Sabtu, 14 Mei 2016

[Resensi: Lho, Kembar Kok Beda? - Netty Virgiantini] Kisah Cinta Si Kembar yang Berbeda


Judul buku: Lho, Kembar Kok Beda?
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Wienny Siska
Desain sampul: Chyntia Yanetha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Februari 2015 (cetakan kedua)
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-0696-4




BLURB

Semua kesempurnaan cewek ada dalam diri Bashira. Wajahnya bulat, kulitnya kuning langsat. Rambut hitamnya bergelombang indah, pas dengan postur tubuhnya yang tinggi berisi. Kecerdasannya membuat Bashira selalu berada di posisi tiga besar dan terpilih menjadi sekretaris OSIS.
Tidak ada yang menyangka Nadhira yang "ancur" adalah kembaran Bashira. Wajahnya oval dengan kulit kecokelatan. Rambutnya selalu dipotong pendek supaya irit sampo. Tubuhnya mungil dan kurus, mirip papan penggilasan. Dia selalu kesulitan mengikuti pelajaran sehingga wajib mengikuti kelas tambahan. Belum lagi, ia langganan dipanggil guru BP karena ketahuan menggambar saat jam pelajaran berlangsung.
"Lho, kembar kok beda?" Pasti begitu komentar orang-orang.
Setelah tujuh belas tahun hidup dalam perbedaan, akhirnya mereka menyadari satu persamaan: sama-sama menyukai Narotama! Tapi bisakah mereka bersaing secara fair dan terbuka? Atau malah terjebak dilema antara cinta dan saudara?

RESENSI

Dari kecil Nadhira sudah terbiasa jika ada yang mempertanyakan hubungannya dengan Bashira. Dirinya dan Bashira berbeda bagai bumi dengan langit, pantas jika orang-orang sering berusaha memastikan apakah mereka benar-benar kembar. Bukan hanya perbedaan secara fisik, tapi juga sifat dan kapasitas otak.
Nadhira tak pernah mempermasalahkannya. Tak pernah protes jika dibandingkan. Ia menyadari kekurangan-kekurangannya. Itu sebabnya saat ia jatuh cinta pada Narotama, teman sekelas mereka, Nadhira lebih memilih memendamnya. Ia lebih suka menuangkan perasaannya di lembaran kertas dan mengamati Tama diam-diam karena Tama lebih sering menghabiskan waktu bersama Bashira. Apalagi Nadhira punya Raven, teman yang sudah ia anggap adik sendiri serta geng pintu belakang yang selalu menghiburnya.
Nadhira juga sibuk bertengkar dengan Kemal yang sering mengejek Raven dan menyebut Raven banci jika melihat Raven bersama Nadhira. Kemarahan Nadhira terpancing, ia pun melabarak Kemal dan balas mengejek Kemal.
Namun tanpa sengaja, sketsa wajah Tama yang dibuat oleh Nadhira diketahui Tama. Nadhira jelas kebakaran jenggot. Harap-harap cemas akan reaksi Tama. Puncaknya ketika ulang tahun Nadhira dan Bashira yang ketujuh belas, Tama datang dan membawakan bunga untuk Bashira. Nadhira pias. Ia merasa Tama memang menyukai Bashira.
Namun sebuah kado mungil tanpa nama berisi kalung berliontin bintang dan sebait puisi yang didapatnya membuat Nadhira bertanya-tanya. Siapa yang telah memberi Nadhira kado indah itu? Raven, Kemal atau malah Tama?

------------

Setelah lama nggak baca teenlit, Lho, Kembar Kok Beda? memberi saya kesempatan untuk menyusuri mesin waktu... kembali merasakan jadi anak SMA lagi. Hahaha...
Lah... kenapa bisa begitu?
Saya selalu merasa terkoneksi dengan tulisan Netty Virgiantini. Gaya berceritanya yang khas dan penuh kesederhanaan itu mirip dengan masa sekolah saya. Yang nggak neko-neko, yang seru-seruan bareng teman bisa dilakukan di sudut sekolah atau di kantin. Yang jatuh cinta nggak mesti harus dengan atlit basket atau playboy cap kapuk.

Lho, Kembar Kok Beda? mengusung kisah perseteruan batin antara dua saudara kembar yang mencintai cowok yang sama. Biasa? Klise? Mungkin saja. Tapi kisah ini dibungkus dengan keunikan dan kekhasan gaya bertutur Netty Virgiantini. Tentu rasanya beda dong ;)

Saya menganggap penulis ini pintar dalam menarik simpati pembaca untuk ditujukan kepada karakter tokohnya. Dari awal saya sudah pengin meluk Nadhira. Mengapa orangtua dan guru yang seharusnya membimbing dan mendidik justru malah nggak memiliki kepekaan terhadap anak dan anak didiknya. Hal inilah yang berusaha 'disentil' oleh Netty Virgiantini.
Bahkan anak kembar pun bisa berbeda, masing-masing pasti memiliki bakat dan kecerdasannya sendiri. Mengapa orangtua dan guru lebih mementingkan nilai pelajaran daripada bakat seorang anak?
Di sinilah peranan Bu Sharmila sang guru BP diwujudkan. Dengan apik, Netty menyoroti bahwa guru BP bukan guru penghukum tapi guru pembimbing yang semestinya bisa menjalin hubungan kepercayaan dengan murid dan mengenali potensi-potensi muridnya.

Dan seolah untuk menunjukkan bahwa pintar dalam pelajaran bukanlah kunci segalanya, Nadhira justru memiliki banyak pengagum rahasia: Kemal, Raven dan Tama.
Nggak perlu heran, meski biasa saja dan nggak berbody aduhai, Nadhira jelas memiliki pesonanya sendiri. Dia baik, setia kawan, dan apa adanya. Be herself. Ini yang penting. Jadilah dirimu sendiri. Jangan minder hanya karena nggak pintar, nggak cantik, nggak jadi kebanggan guru, karena setiap anak pasti punya keistimewaannya sendiri.
Di sisi lain ada Bashira... yang bertolak belakang dengan Nadhira. Mungkin karena egonya sering diangkat oleh orang-orang di sekitarnya, Bashira langsung terpuruk saat menemui kegagalan. Sedikit egois memang. Apalagi begitu jatuh, nilai-nilainya anjlok, bukannya diminta berbenah diri dan melihat kenyataan, Bashira justru dilindungi orangtuanya. Sumber masalahnya adalah dalam diri Bashira sendiri tapi ayah mereka mengkambinghitamkan hubungan Nadhira dan Tama.

Sedangkan karakter Tama memang tipikal karakter yang selalu muncul di novel karya Netty Virgiantini: sopan, kalem tapi juga lucu. Adem banget rasanya. Hehe...
Selain Tama juga ada Kemal, yang jadi favorit saya. Hmm~ kalau saya ada di posisi Nadhira kayaknya saya bakal naksir Kemal. Nakal tapi pintar. Lebih all out nunjukin perasaannya. Pas adegan Kemal duduk bersila di depan Nadhira, dan bantuin Nadhira ngerjain soal, malah saya yang deg-degan. Hahaha...
Lalu sosok Raven tadinya saya pikir hanya sebagai pelengkap. Tapi rupanya Raven punya porsi yang lebih. Sering kan ya di masa SMA... ada saja yang terjebak friendzone. Tapi justru, dari Raven saya megerti, orang paling kuat adalah orang yang tahan berada dalam jebakan friendzone. :))
Di novel ini saya mendapati pengkarakteran yang kuat dan berciri khas. Masing-masing tokoh tampil sesuai karakternya. Saling mengisi dan melengkapi.

Ending novel ini memang masih menggantung. Belum benar-benar selesai karena akan ada lanjutannya di novel berikutnya: Kembar Dizigot. Jadi sepertinya saya bakal kembali terlarut dengan kisah si kembar yang bertolak belakang ini.
Tapi sebelumnya saya katakan, Lho, Kembar Kok Beda? benar-benar novel teenlit yang asyik dan seru. Sedikit konyol tapi huhuuu... keromantisannya bikin meleleh. Recommended deh pokoknya.

2 komentar:

farikha nisa mengatakan...

Khasnya Kak Netty memang selalu menyajikan cerita remaja yg menye2. Kayaknya kalo aku baca juga ikutan naksir kemal deh, kak. Sama kayak di novel kak netty yg when I look into your eyes naksirnya sama arga :D baca Resensi Kakak jd pen baca juga hehe

nurina widiani mengatakan...

Aaah... saya malah belum baca yg itu.. teenlit juga kah?
Trims infonya.. nanti saya cari ah :)

Posting Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon