Minggu, 31 Januari 2016

[Resensi: Pulau Takdir - Judith McNaught] Cinta dalam Setiap Tarikan Napas


Judul buku: Pulau Takdir
Judul asli: Every Breath You Take
Penulis: Judith McNaught
Penerjemah: Endang Sulistyowati
Penyunting: Yohanes Widjaja
Penerbit: Dastan Books
Tahun terbit: Juni 2014
Tebal buku: 528 halaman
ISBN: 978-602-247-173-8




BLURB

Setelah ayahnya meninggal, Kate Donovan menerima ajakan Evan, kekasihnya, untuk berlibur di sebuah pulau tropis yang indah. Namun, bukannya terhibur, Kate malah merasa semakin kesepian dan terpuruk, apalagi Evan selalu menunda-nunda menemaninya dengan alasan ada pekerjaan.

Sementara itu, Mitchell Wyatt tidak menduga kalau pertemuannya yang tidak disengaja dengan Kate akan mengubah hidupnya selamanya. Sejak kecil, Mitchell sudah 'dibuang' oleh keluarganya. Tanpa keluarga yang menyayanginya, Mitchell tumbuh menjadi pribadi yang sangat angkuh, tidak mudah percaya pada orang lain, tapi semua pengalamannya itu menjadikannya sebagai pengusaha yang sukses dan percaya diri. Selama ini, Mitchell tidak pernah kesulitan mendapatkan wanita yang diinginkannya, tapi tidak pernah ada wanita yang mampu membuatnya terpesona secepat dan sekuat yang dilakukan Kate. Di lain pihak, Kate yang merasakan hubungannya semakin hambar dengan Evan, juga menemukan sesuatu yang baru dan memikat dalam diri Mitchell.

Apakah Kate benar-benar menemukan pasangan hidupnya? Bagaimana reaksi Evan ketika mengetahui kebenarannya? Dan bagaimanakah akhir hubungan terlarang antara Kate dan Mitchell?


RESENSI

Masih berduka atas meninggalnya sang ayah, Kate Donovan merasa kesepian di Pulau Anguilla. Tadinya ia datang ke pulau itu bersama kekasihnya Evan Bartlett, tapi kesibukan Evan sebagai pengacara memaksa Evan untuk meninggalkan Kate dan kembali ke Chicago.
Menghabiskan waktunya sendirian di pulau nan indah itu, Kate tanpa sengaja bertemu dengan Mitchell Wyatt dalam suatu kecelakaan kecil. Untuk mengganti kerugian, Mitchell meminta Kate untuk makan malam bersamanya. Setengah tersihir akan pesona Mitchell, Kate pun setuju.
Namun makan malam yang mestinya akan terjadi di sebuah tempat itu hampir gagal karena adanya kecelakaan lain. Kecelakaan yang melibatkan anjing kampung yang telah menarik perhatian Kate selama beberapa hari terakhir. Memutuskan untuk merawat anjing itu, Kate membawa Max dan Mitchell ke villa tempatnya menginap.
Mitchell yang sepanjang hidupnya selalu merasa 'dibuang' merasakan untuk pertama kalinya menemukan pesona yang kuat dan manis dalam diri Kate. Meski ia tahu Kate telah bersama seseorang, ia tetap bercinta gila-gilaan dengan Kate.
Sayangnya Evan kembali, dan saat Kate memutuskan untuk meninggalkan Evan, pria itu mengungkapkan siapa sebenarnya jati diri Mitchell. Satu kesalahpahaman disusul kesalahpahaman yang lain dan menimbulkan pertengkaran lalu perpisahan.
Namun saat Kate menyadari ia telah hamil, akankah ia meberitahu Mitchell dan mengambil risiko ditolak lagi oleh pria itu?

-------------

Saya sebenarnya merasa geli dengan pemilihan judul versi Indonesianya. Meski kisah cinta antara Mitchell dan Kate tumbuh dan berkembang di pulau, tapi saya lebih suka Every Breath You Take yang merujuk pada kalimat romantis yang diucapkan Mitchell. Kalimat yang sukses bikin mewek.

Judith McNaught detail banget dalam menuliskan latar belakang para tokohnya. Landasan ceritanya dibangun dengan kokoh dan dijalin dengan rapi sehingga rasanya mengalir dengan wajar dan asyik diikuti.

Saya suka dengan Kate yang pintar banget flirtingnya. Haha~ Kalimatnya selalu memancing ke arah yang tepat. Dia wanita yang mudah dibuat tertawa dan nggak jaim.
Mitchell jenis pria yang 'dewa' banget. Tampan, maskulin, sukses dengan kekuatan sendiri, dan yang mematikan adalah selera humornya.
Mereka berdua pasangan yang manis dan romantis, tapi sayangnya terlalu sempurna. Jadi berasa nggak nyata.

Saya lebih suka interaksi mereka setelah bertemu kembali saat menghadapi tragedi penculikan putra mereka. Lumer banget dengan adegan-adegan manis yang bikin overdosis. Mitchell juga langsung muncul gitu rasa kebapakannya. Haha~
Umm~ tapi saya rasa Danny terlalu lancar bicara sebagai anak berusia dua puluh dua bulan. Anak saya dua puluh tiga bulan tapi bicara saja masih kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Ini Danny malah bisa menceritakan ulang apa yang dikatakan ibunya atau ibu temannya. Sorry, tapi saya rasa itu kemampuan anak umur tiga tahun ke atas.

Overall, ceritanya baguuuus. Intriknya dapet banget. Dan kadar romannya juara. Buat kalian yang suka tipe alpha-male dan punya sense of humor yang nakal dan menggoda tapi juga romantis abis silakan baca novel ini. Dan siap-siap pingsan saat Mitchell berkata, "con ogni respiro che prendo." *pingsan tjantik*

Sabtu, 30 Januari 2016

[Posbar] Resensi: Cinta di Malam Natal - Penny Jordan


Judul buku: Cinta di Malam Natal
Judul asli: Christmas Eve Wedding
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Lustatin
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2015
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 978-602-03-2334-3
Available at: Bukupedia.com




BLURB

Jaz yakin dirinya jatuh cinta dan akan menghabiskan sisa hidupnya dengan Caid Dubois, konsultan bisnis seksi yang sudah mencuri hatinya sejak Jaz tiba di New Orleans. Namun, harapan masa depan mereka yang bertolak belakang memaksa Jaz kembali ke Inggris dengan hati hancur.

Usaha Jaz untuk melupakan kenangan pahitnya berakhir sia-sia karena beberapa bulan kemudian Caid ditugaskan ke Inggris untuk memantau toko tempat Jaz bekerja. Seakan itu belum cukup, ia harus berbagi apartemen dengan si pria angkuh.

Pertemuan kembali di bawah langit bulan Desember tersebut menyadarkan Jaz dan Caid bahwa mereka membutuhkan satu sama lain. Namun, sanggupkah mereka mengambil risiko untuk berkompromi dalam cinta?


RESENSI

Jaz datang ke New Orleans bersama ayah baptisnya, Paman John, untuk melakukan negosiasi jual-beli toserba Inggris milik Paman John oleh Annette Dubois. Di situlah Jaz bertemu dengan putra semata wayang Annette, Caid Dubois. Dalam sekejap mereka langsung tertarik satu sama lain. Dan tak butuh waktu lama mereka menjadi sepasang kekasih.
Caid dengan mudah membuka hatinya dan mencintai Jaz saat tak sengaja ia mendengar bahwa Jaz adalah putri seorang peternak. Mengingat masa kecilnya yang suram karena selalu ditinggalkan sang ibu untuk mengejar kariernya, Caid bertekad untuk memiliki istri yang akan menghabiskan seluruh waktunya di rumah untuk mengurus anak-anak. Ia menolak menikahi wanita karier karena tak ingin anak-anaknya kelak bernasib sama sepertinya. Kesepian dan merasa ditolak oleh ibu sendiri. Caid mengira ia mendapati sosok istri ideal dalam diri Jaz.
Yang tak diketahui Caid, Jaz justru wanita yang sangat memuja darah seninya dan karier yang telah dicapainya. Sebagai perancang etalase toko, Jaz punya ide-ide kreatif yang membuatnya menikmati pekerjaannya. Jika ia menikah ia ingin kreatifitas seninya diakui dan didukung oleh suaminya kelak.
Sepasang kekasih yang saling mencinta tapi sayangnya terbentur idealisme yang sangat bertolak belakang. Maka mereka harus berpisah.
Namun ketika empat bulan kemudian Caid tiba di Inggris dan harus berbagi rumah dengan Jaz, akankah mereka berhasil mencapai sebuah kompromi? Ataukah mereka akan terlalu sibuk menyangkal dan saling bertengkar?

-----------

Bulan ini sebenarnya saya nggak berencana membeli buku. Tapi saya nggak pernah bisa menahan godaan setiap kali nama Penny Jordan nongkrong di rak toko buku. Bahkan seandainya saya ke toko buku dengan niat beli buku yang berbeda, begitu menemukan nama penulis ini, saya langsung hilang arah tujuan. Haha~
Maka terbelilah novel koleksi istimewa Harlequin dari penulis favorit saya ini.

Saya langsung terkaget-kaget di bab pertama ketika Jaz melakukan flirting dengan pria asing di lift. Saya berasumsi pria asing karena bolak-balik si pria ditulis sebagai 'pria itu'. Kok 'nakal' sekali si Jaz ini ketemu pria hot di lift dan dirayu dikit langsung mau diajak bobok bareng. ^^
Tapi... ternyata eh ternyata, ini adalah pancingan! Penny Jordan mungkin ingin membuat pembaca berasumsi pesona Caid langsung bisa merontokkan Jaz seketika. Padahal... ini twist yang menggebrak di awal cerita.
Hmm~ sayangnya image wanita gampangan jadi langsung melekat pada Jaz karenanya.

Seperti biasa, Penny bertutur dengan gayanya yang khas. Penny selalu bisa menggambarkan perasaan si tokoh yang tersayat-sayat dan teriris-iris. *emangnya cabe*
Dan harus saya akui lebih menarik menyaksikan (membaca) konflik batin tokoh utamanya dibanding konflik verbal mereka. Dialog yang dilakukan dua orang ini menyedihkan dan menyakitkan. Terutama kemarahan Jaz yang mirip debat anak-anak. Jaz terlalu sering menuduh, terlalu mudah membuat asumsi dan terlalu sering merajuk.
Saya sebal setengah mati karena Jaz nggak pernah memberi kesempatan bagi mereka berdua untuk bicara dengan logika dan mencari jalan keluar. Itu kan yang seharusnya dilakukan sepasang kekasih yang saling mencinta?
Dan saya nggak menyukai Caid karena chauvinist banget. Meski ia merasa seperti itu karena pengalaman masa kecilnya, tetap saja pikirannya sempit.

Salah satu hal yang mendorong saya membeli buku ini adalah disebutkannya New Orleans di blurb. Saya langsung girang karena novel ini mengambil setting kota favorit saya, tapi ternyata New Orleans cuma muncul sebentar, sebagian besar setting berada di Inggris.

Penerjemahannya bagus. Ada kalimat-kalimat panjang dalam dialog yang dilontarkan Jaz yang terasa agak 'mbulet'. Tapi mungkin kalimat versi aslinya memang seperti itu. Typo berupa kesalahan ketik lumayan banyak juga. Tapi untuk kesalahan ejaan dan tata bahasa hampir nggak ada. Keseluruhannya mudah dan enak dibaca.

Bisa dibilang, ini bukan karya terbaik Penny Jordan. Bukan hanya tokohnya yang terasa konyol tapi juga konflik yang kurang greget. Meskipun tetap saja endingnya sweet banget. Penyelesaian yang dibuat Penny Jordan selalu membuat saya terharu dan mewek. Walaupun Cinta di Malam Natal hanya berhasil membuat saya mewek sedikiiiit. Haha~




Rabu, 27 Januari 2016

[Resensi: Negeri Para Roh - Rosi L. Simamora] Menjejak Negeri Tempat Roh Bersemayam


Judul buku: Negeri Para Roh
Penulis: Rosi L. Simamora (berdasarkan kisah nyata Dody Johanjaya)
Ilustrasi sampul dan isi: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 978-602-03-2113-4



BLURB

Pada tanggal 6 Juni 2006, longboat berpenumpang lima kru sebuah stasiun televisi berangkat dari Agats menuju Timika. Mereka adalah Senna, Totopras, Sambudi, Bagus, dan Hara.

Belum lagi tengah hari, laut sekonyong mengganas dan longboat terbalik. Berbekal dry box berukuran lima puluh sentimeter persegi, empat dari mereka harus bertahan di tengah amukan Laut Arafuru. Yang seorang lagi terpisah bersama tiga awak perahu, terseret arus ke arah berlawanan.

Negeri Para Roh adalah kisah tentang kelima kru itu. Di negeri itu mereka belajar mengenal manusia Asmat dan relung-relung ritualnya yang purba. Mereka juga menyaksikan bagaimana roh-roh leluhur dihormati dan sekaligus ditakuti, terus diingat dalam patung-patung ukiran, namun juga dibujuk pergi dan diantar ke dunia abadi di balik tempat matahari terbenam.

Bukan itu saja. Di Negeri Para Roh itu pula Senna akhirnya belajar melepaskan, Totopras mengalami Tuhan, Sambudi mencoba merekatkan kembali dirinya yang retak, dan Bagus mendapat keberanian untuk menyatakan cintanya. Dan Hara? Ia menemukan dirinya sendiri.

Namun. Selamatkah mereka?


RESENSI

Sebagai "sang otak" di balik program Petualang yang memiliki rating tinggi di dunia pertelevisian, Senna Johanjaya tiba lebih dulu di Desa Senggo. Sementara keempat kru yang lain; Bagus Dwi, Sahara, Totopras, dan Sambudi akan tiba sehari kemudian untuk melakukan syuting di Agats, Kabupaten Asmat.
Ini petualangan yang kesekian kali bagi Senna meski mendapat tentangan keras dari Sambudi. Pria itu sejak awal menolak keras menyertakan Sahara ke dalam tim mereka. Bahkan di sepanjang perjalanan dan selama pengambilan gambar Sambudi bersikap kasar dan dingin pada Sahara. Apalagi setiap Hara berdekatan dan bersenda-gurau dengan Bagus, Sambudi makin angker.
Bagi Hara yang memulai perjalanan ini dengan setengah hati, petualangan ini sempat membuatnya ragu. Ia bukan hanya meragukan dirinya sendiri tapi juga meragukan tujuannya. Namun Bagus yang terus bercerita dan membagi kisahnya tentang Manusia Asmat membuka mata Hara. Ia tetap bertahan walau Sambudi seolah membencinya.
Lima orang dari tanah seberang, menjejakkan kaki di pulau lumpur yang bukan hanya dihuni para manusia tapi juga para roh. Roh yang beberapa di antaranya menyimpan dendam.
Ketika tiba waktunya untuk pulang, akankah mereka lebih percaya pada takhayul atau logika? Saat perjalanan mereka dihadang arus, angin dan ombak yang marah, bisakah mereka bertahan? Bisakah mereka pulang?

-----------

Sebagai pencinta acara Jejak Petualang dan mengikuti berita hilangnya kru Jejak Petualang pada tahun 2006, saya menyambut gembira novel ini. Meski bukan memoar sepenuhnya dan beberapa hal dimodifikasi agar menjadi cerita pop, saya cukup menantikannya.

Dari covernya saja sudah banyak berbicara pada saya. Bukan hanya menunjukkan apa yang harus dihadapi kelima kru televisi dan ketiga kru kapal yang menyertai mereka, tapi juga menampilkan pesona yang etnik dan unik.

Negeri Para Roh menggunakan POV orang pertama dari sisi Senna dalam setting tahun 2015, saat Senna memutuskan kembali ke Agats setelah sembilan tahun berlalu. Sisanya POV menggunakan sudut pandang orang ketiga pada setting tahun 2006.
Alur novel ini menggunakan alur campuran. Setting waktunya melompat-lompat dengan lincah; mundur kemudian mundur lebih jauh lalu maju lagi. Hal ini membuat rasa penasaran saya menjadi-jadi karena kisah dipotong di saatbyang tepat dengan begitu rapi.
Diksinya indah dan penuh majas personifikasi. Seakan alam benar-benar hidup dan punya kuasa atas manusia.

Sebagai novel yang berdasarkan kisah nyata, mau nggak mau saya bertanya-tanya juga mana yang mendapat sentuhan si penulis. Pada akhirnya setelah selesai membaca, saya sempat mencari artikel-artikel berita terkait kejadian ini. Dari artikel-artikel tersebut saya merasa penulis berhasil memoles beberapa hal untuk menjadi jalinan cerita yang menarik.

Saya menikmati legenda-legenda dan kisah-kisah tua suku Asmat yang disajikan di dalamnya. Pastinya penulis telah melakukan riset yang mendalam karena novel ini sanggup menyuarakan filosofi dan kearifan lokal Manusia Asmat. Di balik budaya mereka yang dituduh kanibal ada rasa hormat yang mereka tujukan pada roh alam dan roh leluhur.

Tokoh-tokoh yang tampil dalam novel ini saya anggap perwakilan dari lima kru Jejak Petualang di dunia nyata. Nama keempat orang yang hilang tetap menggunakan nama asli; Bagus Dwi, Luky, Agus, dan Yunus. Sementara keempat kru televisi yang lain menggunakan nama yang berbeda.
Meski sejak awal karakter mereka sudah terasa bulat dan kuat, sangat menarik melihat perubahan yang kemudian terjadi. Bahwa perjalanan nan berat ini nantinya membentuk karakter akhir yang lebih baik. Dan yang lebih penting membuat saya yang terhanyut pada ketegaran dan kepasrahan tokoh-tokoh ini tahu bahwa kita nggak boleh kehilangan harapan. Semua telah dicukupkan oleh Tuhan.

Overall, buku ini bukan hanya memberikan kisah para penyintas yang luar biasa tapi juga memberi sudut pandang yang jelas tentang Manusia Asmat dan kepercayaan mereka yang sangat menarik. Bagaimana saya diajak memahami suku Asmat. Memahami kebudayaannya, ideologinya, jati dirinya dan jeritan-jeritan hatinya karena dipaksa menjadi manusia modern yang 'artistik'. Recomended banget, pokoknya.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Berapa lama kita terus memelihara kenangan? Berapa lama usia kenangan sebelum akhirnya luruh dimakan waktu? (hlm. 75)

"Ingat, Sahara. Hidup ini terlalu berharga untuk dijalani dengan mata tertutup. Buka mata. Telingamu. Hatimu. Segenap jiwamu... Cari tahu apa yang kamu inginkan. Dan jangan berhenti sampai kamu menemukannya." (hlm. 102)

"Uang selalu berbeda nilainya untuk setiap orang, kurasa. Tergantung digunakan untuk apa dan membahagiakan siapa." (hlm. 110)

Kita adalah semua peristiwa yang terjadi pada kita. Kita adalah keberhasilan dan kegagalan kita, keberanian dan ketakutan kita, suka dan duka kita. Kita adalah bagaimana kita mengolah semua itu. (hlm. 163)

Selasa, 26 Januari 2016

[Resensi: Broken Vow - Yuris Afrizal] Menguak Rahasia Tiga Luka Pernikahan


Judul buku: Broken Vow
Penulis: Yuris Afrizal
Editor: Weka Swasti
Desain cover: Theresia Rosary
Penerbit: Stiletto Book
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal buku: 270 halaman
ISBN: 978-602-7572-41-6



BLURB

Tiga sahabat. Tiga pernikahan. Tiga luka.

Amara, dia punya segalanya. Kecantikan yang sempurna dan kehidupan pernikahan yang diimpikan setiap perempuan. Namun, hanya kisah Cinderella yang berakhir happily ever after, karena ternyata mencintai saja tidak cukup, dan menjadi sempurna pun tidak cukup.

Nadya, memiliki karier yang cemerlang. Menikah di usia 30 hanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengganggunya. Baginya, keinginan dan harapan kadang berbenturan dengan realita yang ada.

Irena, si superwoman. Berkarier dan menjadi ibu rumah tangga sekaligus. Potret keluarga bahagia yang sesungguhnya. Namun, siapa yang mengira jalan hidup Irena akan menikung tajam?

Siapakah di antara tiga sahabat ini yang paling berbahagia dalam pernikahannya–atau justru paling menderita? Prasangka dan iri pun diam-diam ada di hati mereka. Apakah persahabatan yang telah terjalin itu dapat tetap bertahan? Dan, dapatkah mereka menemukan kebahagiaan masing-masing?


RESENSI

Dari luar, pernikahan Amara dengan Nathan benar-benar bak cerita dongeng. Bertemu di sebuah pesta perayaan tahun baru, Amara dengan jelas dan tegas menolak untuk tidur bersama Nathan, sang don juan, dan malah membuat Nathan bertekuk lutut hingga membawa Amara ke pelaminan. Banyak yang bilang Amara membuat Nathan insyaf dari sikapnya yang suka gonta-ganti pacar. Pernikahan yang membuat iri karena Nathan yang kaya raya itu membuat hidup Amara sangat berkecukupan. Tapi di dalam, pernikahan ini tidaklah seindah yang dilihat orang. Akhir-akhir ini Nathan menjauh dan Amara mencium bau busuk seiring dengan semakin seringnya ia menemukan bau parfum wanita dan noda lipstik di baju Nathan.

Nadya memang terlihat yang paling santai di antara para sahabatnya. Baru menikah di usia tiga puluh tahun dengan sahabatnya sendiri, Dion, dan kemudian mengumumkan bahwa ia hamil. Tak ada yang tahu bahwa ia masih menyimpan rasa cintanya pada Leo, kekasih yang telah meninggalkannya demi mengejar karier di Paris. Hanya Dion yang tahu tapi tetap mencintainya. Kehamilan bukanlah kabar bahagia baginya. Nadya merasa tertekan karena pernikahan dan kehamilan yang tak ia inginkan. Tapi saat Leo kembali dan meminta Nadya untuk kembali  pada pria itu, mengapa ia jadi ragu?

Irena yang lebih dulu menikah dibanding kedua sahabatnya, tampak terlihat seperti memiliki keluarga paling bahagia. Dengan suami yang meski manja tapi sangat family man, dan dua anak yang manis, Irena pun menjalani tugasnya sebagai istri, ibu dan juga wanita karier. Tapi lama-kelamaan ia mulai kewalahan. Putranya, Aron, mulai sering bertingkah dan manajemen waktunya kacau balau.
Ketika ia mulai memantapkan diri untuk resign dari kantor dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, Mas Juna malah melarang. Padahal dulu Mas Juna paling getol menyuruhnya berhenti. Ketika Mas Juna mengaku telah menghabiskan uang tabungan mereka sebesar seratus juta, saat itulah Irena sadar, pernikahannya mendapat ujian hebat.
Bisakah mereka mengatasi problema rumah tangga masing-masing dan tetap menyembunyikannya dari sahabat yang lain hanya karena gengsi?

-------------


"Apa menikah membuat kita bahagia?" - Nadya (hlm. 4)

Dari kavernya Broken Vow terlihat elegan tapi juga seperti menyimpan kesenduan. Mungkin warnanya, mungkin juga angle fotonya, yang jelas ekspresi ketiga wanita ini yang nggak terlihat oleh pembaca, menunjukkan bahwa banyak rahasia yang mereka simpan.

Tema Broken Vow benar-benar menarik, tentang persahabatan dan kehidupan pernikahan yang dari luar tampak gilang-gemilang tapi di dalam menggerogoti kebahagiaan mereka. Ibaratnya kalau orang jawa bilang "urip iku wang-sinawang". Kita cuma bisa melihat kehidupan rumah tangga orang lain dari luar dan merasa iri, padahal belum tentu yang terjadi di dalamnya seindah kelihatannya.
Broken Vow menyajikan keruwetan problem rumah tangga bukan hanya dari satu sisi pernikahan tapi tiga pernikahan sekaligus. Ini benar-benar kisah yang biasa terjadi di lingkungan sekitar kita sehingga saya merasa relate dengan ceritanya.

Menggunakan POV orang pertama secara bergantian antara Amara, Nadya, dan Irena, novel ini semakin menyeret saya dalam naik turunnya kehidupan pernikahan mereka. Plotnya lumayan rapi dengan alur maju mundur. Saya nggak bisa berhenti membacanya dan menebak-nebak apa yang akan terjadi.
Dan saya cukup dikagetkan dengan penyelesaian konflik pernikahan Amara. Melihat gelagatnya saya pikir ending mereka nggak akan seperti itu. Tapi setelah dipikir lagi, ini ending yang logis dan realistis. Bukan jenis ending novel-novel harlequin yang tipikal novel banget :)

Penokohannya kuat dan cukup berasa perbedaannya. Terutama Irena yang menurut saya kacau banget. Saya sudah merasa nggak simpati dengan dia yang manajemen waktunya kacau balau. Kelihatan kalau rumah tangganya kurang komunikasi dan ia menganggap dirinya superwoman.
Saya selalu menganggap bahwa pernikahan bukan hanya tentang cinta ,tapi juga komunikasi dan kompromi. Entah bagaimana dengan pasangan-pasangan dalam novel ini, tapi sebelum menikah, saya selalu menanyakan skenario 'what if' dengan pasangan saya. Saya ingin tahu bakal kompak nggak kami nanti. Karena itulah yang terpenting. Saya nggak mau kejadian kayak Irena gini, kelimpungan tiap pagi, nyiapin suami kerja, anak-anak sekolah dan diri sendiri siap-siap ke kantor. Minimal saya ingin pasangan saya paham dan sigap saat saya butuh bantuan. *laah.. kenapa saya malah ceramah?* :)))

Haissh... balik ke topik. Tentang Irena saya juga merasa ia cukup nggak sehat memandang persahabat mereka bertiga. Rasa iri dan gengsinya kelihatan jelas. Saya dibuat geleng-geleng kepala karena ia dengan mudahnya menghakimi Nadya dan Amara. Padahal mereka sudah berteman bertahun-tahun.

Saya paling suka dengan perkembangan Nadya. Digantung bertahun-tahun memang nggak enak, tapi balas menggantung orang lain juga bukan tindakan yang bijak. Untungnya sih, Dion pasrah-pasrah aja.
Tapi saya juga suka sikap tegas Dion saat melihat Nadya dan Leo bersama. Dan kejadian heboh di rumah sakit itu lucu juga. Masa berantem di ruang bersalin. Itu kalau terjadi di rumah sakit tempat saya bersalin, pasti mereka udah ditendang sama bidan kepala. Haha~

Overall, saya suka banget novel ini. Tentang ujian pernikahan yang kemudian menguji persahabatan mereka. Tentang rumput tetangga yang nggak selalu lebih hijau. Saya rekomendasikan novel ini bagi kalian yang ingin menikmati indahnya ikatan persahabatan yang telah teruji badai besar.

Review ini diikutkan dalam Broken Vow Book Review Contest


Minggu, 24 Januari 2016

[Resensi: #GIRLBOSS - Sophia Amoruso] Kisah Kesuksesan Pendiri Nasty Gal


Judul buku: #GirlBoss
Penulis: Sophia Amoruso
Penerjemah: Rahayu Wilujeng Kinasih
Penyunting: Kiki Sulistiyani
Perancang sampul: Iggrafix
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 278 halaman
ISBN: 978-602-0989-89-1




BLURB

Delapan tahun lalu, dia bukan siapa-siapa. Dikeluarkan dari sekolah, berganti-ganti pekerjaan, mengorek sampah untuk mencari makanan, sampai-sampai pernah mengutil di supermarket demi bertahan hidup. Namun kini, Sophia Amoruso adalah perempuan muda, pendiri, CEO, dan direktur kreatif Nasty Gal, toko fashion online beromset ratusan juta dolar.

Bisnis Sophia dimulai di eBay, dari menjual buku bekas sampai baju-baju vintage yang dia kumpulkan dari tukang loak. Jatuh bangun dia alami, tetapi di bidang itulah akhirnya dia menemukan kecintaannya. Dia pun mampu membuat situs sendiri, nastygal.com, yang dinobatkan majalah Inc. menjadi toko retail yang tumbuh paling cepat di Amerika.

Sophia membuktikan bahwa menjadi sukses bukan tentang seberapa populer drimu di sekolah atau kampus. Keberhasilan adalah tentang kerja keras, melakukan hal yang kamu sukai, dan memercayai instingmu.

Dalam buku ini, Sophia dan para #GIRLBOSS lainnya tak hanya bercerita kisah suksesnya, tetapi juga membagi rahasia dan tips menjadi #GIRLBOSS yang sesungguhnya.


RESENSI

Sophia Amoruso terlahir di San Diego dan sedari kecil tak mudah mematuhi peraturan, terutama peraturan sekolah. Saat duduk di kelas 4, guru kelasnya merasa ada yang salah dengannya dan curiga Sophia mengidap ADD (Attention Deficit Disorder) atau sulit memusatkan perhatian.
Sophia membenci masa SMA-nya, bukan karena masalah kepopuleran tapi karena sistem sekolah tidak cocok baginya. Setelah berganti-ganti sekolah, ia akhirnya memutuskan untuk homeschooling.
Ketika orangtuanya bercerai saat ia berusia 17 tahun, ia mengambil kesempatan itu untuk keluar dari rumah dan hidup mandiri di pusat kota Sacramento. Kemudian ia mencari tumpangan ke West Coast dan menetap di Pacific Northwest menjalani hidup sebagai pemulung makanan dan sering mencuri. Bahkan barang jualan online pertamanya adalah buku curian.
Ketika ia terjangkit hernia ia sadar ia harus mencari pekerjaan untuk mendapatkan asuransi kesehatan. Saat ia mendapat pekerjaan ia justru banyak memiliki waktu senggang untuk menjelajahi internet dan membuka toko di eBay bernama Nasty Garl Vintage.
Dan inilah titik balik Sophia yang mengubah nasibnya dari gadis pembenci kapitalisme menjadi direktur utama perusahaan bernilai lebih dari seratus juta dolar.

---------------

#GIRLBOSS bukan hanya sekedar buku autobiografi yang begitu feminis, tapi juga buku Self Help dan Leadership yang sangat menginspirasi.
Walau gaya bertutur Sophia cukup arogan tapi semangatnya untuk bisa menaklukkan dan bukan ditaklukkan terasa banget. Membaca buku ini menjadi pengalaman yang menyenangkan karena sifat blak-blakan Sophia cukup sering membuatnya dalam masalah. Ia senang berkompetisi, tak memedulikan pendapat orang, dan introvert.

Buku ini dengan jujur menceritakan masa lalu Sophia yang sulit, bagaimana ia hampir salah jalan dengan mengutil, kemudian bagaimana ia mengambil pelajaran dari kesalahan dan mengambil kesempatan yang ada.
Banyak tips-tips menarik yang saya dapatkan, dan yang paling menarik ada di bab Tentang Uang dan Segala yang Bisa Dibeli Dengannya. Menarik bahwa Sophia menyarankan agar kita memperlakukan akun tabungan seperti tagihan yang harus dibayar setiap bulan atau kita akan menanggung konsekuensinya. Wah.
Selama ini saya tahu bahwa kita harus menyisihkan 10% dari pendapatan untuk tabungan, yang dalam kasus saya bolong-bolong. Bulan ini diisi, dua bulan berikutnya enggak. #ngek *ditendang*
Dan ternyata kalau mau liburan, nggak boleh ambil uang tabungan. Wkwkwk~ *bikin tabungan khusus liburan* :p
Tapi yang susah dipraktekkan adalah memisahkan uang dengan perasaan, itu termasuk jika ada yang meminta uang dari kita atau kita mau mengajukan kenaikan gaji. Ungg... kalau dalam adat kemasyarakatan timur kita, agak susah ini ya. Tetangga datang mau minjem duit, mau nolak kok nggak enak. :(

Tiga bab terakhir saya rasa lebih menarik lagi karena mengulas tentang aturan dan filosofi dalam mengelola bisnis. Hal-hal sangat menarik ada di dalamnya dan mampu menggelitik saya.

Dan selain cerita perjalanan hidup Sophia, buku ini juga diisi dengan testimoni singkat dari para #GIRLBOSS lainnya, sep

Secara keseluruhan, walau #GIRLBOSS terkesan cukup sombong, tapi buku Sophia Amoruso ini juga mampu melecut keinginan generasi ini untuk maju dan bekerja keras. Penerjemahannya yang bagus membuat buku ini enak dibaca dan memberi pengalaman yang luar biasa.

Sabtu, 23 Januari 2016

[Resensi: Segenggam Daun di Tepi La Seine - Wuwun Wiati] Memaknai Kesetiaan di Paris


Judul buku: Segenggam Daun di Tepi La Seine
Penulis: Wuwun Wiati
Desain cover & ilustrasi: Femmy F. Priscilya
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli 2015
Tebal buku: 304 halaman
ISBN: 978-602-03-1865-3
Available at: Bukupedia.com




BLURB

Hidup di Paris menjadi tak sama lagi sejak Ajeng menemukan sebentuk cincin di balik segenggam daun. Bahasa, makanan, dan budaya yang berbeda menjadi kesehariannya yang baru. Ajeng mulai menikmati semuanya di samping Yves tercinta.

Tapi, satu per satu masalah datang. Ajeng berkali-kali goyah akan kesiapannya menikah dengan Yves. Belum lagi godaan yang datang dari sosok flamboyan, si ganteng Alain. Sifat Alain yang antiterikat dan spontan terasa lebih sesuai bagi Ajeng. Di antara Menara Eiffel, Moulin Rouge, pantai nudis, sampai swinger club, bisakah Ajeng mengontrol dirinya dan tetap setia?


RESENSI

Ajeng akhirnya tiba juga di Paris, kota di mana kekasihnya yang warga Perancis tinggal. Walau masih ada sebersit rasa ragu akan tindakannya, tapi ia ingin mengenal Yves dalam keseharian pria itu. Untungnya ia mendapat restu dari Bapak dan adiknya untuk mengunjungi dan tinggal bersama Yves hingga masa visanya habis.
Di awal kedatangannya di kota itu, Ajeng mendapati adaptasi yang harus dilakukannya lumayan berat. Bukan saja karena sifat sembrononya berbenturan dengan keteraturan Yves, tapi ia juga mendapati perbedaan budaya dan pergaulan mereka. Salah satunya adalah bahwa orang Perancis lebih suka bicara dengan bahasa ibu mereka daripada bahasa Inggris. Maka Ajeng pun memutuskan ikut kursus bahasa Perancis.
Ajeng mulai berkenalan dengan sahabat-sahabat Yves dan sahabat-sahabat baru sesama orang Indonesia di sana, Doni dan Fina. Dua orang yang memiliki hubungan unik dengan pasangan masing-masing. Ajeng juga akhirnya diperkenalkan dengan sahabat Yves, Alain dan kekasihnya, Celine.
Untuk memperlancar bahasanya, Ajeng sering menemui Alain karena hanya Alain yang bisa membantunya mempelajari bahasa Perancis.
Alain dan Celine juga yang membujuk Ajeng untuk berpetualang ke tempat-tempat yang tak terbayangkan. Tapi seiring petualangan mereka, Ajeng mulai mempertanyakan perasaannya yang tergelitik oleh Alain.
Ia mulai goyah antara tetap setia dan menikah dengan Yves atau menuruti hasratnya yang penasaran pada Alain.

---------------

Akhirnya kesampaian juga baca novel ini. Langsung suka dengan covernya sih sejak awal. Judulnya juga entah kenapa memberi kesan yang romantis gitu. Haha~

Ide cerita novel ini sungguh menarik, adalah Ajeng, seorang perempuan yang dibesarkan oleh bapak yang sangat berpegang pada budaya jawanya, dengan berani memutuskan mendatangi kekasihnya di negeri seberang yang asing. Nggak ada saudara, nggak ada teman dan hanya Yves yang dikenalnya. Saya merasa si tokoh utama dan si bapak udah punya kepercayaan besar pada Yves, apalagi Ajeng dan Yves tinggal seapartemen.
Dan yang lebih rumit, sejarah masa lalu kehidupan pernikahan orangtua Ajeng menjadi hantu yang membuat Ajeng ragu-ragu untuk menikah. Ini membuat cerita makin berdinamika dan nggak tertebak ujungnya.

Novel ini bertutur menggunakan dua sudut pandang, yaitu POV orang pertama dari sisi Ajeng dan POV orang ketiga. POV orang ketiga digunakan saat penulis ingin menggambarkan perasaan Yves dan Alain.
Namun di halaman 35, saat pergantian sudut pandang, setelah menggunakan POV orang ketiga dan beralih ke POV orang pertama, terjadi kesalahan dalam kalimat pembukanya:

   Begitu keluar dari Metro di Trocadero, mereka langsung disambut pemandangan cantik Menara Eiffel.
  "Wah, Yves! Akhirnya aku sampai di sini!" seruku penuh semangat. (hlm. 35-36)

Memang pergantian dua POV seperti ini membutuhkan ketelitian super agar nggak tertukar.

Novel ini sebagian besar bersetting di Perancis, dan berkesan sangat alami. Bukan hanya lokasi tempat tapi suasana dan atmosfer penduduknya menjadi dukungan yang sempurna dalam novel ini.
Tapi saya juga sempat dibuat bingung dengan setting waktu novel ini:

Aku panik. Aku bangun pukul tujuh pagi waktu Paris, berarti pukul dua dini hari di Jakarta. (hlm. 146)

Ngg... sejak kapan Paris lebih cepat 5 jam dari Indonesia?

Tempat-tempat yang unik banyak bermunculan di novel ini, bukan hanya tempat wisata yang umum didatangi turis tapi Segenggam Daun di Tepi La Seine juga menyajikan tempat-tempat yang berkesan 'bebas'. Pantai naturis, swinger club, museum seks dan toko sex toys juga menjadi tempat-tempat yang dikunjungi Ajeng, Yves dan Alain.
Novel ini benar-benar menampilkan sisi Perancis yang berbeda. Dan nampaknya terlihat sangat mengagungkan bangsa Perancis. Terlihat dari bagaimana Ajeng merasa malu dan menolak membicarakan negaranya, tapi ketika Alain menanyakan kesan tentang Perancis, Ajeng langsung menjawabnya dengan bersemangat. Seandainya saja novel ini lebih berimbang dengan menampilkan usaha Ajeng memperkenalkan Indonesia, sehingga Indonesia bukan hanya selalu dikenal karena tsunami dan Bali-nya.

Well, bukannya saya menyalahkan Ajeng, memangnya apa yang bisa dibanggakan dari Indonesia jika menilik Ajeng sebagai perwakilannya. Ajeng sembrono, nggak teratur, serampangan, nggak bisa masak, dan menganggap kuno budayanya sendiri.
Di halaman 89, Ajeng mengungkapkan:

Aku langsung cemberut. Zaman begini, masih dikasih wejangan cerita pewayangan. Aku pribadi merasa cerita itu sudah kuno. Gila saja, masa satu istri–Drupadi–bisa dinikahi kelima Pandawa. Capek deh! (hlm. 89)

Setahu saya, Drupadi yang menikah dengan kelima Pandawa adalah Drupadi dalam epos Mahabharata, sedangkan dalam pewayangan Drupadi hanya menikah dengan Prabu Yudhistira. Wayang merupakan sarana penyampaian ajaran Islam di masa lalu, maka poliandri yang dilakukan Drupadi nggak diadaptasi mentah-mentah dalam wayang. Jika Ajeng merujuk pada pewayangan yang sangat disukai bapaknya maka ia salah besar, yang menikah dengan kelima Pandawa adalah Drupadi dalam cerita India. Cmiiw.
Saya merasa menyesal pada Ajeng yang menganggap sinis budaya Jawa. Oh, semoga saja saya nggak salah langkah dalam memperkenalkan budaya Jawa pada anak-anak saya seperti bapak Ajeng yang malah membuat Ajeng menganggap budaya Jawa sebagai budaya yang kuno dan ribet. :'(
Ajeng juga cukup kontradiktif menurut saya, dia tahu tentang swinger club tapi merasa heran terhadap orang yang berpasangan tanpa menikah dengan gaya hidup bebas, haduuh yang begituan banyak, Jeng. Kepolosannya jadi terasa dibuat-buat karena Ajeng toh menyukai pengalaman ekstrim berbau seksualitas. Bahkan ia mempelajarinya di masa kuliah.
Yang lucu adalah ketika ia menasehati Fina agar nggak berkaca pada apa yang terjadi pada orangtua Fina. Bahwa orangtua dan anak bisa menjalani hidup dengan cara berbeda. Lah? Bukannya dia sendiri ketakutan bakal kayak mamanya? Duh!
Soal kesembronoannya, entahlah. Saya sendiri juga pelupa. Kunci motor terutama. Tapi saya cuma lupa naruhnya di rumah. Kalau pergi, kunci rumah ya pasti ada di dalam tas dong. Udah, itu tempat teraman, kecuali saya menumpahkan isi tas saya di tempat-tempat saya bepergian. Ini Ajeng malah menggantungkan kuncinya di handphone, itu kan malah riskan? Mudah jatuh kalau dia ngeluarin handphone untuk nulis pesan atau menerima telepon. Sungguh, saya merasa Ajeng ini benar-benar nggak logis.

Yves cukup berkesan dan menarik. Hmmm~ pria yang teratur memang berasa mengancam, tapi salut deh. Saya mau anak-anak saya bisa teratur dan mandiri seperti dia.

Dialog antar karakter cukup menarik, interaksinya juga natural. Chemistry yang terbangun cukup asyik diikuti.

Secara keseluruhan, novel ini cukup menarik diikuti, terutama liku hati Ajeng yang sempat bercabang dan membuat saya menebak cabang mana yang akhirnya ia tuju. Menyenangkan karena informasinya tentang Perancis dan budayanya. Cukup tahu dan akhirnya membuat saya geleng-geleng kepala.

Jumat, 22 Januari 2016

[Resensi: Penantian Terpanjang - Kristan Higgins] Menanti Pulangnya Sang Cinta Pertama


Judul buku: Penantian Terpanjang
Judul asli: Waiting On You
Seri: A Blue Heron #3
Penulis: Kristan Higgins
Alih bahasa: Nina Andiana
Desain sampul: Marcel. A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: April 2015
Tebal buku: 608 halaman
ISBN: 978-602-03-1530-0



BLURB

Layakkah cinta pertama mendapatkan kesempatan kedua?

Colleen O’Rourke jatuh cinta pada cinta… selama itu tidak menyangkut dirinya. Sebagai lajang yang merasa lumayan bahagia, Colleen menghabiskan malam-malamnya di balik barnya di Manningsport, New York, meracik martini sambil memberikan nasihat cinta kepada pelanggan yang baru patah hati.

Sepuluh tahun lalu, Lucas Campbell, cinta pertama Colleen, mematahkan hatinya. Pengalaman yang tidak ingin Colleen ulangi. Sejak saat itu, ia cukup puas menjalin hubungan asmara singkat di sana-sini, melontarkan rayuan maut sesekali, sampai jadi makcomblang bagi temantemannya.

Tak disangka, masalah keluarga membuat Lucas kembali ke kota. Dan sebagaimana dulu, pria itu tetap sedap dipandang, meremukkan pertahanan Colleen. Urusan di antara mereka tampaknya masih jauh dari kata selesai. Untuk itu, Colleen harus bersedia membuka diri, atau ia berisiko kehilangan kesempatan kedua dengan satu-satunya pria yang pernah ia cintai.


RESENSI

Coleen O'Rourke adalah bartender dan pemilik bersama bar terbaik dan satu-satunya di Manningsport. Selama ini ia telah berhasil menjodohkan 15 pasangan, dan kini target berikutnya adalah menjodohkan Bryce dengan Paulie.
Sayangnya usahanya mendapat tentangan dari Lucas, sepupu Bryce sekaligus cinta pertama Colleen yang telah lama meninggalkannya. Lucas adalah kekasih pertama Colleen di SMA, namun keinginannya untuk menikah dengan Lucas sepuluh tahun lalu ditolak oleh Lucas. Tapi justru ketika mereka bertengkar, Lucas malah menikahi perempuan lain.
Kini, sepuluh tahun kemudian, Colleen sadar ia masih sangat mencintai pria itu. Tapi Lucas kembali bukan untuk dirinya, Lucas kembali untuk menemani pamannya di saat-saat terakhirnya dan membimbing Bryce agar bisa mandiri dan bekerja. Tapi tetap saja, kenangan akan gairah manis mereka di masa SMA tak bisa hilang dari ingatan Lucas.
Bisakah Colleen dan Lucas meluruskan benang kusut di antara mereka dan meraih masa depan mereka yang sempat tertunda?

------------

Kesan pertama saya begitu baca novel ini adalah... tema ceritanya bikin baper banget, sih. Huahahaa...
Kristan Higgins menyajikan kisah cinta pertama yang manis dan tetap bertahan lama. Kisah yang hanya bisa dimiliki segelintir pasangan.

Novel ini menggunakan POV orang ketiga dan lebih terfokus pada Collen dan Lucas secara bergantian. Alurnya maju dan sesekali mundur untuk menyingkap apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.

Fokus cerita tentu saja bukan hanya tentang Colleen dan Lucas. Gila aja jika 600 halaman hanya berputar di masalah mereka. Pasti bosan banget. Tapi di novel ini masih ada juga kisah perjuangan Paulie untuk mendapatkan cinta Bryce, yang bisa dibilang konyol banget.
Ada juga kisah ibu Colleen yang telah bercerai dari ayah Colleen sepuluh tahun lalu karena ayah Collen berselingkuh dan membuat selingkuhannya hamil. Ibu Colleen bisa dibilang sama dengan Colleen yang selama sepuluh tahun masih memelihara rasa cintanya.
Ada juga kisah Joe, paman Lucas yang di saat terakhirnya sebelum meninggal ingin bercerai dengan Didi.

Karakter dalam Waiting on You ini benar-benar loveable semua. Yah, kecuali Didi. Bahkan Gail si selingkuhan sang ayah pun cukup mudah disayang.
Saya suka dengan hubungan saudara kembar antara Colleen dan Connor. Mereka kompak dan lucu banget. Connor juga benar-benar kakak kembar sejati dengan menghajar Lucas. Hohoo... itu scene favorit banget.
Colleen sendiri sejak SMA memang populer karena cantik dan kepribadiannya menyenangkan. Bukan jenis populer ala-ala mean girl, tapi populer yang selalu ramah dan membantu semua orang. Kekurangannya yang selalu bicara ngelantur setiap kali gugup atau grogi itu benar-benar menggemaskan.

Sayangnya saya merasa usaha Lucas untuk kembali pada Colleen kok rasanya gampang banget. Kenapa dia nggak dibuat memohon-mohon? Kenapa Colleen nggak jual mahal sedikit? Memang sih karakter Colleen ini wanita yang apa adanya yang jujur dan logis, tapi berilah kesempatan Lucas buat mengejar. Karena kesalahan Lucas ini nggak termaafkan.
Saat SMA, dengan satu tindakan heroik Lucas langsung mendapatkan Colleen; lalu Colleen dan Lucas bertengkar karena Lucas nggak jujur; saat mereka putus Lucas nggak berusaha mengejar; saat Lucas menikah ia dengan mudahnya memberitahu Colleen; setelah bercerai dengan Ellen ia juga nggak langsung kembali kepada Colleen, nah rasanya semuanya terlalu mudah buat Lucas. Kenapa harus nunggu empat tahun buat kembali ke Manningsport? Seandainya Joe nggak sekarat apa Lucas nggak akan kembali dan membuat Colleen benar-benar jadi perawan tua?!

Yeah, tapi meski begitu Lucas memang karakter yang menyenangkan. Caranya mencintai Colleen sudah menghapuskan semua kesalahannya.
Waiting on You benar-benar kisah yang romantis dan recomended. Dan jangan kuatir, nggak ada adegan kipas-kipasnya kok. :)

Kamis, 21 Januari 2016

[Resensi: 33 Binatang Paling Heboh! - Indah Hanaco] Belajar Sains Sambil Menikmati Dongeng


Judul buku: 33 Binatang Paling Heboh!
Sub judul: Fabel Sains untuk Anak Cerdas
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Frida Novi Arimbi
Ilustrasi Sampul & Isi: Wawan Kungkang
Desain sampul: Suprianto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: April 2014
Tebal buku: 203 halaman
ISBN: 979-602-03-0403-7
Available at: Bukupedia.com




BLURB

Hai, Anak Cerdas!
Kamu suka membaca cerita binatang, kan? 33 Binatang Paling Heboh! ini berisi fabel seru dan informasi mengejutkan yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya.

Fakta unik seperti:
• cula badak terbuat dari buku-bulu halus yang mengeras,
• rubah kerdil biasa tidur panjang pada musim panas, dan
• ikan lentera punya lampu unik di wajahnya

bisa kamu dapatkan di sini. Dikisahkan dalam bahasa yang mudah kamu mengerti, simak juga cerita teman-teman misterius yang kelihatannya tidak masuk akal tapi semuanya nyata, seperti:

• Paul punya gigi yang sangat kuat dan bisa menembus baja. Uniknya lagi, gigi Paul selalu tanggal dan berganti dalam hitungan hari!
• Dido mampu puasa minum air selama berbulan-bulan tanpa sakit. Hidung Dido juga bisa menutup sendiri agar tidak kemasukan pasir.
• Gina menggendong anaknya selama tiga tahun, sejak bayi hingga cukup dewasa.

Ajaib, kan! Siapkan dirimu untuk terkagum-kagum!


RESENSI

33 Binatang Paling Heboh! merupakan buku infomasi fakta-fakta tentang dunia binatang yang dikemas dengan kisah fabel yang seru.
Judul-judul yang ada di dalam buku ini adalah:

1. Persahabatan Angin dan Rino (1)
2. Kisah Gigi Kuat Milik Paul
3. Dan Lily pun Tak Berdaya
4. Cerdiknya Bea dan Selma
5. Lampu untuk Semua
6. Keluarga Mia yang Berguna
7. Ketika El Kehausan
8. Percakapan Sisi dan Wim
9. Kerja Keras Lebah Pekerja
10. Xena dan Ica
11. Emma pun Menjadi Woody
12. Simbiosis Mutualisme Antara Rexy dan Ken
13. Perjalanan Panjang Pi
14. Gigi Ajaib Billy
15. Gina yang Murah Hati
16. Poppy yang Berdarah
17. Lendir Ajaib Kaka
18. Lulu yang Galak
19. Hibernasi Dua Sahabat
20. Kala Juno Menyelamatkan Pippa
21. Persahabatan Angin dan Rino (2)
22. Klinik Kesehatan di Laut
23. Anak Gajah yang Sombong
24. Kasih Sayang Anak Penguin
25. Abel yang Jujur
26. Kupu-Kupu yang Takut Terbang
27. Istana Baru Kerajaan Rayap
28. Ikan Napoleon Pembohong
29. Si Punggung Perak yang Pemaaf
30. Dido yang Hemat
31. Duri Ajaib Lula
32. Rahasia Kaki Yuri yang Bersih
33. Seleksi Ratu Lebah

Buku ini bukan hanya berisi cerita yang mengajarkan budi pekerti, persahabatan dan kebaikan tapi juga memberikan fakta-fakta sains yang biasanya membosankan jika dibaca dalam textbook biasa. Dijamin anak-anak akan lebih mudah mengingat informasi jika disajikan dalam dongeng-dongeng seperti ini.

Di antara cerita di atas, ada beberapa fakta yang nggak saya ketahui, padahal saya guru les. Haha... saya jadi malu. Wkwk~
Saya terkesan banget dengan hewan-hewan heboh yang ada dalam buku ini. Terutama tentang ikan sakura, wow ini fakta yang mengagetkan saya dan Indah Hanaco meramu fakta ini menjadi cerita yang apik dalam Emma pun Menjadi Woody. Waah kenapa Emma bisa jadi Woody, hayoo? :)
Selain ikan sakura masih ada fakta tentang badak, hiu, burung egyptian plover, buaya, kepik, belalang pemalas timur, ikan lentera, belut gulper, elang, pohon baobab, kantong semar, lebah, macan tutul, simpanse, dan masih banyaaaak lagi.

Satu kisah fabel rata-rata berkisar dalam enam halaman. Ilustrasinya bagus dan menarik, bahasa yang digunakan juga sederhana, mudah dimengerti dan beberapa kata justru menambah kosakata baru bagi anak-anak.
Meskipun untuk anak-anak di usia yang lebih kecil dari tingkat dasar harus didampingi saat membacanya karena banyak kata berimbuhan dan nama-nama tokohnya cukup sulit dibaca anak prasekolah. Tapi bagi anak usia SD ke atas saya rasa akan sangat membantu bukan hanya dalam hal ilmu pengetahuan binatang tapi juga dalam berbahasa yang baik dan benar.

Saya merekomendasikan buku ini untuk anak-anak cerdas dan penuh rasa ingin tahu agar mengenal binatang-binatang di dunia ini. Agar merasa dekat dan mencintai binatang-binatang itu dan menjaganya tetap lestari di alam. Buku ini pastinya akan menjadi teman belajar yang menyenangkan.

Rabu, 20 Januari 2016

[Resensi: The Naked King - Sally MacKenzie] Pemilik Hati sang King of Hearts


Judul buku: Raja yang Telanjang
Judul asli: The Naked King
Series: Naked Nobility #7
Penulis: Sally MacKenzie
Alih bahasa: Debbi Hendrawan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2013
ISBN: 978-602-02-0716-2




BLURB

Perselingkuhan hanyalah sebuah awal ...

Satu malam yang agak berlebihan, yah dia mabuk dan Stephen Parker-Roth menyadari dirinya harus bertunangan untuk menghindari skandal! Dan `pasangannya` adalah wanita cantik berambut merah dengan topi yang sama sekali tidak trendi.

Lady Anne Marston sudah lama berhenti memikirkan pernikahan. Itu harga yang harus ia bayar untuk sebuah kesalahan pada masa lalu. Tetapi percakapan kecil dengan seorang bangsawan tampan telah membawanya ke sebuah pertunangan! Sebelum rahasia dan dusta masa lalunya terungkap, Lady Anne harus membebaskan dirinya dari pesona memabukkan sang bangsawan.


RESENSI

Stephen Parker-Roth kaget bukan main saat diterjang anjing besar hingga jatuh ke kubangan lumpur, pasti brendi cukup mempengaruhinya hingga ia tak bisa menjaga keseimbangan. Tapi ternyata kejutan terbesar datang dari pemilik anjing yang muncul dengan topi besar dan gaun yang mengerikan. Stephen mendapati hanya mendengar suara seksi wanita itu saja sanggup membangkitkan hasratnya.
Maka ketika dengan keras kepala Stephen mengantar Lady Anne Marston pulang, ia tak bisa lagi menahan diri. Di jalan ia mencium Lady Anne. Saat itulah, kucing Lady Dunlee melintas dan membuat anjing Lady Anne berulah, tak ayal mereka berdua pun jatuh ke tanah sambil berpelukan. Tepat ketika Lady Dunlee muncul dan menuding mereka melakukan skandal.
Demi melindungi reputasi Lady Anne, Stephen berbohong bahwa mereka telah bertunangan. Karena jika Lady Anne tercemar, kemungkinan besae debut adiknya pun akan gagal.
Siapa sangka semakin lama bersama, mereka sama-sama tertarik satu sama lain. Sayangnya ada rahasia besar yang disembunyikan Lady Anne. Wanita itu takut jika ia mengungkapkannya, maka Stephen akan jijik dan buru-buru menghentikan pertunangan mereka.

------------

The Naked King merupakan buku ketujuh dari seri Naked Nobility karya Sally MacKenzie. Rupanya King di sini merujuk pada julukan Stephen yaitu 'The King of Hearts' yang tampaknya adalah seorang penakluk hati para wanita.

Membaca pembuka novel ini saya hampir geleng-geleng kepala karena ketidaksenonohan Stephen, yang langsung bergairah hanya dengan mendengar suara Anne. Well, karena saya bukan pria, saya nggak tahu juga jenis suara seksi yang langsung bisa membangkitkan gairah pria itu seperti apa? Apa seperti suara Mulan Jameela?  Memangnya bisa ya? Wkwkks

Mengambil setting di Inggris sekitar tahun 1821, novel ini menggunakan POV orang ketiga dan beralur maju dengan lambat. Plotnya cukup baik dan rapi. Tapi tokohnya  terasa annoying semua. #huuft

Saya lumayan sebal dengan Lady Anne yang nggak jelas banget. Rendah diri, pesimis, keras kepala dan gampang marah. Paling emosi saat dia dibawa ke tukang jahit dan berargumen panjang lebar nggak mau memakai gaun-gaun baru yang cantik. Alasannya karena ia nggak cantik. Huh, belum dicoba sudah skeptis duluan, belum merasakan sudah pesimis dan marah-marah duluan.
Dan sepupu Clorinda keterlaluan banget. Mentang-mentang dirinya perawan tua tapi picik banget memandang Anne. Kalimat-kalimatnya nggak sopan, nggak berkelas dan kasar. Blak-blakan bukannya berarti boleh menyerang pribadi orang lain, kan?
Tampaknya tokoh-tokohnya memang dibuat blak-blakan dan tukang campur urusan orang lain semua. Bikin capek hati bacanya. Huhuu~

Yang sedikit normal mungkin hanya Stephen. Saya bilang sedikit karena mencium wanita begitu berkenalan itu saya rasa nggak normal. Dan bakal dihadiahi gaplokan kalau terjadi di dunia nyata. Setampan dan sehot apa pun si pria. Meh.
Stephen lumayan rasional dan sabar menghadapi kelabilan Lady Anne yang drama queen banget. Saya suka cara berpikirnya dan caranya mengatasi masalah. Hanya saja pekerjaannya sebagai peneliti dan penemu tanaman-tanaman baru serasa hanya tempelan karena nggak digali.

Secara keseluruhan, buku ini lumayan lucu dan menghibur tapi sayangnya terlalu banyak tokoh yang 'menyerang' Lady Anne dan yang menyedihkan itu termasuk diri Lady Anne sendiri.

Selasa, 19 Januari 2016

[Resensi: Dua Cinta Negeri Sakura - Irene Dyah] Keresahan Miyu di Antara Akal Sehat dan Hati


Judul buku: Dua Cinta Negeri Sakura
Penulis: Irene Dyah
Editor: Gita Savitri
Desain sampul: Mia Sekartaji
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2015
Tebal buku: 181 halaman
ISBN: 978-602-03-1269-9



BLURB

Seandainya aku tidak ke Solo waktu itu...seandainya nasib tidak membawaku bertemu pria itu...aku pastilah tetap menjadi Miyu Hasegawa yang normal. Gadis Jepang biasa yang hidup dalam irama tetap barangkali monoton, tapi toh, menikmatinya. Tapi sekarang? Aku bersandar di tempat tidur kanak-kanak yang bukan milikku, rambut semrawut, hati dan otak lebih semrawut lagi. Memelototi Crazy Stupid Love di TV tanpa suara dengan mata sembap. Meratapi dan mengasihani diri sendiri, jatuh hati pada pria yang salah.

Hidup Miyu yang tenang mendadak absurd karena kehadiran Scott , fotografer yang sering terlena menatap Miyu menari di pentas, melupakan kamera di tangannya. Lebih absurd lagi, Miyu harus menyembunyikan identitas pria itu dari kedua sahabatnya: Aliyah; istri dan ibu yang masih kerepotan mengurus hijab barunya, serta Ajeng; gadis metropolis yang nyinyir pada pernikahan.

Kala akal sehat tidak sejalan dengan hati, mana yang Miyu pilih? Lepas dari Scott yang tidak kenal kata menyerah, atau merelakan diri hanyut terbawa pesona yang begitu memabukkan?

Dan ketika Masjid Camii Tokyo mempertemukan Miyu dengan sang Bintang Fajar, sungguhkah Miyu telah menemukan happy ending-nya?

Jangan kamu melepaskan gunung permata di tanganmu hanya karena tergiur ingin memungut satu butir kecil batu yang tercecer. —Miyu Hasegawa


RESENSI

Miyu Hasegawa merasa serba salah saat Scott masih terus saja berusaha menemuinya. Kali ini Scott menawari Miyu agar bersedia difoto secara profesional oleh Scott. Miyu berusaha menolak, tapi Scott memang sulit dihentikan. Pria itu bisa keras kepala meski sebuah cincin pernikahan telah melingkar di jari pria itu.
Miyu pun tak bisa meluapkan keresahannya pada kedua sahabatnya, Aliyah dan Ajeng, karena Scott ternyata adalah sahabat Aliyah juga. Ia pun memutuskan merahasiakan identitas Scott dari Aliyah dan Ajeng.
Tapi sebuah insiden menimpa istri Scott dan rahasia mereka pun terkuak. Miyu semakin gelisah melihat labilnya perasaan manusia yang diperlihatkan oleh istri Scott, namun di lain pihak ia pun melihat kekuatan spiritual Aliyah yang semakin kuat. Miyu sadar bahwa mendalami agama membuat manusia menjadi stabil.
Di tengah usahanya melupakan Scott, dan rasa penasarannya pada agama Islam, Miyu dipertemukan dengan Thariq, sang Bintang Fajar. Sahabat-sahabatnya sangat mendukung Miyu untuk meraih bintang fajar itu, tapi benarkah hati bisa sedemikian mudah berpindah? Akankah Miyu menerima Thariq? Dan akankah Miyu menemukan kedamaian hati seperti yang dirasakan Aliyah?

-------------

Dua Cinta Negeri Sakura merupakan sekuel dari novel Tiga Cara Mencinta, yaitu kisah tentang tiga orang sahabat: Aliyah, Miyu dan Ajeng.
Sayangnya saya belum sempat membaca buku pertamanya, dan dengan pede langsung melongkap buku yang kedua ini. Ini karena yaah... kaver Dua Cinta Negeri Sakura lebih mengundang dan menggiurkan. (Maafkan alasan cetek saya ^^) Saya memang mudah tergoda pada kaver novel. Lagipula saya kira saya akan mudah mencernanya meski belum membaca Tiga Cara Mencinta.

Tapi saya salah. Huhuuu~ ternyata tetap saja ada bagian yang nggak saya mengerti. Loh, kenapa begini? Lha, emang sebelumnya gimana? Terutama apa yang terjadi di Solo???
Ini karena rangkuman cerita sebelumnya cuma sedikit dan samar-samar, jadi saya pun mencoba meraba-raba masa lalu tiga sekawan ini.

Setting yang digunakan novel ini yaitu di Tokyo dan Bangkok saya rasa juara banget. Bukan hanya deskripsi tempat tapi juga nuansa sosial budayanya disajikan sebagai pelengkap. Apalagi dengan kalimat-kalimat bahasa Jepang dan Thai yang digunakan para tokohnya, settingnya jadi kuat banget.

Novel ini menggunakan POV orang ketiga dan mengalir dengan lumayan cepat. Dan diksi yang digunakan Irene Dyah sangat lincah dan menggelitik, beberapa kali saya tersenyum karena istilah ajaib yang digunakannya. Dialognya juga segar dan seru, terutama dialog Ajeng yang gokil parah.

Di antara ketiga sahabat ini saya tahu saya memang paling suka dengan Ajeng. Ceplas-ceplos dan apa adanya banget. Pengeeeen punya sahabat kayak dia. :)
Karakter Miyu memang lebih kalem dan sederhana dibanding yang lain, tapi ternyata punya tekad dan pendirian yang nggak main-main. Saya yang memang nggak suka tokoh yang terlalu kalem dan pasrah malah suka dengan Miyu karena meski kalem tapi logis dan punya harga diri.
Chemistry mereka bertiga asyik banget dan bikin iri. Dialognya lepas dan terasa dekat karena begitu mirip dengan percakapan yang biasa saya lakukan dengan teman-teman saya. Seru!
Sementara Scott, kok ya saya nggak bisa sebel sama dia, malah jatuh cinta. #waaks
Scott ini lucu, keras kepala dan dewasa. Saya langsung suka ketika dia ngobrol dan menasehati Aliyah. Sayang sudah beristri. *manyun*

Sayangnya konflik Miyu-Scott-Thariq ini serasa masih kurang dalam. Saya malah pengen melihat sendiri frustasinya Scott menghadapi sifat istrinya, bukan hanya dari kata-kata Scott pada Miyu. 
Dan kisah Aliyah sepertinya mengambil porsi lumayan besar di novel ini. Jadi novel ini bukan hanya tentang kisah cinta Miyu dan ujung dari kegalauannya tapi juga kisah penyempurnaan spiritual Aliyah.
Dan saya suka bagaimana Irene Dyah memasukkan spirit Islami dengan setahap demi setahap dan begitu halus. Nggak ada kesan ceramah, dakwah ataupun menggurui dalam novel ini. Kemantapan Aliyah, keraguan Miyu dan keengganan Ajeng, saling mengimbangi dengan pas.

Overall, saya suka novel ini, karena bukan hanya menyajikan kisah cinta dan persahabatan yang asyik, tapi juga memberi pandangan spiritual yang unik. Dan tampaknya saya perlu membaca buku pertama dan ketiganya untuk menambal rasa pemasaran saya. :)

Senin, 18 Januari 2016

[Resensi: Skandal Terpendam - Penny Jordan] Memperbaiki Skandal Masa Lalu


Judul buku: Skandal Terpendam
Judul asli: A Secret Disgrace
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Farah Astrid Effendi
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2015
Tebal buku: 248 halaman
ISBN: 978-602-03-1489-1



BLURB

Louise Anderson tahu bahwa kembali ke Sisilia hanya akan membangkitkan kenangan buruk. Tapi demi mewujudkan keinginan terakhir kakek-neneknya, ia bersedia menghadapi apa pun, termasuk bertemu dengan pria angkuh yang membuatnya menjadi aib keluarga.

Sejak perjumpaan terakhir pada musim panas sepuluh tahun lalu, sosok Louise yang memikat selalu menghantui mimpi Caesar Falconari. Dan ketika Louise muncul kembali di hadapannya, Caesar bertekad takkan melepaskan wanita itu lagi. Apalagi setelah ia mengetahui akibat dari satu malam penuh gairah yang nyaris menghancurkan reputasinya dulu.

Caesar berharap kesepakatan yang ia tawarkan dapat menebus kesalahannya. Bagaimanapun, Caesar Falconari yang sekarang bukan lagi pemuda tak berpendirian, melainkan pria yang akan memberikan segalanya untuk mendapatkan kesempatan kedua dalam hubungan mereka.

RESENSI

Akhirnya Louisa kembali ke Sisilia, tapi hanya dengan satu tujuan, menguburkan abu kakek dan neneknya di tanah leluhur mereka. Dan meski Louisa merasa tak nyaman kembali berurusan dengan Caesar, tapi Louisa ingin memenuhi keinginan terakhir kakek dan neneknya. Karena hanya kakek dan neneknyalah yang menerima Louisa ketika semua orang—termasuk ayahnya—menghina dan menghakimi Louisa atas aib yang dibawa Louisa.
Namun tampaknya Caesar, sang Duca pemilik tanah mereka, tak berniat untuk kembali melepaskan Louisa.
Rupanya sebelum meninggal, kakek Louisa telah menulis surat pada Caesar dan memberitahu Caesar bahwa Caesar adalah ayah dari anak Louisa. Bahkan begitu melihat Oliver, Caesar tahu anak itu adalah putranya. Kemiripan mereka tak diragukan lagi. Rasa tanggung jawab dan rasa bersalah yang amat besar membuat Caesar memutuskan untuk mengklaim Oliver sebagai putranya dan Louisa sebagai istrinya. Terutama karena Louisa telah melalui banyak penghinaan karena dirinya.
Tapi menaklukkan dan meyakinkan Louisa ternyata tidaklah semudah dulu ketika perempuan itu masih gadis belia 18 tahun. Louisa yang sekarang adalah Louisa yang telah ditolak dan dikhianati.
Berhasilkah Caesar membawa Louisa pada pernikahan yang pantas untuk perempuan itu? Dan bagaimana jika hasrat dan letupan yang dulu ada di antara mereka kini bangkit kembali?

---------------

Penny Jordan adalah penulis yang nggak pernah mengecewakan saya. Dia penulis favorit saya sejak saya SMA. Kemampuannya dalam memaparkan perasaan sang hero dan menuliskan adegan yang mematahkan hati selalu membuat saya mewek.
Penny Jordan selalu bisa membuat saya puas karena tahu sang hero menderita karena menginginkan sang heroine. XD

Seperti halnya di A Secret Disgrace ini, sejak awal saya sudah diberi curhatan Caesar, bagaimana perasaannya melihat Louisa lagi, seberapa besar rasa bersalahnya dan bagaimana ia ragu dan salah mengira Louisa membencinya. Aww~

Plotnya rapi dan mengalir. Dengan POV orang ketiga, lebih banyak paparan perasaan yang saling bertentangan di dalam novel ini. Cara penulis mendeskripsikan Sisilia terasa memikat dan nggak berlebihan.

Louisa benar-benar mudah menarik simpati saya. Saya merasa faktor psikologis penting dalam membuat karakter novel. Latar belakang apa yang membuat si tokoh melakukan suatu tindakan, dan mengapa ia memiliki sifat tertentu. Dalam hal Louisa itu karena ia selalu ingin mendapatkan cinta yang nggak bisa diberikan orangtuanya.
Orangtua Louisa menikah hanya karena ibu Louisa hamil, sehingga Louisa tumbuh dalam pengabaian orangtuanya. Ia tumbuh menjadi anak yang selalu mencari perhatian. Ketika orangtuanya bercerai dan ayahnya punya pacar baru, Louisa mulai bersaing dengan calon ibu baru dan putri-putrinya dalam hal mendapatkan cinta sang ayah. Tapi Louisa kalah. Ayahnya tetap membencinya. Itu sebabnya ia tumbuh jadi gadis pembangkang dan nakal untuk mendapatkan perhatian ayahnya. :(
Tapi ketika satu malam bersama Caesar membuatnya hamil, dan setelah ia diusir dan dilecehkan tetua desa, walau perasaannya hancur, saya kagum dengan ketegarannya. Sehingga ketika ia kembali bertemu Caesar sepuluh tahun kemudian dia menjadi perempuan yang lebih logis dan terkendali. Menjadi perempuan yang pantas dikejar Caesar.

Penerjemahannya lumayan baik. Ada typo sedikit dan di bab awal ada kalimat bertingkat yang terasa berputar-putar. Entah memang kalimat aslinya begitu atau penerjemahnya sendiri yang menggunakan kalimat rumit. Tapi keseluruhan tetap mudah dinikmati.

Ending novel ini bisa dibilang khas Penny Jordan. Pola yang selalu digunakannya untuk menutup cerita. Tapi saya nggak merasa bosan karena tetap ada nuansa yang segar yang membedakan novel ini dengan karyanya yang lain. A Secret Disgrace justru membuat saya makin menyukai penulis satu ini.
Karena dari novel ini saya menemukan bahwa pengabaian orangtua besar dampaknya bagi pembentukan karakter anak. Bahwa penting bagi seorang anak untuk merasa aman karena tahu dirinya selalu dicintai orangtuanya. A Secret Disgrace menyampaikannya dengan apik dalam balutan roman yang manis.

Minggu, 17 Januari 2016

[Master Post] Indonesian Romance Reading Challenge 2016



Beberapa hari lalu dalam postingan saya tentang Reading Challenge yang diadakan Ky's Book Journal, saya sebutkan kalau saya juga tertantang untuk mengikuti RC-nya yang lain.



RC tersebut adalah Indonesian Romance Reading Challenge 2016. RC yang diadakan bukan hanya sekedar membaca novel roman tapi juga untuk mendukung penulis-penulis dalam negeri. Mengenai peraturannya bisa dibaca di sini.

Reading Challenge ini menyediakan empat level yang bisa dipilih yaitu:

Easy : membaca 1 - 10 buku
Middle : membaca 11 - 20 buku
Hard : membaca 21 - 30 buku
Maniac : membaca lebih dari 30buku

Maka saya memutuskan mengambil level Maniac, saya akan membaca lebih dari 30 buku untuk tahun ini. Semoga saja saya bisa mencapainya di sepanjang tahun 2016 dan benar-benar jadi maniak... buku, bukan maniak yang lain. :p

Sabtu, 16 Januari 2016

[Resensi: Cinta 4 Sisi - Indah Hanaco] Menemukan Cinta di Sisi yang Tepat


Judul buku: Cinta 4 Sisi
Penulis: Indah Hanaco
Desain kaver: Steffi
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Oktober 2013 (cetakan kedua)
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-602-25-1010-9



BLURB

Violet

Bertekuk lutut pada seseorang yang mengaku mencintainya selama beberapa tahun. Dalam perjalanannya kemudian dia belajar, bahwa yang (konon) berusia panjang itu tidak menjamin apa-apa.

Quinn

Jatuh hati pada salah satu temannya, terpikat oleh pesona fisik yang menawan. Namun harus menerima fakta pahit, ada waktu ketika dirinya masih kurang menarik dibanding cinta pertama sang kekasih.

Jeffry

Mengaku setia pada kekasihnya, tapi tak mampu mengendalikan inderanya yang selalu tertambat pada sosok menawan perempuan asing. Baginya, menepat lawan jenis yang menarik itu tak bermakna apa-apa.

Eirene

Mungkin tergolong tipe orang yang selalu terjebak pada stigma "cinta pertama tak mungkindilupakan".

Ada dua orang kekasih yang merasa diabaikan. Diam-diam bersekutu untuk menyadarkan pasangan masing-masing bahwa mereka ada. Hingga persekutuan itu justru mengikut mereka terlalu dalam. Menyadarkan dan membuka mata akan perasaan murni yang membelit keduanya. Penyangkalan dan penolakan hanya menambah penderitaan saja. Penderitaan karena menyimpan cinta yang terlarang.


RESENSI

Violet telah berpacaran dengan Jeffry beberapa bulan, sayangnya Jeffry selalu saja jelalatan setiap kali melihat perempuan cantik. Dan yang membuat Violet sebal adalah Jeffry tak pernah merasa bersalah setiap kali Violet menegurnya. Jeffry selalu beralasan ia hanya menatap tidak sampai melakukan hal yang lebih jauh karena yang ia cintai hanyalah Violet.
Namun saat mereka menghadiri resepsi pernikahan teman Jeffry, mereka bertemu teman-teman Jeffry yang lain termasuk juga sepasang kekasih Eirene dan Quinn. Eirene yang dulunya adalah adik kelas Jeffry tampak langsung menyedot perhatian Jeffry. Mereka bicara dengan akrab sampai-sampai mengabaikan pasangan masing-masing. Bahkan sejak itu, Jeffry dan Eirene makin intens berhubungan melalui telepon.
Merasa tak tahan, Quinn mendatangi Violet dan berdiskusi tentang hubungan yang terjadi di antara pacar mereka. Hingga tercetuslah ide dari Quinn untuk bersekutu. Quinn mengajak Violet bersandiwara seolah-olah mereka saling tertarik. Tentunya agar pacar mereka cemburu dan tidak bertindak makin jauh. Violet pun setuju.
Namun bagaimana jika hubungan sandiwara mereka berubah jadi hubungan yang nyaman? Bagaimana jika cinta bersemi di hati keduanya tepat saat Jeffry sanggup mengubah sikapnya?

---------------

Saya membaca novel ini benar-benar dalam sekali duduk. Begitu memulai saya sudah nggak bisa berhenti. Pantang menutup buku sebelum tamat! :))

Cinta 4 Sisi diceritakan menggunakan POV orang ketiga tapi lebih terfokus pada Violet. POV yang membuat saya ikut geregetan pada tingkah Jeffry dan benar-benar pengin nyiram air ke mukanya karena jelalatan. Sumpah sebel banget. Haha...
Plotnya rapi dan diksinya apik khas kepenulisan Indah Hanaco. Tentunya hal ini membungkus kisah percintaan yang biasa menjadi alur cerita yang enak diikuti.

Banyak hal yang saya suka dalam novel ini. Salah satunya adalah kebiasaan Quinn yang mengambil sayuran yang nggak disuka Violet ketika makan dan demikian juga sebaliknya. Saya jadi ingat cerita sahabat saya yang selalu mengambil makanan yang disisihkan di piring istrinya dan anak-anaknya dan kemudian menyebutnya kantong sampah rumah tangga. XD
Tapi ketika dilakukan Quinn kok kesannya memang sweet dan perhatian banget, ya. :p
Saya juga suka 90's stuff yang diselipkan Indah Hanaco dalam novel ini. Aihh... beneran saya langsung memutar lagu When You Say Nothing at All sambil membaca novel ini.
Selain itu, ada kutipan menarik dalam novel Cinta 4 Sisi:

Dalam salah satu episode Criminal Minds, Violet pernah terkesima dengan ulasan Dr. Spencer Reid. Menurutnya musik yang didengar saat seseorang berusia sekitar 14 tahun, akan bertahan di memorinya seumur hidup. Musik itulah yang akan terus dicintainya meski usia terus beranjak tinggi dan lagu-lagu baru datang silih berganti. (hlm. 128)

Hoo... jadi itukah sebabnya saya nggak pernah bisa berhenti mendengarkan No Matter What dari Boyzone dan Baby When You're Gone-nya Bryan Adams ft Mel C? :D

Hehe~ back to topic, karakter dalam Cinta 4 Sisi tentunya yang paling menarik adalah Jeffry. Apalagi kalau bukan karena karakternya yang seakan minta ditonjok.
Sedangkan karakter Violet cukup membuat emosi. Aduuh, sabar banget ya itu teman-temannya yang berusaha menasehati Violet. Jelas-jelas ada yang perhatiannya lebih dan sangat mengutamakan kenyamanannya, kok malah makin menyesatkan diri.
Lalu Quinn, aih saya suka deh begitu penulis menyebutkan ciri fisik Quinn yang giginya nggak rata tapi terlihat menarik. Tapiiii... kenapa namanya Quinn padahal asli Yogya? Padahal meski namanya Tarjo kalau sifatnya seperti itu saya bakalan tetap suka lho. *ya emang ada tokoh novel pop dinamai Tarjo?* *emangnya ini FTV?* *disepak*

Bisa dibilang chemistry di antara Quinn dan Violet ini asyik dan sweet banget. Adegan Violet di ruang kerja Quinn dan menunggu pria itu bekerja terasa romantis. Dan ketika Quinn menunduk ketika kaki Violet lecet di resepsi pernikahan Sheila, walau agak berasa drakor, tapi itu juga saya suka. Pokoknya, love this couple, deh.

Well, meski kisah Cinta 4 Sisi cukup sederhana, tapi saya merekomendasikannya bagi kalian yang memang suka cerita-cerita manis dan romantis. Pesan saya cuma satu, awas meleleh karena Quinn :)))

Jumat, 15 Januari 2016

[Resensi: Pasangan Takdir - Maureen Child] Kesempatan Kedua sang Pasangan Takdir


Judul buku: Pasangan Takdir
Judul asli: Vanished
Penulis: Maureen Child
Alih bahasa: Teguh Hari Prasetyo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2010
Tebal buku: 312 halaman
ISBN: 978-979-22-6516-3



BLURB

Selama ratusan tahun, Rogan Butler hidup menyendiri, menenggelamkan diri dalam perburuan iblis, dan melupakan Pasangan Takdir-nya. Namun, saat Alison Blair menghampiri kehidupannya, Rogan merasakan kembali getaran dan ikatan batin seperti yang dulu ia rasakan pada Pasangan Takdir-nya. Rogan menyangkal ikatan batin itu. Satu Penjaga Abadi hanya memiliki satu Pasangan Takdir, dan Rogan telah menemukannya lima ratus tahun lalu, sebelum perempuan itu mati di tangan iblis.
Tapi Alison terus mendekat, memohon bantuan Rogan untuk membebaskan adiknya yang ditawan iblis. Meski tak menyukai getaran yang timbul tiap kali berdekatan dengan Alison, Rogan tak sanggup menolak. Ia berjuang menyelamatkan adik Alison dan manusia-manusia lain yang ditawan iblis, meski harus mengorbankan sesuatu yang sangat berarti baginya...


RESENSI

Alison Blair jauh-jauh datang ke Irlandia bersama adiknya Casey, untuk menunaikan tugasnya sebagai Penasihat Penjaga. Seorang cenayang membuat ramalan bahwa akan ada sesuatu yang besar dan mengerikan terjadi di Irlandia, maka para Penasihat merasa perlu untuk memberitahu sang Penjaga di Irlandia, Rogan Butler.
Namun karena Rogan terkenal tidak menyukai Penasihat dan kurang ramah, Alison ditugaskan mendatangi manor Rogan dan bicara langsung dengannya.
Benar saja, Rogan tampak berang dan buru-buru ingin mengusir Alison. Terutama ketika tanpa sengaja mereka bersentuhan dan mereka berdua sama-sama merasakan pijaran dan entakan kilat yang menghubungkan mereka. Seketika mereka tersadar bahwa mereka adalah Pasangan Takdir.
Rogan berusaha menolak pemikiran itu, terutama karena Pasangan Takdirnya telah muncul beratus-ratus tahun lalu dan telah mati. Sekuat tenaga ia berusaha menjauhkan Alison dari kehidupannya.
Sayangnya, Casey menghilang dan satu-satunya yang bisa menolong Alison untuk menemukan Casey adalah Rogan. Maka mereka pun bekerja sama mencoba mencari Casey dan kemudian menemukan kenyataan mengerikan.
Kenyataan bahwa benar-benar ada kekuatan iblis besar yang sedang dibangun. Kini mereka harus bekerja sama bukan hanya untuk menyelamatkan Casey tapi juga manusia yang diculik para iblis. Dan satu-satunya jalan adalah mendatangi dimensi tempat para iblis berada. Namun, untuk keluar dari sana sang Penjaga harus melakukan pengorbanan.
Akankah Casey ditemukan? Dan apa hubungan Alison dengan Sinead, gadis Pasangan Takdir Rogan yang mati ratusan tahun lalu? Apakah pengorbanan Rogan bisa menyelamatkan mereka?

----------------

Saya baru sadar novel seri nocturne ini ternyata sudah menghuni timbunan saya selama lima tahun. Hahaha. *tiup debu*
Ternyata blurb yang dulu membuat saya tertarik membelinya nggak cukup untuk membuat saya tertarik membacanya. Terutama setelah seri Dark Hunter milik Sherrilyn Kenyon menancap kuat di benak saya.
Tapi karena takut berdosa pada keping rupiah yang saya korbankan untuk novel ini, saya pun bertekad kuat membacanya.

Sejak awal membaca saya sudah mulai terganggu dengan istilah Penjaga dalam novel terjemahan ini. Bagi saya akan lebih klik kalau tetap menggunakan istilah aslinya saja, Guardian.
Ceritanya memang cukup menarik dan seru, terutama saat Rogan bertarung dengan iblis. Settingnya mendetail dan dengan mudahnya terbayang di benak saya dengan jelas.
Tokohnya pun punya karakter kuat. Hanya saja tarik ulur di antara si hero dan heroine lama-lama terasa menyebalkan. Dan sayangnya nggak ada chemistry yang memikat di antara mereka. Bahkan beberapa pembicaraan serasa pembicaraan basa-basi. Flat banget. Yang menyelamatkan cerita ini mungkin adegan dewasanya yang bisa dibilang hot. :)

Endingnya nggak mengejutkan juga sih. Malah saya lebih kaget dengan perubahan drastis Casey yang tiba-tiba mau bergabung dengan Penasehat. Tiba-tiba banget tanpa ada perenungan dulu atau apalah yang nggak berkesan buru-buru.

Yah, novel ini memang biasa saja dan nggak istimewa, tapi kalau kalian tertarik dengan pejuang Celtic kuno dan ingin mengikuti perburuan iblis di Irlandia, sambil merasakan hotnya kamar mandi Rogan, boleh banget baca novel ini ^^

Kamis, 14 Januari 2016

[Resensi: Amba - Laksmi Pamuntjak] Pencarian Jejak Masa Lalu Amba


Judul buku: Amba
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Desain sampul: Lala Bohang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2013 (cetakan keempat edisi baru)
Tebal buku: 578 halaman
ISBN: 978-979-22-9984-7
Available at: Bukupedia.com




BLURB

Tahun 2006: Amba pergi ke Pulau Buru. Ia mencari orang yang dikasihinya, yang memberinya seorang anak di luar nikah. Laki-laki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali. 

Novel berlatar sejarah ini mengisahkan cinta dan hidup Amba, anak seorang guru di sebuah kota kecil Jawa Tengah. “Aku dibesarkan di Kadipura. Aku tumbuh dalam keluarga pembaca kitab-kitab tua.” Tapi ia meninggalkan kotanya. Di Kediri ia bertemu Bhisma. Percintaan mereka terputus dengan tiba-tiba di sekitar Peristiwa G30S di Yogyakarta. Dalam sebuah serbuan, Bhisma hilang selama-lamanya. Baru di Pulau Buru, Amba tahu kenapa Bhisma tak kembali.

RESENSI

Kisah dibuka dengan ditemukannya dua wanita yang terluka di dekat sebuah makam di Pulau Buru. Salah satu wanita yang terluka parah karena luka tikam jelas-jelas bukan warga pulau itu. Wanita satunya, Mukaburung, mengaku menikam si wanita lainnya karena wanita itu berani mendekati makam suami Mukaburung. Kemisteriusan wanita yang terluka itu terkuak saat seorang pria, Samuel, datang dan mengenali wanita itu sebagai Amba. Seorang wanita yang jauh-jauh datang ke Pulau Buru untuk melacak jejak sang kekasih.
Amba adalah putri sulung seorang guru di kota kecil, Kadipura. Ia tahu dirinya tak secantik ibunya dan adik kembarnya Ambika-Ambalika. Maka ia banyak meleburkan diri pada buku-buku, ia berusaha melakukan segalanya dengan sebaik mungkin. Ketika ia tak juga berminat menikah, ibunya yang cemas memaksanya untuk berkenalan dengan Salwa, seorang pemuda pintar dan lurus. Pada pemuda inilah Amba jatuh cinta. Saat Salwa berhasil membujuk orangtua Amba agar mengizinkan Amba kuliah di Yogtakarta, mereka makin sering bersama. Tapi hubungan mereka yang tetap lurus membuat Amba kecewa.
Ketika Salwa ditugaskan ke Surabaya, orangtua Amba menyarankan agar mereka segera menikah. Tapi Amba enggan, ia menolak. Ia berjanji akan menikah saat Salwa telah menyelesaikan tugasnya.
Dan di tengah kegelisahan hatinya serta kecamuk politik di sekelilingnya, Amba pergi ke Kediri untuk menjawab sebuah iklan yang mencari penerjemah. Di sebuah rumah sakit di Kediri itulah Amba bertemu dengan dr. Bhisma. Pria yang dengan mudahnya mencuri hatinya dan tanpa ragu memainkan gairahnya.
Sayang cinta Amba dan Bhisma di kisah ini, selayaknya kisah dalam Mahabharata, dipermainkan takdir. Mereka terpisah dalam sebuah penyerangan.
Bertahun-tahun Amba tak bisa menemukan Bhisma. Hingga sebuah email kaleng akhirnya memaksa Amba datang ke Pulau Buru untuk mencari jawaban. Mengapa mereka terpisah? Dan mengapa Bhisma tidak meninggalkan Pulau Buru seperti tahanan politik lainnya?

--------------

Amba menjadi novel yang menarik hati saya karena dua hal. Satu karena Bhisma. Sebagai pencinta kisah pewayangan saya sangat mengagumi Bhisma, sang putera Gangga yang sangat berpegang teguh pada kesetiaan ikrarnya. Meski ia menolak Amba, tapi saya penasaran banget adakah terlintas di benak Bhisma rasa ketertarikannya pada Amba. Karena di tengah Bharatayudha ia pun dengan pasrah menerima takdirnya dijemput maut oleh Amba melalui Srikandi.

Yang kedua tentunya karena sejarah PKI dan situasi politik tahun 1965. Sebagai generesi yang dijejali PSPB, pelajaran sejarah yang katanya dipoles sedemikian rupa untuk mengagungkan Soeharto, saya selalu penasaran tentang apa sebenarnya yang terjadi di tahun-tahun itu. Karena sejarah yang ada di buku pelajaran sangatlah diragukan.

Dan rupanya novel ini lebih memuaskan dalam segi sejarah. Bisa dilihat bahwa Laksmi Pamuntjak melakukan riset yang luar biasa mendalam demi novel ini. Saya benar-benar terseret dan tenggelam dalam situasi serbakacau dalam novel ini. Ikut berdebar setiap kali nama-nama kiri disebutkan. Sedikit banyak saya bisa memahami situasi di kurun waktu itu.

Amba terbagi menjadi tujuh bagian. Samuel dan Amba menjadi pembuka kisah yang menjelaskan konstruksi cerita mengapa Amba datang ke Pulau Buru pada Maret 2006.
Di buku kedua, Amba, Bhisma, & Salwa menceritakan kisah asmara Amba dengan Salwa kemudian Bhisma yang terjadi di kurun waktu 1956 - 1965.
Buku ketiga, Amba & Adalhard berlatar di Yogyakarta tahun 1965 menceritakan pertemuan Amba dengan Adalhard, si lelaki ketiga. Juga keputusan besar yang akhirnya diambil Amba. Dilanjutkan dengan Bhisma di buku keempat.
Samuel dan Amba menjadi kisah di buku kelima yaitu kisah pertemuan awal Amba dan Samuel pada Februari - Maret 2006.
Kemudian segala jawaban akhirnya muncul di buku keenam Bhisma dalam Tahun yang Hilang antara 1965 - 2006 yang berisi surat-surat Bhisma untuk Amba sang kekasih tercinta.
Kisah ditutup dengan pertemuan Srikandi & Samuel pada tahun 2011 di buku ketujuh.

Sebagai novel yang menyajikan rentetan sejarah, cukup banyak tokoh sampingan dalam novel ini. Peran-peran yang meski porsinya kecil tapi punya andil kuat dalam proses cerita. Sementara untuk masing-masing tokoh utama; Amba, Bhisma, Salwa, dan Samuel, sejarah tentang siapa, apa, mengapa dan bagaimana mereka terdeskripsi dengan sangaaaat detail. Saking detailnya sampai terasa membosankan bagi saya.

Bisa dibilang meski porsinya cuma sedikit, saya puas dengan kisah tragis Amba dan Bhisma dalam novel ini. Yah, setidaknya nggak setragis kisah Amba dalam Mahabharata. Ada kesan kuat bahwa meski mereka nggak bersatu dan merana bertahun-tahun, tapi membaca surat-surat Bhisma serasa saya menemukan surat-surat cinta yang saya nanti bertahun-tahun dan pada akhirnya meredakan dahaga saya.

Akhirnya membaca Amba membuat saya puas. Amba menjadi novel historical fiction yang juga mengedepankan riset dan menyajikan fakta. Tentang komunis, tentang 'kami' dan 'mereka' yang tetap selalu ada hingga masa kini, tentang tahanan politik dan tentang Pulau Buru yang tadinya bagi saya terasa tertutup dan misterius.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon