

Hanya satu yang sebenarnya menggangu: keturunan. Lima tahun bahtera ini berjalan, belum juga hadir si buah hati.

Kami tak pernah menunda. Tak pernah juga mempermasalahkannya. Dan... tak pernah juga membicarakannya.

Bagaimana ini...

Suamiku sebenarnya mau punya anak atau tidak?

Yang ke dokter hanya aku. Yang mau adopsi hanya aku. Masa hanya aku saja yang berusaha?


RESENSI

Pernikahan Tessa Febriana Sasmita dan Bhas telah berjalan selama lima tahun, kehidupan pernikahan mereka tampak sempurna dari luar. Komitmen mereka terhadap pekerjaan membuat mereka hidup mapan. Meski belum juga memiliki momongan mereka tetap santai dan tak menyinggungnya satu sama lain.
Namun kepercayaan diri Tessa berubah sejak pulang ke Malang dan menghadiri pernikahan Indah, adik perempuan Bhas. Cecaran pertanyaan dari keluarga besar tentang anak, juga sindiran Ibu Mertua yang tak ada habisnya, membuat Tessa berpikir ulang. Apalagi tak lama kemudian Indah hamil.
Tessa memutuskan untuk mendatangi ahli kesuburan. Sayang Bhas menolak ikut dan membiarkan Tessa berjuang sendirian. Tekad Tessa pun semakin kuat saat bertemu dengan Kanti, cleaning service kantor yang tengah hamil. Keadaan memaksa Kanti untuk menyerahkan bayinya kepada orang lain jika lahir nanti.
Hingga Tessa dinyatakan hamil setelah beberapa kali berobat, kebahagiaan itu membuat Tessa bersemangat. Namun di usia dua bulan, bayinya berhenti tumbuh dan terpaksa harus dibersihkan. Sedih, terpukul dan merasa bersalah... Tessa memutuskan ingin mengadopsi bayi Kanti. Namun keinginannya ditentang sang suami.
Akankah Tessa kembali menemukan kebahagiaannya dan menimang seorang bayi? Apakah kebahagiaan pernikahan harus selalu tergenapi oleh kehadiran tangis bayi?

---------

Saya sudah cukup lama juga ngidam novel ini. Bagi saya lini Le Mariage dari Elexmedia benar-benar menggelitik rasa penasaran saya. Bukan hanya karena covernya yang selalu imut dan unyu (saya tahu, saya memang paling lemah dengan cover cantik), tapi juga karena ide ceritanya selalu menarik.
Problema pernikahan memang ada saja, banyak hal bisa digali dari kehidupan dua insan yang telah berkomitmen bersama. Dan siapa bilang pernikahan adalah akhir bahagia selamanya? Justru pernikahan adalah gerbang ribuan cerita romantisme dan perjuangan.

Dalam Love Fate, perjuangan itu mewujud dalam diri Tessa yang berjuang ingin memiliki anak. Namun separuh perjuangannya, harus ia usahakan sendiri. Hanya Ambu yang mendukungnya, sementara Bhas lebih ogah-ogahan dan Ibu Mertua selalu nyinyir dan memaksa.
Saya cukup prihatin. Seberapa banyak wanita seperti Tessa di dunia ini? Jika kehidupan pernikahan tidak segera dikaruniai buah hati, mengapa wanita yang selalu disalahkan? Mengapa wanita yang dianggap gagal?

Love Fate dikisahkan melalui sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang Tessa. Ada dua bab yang memuat sudut pandang Bhas.. yang bagi saya terasa sebagai pembelaan diri.
Sayang novel berpremis menjanjikan ini nggak sesuai harapan saya. Terlalu banyak narasi yang bertele-tele. Narasinya sering melebar ke mana-mana, terutama saat Tessa menuju Malang, saya merasa seolah sedang membaca jurnal perjalanan.
Sampai bab 6, cerita masih membosankan karena masih penuh bla bla bla... penjelasan tetek bengek prosesi pernikahan. Namun di bab tujuh, alur mulai menarik. Konflik mulai beriak dan menambah tempo.

Membaca novel ini, dari awal saya sudah menyadari ketidakberesan yang dialami Tessa dan Bhas. Hubungan mereka seolah berjarak, monoton dan datar. Kurang komunikatif. Padahal kunci keberhasilan keluarga adalah komunikasi. Bukan hanya diam bukan hanya memendam. Ini yang bahaya. Bhas juga terlalu menjaga perasaan ibunya dan nggak pernah terang-terangan membela Tessa.

Sebenarnya saya bingung karena saya menemukan rasa sebal sekaligus sayang pada novel ini. Huhuhuu...
Di satu sisi saya senang novel ini hadir dengan segala narasi panjangnya tentang permasalahan kehamilan. Bahwa novel ini menyorot tentang merokok bisa menurunkan kualitas organ reproduksi, tentang kehidupan anak-anak panti asuhan yang mestinya layak mendapatkan kasih sayang, juga tentang rasa cinta dan hormat pada orang tua. Saya salut dengan hal itu. Novel ini cocok dibaca sebagai gambaran kehidupan perkawinan.
Tapi di sisi lain ada keegoisan manusia yang kental. Keegoisan seorang suami, dan keegoisan Ibu Mertua yang haduuuh... amit-amit untung Ibu Mertua saya nggak seperti ini.

Lalu kekesalan saya memuncak di endingnya. Yaah... semua orang berhak menentukan jalannya. Saya tahu ending ini logis dan jamak terjadi di dunia nyata. Tapi inikah jawaban dari segala perjuangan Tessa? Lalu apa yang diharapakan dari pembaca setelah membaca novel ini? Kemandirian mungkin.
Yang jelas saya harap wanita mana pun yang tengah berjuang mendapatkan buah hati, jangan sampai merasa hancur. Karena wanita yang berjuang layak didukung dan dicintai.

Rabu, 20 April 2016

[Blogtour: Review + Giveaway] My Bittersweet Marriage - Ika Vihara


Judul buku: My Bittersweet Marriage
Penulis: Ika Vihara
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 350 halaman
ISBN: 978-602-02-8243-5



BLURB

Aarhus. Tempat yang asing di telinga Hessa. Tidak pernah sekali pun terlintas di benaknya untuk mengunjungi tempat itu. Namun, pernikahannya dengan Afnan membawa Hessa untuk hidup di sana. Meninggalkan keluarga, teman-teman, dan pekerjaan yang dicintainya di Indonesia. Seolah pernikahan belum cukup mengubah hidupnya, Hessa juga harus berdamai dengan lingkungan barunya. Tubuhnya tidak bisa beradaptasi. Bahkan dia didiagnosis terkena Seasonal Affective Disorder. Keinginannya untuk punya anak terpaksa ditunda. Di tempat baru itu, Hessa benar-benar menggantungkan hidupny pada Afnan. Afnan yang tampak tidak peduli dengan kondisi Hessa. Afnan hanya mau tinggal dan bekerja di Denmark, meneruskan hidupny yang sempurna di sana.

Kata orang, cinta harus berkorban. Tapi, mengapa hanya Hessa yang melakukannya? Apakah semua pengorbanannya sepadan dengan kebahagiaan yang pernah dijanjikan Afnan padanya?


RESENSI

Kita akan berteman dan saling mengenal, lalu siapa tahu kita akan saling mencintai." (hlm. 68)

Saat sang mama menyuruh Hessa untuk berkenalan dengan anak laki-laki teman mama, Hessa sudah tahu akan ke mana arah perkenalan itu. Hessa pun menolak mentah-mentah gagasan perjodohannya. Apalagi dari hasil stalkingnya di internet, Hessa tahu Afnan adalah lelaki yang pintar, tampan dan mapan yang tinggal di Denmark, maka tentu cukup mencurigakan mengapa lelaki semacam Afnan perlu dicarikan jodoh oleh orangtuanya. Namun di pertemuan pertama mereka, Hessa tahu ia mulai terpengaruh pesona Afnan.
Sementara Afnan sendiri berkejaran dengan waktunya yang singkat di Indonesia. Ia tak punya banyak waktu untuk merayu dan membujuk Hessa. Maka dengan keterusterangan yang polos, Afnan mengajukan lamarannya pada Hessa. Lamaran yang diajukan tanpa paksaan, Afnan pasrah menunggu apa pun keputusan Hessa.
Tanpa dinyana, Hessa benar-benar mempertimbangkan tawaran Afnan, dan ia pun mengiyakan lamaran itu. Dengan hubungan pacaran jarak jauh singkat selama tiga bulan, dan obrolan penuh perencanaan setiap malamnya, Hessa pun resmi menjadi istri Afnan.
Namun rencana ternyata jarang mendekati kenyataan. Meski telah membuat kesepakatan dan persiapan, kepindahan Hessa ke Aarhus rupanya tak mulus. Jauh dari tanah kelahiran, jauh dari keluarga, tiba-tiba menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, membuat Hessa limbung. Ia pun mengidap Seasonal Affective Disorder. Depresi yang membuat Hessa harus menunda keinginan untuk memiliki bayi, membuatnya makin sensitif karena tak diizinkan pulang ke Indonesia demi pernikahan adiknya, dan membuat Hessa merasa, hanya dirinyalah yang berkorban demi pernikahan ini.
Sanggupkah Hessa dan Afnan menyelesaikan riak-riak rumah tangga mereka?

-------------

My Bittersweet Marriage. Pernikahan memang selalu manis-manis pahit... atau justru pahit-pahit manis? ^^
Well, yang jelas pernikahan harus punya rasa agar tidak hambar dan hanya menjadi sebuah status yang wajib dijalani.

Membaca blurb novel ini membuat saya tertarik seketika. Kota yang asing dan menggelitik rasa ingin tahu saya, premis yang cukup menjanjikan dan disorder yang dialami sang tokoh utama, membuat saya bersemangat untuk membacanya.

Diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga, My Bittersweet Marriage mengalur maju dengan lumayan lambat. Gaya bercerita Ika Vihara cukup menarik dan santai. Ceplas-ceplos apa adanya.
Beberapa hal dalam novel ini membuat saya curiga bahwa novel ini berangkat dari wattpad, dan ketika saya cek ternyata benar.
Kecurigaan saya berawal dari tanda baca petik tutup yang diselingi spasi dan atribut dialog yang kurang rapi atau tidak tersusun membentuk pola kalimat. Semacam:

"Begini ya rasanya mau menikahi istri kedua." Mikkel tertawa, langsung digaplok mamanya. (Hlm. 67) 

Saya pribadi nggak terlalu mempermasalahkannya, karena saya bisa memahami maksudnya. Tapi memang alangkah baiknya jika atribut bisa lebih rapi.
Sedangkan saya suka banget dengan settingnya. Bikin kepo luar biasa. Saya suka membaca cerita dengan tempat-tempat yang unik, lain dari yang lain, dan ditulis dengan menarik serta detail. Ya lokasinya, ya suasananya, ya orang-orangnya.

Hessa sebagai gadis berusia 27 tahun tampil sebagai gadis mandiri dan cantik. Pekerja keras, suka mendongeng bagi anak-anak (saya sebenarnya pengin ini muncul di adegan dan bukan hanya dalam narasi), pintar masak, hmm~ istri idaman banget. Hessa gambaran kebanyakan wanita di usia akhir dua puluhan yang resah akan status lajangnya.
Hingga kemudian kemandiriannya baik dalam masalah finansial maupun kepercayaan diri runtuh ketika tiba di tanah asing. Hessa bagai tercerabut dari kenyamanannya, kesulitan beradaptasi hingga mengalami seasonal affective disorder.
Sementara Afnan adalah pria keturunan Denmark-Indonesia yang kaku, selalu tertantang untuk berkompetisi dan nggak romantis blas. Ahahaha... tapi tindakan spontannya kadang bikin meleleh juga sih.
Secara keseluruhan, karakter dalam novel ini menarik dan punya ciri. Dalam berperilaku karakter-karakter ini cukup menonjolkan ciri mereka, namun dalam berdialog, sayangnya semua tokoh masih seragam. Gaya bicaranya terdengar satu "suara". Bahkan para mama saja gaya bicara dalam dialognya masih sama dengan gaya bicara Hessa, yang usianya jauh lebih muda. 

Meski cenderung flat di awal cerita, namun kisah mulai menarik ketika seasonal affective disorder Hessa muncul. Bagaimana tanda-tandanya, apa yang dirasakan Hessa dan bagaimana usaha mereka untuk mengatasinya cukup detail dijabarkan. Memberi wawasan baru. Memberi saya teman baru karena saya pun penderita disorder. Sungguh diperlukan ketabahan dan kesabaran luar biasa bagi suami yang memiliki istri penderita disorder. Di sini saya merasa manusiawinya Afnan dalam mendukung Hessa. Bahwa kadang si suami pun mengalami kelelahan dalam menjaga perasaan sang istri. Walau ada saat saya merasa pertengkaran mereka childish banget, layaknya pasangan usia muda, bukan gambaran pernikahan pria dan wanita di usia akhir dua puluhan. Tapi memang... seperti itulah pernikahan. Salah paham, bertengkar, berkompromi, berdamai, salah paham lagi, dan seterusnya bagai sebuah siklus. Gejolak ringan inilah yang jadi manis-pahit pernikahan yang coba disajikan dalam My Bittersweet Marriage.

Untuk sampul, aaah saya suka banget. Warnanya manis, dan sepeda sampai kapan pun menyimpan romansa pribadi bagi saya. Desain di dalam novel juga cantik dan bikin enjoy dalam membaca.

So, novel ini saya rasa layak untuk jadi bacaan di kala senggang. Perlu waktu yang spesial karena cerita cenderung flat, tapi ada wawasan dan banyak hal yang bisa kita petik dari kisah di dalamnya. Good job Ika Vihara, semoga sukses untuk My Bittersweet Marriage dan novel-novel selanjutnya :)


++++++++GIVEAWAY TIME++++++++++


Sudah baca review My Bittersweet Marriage? Sudah siap merasakan pahit-manis pernikahan Afnan dan Hessa? Kalau siap, saya mau bagikan satu novel My Bittersweet Marriage buat satu orang yang beruntung.

Caranya mudah saja:

1. Peserta tinggal di Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow twitter @IkaVihara dan @KendengPanali lalu share giveaway ini dengan hashtag #MyBittersweetMarriage dan jangan lupa untuk mention kami berdua.

3. Follow blog ini via email, GFC atau G+ (optional)

4. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan mencantumkan nama | link share | alamat email

Kamu pilih mana pacaran dulu baru menikah atau menikah dulu baru pacaran? Apa alasannya?

5. Giveaway berlangsung hanya 4 hari dan akan ditutup tanggal 23 April 2016 pukul 23.59 WIB.

6. Jika ada pertanyaan jangan segan colek saya di twitter ya... good luck ;)

***UPDATE***

Haiii... setelah bersenang-senang selama 4 hari sekarang tiba waktunya untuk mengumumkan satu orang yang beruntung mendapatkan novel My Bittersweet Marriage.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada teman-teman yang telah berpartisipasi dalam giveaway kali ini. Jawaban kalian keren semua !!
Namun tetap saja harus memilih satu di antara semua jawaban ini. Maka yang beruntung adalah....

Cahya Widyastutik
@cahyawid

Selamaaaat yaa... saya tunggu data diri kamu via email ke nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2x24 jam ya.

Bagi yang belum beruntung jangan sedih. Nurina Mengeja Kata bakal ngadain blogtour lain untuk seru-seruan bareng. Nantika yaa :)

Senin, 04 Januari 2016

[Resensi: You Had Me At Hello - Indah Hanaco] Sapaan yang Berujung pada Pernikahan


Judul buku: You Had Me At Hello
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal buku: 360 halaman
ISBN: 978-602-02-7005-0
Available at: Bukupedia.com




BLURB

Inanna mungkin masih terlalu muda untuk membuka pintu yang membawanya pada pernikahan. Namun, berbagai kecerobohan membuat gadis itu tidak punya pilihan.
Inanna memilih menghabiskan sisa hidupnya bersama Alistair.

Cinta berhadir begitu dia menantang mata sewarna biru es itu. Harapan dilambungkan ke langit, suatu saat nanti Inanna bisa memiliki hati si pemilik tatapan penghitung pori-pori itu.
Bukankah mereka terikat sumpah di depan Tuhan?

Tapi apa jadinya saat Inanna tahu kalau Alistair cuma menganggapnya wujud kepingan masa lalu?
Percayalah, cinta takkan pernah semenyakitkan itu.

RESENSI

Kali ini ulah si kembar Inanna Grace dan Zora Estrid dianggap sudah kelewat batas oleh sang ayah, Navid Kusuma. Hukuman yang diterima Ina dan Zora bukan hanya sekedar penyitaan kartu kredit, tapi hukuman yang lebih serius. Mereka berdua akan segera dijodohkan. Navid mengaku sudah tak sanggup menghadapi kesembronoan putri kembarnya dan memilih untuk mencarikan pria malang di luar sana yang mau direpotkan oleh kelakuan Ina dan Zora.
Saat dikenalkan dengan calon suami mereka, Ina merasa mual. Berbeda dengan Zora yang tampak menyukai perjodohan itu, sayangnya ina mendapat pasangan yang tidak dia suka. Ina pun memikirkan segala cara untuk menggagalkan perjodohannya. Sayangnya usahanya gagal.
Hingga terjadi kecelakaan saat mobil Ina menabrak mobil lain. Korban yang ditabraknya terluka di kepala dan harus menjalani perawatan. Meski merasa ketakutan setengah mati, Ina tetap berusaha bertanggung jawab. Dan ketika Ina bertemu dengan orangtua Alistair, pengemudi mobil yang ditabraknya, Ina tak pernah menyangka ia akan diminta menikahi Alistair karena penyakit yang diderita Alistair.
Ketika Ina kemudian memilih memasuki pernikahan itu, Ina tak pernah menduga banyak kejutan yang akan ia temui. Termasuk... rahasia yang disimpan Alistair tentang masa lalunya yang memiliki kaitan dengan Ina, yang mengancam kehancuran pernikahan mereka.
Sanggupkah Ina mempertahankan pernikahannya? Apakah Ina akan menemukan jalan masa depannya? Dan akankah kisah cintanya kepada pria bermata biru es berakhir dengan manis?

-----------------

You Had Me At Hello adalah novel Le Mariage yang saya idamkan sejak kavernya muncul di timeline twitter. Cantik, elegan dan romantis. Warna ungunya nggak nguatin ^^

Novel ini diceritakan dengan dua POV, yaitu POV orang ketiga di chapter awal, kemudian berganti menjadi POV orang pertama, yaitu POV Inanna di chapter dua, dan kemudian kembali lagi menjadi POV ketiga di chapter akhir. Kisahnya mengalir maju dengan tempo yang cepat.

Saya mengamati kalau Indah Hanaco biasa menyelipkan pengetahuan baru dalam buku-bukunya. Kali ini informasi baru dimunculkan melalui petualangan Ina dan Al di Florence dan kecintaan Ina pada sepatu. Saya pernah membaca buku dengan setting Florence, namun Florence dalam novel ini dikisahkan dari sudut yang berbeda, sudut si heroine yang sangat mengagumi Salvatore Feragamo.
Adegan yang menarik adalah ketika Ina mengalami baby blues. Sesuatu yang nggak bisa dianggap remeh dan digambarkan dengan tepat oleh Indah Hanaco.
Daaaan... rumah kacanya Alistair itu yang paling menarik hati saya. Seru banget. Konsepnya bagus dan bikin iri.

Saya suka dengan tokoh Ina. Tentunya karena namanya sama dengan saya. *plak* Hehe~ oke serius. Inanna ini awalnya bandel dan doyan hura-hura. (Ih kalau ini sih nggak sama dengan saya yang alim), manipulatif dan blak-blakan. Kalau ngomong suka ngelantur. Wkwkk~
Sayangnya saya kurang menemukan intuisi yang biasa dimiliki antar saudara kembar antara Ina dan Zora. Padahal setahu saya kan biasanya saudara kembar itu intuisinya paling tajam satu sama lain.
Saya juga tertipu dengan sosok Alistair, kirain dia pendiam dan cool, apalagi kalau sedang menatap kayak dalaaaam banget. Ternyata bisa banyak omong juga. Dan kata-katanya selalu... bikin meleleeeh. Ngg... tindakannya juga sih.

Pada awalnya saya merasa novel ini agak kaku dan karakternya kurang lepas namun semakin ke belakang mulai mencair dan ketemu juga jalinan cerita yang asyik dan mengalir. Begitu Ina mulai masuk ke dalam pernikahan saya seolah sedang menunggu bom waktu. Saya tahu ada yang salah, ada yang disembunyikan, dan saya masih belum tahu apa itu hingga... dhuar. Ledakan konfliknya di luar perkiraan saya. Saya semakin asyik dengan perkembangan konflik dan terbawa arusnya sampai mewek. Yep... ada adegan favorit saya dalam novel ini. Sukaaa~

Secara keseluruhan, saya suka banget novel ini. You Had Me At Hello bukan hanya memberi kisah yang manis tapi juga makna bahwa pernikahan harus dilandasi kejujuran. Kebohongan sekecil apa pun bisa sangat melukai pasangan kita. Dan bahwa dalam pernikahan selain komitmen juga dibutuhkan kerja sama terutama dalam mengasuh anak. Aah~ love this book so much!

Kamis, 09 Juli 2015

[Resensi: Jodoh untuk Naina - Nima Mumtaz] Keikhlasan Naina Menerima Perjodohan


Judul buku : Jodoh untuk Naina
Penulis : Nima Mumtaz
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun terbit : 27 April 2015
Tebal buku : 252 halaman
ISBN : 978-602-02-6348-9



BLURB

Jodoh untuk Naina, Abah yang pilih, Naina ikhlas.
Tapi, kenapa Abah pilih dia?
Dia yang punya masa lalu kelam.
Dia yang pernah diarak keliling kampung karena berzina.
Dia yang tidak sempurna.
Mengapa Abah begitu yakin dia mampu menjadi imam Naina?
Bagaimana Naina harus menjalani kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dia sukai, bahkan sebelum akad nikah?
Apakah dia adalah jodoh untuk Naina?


RESENSI

Naina Humairah tak mampu menolak saat Abah menawarkan seorang pria untuk menjadi suaminya. Setelah Umi meninggal dan kakak-kakaknya menikah, Naina hanya hidup berdua dengan Abah. Ia sangat menyayangi Abah. Dan jika pernikahan Naina membuat Abah bahagia, Naina rela menjalaninya.
Namun betapa kaget Naina saat mengetahui bahwa calon suaminya adalah Rizal Ayyashi. Pria yang sepuluh tahun lalu pernah membuat skandal memalukan di kampung hingga membuat keluarga pria itu pindah ke Surabaya. Meski saat kejadian itu, Naina masih kecil tapi Naina sudah banyak mendengar berita yang simpang siur dari para tetangga. Bahwa Rizal tertangkap sedang berzina dengan perempuan bersuami.
Naina pun memasuki gerbang pernikahannya dengan ketidakikhlasan. Ia masih meragukan Rizal. Ia masih mencari-cari kekurangan Rizal. Walaupun perlakuan Rizal begitu lembut dan protektif padanya, hati Naina masih ragu. Apakah Rizal benar-benar telah bertobat?
Tapi siapa, sih, yang bisa bertahan dibombardir kelembutan dan godaan yang menyenangkan dari suami yang ganteng? Naina pun luluh. Ia menerima pernikahan dengan ikhlas dan mulai membuka hati untuk Rizal hingga hanya pria itu yang memenuhi harinya.
Dan cobaan pun datang. Latifah, perempuan yang pernah menjadi partner skandal Rizal ,kembali pulang ke kampung. Janda itu mencari Rizal untuk menjawab lamaran yang ditawarkan Rizal setahun yang lalu. Tanpa sengaja Naina mendengar Rizal bertanya pada Latifah apakah Latifah mau menjadi istri kedua. Naina limbung. Dunia seakan menggelap.
Sanggupkah Naina dimadu? Seberapa jauh tanggung jawab yang hendak dituntaskan Rizal? Benarkah Rizal akan membawa wanita kedua dalam kehidupan pernikahan mereka? Dan siapakah gadis berkerudung biru yang menjadi cinta terpendam Rizal?

--------

Saya penasaran dengan Nima Mumtaz sejak munculnya Akulah Arjuna. Sudah mengincar novel itu tapi sepertinya belum juga berjodoh. Dari gagal menang giveaway, stok kosong di toko buku, dan belum menemukan teman yang bisa meminjami :p
Hingga Jodoh untuk Naina terbit. Saya langsung tertarik dengan blurb-nya. Pikir saya, Naina si tokoh utama benar-benar hebat. Saya sendiri, yang nggak bakal mau menerima perjodohan dengan pasrah, tentunya mengagumi sosok yang bersedia menjalani perjodohan.

Temanya sungguh unik. Bukan hanya sekedar perjodohan, tapi perjodohan dengan pria yang memiliki masa lalu yang suram. Sebuah skandal perzinaan. Dosa yang teramat berat dari sisi agama.
Plotnya rapi dan begitu mengalir hingga saya tiba di bagian-bagian yang membuat saya meneteskan air mata. Pilihan diksi Nima meski simpel tapi mampu membuat terlarut. Terlebih karena novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu Naina, saya jadi ikut merasakan suasana hati Naina.

Karakter Naina tadinya saya rasa cukup menyebalkan di awal. Gemas banget waktu Naina setiap ditanya oleh Rizal jawabannya selalu terpatah-patah atau malah kadang cuma diam nggak berani ngomong. Tapi makin ke belakang makin ketahuan kalau Naina cerewet dan manja. Gaya ngomongnya ke Rizal yang manja dan merajuk itu rasanya lucu.
Untuk tokoh pria, saya yang biasanya mengidolakan cowok bad boy, kali ini luluh oleh Rizal. Aduh, Abah Miftah masih punya stok calon suami kayak Rizal nggak, sih? Sudah ganteng, santun, agamanya bagus, pintar, lembut, tapi bisa ngegombal juga. Haha.
Kepingin deh anak-anak saya kalau dewasa bisa kayak Rizal begitu ^^
Sayangnya fisik mereka kurang terdeskripsi dengan rinci.

Jodoh untuk Naina merupakan novel lini Le Mariage dari Elex Media kedua yang saya baca setelah Not A Perfect Wedding karya Asri Tahir.
Sebagai novel bertema pernikahan, Jodoh untuk Naina begitu kental nuansa islaminya. Mulai dari prosesi dan tata cara ijab qabul hingga keseharian para tokohnya.
Selain itu, hal yang saya sukai adalah unsur kebudayaan yang terangkat dalam hal adat pernikahan dan dialek beberapa tokoh yang digunakan. Terasa semakin memperkuat setting.

Dan yang membuat saya jatuh cinta adalah bonus epilognya. Aaah~ suka banget. Epic.

Radar saya hampir nggak menemukan typo di dalam novel ini:

sampai di rumah, kami pun dia tak berubah. --> sampai di rumah kami pun, dia tak berubah. ( hlm. 98)
makhlukmu --> makhluk-Mu (hlm. 214)

Novel ini memberi banyak pelajaran. Tentang kepatuhan, cara memperlakukan orangtua, cara berumah tangga yang sakinah mawadah warohmah dan tentang keikhlasan.
Saya beri 5 bintang untuk Jodoh untuk Naina.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Tak ada waktu yang terlalu cepat atau terlalu lambat untuk masalah jodoh. Dia akan datang kapan pun dia mau. Karena Allah telah menuliskannya dalam garis takdirmu." (hlm. 2)

"Kamu selalu punya pilihan, Naina." (hlm. 22)

Aku memang selalu punya pilihan, tapi aku juga memilih untuk membahagiakan Abah, apa pun yang terjadi. (hlm. 22)

"Naina, tidak ada harta bersama dalam pernikahan. Yang ada hanya harta suami dan harta istri. Suami punya kewajiban memenuhi semua kebutuhan rumah tangga juga kebutuhan istrinya, sedang harta istri bebas dibelanjakan semau istri. Itulah kenapa Abang berikan semuanya. Karena Abang mau, Naina yang atur. Karena Abang mau, Nai tahu berapa penghasilanku dan berapa pengeluaran kita. Jadi, nanti kalau kamu minta dibeliin mobil mewah atau liburan ke luar negeri sebulan sekali, Nai bisa tahu kalau Abang belum mampu." (hlm. 56)

"Enak, ya, punya istri, ada yang cemberutin." (hlm. 59)

Aku ingin membencimu. Begitu ingin. Aku ingin mengutuk semua keragu-raguanmu namun yang kulakukan hanya memberi maaf padamu. (hlm. 213)

Ya rabb,
Maaf jika aku mencinta makhlukmu terlalu sungguh. Maaf jika aku merindu makhluk-Mu dengan segenap rindu yang kupunya. Tapi aku tak sanggup menahan ini, ya Allah. Aku terlalu mencinta, aku amat sangat merindu. 
Allahku, tolong jaga dia dalam lindungan-Mu. Jaga dia dalam kasih sayangmu. Jaga hatinya agar selalu dalam lingkup rahmatmu. (hlm. 214)

Minggu, 17 Mei 2015

[Resensi: Not A Perfect Wedding by Asri Tahir] Manisnya Cinta Di Balik Permainan Takdir


Judul buku : Not A Perfect Wedding
Penulis : Asri Tahir
Editor : Afrianty P. Pardede
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal buku : 297 halaman
Tahun terbit : Mei 2015
ISBN : 978-602-02-5897-3






BLURB


Raina Winatama
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi dia pergi untuk selamanya.


Prakarsa Dwi Rahardi
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi aku harus pergi untuk selamanya.

Pramudya Eka Rahardi
Di hari pernikahan adikku, aku harus menjadi mempelai laki-laki. Menjalankan sebuah pernikahan yang harusnya dilakukan oleh adikku, Prakarsa Dwi Rahardi.



RESENSI

Satu hari menjelang hari pernikahannya, Raka menjemput sang kakak di bandara. Entah bagaimana, Raka berhasil membujuk sang kakak yang telah menetap di London selama 7 tahun, untuk pulang ke tanah air dan menghadiri pesta pernikahan Raka dan Raina.
Sayangnya setelah mengantar Pram ke rumah, Raka yang pergi lagi untuk mengurusi pengisi acara pernikahannya mengalami kecelakaan.
Raka kritis. Saat berada dalam hidup dan mati itulah dia mengajukan sebuah permintaan yang dirasa mustahil bagi Pram. Raka ingin Pram menggantikannya untuk menjaga Raina. Raka meminta Pram untuk menikahi Raina.
Raina yang tidak tahu menahu bahwa Raka meninggal -meski dia tahu Raka mengalami kecelakaan- merasa bahagia di hari pernikahannya. Namun betapa bingungnya dia saat dari tempatnya menanti, dia mendengar pria yang mengucapkan ijab qabul bukanlah Raka, tapi Pramudya Eka Rahardi.
Dan bergulirlah pernikahan yang terjadi akibat permainan takdir antara Pram dan Raina. Pram jatuh bangun menjaga janjinya kepada Raka. Susah payah dia bersabar terhadap Raina yang masih terpukul dan berduka.
Hingga Pram menyadari bahwa keinginannya untuk menjaga Raina bukan hanya demi Raka tapi juga demi dirinya sendiri. Namun, dia harus membuka rahasia masa lalunya terlebih dulu. Mengenai Sashi, cinta masa lalu yang membuatnya kabur ke London.
Akankah Raina bisa menerima pernikahan mereka? Apa yang akan terjadi pada pernikahan mereka saat Sashi muncul? Siapa yang akan Pram pilih?


Not A Perfect Wedding merupakan novel debut Asri Tahir melalui lini Le Mariage dari Elex Media Komputindo. Meskipun sebelumnya Asri telah menuliskan cerita ini melalui Wattpad dan telah dibaca ribuan readers.
Wajar saja karena Not A Perfect Wedding menyajikan kisah yang luar biasa. Idenya sangat menarik dengan jalinan cerita yang menimbulkan rasa penasaran. Dengan alur maju, Not A Perfect Wedding membawa pembaca terharu-biru mengikuti perjalanan pernikahan Raina dan Pram.

Saya suka kontrasnya karakter pria dan wanitanya. Pram begitu dewasa dan tidak egois dibanding Raina yang kekanakan dan manja. Ini jadi mengingatkan kepada hubungan saya dan suami. Hehe~
Raina sendiri walau di awal sulit menerima takdir, tapi makin ke belakang dia makin tegar, makin tangguh meski mudah bimbang.
Beberapa tokoh sampingan pun punya porsi yang pas untuk ikut ambil bagian. Bahkan konflik yang dialami kakak-kakak Raina dapat memberi jeda napas bagi pembaca dari konflik yang dialami sang tokoh utama.

Desain sampulnya cantik dengan warna favorit saya: biru. Terlihat sederhana tapi memikat dengan puluhan kupu-kupu yang beterbangan dan gaun pengantin yang anggun. Favorit banget deh!

Sayangnya masih banyak typo yang bertebaran dalam novel ini. Kesalahan tanda baca semacam peletakan tanda petik, tanda koma dan tanda titik juga masih banyak.

clucth --> clutch (hal. 5)
daritadi --> dari tadi (hal. 19)
pernikahan sama aku dan Pram --> pernikahan aku dan Pram (hal. 89)
saat meninggalkan Pram meninggalkannya --> saat Pram meninggalkannya (hal. 101)
dia lucu --> dia merasa lucu (hal. 167)
pram --> Pram (hal. 178)
Semua --> semua (hal. 179)
kakakknya --> kakaknya (hal. 206)
masih --> masa (hal. 211)
tidak alasan --> tidak ada alasan (hal. 255)
smester --> semester (hal. 269)
di duga --> diduga (hal. 274)
dres --> dress (hal. 276)
belalu --> berlalu (hal. 283)
digenggamannya --> di genggamannya (hal. 283)
di tatapnya --> ditatapnya (hal. 283)
dia diberikan --> dia berikan (hal. 285)

Tapi keseluruhan ceritanya begitu manis. Sebagai novel debut, Not A Perfect Wedding adalah karya yang menjanjikan. Saya sudah tidak sabar menunggu karya-karya Asri Tahir yang lainnya.
4 bintang saya berikan untuk Not A Perfect Wedding.



TEBAR-TEBAR QUOTE

"Atas nama takdir, terkadang manusia bersembunyi dengan rasa takutnya. Menyalahkan keadaan sebagai rasa pelariannya. Untuk mereka yang percaya takdir, sang sutradara selalu menyimpan kisah manis untukmu, meski dengan cara berliku." (hal. ix)

"If you think you are that though, then prove it." (hal. 52)

"Pernikahan bukan tentang cara kamu bersikap kepadaku, Pram. Tapi tentang sebuah pondasi yang kuat untuk menjalaninya." (hal. 123)

"Karena membuka masa lalu sama dengan membuka luka lama…" (hal. 129)

"Cukup Raka yang menyerahkanmu padaku. Tapi tidak denganku, Rain. Segala sesuatu yang menjadi milikku, akan selalu kupertahankan." (hal. 176)

"Menghilangkan rasa sakit itu bukan dengan menciptakan rasa sakit yang baru. Yang kita perlukan adalah menghadapinya." (hal. 178)

Tidak ada kebahagiaan yan instan itu memang benar, karena sejatinya harus ada pengorbanan dari tiap kebahagiaan." (hal. 195)

"Itulah salah perempuan, kasih kesempatan untuk laki-laki menaklukkan kalian. Buat mereka penasaran. Iya kan, Pasha?" (hal. 209)

"No… it's your past. Dan aku nggak punya hak untuk meminta kamu melupakannya." (hal. 240)

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon