Kamis, 31 Maret 2016

[Resensi: Perfect Purple - Indah Hanaco] Kisah Cinta di Tengah Penyelamatan Paus


Judul buku: Perfect Purple
Penulis: Indah Hanaco
Penyunting naskah: Moemoe Rizal dan Irawati Subrata
Desain sampul: Inekeu Rahayu
Desain isi: Kulniya Sally
Proofreader: Febti Sribagusdadi Rahayu
Penerbit: Pastel Book
Tahun terbit: Januari 2016
Tebal buku: 196 halaman
ISBN: 978-602-7870-64-2




BLURB

Gadis keras kepala ini bernama Milly. Dia menyukai ungu, dan tahu apa yang dia inginkan. Masuk jurusan pilihan ibunya bukanlah keinginannya. Sementara itu berkampanye menyelamatkan paus minke adalah keinginannya. Apa pun risikonya.

Milly lantas mengarungi kapal berwarna ungu, berlayar menuju kutub selatan yang tampak keunguan dari kejauhan. Dia akan berupaya menyelamatkan paus dari perburuan. Mengenal orang-orang yang mendedikasikan nyawanya demi lingkungan. Dan, membenci mereka yang mengeruk sumber daya alam demi uang.

Namun, meskipun keras kepala sebetulnya keinginan Milly terus berubah. Mungkin suatu hari dia akan berhenti, dan kembali menjadi gadis biasa dari Pematangsiantar. Namun Milly bertemu laki-laki yang mengubah hidupnya di atas kapal. Mengajarkannya deburan menyenangkan selain ombak dan keindahan warna ungu. Yaitu ...


RESENSI

Mendekati kelulusan, SMA Milly di Pematangsiantar kedatangan tamu istimewa. Seorang aktivis lingkungan dari Sea Not For Sale, sebuah organisasi konservasi lautan non-profit yang berusaha menyelamatkan hewan-hewan laut langka dan mecegah kerusakan di laut. Bukan hanya membagi kisah tentang petualangannya berkampanye melawan perburuan paus, Neal O'Mara ternyata juga membuka pendaftaran anggota baru yang akan direkrut untuk berkampanye bersamanya.
Mendengar kesempatan itu, Milly pun berusaha mati-matian agar diterima. Gadis itu melakukan segala usaha agar bisa ikut berkampanye. Meskipun rasa antusiasmenya bukan sepenuhnya karena ingin menyelamatkan paus.
Ketika berhasil mendapatkan tiket emas dan bergabung dengan aksi kampanye SNFS, Milly seketika menyesal. Berlayar di tengah lautan luas, dihantam badai dan mendapati beberapa insiden membuat Milly mual. Ia mulai menyadari caranya lari dari masalah bukanlah jalan yang tepat.
Hingga seekor paus terbunuh. Melihat kejadian itu membuat benak Milly terguncang. Seluruh kru kapal pun mati-matian berusaha mencegah pemindahan paus ke sebuah kapal pabrik. Di titik ini, Milly menyadari usaha Neal dan seluruh krunya adalah tindakan nyata yang luar biasa.
Ketika akhirnya ia berhasil dekat dengan Neal dan berbagi rahasia-rahasia kecil mereka, Milly merasa semakin terikat dengan SNFS. Sayang kedekatan mereka memancing kemarahan Deborah, gadis yang selalu menempel Neal ke manapun.
Berhasilkah kru SNFS mencegah kematian paus minke? Akankah Milly melanjutkan kampanye bersama SNFS? Lalu bagaimana kelanjutan hubungan Milly dan Neal?

----------------

Saya sudah membaca dua buku karya Indah Hanaco yang berhubungan tentang aktivis laut, yaitu Cinta Sehangat Pagi dan Tuhan untuk Jemima. Di kedua novel tersebut diceritakan bahwa tokoh utamanya adalah aktivis laut yang (pernah) berusaha menyelamatkan paus dari kebrutalan industri. Jadi saya sudah lumayan akrab dengan isu penyelamatan paus ini.

Namun yang membedakan Perfect Purple dari dua novel tersebut adalah porsi kampanye dan latarnya. Di Perfect Purple, peran Neal dan Milly dalam penyelamatan paus benar-benar menjadi porsi utama, dan latar yang digunakan adalah benar-benar aktifitas kampanye mereka di tengah lautan dan berhadapan dengan kapal-kapal penangkap paus.

Itu sebabnya saya mendapati bahwa novel ini begitu seru dan mendebarkan. Baru di buku inilah Indah Hanaco menceritakan dengan detail bagaimana cara aktivis bekerja. Suasananya dibangun dengan baik, bagaimana Milly berusaha menyesuaikan diri, bagaimana tanggapan dan keakraban kru kapal, dan bagaimana situasi tegang terbangun begitu seekor paus dibantai.
Tampaknya riset yang dilakukan Indah Hanaco benar-benar menyeluruh, saya malah sampai curiga jangan-jangan penulis ini bukan hanya sekedar menonton film dokumenter Whale Wars, tapi sudah mengintili Paul Watson dan Sea Sepherd Conservation Society-nya. :))
Yap.. yap.. novel ini memang lagi-lagi terinspirasi dari Sea Sepherd Conservation Society.

Pengkarakteran dalam novel Perfect Purple terasa pas. Beberapa novel Indah Hanaco menampilkan tokoh heroine yang sedikit terlalu bijak yang kadang nggak begitu sesuai dengan usianya, tapi di Perfect Purple, saya mendapati seorang heroine yang anak SMA banget. Keras kepala, merasa tindakan dan keputusannya benar, punya rasa gentar namun juga punya kekuatan untuk berjuang. Dan... sensitif. Ahahahaa... lucu juga mendapati Milly langsung mundur teratur begitu mendapat konflik kecil dari Neal.
Neal sendiri tadinya cukup asing bagi saya. Meski sudah melakukan dialog dengan Milly di Pematangsiantar, saya belum menemukan karakternya. Baru ketika mendapati Neal ikut terjun sendiri melakukan aksi penyelamatan paus, saya terkesan. Apalagi ketika Neal berdialog santai dengan Milly, duh langsung meleleh. Rasanya Neal ini santai, ramah dan lembut. Tapi kalau udah bad mood... langsung berubah auranya. Huhuhuuu... tapi saya malah suka. Berasa manusiawi dan nggak berlebihan.

Novel ini beralur maju dan menggunakan sudut pandang orang ketiga, yaitu sudut pandang Milly. Bahkan saat Neal dan kru lain mencoba menggagalkan pemindahan daging paus, dari sisi Milly lah ketegangannya digambarkan. Aksi yang menurut saya mungkin akan lebih menegangkan bila ditulis dari sisi Neal. Tapi... karena ini perjalanan kisah Milly, saya rasa memang lebih relevan jika Milly yang bercerita.

Overall saya suka dengan novel Perfect Purple ini. Banyak hal bisa didapat dari novel ini. Bukan hanya tentang aksi heroik penyelamatan paus tapi juga pengetahuan-pengetahuan ringan yang selalu diselipkan Indah Hanaco di setiap novelnya. Jadi, nggak rugi deh baca novel ini. Apalagi Neal dan Milly pasangan yang maniiiis banget, malu-malu tapi unyu ;)

Sabtu, 26 Maret 2016

[Resensi] Dear Friend With Love - Nurilla Iryani


Judul buku: Dear Friend With Love
Penulis: Nurilla Iryani
Editor: Herlina P. Dewi
Desain cover: Teguh Santosa
Layout isi: Deeje
Proofreader: Tikah Kumala
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Januari 2013 (Cetakan II)
Tebal buku: 146 halaman
ISBN: 978-602-7572-07-2
Book available at: Bukupedia.com




BLURB

Katanya, a guy and a girl can't be just friends. Benarkah? How about Karin and Rama?

Karin

Delapan tahun! Itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi yang aku dapat selama ini justru semua cerita saat kamu jatuh cinta dengan puluhan wanita lain di luar sana. Puluhan wanita yang selalu berakhir membuatmu kecewa. Rama, sadarkah kamu, wanita yang nggak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini? Aku. Sahabatmu, tolol!

Rama

Satu di antara seribu alasan kenapa gue nyaman bersahabat dengan Karin adalah ketidakwarasannya membuat gue tetap waras di tengah gilanya kehidupan Jakarta. Ya, dia adalah teman adu tolol favorit gue. Oh iya, gue punya satu lagi alasan: dia cantik banget, man! Nggak malu-maluin buat diajak ke pesta kawinan kalau gue kebetulan sedang jomblo. Paket komplit!


RESENSI

Persahabatan Karin dan Rama sudah berjalan selama delapan tahun. Selama itu pulalah Karin memendam perasaan terhadap Rama, sahabatnya tercinta. Sayangnya Rama berkali-kali gonta-ganti pacar dan membuat Karin patah hati.
Kali ini Rama lagi-lagi menemukan kekasih baru, seorang model cantik bernama Astrida Irsyad, atau yang dipanggil Cicit oleh Rama. Lagi-lagi, Karin harus tersiksa melihat kedekatan Rama dengan kekasihnya. Terlebih ketika Rama meminta bantuan Karin untuk melamar Cicit. Karin kelimpungan.
Di tengah kesedihannya, muncullah Adam, teman masa kecil Karin. Ibu Karin dan ibu Adam berusaha mrnjodohkan Karin dengan Adam. Dengan setengah hati, Karin pun bersedia menemani Adam yang sedang cuti dari pekerjaannya di Saudi. Lama menghabiskan waktu dengan Adam membuat Karin merasa dihargai, merasa dikasihi dan diprioritaskan. Berbeda dengan saat-saat bersama Rama yang lebih menganggap Karin sebagai tempat sampah dan pilihan kedua.
Namun tetap saja Karin merasa gamang. Baginya cintanya hanya untuk Rama. Saat Rama menyadari siapa gadis yang ia butuhkan dalam hidupnya, siapakah yang akan Karin pilih pada akhirnya?

-------------

Dear Friend With Love merupakan novel yang berangkat dari novel blog mingguan, itu sebabnya novel ini terasa lincah dan bebas.

Novel ini menggunakan POV orang pertama secara bergantian, dari sisi Karin dan sisi Rama. Sayang nggak ada POV dari sisi Adam atau Cicit. Tapi, yaa fokus utamanya memang hubungan friendzone antara Rama dan Karin sih.
Kedua tokoh ini sama-sama gokil, pemikirannya kocak, narsisnya kebangetan dan dialognya lucu. Sehingga kadang saya lupa ini yang sedang cerita Rama atau Karin? Saking miripnya gaya ceplas-ceplos mereka.
Kalau saja nggak ada pembeda penggunaan "aku" dan "gue", tentunya saya bakal makin bingung.

Karakternya sendiri lumayan menyenangkan. Saya suka dengan Karin yang lucu. Meski hati dan perasaannya terluka, dia tetap ada untuk Rama. Memendam perasaan sebelah pihak selama delapan tahun itu luar biasa menurut saya. Tapi mungkin karena mereka bersahabat, Karin juga jadi susah move on.
Sementara Rama walau kocak tapi narsisnya selangit. Kepedean akut. Benar-benar tipikal cowok yang nyebelin. Apalagi beberapa kali dalam perang batinnya, Rama kelihatan banget egois dan cari enaknya sendiri.
Sementara untuk Cicit, kok susah ya sebel sama makhluk ini, biarpun Rama berulang kali memaafkan tingkah laku Cicit karena Cicit cantik (nah, bener kan Rama tuh nggak banget sifatnya), tapi pemikiran Cicit malah berkesan dewasa.
Sedangkan tokoh Adam, huhuu... ada gitu ya cowok kayak Adam? Udah baik, perhatian, lucu, ramah dan selalu jadi prince charming.
Hmm~ karakternya memang loveable semua, eh kecuali Rama sih. Kalau Rama itu keplak-able banget. 

Bagi saya Dear Friends With Love benar-benar bacaan ringan yang kocak dan menghibur. Alurnya maju dengan cepat tanpa bertele-tele, gaya bertuturnya ceplas-ceplos dan bercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tapi selain kalimat-kalimat yang mengocok perut ada juga kalimat-kalimat dalem yang quotable.

Nah, buat kalian yang masih terjebak friendzone, coba deh baca novel ini. Seru banget dan gampang dibaca sekali duduk, semoga saja setelah baca novel ini, kalian bisa move on. Atau... justru malah terjebak makin dalam? Hehe~

Jumat, 25 Maret 2016

[Resensi] Bukan Pasarmalam - Pramoedya Ananta Toer


Judul buku: Bukan Pasarmalam
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Desain sampul: Ong Hari Wahyu
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun terbit: Agustus 2015 (cetakan ke-8)
Tebal buku: 106 halaman
ISBN: 978-979-3820-03-3



BLURB

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang... dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana"
-Pramoedya Ananta Toer

Roman ini berlangsung dalam satu putaran perjalanan seorang anak revolusi yang pulang kampung karena ayahandanya jatuh sakit. Dari seputaran perjalanan itu, terungkap beberapa potong puing gejolak hati yang tak pernah teranggap dalam gebyar-gebyar revolusi.

Dikisahkan bagaimana keperwiraan seorang dalam revolusi pada akhirnya melunak ketika dihadapkan pada kenyataan sehari-hari: ia menemukan ayahnya yang seorang guru yang penuh bakti tergolek sakit karena TBC, anggota keluarganya yang miskin, rumah tuanya yang sudah tidak kuat lagi menahan arus waktu, dan menghadapi istri yang cerewet.

Berpotong-potong kisah itu diungkapkan dengan sisa-sisa kekuatan jiwa yang berenangan dalam jiwa seorang mantan tentara muda revolusi yang idealis. Lewat tuturan yang sederhana dan fokus, tokoh "aku" dalam roman ini tidak hanya mengritik kekerdilan diri sendiri, tapi juga menunjuk muka para jenderal atau pembesar-pembesar negeri pascakemerdekaan yang hanya asyik mengurus dan memperkaya diri sendiri.

RESENSI

Di bulan Desember 1949, "Aku" menerima sepucuk surat dari Blora. Surat yang sebenarnya tidak terlalu menyayat hati "Aku" seandainya saja sebelumnya "Aku" tidak mengirim surat yang berisi sesuatu yang tak enak ke Blora. Surat dari Blora itu meminta "Aku" agar pulang barang tiga-empat hari karena sang ayah sedang sakit.
Dengan hati pedih, "Aku" berkeliling Jakarta mencari pinjaman uang untuk digunakan pulang. Dan tak lama, "Aku" dan sang istri naik kereta menuju Blora. Sepanjang perjalanan, melalui jendela, "Aku" merenungi tempat-tempat yang pernah menjadi medan perangnya melawan penjajah. Renungan yang berakhir pada sosok ayah. Renungan yang membuat hatinya tersayat.
Setiba di Blora, "Aku" mendapati ayah yang dulu tegap dan kokoh harus terbaring tak berdaya di ranjang rumahsakit, terbatuk-batuk hebat hingga mengeluarkan darah. "Aku" menyaksikan nasib adik-adiknya, rumahnya dan idealisme sang ayah sekarat secara perlahan.

-------

Bukan Pasarmalam meski cukup tipis tapi terasa sarat makna dan penuh sindiran. Kisahnya lumayan singkat tapi mampu membuat hati miris.
Betapa manusia yang keras, pejuang yang tangguh yang menjalani masa tahanan dengan gagah pun bisa lumpuh tak berdaya dalam rasa takut akan kehilangan. Menjadi melankolis, menjadi manusiawi.

Tokoh dalam novel ini memang tak bernama. Bukan hanya "Aku" sebagai si tokoh utama, tapi juga bapak, istri, adik-adik, paman, dukun dan tetangga, semua nggak memiliki identitas nama. Meski begitu Pramoedya tetaplah penulis yang mampu mencengkeramkan sosok sang tokoh dengan intens di ingatan saya sebagai pembaca.

Latar pasca kemerdekaannya pun kental dengan aroma sisa-sisa perjuangan dan derak perubahan yang menggilas kaum nasionalis-idealis. Memperkuat kisah yang suram dan gelap ini dengan sindiran yang menghujam. Sindiran pada diri sendiri, pada ketakutan akan kematian dan pada perjuangan kemerdekaan yang berbelok ke arah pencarian untung semata.

Novel Bukan Pasarmalam ini pernah dilarang pada tanggal 30 November 1965. Namun juga pernah diterbitkan di berbagai penerbit di kurun waktu yang berbeda, di antaranya:

1. Balai Pustaka, 1951, 1959 (Bukan Pasarmalam), edisi Indonesia
2. Yayasan Kebudayaan Sadar, 1964 (Bukan Pasar Malam), edisi Indonesia
3. Journal Indonesia no.15, April 1973, (It's not An All Night Fair), edisi United States
4. Abbas Bandong, 1976 (Bukan Pasarmalam), edisi Malaysia
5. Horlemann, 1993 (Mensch Für Mensch), edisi Jerman; Pent. Diethelm Hofstra
6. De Geus, 1998 (Een Koude Kermis), edisi Belanda; Pent. Alfred van der Helm, Angela Rookmaker
7. Bara Budaya, 1999 (Bukan Pasar Malam), edisi Indonesia
8. De Geus, 2001 (Een Koude Kermis), edisi Breda, Belanda; Pent. Henk Maier
9. Equinox, 2001, (It's not An All Night Fair), edisi Singapore; Pent. C.W. Watson

Rabu, 23 Maret 2016

[Reading Challenge] Reading Romance 2016 January-March Progress Update




Bulan Maret hampir berakhir, berarti sudah tiga bulan berjalan sejak tahun baru 2016, jadi sudah berapa banyak buku yang kalian baca?

Saya sendiri sudah membaca 65 buku, terdiri dari 48 novel, 4 biografi/autobiografi, 7 komik, 3 buku anak, 1 novel sastra dan 1 momlit.
Nah postingan kali ini berhubungan dengan Romance Reading Challenge 2016 yang diadakan oleh The Bookaddict Diaries, dan berikut daftar bacaan saya:


Out of The Century

#Januari - Sang Penjerat Hati - Anne Stuart
#Januari - Pertaruhan Hati Sang Lord  - Sabrina Jeffries
#Januari - The Naked King - Sally MacKenzie


Young Opposite Perspective

#Januari - Coppelia - Novellina A
#Februari - Stay With Me Tonight - Sofi Meloni
#Maret - Dear Friend With Love - Nurilla Iryani


Books To Movie

-

Royal Love

#Januari - Rayuan Sang Duke - Laura Lee Guhrke
#Februari - What A Gentleman Wants - Caroline Linden
#Maret - A Lady's Pleasure - Renee Bernard


Trip to Europe

#Januari - Eleanor - Arumi E
#Januari - Segenggam Daun di Tepi La Seine - Wuwun Wiati
#Januari - Skandal Terpendam - Penny Jordan
#Januari - Cinta di Malam Natal - Penny Jordan
#Februari - Love in Edinburgh - Indah Hanaco
#Maret - Remember Amsterdam - Vira Safitri


Enemies Turn Lovers

#Februari - SeoulMate - Lia Indra Andriana
#Maret - Pink Project - Retni SB


Third Installment

#Maret - Seduced by The Highlander - Julianne MacLean


Native Language

#Februari - Scarlet - Marissa Meyer


Chunkster Books

#Januari - Cinta Penuh Tantangan - Lori Foster
#Januari - The Book Club - Marry Alice Monroe
#Januari - Amba - Laksmi Pamuntjak
#Januari - Penantian Terpanjang - Kristan Higgins


Darker Part of Romance

#Januari - Broken Vow - Yuris Afrizal


Superheroines

-


Love in the Spotlight

#Februari - Let Me Be With You - Ria N Badaria


School's Dang

-


Out of Normal

#Januari - Vanished - Maureen Child


Men in Uniform

#Januari - It Happened One Wedding - Julie James
#Februari - First Love - Helga Rif


Uncategorized

#Januari - In A Blue Moon - Ilanna Tan
#Januari - You Had Me At Hello - Indah Hanaco
#Januari - Cinta 4 Sisi - Indah Hanaco
#Januari - Dua Cinta Negeri Sakura - Irene Dyah
#Januari - Negeri Para Roh - Rosi L Simamora
#Januari - Pulau Takdir - Judith McNaught
#Februari - Wheels and Heels - Irene Dyah
#Februari - Perjalanan Hati - Riawani Elyta
#Februari - Sesaat di Keabadian - Mezty Mez
#Februari - Stand By Me - Indah Hanaco
#Februari - I Can't Stop Loving You - Adeliany Azfar
#Februari - Lamaran di Bawah Mistletoe - Lucy Gordon
#Februari - Haute Heart - Regina Alexandra
#Februari - Eternal Flame - Dheean Reean, dkk
#Februari - Cinta Tak Terduga - Kate Hardy
#Februari - Caleb Wilde yang Angkuh - Sandra Marton
#Maret - Complicated Thing Called Love - Irene Dyah
#Maret - Delicious Marriage - Indah Hanaco
#Maret - Ruang Kaca - Alamanda Hindersah
#Maret - Gravity - Rina Suryakusuma
#Maret - Perfect Purple - Indah Hanaco


Selasa, 22 Maret 2016

[Resensi: Gravity - Rina Suryakusuma] Cinta yang Mampu Menarikmu Kembali


Judul buku: Gravity
Penulis: Rina Suryakusuma
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Februari 2016
Tebal buku: 328 halaman
ISBN: 978-602-03-2512-5




BLURB

Cecilia selalu merasa ia dan Declan seperti magnet yang tarik-menarik, tetapi kecintaan Declan untuk traveling dan profesinya sebagai fotografer membuat pria itu sering meninggalkan Cee. Lama-kelamaan kehadiran Declan mulai terasa hanya sebatas suvenir, foto, dan pesan singkat.

Hingga suatu hari, pertemuan yang tak sengaja dengan Bernard, menggoyahkan Cee. Sang business analyst memesona hati Cee dengan sosoknya yang selalu ada ketika Declan selalu meninggalkannya.

Dan, ketika Cee nyaris yakin dengan perasaannya terhadap Bernard, Declan kembali mencoba memenangkan hati Cee.

Cee bimbang, namun seperti gravitasi, semua orang yang sudah digariskan ada dalam hidupmu, akan selalu kembali padamu. Tapi benarkah akan selamanya seperti itu?


RESENSI

Menjadi seorang photo editor di Jakarta Channel Week membuat Cecilia bisa mengenal Declan, seorang fotografer lepas yang handal dalam mengabadikan dunia melalui lensanya. Cecilia telah menghabiskan waktu cukup lama menanti Declan, hanya untuk mendapati dirinya menjadi tempat singgah sementara sebelum pria itu beranjak lagi ke belahan bumi lain demi memburu petualangan. Cecilia harus menelan kekecewaan bahwa Declan tak pernah bisa menetap cukup lama di sisinya, menemaninya.
Lalu muncullah Bernard, seorang business analyst yang bagaika. jangkar aman bagi kehidupan Cecilia. Bernard selalu ada, di saat darurat maupun di saat-saat tak terduga. Perhatian dan hal-hal remeh yang diberikan Bernard perlahan mengguncang hati Cecilia.
Cecilia harus menentukan pilihan, kepada siapa ia siap bersandar. Sementara Cecilia juga berusaha menyingkap rahasia yang ada di dalam selembar foto yang ditemukannya. Sebuah foto keluarga—suami, istri, dan anak perempuan—yang menurut ibu Cecilia adalah foto keluarga yang tidak bahagia.
Siapa yang akan Cecilia percayai untuk meletakkan hatinya? Sang traveler yang merupakan cinta dan harapannya ataukah sang business analyst yang selalu ada di sana baginya? Dan berhasilkah Cecilia menyusuri jejak masa lalu dengan berbekal sebuah foto usang? Siapakah ketiga orang di dalam foto itu?

---------

For me, you're my gravity. No matter which path I choose, there's always something that leads me back to you. (hlm 316)

Gravity mengingatkan saya pada seseorang, pada kisah perjalanan cintanya dan pada keputusan yang diambilnya mengenai pendamping hidup selamanya. So... saya jadi rada sentimentil saat membaca novel ini. Huhuuu...
Tapi terlepas dari perasaan itu, saya merasa Gravity adalah novel Rina Suryakusuma yang paling saya suka, sejauh ini.

Dikisahkan melalui sudut pandang orang ketiga, novel ini beralur maju dengan plot yang tampak rapi. Terasa mengalir dan enak diikuti. Komposisi antara narasi-deskripsi-dialognya pas dan nggak berlebihan. Ada informasi yang ditahan yang membuat saya asyik menebak-nebak dan merasa kegirangan saat dugaan saya terbukti benar.

Setting cerita bermula di Jakarta, di gedung perkantoran tempat Cecilia dan Bernard sama-sama bekerja. Cecilia di lantai lima yaitu kantor Jakarta Channel Week sementara Bernard di lantai 23 yaitu sebuah perusahaan tambang minyak.
Setting Bali juga cukup sering muncul karena Cecilia memilih Bali sebagai lokasi pernikahan sepupunya, Dianne. Selain itu di Bali pulalah Cecilia mulai menyusuri dan menyelidiki masa lalu bermodal selembar foto.
Sst... adegan favorit saya pun terjadi di Bali, di sebuah pantai ketika Bernard menyodorkan benda sederhana namun sarat makna ;)

Karakter dalam novel Gravity terasa kuat dan berciri khas. Ada kalanya saya geregetan dengan sifat Cecilia yang sulit mengambil keputusan. Duh, untungnya Nolan, sahabat Cecilia yang setia banget, tabah menghadapi kebebalan Cecilia. Di sini saya suka peranan Nolan yang mencoba memberi nasehat tapi terkesan nggak ikut campur banget.
Bernard dan Declan menjadi dua sosok pria yang kontras. Bernard tipe family-man yang bisa memperhatikan hal-hal kecil, melakukan hal-hal sederhana tapi menyentuh. Sementara Declan adalah sang pemimpi, yang selalu menikmati passion-nya, mencintai alam dan kehidupan dengan sepenuh jiwanya. Mencintai Cecilia dengan caranya sendiri.
Pekerjaan Declan tentunya sungguh menarik dan membuatnya mudah digilai. Seorang fotografer dengan jam terbang tinggi yang melanglang satu kota ke kota lain. Satu negara ke negara lain. Satu benua ke benua lain. Seorang teman saya bercerita tentang fotografer freelance yang bisa menganggur lama jika sedang tidak ada job atau project. Biasanya mereka membuat semacam proposal untuk project tertentu yang dikirimkan ke media-media calon pembeli semacam National Geographic, Boston Globe, Getty image, dsb. Baru setelah deal baru bisa jalan. Atau sebaliknya jalan dulu, hunting foto, lalu jualan ke media kemudian.
Maka menilik betapa singkatnya waktu luang Declan di Jakarta untuk bertemu dengan Cecilia dan betapa cepatnya ia mendapat tugas, saya rasa Declan termasuk jajaran fotografer top dunia. Hmm... keren!

Konfliknya berkembang dan nggak monoton. Untuk menghindari rasa bosan pembaca memang perkembangan konflik akan membuat kisah menjadi lebih menarik. Namun jika nggak hati-hati malah bisa semakin mbulet.
Di dalam Gravity, dengan gaya bertutur yang luwes, Rina Suryakusuma memberi kisah yang semakin berwarna namun sayangnya penyelesaian konfliknya terkesan 'mudah' dan 'berdiri sendiri' tanpa punya kaitan besar dengan konflik utama cinta segitiga antara Declan-Cecilia-Bernard.

Overall, saya sangat suka novel ini. Betapa saya menemukan banyak hal tentang menentukan sebuah pilihan, tentang mempercayakan hati dan masa depan, tentang mencari jangkar yang kokoh untuk berakar dan bertunas. Bagi kalian yang masih bingung menentukan arah atau malah telah menemukan jangkar untuk bersandar (seperti saya), kalian harus membaca novel ini.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Tidak ada orang sibuk, Cee. Waktu orang mengatakan padamu bahwa mereka sibuk, itu bukan mengacu pada jadwal mereka, melainkan pada urutan prioritas mereka." (hlm. 150)

Sesuatu yang selalu kaucari, kadang datang ketika kamu sudah tidak menginginkannya lagi. Ketika penantianmu akhirnya tiba, biarpun hanya sekelumit, tetap ada rasa bahagia. (hlm. 228)

Hubungan yang sukses tidak terjadi begitu saja, Cee. Suatu hubungan bisa bertahan bukan karena ditakdirkan seperti itu. Suatu hubungan bisa bertahan karena dua manusia di dalamnya memutuskan untuk berusaha dan berjuang." (hlm. 290)

Senin, 21 Maret 2016

[Resensi: Ruang Kaca - Alamanda Hindersah] Menanti Cinta yang Tersembunyi


Judul buku:Ruang Kaca
Penulis: Alamanda Hindersah
Editor: Fanti Gemala
Desainer kover: Dhynda Hanjani Putri
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Februari 2015
Tebal buku: 177 halaman
ISBN: 978-602-251-819-8



BLURB

Ada rasa tersembunyi di balik jendela-jendela kaca itu. Menerawang. Memberi tanda. Meski mungkin kita tak akan pernah sadar. Sebab, kadang kita melihat terlalu jauh. Meminta apa yang tak bisa kita dapatkan.

Berharap suatu hari nanti permintaan kita akan terkabul. Kita tahu cinta tidak mau menunggu lama, tapi kita tetap dengan keras kepala berdiri diam di titik masing-masing. Sampai kapan kita harus menunggu untuk bahagia?


RESENSI

Kiara telah mengenal Ghana sejak kelas dua SMA. Atas bujukan Malika, kakaknya yang lebih tua lima tahun, Kiara ikut menjadi relawan di sebuah komunitas. Di komunitas itulah Kiara berkenalan dengan teman-teman Malika; Della dan Ghana.
Hubungan Kiara dan Ghana memang dekat, mereka sering menghabiskan waktu bersama meski hanya saling diam. Tapi sampai kapan pun Kiara merasa tak bisa menyaingi hubungan Ghana dan Malika. Karena Malika-lah yang memiliki hak eksklusif untuk menyentuh bahkan mencium pipi Ghana yang tak pernah suka sentuhan fisik.
Kiara cemburu, maka yang bisa ia lakukan adalah menghindari Ghana. Hingga Ghana kelimpungan. Hingga Ghana mengajukan pertanyaan dan mencium Kiara. Ciuman yang memicu kemarahan Malika.
Serumit itukah hubungan mereka? Ataukah cinta sesungguhnya sederhana dan Ghana-lah yang rumit dan sulit dipahami?

------------

Hal yang membuat saya tertarik membaca novel ini adalah blurbnya yang puitis. Kalimat-kalimat yang mengusik rasa penasaran saya untuk mencari tahu cerita apa yang bersembunyi di dalamnya.

Jujur saya sempat kebingungan pada plot novel ini yang melompat-lompat. Kebingungan pada alurnya yang mundur dan maju secara tiba-tiba. Namun lama-lama saya mulai menikmati keunikan gaya bercerita Alamanda yang serupa fragmen-fragmen.

Novel dengan setting di Bandung ini dikisahkan menggunakan POV orang ketiga, dan lebih fokus pada Kiara. Beberapa deskripsi terasa to much information, ada informasi-informasi yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Seperti kebiasaan si kucing yang toh nggak memberi pengaruh apa-apa ataupun nilai rapor prakarya Kiara. Kadang terasa lebih banyak tell-nya daripada show-nya.

Karakter utama novel ini Kiara saya rasa cukup konsisten. Kiara pencinta kesunyian, ia menikmati hubungan yang terjalin dalam ketenangan. Itu sebabnya ia bisa menyimpan rasa cinta diam-diam dari sejak kelas 2 SMA hingga semester akhir.
Yang cukup menyebalkan justru sang kakak, Malika. Diceritakan sebagai orang yang terencana dan detail terperinci, saya anggap ia cukup menyebalkan karena lebih suka menyusun dan menyimpan rencana-rencana hidupnya sendiri.
Ghana menjadi karakter yang misterius banget. Entah apa yang dipikirkannya, entah apa yang diinginkannya. Membuat saya banyak menduga-duga karena begitu impulsif dan nggak bisa ditebak.
Chemistry-nya lumayan bagus di pertengahan menuju ke ending, dialognya tipe dialog campur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, terasa cukup cair dan enak diikuti.

Yang mengagetkan saya dan akhirnya membuat saya menyukai novel ini adalah twistnya yang diluar dugaan saya. Penulis sungguh pintar menggiring saya sebagai pembaca ke sisi yang saya anggap benar dan kemudian memberi saya kejutan yang luar biasa.

Jika kalian suka pada novel yang disajikan dengan potongan-potongan adegan mirip puzzle silakan mencicipi Ruang Kaca. Saya cukup suka dengan gaya tulisannya dan endingnya. Yaah... bagaimana pun mudahnya kita memahami seseorang hanya dari gesturnya, tetap saja kejelasan komunikasi adalah hal yang utama.

Sabtu, 19 Maret 2016

[Resensi] Si Bolang: 7 Cerita Seru di Negeri Buah Merah - Veronica W


Judul buku: Si Bolang: 7 Cerita Seru di Negeri Buah Merah
Penulis: Veronica W.
Ilustrator: InnerChild
Penyunting: Pradikha Bestari
Perancang sampul & Penataletak: Deborah Amadis Mawa
Materi: Tim Liputan Si Bolang Trans7
Foto: Dok. Si Bolang Trans7
Penerbit: Kiddo (Imprint Penerbit KPG)
Tahun terbit: 2015
ISBN: 978-979-91-0986-6
Book available at: Bukupedia.com





BLURB

Salam bocah petualang!

Yuk, ikut bertualang denganku, Si Bolang, di Papua, Negeri Buah Merah.

Aku akan mengenalkanmu dengan sahabat-sahabatku di sana.

Lalu, kita bikin noken bersama-sama, main kole-kole, barapen atau bakar batu, main perang-perangan dengan sumpit, berburu dan pesta karaka, nyam!

Eh, kita juga bisa membuat rumah honai yang seperti rumah jamur para kurcaci di Negeri Dongeng, lo.

Dan, jangan lupa, kita bisa menikmati pemandangan alam Negeri Buah Merah yang luar biasa cantik.

Sst... Koleksi juga boneka kertasku, ya!


RESENSI

Bolang sedang berjalan kaki sepulang dari sekolah ketika tiba-tiba seorang nenek tanpa sengaja menyiram Bolang. Tas Bolang jadi basah demikian juga peta di dalam tasnya. Sang nenek pun mengganti peta Bolang dengan 'peta spesial'. Ternyata peta itu dapat membawa Bolang ke tempat-tempat yang diinginkannya.
Nah kira-kira ke mana saja Bolang berpetualang?

1. Noken untuk Ibu - Sugapa

Karena tasnya basah, Bolang memutuskan untuk memakai noken Papua milik ayahnya. Tapi ternyata noken itu tidak diketemukannya. Maka peta ajaib milik si nenek membawa Bolang ke Sugapa, yaitu sebuah distrik di Kabupaten Intan Jaya yang terletak di dataran tinggi, 1.600-2.500 meter di atas permukaan laut. Di sana Bolang belajar cara membuat noken dan mendinginkan daging dengan kulkas alam.

2. Berburu Karaka ke Mimika

Bolang pulang dari latihan bola dengan perut lapar, sebenarnya ia diajak teman-temannya untuk makan bubur bersama, tapi Bolang ingat kepiting Karaka oleh-oleh dari Ayah. Sayang, tidak ada karaka tersisa di meja makan. Karena kesal dan ingin makan karaka, Bolang pun terisap masuk ke peta dan tiba di Mimika Barat. Di Mimika yang berupa daerah pesisir, Bolang bukan hanya mencari karaka tapi juga tambelo, cacing yang hidup dalam batang kayu bakau yang sudah mati. Bolang juga belajar membuat tauri dan naik kole-kole serta melihat Soa-soa.

3. Barapen Perdamaian dari Ayamaru

Teman-teman Bolang bertengkar dan Bolang ingin mendamaikan mereka. Saat Bolang melihat batu-batu di sekeliling kolam, Bolang ingat pada tradisi bakar batu di Papua untuk mendamaikan perang. Maka Bolang pun dengan bantuan peta ajaib tiba di Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Papua Barat. Di sana Bolang belajar tradisi barapen atau bakar batu, makan Buah Merah, juga mengobati pegal dengan Daun Gatal Papua.

4. Tukar Sumpit di Prafi

Saat sedang menikmati mi ayam di kantin dengan sumpit, Bolang teringat pada anak-anak Prafi di Papua. Berbekal sumpit mi ayam, Bolang pergi ke Prafi dengan peta ajaib. Distrik Prafi terletak di Pegunungan Arfak di Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Di sana terdapat suku Hatam yang pandai berburu dan menjebak binatang di hutan. Bolang ikut bermain noneam atau perang sumpit bersama anak-anak Prafi. Bolang juga ikut melakukan molo-molo atau menangkap ikan dengan menyelam dan melihat binatang kuskus yang dilindungi serta bermain rakit pisang. Sayang karena harus buru-buru pulang, Bolang tidak sempat makan papeda, makanan pokok di Papua.

5. Tifa Penyemangat dari Asmat

Tim bola Bolang berhasil menang 1-0 di pertandingan. Bolang merasa bersemangat karena ada penonton yang menabuh tifa. Merasa penasaran pada tifa, Bolang pun menuju Sawaerma dengan bantuan peta. Sawaerma adalah sebuah distrik yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Bolang diajak ikut menari Pokombi, sebuah tarian khas yang diiringi tabuhan tifa. Selain itu Bolang ikut membakar kulit siput untuk mengecat perahu hias, menyaksikan tradisi bakar perahu, mengemas sagu, juga melihat cara membuat anyaman dari daun tapin.

6. Rumah Jamur Beratap Alang-Alang

Adik Bolang merengek minta dibuatkan rumah jamur yang ditinggali para kurcaci seperti dalam dongeng. Duh, ke mana Bolang harus belajar membuat rumah jamur? Bolang pun masuk ke peta dan tiba di tengah-tengah permainan sikoko, permainan yang menggunakan rotan dan tombak. Oh ternyata Bolang ada di kampung Obia yang terletak di Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Kampung ini terletak di Lembah Baliem. Di sana Bolang ikut memberi makan burung kasuari dan mengikuti upacara adat Wampaliogo dan upacara osilo. Setelahnya Bolang mencari alang-alang jenis osiluk di Bukit Insnubaga untuk bahan membuat atap honai. Namun saat hendak pulang, Bolang sempat ketakutan melihat ada mumi leluhur berwarna hitam yang diletakkan di dalam honai.

7. Kejutan di Akhir Cerita

Ayah Bolang mengalami sakit tekanan darah tinggi, maka Bolang pun berniat mencari obatnya. Bolang teringat pada sarang semut yang bisa didapatnya di Papua. Bolang tiba lagi di Ayamaru dan terkejut karena menjadi sasaran permainan tembak terong. Sebelum mencari sarang semut, Bolang membantu Bapa Jekson membuat tabob atau kaleng berasap untuk mengusir binatang buas. Di tengah perjalanan, Bolang makan daun pakis untuk mengganjal perutnya yang lapar hingga akhirnya Bolang berhasil mendapatkan sarang semut untuk mengobati penyakit ayah.

---------

Pasti sudah banyak yang mengenal Bolang alias Bocah Petualang, kan? Bolang merupakan salah satu program acara Divisi News Pemberitaan Trans7 yang memotret kehidupan anak-anak di seluruh pelosok Indonesia.
Program ini sering meraih penghargaan, salah satunya adalah KPAI Awards 2015 sebagai Program Ramah Anak.

Buku ini sangat informatif dan disusun dengan apik. Penyajiannya berupa cerita perjalanan Bolang dengan memo tersendiri yang memuat informasi khusus.
Tata letaknya menarik, ilustrasinya yang lucu, diimbangi dengan foto-foto yang seru dan cantik. Yang lebih asyik lagi, seusai bertualang dengan Bolang, ada kuis yang beragam yang bisa dimainkan oleh anak-anak. Hal ini bisa untuk membantu anak semakin memahami cerita dan semakin bersemangat menjelajah bersama Bolang.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari ketujuh cerita pendek bertabur informasi dalam buku ini. Bahwa masyarakat Papua sangat bergantung pada alam tapi tidak berlebihan dalam memanfaatkan alam dan menjaga alam dengan sebaik-baiknya.
Mulai dari permainan, bahan makanan dan obat-obatan, peralatan sehari-hari hingga cara pengawetan pun semua bersumber dari alam. Betapa sesungguhnya alam telah berbaik hati menyediakan segala kebutuhan kita dan sebaiknya kita membalas jasa alam dengan menjaga sebaik-baiknya.

Rabu, 16 Maret 2016

[Resensi: A Lady's Pleasure - Renee Bernard] Sang Tikus Pemalu dan Sang Kucing Renee


Judul buku: A Lady's Pleasure
Sub judul: Malam-malam Rahasia Bersama Sang Duke
Penulis: Renee Bernard
Penerjemah: Endang Sulistyowati
Editor: Ayuning
Proofreader: Alit Tisna Palupi, Christian Simamora
Desain cover: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2011
Tebal buku: 368 halaman
ISBN: 979-780-483-6



BLURB

Seumur hidup, Merriam Everret selalu dianggap sebagai si pemalu yang penurut. Namun malam itu, Merriam, si tikus menjadi wanita penggoda yang menjebak earl sombong yang pernah meremehkannya terang-terangan. Rencananya sederhana dan jelas, dia akan membuat laki-laki itu begitu menginginkan dirinya, lalu meninggalkannya dalam keadaan mendamba. Harusnya itu akan menjadi balas dendam manis dan setimpal... seandainya dia tidak menggoda orang yang salah.

Drake Sotherton meninggalkan Inggris beberapa tahun lalu karena ingin lepas dari persaingan tak habis-habisnya dengan Julian Clay, laki-laki yang juga dia yakini adalah pembunuh istrinya. Namun kini dia kembali. Dan dia terkejut, orang yang 'menyambutnya' di Inggris justru adalah seorang wanita penggoda bertopeng kucing.
Drake curiga perempuan itu adalah kaki-tangan Julian. Tapi logikanya dikalahkan godaan mematikan dari perempuan misterius itu. Apalagi, ketika dia menawarkan sesuatu yang benar-benar di luar kebiasaan Drake: menjadi mistress sang duke sepanjang musim perjodohan.

Di mata Drake, Merriam adalah pasangan yang tepat untuk menjelajahi setiap keinginan dan kerinduan penuh hasrat yang bisa terpikirkan oleh laki-laki itu. Tapi dia juga harus ingat, bermain-main dengan kaki-tangan musuh adalah permainan berbahaya. Padahal Merriam sendiri pun adalah permainan berisiko. Seperti bermain api,Drake bisa terbakar kapan saja.

Namun, seperti permainan berbahaya lainnya, bersama Merriam selama satu musim perjodohan saja tidak mungkin cukup....


RESENSI

Terkadang kau membunuh seseorang karena kau mencintainya. Terkadang... kau melakukannya untuk menyelamatkannya. (hlm. 344)

Merriam Everret merasa kesal ketika tanpa sengaja mendengar Julian Clay mencelanya sebagai "janda berwajah pucat" di depan teman-teman pria itu. Maka dengan tekad bulat, Merriam berusaha belajar cara merayu dan cara menjadi jalang. Agar ia bisa merayu Julian di pesta topeng yang diadakan Lord Milbank dan memberi pelajaran pada Julian.
Dari penyelidikannya, Merriam tahu Julian akan mengenakan kostum Merlin di pesta topeng itu, maka Merriam pun menggunakan kostum kucing dan datang ke pesta Lord Milbank sebagai his familiar. Keinginan Merriam tercapai, ia menemukan Merlin, dan tanpa ragu mulai merayu pria itu hingga tanpa bisa dicegah mereka sama-sama meraih kepuasan. Merasa rencananya berhasil, Merriam pergi meninggalkan Merlin begitu saja.
Drake Sotherton dijuluki Deathly Duke setelah kematian istrinya delapan tahun lalu. Drake pergi mengasingkan diri dan baru kembali saat ia menghadiri pesta topeng Lord Milbank. Betapa terkejutnya Drake saat mendapati seorang wanita berkostum kucing merayunya dan memberinya percintaan yang dahsyat.
Bertekad mencari tahu siapa wanita misterius itu, Drake pun berusaha menemukan his familiar. Dan saat menemukan wanita itu beserta motifnya, Drake meyakinkan Merriam agar mau menjadi kekasihnya selama musim perjodohan. Misi Drake adalah demi kehancuran Julian, tapi siapa sangka hubungannya dengan Merriam malah menyeretnya pada gairah yang makin mendalam.

------------

A Lady's Pleasure adalah karya Renee Bernard yang berhasil memenangkan penghargaan dari Romantic Times untuk kategori 'Best First Historical Romance of 2006'.
Saya cukup lama menginginkan buku ini dan baru berhasil mendapatkannya beberapa minggu lalu. Saat membaca novel ini sesungguhnya pikiran saya sedang nggak menentu. Itu sebabnya saya baru berhasil menyelesaikan membaca A Lady's Pleasure setelah tiga hari. Padahal ini genre favorit saya dan premisnya benar-benar my cup of tea.

Karakter dalam A Lady's Pleasure benar-benar menarik. Merriam yang tadinya adalah seorang janda pendiam dan nggak menarik akhirnya mengambil langkah berani dan melakukan skandal. Sikapnya terlihat lebih berani dan apa adanya. Meskipun dibilang membosankan tapi justru karakternya berani mencoba hal-hal baru bersama Drake.
Sementara Drake menjadi karakter favorit saya. Tegas, berusaha keras mendapatkan yang dimau dan posesif. Menyenangkan melihat perkembangan perasaannya terhadap Merriam.
Chemistrynya asyik, dialognya segar dan rapi. Menghibur di beberapa bagian, nakal di sana-sini dan menegangkan di saat yang tepat.

Namun saya sarankan agar berhati-hati dengan adegan intimnya. Seks yang panas dan beragam variasi menghiasi hampir di seluruh bab. Meski saya merasa masih cukup biasa dan nggak sepenuhnya vulgar. Tapi yaaa... itu pendapat saya sebagai perempuan yang sudah menikah :)

Overall, saya suka jalinan kisahnya dan petualangan panasnya yang penuh gairah. Hmm~ jadi pengin baca buku Renee Bernard yang lain.

Minggu, 13 Maret 2016

[Blogtour: Review + Giveaway] Remember Amsterdam - Vira Safitri


Judul buku: Remember Amsterdam
Penulis: Vira Safitri
Editor: Astheria Melliza
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 368 halaman
ISBN: 978-602-03-2336-7
Book available at: bukupedia.com




BLURB

Amy Maycott sadar, menikahi seseorang yang tidak dicintai hanya akan membawa masalah. Itulah alasan mengapa ia harus menghentikan rencana pernikahannya dengan Ton van der Deen. Mungkin lebih tepatnya melarikan diri dari pernikahan itu.
Pelarian Amy ke Amsterdam mempertemukan gadis itu dengan Liam Sparks, musisi muda yang sedang naik daun dan digilai fans. Sosok Amy yang kikuk dan misterius, membuat Liam tertarik menjadikan gadis itu tameng dari serbuan gosip media.
Perasaan Liam yang semakin kuat dan kenyataan bahwa Amy Maycott bukanlah gadis sembarangan, membuat Liam jadi mempertanyakan niatnya. Amy pun sadar bahwa ia tidak bisa selamanya melarikan diri. Ketika masa lalu dan masa depan bertarung di depannya, akankah Amy kembali lari dan menjauh dari kebahagiaan?

"Cinta itu abadi, tapi bisa berpindah ke hati yang lebih menghargainya."


RESENSI

Amy Maycott benar-benar ketakutan di ruang tunggu bandara Heathrow. Kecelakaan pesawat terbang yang pernah dialami oleh ayahnya, membuat Amy takut naik pesawat. Tapi ia harus terbang ke Amsterdam untuk menemui ibunya dan mencoba meyakinkan ibunya agar menghentikan rencana pernikahan Amy dengan Ton van der Deen.
Di tengah keraguannya, Amy mendapati seorang pria yang tampaknya banyak menarik perhatian orang-orang. Amy melihat pria itu membubuhkan tanda tangan di dada seorang gadis. Baru kemudian Amy tahu baha pria itu adalah Liam Sparks, seorang musisi muda yang tengah naik daun.
Liam sendiri tengah menanti penerbangannya menuju Amsterdam untuk menonton konser Yann Tiersen—musisi Prancis yang memengaruhi musik Liam. Namun banyak yang salah menduga bahwa tujuan Liam sebenarnya adalah untuk menemui Irina, seorang wanita yang ia cintai namun telah bertunangan dengan sahabat Liam.
Secara kebetulan, Liam dan Amy beberapa kali bertemu dalam situasi yang aneh. Hingga muncullah ide dalam benak Liam untuk menjadikan Amy sebagai tameng pengalih gosip.
Maka Liam pun dengan tekun dan gigih menempel pada Amy. Ia mendekati Amy dan menghabiskan banyak waktu bersama gadis itu.
Perlahan percikan rasa itu mulai muncul. Akankah Amy bisa lepas dari tunangannya yang pencemburu dan abusif? Benarkah Liam akan kembali dengan Irina? Atau justru Amy dan Liam akan bahagia selama-lamanya?

----------

Remember Amsterdam menjadi pengalaman pertama saya mencicipi karya Vira Safitri. Pengalaman yang meninggalkan kesan manis di benak saya.

Dengan menggunakan POV orang ketiga serba tahu, saya bukan saja diajak menyelami pikiran dan perasaan sang tokoh utama, tapi juga tokoh sampingannya. Alurnya maju dan temponya sangaaaat lambat. Vira Safitri menggambarkan dengan detail adegan-adegan selama Liam dan Amy bersama di Amsterdam. Baru di akhir seusai puncak masalah, tempo menjadi lebih cepat.

Setting Amsterdam-nya terasa kuat dan saya suka dengan detail penyebutan lokasi yang dituju. Suasananya cukup kental saat Liam dan Amy bersepeda bersama.

Karakter dalam novel ini cukup banyak dan rupanya peran mereka bukan hanya sekedar penambah bumbu cerita, tapi sebagai pelengkap puzzle. Setiap tokoh sampingan, uniknya saling berhubungan. Hanya saja beberapa hubungan saya rasa cenderung dipaksakan sehingga kurang natural. Seperti misal ternyata Sebastian—adik sahabat Amy—yang membantu Christian membawa Irina ke kamar hotel Liam. Saya sadar adegan ini nantinya digunakan untuk membantu meyakinkan Amy, namun menurut saya kebetulannya terlalu dipaksakan.

Saya sangat menyukai karakter Amy yang misterius dan membumi. Apalagi saya memang mengagumi profesi kurator, dan Amy bukan hanya sekedar kurator tapi juga pelukis. Pelukis yang jeniusnya kebangetan.
Liam juga karakter yang menyenangkan, sedikit keras kepala jika menginginkan sesuatu, tapi sayangnya kurang tegas terhadap Irina. Sikap iya-enggak-iya-enggak Liam terhadap Irina benar-benar bikin geregetan karena memberi celah bagi Irina untuk berbuat seenaknya.
Tapi yang menarik justru karakter ayah Amy, Arthur Maycott. Tipe ayah apalagibketika ketika sedang berusaha mengintimidasi orang yang menyakiti putrinya.
Chemistry antar tokohnya cukup cair dan konsisten.

Overall saya menikmati membaca Remember Amsterdam. Saya bukan hanya menemukan kisah Liam dan Amy yang manis tapi juga kisah cinta orangtua Amy yang walau berpisah namun tetap bertahan.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Cinta itu abadi, tapi bisa berpindah. Berpindah ke hati yang lebih menghargainya." (hlm. 78)

"Hei, hidupmu bukan untuk menyenangkan orang lain semata. Apalah arti menyenangkan orang lain bila kau tidak bisa menikmati hidupmu sendiri?" (hlm. 119)

"Rumah sakit tanpa dokter bukanlah rumah sakit, sementara dokter tanpa rumah sakit akan tetap menjadi dokter. Artinya, di mana pun kau menimba ilmu, kau tetap akan menjadi pelukis bila kau yakin itu memang tujuan hidupmu." (hlm. 121)

---------GIVEAWAY TIME------------



Selamat datang di perhentian ketiga blogtour Remember Amsterdam, belum capek, kan? Karena melalui blog ini saya akan membagikan satu paket hadiah dari Kak Vira Safitri dan Gramedia.
Paket tersebut terdiri dari:
1 novel Remember Amsterdam
1 blocknote bersampul cover Remember Amsterdam
1 mug Remember Amsterdam
1 bookmate imut

Caranya mudah saja:

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat di Indonesia.
2. Follow twitter @virasafitri dan @KendengPanali, lalu share giveaway ini di akun twitter kalian, jangan lupa memention akun kami berdua dan @gramedia dengan hashtag #RememberAmsterdam
3. Jawab pertanyaan di bawah ini dengan mencantumkan Nama | akun twitter | alamat email di kolom komentar. Pertanyaannya adalah:

Jika kamu bekerja sebagai kurator seperti Amy, kamu paling ingin bekerja di museum atau galeri seni mana? Dan mengapa?

4. Jawabanmu saya tunggu paling lambat tanggal 15 Maret 2016 pukul 23.59 WIB. Giveaway hanya berlangsung selama 3 hari jadi... jangan sampai kelewatan yaa ;)
5. Yang terakhir, good luck!

---------UPDATE----------

Haiii... akhirnya selesai juga tugas saya sebagai host blogtour Remember Amsterdam.
Terima kasih untuk seluruh peserta yang luar biasa. Semangat teman-teman untuk menjaga harta warisan sejarah dan seni budaya kereeeeeen banget. Kalian sudah menginspirasi saya dan semoga pengunjung yang lain juga bisa terinspirasi oleh kalian.

Dan akhirnya saya akan mengumumkan satu nama peserta yang beruntung mendapatkan paket Remember Amsterdam. Dia adalaaaaah....

Ari Rizee
@Tiarizee

Selamaaat ya. Jawabanmu sungguh menginspirasi. Kepada pemenang harap mengirimkan data diri ke email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2x24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan sedih. Karena masih ada dua host lain yang akan memandu blogtour ini di blog mereka. Semoga beruntung yaa..

Dan nantikan juga blogtour-blogtour selanjutnya di blog ini. Sampai bertemu lagi :)




Sabtu, 12 Maret 2016

[Resensi: Pink Project - Retni SB] Proyek Cinta yang Tak Terduga


Judul buku: Pink Project
Penulis: Retni SB
Ilustrasi sampul: Louisanne Shutterstock
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus 2009 (cetakan kedua)
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 978-979-22-4771-8




BLURB

Puti Ranin berang sekali ketika Sangga Lazuardi menyerangnya di ruang publik, di koran. Sangga mengejeknya sebagai katak dalam tempurung yang mencoba berceloteh tentang dunia! karena berani memberi penilaian terhadap lukisan tanpa pengetahuan yang memadai.

Bah! Dia memang awam dalam soal seni, seni lukis khususnya, tapi apakah itu berarti dia tidak boleh mengapresiasi sebuah karya? Dan baginya, lukisan Pring menyentuh kalbunya. Sangga Lazuardi sangat pongah. Kesombongan lelaki itu membuat Puti mati-matian membela dan mengagumi Pring, pelukis yang dicela Sangga.

Namun yang tidak dimengertinya... Sangga Lazuardi selalu muncul dalam setiap langkah hidupnya... Bagai siluman, Sangga selalu muncul di mana pun dirinya berada. Apa yang diinginkan lelaki yang telah menghinanya habis-habisan itu?


RESENSI

Puti kesal luar biasa terhadap Sangga Lazuardi karena artikel yang dibuat pria itu di koran yang melecehkan artikel dan otak Puti! Sebelumnya Puti telah membuat artikel yang mengulas tentang lukisan Pring setelah Puti mengunjungi pameran tunggalnya. Meski awam tentang lukisan, Puti ingin mengapresiasi lukisan Kucari Dirimu milik Pring yang membuatnya tergugah. Namun Sangga Lazuardi malah meremehkan kapasitas Puti dan mencela hasil karya Pring. Tentu saja Puti merasa dendam setengah mati pada sang kritikus itu. Bahkan saat Puti akhirnya berhasil bertemu dengan sosok Sangga di sebuah talk show, kebenciannya makin menjadi.
Hingga Puti akhirnya benar-benar bertemu dengan Sangga dan Sangga mengenalinya sebagai penulis artikel yang ia bantai. Tapi reaksi Sangga justru tampak santai terhadapnya.
Sayang lagi-lagi Sangga membuat Puti tambah kesal karena membuat Ina, sahabat Puti hilang akal dan mengejar-ngejar Sangga. Ina bahkan memutuskan tunangannya demi mendekati Sangga.
Ketika Puti berhasil berkomunikasi dengan Pring, akhirnya ia menemukan rahasia mengapa Sangga bersikap kritis padanya dan pada Pring.
Akankah Puti akhirnya menemukan Pring? Mengapa Pring begitu misterius dan sulit ditemui? Dan mengapa Sangga tak pernah berhenti ada di sisi Puti?

--------------

Akhirnya saya membaca ulang Pink Project. Baca ulang karena lupa sama sekali jalan ceritanya. Haha... saya cuma ingat nama-nama tokohnya.
Baca ulang ini dalam rangka kangen berat sama karya-karya Retni SB. Dan seingat saya dulu saya paling suka dengan novel yang satu ini.

Tema ceritanya klasik namun idenya diolah dan dikemas secara menarik. Biasalah saya memang suka dengan kisah yang salah satu tokohnya benci banget sama tokoh yang lain. Seperti Puti dan Sangga ini.
Walaupun bisa dibilang Puti ini negative thingking melulu terhadap Sangga. Namun karakternya cukup konstan.
Yang terasa labil justru Ina, sahabat Puti. Entahlah saya kok merasa nggak sreg dengan sikapnya yang bitchy banget. Padahal tadinya Ina diceritakan punya karakter logis dan kalem, masa hanya karena seorang Sangga dia bisa gila nempel-nempel, mesra-mesraan di depan umum dan marah-marah nggak jelas. Perubahannya drastis banget. Juga ketika dia kembali ke sifat awal pun rasanya mendadak. Labil.
Dari awal saya sudah terkesan dengan Sangga. Pintar, tenang dan logis. Dia juga dengan santai menerima kemarahan Puti. Namun ketika hampir mendekati akhir dan kemudian diungkapkan kesuksesan-kesuksesan dia, hmmm~ kenapa jadi terkesan too good too be true, ya?
Sedangkan Pring sepertinya cukup lucu dan apa adanya. Saya suka pembawaannya juga email-emailnya kepada Puti.
Hubungan antar tokohnya asyik dan kocak. Saya juga menyukai nama-nama tokohnya yang unik dan khas.

Menggunakan POV orang ketiga, novel ini beralur maju dan terasa mengalir. Cara bertutur Retni SB selalu menggelitik. Cukup banyak dialog dalam novel ini namun deskripsinya pun akurat dan jelas, sehingga menjadi penyeimbang yang pas.

Secara keseluruhan saya suka sekali membaca Pink Project. Merasa senang karena novel ini berhasil mengembalikan mood baca saya yang sempat mampet. Ada cinta yang nggak masuk akal namun manis di dalam novel ini. Membuat saya tersenyum puas saat menutup lembaran terakhirnya.

Kamis, 10 Maret 2016

[Resensi: Delicious Marriage - Indah Hanaco] Pernikahan Berbumbu Cinta dan Cemburu


Judul buku: Delicious Marriage
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer kover: Chyntia Tedy
Penerbit: Grasindo (Gramedia Widiasarana)
Tahun terbit: Februari 2016
Tebal buku: 233 halaman
ISBN: 978-602-375-347-5





BLURB

Milly Regitha

Sangat tahu bagaimana rasanya tatkala cinta berubah menyakitkan. Terluka dan sulit memercayai orang lain, hingga bertemu seorang lelaki lancang.

Keith Bertram

Semua kisah asmara di masa lalunya mendadak tak lagi bermakna saat bertemu perempuan bermata muram itu. Dorongan tak tertahankan yang ganjil membuatnya ingin menjadi penyembuh apa pun resikonya.

——————

Milly akhirnya membuka hati saat menyadari bahwa hidup memang penuh risiko. Cinta pun bertumbuh tanpa bisa dicegah. Namun, bahkan di minggu pertama pernikahan mereka, badai mulai bergulung. Keith harus bersabar tapi Milly terlalu muak dengan orang-orang yang ingin mencampuri hidupnya. Mungkinkah sentuhan cinta bisa jadi penawar untuk segalanya?


RESENSI

Milly Regitha lagi-lagi mendapati Keith mendatangi Maharani, toko tempatnya bekerja sebagai bridal consultant. Sudah empat bulan Keith mengejar Milly tapi Milly tetap bersikap jutek pada Keith. Hingga Milly harus menghadiri resepsi pernikahan Keke, sahabatnya. Menjadi masalah yang pelik karena kakak Keke adalah mantan suami Milly. Maka Keith pun menawarkan diri untuk menemani Milly.
Mengetahui kisah hidup Milly tak membuat semangat Keith kendur. Status Milly yang janda tak masalah bagi Keith. Justru Keith mulai mempertimbangkan hubungan mereka secara serius. Keith pun melamar Milly.
Meski sempat ragu, Milly menerima lamaran Keith. Namun ternyata perjalanan pernikahan mereka pun tak bisa berjalan mulus. Milly dan Keith masih saling cemburu dan mudah diguncang badai. Karena bukan hanya orang ketiga saja yang hadir di tengah mereka, tapi juga orang keempat bahkan kelima.
Akankah cinta mereka bisa bertahan?

---------------

Judul Delicious Marriage tentunya menggelitik rasa ingin tahu saya. Pernikahan yang nikmat? Atau... lezat? Hmm~ dan sepertinya bukan lezat dalam hal yang berkaitan dengan masak-memasak.

Delicious Marriage menguraikan kisah seorang wanita yang pernah melalui pernikahan yang pahit dan mencoba berani menghadapi pernikahan yang baru.

Dengan gaya berceritanya yang khas, Indah Hanaco menyajikan kisah ini melalui dua POV, di bagian awal dan akhir menggunakan POV orang ketiga, dan di pertengahan cerita menggunakan POV orang pertama yaitu dari sisi Milly.

Ini pertama kalinya saya membaca novel Indah Hanaco yang memasukkan seni bercinta di dalamnya. Saya deg-degan ketika penulisnya bilang kalau novel ini akan berisi adegan bercinta juga. Haha...
Cukup terkesan juga dengan usaha penulis yang menampilkan Milly sebagai wanita yang nggak keberatan bereksplorasi mengenai hasrat seksualnya. Tapi tetap saja saya merasakan rasa malunya dalam dialog Milly.

Dalam novel ini selain Keith dan Milly, muncul dua sahabat Keith yaitu Phillip dan Rafe. Porsi kedua pria ini lebih sering muncul dibanding Keke, sahabat Milly. Mungkinkah karena Indah Hanaco berencana membuat kisah untuk Phillip dan Rafe? Karena di saat Keith lari kepada Phillip dan Rafe ketika konflik mulai muncul, Milly justru nggak berusaha curhat pada Keke. Atau persahabatan antara Milly dan Keke nggak sedekat trio Keith-Rafe-Phillip?

Keith adalah karakter utama yang pembawaannya santai dan agak kekanakan. Rada nggak logis kalau sudah cemburu. Bayangan saya dia jadi seperti lebih muda dari Milly.
Sementara Milly bisa jadi penyeimbang yang pas buat Keith. Saat Keith yakin, Milly ragu. Saat Keith pergi, Milly berani mengejar. Saat Keith ngambek kayak bocah, Milly tetap seperti jangkar. Saat Keith minta pada Milly untuk melakukan striptease, Milly.... hmm~ kira-kira Milly mau memenuhinya nggak ya? :p
Dialognya lumayan luwes, tapi tiba di bagian *uhuk* hot *uhuk* terasa sedikit kaku. Chemistrynya asyik. Terutama bagian persahabatan Keith. Dan walau Keke jarang muncul untuk membela Milly toh sahabat-sahabat Keith pun akhirnya jatuh sayang juga pada Milly dan lebih membela Milly.

Delicious Marriage memotret pernikahan pasangan muda yang impulsif, cenderung terburu-buru. Sehingga mereka harus menyelesaikan masalah justru setelah pernikahan berjalan.
Bagi kalian yang ingin menikmati kisah cinta yang dipenuhi bumbu agar delicious, cobalah baca novel ini. Karena bagi saya novel ini yummy dan cukup nikmat.

Atau nikmati dulu book trailer Delicious Marriage berikut:



Senin, 07 Maret 2016

[Blogtour: Giveaway + Review] Complicated Thing Called Love - Irene Dyah


Judul: Complicated Thing Called Love
Penulis: Irene Dyah
Editor: Dini Novita Sari
Desain sampul: Orkha Creative
Foto: Budi Nur Mukmin & Irene Dyah Respati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 978-602-03-2557-6





BLURB

Awalnya, alur cerita ini sedikit membingungkan. Tak jelas mana hulu mana muara. Tapi jangan menyerah. Percayalah, ada titik ketika semua puzzle itu bertemu. Seperti cinta.
Kalau Garin Nugroho punya Cinta dalam Sepotong Roti, maka Nabila punya "Cinta (Monyet) dalam Sepotong Pisang". Organik. Gadis yang biasanya patuh itu kali ini memilih berontak: tetap pacaran meski dilarang. Bisa ditebak, kisahnya berakhir dan monyet bernama Bayu itu harus diusir.
Lalu hadir Bagas, pria sempurna pilihan ibunda. Semua jadi teelihat mudah bagi Nabila. Sayang, Bayu belum betul-betul pergi dari hatinya. Duh, bagaimana bisa Nabila memilih di antara Bagas si calon suami idaman dan Bayu yang bengal dan bikin deg-degan? Dan kenapa Nabila mesti berguru pada kisah cinta para sahabatnya?
Sebabnya satu: cinta memang repot!


RESENSI

Nabila ragu bukan main saat harus meninggalkan Tokyo dan pulang kampung ke Jogja. Apalagi kalau bukan karena masalah hati dan perasaan. Di hadapannya sudah ada Bagas, calon suami pilihan ibunya, yang to good to be true. Bagas santun, mapan dan begitu sayang pada Nabila. Tapi di hati Nabila selamanya hanya ada Bayu, mantan pacarnya saat SMA. Bayu yang bengal, Bayu yang berbeda 180° dari Nabila, Bayu yang tidak disetujui ibu.
Meski telah mengakhiri hubungan dengan Bayu bertahun-tahun silam, tetap saja waktu tak bisa membuat Nabila lupa akan perasaannya. Nabila terjebak dalam cinta monyetnya dan enggan diselamatkan. Itu sebabnya ia ragu menikah dengan Bagas.
Bahkan meski telah berguru pada kisah cinta keempat sahabatnya–Sora, Aalika, Dewi dan Dania–Nabila tetap ragu.
Hingga akhirnya ia memilih mundur dari Bagas dan kembali pada Bayu.
Tapi tepatkah keputusannya? Benarkah pernikahan harus selalu melibatkan cinta? Atau justru kita hanya perlu bersandar pada logika?

---------------

Complicated Thing Called Love adalah buku ketiga Irene Dyah yang saya baca, dan jujur saya baru benar-benar jatuh cinta pada tulisan Irene sejak membaca Wheels and Heels. Gaya berceritanya yang lincah dan kadang kocak sungguh enak dibaca.

Complicated Thing Called Love memang nggak sekocak Wheels and Heels tapi sanggup membuat saya lebih jatuh cinta lagi. Betapa tidak, saya diperkenalkan pada karakter-karakter yang penuh warna dan nggak seragam.
Let's see, setidaknya ada sebelas karakter yang muncul dalam novel ini dan saya jatuh cinta pada semuanya. Catat. Semuanya!

Jadi mari kita kupas satu-persatu karakter favorit saya di sini :)
Pertama saya berkenalan dengan Sora dan Langit. Sora adalah sang "Ibu Kos" apartemen yang dihuni Nabila yang cerdas (otaknya ada sekitar delapan!), tegas, bijak dan selalu bisa mengambil keputusan bahkan di waktu yang singkat. Pertemuannya dengan Langit di Verona berasa romantiiiis dan kocak. Berapa banyak sih cowok yang di awal kenalan udah menghubungkan nama kita dengan bintang bokep? Haha.
Well, tanpa Sora yang efisien dan bijak mungkin Nabila akan selalu terombang-ambing nggak jelas.
Yang kedua ada Aalika yang gampang baper dan terkadang nggak logis. Tapi semangatnya gampang menular dan rasa setia kawannya tinggi. Saya antara setuju dan nggak setuju terhadap hubungan gelap Aalika dan Rain, tapi toh saya meleleh juga dengan email singkat mereka di penghujung cerita.
Yang ketiga ada Dania yang merasa rendah diri karena suaminya nggak sekalipun memujinya cantik. Apalagi karena di masa kecil ia sering diejek karena kulitnya yang gelap. Tapi Dania setia, pemegang komitmen yang teguh, lembut dan selalu ingin membahagiakan orang-orang di sekitarnya.
Yang keempat ada Dewi yang logis dan teoritis. Rada drama juga sih sama suaminya, Dewa. Tapi saya suka dengan teorinya:

"Kalau aku, aku akan menyuruhmu menikah dengan pria yang sangat menyayangimu. Urusan hati pasangan kan tak bisa kita kontrol. Jadi pilih saja orang yang sudah pasti mencintaimu. Nah, urusan hati kita, kan kita yang akan mengendalikan. Toh sebetulnya, cinta bisa dipelajari, bisa dibangun, bisa diisi ulang." (hlm. 139)

Sementara Dewa, suami Dewi duuh adem. Sabar gitu ya menghadapi emosi Dewi, dan yang penting punya usaha untuk memperbaiki hubungan mereka.

Sekarang mari ke tokoh utamanya: Nabila, Bagas dan Bayu. Nabila ini lucu, sedikit-sedikit mewek dan lumayan manja padahal anak tunggal. Pintar dan penurut. Mantu idaman deh bagi saya yang punya anak cowok gini. Kkk~
Sama halnya Bagas yang mantuable banget. Bagas ini ganteng, sopan, baik, rajin beribadah. Good guy banget deh. Gampang meleleh deh sama sikapnya yang tenang dan perhatian.
Sementara Bayu adalah tipe badboy-nya. Dari SMA udah kelihatan bengal dan memang pesona "Rhoma Irama dipadu Adam Levine"-nya itu pastilah yang bikin Bayu sulit ditolak. Wkwkwk~

Kenapa saya ngobrolin karakter panjang lebar begini? Itu karena saya jenis pembaca yang paling suka dengan kekuatan karakter dan interaksi para tokoh dalam sebuah buku. Dan menurut saya Irene Dyah ini jago banget bikin karakter yang beda-beda dan nancep di kepala. Chemistry-nya pun oke banget. Nyambung dan klik.
Dan saya paling suka dengan kentalnya persahabatan yang selalu mewarnai novel-novel Irene Dyah. Selalu ramai tapi hangat.

Sedangkan untuk setting, saya suka karena Irene Dyah bukan hanya mendeskripsikan detail lokasi tapi juga selalu membubuhkan suasana yang menyertai setiap tempat-tempat indah itu. Sehingga latarnya bukan hanya sekedar indah tapi juga terasa semakin kuat.

Membaca novel yang beralur maju mundur ini bagai mengumpulkan dan menyatukan kepingan puzzle. Karena bahkan saat hari H pernikahan pun saya masih nggak tahu dengan siapa Nabila menikah, dengan Bagas atau dengan Bayu karena ternyata kedua pria ini punya inisial nama yang sama! Good job Irene, pinter banget mempermainkan rasa ingin tahu pembaca. Bahkan di detik terakhir saat tiba di ending cerita saya pun sempat melongo: A...apa ini... maksudnya???
Hahaha...

Overall, saya suka dengan Complicated Thing Called Love. Dan saya setuju cinta memang repot. Senangnya kalau jadi Sora yang nggak pernah ragu mengambil keputusan, tapi justru mengambil langkah yang salah pun kadang ada hikmahnya.


-----------GIVEAWAY TIME-------------



Nah bagi kalian yang ingin merasakan kegalauan Nabila memilih dua pria dan merasakan hangatnya persahabatan lima sekawan ini, saya punya satu eksemplar Complicated Thing Called Love buat kamu yang beruntung.

Caranya gampang seperti biasa:

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow akun twitter @KendengPanali @aikairin dan share giveaway ini ke medsos dengan hashtag #GACTCL dan jangan lupa mention akun kami berdua
3. Kalian boleh memfollow blog saya via email atau GFC (optional)
4. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menuliskan Nama, akun twitter dan alamat email, kemudian share juga jawaban kamu di twitter dengan hashtag #GACTCL dan mention akun kami. Jika jawaban cukup panjang kalian bisa memecahnya jadi beberapa twit atau dengan screenprint ;)

Di antara keempat sahabat Nabila yang saya tulis dalam review, mana yang paling cocok jadi sahabatmu? Dan apa alasannya?

5. Giveaway akan berlangsung selama sepekan dan akan saya tutup tanggal  12 Maret 2016 pukul 23.59 WIB.
6. Yang terakhir, good luck yaa :))


----------UPDATE----------

Haiii akhirnya berakhir juga blogtour Complicated Thing Called Love di blog saya. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah seru-seruan bareng di giveaway kali ini. Kalian keren!!!
Nah sekarang saya akan mengumumkan satu orang yang beruntung mendapatkan novel Complicated Thing Called Love. Dan pemenangnya adalaaaaaah...

Wardahtuljannah
@bungaoktober_

Selamaaaat yaa. Saya tunggu data diri dan alamat kamu via email nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2x24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan khawatir blogtour Complicated Thing Called masih akan berlanjut di kubikelromance.com so.. buruan ikutan :)

Minggu, 06 Maret 2016

[Resensi: Letters to Aubrey - Grace Melia] Surat-Surat Cinta untuk Ubii


Judul: Letters to Aubrey
Penulis: Grace Melia
Editor: Triani Retno A
Proof Reader: Herlina P. Dewi
Desain cover: Teguh Santosa
Layout isi: Deeje
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Mei 2014
Tebal buku: 266 halaman
ISBN: 978-602-7572-27-0




BLURB

Congenital Rubella Syndrome merupakan kumpulan kelainan akibat virus rubella yang menginfeksi kehamilan seseorang.

Melalui buku ini, penulis mengajak kita masuk dalam perjalanan yang penuh warna ketika dia membesarkan putrinya yang berkebutuhan khusus–akibat terinveksi virus rubella. Ada penolakan, kecewa, dan juga letih yang lambat laun menjadi rasa ikhlas dan optimis. Sebagai ketua komunitas Rumah Ramah Rubella, penulis juga membuka wawasan kita tentang TORCH pada umumnya dan rubella pada khususnya. Dia pun menyerukan pesan kepada orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk terus optimis karena mereka tidak berjuang sendirian.

Semua informasi, pesan, serta rasa cintanya pada sang anak dituangkan dalam bentuk kumpulan surat dengan kata-kata yang ringan dan penuh makna. Buku ini sarat akan cinta seorang ibu pada anaknya. Lewat kumpulan surat ini, penulis ingin putrinya mengerti bahwa ia dicintai dan dibanggakan sebagaimana adanya. 


RESENSI

Menanti kelahiran buah hati pastilah pengalaman paling mendebarkan bagi sebagian besar ibu. Perasaan senang dan cemas silih berganti menjelang hari persalinan.
Maka ketika sang buah hati akhirnya datang ke dunia, saya yakin itulah saat seorang wanita merasakan cinta pada pandangan pertama yang sesungguhnya. Seperti apa pun kondisi buah hati.

Buku Letters To Aubrey ini mengajak saya untuk menyelami seluk perasaan Grace Melia dalam melahirkan dan membesarkan Aubrey Naiym Kayacinta. Nama yang sungguh cantik, secantik sang bayi.
Buku ini berisi surat-surat Grace teruntuk sang buah hati Aubrey, atau yang lebih akrab disapa Ubii, yang diceritakan terkena congenital rubella syndrome, akibat terinfeksi virus rubella sejak dalam kandungan.
Ubii mengalami gangguan pendengaran, kebocoran jantung, serta kerusakan saraf otak. Namun itu tak menghentikan Ubii untuk tumbuh sehat, pintar dan cantik dari waktu ke waktu. Waktu yang tak mudah, waktu yang membutuhkan kesabaran dan perjuangan, waktu yang spesial... karena Ubii memang spesial.

Melalui Letters to Aubrey, Grace membagi kisahnya selama menemani Ubii menjalani tes demi tes, terapi demi terapi dan menceritakan kemajuan-kemajuan yang berhasil dicapai Ubii. Juga kemajuan-kemajuan yang dicapai Grace dan suami sebagai orangtua.
Buku ini juga berusaha menyadarkan pembaca tentang pentingnya screening TORCH dan vaksin MMR bagi para calon ibu. Grace bahkan menjabarkan tentang dana yang harus ia keluarkan selama pengobatan Ubii untuk memberi perbandingan dengan dana pencegahannya.

Sebagai kader pembina keluarga yang memiliki balita di kampung, saya tahu bahwa sosialisasi TORCH sungguh minim sekali. Bahkan pertemuan dan penyuluhan rutin dengan tim puskesmas pun belum pernah sekalipun membahas secara mendalam apa, bagaimana dan seperti apa virus TORCH terutama bagi ibu hamil. Padahal di kampung saya ada satu anak spesial yang kemungkinan ibunya dulu juga terpapar virus TORCH.

Tadinya saya takut akan mewek-mewek sedih saat membaca buku ini. Tapi dugaan saya salah. Surat-surat ini ditulis bukan dengan kedukaan dan keputusasaan tapi ditulis dengan penuh cinta kasih dan harapan serta kebanggaan. Rasanya saya tersentuh dan tersentil dalam waktu bersamaan.

Saya rekomendasikan buku ini untuk para calon ibu juga para orangtua. Bagaimanapun kondisi putra-putri kita, mereka layak tumbuh dengan penuh cinta, penuh penerimaan dan penuh kebanggan diri. Tuhan mengasihi anak-anak, Tuhan juga mengasihi kita dengan menitipkan anak-anak yang luar biasa agar kita menjadi sempurna.

Jumat, 04 Maret 2016

[Resensi: Seduced by The Highlander - Julianne MacLean] Cinta yang Mencabut Kutukan


Judul buku: Seduced by The Highlander
Penulis: Julianne MacLean
Series: Highlander #3
Alih bahasa: Prima Sari Woro Dewanti
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal buku: 468 halaman
ISBN: 978-602-02-6980-1



BLURB

Lachlan MacDonald, sang panglima perang, sudah menaklukkan banyak pria di peperangan—dan juga banyak wanita di peraduan—dia sungguh tak terkalahkan. Tapi satu pertemuan dengan seorangvpenyihir membuat Lachlan dikutuk dengan kejam. Kini, setiap wanita yang bercinta dengannya akan menderita selamanya....

Lady Catherine adalah seorang wanita bangsawan yang jelita. Karena menderita amnesia, dia pun mencoba mencari tahu jati dirinya. Ketika melihat Lachlan MacDonald, Catherine mendapatkan satu penglihatan yang menjadi titik balik ke kehidupan masa lalunya—bahkan ke dalam hasratnya. Namun, apakah mungkin gairah yang bergejolak ini bisa membawa mereka berdua pada penderitaan?


RESENSI

Lachlan MacDonald membuat marah Raonaid, sang peramal dan penyihir, karena membuat kekasih Raonaid menyingkirkan wanita itu. Untuk menghukum Lachlan, Raonaid mengutuk sang pejuang. Lachlan yang pernah merasakan kehilangan karena kematian istri dan anaknya, dikutuk untuk merasakan kepedihan itu berulang kali. Setiap wanita yang bercinta dengan Lachlan akan mengandung dan mati saat melahirkan.
Sejak kutukan itu, Lachlan telah menghabiskan waktu selama tiga tahun mencari Raonaid agar mencabut kutukan. Maka ketika Lachlan melihat Raonaid di kastil Drumloch dan menyamar sebagai Lady Catherine, ia merasa kalap. Lachlan mencoba berbagai cara agar wanita itu mau mencabut kutukannya.
Lady Catherine merasa terkejut mendapati seorang pejuang tangguh nan tampan namun terlihat sangat membenci dirinya. Karena kehilangan ingatan, ia merasa dirinya bukanlah Lady Catherine yang sesungguhnya. Maka Catherine setuju untuk mengikuti Lachlan ke Kastil Kinloch untuk memastikan apakah ia adalah Raonaid.
Selama perjalanan mereka, perasaan Lachlan terbelah antara membenci dan bergairah terhadap Catherine.
Namun ketika jati diri Catherine terungkap, masihkan Lachlan merasakan hal yang sama? Bagaimana dengan kutukan Lachlan? Akankah Catherine menjadi korban karena percintaan mereka?

----------------

Seduced by The Highlander merupakan buku ketiga dari seri Highlander, dan ya saya langsung lompat membaca buku ketiga tanpa membaca buku pertama dan keduanyablebih dulu. Haha...
Saya memang suka begitu sih, nggak pernah urut kalau baca novel berseri. Karena saya ingin tahu sejauh mana penulis bisa membuat saya sebagai pembaca paham tanpa perlu membaca novel sebelumnya. Kecuali untuk dwilogi, trilogi, dst yang memang harus dibaca berurutan.

Seduced by The Highlander bersetting tahun 1718 pada mulanya di Skotlandia. Deskripsi waktu, latar dan suasananya rapi dan apik. Gambaran tentang Highland dan Lowland cukup jelas termasuk juga tentang ancaman pemberontakan dan perebutan kekuasaan yang jamak terjadi.

Saya suka penggambaran dilema para tokohnya. Pertentangan batin Lachlan dan bagaimana dia berusaha menekan desakan gairahnya, saya anggap menarik untuk diikuti.
Catherine menjadi karakter yang mengejutkan karena sangat blak-blakan dan lumayan berani. Meski saya nggak sreg dengan cerita tentang amnesia-amnesianan, tapi misteri tentang Catherine dan Raonaid ini memang yang paling menarik.
Chemistrynya asyik dan adegan panasnya tingkat dewa. Haha...

Konflik utamanya jelas dan menarik, dan saya berdebar-debar menunggu apa yang terjadi saat Catherine bertemu Raonaid. Juga bertanya-tanya tentang masa lalu Catherine. Namun saya nggak dapat penjelasan logis mengapa Catherine sampai hilang ingatan. Apa karena syok? Apa karena rasa takut sehingga ia memblokir sendiri ingatannya? Padahal jika melihat sikapnya terhadap Lachlan, dia termasuk pemberani dan nggak gampang syok. Tapi saya lumayan suka dengan penyelesaian konfliknya, tentang arti kematian yang mau nggak mau pasti akan dihadapi Lachlan, meski dengan ada atau tidaknya kutukan.

Penerjemahannya bagus meski ada beberapa typo dan susunan kalimat yang terbalik. Tapi tetap enak dibaca dan asyik diikuti. Saya cukup suka dan menikmati novel ini.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon