Selasa, 24 Mei 2016

[Resensi] Pay It Forward - Emma Grace


Judul buku: Pay It Forward
Penulis: Emma Grace
Editor: Tri Saputra Sakti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: April 2015
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 978-602-03-1501-0
Goodreads: Pay It Forward



BLURB


Tedjas

Astaga, gadis itu sudah gila. Pasti! Gue nggak pernah berminat untuk komentar di status orang di Facebook, apalagi ikut-ikutan dalam permainan apa pun. Tapi, gadis itu bilang apa tadi? Pay It Forward? Cih, permainan apa itu?

Gitta

Aku nggak pernah mengira bisa membenci seorang pria, seperti aku membenci Tedjas. Sejak pertama bertemu, dia selalu bersikap menyebalkan. Seakan belum cukup, dia juga menghinaku habis-habisan di depan banyak orang. Semakin jauh jarak terbentang di antara kami, itu semakin baik! Itu yang Tedjas dan Gitta pikirkan. Tapi ketika rasa cinta menggedor semakin kuat, sanggupkah mereka berdua tetap berpura-pura bahwa kedekatan itu tak pernah nyata?

RESENSI

Tanpa sengaja saat sedang iseng membuka facebooknya, Anggita Nathanael menemukan status yang menarik. Seseorang bernama Yunike Setiabudi mengajak siapa saja untuk memainkan Pay It Forward. Bagi tiga orang yang menulis I'm in di kolom komentar status tersebut, akan mendapat gift dari Yunike, namun mereka juga wajib meneruskan permainan ini dengan memasang status yang sama. Tanpa pikir panjang, Gitta pun langsung menuliskan komentar. Dan ia pun menjadi tiga orang pertama yang beruntung dan wajib meneruskan permainan ini.
Hal tak terduga terjadi saat Gitta membuat status yang sama dengan Yunike, salah satu dari tiga orang pertama yang merespon statusnya adalah Tedjas Hadisukmana. Nama pemuda itu membuat ingatan menyebalkan di masa orientasi kampus muncul di benak Gita. Gara-gara Tedjas, kelompoknya hampir tidak lulus masa orientasi. Itu sebabnya Gita merasa curiga Tedjas akan mengacaukan permainan pay it forward ini.
Benar saja setelah beberapa lama, Tedjas sama sekali tak mengikuti instruksi. Didorong oleh rasa kesal, Gita menemui Tedjas dan menuduh yang bukan-bukan. Namun karena merasa bersalah, akhirnya Gita mendatangi rumah Tedjas. Di sanalah Gita mendapati siapa Tedjas yang sebenarnya. Alasan mengapa Tedjas terlihat begitu penyendiri.
Saat Gita menghadapi masa-masa sulit dengan ayahnya, justru Tedjas yang mendukungnya, menemani Gita mencari akarnya. Lalu akankah cinta benar-benar bersemi di tengah permainan ini?

---------------

Saya merasa lini Young Adult terbitan Gramedia selalu menawarkan cerita yang menarik. Ide-ide ceritanya selalu fresh dan konfliknya lebih greget bahkan bila dibandingkan dengan Amore yang memang lebih sering mengecewakan. Ini membuat saya berpikir bahwa masa young adult memang masa krusial yang berpotensi menghadirkan banyak konflik dan memberi pelajaran hidup.

Duuuh... kenapa saya malah ceramah soal young adult? Hahha...
Tapi memang, membaca Pay It Forward memberi saya kenikmatan yang membuat saya nggak bisa berhenti demi mengikuti liku perjalanan Gita. Dengan apik dan rapi, Emma Grace membangun kisah yang memikat.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Paling banyak tentunya dari sudut pandang Gitta, lalu sisanya beralih-alih dari sudut pandang sang ayah, nenek dan Tedjas. Dan tentu saja bagian favorit saya adalah setiap kali sudut pandang diungkap melalui sisi Tedjas. Saya memang suka jika novel menampilkan sudut pandang tokoh pria karena... siapa sih yang bilang hati wanita susah dimengerti? Justru para prialah yang terlalu rumit dan sulit dipahami. *diiih malah curhat* XD

Saya sebenarnya sebal-sebal gemas terhadap karakter Gitta. Dia selalu melihat segala sesuatunya hanya dari satu sisi. Gitta menganggap Tedjas brengsek dan merugikan, tapi lihatlah... begitu dia datang ke rumah Tedjas, dia pun akhirnya menemukan sisi lain dari kepingan diri Tedjas. Tapi main tuduhnya Gitta itu... hufff... saya aja sakit hati bacanya. Eaak...
Sekarang saya boleh nggak meluk Tedjas? :p
Tedjas ternyata asyik banget karakternya. Cowok yang sayang sama ibunya dan selalu memikirkan perjuangan sang ibu itu romantis, ya nggak sih? Pantas lah kalau kemudian perlakuannya pada Gitta... bikin meleleh. Keren lah ya cowok sebegitu khawatirnya sama si cewek sampai hapal perilakunya. Saya mau deh kalau diminta tukeran tempat dengan Gitta. Hahaha...
Karakter Papa atau Ayah ya.. saya lupa. Wkkwk~ Papanya Gita langsung mencuri perhatian saya. Pada awalnya saya kira beliau orang yang overprotektif... tapi ternyata pengekangannya masih punya batas kelonggaran. Papa yang romantis yang seharusnya dimiliki oleh semua anak gadis di dunia ini. Sweet... meski keras kepala juga. Tapi saya paham lah perasaan si Papa, karena kami senasib sama-sama pelaku kawin lari.

Semula saya kira konfliknya hanyalah urusan menyelesaikan permainan Pay It Forward dan usaha Gitta untuk membujuk Tedjas melaksanakan bagiannya. Ternyata ada masalah yang lebih besar dan lebih bikin berlinang air mata. Tentang usaha Gitta mencari tahu di manakah sang nenek dari pihak mamanya. Apa yang terjadi di masa lalu yang membuat papa menyembunyikan fakta tentang keluarga sang mama. Ada kemarahan, kesedihan, dan keharuan yang silih berganti antara Gitta dan papa dan mengambil porsi yang menghancurkan hati. Saya nangis deh baca novel ini. Tapi yaaa... saya emang cengeng sih. *susut ingus*

Tapi penyelesaiannya heartwarming bangeeets. Saya suka endingnya. Juga bagaimana konflik Gita dan Tedjas meruncing lalu diselesaikan. Maniiis.
Saya sih merasa novel ini recommended dan haruuuus dibaca. Bukan hanya kisah percintaannya tapi juga kisah father and daughter yang meresap sampai beberapa hari di hati saya. I love this book and will read another books by Emma Grace :)

Senin, 23 Mei 2016

[Resensi: Kembar Dizigot - Netty Virgiantini] Usaha Nadhira Meraih Tama dan Bakatnya Kembali


Judul buku: Kembar Dizigot
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Wienny Siska
Desain sampul: Chyntia Yanetha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 978-602-03-1397-9
Link Goodreads: Kembar Dizigot




BLURB

Nadhira stres berat ketika pergelangan tangan kanannya cedera akibat ulah Kemal, si Onta Padang Pasir! Ke mana-mana ia harus menggendong tangannya yang dibalut slab gips. Apa-apa pun harus dibantu. Yang lebih menyakitkan, Ayah melarangnya pacaran dengan Narotama, dan kesempatan itu justru dimanfaatkan oleh kembarannya, Bashira, untuk mendekati cowok yang sama-sama mereka sukai itu. Nggak fair! Dasar saudara kembar pengkhianat! Mentang-mentang Bashira lebih cantik dan lebih pintar, ya?
Ketika tangannya sembuh, Nadhira semakin galau mendapati kenyataan ia tak bisa menggambar seperti dulu lagi. Arggh... ternyata begini risikonya jatuh cinta, cemburu, patah tangan sekaligus patah hati kuadrat. Sakitnya nggak cuma di sini–menunjuk dada–tapi di mana-mana.
Untung ada anak-anak "Pintu Belakang" yang terus menyemangati Nadhira berlatih. Hingga akhirnya ia punya kesempatan membalas dendam lewat ilustrasi di majalah sekolah. Ia bertekad membuat Bashira dan Narotama bertekuk lutut!


RESENSI

Nadhira merasa nelangsa. Pertama karena tangannya yang luka membuatnya jadi bergantung pada orang lain dan membuatnya merasa lemah. Yang kedua Tama mulai dekat-dekat lagi dengan Bashira. Padahal ayah sudah melarang mereka pacaran, tapi saat melihat Tama berduaan dengan Bashira di teras rumah, ayah sama sekali tidak marah. Sungguh tak adil.
Rasa frustasi Nadhira tak juga menghilang meski slab gips-nya telah dilepas. Karena ia tak lagi bisa menggambar sebagus dulu! Selama ini Nadhira bisa bersikap santai menghadapi ketidakadilan karena ia bisa menuangkan perasaan melalui lukisan, tapi sekarang ia tak lagi bisa melakukannya. Kecelakaan gara-gara membela Raven yang dikeroyok gerombolannya Kemal membuat Nadhira tak lagi bisa menggambar. Dalam keputusasaannya itulah Nadhira menyalahkan Kemal. Gara-gara Kemal, Nadhira tak lagi bisa melukis. Gara-gara Kemal, Nadhira harus putus dengan Tama dan membuat Tama dekat dengan Bashira lagi.
Bisakah tangan Nadhira sembuh seperti sedia kala? Dan siapakah yang akhirnya memenangkan hati Nadhira?

---------------

Kembar Dizigot adalah novel lanjutan dari Lho, Kembar Kok Beda? dan masih bercerita seputar konflik antara Nadhira dan Bashira. Novel inilah yang akhirnya menjawab pertanyaan yang menggantung di ending novel sebelumnya.
Di sini Nadhira mulai berubah, konflik mulai menajam dan situasi mulai nggak pasti. Nadhira mulai berdebar-debar sama Kemal. Ahaha...

Saya suka persahabatan yang mengambil banyak porsi dalam Kembar Dizigot. Raven dan anggota geng "Pintu Belakang" tetap ada di dekat Nadhira dan mendukung gadis itu bahkan saat Nadhira uring-uringan.
Lagi-lagi Bu Sharma lah yang menjadi penyelamat bagi Nadhira. Tempat Nadhira curhat dan mengungkapkan unek-unek. Hmm~ tapi mengapa namanya berubah jadi Bu Sharma ya? Bukannya di novel sebelumnya, nama bu guru BP ini Bu Sharmila?

Masih dengan gaya bertutur yang ringan dan manis, Netty Virgiantini kali ini memberi porsi yang lebih bagi Kemal. Di sini nggak ada flirting diam-diam antara Nadhira dan Tama atau ucapan-ucapan singkat Tama yang bikin meleleh itu. Yang ada adalah usaha Kemal untuk mendekati Nadhira, juga sikap kesatrianya menerima kemarahan Nadhira. Aduuh... aduuhh... kok saya yang meleleh XD

Karakter tokohnya masih sama dan masih konsisten. Hanya Bashira saja yang terlihat semakin egois. Emosi banget ketika Bashira nanya sama Nadhira bagaimana perasaan Nadhira kalau Bashira dekat dengan Tama? Ih... saya terbawa emosi jiwa jadinya.
Nadhira juga sempat merasa down dan egois karena menimpakan kesalahan pada Kemal, tapi salut dengan usahanya untuk kembali jadi dirinya sendiri.

Saya merasa konflik dalam novel ini lebih berat, bukan lagi tentang cinta segi tiga tapi juga tentang usaha Nadhira untuk bangkit setelah gagal. Nggak ada yang instant... bahwa bakat juga harus dilatih.
Sayangnya konflik yang sebenarnya mengganggu saya sejak novel pertama nggak terselesaikan juga. Tentang ayah yang selalu membandingkan Bashira dan Nadhira, yang terlalu sering menuduh dan merendahkan Nadhira dan nggak memuji bakat Nadhira. Saya gemaaaas... saya pengin ayah melihat kemampuan Nadhira, mengungkapkan kebanggaannya, melihat bahwa Nadhira berharga. Duuh... 

Endingnya melegakan dan menggemaskan. Lega karena sepertinya masih akan ada kesempatan buat Kemal. Mungkin... setelah ratusan purnama? Ahaha...

Nah buat teman-teman yang ingin merasakan kisah percintaan yang manis dan unyu, yang sederhana tapi bermakna dalam coba deh baca dwilogi ini, dijamin bakal senyum-senyum geli dan lumer meleleh. Dan tentunya bakal terinspirasi oleh perjuangan Nadhira untuk menjadi dirinya sendiri.

Senin, 16 Mei 2016

[Blogtour: Review & Giveaway] Purple Eyes - Prisca Primasari





Judul buku: Purple Eyes
Penulis: Prisca Primasari
Penyunting: Cerberus404
Proofreader: Seplia
Design cover: Chyntia Yanetha
Penerbit: Penerbit Inari
Tahun terbit: Mei 2016
Tebal buku: 144 halaman
ISBN: 978-602-74322-0-8




BLURB

Karena terkadang
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju.
Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.


RESENSI

Telah 120 tahun semenjak kematiannya di tahun 1895. Sebanyak itulah waktu yang dihabiskan Lyre menjadi asisten Hades. Pekerjaan yang monoton dan membosankan; membantu Hades mengarsip data orang-orang yang telah mati, rutin membuatkan Hades minuman, dan melakukan apa pun yang diperintahkan Hades, sang dewa kematian.
Akhir-akhir ini banyak orang mati dengan kasus yang sama. Kehilangan levernya. Untuk itulah Hades ditugaskan ke bumi dan menghentikan si pembunuh yang masih berkeliaran di Trondheim, Norwegia. Hades pun mengajak Lyre untuk membantunya.
Di bumi mereka menjelma menjadi Halstein dan Solveig, tujuan mereka adalah mendatangi Ivarr, salah satu kakak korban. Mereka mengaku sebagai warga Inggris yang ingin memesan souvenir dari Ivarr. Selama itu Hades menugaskan Solveig untuk mendekati Ivarr, untuk membangkitkan perasaan Ivarr yang selama ini dingin dan hampa.
Tanpa Solveig sadari kedekatan ini lama-lama semakin berbahaya. Ia bisa saja jatuh cinta. Padahal dunia mereka berbeda. Dan Ivarr adalah kunci Hades dalam menjalankan misinya memburu si pembunuh.

------------------

Prisca Primasari telah lama menjadi penulis kesukaan saya. Saya selalu menyukai gaya bahasanya yang baku tapi enak dan mengalir saat dibaca. Kali ini melalui Purple Eyes rasa kagum saya semakin menjadi.

Meski tipis tapi Purple Eyes benar-benar berbobot. Kisahnya singkat tapi padat. Dalam perjalanan Solveig selama menggali perasaan Ivarr, mereka membahas tentang The Scream, tentang Ibsen, bahkan tentang makhluk-makhluk legenda semacam fossegrim dan kelpie. Muatan berat dan padat ini toh tetap pas juga takarannya. Nggak ada yang berlebihan atau informasi yang dipaksakan. Semuanya dimasukkan dengan rapi dalam adegan dan dialog mereka.
Ada nuansa muram dan magis yang meliputi kisah ini. Rasanya begitu kuat dan konsisten sepanjang cerita. Bahkan saat Lyre dan Hades saling melempar lelucon pun yang terasa adalah humor yang sendu.

Saya merasakan kuatnya karakter tokoh dalam Purple Eyes. Terutama Ivarr. Ivarr wujud pria yang takut merasa karena takut tersakiti. Kehilangan demi kehilangan membuatnya membentengi diri. Namun kehadiran Solveig perlahan mengubahnya. Perubahan yang saya nanti-nantikan dengan penuh rasa penasaran dan berdebar-debar. Perubahan yang meski hanya sedikit tapi membuat saya meleleh dalam rasa hangat. Aww... manisnya.

Purple Eyes juga membuat saya penasaran pada misi Hades yang melibatkan Ivarr. Saya merasa cemas dan was-was sebelum si pembunuh diketemukan. Prisca dengan cerdik hanya memberi clue sedikit demi sedikit dan membuat saya menebak-nebak sendiri.

Bagi saya Purple Eyes sudah terasa pas. Kemungilan novella ini nggak menjadikan cerita hanya mengambang tanpa volume. Justru kisahnya padat, kuat dan dituntaskan dengan apik. Pun diselesaikan tanpa berlebihan. Maka, ya... saya benar-benar jatuh cinta pada Purple Eyes.


*********GIVEAWAY TIME**********




Naah... sudah membaca review saya? Sudah makin penasaran dengan si pemilik mata hampir ungu alias Purple Eyes?
Tenang, saya punya satu eksemplar Purple Eyes persembahan Penerbit Inari untuk dibagikan.

Caranya mudah saja:

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau berdomisili di Indonesia.

2. Follow akun twitter @penerbitinari @priscaprimasari dan akun saya @KendengPanali

3. Share giveaway ini dengan hashtag #GAPurpleEyes dan jangan lupa mention ketiga akun di atas

4. Boleh banget kalau kamu follow blog saya via email atau GFC

5. Tuliskan nama | akun twitter | alamat email kamu serta jawaban pertanyaan berikut di kolom komentar

Makhluk mistis yang disukai Ivarr adalah Fossegrim, sejenis peri yang tinggal di tengah-tengah air terjun. Mereka bersenandung dan bermain fiddle.
Bagaimana dengan kamu? Makhluk mistis apa yang kamu sukai? Dan mengapa?

6. Giveaway hanya berlangsung dua hari dan akan ditutup besok tanggal 17 Mei 2016 pukul 23.59 WIB.

7. Yang terakhir good luck ya ;)

Sabtu, 14 Mei 2016

[Resensi: Lho, Kembar Kok Beda? - Netty Virgiantini] Kisah Cinta Si Kembar yang Berbeda


Judul buku: Lho, Kembar Kok Beda?
Penulis: Netty Virgiantini
Editor: Wienny Siska
Desain sampul: Chyntia Yanetha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Februari 2015 (cetakan kedua)
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-0696-4




BLURB

Semua kesempurnaan cewek ada dalam diri Bashira. Wajahnya bulat, kulitnya kuning langsat. Rambut hitamnya bergelombang indah, pas dengan postur tubuhnya yang tinggi berisi. Kecerdasannya membuat Bashira selalu berada di posisi tiga besar dan terpilih menjadi sekretaris OSIS.
Tidak ada yang menyangka Nadhira yang "ancur" adalah kembaran Bashira. Wajahnya oval dengan kulit kecokelatan. Rambutnya selalu dipotong pendek supaya irit sampo. Tubuhnya mungil dan kurus, mirip papan penggilasan. Dia selalu kesulitan mengikuti pelajaran sehingga wajib mengikuti kelas tambahan. Belum lagi, ia langganan dipanggil guru BP karena ketahuan menggambar saat jam pelajaran berlangsung.
"Lho, kembar kok beda?" Pasti begitu komentar orang-orang.
Setelah tujuh belas tahun hidup dalam perbedaan, akhirnya mereka menyadari satu persamaan: sama-sama menyukai Narotama! Tapi bisakah mereka bersaing secara fair dan terbuka? Atau malah terjebak dilema antara cinta dan saudara?

RESENSI

Dari kecil Nadhira sudah terbiasa jika ada yang mempertanyakan hubungannya dengan Bashira. Dirinya dan Bashira berbeda bagai bumi dengan langit, pantas jika orang-orang sering berusaha memastikan apakah mereka benar-benar kembar. Bukan hanya perbedaan secara fisik, tapi juga sifat dan kapasitas otak.
Nadhira tak pernah mempermasalahkannya. Tak pernah protes jika dibandingkan. Ia menyadari kekurangan-kekurangannya. Itu sebabnya saat ia jatuh cinta pada Narotama, teman sekelas mereka, Nadhira lebih memilih memendamnya. Ia lebih suka menuangkan perasaannya di lembaran kertas dan mengamati Tama diam-diam karena Tama lebih sering menghabiskan waktu bersama Bashira. Apalagi Nadhira punya Raven, teman yang sudah ia anggap adik sendiri serta geng pintu belakang yang selalu menghiburnya.
Nadhira juga sibuk bertengkar dengan Kemal yang sering mengejek Raven dan menyebut Raven banci jika melihat Raven bersama Nadhira. Kemarahan Nadhira terpancing, ia pun melabarak Kemal dan balas mengejek Kemal.
Namun tanpa sengaja, sketsa wajah Tama yang dibuat oleh Nadhira diketahui Tama. Nadhira jelas kebakaran jenggot. Harap-harap cemas akan reaksi Tama. Puncaknya ketika ulang tahun Nadhira dan Bashira yang ketujuh belas, Tama datang dan membawakan bunga untuk Bashira. Nadhira pias. Ia merasa Tama memang menyukai Bashira.
Namun sebuah kado mungil tanpa nama berisi kalung berliontin bintang dan sebait puisi yang didapatnya membuat Nadhira bertanya-tanya. Siapa yang telah memberi Nadhira kado indah itu? Raven, Kemal atau malah Tama?

------------

Setelah lama nggak baca teenlit, Lho, Kembar Kok Beda? memberi saya kesempatan untuk menyusuri mesin waktu... kembali merasakan jadi anak SMA lagi. Hahaha...
Lah... kenapa bisa begitu?
Saya selalu merasa terkoneksi dengan tulisan Netty Virgiantini. Gaya berceritanya yang khas dan penuh kesederhanaan itu mirip dengan masa sekolah saya. Yang nggak neko-neko, yang seru-seruan bareng teman bisa dilakukan di sudut sekolah atau di kantin. Yang jatuh cinta nggak mesti harus dengan atlit basket atau playboy cap kapuk.

Lho, Kembar Kok Beda? mengusung kisah perseteruan batin antara dua saudara kembar yang mencintai cowok yang sama. Biasa? Klise? Mungkin saja. Tapi kisah ini dibungkus dengan keunikan dan kekhasan gaya bertutur Netty Virgiantini. Tentu rasanya beda dong ;)

Saya menganggap penulis ini pintar dalam menarik simpati pembaca untuk ditujukan kepada karakter tokohnya. Dari awal saya sudah pengin meluk Nadhira. Mengapa orangtua dan guru yang seharusnya membimbing dan mendidik justru malah nggak memiliki kepekaan terhadap anak dan anak didiknya. Hal inilah yang berusaha 'disentil' oleh Netty Virgiantini.
Bahkan anak kembar pun bisa berbeda, masing-masing pasti memiliki bakat dan kecerdasannya sendiri. Mengapa orangtua dan guru lebih mementingkan nilai pelajaran daripada bakat seorang anak?
Di sinilah peranan Bu Sharmila sang guru BP diwujudkan. Dengan apik, Netty menyoroti bahwa guru BP bukan guru penghukum tapi guru pembimbing yang semestinya bisa menjalin hubungan kepercayaan dengan murid dan mengenali potensi-potensi muridnya.

Dan seolah untuk menunjukkan bahwa pintar dalam pelajaran bukanlah kunci segalanya, Nadhira justru memiliki banyak pengagum rahasia: Kemal, Raven dan Tama.
Nggak perlu heran, meski biasa saja dan nggak berbody aduhai, Nadhira jelas memiliki pesonanya sendiri. Dia baik, setia kawan, dan apa adanya. Be herself. Ini yang penting. Jadilah dirimu sendiri. Jangan minder hanya karena nggak pintar, nggak cantik, nggak jadi kebanggan guru, karena setiap anak pasti punya keistimewaannya sendiri.
Di sisi lain ada Bashira... yang bertolak belakang dengan Nadhira. Mungkin karena egonya sering diangkat oleh orang-orang di sekitarnya, Bashira langsung terpuruk saat menemui kegagalan. Sedikit egois memang. Apalagi begitu jatuh, nilai-nilainya anjlok, bukannya diminta berbenah diri dan melihat kenyataan, Bashira justru dilindungi orangtuanya. Sumber masalahnya adalah dalam diri Bashira sendiri tapi ayah mereka mengkambinghitamkan hubungan Nadhira dan Tama.

Sedangkan karakter Tama memang tipikal karakter yang selalu muncul di novel karya Netty Virgiantini: sopan, kalem tapi juga lucu. Adem banget rasanya. Hehe...
Selain Tama juga ada Kemal, yang jadi favorit saya. Hmm~ kalau saya ada di posisi Nadhira kayaknya saya bakal naksir Kemal. Nakal tapi pintar. Lebih all out nunjukin perasaannya. Pas adegan Kemal duduk bersila di depan Nadhira, dan bantuin Nadhira ngerjain soal, malah saya yang deg-degan. Hahaha...
Lalu sosok Raven tadinya saya pikir hanya sebagai pelengkap. Tapi rupanya Raven punya porsi yang lebih. Sering kan ya di masa SMA... ada saja yang terjebak friendzone. Tapi justru, dari Raven saya megerti, orang paling kuat adalah orang yang tahan berada dalam jebakan friendzone. :))
Di novel ini saya mendapati pengkarakteran yang kuat dan berciri khas. Masing-masing tokoh tampil sesuai karakternya. Saling mengisi dan melengkapi.

Ending novel ini memang masih menggantung. Belum benar-benar selesai karena akan ada lanjutannya di novel berikutnya: Kembar Dizigot. Jadi sepertinya saya bakal kembali terlarut dengan kisah si kembar yang bertolak belakang ini.
Tapi sebelumnya saya katakan, Lho, Kembar Kok Beda? benar-benar novel teenlit yang asyik dan seru. Sedikit konyol tapi huhuuu... keromantisannya bikin meleleh. Recommended deh pokoknya.

Jumat, 13 Mei 2016

[Resensi: Unclaimed - Courtney Milan] Sang Courtesan dan Sang Perjaka


Judul buku: Rayuan Sang Courtesan
Judul asli: Unclaimed
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Lingliana
Editor: Eka Pudjawati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli 2013
Tebal buku: 432 halaman
ISBN: 978-979-22-9753-9




BLURB

Tampan, kaya, dan terhormat, Sir Mark Turner merupakan bujangan paling diminati di London. Terkenal berkat buku karyanya dan reputasi pria yang menjaga kesucian, Mark dianggap sebagai sosok panutan yang dipuja. Tak sedikit orang yang muak melihat pemujaan yang diterima Mark, namun siapa sangka ternyata ia sendiri tak menikmati itu semua.

Sementara itu, karena terdesak sekaligus penasaran, Jess menerima tantangan yang diberikan padanya: merayu Sir Mark dan membeberkan kisahnya kepada publik. Sebagai courtesan, merayu bukan hal baru dan tentu takkan sulit bagi Jess. Namun ternyata itu memang sulit, karena ketika ia menyadari cintanya untuk Mark, ia harus memilih antara masa depan yang ia dambakan atau cinta yang ia tahu mustahil.


RESENSI

Begitu buku panduan gentleman terbit, ketenaran membuat Mark Turner menjadi bujangan potensial. Apalagi sang ratu sendiri telah membaca buku filsafat tentang kesucian itu dan kemudian memberikan gelar knight pada Mark atas kontribusinya pada moralitas umum.
Merasa lelah dengan orang-orang yang mengelu-elukannya, Mark memilih menyepi ke Shepton Mallet, pedesaan di mana ia dulu tinggal bersama ibu dan kakak-kakaknya. Tapi dugaannya salah. Meski jauh dari ingar bingar London, rupanya penduduk desa itu juga mengenali 'kesucian' Mark.
Tepat di hari pertama kedatangannya, Mark bertemu dengan Mrs. Jessica Farleigh, seorang janda yang menjadi penduduk baru di Shepton Mallet. Kecantikan dan gaya busanannya yang provokatif membuat Mrs. Farleigh dikucilkan. Penduduk desa pun berusaha mati-matian untuk menjauhkan Mark dari wanita itu.
Dengan cepat Mark menyadari kontradiksi dalam diri Mrs. Farleigh. Meski tertarik, Mark tetap menolak rayuan wanita itu.
Jessica Carlisle telah meninggalkan kehidupannya sebagai putri pendeta dan menjalani kehidupannya sebagai courtesan. Hingga satu kejadian membuatnya merasa hampa. Maka ia mengajukan diri kepada George Weston untuk merayu Sir Mark Turner yang suci dan berniat mempublikasikannya di ton. Tapi dalam menjalani misinya, Jessica menyadari kebenciannya pada Mark memudar dan mendapati Mark sepenuhnya pria yang tak keberatan dikalahkan oleh wanita.
Kini dalam dilemanya, akankah Jessica tetap melanjutkan misinya menghancurkan reputasi Mark atau justru berani menerima cinta yang ditawarkan sang perjaka suci?

-----------

Unclaimed merupakan buku kedua seri Turner, rupanya si bungsu lebih dulu menemukan wanitanya ^^
Dibanding buku pertamanya yaitu Unveiled, novel ini lebih dalam lagi menyoroti perilaku bangsawan di masa lalu. Mengambil setting tahun 1841, Unclaimed membidik dan mencemooh kesucian para bangsawan di masa itu melalui Mark yang menulis panduan gentleman tentang kesucian. Bukannya memahami apa yang coba dijelaskan oleh Mark, masyarakat menerjemahkan bahwa demi menjunjung kesucian, maka wanita tak bermoral harus dikucilkan. Bahwa wanita tak bermoral adalah musuh yang berbahaya dan harus diwaspadai.
Lalu muncullah Jessica, wanita yang merupakan simbol yang melawan kesucian. Jessica adalah courtesan. Berbeda dari pelacur, courtesan bukan hanya dibayar untuk seks semata, tapi seorang courtesan biasa memiliki pelindung yang membiayainya, dan sebagai balasannya seorang courtesan akan menemani ngobrol atau berdiskusi, mengusahakan kenyamanan, menemani berburu atau kegiatan lain. Jadi seorang courtesan memang harus cerdas dan pandai menempatkan diri.
Dan saya merasa Jessica ini keren banget, dia bisa mendebat Sir Mark dengan sinisme terselubung, jago menembak, dan cerdas. Momen favorit saya tentunya adalah ketika Mark dan Jessica ada di perlombaan menembak. Mark payah banget dalam mengenai sasaran, dan Jessica berusaha nggak membuat Mark malu dengan cara ikut-ikutan payah. Tapi Mark menyadarinya dan menuntut Jessica menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Mark dikalahkan... telak. Ada ego pria yang harus Mark ajak berdamai dalam dirinya. Dikalahkan wanita dalam hal yang maskulin tentu berat. Haha...

Di buku ini juga akhirnya terungkap misteri yang tadinya masih jadi tanda tanya besar di buku pertama. Tentang mengapa Edmund menyebut Mark berbahaya dan menakutkan, padahal Mark tampak polos dan menyenangkan. Teungkap juga mengenai kegilaan sang ibu dari sisi Mark. Saya menyadari rupanya kegilaan sang ibu memberi pengaruh berbeda bagi tiga orang anak lelakinya. Mark rupanya lebih memahami kegilaan itu... dan lebih terpengaruh.

Lagi-lagi saya menangis. Astaga. Saya benar-benar jadi cengeng saat membaca karya Courtney Milan. Adegan-adegannya manis, kalimat-kalimatnya menyentuh, dan konfliknya benar-benar dituntaskan. Semua konflik. Beberapa novel hanya terfokus menuntaskan satu masalah utama, tapi Courtney Milan selalu menuntaskan semua konflik dalam novelnya.

Nah... saya rasa Unclaimed cukup memuaskan meski nggak sebagus Unveiled. Tapi saya jamin... Courtney Milan benar-benar pintar mengaduk perasaan. Maka, sepertinya ini waktunya untuk membaca buku ketiga, kisah si Smite Turner, karakter favorit saya. :)))

Senin, 09 Mei 2016

[Resensi: Unveiled - Courtney Milan] Menyingkap Penyamaran Sang Lady


Judul buku: Penyamaran Sang Lady
Judul asli: Unveiled
Seri: Turner #1
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Lingliana
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2013
Tebal buku: 472 halaman
ISBN: 978-979-22-9608-2



BLURB

Ash Turner menanti bertahun-tahun untuk membalas dendam kepada pria yang menghancurkan keluarganya. Dan kini saatnya telah tiba. Ia tiba di Parford Manor, bertekad merebut gelar duke dan menguasai segalanya. Tak disangka, ia malah berjumpa dengan sosok jelita yang kelak menggoyahkan niatnya.

Sementara itu, Lady Anna Margaret Dalrymple harus mempertahankan penyamarannya sebagai perawat di Parford Manor. Sebagai mata-mata yang ditempatkan kakaknya, ia harus melaporkan semua hal yang mungkin dapat di manfaatkan untuk menjatuhkan Ash. Namun ketika mendapati Ash tak seburuk yang ia sangka, Margaret tak yakin di mana ia harus menempatkan kesetiaannya...


RESENSI

Kesempatan Ash Turner untuk membalas dendam sudah tiba. Yang menjadi prioritas Ash adalah kebahagian adik-adiknya. Apa pun akan ia lakukan asal kehidupan adik-adiknya terjamin, termasuk harus merampas gelar duke dari Duke of Parford.
Ash menyerahkan bukti tentang perkawinan pertama Duke of Parford kepada majelis pendeta, ini menyebabkan perkawinan keduanya dianggap tidak sah atas dasar bigami. Anak-anak yang dihasilkan dari perkawinan itu dinyatakan tidak sah dan tidak boleh menjadi ahli waris. Itulah sebabnya, sepupu kelima sang duke yang sejak dulu dibenci–yang adalah Ash–menjadi ahli waris.
Ash kemudian mengajak adik bungsunya, Mark Turner, untuk mendatangi Shepton Mallet, manor milik Parford, untuk mengawasi harta warisannya agar tidak dihamburkan selama menanti keputusan parlemen dan masa sekarat Duke of Parford tua.
Setiba di manor, Ash langsung jatuh hati pada seorang pelayan yang alih-alih menundukkan kepala, namun justru menatapnya dengan mata membangkang. Margareth Lowell, perawat pribadi Duke of Parford dengan segera menjadi pusat perhatian Ash. Namun Ash menyadari ada banyak kemisteriusan yang menyelimuti Margareth.
Lady Anna Margareth Dalrymple adalah putri bungsu Duke of Parford. Ia membenci Ash... pada mulanya. Margareth tak menyangka bahwa pria yang membuat statusnya menjadi anak haram dan merampas hak waris kakak sulungnya, Richard Dalrymple, adalah pria muda gagah dan penuh pesona. Selagi menyamar sebagai perawat pribadi ayahnya, Margareth punya misi khusus untuk mengamati dan menyelidiki tindak-tanduk Ash, untuk dilaporkan ke kakaknya.
Tapi Ash Turner pria yang pintar menempatkan diri. Ia bukan jenis pria bangsawan kebanyakan, Ash pria yang menganggap pelayan setara dan meributkan status anak haram hanyalah kebodohan.
Ketika Margareth jatuh makin dalam, ketika Ash mempercayakan kelemahan dan kerapuhannya dalam genggaman Margareth, hati Margareth terbelah. Loyalitasnya bercabang. Di satu sisi ia ingin tetap ada di sisi Ash dan mendukung pria itu, di sisi lain kakak-kakaknya adalah pihak yang harus ia bela. Kepada siapa Margareth menyerahkan kesetiaannya? Dan mana yang penting bagi Ash: kebahagiaan Margareth atau kebahagiaan adik-adiknya?

--------------

Beberapa saat lalu notifikasi di Ijak saya menunjukkan bahwa ada buku yang direkomendasikan seorang teman. Ternyata Mbak Desty yang memberi saya rekomendasi novel historical romance ini. Saya sempat meminjam tapi tak terbaca dan akhirnya kembali dengan sendirinya. Pinjam lagi, tak terbaca lagi. Hahah~ saya memang jenis pembaca yang lebih nyaman baca buku fisik. Tapi toh akhirnya saya baca juga novel ini dan... terkesima.

Novel ini bersetting di Somerset, cerita dimulai di bulan Agustus tahun 1837 tepat saat Ash dan Mark berkuda menuju manor Parford. Dan hampir 80% setting tempatnya adalah di dalam manor. Tapi nggak ada kejenuhan sama sekali saat emosi para tokohnya begitu kuat dan tersampaikan. Membaca novel ini, yang alurnya begitu lambat, justru membuat saya geregetan dan penasaran. Cara bertutur Courtney Milan benar-benar membuat saya terseret ke dalam kisah ini dan sulit berhenti.

Ash Turner. Ash. Teman-teman yang mengenal saya pasti tahu saya adalah fans Ash atau Acheron dalam serial Dark Hunter milik Sherrilyn Kenyon. Begitu kuatnya image Ash hingga setiap nama ini muncul, bayangan yang terbentuk dalam pikiran saya adalah Ash milik Sherrilyn Kenyon.
Tapi... damn! Ash dalam novel ini benar-benar beda dan membuat saya melupakan Ash milik SK. Ash Turner bisa jadi hero yang paling nggak menuntut sejauh yang saya baca. Ash membebaskan, tetap ada namun dalam jarak aman, memberi kuasa penuh pada Margareth untuk maju atau untuk lari. Pada akhirnya jika mereka berhubungan itu benar-benar kehendak Margareth. Ash juga punya kekurangan. Yang membuatnya merasa malu... kekurangan yang membuatnya terlihat lemah. Ini menjadikan Ash tampak manusiawi.
Margareth tipikal heroine favorit saya. Berani, berlidah tajam namun penyayang dan berdedikasi. Kelemahannya mungkin terlalu emosional, dan mudah percaya. Tapi justru dialognya yang bisa membuat saya menangis. Oh.. ya, saya menangis membaca novel ini. Ketika dengan gagah berani Margareth menghadapi Smite Turner dan menuding pria itu kejam karena mengabaikan Ash. Namun jawaban Smite benar-benar di luar dugaan saya.

Ya ini adalah novel tentang keluarga dan persaudaraan. Satu elemen yang saya sukai dalam sebuah novel. Persaudaraan yang hangat yang saling mendukung. Kakak-beradik Turner benar-benar family men. Saya jadi penasaran dengan cerita Smite. Tapi itu bisa nanti, setelah saya menyelesaikan review ini.

Sumber konflik novel ini sepertinya diriset dengan sangat baik. Tentang seluk beluk bigami, tentang perebutan gelar dan bagaimana masyarakat pada masa itu memandang status anak haram. Dari pihak Ash ada rasa dendam, bukan hanya terhadap Duke of Parford yang telah menyebabkan adik perempuan Ash meninggal, tapi juga pada kedua kakak Margareth, Richard dan Edmund, yang telah membuat kehidupan Smite dan Mark begitu sulit selama bersekolah di Eton. Juga ada rasa ingin membahagiakan adik-adiknya yang pernah terlantar di jalanan. Namun ketika ia menyadari siapa Margareth dana apa yang akan dialami gadis itu jika Ash diputuskan menjadi duke, seketika Ash merasa terbelah.
Margareth sendiri punya konflik batin yang nggak kalah besar. Ia ingin mendukung Ash namun ia tahu kesetiaan seharusnya hanya milik Richard. Jika Richard gagal jadi duke, mereka benar-benar jadi anak haram dan nggak punya tempat di kelas sosial mana pun.

Aaah... saya puas sekali membaca novel ini. Sempat kaget dengan endingnya, tapi sebenarnya saya tahu itulah yang akan dilakukan Ash. So... tunggu apa lagi? Coba deh baca Unveiled ;) 

Sabtu, 07 Mei 2016

[Resensi] Fenomenologi Wanita Ber-high heels


Judul buku: Fenomenologi Wanita Ber-high heels
Penulis: Ika Noorharini
Editor: Sori Siregar
Creative Director: Yuri Heikal Siregar
Ilustrator: Tigana Dimas Prabowo & Firas Sabila
Fotografer sampul: Erich Silalahi
Penerbit: PT Artha Kencana Mandiri
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 112 halaman
ISBN: 9786027306905



BLURB

Bagaikan sebuah kekuatan terpendam, high heels bukanlah sekadar makna dan benda konkret karena wanita mendapatkan kepercayaan diri yang dapat membius siapa pun di sekitarnya. Keragaman makna high heels bagi wanita membentuk konsep diri masing-masing yang berbeda secara diametral.


RESENSI

Buku Fenomenologi Wanita Ber-high heels saya terima sejak sebulan lalu, tapi baru sekarang saya bisa santai membacanya. Setelah selesai saya nyesel banget... kenapa nggak sedari kemarin saya membaca buku yang asyik ini. Maka jadilah buku setebal 120 halaman ini saya lahap dalam sekali duduk.

Buku ini awalnya merupakan penelitian dari sang penulis sebagai bahan tesisnya. Lalu kemudian muncul ide untuk membukukannya dan menerbitkannya.
Fenomenologi sendiri mengandung arti sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Ilmu fenomonologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan ilmu hermeneutik, yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena ini.
Maka sudah jelas bahwa paparan yang disampaikan Ika Noorharini adalah paparan yang berdasarkan pengamatannya yang jeli dan faktual. Tapi gaya bertuturnya benar-benar enak sehingga saya tenggelam mengikuti isi buku ini hingha tuntas.

Saya sendiri bukan high heels lover... saya lebih nyaman mengenakan flat shoes ataupun sneakers. Bahkan sandal jepit. Tentu saja karena saya bukan pekerja yang harus tampak menonjol. Mobilitas saya pun hanya terbatas  ke rumah murid, sekolah anak, pasar, swalayan, bahkan rapat pun hanya seputaran di puskesmas, kelurahan dan kecamatan. Apalagi saya adalah pejalan kaki, yang setiap harinya naik-turun trotoar dan aspal jalanan... kalau saya nekat pakai high heels, bisa remuk kaki saya :)))

Meski begitu, saya pernah merasakan menikmati memakai high heels di masa kuliah. Dan saya mengamini paparan penulis dalam buku ini bahwa high heels memang punya kemampuan untuk mendongkrak kepercayaan diri. Membuat mood saya menjadi lebih baik di tiap suara keletukan yang saya buat di lantai. Saya paham kebutuhan wanita untuk mengaktualisasi diri. Saya mengenal banyak teman pekerja yang selalu heboh meributkan high heels bahkan di saat mereka tengah hamil. Tadinya saya sama sekali nggak paham mengapa mereka sebegitu butuhnya dengan high heels. Lha wong ketika saya kerja di sebuah hotel bintang empat pun saya tetap memilih memakai flat shoes. Tapi buku ini akhirnya membuat saya mengerti.

Di halaman awal, Fenomenologi Wanita Ber-high heels menjelaskan tentang sejarah kemunculan sepatu tumit tinggi sejak zaman Yunani Kuno. Ternyata trend high heels justru dimulai oleh para pria! Seru banget mengikuti kisah sejarah high heels dari masa ke masa yang ditulis terperinci dengan ilustrasi yang apik di dalam buku ini.

Selain paparan dari pengamatannya sendiri, Ika Noorharini juga mengundang setidaknya 15 wanita dari beragam profesi yang turut membagi alasan dan kisah unik mereka dalam ber-high heels. Apa yang membuat mereka menahan rasa nyeri dan bertahan dengan high heels yang menyakitkan. Apa yang mereka rasakan saat mengenakan high heels. Seperti apa mereka ingin dipandang membuat mereka menggunakan high heels. Cantik, percaya diri dan sederajat adalah beberapa alasannya.

Pada akhirnya saya menganggap buku ini benar-benar menarik untuk dibaca. Sangat berguna bagi para wanita maupun pria. Ooh... terutama para pria. Agar pria-pria ini nggak lagi mengerenyitkan dahi atau menggerutu saat mendapati pasangannya membeli high heels... lagi. :)))

Kamis, 05 Mei 2016

[Resensi: Les Masques - Indah Hanaco]


Judul buku: Les Masques
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Anin Patrajuangga
Desain kover: Sapta S Soemowidjoko & Lisa Fajar R
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Maret 2014
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 9786022514657



BLURB

Fleur Radella, lahir karena kebuasan hasrat yang tak bisa ditolak. Elektra Valerius, jiwa berani yang terpaksa bersemayam di tubuh yang salah. Tatum Honora, gadis pemurung yang tercipta karena ketidakmampuan manusia menundukkan diri sendiri.

Semua yang dimulai di masa lalu, tak seharusnya menjadi hantu yang menempel tanpa pengampunan. Lalu Adam Dewatra hadir. Menggenapi jejak horror masa lampau.

RESENSI

Kehidupan masa kecil yang dijalani Fleur Radella benar-benar menyedihkan. Lahir dari hasil pemerkosaan, neneknya, Marini, tak pernah menghujani Fleur dengan kasih sayang. Apalagi Reene Isabel, sang ibu yang mempertahankan kehamilannya walau masih SMA, meninggal setelah melahirkan Fleur. Maka semakin besarlah kebencian dan kemarahan Marini yang dilampiaskan pada Fleur. Anak kecil yang polos dan tanpa dosa.
Tak terhitung berapa kali Marini melenyapkan senyum Fleur. Puncaknya ketika Fleur berusia empat tahun, Marini mengunci Fleur di dalam kamar mandi yang gelap dan jarang digunakan. Tanpa peduli tangis histeris Fleur, Marini tak mengizinkan Nana, pengasuh Fleur untuk membukanya. Kala itulah diantara rasa takut Fleur, Elektra Valerius terlahir. Jiwa yang meledak-ledak, spontan dan cerdas bukan main.
Selepas kejadian itu Fleur bukanlah anak kecil yang sama, ia menjadi pendiam dan pemalu. Sifat yang malah mendorong orang-orang di sekitarnya semakin berlaku abusif. Termasuk Xander, saudara kembar ibunya, yang ikut memanfaatkan kesempatan untuk membuat permainan "Heaven" dengan si kecil Fleur. Yang menyebabkan lahirnya Tatum Honora, jiwa muram yang terluka.

Di masa SMA, Fleur terpilih menjadi salah satu finalis cover girl majalah Dara. Tidak ada yang menyangka, Fleur yang pemalu bisa berani ikut audisi dan lolos sebagai finalis. Fleur sendiri heran bukan main, kapan ia menjalani audisi? Mengapa wajahnya bisa tiba-tiba ada di dalam majalah?
Ketika Fleur akhirnya menang menjadi pemenang pilihan pembaca dan mulai ditawari untuk menjadi model, tentu saja Marini melarangnya. Dan... serangkaian kejadian tak enak pun terjadi. Marini meninggal misterius. Para model dan artis yang mencaci Fleur dibungkam satu-persatu. Sutradara yang mencoba melecehkan Fleur babak belur secara misterius.
Namun tentunya ada hal indah pula yang terjadi. Kebahagiaan terbesar saat Fleur bertemu Enrico, mantan kekasih Audrey. Bersama Enrico, Fleur merasakan apa artinya jatuh cinta. Tapi akankah kisah mereka berakhir bahagia?

----------------

Tarik napas... cari tempat duduk... sepertinya ulasan saya bakalan panjang. Haha...

Saya bagai menemukan harta karun saat membaca Les Masques. Saya mengenal Indah Hanaco sebagai penulis novel roman. Bukan roman menye-menye tentu saja, Indah Hanaco selalu membuat karakter heroine yang kuat dan mandiri. Tangguh. Itu yang saya suka dari penulis ini dan mengapa saya setia mengikuti karyanya.
Dalam novel-novel karyanya, Indah juga sering menyelipkan kepahitan hidup sebagai landasan psikologis tokoh-tokohnya. Yang membuat para tokoh ini bulat dan berdimensi. Beberapa kisah bergulir pula dengan kesan semi thriller seperti Tuhan untuk Jemima dan Cinta Sehangat Pagi. Roman berbalut thriller psikologis, yang mungkin memang di luar nalar tapi benar-benar ada.
Les Masques mengambil tema tentang gangguan identitas disosiatif atau yang dulunya disebut gangguan kepribadian majemuk. Ada beberapa kepribadian yang muncul akibat trauma masa kecil yang dialami Fleur. Kepribadian-kepribadian ini kemudian berkembang dan berniat melindungi Fleur dengan caranya masing-masing walau kemudian jadi semakin ekstrim.

Di kala membaca novel Tuhan untuk Jemima dan Cinta Sehangat Pagi, saya merasa sudah deg-degan mampus. Tapi ternyata itu belum seberapa dibanding ketika saya membaca novel Les Masques.
Pertama kali di awal saya dibawa jatuh iba pada Fleur kecil, saya mudah terenyuh, sedih jika jiwa-jiwa kecil yang seharusnya dilimpahi kasih sayang itu disakiti. Bukan hanya dalam bentuk fisik tapi juga secara mental. Terutama mental. Saya tahu betapa menyakitkannya diabaikan. Bahkan saya, yang sudah berusia kepala tiga, masih nggak kuat dengan pengabaian. Saya bisa down dan Anxiety Disorder saya mulai muncul hanya karena pengabaian.
Masih belum cukup dengan satu luka, ternyata ada luka lain yang dialami Fleur. Pelecehan dari pamannya sendiri. Di halaman awal Indah Hanaco sempat mengucapkan permintaan maaf atas penggunaan lagu Heaven dari Bryan Adams. Yaa.. lagu tersebut digunakan Xander sebagai pengiring kegiatan bejatnya. Itulah mengapa ia memberi nama "permainan" yang ia peragakan sebagai Heaven. Saya sendiri penyuka Bryan Adams apalagi lagu Heaven, tapi saya merasa nggak masalah. Seperti halnya Aoyama Gosho menggunakan lagu Let It Be sebagai lagu pengantar yang disiulkan si pembunuh dalam kasus Copycat Murder. Bisa dipahami mengapa Xander menggunakan lagu Heaven, selain lagunya memang berefek menenangkan, itu memang merupakan surga baginya. Tapi tentu saja neraka bagi Fleur dan Tatum :(

Di novel ini saya merasakan kebebasan Indah Hanaco dalam berekspresi. Saya sering mengemukakan mengapa kadang karya Indah Hanaco seolah kurang luwes dan kurang ekspresif. Seolah ada batasan tak kasat mata yang membuatnya kurang lepas. Di sini saya menemukan kisah yang diriset dengan baik, dipaparkan dengan lugas dan dituliskan dengan sepenuh hati.
Memang ada bagian yang saya rasa bisa didebat dan dipertanyakan seperti mengapa Reene tetap dioperasi caesar padahal tekanan darahnya terus naik.

Mengenai karakter, cukup banyak tokoh yang bermunculan dalam novel ini. Marini terasa dingin, menjaga jarak dan kaku. Kelihatan banget kalau dia nggak mau kompromi. Nana, sang pengasuh, meski sayang dan mencintai Fleur tapi juga nggak bisa berbuat banyak.
Enrico adalah cowok khasnya Indah Hanaco. Manis, sopan dan mudah dicintai. Kisah roman antara Enrico dan Fleur cukup memberi kehangatan dan meredam ketegangan.
Masih ada pula Utari, Xander, Audrey dan tokoh lain yang khas pengkarakterannya. Dan bisa saya bilang kalau interaksinya menarik dan luwes.

Sejak awal saya memang sudah menduga siapa Elektra dan Tatum, mengapa mereka muncul pun saya bisa memahami. Yang membuat saya terkejut justru kelahiran Adam dan siapa pelaku yang memicunya. Bom terakhir yang disimpan Indah Hanaco dan kemunculannya memberi ruang bagi saya untuk berimajunasi.
Endingnya sudah pas menurut saya. Layaknya novel atau film thriller yang endingnya memunculkan misteri lainnya, ending Les Masques memberi saya kesempatan untuk membuat ending sendiri.

Bagi saya novel ini jadi favorit saya, karena di sinilah saya menemukan kesejatian Indah Hanaco. Saya menemukan karyanya yang sepertinya ia tulis tanpa beban dan dicurahkan dengan tulus. Bukan berarti novel lainnya tidak ia tulis dengan rasa cinta, tapi di Les Masques saya merasakan kenikmatannya dalam berbagi.
Semoga saja Indah Hanaco kembali membuat novel semacam ini tentu saja yang lebih tebal dan lebih mendalam.

Selasa, 03 Mei 2016

[Resensi: Rencana Besar - Tsugaeda]


Judul buku: Rahasia Besar
Penulis: Tsugaeda
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang sampul: Upiet
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Agustus 2013
Tebal buku: 378 halaman
ISBN: 978-602-7888-65-4



BLURB

RIFAD AKBAR
Pemimpin Serikat Pekerja yang sangat militan dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya.

AMANDA SUSENO
Pegawai berprestasi yang mendapat kepercayaan berlebih dari pihak manajemen.

REZA RAMADITYA
Pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan jelas.

Lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeret tiga nama itu ke dalam daftar tersangka. Seorang penghancur, seorang pembangun, dan seorang pemikir dengan motifnya masing-masing. Penyelidikan serius dilakukan dari balik selubung demi melindungi UBI.

Akan tetapi, bagaimana jika kasus tersebut hanyalah awal dari sebuah skenario besar? Keping domino pertama yang sengaja dijatuhkan seseorang untuk menciptakan serangkaian kejadian. Tak terelakkan, keping demi keping berjatuhan, mengusik sebuah sistem yang mapan, tetapi usang dan penuh kebobrokan....


RESENSI

Makarim Ghanim adalah pendiri Makarim G. and Co., sebuah perusahaan penyedia jasa konsultasi terpadu bagi perusahaan-perusahaan yang mempunyai masalah pengaturan sumber daya. Tiba-tiba saja, kawan lamanya semasa kuliah dulu, Agung Suditama, mendatanginya untuk meminta bantuan Makarim.
Agung yang merupakan wakil direksi Universal Bank of Indonesia meminta Makarim mengusut kebocoran  uang 17 miliar rupiah dalam bank itu. Kasus yang sangat aneh, karena menurut penelusuran jejak audit, semuanya wajar. Pembukuannya seimbang. Tapi pihak manajemen yakin ada penyusutan sebesar angka itu. Agung menyodorkan tiga nama yang harus diselidiki Makarim: Rifad Akbar, Reza Ramaditya dan Amanda Suseno. Agung yakin 100% bahwa pelakunya adalah salah satu dari mereka.
Meski bukan pekerjaan yang biasa ia tangani, Makarim menerima pekerjaan ini. Ia pun terbang ke Surabaya ke tempat ketiga orang tersangka ditempatkan. Menyelidik di sini dan mengendus-endus di sana. Makarim dengan segera bisa menemukan siapa pelaku fraud di UBI. Namun ketika ia merasa yakin siapa pelakunya, telepon dari mantan istrinya memberi informasi yang membuat kasus UBI ini lebih terang... secara mengerikan.
Ini bukan pembobolan biasa. Ada pesan yang diselipkan dalam pembobolan ini. Deretan angka uang yang hilang adalah Rp. 17.679.122.980,90 dengan segera membawa Makarim pada satu nama lagi Ayumi Pratiwi.
Siapa Ayumi? Apa hubungan Ayumi dengan ketiga orang yang dicurigai Agung? Benarkah ada rencana besar yang sedang disusun di dalam UBI?

------------

Meski novel Rencana Besar ditulis lebih dulu dari Sudut Mati, saya malah baca Sudut Mati lebih dulu dan pernah saya ulas di sini. Sejak itu saya udah ngebet banget pengin baca Rencana Besar.

Sebagai novel karya pertama Tsugaeda, Rencana Besar bener-bener bikin saya terpukau. Plotnya gak perlu ditanya deh, rapi dan apik. Gaya bertuturnya runut dan jelas, detailnya bisa saya pahami. Meski saya anak ekonomi tapi awalnya saya syok dengan istilah-istilah dalam novel ini. Wkwkwk~ saya jadi merasa duh saya dulu kuliah merhatiin dosen nggak sih? XD
Kembali ke novel ini... saya menemukan asyiknya menyatukan kepingan-kepingan informasi yang diberikan Tsugaeda dengan sabar. Caranya bertutur nggak terburu-buru, sempat mengecoh namun kemudian memberi clue yang efeknya dahsyat dan menyeret saya pada rasa penasaran yang makin besar.
Beneran asyik banget baca novel ini.

Settingnya pada awalnya terjadi di Jakarta di tahun 2012... kemudian beralih ke Surabaya. Lalu di tengah-tengah cerita, saat misteri hampir terkuak, saya dibawa menyusuri kejadian awal perekrutan Rifad, Amanda dan Reza oleh UBI di tahun 2009.
Konflik perbankan yang diusung novel ini juga menjadi masalah yang mudah menarik perhatian saya. Aah... seru banget bacanya.

Meski aura kemisteriusan dan thriller-nya nggak sebesar Sudut Mati tapi rasa penasaran saya benar-benar dibangkitkan. Pokoknya saya suka banget sama novel ini.
Tokohnya juga kuat dan saling melengkapi. Makarim dibuat nggak hero-hero amat tapi malah pas. Karena karakter tiga orang yang diburunya saja sudah wooow... ngeri banget. Hahaha...

Saya merasa terjanjikan setelah komplit membaca dua novel Tsugaeda. Saya nggak bakal pikir panjang buat membaca karya Tsugaeda berikutnya. Semoga saja novel-novel thriller bermutu dan segar seperti ini banyak bermunculan dan punya tempat di hati pembaca.

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon